Serial Pendekar Naga Putih eps 78 : Tinju Topan Dan Badai

SATU
LEMBAH Gunung Tangga Langit yang memang indah masih pula diwarnai tumbuhan beraneka pesona. Tapi pada kenyataannya, lembah yang terletak di sebelah selatan kaki Gunung Tangga Langit ini tidak pernah didatangi manusia. Jalan menuju ke lembah itu saja sudah sangat sukar dilalui. Selain tebing-tebingnya yang curam, tanahnya pun mudah sekali longsor. Tak heran kalau hanya tokoh-tokoh persilatan berkepandaian tinggi saja yang mampu sampai di sana.

Dan pada pagi hari ini, di tengah lembah Gunung Tangga Langit terlihat dua sosok tubuh yang tengah berdiri berhadapan. Melihat dari sikap dan pandang mata, jelas mereka menunjukkan permusuhan. Bahkan tampaknya sudah siap saling serang.

"Hm..., Dewa Elang Hitam! Apakah kau sudah siap menandingi 'Jurus Tinju Topan'ku...?" tanya salah seorang. Dia memiliki perawakan sedang, namun agak bongkok. Meskipun wajahnya sudah lebih dari tujuh puluh tahun, tapi sinar matanya demikian tajam.

Mendengar tantangan yang jelas-jelas sangat memandang rendah, sosok berperawakan jangkung yang dipanggil Dewa Elang Hitam memperdengarkan suara tawa mengejek. Kendati sinar matanya menyiratkan ketersinggungannya, namun tidak berusaha diperlihatkannya.

"Heh heh heh..., Pedang Tujuh Lautan. Seharusnya tidak perlu berkata demikian. Toh aku tidak mungkin berdiri di depan hidungmu, kalau Kitab Tinju Badai yang ada di tanganku belum sempurna kupelajari. Tapi menurut hematku, pertarungan di antara kita tidak perlu terjadi, Bukan karena takut, tapi aku memiliki pemikiran lebih jernih ketimbang otak udangmu.

Sebaiknya, serahkanlah Kitab Tinju Topan kepadaku. Setelah itu, baru kau akan kuberikan kitab yang ada padaku. Bagaimana? Bukankah ini jalan yang paling baik?" usul Dewa Elang Hitam, yang berusia sekitar tujuh puluh lima tahun itu.

"Hua ha ha...!" Mendengar perkataan Dewa Elang hitam, laki-laki yang dipanggil Pedang Tujuh Lautan tertawa terbahak-bahak.

Tentu saja suara tawa yang sangat tidak enak di telinga ini membuat kening Dewa Elang Hitam berkerut tak senang. Mulutnya cemberut menyiratkan perasaannya yang terpengaruh oleh suara tawa Pedang Tujuh Lautan.

"Dewa Elang Hitam!" sentak Pedang Tujuh Lautan, Tiba-tiba menghentikan tawanya. Sepasang matanya menatap tajam, disertai senyum memuakkan. "Perkataan itu sudah kau ucapkan sejak lima tahun yang lalu! Tapi sama sekali tidak kusangka kalau sampai hari ini kau masih saja mengatakannya. Dan aku bukannya tidak menyetujui usulmu. Tapi justru kau sendirilah yang tidak mau menjalankannya dengan baik, sesuai perkataanmu! Coba keluarkan kitab yang ada padamu dan berikan kepadaku. Apakah kau bersedia...?"

"Tidak! Kau yang lebih dulu harus menyerahkan Kitab Tinju Topan kepadaku. Baru kemudian, aku akan memberikan kitab ini kepadamu! Kalau tidak, lebih balk kitab ini kusimpan sampai mati!" tegas Dewa Elang Hitam menolak usul Pedang Tujuh Lautan.

Tentu saja Dewa Elang Hitam tidak ingin kakek bertubuh bongkok itu menipunya mentah-mentah. Maka tak heran bila ia berkeras mempertahankan kitabnya, sebelum Pedang Tujuh Lautan lebih dulu menyerahkan Kitab Tinju Topan.

"Kalau begitu, sebaiknya Kita tentukan dengan pertarungan...!" tukas Pedang Tujuh Lautan geram. Kemudian langkahnya langsung bergeser ke kanan, setelah menyimpan kitab ke dalam pakaiannya.

"Memang begitu seharusnya...!" balas Dewa Elang Hitam tidak mau kalah. Wajahnya langsung berubah beringas. Malah kakinya sudah bergeser, mempersiapkan kuda-kudanya. Siap untuk bertarung mati-matian!

"Huh! Jadi aku dibawa ke tempat celaka ini hanya untuk menyaksikan kalian dua orang kakek bertengkar memperebutkan dua kitab butut! Benar-benar dunia sudah gila...!"

Saat kedua laki-laki tua itu sudah siap saling gebrak, terdengar suara lantang dan jernih. Maka seketika keduanya menghentikan gerakan dan menoleh bersamaan.

"Maaf, aku harus pergi! Kalian boleh bertengkar sampai mampus!" rutuk seorang laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Bocah yang semula duduk di atas sebuah batu berjarak tiga tombak dari ajang pertarungan, langsung saja melompat turun. Gerakannya cukup lincah dan ringan, menandakan bahwa dia bukan seperti bocah kebanyakan, dan jelas memiliki ilmu silat lumayan.

"Bocah, tunggu...!" Ketika melihat bocah laki-laki itu sudah bergerak hendak meninggalkan tempat, Dewa Elang Hitam berseru mencegah. Tubuhnya cepat melayang bagaikan terbang di atas permukaan tanah. Dan tahu-tahu, telah tiba di dekat bocah itu.

Bukan hanya Dewa Elang hitam saja yang bergerak melesat mencegah kepergian bocah itu. Pedang Tujuh Lautan pun sudah pula bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dan tahu-tahu, dia telah berdiri di samping kanan bocah itu.

"Bocah! Mengapa kau berkata demikian? Apa kau tidak tahu, siapa kami ini...?" tegur kakek bongkok itu, dingin dan agak menyombongkan diri.

"Aku tahu!" tukas bocah itu cepat tanpa merasa gentar sedikit pun. Bahkan ditentangnya pandangan mata Pedang Tujuh Lautan dengan berani. "Kalian adalah dua orang kakek sinting yang memperebutkan kitab butut dan tidak ragu-ragu mengadu nyawa hanya karena persoalan kecil!"

"Eh...?!"

Kata-kata bocah Itu tentu saja membuat Pedang Tujuh Lautan dan Dewa Elang Hitam terperangah dengan wajah berubah. Selama ini, mereka belum pernah menerima hinaan semacam itu. Siapa yang tak kenal Dewa Elang Hitam dan Pedang Tujuh Lautan? Mereka adalah tokoh tingkat tinggi, bahkan diakui sebagai datuk-datuk persilatan. Tapi kini, mereka dihina sedemikian rupa oleh seorang bocah! Padahal, jangankan bocah, tokoh-tokoh persilatan ternama pun akan berpikir seribu kali bila menghina kedua orang kakek itu.

"Dengar, bocah! Kami berdua adalah tokoh-tokoh persilatan yang nyaris tidak ada tandingannya di kolong langit ini, Dan kalau kami mau, sekali sentuh saja, nyawamu pasti melayang ke neraka. Jadi, sebaiknya jaga mulutmu...!" dengus Pedang Tujuh Lautan, langsung menyombongkan diri sambil memandang wajah bocah itu dengan sorot mata bagai hendak menikam jantung.

"Oh, begitu?" tukas bocah laki-laki berwajah bagus itu tanpa mengalihkan tatapannya pada mata Pedang Tujuh Lautan. "Aku tidak percaya! Kalau benar kalian berdua datuk-datuk persilatan, mengapa hanya karena kitab-kitab butut itu harus saling bunuh? Apa artinya sebuah kitab, bila dibandingkan nyawa manusia? Kalau hanya sebuah kitab, semua orang tentu bisa menulisnya. Tapi, nyawa manusia? Siapa yang bisa membuatnya, selain sang Maha Pencipta yang menguasai dan memberi kehidupan kepada seluruh penghuni jagad raya ini..."

Entah siapa yang mengajari, nyatanya hebat sekali ucapan bocah lelaki berusia sepuluh tahun itu. Sehingga orang-orang sakti seperti Dewa Elang Hitam dan Pedang Tujuh Lautan sampai tercengang mendengarnya. Kalau saja tidak mendengar sendiri, tentu mereka tidak akan percaya. Tapi nyatanya bocah ini berpandangan luas. Bahkan manusia dewasa pun, jarang yang berpikiran seluas itu. Inilah yang membuat kedua tokoh sakti itu kagum akan kecerdasan serta keberanian bocah lelaki ini.

"Kau tidak tahu, bocah...," kata Dewa Elang Hitam, setelah cukup lama terdiam karena ucapan bocah itu. Suara laki-laki bertubuh jangkung itu tidak keras. Bahkan terdengar lembut. Kini matanya baru terbuka kalau bocah itu tidak bisa dianggap sembarangan. Bahkan baru disadari kalau tubuhnya memiliki susunan tulang yang demikian sempurna. Tentu bila ditangani orang pandai, kelak akan menjadi seorang pemuda perkasa yang sulit dicari tandingannya. Itulah yang membuat Dewa Elang Hitam tidak lagi berkata keras.

"Bocah! Kau kira kedua kitab ini tidak ada gunanya bagi kami? Kau salah besar! Dengar! Kedua kitab ini sangat didambakan seluruh orang persilatan. Makanya, kami berdua harus menyembunyikan diri dari kejaran mereka. Bahkan pertemuan hari ini pun tanpa sepengetahuan tokoh-tokoh persilatan. Kalau mereka sampai tahu, sudah pasti mereka akan saling bersaing untuk memperebutkan kitab yang ada di tangan kami.

Perlu kau ketahui, bila isi kedua kitab ini digabung, lalu dipelajari seseorang, maka dapat dipastikan orang itu akan menjadi jago nomor satu di kolong langit! Nah, apakah kau masih juga menganggap kami bodoh dan kedua kitab ini tidak berharga sama sekali?" jelas Pedang Tujuh Lautan panjang lebar. Memang, tentu saja dia tidak sudi dikatakan sebagai kakek sinting yang rela bertaruh nyawa demi memperebutkan sebuah kitab butut tak berguna.

Bocah laki-laki itu terdiam setelah mendengarkan penjelasan Pedang Tujuh Lautan. Tampaknya, otaknya sangat cerdas, sehingga seluruh perkataan Pedang Tujuh Lautan telah dapat dimengerti. Dan kini la terpaksa diam. Namun demikian, dalam hatinya tetap tidak menyetujui pertaruhan nyawa, yang hanya karena sebuah kitab.

Pedang Tujuh Lautan mengangguk puas, ketika melihat bocah itu diam. Dan kakek bongkok ini semakin bertambah kagum, karena bocah lelaki berusia sepuluh tahun itu sepertinya telah mengerti tentang persoalan orang-orang rimba persilatan.

"Bagus kalau kau mengerti, Bocah. Nah, sekarang saksikanlah pertarungan kami yang mempergunakan jurus-jurus dari kitab di tangan kami masing-masing," ujar Pedang Tujuh Lautan. Sepertinya kakek bongkok itu belum melupakan keinginannya untuk mendapatkan Kitab Tinju Badai demi melengkapi jurus yang telah dipelajari dari kitab di tangannya.

"Dan kami memerlukan orang ketiga untuk menentukan, siapa yang bakal keluar sebagai pemenang. Itu sebabnya, kami membawamu ke tempat ini. Rupanya kami memang tidak salah pilih. Karena, ternyata kau bocah luar biasa dan berpandangan luas...," sambung Dewi Elang Hitam.

"Lalu mengapa aku yang dipilih? Bukankah sebaiknya kalian menculik tokoh persilatan yang pasti akan jauh lebih mengerti daripada aku?" tanya bocah laki-laki itu tak mengerti.

"Karena kami tidak ingin ada seorang tokoh pun yang menyaksikan ilmu-ilmu dahsyat yang kami pelajari dari kitab pusaka ini. Dan kami rasa, kau pun sudah lebih dari cukup. Yang penting, ada orang ketiga di antara kami..," jawab Dewa Elang Hitam. Kemudian bocah itu dipondongnya dan didudukkannya di atas batu yang letaknya agak jauh dari ajang pertarungan.

Selain ada dorongan kuat untuk menyaksikan bagaimana kehebatan ilmu-ilmu yang dipelajari kedua orang kakek itu dari kitab, bocah ini pun sadar kalau tidak mungkin dapat lolos dari tangan mereka. Maka, ia pun duduk tenang menyaksikan pertarungan yang bakal dimulai. Sementara, dua datuk persilatan itu telah berdiri berhadapan dalam jarak kurang dari dua tombak. Mata satu sama lain saling mencorong dengan tajamnya. Dan...,

"Haaaattt...!"

Disertai sebuah bentakan nyaring, kakek bongkok yang berjuluk Pedang Tujuh Lautan segera membuka serangan pertamanya. Tubuhnya bergerak ke depan dengan langkah-langkah menyilang sangat cepat Seolah, tubuhnya telah berubah jadi puluhan banyaknya. Sehingga, sulit diterka arah mana yang menjadi sasaran serangannya.

"Hm..." Kakek jangkung berjuluk Dewa Elang Hitam hanya memperdengarkan suara menggumam dingin. Dan sebelum serangan Pedang Tujuh Lautan tiba, sepasang tangannya cepat diputar melebar. Maka seketika berhembus tiupan angin keras yang membuat pepohonan di sekitarnya berderak ribut. Kemudian tubuhnya melesat ke depan, menyambut serangan Pedang Tujuh Lautan.

Plakkk, plakkk!

Dalam gebrakan pertama saja, kedua pasang tangan yang sama-sama terlindungi tenaga dalam dahsyat sudah saling berbenturan keras. Akibatnya tubuh keduanya bergetar mundur dan saling mengakui dalam hati kehebatan tenaga dalam masing-masing. Untuk beberapa saat, kedua tokoh sakti itu kembali saling pandang sambil mengatur langkah. Dan lagi-lagi Pedang Tujuh Lautan membuka serangannya.

Whuttt...!

Kali ini serangan Pedang Tujuh Lautan lebih hebat. Sepasang tangannya yang membentuk kepalan, berputaran cepat dan saling susul-menyusul menuju sasaran. Pedang Tujuh Lautan menamakan jurus ini adalah 'Jurus Tinju Topan Pemecah Langit' yang telah disempurnakannya. Hebat luar biasa jurus milik Pedang Tujuh Lautan ini, sehingga seolah-olah ajang pertarungan bagai terlanda topan mengerikan. Dan dari setiap lontaran pukulannya mendesir angin tajam berciutan, menandakan betapa hebatnya tenaga dalam Pedang Tujuh Lautan ini.

Tapi yang dihadapi kakek bongkok itu kali ini bukanlah tokoh sembarangan yang' bisa dilumpuhkan begitu saja. Selain telah memiliki kesaktian luar biasa, Dewa Elang Hitam pun sudah pula meyakini 'Jurus Tinju Badai Menggulung Jagad'. Sehingga, sama sekali hatinya tidak gentar untuk menghadapi gempuran hebat lawannya.

Dalam sekejap saja, kedua tokoh sakti itu sudah saling gempur dengan hebatnya. Ajang pertarungan kini jadi porak-poranda oleh lontaran pukulan yang menimbulkan angin keras laksana amukan badai topan. Tidak sedikit pepohonan yang tumbang akibat sambaran angin pukulan nyasar.

"Aaahh...! Tidak kusangka, kalau kedua orang kakek itu benar-benar memiliki kesaktian seperti dewa! Sayang, dalam usia setua itu mereka masih saja dikuasai nafsu serakah, sehingga ingin diakui sebagai orang nomor satu di kalangan persilatan. Benar-benar menyedihkan...," desah bocah laki-laki itu.

Semula, dia duduk dalam menyaksikan pertempuran itu dengan jarak cukup jauh. Namun kini, tubuhnya telah bergeser dari tempatnya. Karena, di tempat semula ia masih merasakan kuatnya sambaran angin pukulan kedua orang kakek itu. Maka diputuskannya untuk menyingkir dan menyaksikan pertarungan dari tempat yang lebih jauh dan terhindar dari bahaya.

Sementara itu pertarungan tampaknya semakin hebat dan mulai mencapai puncaknya. Gerakan mereka sekarang tak ubahnya dua bayangan iblis yang tengah bertarung, karena sudah tidak bisa lagi ditangkap oleh mata biasa. Bahkan sulit ditentukan, siapa sebenarnya sekarang yang tengah terdesak.

"Heaaaattt..!"

"Hyaaattt..!"

Ketika pertempuran sudah memasuki jurus yang kedua ratus, Pedang Tujuh Lautan maupun Dewa Bang Hitam sama-sama mengeluarkan pekik melengking yang menggetarkan lembah Gunung Tangga Langit Kemudian tubuh keduanya sama-sama melesat ke udara, dengan kecepatan luar biasa. Dan....

Blarrrr!

Tanpa dapat dicegah lagi, kedua pasang lengan yang sama-sama mengandung tenaga dalam dahsyat itu saling berbenturan dengan hebatnya. Akibatnya bumi sekitar tempat itu jadi bergetar laksana diguncang gempa. Akibat yang dialami kedua orang tokoh sakti itu pun cukup membuat hati mengkelap. Mereka sama-sama terlempar ke belakang bagaikan daun-daun kering yang diterbangkan angin. Dan kedua tokoh itu terus meluncur menumbangkan beberapa batang pohon, untuk kemudian terbanting jatuh ke semak-semak.

Apa yang dialami Pedang Tujuh Lautan rupanya masih jauh lebih baik ketimbang Dewa Elang hitam. Kalau laki-laki tua bongkok itu jatuh ke semak-semak, tubuh Dewa Bang Hitam malah tergelincir dan terus bergulingan menggilas semak-semak. Rupanya, di balik semak-semak itu terdapat sebuah dataran yang lebih rendah, sehingga kakek jangkung itu akhirnya terhempas di depan sebuah mulut goa yang tidak begitu besar.

Nasib sial yang menimpa Dewa Elang Hitam, tentu saja sama sekali tidak diketahui lawannya. Karena keadaan Pedang Tujuh Lautan saat ini memang cukup parah. Darah yang berkali-kali menyembur dari mulutnya, menandakan kalau kakek bongkok itu telah menderita luka dalam yang parah. Sehingga, ia hanya bisa duduk bersandar di batang pohon dengan napas tersengal satu-satu.

***
DUA
"Aaaahhh...?"

Bocah laki-laki yang menjadi satu-satunya saksi dalam pertarungan Pedang Tujuh Lautan melawan Dewa Elang Hitam berseru ngeri dengan wajah pucat dan muka terbelalak. Untuk beberapa saat ia tidak tahu, apa yang harus, diperbuat. Dia hanya bisa menoleh ke kiri-kanan. Wajahnya menggambarkan perasaan bingung yang amat sangat Ia tidak tahu siapa di antara kedua kakek itu yang harus lebih dulu dilihat keadaannya.

Cukup lama juga bocah itu kebingungan sampai akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan kakek jangkung yang dikenal berjuluk Dewa Elang Hitam. Apalagi keadaan Pedang Tujuh Lautan masih dapat terlihat meski tidak jelas, seberapa parah luka yang diderita. Dan menurutnya, lebih baik melihat keadaan Dewa Elang Hitam yang telah lenyap ditelan semak belukar.

Ketika berhasil menerobos semak-semak dan melihat tubuh Dewa Elang Hitam tergeletak di depan sebuah mulut goa agak jauh di bawahnya, tanpa ragu lagi bocah itu pun bergegas turun. Kendati agak sulit dan harus berpegangan pada akar-akar pohon yang mencuat keluar di dinding tebing. la sama sekali tidak takut Kekhawatirannya terhadap nasib kakek jangkung itu membuat takutnya terlupakan.

"Sungguh menganggumkan... ?! Kau benar-benar bukan bocah sembarangan...!" puji Dewa Elang Hitam, walau nafasnya terengah. Kakek jangkung itu benar-benar tidak menyangka kalau bocah ini akan berani dan sanggup menuruni tebing, demi untuk melihat keadaannya.

"Kakek Jangkung, bagaimana keadaanmu...?" tanya bocah itu. Matanya langsung menatap wajah Dewa Elang Hitam disertai rasa kecemasan. Dan tentu saja, ini membuat kakek jangkung itu tersenyum.

"Anak baik Coba ceritakan padaku, bagaimana keadaan Pedang Tujuh Lautan. Apakah lukanya juga parah sepertiku?" Dewa Elang Hitam malah balik bertanya.

"Aku belum menanyakannya. Dan lebih dulu, aku ingin melihat keadaanmu, Kek," sahut bocah itu sejujurnya.

"Bodoh! Seharusnya lihat dulu keadaan keparat bongkok itu! Baru kemudian, melihat keadaanku. Dengan demikian, kau bisa menceritakan bagaimana keadaannya di atas sana...," maki Dewa Elang Hitam gusar. Kelihatannya ia memang sangat penasaran untuk mengetahui keadaan lawannya.

"Huhhh!" Bocah itu kelihatan marah mendengar perkataan Dewa Elang Hitam. la lantas bangkit berdiri, langsung menatap wajah kakek jangkung itu dengan sinar mata berkilat. "Dalam keadaan terluka seperti ini, ternyata kau masih dikuasai nafsu kemenangan! Apakah kau masih juga belum jera, dan ingin cepat-cepat menghadap malaikat maut?" rutuk bocah itu.

"Eh...?!" Dewa Elang Hitam terperangah mendengar perkataan bocah tampan ini. Wajahnya membayangkan keheranan besar. Baru sekali ini selama hidupnya, ia dimaki orang. Terlebih, yang memaki adalah seorang bocah yang kini berdiri di depannya. Sehingga, untuk beberapa saat Dewa Elang Hitam tidak bisa berkata-kata. "Bocah! Sebutkan namamu...," pinta Dewa Elang Hitam begitu tiba-tiba dan agak mengejutkan.

"Namaku Laka Sora...," jawab bocah cerdik dan pemberani itu, meski agak heran.

"Hm.... Laka Sora! Cepatlah berlutut dan menyebut guru kepadaku. Karena mulai saat ini, kau kuangkat menjadi muridku...," ujar Dewa Elang Hitam.

Mendengar perkataan Dewa Elang Hitam, Laka Sora tertegun. Namun demikian, ia tidak buru-buru mengikuti perintah itu. Tapi ketika melihat luka parah kakek jangkung itu akhirnya, bocah bernama Laka Sora itu mengikuti permintaan Dewa Elang Hitam. Apalagi, tarikan napas kakek itu terdengar berat dan lambat

"Guru! Aku, Laka Sora mengaturkan hormat..," ucap bocah cilik itu. Kata-katanya lantang, namun tersusun rapi Dan ini membuat wajah Dewa Elang Hitam menjadi cerah.

"Nah, Laka Sora. Karena sekarang telah menjadi muridku, maka kitab pusaka ini kuberikan kepadamu. Tapi kuminta, segera hafalkan isinya diluar kepala. Karena, kitab ini sangat berbahaya bagi keselamatanmu jika tidak segera dihancurkan...," ujar Dewa Elang Hitam, segera mengangsurkan kitab butut di tangannya. 

"Maaf, Guru. Sebelumnya bolehkah aku mengajukan sebuah permintaan..." Laka Sora tidak langsung menerima. Dan memandang wajah gurunya penuh harap.

"Katakan, apa permintaanmu itu?"

"Aku ingin melihat keadaan Kakek Pedang Tujuh Lautan. Ingin kuketahui, bagaimana kesehatannya...," jelas Laka Sora, lantang. Hanya saja, wajahnya tetap tertunduk, tidak berani menentang pandangan mata laki-laki tua yang kini resmi menjadi gurunya.

"Hm.... Bagaimana kau bisa sampai ke sana, Laka Sora? Lihatlah! Tebing ini tidak mungkin dapat dipanjat...," tukas Dewa Elang Hitam. Sama sekali kakek jangkung itu tidak memperlihatkan rasa marah. Bahkan ketika menunjuk ke atas, bibirnya tersenyum, hendak mendengar jawaban muridnya.

"Biar bagaimanapun, aku harus melihat keadaan Kakek Pedang Tujuh Lautan, Guru," tegas Laka Sora, tanpa ragu sambil memandang tebing yang bakal dipanjatnya. Kemudian, Laka Sora memandang wajah gurunya. Ketika melihat orang tua itu mengangguk, bergegas dihampirinya tebing di depannya.

Dewa Elang Hitam tersenyum disertai anggukan kepalanya ketika melihat Laka Sora berusaha memanjat tebing dengan berpegangan pada akar pepohonan. Sepasang matanya memancarkan sinar kekaguman, melihat muridnya sama sekali tidak putus asa. Bocah itu terus berusaha memanjat, kendati beberapa kali tergelincir karena pegangannya pada akar pohon terlepas.

"Laka Sora, kemarilah...!" Setelah melihat kekerasan hati muridnya yang pantang menyerah, akhirnya Dewa Elang Hitam berseru memanggil bocah yang masih berusaha keras untuk dapat mencapai bibir tebing.

Laka Sora yang saat itu baru mencapai satu setengah tombak dari permukaan tanah, bergegas menoleh. Kemudian, ia bergegas turun ketika melihat gurunya mengulapkan tangan. Begitu sampai di tanah, segera dihampiri kakek jangkung itu dengan penuh tanda tanya.

"Berdirilah di kedua telapak tanganku...," perintah kakek jangkung itu tegas dan tidak ingin dibantah.

Meski disertai perasaan heran, Laka Sora menuruti juga perintah gurunya. Dan ia baru mengerti, ketika tahu-tahu saja tubuhnya melambung ringan ke atas. Rupanya dengan sisa tenaga dalamnya, Dewa Elang Hitam telah menolong muridnya yang memiliki hati mulia ini. Dan berkat bantuan kakek jangkung itu, Laka Sora pun dapat mendarat selamat di atas tebing. Kemudian, bergegas dihampiri Pedang Tujuh Lautan setelah terlebih dulu menoleh ke arah gurunya dan mengucapkan terima kasih.

Apa yang dilakukan Pedang Tujuh Lautan tidak beda jauh dengan Dewa Elang Hitam. Setelah diminta untuk memperkenalkan namanya, Laka Sora pun diminta untuk bersujud dan menyebutkan kakek bongkok itu sebagai guru. Juga Pedang Tujuh Lautan pun menyerahkan kitabnya, serta meminta agar Laka Sora menghafal seluruh isinya.

Laka Sora juga melihat kalau luka dalam Pedang Tujuh Lautan sangat parah. Hanya berkat kesaktiannyalah kakek bongkok itu masih dapat bertahan hidup. Melihat kenyataan ini, Laka Sora pun bertekad untuk mematuhi perintah Pedang Tujuh Lautan.

Bukan main gembiranya hati pedang Tujuh Lautan, mendapat kenyataan kalau Laka Sora sangat cerdas dan sanggup menghafal dalam waktu singkat.

Dan setelah mendapat wejangan yang berarti dari gurunya yang kedua, Laka Sora mengajukan permintaan untuk melihat Dewa Elang Hitam yang juga telah diceritakannya pada Pedang Tujuh Lautan bahwa kakek itu telah menjadi gurunya.

Pada kenyataannya, Pedang Tujuh Lautan sama sekali tidak merasa keberatan. Bahkan membantunya dengan pengerahan tenaga dalam yang memang luar biasa. Sehingga, Laka Sora tidak perlu lagi merambat turun seperti tadi. Karena berkat bantuan tenaga dalam Pedang Tujuh Lautan, tubuhnya dapat meluncur turun tanpa kesukaran. Dan kini dia sudah tiba di dekat Dewa Elang Hitam.

***

Selama berhari-hari, Laka Sora bolak-balik mengunjungi kedua orang gurunya sambil menghafal kedua macam kitab pusaka, sampai benar-benar melekat di kepalanya. Dan hal itu ternyata tidak sulit dilakukannya. Sehingga setelah hampir satu minggu, isi kedua kitab itu pun telah pindah ke dalam kepalanya.

Selain memiliki bakat mengagumkan dalam ilmu silat, Laka Sora pun memiliki kecerdikan luar biasa. Ia tahu, kedua orang sakti yang mengambilnya sebagai murid ini saling bermusuhan satu sama lain Maka timbul pikiran bocah ini untuk menyatukan kedua orang gurunya. Maksudnya jika harus pergi meninggalkan dunia ini, tidak ada ganjalan di hati masing-masing.

Dengan pandainya, Laka Sora mengatakan kepada Dewa Elang Hitam kalau Pedang Tujuh Lautan meminta maaf atas kekhilafannya. Tentu saja permintaan maaf Dewa Elang Hitam disambut baik oleh Pedang Tujuh Lautan. Begitu pula sebaliknya. Maka kini isi hati kedua orang tokoh sakti itu merasa lapang. Terlebih, melihat murid mereka dapat menghafal lebih dari apa yang di perkirakan. Tentu saja kenyataan ini membuat Dewa Elang Hitam serta Pedang Tujuh Lautan menjadi gembira bukan main.

"Laka Sora.... Karena seluruh isi kitab ini telah pindah ke dalam kepalamu, maka sesuai ucapanku, kitab ini akan ku bakar agar tidak sampai jatuh ke tangan orang lain...," ujar Dewa Elang Hitam setelah menguji muridnya. Dan ia merasa yakin kalau seluruh isi kitab benar-benar telah dihafal Laka Sora.

Laka Sora tersenyum sambil menganggukkan kepala. Kemudian diserahkannya Kitab Ilmu Silat Tinju Badai Menggulung Jagad ke tangan gurunya yang siap dihancurleburkan, dengan menggunakan kedua tangannya yang terisi tenaga sakti. Tapi....

Whuttt..!

Tiba-tiba saja, sebelum kitab pusaka itu hancur lebur, tahu-tahu angin keras bertiup mengejutkan. Kemudian disusul oleh meluncurnya sesosok bayangan dengan kecepatan luar biasa. Belum sempat ada yang menyadari, bayangan itu langsung menyambar kitab di tangan Dewa Elang Hitam!

"Aaahhh?!" Bukan main kagetnya Dewa Elang Hitam. Seketika wajahnya berubah pucat, karena kitabnya telah terampas oleh sosok bayangan yang memiliki kecepatan gerak luar biasa.

"Hua ha ha...!"

Terdengar suara tawa menggelegar, membuat sekitar tempat itu bergetar hebat Jelas, betapa hebatnya tenaga yang terkandung di dalam suara tawa ini.

"Akhirnya Kitab Tinju Badai Menggulung Jagad jadi milikku...!" kata sosok berpakaian serba hitam. Meski pakaian sosok itu terlihat masih baru dan terbuat dari kain sutera mahal, namun dihiasi tambalan di beberapa bagian. Dan Dewa Elang Hitam menjadi kaget, begitu mengenali siapa orang yang telah merampas kitab dari tangannya.

"Pengemis Tongkat Setan...?!" seru Dewa Elang Hitam. Wajah kakek jangkung itu kontan berubah pucat seketika. Karena dikenalinya betul, siapa dan sampai di mana kesaktian tokoh berpakaian pengemis itu.

"Siapa orang itu, Guru...?" tanya Laka Sora heran, melihat wajah gurunya pucat karena kehadiran kakek pengemis itu.

"Laka Sora... cepat segera pergi. Temui gurumu Pedang Tujuh Lautan! Lihat, bagaimana keadaannya! Dan jangan kembali ke sini lagi.,.!" tukas Dewa Elang Hitam. Tentu saja kakek jangkung itu cemas akan keselamatan muridnya. Apalagi, Laka Sora telah terlihat oleh Pengemis Tongkat Setan yang terkenal sangat kejam dan telah bertahun-tahun memburu kitab pusaka itu.

Sebenarnya kalau dalam keadaan biasa, Dewa Elang Hitam tidak akan secemas itu. Tapi saat ini keadaannya, tidaklah memungkinkan untuk dapat bertarung melawan seorang tokoh seperti Pengemis Tongkat Setan. Di tambah lagi, pengemis itu merupakan salah seorang datuk golongan sesat. Dan ia tahu, saat ini tidak bakal mungkin dapat mengatasi kesaktian tokoh berjuluk Pengemis Tongkat Setan.

"Hm.... Siapa bocah itu, Dewa Elang Hitam?" tanya Pengemis Tongkat Setan, menatap tajam wajah Laka Sora. "Kalau ia muridmu, tentu harus kulenyapkan. Karena, tidak boleh ada seorang pun yang menguasai 'Ilmu Tinju Badai Menggulung Jagad', kecuali aku. Nah, katakanlah. Apakah kau telah menurunkan ilmu itu kepadanya...?"

"Hm.... Gembel gila! Jangan ganggu bocah yang tidak tahu apa-apa! Meskipun keadaanku terluka, tapi jangan dikira bisa mengalahkanku begitu saja! Majulah biar kuremukkan kepalamu...!" tantang Dewa Elang Hitam, tanpa mempedulikan pertanyaan kakek gembel itu.

"Kurang ajar...! Tanpa diminta pun, aku akan segera mengirimmu ke neraka...!" sentak kakek itu. Bukan lagi gema suaranya lenyap, tubuh Pengemis Tongkat Setan telah melesat ke depan membawa sebuah pukulan maut yang menimbulkan angin keras. Sepertinya, ia hendak membuat musuhnya tewas dengan sekali pukul!

Melihat datangnya serangan maut, Dewa Elang Hitam tentu saja sadar akan bahaya mengancam. Tapi karena sudah tidak bisa bergerak menghindar, maka dengan nekat disambutnya serangan itu.

Plakkk!

"Arrrgh...!" Dewa Elang Hitam memang berhasil mematahkan serangan. Tapi untuk itu ia, harus menerima kenyataan pahit. Tubuhnya kontan terlempar membentur dinding batu, kemudian memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Guru...?!" Laka Sora berlari ke arah gurunya yang tampak pucat Rupanya, ia masih juga belum rela meninggalkan gurunya yang tengah terancam bahaya maut ini.

"Laka Sora, kau belum juga pergi...?" desis Dewa Elang Hitam. Kelihatannya, kakek jangkung itu marah melihat muridnya masih berada di tempat ini. Maka tanpa banyak bicara lagi, dicengkeramnya leher baju Laka Sora, dan dilemparkan sekuat tenaga. Sehingga, tubuh bocah itu melambung ke atas.

Tapi karena tenaga Dewa Elang Hitam sudah sangat lemah, tubuh Laka Sora tidak sampai ke bibir tebing. Untunglah bocah itu cukup cerdik dan cekatan. Maka seketika langsung tangannya diulurkan menyambar akar pepohonan yang ber- sembulan di dinding tebing itu.

Melihat Laka Sora berusaha merangkak naik, Dewa Elang Hitam berusaha mengalihkan perhatian Pengemis Tongkat Setan dari sosok muridnya. Seketika dengan nekat diserangnya kakek gembel itu. "Sambutlah seranganku, Gembel busuk...! Haaat..!"

Seketika itu juga, tubuh Dewa Elang Hitam mencelat ke udara. Kedua tangannya bergerak susul-menyusul, dalam jurus 'Tinju Badai Menggulung Jagad'. Meskipun demikian tenaganya telah jauh berkurang, namun kedahsyatan serta kehebatan jurus serangannya masih tetap terlihat membahayakan.

"Cuhhh!" Pengemis Tongkat Setan meludah dengan sikap sangat kasar dan menghina. Kemudian tongkatnya diputar cepat luar biasa, sehingga lenyap menjadi gulungan sinar hitam yang melebar.

Plakkk!

Tiba-tiba terjadi benturan ujung tongkat Pengemis Tongkat Setan dengan lengan kanan Dewa Elang Hitam. Dan itu membuat tubuh Dewa Elang Hitam terpental balik jatuh terjerembab ke tanah. Kembali darah segar termuntah dari mulut kakek Jangkung itu.

"Haaattt..!"

Sebelum Dewa Elang Hitam sempat bergerak bangkit, Pengemis Tongkat Setan telah datang menyusuli serangannya. Tongkat hitam di tangannya mengaung, bagaikan suara ribuan lebah marah. Dan...

Desss...!

Tubuh Dewa Elang Hitam terpental deras disertai jerit kesakitan. Dan tubuhnya kembali terbanting ke tanah dengan napas semakin berat Hantaman tongkat itu yang mengenai tubuhnya, membuat luka kakek jangkung itu semakin bertambah parah.

Tapi Pengemis Tongkat Setan sama sekali tidak mempedulikan keadaan lawannya. Tawanya terdengar menggelegar, sebelum tubuhnya kembali melesat untuk segera menghabisi nyawa Dewa Elang Hitam.

Whuttt! Prakh!

Kali ini, hantaman tongkat yang berat dan mengandung kekuatan hebat itu langsung menghajar batok kepala Dewa Elang Hitam yang memang sudah tak berdaya. Seketika terdengar suara berderak keras, dari batok kepala kakek jangkung yang pecah terkena hantaman tongkat.

Dewa Elang Hitam tokoh sakti yang selama ini ditakuti lawan, kini menggelepar menyedihkan bagaikan ayam disembelih. Sebentar kemudian gerakan tubuhnya pun terhenti Tewas dengan kepala pecah!

Setelah memperdengarkan suara tawa kemenangannya, Pengemis Tongkat Setan berkelebat lenyap dari tempat itu. Gema tawanya masih terdengar di kejauhan, bagaikan suara iblis tanpa wujud.

***
TIGA
"Heh heh heh...! Sekarang kau sudah tidak berdaya lagi untuk mempertahankan kitab itu, Pedang Tujuh Lautan. Nah! Bersiaplah menerima kematianmu...!" Kata-kata bernada dingin itu keluar dari mulut seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Wajahnya masih terlihat cantik dengan tubuh langsing padat Tangan kanannya langsung bergerak, siap mematahkan batang leher Pedang Tujuh Lautan.

"Langkahi dulu mayatku, Perempuan Iblis!" sahut Pedang Tujuh Lautan. Agaknya, meskipun sadar kalau dalam keadaan seperti ini tidak berarti apa-apa, namun Pedang Tujuh Lautan sama sekali tidak merasa gentar dalam menghadapi kematian.

Whuttt, plakk!

Maka Pedang Tujuh Lautan berbuat nekat, memapak tebasan telapak tangan miring perempuan itu dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Akibatnya, tubuh lelaki tua yang sudah lumpuh kedua kakinya itu terpental deras. Kendati demikian, nyawanya masih berhasil selamat dari ancaman maut

"Haaiiitt..!"

Wanita berpakaian serba hitam berambut riap-riapan ini sama sekali tidak memberi kesempatan pada Pedang Tujuh Lautan menarik napas lega. Tubuhnya kembali meluncur, dengan sebuah tamparan keras berbau maut!

Desss...!

Kali ini, Pedang Tujuh Lautan tak mampu lagi melindungi dirinya. Tamparan keras itu langsung membuat tubuhnya terlempar disertai muntahan darah. Dan seketika lelaki gagah itu terbanting ke tanah dengan napas terengah. Dia hanya bisa memandang lawannya dengan sinar tajam menikam jantung. Malah ketika wanita itu kembali melesat, Pedang Tujuh Lautan tak bergeming sedikit pun. Dan....

Bukkk!

Lagi sebuah tendangan keras membuat tubuh Pedang Tujuh Lautan melintir disertai pekik kesakitan. Darah segar kembali termuntah. Dan kali ini, ia benar-benar sudah dibuat sekarat oleh perempuan berambut riap-riapan itu.

Tanpa mempedulikan keadaan laki-laki tua ini, perempuan cantik berwajah bengis itu langsung saja membungkuk. Seketika, diangkatnya tubuh Pedang Tujuh Lautan dengan mencengkeram pakaiannya menggunakan tangan kanan. Sementara tangan kirinya menggerayang ke batik pakaian Pedang Tujuh Lautan, mencari benda yang diinginkannya.

"Hih hih hih...!" Perempuan cantik berwajah bengis itu tertawa melengking sambil mengangkat sebuah kitab tua dalam genggaman tangan kiri. Kemudian, dilemparkan tubuh Pedang Tujuh Lautan begitu saja tanpa rasa kasihan sedikit pun.

"Guru...!" Laka Sora yang baru tiba di tempat itu, terkejut bukan main ketika melihat keadaan gurunya. Cepat bocah itu lari memburu, dan bersimpuh di samping tubuh yang tengah sekarat ini. "Guru..., bagaimana keadaanmu...?" tanya bocah berusia sepuluh tahun itu, dengan wajah pucat dilanda kecemasan. 

"Laka Sora.... Katakan, bagaimana keadaan Dewa Elang Hitam...?" tanya Pedang Tujuh Lautan tanpa mempedulikan pertanyaan muridnya.

"Beliau... beliau tewas dibunuh Pengemis Tongkat Setan, Guru...," jawab Laka Sora tertunduk sedih, melihat keadaan gurunya yang tengah sekarat.

Mendengar jawaban muridnya, Pedang Tujuh Lautan menghela napas berat. Tangannya terulur membelai kepala muridnya yang telah mewarisi dua ilmu kedigdayaan, tanpa disadari bocah itu sendiri.

"Laka Sora, pergilah dan tinggalkan tempat ini. Jangan sampai perempuan iblis yang berjuluk Kuntilanak Bunga Hitam itu, menjadi curiga dan menangkapmu. Sembunyikan dua ilmu mukjizat yang telah kau pelajari dari kami...," ujar Pedang Tujuh Lautan, lemah dan susah payah.

Tapi sayang, perintah Pedang Tujuh Lautan terlambat. Karena tiba-tiba saja, Kuntilanak Bunga Hitam sudah berkelebat, dengan tangan terulur menjambret tubuh Laka Sora. Wanita ini tampaknya curiga begitu mendengar bocah itu menyebut guru kepada Pedang Tujuh Lautan.

Maka, kaget bukan main hati Pedang Tujuh Lautan. Selebar wajahnya langsung pucat seketika. Tapi, sewaktu hendak memaksa bangkit, darah segar kembali termuntah dari mulutnya. Dan seketika tokoh sakti yang bernasib sial itu roboh, menghembuskan nafasnya yang terakhir

"Perempuan Jahat! Apa yang hendak kau lakukan padaku?" Tanpa rasa gentar sedikit pun, Laka Sora menentang pandangan mata Kuntilanak Bunga Hitam.

Wanita cantik berwatak telengas itu sempat kaget melihat keberanian bocah laki-laki ini. Melihat sinar mata penuh teguran ini mengertilah Kuntilanak Bunga Hitam mengapa bocah itu menjadi murid Pedang Tujuh Lautan. Selain memiliki keberanian dan ketabahan, susunan tulangnya pun menunjukkan bakat luar biasa untuk menjadi seorang ahli silat. Sesaat ada rasa kagum di hati Kuntilanak Bunga Hitam.

"Bocah! Benarkah Pedang Tujuh Lautan adalah gurumu?" tanya Kuntilanak Bunga Hitam, langsung mengangkat tubuh Laka Sora tinggi-tinggi. Sehingga, wajah keduanya kini begitu dekat. Dan suara bentakan itu membuat Laka Sora seperti mendengar ledakan petir di telinga. Akibatnya kepalanya pening untuk beberapa saat

"Aku tidak sudi menjawab pertanyaan orang jahat sepertimu!" tukas Laka Sora cepat, dengan suara tinggi

Mendengar perkataan itu, Kuntilanak Bunga Hitam sama sekali tidak marah. Bahkan bibirnya menyunggingkan senyum licik. Tentu saja Laka Sora menjadi heran. Padahal, semula ia ingin melihat perempuan berpakaian serba hitam itu marah.

"Hih hih hih...! Kasihan Pendekar Pedang Tujuh Lautan! Murid yang dibangga-banggakan ternyata seorang bocah pengecut yang tak sudi mengakui gurunya sendiri..." Dengan liciknya, Kuntilanak Bunga Hitam memancing Laka Sora. Sepertinya, perempuan berambut riap-riapan ini sudah dapat menilai, bagaimana watak bocah itu.

"Perempuan jahat! Siapa bilang aku pengecut? Kalau kau ingin jawaban dariku, dengarlah. Aku Laka Sora, murid Pedang Tujuh Lautan dan Dewa Elang Hitam! Nah, apa kau puas?" jawab Laka Sora, lantang.

"Bagus! Nah! Sekarang katakanlah, ilmu apa saja yang sudah diajarkan kedua gurumu itu?" tanya Kun- tilanak Bunga Hitam lagi. Diam-diam perempuan itu kaget. Nyatanya bocah ini bukan saja menjadi murid Pedang Tujuh Lautan, bahkan juga menjadi murid Dewa Elang Hitam! Tentu saja ia menjadi curiga dan menduga, kalau kedua orang sakti itu telah menurunkan ilmu mukjizat yang selama belasan tahun dicarinya.

Laka Sora terdiam mendengar pertanyaan itu. Sejenak bocah itu teringat pesan terakhir dari gurunya, Pedang Tujuh Lautan. Dan ucapan itu terngiang-ngiang di telinganya. "Sembunyikan dua ilmu mukjizat yang kau pelajari dari kami"

Teringat akan pesan itu, Laka Sora pun bungkam. Tapi, Kuntilanak Bunga Hitam tentu saja semakin curiga.

"Apakah kau diturunkan pelajaran tentang 'Tinju Topan Pemecah Langit' dari Pedang Tujuh Lautan dan 'Ilmu Tinju Badai Menggulung Jagad' dari Dewa Elang Hitam?" desah Kuntilanak Bunga Hitam penuh harap.

Perempuan itu berharap, bila bocah ini mempelajarinya, berarti tidak perlu susah-susah mencari Kitab Ilmu Tinju Badai Menggulung Jagad. Karena diyakini, bocah itu telah mewarisinya dari Dewa Elang Hitam. Tapi, kali ini Laka Sora tetap bungkam. Bocah itu sama sekali tidak peduli, meskipun Kuntilanak Bunga Hitam menyebutnya sebagai pengecut Karena disadari, hinaan itu hanyalah sebuah siasat untuk mengorek keterangan.

"Kurang Ajar!"

Plakkk!

Saking marahnya, Kuntilanak Bunga Hitam lupa kalau yang dihadapinya hanyalah seorang bocah. Akibatnya, tamparan keras itu membuat Laka Sora terbanting keras ke tanah. Laka Sora merasakan kepalanya berkunang-kunang. Bumi yang dipijaknya seolah bergoyang-goyang, membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Tapi, semua itu malah membuat kening Kuntilanak Bunga Hitam berkerut. Heran bukan main hatinya, melihat bocah itu tidak tewas. Padahal, tamparannya sanggup memecahkan baru karang sebesar kerbau bengkak!

Kuntilanak Bunga Hitam sama sekali tidak tahu, kalau hawa mukjizat yang baru satu minggu dipelajari Laka Sora dari kedua orang gurunya, telah melindunginya dari kematian. Dari sini dapat dilihat betapa hebat dan luar biasanya tenaga mukjizat yang menjadi dasar pelajaran Ilmu Tinju Topan dan Badai. Merasa penasaran, Kuntilanak Bunga Hitam segera melangkah maju. Kemudian, dilepaskannya sebuah tamparan ke kepala Laka Sora.

Whuttt!

"Hei...?!" Kuntilanak Bunga Hitam memekik tertahan. Betapa herannya dia melihat tubuh Laka Sora bergerak aneh. Sehingga, tamparannya luput!

"Hm..."! Kuntilanak Bunga Hitam tersenyum iblis. Sadar kalau bocah itu telah mewarisi ilmu-ilmu mukjizat dari kedua gurunya, maka kembali diserangnya Laka Sora. Ini dilakukan untuk memancing dan mempelajari gerakan mengelak bocah itu.

"Nah! Cobalah hindari pukulan ini...!" Dengan mengurangi tenaga dan kecepatan, Kuntilanak Bunga Hitam menyerang Laka Sora. Tapi sebelum serangannya sampai pada sasaran, tiba-tiba terdengar angin keras menyambar. Akibatnya pukulan perempuan itu menyeleweng. Dan belum juga disadari apa yang terjadi, berkelebat sesosok bayangan yang langsung meluncur turun di dekat Laka Sora.

"Kurang ajar! Mengapa kau mencampuri urusanku, Gembel gila!" Kuntilanak Bunga Hitam terkejut dan marah, ketika mengenali siapa orang yang membuat pukulannya menyeleweng. Orang itu tak lain Pengemis Tongkat Setan.

Rupanya, pengemis gembel itu memang tengah mencari-cari perginya bocah yang menjadi murid Dewa Elang Hitam. Dan ketika melihat bocah itu tengah diserang Kuntilanak Bunga Hitam, cepat di cegahnya. Jelas saja, ia memang tidak ingin bocah itu jatuh di tangan saingannya. Takut kalau-kalau Laka Sora itu telah mempelajari Ilmu Tinju Badai Menggulung Jagad yang kitabnya telah didapat, tentu saja ia tidak ingin bocah itu jatuh ke tangan Kuntilanak Bunga Hitam.

"Hm..:. Aku tidak mencampuri urusan siapa-siapa! Hanya saja, aku tidak suka melihat kau hendak melukai seorang bocah!" jawab Pengemis Tongkat Setan, dengan nada sama tinggi.

Setelah berkata demikian, pengemis itu mengulurkan tangannya hendak menangkap tubuh Laka Sora. Namun mesti masih bocah, Loka Sora telah mewarisi ilmu-ilmu mukjizat dari kedua orang gurunya. Selain itu kecerdikannya benar-benar luar biasa. Maka serangan itu cepat dielakkannya dengan langkah-langkah aneh, bahkan berhasil membuat dirinya selamat dari tangkapan Pengemis Tongkat Setan.

"Eh...!" Pengemis Tongkat Setan tentu saja menjadi kaget. Secepat kilat tubuhnya berbalik, menghadapi Laka Sora. Tadi ia memang belum percaya kalau anak itu dapat menghindari tangkapannya. Maka niatnya hendak diulang untuk memastikan, apakah Laka Sora benar-benar dapat mengelakkan.

"Hm.... Jangan mau enaknya sendiri, Gembel gila...!" Kuntilanak Bunga Hitam tentu saja tidak tinggal diam melihat saingannya hendak menangkap Laka Sora. Cepat tubuhnya bergerak dan melepaskan sebuah pukulan keras dari samping.

Bwettt!

Pengemis Tongkat Setan yang semula hendak menangkap tubuh Laka Sora, bergegas menarik mundur tubuhnya. Dan begitu pukulan perempuan itu lewat di depan tubuhnya, langsung dibalasnya dengan kibasan tongkat.

Whuttt!

Sambaran tongkat yang cepat dan kuat diiringi suara berkesiutan, meluncur ke arah kepala Kuntilanak Bunga Hitam. Tapi, tokoh wanita sesat ini sama sekali tidak gugup. Tubuhnya cepat membungkuk dan berputar. Kemudian dilepaskannya satu hantaman ke arah badan tongkat yang menyambar lewat di depannya.

Plakk!

"Aiiih...!" Pengemis Tongkat Setan memekik tertahan, ketika luncuran tongkat itu menyambar cepat ke arahnya. Tapi kekagetan itu hanya sekejap saja, karena kakek gembel itu cepat menguasai keadaan. Lalu dengan sedikit membungkuk, tongkatnya diputar di atas kepala, dan kembali menyambar mengancam Kuntilanak Bunga Hitam.

"Bagus...!" puji Kuntilanak Bunga Hitam.

Pertarungan kedua orang tokoh sakti itu terus berlanjut sengitnya. Kuntilanak Bunga Hitam kini sudah menggunakan senjata rahasia, berbentuk bunga melati berwarna hitam. Senjata itu terbuat dari baja pilihan dan telah direndam dalam ramuan beracun. Begitu cepat senjata rahasia itu dilepaskan, membuat Pengemis Tongkat Setan sempat menjadi sibuk menghalaunya.

Tapi, 'Ilmu Silat Tongkat Setan' milik pengemis itu pun membuat Kuntilanak Bunga Hitam tidak boleh lengah. Sedikit saja pikirannya terganggu, niscaya tongkat kakek gembel itu akan menghajar tubuhnya. Dan Kuntilanak Bunga Hitam memang tidak mau memandang rendah lawan yang kepandaiannya cukup diakuinya.

Sementara pertarungan kedua orang tokoh itu berlangsung, Laka Sora yang sadar kala dirinya menjadi rebutan, diam-diam mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat ini. Tubuhnya segera bergerak mundur perlahan-lahan dan tetap mengawasi kedua orang yang tengah bertarung. Dan ketika merasa sudah agak jauh, tubuhnya berbalik dan melarikan diri meninggalkan tempat itu.

Tanpa mempedulikan rasa lelah dan tubuh serta pakaiannya yang tersayat duri dari pohon-pohon di sekitarnya, Laka Sora terus berlari sekuat tenaga. Beberapa kali ia jatuh terguling terantuk akar pohon yang mencuat dari dalam tanah. Tapi, bocah itu tidak peduli. Ia ingin berlari sejauh-jauhnya, untuk menghindari kedua orang yang dianggapnya telah gila itu. Tapi....

"Aaahh...?!" Laka Sora yang merasa yakin kalau dirinya akan dapat terbebas dari kedua orang tokoh sakti itu, tiba-tiba menghentikan larinya. Sepasang matanya terbelalak, melihat dua sosok tubuh yang berdiri menghadang di depannya. Mereka adalah Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam. Rupanya, kedua orang tokoh sesat itu telah mengetahui kepergiannya. Dan mereka pun langsung menunda perkelahian, untuk mengejar Laka Sora.

"Hm..., mau lari ke mana kau, Bocah?" tegur Pengemis Tongkat Setan. Dia berdiri di sebelah kanan Kuntilanak Bunga Hitam, dalam jarak kurang dari dua tombak.

Kuntilanak Bunga Hitam sendiri sama sekali tidak berbicara. Hanya sepasang matanya saja yang menyorot tajam seperti hendak menelan wajah Laka Sora. Tapi bocah ini tidak kehilangan akal. Setelah terdiam sejenak mencari jalan untuk dapat bebas dari kedua orang itu, bibirnya pun tersenyum tipis memandang kedua orang tokoh itu bergantian.

"Hm.... Siapakah di antara kalian berdua yang menjadi pemenang pertarungan tadi? Dan tentu saja aku akan suka ikut dengan salah satu dari kalian. Tentunya yang lebih sakti...," ujar Laka Sora bersiasat

Tapi, ucapan Laka Sora malah disambut tawa berkakakan. Sebagai orang-orang golongan sesat, perkara siasat dan kelicikan tentu saja mereka adalah bapak moyangnya. Maka tak heran mereka kontan tertawa begitu mendengar ucapan bocah itu. Dan setelah tawa itu berhenti, mereka melangkah perlahan-lahan mendekati Laka Sora. Sorot mata mereka jelas mengandung ancaman, dan siap untuk saling mendahului membekuk Laka Sora. Melihat gelagat tidak baik, Laka Sora bergerak mundur-mundur. Kemudian tubuhnya berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu sekuatnya. Tapi...

"Hua ha ha...!" Pengemis Tongkat Setan tertawa bergelak, dan tahu-tahu sudah berdiri satu tombak di depan Laka Sora.

"Jangan mimpi dapat lolos dari kami, Bocah!" ujar Kuntilanak Bunga hitam tersenyum mengejek. Perempuan bengis namun kelihatan cantik itu berkacak pinggang di sebelah kiri Pengemis Tongkat Setan, dalam jarak satu setengah tombak.

Seperti telah sepakat, tiba-tiba kedua orang tokoh sesat itu bergerak untuk menangkap Laka Sora. Seolah, keduanya tengah berlomba ketangkasan. Dan Laka Sora sebagai hadiahnya.vTapi, saat Laka Sora tengah kebingungan, tiba- tiba berhembus angin keras yang disusul berkelebatnya dua sosok bayangan Seketika, kedua bayangan itu masing-masing langsung memapak lengan Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam.

Plakk, plakkk!

Terdengar benturan keras, ketika lengan kedua tokoh sesat itu terasa seperti membentur sebatang besi. Keduanya mencelat mundur, sambil memijat lengan masing-masing. Memang, saat berlomba untuk saling mendahului menangkap Laka Sora, mereka tidak mengerahkan banyak tenaga. Sehingga begitu ada yang menggagalkan, mereka pun kalah tenaga. Apalagi, tenaga orang yang menggagalkan niat mereka tadi begitu kuatnya.

"Bedebah! Bosan hidup, kau rupanya!" geram Pengemis Tongkat Setan. Seketika senjatanya disilangkan di depan dada, setelah diputar di atas kepala.

"Hm..., Siapa berani main-main dengan Kuntilanak Bunga Hitam...?" Kuntilanak Bunga Hitam menggeram gusar. Sepasang matanya menyorot tajam, ke arah dua sosok tubuh yang kini berdiri di dekat bocah yang diperebutkan itu.

***
EMPAT
SEMENTARA dua sosok yang kini sudah berdiri tegak itu sama sekali tidak terkejut, ketika Kuntilanak Bunga Hitam menggertak dengan menyebutkan julukannya sendiri. Sikap dua sosok yang ternyata sepasang anak muda itu tetap tenang, meskipun tatapan kedua tokoh sesat begitu mengiriskan seperti hendak menembus jantung.

"Aku mengenal kalian berdua. Tapi perbuatan kalian yang hendak mencelakakan bocah, tak bisa kubiarkan begitu saja. Seharusnya, kalian sebagai tokoh besar merasa malu dengan mengeroyok seorang bocah," kata sosok yang berjubah putih,

Tekanan suara pemuda berjubah itu terdengar mengandung perbawa kuat. Bahkan sikapnya tenang, membuat kedua orang tokoh sesat ini menjadi curiga, dan memperhatikan lebih teliti. Seolah, mereka hendak mengenali siapa adanya pemuda tampan berjubah putih itu.

Sementara sosok yang berdiri di sebelah pemuda tampan berjubah putih itu adalah seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun. Agaknya, gadis yang bukan main cantiknya ini hanya berdiam diri saja. Kulitnya yang putih terlihat semakin bersinar, karena pakaian hijau yang dikenakannya demikian pas dengan warna kulit tubuhnya.

Setelah meneliti ciri-ciri kedua anak muda itu, balk Pengemis Tongkat Setan maupun Kuntilanak Bunga Hitam mulai dapat menduga. Kedua tokoh sesat yang semula saling bersaing ini berpandangan sesaat. Dan dalam pandang mata yang hanya sekejap, sepertinya mereka telah sepakat mengenali, terutama terhadap pemuda tampan berjubah putih itu.

"Hm.... Rasanya aku sudah dapat memastikan namamu, Kisanak. Kalau tidak salah lihat, kau pasti Pendekar Naga Putih," kata Kuntilanak Bunga Hitam, tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah tampan di depannya.

"Dugaanmu tidak salah, Kuntilanak Bunga Hitam. Tapi siapa pun aku, yang jelas akan tetap menentang perbuatan jahat kalian berdua!" jawab pemuda tampan berjubah putih, yang memang Panji alias Pendekar Naga Putih. Ucapan terakhir Panji demikian tandas dan tegas, menunjukkan sikapnya sebagai ksatria. Sedangkan gadis di sebelahnya yang tak lain dari Kenanga, masih terlihat diam. Namun dari sikapnya, terlihat waspada.

"Tidak peduli apa pun yang kau katakan, Pendekar Naga Putih! Yang jelas, kau nyata-nyata hendak melawan kami, bukan?" Kali ini Pengemis Tongkat Setan yang berbicara. Sorot matanya demikian tajam, seolah hendak menelan tubuh Pendekar Naga Putih bulat-bulat!

"Sudah kukatakan, aku akan menentang setiap bentuk kejahatan. Siapa pun adanya, aku tidak peduli!" tukas Panji kembali menegasi sikapnya.

"Hm Kau tahu, apa sebabnya kami menginginkan bocah itu, bukan? Bocah itu adalah murid Pedang Tujuh Lautan dan Dewa Elang Hitam. Dan dia telah mewarisi 'Ilmu Tinju Topan dan Badai' yang pernah menggemparkan dunia persilatan. Kau tentu pernah mendengar tentang perebutan kedua kitab ilmu mukjizat itu, belasan tahun silam. Dan kau juga mungkin pernah dengar, bahwa Pedang Tujuh Lautan dan Dewa Elang Hitam merupakan dua sahabat baik sebelum terjadi perebutan kitab itu..."

Sejenak wanita kejam itu menghentikan penjelasannya. Entah, apa maksudnya. Mungkin hendak melihat tanggapan Pendekar Naga Putih. Namun nyatanya Panji malah manggut-manggut sambil memegangi dagunya.

"Tapi, setelah masing-masing mendapatkan sebuah, terjadilah permusuhan di antara mereka tanpa ada seorang pun yang mau mengalah. Kedua kitab itu apabila digabungkan akan menjadi sebuah ilmu dahsyat tak tertandingi. Tapi, baik Pendekar Pedang Tujuh Lautan maupun Dewa Elang Hitam sama-sama bersikeras ingin merebut kitab masing-masing, sampai akhir hayat mereka.

Sekarang, bocah itulah yang menjadi pewaris keduanya. Dan apabila berita ini sampai tersebar keluar, maka tokoh-tokoh persilatan dari berbagai aliran akan saling berebutan untuk mendapatkan bocah itu. Maka kemungkinan besar, kau pun memiliki keinginan yang sama. Dan pasti kau ingin menguasai bocah itu sendiri!"

Kuntilanak Bunga Hitam menghentikan ceritanya. Ditatapnya wajah Pendekar Naga Putih, seperti hendak membaca apa yang tergambar di wajah pendekar muda itu. Sebenarnya apa yang diceritakan Kuntilanak Bunga Hitam memang sempat membuat Panji maupun Kenanga kaget bukan main.

Mereka memang pernah mendengar tentang dua kitab itu dari guru masing-masing. Dan menurut apa yang pernah didengar, kedua kitab kuno itu adalah peninggalan seorang tokoh maha sakti, yang telah berumur ratusan tahun. Kalau sekarang kedua Ilmu mukjizat itu telah diwarisi oleh bocah yang mereka tolong, artinya nyawa bocah itu untuk selanjutnya akan selalu diincar bahaya. Dan sudah pasti, bocah itu akan menjadi rebutan.

"Aku memang sangat suka ilmu silat. Tapi rasa suka itu tidak akan membuatku tergila-gila. Sebaliknya, dari apa yang kalian berdua pikirkan, aku malah merasa kasihan terhadap nasib bocah malang ini. Dia pasti tidak akan pernah mengalami ketenangan dalam hidupnya.

Dan demi keadilan, nyawaku akan ku pertaruhkan demi menyelamatkan bocah ini dari orang-orang serakah dan gila ilmu silat! Dan karena kedua ilmu mukjizat itu telah jatuh ke tangan bocah malang ini, menurutku itu memang sudah menjadi kehendak Tuhan. Dialah yang berkuasa mengatur segalanya...," sanggah Panji.

"Persetan dengan ocehanmu yang seperti pertapa itu, Pendekar Naga Putih! Apa pun alasanmu, yang jelas kau hendak menyerakahi bocah itu untuk mencuri ilmunya!" bentak Pengemis Tongkat Setan dengan amarah meluap. Dan kakinya sudah melangkah maju, sambil memutar-mutar tongkat kayu besinya.

"Nampaknya kita harus merebut bocah itu dari tangannya, Pengemis Tongkat Setan," gumam Kuntilanak Bunga Hitam. Perempuan ini tidak lagi memanggil kakek itu dengan sebutan gembel gila. Tentu saja, karena ia tidak ingin bermusuhan dalam keadaan seperti itu.

"Terserah. Aku tidak peduli dengan tuduhan kalian. Dan kalau menghendaki bocah ini, kalian harus melangkahi dulu mayat kami berdua!" tegas Panji. Segera saja Pendekar Naga Putih bersiap untuk menghadapi pertarungan. Disadari, kedua orang calon lawannya ini adalah tokoh ternama dari golongan hitam. Bahkan terbilang datuknya kaum sesat.

"Kalau begitu sambutlah seranganku, Pendekar Naga Putih...! Haaattt!"

Whukkkk!

Pengemis Tongkat Setan sudah langsung menerjang Pendekar Naga Putih dengan sambaran tongkat kayu besinya. Senjata itu meluncur berputar-putar, menimbulkan tiupan angin menderu-deru. Angin yang bertiup keras itu membuat pepohonan yang ada dalam jarak dua tombak, berderak-derak bagaikan dilanda topan.

Tapi, Panji sudah siap menghadapinya dengan 'Ilmu Silat Naga Sakti'. Cepat dihindarinya setiap sambaran tongkat yang mengarah tubuhnya. Bahkan langsung melepaskan serangan balasan yang diiringi hawa dingin menusuk tulang. Sebentar saja, kedua tokoh ini sudah terlibat perkelahian sengit yang mendebarkan.

Sementara itu, Kuntilanak Bunga Hitam juga tidak tinggal diam. Tokoh wanita sesat ini sudah maju menerjang Kenanga. Sengaja yang dipilihnya sebagai lawan bertarung adalah dara jelita itu. Menurut pikirannya, gadis itu sudah pasti tidak akan setangguh Pendekar Naga Putih. Maka begitu melancarkan serangan, Kuntilanak Bunga Hitam sudah mengeluarkan ilmu andalannya. Ia ingin selekas mungkin merobohkan dara jelita ini dan segera membawa lari Laka Sora.

Tapi, tentu saja Kuntilanak Bunga Hitam terlalu gegabah bila menduga dapat mudah merobohkan Kenanga. Kendati kepandaiannya tidak sehebat Panji, tapi Kenanga bukan lawan ringan. Apalagi, gadis itu pernah membuat geger rimba persilatan, sehingga dijuluki sebagai Bidadari Iblis.

"Haiiittt...!"

Kuntilanak Bunga Hitam mencecar Kenanga dengan serangkaian pukulan maut. Sepasang tangannya bergerak cepat luar biasa, menyambar-nyambar disertai deru angin pukulan yang keras bukan main. Tampak sekali tokoh wanita sakti beraliran sesat ini sudah mengerahkan seluruh tenaganya, agar dapat melumpuhkan Kenanga dalam waktu singkat

Tapi bukan main kaget hati Kuntilanak Bunga Hitam, ketika mendapat perlawanan yang gigih dari dara jelita itu. Serangan-serangan pertamanya bukan saja dapat digagalkan, bahkan juga mendapat serangan balasan dari Kenanga. Dan ini sempat membuat Kuntilanak Bunga Hitam terdesak mundur. Sebenarnya, ini terjadi bukan karena kepandaian Kenanga lebih unggul tapi karena wanita sesat itu terlalu memandang enteng. Dia tidak begitu memperhatikan pertahanan diri, akibatnya jadi rugi sendiri.

Whuttt!

Sebuah tebasan sisi telapak tangan miring Kenanga cepat dielakkan Kuntilanak Bunga Hitam dengan merunduk dan menekuk kedua kakinya. Kemudian tokoh sesat wanita ini melompat berputar sambil melancarkan tendangan sepenuh tenaga.

Kenanga segera menarik mundur tubuhnya hingga doyong ke belakang. Maka tendangan itu memang berhasil dihindarinya. Tapi, betapa kagetnya Kenanga, ketika Kuntilanak Bunga Hitam masih menyusuli dengan serangkaian tendangan cepat dan kuat. Sehingga seolah kedua kaki wanita sesat itu telah berubah menjadi baling-baling. Karena merasa tak mungkin untuk menghindar, Kenanga cepat mengangkat tangan kanannya. Langsung ditangkisnya tendangan samping yang mengancam pelipisnya.

Plakk!

"Aaaah...!" Kenanga memekik tertahan, karena lengannya terasa lumpuh untuk sesaat begitu benturan terjadi. Dari sini bisa diukur kalau kekuatan tenaga dalamnya masih berada di bawah Kuntilanak Bunga Hitam. Akibatnya, Kenanga kontan terhuyung mundur sampai hampir satu tombak. Maka kesempatan itu digunakan Kuntilanak Bunga Hitam sebaik-baiknya.

"Hyaaatt..!"

Sing, sing, sing!

Seiring bentakan keras, Kuntilanak Bunga Hitam mengebutkan tangannya. Seketika tiga buah sinar hitam meluncur dengan kecepatan laksana sambaran kilat ke arah Kenanga. Rupanya, Kuntilanak Bunga Hitam melepaskan senjata-senjata rahasia yang menjadi ciri khasnya.

Kenanga memang bukan gadis penakut. Tapi melihat lesatan tiga sinar hitam yang meluncur bagai kilat diiringi suara berdesingan, dia agak gugup juga. Untungnya, selama berpetualang bersama Panji, ia selalu mendapatkan bimbingan dalam menyempurnakan ilmu silatnya. Terutama sekali, penyempurnaan ilmu pedang. Sehingga begitu sinar hitam itu mendekat, dengan gerakan cepat bukan main, Pedang Sinar Bulan yang melibat pinggangnya, diloloskan. Lalu pedangnya langsung dikibaskan menyambut datangnya senjata-senjata gelap itu.

Trakkk, tring, tring!

Kecepatan dan ketepatan gerak Kenanga membuat ketiga senjata berupa bunga melati berwarna hitam itu berguguran jatuh ke tanah. Bahkan satu di antaranya terbelah menjadi dua, karena senjata yang digunakan untuk menangkis memang bukan sembarang pedang.

Kuntilanak Bunga Hitam yang tak menyangka serangannya akan menemui kegagalan, menjadi gusar bukan main. Disertai lengkingan panjang yang meng- getarkan jantung, tubuhnya meluncur cepat dengan serangan-serangan jauh lebih mengerikan. Memang, kali ini tokoh sesat wanita ini sudah menggunakan cakar-cakarnya yang berkuku panjang dan runcing!

Namun dengan Pedang Sinar Bulan-nya, Kenanga menyambut datangnya serangan wanita sesat itu. Pada pertarungan ini, tampak Kenanga agak lebih tenang. Memang dengan Pedang Sinar Bulan di tangan yang memancarkan hawa dingin, kekasih Pendekar Naga Putih itu bisa mengimbangi permainan Kuntilanak Bunga Hitam. Maka kini pertarungan terlihat masih seimbang, meskipun telah memasuki jurus yang ketiga puluh.

Di arena lain, Panji yang menghadapi gempuran Pengemis Tongkat Setan, mulai berada di atas angin. Betapapun hebatnya 'Ilmu Tongkat Setan' yang dimiliki kakek itu, tetap saja tidak sanggup menandingi kecepatan gerak Pendekar Naga Putih dalam penggunaan 'Ilmu Silat Naga Sakti'. Sosok Panji yang kini hanya berupa bayangan putih saja, bergerak turun naik. Sepasang tangannya menyambar-nyambar bergantian mengincar pertahanan lawan.

Kini pemuda itu tak ubahnya seekor naga perkasa yang melayang-layang di udara tengah menunjukkan keperkasaannya. Dan di lain saat, tubuhnya menukik turun bagaikan hendak meluruk ke dalam bumi. Inilah yang membuat Pengemis Tongkat Setan menjadi kelabakan. Sehingga, pengemis itu hanya mampu membuat benteng pertahanan dengan putaran tongkat besinya. Sedangkan untuk membalas serangan, jelas sudah tidak mampu.

"Yeaaahhh...!"

Suatu ketika, Panji melepaskan pukulan jarak jauh dengan tangan kanannya, tepat begitu meluncur turun. Kelihatannya, Pendekar Naga Putih hendak membobol putaran tongkat yang menjadi benteng pertahanan lawannya.

Breeshhh…!

"Aaakh...?!" Pengemis Tongkat Setan terpekik kaget, begitu pukulan jarak jauh Pendekar Naga Putih tepat mengenai bagian tengah senjatanya. Seketika tongkat itu terpental ke udara dalam keadaan patah menjadi tiga. Sementara tubuh kakek gembel itu sendiri tampak terhuyung-huyung dengan wajah memucat.

"Haaaattt..!"

Melihat kakek gembel itu masih belum juga roboh dan kelihatan masih hendak melanjutkan pertarungan, Panji langsung melesat cepat bagai kilat. Kedua tangannya menyambar cepat, melakukan dua kali tamparan keras ke tubuh pengemis itu.

Plakk, desss!

"Ugghhh!" Kali ini tanpa ampun lagi, tubuh Pengemis Tongkat Setan terpelanting dan terbanting keras ke tanah. Darah segar kontan termuntah dari mulutnya. Hantaman Panji memang telak mengenai lambung dan dada kanannya, sehingga membuat kakek gembel itu tidak mampu untuk segera bangkit. Nafasnya terasa berat, membuat wajahnya semakin pucat. Cepat kakek itu mengatur pernafasannya untuk meredakan guncangan dalam tubuhnya.

Tapi, Panji sudah tidak mempedulikan keadaan lawannya lagi. Apalagi saat itu kekasihnya tampak tengah berusaha mati-matian menghalau setiap serangan kuku-kuku runcing Kuntilanak Bunga Hitam. Jelas, Kenanga tengah terdesak hebat. Malah mungkin tidak akan mampu bertahan dalam lima jurus lagi

"Kuntilanak Bunga Hitam, jaga seranganku...!" Setelah memberi peringatan agar tidak dituduh membokong, Panji melayang ke tengah ajang pertarungan. Sepasang tangannya langsung melancarkan serangan kilat, yang membuat Kuntilanak Bunga Hitam terpaksa melupakan Kenanga. Maka langsung disambutnya serangan Pendekar Naga Putih.

Kuntilanak Bunga Hitam yang merasa tetap paling hebat, segera mengangkat kedua tangannya. Cepat dipapakinya tamparan dan dorongan tangan Panji, sehingga kedua pasang lengan itu saling bertemu.

Plakk! Plakkk!

Terdengar suara nyaring, sehingga membuat udara sekitar bergetar akibat benturan yang terjadi. Dan Kuntilanak Bunga Hitam benar-benar harus menerima kenyataan pahit. Tangkisan itu justru membuat kedua lengannya terasa dingin, bagaikan terbungkus salju tebal. Kuda-kudanya pun tergempur, membuat tubuhnya terhuyung-huyung sampai setengah tombak lebih.

"Hahhh!" Sambil membentak nyaring, Kuntilanak Bunga Hitam mengerahkan hawa murni untuk mengusir hawa dingin yang membekukan kedua lengannya. Kemudian, kembali dia bersiap untuk menghadapi Pendekar Naga Putih!

Kuntilanak Bunga Hitam belum juga memulai serangan. Ia hanya bergerak melangkah ke kiri dan kanan dengan sorot mata tertuju lurus pada sepasang bola mata Pendekar Naga Putih. Tampak wajahnya memancarkan keraguan menghadapi lawan yang diperkirakan berkepandaian sangat tinggi ini. Terlebih, ketika melihat tidak nampaknya batang hidung Pengemis Tongkat Setan. Tahulah Kuntilanak Bunga Hitam kalau kakek gembel itu tentu telah pergi setelah dikalahkan Pendekar Naga Putih.

"Hm.... Sayang, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk bermain-main denganmu, Pendekar Naga Putih. Biarlah lain kali kita lanjutkan pertarungan ini...," ujar Kuntilanak Bunga Hitam.

Rupanya, wanita itu menyadari kalau keadaannya yang tidak menguntungkan. Apalagi, di situ masih ada dara jelita berpakaian serba hijau yang cukup tangguh, selain Pendekar Naga Putih. Maka dengan liciknya ia mengajukan alasan untuk menunda perkelahian.

Panji hanya tersenyum mendengar alasan Kuntilanak Bunga Hitam. Tentu saja, Pendekar Naga Putih bukanlah anak kecil yang bisa dikelabuhi dengan alasan gombal wanita itu. Tapi dia sama sekali tidak mencegah ketika Kuntilanak Bunga Hitam melesat pergi meninggalkan tempat itu.

"Mengapa kau biarkan iblis wanita itu pergi, Kakang? Lain kali dia pasti akan membuat masalah lagi dengan kita...," tanya Kenanga. Gadis itu memang merasa penasaran terhadap Kuntilanak Bunga Hitam. Karena, ia nyaris dibuat celaka kalau saja Panji tidak keburu membantu. Padahal semula kekasihnya diharapkan akan memberi hajaran kepada wanita tokoh sesat itu. Mendapat kenyataan ini, Kenanga jadi kecewa melihat tokoh sesat itu dibiarkan pergi begitu saja.

"Untuk apa memaksa lawan yang sudah tidak ingin bertempur, Kenanga. Bagaimana kalau wanita itu tidak melakukan perlawanan saat kuserang? Kemudian, seranganku malah mengenai sasaran dan menewaskannya? Bukankah aku akan menyesal dan berdosa seumur hidup?" bantah Panji.

Kenanga hanya menggelengkan kepala, tak bisa membantah. Kemudian pandangannya dialihkan ke arah tempat bocah yang mereka tolong itu berada. Dan hatinya merasa lega, ketika melihat bocah itu muncul dari balik semak-semak, dan terus melangkah menghampiri Panji dan Kenanga.

***
LIMA
"AKU Laka Sora, menghaturkan hormat kepada Paman dan Bibi berdua yang telah sudi menolongku. Aku berjanji, kelak akan membalas budi baik kalian...," ucap bocah itu sambil merangkapkan kedua tangannya dan membungkuk hormat ketika tiba di depan Panji dan Kenanga.

Kenanga dan Panji merasa kagum melihat sikap dan tutur kata bocah yang seusia demikian sudah mengenal tata krama demikian halus. Ucapannya ini terdengar sopan penuh rasa hormat. Sikapnya pun demikian halus. Dan ini membuat sepasang pendekar muda ini tersenyum.

"Anak baik, dengarlah," ujar Kenanga disertai senyum seraya mengelus rambut kepala Laka Sora penuh kasih. "Sebagai manusia, kita wajib saling tolong menolong. Dan apa yang kami berdua lakukan tadi, jangan dianggap sebagai budi yang harus dibalas. Kalau menolong orang dengan mengharapkan balasan, itu tidak berarti sama sekali. Kau mengerti...?"

"Terima kasih, Bibi. Nasihat itu akan kusimpan dalam hati agar dapat selalu kuingat...," ujar Laka Sora. Bocah itu langsung saja merasa suka kepada Kenanga. Dan ia jadi terharu, merasakan belaian penuh kasih sayang yang dapat dirasakan dari telapak tangan wanita cantik jelita bagai bidadari itu.

"Laka Sora.... Apakah kau masih mempunyai orang tua?" tanya Panji. Pendekar Naga Putih langsung menatap wajah bocah lelaki itu disertai perasaan kasihan. Apalagi mulai saat ini Laka Sora akan menjadi rebutan kaum persilatan. Memang, telinga orang-orang persilatan tak ubahnya hidung seekor anjing. Dan Panji tahu pasti, berita tentang bocah yang telah mewarisi 'Ilmu Tinju Topan dan Badai' akan segera menggegerkan rimba persilatan.

"Masih, Paman...," sahut Laka Sora. Terus terang, bocah ini tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada lelaki tampan berjubah putih, yang didengarnya berjuluk Pendekar Naga Putih. Apalagi, penolongnya ini berkepandaian hebat luar biasa, sehingga mampu mengalahkan dua orang jahat yang saling memperebutkan dirinya tadi.

"Katakan, siapa mereka? Dan, di mana tempat tinggalnya? Kami berdua akan mengantarkan mu sampai tiba di rumah orangtua mu dengan selamat," lanjut Panji. Tentu saja, Pendekar Naga Putih mengambil keputusan untuk mengantarkan bocah itu, tanpa peduli akan halangan yang bakal dijumpainya dalam perjalanan.

"Ayahku memiliki sebuah perguruan yang terletak di dekat Desa Simpang, Paman. Tapi aku tidak tahu, harus lewat mana untuk menuju desa itu. Yang Jelas, kedua orang yang kemudian menjadi guruku, telah menculik dan membawaku pergi selama kurang lebih tujuh hari...," jawab Laka Sora. Kelihatannya, bocah itu agak bingung setelah memberi keterangan kepada Pendekar Naga Putih.

Mendengar jawaban Laka Sora, Panji dan Kenanga termenung beberapa saat. Mereka berusaha mengingat, kalau-kalau mereka pernah melewati desa itu selama berpetualang. Tapi meskipun berusaha keras mengerahkan ingatan untuk mengetahui letak Desa Simpang, pada akhirnya mereka berdua yakin kalau belum pernah mendengar atau melewati desa itu.

"Apa nama perguruan yang dipimpin ayahmu itu, Laka Sora?" tanya Panji, mencari cara lain. Ia berharap, nama perguruan yang dipimpin orangtua bocah ini cukup terkenal. Sehingga, dapat ditentukan arah tujuan dengan pasti.

"Perguruan ayah, bernama Harimau Putih, Paman. Apakah Paman pernah mendengarnya?" tanya Laka Sora, berharap penolongnya mengenal perguruan yang dipimpin orangtuanya.

"Hhh.... Sayang, aku belum pernah mendengarnya, Laka Sora. Sudahlah tidak perlu dipusingkan. Dan untuk mencari desa tempat tinggalmu, kita bisa mencari keterangan dari pedagang-pedagang keliling. Biasanya, mereka banyak tahu tentang nama-nama desa...," ujar Panji ketika tidak juga tahu, di mana adanya Perguruan Harimau Putih.

Laka Sora tidak banyak bertanya lagi ketika Kenanga menuntun tangannya meninggalkan tempat itu. Dan bocah itu merasa aman berada dalam perlindungan dua orang penolongnya yang sangat digdaya ini.

***

Hari masih pagi. Sinar matahari belum seluruhnya jatuh menghangati permukaan bumi. Semilir angin pun masih terasa agak dingin. Panji, Kenanga, dan Laka Sora yang memasuki sebuah desa yang cukup padat penduduknya, sudah langsung singgah di kedai makan di tepi jalan. Panji memilih tempat agak ke sudut. Kemudian, dipesannya makanan kepada seorang pelayan yang datang menghampirinya. Pelayan itu bergegas menyiapkan pesanan untuk tiga orang tamunya.

"Sudah dua hari kita melakukan perjalanan. Tapi keterangan tentang Desa Simpang atau Perguruan Harimau Putih, sama sekali belum didapatkan. Bahkan, beberapa orang pedagang keliling yang kita tanyai, juga belum pernah mendengarnya...," tutur Kenanga membuka percakapan. Tapi dalam nada suaranya sama sekali tidak mencerminkan keluh.

"Mungkin Desa Simpang masih sangat jauh dari tempat ini. Apalagi bila mengingat Pendekar Pedang Tujuh Lautan dan Dewa Elang Hitam yang sampai memerlukan waktu tujuh hari untuk membawa pergi Laka Sora. Jadi bisa disimpulkan, Desa Simpang tentu masih sangat jauh dari sini. Toh yang penting, kita tidak terburu-buru dalam melakukan perjalanan," sahut Panji perlahan. Dia memang tidak ingin kalau pembicaraan ini sampai mengganggu orang-orang yang sedang makan.

Pembicaraan terhenti ketika pelayan kedai datang membawa makanan pesanan Panji. Tepat ketika pelayan itu menyelesaikan tugasnya, mereka makan dengan tenang tanpa berbicara lagi. Tak lama mereka makan. Begitu selesai, Panji segera beranjak untuk membayar semua makanan yang dipesan. Baru setelah itu mengajak Kenanga dan Laka Sora untuk segera melanjutkan perjalanan.

Ketika tiba di luar kedai, mereka berpapasan dengan empat orang lelaki yang semuanya berpakaian coklat tua. Keempat orang yang hendak memasuki kedai ini, seketika menghentikan langkah. Langsung mereka menatap sepasang pendekar muda itu, serta Laka Sora dengan kening berkerut.

"Kisanak, tunggu sebentar...!" Tiba-tiba salah seorang yang berkumis lebat berseru, mencegah langkah ketiga orang yang sejak tadi diperhatikannya.

Panji yang saat berpapasan melihat gerak-gerik keempat orang itu mencoba bersikap tenang. Dia tahu, keempat lelaki berpakaian coklat itu dari dunia persilatan. Kendati demikian, tetap saja hatinya berdebar tegang! Pendekar Naga Putih menduga, mungkin saja berita tentang Laka Sora sudah tersebar luas. Tapi untuk memastikan, Panji memberi isyarat agar Kenanga berbalik. Tampak lelaki berkumis lebat itu sudah menghampiri.

"Ada keperluan, Kisanak?" tanya Panji. Nada suara Panji terdengar disertai senyum ramah. Kepalanya pun segera mengangguk ke arah tiga lelaki berpakaian coklat lain, yang saat itu juga tengah memperhatikan. Terutama, ke arah Laka Sora. Maka Panji pun mengambil sikap waspada.

"Kisanak nampaknya bocah itu terlalu tua untuk menjadi putra kalian berdua. Benarkah ia anak kalian...?" tanya lelaki berkumis lebat itu langsung menatap Panji dan Laka Sora berganti-ganti.

Panji tetap berusaha bersikap tenang. Jelas, pertanyaan lelaki berkumis lebat itu. menandakan kalau berita tentang Laka Sora sudah sampai ke telinga kaum rimba persilatan.

"Kisanak benar. Ia memang terlalu tua untuk menjadi putra kami. Tapi bocah itu keponakan kami, yang kebetulan tinggal bersama kami...," jawab Panji tetap ramah dan sopan.

"Apakah kalian penduduk desa ini...?" desak lelaki berkumis lebat itu, terus menatap semakin curiga.

"Maaf..." Kenanga yang merasa bahwa pertanyaan lelaki berkumis lebat itu sungguh keterlaluan, langsung saja melangkah maju. Ditatapnya lelaki itu dengan sorot mata mencerminkan kegusaran hatinya. "Sebenarnya, siapakah Kisanak ini? Dan, apa hak Kisanak bertanya-tanya tentang kami? Tinggal di sini atau bukan, itu urusan kami sendiri! Dan aku tidak suka terhadap pertanyaan dan sikap Kisanak yang mencurigai kami!" lanjut Kenanga.

Demikian lantang dan tajam kata-kata Kenanga, hingga menarik perhatian orang yang berlalu-lalang. Seketika, banyak orang-orang yang ingin mengetahui apa yang tengah terjadi. Kerumunan orang desa yang semakin bertambah, membuat lelaki berkumis lebat ini gusar. Wajahnya tampak merah-padam. Apalagi, ketika mendengar suara bisik-bisik di antara penduduk.

Sementara Panji segera berbalik untuk melanjutkan langkah, meninggalkan tempat itu bersama Kenanga dan Laka Sora. Melihat hal ini, laki-laki bertampang kasar itu makin gusar. Sehingga....

"Berhenti...!"

Terdengar bentakan keras menggelegar. Rasa marah dan malu, membuat lelaki berkumis lebat ini bukan lagi sekadar membentak. Tubuhnya langsung mencelat berjumpalitan di atas kepala Panji, Kenanga, dan Laka Sora. Kemudian, tubuhnya meluncur turun dengan gerakan ringan dan mantap.

"Awas pukulan!" Tanpa bertanya lagi, lelaki berkumis lebat itu langsung saja melancarkan sebuah pukulan ke dada Panji. Meskipun perbuatannya sudah keterlaluan, tapi sempat memberikan peringatan sebelumnya. Tanda bahwa ia bukanlah orang telengas.

Melihat datangnya pukulan, Panji segera tahu kalau lelaki berkumis lebat itu hanya sekadar menguji dan tidak bermaksud mencelakai. Panji hanya tersenyum tipis, tidak berusaha mengelakkan pukulan itu. Karena dugaannya pukulan itu belum tentu dilanjutkan. Sementara Kenanga yang memang sudah jengkel, apalagi melihat Panji sama sekali tidak bergerak sedikit pun, langsung saja melepaskan tendangan untuk menghantam balik pukulan itu.

Plagg!

"Aaahhh...?!" Lelaki berkumis lebat itu kontan memekik kesakitan! Kecepatan tendangan Kenanga, membuatnya tidak sempat menarik pulang pukulannya. Sehingga, lengannya jadi terpental balik dan terasa nyeri sampai ke tulang. Hal itu terjadi, karena pukulan yang dilepaskannya sama sekali tidak dialiri kekuatan tenaga dalam. Karena, lelaki berkumis lebat ini memang tidak bermaksud mencelakai Panji. Ia hanya ingin menguji, apakah pemuda yang dicurigainya pandai silat atau tidak. Tapi tindakan Kenanga telah membuatnya yakin. Ternyata orang-orang yang dihadapi memang berisi.

"Hm... Kau pasti pemuda yang dijuluki Pendekar Naga Putih! Dan bocah ini adalah pewaris 'Ilmu Tinju Topan dan Badai' yang dicari-cari tokoh-tokoh persilatan! Sejak pertama, memang aku yakin tidak salah lihat!" ujar lelaki berkumis lebat ini, yang langsung memberi isyarat kepada ketiga orang kawannya untuk mengepung.

Walaupun sejak tadi sudah curiga, tapi tetap saja Panji terkejut Sadarlah Pendekar Naga Putih kalau mulai dari desa ini, perjalanannya tidak akan aman lagi. Tapi itu bukan berarti kalau akan mundur. Yang jelas Laka Sora akan tetap diantarkannya kepada orangtuanya. Apa pun yang akan terjadi.

"Serahkan bocah itu kepada kami...!" bentak lelaki berkumis lebat itu sambil melompat. Tangannya sudah terulur hendak menangkap tubuh Laka Sora.

"Jangan ganggu bocah itu...!" seru Panji, langsung mengibaskan tangan kirinya memotong gerak lelaki berkumis lebat itu dari samping.

Dukkk!

"Aaakhh...?!" Lagi-lagi terdengar pekik kesakitan dari laki-laki berkumis itu. Kali ini bahkan lebih parah. Meskipun saat hendak merebut Laka Sora sudah mengerahkan tenaga dalam, tapi tetap saja kibasan tangan Panji tidak sanggup ditahannya. Sehingga, lelaki berkumis lebat ini sibuk memijat-mijat lengan kanannya yang terasa remuk.

"Keparat! Terima pembalasanku...!" Seketika salah satu dari ketiga lelaki berpakaian coklat yang menerjang dengan golok besar di tangan, membentak marah. Dan senjatanya langsung menyambar, mengancam iga Panji.

"Kenanga! Bawa Laka Sora menyingkir! Biar aku yang menghadapi mereka...!" seru Panji, langsung memutar tubuhnya dengan sebuah lompatan pendek. Tangan kanannya langsung berputar dan melibat lengan yang memegang golok besar itu. Kemudian, lang- sung dilepaskannya satu sikutan keras.

Desss!

Orang itu kontan kaget dan menjadi marah dengan mata membeliak. Perutnya telak sekali terkena sodokan siku Panji. Karuan saja tubuhnya terbungkuk, sambil memegangi perutnya yang menjadi mulas bukan main.

Sementara dua orang penyerang lain yang meluncur datang, langsung disambut Panji dengan tamparan dan tangkisan. Yang seorang terpental dengan bibir pecah terkena tamparan, sedang yang satunya lagi melintir akibat terhantam tangkisan Panji yang amat kuat.

"Hm.... Kalau hanya memiliki kepandaian serendah ini, sebaiknya kalian pulang saja. Jangan ikut-ikutan hendak memperebutkan bocah ini! Percuma! Kalian tidak akan berhasil. Malah, mungkin kalian akan tewas sia-sia," ujar Panji.

Tentu saja perkataan Panji bukan bermaksud menghina keempat orang lelaki itu. Tap! lebih tepat merupakan nasihat yang agak keras. Setelah merasakan kepandaian Pendekar Naga Putih yang melindungi bocah itu, tampaknya keempat lelaki berpakaian coklat itu tahu diri. Apalagi, setelah mendengar kata-kata pemuda itu, sehingga mereka saling bertukar pandang sesaat.

"Terima kasih atas pelajaran yang berharga ini, Pendekar Naga Putih. Setelah merasakan kepandaianmu, kami sadar kalau ilmu yang kami miliki ternyata masih sangat rendah. Dan memang, kami belum pantas memperebutkan bocah itu..."

Setelah berkata demikian, lelaki berkumis lebat yang menjadi pemimpin, segera berbalik dan melangkah ke arah kuda yang ditambatkannya. Begitu dia melompat naik ke atas punggung kudanya, segera membedalnya tanpa menoleh lagi. Sedang tiga orang kawannya segera mengikuti.

"Syukurlah mereka tahu diri...," gumam Panji menarik napas lega, ketika keempat orang itu sudah jauh tak terlihat lagi. Memang sungguh tidak disangka kalau persoalan itu dapat demikian mudah dan cepat selesai, tanpa pertumpahan darah.

"Hm.... Apakah aku harus tahu diri, Pendekar Naga Putih...?"

Tiba-tiba terdengar sebuah pertanyaan yang membuat Panji terkejut. Karena dalam suara itu terdapat getaran tenaga dalam yang membuat dadanya berdebar. Cepat Panji menoleh ke arah asal suara. Sedangkan Kenanga dan Laka Sora sudah lebih dulu melihat, siapa orang yang mengeluarkan pertanyaan itu.

Dia adalah seorang lelaki bertubuh sedang, namun terlihat padat berisi. Dan kelihatannya, dia menyembunyikan kekuatan hebat. Usianya tidak terlalu tua, paling jauh empat puluh tahun. Wajahnya tampak angkuh dan memancarkan perbawa. Di kiri dan kanannya berdiri dua orang lelaki bertelanjang dada, yang tingginya melebihi ukuran manusia. Sekali lihat saja, orang tentu dapat menduga kalau kedua orang bertubuh raksasa itu adalah pembantu dari lelaki bertubuh sedang yang pada punggungnya tergantung dua batang pedang.

Panji sama sekali tidak menjawab pertanyaan itu. Diperkirakannya ketiga orang itu yang mulai melangkah mendekat. Dan rasanya, Pendekar Naga Putih tidak berani memandang remeh, karena disadari kalau tokoh-tokoh tingkat tinggi akan bermunculan untuk memperebutkan Laka Sora. Dan menurut penglihatannya, lelaki bersenjatakan sepasang pedang ini bukanlah lawan ringan. Tapi, tentu saja Panji sama sekali tidak gentar untuk menghadapinya.

"Namaku memang tidak sekondang nama besarmu, Pendekar Naga Putih. Aku Malayang, penguasa pantai timur. Dan terpaksa tempat kediamanku selama ini kutinggalkan, ketika mendengar munculnya seorang bocah yang mewarisi ilmu-ilmu mukjizat. Dengan melupakan kebodohan sendiri, aku ingin coba-coba mengadu nasib. Siapa tahu, aku berjodoh dengan 'Ilmu Tinju Topan dan Badai' yang mukjizat itu...," ujar lelaki yang mengaku bernama Malayang.

Kata-kata Malayang terdengar merendah, namun sikapnya angkuh. Dan kelihatannya, Malayang sangat yakin akan mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Dia merasa yakin, karena dua orang raksasa di kiri dan kanannya merupakan pembantu yang menakutkan.

"Kau terlalu merendah, Malayang. Padahal, kelihatannya kau mempunyai peluang yang cukup baik untuk dapat merebut bocah ini dari tanganku. Apalagi, jika melihat dua ekor kerbau peliharaan mu yang sudah siap menerjang dengan tanduk-tanduknya. Nah, mengapa tidak lekas bertindak, agar bisa cepat selesai dan kau dapat kembali ke pantai timur. Meskipun, untuk itu kau mungkin akan sedikit luka...," sahut Panji.

Pendekar Naga Putih tahu lelaki bernama Malayang itu, sehingga sengaja menutupi kesombongannya dengan ucapannya yang merendah. Padahal keangkuhannya tampak menonjol lewat sikapnya. Jelas, ucapannya yang merendah itu bukan berasal dari dalam hati.

Mendengar ucapan Pendekar Naga Putih, dua orang raksasa di kiri dan kanan tokoh pantai timur ini menggereng marah. Sorot mata mereka memancarkan api, seperti hendak membakar tubuh pemuda tampan berjubah putih itu. Panji sendiri hanya tersenyum, tanpa gentar sedikit pun. Tapi, ucapan itu sama sekali tidak membuat Malayang marah. Diberinya isyarat kepada kedua orang bertubuh raksasa itu untuk tetap berdiri di tempatnya. Kelihatannya, Malayang memang belum ingin bertindak. Entah, apa yang ditunggunya.

Semula, Panji agak heran juga ketika melihat Malayang masih tenang-tenang saja. Tapi ketika memperhatikan mata tokoh pantai timur itu yang kerap melirik ke kanan secara sembunyi-sembunyi, Panji pun ikut melirik dengan sudut matanya. Dan Pendekar Naga Putih menjadi terkejut ketika melihat adanya tokoh-tokoh lain yang tengah memperhatikan dirinya.

Bahkan ketika Panji secara sambil lalu menyapu sekitar tempat itu matanya melihat banyak orang menyandang senjata. Berdebar dada Panji ketika menyadari kalau sekitar tempat itu telah dipenuhi tokoh persilatan. Untungnya, mereka tidak ada yang berani memulai, dan saling menunggu satu sama lain.

Kenanga agak heran juga, ketika melihat ada ketegangan membayang di wajah kekasihnya. la tahu betul, kekasihnya selalu bersikap tenang kendati menghadapi ancaman maut. Dan kalau kini ada gambaran ketegangan pada wajah Panji, Kenanga menduga ada sesuatu di sekitar tempat itu.

Merasa penasaran, Kenanga mengedarkan pandangan matanya ke sekitar tempat itu. Dan ketika melihat adanya orang-orang menyandang senjata tengah memperhatikan secara sembunyi dan terang-terangan seperti Malayang, tahulah Kenanga kalau keadaan benar-benar gawat!

"Nampaknya mereka saling menunggu, dan tidak ada yang berani bertindak lebih dulu. Ini merupakan keuntungan buat kita. Meskipun kita pergi dari tempat ini, mereka pasti tidak berani turun tangan mendahului. Mereka akan mengikuti kita. Tapi, bila melihat di tempat ini banyak berkumpul tokoh hebat, rasanya kita akan aman untuk sementara waktu...," bisik Panji kepada Kenanga.

Kemudian, diajaknya dara jelita itu untuk melangkah tanpa melenyapkan kewaspadaan. Laka Sora pun tidak banyak bicara. Meskipun tidak tahu apa yang tengah terjadi, tapi firasatnya merasakan ada bahaya yang mengintai. Maka, tanpa banyak cakap, diturutinya saja ketika Kenanga menarik tangannya. 

***
ENAM
KETIKA Panji mengajak Kenanga dan Laka Sora bergerak menyusuri jalan utama desa dengan langkah perlahan, tak satu pun dari sekian banyak tokoh yang bergerak. Mereka hanya saling berpandangan satu sama lain, menunggu siapa yang akan mengikuti Pendekar Naga Putih lebih dulu. Masing-masing ingin mengetahui, siapa saja tokoh yang sudah berada di desa itu. Memang, tidak semua tokoh menunjukkan diri secara terang-terangan.

Panji sendiri diam-diam merasa agak lega. Ternyata telah lebih dua tombak berjalan, tak mendengar suara langkah yang mengikuti Pendekar Naga Putih tahu, apabila ada tokoh yang memulai pertarungan, maka yang lain akan mendapat keuntungan untuk merebut bocah itu tanpa susah payah. Maka ketika sudah hampir tiga tombak belum juga terdengar ada yang mengejar, Panji langsung memberi isyarat kepada Kenanga untuk segera berlari dengan mengerahkan kepandaiannya.

Ketika melihat Pendekar Naga Putih dan gadis berpakaian serba hijau yang tak pernah melepaskan cekalan pada pergelangan bocah bernama Laka Sora sudah agak jauh, barulah tokoh-tokoh persilatan itu menjadi kaget. Tanpa diperintah, mereka yang berada dalam kedai dan bersembunyi di samping rumah-rumah penduduk, berlompatan keluar melakukan pengejaran.

Tokoh pantai timur yang semula juga hanya diam menunggu, ikut pula melesat, diikuti kedua orang pengawalnya yang bertubuh raksasa. Kini baru dapat dilihat, tokoh-tokoh mana yang memiliki peluang untuk dapat mengejar Pendekar Naga Putih, setelah mereka mengerahkan seluruh kepandaian ilmu lari cepatnya. Dan salah satu tokoh yang berlari paling depan adalah Malayang. Kemudian dua orang kakek kembar berkepala botak, bersenjatakan tongkat yang pada bagian kepalanya terdapat bola berduri sebesar kepalan tangan.

Malayang sendiri tidak mempedulikan dua orang pengawalnya yang tertinggal hampir dua tombak di belakangnya. Yang ada dalam pikirannya saat itu, secepatnya mengejar Pendekar Naga Putih. Padahal saat itu Panji sudah kira-kira sepuluh tombak lebih depan.

Panji dan Kenanga yang mencekal erat tangan Laka Sora, terus berlari mengerahkan segenap kemampuan untuk dapat lolos dari kejaran tokoh-tokoh persilatan. Bukannya mereka takut menghadapi keroyokan, tapi ini demi keselamatan Laka Sora. Kalau nekat meladeni tokoh-tokoh itu, sudah pasti Panji tidak bisa melindungi Laka Sora.

Dan kemungkinan besar, bocah itu akan berhasil dilarikan oleh salah satu dari sekian banyak tokoh yang memperebutkannya. Bahkan tidak kecil kemungkinan akan tewas dalam rebutan. Beberapa alasan inilah yang membuat Panji mengambil keputusan untuk menghindari setiap bentrokan, jika memang masih bisa dihindari. Tapi, ancaman itu rupanya bukan hanya berada agak jauh di belakangnya.

Singngng, singngng...!

Ternyata ketika Panji hendak menyeberangi sebatang sungai yang cukup lebar, tiba-tiba terdengar suara angin berdesingan menuju ke arahnya. Tahulah Panji kalau dirinya diserang secara gelap.

"Haaiiittt..!"

Pendekar Naga Putih berseru nyaring, sambil cepat melempar tubuhnya ke udara. Dari suara sambaran angin serangan, dapat diketahui betapa hebatnya tenaga penyerang gelap itu. Sehingga kecepatan benda berwarna hitam mengkilat yang ternyata paku-paku beracun itu, bagaikan sambaran kilat saja ketika lewat di bawahnya.

Sadarlah Panji kalau penyerangnya adalah tokoh berkepandaian tinggi. Hanya saja memang belum bisa diduga, dari golongan mana si penyerang itu. Tapi dalam keadaan seperti sekarang, Panji sudah tidak lagi melihat perbedaan antara golongan hitam dan golongan putih. Yang jelas, mereka semua tengah saling berlomba memperebutkan Laka Sora, yang telah mewarisi 'Ilmu Tinju Topan dan Badai'.

Hingga sayangnya, tak seorang pun yang tahu kalau kedua kitab yang berisikan ilmu silat mukjizat itu telah jatuh ke tangan Kuntilanak Bunga Hitam dan Pengemis Tongkat Setan. Bahkan Panji dan Kenanga pun tak tahu. Maka bila berita itu juga tersiar, mungkin kedua orang datuk sesat itu pun akan menemui kesulitan. Jadi, bukan tidak mungkin kalau sebagian tokoh akan beralih mencari kedua datuk sesat itu.

Panji yang berhasil menyelamatkan diri dari serangan gelap itu, meluncur turun dengan ringannya. Tapi sebelum kakinya menginjak tanah, kembali telinganya menangkap sambaran angin berdesingan. Geram juga hatinya, karena tokoh yang bersembunyi di antara semak-semak yang banyak terdapat di tepi sungai itu kembali melepaskan serangan licik!

Menyadari hal ini, Panji mengambil keputusan untuk menunggu datangnya senjata-senjata gelap itu. dan begitu mendarat, matanya langsung menatap tajam kilatan benda-benda putih yang meluncur deras mengancam delapan jalan darah besar di tubuhnya.

"Hmhhh...!" Sambil menggeram jengkel, Pendekar Naga Putih menyilangkan kedua tangan di depan dada untuk mengerahkan tenaga dalam sepenuhnya. Kemudian tubuhnya dimiringkan, ketika delapan batang senjata itu tiba dekat. Lalu....

Tap, tap, tappp!

Dengan kecepatan yang sukar diikuti mata, Panji menangkap kedelapan batang pisau terbang yang meluncur ke arahnya. Dan begitu senjata berhasil ditangkap, langsung dikembalikan ke arah senjata itu berasal.

"Hahhh!"

Terdengar bentakan keras yang mengiringi kibasan tangan Panji, ketika mengembalikan senjata-senjata gelap itu. Seketika terdengar suara berkesiutan yang menyakitkan telinga. Bahkan akan membuat kepala pening, bagi yang belum memiliki tenaga dalam tinggi. Dan kedelapan batang pisau terbang itu terus meluncur cepat, melebihi datangnya tadi. Dan....

Prass, prasss. !

Kedelapan pisau terbang itu langsung lenyap di dalam rimbunan semak-belukar, namun tak lama kemudian terdengar lengkingan tinggi yang berkepanjangan. Dan sebentar saja melesat dua sosok tubuh dari semak-semak, lalu terus melambung berputaran di udara.

"Haiiittt..!"

Seperti sengaja ingin memamerkan ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan, kedua sosok tubuh itu kembali membentak diikuti putaran tubuhnya beberapa kali. Lalu, mereka meluncur turun dengan sangat mengagumkan

"Hua ha ha...! Ternyata nama besar yang kau sandang memang bukan nama kosong, Pendekar Naga Putih...! Aku benar-benar kagum dan hormat kepadamu!"

Pujian yang diiringi tawa terbahak-bahak itu dikeluarkan oleh seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun, berpakaian kembang-kembang seperti pakaian perempuan. Rambutnya tergelung rapi ke atas, dihias tusuk konde yang bagian pangkalnya berupa ukiran kepala seekor burung gagak. Kakek itu terbahak-bahak dengan kerasnya.

Panji menghela napas berat, tidak mempedulikan ucapan kakek itu. Dan kepalanya pun sudah berpaling ke sosok kedua, yang ternyata seorang nenek berkulit keriput Anehnya, wajahnya didandani sedemikian rupa. Sehingga, ia seperti seorang gadis genit saja. Rambutnya yang putih pun digelung ke atas kepala, juga dihiasi tusuk konde berukiran kepala burung gagak. Nenek ini terkekeh dan berkedip-kedip genit ke arah Panji.

Setelah meneliti wajah dan penampilan kedua orang tua itu, Panji segera teringat akan suami-istri sinting yang dikabarkan memiliki kepandaian mengiriskan. Tapi, jarang sekali orang yang melihat mereka berdua, karena memang jarang muncul ke dunia ramai. Kendati demikian, kabar tentang kesaktian dan kegilaan mereka sudah cukup terkenal dalam kalangan persilatan. Tapi, kini, ternyata mereka menampakkan diri terang-terangan. Jelas, mereka pun tertarik akan kabar yang tersiar luas di luaran.

"Hm.... Kalau aku tidak salah tebak, kalian berdua pasti yang dijuluki Sepasang Gagak Sinting...?" ujar Panji berusaha menebak. Memang baik sikap maupun cara berpakaian, menunjukkan kalau suami-istri itu kurang waras.

"Hyeeeh, hieh, hiiihhh...!" tawa aneh nenek genit itu melengking seperti suara ringkik kuda yang ganjil. "Kau bukan saja tampan dan gagah, Pendekar Naga Putih. Tapi juga pandai..." Kembali nenek itu mengerjap-ngerjapkan matanya sambil tersenyum memamerkan gigi-giginya yang kehitaman akibat kesukaannya mengunyah daun sirih.

"Genit!" Kakek berpakaian kembang-kembang yang menjadi suami dari nenek itu mengumpat dengan mulut dimonyongkan Kelihatannya, ia merasa cemburu melihat istrinya melirik-lirik kepada Pendekar Naga Putih.

"Hendak kulihat, apakah kau masih suka apa-bila dia sudah menjadi bangkai...!" sambung kakek itu.Dan baru saja kalimat itu selesai diucapkan, tahu-tahu saja tubuh kakek itu sudah lenyap dari tempatnya. Yang terlihat hanya sesosok bayangan hitam, meluncur ke arah Panji disertai suara mencicit susul-menyusul.

"Gila...!" seru Panji kaget. Tahu-tahu saja, sepasang tangan kakek gila yang membentuk paruh burung, sudah tiba mengancam keselamatannya!

Wrett! Bweett!

"Aaaiiih...!"

Sepasang tangan yang berbentuk paruh burung itu nyaris menyambar Pendekar Naga Putih. Untunglah pada saat yang gawat, Panji sudah melempar tubuhnya bergulingan di atas rumput. Tapi itu bukan berarti bahaya sudah lewat. Ternyata, sepasang tangan kakek gila itu masih terus mengejar dengan sambaran-sambaran yang tak ubahnya sebatang pedang ampuh. Mau tak mau, Panji terpaksa terus bergulingan untuk menyelamatkan diri.

"Haaiiittt..!"

Ketika serangan itu terus saja mengejarnya bagai tak berkesudahan, Pendekar Naga Putih menjadi jengkel. Dan begitu melihat kesempatan yang hanya sekejap mata, Panji membentak nyaring menggetarkan jantung, disusul lentingan tubuhnya. Sedangkan tangan kanannya terus mengibas sambil berputaran.

Bwweeett.. plakk!

"Aiihh...?!" Kali ini, ganti kakek gila itu yang memekik tertahan. Kibasan Pendekar Naga Putih yang dialiri tenaga dalam tinggi sebagai pelampiasan kejengkelannya, membentur tangan kakek itu hingga terjajar mundur. Wajahnya sedikit pucat, kaget merasakan hawa sedingin es yang menerpa dada dan meresap ke tangan kanannya.

"Hebat luar biasa...! Itukah 'Tenaga Sakti Gerha-na Bulan' yang mukjizat..?" seru kakek itu, ketika berhasil mengatasi kekagetannya, dan mengusir hawa dingin dalam tubuhnya.

"Tapi, ternyata tidak cukup ampuh untuk membuatmu terluka. Bukankah itu yang hendak kau katakan selanjutnya, Kakek Sinting?" tukas Panji.

Dan sebenarnya, Pendekar Naga Putih kaget, melihat kakek gila itu sanggup menahan gempuran 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'-nya. Dan itu membuktikan, betapa hebatnya kesaktian kakek gila itu. Padahal, jarang ada tokoh yang sanggup menahan tenaga mukjizatnya. Kini Panji sadar kalau kabar tentang kesaktian Sepasang Gagak Sinting memang bukan isa- pan jempol belaka.

Kenanga yang berdiri agak dekat tepi sungai di bawah sebatang pohon bersama Laka Sora hanya memandang cemas. Setelah melihat perkelahian barusan, gadis itu pun sadar kalau kepandaian kakek gila itu sangat berbahaya. Memang, belum tentu kakek itu dapat mengalahkan kekasihnya. Tapi, di situ masih ada si nenek gila yang genit. Dan kalau mereka maju bersama-sama, sulit bagi Kenanga untuk memastikan, apakah Panji akan dapat mengalahkan mereka berdua.

Pikiran ini membuat wajah jelitanya menjadi muram, mencerminkan kecemasan yang mendalam. Rasa cemas dan perhatian yang seluruhnya terpusat ke arah Panji, membuat Kenanga lengah. Dan gadis itu bam tersentak kaget, ketika telinganya menangkap suara angin pukulan dari belakangnya. Lalu...

Deesss...!"

Meskipun pada saat terakhir Kenanga sempat berbalik dan memiringkan tubuhnya, tapi tetap saja bahu kanannya terkena serangan curang itu! Akibatnya Kenanga kontan memekik tertahan. Tubuhnya terhuyung limbung, sambil meringis menahan rasa sa-kit pada bahunya. Bahkan tangan kanannya sulit digerakkan.

"Keparat licik...!" bentak Kenanga penuh kemarahan. Wajah gadis itu yang semula merah dengan sinar mata berapi, mendadak pucat ketika melihat Laka Sora telah berada dalam cengkeraman Malayang. Tokoh pantai timur yang licik itu tampak terkekeh, kemudian melesat pergi membawa tubuh Laka Sora yang telah tertotok lumpuh.

"Bangsat tak tahu malu, kembalikan bocah itu kepadaku...!" maid Kenanga kalang-kabut. Cepat gadis itu melesat, setelah mencabut Pedang Sinar Bulan dan menggenggamnya di tangan kiri. Meskipun tidak selincah tangan kanan, namun Kenanga cukup ahli menggunakan tangan kiri.

Sementara Panji yang tengah bertarung dengan kakek gila berpakaian kembang-kembang tentu saja kaget bukan main, ketika mendengar bentakan kekasihnya. Lebih kaget lagi, ketika kepalanya menoleh dan melihat Kenanga tengah berusaha mencegah kepergian orang yang memondong tubuh Laka Sora.

"Celaka...!" desis Panji. Dan ini membuatnya menjadi lengah. Maka....

Desss...!

Sebuah hantaman telapak tangan kakek gila itu bersarang di tubuhnya, membuat Panji terlempar ke belakang dengan napas agak sesak. Kendati demikian, Pendekar Naga Putih masih dapat menahan daya lontar tubuhnya agar tidak sampai jatuh terbanting ke tanah. Dengan dua kali putaran, tubuhnya meluncur turun sejauh dua tombak dari lawannya.

Dan begitu kakinya menginjak tanah, Panji berbalik. Seketika Pendekar Naga Putih melesat meninggalkan lawannya, karena lebih mengkhawatirkan keselamatan Laka Sora. Dan ia dapat mengenal, siapa orang yang berhasil merebut bocah itu dari tangan kekasihnya.

Sebenarnya, agak heran juga hatinya melihat Laka Sora dapat direbut Malayang. Karena meskipun Malayang memiliki kepandaian tinggi, tapi belum tentu akan begitu mudah dan cepat dapat mengalahkan kekasihnya. Dan Panji menduga, tokoh pantai timur itu pasti berbuat curang dalam merebut, Laka Sora dari tangan Kenanga.

"Malayang! Serahkan bocah itu kepadaku...!" bentak Panji.
Pendekar Naga Putih terus melesat cepat tanpa mempedulikan keadaannya yang nafasnya masih agak sesak, akibat pukulan kakek gila tadi.

Malayang yang saat itu tengah berloncatan menghindari sambaran pedang Kenanga, sempat terkejut melihat tubuh Pendekar Naga Putih meluncur dengan kecepatan tinggi. Tapi, tokoh pantai timur ini menarik napas lega, ketika melihat dua orang raksasa yang menjadi pengawalnya sudah bergerak menyambut kedatangan Pendekar Naga Putih.

Melihat hal ini geram bukan main hati Panji. Mau tidak mau, gerakannya harus dirubah, dan menujukan serangannya ke arah salah seorang dari kedua pembantu Malayang. Tampaknya, salah satu dari raksasa kembar ini begitu yakin akan kekuatan tenaganya. Apalagi tubuh mereka kuat dan kebal terhadap pukulan maupun senjata tajam.

Tak heran, mereka begitu berani menerima pukulan Panji dengan tubuhnya. Bahkan telah siap mengirimkan pukulan maut sebagai balasannya. Tapi, sama sekali mereka tidak sadar kalau yang kali ini dihadapi adalah seorang pendekar yang sudah banyak membuat datuk kaum sesat tunggang-langgang. Sehingga....

Desss!

"Haaagghh!"

Kepalan Panji telak menghajar dada lawannya yang sombong. Akibatnya, tubuh raksasa botak itu terjengkang keras ke tanah. Dari sela mulutnya tampak mengalir darah segar, setelah mendapat pukulan Panji yang berisikan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'. Tampak raksasa botak itu menggigil kedinginan.

Kini, Panji tidak lagi mempedulikan raksasa botak yang sombong itu. Tubuhnya sudah langsung melesat, mengejar Malayang yang saat itu sudah lolos dari serangan pedang Kenanga. Tokoh pantai timur itu tengah berlari, sementara Kenanga berusaha mengejar dengan seluruh kemampuan.

"Haaiitt..!"

Panji memekik nyaring. Tubuhnya sudah meleset cepat ke udara, lalu berjumpalitan beberapa kali. Begitu meluncur turun ujung kakinya langsung menotol, sehingga kembali melesat dan berjumpalitan dengan cepat. Jelas, Pendekar Naga Putih telah mengerahkan seluruh kepandaian dalam upaya mengejar Malayang.

Bahkan kini Pendekar Naga Putih berhasil menyusul Kenanga, sehingga tertinggal satu setengah tombak di belakangnya. Sementara itu, di belakang Kenanga tampak para tokoh persilatan ikut berlarian mengejar Malayang. Sedangkan Sepasang Gagak Sinting juga tak ketinggalan, di antara tokoh-tokoh itu.

***
TUJUH
KEPANDAIAN ilmu lari cepat Malayang, ternyata sangat tinggi. Dan begitu Panji telah memperpendek jarak, tokoh pantai timur itu menambah lagi kecepatannya. Bahkan dengan liciknya, Malayang mengambil jalan melalui pepohonan lebat Dan ini membuat sosoknya kadang lenyap ditelan kelebatan pepohonan. Maka, akhirnya Panji kehilangan jejak buruannya.

"Kurang ajar! Ke mana larinya manusia licik itu...!" geram Panji.

Terpaksa Pendekar Naga Putih menghentikan larinya, ketika tiba di sebuah tempat terbuka dan cukup luas. Di situ, ia tidak melihat bayangan Malayang. Terpaksa pandangan matanya beredar mencari-cari, kalau-kalau tokoh licik dari pantai timur itu bersembunyi.

Selagi Panji melangkah perlahan sambil mengerahkan ketajaman pendengaran, muncul Kenanga yang langsung menghampirinya. Napas gadis jelita ini tampak agak terengah. Butir-butir peluh menghias keningnya.

"Ke mana perginya bangsat curang itu, Kakang...?" tanya Kenanga. Gadis itu berusaha mengatur jalan nafasnya, karena telah melakukan pengejaran dengan pengerahan seluruh kemampuan. Ia merasa lelah sekali. Terlebih, tangan kanannya masih terasa linu bila digerakkan.

"Aku kehilangan jejaknya...," sahut Panji. Pendekar Naga Putih lantas berpaling, menatap wajah kekasihnya. Keningnya langsung berkerut ketika melihat dara jelita itu memegang pedang dengan tangan kiri.

"Kau terluka, Kenanga...?" tanya Panji mengulurkan tangan memeriksa luka kekasihnya.

Kenanga mengangguk lemah, lalu menceritakan apa yang dilakukan Malayang dalam upaya mendapatkan Laka Sora. Dan Panji hanya mengangguk tipis. Tanpa bicara lagi, segera dirabanya lengan kekasihnya. Tangannya terus bergerak ke bahu, yang terkena serangan licik Malayang.

Kenanga meringis ketika Panji memijat bagian bahunya. Melihat bagian bahu Kenanga menderita luka memar yang berwarna kehitaman, Panji segera memijat perlahan. Kemudian, dioleskannya minyak gosok untuk obat luka luar, yang diambil dari dalam buntalan pakaiannya.

Ketika Panji menyudahi gerakannya dan kembali merapikan baju bagian bahu Kenanga, dara jelita itu menggerak-gerakkan tangan kanannya. Kemudian dicobanya menyalurkan tenaga dalam. Dan kini senyumnya langsung mengembang, ketika rasa linu itu tidak lagi dirasakannya. Meski masih terasa agak kaku, tapi sudah bisa digunakan untuk memainkan pedang.

Kenanga yang hendak mengatakan sesuatu, terpaksa bungkam ketika Panji mengisyaratkan untuk diam. Sadar kalau kekasihnya mendengar sesuatu, gadis itu pun menelan ucapannya. Kemudian dia bergerak, mengikuti langkah Panji tanpa banyak tanya. Dengan setengah berlari, Panji bergerak ke arah kanan tempatnya berdiri. Baru, kemudian, tubuhnya berkelebat mengerahkan ilmu lari cepat, begitu suara yang semula samar semakin jelas terdengar. Dan Panji yakin, itu suara orang bertempur.

Tidak berapa lama, Panji berhenti melesat, dan langsung menemukan sumber suara pertempuran. Dan hatinya sempat bersorak, karena yang tengah bertarung ternyata itu Malayang. Tokoh pantai Timur itu nampak kelabakan, menghadapi serangan dua orang yang dikenali Panji sebagai Sepasang Gagak Sinting. Tentu saja Pendekar Naga Putih heran, karena suami-istri sinting itu ternyata sudah berada di sana dan tengah mengeroyok Malayang.

Dan Panji langsung geram ketika melihat tokoh licik itu menggunakan tubuh bocah dalam pondongannya sebagai tameng. Sehingga, Sepasang Gagak Sinting seringkali menarik pulang pukulan ataupun tamparannya. Dan tentu saja, mereka tidak ingin melukai bocah yang tengah jadi rebutan itu.

"Bagaimana, Kakang...?" tanya Kenanga, meminta pendapat Panji.

"Biar bagaimanapun, kita harus dapat merebut Laka Sora dari tangan manusia-manusia serakah itu...," jawab Panji tegas. Seketika Pendekar Naga Putih melesat keluar dari balik pohon tempatnya bersembunyi, dan langsung menuju ajang pertempuran.

"Hyeeh hieeeh hiiihhh...!" Nenek genit berotak anting itu langsung memperdengarkan tawa seperti ringkik kuda. Sepasang matanya tampak bersinar-sinar bagaikan seorang bocah yang menemukan kembali mainan kesayangannya ketika melihat Pendekar Naga Putih. Dan tanpa mempedulikan Malayang, langsung disambutnya kedatangan Panji.

Pendekar Naga Putih mengeluh kesal, melihat nenek sinting yang genit itu bergerak menyambut kedatangannya. Dan tanpa mempedulikannya, Panji terus melesat ke arah Malayang. Kemudian, tangannya terulur mengirimkan sebuah dorongan telapak kanan. Sementara, tangan kiri terulur dengan maksud merebut tubuh Laka Sora.

Di tempat lain, Kenanga yang langsung bisa menebak kalau nenek genit itu menyukai kekasihnya, diam-diam tertawa geli dalam hari. Tapi begitu sadar kalau nenek itu bisa menghambat usaha Panji dalam merebut Laka Sora, tubuhnya langsung menghadang jalan nenek itu dengan pedang di tangan.

"Heh! Siapa kau, perempuan tak tahu malu? Mengapa kau menghalangiku untuk mendekati Pendekar Naga Putih? Apakah kau sudah bosan hidup?!" bentak nenek genit itu, nyerocos. Rupanya, nenek itu cemburu melihat Kenanga yang berwajah cantik jelita dan masih muda, hendak membela Pendekar Naga Putih. Bahkan ia langsung menerjang Kenanga dengan hebatnya.

Bweet, bweet...!

Kenanga cepat memutar Pedang Sinar Bulan sekuat tenaga. Sehingga, nenek genit yang semula memandang rendah kepadanya, terpaksa menarik pulang serangan. Kemudian gerakannya dirobah, dan kembali menerjang ganas. Maka dalam sekejap pertarungan sengit tak dapat dihindari lagi.

Sementara itu, Panji yang berusaha merebut kembali tubuh Laka Sora, harus menemui kegagalan. Hatinya sempat jengkel, karena yang menggagalkan serangan bukan Malayang, tapi justru kakek gila yang semula menggempur tokoh pantai timur itu mati-matian. Dalam hati, Panji memaki kakek sinting itu, apalagi sekarang malah ikut mengeroyoknya.

Plakkk!

"Uuuhh...!" Panji mengeluh tertahan, ketika sebuah tamparan Malayang telak mengenal bahu. Tubuhnya langsung terjajar mundur beberapa langkah. Sedangkan saat ini, kakek sinting itu sudah melompat disertai pukulan lurus ke dada.

Whuuttt..!

Terdengar deru angin tajam yang mengiringi datangnya serangan pukulan maut kakek sinting itu. Sadar kalau menangkis sangat merugikannya, Panji melemparkan tubuhnya dan terus berjumpalitan beberapa kali. Baru kemudian dia meluncur turun dengan ringan.

"Hmhhh...," geram Panji gusar. Saat itu juga, Pendekar Naga Putih mengerahkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi’ yang membuat arena pertempuran menjadi panas seketika.

"Hehhh?! Rupanya kau masih mempunyai ilmu simpanan lain, Pendekar Naga Putih?! Bagus! Aku senang sekali...!" seru kakek sinting itu sambil membelalakkan matanya. Kepalanya pun menggeleng lucu, seolah-olah terpesona dan takjub pada lapisan sinar keemasan yang menyelimuti tubuh Pendekar Naga Putih.

Tapi, Panji tidak mempedulikan tingkah polah kakek sinting itu. Terlebih, ketika melihat Malayang yang mundur-mundur hendak meninggalkan tempat itu. Maka langsung saja Panji meluncur ke arah Malayang yang dengan licik hendak melarikan diri.

"Aaahh...?!" Malayang terpekik kaget. Ia berlompatan mundur menghindari sambaran cakar naga Panji yang membawa hawa panas membakar. Diam-diam, tokoh pantai timur ini bergidik ngeri membayangkan bila pukulan berhawa panas itu sampai mengenai tubuhnya. Dan itu semakin membuka mata Malayang kalau Pendekar Naga Putih ternyata memiliki kepandaian tinggi.

"Serahkan bocah itu kepadaku, Malayang...!" bentak Panji, kembali meluncur dengan serangan cakar naganya.

"Haahhh...!"

Sebelum serangan Panji tiba, tiba-tiba terdengar bentakan dari sebelah kanannya. Begitu Panji menoleh, kakek sinting berpakaian kembang-kembang itu tengah melesat memapak serangannya. Cepat Panji merobah gerakannya, dan kini ditujukan ke arah kakek sinting yang menjengkelkan itu.

Plakk, plakkk!

Benturan keras tak terelakkan lagi. Tubuh mereka satu sama lain terjajar mundur. Tapi, Panji sudah kembali mencelat dan mengulurkan cakarnya ke arah pelipis kakek sinting itu.

Whuuttt..!

"Hyaaa...!"

Si kakek sinting itu kontan terpekik kaget. Untung, kepalanya masih sempat ditundukkan dengan kuda-kuda rendah. Sehingga, cakar naga Panji hanya lewat di atas kepalanya. Tapi meskipun demikian, hawa panas yang mengiringi serangan Pendekar Naga Putih membuat kakek sinting itu kelabakan untuk sesaat. Terlebih, ketika Panji menyusuli dengan cakar kiri yang kali ini disertai sambaran angin dingin menusuk tulang.

Perubahan mendadak ini semakin membuat si kakek sinting kalang-kabut. Kendati demikian, tubuhnya masih sempat mengelak dari sambaran cakar kiri Panji. Tapi, sebuah tendangan susulan Pendekar Naga Putih tak sempat lagi dielakkannya. Akibatnya…

Bukkk!

"Kakhhb...!"

Tendangan keras dan telak itu membuat si kakek sinting terlempar tanpa ampun. Dan selagi tubuh kurusnya melayang di udara, Panji melesat sambil mengirimkan hantaman telapak tangan kanan dan kiri bergantian.

Plakk, desss!

"Huakkhhh!"

Serangkaian pukulan yang mengandung hawa panas dan dingin, membuat tokoh gila ini tak sanggup bertahan. Darah segar kontan termuntah membasahi tanah. Sedangkan tubuhnya terus meluncur, dan baru terhenti setelah membentur sebatang pohon besar.

Melihat tubuh kakek gila itu melorot dan tak sadarkan diri, Panji memalingkan wajahnya ke arah Malayang. Tokoh pantai timur itu terlihat agak pucat. Rupanya, hatinya mulai gentar melihat kesaktian Pendekar Naga Putih yang mengiriskan. Maka, dia pun memilih pergi sambil tetap membawa tubuh Laka Sora.

"Bangsat! Hendak lari ke mana kau, Manusia Pengecut..!" geram Panji.

Pendekar Naga Putih langsung berkelebat mengejar. Jarak yang hanya kurang dari dua tombak, membuat Panji tidak mengalami banyak kesulitan untuk menyusui Malayang. Maka dengan beberapa kali loncatan saja, tokoh pantai timur yang licik itu berhasil disusulnya. Bahkan sudah berdiri menghadang di depannya.

Malayang yang sempat merasa bingung, menjadi cerah wajahnya begitu melihat dua orang pengawalnya yang bertubuh raksasa muncul dari belakang Panji. Tapi, Malayang cepat menyembunyikan perasaannya dan mulai lagi menunjukkan kelicikannya.

"Pendekar Naga Putih," kata Malayang, bermaksud mengalihkan perhatian Panji. "Mengapa kau hendak menyerakahi bocah ini sendirian? Sedangkan yang kau miliki sekarang ini, sudah jarang sekali yang sanggup menandingi mu. Kuharap, jangan terlalu pelit untuk meminjamkan bocah ini kepadaku selama setengah tahun. Dan aku berjanji, akan mengembalikannya dalam keadaan utuh. Bagaimana? Apakah kau keberatan...?"

Panji yang memang sudah tahu kalau tokoh pantai timur itu sangat licik, bersikap waspada. Ia yakin, ucapan Malayang pasti ada rencana tertentu. Maka seketika Panji mengerahkan tenaga mukjizat-nya. Sehingga saat itu juga, muncul lapisan sinar keemasan yang siap melindungi tubuhnya dari serangan gelap. 

Sementara Malayang masih terus berbicara untuk mengalihkan perhatian Panji. Diam-diam, hatinya tertawa karena yakin kalau sebentar lagi tubuh pendekar muda itu akan remuk oleh hantaman dua orang bertubuh raksasa yang sudah semakin dekat.

Tapi, Pendekar Naga Putih yang indera pendengarannya sudah sedemikian tajam, mulai dapat menangkap adanya gerakan sangat halus di belakangnya. Kini Panji sadar, Malayang memang sengaja mengalihkan perhatiannya dengan terus berbicara. Bibir Pendekar Naga Putih mengembangkan senyum tipis, namun sengaja tetap berpura-pura tidak tahu akan bahaya mengancam di belakangnya.

Malayang sudah tertawa bergelak dalam hati ketika dua orang pengawalnya sudah mengangkat tangan perlahan tanpa menimbulkan suara, dan siap dihantamkan ke tubuh Pendekar Naga Putih. Tapi...

"Hiaaa...!"

Secara tiba-tiba dan sangat cepat, Panji memutar tubuhnya. Kedua lututnya cepat ditekuk. Seketika kedua tangannya langsung dihantamkan ke atas saat berbalik. Gerakannya begitu cepat, dan sangat tiba-tiba. Sehingga....

Bresshhh!

"Aaaa...!"

Dua orang raksasa berkepala botak itu kontan meraung setinggi langit, saat kedua kepalan Panji telak menghajar perut mereka hingga jebol. Darah segar langsung memercik, membasahi kedua kepalan Panji yang melesak sampai pergelangan, ke dalam tubuh dua orang bertubuh raksasa itu.

Kedua orang bertubuh raksasa itu terjungkal ke tanah, dengan napas putus seketika. Panji sendiri tidak menyangka kalau pukulannya yang disertai tenaga mukjizat jelmaan naga langit, sampai demikian mengerikan. Pendekar Naga Putih sampai mencelat ke belakang dengan wajah agak sedikit pucat. Dan nafasnya pun agak terengah, karena kejadian itu baru sekali ini di alaminya.

Malayang yang menyaksikan kejadian itu sampai terjajar mundur dengan wajah pucat dipenuhi keringat. Hatinya benar-benar tergiris melihat kengerian di depan matanya. Sehingga, tokoh pantai timur yang sebenarnya sudah terbiasa dengan segala kekerasan dan kekejaman, menjadi semakin gentar terhadap Pendekar Naga Putih.

Panji yang sudah dapat menguasai perasaan segera berbalik, menatap sosok Malayang. Sorot matanya demikian tajam, membuat Malayang semakin gentar. Dan Panji sendiri sudah siap memberi hajaran kepada tokoh pantai timur itu. Namun....

"Aaaahhh!"

Panji yang sudah bergerak maju dengan tangan terkepal, menjadi terkejut setengah mati. Karena tiba-tiba saja terdengar jeritan Kenanga. Seketika, kepalanya menoleh. Tampak tubuh Kenanga terbanting ke tanah. Pada saat itu pula, kekasihnya tengah menghadapi ancaman serangan susulan nenek genit, yang berhasil memukul roboh Kenanga.

Pendekar Naga Putih menjadi bimbang. Sejenak ia tertegun, tidak tahu harus menolong Kenanga lebih dulu atau merebut Laka Sora. Dan keputusan itu harus segera diambil secepatnya. Untungnya, Panji tidak terlalu tegang dalam menghadapi keadaan yang mencekam itu. Maka, langsung saja kepalanya menoleh ke arah Kenanga. Lalu....

"Hyaaattt..!"

Panji langsung membentak sambil mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Kenanga yang tengah berusaha bangkit tegak itu.

Whuusss!

Untuk menghadapi keadaan yang sangat sulit ini, Pendekar Naga Putih memutuskan untuk memindahkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bum’ ke tubuh kekasihnya. Seketika pendaran sinar keemasan yang panas membakar, membersit ke arah tubuh Kenanga. Kemudian, sinar itu merasuk dan melapisi tubuh dara jelita yang tengah dalam ancaman maut! Panji yang merasa lega karena tubuh kekasihnya tidak mungkin akan dapat dilukai, segera melesat ke arah Malayang.

Tokoh pantai timur itu semakin pucat dan bertambah gentar saja, setelah menyaksikan apa yang baru saja dilakukan Pendekar Naga Putih. Dikira, pendekar muda itu juga memiliki ilmu sihir yang mengerikan. Maka tentu saja keberaniannya semakin terbang, entah ke mana.

“Heaaa...!"

Dengan sebuah bentakan keras, Panji melesat ke depan. Tangan kanannya mendorong ke tubuh Malayang, sedangkan tangan kirinya terulur merampas tubuh Laka Sora. Malayang yang masih berusaha menghindari serangan itu, terpaksa harus menelan kenyataan pahit. Dia sudah gugup, dan tak sempat lagi mengelak. Sehingga....

Desss!

Seketika hantaman tangan kanan Panji telak menghajar dadanya. Akibatnya, tokoh sesat dari pantai timur ini terjengkang, dan tubuh Laka Sora terlepas dari pegangannya.

Tapp!

Dengan tangan kiri Panji cepat menyambar tubuh Laka Sora agar tidak sampai terbanting ke tanah. Dan betapa leganya hati Panji, ketika berhasil mendapatkan bocah itu kembali. Tapi kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap mata, karena saat tengah menangkap tubuh Laka Sora, tahu-tahu menyambar angin keras dari belakang. Dan....

Bukkk!

"Aaakhh!"

Panji kontan terjerembab mencium tanah. Sedangkan Laka Sora kembali terlepas dari pegangan. Dan ketika mendengar angin menderu kembali menyambar, Panji berusaha mengelak dengan bergulingan di atas tanah.

Darrrr!

Akibatnya, tanah tempat tubuh Panji semula rebah, menjadi sasaran hantaman sebuah tongkat berwarna hitam. Akibat hantaman tongkat hitam itu tampak mengerikan sekali. Sebuah lubang sebesar kuban- gan kerbau tercipta seketika itu juga.

"Gila...!" desis Panji. Dalam hati, Pendekar Naga Putih bersyukur masih dapat menyelamatkan diri dari serangan maut itu. Kalau tidak, pasti tulang-tulangnya akan remuk dan pasti akan tewas seketika. Panji yang sudah berdiri tegak dengan lelehan darah pada mulut, mengangkat wajah hendak melihat, siapa orang yang membokongnya secara licik. Dan ha- tinya terkejut, ketika mengenali manusia curang itu.

***
DELAPAN
"PENGEMIS Tongkat Setan...," desis Panji. Tentu saja Pendekar Naga Putih cukup terkejut melihat kemunculan datuk golongan pengemis itu. Terlebih, ketika merasakan betapa pukulan kakek gembel itu jauh lebih kuat daripada pertama kali berjumpa.

"He he he.... Selamat bertemu lagi, Pendekar Naga Putih. Kelihatannya kau sangat menyukai keramaian ini...," ujar Pengemis Tongkat Setan.

Tokoh hitam berpakaian pengemis itu berdiri tegak sambil menggenggam erat senjata andalannya. Meskipun mulutnya berbicara pada Panji, tapi sepasang matanya sendiri menatap sosok Laka Sora yang masih tergolek pingsan. Yang disayangkan kakek ini, tubuh bocah itu jaraknya lebih dekat dengan Pendekar Naga Putih berdiri. Hingga, ia hanya bisa melirik penuh hasrat

Panji yang sempat melihat sambaran mata kakek gembel itu segera menggeser langkahnya, mendekati tubuh Laka Sora. Kemudian diangkatnya tubuh bocah itu dan dibopongnya.

"Sebaiknya, tinggalkan bocah itu, Pendekar Naga Putih. Untuk apa mempertaruhkan nyawa hanya karena hendak membela bocah itu?" Pengemis Tongkat Setan mencoba mempengaruhi Panji. Karena biar bagaimanapun, ia tetap tidak berani bertindak ceroboh dalam menghadapi pemuda digdaya ini.

Panji hanya tersenyum kecut Ditatapnya wajah kakek gembel itu dengan tajam. Tapi adanya suara langkah orang berlari ke arahnya, membuat wajahnya berpaling.

"Kakang..." Sosok yang tengah berlari menghampiri Panji, memang Kenanga. Rupanya, gadis jelita itu telah terbebas dari ancaman nenek genit salah satu dari Sepasang Gagak Sinting.

Bahkan tampak nenek itu sendiri yang terluka. Karena setiap kali melancarkan pukulan, sinar keemasan yang melapisi tubuh Kenanga mem- buat pukulannya membalik. Semakin besar tenaga yang dipergunakan untuk menyerang, semakin kuat tenaga tolakannya. Akibatnya, nenek itu menderita luka dalam yang cukup parah.

Dan akhirnya, ia pergi meninggalkan Kenanga dengan membawa suaminya yang sudah tersadar akibat luka dalam yang parah. Luka-luka yang diderita, membuat Sepasang Gagak Sinting harus membuang keinginan untuk memperebutkan 'Ilmu Tinju Topan dan Badai' yang telah diwarisi Laka Sora dari kedua orang gurunya.

Panji kini bisa menarik napas lega. Penjelasan Singkat dari dara jelita itu, membuatnya semakin yakin akan kemukjizatan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'. Perasaan Panji agak lega juga, mengetahui tokoh-tokoh yang mengincar Laka Sora telah berkurang.

Apalagi, ketika tidak melihat adanya Malayang, tokoh dari pantai timur. Tahulah Panji, Malayang pun telah meninggalkan tempat ini karena merasa tidak mungkin akan mendapatkan bocah yang diperebutkan.

Tapi, kelegaan Panji mendadak berubah rasa kaget. Ternyata dari sekeliling tempat itu, kembali bermunculan puluhan tokoh persilatan. Menilik sikap mereka, Panji sadar kalau harus bertarung mati-matian dalam membela Laka Sora. Untungnya saat itu Laka Sora sudah mengeluh tersadar dari pingsan, setelah totokan Malayang mulai punah. Panji segera melepaskan bocah itu dari pondongannya. Kemudian kakinya melangkah ke tengah.

Sementara itu Pengemis Tongkat Setan sendiri telah berada di barisan orang-orang yang mengepung Panji, Kenanga, dan Laka Sora. Tampak Kuntilanak Bunga Hitam, dan tokoh-tokoh lainnya terlihat di sana, baik dari golongan putih dan hitam. Mereka tak ubahnya segerombolan serigala lapar yang memperebutkan sepotong tulang.

"Para sahabat yang mengaku sebagai orang-orang gagah penegak keadilan, dengarlah...!" ujar, Panji disertai pengerahan tenaga dalam.

Kata-kata Pendekar Naga Putih langsung bergema dan mengaung sampai beberapa tombak jauhnya. Sambil berkata demikian, tubuhnya diputar perlahan. Kata-katanya memang ditujukan pada tokoh-tokoh golongan putih yang telah berbaur dengan golongan hitam. Mereka memang melupakan perbedaan golongan, demi memperebutkan ilmu mukjizat yang dimiliki Laka Sora.

"Yang kalian perebutkan hanyalah seorang bocah kecil yang malang. Hanya secara kebetulan, kedua ilmu mukjizat itu dimiliki Laka Sora. Nah! Mengapa kejadian yang merupakan kehendak Tuhan ini ingin dirubah? Jelas Laka Sora berjodoh untuk menjadi pewaris dari kedua ilmu mukjizat itu. Dan seharusnya, bocah ini dilindungi dari tangan-tangan jahat.

Kalau demikian, apa bedanya golongan putih dengan golongan hitam? Tidak ada gunanya orang-orang golongan putih mengangkat dada agar disanjung sebagai orang gagah penegak keadilan, tapi kemudian ternyata ikut menyiksa bocah tak berdosa...," Panji menghentikan kata- katanya yang meledak-ledak penuh semangat.

Perkataan Panji tentu saja laksana ujung tombak yang menikam jantung para orang gagah yang ikut mengepung. Beberapa di antaranya, menundukkan wajah karena merasa terpukul dan malu kepada Pendekar Naga Putih. Terutama sekali tokoh-tokoh tuanya. Seperti ada yang memberi perintah, satu persatu para tokoh golongan putih keluar dari barisan. Kemudian, mereka bergabung dengan Panji, siap menggempur siapa saja yang hendak memperebutkan Laka Sora. Tentu saja tindakan orang-orang gagah itu membuat Panji menjadi lega.

Sekelompok tokoh persilatan yang mengepung di belakang Panji, sejak tadi tampak terkejut. Mereka saling berpandangan satu sama lain, kemudian bergerak maju menghampiri Pendekar Naga Putih, di bawah pimpinan dua orang kakek kembar yang berkepala botak. Masing-masing memegang sebatang tongkat, yang pada bagian kepalanya terdapat bola berduri sebesar kepalan tangan laki-laki dewasa.

"Pendekar Naga Putih, terima kasih atas peringatkan mu pada kami. Ah...! Betapa kami berdua akan menyesal seumur hidup, apabila bocah malang ini sampai celaka karena keserakahan kami...," ucap salah seorang kakek kembar itu, sambil membungkuk hormat Kemudian, ditatapnya tajam-tajam wajah bocah menggemparkan yang bernama Laka Sora.

"Laka Sora..." Seorang lelaki gemuk berusia sekitar empat puluh tahun, yang tadi ikut rombongan kakek kembar itu, memanggil Laka Sora dengan suara bergetar. Entah, perasaan apa yang tengah berkecamuk dalam hati lelaki gemuk ini.

"Paman...?!" Laka Sora yang menoleh mendengar panggilan dengan suara bergetar itu, terpekik dan wajahnya berseri-seri. Bocah itu langsung saja melompat ke dalam pelukan lelaki gemuk yang menyambutnya dengan dada terasa sesak oleh rasa haru.

Panji dan Kenanga saling bertukar pandangan, demi menyaksikan kejadian itu. Namun, kewaspadaannya tetap tidak berkurang, karena khawatir kalau-kalau ada di antara tokoh yang termakan ucapannya, hanya sekadar berpura-pura. Malah jangan-jangan akan menyambar Laka Sora, apabila Panji lengah. Dan karena kewaspadaan itu pula, maka Panji memberi isyarat kepada Laka Sora yang kebetulan memandangnya untuk memberi penjelasan tentang lelaki gemuk itu.

"Orang ini adalah Paman Rajasa. Beliau adik kandung ayahku, yang juga orang kedua di Perguruan Harimau Putih Mungkin beliau diutus ayah, untuk mencariku. Harap Paman Panji tidak menjadi cemas...," jelas Laka Sora.

"Benar, Pendekar Naga Putih. Aku adalah adik kandung ayah Laka Sora. Dan aku mewakili beliau serta seluruh murid Perguruan Harimau Putih, mengucapkan beribu terima kasih atas kesediaanmu yang tidak mempedulikan keselamatan sendiri demi membela keponakanku...," ucap Ki Rajasa. Dan lelaki gemuk ini sampai membungkuk tiga kali, untuk menyatakan betapa besar rasa terima kasihnya.

"Ha ha ha...! Setelah sekarang mengetahui kalau bocah yang diperebutkan ternyata cucuku sendiri, maka aku akan mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya, Pendekar Naga Putih," kata salah seorang dari kedua kakek kembar berkepala botak dengan suara lantang.

"Pendekar Naga Putih! Mereka berdua adalah Pendekar Tongkat Kembar, yang merupakan kakak seperguruan orangtua Laka Sora. Mereka ikut membantu kami, dalam pencarian keponakanku ini. Mereka juga ingin mendapat kesempatan untuk memberi didikan pada Laka Sora selama tiga tahun. Dan hal itu sudah disepakati bersama-sama, tapi Laka Sora telah lenyap diculik orang," Ki Rajasa, buru-buru memberi penjelasan kepada Panji mengenai kedua orang kakek kembar itu.

"Syukurlah jika memang demikian. Aku ikut merasa gembira mendengarnya. Dan dengan bantuan orang ternama seperti Pendekar Tongkat Kembar, serta tokoh-tokoh lain, aku tidak perlu lagi cemas akan keselamatan Laka Sora," tukas Panji.

Kejadian yang di luar dugaan itu, membuat Pengemis Tongkat Setan, Kuntilanak Bunga Hitam, dan tokoh-tokoh sesat ternama lain saling bertukar pandangan. Kemudian, kakek gembel ini melangkah maju beberapa tindak.

"Para sahabat sekalian!" seru kakek itu mengerahkan tenaga dalam melalui suaranya. Sehingga, suaranya bergaung memenuhi sekitar tempat itu. "Kita jangan mau dibodohi Pendekar Naga Putih dan orang-orang yang mengaku keluarga dengan bocah itu. Jelas ini hanya siasat licik, agar mereka semua dapat mengangkangi bocah yang telah mewarisi ilmu-ilmu maha dahsyat itu! Dan pada akhirnya, mereka akan memaksa bocah itu untuk menunjukkan ilmu 'Tinju Topan dan Badai'!"

"Benar! Jangan mau dibodohi!" timpal Kuntilanak Bunga Hitam, ikut membakar tokoh-tokoh yang dilanda keraguan. Suaranya melengking tinggi, menyakitkan telinga. "Ayo, kita rebut bocah itu...!"

Kata-kata Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam yang merupakan gembong-gembong kaum sesat, mendapat sambutan dari tokoh-tokoh yang mengepung Pendekar Naga Putih dan pihaknya. Akibatnya, kini suasana kembali menegang. Dan pihak yang ingin memperebutkan Laka Sora, kembali bergerak maju dengan senjata terhunus.

Tentu saja Panji, Kenanga, Ki Rajasa, dan dua kakek botak berjuluk Pendekar Tongkat Kembar, merasa geram terhadap kelicikan dua gembong kaum sesat itu. Mereka menjadi tegang, ketika melihat tokoh-tokoh yang semula sadar dan menyeberang ke pihak mereka, tampak mulai dilanda keraguan.

Bahkan enam orang di antaranya sudah kembali menyeberang ke pihak kaum sesat. Melihat hal ini segera saja Panji dan tokoh-tokoh yang mengaku sebagai keluarga Laka Sora bersiap menghadapi pertempuran berdarah. Disadari, pertarungan mungkin akan segera pecah.

"Tunggu...!"

Tiba-tiba, sebelum kedua belah pihak saling gempur, terdengar sebuah seruan yang disusul oleh majunya Laka Sora. Dan dengan beraninya, bocah ini menatap Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam berganti-ganti. Kemudian pandangannya beredar ke sekitarnya.

"Hei, orang-orang serakah! Dengarlah baik-baik!" Laka Sora terpaksa berteriak sekuat-kuatnya, agar suaranya terdengar oleh semua yang berada di tempat itu. Akibatnya, suaranya jadi parau.

Merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan bocah itu, Panji bertindak cepat, menempelkan telapak tangannya ke punggung Laka Sora untuk menyalurkan hawa saktinya. Hawa hangat yang mengalir dari telapak tangan Pendekar Naga Putih, membuat Laka Sora merasa kerongkongannya lega dan tidak sakit lagi.

"Kalian harus tahu, kedua orang jahat ini tidak ubahnya maling teriak maling!" lanjut Laka Sora. Suaranya kini bergaung memenuhi empat penjuru, "Sebab apa yang kalian kehendaki dari diriku, juga ada pada mereka berdua!"

Sampai di sini Laka Sora berhenti, memandang kesekeliling seperti hendak melihat seberapa besar pengaruh ucapannya. Wajah Laka Sora berubah cerah, ketika melihat Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam, kini menjadi perhatian semua tokoh yang berada di tempat ini. Seketika terdengar suara orang-orang yang berbicara satu sama lain, membuat suasana menjadi bising dan gaduh, bagai dengung ratusan lebah.

"Jangan dengarkan ocehan bocah gila itu...!" Pengemis Tongkat Setan terus terang menjadi bergidik ketika perhatian para tokoh persilatan kini tertuju kepadanya dan Kuntilanak Bunga Hitam. Makanya, dia harus berteriak keras, untuk mengatasi kebisingan.

"Itu hanya akal liciknya untuk mengadu domba kita! Sudah, jangan buang waktu lagi. Ayo kita rebut bocah itu...!"
Kuntilanak Bunga Hitam yang juga merasa ngeri, ikut menyangkal ucapan Laka Sora. Kembali dibakarnya keinginan tokoh-tokoh persilatan untuk segera bertindak. Bahkan Kuntilanak Bunga Hitam langsung memulainya dengan sebuah lompatan panjang, siap menerkam Laka Sora.

Namun, Pendekar Naga Putih tidak tinggal diam. Cepat dilontarkannya pukulan jarak jauh dengan telapak tangan kanan. Maka serangkum angin menderu datang, menyambut serangan Kuntilanak Bunga Hitam. Sadar akan kehebatan pukulan itu, Kuntilanak Bunga Hitam merobah gerakannya. Kemudian tangannya dikibaskan memapak pukulan Pendekar Naga Putih.

Breesshhh...!

Benturan dua gelombang angin pukulan yang menderu laksana topan, menimbulkan ledakan keras menggetarkan tanah di sekitarnya. Tubuh Kuntilanak Bunga Hitam terdorong balik, disertai pekik kekagetannya. Memang, dalam melancarkan pukulan jarak jauh itu, Panji telah mengerahkan seluruh kekuatan 'Tenaga Sakti Gerhana Bulan'-nya. Apalagi dia sadar, kesaktian Kuntilanak Bunga Hitam memang sangat tinggi.

"Dengar, orang-orang serakah...!" Laka Sora cepat berteriak ketika melihat tokoh-tokoh persilatan dua golongan yang ingin merebutnya, telah bergerak maju untuk menggempur. "Kitab 'Ilmu Topan dan Badai' ada pada mereka berdua!" lanjut bocah itu sambil menunjuk Kuntilanak Bunga Hitam dan Pengemis Tongkat Setan. "Kalau tidak percaya, silakan kalian menggeledah pakaian mereka...!"

Kata-kata Laka Sora membuat langkah para tokoh itu terhenti seketika. Pandangan mereka kini tertuju kepada Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam. Melihat kedua gembong tokoh sesat itu tampak pucat dan gelisah, tahulah mereka kalau bocah itu memang tidak berdusta. Seketika beberapa orang tokoh golongan putih tampak bergerak mengepung kedua gembong kaum sesat itu.

"Kuntilanak Bunga Hitam, Pengemis Tongkat Setan! Ayo kalian perlihatkan kedua kitab itu, dan serahkan kepada kami!" ujar salah seorang tokoh bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam legam. Suaranya menggelegar menggetarkan jantung, tanda tenaga dalam yang dimilikinya tidak bisa dipandang rendah.

"Keparat! Hanya ucapan seorang bocah, kau percaya?!" geram Pengemis Tongkat Setan dengan sikap menghina.

"Aku tidak akan percaya, sebelum menggeledah pakaianmu!" desak lelaki berkulit hitam ini. Sambil berkata demikian, tangan laki-laki itu terulur hendak merobek pakaian Pengemis Tongkat Setan.

Plakkk!

Kakek gembel ini langsung mengibas tangan kirinya, membuat kedua lengan yang sama berisi tenaga dalam tinggi itu berbenturan keras. Terdengar dengusan menghina, dari kakek gembel itu ketika melihat tubuh penyerangnya terjajar mundur. Saat itu juga, tongkat di tangannya menyambar datang membabat batang leher lelaki berkulit hitam legam itu.

Tokoh-tokoh lain yang mulai percaya melihat Pengemis Tongkat Setan tidak bersedia digeledah, segera menerjang dari kiri dan kanan. Maka terpaksa kakek gembel itu merobah gerakan tongkatnya, yang langsung berputar dan menyambut datangnya sambaran dua batang pedang yang mengancam tubuhnya. Benturan ketiga senjata itu tak terhindarkan lagi, membuat dua orang penyerang terjajar mundur dengan wajah pucat. Karena, tenaga dalam Pengemis Tongkat Setan memang jauh lebih kuat.

"Kalian mencari mati...!" pekik Pengemis Tongkat Setan gusar. Tongkat laki-laki tua itu kembali menyambar da- tang, disertai suara bergemuruh. Sehingga delapan orang yang mengeroyoknya sama-sama melompat mundur menyelamatkan diri.

"Hyaaattt...!"

"Yeaaaa...!"

Keinginan untuk mendapatkan kitab yang kini diyakini memang berada di tangan Pengemis Tongkat Setan, membuat para tokoh persilatan melupakan nama besar dan kekejaman kakek gembel itu. Mereka berlompatan maju dengan senjata di tangan. Maka sebentar saja, Pengemis Tongkat Setan telah dikeroyok belasan orang tokoh persilatan, yang rata-rata dari kaum golongan putih.

Kuntilanak Bunga Hitam pun tak luput dari incaran tokoh-tokoh persilatan yang menghendaki kitab di tangannya. Sedangkan nenek yang masih cantik ini, mengamuk mengumbar pukulan-pukulan mautnya yang mengiriskan. Sehingga lawan-lawannya yang berjumlah belasan orang itu tidak berani bertindak ceroboh. Karena, pukulan nenek berpakaian serba hitam ini dapat merenggut nyawa seketika.

Panji dan Kenanga pun tidak terlepas dari orang-orang golongan hitam, yang tetap menginginkan Laka Sora. Mereka lebih memilih menghadapi Pendekar Naga Putih, ketimbang Pengemis 'Tongkat Setan atau Kuntilanak Bunga Hitam. Hanya ada beberapa tokoh golongan hitam saja yang ikut mengeroyok kedua gembong mereka itu. Itu pun hanya berani berada di bagian luar kepungan tokoh-tokoh golongan putih, dan mencari-cari kesempatan untuk merebut kitab itu.

Tapi Panji, Kenanga, dan dua kakek botak berjuluk Pendekar Tongkat Kembar dapat menghadapi serbuan tokoh-tokoh sesat itu tanpa kesulitan. Dalam belasan jurus saja, mereka berempat telah merobohkan dua puluh satu orang lawan. Dan ini tentu saja membuat para pengeroyok menjadi gentar.

"Haiittt..!"

Untuk kesekian kalinya, pukulan dan tendangan Panji membuat empat orang lawan terjengkang muntah darah. Akibatnya, sisa pengeroyok menjadi pucat, dan langsung mengambil langkah seribu.

"Hua ha ha...! Pegang...,pegang...!"

Pendekar Tongkat Kembar pun ditinggalkan lawan-lawannya. Kedua kakek botak ini berteriak-teriak menakut-nakuti, membuat lawan-lawannya semakin mempercepat larinya. Hal serupa juga dialami Kenanga. Dua dari enam orang lawannya yang tersisa, tidak lagi bisa menahan keinginannya untuk menyelamatkan diri. Mereka berlari tersaruk-saruk, meninggalkan gadis jelita berpakaian serba hijau ini.

Sementara itu, para pengeroyok Pengemis Tongkat Setan tampak sudah banyak yang bergeletakan tewas. Kakek gembel itu sendiri tampak menderita luka di beberapa bagian tubuhnya. Gempuran-gempurannya mulai melemah, kendati masih tetap berbahaya dan mematikan.

"Yeaaahh...!"

Desss, prakk!

Kembali dua di antara sepuluh pengeroyok terlempar tewas. Satu kepalanya pecah tersambar tongkat Sedang satunya lagi menggelepar dengan dada remuk. Tapi, semua itu harus dibayar mahal oleh Pengemis Tongkat Setan. Karena pada saat tongkatnya meminta korban, dua pengeroyok lain menyarangkan pedang di punggung dan lambung kakek gembel ini.

"Bangsat..!" maki Pengemis Tongkat Setan, merasakan adanya benda dingin menembus tubuhnya. Namun sebelum kedua orang lawan itu sempat mencabut senjatanya, tongkat di tangan kakek ini berputar melingkar. Langsung dihantamnya tubuh kedua orang itu hingga remuk. Pengemis Tongkat Setan sendiri terjajar mundur dengan napas terengah. Wajahnya tampak mulai pucat. Darah di kedua lukanya masih membanjir keluar, membuat sepasang matanya menjadi liar.

"Jangan harap kalian dapat lolos dari kematian..!" Pengemis Tongkat Setan menggereng ke arah enam orang sisa pengeroyok. Dan dengan sebuah lengkingan panjang, tubuhnya melesat disertai putaran tongkatnya yang menderu-deru.

Kembali terdengar jerit kematian susul-menyusul, ketika tongkat di tangan kakek gembel ini meminta korban. Namun untuk itu, Pengemis Tongkat Setan juga menerima tiga bacokan pedang. Seketika, luka di tubuhnya bertambah. Bersamaan dengan robohnya tubuh pengeroyok terakhir, Pengemis Tongkat Setan tampak terjajar limbung. Sosok kakek gembel ini terlihat sangat mengerikan, karena hampir seluruh tubuhnya bersimbah darah. Dan tubuhnya yang berdiri goyah disangga dengan tongkatnya.

Di lain tempat, keadaan Kuntilanak Bunga Hitam juga tidak lebih baik. Bahkan seiring robohnya lawan terakhir, tubuh nenek ini pun tersungkur ke tanah dengan napas satu-satu. Pada beberapa bagian tubuhnya, terdapat luka yang mengalirkan darah tak henti-henti. Beberapa saat kemudian, nafasnya pun putus meninggalkan raganya yang penuh luka mengerikan.

Beberapa saat setelah Kuntilanak Bunga Hitam menghembuskan napas terakhir, Pengemis Tongkat Setan tampak tak sanggup lagi berdiri lebih lama. Tubuhnya melorot jatuh, dengan tangan masih tetap menggenggam tongkat. Sesaat kemudian, kakek gembel ini pun menghembuskan napas penghabisan, dengan mata membelalak.

Rupanya dalam saat-saat terakhir rohnya masih tetap penasaran! Dan dalam saat terakhirnya, baik Pengemis Tongkat Setan maupun Kuntilanak Bunga Hitam, tampak menggenggam erat kitab masing-masing.

Melihat hal ini Panji, dan yang lain hanya bisa menghela napas melihat mayat-mayat korban nafsu serakah itu. Kemudian mereka melangkah menghampiri mayat kedua orang gembong kaum sesat itu, lalu mengambil kitab dalam genggaman masing-masing.

"Hendak kau apakan kedua kitab ilmu mukjizat itu, Pendekar Naga Putih...?" tanya salah seorang dari Pendekar Tongkat Kembar, ketika melihat pemuda itu mengambil kitab dari tangan Pengemis Tongkat Setan dan Kuntilanak Bunga Hitam.

"Karena sudah ada pewarisnya, kurasa sebaiknya kedua kitab ini dimusnahkan agar tidak mengundang malapetaka baru," jawab Panji. Tampak sekali kalau Pendekar Naga Putih menyesal atas semua peristiwa berdarah yang diakibatkan kedua kitab di tangannya.

Sementara beberapa orang tokoh persilatan yang berada di pihak Panji, sama sekali tidak memberikan tanggapan. Mereka sama-sama terdiam. Bahkan tetap tak terdengar suara, sewaktu Panji mengerahkan 'Tenaga Sakti Inti Panas Bumi'-nya yang langsung membakar kedua kitab ilmu mukjizat itu hingga hancur menjadi debu.

"Rasanya, tugasku sudah selesai sekarang. Dan kalian tidak keberatan kalau aku mohon diri..," ujar Panji. Pendekar Naga Putih memang merasa tidak perlu lagi mengantarkan Laka Sora. Adanya Pendekar Tongkat Kembar, menurutnya sudah lebih dari cukup.

"Tidak, Pendekar Naga Putih. Tugasmu belum tuntas!" Tiba-tiba salah seorang dari kakek botak yang berjuluk Pendekar Tongkat Kembar berkata lantang, membuat kening Panji berkerut

"Benar, timpal kakek botak yang satunya. "Kau tetap harus mengantarkan Laka Sora sampai ke hadapan ayahnya. Anak ini tetap menjadi tanggung jawabmu, sampai berada ditangan ayahnya..."

"Aku pun ingin agar Paman Panji dan Bibi Kenanga singgah ke rumahku dan berjumpa kedua orangtua ku. Kuharap, Paman dan Bibi tidak membuatku kecewa. Kalau kalian tidak bersedia, aku akan tetap berlutut di tempat ini...," ujar Laka Sora.

Langsung saja bocah itu menjatuhkan diribberlutut didepan Panji dan Kenanga. Perbuatan itu, membuat pasangan pendekar muda ini tersenyum. Betapa cerdiknya Laka Sora! Panji dan Kenanga mengangkat bangkit tubuh bocah cerdik itu. Mereka memang merasa tidak mempunyai pilihan lain. Maka diputuskannya untuk mengantarkan Laka Sora sampai ke tangan orangtuanya. 

S E L E S A I
Ada kabar sedih nih gan, situs ini dinyatakan spam oleh pihak facebook :(:(. Admin mau minta tolong kepada para pembaca yang budiman untuk mengisi form di Link ini : Facebook Debugger dan menulis bahwa situs ini bukan spam. Semoga kebaikan dari pembaca dibalas berlipat ganda oleh Tuhan yang maha kuasa😇. Selaku Admin ~ Iccang🙏