Rahasia Kunci Wasiat Bagian 12

Mode Malam
“Siauw Ling yang pernah hidup selama beberapa hari beberapa malam di atas tonjolan batu pada dinding tebing yang curam, walaupun tempat itupun merupakan suatu tempat yang tak dapat melihat langit dan tak bisa melihat bumi tetapi keadaannya jauh lebih aman. Karena tonjolan batu itu kuat untuk menahan bobot badannya.

Sebaliknya ayunan rotan ini begitu lemas dan terombang ambing di tengah tiupan angin seseorang bisa hidup selama sepuluh tahun lamanya, di tengah suatu keadaan yang sangat berbahaya hal ini benar-benar luar biasa sekali.

“Hey siucay miskin apakah kau sudah berhasil menembusi ilmu sakti tersebut?”tegur sikakek berjubah kuning itu secara tiba-tiba.

“Haaa… haaa… gimana? Apakah Lam heng sudah merasa tangan serta kakimu mulai kegatalan?”sahut orang yang ada di atas ayunan rotan itu sambil tertawa nyaring.

“Haaa… haaa… anggap saja loohu tidak berhasil menangkan dirimu, dan sejak ini kita tidak usah bertanding kembali.

“Agaknya perkataan ini benar-benar berada diluar dugaan orang yang ada di atas ayunan rotan itu karena lama sakali baru terdengar orang itu menghela napas panjang.

“Heei! Sebetulnya kepandaian silat dari Lam heng tidak berada di bawah kepandaian siauwte,”katanya.

Jarak ayunan rotan tersebut dengan permukaan tanah sangat tinggi sekali tetapi tanya jawab yang dilakukan oleh kedua orang itu bisa kedengaran sangat jelas sekali, sampai helaan napas panjangpun bisa terdengar amat jelas.

“Heey bocah”tiba-tiba si orang tua berjubah kuning itu membisik kesamping telinga Siauw Ling dengan suara yang amat perlahan, “Sekali tenaga dalam dari siucay miskin itu dahsyat sekali, diluar wajahnya ia kelihatan amat halus padahal hatinya sekeras baja, nanti kalau bicara sedikitlah berhati-hati.

““Leng jie akan mengingat-ingat terus pesan dari Gie hu!”sahut Siauw Ling sambil mengangguk.

Sebetulnya si orang tua berjubah kuning ini bersifat sombong dan tidak suka menyendiri tetapi karena perebutan nama besar ia telah berkorban diam selama sepuluh tahun lamanya di dalam lembah terasing ini dan kali ini hanya demi Siauw Ling ia sudah rela mengakui kalah terhadap lawannya.

Sekonyong-konyong tampaklah sebuah rotan yang amat panjang mendadak diturunkan ke bawah dari atas ayunan itu diikuti berkemandangnya suara tertawa yang amat nyaring.

“Haa…haaa, Lam heng suka memberi muka kepada siauwte merasa sangat berterima kasih sekali, dan suruhlah bocah cilik itu naik!”“Maksud dari perkataan ini sangat jelas sekali, kau mengakui tak bisa menangkan diriku, sudah tentu dikarenakan oleh sebab itu.

“Rotanpun segera diturunkan untuk mengundang Siauw Ling naik. Dengan kejadian ini maka sama saja dengan sekali langsung membongkar rahasia hati si orang tua berjubah kuning itu.

“Bocah, kau naiklah,”ujar si orang tua berjubah kuning itu kemudian dan sambil tertawa sedih.

Sehabis berkata dengan perlahan ia putar badan dan berlalu.

Siauw Ling hanya merasakan senyuman dari Gie hu nya itu mengandung perasaan sedih dan tekanan batin yang luar biasa hanya saja bocah itu tidak mengerti apa sebabnya ia sampai bersikap demikian.

Dengan termangu-mangu bocah itupun memandang bayangan punggung dari si orang tua berjubah kuning yang mulai lenyap dibalik pepohonan ia merasa si orang tua itu kini kelihatannya jauh lebih tua lagi.

Menanti ia menoleh kembali tali rotan yang diturunkan ke bawah telah berada di atas kepalanya. Dan dengan cepat ia menangkap tali rotan itu untuk memanjatnya keatas.

Secara tidak sengaja bocah itu telah makan jamur batu berusia ribuan tahun ditambah lagi telah memperoleh bantuan tenaga murni dari si orang tua berjubah kuning yang menembusi ketiga buah urat nadinya, tanpa ia rasa tangannyapun telah bertambah lipat ganda.

Kini dengan kecepatan yang luar biasa ia memanjat ke arah atas, tidak selang beberapa saat lamanya tubuhnya telah berada kurang lebih empat lima kaki tingginya.

“Pegang erat-erat!”tiba-tiba terdengar suara peringatan yang amat nyaring.

Tali rotan yang dicekalnya secara tiba-tiba ditarik keatas, Siauw Ling hanya merasakan pandangan matanya jadi amat kabur bagaikan menunggang perahu yang terserang ombak besar tahu-tahu tubuhnya sudah terjatuh di atas ayunan rotan itu.

Kiranya dia bukan lain adalah seorang siucay berusia pertengahan yang memakai jubah berwarna biru muda sedang duduk bersila disana wajahnya penuh dengan senyuman dan lagi memandang ke arahnya dengan ramah.

Teringat akan pesan dari ayah angkatnya tadi buru-buru Siauw Ling menjatuhkan diri berlutut untuk memberi hormat.

“Siauw Ling menghunjuk hormat buat Locianpwee!”“Dan duduklah!”ujar sisastrawan berusia pertengahan itu sambil tersenyum.

“Boanpwee berdiri juga sama,”sahutnya buru-buru sambil berdiri tegak kesamping dan luruskan tangannya ke bawah.

“Haaa… haaa… tentunya Lam Ih Kong sudah memberitahukan sesuatu kepadamu, kalau tidak mana mungkin kau bocah bisa begitu tahu adat.

““Hmm! Sedikitpun tidak salah”pikirnya dalam hati. “Ayah angkatku bilang kau luarnya lunak dalamnya keras dan minta aku bicara sedikit berhati-hati.

“Walaupun dalam hati berpikir demikian tetapi mulutnya tetap membongkah.

“Bocah,”ujar sastrawan berusia pertengahan itu lagi setelah memperhatikan Siauw Ling beberapa saat lamanya. “Kau bisa sampai disini sudah merupakan suatu keberuntunganmu apalagi kedatanganmu tepat pada waktunya.

““Benar beruntung sekali boanpwee bisa bertemu dengan gie hu serta Locianpwee kalau tidak mungkin aku terkurung sampai mati di dalam lembah yang amat sunyi ini.

“Apakah sebetulnya mereka bicarakan selama ini masing-masing tiada sangkut pautnya dengan urusan mereka sendiri.

Mendadak sisatrawan berusia pertengahan itu tertawa nyaring.

“Haaa… haaa… gimana? Lam Ih Kong sudah menerima dirimu sebagai anak angkatnya?”Siauw Ling yang mendengar perkataan tersebut dalam hati dia diam-diam merasa amat malu karena apakah nama dari ayah angkatnya ia sendiripun tidak tahu.

Karena terburu-buru ia menyahut sekenanya.

“Benar! itulah si orang tua yang mengantar aku datang kemari tadi.

““Ooouw…! Si orang tua berjubah kuning itu bernama Lam Ih Kong”katanya perlahan.

Setelah berdiam beberapa saat kemudian ia baru berkata kembali, “Apakah kau tahu apa sebabnya ia membawa dirimu datang kemari?”“Ia meminta boanpwee mohon belajar ilmu kweekang serta ilmu pedang dari Locianpwee.

“Sisastrawan berusia pertengahan itu segera termenung beberapa saat lamanya, akhirnya ia tertawa.

“Bilamana aku tidak mengabulkan permintaanmu untuk mempelajari ilmu silat kepadamu maka Gie hu mu pasti akan mengadu jiwa dengan diriku…”“Locianpwee pun tidak perlu terlalu menyusahkan diri!”tak tertahan secara tiba-tiba Siauw Ling berseru keras, karena darah dihatinya benar-benar telah bergolak.

“Bilamana menang bakat boanpwee tidak baik dan tidak punya kecerdikan untuk belajar maka cianpwee pun tidak usah membuang waktu lagi.

““Haaa… Haaa justru dikarenakan kau memiliki bakat yang melebihi orang lain inlah yang membuat aku jadi merasa ragu-ragu harus mewariskan kepandaianku kepadamu?”kata sisastrawan berusia pertengahan itu sambil tersenyum.

Walaupun Siauw Ling jadi orang amat cerdik melebihi orang lain tetapi bagaimanapun juga ia cuma seorang bocah yang baru berusia sepuluh tahunan bagaimana mungkin bocah sekecil itu bisa menangkap kata-kata yang berarti sangat mendalam ini. sehingga beberapa saat lamanya ia jadi bangun dan kelabakan sendiri akhirnya dengan pandangan melotot dan mulut melongo ia memandang ke arah sisastrawan tersebut.

“Heee… bocah kau tidak usah banyak berpikir lagi,”hibur sisastrawan berusia pertengahan itu sambil menghela napas panjang. “Dengan usia yang sekecil dirimu bagaimana mungkin bisa memahami banyak urusan.

““Boanpwee tidak tahu harap Locianpwee suka banyak memberi pertunjuk yang berguna,”sambung Siauw Ling.

Dari sepasang mata sisastrawan berusai pertengahan itu mendadak memancarkan cahaya yang sangat tajam ujarnya kemudian dengan wajah keren serius, “Lam Ih Kong sudah mengadakan pertandingan ilmu silat dengan diriku selama sepuluh tahun lamanya tanpa ada yang berhasil memperoleh kemenangan maupun kekalahan. Heee…! Sebetulnya ia… sebetulnya ia adalah seorang manusia yang gemar geguyon dan berpesiar, tetapi dikarenakan hendak merebut nama kosong ternyata ia telah rela berdiam selama puluhan tahun lamanya di dalam lembah yang sama sekali terasing dari pergaulan ini tanpa suka meninggalkan lembah ini barang setapakpun. Walaupun di atas gunung tak tahu umur, tapi waktu berjalan laksana lewatnya mega dilangit dan waktu sepuluh tahun di dalam pandangan seorang manusia yang umurnya ada batas- batasnya bukanlah suatu waktu yang singkat, kini ia telah rela melepaskan nafsu ingin menangnya dan mengaku kalah terhadap diriku hanya dikarenakan dirimu, sekalipun hanya sekecap kata saja tetapi hal tersebut jauh lebih menderita daripada terbunuh di tangan musuh.

“Dengan setengah mengerti setengah kebingungan Siauw Ling menganggukkan kepalanya.

“Gie hu sangat mencintai diriku, hal ini Leng jie pun mengetahui!”“Kini ia rela minta bantuan diriku jelas kalau Lam heng sudah membuang jauh nafsu ingin menangnya, dan dengan cara yang sama iapun bisa pergi minta bantuan dari Liauw Sian Ci!”“Ehmm…! benar, Gie hu pun pernah membicarakannya dengan diriku.

““Walaupun ilmu silat yang kita bertiga pelajari adalah berbeda tetapi masing-masing orang tak berhasil menangkan siapapun,”kata sisastrawan berusia pertengahan itu lagi.

“Dan selama sepuluh tahun ini kita telah bersama-sama berdiam di dalam lembah yang sunyi ini untuk memperdalam ilmu silatnya sendiri-sendiri, dengan harapan agar dikemudian hari bisa menangkap pihak lawannya untuk meninggalkan lembah ini…”“Bilamana kalian bertiga tak ada yang bisa menangkan pihak lawannya bukankah selama hidup tak akan keluar lagi dari lembah ini?”timbrung Siauw Ling tiba-tiba.

“Sedikitpun tidak salah, sewaktu kita tiba di tempat ini masing-masing telah mengucapkan sumpahnya sendiri-sendiri, barang siapa saja yang berhasil menangkan kedua orang lainnya dialah yang boleh meninggalkan lembah ini duluan sedang sisanya dua orang harus bertanding kembali hingga salah satu diantaranya memperoleh kemenangan untuk meninggalkan tempat ini pula, tetapi hal ini baru boleh dilakukan menanti orang pertama telah tiga tahun lamanya meninggalkan lembah tersebut.

““Lalu orang yang menderita dua kali kekalahan apakah selamanya tidak diperkenankan meninggalkan tempat ini?”“Betul samapai tua dan sampai mati sekalipun tetap tidak boleh meninggalkan lembah ini.

“Diam-diam Siauw Ling rada mengkirik mendengar cara bertanding seperti itu pikirnya, “Cara bertaruh seperti ini benar-benar terlalu kejam karena yang kalah harus berdiam seorang diri di dalam lembah yang sunyi dan jauh dari pergaulan manusia penghidupannya sudah tentu sangat menderita dan tersiksa… heee… tidak aneh kalau mereka masing-masing berusaha untuk memperdalam ilmu silatnya masing-masing.

“Terdengar sisastrawan berusia pertengahan itu kembali melanjutkan kisahnya, “Pada beberapa tahun permulaan rasa ingin menang dihati kamki bertiga masih berkobar-kobar setiap setengah tahun sekali tentu kami adakan pertandingan dan untuk menjaga adilnya pertandingan tersebut maka setiap orang mendapat giliran untuk mengepalai satu pertandingan sedang dua orang lainnya bertanding dengan amat serunya tetapi selama itu kita tak ada yang bisa menangkan pihak yang lain. Gie hu mu pandai di dalam menggunakan ilmu jari sedang aku lebih mengutamakan ilmu pedang oleh karena samasama ngototnya itulah maka setiap kali bertanding kami bertiga tentu kehabisan tenaga dan kecapaian.

““Menanti lima tahun telah lewat kita sudah mengalami pertandingan sebanyak puluhan kali, dan dihati kita masing-masing baru memahami untuk mengalahkan dua orang lawannya benar-benar merupakan satu pekerjaan yang amat sukar karena itu kita lantas menyetujui untuk mengubah cara pertandingan jadi setiap setahun sekali.

““Kembali lima tahun lamanya telah lewat, waktu itu kami sudah mengubah waktu pertandingan dari setahun sekali menjadi tiga tahun sekali heeei… dengan mengikuti berlalunya sang waktu, rasa ingin menang dari kita bertigapun ikut berlalu begitu saja.

“Selesai mendengar perkataan itu kembali Siauw Ling berpikir keras dalam hatinya, “Kalau memang tak bisa menentukan siapa yang kalah, buat apa kalian masih bertanding terus??”Dengan perlahan sisastrawan berusia pertengahan itu mendongakkan kepalanya keatas lalu menghela napas panjang-panjang.

“Kita berdiam selama puluhan tahun lamanya di tempat ini sambil belajar ilmu silat lebih giat, dengan tanpa terasa kepandaian kita masing-masingpun telah memperoleh kemajuan. Banyak jurus serangan yang terpecahkan selama tahun-tahun yang lain kini jadi paham sekali. Heei… bilamana kita munculkan kembali ke dalam dunia kangouw mungkin segera bisa menjagoi seluruh Bulim.

“Ia berhenti sebentar untuk tukar napas baru kemudian sambungnya lagi dengan nada sedih, “Tetapi saat ini kita bertiga sudah berada dalam keadaan yang membahayakan pikiran dan kecerdikan selama puluhan tahun ini telah kami peras guna menciptakan jurus-jurus yang lebih lihay lagi dengan maksud untuk memenangkan pihak lawannya.

Walaupun tubuh kami tak bergerak tetapi pikiran terus bekerja laksana menggulungnya ombak di tengah samudra. Selama sepuluh tahun ini pikiran kami belum pernah memperoleh keterangan barang sekejappun hal ini merupakan suatu pelanggaran yang amat besar terhadap kebiasaan untuk menjaga kesehatan badan.

““Selama beberapa bulan akhir-akhir ini aku mulai merasakan tubuhku ada sedikit perubahan, tetapi dikarenakan waktu buat bertanding telah mendekat maka aku tak berani berhenti berlatih.

““Sekalipun badanku tidak bisa menandingin tegapnya badan gie hu mu tetapi tenaga dalam yang aku latih merupakan sim hoat tingkat teratas dari aliran Buddha, jikalau aku betul-betul bisa baik-baik berjaga diri maka umurku bisa mencapai seratus tahun lebih.

““Kini keadaanku sudah mirip dengan anak panah yang siap dibidikan, yang mau tak mau harus dibidikan juga, keadaan demikian rasanya Gie hu serta Liauw Sian Ci pun telah lama mempunyai perasaan seragam ini pula.

“Sepasang mata dari sisastrawan berusia pertengahn itu dengan amat tajam dialihkan keatas wajah Siauw Ling kemudian ujarnya kembali, “Karena itu aku merasa kedatanganmu sangat tepat pada waktunya karena bilamana kau datang lebih pagian beberapa tahun saja dimana nafsu ingin menang pada hati kami masih berkobarkobarnya, jangan harap nyawamu masih bisa dipertahankan. Sebaliknya bila kau datang terlambat beberapa tahun lagi yang kau jumpai hanyalah sosok kerangka manusia saja.

heeeii! memang rejekimu ternyata kau bisa tepat datang pada saat nafsu kami sudah padam untuk menjelang kematian.

“Segulung angin gunung bertiup datang membuat ayunan yang terbuat dari rotan itu bergoyang tiada hentinya hati Siauw Ling jadi gugup tak kuasa lagi tubuhnya terjungkal keluar dari ayunan itu.

Tetapi dengan cepat sisastrawan berusia pertengahan itu goyangkan tangannya, rotan yang di tangan itu dengan cepat melayang keluar melihat tubuh Siauw Ling yang terjatuh dan menyentaknya kembali keatas ayunan.

“Kau takut tidak?”tanyanya sambil tersenyum.

“Ada sedikit takut juga.

““Bilamana kau berhasil mempelajari silat dari kami bertiga maka dikolong langit pada saat ini mungkin tak bakal ada yang bisa menangkan dirimu lagi, sebaliknya bilamana kau terseret ke dalam aliran hitam maka kaulah satu-satunya bibit bencana yang paling besar.

““Perkataan dari Locianpwee ini sedikitpun tidak salah, tetapi boanpwee harus berbuat bagaimana?”“Lewat tiga bulan lagi adalah saat kita bertiga untuk bertanding ilmu silat,”ujar sisastrawan berusia pertengahan itu. “Sambil waktunya aku akan berunding dengan gie hu mu untuk mencarikan satu akal menurunkan dasar-dasar belajar ilmu kweekang!”“Menguasai diriku dengan berbuat sesuatu dibadanku?”pikir Siauw Ling dalam hati.

“Berita ini benar-benar sangat aneh sekali.

“Tetapi sisastrawan berusia pertengahan itu tidak berbicara lagi, ia hanya menurunkan cara-cara dasar kweekang, setelah itu bangun berdiri dan meninggalkan tempat tersebut dengan meloncat turun ke bawah.

“Ooow! Aku kira dia akan meloncat turun begitu saja, kiranya iapun meminjam kekuatan dari tali rotan tersebut”kembali pikir bocah itu di dalam hati.

Haruslah diketahui jarak antara permukaan tanah dengan ayunan tersebut ada tiga puluh kaki tingginya, sekalipun jagoan yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang bagaimana lihaynyapun kiranya sukar juga untuk meloncat turun dengan begitu saja.

Gerakan dari sisastrawan berusia pertengahan itu amat gesit serta cepat laksana sambaran kilat hanya di dalam sekejap saja ia telah lenyap dari pandangan.

Saat ini tinggal Siauw Ling seorang diri duduk di atas ayunan tersebut dalam hati ia merasa takut bilamana ada angin gunung yang bertiup mendatang sehingga membuat tubuhnya terjungkir jatuh, takut pula bilamana ayunan rotan itu tiba-tiba terputus.

Di tengah hati yang berdebar-debar penuh rasa kuatir itu bocah tersebut jadi kebingungan dan kelabakan dengan sendiri tapi lama kelamaan membuat ia jadi tak bisa dan mulai berlatih dasar kweekang sesuai dengan ajaran orang itu.

Menanti hari hampir mendekati jauh malam sisastrawan berusia pertengahan itu baru balik keatas ayunan dengan membawa beberapa biji buah-buahan serta seekor ayam yang telah dipanggang.

“Bocah inilah bahan makananmu untuk dua hari,”katanya sambil tertawa.

Selesai membicarakan bahan makanan itu kepada Siauw Ling iapun putar tubuh dan berlalu dari sana.

Malam semakin kelam angin gunung bertiup semakin santar membuat ayunan tersebut bergoyang tiada hentinya semakin lama semakin keras sehingga terasa amat mengerikan.

Dalam hati Siauw Ling merasa amat takut tetapi iapun tal dapat berbuat apa-apa karena itu terpaksa kembali berlatih ilmu kweekangnya hingga berada pada keadaan lupa segalagalanya.

Berturut-turut dua hari dua malam tak tampak sisastrawan berusia pertengahan itu balik kembali. Siauw Ling yang melihat bahan makanan telah habis dan melihat pula munculnya sang sastrawan tersebut hatinya mulai terasa bingung kembali.

Perut terasa keroncongan sukar tertahan sang suryapun mulai lenyap dibalik gunung membuat cahaya yang memancar keatas salju memantulkan sinar yang menyilaukan mata.

Semakin lama perhatian bocah itu mulai tersirap pada indahnya pemandangan perutnya, yang laparpun perlahan-lahan mulai lenyap pikirnya, “Sungguh sayang sekali pemandangan indah dari sang surya yang memantulkan cahayanya karena salju hanya berlangsung sebentar saja suatu pemandangan yang begitu indah sebentar lagi bakal musnah dari pandangan…”Sewaktu ia sedang memandang ke depan dengan termangu-mangu itulah mendadak dari balik puncak yang bersalju putih berkelebat datang setitik bayangan hitam.

Gerakan bayangan hitam itu amat cepat dan lincah hanya di dalam sekejap saja bayangan tersebut telah tiba di dalam lembah itu.

Waktu itu secara samar-samar ia bisa menangkap bila titik hitam itu tidak lain adalah burung rajawali besar yang membawanya datang ke tempat itu.

Melihat akan munculnya sang burung Siauw Ling jadi sangat girang.

“Engkoh rajawali engkoh cepat bawa aku turun dari sini untuk memetik beberapa biji buah-buahan!”teriaknya dengan keras.

Ia merasa burung rajawali itu benar-benar luar biasa besarnya dan jarang sekali ditemuinya dikolong langit, bahkan di atas kitab yang pernah dibacanyapun belum pernah melihat adanya burung semacam rajawali ini.

Tetapi burung raksasa itu sama sekali tidak menggubris teriakannya hanya tiba-tiba sayapnya ditutup kembali kemudian menukik melayang turun kedasar lembah.

Menurut perkiraan dari Siauw Ling tempat itu tentulah pohon siong besar yang tumbuh didekat bangunan rumah kayu itu.

“Heeei bagaimanapun burung bukanlah manusia, mana mungkin ia mengerti perkataan manusia?”pikir bocah itu diam-diam.

Sang surya mulai lenyap dibalik gunung sinar yang memancar keluarpun mulai sirat berganti dengan udara gelap yang mencekam seluruh jagad, beribu-ribu bintang memancarkan sinarnya yang berkedip menandakan malam telah menjelang, tetapi sisastrawan berusia pertengahan itu belum juga kelihatan kembali.

Akhirnya Siauw Ling menghela napas panjang, dan mulai bergumam, “Kelihatannya malam ini tak mungkin kembali! Heeeei!”dengan rasa kecewa ia menutup matanya rapat-rapat dan kembali berlatih dasar kweekangnya sesuai dengan ajaran yang pernah diterima olehnya dari sastrawan tersebut.

Waktu lewat dengan cepatnya, hanya di dalam sekejap mata saja tiga hari telah berlalu, Siauw Ling dengan menahan laparpun berhasil melewati tiga hari itu dengan hasil yang tak terduga olehnya… Karena jengkel harus menahan lapar bocah itu telah memusatkan perhatiannya untuk berlatih ilmu kweekang, karena hanya berada dalam keadaan lupa diri saja yang bisa membuat bocah itu melupakan rasa lapar diperutnya.

Walaupun ia mempunyai semangat bertahan yang melebihi orang lain dengan sifatnya yang keras kepala pula tetapi siksaan tersebut benar-benar luar biasa sekali.

Setiap kali ia tersadar dari semedinya bocah itu segera merasa perutnya panas seperti dibakar kecuali itu iapun harus menderita terjemur di bawah teriknya panas sinar matahari.

Setiap kali menjelang berhasilnya untuk melupakan diri ia harus menderita dulu siksaan yang maha berat.

Hari itu ketika ia tersadar kembali dari semedinya mendadak terciumlah bau harum dari daging panggang yang menusuk hidung.

Buru-buru ia menoleh ke belakang tampaklah sisastrawan berusia pertengahan itu sambil tersenyum telah berdiri dibalakangnya, seiris ayam panggang yang menyiarkan bau semerbak tiada hentinya menyerang hidung Siauw Ling.

Lama kelamaan bocah itu tidak kuat menahan diri lagi kepingin sekali tangannya cepatcepat menyambar ayam tersebut untuk disikat tanpa banyak sungkan-sungkan.

“Bocah, kau merasa tersiksa bukan?”tanyanya sisastrawan tersebut sembari angsurkan ayam itu kepadanya.

Jilid 15 Teringat akan siksaannya selama beberapa hari ini untuk menahan rasa lapar dan teriknya sinar sang surya kepingin sekali ia memaki tapi akhirnya ia tertawa tawar.

“Sedikit siksaan perut lapar masih belum terhitung apa-apa!”katanya.

Dengan cepat sisastrawan berusia pertengahan itu mengangguk.

“Untuk menjadikan seorang manusia yang kuat pertama-tama harus mempunyai tulang yang kuat tahan siksaan dan harus bersabar. Bocah hasil yang kau peroleh betul-betul berada diluar dugaanku semula cepat makanlah ayam ini dulu!”katanya.

Siauw Ling yang hampir-hampir saja menjadi lemas saking laparnya segera menerima panggangan ayam itu dan menyikatnya sampai habis.

Ketika kepalanya didongakkan kembali untuk kedua kalinya sisastrawan tersebut telah lenyap tak berbekas.

“Heee… kepergiannya kali ini entah sampai kapan baru kembali lagi?”pikir bocah itu dihati, “Aku harus mengadakan persiapan guna menghadapi perut yang lapar!”Di tempat yang naik tak sampai langit turun tak sampai ditanah ini satu-satunya yang mengganggu dirinya hanyalah soal lapar saja tetapi kini telah mengetahui ilmu pelajaran kweekang sehingga bisa juga menahan siksaan tersebut hatinya jadi rada tenteram.

Sedikitpun tidak salah, kepergian dari sisastrawan tersebut kali ini ternyata membutuhkan waktu empat hari lamanya baru muncul kembali sambil membawa panggangan ayam serta buah-buahan yang segar.

Tenaga dalam Siauw Ling memperoleh kemajuan yang sangat pesat. Semakin lama dia bersemedi siksaan badan yang diterimapun semakin berkurang.

Selang berganti malam. Malam kembali kesiang, hanya di dalam sekejap mata tiga bulan kembali lewat tanpa terasa.

Di dalam tiga bulan ini Siauw Ling telah merasakan pengalaman ngeri yang selamanya belum pernah ia rasakan, curahan hujan kencang, kilatan guntur yang membelah bumi serta tiupan angin yang kencang membuat ia yang berada di atas ayunan rotan merasa dirinya seperti berada disebelah perahu kecil di tengah amukan ombak samudra yang terserang taupan naik turun bergoyang kekiri kekanan tiada hentinya.

Dalam hati bocah itu hanya merasa takut bilamana dirinya tertiup jatuh oleh tiupan angin taupan yang amat kencang atau tali rotan terikat pada kedua belah ujung tebing secara tiba-tiba putus jadi dua.

Tetapi setiap kali ia berada dalam keadaan terkejut dan ketakutan itulah segera menggunakan ilmu semedhinya untuk memaksa dirinya berada dalam keadaan lupa segala-galanya.

Di dalam anggapan Siauw Ling cara inilah cara yang paling baik untuk menghindarkan diri dari perasaan takut dan ngeri yang mencekam saat itu setelah melewati halangan itu maka dengan lancarnya ia bakal meneruskan pelajarannya hingga tingkat teratas waktu tiga bulan yang amat singkat itu sudah cukup baginya untuk memiliki dasar ilmu tenaga dalam yang dahsyat.

Waktu itu ia baru saja tersadar dari semedhinya, terasa aliran darah dibadannya beredar sangat lancarnya membuat tubuhnya terasa amat segar.

Tetapi satu keinginan yang anehpun ikut muncul dibenaknya kepingin sekali meloncat turun ke bawah jurang yang ada dibawahnya perasaan itu begitu mendesak sehingga hampir sukar tertahan.

Buru-buru dengan perasaan yang mantap dan sadar ia mencegah perasaan itu akhirnya setelah bersusah payah selama beberapa saat hatinya baru terasa jadi tenang kembali.

Menanti ia tersadar kembali untuk kedua kalinya malampun telah menjelang sang rembulan memancarkan cahayanya jauh di tengah awan-awan sedang sisastrawan berusia pertengahan itu entah sejak kapan telah kembali di atas ayunan rotan tersebut.

Waktu itu dengan pandangan yang memancarkan sinar keheranan ia memandang terus ke arah Siauw Ling lalu mengangguk sambil memuji, “Bocah bakatmu benar-benar luar biasa sekali hatimu tenang bagaikan permukaan air telaga dan keras laksana baja baru saja lolos dari suatu mara bahaya!”“Mara bahaya apa?”“Bukankah tadi kau punya perasaan ingin terbang dan meloncat turun dari atas ayunan ini?”“Aaah! Betul!”seru Siauw Ling keras. “Tetapi aku takut bilamana sampai terjatuh dari atas ayunan itu maka dengan susah payah perasaan tersebut aku usahakan dihati.

““Ehmmm…! dari perasaan jadi tenang itulah kunci rahasia dari pelajaran Sim Hoat ilmu kweekang aliran kami,”sahut sisastrawan itu sambil tersenyum. “Bocah! tanpa kau sadari rahasia tersebut telah berhasil kau dapatkan.

““Soal ini boanpwee masih rada tidak paham”kata Siauw Ling sambil manggut-manggut.

“Heeei…!”sisastrawan berusia pertengahan itu menghela napas dan menengada keatas langit.

“Kini tak ada waktu lagi untuk membicarakan soal ini dengan dirimu, mari kita pergi!”“Ehmmm! Masih ada lagi Liuw Sian Ci.

“Tangannya tiba-tiba menyambar ke depan untuk mencengkeram tubuh Siauw Ling kemudian dengan cepat meloncat turun dari atas ayunan itu dan melayang ke depan.

Siauw Ling hanya merasakan angin bertiup membukakan badan hatinya terasa bergidik sehingga buru-buru memejamkan matanya rapat-rapat.

Terasa tubuhnya melayang di tengah udara kemudian dengan menentang angin meluncur ke depan hatinya.

“Menemui Gie hu ku??”teriak Siauw Ling kegirangan karena saat ini bocah tersebut sudah amat kangen dengan ayah angkatnya itu benar-benar merasa kuatir bilamana sisastrawan berusia pertengahan itu salah menginjak sehingga jatuh ke dalam jurang.

Ketika berbagai pikiran lagi berkelebat dihatinya itulah mendadak tubuhnya telah berhenti bergerak.

Kiranya saat itu mereka berdua sudah berhenti di atas sebuah puncak gunung yang penuh tertutup oleh salju nan putih.

Luas puncak itu tidak lebih hanya dua kaki saja bening dan licin laksana kaca, di bawah pantulan sinar rembulan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.

Kurang lebih tujuh depa disebelah kiri mereka duduk bersila seorang perempuan berusia pertengahan dengan rambut yang terurai memanjang dan berwajah amat cantik dialah tentunya Liuw Sian Ci itu.

Disebelah kanannya duduklah si orang tua berjubah kuning, Lam Ih Kong. Muka mereka kelihatan begitu serius dan angkernya.

Perlahan-lahan sisastrawan berusia pertengahan itu meletakkan Siauw Ling keatas tanah kemudian iapun duduk bersila dan memejamkan matanya.

Terhadap diri Siauw Ling ia tidak menggubrisnya kembali.

Siauw Ling yang telah diturunkan keatas salju segera merasakan tempat itu amat licin dan sukar sekali untuk bergerak.

Belum sempat ia buka bicara terlihatlah Lam Ih Kong telah membuka matanya dan memandang sekejap ke arah Siauw Ling.

“Cung heng, siauwte telah menyusahkan diri,”katanya sambil tersenyum.

“Untung saja tidak sampai kehilangan nyawa saat ini putramu telah memperoleh Sim Hoat dari pelajaran ilmu kweekang aliranku, bilamana malam ini siauwte tidak mati, maka tiga tahun kemudian siauwte pasti segera akan menurunkan seluruh kepandaianku.

““Heee… heee… bilamana malam ini kita masih juga tidak berhasil menentukan menang kalah aku rasa dilain waktu tak ada kesempatan lagi untuk bertanding”seru Liuw Sian Ci tiba-tiba dengan suaranya yang dingin.

“Haaa… heee… siauwte pun mempunyai perasaan demikian,”sahut sisastrawan berusia pertengahan itu sambil tertawa nyaring.

Tenaga dalam serta ilmu pedang dari Cung heng jauh melebihi siauwte satu tingkat, aku merasa tak ada kekuatan untuk bisa menangkan diri,”sambung Lam Ih Kong.

“Heee… heee, kalau begitu kau bisa menangkan diriku bukan!”teriak Liuw Sian Ci sambil tertawa dingin.

Tangan kanannya pun diayunkan melancarkan serangan jari, serentetan desiran serangan dengan cepat menyambar ke arah dada Lam Ih Kong.

Tetapi telapak kiri dari Lam Ih Kong dengan cepat dikebaskan kesamping menyambut datangnya serangan jari tersebut.

“Braaak…!”dengan menimbulkan suara getaran amat keras, tubuh mereka berdua samasama bergoyang dan tak kuasa lagi pada mundur setengah depa ke arah belakang.

“Hmmm! Selama lima tahun ini kekuatan tenaga pukulanmu jauh lebih hebat beberapa kali lipat”seru Liuw Sian Ci dengan dingin.

Tetapi sepasang telapaknya kembali melancarkan lima buah serangan totokan yang amat dahsyat.

“Mana, mana… kekuatan serangan jari dari Liuw Sian Ci tidak berada di bawah kekuatan siauwte,”seru Lam Ih Kong pula dengan suaranya yang tawar.

Sambil berbicara sepasang telapak berturut-turut menari di tengah udara melancarkan pukulan-pukulan yang amat dahsyat laksana ambruknya gunung Thay-san untuk memusnahkan kelima buah serangan jari tersebut.

Sebetulnya Siauw Ling sedang berjalan menuju ke arah Gie hunya tetapi berhubung permukaan salju disana amat licin sehingga sulit untuk dilalui maka itu walaupun jaraknya hanya beberapa depa saja tetapi sulit untuk dilalui.

Selagi ia berjalan sampai di tengah jalan Liuw Sian Ci telah bergebrak dengan Lam Ih Kong, dimana serangan jari saling berbenturan dengan angin pukulan memaksa Siauw Ling tidak kuasa untuk melanjutkan kembali langkahnya.

Terpaksa ia duduk bersila disana menonton jalannya pertempuran tersebut.

Sejak semula Lam Ih Kong telah memperhatikan dirinya, dengan sekuat tenaga si orang tua itu segera memukul kesamping setiap serangan jari dari Liuw Sian Ci yang mengarahnya.

Semakin bergebrak semakin seru, serangan jari dari perempuan itu tiada putusnya menerjang ke arah si orang tua tersebut.

Sebaliknya Lam Ih Kong dengan posisi bertahan sepasang telapak tangannya mendorong kekiri menghantam kekanan memusnahkan datangnya setiap serangan.

Sebenarnya Siauw Ling bermaksud hendak memanggil Gie hunya, melihat serangan berdua semakin lama semakin lancar sehingga pertempuranpun semakin seru karena takut mengganggu perhatian dari ayah angkatnya ia lantas batalkan maksudnya itu.

Ketika menoleh lagi ke arah sisastrawan berusai pertengahan itu, tampaklah dengan tenangnya ia duduk bersila di atas tanah dan terhadap perempuan yang sedang berlangsung sama sekali tidak ambil perduli.

Mendadak segulung angin pukulan yang amat keras menyambar batang menghantam tubuh Siauw Ling yang sedang duduk dipinggir kalangan itu, maka tak kuasa lagi tubuhnya menggelincir dan terjungkal ke bawah puncak tersebut.

Lam Ih Kong yang melihat Siauw Ling terpukul luka hatinya jadi teramat gusar.

Sehingga ia segera melancarkan dua buah serangan pukulan yang amat gencar menghajar tubuh Liuw Sian Ci.

Walaupun ia mempunyai kekuatan untuk balas melancarkan serangan tetapi tak memiliki kekuatan untuk memecahkan perhatian memotong diri Siauw Ling.

Terlihatlah sepasang tangan Siauw Ling menyambar secara serabutan untuk mencekal apa saja yang tumbuh disana tetapi sayang tak sedikit bedapun yang bisa digunakan olehnya.

Mendadak sisastrawan berusia pertengahan itu melancarkan satu cengkeraman ke depan Siauw Ling hanya merasakan segulung tenaga hisapan yang luar biasa besarnya menarik dirinya mentah-mentah ke arah belakang.

“Oooow… Locianpwee terima kasih atas pertolonganmu ini!”seru Siauw Ling dengan suara rendah ujung bajunya tiada hentinya mengusap keringat yang mengucur keluar.

Tetapi sisastrawan berusia pertengahan itu tetap tidak berbicara matapun sama sekali tak berkedip agaknya pada waktu ini sama sekali tak ada waktu baginya untuk bercakapcakap.

Perlahan-lahan Siauw Ling menoleh ke arahnya di bawah sorotan sinar rembulan terlihatlah dari atas ubun-ubunnya secara samar-samar terlintas selapis kabut putih yang membubung tinggi keangkasa wajahnya amat keren dan serius.

Melihat akan sikapnya itu bocah tersebut segera mengetahui kalau sastrawan tersebut sedang mengatur pernapasannya mencapai pada taraf yang genting karena itu mulutnyapun terpaksa membungkam kembali.

Siauw Ling merasa dirinya saat ini harus tenang dan tidak mungkin bisa bergerak kesana kemari untuk mengganggu perhatian ayah angkatnya untuk melihat pertandingan itu hatinya merasa kuatir makanya satu-satunya cara adalah menutup matanya rapat-rapat.

Berpikir akan cara tersebut Siauw Ling lantas bersila dan mulai mengatur pernapasannya hingga mencapai pada keadaan lupa segala-galanya.

Tetapi keadaannya kali ini jauh berbeda dengan keadaan biasanya ia merasa sulit untuk pusatkan perhatiannya untuk mengatur pernapasan setiap kali matanya dipejamkan setiap kali rasa kepingin membuka mata mendesak terus hatinya.

Waktu itu pertempuran antara Lam Ih Kong dengan Liuw Sian Ci tidak seseru pertempuran tadi setelah saling berpandangan beberapa saat lamanya mereka baru saling melancarkan satu serangan.

Tenaga serangan jari serta telapakpun tidak santer tadi kini semua serangan menyambar tanpa menimbulkan sedikit suara.

Bocah itu mana mengetahui kalau pertempuran semacam ini justru merupakan serangan yang terseru setiap serangan jari maupun telapak semuanya sudah menggunakan seluruh tenaga bahkan masing-masing pihak harus menggunakan tenaga dalamnya sendiri-sendiri untuk menekan dan menerima setiap serangan musuh.

Bilamana seseorang yang tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna kontan pasti akan terluka parah bahkan mungkin juga binasa.

Menanti tiga belas jurus telah berlalu mendadak mereka berhenti menyerang dan saling mengatur pernapasannya sendiri-sendiri.

Entah sudah lewat beberapa saat lamanya walaupun rembulan telah condong kesebelah barat mereka berdua belum juga mulai lagi melancarkan serangannya.

“Cung Sam Pek!”tiba-tiba terdengar “Liuw Sian Ci hendak menimbang-nimbang ilmu pedang cayhe?”kata Cung San Pek sambil tersenyum.

“Sedikitpun tidak salah, cepat cabut keluar pedangmu!”Cung Sam Pek pun segera merogoh ke dalam pedang pendek sepanjang lima enam coen.

Setelah mencabutnya dari dalam sarung lantas berpikir, “Pedang pusaka sebegitu kecilnya apakah mungkin bisa melukai orang lain…”Selagi ia merasa keheran-heranan itulah mendadak tampaklah Cung Sam Pek menggetarkan pedang pendeknya lalu menyambitnya ke depan.

Pisau tersebut dengan cepat berputar setengah lingkaran di tengah udara kemudian dengan dahsyatnya menyambar ke arah Liuw Sian Ci.

“Wooou, kiranya ia menggunakan pedang pendek tersebut sebagai senjata rahasia!”pikir Siauw Ling kembali.

Liuw Sian Ci yang melihat datangnya serangan pedang itu dengan cepat mengayunkan jari tangannya menotok ke arah pedang tersebut.

Begitu terkena totokan pedang pendek tersebut segera menggetar dan berputar beberapa kali di atas udara kemudian sekali lagi menerjang ke arah Liuw Sian Ci.

Terlihatlah jari tangan Liuw Sian Ci menotok dengan tiada hentinya kesana kemari tetapi pedang pendek itu bagaikan memiliki sayap saja selalu tidak mau mundur ke belakang.

Kiranya Cung San Pek telah menggunakan tenaga hisapan ditelapaknya untuk menguasai pedang pendek tersebut sehingga bisa berputar-putar dan menari-nari sesuai dengan kehendaknya.

Kurang lebih setengah jam kemudian mendadak Cung San Pek mengulapkan tangan kanannya ke arah sebelah barat.

serentetan cahaya putih laksana sambaran kilat menyambar ke arah mana disusul dengan suara bentrokan yang amat keras bergema memenuhi angkasa.

Sebuah batu yang amat besar seketika itu juga terhajar patah menjadi dua bagian.

“Cung heng, ilmu pedang Ih Kiam Hoat mu benar-benar memperoleh kemajuan yang amat pesat”kata Lam Ih Kong keras.

“Lam heng, kau terlalu memuji diri siauwte,”sahut Cung San Pek sambil ulapkan tangannya menarik kembali pedang pendeknya.

“Hm, sekalipun ilmu pedang Ih Kiam hoatnya menjagoi Bulim pun tak bisa melukai aku Liuw Sian Ci!”seru si perempuan tak terima.

“Hee… hee… urusan ini ada apanya yang patut diherankan, asalkan tidak bisa melukai kau Liuw Sian Ci, siauwte percaya untuk melukai aku orangpun tidaklah mudah”sambung Lam Ih Kong pula dengan cepat.

Mendadak Cun San Pek menghela napas panjang.

“Hei…! Perkataan dari kalian berdua sedikitpun tidak salah.

““Sekalipun siauwte berlatih selama lima tahun lagipun sukar untuk menangkan kalian berdua.

“Liuw Sian Ci serta Lam Ih Kong masing-masing pada termenung tidak berbicara padahal hati mereka berdua benar-benar merasa kecewa.

Mereka bertiga telah bertanding selama puluhan tahun lamanya, diluaran sekalipun tidak berhasil membedakan siapa yang menang, siapa yang kalah tetapi di dalam hati mereka berdua pada mengerti kalau Cung San Pek sebetulnya jauh lebih hebat dari mereka berdua.

Lama sekali baru terdengar Lam Ih Kong berkata kembali, “Cung heng tidak usah merendah lagi sekalipun kau tak mudah mengalahkan cayhe tetapi siauwte mengakui kalau di dalam hal tenaga dalam masih bukan tandingan dari diri Cung heng, bilamana Thian mengijinkan kita bertiga untuk hidup sepuluh tahun lagi, aku rasa di dalam seribu jurus ada kemungkinan Cung heng bakal berhasil mengalahkan siauwte!”“Mana, mana… Lam heng terlalu memuji siauwte.

““Hmm! Lam Ih Kong, jadi kau sudah mengalah”dengus Liuw Sian Ci dengan dingin.

“Perkataan dari siauwte adalah kata-kata yang sungguh-sungguh dan diucapkan sejujurnya.

““Tahukah kalian semua kalau kita sudah sukar untuk hidup lebih dari lima tahun lagi!”seru Liuw Sian Ci kembali sinar matanya dengan perlahan menyapu sekejap ke arah Cun San Pek kemudian sambungnya lagi, “Bilamana kita mati, sudah tentu Cung San Pek bakal memperoleh kemenangan tanpa susah-susah lagi.

“Walaupun Liuw Sian Ci adalah golongan perempuan tetapi rasa ingin menang masih amat besar dan melampaui orang-orang lelaki itu malu terdengar ia terdengus dengan dinginnya.

“Walaupun ilmu khie kang dari Ih Kiam Hoatnya jauh melebihi kita tetapi di dalam ilmu telapak serta ilmu jari ia masih kalah satu tingkat dari kita orang.

““Haaa, haa, haa perkataan dari liuw Sian Ci sedikitpun tidak salah”sahut Cung San Pek sembari tertawa. “Kita bertiga sudah ada puluhan kali mengadakan pertandingan tetapi selalu diakhiri dengan hasil seimbang. Heei! kalian berdua pada merasa sukar untuk bertemu kembali pada pertandingan lima tahun yang akan datang siauwtepun mempunyai perasaan yang sama.

“Berbicara sampai disini ia berhenti sebentar, kemudian setelah hembuskan napas panjang sambungnya lagi, “Pada beberapa bulan akhir-akhir ini siauwte merasa di dalam tubuhku terjadi suatu perubahan yang sangat aneh, terus hingga kehabisan tenaga sampai kelelahan mungkin kita bertiga tidak bakal bisa hidup tiga bulan lagi.

““Tentang soal ini siauwtepun mempunyai perasaan yang sama,”ujar Lam Ih Kong membenarkan.

Dan dengan pandangan sayu Liuw Sian Ci memandang sekejap ke arah Cung San Pek serta Lam Ih Kong, akhirnya iapun menghela napas panjang.

“Heee… kalau begitu kalian berdua sudah tak ingin memperebutkan nama kosong lagi??”katanya.

“Haaa… haaa, ilmu jari serta ilmu meringankan tubuh dari Liuw Sian Ci tanpa tandingan dikolong langit, sekalipun siauwte belajar tiga puluh tahun lagi juga sukar untuk mengimbangi kepandaianmu itu!”teriaknya Cung San Pek sembari tertawa terbahakbahak.

“Beberapa macam ilmu menyambit senjata rahasia dari Liuw sian Ci seperti Sam Yen Lian Tie Man Thian Hoa Yu serta Ngo Hong Tiauw Yang, sudah cukup membuat siauwte merasa amat kagum”sambung Lam Ih Kong pula.

Liuw Sian Ci yang mendengar perkataan tersebut segera menghela napas panjang mendadak ia bangun berdiri, putar badan dan hanya di dalam sekejap saja telah lenyap dari atas puncak bersalju itu.

“Lam heng!”ujar Cung San Pek setelah melihat bayangan perempuan itu lenyap dari pandangan. “Sesaat itu menjelang kematian masing-masing ternyata telah berhasil melepaskan rasa ingin menang dihati kita maka terhadap kita bertiga boleh dikata merupakan suatu keuntungan atau paling sedikit juga memberi kesempatan buat kita untuk hidup dua tahun lagi.

“Lam Ih Kong menghela napas panjang, perlahan-lahan ia menoleh ke arah Siauw Ling katanya, “Cung heng, harap kau suka menjaga baik-naik anak angkat dari siauwte ini, siauwte disini mengucapkan terima kasih dulu.

“Selesai berkata iapun bangun berdiri dengan langkah perlahan turun dari puncak tersebut.

“Lam heng, kau tidak usah kuatir”sahut Cung San Pek sambil tersenyum pahit.

“Siauwtepun tidak ingin membawa mati seluruh kepandaian silat yang aku miliki dan susah payah selama ini.

““Gie hu!”tiba-tiba Siauw Ling berteriak kesana sambil bangun berdiri.

Kemudian dengan cepat ia mengejar dari belakang.

Tetapi karena puncak gunung itu dilapisi dengan salju yang amat tebal dan licin, maka baru saja Siauw Ling berlari dua langkah tubuhnya sudah terjatuh keatas tanah, karena tenaga larinya tadi maka tubuhnya yang terjatuh meneruskan daya luncurnya ke bawah puncak.

Tangan kanan Lam Ih Kong buru-buru diulapkan ke depan, segulung tenaga yang amat lunak tetapi kuat segera mendorong ke arah tubuh Siauw Ling yang sedang meluncur ke bawah puncak itu.

Begitu tubuhnya terkena dorongan tersebut kontan segera terpental mundur ke belakang.

Bersamaan itu pula terdengar suara dari Lam Ih Kong berkumandang ke dalam telinganya.

“Bocah berlatih ilmu silat paling pantang adalah pecahnya perhatian karena urusan ini mempengaruhi jadi tidaknya dirimu maka aku tidak ingin kau mengingat-ingat terus diriku baiklah mengikuti empek Cung untuk belajar ilmu silat kau bocah yang bisa memperoleh perhatiannya untuk mewarisi Sim Hoat dari ilmu kweekangnya sudah merupakan satu keuntungan buat dirimu.

“Nada suara itu penuh disertai rasa kasih sayang yang luar biasa.

Siauw Ling hanya merasakan darah panas bergolak dengan amat kerasnya di dalam dada sehingga tak kuasa lagi titik-titik air mata berlinang membasahi wajahnya menanti dia mendongakkan kepalanya kembali bayangan dari Lam Ih Kong telah lenyap tak berbekas.

“Bocah kau tenangkanlah hatimu.

“tiba-tiba terdengar Cung San Pek memberi peringatan sembari menekan tangan kanannya keatas jalan darah Ming Buru Hiat pada punggung Siauw Ling.

Bocah itu hanya merasakan segulung tenaga yang amat mengalir keluar dari telapak tangan Cung San Pek dan menyerang ke dalam jantung terus mengalir keseluruh anggota badan, urat nadi serta jalan darahnya. Buru-buru iapun mengerahkan tenaganya untuk mendampingi aliran tersebut.

“Bocah!”terdengar Cung San Pek berkata lagi, “Gie hu mu Lam Ih Kong selama ini bersifat dingin sombong dan tidak suka bergaul, tempo hari dialah yang mengusulkan untuk pergi kemari bertanding ilmu silat. Penghidupan selama puluhan tahun di atas gunung ini ternyata telah membuat sifatnya sama sekali berubah tempo hari ia suka membunuh setiap orang yang mengganggu dirinya atau sedikit-dikitnya membuat orang itu jadi cacat sehingga orang yang mendengar namanya pasti menaruh rasa jeri tiga bagian terhadap dirinya. Heei! tidak disangka pada masa tuanya ia sudah berubah sifat dan dapat menunjukkan kasih sayangnya terhadap dirimu.

““Bocah, maka janganlah kau sia-siakan pengharapannya itu bukan saja ia berharap agar aku suka mewariskan seluruh kepandaianku kepadamu bahkan diapun berharap agar kau bisa mewarisi kepandaian silat dari kami bertiga.

“Kembali ia menghela napas panjang beberapa saat kemudian tambahnya lagi, “Walaupun cara berpikir dalam hatinya amat susah tetapi bilamana dibicarakan urusan ini sangatlah mudah sekali. Dengan menggunakan sisa hidup kami bertiga dan dengan sepenuh tenaga pasti membuat kau orang menjadi seorang yang bisa kau pelajari hal ini tergantung pada bakat serta daya tangkapmu sendiri.

“Siauw Ling hanya merasakan suatu tenaga tak wujud yang amat panas dan terus mengalir masuk ke dalam tubuh.

Waktu ini ia kepingin sekali mengucapkan sepatah dua patah kata tetapi ternyata sulit baginya untuk memecahkan perhatian.

Sejurus kemudian terdengar Cung San Pek melanjutkan kembali kata-katanya, “Sebenarnya aku ingin mengadakan pembicaraan dengan Gie hu mu. Ingin aku menurunkan seluruh kepandaianku kepadamu boleh-boleh saja, tetapi asalkan salah satu jalan darahmu kutotok mati sehingga selama hidup kau sulit untuk menembusi jalan darah Jien serta Ci dua urat, hal ini berguna agar kesempurnaanmu ada batasnya dan bisa mengurangi rasa sombong setelah menamatkan pelajaran. Aku semula mengira dengan sifat dari Gie hu mu ia tentu tidak menolong.

““Karena itu tadi aku sudah mengadakan perundingan dengan gie hu mu melalui ilmu menyampaikan suara, tertapi ternyata kali ini ia menolak usulku ini. Ia berkata kali ini sifatmu sangat baik dan menurut perhitungannya tidak bakal bisa mencelakai Bulim dia berkata bahwa orang yang ia bunuh tempo dulu terlalu banyak, meskipun yang dibunuh itu adalah orang-orang jahat tetapi sifatnya terlalu berangasan, oleh sebab itu maksud gie hu mu sekarang ingin meminjamkan kekuatan serta kepandaianmu dikemudian hari untuk banyak berbuat pekerjaan baik sehingga dosa-dosa dari Gie hu mu selama inipun bisa tertebus, bocah! melihat maksud yang begitu baik dari Gie hu mu ini akhirnya akupun tidak ngotot lagi.

“Walaupun Siauw Ling kepingin sekali memberi jawaban tetapi tenaga yang menyerang masuk ke dalam tubuhnya laksana menerjang berlaksa ekor kuda membuat ia tak kuat untuk menguasainya walaupun dengan menggunakan seluruh tenagapun sukar untuk menguasainya apalagi hendak berbicara.

“Selama beberapa hari ini, hasil yang kau capai benar-benar berada diluar dugaanku semula,”sambung Cung San Pek kembali. “Karena itu telah memancing rasa ingin tahu dari diriku, aku ingin tahu bilamana dikolong langit dapat muncul seseorang yang memiliki silat gabungan dari Gie hu mu, LIuw Sian Ci serta kepandaianku apakah masih ada orang yang bisa menandinginya!”Selama ini berbicara terus seorang diri. Karena Siauw Ling yang hanya bisa mendengar sukar baginya untuk menjawab.

Lewat sejurus kemudian akhirnya Siauw Ling berhasil pula untuk menguasai tenaga panas yang menyerang keseluruh tubuhnya itu.

Sekonyong-konyong Cun San Pek menghela napas panjang.

“Aku masih mempunyai suatu harapan pribadi yang mengharapkan setelah kepandaian silatku berhasil kupelajari dapat mewakili aku untuk mencari dua orang itu yang satu adalah engkohku sedang yang lain adalah kawan perempuanku…”Kini Siauw Ling bisa mengambil waktu untuk berbicara katanya, “Bilamana nanti boanpwee berhasil keluar dari lembah ini tentu akan melaksanakan harapan Cianpwee yang dimaksudkan.

“Ia rada merandek, kemudian tanyanya, “Hanya entah saat ini mereka ada dimana?”“Heeei… urusan ini bila dibicarakan memang kelihatannya sangat mudah tetapi bila dilaksanakan sebetulnya susah, karena ada kemungkinan mereka telah mati ada kemungkinan juga kini sudah terkurung di dalam istana terlarang.

“Siauw Ling yang mendengar disebutnya istana terlarang hatinya jadi tergetar amat keras, hampir-hampir tenaga dalamnya tercabang ke arah tiga bagian.

Cung San Pek yang memiliki tenaga dalam sangat sempurna segera dapat merasa keadaan tersebut, maka buru-buru ia menarik napas panjang-panjang dan segulung aliran panas yang lebih besar menerjang masuk ke dalam tubuh Siauw Ling membantu dirinya untuk memusatkan kembali tenaga yang hampir bercabang itu.

“Bocah”katanya perlahan. “Pembicaraan kita selama berlatih merupakan pentangan yang terbesar dari belajar ilmu kweekang, cepatlah buang pikiran yang tak berguna dan kosong hati, aku hendak membantu dirimu untuk menyerang beberapa bagian urat nadi yang masih sulit untuk ditembus oleh hawa murni.

“Siauw Ling hanya merasakan segulung hawa yang amat panas mengalir keluar dari telapak tangannya kemudian menerjang masuk ke dalam tubuhnya dengan amat dahsyat.

Dalam hati ia lantas sadar kalau sedikit kurang berhati-hati saja sehingga dapat membuat hawanya bercabang dan dapat melukai urat lain sekalipun tidak sampai mati tentu akan terluka parah dan harus duduk bersemedi selama beberapa bulan baru bisa sembuh.

Karena itu ia tak berani berlaku gegabah lagi, pikirannya dengan cepat dikosongkan dan mulai mengatur pernapasan serta menggabungkan hawa panas yang dikirim masuk dari luar tubuh itu.

Perlahan-lahan akhirnya bocah itu telah berada dalam keadaan yang lupa segala-galanya.

Menanti ia tersadar kembali sang suryapun telah memancarkan cahayanya ditengahtengah kepala kiranya siang hari telah menjelang tiba.

Puncak gunung ini tingginya melebihi puncak-puncak yang lain walaupun setiap tahun berada di bawah sorotan sang surya tetapi tebalnya salju ada beberapa depa yang telah membeku selama ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

Sewaktu musim kemarau di bawah sorotan sang matahari yang amat panas saljuku pada melumer tetapi bilamana sinarnya mulai lemah lumeran air itupun membeku kembali.

Ketika itu sang surya memancarkan sinarnya keatas permukaan salju sehingga memantulkan cahaya keemas-emasan yang menyilaukan mata, hal ini membuat pemandangan disana jadi amat indah.

Siauw Ling yang melihat akan hal tersebut saking girangnya segera berteriak keras, “Locianpwee pemandangan di atas puncak bersalju ini benar-benar sangat indah sekali!”Tetapi suasana tetap sunyi senyap tak kedengaran suara jawaban dari seorangpun, sehingga membuat bocah itu buru-buru menoleh ke belakang dan terlihatlah bayangan dari Cung San Pek telah lenyap tak berbekas.

“Aaakh… betul”pikir Siauw Ling dengan cepat. “Tempo hari ia tinggalkan aku seorang diri di atas ayunan rotannya dengan maksud agar aku bisa berlatih dengan seluruh perhatian, dan kini iapun tinggalkan aku seorang diri di atas puncak ini, sudah tentu tindakannya ini mengandung maksud tentu.

“Kian mendekati siang hari sorotan sang surya pada waktu itu sampai salju yang menutupi puncak yang amat tebal serta rasa dingin yang semakin menebal pula.

Di bawah sorotan sinar matahari yang amat panas serta di bawah lingkungan menguapnya salju yang dingin, perasaan ini benar-benar sulit untuk dipertahankan.

Untuk melawan rasa dingin serta rasa panas yang mendesak kebadannya itu mau tak mau Siauw Ling harus mengerahkan tenaga kweekangnya untuk melawan.

Walaupun ia sudah memperoleh pelajaran Sim Hoat dari ilmu kweekang aliran Cung San Pek tetapi yang didapatnyapun tidak lebih hanyalah dasar-dasarnya saja sehingga sampai saat ini ia masih belum mengetahui bagaimanakah caranya untuk mengerahkan tenaga guna melawan serangan dari luar.

Tetapi di tengah desakan hawa panas serta dingin yang bercampur aduk, guna mengurangi rasa siksaan dibadan sudah tentu dengan sendiri cara bagaimanakah untuk mengatasi dan menahan serangan dari luar.

Malam akhirnya menjelang datang juga angin gunung bertiup laksana tiupan taupan sehingga di atas puncak bersalju yang gundul tak ada tempat berlindung. Kini Siauw Ling hanya merasakan badannya tersiksa sangat hebat di bawah tiupan angin yang sangat dingin hatinya benar-benar merasa amat terperanjat.

“Angin bertiup begitu dahsyat dipuncak inipun gundul kelimis tak ada sesuatu apapun, bukankah aku bisa tertiup jatuh ke bawah puncak?”pikirnya dihati.

Suatu keinginan untuk hidup dengan cepat muncul dihatinya, tanpa berpikir panjang lagi ia segera memahami permukaan salju yang keras itu sehingga terbentuklah sebuah liang kecil.

Akhirnya ia berjongkok di dalam liang kecil itu untuk melewati malam yang panjang.

Waktu berlalu laksana sambaran petir hanya di dalam sekejap saja Siauw Ling telah hidup selama seratus hari lamanya di atas puncak salju yang gundul, selama seratus hari ini baik pagi hari maupun malam hari ia harus merasakan sengatan panas matahari basah kuyup kalau hujan tiupan angin taupan serta dinginnya salju.

Setiap beberapa hari sekali Cung San Pek selalu mendatangi puncak tersebut untuk memberi beberapa petunjuk Sim Hoat dari ilmu kweekang serta mengirim sedikit rangsum buatnya, tetapi selama ini ia belum pernah membicarakan soal turun dari puncak.

Siauw Ling yang keras kepala sudah tentu tidak suka bicara sendiri, iapun dengan sabarnya berdiam terus disana.

Di tengah penghidupan yang sukar dan berbahaya di atas puncak bersalju ini memaksa Siauw Ling untuk berusaha guna melawan panasnya sengatan matahari disiang hari serta dinginnya tiupan angin bersalju dimalam hari.

Tetapi karena siksaan itu pula tenaga dalamnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Malam itu, udara bersih seperti baru saja dicuci, rembulan memancarkan sinarnya di tengah tiupan angin gunung yang sepoi-sepoi terlihatlah Siauw Ling mengitari satu lingakaran di atas puncak tersebut.

Melihat keindahan alam di sekeliling puncak tersebut membuat bocah ini merasa semangatnya berkobar-kobar, tak kuasa lagi iapun bersuit panjang dengan nyaringnya.

Di tengah suara suitan yang amat nyaring itulah mendadak berkumandang datang suara helaan napas perlahan.

“Heee seorang bocah yang benar-benar berhati keras.

“Mendengar suara tersebut Siauw Ling segera menoleh ke belakang, tampaklah kurang lebih enam tujuh depa dari dirinya berdirilah seorang perempuan berusia pertengahan yang memakai baju biru langit.

Pada seratus hari yang lalu dengan mata kepala sendiri ia melihat perempuan yang terjadi diantara ketiga orang itu sehingga terhadap perempuan ini ia sudah menaruh bayangan yang membekas di dalam hatinya.

Sekali pandang saja ia sudah mengenali kembali dia bukan lain adalah Liuw sian Ci maka buru-buru Siauw Ling merangkap tangannya menjura.

“Boanpwee Siauw Ling menghunjuk hormat buat Liuw Locianpwee!”serunya.

“Bocah, kau sudah berapa lama tinggal di atas puncak bersalju ini??”tanya Liuw Sian Ci tiba-tiba sambil tersenyum.

“Hingga tengah malam ini tepat seratus hari lamanya.

““Hmm! Siucay miskin itu betul-betul sudah terkena racun dari Khong Hu Cu,”dengus Liuw Sian Ci dengan dinginnya. “Apa itu gunanya menyiksa badan demi kesuksesan dan meninggalkan kau seorang diri di atas puncak bersalju untuk menderita aku tidak percaya kalau hanya dengan menahan siksaan tersengatnya panas matahari serta dinginnya salju baru bisa memperoleh kepandaian silat yang lihay. Ayo jalan! ikuti aku turun puncak aku mau suruh dia lihat bukan hanya dengan jalan menyiksa diri baru berhasil memperoleh ilmu silat yang benar-benar lihay.

“Mendengar perkataan tersebut Siauw Ling segera merasa hatinya serba salah pikirnya, “Gie hu ku berpesan agar aku suka belajar ilmu dari Cung Locianpwee walaupun aku tidak mengangkat dia sebagai guru tetapi nyatanya aku mempunyai ikatan guru dan murid dengan mana aku boleh meninggalkan tempat ini tanpa pamit.

“Selagi ia merasa kebingungan dan serba susah itulah mendadak di dalam telinganya terdengar suara seseorang yang sangat lembut dan halus sekali.

“Bocah!”ujarnya. “Dari pada memohon orang lebih baik menanti orang siksaanmu selama seratus hari ini boleh dikata tidak sia-sia belaka cepat ikutilah dirinya!”Suara tersebut sudah sangat dikenal olehnya dan karena dia bukan lain adalah Cung San Pek.

“Terima kasih atas maksud baik Locianpwee!”buru-buru Siauw Ling merangkap tangannya memberi hormat.

“Hmm! Aku ingin menyuruh si siucay miskin itu mengetahui kalau tidak belajar tenaga khie kang aliran Buddhapun bisa pula mencapai pada taraf kesempurnaan.

“teriak Liuw Sian Ci.

Semakin berbicara semakin panas, mendadak ia ayunkan jarinya menotok ke depan.

Segulung hawa serangan yang tak berwajud dengan cepat meluncur keatas permukaan salju beberapa kali dari dirinya.

Sret! dengan menimbulkan suara yang amat keras, pecahan salju berhamburan keempat penjuru kiranya permukaan salju yang keras bagaikan baja itu sudah kena dihantam hingga mereka seluas satu depa persegi dengan membentuk sebuah liang sedalam lima coen.

“Tenaga khie kang Kan Cing Kang Khie dari si siucay miskin itu ditambah pula dengan pedang ditangannya belum tentu bisa menangkan ilmu jari sakti Siuw Loo Sin Cie ku,”katanya kembali.

Tubuhnyapun segera melayang kesisi ketubuh Siauw Ling dan menyambar tubuh bocah itu untuk diajak berlalu dari sana.

Ketika itu Siauw Ling telah mempunyai tenaga dalam yang bagus sekali nyalipun bertambah besar melihat gerakan tubuh dari Liuw sian Ci yang melayang turun ke bawah puncak laksana menyambarnya kilat dan hanya di dalam sekali. Dua kali loncatan saja telah mencapai puluhan kaki dalam hati benar-benar ia merasa amat terperanjat.

Liuw Sian Ci langsung membawa Siauw Ling ke bawah lembah dan masuk ke dalam rumah kayu di bawah pohon siong yang besar itu.

Keadaan dari ruangan rumah kayu itu kini sama sekali berbeda dengan keadaan tempo dulu, kini tampaklah perabot diruangan tersebut diatur dengan begitu rapi dan megahnya.

“Bocah!”terdengar Liuw Sian Ci tersenyum manis. “Bukankah tempat ini jauh lebih baikan dari pada keadaan di atas puncak gunung itu??”“Benar!”“Aku ingin mendidik ilmu silat yang lihay buat dirimu di tengah lingkungan yang nyaman dan lebih terjamin.

“Demikianlah sejak saat itu Siauw Ling melewati penghidupan yang lebih nyaman dari pada harus tersiksa di tengah puncak tetapi nafsu ingin menang dxari Liuw Sian Ci sangatlah hebat sekali maka sekalipun penghidupan bocah itu nyaman tetapi disiplin serta cara mendidik ilmu silat dari Liuw Sian Ci pun amat keras dan ketat sekali.

Satu tahun lewat dengan amat cepatnya dibwaha pengawasan serta didikan yang amat keras dari Liuw Sian Ci ilmu jari sakti Siuw Loo Sin Cie dari Siauw Ling memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Di samping itu bocah itupun telah memperoleh warisan ilmu senjata rahasia serta ilmu meringankan tubuh yang paling diandalkan oleh Liuw Sian Ci.

Selama setahun ini belum pernah bertemu muka dengan Gie hunya maupun dengan Cung San Pek sekalipun jarak tempat itu dengan ke tempat kedua orang lainnya amat dekat sekali.

Pagi itu selesai Siauw Ling berlatih ilmunya mendadak ia menemukan gie hunya Lam Ih Kong sedang duduk berhadap-hadapan dengan seorang hweesio yang mengenakan lhasa berwarna merah di depan rumah kayu itu. Telapak tangan kanan mereka berdua saling bertempel amat keras agaknya sedang beradu tenaga dalam.

Keadaan dari hweesio itu masih tenang-tenang saja sebaliknya Lam Ih Kong sudah dibasahi dengan keringat, keadaannya sangat berbahaya sekali.

Melihat kejadian itu Siauw Ling amat terperanjat, maka dengan cepat ia loncat kerumah dan mendekati kalangan pertempuran itu.

Saat itu terlihatlah Cung San Pek sambil mencekal sebilah pedang pendek berdiri di samping kalangan sedang memperhatikan jalannya pertempuran tersebut sedang Liuw Sian Ci bersandar pada dinding rumah kayu itu dengan wajah yang amat aneh sekali.

Selama setahun ini kepandaian silat Siauw Ling memperoleh kemajuan yang amat pesat, tahu-tahu bila bertindak sedikit gegabah malah bakal memecahkan perhatian dari gie hunya dan mungkin mebuat Lam Ih Kong jadi terluka di tangan hweesio tersebut.

Oleh karena itu sekalipun dalam hati merasa terkejut dan cemas tetapi dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menekan golakan dihatinya itu.

“Bocah! kau kemarilah”tiba-tiba terdengarlah suara yang amat halus bergema masuk ke dalam terlinganya.

Walaupun ada setahun lamanya tidak bertemu tetapi Siauw Ling masih bisa membedakan kalau suara itu berasal dari Cung San Pek.

Maka ia segera menoleh sekejap ke arah Liuw Sian Ci kemudian dengan langkah yang amat perlahan berjalan mendekati Cung San Pek.

Walaupun waktu itu Liuw Sian Ci melihat Siauw Ling berjalan mendekati sisastrawan tersebut tetapi ia sama sekali tidak menggubrisnya.

Dengan hati dipenuhi berpuluh-puluh persoalan yang mencurigakan hatinya Siauw Ling mempercepat langkahnya menuju kehadapan Cung San Pek.

“Locianpwee, keadaan dari Gie huku sangat berbahaya, kau pergilah membantu dirinya,”ujar bocah tersebut dengan suara yang lirih.

“Tenaga dalam Gie hu mu sangat sempurna. Ia masih bisa bertahan untuk beberapa saat lagi!”sahut Cung San Pek dengan wajah serius.

Walaupun ia sedang berbicara dengan Siauw Ling tetapi sepasang matanya masih terus memperhatikan diri Lam Ih Kong serta Hweesio itu tajam-tajam rasa kuatir mulai menyelimuti wajahnya.

“Selama puluhan tahun Gie hu, Cung San Pek serta Liuw Sian Ci bertanding tetapi tak berhasil menentukan siapa yang menang siapa yang kalah, bilamana Gie hu tak kuat menahan serangan dari hweesio berbaju merah itu. Sudah tentu Cung San Pek serta Liuw Sian Ci tidak bakal bisa menandinginya,”demikian pikir bocah itu dalam hatinya.

Sorotan sinar sang surya memancar masuk dari mulut lembah dan menyinari tubuh Lam Ih Kong serta sihweesio berbaju merah itu. Di atas wajah sang hweesio berbaju merah yang berperawakan tinggi besar itu tampaklah keringat mengucur keluar dengan derasnya, sebaiknya keadaan dari Lam Ih Kong semakin mengenaskan lagi, jubahnya yang berwarna kuning telah basah kuyup oleh keringatnya dingin mengucur amat deras.

Melihat kejadian itu Siauw Ling merasakan darah panas bergolak di dalam dadanya maka mendadak dia menyambar pedang pendek yang ada di tangan Cung San Pek.

Cung San Pek yang berada dalam keadaan tidak bersiap sedia sehingga pedang segera kena direbut tetapi kepandaian silat dari sisastrawan tersebut amat dahsyat sekali maka tangan kanannya dengan kecepatan bagaikan kilat menyambar dan mencengkeram urat nadi dari Siauw Ling.

“Bocah, kau ingin berbuat apa?”tanyanya.

“Aku mau bantu Gie hu untuk membunuh hweesio berbaju merah itu.

““Heeei… bocah Gie humu sendiripun tidak bisa menangkan dirinya bilamana kau maju bukankah hanya menghantar nyawa dengan percuma??”kata Cung San Pek sambil menggeleng.

“Sekalipun aku tak berhasil menangkan dirinya, matipun tidak akan menyesal.

““Bocah jangan terburu nafsu,”hibur sisastrawan berusia pertengahan itu lagi dengan suara setengah berbisik. “Urusan ini timbul dikarenakan bermacam-macam peristiwa yang terjadi pada puluhan tahun yang lalu bahkan mempunyai sangkut paut dengan Liuw Sian Ci dan Gie hu mu. Walaupun kau mempunyai rasa bakti yang sangat mendalam tetapi kepandaian silatmu tidak bisa menahan satu pukulan dari hweesio berbaju merah itupun sebaliknya akupun tidak bisa turun tangan karena hal ini bisa menimbulkan rasa antipatik dari Liuw Sian Ci.

“Sembari berkata tangan kanannya menambahi dengan beberapa bagian tenaga untuk rebut kembali pedang pendek yang ada di tangan Siauw Ling itu.

“Lalu apakah kau ingin melihat Gie huku terluka di tangan sihweesio berbaju merah itu??”tanya sang bocah itu setengah paham setengah tidak mengerti.

Wajah Cung San Pek pun berubah serius lagi.

“Selama setahun ini aku berdiam dengan Gie humu disebuah ruangan batu yang sama,”ujarnya. “Hubungan diantara kita sudah amat erat sekali, bilamana keadaan memaksa aku pasti akan turun tangan juga heee… mungkin darah segar bakal membanjiri di dalam lembah ini…”“Kenapa??”tanya Siauw Ling dengan hati tergetar keras. “Apakah Liuw Sian Ci bakal membantu sihweesio berbaju merah itu?”“Heeei…! Bagaimanakah perasaan dari Liuw Sian Ci pada saat ini aku sendiripun tidak bisa menebak, tetapi di dalam setahun ini aku serta Gie humu telah mengubah penghidupan kita, tidak lagi seperti dulu mati-matian berlatih ilmu silat sebaliknya malah banyak bergurau bercakap-cakap dan menikmati penghidupan yang aman dan gembira, hal yang tak terduga ternyata telah terjadi, kepandaian silat malah memperoleh kemajuan yang lebih pesat dari pada bersusah payah berpikir dan berlatih keras. Heeei… urusan ini tak bisa diterangkan hanya dalam sekejap saja…”Mendadak ia menutup mulutnya rapat-rapat sedang dari sepasang matanya memancarkan cahaya yang amat dingin dan tajam.

Siauw Lingpun segera menoleh tampaklah jubah berwarna kuming yang dikenakan oleh Lam Ih Kong pada saat ini sudah mulai berkerut sedang tubuhnya mulai terdesak mundur setengah depa ke belakang agaknya ia sudah merasa kepayahan untuk menahan serangan tenaga dalam dari sihweesio berbaju merah itu.

Tak kuasa lagi bocah itu menjerit tertahan.

Mendadak Lam Ih Kong menoleh dan memandang sekejap ke arah Siauw Ling tubuhnya yang terjengkang ke belakang kembali berdiri tegak kembali sedang sepasang telapaknya mendorong semakin keras ke depan membuat keadaan jadi seimbang kembali.

Melihat kejadian itu Cung San Pek menghembuskan napas panjang.

“Gie humu tidak ingin melihat kau melihat dia orang menderita kekalahan di tengah hweesio tersebut kini iapun mengerahkan tenaganya untuk balas melancarkan serangan,”katanya.

“Semoga saja Gie hu bisa berhasil menangkan hweesio itu!”seru Siauw Ling dengan hati kuatir.

Di dalam hati Cung San Pek mengetahui kalau dengan tindakan Lam Ih Kong ini maka daya bertahannyapun jadi semakin berkurang diam-diam ia menghela napas panjang.

“Ling jie!”ujarnya kemudian. “Aku ada dua patah perkataan yang hendak kuberitahukan kepadamu dan ingatlah baik-baik untuk dilaksanakan sesuai dengan pesan.

““Urusan apa?”“Begitu aku turun tangan kau harus segera kembali ke dalam batu Gie hu mu. Di dalam ruangan tersebut aku telah menyediakan sejilid kitab yang baru aku tulis sendiri, dengan kecerdikanmu serta hasil yang diperoleh sampai saat ini asalkan kau suka belajar dengan sepenuh tenaga tidak susah untuk memperoleh seluruh warisan dari kepandaian Gie hu mu serta kepandaianku…”“Tahan!”Tiba-tiba terdengar suara jeritan melengking memecahkan kesunyian.

Liuw Sian Ci yang selama ini bersandar dekat pintu kayu tiba-tiba meloncat ke tengah udara dan menerjang ke tengah kalangan.

“Aaah! Haaa… haaa, bagus sekali!”teriaknya Cung San pek dengan hati girang setelah melihat kejadian itu. “Bilamana Liuw Sian Ci suka turun tangan…”Belum habis ia berkata mendadak seluruh tubuh dari Lam Ih Kong sudah terpental setinggi satu kaki ke tengah udara dan terlempar ke arah luar kalangan.
------
Serial Pedang Kayu Harum sudah beres semua diupload gan, untuk membacanya silahkan klik disini 😉🤗
------

0 Response to "Rahasia Kunci Wasiat Bagian 12"

Post a Comment