Rahasia Kunci Wasiat Bagian 04

Mode Malam
“Hee, nama besar dari Tiong Cho Ji Ku sungguh bukanlah satu nama kosong belaka.

““Hmm,”dengus Thio-kan dengan dingin. “Kita orang-orang Bulim bilamana bukannya berkelana di dalam dunia persilatan untuk mencari pengalaman tentu mengasingkan diri di atas pegunungan tidak mencampuri urusan dunia luar. Manusia seperti mereka berdua ini sungguh tidak menyenangkan sekali payah-payah mereka melakukan perjalanan jauh untuk membicarakan soal jual beli demi mendapatkan keuntungan, sekalipun kepandaiannya jauh lebih tinggipun tidak akan mendatangkan rasa hormat dari orang lain.

“Di dalam sekejap itu pula tubuh Tiong Cho Ji Ku sudah melayang di atas permukaan salju di bawah tebing kemudian dengan cepatnya lenyap dari pandangan.

Gak Siauw-cha yang melihat bayangan kedua orang itu lenyap dari pandangan tidak terasa lagi dia menghela napas panjang.

Ketika dia menoleh ke belakang, tampaklah Siauw Ling membelalakan matanya lebarlebar sedang memperhatikan dirinya, wajahnya yang mantap dan tenang itu menunjukkan kalau dia sudah menaruh rasa percaya yang penuh terhadap dirinya teringat pula penderitaan bocah ini selama di dalam perjalanan yang penuh bahaya ini tidak terasa lagi dia sudah berjalan mendekati dan ujarnya dengan suara yang halus, “Adik Ling, kau sungguh patut dikasihani! Usiamu masih begitu muda bukan saja harus menderita siksaan dari angin dan salju yang amat dingin bahkan harus menempuh bahaya pula diantara perebutan yang terjadi diBulim kau suruh aku bagaimana bisa berlega hati??”“Tidak mengapa!”sahut Siauw LIng sambil tertawa. “Bukankah kepandaian yang cici miliki sangat tinggi sekali??? orang-orang itu pasti bukankah tantangan dari cici cukup aku bisa bersama-sama dengan cici sekalipun ada selaksana tentara menerjang datang sekalipun berada dihutan golok juga tidak bakal takut.

““Bilamana cici terluka dan menemui ajalnya di tangan musuh sehingga tidak bisa melindungi dirimu lagi, bukankah hal ini malah mencelakai nyawamu??”ujar Gak Siauw-cha dengan termangu-mangu.

“Tidak mungkin…”seru Siauw Ling perlahan, setela menghela napas panjang tambahnya, “Kalau semisalnya cici mati, akupun tidak ingin hidup seorang diri!”Dia orang adalah seorang bocah cilik yang belum tahu apa-apa. Ketika mendengar perkataan dari Gak Siauw-cha itu di dalam benaknya segera teringat akan cerita sehidup semati yang pernah dibacanya dari buku karenanya tanpa dia sadari diapun menirukan kata-kata tersebut tanpa mengertikan yang lebih mendalam lagi.

Tetapi Gak Siauw-cha yang mendengar perkataan ini hatinya benar-benar terasa sangat terharu, dia merasa hatinya amat sedih sekali… Mendadak suara sayap burung merpati tang tersampok angin berkelebatnya datang tampaklah dua ekor merpati dengan amat cepatnya berkelebat melalui atas puncak tebing tersebut.

Gak Siauw-cha segera memungut sebuah kerikil gunung dan disambit ke arahnya.

Seekor burung merpati segera terkena hajaran btu gunung itu dan roboh binasa ke atas tanah, sedangkan yang lain mendadak menutup sayapnya kembali kemudian meluncur ke bawah dan lenyap dibalik lembah di bawah tebing tersebut.

Thio-kan serta Hoo-kun agaknya sudah merasa kalau satu pertempuran yang amat sengit bakal terjadi dihadapan mata, mereka segera menoleh ke arah Gak Siauw-cha.

“Nona!”ujarnya perlahan. “Jejak kita sudah diketahui oleh pihak musuh, dari pada duduk disini menanti kematian lebih baik dengan tenaga kita berusaha untuk menerjang keluar dari kurungan ini.

““Sayang sudah terlambat!”jawabnya Gak Siauw-cha dengan lirih. “Aku lihat pihak musuh sudah mengetahui tempat persembunyian kita.

““Pihak musuh sekalipun memiliki ilmu silat yang amat tinggi tetapi sebagian besar belum sampai disini!”bantah Thio-kan lagi. “Apalagi keadaan di atas gunung ini amat terjal dan banyak gua. Kita bisa maju ke depan untuk mencari tempat persembunyian yang baru nona Gak! bagaimana kalau kita berangkat sekarang juga??”Dengan perlahan Gak Siauw-cha gelengkan kepalanya.

“Orang yang mengejar kita bukan saja memiliki kepandaian silat yang amat tinggi bahkan sudah mempunyai niat untuk mendapatkan barang yang dicari. Kita tidak mungkin bisa hidup di dalam kejaran musuh terus menerus kita mau lari kemana untuk menghindarkan diri dari kejaran tersebut??”“Cici!”tiba-tiba Siauw Ling nyeletuk dari tengah. “Di dalam hatiku aku mempunyai satu persoalan yang membingungkan hatiku, dapatkah cici memberi jawabannya??”“Kau bicaralah!”sahut Gak Siauw-cha sambil tertawa. “Mungkin usia kita sudah tidak berapa lama lagi!”“Orang-orang yang disebut sebagai jago-jago kelas satu dari Bulim itu kenapa terus menerus mengejar kita??”tanya Siauw Ling dengan keheranan.

“Karena ibuku!”“Eeei! bukankah bibi Im sudah meninggal??”tanya Siauw Ling kebingungan. “Sekalipun orang-orang itu mempunyai dendam sakit hati dengan bibi Im tetapi setelah beliau meninggal sudah seharusnya merekapun melepaskan rasa sakit hati itu. Kenapa mereka terus menerus mengejar kita??”Dikarenakan pertemuan yang tidak disengaja dan penderitaan yang bersama-sama mereka alami membuat Gak Siauw-cha menaruh rasa sayang terhadap Siauw Ling bocah cilik yang lahir dari keluarga kaya ini.

“Adik Ling, kau tidak tahu soal kekejaman yang terjadi di dalam Bulim,”ujarnya dengan halus. “Walaupun diantara orang-orang ini ada beberapa orang yang merupakan musuh buyutan dari ibuku tetapi sebagian besar mereka tidak ada ikatan sakit hati apapun dengan dia orang tua.

““Kalau memangnya tidak mempunyai sakit hati apa-apa, kenapa mereka terus menerus mengejar kita?”tanya Siauw Ling lagi kebingungan.

Gak Siauw-cha termenung berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab juga dengan perlahan, “Karena mereka ingin mendapatkan sebuah barang peninggalan dari ibuku.

““Oooh kiranya begitu,”sahut Siauw Ling sambil mengangguk.

Mendadak Gak Siauw-cha meloncat bangun dan menggendong badan Siauw Ling meloncat sejauh beberapa depa kemudian meletakkan badan Siauw Ling ke arah sebuah batu cadas yang besar dan menonjol keluar itu.

“Adik Ling hati-hati!”serunya.

Tubuhnya dengan cepat berkelebat kembali melayang ketepi tebing tersebut.

Saat ini Thio-kan serta Hoo-kun pun agaknya sudah merasa suasana tidak beres, dengan tergesa-gesa mereka meloncat bangun kemudian sambil mencabut keluar senjata tajamnya masing-masing meloncat ketepi tebing.

Mendadak terdengar suara bentakan nyaring dari Gak Siauw-cha berkumandang datang disusul suatu jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema memenuhi angkasa.

Ketika Siauw Ling melongok ke arah luar tampaklah sesosok bayangan manusia berkelebatnya dan terjatuh ke bawah tebing.

Saat ini pedang panjang dari Gak Siauw-cha sudah dicabut dari sarungnya, dengan gagahnya dia berdiri ditepi tebing.

Angin gunung bertiup dengan kencangnya menyapu jatuh rontokan salju yang ada di atas batu dan mengenai wajah dari Siauw Ling.

Dengan cepat Siauw Ling angkat kepalanya menghapus bekas salju yang mengenai pipinya itu.

Mendadak tampak seorang lelaki kasar dengan bersenjatakan golok tanpa mengeluarkan sedikit suarapun sudah berjalan naik ke atas tebing dan mendekati badan Gak Siauw-cha.

Dia jadi sangat terkejut sekali.

“Cici awas di belakang ada orang!”teriaknya dengan keras, gerakan dari lelaki kasar itu amat cepat sekali. Mendadak sepasang telapak tangannya menekan dinding batu kemudian berjampalitan melayang ke arah diri Siauw Ling.

Siauw Ling cuma merasakan sesosok bayangan manusia berkelebat dihadapan matanya bagaikan seekor burung elang dengan menukik dari angkasa menerkam dirinya.

Di dalam hati dia benar-benar merasa sangat terkejut sekali, untuk menghindar dia tidak mengerti juga pandangan melongo dia memandang dirinya.

Mendadak tampak bayangan putih berkelebat disertai hawa pedang yang amat dingin sekali, bekum sempat Siauw Ling melihat apa yang sudah terjadi telinganya segera mendengar satu jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma bergema datang kemudian disusul tampaknya sesosok bayangan hitam melayang ke tengah udara dan terjatuh ke dalam jurang.

Ketika dia memandang lebih jelas lagi tampaklah Gak Siauw-cha dengan gagahnya berdiri disisi badannya. Pedang yang ada ditangannya secara samar-samar masih kelihatan bekas darah segar.

Dengan perlahan-lahan Gak Siauw-cha berjongkok dan membimbing pundak Siauw Ling.

“Adik Ling, kau kaget??”tanyanya dengan penuh perhatian.

“Gerakan cici sangat cepat sekali, dimana orang itu?”tanya Siauw Ling sambil menghembus napas panjang.

“Sudah aku tusuk mati!”“Tapi mana mayatnya??”“Aku tendang keluar dari tebing ini. Heeei… jika ditinjau dari keadaan seperti ini agaknya ini hari kita tidak bakal terhindar lagi dari satu pertempuran berdarah. Terpaksa cici harus turun tangan kejam terhadap diri mereka. Setiap kali cici berhasil membunuh seorang musuh berarti pula aku sudah kekurangan seorang musuh…”Pada saat itulah mendadak terdengar suara bentrokan senjata tajam yang sangat ramai sekali, kiranya Thio-kan serta Hoo-kun sudah bertempur dengan dua orang lelaki yang berhasil menaiki tebing tersebut.

Agaknya Gak Siauw-cha sudah mengambil keputusan untuk mencari kehidupan dari keadaan yang sangat berbahaya ini karena itu sikapnyapun jadi rada lapang kembali mendadak tangannya merogoh ke dalam saku meraup segenggam jarum emas.

“Adik Ling!”ujarnya tertawa. “Coba kau lihat ilmu menyambit senjata rahasia dari cicimu.

“Pergelangan tangannya segera diayunkan ke depan, tampaklah berpuluh-puluh batang jarum emas dengan memancarkan sinar yang berkilauan tertimpa sinar matahari bagaikan kilat cepatnya meluncur ke depan.

Suara jeritan ngeri segera bergema saling susul menyusul, kedua orang lelaki yang sedang bergebrak dengan Thio-kan serta Hoo-kun masing-masing sudah terhajar dua batang jarum emas.

Gerakan kakinya jadi agak terlambat, pada saat itulah dengan mengambil kesempatan yang sangat bagus itu Thio-kan melancarkan satu tendangan kilat menghajar mati musuhnya. Sebaliknya Hoo-kun menggerakkan senjata Pan Koan Pitnya menotok jalan darah kematian dari musuhnya sehingga diapun rubuh binasa ke atas tanah.

Siauw Ling yang melihat demontrasi itu merasa sangat kagum sekali.

“Cici!”serunya memuji. “Ilmu menyambit senjata rahasia dari cici sungguh dahsyat sekali.

“Baru saja suara pujian itu diucapkan keluar mendadak terdengar suara tertawa panjang yang amat nyaring berkumandang datang.

“Ilmu menyambit senjata rahasia semacam itu buat apa kau merasa keheranan,”ujarnya dingin. “Bagaimana kalau kau coba juga senjata Ci Bo Sin Tan dari loohu?”Gak Siauw-cha dengan cepat meloncat menghalangi di depan tubuh Siauw Ling, ketika angkat kepalanya memandang dia dapat melihat seorang kakek tua dengan perawakan tinggi besar dan memelihara jenggot putih sepanjang dada sudah berdiri dengan amat gagahnya dipinggir tebing tersebut pada punggungnya tersorenlah sepasang roda baja.

Cing Kang Jiet Gwat Loen, sedang pada sepasang tangannya masing-masing mencekal sebuah peluruh besi yang berbentuk bulat sebesar telur ayam. Kelihatan sekali sikapnya yang amat gagah.

Kedatangan dari orang ini sama sekali tidak menimbulkan sedikit suarapun. Ternyata Gak Siauw-cha sekalipun sama sekali tidak mengetahui kapan dia tiba di atas puncak tebing itu.

“Bagus sekali!”terdengar Thio-kan membentak dengan suara yang amat keras. “Tidak kusangka Sin So Thiat Tan atau sitangan sakti peluruh besi Coe Koen San Coe Thai hiap tuo merupakan manusia rendah yang beraninya mengambil kesempatan orang lagi kesusahan!”Sin So Thiat Tan Coe Koen San cuma merasakan air mukanya terasa jadi panas sehingga pipinya jadi merah lama sekali dia termenung berpikir keras kemudian baru ujarnya dengan perlahan, “Sekalipun Loohu tidak turun tangan tetapi saudara sekalianpun tidak bakal bisa lolos dari bencana ini hari dari pada terjatuh ketangan orang lain lebih baik aku sendiri saja yang turun tangan.

“Dia tertawa tergelak dengan amat kerasnya kemudian sambungnya lagi, “Apalagi barang ini mempunyai sangkut paut yang sangat besar sekali dengan keselamatan Bulim bilamana sampai terjatuh ketangan orang lain bukankah urusan jadi semakin berabe lagi???”Siauw Ling yang selama satu malam memiliki perubahan situasi yang saling susul menyusul di dalam hati kecilnya secara samar-samar sudah merasa kalau orang-orang ini agaknya sedang memaksa Gak Siauw-cha untuk menyerahkan semacam barang. Bahkan barang tersebut mempunyai sangkut paut yang sangat erat sekali dengan kematian bibi Im nya.

Terdengar Gak Siauw-cha tertawa dingin tak henti-hentinya.

“Lama sekali aku mendengar ilmu roda “Sah Cap Lak Cau Liong Hauw Loe Hoat”serta lima butir peluru “Ci Bo Thiat Tan”dari Coe Thayhiap menjago seluruh Bulim. Ini hari aku bisa bertemu muka sendiri sungguh hatiku merasa sangat beruntung sekali.

“Sin So Thiat Tan Co Koen San mendeham beberapa kali kemudian perlahan-lahan menyimpan kembali pelurunya ke dalam saku setelah itu matanya dengan tajam memperhatikan diri Gak Siauw-cha.

Gak Siauw-cha segera mengerutkan alisnya rapat-rapat dengan melintangkan pedangnya di depan dada dia berdiri dengan angkernya.

Sekalipun pada saat ini hawa amarah meliputi seluruh wajahnya tetapi pikirannya tidak kacau, jelas sekali dia orang sudah memiliki sebaliknya ilmu silat yang maha tinggi.

Ketika Coe Koen San teringat kalau dirinya merupakan seorang jagoan yang sama besarnya sudah berkumandang diseluruh Bulim bilamana diharuskan bergebrak dengan seorang nona cilik bukankah hal ini malah menurunkan derajat?? karena itu segera tanyanya, “Nona, kau punya hubungan apa dengan Gak Im Kauw?”“Dia adalah ibuku!”sahut Gak Siauw-cha singkat.

“Oooy, maaf kiranya nona Gak! Loohu punya kesempatan bertemu muka dengan ibumu beberapa kali,”ujar Coe Koen San dengan cepat.

Gak Siauw-cha yang melihat beberapa perkataannya itu diucapkan dengan amat ramah bahkan kelihatannya dia sudah menyesali sikapnya ini dalam hati diam-diam berpikir, “Hmm! walaupun kedatangan orang ini tidak mengandung maksud baik, tetapi dia tidak kehilangan sikapnya sebagai seorang Thayhiap.

“Dengan sendirinya hawa marah yang membakar di dalam hatinyapun jauh berkurang.

“Kalau memangnya Locianpwee kenal dengan ibuku maka harap memandang di atas wajah ibuku yang sudah meninggalkan orang suka melepaskan boanpwee kali ini tanpa diganggu,”ujarnya kemudian.

Coe Koen San segera mengelus-elus jenggotnya dan tertawa.

“Ilmu pedang dari ibumu Loohu tidak pernah menjajalnya sehingga hal ini merupakan satu peristiwa yang patut disesalkan,”ujarnya dengan perlahan-lahan.

“Heeeei… cuma sayang harapan dari Locianpwee ini untuk selamanya tidak bakal terlaksana karena ibuku sudah meninggal dunia,”sambung Gak Siauw-cha sambil menghela napas panjang.

Coe Koen San tertawa terbahak-bahak.

“Haaa, haaa, haaa, nona Gak! mungkin orang lain bisa kau kibuli dengan kata-katamu itu tetapi kau jangan harap bisa berhasil menyelimuti diri Loohu. Loohu cuma mau bertemu saja dengan ibumu dan minta pelajaran beberapa jurus ilmu pedangnya,”katanya.

Saat itulah Gak Siauw-cha jadi sadar kembali.

“Oooh, kiranya hatinya masih belum berubah ternyata dia orang karena memandang kedudukannya jauh lebih tinggi dari diriku maka tidak ingin bergebrak melawan aku orang.

“Hawa amarahnya jadi berkobar kembali.

“Peristiwa meninggalnya ibuku bilamana Locianpwee tidak percaya hal inipun tidak penting,”ujarnya dengan dingin. “Tetapi bilamana kau benar-benar kepingin belajar kenal dengan ilmu pedang keluarga Gak kami, Hmm boanpwee rasa dengan ketakutan boanpwee masih bisa melayani.

“Coe Koen San termenung berpikir sebentar setelah itu dia baru berkata, “Dengan usia dari Loohu yang sudah demikian tua, sebetulnya loohu malu untuk bergebrak melawan nona.

“Gak Siauw-cha dalam hati tahu keadaan di sekelilingnya sudah sangat berbahaya sekali, di sekeliling tebing itu entah sudah kedatangan berapa banyak jagoan berkepandaian tinggi. Bilamana dia tidak melukai beberapa orang diantara hal ini benar-benar membuat dia tidak dapat melampiaskan rasa mangkel di dalam hatinya.

Jilid 5 Karena itu pergelangan tangannya segera berkelebat mencabut keluar sebilah pedang sepanjang empat depa delapan coen yang memancarkan sinar keperak-perakan.

“Locianpwee apakah benar-benar tidak sudi bergebrak melawan diriku??”ejeknya “Dengan usia dari loohu yang sudah demikian lanjut bilamana sampai bergebrak melawan dirimu jikalau berita ini sampai tersiar di dalam Bulim bukankah orang-orang lain akan tertawa kegelian waah… wah putusan ini tidak dapat dipenuhi,”sahut Coe Koen San sambil menyengir.

“Kau orang kalau memangnya tidak ingin bergebrak melawan diriku lalu buat apa kau menempuh perjalanan sejauh ribuan li datang mencari diriku? bukankah waktumu sudah kau buang dengan sia-sia?”teriak Gak Siauw-cha dengan gusar.

Coe Koen San segera gelengkan kepalanya.

“Menurut apa yang loohu ketahui! tenaga dalam dari ibumu sudah berhasil dilatih hingga mencapai pada taraf kesempurnaan,”ujarnya dengan tenang.

“Apalagi ilmu pedang keluarga GAk pun merupakan satu ilmu meninggal di dalam dunia persilatan. Jagoan dari long langit pada saat ini jarang sekali ada yang bisa melukai ibumu karena itu loohu percaya penuh kalau ibumu masih tetap hidup di dalam dunia ini.

““Orang ini sungguh dogol dan kukuh dengan pendiriannya sendiri,”pikir Gak Siauw-cha kembali di dalam hatinya. Kelihatannya untuk berbicara sampai jelas dengan dirinya bukanlah satu pekerjaan gampang.

.

Ketika dia sedang termenung itulah mendadak terdengar suara bentakan keras dari Hookun berkumandang datang kemudian menyusul sepasang Pan Koan Pitnya berkelebat menubrak keluar.

Gak Siauw-cha dengan cepat menoleh ke arahnya, tampaklah dua orang lelaki kasar berpakaian singsat berwarna hijau dengan masing-masing mencekal sebelah golok sudah meloncat naik ke atas tebing tersebut.

Sementara itu Thio-kan serta Hoo-kun pun telah bertempur pula dengan musuh-musuh yang baru datang.

Masing-masing pihak begitu bertemu segera melancarkan serangan dengan menggunakan jurus-jurus yang mematikan sinar golok berkelebat memeningkan kepala. Setiap serangan pun mengarah jalan darah mematikan dibadan musuhnya.

Gak Siauw-cha yang melihat pihak musuh amat lihay dan ada kemungkinan kedua orang bantunya tidak kuat untuk menahan serangannya dalam hati mulai merasa gelisah. Dia punya maksud untuk turun tangan membantu anak buahnya tetapi takut pula mengambil kesempatan itu Coe Koen San melukai Siauw Ling hal ini membuat dia jadi serba susah.

Agaknya Coe Koen San mengetahui isi hati dari Gak Siauw-cha itu, sembari mengelus jenggotnya dia tertawa tergelak.

“Musuh-musuh nona yang baru datang kesemuanya adalah anggota-anggota perkumpulan Sin Hong Pang dari kelas tiga, empat yang bisanya hanya melakukan kejahatan. Bila mana nona bermaksud untuk turun tangan janganlah kuatir loohu tidak akan mempersulit dirimu,”katanya.

“Ehmm… orang ini amat periang dan jarang ditemui dikolong langit apalagi sifatnya yang aneh dan sukar ditebak keadaannya ini banyak kemiripannya dengan Tiong Cho Sian Ku…”“Ehmm! Aku akan menggunakan sifatnya yang periang ini untuk membasmi musuhmusuh yang baru datang!”demikianlah pikirnya dihati.

Setelah hatinya mantap tanpa berpikir lebih jauh lagi pedangnya segera dikebaskan ke depan menyambut datangnya serangan dari dua orang berbaju hijau itu.

Siauw Ling yang melihat encinya Gak Siauw-cha sudah pergi bertempur dengan musuh dia lantas berjalan mendekati diri Coe Koen San dan merangkap tangannya menjura.

“Empek tua!”panggilnya… “Saudara cilik, kau ada urusan apa?”tanya Coe Koen San sembari mengerutkan alisnya rapat-rapat.

“Empek tua kenapa kau tidak percaya akan kata-kata enciku?”tanya Siauw Ling sambil membusungkan dada berjalan mendekat dia sama sekali kelihatan takut.

“Siapa toh encimu?”“Dia adalah enciku,”jawab Siauw Ling sambil menuding ke arah Gak Siauw-cha. “Dia bilang bibi Im ku sudah mati. Hal ini memang benar-benar sudah terjadi.

““Akal licik encimu itu ada kemungkinan bisa menipu diri loohu,”jawab Coe Koen San sambil gelengkan kepalanya berulang kali. “Aku sudah melakukan perjalanan selama puluhan tahun lamanya di dalam dunia kangouw dan menemui banyak orang jagoan berkepandaian tinggi. Sepasang roda Jien Gwi Cing Kang Loan Ku ini saja sudah banyak mencabut nyawa orang-orang jahat. Hee.

. hee… asalkah para jagoan dari kalangan Lioe Lio mendengar nama loohu mereka tentu akan melarikan diri terbirit-birit…”Mendadak dia menjadi sadar kembali kalau orang yang sedang diajak berbicara ini tidak lebih adalah seorang bocah yang baru berusia dua tiga belas tahun saja, mana bocah sekecil itu bisa mengetahui urusan dunia kangouw?? tidak kuasa lagi dia sudah menghela napas panjang.

“Hee!”sambungnya. “Urusan yang terjadi di dalam Bulim walaupun sudah aku beritahukan kepadamu, kau orang tidak mungkin bisa memahaminya.

“Sejak kecil Siauw Ling sudah mendapat pelajaran campur dari ayahnya, ditambah pula selama beberapa hari ini mengikuti Gak Siauw-cha merasakan bahayanya Bulim. Saat ini kecerdasannya sudah berlipat ganda dia lantas tertawa.

“Kalau loopak sudah banyak membunuh orang jahat, tentu loopak adalah seorang yang baik bukan?”tanya Siauw Ling pula.

“Hal itu sudah tentu!”jawab Coe Koen San setelah tercengang sebentar. “Diseluruh Bulim asalkan orang-orang menyebut diri loohu mereka pasti akan menaruh hormat dan memanggil Coe Thay hiap kepadaku!”“Tapi jikalau loopak adalah seorang baik kenapa kau bermaksud untuk merebut barangnya enciku?”Mendengar perkataan tersebut Coe KOen San jadi melengak.

“Soal ini… soal ini…”Dia yang jadi orang amat periang hatinya amat jujur sekali dan tidak pernah berbohong kini ditanya secara demikian oleh Siauw Ling seketika itu juga dibuat gelagapan, selama setengah harian lamanya dia tidak memberikan jawaban.

Siauw Ling yang melihat wajahnya berubah sangat kikuk dalam hati merasa amat girang.

“Heeeeeeee…hiii…hiii… orang tua ini sungguh lucu, dari sikapnya yang jujur menunjukkan kalau dia bukanlah seorang penjahat, aku akan bersahabat dengan dirinya,”pikirnya dihati.

Berpikir sampai disitu dia lantas tersenyum ramah sekali.

“Loopak!”ujarnya halus. “Kelihatannya kau bukan seorang penjahat.

““Hmm! Nama pendekar dari loohu sudah tersiar diseluruh dunia kangouw dan aku sering menolong orang yang lemah sudah tentu loohu bukan seorang penjahat.

““Lalu mengapa kau bermaksud untuk merebut barang milik enciku?”Sekali lagi Coe Koen San dibuat melengak lama sekali dia termenung sambil mengeluselus jenggotnya.

“Ehmm… karena barang itu sangat penting dan menyangkut mati hidupnya Bulim”jawabnya kemudian. “Bilamana sampai terjatuh ketangan para penjahat atau jago-jago dari kalangan Liok Lim maka dunia kangouw akan jadi kacau balau karena itu loohu akan merebutnya sampai berhasil.

““Jadi maksudmu enci Gak adalah seorang penjahat??”Coe Kaoen San yang melihat dia orang masih kecil tapi pandai berbicara, nyalipun amat besar tidak terasa dalam hati sudah timbul rasa sukanya.

“Hal ini tidak dapat dipastikan, karena enci Gakmu itu belum lama berkecimpung di dalam Bulim untuk menentukan dia adalah seorang jahat atau baik masih sukar untuk dibicarakan tetapi yang jelas ibunya Im Kauw adalah seorang yang patut dihormati,”katanya.

“Kalau memangnya bibi Im adalah seorang yang baik sudah tentu enci Gak pun bukan seorang penjahat”teriak Siauw Ling dengan cepat.

Walaupun Coe Koen San sudah mendekati setengah abad, kepandaian silatnya yang dimilikinyapun amat tinggi dia merupakan seorang manusia yang tidak pernah menggunakan otak. Mendengar perkataannya sangat masuk akal ini tidak terasa lagi dia sudah mengangguk.

“Perkataanmu sedikitpun tidak salah”jawabnya. “Selama pohon yang baik tentu menghasilkan buah yang baik pula, nama besar Gak Im Kauw di dalam Bulim amat bersih dan cemerlang. Sudah tentu putrinya tidak akan jahat pula.

““Haaa… haaaa… itulah bagus sekali!”seru Siauw Ling sambil tertawa kegirangan.

“Kalau memangnya enci Gak bukan seorang yang jahat, bilamana barang itu disimpan olehnya bukankah sama saja?”Mendengar jawaban itu Coe Koen San jadi melongo.

“Tidak bisa jadi… jadi… bisa jadi…”Teriaknya cepat-cepat. “Usianya nona Gak masih kecil mana mungkin dia bisa melindungi barang pusaka yang sedemikian berbahayanya?”“Loopak, sebetulnya barang macam apakah benda pustaka itu?”Tanya Siauw Ling kemudian setelah berpikir sebentar. “Kenapa barang itu memancing datangnya orang yang begitu banyak untuk saling rebut merebut? Heeei! Ayahku pernah beritahu kepadaku bahwa mengimpikan istana adalah berdosa. Menyimpan barang pustaka mendatangkan bencana kelihatannya perkataan ini sedikitpun tidak salah.

“Tidak tertahan lagi Coe Koen San tertawa terbahak-bahak.

“Haaa… haa… kita orang dari kalangan persilatan selamanya memandang harta kekayaan seperti kotoran saja. Bilamana barang yang disimpan nona Gak adalah emas atau permata jangan dikata loohu tidak akan datang untuk merebut sekalipun para jago kalangan hitam dari perkumpulan Sin Hong Pang pun tidak akan mengikuti terus jejak kalian datang begitu kencang dan bernafsunya.

“Mendadak serentetan suara jeritan ngeri yang menyayatkan hati memotong pembicaraannya yang belum selesai seorang lelaki berbaju hijau sudah tertembus dadanya oleh tusukan pedang Gak Siauw-cha dan jatuh terjungkal ke dalam jurang.

“Bilamana bukan emas intan. Lalu bencanakah itu?”Tanya Siauw Ling kemudian.

“Benda pusaka ini sangat tinggi bahkan merupakan satu benda yang harganya melebihi sebuah kota.

““Sebenarnya barang apa toh?”desak Siauw Ling tidak sabaran lagi.

“Cing Kong Ci Yau!”jawab Coe Koen San tegas (Cing Kong Ci Yau adalah anak kunci istana terlarang).

“Cing Kong Yau… Cing Kong Yau…”seru Siauw Ling berulang kali dengan gamblangnya.

“Tidak salah!”sahut Coe Koen San membenarkan. “Cing Kong Ci Yau adalah sebuah benda pusaka yang diingini oleh setiap jagoan Bulim.

““Sebetulnya apa guna anak kunci istana terlarang itu toh?”Tua dan muda dua orang ini semakin bercakap-cakap semakin intim. Ternyata setiap pertanyaan yang diajukan oleh Siauw Ling tentu dijawab oleh Coe Koen San dengan sejujurnya.

Tampak sembari mengelus-elus jenggotnya dia menjawab, “Cing Kong Ci Yau itu sebetulnya adalah sebuah anak kunci.

“oooo0oooo “

Hmm! Aku masih mengira Cing Kong Ci Yau itu adalah barang pusaka macam apa, tidak kusangka cuma sebuah kunci saja, apanya yang aneh??”potong Siauw Ling dengan cepat. “Bilamana kau menginginkan sebuah kunci aku masih ada beberapa buah! bagaimana kalau aku berikan sebuah kepadamu??”“Haaa…haaa…haaa…haaaaa…”Mendengar perkataan yang amat lucu dari Siauw Ling itu, Coe Koen San segera tertawa terbahak-bahak tiada hentinya.

“Walaupun Cing Kong Ci Yau itu cuma sebuah anak kunci tetapi dengan kunci itu kita bisa membongkar suatu rahasia Bulim yang maha besar dan sudah terpendam selama puluhan tahun lamanya. Sudah tentu anak kunci ini jauh berbeda dengan anak kunci biasa…”“Adik Ling!”tiba-tiba terdengar suara yang merdu dari Gak Siauw-cha berkumandang datang.

“Cepatlah kemari kita akan segera berangkat.

“Siauw Ling segera menengok ke arahnya, tampaklah olehnya pertempuran yang terjadi di atas puncak itu sudah selesai. Saat ini sambil melintangkan pedangnya Gak Siauw-cha berdiri kurang lebih satu kaki jauhnya dari tempat dia berada. Sepasang matanya melotot lebar-lebar dan sedang memandangi dirinya tanpa berkedip, dari air mukanya jelas dia merasa sangat kuatir sekali.

Dengan perlahan Siauw Ling segera tersenyum, tangannya dengan halus menyentil sebentar jenggot putih dari Coe Koen San.

“Wah, enciku sudah panggil aku, kita ngomong-ngomong lagi dilain waktu saja.

“sahutnya kemudian.

Dia segera bangkit berdiri dan dengan langkah yang lebar berjalan menuju berhadapan Gak Siauw-cha.

Belum jauh dia berjalan mendadak Siauw Ling memutar badannya kembali dan memandang ke arah diri Coe Joen San.

“Loopak!”sambungnya lagi. “Aku mau memberitahu akan satu hal kepada dirimu enciku sama sekali tidak menipu kau, bibi Im benar-benar sudah mati!”Mendadak tampaklah Gak Siauw-cha membayangkan dirinya menuju kesisi badan Siauw Ling, lalu dengan nada kuatir tanyanya, “Adik Ling, apakah dia menganiaya dirimu?”“tidak!”sahut Siauw Ling dengan cepat. “Kita bicara dengan sangat baik sekali.

“Mendengar adik Lingnya dalam keadaan baik-baik saja Gak Siauw-cha lantas menghela napas panjang.

“Kedudukan Coe Thay hiap di dalam dunia kangouw amat tinggi bahkan selamanya melakukan pekerjaan dengan jujur dan terus terang, dia tidak mungkin bisa malukan seorang bocah yang tidak mengerti ilmu silat seperti kau,”ujarnya. “Tetapi keadaan di dalam Bulim amat bahaya sekali lain kali kau harus sedikit waspada dan jangan sembarangan bicara dan berdekatan dengan orang asing yang belum kau kenal benar.

“Coe Koen San yang mendengar Gak Siauw-cha mengajukan pertanyaan kepada Siauw Ling apakah dia dapat menganiaya dari dirinya dalam hati segera merasa amat gusar.

Baru saja dia mau mengumbar hawa amarahnya, mendadak mendengar pula Gak Siauwcha memuji dan menyanjung dirinya, hawa amarah yang semula membakar hatinya seketika itu juga tersapu bersih.

Sambil mengelus-elus jenggotnya dia tertawa.

“Perkataan dari nona Gak sedikitpun tidak salah!”Teriaknya keras.

“Dengan nama baik dan kedudukan yang begitu tinggi dari loohu mana mungkin aku orang mau berani menganiaya seorang bocah cilik yang begitu lucu dan lincahnya.

““Sifat orang ini periang dan kebocah-bocahan, apalagi sangat memandang tinggi gelar kependekarannya dia tidak mungkin mau menurunkan derajatnya untuk bermusuhan dengan aku. Ehmmm! Baiklah aku mau gunakan sifatnya yang konyol ini untuk mengurangi seorang musuh tangguh”Pikir Gak Siauw-cha diam-diam.

Dengan hormatnya dia lantas berkata, “Locianpwee! ibuku sudah lama meninggal dan sekarang Locianpwee tidak ingin berkelahi dengan boanpwee. Kalau begitu baiklah! Atas kemurahan hati Locianpwee yang suka melepaskan boanpwee sekalian, disini boanpwee mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu.

“Selesai berkata dia segera bungkukan badannya memberi hormat.

Coe Koen San yang berburu diomongi oleh Gak Siauw-cha dengan kata-kata ini beberapa saat tidak berbuat apa-apa sekalipun dia sangat tidak ingin lepas tangan begitu saja dan menggilapkan maksud hatinya untuk memperoleh anak kunci ‘Cing Kong Ci Yau’ itu tetapi justru saat ini dia tidak bisa banyak berbicara.

Terpaksa sambil meringis-ringis dia menyahut, “Aaaa mana-mana… nona terlalu merendah.

““Kalau begitu boanpwee sekali disini mohon pamit dahulu,”sambung Gak Siauw-cha dengan cepat kemudian sambil menggandeng tangan Siauw Ling dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya melayang turun dari atas puncak tebing itu.

Lama sekali Coe Koen San berdiri termangu-mangu memandang keempat sosok bayangan yang mulai menjauh mendadak dia sadar kembali! Anak kunci Cing Kong Ci Yau adalah sebuah benda yang amat berharga. Bagaimana boleh dia melepaskan dengan begitu saja karena beberapa patah perkataannya? dengan cepat dia kerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengejar.

Gak Siauw-cha yang berlari sambil menggandeng tangan Siauw Ling, berturut-turut dia melanjutkan perjalanannya sejauh enam tujuh li setelah itu baru mulai memperlambat langkahnya. Sewaktu menoleh ke belakang tampaklah Thio-kan serta Hoo-kun yang ada di belakang sekalipun berusaha terus mengejar tetapi keringat dingin sudah membasahi seluruh badannya.

“Nona! kita mau kemana?”Tanya Thio-kan tiba-tiba sembari menyeka keringat yang membasahi keningnya.

“Keadaan kita pada saat ini amat berbahaya sekali kelihatannya untuk mendapat kembali jenazah dari ibuku sukar untuk dilaksanakan demikian saja. Mulai sekarang kita harus berjuang utnuk menerjang keluar dari tempat-tempat berbahaya ini kemudian menuju kelembah Jen Yen Kuk.

“Mendadak dia merasa dirinya sudah keterlanjur berbicara dengan cepat dia menutup mulutnya kembali dan matanya mulai berkeliaran memandang kesekeliling tempat itu.

“Tidak bisa jadi… tidak bisa jadi…”Bantah Hoo-kun yang berdiri di samping.

“Bagaimana mungkin jenazah dari ibu majikan kita tidak kita urus? Sekalipun harus mengorbankan jiwa kita harus melindungi juga jenazah dari ibu majikan sampai di tempat tujuan.

““Hal itu tidak mungkin kita jalankan,”sahut Gak Siauw-cha gelengkan kepalanya.

“Pertama, seluruh perhatian pihak musuh sudah ditujukan kepada kita. Kedua, tempat itu sangat aman, sekarang yang penting bagaimana kita harus berbuat untuk meloloskan diri dari tempat berbahaya ini.

““Kecerdasan dari nona sangat hebat dan melebihi kita semua, apa yang nona ucapkan sudah tentu tidak bisa salah lagi,”sambung Thio-kan menurut.

Gak Siauw-cha segera mengenali dulu arah yang dituju ke arah Barat daya. Perjalannya kali ini sengaja dia mencari jalan-jalan kecil yang sukar untuk dilalui dan sunyi guna melindungi jejak mereka. Demikianlah walaupun mereka berempat sudah melakukan perjalanan selama setengah harian lamanya tetapi tak tampak juga munculnya musuh yang menghadang jalan.

Sang surya mulai condong ke arah Barat sinar yang kemas-emasan dengan hangatnya yang penuh dengan salju nan putih, di tengah pegunungan yang amat sunyi mendadak berkumandang datang suara suitan panjang yang amat nyaring.

Mendengar datangnya suara suitan itu Gak Siauw-cha segera menghentikan perjalanannya dan bersembunyi di bawah sebuah dinding tebing yang amat besar.

“Cepat kita bersembunyi!”serunya dengan nada yang amat lirih. “Kelihatannya pengaruh musuh amat luas dan seluruh pegunungan ini sudah disebari anak buahnya ditambah lagi dari pihak perkumpulan Sin Hong Pang ada burung merpati yang menjadi mata-mata kelihatannya untuk melakukan perjalanan disiang hari sambil menghindari pengamatan musuh bukanlah satu pekerjaan yang gampang terpaksa kita harus menunggu sampai hari menjadi gelap baru melanjutkan kembali perjalanan kita.

““Perkataan nona sedikitpun tidak salah”sahut Thio-kan membenarkan.

Dia segera mengambil keluar rangsum yang dibawa kemudian dibagi-bagikan kepada semua orang.

Diantara beberapa orang yang melakukan perjalanan siang malam terus menerus ini kecuali Gak Siauw-cha yang tenaga dalamnya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan sehingga tidak terasa begitu lelah. Thio-kan serta Hoo-kun kini merasa betul-betul amat capai dan membutuhkan istirahat yang cukup.

Sekalipun walaupun selama ini Siauw Ling setengah digendong oleh Gak Siauw-cha tetapi hawa dingin laksana tusukan pedang membuat badannya jadi hampir kaku dibuatnya.

Terhadap diri Siauw Ling jelas kelihatan Gak Siauw-cha menaruh rasa yang luar biasa setelah berhenti berjalan dengan cepat dia memerintahkan diri Siauw Ling untuk menjalankan semedinya bahkan tidak sayang-sayangnya menyalurkan hawa murninya sendiri untuk membantu dia melancarkan jalannya aliran darah badannya.

Suara suitan panjang yang berkumandang diseluruh pegunungan semakin lama semakin menjauh jelas pihak musuh sudah memutar kejalan yang lain.

Siauw Ling yang memperoleh bantuan tenaga murni dari Gak Siauw-cha , aliran darah dibadannya kini sudah lancar kembali.

Tidak selang seberapa lama badannya yang semula kaki kini terasa menjadi hangat kembali dia segera menarik napas panjang-panjang.

“Cici! Apakah Cing Kong Ci Yau itu benar-benar ada dibadanmu?”tanyanya mendadak.

Gak Siauw-cha jadi melengak, tapi sebentar dia sudah gelengkan kepalanya.

“Tidak!”sahutnya sambutnya tertawa. “Kau masih merasa kedinginan?”“Sekarang sudah tidak merasa dingin lagi!”seru Siauw Ling sembari mengerak-gerakkan tangannya. “Heeei, selama puluhan tahun ini banyak sekali jagoan Bulim yang datang mencari anak kunci Cing Kong Ci Yau itu, karena di atas kunci Cing Kong Ci Yau ini sudah tersimpan satu rahasia yang maha besar.

““Cici, dapatkah kau menceritakan kisah ini??”tanya Siauw Ling tertarik.

Dengan perlahan Gak Siauw-cha menghela napas panjang kemudian mengangguk.

“Ini bukan cerita, tetapi merupakan satu kejadian yang betul-betul telah terjadi,”ujarnya dengan perlahan. “Banyak sekali kaum jago yang sudah terseret di dalam kancah pergaulan yang maha dahsyat ini, bahkan sampai Siauw Lim, Butong, Go bie serta Hoa san empat partai besarpun ikut terseret di dalam peristiwa ini.

“Dengan perlahan dia angkat kepalanya memandang ke atas puncak gunung di tempat kejauhan, lalu dengan perlahan sambungnya, “Tahun berapa kejadian ini berlangsung aku sudah agak lupa, tapi kira-kira pada empat puluh tahun yang lalu! waktu itu adalah saatsaat santarnya jago-jago berbakat alam pada bermunculan dan sering sekali terjadi perebutan nama di dalam dunia kangouw sampai akhirnya muncullah sepuluh orang aneh yang memiliki kepandaian silat dahsyat ini ada seorang bukan saja memiliki kepandaian silat yang sempurna bahkan mengerti pula ilmu bangunan.

““Dikarenakan bakat kesepuluh orang aneh ini amat bagus memiliki kepandaian silat yang berbeda pula bahkan semuanya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan, dengan sendirinya tidak luput pula dari perebutan nama diantara mereka sendiri.

““Karena persoalan itulah maka mereka lantas menetapkan setiap tiga tahun sekali mengadakan pertandingan untuk menentukan siapa menang siapa kalah berturut-turut delapan belas tahun berlalu dengan seluruhnya mengadakan enam kali pertempuran tetapi tidak berhasil juga untuk menemukan siapa yang lebih jagoan.

“Siauw Ling yang sedang mendengar kisahnya sampai ramai-ramai mendadak melihat Gak Siauw-cha menutup mulutnya kembali dalam hati jadi cemas, Gak Siauw-cha tertawa sedih, sambungnya kemudian, “Mereka yang sudah mengalami pertandingan selama delapan belas tahun tanpa memperoleh hasil dalam hati masing-masing segera mengetahui kalau kepandaian silat mereka adalah imbang.

“Mendadak dia menutup mulutnya dan pasang telinga memperhatikan sesuatu, sebentar kemudian dia sudah meloncat bangun.

“Ada orang datang”serunya cepat-cepat.

Baru saja dia selesai berbicara mendadak terdengarlah suara gonggongan anjing yang amat santar berkumandang datang disusul munculnya dua ekor anjing hitam yang tinggi badannya melebihi manusia.

Dengan gesitnya Gak Siauw-cha melepaskan pedang lemas yang dililitkan di pinggangnya siap-siap menghadapi segala kemungkinan.

Kedua ekor anjing hitam itu sewaktu berada beberapa kali kaki dari antara beberapa orang itu mendadak menghentikan langkahnya disusul munculnya suara tertawa terbahak-bahak dari belakang sang anjing hitam tersebut.

Seorang lelaki berwajah bulat, pendek dan gemuk dengan pakaian berwarna hijau munculkan dirinya disana, orang itu bukan lain adalah Loo toa dari Tiong Cho Jie Ku, si Siepoa emas Sang Pat adanya.

Melihat munculnya orang itu alis yang lentik dari Gak Siauw-cha segera dikerutkan rapat-rapat, belum sempat dia mengucapkan sesuatu Sang Pat itu manusia cebol sudah keburu merangkap tangannya memberi hormat.

“Haa, haa, aku sedang mencari-cari diri nona tidak kusangka nona sudah ada disini!”serunya melucu.

Thio-kan serta Hoo-kun yang melihat munculnya Sang Pat diam-diam merasa gusar pula mencabut keluar goloknya mereka pencarkan diri siap-siap turun tangan.

“Buat apa kau datang kemari mencari diriku??”tanya Gak Siauw-cha dengan dingin.

Sekali lagi si sie emas Sang Pat tertawa terbahak-bahak.

“Kami sebagai pedagang sudah tentu hendak membicarakan soal dagangan dengan nona,”sahutnya sambil tertawa haha hihi.

“Maksud baikmu aku terima saja dihati. Aku lihat lebih baik perdagangan ini tidak usah dibicarakan lagi.

““Cayhe selamanya tidak pernah melepaskan barang dagangan yang sudah aku penuhi,”ujar Sang Pat lagi sambil tertawa. “Jadi…”“Bagaimana?”seru Gak Siauw-cha dengan wajah yang berubah hebat, “Kau ingin turun tangan menggunakan kekerasan?”“Oo, tidak, tidak!”sahut Sang Pat dengan gugup sembari berulang kali goyangkan tangannya, “Orang yang berdagang selamanya mengutamakan kepercayaan, nama baik yang sudah kami pupuk selama puluhan tahun lamanya bagaimana berani cayhe hancurkan di dalam sekejap? Bilamana kami menggunakan cara-cara kekerasan bukankah sama saja dengan merusak nama baik dari Tiong Cho Siang-ku??”“Jikalau demikian adanya silahkan kau orang berlalu saja. Aku tidak akan membicarakan soal dagangan itu lagi.

“Si Siepoa emas Sang Pat lantas mendehem beberapa kali.

“Cayhe cuma mau sampaikan dua tiga patah kata saja,”ujarnya lagi. “Menurut apa yang cayhe ketahui, kecuali perkumpulan Sin Hong Pang para jago-jago dari daerah sekitar Kang Lam Siauw Ling pay, Bu-tong-pay sudah kirim jago-jagonya datang kemari. Jika ditinjau dari keadaan ini orang-orang yang datang bukannya semakin berkurang malah sebaliknya bertambah. Uang pokok daganganku inipun semakin lama semakin besar bilamana nona tidak mau menerima dagangan ini mungkin lain kali akan merasa menyesal.

““Sayang aku tidak mau menerima dagangan itu,”potong Gak Siauw-cha sambil tertawa dingin.

Sang Pat segera tertawa terbahak-bahak.

“Kami orang-orang dari kaum pedagang lamanya tidak memaksa orang untuk melakukan jual belinya, kalau begitu cayhe mohon diri dulu.

“Segera dia bertepuk tangan memberi tanda buat kedua ekor anjing hitamnya diantara suara gonggongan yang keras dia segera melayang pergi mengikuti dari belakang kedua ekor anjing hitamnya. Hanya di dalam sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Gak Siauw-cha memandang hingga bayangan tubuh dari si Siepoa emas dari pandangan, setelah itu baru gumamnya seorang diri, “Tiong Cho Siauw Jie memiliki sepasang anjing yang pandai mencari jejak kelihatannya untuk melepaskan diri dari pengejaran mereka bukanlah satu pekerjaan yang mudah.

““Nona tidak usah kuatir walaupun sifat Tiong Cho Siang-ku amat ku koay asalkan nona tidak menerima dagangannya mereka berdua tidak akan menggunakan kekerasan….

“hibur Thio-kan dengan perlahan.

“Jika ditinjau dari keadaannya jelas mereka mudah mengandung maksud pasti memperoleh benda itu sekalipun mereka tidak akan menggunakan cara kekerasan tetapi dengan menggunakan sepasang anjingnya yang dapat mencari jejak kita mereka bisa menunjukkan tempat kita kepada pihak musuh agar orang lain turun tangan mendesak kita di dalam keadaan terdesak dia menginginkan agar kita mau terima jual beli yang dia tawarkan.

““Perkataan ini sedikitpun tidak salah…”Sahut Thio-kan tidak terasa, karena tidak memperoleh kata-kata untuk menghibur terpaksa dia menutup mulutnya kembali.

Dengan perlahan Siauw Ling berjalan keluar dari balik batu cadas itu.

“Cici!”serunya. “Apakah orang-orang yang terus menerus mengejar kita inipun punya maksud untuk merebut anak kunci Cing Kong Ci Yau itu?”“Bocah cilik kau tahu apa. Jangan banyak ikut campur di dalam urusan ini,”jawab Gak Siauw-cha dengan gusar.

Siauw Ling yang melihat dia menjawab dengan nada gusar tidak terasa lagi sudah dibuat tertegun.

“Cici, kau jangan marah lain kali aku tidak akan tanya lagi,”ujarnya dengan cepat.

Dengan perlahan Gak Siauw-cha menoleh memandang ke arahnya, terlihatlah wajahnya yang halus menarik itu sudah membengkak tertiup angin dingin. Walaupun air muka mulai mengucur keluar dari matanya tapi senyuman tetap menghiasi bibirnya tak kuasa lagi rasa sayangnya muncul kembali dihatinya.

Dengan perlahan dia menarik tangan Siauw Ling untuk didekatkan dengan badannya sendiri, lalu ujarnya dengan halus, “Adik Ling hati cicimu saat ini lagi kusut.

Perkataankupun rada kasar, harap kau jangan memikirkan dihati.

““Aku tahu, lain kali aku tidak akan banyak bicara lagi.

“Sekali lagi Gak Siauw-cha menghela napas panjang.

“Dimanakah kunci Cing Kong Ci Yau itu pada saat ini, encimu pun tidak tahu,”katanya.

Agaknya Siauw Ling mau menanyakan sesuatu, tetapi baru saja bibirnya sedikit bergerak dia sudah membatalkan kembali maksudnya.

Gak Siauw-cha bisa merasa apa yang hendak dia tanyakan, ia lantas tersenyum.

“Ada kemungkinan memang berada dibadan ibuku, tetapi encimu masih tidak begitu jelas”tambahnya kemudian.

“Eeeehmmm… orang-orang itu sungguh jahat sekali, tanpa bertanya lebih jelas lagi mereka sudah menuduh anak kunci Cing Kong Ci Yau itu cuma ada di tangan cici.

“Gak Siauw-cha cuma tersenyum tidak memberi komentar apa-apa.

“Mari kita berangkat?”ujarnya kemudian.

Dengan langkah yang lebar dia segera melanjutkan perjalanan sembari menggandeng tangan Siauw Ling.

Saat ini dia tahu untuk menghindarkan diri dari pengamatan pihak musuh bukanlah suatu pekerjaan yang gampang dari pada harus bersembunyi terus menerus lebih baik melanjutkan perjalanan dengan busungkan dada.

Beberapa ekor burung merpati kembali menyangkar di atas kepala mereka kemudian terbang menjauh.

Thio-kan serta Hoo-kun dengan gugup dongakkan kepalanya sambil menuding-nuding tetapi Gak Siauw-cha pura-pura tidak melihat, dengan tangannya dia melanjutkan perjalanannya ke depan.

Setelah melewati dua buah puncak gunung, terlihatlah di tengah jalan gunung tiba-tiba muncul kembali tiga orang lelaki berpakaian singsat dengan mencekal senjata tajam berdiri sejajar menghalangi perjalanan mereka.

Gak Siauw-cha pura-pura tidak melihat, setelah melepas tangan Siauw Ling dia berjalan menyambut mereka.

“Menyingkir!”Bentaknya dengan dingin.

Ketiga orang lelaki berpakaian singsat yang melihat dia orang berjalan dengan begitu tenang tanpa memandang sekejappun ke arah mereka, bahkan mendekati mereka tanpa mencabut keluar senjata tajamnya dalam hati diam-diam merasa amat kagum sekali.

“Sungguh besar nyali bocah perempuan ini,”pikirnya dalam hati mereka.

Begitu mendengar suara bentakan yang amat nyaring itu tanpa terasa lagi mereka sudah pada menyingkir kesamping.

Tetapi sebentar saja mereka sudah sadar kembali, tiga bilah golok bersama-sama dipalangkan ke depan menghalangi perjalanan dari Gak Siauw-cha.

Gak Siauw-cha yang lagi jengkel nafsu membunuh sudah meliputi dihatinya, sepasang tangannya segera diayunkan ke depan menyambitkan dua genggam jarum emas ke arah mereka.

Ketiga lelaki itu sama sekali tidak menyangka kalau Gak Siauw-cha turun tangan secara begitu cepat diantara berkelebatnya sinar keemas-emasan masing-masing orang sudah kena terhajar beberapa batang jarum emas itu.

Gak Siauw-cha tidak berhenti sampai disitu saja, bagaikan angin cepatnya kembali dia melancarkan terdengar kilat menotok jalan darah ketiga orang itu sehingga senjata tajam yang ada ditangannya terpental lepas jatuh kesamping jalan.

“Adik Ling,”ujarnya kemudian sambil menoleh ke belakang. “Cepat kemari kita harus cepat-cepat melakukan perjalanan!”Siauw Ling yang melihat encinya di dalam sekejap mata berhasil merubuhkan tiga orang musuh dalam hati benar-benar merasa teramat kagum.

“Heeei… entah sampai kapan aku baru berhasil memiliki kepandaian silat seperti apa yang dimiliki enci Gak sekarang ini?”pikirnya.

Sang surya sudah lenyap dibalik gunung malampun mulai menjelang datang.

Siauw Ling di dalam gandengan Gak Siauw-cha melakukan perjalanan dengan amat cepatnya melalui jalan raya yang telah ditutupi oleh salju.

Entah beberapa lama mereka berjalan, sang rembulanpun sudah menerangi seluruh jagat dari tengah awang-awang.

Di tengah tiupan angin malam yang dingin baik Thio-kan maupun Hoo-kun sembari berlari tiada hentinya menyeka keringat yang membasahi wajahnya.

Setelah mengitari sebuah kaki gunung, pemandangan yang ditemuipun sudah berubah.

Di tengah suara mengalirnya air selokan dihadapan mereka terbentanglah sebuah lembah yang amat luas dengan pohon Siong tumbuh sejajar di samping jalan, hawa dingin mulai mengurang bahkan membawa rasa hangat yang samar-samar itu dengan panjangnya.

Mendadak… dari balik sebuah pohon Siong yang tinggi besar berkumandang keluar suara pujian kepada Buddha yang amat nyaring disusul munculnya seorang hweesio berjubah berwarna keabu-abuan. Pada tangan kanannya mencekal sebuah toya sedang pada tangan kirinya disilangkan ke depan dada.

“Li sicu yang baru datang apakah benar Gak Im Kauw?”tanyanya sembari membungkukkan badannya menjura.

“Loo suhu ada urusan apa? Gak Im Kauw adalah sebutan ibuku!”jawab Gak Siauw-cha.

Si hweesio gede itu lantas tersenyum.

“Pinceng jarang sekali berkecimpung di dalam dunia kangouw sehingga tidak kenal dengan nona, cara nona suka memaafkan kesalahan dari pinceng itu,”katanya.

“Tiong Cho Siang-ku merupakan jagoan yang punya nama besar di dalam Bulim”Pikir Gak Siauw-cha diam-diam. “Mereka tidak akan menipu diriku munculnya hweesio ini secara tiba-tiba tentunya disebabkan oleh karena kunci Cing Kong Ci Yau itu pula.

“Segera ujarnya, “cuma urusan kecil tidak perlu diingat-ingat di tengah malam buta begini toa suhu menghalangi perjalanan kami entah punya maksud apa? “Omitohud!”Seru hweesio itu memuji keagungan Buddha. “Pinceng adalah Ci Kuang dari kuil Siauw Lim si di atas gunung Siong tan kali ini sengaja datang untuk bertemu muka dengan ibumu.

““Ibuku sudah menuju kealam baka bilamana Toa suhu ada urusan sampaikan saja padaku.

““Omitohud! kedatangan pinceng sungguh tidak mujur!”seru Ci Kuang Thaysu perlahan.

Mendadak dia dongakkan kepalanya memandang sekejap ke arah diri Gak Siauw-cha, lantas tambahnya, “Soal anak kunci Cing Kong Ci Yau yang disimpan ibumu semasa hidupnya tentu li sicu mengetahunya bukan??”“Tidak tahu!”Ci Kuang Thaysu jadi melengak.

“Anak kunci Cing Kong Ci Yau itu ada sangkut pautnya yang amat besar sekali dengan kuil kami bilamana li sicu sengaja menyimpannya pinceng rasa hal itu tidak ada kegunaannya,”katanya.

“Nama kuil Siauw Lim si sudah amat terkenal dan dihormati oleh semua jago Bulim, apakah Toa suhu mau mengandalkan akan hal itu untuk memaksa diriku?”Tanya Gak Siauw-cha jengkel.

Ci Kuang Thaysu yang disemprot tajam seketika itu juga dibuat bungkam diam-diam pikirnya dihati, “Perkataan dari bocah perempuan ini sedikitpun tidak salah, di dalam kuil Siauw Lim si aku termasuk di dalam salah satu dari delapan jago pelindung ruangan “Tat Mo”bagaimana aku boleh bisa berkelahi dengan seorang bocah cilik seperti dia? Apalagi anak kunci Cing Kong Ci Yau itupun belum tentu ada ditangannya bilamana aku memaksa juga bukankah itu amat berdosa?”Karena berpikir akan hal ini, lama sekali dia termenung tidak bisa mengucapkan katakata.

Semasa ibunya msih hidup Gak Siauw-cha sering sekali mendengar persoalan yang menyangkut dunia kangouw kalau bicara tentang Siauw Lim pay ini diapun mengetahui sedikit-sedikit.

Dia tahu sekalipun selama dua ratus tahun ini dari pihak Siauw Lim pay berkali-kali mengalami kemunduran sehingga namanya hampir-hampir merosot tetapi pada masa mendekati ini jago-jagonya mulai bermunculan kembali. Pengaruh serta kedudukan yang semula mulai lenyap itupun sekarang mulai berdiri kembali. Golongan ini bukankah satu partai yang mudah diganggu.

Karena hal itulah selama ini Gak Siauw-cha selalu saja berusaha untuk menghindarkan diri dari bentrokan dengan hweesio Siauw Lim pay.

Lewat beberapa saat kemudian Cing Thaysu baru berkata lagi.

“Dengan usia pula loolap yang sudah lanjut bilamana harus menggunakan ilmu silat untuk paksa kau menyerahkan anak kunci Cing Kong Ci Yau itu, ini memang rada keterlaluan, tetapi anak kunci Cing Kong Ci Yau itu merupakan barang yang dicari oleh partai kami apalagi kali ini pinceng datang dengan membawa perintah khusus bilamana hanya dikarenakan seberapa patah kata dari li sicu ini saja pinceng harus mundur, bagaimana nantinya pinceng harus bertanggung jawab dihadapan Ciangbunjien.

““Lalu sekarang kau mau apa??”tantang Gak Siauw-cha dengan hati mendongkol.

“Peristiwa matinya ibumu belum pernah tersiar di dalam Bulim, pinceng cuma ingin melihat sebentar jenazah dari ibumu…”“Apa kau kira aku sengaja mengharapkan ibuku cepat mati?”sambung Gak Siauw-cha semakin mendongkol.

“Sekalipun ibumu benar-benar sudah mati, pinceng harap nona suka menghantar diriku untuk melihatnya sebentar.

““Jenazah ibuku sudah dikubur apalagi antara lelaki dan perempuan ada batasnya maaf aku orang tidak dapat menerima permintaanmu itu.

“Dengan perlahan Ci Kuang Thaysu menghela napas panjang.

“Peraturan dari kuil Siauw Lim si kami amat ketat, sekalipun perkataan yang li sicu ucapkan merupakan kata-kata yang beralasan tetapi pinceng tidak berani mengambil keputusan sendiri…”katanya.

“Lalu kau mau apa?”sambung Gak Siauw-cha dengan cepat.

“Harap li sicu suka mengikuti pinceng pergi sebentar ke gunung Siong san.

““Bilamana aku tidak mau??”Dengan perlahan Ci Kuang Thaysu mundur dua langkah ke belakang kemudian melintangkan toyanya di depan dada.

“Terpaksa pinceng harus menjajal kepandaian silat yang dimiliki li sicu, bilamana li sicu berhasil menangkan permainan toya dari pinceng, maka aku segera akan kembali kekuil untuk menerima hukuman.

“Gak Siauw-cha yang melihat keadaan tidak bisa diajak damai diapun tidak ingin berdiam lama-lama lagi, pedang lemasnya segera digetarkan ke depan.

“Toa suhu merupakan seorang pendeta beribadat tinggi perkataan yang sudah diucapkan jangan dimungkiri lagi loo!”ujarnya.

“Orang beribadat selamanya tidak pernah membohong. Bilamana li sicu benar-benar bisa menangkan permainan toya dari pinceng ini, pinceng pasti tidak akan mengganggu dirimu lagi.

““Kalau begitu aku terima perintah saja, toa suhu silahkan terima serangan.

“Pedangnya dengan menggunakan jurus “To Ping Han Ye”atau mencekal gagang membabat rembulan menusuk dengan dahsyatnya ke depan.

Dia orang yang kepingin cepat0cepat melanjutkan perjalanan begitu turun tangan segera menyerang dengan menggunakan jurus-jurus serangan yang paling dahsyat.

Dengan gesitnya Ci Kuang Thaysu menyilangkan toyanya menangkis datangnya serangan pedang itu, tetapi dia tidak melancarkan serangan balasan.

Gak Siauw-cha tahu dia bermaksud untuk mengalah beberapa jurus kepadanya dalam hati lantas pikirnya, “Ehmmm… partai Siauw Lim jauh lebih jujur kelihatannya dari pada jago-jago lainnya di Bulim.

“Pedang ditangannya dengan cepat dibabat ke depan dengan menggunakan jurus-jurus serangan yang lebih aneh, berturut-turut dia melancarkan tiga serangan sekaligus.

Kembali Ci Kuang Thaysu menggerakkan toyanya menangkis datangnya tiga serangan berantai itu, diam-diam dalam hati dia merasa terperanjat juga melihat kelihayan dari musuhnya.

“Kelihatan ilmu pedang dari keluarga Gak bukanlah nama kosong belaka, usia bocah perempuan ini masih kecil tetapi sudah memperoleh seluruh kepandaian keturunannya, aku tidak boleh memandang rendah dirinya,”pikirnya.

Toyanya dengan disertai angin serangan yang amat tajam segera balas melancarkan serangannya ke depan.

Kekuatan tangannya sungguh mengejutkan sekali, toya yang sebesar telur ayam di dalam permainannya segera membawa serta angin serangan yang menderu-deru.

Sejak dilahirkan Siauw Ling belum pernah melihat permainan toya yang demikian hebatnya. Dalam hati dia merasa amat terperanjat, dia merasa amat kuatir atas keselamatan diri Gak Siauw-cha.

Tampak mereka berdua semakin bertempur semakin seru semakin lama semakin mendebarkan, pedang lemas di tangan Gak Siauw-cha diputar bagaikan angin tetapi selama ini tidak berhasil juga meloloskan diri dari kurungan bayangan toya dari hweesio itu.

Siauw Ling yang melihat jalannya pertempuran itu lama kelamaan merasakan matanya mulai kabur. Dia cuma bisa melihat berputarnya bayangan toya diselingi menyambarnya sinar keperak-perakan yang menyilaukan mata, untuk membedakan kedua sosok bayangan itu mana si hweesio mana enci Gak nya dia sudah tidak sanggup lagi.

Sekonyong-konyong… suara bentakan yang amat nyaring bergema memenuhi angkasa.

Siauw Ling yang ada di samping segera merasakan hatinya tergetar amat keras.

“Aduh, celaka!”teriaknya sembari memejamkan mata rapat-rapat.

Di dalam anggapannya Gak Siauw-cha tentu sudah menderita luka di bawah serangan toya hweesio tua itu.

Terdengar suara yang nyaring dan merdu kembali berkumandang datang.

“Toa suhu terima kasih atas petunjukmu.

“Dengan perlahan Siauw Ling membuka matanya kembali, terlihatlah mereka berdua masih baik-baik saja berdiri di bawah sorotan sinar rembulan dan kini pertempuran pun sudah berhenti.

Dalam hati dia mulai merasa ragu-ragu dan bingung, dia tidak tahu siapa yang sudah kalah.

Ci Kuang Thaysu segera menarik kembali toyanya dan menyingkir kesamping.

“Ilmu pedang dari keluarga Gak sungguh dahsyat sekali. Li sicu silahkan berangkat!”katanya. Gak Siauw-cha lantas menjura kemudian sambil menggandeng tangannya Siauw Ling dia melanjutkan kembali perjalanannya dengan langkah lebar.

Thio-kan serta Hoo-kun pun dengan cepat mengikuti dari belakang Gak Siauw-cha meninggalkan itu tempat dengan terburu-buru.

Perkataan dari Ci Kuang Thaysu ternyata bisa dipercaya, dengan angkernya dia berlari disana memandang beberapa orang itu berlalu.

Lewat beberapa saat kemudian Siauw Ling tidak bisa menahan sabar lagi, tanyanya dengan suara yang lirih, “Cici, kau menang?”“Ehmm… kepandaian silat dari hweesio tua itu sungguh lihay sekali encimu mujur berhasil menangkan satu jurus darinya.

““Aku lagi merasa kuatir cici tidak berhasil menangkan dirinya. Siapa tahu cici bisa menang dengan begitu cepat”kata Siauw Ling sambil tertawa terbahak-bahak.

“walaupun dia sudah menderita kekalahan satu jurus dariku tetapi sama sekali tidak terluka, bilamana dia tidak mengaku kalah dan meneruskan pertempuran itu, dengan tenaga dalam yang begitu sempurna darinya lama kelamaan aku bisa menemui kekalahan juga.

“Soal ilmu silat Siauw Ling tidak beberapa mengerti, karenanya dia cuma mendengarkan saja tanpa banyak komentar.

Beberapa orang itu kembali melanjutkan perjalanannya keluar dari lembah sempit itu.

Sinar rembulan mulai bergeser ke arah Barat waktupun menunjukkan lewat tengah malam.

Sembari memandang ke arah sinar rembulan tidak terasa lagi Gak Siauw-cha menghela napas panjang, diam-diam pikirnya, “Heeei… musuh tangguh yang mengejar datang amat banyak sekali bilamana aku harus menerjang dan membunuh terus menerus entah harus sampai kapan baru bisa berhenti.

“Tiba-tiba, suara tertawa tergelak yang amat keras bergema datang memtuskan lamunannya di bawah tebing mulut lembah itu mendadak muncul tujuh, delapan orang.

Kiranya beberapa orang itu mengeluarkan sedikit suarapun sudah duduk menanti di bawah remang-remangnya cuaca walaupun Gak Siauw-cha memiliki ketajaman mata yang melebihi orang tetapi karena kurang berhati-hati maka dia tidak sampai menemukan diri mereka.

Siauw Ling yang melihat secara tiba-tiba muncul kembali musuh dalam jumlah yang begitu banyak dalam hati segera berpikir, “Sebenarnya enci Gak bisa melakukan perjalanan melalui puncak yang berbahaya, tetapi karena membawa aku dia terpaksa harus melakukan perjalanan melalui tempat ini. Aku tidak boleh menyusahkan dirinya lagi, biarlah cici Gak meloloskan dirinya terlebih dahulu.

““Cici, kalian pergilah dulu, jangan urusi aku lagi.

““Apakah kau merasa sakit???”tanya Gak Siauw-cha dengan sedih.

“Aku sama sekali tidak takut, aku cuma tidak ingin menyusahkan cici lagi.

““Adik Ling, kau tidak usah banyak pikir yang benar encilah yang sudah menyusahkan dirimu,”ujar Gak Siauw-cha tertawa.

Tangan kirinya segera menyambar menggandeng diri Siauw Ling sedang tangan kanannya menggerakkan pedangnya menerjang ke arah musuh-musuhnya.

Thio-kan serta Hoo-kun pun bersama mencabut keluar senjata tajamnya kemudian dari samping kanan dan samping kiri Gak Siauw-cha bersama-sama menerjang ke depan.

Angin serangan dari Gak Siauw-cha berkelebat bagaikan angin taupan, jurus serangan yang dilancarkanpun amat panas di dalam sekejap saja dia sudah berhasil melukai dua orang.

Siauw Ling yang berada di dalam pelikan Gak Siauw-cha. Hidungnya lantas menangkap bau harum yang amat aneh sekali membuat hati kecilnya berdebar-debar keras, tetapi dia tidak mau perduli akan hal itu matanya dengan amat tajam memperlihatkan hawa pedang yang berkelebat di sekeliling tubuhnya diselingi bayangan golok laksana salju.

Di tengah pertempuran yang amat sengit itulah mendadak Gak Siauw-cha membentak keras. Pedang panjangnya tiba-tiba dibacok ke depan.

Suara jeritan yang mengerikan segera bergema memenuhi angkasa, kembali seorang musuh terkena tusukannya sehingga rubuh binasa di atas tanah.

Beberapa orang lelaki penghalang jalan yang lain sewaktu melihat Gak Siauw-cha amat gagah dan ganas dalam hati merasa amat terperanjat, walaupun mereka bermaksud untuk mengundurkan diri tetapi ketika teringat akan siksaan yang bakal diterima oleh bilamana membangkang perintah membuat orang-orang tidak berani melaksanakan niatnya tersebut.

Begitu seorang kawannya rubuh ke atas tanah kembali ada orang lainnya yang maju menerjang.

Gak Siauw-cha melancarkan serangannya semakin ganas lagi. Pedang lemas ditangannya seketika itu juga berubah jadi bunga-bunga pedang yang amat banyak.

Dari antara delapan orang pengahalang jalan itu kini sudah ada lima orang yang rubuh terkena tusukan pedang. Tetapi sisanya tiga orang bukannya jadi jera sebaliknya malah menyerang semakin ngotot lagi.

Walaupun tiga orang itu melancarkan serangan dengan tanpa memikirkan keselamatan sendiri tetapi mereka sudah tidak ada tenaga untuk menghalangi Gak Siauw-cha lebih lama mereka benar-benar terdesak kesamping oleh sampokan bunga-bunga pedang yang bercampur salju itu.

Gak Siauw-cha yang melihat darah sudah berceceran di atas tanah dan mayat mulai bergelimpangan agaknya tidak bermaksud membunuh lebih banyak lagi. Pinggangnya mendadak ditekuk pergelangan tangannya dikebaskan bersamaan waktunya dia menggunakan jurus ‘Liong Hat It Su’ menerjang dari dalam kalangan.

Thio-kan serta Hoo-kun pun tidak mau membuang waktu dengan percuma, golok serta senjata Pan Koan Pitnya segera dibabat ke depan dengan dahsyatnya kemudian dengan mengikuti dari belakang tubuh Gak Siauw-cha menerjang keluar dari kepungan.

Siauw Ling yang berda dalam gendongan Gak Siauw-cha cuma merasakan angin kencang menderu-deru di samping telinganya, hanya di dalam sekejap saja mereka sudah mengitari dua buah puncak gunung.

Akhirnya Gak Siauw-cha berhenti juga berlari. Sambil menurunkan Siauw Ling yang ada di dalam pelukannya dia menghela napas panjang.

“Pertempuran sengit yang bakal terjadi mempengaruhi keselamatan kita selanjutnya,”ujarnya perlahan. “Adik Ling! kau lahir di tengah keluarga kaya, aku rasa menghadapi urusan ini tentunya kau merasa terkejut sekali bukan??”Siauw Ling dengan perlahan mengusap keringat yang membasahi kepalanya, dia menjawab, “Jikalau dibicarakan pada saat ini hal itu memang rada menakutkan tetapi sewaktu aku melihat kegagahan dan kelihayan dari ilmu pedang cici, rasa takut yang mencekam hatiku seketika itu juga lenyap tak berbekas.

““Bilamana kita berhasil melewati tempat ini dengan selamat aku lihat lebih baik untuk sementara waktu kita mencari sebuah tempat yang tenang untuk berdiam selama setahun terlebih dulu,”ujar Gak Siauw-cha sambil tertawa pedih. “Menanti tenaga Khie kang dari adik Ling sudah mempunyai dasar yang baik, aku mau hantar kau pulang dan berkumpul kembali dengan orang tuamu.

““Tidak, aku tidak mau pulang”potong Siauw Ling sembari gelengkan kepalanya berulang kali.

‘Kau tak suka pulang kerumah??”“Aku mau ikut cici berkelana keseluruh penjuru dunia, aku mau iktu cici menaiki gunung serta tebing yang paling tinggi, melihat awan yang melayang diangkasa, melihat munculnya sang surya dari tengah samudra melihat ganasnya angin taupan di tengah gurun pasir.

““Mana mungkin hal ini bisa terjadi kau…”“Tidak mengapa!”potong Siauw Ling dengan cepat. “Menanti sesudah aku berhasil meraih ilmu silatku, aku bisa ikut cici pergi kesana kemari waktu itu aku tidak usah minta cici untuk menggendong aku lagi…”Serentetan suara suitan yang tinggi melengking kembali berkumandang datang memusatkan pembicaraan Siauw Ling yang belum habis dibicarakan.

Air muka Gak Siauw-cha segera berubah sangat hebat.

“Adik Ling!”serunya dengan cemas. “Ada orang yang mengejar datang lagi mari aku gendong kau saja.

““Tidak bisa… tidak bisa, bilamana enci harus menggendong aku lagi bukankah hal ini sangat merepotkan diri cici saja!”Mendadak Gak Siauw-cha melancarkan serangannya menotok jalan darah tidur dari Siauw Ling kemudian melepaskan handuk untuk mengikat badannya di atas punggung.

Di dalam sekejap saja musuh-musuh tangguh sudah berdatangan. Gak Siauw-cha lantas mengobat abitkan pedang panjangnya.

“Siapa yang berani menghalangi aku mati!”bentaknya dengan nyaring.

Tanpa banyak cakap lagi dia lantas memimpin terlebih dulu di depan untuk menerjang ke arah musuh-musuhnya.

Siauw Ling yang perkataannya belum selesai diucapkan mendadak ditotok jalan darahnya oleh Gak Siauw-cha segera merasakan badannya jadi kaku kemudian jatuh tidak sadarkan diri.

Menanti dia jadi sadar kembali, dia menemukan dirinya berada di tengah sebuah lembah gunung yang amat sunyi. Sang surya kembali sudah condong ke arah sebelah barat malam haripun mulai menjelang di depan mata.

“Adik Ling, apa kau sudah bangun??”tiba-tiba terdengar suara yang amat halus dari Gak Siauw-cha berkumandang datang.

Dengan hati yang tergetar amat keras Siauw Ling segera menoleh ke arahnya.

Tampak Gak Siauw-cha bersandar di atas sebuah batu gunung yang besar. Wajahnya kelihatan amat lelah sekali tubuhnya penuh dengan noda-noda darah sedang rambutnya awut-awutan tidak karuan. Air mukanya pucat sekali bagaikan mayat, setelah tersenyum ke arah Siauw Ling dia lantas menutup kembali matanya.

Sewaktu melihat pula ke arah diri Thio-kan tampaklah tubuhnya rebah di atas tanah dengan berlumuran darah, tangannya sudah terpotong sebelah dan saat ini sudah memejamkan matanya rapat-rapat sambil mencekal goloknya dengan tangan yang lain agaknya dia sudah tertidur pulas.

0 Response to "Rahasia Kunci Wasiat Bagian 04"

Post a Comment