Rahasia Istana Terlarang Jilid 14

Mode Malam
JILID 14

Bibir Siauw Ling bergetar mau bicara, namun ia batalkan niat itu.

“Saudaraku, apa yang hendak kau katakan?” Kiem Hoa Hujien segera menegur.

“Karena hendak menolong aku, kau jadi begini. Aaaai…. suruh aku bagaimana buka suara?”

“Tidak mengapa, katakanlah apa yang ingin kau utarakan!”

“Boe Wie Tootiang mempunyai satu cara yang bagus….”

“Bukan cara bagus, boleh dibilang caraku itu adalah cara yang paling bodoh” tukas Boe Wie Tootiang.

“Walaupun cara ini bisa menolong jiwa cici” Siauw Ling melanjutkan. “Tapi ilmu silat yang kau miliki harus dimusnahkan lebih dahulu. Entah bagaimana menurut pendapat cici?”

“Memusnahkan ilmu silat bagiku jauh lebih parah daripada kehilangan selembar jiwaku. Lebih baik tak usah saja!”

“Oleh sebab itulah cayhe tidak berani ambil keputusan dan mempersilahkan cici untuk menentukan sendiri pilihan ini.”

Kiem Hoa Hujien tertawa.

“Aku tidak ingin mati tapi akupun tidak ingin kehilangan ilmu silatku. Maka dari itu sebelum tengah hari besok aku harus tinggalkan tempat ini dan kembali keperkampungan Pek Hoa San cung, dengan menggunakan kesempatan selama setengah malam serta setengah hari besok, aku ingin duduk bersemedi dan berusaha memulihkan kembali sedikit tenagaku.”

“Sayang sudah terlambat, pada saat ini bukan saja hujien tak dapat melakukan perjalanan, bahkan mengatur pernapasanpun akan mengakibatkan keadaan lukamu akan semakin bertambah parah. Satu-satunya jalan yang paling baik pada saat ini adalah tidur dengan tenang.”

“Benarkah ucapanmu itu?” mendadak Kiem Hoa Hujien bangun berdiri.

“Bukankah pada saat ini hujien merasakan badanmu kian lama kian merasa lelah?”

“Sedikitpun tidak salah.”

“Kalau begitu ucapan pinto tadi tidak salah lagi!”

Mendadak Kiem Hoa Hujien mengempos tenaga dan berkata, “Kalau memang demikian adanya, malam ini juga aku harus berangkat.”

“Hujien tunggu dulu, menurut pemeriksaan pinto atas denyutan nadi hujien, sulit bagimu untuk melawan seratus li, sebab luka kamu akan kambuh dan ada kemungkinan bisa mencabut nyawamu.”

“Sekalipun bagitu, aku harus mencobanya dengan menempuh bahaya!”

“Kalau tidak akan mempunyai kesempatan sepersepuluh untuk hidup, tak usah bertaru!”

“Tootiang, seandainya kita menggunakan sebuah pembaringan lunak dan membiarkan dia tidur diatasnya lalu kita gotong keperkampungan Pek Hoa San cung, terhadap luka yang dideritanya mendatangkan gangguan?” sela Siauw Ling.

“Itu sih tidak mengapa.”

“Kalau begitu, harap cici tunggu sejenak, akan kuhantar dirimu pulang….”

“Kau hendak pergi keperkampungan Pek Hoa San cung?” tanya Soen Put shia menegaskan.

“Aku hanya akan mangantar dia sampai sepuluh li dari perkampungan, setelah itu aku segera kembali.”

“Siauw thayhiap, aku telah melupakan satu persoalan.”

“Persoalan apa?”

“Siauw thayhiap baru saja sembuh dari luka parah, kau belum mampu untuk melakukan perjalanan jauh.”

Kiem Hoa Hujien yang mendengarkan pembicaraan itu, tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh.

“Saudara Siauw, dalam hati aku sudah merasa sangat berterima kasih atas perhatianmu yang mendalam terhadap diriku, memang betul seandainya kau yang menghantar diriku, perjalanan ini terlalu bahaya. Kau harus tahu Shen Bok Hong punya mata-mata yang tersebar luas dimana-mana, seandainya kejadian ini sampai diketahui olehnya, bukan saja kau akan repot aku sendiripun bakal celaka.”

“Tapi…. cici! bukankah kau tak dapat melakukan perjalanan….”

“Tidak mengapa. Asal aku mampu berjalan sejauh seratus li, sekalipun akhirnya menggeletak. Mungkin diriku bakal ditemukan oleh mata-mata Shen Bok Hong. Pada saat ini ia masih amat membutuhkan tenagaku. Aku rasa ia pasti akan berusaha untuk menyelamatkan jiwaku….”

Bicara sampai disitu ia merandek sejenak, kemudian dengan nada sedih tambahnya, “Kau harus baik-baik berjaga diri, cici akan pergi. Semoga saja dikemudian hari kita masih punya kesempatan untuk saling berjumpa muka!”

Bicara sampai disitu, tanpa berpaling lagi ia enjotkan badan dan melayang keluar dari ruangan.

Siauw Ling ingin mengejar keluar, namun ia segera dihalangi oleh Soen Put shia.

“Saudara Siauw, apa yang dikatakan Kiem Hoa Hujien sedikitpun tidak salah….” katanya. “Seandainya kau yang mengantar dirinya, bukan saja bakal mencelakai diri sendiri bahkan akan mencelakai pula dirinya.”

Mendadak terdengar Lok Kian Thay berkata sambil melangkah kearah pintu, “Budakpun harus berangkat pulang, sebab kalau perbuatanku ini sampai diketahui oleh Coen cu, niscaya jiwaku bakal melayang.”

“Kalau memang jiwamu terancam, mengapa kau hendak pulang lagi kesana?”

“Aaai…. peraturan dari istana es kami amat ketat, apabila ada orang berani melarikan diri, dia pasti akan dikejar dan dibunuh, maka dari itu bagaimanapun juga budak harus segera kembali.”

Sinar matanya beralih keatas wajah Siauw Ling dan menambahkan, “Apabila dikemudian hari Siauw siangkong berhasil berjumpa dengan nona kami, harap suka baik-baik melayani dirinya.”

Iapun enjotkan badan dan berlalu dari sana menyusul dibelakang Kiem Hoa Hujien.

Memandang kearah bayangan punggung Lok Kian Thay yang mulai lenyap dari pandangan, Soen Put shia menghela napas.

“Aaai…. hati kaum wanita, memang sulit diduga…. sampai-sampai aku sipengemis tuapun jadi tidak habis mengerti!”

Boe Wie Tootiangpun menghembuskan napas panjang pula, perlahan dia berpaling kearah Siauw Ling dan bertanya, “Siauw thayhiap, bagaimana keadaan lukamu?”

“Hawa dingin telah lenyap dari badan, kekuatan dalamkupun mulai terkumpul kembali aku rasa sebagian besar kesehatanku telah pulih kembali.”

“Aaai…. kalau begitu bagus sekali, dengan demikian pintopun dapat melepaskan satu tanggung jawab yang maha besar.”

“Tootiang!” mendadak Soen put shia menyela. “Apakah kau bersiap sedia hendak melangsungkan pertarungan mati-matian dengan Shen Bok Hong ditempat ini?”

Boe Wie Tootiang termenung berpikir sejenak kemudian baru menjawab, “Pinto menyadari bahwasanya dengan andalkan kekuatan Bu tong pay kami saja, jangan harap bisa menandingi kekuatan perkampungan Pek Hoa San cung. Sekalipun kita sudah mendapatkan bantuan dari dua tiga orang sahabat, keadaan kita tetap bagaikan telur membentur batu, sulit untuk mencari kemenangan. Tetapi situasi yang terbentang didepan mata kita dewasa ini amat mendesak, apabila kita tidak bangkit untuk melawan, satu-satunya jalan untuk cari selamat hanyalah menyerah saja.”

“Bukankah tootiang telah mengurus orang untuk menghubungi orang-orang dari sebilan partai besar dan mohon mereka kirim orang unutk membantu diri tootiang?”

“Aaai…. memang benar! meski kekuatan Shen Bok Hong amat kuat, seandainya sembilan partai besar suka mengirim jago-jagonya, sekalipun tak bisa menang paling sedikit kita bisa mengimbangi kekuatan mereka. Tapi sayang….” berbicara sampai disitu mendadak ia membungkam.

“Kenapa? apakah sembilan partai besar tidak mau kirim jago-jagonya untuk membantu kita?”

“Sekalipun permintaanku tidak sampai ditolak namun bantuan merekapun tidak sungguh-sungguh. Aaai…. sembilan partai hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, bukankah tindakan mereka itu justru merupakan apa yang diharapkan oleh Shen Bok Hong? bila demikian terus keadaannya, sembilan partai satu demi satubakal dihantam oleh mereka hingga hancur lebut….”

“Ehmm, ucapan ini sedikitpun tidak salah lalu apa cara tootiang untuk mengatasi persoalan ini?”

“Walaupun selama seratus tahun belakangan, antara anggota sembilan partai besar tidak pernah terjadi peristiwa bentrokan besar, bentrokan kecil tak bisa dihindari sering terjadi. Disamping itu dari antara partai tidak pernah muncul seorang manusia berbakat yang bisa dihormati partai lain. Hal ini mengakibatkan hubungan antara partai besar kian lama kian bertambah adem dan jauh. Terutama sekali partai Siauw Lim, boleh dibilang selama berhubungan dengan partai-partai lain….”

“Menurut apa yang aku pengemis tua ketahui” sela Soen put shia. “Tootiang mempunyai hubungan pribadi yang sangat intim sekali dengan ciangbunjien dari partai Siauw lim dewasa ini, apakah berita kangouw ini tidak betul.”

“Sekalipun pinto mempunyai hubungan pribadi yang intim dengan Siauw lim ciangbunjien tidak berani mengambil tindakan secara menyendiri….” ia merandek sejenak, lalu terusnya. “Bagaimanapun juga hubungan pribadi, setelah menjumpai keadaan kritis yang amat serius, pinto rasa hubungan pribadi tak bisa mengatasi hal ini.”

Saking sedihnya, habis berkata ia menghela napas panjang.

“Sembilan partai besar sama-sama menutup diri dan tidak mau saling membantu, bukankah tindakan ini sama halnya mencari kehancuran buat diri sendiri.”

“Tak usah kita bicarakan persoalan itu” sela Siauw Ling. “Persoalan paling penting pada saat ini adalah bagaimana caranya menghadapi musuh tangguh.”

Ia merandek sejenak, kemudian terusnya, “Ada satu persoalan, cayhe merasa kurang begitu jelas, dapatkah tootiang memberi petunjuk?”

“Persoalan apa?”

“Darimana Kiem Hoa Hujien bisa sampai disini?”

Boe Wie Tootiang berpikir sejenak, akhirnya ia ceritakan kisah yang sebenarnya kepada si anak muda itu.

“Apa sebabnya Shen Bok Hong bisa membubarkan para jagonya secara mendadak….” tanya Siauw Ling keheranan setelah habis mendengarkan kisah tersebut.

“Aku sipengemis tuapun merasa tidak mengerti!”

“Menurut dugaan pinto, satu-satunya hal yang patut dicurigai adalah irama musik itu, Shen Bok Hong kelihatan amat terperanjat setelah mendengar irama musik itu, begitu gugup dia sampai semangat tempurnya rontok dan buru-buru melarikan diri.”

“Tootiang, bukankah kau pandai dalam hal ilmu musik? dapatkah kau bedakan irama musik itu berasal dari alat musik apa?”

“Mirip seruling tapi kalau didengar lagi tidak, rupanya irama itu berasal dari gabungan dua jenis alat musik….”

“Sungguh aneh sekali, aku pengemis tua sudah putar otak tetapi belum berhasil juga menemukan seornag jago Bulim yang bisa memukul mundur musuhnya dengan irama musik!”

“Peristiwa ini memang rada aneh!” Siauw Ling mengangguk. “Sewaktu cayhe masih belajar silat tempo dulu, banyak persoalan yang mengenai para jago Bulim telah kudengar, namun belum pernah kudengar ada jago yang bisa memukul mundur musuhnya dengan irama musik.”

“Pada saat dan tempat seperti ini tidak pantas bagi kita untuk membicarakan persoalan ini, kita harus pulang dan melihat keadaan!”

Siauw Lingpun tidak banyak bicara lagi, ia ambil keluar sekeping emas murni dan diletakkan diatas meja. Setelah memadamkan api lilin ia berlalu terlebih dulu, dari ruangan itu.

Soen Put shia segera menyusul dari belakang si anak muda itu, seraya mencekal pergelangan tangan kirinya ia tertawa dan berkata, “Kesehatan badan saudara Siauw belum pulih seperti sedia kala, lebih baik aku pengemis tua bantu dirimu!”

Siauw Lingpun tidak menolak, sepanjang perjalanan ia melakukan perjalanan cepat. Sebab telah mengetahui ada orang yang bisa pukul mundur Shen Bok Hong dengan irama musik, dia lantas menguatirkan keselamatan kedua orang tuanya.

Setibanya ditepi telaga, terlihatlah Im Yang cu dengan membawa empat orang toosu berusia setengah baya telah menantikan kedatangan mereka disitu.

“Apakah sudah terjadi perubahan lain?” tanya Boe Wie Tootiang setibanya disamping sutenya itu.

“Semuanya aman, tidak nampak ada musuh menyerang kemari lagi!”

“Apakah tootiang telah berjumpa dengan ayah, ibuku?” sela Siauw Ling cemas.

“Pinto mengerti akan pentingnya kedua orang tua itu bagi Shen Bok Hong, maka sebelum terjadinya peristiwa tadi pinto telah mohon bantuan Tiong Chiu Siang Ku serta Suma Kan sekalian melindungi ayah ibumu untuk bersembunyi disuatu tempat yang aman diatas gunung.”

“Mereka sudah kembali?”

“Belum, mungkin masih ada diatas gunung.”

Siauw Ling mendehem perlahan, tanpa banyak bicara lagi tubuhnya meloncat naik keatas perahu.

Boe Wie Tootiang, Soen Put shia serta Siauw Ling menggunakan sebuah sampan yang sama, sedangkan Im Yang cu dengan keempat toosu lainnya naik sampan lain.

Selama ini Siauw Ling terus mengkuatirkan keselamatan kedua orang tuanya, ingin sekali ia cepat-cepat menjumpai ayah serta ibunya. Maka itu meskipun sampan bergerak cepat tapi ia merasa kurang, bahkan turun tangan sendiri untuk mendayung sampan tersebut.

Setibanya ditepi daratan, tanpa menunggu Soen Put shia lagi si anak muda itu langsung lari menuju kekamar orang tuanya.

Tampak pintu terbuka lebar, suasana dalam ruangan gelap gulita tidak terlihat sedikit sinarpun.

“Ada orang didalam?” Siauw Ling segera menegur.

“Siauw siangkong yang ada diluar?” siara Kim Lan berkumandang keluar dari dalam ruangan.

“Tidak salah, apakah orang tuaku belum kembali?”

Cahaya lampu berkilat dalam ruangan disusul munculnya Kim Lan dengan pakaian ringan serta menyoren pedang dari balik kegelapan.

“Looya serta hujien telah bersembunyi diatas gunung dibawah perlindungan Sang ya serta Tu ya sekalian.” sahutnya.

“Tahukah kau asat ini mereka berada dimana?”

Kim Lan menggeleng.

Siauw Ling segera berpaling kebelakang, saat itu Soen Put shia serta Im Yang cu berdiri berjajar diluar pintu. Segera tanyanya kembali, “Apakah tootiang tahu?”

“Harap Siauw thayhiap legakan hatimu” kata Im Yang cu sambil tertawa. “Pinto tanggung kedua orang tuamu berada dalam keadaan sehat walafiat tanpa kekurangan sedikit apapun juga.”

“Cayhe mengerti betapa teliti dan cermatnya tootiang bekerja, namun sebelum bertemu sendiri dengan kedua orang tuaku. Cayhe tetap merasa tidak tenteram.”

“Pinto sudah kirim orang untuk melepaskan tanda rahsia dan memanggil mereka kembali.”

“Apabila tootiang tahu letak tempat persembunyian itu, lebih baik bawalah cayhe kesitu!”

“Untuk mewujudkan kebaktian Siauw thayhiap terhadap orang tuamu, sepantasnya pinto tidak menampik permintaanmu itu, tapi menurut perhitungan pinto, pada saat ini Tiong Chiu Siang ku semestinya sudah menerima tanda kemudian membawa kedua orabng tuamu turun gunung. Seandainya kita harus naik sendiri kesitu dan bila sampai salah jalan, bukankah keadaan malahan sebaliknya?”

Mendengar perkataan itu akhirnya Siauw Ling menghela napas panjang.

“Baiklah! kalau bagitu kita tunggu saja disini. Tapi beberapa waktu harus mereka butuhkan untuk sampai disini?”

“Paling banter tidak sampai melewati satu jam.”

Perlahan-lahan Siauw Ling berjalan masuk kedalam kamar kedua orang tuanya, menyulut lilin dan duduk termangu-mangu disitu.

Im Yang cu mengerti keadaan orang, setelah dua kali orang tuanya ditawan si anak muda ini jadi ketakutan setengah mati. Maka iapun tidak banyak bicara dan duduk membungkam disitu.

Sebatang lilin sudah hampir habis, namun Tiong Chiu Siang Ku serta Siauw thayjien suami istri yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang juga. Kim Lan muncul untuk menggantika lilin yang hampir padam dengan sebatang lilin baru, kemudian perlahan-lahan mengundurkan diri kesamping pintu.

Siauw Ling berusaha menahan sabar, namun akhirnya ia tak kuat menunggu lebih jauh, tiba-tiba tanyanya, “Tootiang sudah berapa lama kita menunggu?”

“Belum sampai satu jam!”

Siauw Ling mendehem, bibirnya bergerak seperti mau bicara namun akhirnya ia batalkan kembali niat tersebut.

Diluar Im Yang cu bicara ringan padahal dalam hati diapun merasa keadaan tidak beres, sambil bangun berdiri ujarnya, “Harap Siauw thayhiap duduk sejenak disini, pinto akan pergi menanyakan persoalan ini kepada petugas penyampai berita.”

Tidak menunggu jawaban dari Siauw Ling lagi ia segera meloncat dari ruangan.

Baru saja Im Yang cu tiba didepan pintu, sesosok bayangan manusia bagaikan seekor burung langsung menyusup masuk kedalam sehingga hampir saja bertumbukan dengan toosu tersebut.

Dengan sabar Im yang cu mengepos kemsaping, kemudian tangannya bergerak cepat mencengkeram pergelangan kiri orang itu.

Siauw Ling pun dengan cepat meloncat bangun, sinar matanya melotot kearah orang itu dengan sinar tajam.

Ternyata orang yang baru saja datang bukan lain adalah seorang toosu Bu tong pay menyoren pedang.

“Ada urusan apa? mengapa kau datang tergesa-gesa?” tegur Im Yang cu sambil melepaskan pergelangan orang itu.

Toojien itu menjura lebih dahulu kepada Im Yang cu kemudian menjawab, “Teecu datang datang membawa perintah kilat, karena harus berlari cepat sepanjang perjalanan kesadaran teecu jadi agak berkurang, keteledoran tadi harap suka susiok maafkan.”

“Ada urusan apa? cepat katakan!” seru Siauw Ling sambil meloncat kemuka.

“Teecu mendapat tugas untuk menjaga disuatu sudut gunung….”

“Apakah kedua orang tuaku ditawan orang!”

“Teecu mendapat tugas berjaga diatas gunung tapi entah apa sebabnya jalan darahku tahu-tahu sudah ditotok orang.”

“Lalu bagaimana selanjutnya?” tanyanya dengan wajah berubah hebat. “Bagaimana caranya kau lepaskan diri dari pengaruh totokan?”

“Tecu dibebaskan dari pengaruh totokan oleh ciangbun suhu, setelah bertanya atas peristiwa yang sudah terjadi beliau perintahkan tecu untuk melaporkan kejadian ini kepada susiok serta Siauw thayhiap, setelah itu beliau naik keatas gunung!”

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat kegelisahan Siauw Ling malahan berbalik jadi tenang, bisiknya kepada orang itu, “Sepanjang perjalanan kau harus berlari cepat, badanmu tentu merasa amat payah. Beristirahatlah lebih dahulu!”

Toojien itu mengangguk, setelah memberi hormat kepada Im Yang cu serta Siauw Ling ia segera mengundurkan diri.

Sepeninggalnya toosu tadi, Im Yang cu mendongak keatas memandang awan yang bergerak lalu menghela napas panjang.

“Aaaai…. sungguh tak nyana betul-betul telah terjadi perubahan. peristiwa ini amat membuat pinto merasa menyesal.”

“Kejadian sudah jadi begini, tootiangpun tak usah terlalu menyesali diri, bagaimana kalau kita naik kegunung untuk melihat kesana?”

Im Yang cu mengangguk, ia segera berlari lebih dahulu meninggalkan ruangan itu.

Ilmu peringan tubuh yang dimiliki kedua orang ini amat sempurna, dalam sekejap mata tujuh delapan li sudah dilewati tanpa terasa. Waktu itu fajar telah menyingsing, pemandangan disekeliling tempat itu dapat terlihat dengan amat jelas.

Mendadak Im Yang cu menghentikan langkahnya dan mengalihkan pandangan ketengah semak belukar disisi jalan.

“Apakah tootiang sudah salah jalan?” tanya Siauw Ling.

Im Yang cu geleng kepala ia melangkah kearah semak dan menggusur keluar seorang toojien setengah baya, setelah diperiksa sejenak telapaknya langsung menepuk punggung itu.

Terdengar toojien tadi menghela napas panjang dan perlahan-lahan membuka mata tatkala menjumpai Im Yang cu ada disitu buru-buru ia meronta bangun memberi hormat.

“Tak usah banyak adat” tukas Im Yang cu dengan nada berat. “Ceritakan peristiwa yang terjadi?”

“Tecu mendapat tugas berjaga-jaga disini siapa duga jalan darahku tertotok, untuk susiok telah datang menolong tecu.”

“Siapa yang telah menotok jalan darahmu?”

“Tecu hanya mendengar ujung baju tersampok angin, belum sempat berpaling jalan darah tecu sudah tertotok.”

Im Yang cu termenung sejenak, kemudian berpaling kearah Siauw Ling dan berkata, “Siauw thayhiap, rupanya orang yang melancarkan serangan totokan itu sama sekali tiada maksud melukai orang, terbukti dari totokannya yang ringan, berbicara dari kenyataan ini pinto duga orang itu pasti bukan Shen Bok Hong.”

“Aaaai…. justru yang aneh kecuali Shen Bok Hong, siapa lagi yang ada menangkap orang tua cayhe?”

Im Yang cu ulapkan tangannya kearah toojien itu seraya berkata, “Disini tiada urusanmu lagi, turunlah kebawah sana.”

Toojien mengiakan, ia segera putar badan dan berlalu.

Sepeninggalan toosu tersebut, Im Yang cu segera berpaling kearah Siauw Ling dan melanjutkan, “Biasanya perbuatan orang-orang perkampungan Pek Hoa San cung keji dan telengas, tidak mungkin mereka ampuni jiwa murid partai kami. Ehm kejadian ini memang rada aneh.”

Sementara mereka masih bercakap-cakap, tampaklah Boe Wie Tootiang dengan membawa Tiong Chiu Siang Ku serta siperamal sakti dari Tng hay, Suma Kan buru-buru lari mendekat.

Setelah menyaksikan sepasang pedagang dari siong chiau beberapa dalam keadaan sehat walafiat, Siauw Ling merasakan hatinya rada lega.

Tiong chiu Siang Ku langsung menghampiri anak muda itu, mendadak mereka menjatuhkan diri berlutut dan berseru, “Siauwte sekalian patut dihukum mati, harap toako suka menjatuhkan hukuman!”

“Harap saudara berdua cepat berdiri, ceritakan sejelasnya peristiwa yang telah terjadi” buru-buru Siauw Ling membangunkan mereka.

Sang Pat menghela napas panjang ujarnya, “Siauwte membawa dua orang tua bersembunyi didalam sebuah goa batu, setelah itu siauwte berjaga didalam goa sedang Tu heng berjaga diluar goa. Ketika tengah malam telah tiba mendadak siauwte dan Tu heng jatuh roboh ketanah, siauwte segera menerjang keluar dari dalam goa. Sedikitpun tidak salah, diluar goa berdirilah seorang manusia berkerudung memakai baju berwarna hitam. Jalan darah saudara Tu telah tertotok dan menggeletak disisi jalan.”

“Kau sempat bertarung dengan orang itu?”

“Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat siauwte jadi gugup dan kaget, siauwte hanya mencurahkan seluruh perhatian kearah musuh didepan, siapa sangka dari belakang mendadak datang serangan bokongan, bukan saja serangan itu cepat juga lihay sekali. Sebelum siauwte sempat melawan, jalan darahkupun ikut tertotok.”

Siauw Ling segera mengalihkan sinar matanya kearah Tu Kioe dan bertanya, “Apakah saudara Tu sempat melihat jelas wajah orang itu?”

“Aaaaai kalau dibicarakan sungguh menyesal sekali, jalan darah siauwte kena tertotok oleh senjata rahasia lawan.”

“Kepandaian tersebut jelas merupakan ilmu totok dengan biji kedelai yang sangat lihay, seandainya tenaga kweekang yang dimiliki tidak sempurna, tidak nanti bisa menggunakan. Apalagi ia turun tangan terhadap Tu heng yang lihay.”

Siauw Ling alihkan sinar matanya kearah Suma Kan dan bertanya, “Apakah Suma heng berhasil menyaksikan bentuk musuh yang datang menyerang?”

“Aaai…. kalau dibicarakan sungguh memalukan sekali. Siauwte berjaga dibelakang Sang heng. Tatkala Sang heng keluar dari goa siauwte sudah waspada dan mempersiapkan diri….” ia menghela napas panjang lalu melanjutkan. “Dalam dugaan siauwte, sekalipun Sang heng dan Tu heng telah bertemu dengan musuh tangguh, paling sedikit mereka bakal melangsungkan pertarungan sampai puluhan gebrakan, siapa duga pihak lawan ternyata aneh dan tangguh. Siauwte hanya menyaksikan sesosok bayangan manusia melayang masuk, semula aku masih mengira Sang heng yang masuk baru saja menyangka tahu-tahu pihak lawan dengan menggunakan petunjuk suara siauwte tadilah mengayunkan tangannya menyambit beberapa batang senjata rahasia, walaupun siauwte berhasil menghindarkan diri dari beberapa batang senjata rahasia, namun akhirnya aku roboh juga….”

“Kalau begitu Suma hengpun roboh karena terhantam senjata rahasia yang dilepaskan dengan ilmu Ta lip Ta hiat.”

“Mungkin disebabkan suasana dalam goa terlalu gelap, kurang tepat ia mengarah jalan darahku. Dengan demikian meski siauwte kena terhajar tapi jalan darahku tak sampai terkena, aku masih punya kemampuan buat bertempur….”

“Jadi Suma heng sempat bergebrak melawan orang itu?”

“Baru bertarung dua jurus, halan darah siauwte telah kena ditotok orang.”

“Suma heng terluka lebih dahulu oleh senjata rahasia lawan, kemudiam baru bertempur, kerugian ini kau derita lebih dahulu tentu saja keadaanmu yang tidak menguntungkan.”

Suma Kan tertawa getir.

“Meski demikian, tetapi ilmu silat yang dimiliki orang itu betul-betul sangat lihay, ini alasan yang kuat bagi kemenangannya. Siauwte yakin dikolong langit belum tentu ada beberapa orang yang sanggup menotok jalan darahku dalam dua gebrakan belaka.”

“Apakah kedua orang tuaku ditawan orang?” tanya Siauw Ling setelah termenung sejenak.

“Setelah jalan darah siauwte tertotok, goa itu tidak ada yang menjaganya lagi. Sudah tentu ayah serta ibunya….”

“Ketika pinto tiba didalam goa itu, bukan saja kedua orang tua itu sudah lenyap, bahkan Giok Lan pun ikut hilang” sambung Boe Wie Tootiang.

“Apakah tootiang berhasil mendapatkan senjata rahasia yang digunakan orang itu.”

Perlahan-lahan dari dalam sakunya Boe Wie Tootiang ambil keluar dua butir senjata rahasia sebesar kacang kedele, sambil diangsurkan kemuka ujarnya, “Apakah Siauw thayhiap kenal dengan senjata rahasia semacam ini?”

“Tidak kenal!” sahut si anak muda itu setelah dipandang sejenak.

“Benda ini disebut Paouw ti cu, sejenis senjata rahasia yang khusus digunakan untuk menotok jalan darah!”

“Tahukah tootiang jagoan manakah yang dewasa ini yang sering menggunakan benda ini sebagai senjata rahasia?”

“Menurut ingatan pinto dalam dunia persilatan memang ada orang yang biasanya menggunakan benda tersebut sebagai senjata rahasia, namun orang itu sudah terkurung didalam istana terlarang….”

“Istana terlarang belum terbuka, tentu saja orang itu tidak mungkin bisa muncul kembali didalam dunia persilatan.”

“Justru disebabkan persoalan inilah, pinto merasa bimbang dan ragu.”

“Apakah orang itu punya murid?”

“Menurut pengetahuan pinto, orang itu belum pernah menerima murid….”

Ia merandek sejenak kemudian sambungnya lebih lanjut, “Masih ada satu persoalan lagi yang cukup membuat pusing kepala, rupanya tujuan dari orang itu hanya ayah serta ibunya belaka, terhadap murid-murid partai kami yang disekeliling tempat ini sama sekali tidak turun tangan keji, meski ada tujuh orang yang kena ditotok jalan darahnya namun mereka sama sekali tidak terluka. jelas perbuatan ini bukan dilakukan oleh orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Masih ada satu persoalan lagi yang cukup aneh” Suma Kan menambah dari samping. “Darimana orang itu bisa tahu kalau kita bersembunyi didalam goa batu itu.”

Boe Wie Tootiang segera berpaling kearah Im Yang cu dan bertanya, “Kecuali kau serta aku yang tahu letak goa batu tersebut, siapa lagi diantara anggota Bu tong pay kita yang mengetahui hal ini?”

“Mungkin sam te juga tahu akan letak tempat ini.”

“Selain sam te?”

“Selain sam te cuma dua orang bocah yang mendampingi toa suheng saja yang tahu urusan ini.”

“Siauw heng tidak percaya kalau mereka bisa membocorkan rahasia ini pada orang lain.”

“Tootiang” tiba-tiba Siauw Ling menyela. “Dalam hati cayhe terdapat satu persoalan yang rasanya tidak enak kalau tidak kuutarakan kelkuar.”

“Silahkan Siauw thayhiap utarakan persoalanmu itu.”

“Shen Bok Hong telah menyusupkan mata-matanya kedalam tubuh setiap partai besar, menurut apa yang cayhe ketahui partai kalianpun tidak terkecuali.”

“Apa? benarkah ada kejadian seperti ini?” tanya Boe Wie Tootiang tertegun.

“Aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu salah tak bakal salah lagi.”

“Pinto akan segera kumpulkan segenap anggota partai kami, apakah Siauw thahyhiap dapat menunjukkan siapa orang itu?”

Dengan cepat Siauw Ling menggeleng.

“Tatkala Shen Bok Hong mengumpulkan mereka waktu itu terjadi ditengah malam buta, sebagai sam cung cu dari perkampungan Pek Hoa san cung, cayhe mendapat kesempatan untuk menemui mereka, cuma sayang setiap orang yang hadir dalam pertemuan itu pada memakai kain kerudung, sehingga cayhe mesti tahu peristiwa ini sukar untuk menunjukkan orangnya.”

“Apakah Siauw thayhiap tahu akan nama-nama mereka?” tanya toosu tua itu lagi setelah termenung sejenak.

“Tidak tahu!”

Sementara mereka masih bercakap-cakap terlihatlah Soen Put shia laksana kilat cepatnya meluncur datang.

“Jika perkataan Siauw thayhiap tidak salah mata-mata tersebut bukan baru sehari dua hari menyusup kedalam tubuh partai Bu tong kita” kata Im Yang cu. “Toa suheng tak perlu gelisah, setelah kita mengetahui akan kejadian ini, asal dikemudian hari kita bertindak lebih hati-hati rasanya tidak sulit untuk menemukan jejaknya!”

Terdengar ujung baju tersampok angin, sambil berseru Soen Put shia telah tiba dihadapan beberapa orang itu.

“Perbuatan ini pasti bukan dilakukan oleh orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Apakah loocianpwee berhasil menemukan titik terang?”

“Coba kalian lihat dulu benda ini, kemudian baru aku pengemis tua ceritakan kejadiannya” sahut Soen Put shia seraya ambil keluar secarik kertas dalam saku.

Boe Wie Tootiang terima kertas itu dan membaca isinya.

“Shen Bok Hong selalu berdaya upaya hendak menangkap dua orang tua itu agar dikemudian hari bisa digunakan untuk memaksa Siauw Ling tunduk pada perintah-perintahnya, Agar kesemuanya ini teratasi dan demi keselamatan dari kedua orang itu, untuk sementara waktu mereka kusembunyikan disuatu tempat yang aman. Semoga kalian mengetahui.”

Tulisan itu awut-awutan, jelas ditulis dalam keadaan tergesa-gesa.

Boe Wie Tootiang angsurkan surat tadi ketangan Siauw Ling, kemudian tanyanya, “Loocianpwee dapatkan surat ini darimana?”

“Tatkala cuwi sekalian memeriksa goa batu itu, aku pengemis tua naik keatas puncak yang tertinggal disekitar tempat itu untuk memeriksa keadaan empat penjuru, sedikitpun tidak salah kulihat sesosok bayangan manusia sedang lari kearah selatan. Setelah menyaksikan titik terang ini dengan kerahkan segenap tenaga aku pengemis tua segera mengejar.”

“Loocianpwee berhasil menyusul orang itu?” tanya Siauw Ling.

“Kalau dibicarakan dari ilmu peringan tubuh yang dimiliki orang itu, sebenarnya aku pengemis tua tak akan mampu mengejar, masih untung dia tidak menyadari bahwa aku pengemis tua sedang membuntuti dibelakangnya. Menanti ia merasakan hal ini, aku pengemis tua telah berada lima tombak dibelakang tubuhnya.”

Im Yang cu tahu sampai dimana kepandaian silat yang dimiliki pengemis ini, tak tahan ia bertanya, “Dengan tenaga kweekang yang dimiliki loocianpwee, setelah berhasil menyusul sampai lima tombak dibelakangnya, tentu orang itu tak berhasil meloloskan diri, bukan?”

“Setelah ia mengetahui bahwa aku mengejarnya, ia segera mempercepat larinya. Aku tak sudi melepaskan mangsaku begitu saja. Maka dalam sekejap mata enam tujuh bukit telah kami lalui. Ilmu peringan tubuh orang-orang itu betul-betul luar biasa, walaupun aku sudah mengejarnya hingga melewati delapan buah bukit, jarak kami masih tetap terpaut sampai beberapa tombak.”

“Apakah loocianpwee kemudian melepaskan dia setelah dia melepaskan surat ini kepadamu?” Boe Wie Tootiang nyeletuk.

Soen Put shia menggeleng.

“Melihat keadaan tak menguntungkan, aku main gertak, aku bilang: “Walaupun kau lari sampai keujung langit dasar samudra, naik turun kebumi aku pengemis tua akan terus mengejar dirimu, walaupun harus mengejar selama delapan sepuluh tahunpun aku tidak akan ambil perduli!” mungkin orang itu belum lama terjunkan diri kedalam dunia persilatan, setelah mendengar ancamanku itu mendadak ia berhenti.”

“Lalu loocianpee bergebrak dengan dirinya?”

“Tarung sih sudah tarung, tapi cuma beberapa puluh gebrakan belaka.”

“Orang itu berhasil loocianpwee bunuh?” Im Yang cu menyela.

“Eeeei…. kalau kalian tanya ini itu terus menerus, bagaimana aku pengemis tua itu bisa menjawab?”

“Perkataan loocianwpee sedikitpun tidak salah. Nah, berceritalah perlahan-lahan.”

“Tujuan aku pengemis tua memang ingin bergebrak dengan dirinya. Menyaksikan dia berhenti tentu saja aku lantas menubruk kedepan sungguh tak nyana jurus ilmu pedangnya amat lihay dan telengas, hampir-hampir saja aku sipengemis tua kena dikecundangi, semula aku ingin sekali merampas senjatanya lebih dulu lalu baru menangkap dirinya siapa sangka keinginanku sukar terkabulkan. Ah…. kemunculanku kedalam dunia persilatan kali ini benar-benar sudah berjumpa dengan banyak jagoan muda.”

Nadanya amat sedih, jelas ia merasa pedih setelah mengingat kejadian yang telah dialami selama ini.

“Apakah loocianpwee berhasil melihat tampang muka orang itu?” Siauw Ling bertanya.

“Tidak!”

“Kenapa?”

“Sebab ia memakai sebuah topeng yang menutupi wajah sebenarnya.”

“Kemudian? bagaimana selanjutnya?”

“Kami saling bertempur sampai beberapa puluh gebrakan, namun aku pengemis tua itu belum juga berhasil menemukan titik kelemahan dalam permainan ilmu pedangnya. Karena keadaan memaksa aku siap turun tangan keji, pasa saat itulah tiba-tiba muncul kembali seorang sahabatnya, ia melemparkan secarik kertas kepadaku setelah itu mereka berdua sama-sama pergi.”

“Loocianpwee melepaskan mereka dengan begitu saja?” sela Tu Kioe dengan suara dingin.

“Hahaha…. hahaha…. kau anggap aku orang yang suka menyudahi persoalan secara gampang? setelah kusambut kertas tersebut, kuteruskan pengejaranku. Rekannya yang baru datang tadipun memakai topeng diwajahnya tapi perawakan tubuhnya kurus kecil. Menurut perasaanku orang yang datang belakangan ini mirip seorang perempuan. Menanti kami saling bergebrak kembali, dugaanku segera terbukti, orang itu betul-betul seorang perempuan. Tetapi keganasan ilmu pedangnya jauh diatas sang pria, kerja saja permaian pedang mereka betul-betul luar biasa, aku pengemis tua sadar bahwa kekuatanku tak mungkin bisa menangkan mereka, terpaksa kubiarkan mereka melarikan diri.”

“Menurut pendapat pinto, jumlah musuh yang datang tidak banyak tapi mereka semuanya merupakan jago-jago lihay yang memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.”

“Begitulah pengalaman yang kualami, apakah cuwi sekalian mempunyai akal untuk mengejar jejak mereka?”

“Sayang kedua ekor anjingku berada dibawah gunung” Sang Pat berseru. “Kalau ada binatang-binatang itu mungkin kita berhasil menemukan jejak mereka.”

Siauw Ling yang mengalami kejadian ini merasa amat sedih, sambil menahan isak gumamnya, “Keadaan demikian jauh lebih baik ditawan oleh Shen Bok Hong, sedikit banyak kita masih punya tujuan untuk merebutnya kembali. Kini orang-orang itu bagaikan seekor naga yang kelihatan kepala tak kelihatan ekornya. Kemana kita harus mencarinya?”

Suma Kan yang selama ini diam saja, mendadak menyela, “Siauw heng, perhatikanlah gaya tulisan surat itu. Coba lihat apakah kau kenal?”

“Sama sekali tak kukenal!”

Kalau menurut kebiasaan orang Bulim dibawah setiap surat yang ditinggalkan pasti dicantumkan nama atau tanda pengenal, tapi orang ini tak meninggalkan suatu apapun jua.”

“Dilihat dari tulisannya yang ruwet dan tergesa-gesa ia sudah lupa mencantumkan namanya” Im Yang cu memberikan pendapat.

“Tiada guna kita membicarakan persoalan yang tak berguna ini” tukas Tu Kioe dengan nadanya yang khas. Dingin. “Kita kongkow sambil berpeluk tangan, lebih baik kubawa kemari kedua anjing harimau tersebut!”

“Betul, aku pengemis tua sudah tahu kearah mana mereka pergi, asal kedua ekor anjing yang kalian pelihara bisa berguna, rasanya tidak sulit untuk menemukan jejak mereka.”

“Bagus! kalau begitu kalian menanti disini, biarlah aku orang she Sang berdua pergi mengambil anjing.”

Sepeninggalnya Sang Pat dan Tu Kie, Boe Wie Tootiang perlahan-lahan mendekati Siauw Ling lalu ujarnya, “Siauw thayhiap, orang budiman selalu dilindungi Thian. Kedua orang tuamu mempunyai raut wajah rejeki dan panjang umur, tidak mungkin mereka jumpai mara bahaya yang mengancam jiwa. Pinto harap kau suka bangkitkan lagi semangatmu, kami segenap anggota Butong pay pasti akan membantu usaha pencarian ini dengan sekuat tenaga.”

“Peristiwa ini tak bisa salahkan diri tootiang!” sahut Siauw Ling terharu.

“Seandainya pinto tak punya pikiran begitu dan mengantar kedua orang tua itu bersembunyi diatas gunung, mungkin tidak akan terjadi peristiwa semacam ini.”

“Mereka datang dengan membawa rencana, meskipun tidak naik kegunung keadaan sama saja….”

Dibawah sorotan sinar matahari, tampak dua butir air mata berlinang dipipinya, ia menyambung, “Cayhe merasa sedih karena kedua orang tuaku bukanlah orang kangouw tapi mereka bisa terseret kedalam persoalan Bulim yang penuh dengan balas membalas, bunuh membunuh ini.”

“Meskipun saudara Siauw belum lama terjun kedalam dunia persilatan, tapi takdir menentukan namamu harus tersohor kedalam dunia persilatan dalam waktu yang singkat.”

“Kau harus tahu, setiap manusia mempunyai kesulitan masing-masing maka aku pengemis tua harap kau suka bangkitkan kembali semangatmu itu, sekalipun kini aku sipengemis tua sudah mengundurkan diri dari keramaian dunia kangouw, tetapi aku rela mempertaruhkan selembar jiwa tuaku ini untuk membantu dirimu menciptakan satu perbuatan yang besar…. perbuatan yang mulia bagi seluruh umat Bulim. Sebab bila aku bisa berbuat demikian matipun aku bisa mati meram….”

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Bukan begitu saja, aku pengemis tuapun hendak menggunakan sedikit nama serta kedudukan ini untuk mendatangkan beberapa orang pembantu bagimu, aku hendak perintahkan segenap anggota Kay pang untuk membantu dirimu.”

Ucapan ini menggetarkan hati Siauw Ling buru-buru ia menjura.

“Kemampuan serta kepandaian apakah yang boanpwee miliki? mana berani boanpwee terima semua kebaikan dari loocianpwee?”

“Haaa…. haaa…. kalau dibicarakan seolah-olah bantuanku ini memang kutujukan kepadamu, padahal aku berbuat demikian adalah demi kebaikan serta kebahagiaan seluruh umat Bulim. Bicara terus terang, aku sipengemis tua bukanlah membantu dirimu, sebaliknya malah menyeret kau terjun kedalam air.”

“Ucapan loocianwpee terlalu serius!”

“Persoalan paling penting yang kita hadapi pada saat ini adalah menemukan kembali kedua orang tuamu, kemudian berusaha mencari suatu tempat yang aman. Tempat yang tersembunyi dan rahasia letaknya bagi kedua orang tuamu, setelah urusan ini beres saudara Siauw baru bisa mencurahkan segenap perhatian serta tenaganya demi kebahagiaan umat Bulim.”

“Ucapan loocianpwee sedikitpun tidak salah” Boe Wie Tootiang membenarkan.

Sinar mata Soen Put shia dialihkan keatas wajah Siauw Ling, lalu ujarnya lagi, “Ditinjau dari pertarungan yang telah berlangsung antara aku sipengemis tua dengan mereka, jelas membuktikan bahwasanya kedua orang itu bukanlah manusia-manusia dari perkampungan Pek Hoa san cung.”

“Peristiwa ini benar-benar membuat cayhe jadi keheranan setengah mati, selain orang-orang dari perkampungan Pek Hoa San cung, siapa lagi hendak menangkap kedua orang tuaku?”

“Mungkinkah perbuatan dari Su Hay Koen cu?” mendadak Soen Put shia berseru.

“Tidak salah, kalau bukan perbuatan Shen Bok Hong, peristiwa ini pasti hasil karya dari Su hay Koen cu.”

“Kalau perbuatan ini benar-benar hasil karya dari Su hay Koen cu, waah…. kita bakal mengalami kesulitan untuk menemukan mereka kembali.”

“Pinto rasa tujuan orang-orang itu menculik kedua orang tua siauwhiap sama sekali tidak bermaskud jahat.”

“Seandainya tidak bermaksud jahat, apa sebebanya mereka gunakan cara yang demikian rendah untuk menculik mereka?”

“Pinto tidak berhasil menebak latar belakang dari perbuatan mereka itu, tapi pinto rasa dugaan tidak akan terpaut jauh.”

“Dengan dasar alasan apa tootiang berkata begitu?”

“Setiap anggota partai Bu tong kami yang bertugas disekeliling tempat ini pada roboh tertotok jalan darahnya, tetapi tak seorangpun yang menderita luka. Seandainya pemimpin mereka tak memebri pesan wanti-wanti, tidak nanti peristiwa bisa berlangsung seperti ini.”

“Persoalan seperti ini lebih baik tak usah diributkan lebih dahulu. Mari kita coba dulu apakah kedua orang anjing dari Tiong chiu Siang ku bisa menemukan jejak mereka atau tidak” tukas Soen put shia.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian dengan badan basah kuyup oleh keringat Tiong chiu Siang ku muncul kembali disitu diiringi kedua ekor anjingnya yang besar.

Soen Put shia melirik sekejap kedua ekor anjing itu, tatkala dilihat binatang itu kosen dan gagah segera ia berkata, “Aku lihat kedua ekor anjing ini kosen dan gagah, tapi dapatkah mereka dimintai bantuannya untuk menemukan jejak musuh?”

“Dengan mengandalkan kedua ekor anjing ini sudah banyak persoalan yang memusingkan kepala berhasil kami atasi, cuma saja dari kemarin malam hinga ini hari sudah banyak orang yang berlalu lalang disini, mungkin hal ini bisa mempengaruhi penciuman mereka. berhasilkah menemukan jejak mereka sukar dibicarkan, lebih baik kita lihat nasib saja….”

“Persoalan tak boleh diundur lagi, bagaimana kalau kita suruh anjing-anjing itu mulai mencari?”

“Baiklah” Sang Pat mengangguk. “Tapi terpaksa kita harus mohon bantuan Soen Loocianpwee untuk membawa jalan.”

“Kalau aku pengemis tua tahu kemanakah mereka lari, buat apa kuminta bantuan dari kedua ekor anjingmu?”

“Harap loocianpwee jangan menaruh salah paham” sela Tu Kioe ketus. “Kami hanya mohon kepada loocianpwee agar suka membawa menuju ketempat dimana kalian saling bergebrak tadi, kami hendak suruh anjing-anjing ini mencium dahulu bekas hawa badan orang itu, dengan dasar inilah mereka baru bisa melakukan pencarian.”

“Ooouw…. kiranya begitu!”

Demikianlah dibawah pimpinan Soen Put shia, para jago segera berlari melewati beberapa buah bukit, akhirnya sampailah mereka disuatu tempat lapang. Sambil berhenti pengemis itu berkata, “Disinilah kami saling bergebrak!”

“Harap loocianpwee periksa lebih dulu dengan seksama” ujar Sang Pat. “Sebab kalau kita salah mengenali tempat, kesalahan ini bisa mengakibatkan kita tersesat sampai ribuan li jauhnya.”

“Aku sipengemis tua masih ingat benar dengan tempat ini, coba lihat disitu ada sebidang tanah berumput tak bakal salah lagi.”

Mendengar perkataan itu Sang Pat lantas berjongkok kepada kedua ekor anjingnya ia perlihatkan beberapa gerakan, melihat gerak tangan majikannya anjing-anjing segera lari kearah tanah berumput itu dan mencium disekeliling sana. Kemudian dia tiba-tiba menubruk kearah Soen Put shia.

“Loocianpwee, jangan takut mereka hanya menciumi bau badanmu saja” buru-buru Tu Kioe menjelaskan.

“Kalau cuma dua ekor anjing sih, aku sipengemis tua tidak akan ambil perduli.”

Tampak kedua ekor anjing itu mencium seluruh tubuh Soen Put shia beberapa saat lamanya kemudian angkat kepala dan menggonggong. Sang Pat bersuit rendah, kedua ekor anjing tersebut kembali lari kesisi majikannya.

Kembali terlihat Sang Pat menggerak-gerakkan tangannya memberi kode, tiba-tiba kedua ekor anjing itu putar badan dan lari kedepan.

Sang Pat serta Tu Kioe dengan cepat mengejar-ngejar dibelakang kedua ekor anjingnya.

Boe Wie Tootiang buru-buru meninggalkan pesan kepada Im Yang cu, tosu yang terakhir ini mengiakan dan turun kebawah gunung sedang Boe Wie Tootiang serta Siauw Ling dari Soen Put shia segera menyusul dibelakang Sang Pat.

Pada saat ini Siauw Ling merasakan hatinya amat gelisah, ia lari mendekati Sang Pat bertanya, “Menurut pandangan, berhasilkah kita temukan jejak mereka?”

“Asal tempat yang ditunjuk Soen loocianpwee tidak salah, arah yang dituju kedua ekor anjing pada saat ini bukan lain adalah arah orang itu melarikan diri.”

Tampaklah kedua ekor anjing raksasa itu sambil lari kedepan tiada hentinya mencium permukaan tanah.

“Ehmm…. rupanya kedua ekor anjing ini mempunyai kegunaan besar” ujar Soen Put shia pada Boe Wie Tootiang.

“Pinto pernah dengar orang berkata, bahwasanya dalam Bulim terdapat seorang thaysu yang pandai mendidik burung, orang itu bisa membuat kawanan burung tunduk pada perintahnya dan jual nyawa buat tuannya. Kepandaian mencari jejak dengan menggunakan binatang sudah menjadi kebiasaan sejak dahulu kala….”

“Betul. Orang yang tootiang maksudkan bukan lain adalah siraja burung. Sayang ia telah terkurung didalam istana terlarang. Kepandaiannya mendidik burungpun ikut terkubur bersama raganya diistana tersebut.”

“Apakah loocianpwee pernah bertemu dengan siraja burung itu?”

“Aku pernah minum arak bersama dia” ia menghela napas panjang. “Kepandaiannya mendidik burung merupakan kepandaian luar biasa. Aku pernah menyaksikan ia memerintahkan tiga ekor burung rajawali untuk mengirim sekeranjang buah Too dari jarak seribu li. Kehebatan orang ini sungguh patut dikagumi.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung tiba-tiba terdengar gonggongan anjing berkumandang datang.

Kiranya kedua ekor anjing raksasa itu telah berhenti ditepi sebuah hutan lebat, memandang kedalam hutan tersebut kedua ekor anjing itu menyalak tiada hentinya.

Siauw Ling segera cabut keluar pedangnya. “Harap cuwi sekalian tunggu diluar hutan, akan cayhe periksa dahulu keadaan sana.”

“Toako, tunggu sebentar” dengan cepat Sang Pat menghalangi niat Siauw Ling.

“Kenapa?”

Sang Pat ulapkan tangannya, kedua ekor anjing itu segera berhenti menggonggong, kemudian ia baru berkata, “Mungkin mereka telah siapkan jebakan didalam hutan tersebut dan sengaja memancing kita agar masuk perangkap.”

“Sekalipun hutan rimba ini merupakan gunung golok atau hutan tombak, akan kuperiksa juga keadaan disana….”

“Tentu saja hutan itu harus kita periksa, namun bagaimanapun juga kita harus bikin persiapan terlebih dahulu!”

“Persiapan bagaimana maksudmu?”

“Loo jie” kata Sang Pat sambil berpaling kearah Tu Kioe. “Kau tuntunlah seekor anjing dan berjaga diluar hutan, biar aku serta toako masuk dalam hutan melakukan pemeriksaan.”

Tu Kioe menurut dan menuntun seekor anjing, katanya….

Minal 'Aidin wal-Faizin gan🙏🙏🤗

0 Response to "Rahasia Istana Terlarang Jilid 14"

Post a Comment