Po Kiam Kim Tjee Jilid 02

Mode Malam
JILID 2

„TAPI AKU TIDAK MAIN MAIN dengan kau, sobatku !" Tiong Hai baliki, sekarang dengan roman sungguh2. Dengan sebenarnya, aku telah tolongkan kau cari nona yang elok luar biasa serta gagah, aku hanya tidak kenal orang itu, aku melainkan hendak tunjuki dia pada kau, maka di umpamakan kau penuju, kau boleh berdaya akan majukan lamaran  sendiri. "

Mau atau tidak, Lie Bouw Pek toh merasa tertarik. Dia tertawa.

„Coba bilang, nona itu anak siapa?" dia tanya.

„Kau kenal atau tidak Loo piauw tauw Jie Hiong Wan dari Kielok ?" Tiong Hauw balik menanya.

„Aku pernah dengar namanya Jie Loo piauw tauw, cuma orangnya aku tidak kenal"

„Yang aku maksudkan adalah putrinya jago tua itu" Tiong Hauw lantas terangkan „Nona itu bernama Siu Lian, umurnya baru enam atau tujuh belas. Bicara tentang kecantikannya, dia bisa bikin negeri dan kota rubuh! Melihat dia, See Sie akan tunduki kepala ! Kalau di Kielok orang sebut Jie Biejin, tidak ada satu orang yang tidak ketahui!"

Bouw Pek manggut.

„Kalau ditempat kecil ada orang elok, itulah tidak heran apabila dia telah tarik perhatian orang banyak," dia bilang. Tetapi Sek Tiong Houw geleng kepala.

„Tidak, bukannya begitu, sobatku !" dia kasi tahu. „Aku lihat, sekalipun dikota besar, sukar akan cari tandingannya si elok she Jie itu! Kau tidak ketahui, kecuali keelokannya, kegagahannyapun sama tersohornya!" dia kata dengan roman sungguh2.   „Dengar   sobatku,"   Tiong   Houw   melanjutkan,

„tadinya orang melainkan ketahui Jie Loo piauw tauw punya anak dara yang cantik manis, adalah setelah beberapa hari yang lalu baru ketahuan kegagahannya si nona. Hari itu Jie Loo piauw tauw telah ajak anak isterinya pergi keluar kota untuk sambangi kuburan leluhur mereka, pulangnya, ditengah jalan mereka dipegat oleh beberapa musuh mereka. Semua musuh bersenjata golok, sebaliknya sijago tua tidak, karena dia tidak bekal senjata. Adalah selagi si jago tua dibokong, gadisnya telah lompat menerjang si penyerang, golok siapa dia rampas dan kemudian dengan golok rampasannya itu dia terjang musuh musuhnya, yang berjumlah empat lima orang! Kesudahannya, satu musuh kena dipukul rubuh, yang lain2nya pada lari ngiprit "

Keterangan itu telah bikin bangun semangatnya Bouw Pek.

„ya, nona gagah seperti itu jarang terdapat!" kata dia.

„ya jarang terdapat, sebab dia cantik dan gagah berbareng! Maka sejak itu, namanya nona Jie jadi terkenal. Buat keelokan dan kegagahannya, hingga dia disukai semua orang berbareng ditakuti Melainkan Nio Sutee kita, yang tidak tahu diri,

hingga kesudahannya dia terguling ditangan nya sinona, malah jiwanyapun hampir lenyap, hingga sekarang dia mesti mengeram didalam rumah takut ketemu orang lantaran kedua pipinya bengkak tembem "

„Bagaimana itu telah terjadi ?" Bouw Pek menegaskan.

„Dengan sebenarnya, Nio Sutee hampir buang jiwanya," sahut Tiong Hauw, yang terus beber rahasianya Bun Kim. Dia menutur mulai waktu pertama kali Bun Kim lihat si nona, yang dalam pertempurannya Bun Kim telah memisahkan, sampai malamnya, sebab tergila2 Bun Kim satroni rumah orang, dengan kesudahan pemuda she Nio itu kena dibikin jatuh dan mukanya dihajar bengap, „Sukur Jie Loo piauwtauw murah hati, dia telah dikasih ampun dan di merdekakan." Tiong Hauw akhirkan cerita nya. „Bahna malu sekarang dia tidak berani keluar "

Bouw Pek awaskan sobatnya itu yang kelihatannya tidak mendustainya.

„Sutee," Tiong Houw melanjuti pula, „kau biasa sesumbar, bahwa kau tidak mau menikah kecuali dengan nona yang elok dan gagah, sekarang ada si nona Jie, aku percaya dia adalah nona yang menyadi cita2 mu itu. Apa tidak baik, sutee, kau pergi ke Kielok, akan ketemui nona itu, buat coba bertanding dengan dia? Andaikata kau menang, kau boleh lantas pergi menemui orangtuanya, buat lamar dia. Dengan menikahi si nona, tidak saja kau peroleh isteri yang cantik, kau juga angkat kehormatan kita penduduk Lamkiong!" Perkataan Tiong Hauw sangat menggerakkan hati Bouw Pek, kendati demikian, anak muda ini masih bisa berlaku sabar.

„Itu adalah hal yang sukar terjadi," dia kata sembari tertawa. „Tidak usah dibilang yang seorang gadis tidak bisa bertanding dengan lelaki yang tidak dikenal, taruh kalau terjadi demikian, jikalau aku menang, orang tuanya pasti mendongkol dan gusar, mana dia kesudian ambil si lelaki menjadi mantunya?"

Melihat orang mundur, Tiong Hauw lalu mendusta.

„Kau tidak ketahui," dia bilang. „Adalah Jie Loo piauw tauw yang bilang sendiri, bila ada orang yang menangi gadisnya, dia hendak nikahkan gadisnya pada orang yang menang itu. Kendati demikian, tidak pernah ada orang yang datang minta bertanding dengan si nona. Kau sendiri lain, sutee, bugee kau tinggi, roman kau cakap, jikalau kau pergi kesana, siapa tahu, baru saja lihat kau sinona sudah setuju, dia lantas mengalah, hingga kau tidak usah adu kepandaian lagi? .

Tiong Hauw dengan tertawa2 didalam hatinya kata: ,,Kau biasa agulkan kepandaianmu tinggi, aku lihat sekarang, kau berani pergi atau tidak! . . . Jikalau dengan pedangmu kau bisa dapat isteri cantik, barulah aku takluk betul2 pada kau . .

Lie Bouw Pek dalam hatinya berpikir.

„Kau telah puji sinona setinggi langit tetapi aku belum pernah lihat dia!" kemudian dia bilang. Dan tertawa,

„Buat dapat lihat dia mudah sekali. Tiong Hauw bilang. „Dia bukan seperti anak perawan lain, suka keram diri” Lie Bouw Pek tersenyum.

„Baiklah, aku nanti pergi ke Kielok," akhirnya dia bilang.

„Buat menikah dengan si nona, itu belum pasti, tetapi terutama aku hendak unjuk padanya, bahwa dikolong langit  ini masih ada orang yang lebih gagah dari dia!"

Tiong Houw girang sekali melihat orang telah kena dipedayakan. Dia tertawa.

„Baiklah sekarang kita tetapkan," dia kata. „Besok pagi aku nanti samper kau, supaya kita bisa pergi sama. Aku mengharap nanti bisa minum arak kegirangan di waktu kau merayakan pertunangan !"

„Tentang ini baiklah jangan disebut2 sekarang," Lie Bouw Pek pun tertawa. „Aku hanya percaya, sesampainya di Kielok, tidaklah aku sampai mengalami nasib seperti Bun Kim, hal mana cuma membikin orang malu saja. "

Demikian mereka ambil putusan, maka selanjutnya mereka ngobrol hal2 lain sampai Tiong Hauw berbangkit buat pergi.

Seperginya kawan ini Bouw Pek masih duduk dikamarnya, tangannya memegang pedangnya, didepan matanya seperti berbayang nona elok dengan kepandaian tinggi sedang bergerak2 dengan gesit. Hingga dia tidak ketahui ada orang masuk didalam kamarnya itu, sampai tiba2 dia dengar suara yang nyata tetapi pelahan menanya :

„Bouw Pek, apa kau tidak pergi kerumah kouwma, buat tanya kalau2 dari kota raja ada datang surat atau tidak ?"

Dengan sedikit terperanjat anak muda ini menoleh, dia lihat pamannya, Lie Hong Keng, sedang awasi dia sambil urut kumis. Paman itu nampaknya lesu.

„Aku lihat kau sekarang tambah malas," paman itu tambahkan kemudian. „Kenapa kau tidak pernah pikirkan soal hidupmu dibelakang hari ? Turut dalam ujian kau tidak lulus, dirumah saja kau selalu nganggur, dengan diam saja, sampai umur delapan puluh tahun juga kau tetap akan jadi siucay melarat! Setiap hari kau buat main pedang kau hendak jadi apa? Apa bisa jadi dibelakang hari kau hendak gunai senjata itu buat pergi dijalanan akan jual silat untuk dapatkan uang ?" Sekarang sang paman kelihatan keren.

Bouw Pek tidak enak hati, dia jadi serba salah, sedang buat jawab sembarangan, dia tidak berani. Ketika dia mau paksakan menyawab, paman itu sudah mendahului:

„Aku lihat paling baik kau minta bantuannya kouwma kau !" demikian paman itu. „Toapeh dari kouwma dikota raja bekerja sebagai cusu dalam Heng pau, itu bukannya pangkat kecil, jikalau kau pergi kekota raja dan menemuinya, dia tentu bisa carikan pekerjaan untuk kau, asal kau mau bekerja betul, kau pasti akan peroleh ke majuan "

„Benar," Bouw Pek lekas menyawab, „cuma, buat pergi kekota raja, aku perlu lebih dahulu dapati surat dari piauwcek, jika tidak, sesampainya disana aku tetap nganggur. Kemarin aku pergi pada kouwma, surat dari kota raja tidak ada, rupanya kita mesti bersabar lagi beberapa hari. Lantas, gunai ketika yang baik ini, Bouw Pek teruskan :

,Pada tahun yang lalu, waktu bikin ujian diibukota propinsi aku ketemu seorang dari Kielok, Kee Seng Hun namanya," dia kata. „Sobat itu sudah lulus sebagai kiedjin dan sekarang jadi tiekoan, baru saja dia pulang kekampungnya, maka aku pikir besok aku mau pergi ke Kielok, akan mengunjungi sobat itu. Aku ingin bicara dengan sobat itu, supaya jika bisa, biarlah dia bantu carikan aku pekerjaan

„Memang sebenarnya kau perlu pergi ke luar, buat dapatkan kenalan," berkata sang

paman. ,,Tanpa banyak kenalan, kendati kau terpelajar tinggi, dengan diam saja dirumah, kau tidak nanti dapati Lauw Pie yang tiga kali berkunjung kerumah gubuk. Setelah kata begitu, Lie Hong Keng ber lalu, tinggalkan keponakan itu,  yang berduka sampai hampir menangis. Tapi sekarang berbayang harapan baru didepan mata nya, dia harap bayangan itu bisa bikin kecil kesukarannya. Maka itu, tidak tempo lagi, dia lantas siap, sedia buntalan untuk besok berangkat.

Sang tempo pun berlalu dengan cepat, besok pagi2 Sek Tiong Hauw telah datang menyampar dengan keretanya sendiri, maka dengan tidak buang tempo lagi, dia tenteng buntalannya, bawa pedangnya, dan ikut sobat itu berangkat ke Kielok.

Dalam perjalanan ini, Sek Tiong Houw gembira sekali.

„Kemarin aku telah pergi pada Bun Kim dirumahnya." dia bilang, „aku telah kasih tahu padanya, bahwa kau mau pergi ke Kielok. Kelihatan nyata yang Bun Kim sedikit cemburuan. Kau tahu apa yang dia bilang padaku? Dia kata kalau kau ketemu si orang she Jie, ayah dan gadisnya, kau harus wakilkan dia buat membikin pembalasan ! Sebaliknya, katanya, kalau kau pergi buat nikah si nona she Jie, dia selanjutnya tidak mau kenal kau lagi ! . . . "

„Gila!" kata Bouw Pek, dengan bersenyum ewah. „jangan kata yang aku pergi bukan saja buat nikah si nona Jie itu, taruhlah taruh kata benar aku hendak bawa dia pulang sebagai isteriku, Bun Kim punya hak apa buat larang aku ?”

Bouw Pek tidak senang sekali, hingga pada saat itu juga dia ambil putusan.

„Jikalau nona Jie benar elok dan gagah seperti katanya Sek Tiong Hauw, tidak bisa tidak aku mesti nikah dia!" demikian dia pikir. „Biarlah Bun Kim ketahui, terhadap dia aku akan sengaja bangga bangga kan diri !. "

Tiong Houw lihat orang tidak senang, dia lalu sengaja ojok2 anak muda ini. Tapi Bouw Pek bukannya orang bodoh, dia mengerti bahwa dengan ajak dia pergi ke Kielok, si sobat niscaja kandung maksud tidak baik, rupanya, Tiong Houw sedikitnya ingin dia kena dijatuhkan oleh keluarga Jie ayah dan anak, agar dia mendapat malu.

„Aku tidak kuatir, aku nanti kasih lihat pada Tiong Hauw, siapa aku ini !" demikian dia pikir pula.

Diwaktu tengah hari, mereka mampir di tengah jalan akan cari rumah makan, sehabis bersantap dia lanjutkan perjalanan, kira2 jam empat lohor mereka sudah sampai di Kielok. Bouw Pek usulkan ambil hotel, tetapi Tiong Hauw ajak dia pergi ke Tay Tek Hoo, akan menumpang ditoko beras itu, dimana dia kenal baik kuasa toko sampai kuli dan bujang2.

Demikian, waktu mereka sampai Loo Cie, si kuasa toko., dengan cepat menghampiri mereka, sebab dia ini heran lihat orang sudah datang pula, sedang perginya baru dua hari.

„Apa taukeh muda kami sudah sembuh ?" Loo Cie tanya.

„Belum, malah tambah bengkak !" Tiong Hauw jawab, dengan sengaja. Dia lantas ajak kawannya masuk kedalam, buat merebahkan diri dikamar, akan sedot asap muluk, hingga asap itu jadi naik bergulung gulung ..... „Ini Lie Bouw Pek, yang tauwkeh muda sering2 sebut," Tiong hauw kemudian kata seraya tunjuk sobat nya. „Sobatku ini datang kemari buat urusan jodohnya. "

„Siapakah fihak perempuan ? Loo Chie tanya.

„Ialah gadisnya Jie Loo piauw tauw," Tiong Hauw jawab secara terus terang.

Mukanya Lie Bouw Pek menyadi merah, serunya „jangan kau dengarkan dia, tuan Cie, dia sedang ngaco !" dia kata.

„Sama sekali tidak ada urusan! Aku datang kemari melulu buat pesiar. Kendati Bouw Pek sudah menyangkal, orang she Chie itu tidak percaya, lebih percaya liong Hauw, Dia awasi muka orang dengan roman heran.

„Nona Jie itu pintar dan elok." dia bilang. „Keluarga Jie asal piauwsu, tetapi dia putih bersih dan terhormat, jikalau Lie Siauwya ikat persanakan pada keluarga itu, tidaklah siauwya akan terhina "

Mendengar orang kata demikian, Bouw Pek menyangkal makin keras. Tiong Hauw, yang terus melepus tidak kata apa2, dia melainkan tersenyum dan tertawa.

Kemudian barulah Cie Ciangkui, si tuan kuasa, undurkan diri.

„Bisa jadi Tiong Houw tidak cuma omong melulu." Bouw Pek layangkan pikirannya. „Keiihatannya si tuan kuasa benar, dialah nona Jie pintar dan elok, orangnya putih bersih. Aku

sendiri bukannya dari keluarga bangsawan, berendeng sama dia, aku setimpal. "

Oleh karena memikir begini, anak muda kita jadi berkeinginan keras akan segera ketemu si nona, guna mendapatkan bukti.

Tatkala itu Tiong Hauw sudah berhenti menghisap, dia panggil pegawai toko beras,, seorang she Ho yang dipanggil Ho Hweekie Dia ini sanak jauh dari tuan toko orangnya cerdik dan paling suka keliaran, maka segala kejadian diluaran, kebanyakan dia ketahui, begitulah hal lelakon majikan mudanya dengan si nona she Jie tidak bisa diumpatkan darinya. „Dua hari aku telah berlalu dari sini bagaimana dengan keluarga Jie, apa tidak ada kabar baru ?" Tiong Hauw tanya pegawai itu, dia bicara sembari tertawa.

„Orang dari keluarga terhormat, mana bisa jadi bisa terbit onar," Ho Hweekie sahuti.

Tiong Hauw tertawa, lantas dia tunjuk Bouw Pek.

„Ini Lie Siauwya datang kemari buat tengok si nona she Jie," dia kata.

„Inilah mudah," pegawai itu jawab dengan lantas. „Besok ada keramaian digereja Tiang Cun Sie dipintu kota timur, aku percaya nona Jie bersama ayah dan ibunya akan pergi kesana, akan bersujut, kalau Lie Siauwya pergi duluan dan menantikan didepan bio, dia tentu akan dapat dilihat." Bouw Pek tertawa melihat roman orang yang lucu itu.

„Itulah mudah," dia bilang, „besok atau lusa pun boleh” Mendadak Tiong Hauw berbangkit. „Aku tidak percaya yang hatimu tidak ingin lekas2 !” dia kata, buat menggoda sobatnya. Ho Hweekie sudah lantas undurkan diri.

Oleh karena sudah mendekati sore, Tiong Hauw tidak bisa ajak sobatnya pergi kemana2, mereka bersihkan tubuh dan dandan, lantas mereka duduk bersantap, akan kemudian naik atas pembaringan dan tidur.

Malam itu Lie Bouw Pek tidak bisa tidur nyenyak. Esoknya, diwaktu fajar, dia sudah mendusin, terus bangun akan mandi dan salin pakaian. Dia sengaja pakai baju biru dan sepatu biru. Memandang sobatnya itu, Tiong Hauw berpikir. Sobat ini benar cakap dan romannya keren.

„Dibandingkan dengan Nio Bun Kim, dia jauh lebih menang," dia berpikir. „Kalau si nona Jie lihat anak muda ini, bisa jadi dia penuju dan lantas jatuh cinta ! Sungguh sobatku ini beruntung andaikata dia bisa genggam bunga mawar itu dalam tangannya. "

Oleh karena memikir demikian, diam2 Tiong Hauw pun cemburuan. Lantaran ini, dia lantas sengaja pakai baju sutera, pakai angkin dan kaca mata, begitupun kantong uang dia tidak lupai, hingga dia nampaknya aksi sekali. Dia tidak mau kalah.....

Tidak lama telah datang waktunya dahar, Tiong Hauw dan sobatnya diundang bersantap. Tapi pemuda gila basa ini sibuk sendirinya, lebih dulu dia minta seorang pegawai pergi kerumahnya Jie Piauwsu, akan tengok keluarga itu sudah berangkat atau belum. Dia belum selesai dahar, atau pegawai itu sudah kembali, air mukanya tersungging dengan senyuman.

„Lie Siauwya benar berjodoh dengan si nona she Jie!" berkata pegawai ini sambil tertawa. „Barusan waktu aku baru saja sampai digang dirumahnya keluarga Jie itu, didepan rumah sudah menunggu sebuah kereta besar, rupanya orang tua itu hendak ajak isteri dan gadisnya pergi pesiar ke bio . . .

." Tiong Hauw jadi sangat besemangat.

„Hayo dahar lekasan, mari kita lantas berangkat!" dia desak Bouw Pek. „Kalau orang sampai duluan di bio dan telah bercampuran dengan orang banyak, sukar untuk cari mereka !

. . . ." Juga Bouw Pek ingin lekas2 dapat lihat si nona yang begitu disohorkan, dia lalu dahar dengan cepat, maka sebentar  kemudian  mereka  sudah  cuci  tangan  dan  muka.

,,Bawalah pedangmu, sobat," Tiong Hauw kata pada  sobatnya.

Sesampainya didepan toko, Tiong Hauw kata pada sobatnya :

„Lebih baik kita melongok dulu kerumah mereka, buat lihat mereka sudah berangkat atau belum ...''Bouw Pek manggut dan mengikuti dibelakang.

Selagi menuju kegang dimana ada rumahnya Jie Piauwsu, Bouw Pek dan sobatnya dapat kenyataan Kielok ramai luar biasa. Banyak orang umumnya mau pergi ke Tiang Cun Sie, untuk bayar kaul, minta berkah dan pesiar. Terutama buat anak2 muda, pesiar ketempat keramaian paling menggembirakan. Suara roda roda kereta ramai sekali.

Sebentar kemudian kedua anak muda sudah sampai dimulut gang yang dituju. „Itu rumahnya Jie Loopiauw," kata Tiong Hauw sambil tunjuk  rumah  dengan  pintu  hitam  disebelah  utara jalanan.

„Tetapi,  eh,  mana  keretanya  ?”  Dia  menjadi  sibuk  sekali.

„Hayo, hayo kita menyusul ! Si nona tentu sudah berangkat!

...

Tidak tempo lagi, Tiong Hauw ajak sobatnya lekas berlalu dari gang, begitu sampai dijalan besar dan lihat sebuah kereta kosong, mereka lantas naik atas kereta itu.

„Ke Tiang Cun Sie di Tongkwan !" kata Tiong Hauw pada kusir.

Keretanya Tiong Hauw dan Bouw Pek pun berjalan diantara kereta2 lain, disepanjang jalan siorang she Sek terus celingukan, Lakunya seperti alap2 saja, matanya mengawasi nyonya2 muda, nona2 manis. Buat ini dia punya alasan, katanya dia hendak cari Loo Piauw dan anak isterinya. Kemudian dia nampaknya lesu juga, lantaran sampai begitu jauh dia belum pernah tengok tampang mukanya nona Siu Lian.

„Apa dia tidak jadi pergi ke gereja?'. Akhirnya dia menduga2.

Bouw Pek juga memandang kekiri dan kekanan, dia lihat nona2, tetapi tidak ada satu yang menarik perhatiannya, hingga akhirnya dia kata dalam hatinya :

„Kalau Jie Siu Lian yang disohorkan elok sama saja dengan mereka ini, kendati silatnya tinggi, tidak nanti aku mau adu kepandaian sama dia, hari ini juga aku akan segera pulang ke Lamkiong!..."

Dari atas keretanya, sedikit jauh didepannya, sekarang Bouw Pek bisa lihat terpancernya dua tiang bendera yang dicat merah , diatasnya dikibarkan selembar bendera kuning Heng uy kie dengan ada tulisan empat huruf „Ban Kouw Tiang Cun," Bendera itu menyatakan bahwa orang sudah sampai di gereja Tiang Cun Sie.

Dua anak muda ini lompat turun dari kereta mereka, baru saja mereka hendak turun mendesak diantara orang banyak tiba2 dari samping ada yang memanggil mereka : „Sek Siauwya !" katanya.

„Siapa ya ?" pikir Tiong Hauw, yang lantas menoleh kejurusan dari mana suara panggilan datang.

Dari antara orang banyak lantas muncul seorang, tangan siapa segera di gape2kan pada mereka. Setelah dia sudah kenali orang itu, Tiong Houw girang bukan main, sebab orang itu adalah Ho Hweekie si cerdik.

„Eh, kau sampai duluan ?" dia tegor.

„Aku telah dapat lihat Nona Jie ! dia kata, dengan tidak perdulikan pertanyaan orang. ,Dia bersama ibunya serta seorang kurus yang bermuka kuning. ”

„Dimana dia?" Tiong Hauw tanya.

„Dia baru saja masuk," sahut Ho Hweekie, sambil berpaling kedalam bio.

Tiong Houw segera teriaki Bouw Pek.

„Marilah '" dia kata, seraja jalan dimuka, Ho Hweekie dibelakangnya, dan Bouw Pek paling belakang. Tidak lama mereka sudah sampai di toa thian, yang pun penuh dengan orang, suaranya gemuruh, sedang asap hio mengulek memenuhi ruangan.

Lie Bouw Pek tidak bisa lihat di bio itu dipuja patung apa, bersama Tiong Hauw, dia celingukan, kebarat dan ketimur.

Ho Hweekie juga bantu mencari, sampai dia tarik tangan bajunya Tiong Hauw.

„Lihat, apa itu bukan dianya ?” berseru pegawai ini akhirnya. Tiong Hauw segera menoleh, Bouw Pek turut dia. Tangannya Hweekie menunjuk pada seorang lelaki kurus dan muka kuning, usianya baru empat puluh lebih, pakaiannya baru, bajunya pendek, orang ini sedang berdesakan diantara orang banyak.

Lie Bouw Pek telah dapat lihat orang yang dimaksudkan, dia tercengang. Dia telah tampak seorang nona, yang sekalipun didalam impian, dia belum pernah lihat. Dia mesti mengawasi dengan bingung, seperti dua kawannya !

Si nona Jie, yang tidak ketahui sikapnya tiga orang itu, terus pimpin ibunya buat diajak keluar, maka kemudian, Tiong Hauw juga ajak dua kawannya pergi keluar, akan mengikuti, disepanjang jalan mereka terus mengawasi, sambil ulur leher dan kaki berjingkat, supaya mereka tetap dapat lihat si nona, kendati cuma belakangnya, kuncirnya saja.......

Tiang Cun Sie bikin perayaan, Jie Loothaythay, yang percaya Hud Kauw, sudah lantas ajak gadisnya pergi bersujut. Jie Loo piauw tauw tidak ikut, untuk iringi isteri dan anak nya dia kirim Tee lie kui Cui Sam, si Hantu Bumi.

Siu Lian bergembira, berjejalnya orang banyak tidak menjadi halangan baginya, dia hanya jemu kalau ketemu atau menyaksikan tingkahlakunya beberapa pemuda hidung kapur, yang bawa aksi menengil, yang menjemukan di pemandangan matanya. iapun tidak senang, kalau ada orang awasi dia mati2an, dia tidak bangga akan kecantikannya, dia hanya anggap perbuatan orang itu tidak pantas. Karena dia bermata jeli dia lantas dapat lihat sikapnya Tiong Hauw dan Bouw Pek, yang mencurigakan.

Dua anak muda itu terus menguntit sampai diluar gereja, dimana si nona dan ibunya telah hampirkan kereta mereka. Pakaian sutera yang indah mentereng dari Tiong Hauw dan pedangnya Bouw Pek, adalah dua hal yang menarik perhatiannya nona ini.

„la bertubuh kekar dan membawa pedang, dia mestinya mengerti silat," demikian Siu Lian pikir tentang Bouw Pek. „Dia selalu ikuti kita, apakah dia musuh ayah atau konco dari musuh ayah ?"

Oleh karena curiga, duduk dikeretanya, Siu Lian pasang mata dibetulan jendela kereta, akan awasi dua orang itu.

Dengan jalan kaki, Tiong Hauw dan Bouw Pek terus mengintil, mata mereka tetap ditujukan kereta. Mereka tidak tahu, atau berpura2 tidak tahu, yang si nona perhatikan sepak terjang mereka.

„Tidak salah lagi, mereka mesti musuh ayah," akhirnya Siu Lian pikir. Mereka tentu kuntit aku buat ketahui aku pergi kemana." Nona Jie tidak takut, sebaliknya dia jadi gembira. Dia sudah pikir, kalau dugaannya tidak keliru dan mereka itu turun tangan, dia nanti tempur mereka, agar mereka mengerti sedang berhadapan siapa.

Juga Tee lie kui telah bercuriga, apabila dia telah dapat saksikan tingkah orang. „Dua orang telor busuk ini, kembali jatuh hati pada nonaku!" pikir dia. „Mereka tentunya tidak ketahui mereka sayang jiwanya atau tidak "

Kendati demikian Cui Sam perintah si tukang kereta untuk larikan kudanya. Maka sebentar saja, roda2 kereta lantas menggelinding cepat, akan kemudian mulai masuk pintu kota. Tiong Hauw dan Bouw Pek bertindak dengan cepat, akan ikuti terus keretanya keluarga Jie, hingga mereka tinggalkan Ho Hweekie, tetapi setelah kereta dilarikan cepat, mereka sendiri pun ketinggalan, sedang Bouw Pek tidak niat lari sekuatnya akan mengikuti terus. Dia lantas merandek.

„Rupanya mereka sudah engah!" dia kata sambil tertawa

„Biarlah mereka pulang duluan," Tiong Hauw bilang. „Kita toh ketahui rumahnya

Sesampainya dipintu kota, dua orang ini lalu menyewa kereta. Tukang kereta diperintah menuju kegang dalam mana keluarga Jie tinggal, begitu sampai mereka lompat turun, setelah membayar uang sewa mereka bertindak masuk kedalam gang.

Pintu rumah keluarga Jie ditutup, rupanya dikunci rapat.

Mereka berhenti didepan rumah itu, berdiri mengawasi.

„Sutee," kata Tiong Hauw akhirnya sambil berbisik, „kau telah saksikan si nona, pintunya sekarang dikunci, maka terserah pada keberanianmu! Apa kau berani ketok pintu, buat ketemu si nona akan tantang dia piebu ? Kalau kau menang, dalam sekejap saja kau akan bertunangan dengan dia !" Oh, bagaimana menggembirakan !"

Bouw Pek merasa seperti semangat nya sudah terbetot oleh si nona she Jie. Dia mengerti anjurannya Tiong Hauw, mengetok pintu dan majukan tantangan adalah perbuatan lancang, dengan begitu, sobat ini harap sangat dia nanti terguling ditangan nona itu. Kendati demikian, dia seperti lupai bahaya. Dia tidak kata apa2, tetapi dia bertindak ditangga, akan terus saja mengetok pintu..........

Menampak sobatnya benar2 ketok pintu air mukanya Tiong Hauw berobah, buru2 dia mundur dua tindak. Dia terus awasi sobat itu.

Lie Bouw Pek mesti ulangkan ketokannya sampai beberapa kali, barulah daun pintu dibuka oleh seorang usdia tigapuluh tahun lebih, tubuhnya tinggi dan besar, mukanya hitam, kuncirnya dililit dikepala. Orang itu pakai pakaian sepan, sepatunya sepatu „jiauw tee houw eh" — sepatu „harimau menyakar tanah." Dengan roman bengis dia awasi tamunya, yang dia tegor dengan kaku ; „Kau cari siapa ?"

Bouw Pek bisa lihat roman bengis dan sifat aseran orang itu.

„Aku cari nona Jie buat piebu, aku tidak boleh tarik urat dengan orang ini," dia pikir. Lalu dengan manis dia menyawab: „Aku datang buat kunjungi Jie Loo piauw tauw. "

Sebelum si muka hitam menyahut, dipintu muncul orang lagi, ialah si kurus muka kuning Dia terus saja bisiki si muka hitam itu, hingga dia ini kelihatannya gusar.

„Ambillah golokku!" dia menitah. Kendati demikian, dia maju melewati pintu, tangannya dia ulur, rupanya dia hendak jambak tamunya. Bouw Pek mundur sampai dia turun dari tangga. „Kau sebenarnya mau apa?" si hitam menegor. „Dari gereja Tiang Cun Sie di Tongkwan, kau telah menguntit sampai di sini! Aku kasi tahu kau, baiklah kau buka matamu sedikit lebar! Jikalau kau memikir buat membunuh mati Jie Loo piauw tauw, kau mesti lebih dulu cari tahu aku Ngo jiauw eng Sun Ceng Lee, boleh dibuat permainan atau tidak!" Ucapan ini segera disusul oleh sambaran kepalan.

Lie Bouw Pek tolong dirinya dengan tolak mundur kepalan orang itu.

Tatkala itu Cui Sam sudah kembali dengan goloknya Sun Ceng Lee, si orang she Sun lekas menyambuti, sambil maju, dia terus menyerarg lagi. Terpaksa Lie Bouw Pek cabut pedangnya akan menangkis, akan layani penyerang yang aseran itu. Mereka telah bertempur baru empat jurus, atau nona Jie telah muncul, pakaiannya ringkas, kepalanya dibungkus, tangannya memegang siang too, sepasang pedang.

„Sun Toako, silahkan minggir, kasi aku yang layani dia!" berseru si nona, suaranya nyaring tetapi halus. Bouw Pek lihat si nona keluar, dia lekas2 lompat minggir.

„Tahan dulu, tahan!" dia berkata. „Aku datang bukan dengan maksud jahat, aku dengar nona ini bugeenya tinggi, aku ingin piebu dengan dia. Kalau nanti kita sudah bertempur, tidak perduli siapa yang menang atau kalah, aku akan lantas berlalu lagi, aku tidak akan lama2 disini.

„Telor busuk!" Sin Ceng Lee membentak. „Ada alasan apa maka sumoayku mesti piebu dengan kau?" Dia maju pula, dia geraki goloknya dan menyerang.

Jie Siu Lian pun maju dengan tidak kata apa, kendati Sun ceng Lee teriaki supaya dia mundur, dia tidak mau meladeni, dia menyerang terus, sampai akhirnya sitoako mengantapnya. Tapi toako ini pun terpaksa maju terus.

Dengan sebelah tangan Bouw Pek tangkis tiga golok dari dua musuhnya, lantaran dia lihat dia dikepung, dia lantas lompat mundur, disitu dia lemparkan sarung pedangnya. yang dia lolosi dari pinggangnya, dan dia singsatkan pakaiannya, hingga dia jadi bergerak dengan leluasa. Kemudian dia baru merangsak lagi. Sembari berkelahi, dia perhatikan gerakan golok si nona.

Dengan cepat sepuluh jurus telah lewat, lantas Sun Ceng Lee berhenti menyerang, dengan napas tersengal2 dia berdiri dipinggir sambil mengawasi!

Meski begitu, dia masih teriaki si nona akan mudur, akan dia yang terus melayani musuh ....

Siu Lian tidak perdulikan kawan itu, dia sendiri terlalu repot melayani Bouw Pek, pedang siapa bergerak2 laksana seekor ular perak, yang sambar dia dari segala jurusan yang  menikam secara hebat. Kecuali repot telapakan tangannya juga sudah mulai gemetar, karena seringnya senyata mereka beradu dan setiap kali beradu, tangannya kesemutan karena hebatnya benturan !

Pedangnya tamu tidak dikenal itu bergerak makin seru, tubuhnya enteng dan gesit

Sekali, tetapi sekalipun demikian, dia "bertempur sambil unjuk muka tersungging senyuman, menunjukan sikap yang manis, sedikit juga dia tidak tertampak bersungguh2 atau sengit. Dan apa yang luar biasa, kendati serangan selalu hebat, tidak ada satu yang diteruskan buat melukai dengan sungguh sungguh. Nyata anak muda itu kuatir pedangnya nanti minta korban.

Segera Siu Lian jadi sibuk berbareng malu dan heran. Percuma dia mencari jalan akan balas rangsak musuh, kesudahannya adalah dia terus kena didesak !

Cui Sam menonton dari sebelah dalam pintu, hatinya berdebaran, dia kualir yang nonanya nanti kena dipecundangi.

Sun Ceng Lee kemudian maju pula akan membantu si nona kepung lawan yang tangguh itu.

Penonton lain yang hatinya paling tertarik adalah Sek Tiong Houw, yang menyaksikan dari tempat jauh. Dekat sama dia ada beberapa orang lain yang kebetulan lewat disitu dan berhenti akan menonton, kapan mereka lihat ada orang sedang adu kepandaian. Diantara mereka ini, tidak ada satu yang kelihatan mau memisahkan.

Adalah saat itu Jie Hiong Wan muncul di mulut gang, tangannya menenteng kurungan burung, dalam mana ada seekor burung gelatik.

Sek Tiong Hauw sudah lantas dapat lihat orang tua itu, tidak tempo lagi, dia lari menyingkir. beberapa orang yang lihat jago tua itu lalu menghampirinya.

Lihat, Jie Loosiok," kata mereka, „lihat, si nona sedang bertempur!"

Hong Wan kaget, dia lantas lari kegang maka dari situ, dia lantas menyaksikan pertempuran antara gadisnya dan seorang yang tidak dikenal, dengan muridnya berada di fihak anaknya itu. Sambil berlari2, dia pasang mata. Dia bermata tajam, begitu lihat, gerakan tangan orang, dia lantas mengerti bahwa anak muda itu muridnya guru yang pandai. iapun lihat yang anaknya sudah ke teter, bahwa Sun Ceng Lee sudah tidak punya guna. Tapi diapun mengerti, bahwa orang tidak bermaksud jahat, karena itu

dia tidak terkejut seperti semula.

„Tahan!" dia berteriak, setelah datang dekat. „Tahan!"

Lie Bouw Pek tidak lantas hentikan gerakan pedangnya, ujung pedangnya sementara itu telah kena sontek jatuh saputangan orang yang dipakai mengikat kepala.

Siu Lian lihat ayahnya, dia lari menghampirkan orang tua itu.

„Ayah, orang itu menghina kita! "

Napas Sun Ceng Lee sudah sangat memburu, kendati demikian, dia masih tidak mau undurkan diri, dia paksa hendak rangsak fihak lawan.

Hiong Wan serahkan kurungan burungnya pada anaknya, golok siapa sebaliknya dia ambil. Dia maju menghampirkan, kemudian sambil berlompat, dia menjelak, akan tahan senjata kedua fihak.

„Tahan!" dia berteriak pula. „Aku Jie Hiong Wan. Marilah bicara! jangan bertempur terus!" Lie Bouw Pek lompat mundur beberapa tindak.

„Suhu, orang ini kurang ajar!" kata Sun Ceng Lee, dengan napas masih memburu. „Mari kita hajar dia, supaya dia kenal kelihayan kita!. "

„Keliehayan kita?" jago tua itu ulangkan dengan bersenyum tawar. „Kelihayan

apa kita punya? Sudah sekian lama kita berdiam di rumah saja, guna lewatkan penghidupan tenteram, tidak urung masih saja tidak putusnya datang orang2 yang ganggu kita, yang menghina kita. "

Lantas jago tua ini ulapkan tangan pada gadisnya, buat kasi tanda supaya anak itu pergi pulang, sedang Sun Ceng Lee dia minta supaya jangan bicara lebih jauh. Sesudah itu, dia hadapi Lie Bouw Pek.

„Melihat romanmu, tuan, kendati kau pandai silat, kau mestinya bukan orang dari kalangan Sungai Telaga," dia berkata. „Kita tidak kenal satu pada lain, diantara kita tidak ada permusuhan, kenapa kau satroni rumah kita dengan bawa2 senjata, kenapa kau coba perhinakan anak perempuan dan muridku?"

Tiat cie tauw bicara dengan hormat, tetapi perkataannya tajam. Maka itu, ditanya demikian rupa, Bouw Pek menjadi bermuka merah, bahna jengah. Lekas dia jumput sarung pedangnya, masukkan pedang kedalam sarungnya dan mencantel kan di pinggangnya. Dia pun lekas lekas rapikan pakaiannya.

„Maafkan aku, loocianpwee," dia kata seraya unjuk hormatnya, „harap loocianpwee tidak menyadi gusar oleh karena perbuatanku ini yang sembrono. Tapi baiklah loocianpwee tidak keliru mengerti, aku sebenamja tidak kandung maksud jahat, kami bertempur sebab aku tidak dikasi tempo buat bicara. Aku Lie Bouw Pek dari Lamkiong, aku muridnya kedua suhu Kang Lam Hoo dan Kie Kong Kiat "

„Jie Lauw Tiauw terperanyat apa bila dia dengar nama dua hiapkek tua itu, hingga dia awasi anak muda itu dengan mendelong.

„Kiranya kau muridnya kedua loohiapkek itu?" dia menegasi. „Kie Kong Kiat sobat kekalku, ketika dia tinggal di Lamkiong, dia sering kunjungi aku. Kami seperti saudara benar. Kang Lam Ho aku tidak kenal, aku belum pernah ketemu dia, akan tetapi namanya yang besar aku sudah lama dengar, aku memang kagumi dia. Anak muda, kau adalah loohiantit dari aku!"

Setelah kata begitu, jago tua ini tertawa, dia maju akan pegang tangan orang.

„Mari hiantit, silahkan masuk, kita boleh bicara didalam rumahku!" dia mengundang. Bouw Pek terima baik undangan itu. dia ikut masuk. Tapi sekarang dia tambah jengah, karena dia dengar tuan rumah bilang, guru she Kie adalah sobat kekal dari tuan rumah ini. Hiong Wan undang tamunya kekamar barat, yang berada dibagian luar dari rumahbesar. Dia perintah Cui Sam ambil teh dan tamu ini dia ajar kenal pada Sun Ceng Lee, siapa telah ikuti gurunya itu dengan hati tidak tenteram karena dia tidak sangka bahwa diantara gurunya dan si tamu sedikit nya ada hubungan tidak langsung......

Bouw Pek berlaku hormat, pada Ceng Lee dia haturkan maaf.

„Sejak aku tutup perusahaan piauw, selama ini sudah berjalan enam atau tujuh tahun, aku selalu berdiam dirumah," tuan rumah kemudian berkata menerangkan keadaannya sendiri. Sejak itu, aku tidak punya hubungan lagi  dengan sobat ku dari kalangan Sungai Telaga. Gurumu, Kie Kong Kiat, tinggal dekat dari sini, dia suka kunjungi aku, sebaliknya aku tak pernah balas mengunjunginya. Adalah setelah lama juga, baru aku dengar yang sobatku itu telah meninggal dunia. Sekarang ini usiaku sudah tua, tentang anak2 muda, aku tidak ketahui, dengar nama mereka pun tidak. Ini, hiantit, terbukti dengan kau sendiri, aku tidak kenal kau kendati kau muridnya sobat kekalku. Coba kau tidak perkenalkan diri, pasti aku terus tidak ketahui, yang dimana hidupnya, gurumu telah terima  kau sebagai muridnya. Kau murid yang baik!"

,,Kau telah undurkan diri, loocianpwee, tidak heran apabila kau tidak kenal aku!" kata Lie Bouw Pek, yang lebih jauh lalu tuturkan hal ihwalnya sendiri.

„Ada urusan apa maka kau dalang kemari, hiantit?" kemudian tuan rumah tanya.

Ditanya begitu, Bouw Pek kemekmek. Tadinya dia tidak mau mengasi tahu hal yang sebenarnya, tapi mengingat tuan rumah adalah sobat gurunya, sedang wayahnya si nona telah menarik sangat hatinya, dia anggap baik dia berlaku terus terang. Maka mesti dengan kurang lancar, dia menyahut; „Maksudku yang pertama adalah buat kunjungi loocianpwee, nama loocianpwee telah lama bikin aku kagum, sedang loocianpwee adalah sobat baik dari guruku. Sebab lain lagi, adalah aku telah dengar loocianpwee punya puteri, yang budi nya tinggi, tentang siapa katanya loocianpwee pernah omong, kalau ada anak muda yang belum menikah, yang berani lawan piebu dengan puteri itu dan bisa menangkan siputeri, si anak muda boleh lantas lamar puterimu itu. Begitulah dengan lancang aku telah datang kemari dan lawan piebu puteri loocianpwee "

Bouw Pek likat, kendati demikian, dari sakunya tarik keluar sapu tangan sulam pembungkus kepala Siu Lian, yang tadi dia sontek terlepas dari kepalanya si nona selagi mereka bertempur. Dia letakkan saputangan itu diatas meja, selaku bukti dari kemenangannya Saputangan itu agaknya seperti Siukiu saja.......

Melihat saputangan itu, Jie Hiong Wan mendongkol, tetapi kemudian., dia tertawa berkakakan.

,,Loohiantit, kau telah dipermainkan orang!" kata dia dengan tiba2. „Sama sekali aku tidak pernah lepas kata demikian!"

Bouw pek terperanjat, Tapi dia masih belum mau mengerti.

Ketika dia hendak buka mulutnya, tuan rumah dului dia;

„Anakku, Siu Lian, sedari masih kecil, sudah ditunangkan," berkata tuan rumah ini. , ,Tunangannya adalah putera yang kedua dari Beng Loo piauw tauw dari Soan hos hu. Tahun ini anakku masuk umur tujuh belas, lain tahun aku menghantarkan dia ke Soan hoa guna langsungkan pernikahannya. Bagaimana, anak yang sudah ber tunangan aku mesti janjikan lagi pernikahan dengan orang lain, dengan perjanjian piebu dulu? Aku percaya, dalam hal ini kau sudah jadi korban dari kawan sepantarmu, yang telah permainkan kau. Kau percaya obrolan kawanmu, kau telah datang kemari mencari aku. Tapi aku tidak gusar, loohiantit, aku pun harap kau tidak kecil hati. Aku girang bisa ketemu kau, loohiantit, dengan begini aku jadi dapat tahu, yang sobatku almarhum sudah dapat kan kau, murid yang berharga. Selanjutnya tidak ada halangan kau sering2 datang padaku disini. Aku nanti lihat2 nona yang sembabat untuk kau."

Tapi Bouw Pek melongo setelah mendengar keterangan tuan rumah, dia seperti orang yang diguyur air dingin, pengharapannya seperti telah terbang dengan mendadak. Hal ini dengan sebenarnya bikin dia hilang harapan. Maka akhirnya, dia menghela napas.

„Cukup, lauwsiok, baik kau tidak omong lebih jauh, aku malu . . . . " kata dia. Dia lalu berbangkit sambil gedrukkan kaki. ,Aku sungguh lancang aku bersyukur yang lauwsiok telah tidak gusari aku. Sebenarnya, selanjutnya aku tidak ada muka akan datang ketemui lauwsiok pula.....

Bouw Pek angkat tangan memberi hormat,, lantas dia bertindak keluar.

Juga Jie Hiong Wan turut merasa tidak enak hati, karena dia mengerti kejengkelan orang. Dia lekas berbangkit, buat menahan anak muda itu.

„Silahkan duduk dulu, hiantit, mari kita bicara lebih jauh," dia berkata „Tentang kejadian ini baiklah kita pandang seperti tidak terjadi, baiklah kita jangan ingat lebih lama pula. "

Bouw Pek geleng kepala.

„Tidak, aku ingin berlalu sekarang," dia menyahut, dengan masgul. Dia lalu menjura pada tuan rumah, lantas dia berlalu. Hiong Wan hantar anak muda itu sampai diluar.

„Kalau sebentar kau sampai dirumah dan ketemu sobatmu, harap kau jangan bikin ribut dengan dia itu," dia pesan

„Memang sudah biasanya anak2 muda suka gauwkun satu sama lain, secara melewati batas....." Kembali Lie Bouw Pek geleng kepala.

„Aku tidak akan sesalkan sobatku," dia bilang, „aku hanya sesalkan diriku, yang terlalu semberono!. "

Sekarang mereka sampai dipintu luar, Bouw Pek permisi berlalu. Tindakannya lesu, semangatnya telah runtuh, agaknya dia sama dengan anak sekolahan yang tidak lulus dari ujian...... Baru saja dia muncul digang, Sek Tiong Hauw sudah papaki dia. „Bagaimana, apa kabar girang telah di dapatkan sobat?" sobat jail ini menanya. Tapi Lie Bouw Pek pandang sobat itu dengan senyuman ewah, tampang mukanya merah.

„Kau benar pandai menipu orang !" dia kata dengan mendongkol. , Kau telah bikin aku lakukan suatu perbuatan semberono dan lancang !" Setelah kata begitu, dia jalan terus. Tiong Hauw tidak puas, tetapi dia tidak kata apa2, dia ikuti sobat itu, pulang ketoko Tay Tek Hoo.

Sesampainya dikamarnya, Bouw Pek lolos kan pedangnya dan letakkan senjata itu diatas meja. Dia lalu menarik napas panjang dan pendek, dia jatuhkan diri dikursi, dimana dia duduk menyender dengan lesu. la menyesal bukan main. Tiong Hauw rebahkan diri ditanah, buat terus sedot pipanya.

„Sutee, bagaimana kau bilang bahwa aku telah tipu kau ?" dia tanya sembari ngelepus. „Mustahil nona Jie kurang cantik, bugee nya tidak sempurna ? Apakah dia tidak setimpal dengan kau ?" Jawaban itu tidak sedap didengarnya oleh Bouw Pek.

„Bagaimana kau tidak tipu aku? Coba jawab kapan Jie Piauwsu pernah keluar kan omongan, bahwa dia suruh anaknya piebu buat cari pasangan untuk si anak sendiri ?"

Mendengar demikian, Tiong Hauw tertawa berkakakan.

„Jikalau aku tidak kata demikian, belum tentu kau suka datang kemari," dia jawab „Tapi, tidak perduli Jie Piauwsu pernah mengucap demikian atau tidak, kau sekarang sudah piebu dengan nona she Jie itu ! Potonganmu, romanmu, bugeemu, semua dapat dilihat oleh Jie Piauwsu, kalau kau buka mulut meminang puterinya itu, mustahil dia nanti tampik kau ?"

„Kau tidak ketahui !" Bouw Pek bilang, sambil bersenyum dingin. „Jie Loo piauwsu sebenarnya sobat kekal dari suhu semasa hidupnya suhu, sedang puterinya itu sedari siang2 telah ditunangkan pada putera kedua dari Beng Loo piauw tauw dari Soanhoa ! Tahun depan si nona akan diantar ke rumah fihak Beng itu !" Tiong Hauw tampaknya putus harapan juga, apabila dia dengar keterangan itu,

„Si bocah she Beng sungguh beruntung ! " akhirnya dia mengeluh. „Siapa tahu,

bahwa Jie Piauwsu sudah jodohkan mustikanya yang berharga itu? Sudah, anggap saja kita yang kurang hokkie ! Kau masih mujur, sutee, kau bisa tandingi si nona sekian lama dan kau bisa sontek bungkusan kepalanya, tidak seperti Nio Bun Kim, selain tidak memperoleh suatu apa, kecuali hidungnya matang biru, pipinya bengkak ! dia itu barulah sial dangkalan !. . . ." Tiong Hauw ketawa, lantas dia sedot pula pipanya ber ulang2. Bouw Pek tidak mau adu mulut dengan suheng yang punya lidah tajam itu, dia duduk bercokol dengan pikirannya melayang pada Jie Siu Lian, sinona cantik manis dan gagah. Dia mesti akui, siangtoo dari sinona liehay, orang sembarangan sukar bisa menandingi.

„Apabila aku bisa dapati isteri seperti dia itu, sekalipun melarat, aku puas. "

anak muda ini melamun. „Sekarang aku berusia duapuluh tahun, aku telah cari nona elok dan gagah, sebegitu jauh aku belum berhasil, sekarang aku dapat lihat si nona Jie, siapa tahu dia sudah tidak merdeka Nona Jie adalah tunangan

si orang she Beng, sekarang aku tidak boleh harap lagi padanya, itu .adalah perbuatan sangat tidak pantas. Sekarang terbukti, buat aku makin sukar cari pasangan seperti yang aku cita2kan. Dimana dikolong langit itu aku bisa cari nona seperti nona Jie ini?"

Masgul dan menjesal telah mengaduk jadi satu dalam hatinya Bouw Pek, dia berbangkit dan mondar mandir, hingga dia jadi serba salah.

„Marilah kita pulang, sekarang juga!" dia lalu desak Tiong Hauw. Tapi si orang she Sek malas lakukan perjalanan dengan segera karena dia masih ke tagihan.

„Kenapa terburu2 ?" dia gunakan alasan, Dirumah toh tidak ada pekerjaan apa juga?" „Kalau kau tidak mau pulang, aku nanti pulang sendiri !" kata Bouw Pek seraya berbangkit. „Aku bisa sewa kereta!Aku tidak betah berdiam lebih lama pula disini!"

Tiong Hauw tertawa, tertawa terpaksa, karena hatinya tidak senang.

„Adatmu keras sekali," dia bilang. „Mustahil lantaran tidak bisa dapatkan istri, lantas di Kielok ini kita tidak bisa tinggal sedikitnya sehari lagi ?". Ketika itu, Ho Hweekie bertindak masuk. Dia baru saja tiba. ,Ho Hweekie, tolong carikan kereta!" Bouw Pek kata pada pegawai itu. „Sekarang aku mau kembali ke Lamkiong !'

„Kenapa begitu, Lie Siauwya ?" pegawai itu tanya. „Apa tidak baik buat siauwya berdiam pula disini satu dua hari ?' Tapi Bouw Pek tidak bisa dibujuk.

„Aku ada urusan, aku mau pulang sekarang juga," dia sahuti. „tolong kau pergi kepersewaan kereta, lihat ada kereta buat ke Lamkiong atau tidak "

Pegawai itu tidak menyahuti, dia juga? tidak lantas pergi, dia hanya mengawasi Tiong Hauw, yang sedang asik dengan pipanya.

Tiong Hauw masih hendak berdiam di Kie lok, dia pun tidak ingin berada bersama2 lebih lama dengan orang she Lie ini, yang dia anggap adatnya keras dan kukoay.

„Baiklah, pergi kau tolong carikan kereta buat Lie Siauwya," dia kata. „Kau mesti cari tukang kereta yang dikenal, jangan nanti Lie Siauwya tidak dihantar pulang ke Lamkiong, hanya dia pergi ketempat lain buat menjadi hweeshio !" Sembari

kata begitu, dia berbangkit dengan cepat. dan  tambahkan:

„Apakah kau tidak ketahui, Ho Hwee kie ? Lie Siauwya batal menikah dengan Nona Jie, dia sekarang lagi tidak senang  hati

!" Bauw Pek mendongkol.

„Sudah kau tipu aku, sampai aku lakukan perbuatan semberono, sekarang kau masih goda aku ?" dia menegor. Tiong Hauw duduk, dia tertawa bergelak gelak. Tapi Ho Hweekie mengerti selatan dia tidak berani tertawa, lekas berlalu buat mencari kereta. Maka tidak lama berselang dia sudah kembali dengan sebuah kereta sewaan.

Lie Bouw Pek ambil buntalan dan pedangnya, dia terus bertindak akan naik keatas kereta. Cie Ciangkui hantar tamunya sampai diluar.

„Kalau ada ketika, siauwya, aku harap kau suka sering2 datang pesiar ke sini !" dia kata dengan manis.

„Terima kasih," sahut Bouw Pek yang kasi hormatnya dari atas kereta. „Jalan !"

Roda2 kereta lantas bergerak menuju keluar kota, meninggalkan kota Kielok, "menuju Lamkiong. Beda daripada waktu perginya, Bouw Pek tidak punya nafsu akan awasi pemandang alam disepanjang jalan. Dia tetap masgul dan tidak keruan rasa. Syukur buat dia, malam itu dia bisa sampai dikampungnya, didepan rumah pamannya. Dia lompat turun dari kereta, bayar uang sewaannya. lantas masuk kekamarnya yang sunyi. „Kau sudah pulang?" tanya Hong Keng, sang paman. „Apa kau ketemu dengan sobatmu itu yang pernah jadi tiekoan ."

„Tidak," keponakan ini membohong ,katanya sudah berangkat ke Pakkhia "

Hong Keng menjadi hilang harapan, dia berlalu dengan masgul.

Malam itu Bouw Pek tidak bersantap, Dia kehilangan nafsunya. Diapun duduk membaca buku. Dia hanya duduk bingung, mengawasi lampu. Dia berduka bukan main .Akhir nya dia naik keatas pembaringannya buat.coba tidur.

Karena lelah, anak muda ini bisa tidur. Akan tetapi dalam nyenyaknya tidur dia mimpi, dia mimpi sedang piebu dengan Siu Lian, kemudian dia ketemu dengan Jie Hiong Wan, yang suka serahkan puterinya pada nya.

Ketika sang pagi datang, Bouw Pek malas bawa pedangnya kebelakang untuk berlatih sebagaimana kebiasaannya setiap hari. Pohon gandum didepan rumah mengasi pemandangan menarik, bunga2 toh indah, pohon yang liu dikejauhan mengasi pemandangan bagus, tetapi semua itu sebaliknya menambah kemasgulannya anak muda ini, yang sedang rindu, semangat nya seperti sudah hilang.

Selang dua hari, Tiong Hauw pulang dari Kielok, dia lantas tengoki sobatnya ini, buat ajak dia mengunjungi Nio Bun Kim.

„Tidak," sahut Bouw Pek, yang menampik sambil goyang kepala. Sobat jahil dan dengki ini mau bicara tentang Siu Lian.

„Jangan!" Bouw Pek mencegah.

Menampak sikap orang, Tiong Hauw hilang kegembiraannya, maka duduk tidak lama, dia pamitan dan pergi. Sembari bertindak keluar, anak muda ini bersenyum sindir. Didalam hatinya dia kata: „Percuma kau pikirkan si nona ! tidak bisa jadi Jie Hiong Wan batalkan pertunangan puterinya dengan siorang she Beng!"

Bouw Pek memang tidak setuju Tiong Hauw dan Bun Kim, sekarang terbit urusan ini, yang bikin dia malu dan kecewa, selanjutnya dia makin tidak suka bergaul dengan mereka itu.

Sang tempo tidak perdulikan Lie Bouw Pek, dia jalan tetap seperti biasa. Maka sekali, dua bulan sudah lewat. Sekarang dunia berada dipermainkan musim Hee.

Bouw Pek jadi tambah malas, kecuali baca buku, setiap hari dia rebah saja di

pembaringannya. Pelajaran surat dan silatnya telah dia alpakan betul2. Dia juga tidak perhatikan pakaiannya, yang tidak pernah rapi, melainkan senantiasa kucel. Tapi dia tidak ketahui betul, kenapa dia telah berobah jadi begitu rupa.

Pada suatu hari Lie Hong Keng pergi kekota, kerumah bibinya, sepulangnya dia kelihatan gembira sekali. Dia keluarkan sepucuk surat, yang katanya baru diterima dari Pakkhia, surat itu dia serahkan pada Bouw Pek, buat dia ini baca.

Sanak perempuan anak muda ini telah menikah dengan hartawan she Kie didalam kota, bibi ini punya ipar, yaitu toapeh, Kie Thian Sin namanya, yang bekerja di kotaraja, menjadi cusu didalam Hengpou. Sudah sejak satu tahun yang lalu, Lie Hong Keng kirim surat pada cusu itu, buat minta tolong dicarikan pekerjaan untuk Bouw Pek. Sudah lama berselang, baru sekarang datang balasan, Kie Thian Sin tulis, minta supaya Bouw Pek berangkat saja kekotaraja.

,,Lihat, piauwcek kau adalah seorang baik!" kata Hong Keng pada keponakannya itu. Sekarang sudah pasti dia telah dapatkan suatu pekerjaan untuk kau, cuma tidak tahu, pekerjaan itu kau sanggup lakukan atau tidak, maka dia minta kau datang lebih dulu, buat cari tahu tentang kesanggupan kau. Pergilah kau kekota raja, tentang makan pakaianmu disana tentu dia yang urus. Kalau kau bisa bekerja dikota raja, itu lebih baik daripada menjadi tiekoan disuatu kota diluaran ! Kau harus bekerja hati2, dan mesti robah adat kau, jangan kau bawa adatmu yang kukuh, adat keras jelek."

Bouw Pek suka turut perkataannya paman itu, dia memang niat pergi merantau guna hiburkan diri, sedang dia dengar Pakkhia adalah kota besar dan ramai, yang banyak pemandangannya yang indah. Dia percaya, dengan pergi kekota raja, matanya akan jadi terbuka. „Baiklah, aku nanti pergi!" dia jawab.

„Kau boleh lantas siap," sang paman kata pula dia periksa Lak Jit dan dapatkan lusa adalah hari baik „Kau boleh berangkat lusa."

Bouw Pek menurut, dia lalu benah kan buntalannya. Besoknya dia pergi kekota akan pamitan dari bibinya. Dihari ketiga, pagi dia sudah siap. Lie Hong Keng telah beri

kan dia lima puluh tail buat ongkos perjalanan. Dia terima uang itu sambil haturkan terima kasih, kemudian dia kasih hormat pada encek dan encimnya buat ambil selamat berpisah. Dia berangkat dengan naik sebuah kereta sewaan.

Baru saja kereta meninggakan Lamkiong, menuju keutara, hatinya Bouw Pek sudah mulai terbuka. Pekerjaan bulan tujuannya yang utama. Cita2nya adalah merantau, akan melihat dunia yang luas, guna saksikan tempat2 yang tersohor indah. Dia kandung harapan agar nanti bisa ketemu nona yang mirip dengan Jie Siu Lian, supaya dia bisa menikah dalam kepuasan. Tapi udara sangat panas, duduk didalam kereta Bouw Pek merasa gerah dan panas, hingga dia rasai kepalanya pusing. Pun duduk terlalu lama dalam kereta mendatang kan rasa pegal dan sakit.

„Aku harus beli seekor kuda," demikian dia pikir. Pamannya berikan dia limapuluh tail, dia sendiri punya sisa uang duapuluh tail lebih, dengan hampir delapan puluh tail dikantong, dia rasa dia kuat beli seekor kuda.

Demikian, waktu dia sampai di Kieciu, Bouw Pek lantas turun dari kereta buat bayar uang sewaannya, kemudian dia pergi ketoko kuda buat beli seekor kuda. Dia pilih seekor kuda bulu putih yang lumayan, harganya empat puluh tail, sedang untuk pakaian kuda lengkap dengan cambuk, dia mesti bayar delapan tail. Dia mesti bikin kantongnya berkurang isinya. sampai separoh lebih, tapi dia merasa puas. Dia lompat naik atas kudanya gunai cambuknya dan kuda itu lantas kabur !

Anak muda itu paling gemar menunggang kuda selagi ada dirumah, selama bergaul rapat dengan Nio Bun Kim dia sering pinjam kuda sobatnya itu, siapa punya dua ekor. Lantaran ini, dalam hal mengendalikan kuda dia cukup pandai. Karena ini juga, kendati kudanya tidak jempolan, dia bisa bikin kuda itu nampaknya jempolan. Dia sampai lupa, yang uang bekalan dari pamannya dia telah bikin ludes.

Oleh karena hawa udara panas, Bouw Pek pun lantas beli tudung rumput besar yang dipanggil tudung ,ma lian po". Dengan pakai tudung semacam ini, dengan pakaian nya yang ringkas, dengan pedang tergantung diatas sela kuda, dia benar2 mirip dengan hiapkek muda dari kalangan Sungai Telaga. Dia tinggalkan kota Kieciu, menuju terus keutara.

Hari itu Bouw Pek bisa lalui perjalanan tujuh puluh lie lebih, dia telah seberangi kali Huyang, Dia singgah satu malam lantas esoknya pagi2 dia lanjutkan perjalanannya. Kira2 jam sepuluh siang dia telah sampai didaerah Bukiang. Disini dia kasi kudanya jalan pelahan2, sebab hawa udara sangat panas. Disitu kebetulan tidak ada banyak kereta yang mundar mandir,begitupun orang yang berlalu lintas. „Apa aku mesti lakukan sesampainya di Pakkhia?" demikian Bouw Pek layangkan, pikiran. Andaikata aku dipekerjakan di Hengpou, apa aku sanggup akan setdiap hari duduk membungkuk menghadapi pit dan kertas saja ? Sebenarnya paling benar andaikata aku bisa bekerja sebagai guru silat atau piauwsu ! Tapi piauwcek seorang pembesar dari  kalangan bun, mana dia mau. ijinkan aku bekerja sebagai kauwsu atau piauwsu, yang dimatanya adalah semacam pekerjaan rendah ?'

Ngelamun begini, hatinya Bouw Pek jadi mengkerat.

„Perjalanan ini sungguh tidak terlalu menggembirakan." pikir dia akhirnya.

"Perjalanan telah dilanjutkan kira2 sepuluh lie, waktu Bouw Pek mesti berpaling kebelakang dengan mendadak, karena kupingnya segera tangkap suara berisik dari kaki2 kuda. Baru saja dia melihat, segera tiga ekor kuda lagi menerobos disampingnya. Dia dapatkan penunggang nya dua orang lelaki dan satu orang perempuan, semua berpakaian ringkas, kedua lelaki pakai tudung lebar. Mereka ini yang satu bertubuh tinggi, yang satu nya sedikit gemuk. Yang perempuan kepalanya dibungkus dengan saputangan hitam, bajunya dadu muda, celananya hitam, kakinya kecil, dilihat dari sikapnya dia adalah penunggang kuda yang pandai. Tapi yang paling menarik adalah golok kangtoo, yang tergantung atas masing2 sela kuda.

„Siapakah mereka ?" pikir Bouw Pek, yang heran sekali.

„Kelihatannya mereka bukan bangsa penjual silat ! Mereka lebih mirip dengan kawanan penjahat !"

Oleh karena tertarik hati dan curiga, Bouw Pek keprak kudanya buat coba menyusul, tetapi begitu sudah dekat beberapa puluh tindak, dia kendalikan kudanya supaya tidak datang dekat mereka itu. Dia menguntit sambil coba memperhatikan tubuh dan muka orang. Kebetulan buat dia, beberapa kali tiga orang itu menoleh kebelakang, hingga muka mereka bisa terlihat jelas hingga anak muda kita bisa ingat dan menduga2 juga umur mereka. Lelaki yang jangkung berumur kurang lebih tiga puluh tahun. Mukanya merah kumisnya pendek. Lelaki yang agak gemuk, yang tubuhnya tidak tinggi, bermuka hitam sepasang matanya tajam bengis. Umurnya baru dua puluh lebih. Yang perempuan mestinya berusia duapuluh empat, mukanya panjang, kulit mukanya agak hitam tetapi romannya menarik. Pada pipinya kiri, dibetulan lekuk, ada titik merah dan titik ini membikin dia kelihatannya bengis.

Mereka itu melarikan kuda dengan tidak banyak omong, kelihatannya mereka lagi hadapi urusan penting Mestinya disebelah depan ada sesuatu yang menunggui mereka, yang mereka harus kerjakan. Rupanya sedang menyusul atau mengejar.

Lewat lagi dua tiga lie, lantas tiga orang itu sering sekali menoleh kebelakang, saban2 mereka bicara satu pada yang lain. Sekarang kelihatan nyata mereka curigai anak muda kita, yang terus berada disebelah belakang mereka.

Lie Bouw Pek bawa sikap anteng, dia lari kan kudanya, akan tetapi tidak terlalu dekat pada mereka. Tapi sekalipun berpura2 tidak perduli, dia selalu pasang mata atas gerak gerik orang. Ketika sudah lewati lagi satu lie, mendadak tiga orang itu tahan kuda mereka dan berhenti.

Lie Bouw Pek tidak gubris orang, dia jalan terus. Sekarang dia mesti maju, akan lewati mereka itu, supaya mereka jangan curiga. Disaat sudah datang dekat tiba2 si jangkung  lintangkan kudanya dan memegat. ,,Eh, sobat, kau bikin apa

?" si jangkung menegor.

Bouw Pek berpura2 tercengang, dia angkat kepalanya dan mengawasi dengan melongo.

„Aku membikin perjalanan." dia jawab secara polos.

„Kau mau pergi kemana?" si yangkung tanya pula. „Ke Pakkhia."

Dijawab begitu si jangkung agaknya sangat ketarik hati, dia mengawasi orang dari atas sampai kebawah, seperti juga dia ingin tahu, pemuda kita orang macam apa. Orang yang satunya, yang bermuka hitam, tidak sabar seperti kawannya.

Dengan muka gusar dia kata pada pemuda kita.

„Kami tidak perduli kemana kau hendak pergi!" akhirnya dia kata „Aku hendak tanya kau, kenapa kau kuntit kami?"

Lie Bouw Pek tidak takuti roman bengis dan kejam dari orang itu. Dia bersenyum ta war.

„Kau tidak tahu aturun, sobat2!" dia men jawab. „Ini jalan besar umum, siapa saja, orang dagang atau orang pelancongan, merdeka buat jalan disini ! Kau jalan duluan,  aku belakangan, masing2 jalan sendiri, maka itu, kenapa kau katakan aku kuntit kau orang? Sudah belasan tahun aku hidup dalam pengembaraan, aku telah merantau keselatan, keutara, apa bisa jadi jikalau aku tidak ikuti kau orang, aku jadi tidak kenal jalanan ?"

Bouw Pek belum tutup rapat mulutnya, dia lihat si orang perempuan geraki tangan hendak sambar goloknya. Tapi si jangkung yang lihat gerakan itu, lekas kedipi mata. Maka perempuan itu urungkan maksudnya.

Tiga orang itu jadi bersangsi, karena mereka tidak bisa duga arak muda ini orang macam apa Mereka jadi sungkan terbitkan onar dengan tidak ada juntrungannya.

„Cukup, sobat!" akhirnya si jangkung kata sambil tertawa.

„Apa yang kau bilang benar, kami ambil jalan kami sendiri, masing2 .... Nah, hayo kita lanjutkan perjalanan kita!" dia tambahkan pada dua kawannya. „Lihat saja, apa nanti dia bisa bikin terhadap kita . . ."

Lantas tiga orang itu dengan mendongkol cambuk kuda mereka buat dikasi lari lagi, hingga debu mengulek naik. Tujuan mereka adalah utara.

Lie Bouw Pek keprak kudanya menyusul sembari lari dia tertawa, hampir tidak berhentinya. Dari ucapan dan sikapnya tiga orang itu, Bouw Pek sudah bisa duga mereka adalah orang2 dari kalangan apa, yalah bangsa penjahat. Dia percaya mereka itu sangka dia seorang dari kalangan Sungai Telaga, lantaran mana, mereka sungkan terbitkan onar. „Mereka mesti hendak lakukan suatu apa, kebanyakan bukan dengan maksud baik, aku harus jangan sembarangan lepaskan mereka," kemudian anak muda kita ambil putusan.

„Aku mesti buktikan, apa yang mereka akan lakukan. Kalau itu perbuatan durhaka, aku mesti hunus pedangku, akan basmi mereka !." Dia kasi lari kudanya akan kuntit terus tiga orang itu. Setelah belasan lie, didepan kelihatan jauh lebih banyak kereta dan orany2 yang berlalu lintas. Tiga penunggang kuda di depan kelihatan sudah terpisah jauh. Bouw Pek sengaja kasi kudanya lari pelahan, karena dia percaya, ditempat ramai seperti itu, orang tidak nanti berani lakukan kejahatan. Dia juga kuatir kudanya nanti tubruk orang, apabila dia turut mereka kasi binatang tunggangannya kabur terus.

Tidak lama lagi, lantas mereka sampai disuatu dusun yang ramai.

Bouw Pek merasa lapar, dia masuk kedalam dusun, kepasar, akan cari warung nasi. Dia minta dua mangkok mie, yang dia dahar habis. Dia bawa kudanya ketempat kombongan buat kasi binatang itu makan rumput. Kemudian dengan tunggangi kudanya, dia keluar dusun Dia jalan belum beberapa jauh tiba2 dari belakangnya, dia dengar orang panggil2 dia: ,.Lie Siauwya! Lie Siauwya!"

Dengan merasa heran, Bouw Pek menoleh kebelakang, tapi setelah dia lihat orang yang kaoki dia, dia jadi terperanjat ! Karena dia ternyata ketemu orang yang tidak pernah disangka akan bertemu disitu di tengah perjalanan ini Dia lekas2 tahan kudanya.

Disebelah belakang mendatang sebuah kereta dengan penunggang kuda. Sipenunggang kuda adalah seorang dengan tubuh besar dan kekar, rambut dan kumisnya sudah putih semua. Dia adalah Tiat cie tiauw Jie Hiong Wan dari Kielok, itu piauwsu tua. Sedang didalam kereta duduk seorang nyonya tua dan seorang nona muda, yang cantik manis, siapa bukan lain daripada nona Siu Lian, yang bikin pemuda kita rindu sendirinya. Maka menampak si nona, hatinya Bouw Pek jadi goncang. Lekas2 dia lompat turun dari kudanya, dia tidak berani menoleh pada nona Jie, dia hanya langsung hampir kan sijago tua untuk unjuk hormat padanya. Dari atas kudanya, orang tua itu membalas hormat.

„Silahkan naik alas kudamu siauwya !" berkata orang tua ini sembari bersenyum manis. „Jangan kau pakai adat peradatan, jangan! Maafkan aku, aku tidak turun dari kudaku

Muka Houw Pek berobah menjadi merah dengan mendadak, sikapnya si orang tua terlalu manis, dia ingat kejadian dua bulan berselang, dirumahnya si orang tua, ke sembronoannya waktu itu bikin dia malu sekali, dan sekarang dia kembali teringat pada kejadian tersebut. Diluar kehendaknya dia melirik kekereta, tapi sekarang tenda kereta sudah dikasi turun. Dengan tidak tahu mesti bilang apa, anak muda ini tuntun kudanya.

,,Loo hiantit, kau hendak pergi kemana?" Jie Lauw Tiauw menanya. Dia seperti sudah lupakan kejadian dua bulan yang sudah,

,.Aku mau pergi ke Pakkhia akan sambangi sanak" jawab Bouw Pek dengan likat.

,,Kekotaraja?" jago tua itu ulangi.

,,Ya, kekota raja," sahut Bouw Pek, yang mukanya kembali bersemu. ,,Pada beberapa tahun yang lalu aku pernah pergi kesana, cuma aku berdiam hanya beberapa hari."

Orang tua itu manggut.

,,Kotaraja adalah tempat yang indah," dia kata. ,,Tempat aku masih muda, akupun pernah pergi kesana, malah disana aku telah tinggal belasan tahun. Sekarang disana, di Tay Hin Piauw tiam di Tah mo ciang. diluar Cian mu, masih ada seorang sobat kekalku, bila kau sampai disana dan ketemu sobatku itu, kau boleh sebut namaku, aku percaya kau nanti dapat pelayanan baik."

„Terima kasih, lauwsiok," Bouw Pek manggut2. „Sekarang lauwsiok mau pergi kemana?" 
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Po Kiam Kim Tjee Jilid 02"

Post a Comment

close