Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 7 : Pemuda yang angkuh

Mode Malam
Jilid 7

“Ha, ha, engkau anggap Ca Giok ini orang macam apa !” seru putra marga Ca-ke-poh itu, “sama-sama menempuh bahaya, sama-sama menderita. Mati hiduppun harus bersama !”

Pemuda itu menutup kata-katanya dengan menamparkan lengan bajunya lebih gencar.

Han Ping tergetar semangat. Sambil bersuit nyaring dan menahan rasa sakit pada lengan kanannya, ia tamparkan tangan kiri dengan seluruh tenaganya.

Karena marah, Han Ping telah menggunakan ilmu tenaga dalam Bu-siang-sin-kang ajaran Hui Gong siansu. Karena baru pertama kali itu menggunakan, tak tahu ia bagaimana perbawanya.

Ribuan ekor tawon beracun berhamburan jatuh di tanah. Tekanan merekapun berkurang. Tetapi Han Ping sendiripun juga menderita. Karena menumpahkan tenaganya, ia tak dapat menguasai jalan darah pada lengannya yang terkena racun itu. Akibatnya racun meliar menyerang ke ulu hati. Dadanya terasa linu kesemutan. Hawa murni lepas membinal ke seluruh tubuh.

“Saudara Ca, tinggalkan aku, aku sudah tak ada harapan lagi !” akhirnya ia berseru.

Ketika Ca Giok berpaling, dilihatnya Han Ping sudah terhuyung-huyung tak dapat berdiri tegak. Ca Giok cepat menghalau kawanan tawon lalu meminta Han Ping supaya duduk bersemedhi.

Setelah melihat pemuda itu dapat menahan serangan tawon, Han Ping segera menurut. Berkat ilmu semedhi ajaran Hui Gong siansu, dalam waktu yang singkat dapatlah ia menghimpun lagi tenaga murninya yang telah berpencaran itu. Rasa nyeri pun berkurang separuh.

Ia tak tahu sampai dimana tingkat tenaga dalamnya. Hanya setelah merasakan agak baik, ia makin bersemangat. Seluruh semangat ditumpahkan untuk mengerahkan seluruh tenaga murni dan menyalurkannya ke sekujur tubuh. Ternyata berhasillah ia menghalau racun yang sudah menyerap ke dalam tubuh itu. Racun mulai mengucur keluar.

Sambil menempur kawanan tawon, diam-diam Ca Giok memperhatikan keadaan Han Ping. Dilihatnya pemuda itu duduk bersemedhi pejamkan mata. Ubun-ubun kepalanya mengepul uap. Diam-diam Ca Giok : “Heran, mengapa pemuda itu sedemikian hebat tenaga dalamnya. Dalam 10 tahun lagi, tentu tiada tandingnya. Hm, jika saat ini tak kulenyapkan kelak tentu berbahaya sekali ...”

Seketika timbullah nafsu pembunuhan dalam hati pemuda Ca itu. Robekan baju dipindah ke tangan kiri dan tangan kanan dikepalkan keras-keras. Pada saat ia hendak turun tangan, tiba-tiba terlintas pikiran baru : “Ah, jika sekarang kulenyapkan, aku tentu kehilangan seorang tenaga yang berharga. Keadaan saat ini amat berbahaya sekali. Lembah Seribu racun, Lembah Raja setan dan tokoh-tokoh sakti dalam dunia persilatan sama berkumpul disini. Begitu pula Pengemis sakti Cong Topun muncul. Kedua tokoh aneh si Kate dan si Bungkuk dan lelaki berkuda putih yang berpakaian kim-ih (pengawal istana) merupakan batu perintang yang tak mudah diialui. Jika sekarang kubunuhnya, aku tentu menderita kerugian sendiri. Ah, lebih baik kupertangguhkan pembunuhan itu sampai pada lain waktu yang sesuai. Saat ini akan kugunakan tenaganya untuk menghadapi musuh-musuh yang tangguh !”

Cepat sekali pemuda itu berpikir dan mengambil keputusan. Ia pindahkan lagi robekan lengan baju ke tangan kanannya. Dan mulailah ia menghantam kawanan tawon itu lagi seraya bertanya kepada Han Ping : “Bagaimana, apakah keadaanmu bertambah baik ?”

Han Ping membuka mata, mengangguk tersenyum lalu pejamkan mata lagi.

Tiba-tiba suara suitan melengking tinggi, mendesak suara harpa. Suitan itu bagaikan iblis merintih-rintih menyayat hati.

Sebagai seorang yang berpengalaman tahulah Ca Giok bahwa tak lama tentu akan terjadi suatu perubahan yang tak menguntungkan. Diam-diam ia curahkan seluruh perhatiannya untuk mengamati ke sekeliling penjuru.

Juga Han Ping terganggu pikirannya. Ia membuka mata dan memandang ke sekeliling. Dengan demikian dua kali ia telah menghentikan penyaluran tenaga dalamnya. Suatu hal yang sesungguhnya merupakan pantangan besar. Tiba-tiba racun yang berhasil digiring keluar dari kulitnya itu, kembali merangsang balik ke dalam tubuhnya. Tetapi karena Ia sedang bersemedhi, perobahan itu tak terasa olehnya.

Suitan itu makin melengking tinggi dan beberapa saat kemudian terdengarlah suara mendesis-desis dari empat penjuru.

“Ular beracun !” teriak Ca Giok yang cepat dapat mengenali apa artinya bunyi itu.

Han Ping memandang tajam-tajam ke sekeliling. Memang benar. Beberapa tombak jauhnya, dilihatnya benda-benda yang bergerak-gerak mendatangi.

“Benar, memang ular beracun”, ia menghela napas.

Ca Giok memperhatikan bahwa sekalipun di empat penjuru terdapat banyak pohon-pohon bunga, tetapi tak tampak barang sebatang pohon yang dapat dijadikan tempat sembunyi. Namun ia masih tetap bersikap tenang sekali, serunya tertawa : “Dari atas diserang tawon beracun dan dari bawah diserbu ular berbisa. Saudara Ji, malam ini kita tentu binasa . . . .”

Tiba-tiba Han Ping berbangkit, serunya : “Atas kesungguhan hati saudara melindungi diriku aku berterima kasih sekali. Keadaanku sekarang sudah banyak sembuh. Silahkan saudara mundur biarlah aku yang menempur kawanan ular itu. Mudah-mudahan saudara dapat lolos dari bahaya disini !”

“Tidak !” sahut Ca Giok tegas, “aku merasa bahagia apabila mati berdampingan dengan saudara,”

Dalam pada itu kawanan ularpun sudah tiba. Han Ping menghantam. Sepuluh ekor ular yang maju paling depan, hancur seketika. Tetapi serempak dengan itu, dadanya terasa sakit. Racun tawon mulai merangsang lagi. Diam-diam ia kerutkan dahi. Namun kuatir menurunkan moril Ca Giok, ia tahankan sakit sekuat mungkin.

Tiba-tiba api memancar dan terdengarlah suara orang tertawa. Ketika berpaling kedua pemuda itu melihat seorang pengemis tua tengah duduk di tanah sambil mencekal sebatang obor. Obor digoyang-goyangkan kian kemari untuk menghalau kawanan tawon. Sedang tangannya kanan memeluk sebuah buli-buli arak warna merah. Buli-buli itu tak henti-hentinya diteguk ke mulutnya. Setiap habis meneguk tentu disemburkan ke sekeliling penjuru. Beberapa saat kemudian tiba-tiba obor itu diturunkan ke bawah dan menyalalah suatu lingkaran api yang luas. Tampaknya ia enak-enak saja duduk di tengah lingkaran api itu. Ah, siapa lagi pengemis aneh itu kalau bukan Pengemis sakti Cong To !

Rupanya Ca Giok tahu juga keadaan Han Ping saat itu, buru-buru ia mencegah : “Jangan banyak menggunakan tenaga lagi, saudara Ji. Ingat, racun tawon dalam tubuhmu itu setiap saat masih dapat merangsang lagi !”

Han Ping mengangguk : “Memang kurasakan racun itu sudah menyerang ke arah ulu hatiku. Harap saudara cepat-cepat tinggalkan tempat celaka ini !”

Ca Giok tersenyum ujarnya : “Hanya satu jalan hidup bagi kita. Ialah kita harus bersembunyi dalam lingkaran api pengemis Cong To itu. Tawon dan ular takut api. Tak mungkin mereka berani mengejar kita. Tetapi sayang selama ini pengemis sakti itu tak baik hubungannya dengan ayahku. Dikuatirkan dia tak mau memberi tempat bagi kita !”

Han Ping menerima ucapan Ca Giok itu dengan arti yang jujur. Segera ia berkata : “Kudengar Pengemis sakti Cong To itu berjiwa luhur. Jika tahu kita dikepung tawon dan ular beracun, dan dia tak mengizinkan kita meneduh di tempatnya, tentu akan menodakan namanya. Dan jika benar dia menolak, lebih baik menempurnya sampai mati !”

“Baiklah, harap saudara simpan tenaga untuk menempur pengemis tua itu. Mari kubawamu kesana !” kata Ca Giok seraya menampar kawanan tawon dan ular lalu secepat kilat ia menyambar tubuh Han Ping, terus dibawa loncat.

Sebenarnya Ca Giok mampu untuk loncat dua tombak. Tetapi karena harus membawa orang, ia hanya dapat loncat sejauh satu setengah tombak saja.

Melihat akan melayang turun ke tempat gerombolan ular, Han Ping berseru : “Saudara Ca, lepaskan aku !”

“Jangan meronta !” sahut Ca Giok seraya gunakan ilmu cian-kin-tui atau memberatkan tubuh, untuk mempercepat dirinya turun ke bumi. Beberapa ekor ular terpijak mati, lalu dengan gunakan tenaga pijakan itu, ia ayunkan tubuh ke udara dan melayang ke dalam lingkungan lingkaran api.

Pengemis sakti Cong To tak mencegah, pun tak menyambut. Ia hanya gerakkan obornya untuk menyalakan kembali bagian lingkaran api yang padam karena tertiup angin gerakan Ca Giok. Beberapa ekor tawon yang hendak menyelundup berguguran mati karena disongsong obor.

Setelah meletakkan Han Ping, Ca Giok memintanya supaya bersemedhi menyalurkan tenaga murni untuk mengumpulkan racun dan diusahakan untuk menghalaunya keluar.

Han Ping sejenak melirik ke arah Cong To. Dilihatnya pengemis sakti itu menutup lingkaran api pertahanan diri. Sebenarnya ia hendak mengucap terima kasih. Tetapi demi melihat sikap Cong To yang dingin dan seolah-olah tak mengacuhkan, mengkallah hatinya.

“Hm, setiap kali aku selalu merendahkan diri sebagai seorang muda terhadap seorang locianpwe. Tetapi engkau selalu bersikap dingin kepadaku...,” ia menggumam dalam hati lalu berpaling muka dan duduk bersemedhi pejamkan mata.

Ca Giok cukup paham akan watak pengemis sakti itu. lapun tak menghiraukan. Diam-diam siap sedia untuk melindungi Han Ping.

Tetapi dia berdiri di samping Han Ping dan Pengemis sakti berdiri di samping lain. Jadi Han Ping berada di tengah-tengah mereka. Dengan begitu entah siapakah yang sesungguhnya menjadi pelindung. Ca Giok melindungi Han Ping atau Ca Giok menjadikan pemuda itu sebagai perisai apabila Cong To bertindak.

Gerombolan ular dan kawanan tawon beracun tetap mengejar tetapi tak dapat masuk dalam lingkaran api.

Kiranya api itu berasal dari semburan arak Pengemis sakti yang disulut dengan obor. Karena arak habis terbakar, apipun makin redup. tiba-tiba Pengemis sakti meneguk lagi buli-buli araknya, lalu disemburkan keluar. Rupanya arak itu keras sekali, begitu terjilat api terus terbakar.

Diam-diam Ca Giok memperhatikan juga gerak gerik Pengemis sakti itu. Melihat buli-buli dituang tinggi ke atas, Ca Giok menduga isinya tentu tinggal sedikit.

“Celaka, kalau arak habis, kita tentu diserbu binatang itu lagi !” diam-diam ia mengeluh.

Tetapi ketika memandang ke arah Pengemis sakti, dilihat wajah tokoh itu tenang-tenang saja.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dan kawanan ular yang berada di sebelah rnuka, berbondong-bondong mundur.

Ternyata pohon-pohon yang berada di sekeliling situ karena terbakar api daunnya berguguran jatuh sehingga api makin membesar. Barisan depan dari kawanan ular itu kepanasan dan menyurut ke belakang tetapi karena yang di belakang tak sempat bergerak mundur, mereka saling berdesak dan akibatnya ular-ular di barisan depan itu mendesis-desis kesakitan.

Diam-diam Ca Giok bergirang dalam hati. Pohon itu lebat daunnya. Jika daun-daun itu berguguran, api tentu takkan padam dan bahkan bertambah besar. Asal Pengemis sakti itu tak memusuhi dan mau diajak kerja sama, tentulah bahaya dapat diberantas.

Tiba-tiba Pengemis sakti itu tertawa gelak-gelak : “Tawon racun, ular berbisa, sudah kuterima dan ternyata hanya begitu saja. Apakah masih ada lain macam acara, silahkan mengeluarkan agar aku si pengemis tua dapat tambah pengalaman. Jika tidak ada lain acara lagi, harap panggil pulang kawanan binatang itu dan suruh orang datang kemari. Ingin sekali pengemis tua menerima pelajaran dari ilmu kepandaian kaum Laut Selatan yang terkenal sakti. Apabila tak menarik pulang binatang-binatang itu, jangan sesalkan tindakan si pengemis tua yang akan membakar hangus mereka !”

Sebagai sambutan, suara harpa dan suitan itu tiba-tiba berubah tenang nadanya. Dan kawanan tawon serta ular itupun mulai bergerak mundur. Beberapa saat kemudian bersihlah tempat itu dari tawon dan ular.

Pengemis sakti Cong To serentak berbangkit, melemparkan obornya dan memandang Ca Giok dingin-dingin. Sekali tangannya berayun, tubuhnyapun melambung ke udara dan melayang turun tiga tombak jauhnya.

Setelah pengemis sakti itu pergi, Ca Giok berpaling ke arah Han Ping. Dilihatnya kepala pemuda itu basah kuyup dengan keringat. Rupanya ia sedang mencapai keadaan yang gawat.

Diam-diam timbullah pikirannya jahat : “Saat ini seluruh tenaga murninya sedang berpusat pada serapan bawah. Jika kuhantam salah sebuah jalan darahnya yang penting, tentu dia mati seketika. Jika tak mati, orang ini tentu akan merupakan bahaya besar di kemudian hari. Tetapi kalau dibunuh, pun aku kehilangan tenaga yang berharga. Namun kalau dilepaskan begini saja, mungkin takkan kuperoleh lagi kesempatan sebagus ini. . . .” demikian silang selisih pikirannya tak menentu.

Akhirnya ia berbangkit, mengerahkan seluruh tenaga dalam. Pada saat ia hendak mendaratkan pukulan maut ke pusar belakang Han Ping, sekonyong-konyong dari belakang terdengar suara tertawa melengking : “Ai, harap sau pohcu menaruh kasihan !”

Ca Giok terkejut dan menyisihkan pukulannya ke samping. Wut. . . angin pukulan itu mendampar sekelompok api sehingga padam.

Saat itu Han Pingpun membuka mata dan berpaling memandang ke arah onggok api yang terhantam pukulan Ca Giok itu. Dilihatnya api itu hanya beberapa langkah dari tempat duduknya. Diam-diam ia berterima kasih kepada Ca Giok. Berpaling ke belakang, ia memberi sebuah senyum kepada pemuda Ca itu.

Tangan geledek Ca Giok menghela napas perlahan, ujarnya : “Karena kuatir mengejutkan saudara yang masih menyalurkan tenaga dalam, terpaksa kupadamkan api itu dengan pukulan. Tetapi tetap membangunkan saudara”.

Tenang dan mantap sekali Ca Giok mengucapkan kata-katanya yang palsu itu. Sedemikian rupa ia menguasai mimik wajahnya sehingga Han Ping percaya penuh.

Tetapi saat itu dua sosok tubuh langsing melayang ke dalam lingkaran api dan pada lain saat sepasang jelita Ting Ling dan Ting Hong sudah berdiri di samping kedua pemuda itu. Kedua nona itu masih mengenakan kedok. yang satu berpakaian hitam dan adiknya berpakaian putih.

Ting Ling menyingkap kedok mukanya, tertawa : “Kepandaian berbohong dari sau pohcu memang hebat sekali. Ucapannya semerdu seruling nafiri tetapi isinya bohong belaka. Namun dapat membawakan dengan nada dan kerut wajah yang yakin dan tenang. Ah, sungguh beruntung sekali kami berdua dapat menyaksikan kepandaian sau pohcu itu !”

Ca Giok tersenyum : “Ah, harap nona berdua jangan salah paham. Begitu bertemu dengan saudara Ji kumintanya supaya menernui nona berdua. Tetapi dia tak mau. Akupun tak dapat suatu apa !”

Mendengar itu seketika Ting Hong membuka muka lalu menatap ke arah Han Ping, tegurnya “Benarkah itu ?”

“Benar”, Han Ping mengangguk.

Bukan kepalang kejut dara itu. Ia tertawa dingin : “Mengapa engkau takut ketemu kami berdua. Apakah kami akan memakanmu ?”

“Aku tak tahan melihat sikap pamanmu yang begitu dingin angkuh. Hm, jika tak mengingat kalian berdua, tentu sudah kuajak berkelahi !”

Setelah menenangkan diri, Ting Ling tertawa : “Kalau begitu engkau tentu benci kepada kami berdua juga ?”

Sekalipun Han Ping tak mengerti maksud yang sesungguhnya dari pertanyaan itu, tetapi Ia dapat merasa bahwa ucapan nona itu memang mengandung sesuatu yang lain. Ia tertegun.

“Bukan begitu. Kalian memperlakukan aku baik sekali”, pada lain saat Ia menjawab.

Ting Ling tertawa : “Kalau tak membenci kami berdua, bolehkah kami menjadi kawan seperjalananmu ?”

Ca Giok kerutkan alis. Waktu hendak membuka mulut, tiba-tiba ia mendapat lain pikiran dan buru-buru tertawa : “Lembah Raja setan dan marga Ca, selamanya baik sekali hubungannya. Kalau nona berdua suka bersamaku dan saudara Ji ini, sudah tentu kami menyambut dengan girang sekali ....”

Ting Hong tertawa dingin : “Baru berkenalan berapa hari saja, sudah sedemikian erat sekali hubungannya”.

Ca Giok tersenyum tak menyahut. Han Ping deliki mata kepada dara itu tetapi juga tak berkata apa-apa.

Ting Ling menampar perlahan adiknya dan pura-pura mendamprat : “Uh, budak setan, mengapa bicara tanpa mengindahkan kesopanan ?”

“Ah, tak perlulah nona marah kepada adik nona. Aku suka dengan sikap wajar dari nona Hong”, kata Ca Giok.

“Ih, engkau anggap bicaraku itu merdu didengar ?” Ting Hong tertawa mengejek.

“Nadanya halus, melengking tinggi penuh berirama merdu sehingga orang tentu terpikat mendengarnya”, sahut Ca Giok.

“Jadi engkau senang mendengarkan ?” tanya dara itu pula.

“Jika tiada lain urusan, tentu aku bersedia mendengarkan sampai tiga hari tiga malam”, sahut Ca Giok.

Tiba-tiba dara itu mencemberut, serunya agak bengis : “Tetapi apakah engkau yakin aku tentu suka bicara ?”

“Ah, sudah tentu aku tak berani memastikan”.

Ting Ling memberi kejapan mata kepada adiknya dan pura-pura membentaknya : “Budak hina, mengapa bicara tak keruan yang tak berguna. . . .”

Ia berpaling ke arah Ca Giok dan memintakan maaf untuk adiknya.

“Ah, tak jadi apa . . . .” baru Ca Giok menyahut, tiba-tiba delapan orang baju hitam muncui dari gerumbul pohon. Mereka membawa ember air dan menyiram api.

Ca Giok hentikan kata-katanya dan siapkan sebatang jarum Hong-wi-ciam (sengat tawon). Kalau mereka berani mengganggu, akan diserangnya lebih dulu.

Ting Ling dan Ting Hongpun segera melangkah di hadapan Han Ping. Kedua nona itu siap melindunginya.

Tetapi rupanya kedelapan baju hitam itu tak mengacuhkan. Habis memadamkan api, mereka pergi lagi.

“Cici, mengapa mereka tak melihat kita ?” tanya Ting Hong kepada tacinya.

Ting Ling sendiripun heran. Jelas diperhatikannya bahwa gerak langkah kedelapan orang itu lincah sekali. Suatu pertanda mereka tentulah berkepandaian tinggi. Tetapi mengapa mereka tak melihat kehadiran beberapa orang disitu ?”

Tetapi Ting Ling seorang nona yang pandai menyimpan perasaan. Walaupun heran tetapi ia tak mau sembarang berkata apa-apa. Malah ia menanyakan pendapat Ca Giok tentang orang-orang itu.

“Ilmu kepandaian kaum Laut Selatan, terkenal penuh muslihat. Setiap tindakan mereka tentu mengandung maksud. Mereka tentu kuatir api yang dilepas Pengemis sakti Cong To itu akan menghabiskan tanaman mereka. Kemungkinan sikap mereka tak mengacuhkan kita ini adalah supaya kita masuk lebih lanjut ke daerah mereka.”

“Hebat, sau pohcu memang pandai meneropong gerak gerik orang. Lalu apakah kita juga akan lanjutkan langkah sesuai yang mereka harapkan itu ?” tanya Ting Ling.

Diam-diam Ting Hong heran atas sikap tacinya yang selalu menanyakan pendapat Ca Giok. Pada hal Ia tahu bahwa tacinya itu seorang yang cerdas dan cermat.

Setelah merenung sejenak, Ca Giok menjawab : “Apakah kita hendak melanjutkan langkah ke daerah mereka, aku sendiri tak dapat memutuskan. Sebaiknya kita tanyakan pendapat saudara Ji.”

Han Ping serentak berbangkit, serunya : “Karena sudah terlanjur berada disini, dari pada mundur lebih baik kita lanjutkan untuk melihat-lihat keadaan disana”. - Ia terus mendahului ayunkan langkah.

Terpaksa Ca Giok menyusul di sampingnya dan kedua nona Ting itu mengikuti di belakang mereka.

Kira-kira 6-7 tombak jauhnya, tiba-tiba terdengar daun-daun dan gerumbul pohon berderak-derak mendesirkan suara berisik.

Han Ping yang sudah merasakan siksaan dari racun tawon, sangat hati-hati sekali. Ia berhenti dan memandang ke sekeliling penjuru.

Ca Giok tertawa “Ah tak perlu saudara curiga. Di sebelah muka sana terjadi pertempuran dahsyat. Daun-daun itu bergoyang karena hamburan pukulan mereka !”

Han Ping terkejut. Ia duga kemungkinan tentu Pengemis sakti Cong To yang bertempur. Walaupun ia mengkal atas sikap acuh tak acuh dari tokoh itu tetapi mengingat Pengemis sakti itu merupakan satu-satunya tokoh persilatan yang menentang Sin-ciu It-kun atau Ksatria tunggal dari Sin-ciu, ia tetap menaruh perhatian kepada pengemis aneh itu.

Buru-buru ia cepatkan langkah. Setelah melintasi sebuah hutan kecil dari pohon-pohon bunga, tampak dua orang tengah bertempur seru. Si Bungkuk sedang perang tanding dengan pemuda berpakaian bagus yang berada dalam biara rusak bersama Pengemis sakti Cong To itu. Mereka bertempur dengan tangan kosong tetapi serunya bukan main.

Ca Giok dan kedua nona Ting tak kenal siapa pemuda berpakaian bagus itu. Tetapi karena melihat pemuda itu dapat mengimbangi kesaktian si Bungkuk, diam-diam mereka terperanjat juga.

Tiba-tiba Han Ping teringat kata-kata si pengemis muda yang mengatakan bahwa Pengemis sakti Cong To akan menyerahkan jiwanya kepada pemuda berpakaian bagus itu. Diam-diam Han Ping curahkan perhatian mengikuti pertempuran itu.

Atas dasar keterangan pengemis muda itu. Han Ping memastikan pemuda berpakaian bagus itu tentu amat sakti. Tetapi alangkah kejutnya ketika menyaksikan bahwa kepandaian pemuda itu ternyata tidak terlalu berlebih-lebihan. Sukar dipercaya bahwa pemuda itu mampu mengalahkan Pengemis sakti Cong To.

Berlawanan dengan penilaian Han Ping, Ca Giok dan kedua nona Ting itu mengagumi kepandaian pemuda berpakaian bagus yang mampu menandingi si Bungkuk.

Kedua orang itu bertempur makin keras dan seru. Setiap gerakan tangan dan kaki tentu mengarah bagian maut dari lawannya, Kedahsyatan pukulan mereka sampai menimbulkan deru angin dahsyat sehingga pakaian Han Ping dan kawan-kawannya tertiup berkibaran.

Tiba-tiba Han Ping teringat bahwa dunia persilatan itu penuh dengan tipu muslihat yang licik. Ia menimang : “Adakah pemuda berpakaian bagus itu sudah mengetahui kedatangan Pengemis sakti ke sini sehingga Ia sengaja menyimpan kepandaiannya yang asli ?”

Diam-diam timbul keinginannya untuk mencoba kepandaian pemuda itu. Hanya dengan cara itu, baru ia dapat mengetahui benar-benar bagaimana sesungguhnya kepandaian pemuda itu.

Han Ping seorang pemuda polos yang tak punya perigalaman. Apa yang dipikirkan, terus saja dilaksanakan.

“Hai, berhenti !” serentak ia berseru kepada mereka.

Saat itu pertempuran sedang mencapai puncak ketegangan yang menentukan. Karena teriakan Han Ping, pemuda itu terkejut. Hanya sedetik ia terpencar perhatiannya tetapi akibatnya cukup besar. Si Bungkuk dengan cepat menyelinap ke belakang dan secepat kilat menghantam bahu kiri dan membentur pantat pemuda itu dengan lututnya.

Gerakan itu bukan alang kepaiang cepat dan dahsyatnya sehingga tampaknya tak mungkin pemuda itu dapat menghindar.

Tiba-tiba pemuda itu mengangkat kaki kanan, lalu dengan ujung tumit kaki kiri ia berputar diri menghindar serangan itu. Dan serempak menampar dengan tangan kanan.

Gerakan menghindar sambil balas menyerang itu benar-benar luar biasa. Dari diserang menjadi penyerang. Si Bungkuk rupanya tak menyangka sama sekali akan gerakan itu. Ia terpaksa mundur tiga langkah.

Melihat itu diam-diam Han Ping mendamprat : “Hm, pemuda itu benar-benar licin sekali. hampir saja aku dapat dikelabuinya”.

Tetapi karena sudah terlanjur berseru, Ia pun tak mau mundur. Ia menampar kepada kedua orang yang bertempur itu seraya membentak : “Suruh berhenti mengapa kalian tak mau mendengar ?”

Kedua orang itu sebenarnya hendak melangkah maju lagi tetapi karena gelombang angin tamparan Han Ping itu mereka masing-masing mundur selangkah lagi.

Ca Giok dan kedua nona itu terkejut melihat tindakan Han Ping tetapi mereka tak berusaha mencegah.

Ketika mengetahui siapa pengganggunya, si Bungkuk tertawa dingin : “Hm, kiranya engkau . . . .”

Han Ping tak mengacuhkan si Bungkuk tetapi tetap memandang pemuda berpakaian bagus, serunya : “Bertempur adu kepandaian, setiap saat maut mengancam. Jika tak mengeluarkan kepandaian sungguh-sungguh, tentu akan celaka sendiri”.

Pemuda itu menduga Han Ping hendak membantunya. Tentulah Han Ping menyuruhnya mundur dan hendak menempur si Bungkuk. Dengan dugaan itu, ia tak curiga dan hanya bersenyum saja lalu berdiri di samping. diam-diam pemuda itu merenung : “Sekalipun sudah kukerahkan seluruh kepandaianku tetapi aku tak dapat mengalahkan si Bungkuk. Hm, tetapi tak boleh kuunjuk kelemahan”.

Pemuda itu tertawa : “Ah, menghadapi manusia semacam itu, perlu apa harus mengeluarkan seluruh kepandaian . . . .”

Tiba-tiba Han Ping mengangkat tangannya dan menyerangnya. Sudah tentu pemuda berpakaian bagus itu terperanjat sekali. Ia tak mengira akan diserang secara liar begitu. Dan lebih terkejut pula ketika mendapatkan bahwa tenaga pukulan Han Ping lebih unggul dari si Bungkuk tadi. Karena tak bersiap, pemuda itu tak berani menangkis. Ia mengangkat kakinya kanan, tubuhnya condong ke samping dan tahu-tahu ia sudah menghindar dua langkah.

Hebat sekalipun cara penghindaran itu, namun Han Ping tetap membayanginya. Habis memukul, Han Ping sudah maju merapat. Tangan kiri gunakan jurus Menyusup laut mencari mutiara untuk menutuk sepasang mata. Dan tangan kanan gunakan gerak Kin-liong-khiu untuk mencengkeram lengan kiri pemuda itu.

Memang sebelumnya Han Ping sudah mengatur rencana untuk menghadapi pemuda itu. Ilmu Kin-liong-chiu yang terdiri dari 20 jurus itu, merupakan ilmu tangan kosong untuk menangkap musuh yang jarang terdapat di dunia persilatan.

Sekalipun pemuda itu cukup sakti tetapi ia tak mampu menghindar dari serangan istimewa itu. Dalam gugupnya ia gunakan jurus Rajawali merentang sayap untuk menangkis tusukan jari Han Ping. Tetapi Ia tak berdaya menghindar lengannya dari cengkeraman Han Ping. Seketika Ia rasakan lengannya kesemutan ....

Begitu mudah dapat mencengkeram lengan pemuda itu, Han Ping tertegun sendiri. Pikirnya : “Pengemis sakti Cong To seorang tokoh sakti. Dan pemuda ini hanya biasa saja kepandaiannya. Aneh, mengapa Pengemis sakti kalah dengan pemuda ini ? Ah, mustahil ! Tetapi tampaknya pengemis muda itu bicara dengan sungguh. Ah, benar aneh ini. . . .”

Han Ping memang berotak cerdas tetapi ia tak mempunyai pengalaman sehingga ia tak dapat memecahkan persoalan itu. Ia tak menyadari bahwa gerak Kin-liong-chiu yang digunakan itu memang merupakan ilmu kepandaian istimewa dari Siau-lim-si yang jarang terdapat di dunia persilatan. Apalagi pemuda lawannya itu sama sekali tak berjaga-jaga sehingga mudah tercengkeram lengannya. Andaikata pemuda itu mengetahui bahwa Han Ping hendak memusuhinya, tentulah ia bersiap-siap dan tentulah tak semudah itu Han Ping akan mendapat kemenangan.

Ca Giok, kedua nona Ting dan si Bungkuk terkejut menyaksikan Han Ping dapat menangkap pemuda itu. Mereka tak mengetahui ilmu apa yang digunakan Han Ping tadi.

Sedangkan karena pikirannya melamun, Han Ping tertegun dan cengkeramannyapun kendor. Pemuda itupun meronta seraya menyerempaki dengan memukulkan tangan kanan ke dada Han Ping.

Han Ping gelagapan. Tetapi ia sudah tak keburu menghindar lagi. Terpaksa ia mengisar tubuh dan menangkis dengan tangan kanannya.

Tetapi serempak dengan itu, Ca Giok pun mendahului lepaskan sebuah pukulan ke arah pemuda itu seraya membentak : “Kawanan tikus jangan curang !”“

Ca Giok cerdas sekali. Dia selalu waspada. Demi melihat Han Ping terlongong, dia cepat kerahkan tenaga. Pada saat pemuda itu bergerak, iapun menyerempaki dengan melontarkan pukulan Pek-poh-sin-kun ke arah pemuda itu.

Pemuda itu terkejut dan loncat mundur. Dengan begitu terpaksa ia tarik kembali pukulannya kepada Han Ping tadi.

“Sudahlah saudara”, Han Ping tertawa mencegah Ca Giok, “sebelum tujuan kita hendak menguji kepandaian dari orang Laut Selatan, perlu apa kita mengadu jiwa dengan orang yang tak kita kenal itu ?”

Memang setelah hantamannya luput, Ca Giok hendak memburu. Ia heran mengapa Han Ping mencegahnya : “Apakah saudara kenal dengan pemuda itu ?”

“Pernah bertemu sekali tetapi belum pernah tegur menegur”, sahut Han Ping.

Pemuda itu mendengus, berputar tubuh hendak angkat kaki tetapi si dara Ting Hong menghadangnya. Sambil memandang kepada Han Ping dara itu tertawa “Apakah melepaskannya ?”

“Kita tak bermusuhan, mengapa perlu dirintangi ?” sahut Han Ping seraya memberi hormat kepada pemuda itu : “Aku hanya ingin menerima pelajaran dari saudara. Tak ada lain maksud apa-apa lagi. Harap saudara suka maafkan !”

Bukan saja pemuda itu bahkan Ca Giok dan kedua nona Ting itu tak mengerti apa yang dimaksud Han Ping.

Tiba-tiba terdengar suitan nyaring memecah angkasa. Asalnya dari dalam hutan. Si Bungkuk tertawa dingin, serunya “Ilmu kepandaian dari Lam-hay bun, merupakan kumpulan dari ilmu silat Tionggoan kuno dan baru serta daerah Se-gak. Merupakan sumber ilmu silat baik golongan Putih maupun Hitam, jenis yang luar biasa maupun Lurus. Sekalipun kalian memiliki kepandaian sakti tetapi hanyalah ibarat anai-anai membentur api. Atau kunang-kunang hendak beradu dengan rembulan. Jika maju selangkah ke muka lagi, berarti memasuki daerah terlarang dari desa Jui-lo-san. Jika kalian berani mati, silahkan coba. Maaf, aku tak dapat menemani . . . .”, si Bungkuk berputar tubuh terus loncat masuk ke dalam gerumbul pohon.

Memandang ke arah si Bungkuk, tampak bangunan bertingkat yang tegak dengan megah dan terang benderang penerangannya. Dari tempat Han Ping kira-kira 10 tombak jaraknya, dapat mencapai di bawah bangunan tingkat itu.

Han Ping berpaling kepada pemuda berpakaian bagus itu, serunya : “Apakah saudara datang bersama guru saudara ?”

“Mengapa ?” sahut pemuda itu dingin-dingin.

Han Ping tertawa hambar : “Ah, maaf, siapakah nama saudara yang mulia ?”

“Ah, jangan kelewat menyanjung. Aku yang rendah orang sho Ho” pemuda itu menyahut dingin.

“Apakah saudara Ho anak murid dari Pengemis sakti Cong To ?”

Pemuda itu merenung sejenak lalu menyahut : “Aku dan Cong locianpwe tergolong dalam satu perguruan Kim pay-bun. Tetapi Cong locianpwe lebih tinggi tingkatnya”.

Ca Giok memandang ke arah kedua nona, ujarnya : “Partai-partai dalam dunia persilatan berjumlah banyak sekali, sukar dihitung. Baru pertama kali ini kudengar nama Kim-pay-bun itu !”

Sesungguhnya Ca Giok hendak bertanyakan hal itu kepada kedua nona. Tetapi ia malu. Maka ia gunakan kata-kata yang berlingkar-lingkar.

Ting Ling tersenyum : “Jika sau pohcu yang berpengalaman luas tak tahu tentang partai itu, sudah tentu kami yang bodoh lebih tidak . . .”

Belum selesai nona itu mengucap, pemuda berpakaian bagus cepat menukas : “Memang dari dahulu kala, partai Kim Pay-bun itu hanya diwariskan dua orang. Jangankan kalian, hm, sekalian tokoh-tokoh tua dalam dunia persilatan, hanya sedikit sekali orang yang tahu tentang partai itu !”

“Siapakah nama mulia dari saudara Ho ? Apakah saudara tak keberatan memberitahukan ?” kata Han Ping

Pemuda itu kerutkan dahi, sahutnya : “Namaku Heng Ciu. Perlu apa engkau bertanya begitu jelas ?”

“Karena aku mengagumi pribadi saudara dan ingin bersahabat,” Han Ping tertawa.

“Hal ini kelak kita bicarakan lagi. Memang watakku tak suka terlalu rapat dengan orang yang baru saja berkenalan” sahut Heng Ciu si pemuda berpakaian bagus itu.

“Jual mahal benar”, Ca Giok tertawa mengejek.

Tetapi diluar dugaan Han Ping tidak marah, bahkan tertawa : “Ah, setiap orang memang mempunyai pendirian sendiri. Tak boleh dipaksa. Kalau saudara Ho tak mau mengikat persahabatan, aku pun tak dapat memaksanya. Sekalipun aku tak tahu bagaimana riwayat partai Kim-pay-bun itu, tetapi kuyakin tentu termasuk partai daerah Tionggoan. Oleh karena Lam-hay-bun menghina ilmusilat Tionggoan, tentulah saudara Ho akan ikut membersihkan hinaan itu”.

“Dalam hal itu, aku dapat paksakan diri menyetujui”, sahut Ho Heng Ciu.

Ting Ling heran mengapa Han Ping yang biasanya angkuh dan keras kepala, saat ini begitu sabar menghadapi si pemuda baju bagus itu. Tetapi ia tak berani menyatakan sesuatu.

Ting Hong muak melihat kecongkakan pemuda Ho itu. Ia menyelinap di belakang Ca Giok, lalu menampar muka Heng Ciu. Plak .... karena sedang bicara dengan Han Ping dan tak menyangka akan ditampar, Heng Ciu berbinar-binar kepalanya. Kedua belah pipinya terbekas guratan lima jari si nona.

Dengan menggeram, Heng Ciu balas menampar tetapi dara itu loncat ke samping dan bersembunyi di belakang Ca Giok. Ho Heng Ciu perkeras tenaga dalam untuk memukul lagi.

“Mengapa saudara Ho memukul aku ?” Ca Giok gerakan tangan kanan menangkis.

Adu tenaga dalam itu membuat keduanya terkejut. Kedua bahu Ca Giok berguncang-guncang, tubuh terhuyung-huyung beberapa kali. Sedang Heng Ciu tersurut mundur dua langkah.

Ting Ling deliki mata kepada adiknya : “Budak hina yang berandalan, mengapa baru kenal saja engkau berani berolok-olok !”

Habis mendamprat, Ting Ling berpaling ke arah Ho Heng Ciu dan minta maaf atas kekurang ajaran adiknya.

Heng Ciu berpaling ke samping. Tampak Ting Hong dengan pakaian warna putih bersembunyi di belakang Ca Giok. Melihat Ting Hong sudah cukup besar untuk disebut dewasa marahlah Heng Ciu.

“Beberapa usia adik nona itu ? Apakah nona tak sungkan menyebutnya masih kecil ?” dengus Heng Ciu.

Ting Ling tersenyum : “Aku sudah memintakan maaf sendiri. Menurut tata susila, seorang pria tak boleh berkelahi dengan wanita. Masakan engkau hendak balas menamparnya ?”

“Mengapa aku tak berani ?” sahut Heng Ciu.

Ca Giok menyelutuk “Tetapi tanpa sebab apa-apa, saudara juga memukul aku. Jika aku menuruti jalan pikiran seperti itu, tentulah malam ini kita harus bertempur mati-matian”.

“Sekalipun kalian berempat maju semua, akupun tak gentar !” sahut Heng Ciu murka.

“Ucapan yang takabur sekali”, Ca Giok tertawa mengejek, “Apakah saudara sudah lupa waktu tangan saudara kena tercengkeram tadi ? Hm, jika saudara Ji tak bermurah hati, mungkin saat ini saudara sudah terkapar di hadapan kita !”

Merahlah wajah Ho Heng Ciu. Ketika ia hendak menumpahkan kemarahannya, Han Ping maju menghampiri.

Heng Ciu sudah kenal kelihaian Han Ping. Melihat pernuda itu bergerak. Heng Ciu mendahului memukulnya.

Han Ping mengisar ke samping lalu mundur tiga langkah. Angin pukulan Heng Ciu menyambar Ting Ling Nona itu buru-buru berputar diri untuk menghindar.

Heng Ciu terkejut. Ia tak bermaksud memukul nona itu. Buru-buru ia hendak menghaturkan maaf, tetapi mulut berat berkata. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan, Heng Ciu terlongong memandang wajah Ting Ling.

Ting Lingpun seorang nona yang berwatak kelas dan manja. Sejak menerima tamparan dari Han Ping, tak pernah ia melupakan hal itu. Dan setiap kali teringat, merahlah muka karena marah. Tetapi entah bagaimana, ia tak dapat membenci pemuda itu.

Rupanya dendam yang terkandung dalam hatinya terhadap Han Ping itu, sekarang ditumpahkan kepada Heng Ciu. Seketika meluaplah amarah nona itu. Sambil mendekap dada untuk melindungi diri. Ia deliki mata kepada Heng Ciu. Keduanya saling berpandangan dan diam-diam sama mengerahkan tenaga dalam. Mereka saling menunggu siapa yang akan lebih dulu turun tangan.

Semula memang Ting Hong hendak membuat onar. Ia mengkal sekali terhadap sikap Heng Ciu yang angkuh itu. Tetapi setelah urusan berlarut sedemikian rupa hingga melibat tacinya, ia gugup juga. Tiba-tiba ia mendapat akal dan terus loncat ke samping Han Ping. Ia hendak mencari perlindungan pada anak muda itu.

Heng Ciu memang tak mengerti hubungan antara keempat anak muda itu. Ia duga mereka berempat tentulah sahabat-sahabat karib. Cepat Ia berkisar menghadap ke arah Ting Hong dan siap menyerangnya.

Melihat adiknya terancam, tanpa banyak pikir lagi Ting Ling terus menghantam Heng Ciu.

“Nanti dulu nona Ting !” tiba-tiba Han Ping berseru mencegah seraya menyongsong pukulan si nona. Karena pencegahan itu, dapatlah Heng Ciu loncat menghindar ke samping.

Tindakan Han Ping itu benar-benar mengejutkan Ting Hong, ia duga pemuda itu tentu akan membantu tacinya. Tetapi ternyata malah melindungi Heng Ciu,

Sambil loncat di tengah tengah Heng Ciu dan Ting Ling, Han Ping berkata : “Kita sebenarnya tak saling kenal mengenal dan tak mempunyai dendam permusuhan suatu apa. Mengapa kita harus saling baku hantam ? Aku terpaksa melerai, entah apakah saudara-saudara menyetujui tindakanku itu . . . .”

Malam itu Heng Ciu merasa serba salah. Habis bertempur dengan si Bungkuk, lalu mengadu tenaga dengan Han Ping, tukar pukulan dengan Ca Giok, ditampar Ting Hong dan ngotot dengan Ting Ling. Dalam beberapa peristiwa itu ia selalu menderita kerugian. Sambil mengusap-usap tengkuknya ia menggerutu : “Ah, sial benar, sungguh seperti melihat setan . . . .”

Sesungguhnya ia hanya menumpahkan kesialan yang diderita malam itu. Tiada maksud untuk memaki orang. Tetapi kata-kata itu telah menimbulkan salah paham.

Kedua nona Ting panas hatinya. Han Ping pun marah karena kemarin dia juga dimaki “berbau setan” oleh pengemis sakti Cong To.

“Kalau bicara harap saudara sedikit pakai kesungkanan. Aku mengalah tetapi bukan berarti takut kepadamu !” serunya dengan marah.

Heng Ciu terkesiap. Tiba-tiba ia menjawab murka : “Jika kalian hendak mengeroyok, silahkan turun tangan. Cara mencari-cari kesalahan begini, bukanlah laku seorang jantan !”

Ca Giok mendengus : “Segala penyakit asalnya dari mulut. Begitupun segala bahaya. Jika saudara tidak ingin cari perkara, sebaiknya harus menghemat mulut, jangan bicara yang tak berguna !”

Ting Hong tertawa mengikik : “Jika engkau omong seenakmu sendiri, berarti engkau menyediakan mukamu untuk ditampar !”

Han Ping teringat akan ucapan si pengemis muda. Diam-diam Ia menimang. Jika sampai bentrok dan pemuda Ho itu sampai angkat kaki, kelak tentu sukar untuk mencarinya. Akhirnya ia terpaksa menahan sabar, katanya dengan tertawa : “Harap saudara Ho jangan salah paham. Terus terang, aku dan kedua nona ini memang paling benci kalau mendengar dimaki berbau setan. Kalau saudara tadi memang tak bermaksud apa-apa, kamipun takkan menarik panjang urusan ini !”

Heng Ciupun segera teringat ketika di dalam biara gunung, ia mendengar Han Ping dimaki begitu oleh Pengemis sakti. Segera ia tertawa dan menghaturkan maaf kepada Han Ping serta kedua nona.

Diam-diam Heng Ciu menyadari bahwa di antara keempat pemuda itu, hanya Han Ping seorang yang bersikap bersahabat. Ca Giok dan kedua nona itu bersikap memusuhinya. Setiap ucapan yang salah sedikit saja, mereka akan mempergunakan untuk alasan menyerangnya. Menyadari gelagat itu, terpaksa ia menahan kesabaran dan bersikap baik terhadap Han Ping,

Sebenarnya situasi tadi memang genting. Ca Giok dan kedua Ting sudah siap menghancurkan pemuda itu setelah melihat Han Ping menegur dengan tajam. Tetapi ternyata keadaan berobah lagi, Pemuda itu berbaik lagi dengan Han Ping.

Karena hari sudah petang, Han Ping mengajak kawan-kawannya untuk melanjutkan langkah ke halaman gedung bertingkat itu. Sengaja ia berkata dengan suara nyaring agar didengar orang-orang dari Lam hay bun. Dan ia sendiripun segera mempelopori maju.

Kedua nona Ting segera mengikuti di belakangnya lalu Heng Ciu dan paling belakang adalah Ca Giok.

Setelah melalui beberapa petak tanaman pohon bunga, mereka tiba di muka gedung bertingkat yang terang benderang penerangannya. Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa nyaring dan pada lain kejap muncullah lelaki yang mengenakan baju benang emas yakni pengawal gedung yang tadi menyiram api.

“Mengingat tadi engkau berseru lantang untuk memberitahukan kedatanganmu, akupun akan memberi pengecualian juga. Dengarlah ! Dalam lingkungan seluas tiga tombak di gedung Mega Biru sini, penuh dipasangi alat-alat perangkap. Sekali salah tindak, tubuh tentu hancur lebur. Jika kalian tak percaya, silahkan mencoba !”

Habis berkata orang itu menatap rombongan Han Ping dengan tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berputar tubuh dan melangkah masuk ke dalam gedung yang disebut Mega Biru itu.

Han Ping memandang ke arah gedung bertingkat itu dengan penuh perhatian. Dilihatnya empat penjuru keliling gedung itu tiada tampak sesuatu yang aneh. Satu-satunya yang agak berbeda ialah pohon-pohon bunga yang ditanam dalam kebun rumput gedung itu jaraknya jauh satu sama lain. Kira-kira terpisah sepuluh langkah. Pohon-pohon itu adalah pohon Pek-yang. Dan lain hal yang menyolok aneh, hanya tingkat bagian atas dari gedung itu saja yang terang benderang, sedang bagian bawah gelap sama sekali.

Han Ping menduga tentu pohon-pohon itu ditanam dengan maksud tertentu. Tetapi ia tak tahu apa artinya. Berpaling kepada Ca Giok ia bertanya : “Harap saudara Ca suka meninjau keadaan pohon-pohon itu. Apakah ada sesuatu yang aneh ?”

Ca Giok merenung beberapa saat lalu berpaling ke arah Ting Ling : “Lembah Raja setan termahsyur dengan ilmu barisan. Kiranya nona tentu sudah mewarisi kepandaian dan tentu dapat melihat apa yang disiapkan orang-orang Lam-hay-bun itu. Aku tak berani lancang memberi ulasan yang salah . . .”

Kemudian ia berkata kepada Han Ping : “Harap saudara Ji tanyakan hal itu kepada kedua nona Ting. Pengetahuanku terbatas. Masakan di hadapan ahli, aku berani mengunjuk diri !”

Dalam pada saat itu, Ting Lingpun memandang susunan pohon-pohon itu dengan seksama. Diam-diam ia memaki Ca Giok yang licin.

Kiranya pohon-pohon itu tidak disusun menurut bentuk barisan Kiu-kiong-pat-kwa-tin. Nona itu kerutkan alis.

“Pohon pek-yang dan pohon-pohon bunga dalam kebun rumput itu, walaupun mencurigakan tetapi bukanlah merupakan barisan Kiu-kiong-pat-kwa-tin. Mungkin di antara pohon-pohon itu hanya dipasangi alat-alat perangkap. Ca-ke-poh termahsyur tentang alat-alat rahasia. Sau pohcu tentulah paham akan ilmu itu. Maukah sau pohcu membawa kami kesana ?”

Ca Giok menghela napas, ujarnya : “Terima kasih atas pujian nona. Sekalipun aku tak paham tentang ilmu alat-alat rahasia itu, tetapi aku bersedia menjadi pelopor”

Habis berkata pemuda itu terus melangkah maju mendahului di muka Han Ping. Tetapi diam-diam dalam hati ia memaki Ting Ling yang dianggapnya benar-benar seorang nona yang licin dan banyak akal muslihatnya. Dengan mudah nona itu dapat mengembalikan beban yang ditimpakan kepadanya kepada Ca Giok.

Tiba-tiba Han Ping maju dan menarik lengan Ca Giok : “Masuk ke daerah terlarang ini adalah atas kemauanku. Bagaimana mungkin kubiarkan saudara yang terancam bahaya ? Lebih baik akulah yang berjalan di depan sendiri !”

“Ah, mengapa saudara Ji masih mengadakan perbedaan begitu tajam. Bukankah aku yang menjadi pelopor jalan juga sama saja artinya ?” Ca Giok tersenyum.

Tiba-tiba Ting Hong menyelutuk : “Sudahlah, tak perlu kalian ribut-ribut. Lebih kita minta saudara Ho ini yang menjadi pelopor saja !”

“Itu tergantung pada keberanian saudara Ho”, sahut Ca Giok.

“Mengapa tak berani”, sahut Heng Ciu terus melangkah maju. Tetapi dicegah Han Ping : “Jangan saudara, lebih baik aku saja yang menjadi pelopor !”- Han Ping terus loncat ke muka dan diam-diam kerahkan tenaga dalam berjaga-jaga. Dan sekali enjot, ia melayang ke arah salah sebuah pohon. Ia ulurkan tangan kiri menyambar bunga.

“Hai, jangan menjamah pohon bunga itu. Lekas menyisih ke samping !” teriak Ting Ling.

Han Ping terkejut dan buru-buru tarik pulang tangannya lalu loncat ke samping. Tepat pada saat ia loncat ke samping itu, tiba-tiba daun dari pohon bunga itu berguguran jatuh. Dari bekas ranting yang gugur daunnya itu, menghambur air sejauh satu tombak luasnya.

Han Ping duga, semburan air itu tentu mengandung racun. Segera ia ayunkan tangan menghantam pohon itu. Krak . . . pohon bunga itupun rubuh. Han Ping terkesiap sendiri. Ia tak mengira bahwa pukulannya sedemikian dahsyatnya.

Tiba-tiba dari pangkal pohon yang rubuh itu menyemburkan air setinggi dua tombak lalu berhamburan turun ke empat penjuru.

Sejak menderita siksaan terkena racun tawon, kini Han Ping lebih hati-hati. Melihat hujan air beracun itu, cepat-cepat ia loncat balik ke tempat kawan-kawannya lagi.

Pangkal kutungan pohon itu terus menerus muntahkan air ke atas. Beberapa waktu kemudian barulah hujan air racun itu berhenti.

Kedua nona Ting, Ca Giok dan Heng Ciu terkejut ketika Han Ping terancam hujan racun, Baru setelah pemuda itu melayang balik ke tempatnya semula, Ca Giok menghela napas perlahan, ucapnya : “Jika aku yang mengambil tempat saudara Ji, kemungkinan tentu sudah tertimpa hujan air beracun itu !”

Setelah mengawasi dengan seksama, berkatalah Ting Ling : “Jika pohon bunga itu ternyata hanya buatan orang, kemungkinan besar pohon-pohon pekyang dan padang rumput itupun juga buatan orang. Didalamnya tentu terdapat alat rahasia yang lebih ngeri. Menilik gelagatnya, tidaklah mudah untuk melintasi kebun rumput itu . . . .”

Nona itu tak melanjutkan kata-katanya ketika melihat tingkat kedua dari gedung itu tiba-tiba padam penerangannya.

“Ah, betapapun bahayanya, tetapi kita tak dapat mundur . . . .” kata Han Ping.

“Aku mempunyai saran entah dapat digunakan atau tidak”, tiba-tiba Heng Ciu menyelutuk.

Ca Giok tertawa dingin : “Eh, tak kira kalau saudara Ho pandai juga tentang siasat. Rencana apakah yarg hendak saudara ajukan ? Bukankah dengan menggunakan api ?”

Diam-diam pemuda Ho itu terkejut, pikirnya : “Ke empat pemuda ini, selain memiliki kepandaian sakti, juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Apa yang kupikirkan, ternyata dapat diduganya”,

Namun Heng Ciu tetap tenang dan hanya tertawa hambar : “Benar, jika kita hendak menghindari bahaya, lebih baik kita gunakan api menyerang mereka. Alat rahasia dan segala jenis binatang beracun apapun, tentu akan hancur !”

Ting Ling tertawa perlahan : “Pendapat saudara Ho itu, mungkin tak mudah dilaksanakan. Selain mereka tentu sudah memperhitungkan kemungkinan itu, pun rnereka tentu sudah siapkan jago-jago sakti yang tak mudah kita kalahkan !”

“Ah, maaf, memang kecuali rencana itu, aku tak mempunyai lain saran lagi” buru-buru Heng Ciu menyusuli kata.

Tir.g Ling tertawa dingin : “Jika saudara Ho menyangsikan keteranganku tadi, tak apalah kalau kita coba-coba menggunakan api itu. Tetapi dikuatirkan sebelum api itu menjalar ke atas tingkat, jiwa kita tentu sudah melayang !”

“Hm, aku tak percaya akan terjadi hal yang sedemikian anehnya !” kata Heng Ciu seraya mengeluarkan sebuah benda hitam : “Hendak mencoba, benarkah pohon-pohon bunga buatan manusia itu tak dapat dihancurkan !”

Ting Ling melirik dan kerutkan alis, serunya : “Pelor belerang !”

Heng Ciu terkesiap, ujarnya : “Benar, memang pelor Siau-hong-tan. Nona sungguh berpengalaman luas”.

Ca Giok menyelutuk : “Huh, orang persilatan manakah yang tak kenal akan keistimewaan ilmu menggunakan api dari Lembah Raja setan ? Sayang saudara Ho sendiri yang kurang pengalaman !”

Ting Ling deliki mata dan tertawa : “Ah, sau pohcu kelewat memuji diriku. Oleh karena saudara Ho hendak mencoba gunakan api, lebih baik kita mundur ke belakang agar jangan menemaninya terkubur di tempat ini !”

Ca Giok cukup kenal akan watak nona itu. Jika tak perlu tentu tak mau bicara sembarangan. Cepat ia mundur dua langkah dan berkata kepada Han Ping : “Saudara Ji, mari kita mundur untuk menyaksikan keramaian ini”.

Sejenak berpikir, Han Ping menyahut : “Ini...”

Pemuda itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena Ting Hong sudah menarik lengan bajunya : “Ciciku selalu tepat memperhitungkan sesuatu. Jika dia mengatakan tak dapat menggunakan api, tentulah tak dapat . . . .”

Marahlah Heng Ciu : “Aku tak percaya sama sekali . . . .” ia merogoh korek dan menyulut.

Tiba-tiba sesosok tubuh melayang di udara seraya berseru : “Suheng, berhentilah !”- si pengemis muda yang rambutnya kusut masai, melayang di samping Heng Ciu.

Heng Ciu berpaling dan tertawa dingin : “Kemanakah suhu ?”

Pengemis muda itu tersipu-sipu memberi hormat kepada Heng Ciu : “Suhu sedang melihat Au Bungkuk bertempur lawan Leng Kong siau”.

Heng Ciu meniup padam korek dan berkata dengan murka : “Saat perjanjian segera tiba, mengapa dia masih mempunyai kegembiraan untuk melihat pertandingan. Hm, kulihat dia memang sudah jemu hidup !”

Ucapan itu membuat Ca Giok dan kedua nona Ting terkesiap. Sedang Han Pingpun gemetar. Diam-diam ia mendamprat : “Orang persilatan paling menjunjung tinggi kepada gurunya. Tetapi dia malah seenaknya saja memaki gurunya sendiri. Suatu hal yang jarang terdapat dalam dunia persilatan . . . .”

Pengemis muda itu hanya tertawa tawar : “Andaikata suhu mempunyai kesalahan, tetapi tak selayaknya di depan sekian banyak orang, suheng menghinanya. Apalagi waktu dari perjanjian itu masih belum saatnya . . . .”

“Hm, engkau berani memberi nasehat kepadaku ?” tiba-tiba Heng Ciu menampar muka pengemis muda itu.

Melihat gerakan tangan Heng Ciu menimbulkan deru angin dahsyat, Han Ping menduga pengemis muda itu tentu menghindar. Tetapi ternyata dugaannya itu meleset. Pengemis muda itu tetap tegak di tempat dan menerima tamparan itu. Plak.... pengemis itu bergetar tubuhnya dan mengisar dua langkah ke samping. Mulutnya berlumuran darah dan bercucuran turun . . . .

Heng Ciu tertawa dingin : “Hm, rupanya engkau tahu aturan. Baik, kuberimu keringanan takkan kutampar lagi !”

“Tata susila antara yang muda dengan yang tua, aku tak berani melanggar. Sekalipun suheng membunuhku, akupun tetap tak mau membalas”, sahut si pengemis muda.

Tiba-tiba Heng Ciu marah lagi : “Bagus, engkau berani menyindir aku !”- Ia ayunkan tangan menamparnya lagi.

Secepat kilat Han Ping melesat dan mencengkeram lengan Heng Ciu, serunya : “Harap bicara dengan mulut, jangan dengan tangan !”

Heng Ciu sudah kenal kelihaian Han Ping. Jika pemuda itu sampai ikut campur, urusan tentu menjadi runyam. buru-buru ia tertawa : “Apakah saudara hendak memintakan ampun untuknya ?”

“Maaf, aku tak berani lancang mencampuri urusan dalam perguruan saudara. Tetapi kumohon suka memandang mukaku dan jangan memukul sute saudara lagi . . .”

“Pengemis kecil ini tak pernah menerima budi orang. Urusan antara kami berdua suheng dan sute, tak perlu orang lain campur tangan !” tiba-tiba pengemis muda itu menyelutuk.

Han Ping tertegun : “Apa ? Apakah aku salah karena melerai itu ?”

Pengemis muda itu tertawa dingin : “Suheng memaki dan memukul aku, sudah selayaknya. Siapa suruh engkau mencampuri urusan ini ?”

“Ho, rupanya engkau memang senang ditampar !”

Pengemis muda itu menengadah ke atas dan tertawa nyaring : “Aha, hal itu tergantung dari aku si pengemis muda rela ditampar atau tidak !”

Heng Ciu mundur dua langkah. Rupanya ia menarik diri dari persoalan itu dan hendak menjadi penonton saja.

Karena beberapa kali menerima ejekan pengemis muda itu, murkalah Han Ping : “Hm, belum tentu hanya suhengmu saja yang dapat menampar mukamu !”

“Huh, aku tak percaya ! Siapakah yang berani menampar pengemis ini ?” pengemis muda itu makin menantang.

Meluaplah darah Han Ping. Maju selangkah ia mengangkat tangan kiri dan secepat kilat memukul dengan tangan kanan. Itulah salah sebuah jurus istimewa ajaran mendiang Hui Gong taysu.

Pada saat tangan kiri Han Ping diangkat, secepat kilat pengemis muda itu hendak menerkam pergelangan tangan Han Ping. Setitikpun ia tak menyangka bahwa Han Ping akan menyusuli dengan pukulan tangan kanan. Dalam gugupnya, pengemis itu buang tubuhnya mundur lima langkah.

Tetapi Han Ping tetap membayangi. Baru pengemis itu dapat berdiri tegak, Han Pingpun sudah tiba. Mencengkeram bahu pengemis itu dengan tangan kiri, Han Ping ayunkan tangan kanan menampar mukanya. Tetapi tiba-tiba ia menarik pulang tangannya di tengah jalan . . . .

Sekalipun begitu, sekalian orang yang menyaksikan adegan itu, mengetahui bahwa Han Ping telah memberi kemurahan pada pengemis muda itu. Tetapi tiada seorangpun yang tahu, ilmu pukulan apa yang digunakan Han Ping untuk menampar itu. Diam-diam merekapun mengakui. Andaikata ditampar dengan ilmu itu, mereka merasa tak mampu menghindar lagi.

Sejak mengembara di dunia persilatan, belum pernah pengemis muda itu menerima hinaan seperti saat itu. Ia terlongong-longong. . . .

Han Ping mundur dua langkah dan berpaling kepada kedua nona serta Ca Giok : “Kita harus mencari daya untuk melintasi daerah berbahaya ini. Apakah kita akan mundur begini saja ?”

Ca Giok kerutkan dahi berkata : “Alat-alat rahasia yang terpendam di daerah berbahaya itu, hebat dan ketat sekali. Untuk membobolkannya kiranya hanya ada dua cara”

Atas permintaan Han Ping, Ca Giok menerangkan : “Menurut hematku, dalam dunia persilatan dewasa ini, hanya ada seorang yang mahir tentang alat-alat rahasia itu. Sayang orang itu jauh sekali tempatnya ...”

“Bukankah yang sau pohcu maksudkan itu si Penghitung sakti Nyo Bun giau, ketua marga Nyo-ke-poh di Kimleng itu ?” Ting Ling menyelutuk tawa.

Ca Giok mengiakan : “Benar, kecuali orang itu, sukar kucari lagi orang yang mahir tentang soal alat-alat rahasia !”

“Memang siapakah orang yang tak kenal akan kepandaian Nyo Bun giau tentang ilmu itu ? Tetapi apakah kita harus pergi ke Kimleng mengundangnya ? Kalau begitu, tak usah engkau katakan lagi !”

Ca Giok tertawa : “Jangan terburu nafsu, nona Ting. Aku belum bicara habis, untuk memasang segala macam perkakas rahasia itu, lebih dulu tentu direncanakan dalam bentuk gambar. Jika kita dapat memperoleh rencana gambar itu, mudahlah untuk menghancurkannya !”

Ting Hong tertawa mengejek : “Jangankan kita tak tahu dimana letak rencana gambar itu. Andaikata tahu bahwa misalnya gambar itu ditaruh di atas tingkat kedua dari gedung itu, kalau kita tak mampu melintas kesana, tetap percuma saja. Kurasa cara yang engkau sarankan itu juga tak dapat dilaksanakan !”

“Aku hanya mengemukakan cara-cara menghancurkan barisan musuh dan tak menyinggung tentang dapat atau tidaknya cara itu dijalankan”, bantah Ca Giok membela diri.

“Apakah tiada lain cara lagi kecuali harus memperoleh rencana gambar itu ?” tukas Han Ping.

“Masih ada sebuah cara lagi”, sahut Ca Giok, “tetapi pun harus mencari pusat penggerak alat-alat rahasia itu. Asal kita rusakkan pusat penggeraknya, seluruh alat-alat rahasia tentu akan macet !”

“Ha, cara itu boleh kita coba”, Han Ping menyambut gembira, “Tetapi entah dimanakah letak pusat penggerak itu ?”

“Menurut dugaanku, kemungkinan besar pusat penggerak alat-alat rahasia itu tentu berada di atas tingkat kedua itu !” kata Ca Giok.

“Cobalah saudara hitung, berapa jauh jaraknya dari sini ke tingkat kedua itu.” kata Han Ping.

Ca Giok mengatakan kalau di antara empat tombak lebih sedikit.

“Eh, apakah engkau hendak gunakan ilmu ginkang Teng-ping-tok-cui (naik alang-alang melintasi air) melayang kesana ?” tanya Ting Ling.

“Kecuali dengan ilmu itu, apakah masih ada lain macam ilmu lagi ?” sahut Han Ping.

“Tetapi menilik gugurnya daun-daun pohon bunga tadi, di dekat alat-alat rahasia itu tentu terdapat orang yang menggerakkannya. Sekalipun engkau memiliki ilmu sakti lari di atas rumput, rasanya sukar juga untuk menghindari bahaya. Lebih baik kita mundur dulu dan merundingkan rencana yang lebih sempurna. Mungkin kita dapat menemukan rencana yang tepat dan besok malam kita serbu lagi !” kata Ting Ling.

“Tetapi kalau mundur, bukankah kita akan ditertawai mereka ? Harap saudara membantu dari belakang sini, aku hendak mencobanya !” kata Han Ping.

Tiba-tiba pengemis muda yang terlongong-longong di samping tadi, maju selangkah dan berkata : “Aku akan menemanimu !”

Han Ping merenung sejenak lalu mengiakan : “Baiklah . . .”

“Hai, mana bisa !” Ting Hong cepat menyelutuk, “Hati orang sukar diduga. Jangan sampai engkau dicelakai orang secara menggelap. Lebih baik aku saja yang menemanimu !”

“Aku seorang lelaki, mana mau mencelakai orang secara pengecut. Budak setan, jangan mengukur baju orang dengan bajumu sendiri !” damprat si pengemis muda.

“Cis, pengemis busuk yang pura-pura suci, siapakah yang engkau maki sebagai budak setan itu ?” teriak Ting Hong.

Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa.

Nadanya nyaring memecah angkasa.

“Apakah jelek orang meminta nasi itu ? Rasanya lebih utama dari pada raja setan, putri setan yang berlumuran kejahatan !” seru orang itu. Dan pada lain saat sesosok tubuh melayang di belakang si pengemis muda.

Sekalian orang terkejut. Ternyata pendatang itu bukan lain adalah Pengemis sakti Cong To.

Heng Ciu buru-buru maju memberi hormat : “Suhu . . . .”

“Sudahlah, saat ini masih kurang 3 hari dari waktu perjanjian. Harap menunggu,” seru Cong To.

“Ah, murid tak berani lancang,” sahut Heng Ciu.

Cong To memandang kepada si pengemis muda. Tiba-tiba wajah pengemis sakti itu memberingas, tegurnya : “Siapakah yang memukulmu ?”

“Harap suhu jangan marah. Murid dan sute tadi bergurau,” buru-buru Heng Ciu menerangkan.

Cong To menengadah ke langit dan tertawa keras.

“Bagus, bagus, engkau memukul dengan bagus sekali. Ha, ha, memukul bagus sekali . . . .” serunya dengan penuh hamburan nada kemarahan yang tertahan. Tetapi nada tertawa itu makin lama makin rawan, makin menyayat hati.

Pengemis muda menghela napas panjang, ujarnya : “Harap suhu jangan murka. Memang sudah selayaknya suheng memukul sampai dua kali kepadaku tadi.”

Cong To hentikan tertawanya. Sepasang matanya berkilat-kilat memandang Heng Ciu : “Sudah 10 tahun aku tak melihatmu. Tentulah sekarang kepandaianmu jauh lebih maju !”

Walaupun dipandang sedemikian rupa oleh gurunya, tetapi tangannya Heng Ciu tak gentar bahkan mengunjuk sikap yang angkuh. Ia balas tertawa dingin : “Ah, harap jangan kelewat memuji. Mungkin masih kalah tinggi dengan sute.”

“Baiklah, kalian berdua cobalah menguji kepandaian, agar dapat kulihat siapa yang lebih tinggi” kata Cong To.

“Waktu tiga hari itu, sebentar saja sudah akan tiba. Mengapa suhu masih mempunyai selera untuk bermain mata,” kata Heng Ciu seraya mengeluarkan sebuah lencana emas sebesar genggam tangan dan diacungkan ke atas.

Melihat lencana itu, serentak Cong To berlutut ke tanah. Si pengemis mudapun ikut berlutut juga.

Sekalian orang terkejut. buru-buru mereka memandang ke arah lencana yang dipegang Heng Ciu.

Sikap Heng Ciu makin congkak. Dengan tertawa sinis ia berseru : “Peraturan perguruan Kim-pay-bun, apakah kalian masih ingat ?”

Cong To menghela napas.

“Murid telah menerima budi Kim Pay sucou yang besar. Mana berani menghina perguruan sendiri dan melupakan budi itu,” serunya.

“Asal kalian masih ingat, cukuplah . . . .” kata Heng Ciu.

Tiba-tiba Ca Giok menyelutuk : “Dalam kata maupun tindak, harap saudara Ho suka mengingat bahwa lencana emas itu hanya dapat mengikat anak murid Kim-pay-bun. Tetapi lain orang tak percaya apa-apa !”

Rupanya Ca Giok kuatir, pemuda Ho itu akan menggunakan kesempatan itu untuk memerintahkan Pengemis sakti Cong To menindak dirinya selaku balas dendam. Jika hal itu terjadi, ia tentu celaka.

Heng Ciu tertawa gelak-gelak : “Anak murid Kim-pay-bun patuh sekali kepada perintah Kim-pay ini. Setiap yang diperintahkan tentu akan dikerjakan sampai selesai . . . .”

Tiba-tiba serangkum angin menghembus. Tahu-tahu Ting Ling menyelonong hendak merebut lencana emas di tangan Heng Ciu.

Kiranya nona itu juga mengandung pikiran yang sama seperti Ca Giok. Dia kuatir Heng Ciu akan memerintahkan Cong To dan pengemis kecil itu untuk mencelakai dirinya. Maka ia nekad hendak merebut lencana itu. Andaikata tak berhasil, pun sekurang-kurangnya, dapat mendesak Heng Ciu agar tak sempat memberi perintah semacam itu lagi.

Heng Ciu terkejut, ia tak menduga akan diserang begitu rupa. Dalam gugupnya ia turunkan tangan kanan yang mencekal lencana itu ke bawah untuk menghindari sambaran Ting Ling. Tetapi Ting Ling bergerak cepat sekali. Walaupun Heng Ciu tepat bertindak menyelamatkan lencana, tetapi tak urung siku lengannya tersambar ujung jari si nona. Sakitnya bukan alang kepalang dan lencanapun hampir saja terlepas jatuh.

Luput menyambar, Ting Ling susuli pula dengan gerakan tangan kiri dan tendangan kaki kanan. Ia mengarah dua buah jalan darah di tubuh Heng Ciu.

Heng Ciu mendengus dan menyurut mundur tiga langkah untuk menghindar.

Pada saat Ting Ling bergerak tadi, diam-diam Ca Giokpun sudah siap. Begitu Heng Ciu mundur ke tepi padang rumput, cepat ia berteriak dan lepaskan sebuah hantaman.

Pukulan itu dilancarkan dengan perhitungan waktu yang tepat sekali. Jika Heng Ciu mundur mundur lagi, tentu akan terjeblus dalam perkakas rahasia orang Lam-hay-bun. Tetapi kalau berani menangkis, karena tak sempat mengerahkan tenaga dalam, tentu celaka. Kalau tidak mati pasti akan terluka berat. Apalagi nanti Ting Ling, tentu akan menyusuli dengan serangan berikutnya.

Pada saat maut hendak merenggut jiwa Heng Ciu, tiba-tiba Cong To menggeram dan lepaskan pukulan untuk menggempur pukulan Ca Giok.

Pukulan Peh-poh-sin-kun yang dilepas Ca Giok itu, dilambari dengan sembilan bagian tenaganya. Ia memang hendak melukai Heng Ciu syukur dapat menghancurkannya. Tetapi karena dilanda dari samping oleh pukulan Cong To, Ca Giok terdorong ke muka. Dengan demikian pukulannyapun mencong ke atas.

Melihat itu Ting Ling cepat lancarkan tiga kali serangan kepada Heng Ciu. Tetapi saat itu Heng Ciu sudah longgar dan dapat menangkis serangan si nona. Sambil goyangkan Lencana emas, berserulah pemuda itu : “Cong To, murid angkatan ke 12 dari Kim-pay-bun, bersiaplah menerima perintah . . . .”

Mendengar itu, Ting Ling melengking dan menyerang dengan jurus Bunga mengebut pohon.

Sambil menangkis dengan tangan kiri, Heng Ciu berteriak kepada Pengemis sakti Cong To : “Lekas bertindak untuk melindungi Lencana emas dan cepat menghan . . . .”

Baru Ia berseru demikian, Ting Lingpun juga menyerangnya lagi sekaligus dua buah jurus. Tangan kiri menusuk mata, tangan kanan menghantam dada.

“Cong To murid angkatan ke 12 dari Kim-pay-bun, dengan hikmat menerima perintah !” Cong To berseru dan serempak loncat ke tengah Heng Ciu dan Ting Ling. Hanya perlahan saja ia mendorong Ting Ling.

Melihat itu timbullah keinginan si nona untuk menjajal kesaktian Pengemis sakti yang termahsyur itu. Setelah mengerahkan tenaga, ia balas mendorong dengan kedua tanganrja.

Ketika dua buah tenaga saling berbentur, segera Ting Ling rasakan sesuatu yang tak wajar. Sekalipun gerakan Pengemis sakti itu perlahan saja tampaknya, tetapi ternyata memancarkan tenaga yang hebat sekali. Ia rasakan jantungnya berdetak keras. Buru-buru ia loncat mundur. Karena Cong To memang tak niat mencelakainya, pula karena nona itu cepat dapat menyadari bahaya, dapatlah ia terhindar dari akibat yang lebih hebat.

Heng Ciu tertawa dingin, serunya : “Murid perguruan Kim-pay-bun, paling taat pada perintah lencana. Jika pemegang lencana dihina orang, sudah tentu murid Kim-pay-bun tak boleh tinggal diam. Kuberimu waktu dalam 3 jurus, harus menghancurkan orang yang berani merebut lencana tadi, sebagai hukuman dari tindakan mereka yang lancang !”

Seketika berobahlah wajah Cong To mendengar perintah itu. Ia berpaling kepada Heng Ciu. Tetapi sebelum sempat bicara, Heng Ciu sudah mendahului mengayunkan Lencana emas ke atas kepala dan berseru dengan marah : “Dalam 3 jurus jika tak mampu membunuh orang itu, akan menerima hukuman menurut peraturan Kim-pay-bun”.

Kata-kata itu diucapkan dengan serius dan bengis. Dan anehnya, seorang tokoh termahsyur seperti Pengemis sakti Cong To hanya tundukkan kepala menerima perintah itu dengan menghela napas.

“Murid angkatan ke 12 dari Kim-pay-bun, dengan hikmat akan melaksanakan perintah Kim-pay !” seru pengemis sakti terus mengangkat tangan kanan dan menghantam ke arah Ting Ling.

Pukulan itu dilancarkan dengan tenaga penuh sehingga menimbulkan deru angin yang menderu-deru hebat, mirip dengan ombak samudra dilanda angin prahara.

Han Ping terkejut dan cepat melindungi di muka Ting Ling, serunya : “Harap locianpwe suka memberi kemurahan !”- Ia menangkis dengan tangan kanan.

Sekalian orang terkejut melihat kedahsyatan pukulan Cong To. Bahkan Ting Hong menjerit dan memejamkan mata.

Tetapi dara itu dikejutkan oleh suara Han Ping yang tertawa nyaring dan berseru memuji kedahsyatan tenaga Cong To. Buru-buru ia membuka mata. Ah, ternyata pemuda itu tak kurang suatu apa. Dara itu menghela napas longgar.

“Cici apakah dia tak kurang suatu apa dalam menangkis pukulan pengemis itu ?” tanyanya.

Ting Ling menghela napas perlahan, sahutnya : “Kulihat tenaga dalamnya hanya terpaut sedikit di bawah Cong To . . . .”

Yang paling terkejut melihat peristiwa itu adalah Heng Ciu. Diam-diam ia memutuskan : “Menilik usianya, pemuda itu masih muda tetapi sudah memiliki tenaga dalam yang sedemikian hebatnya. Jika beberapa tahun lagi, dia tentu jauh lebih berbahaya dari sekarang. Ah, lebih baik kusuruh Cong To untuk melenyapkannya agar jangan menimbulkan bahaya dikemudian hari . . . .”

Segera ia mengacungkan lencana emas dan berseru : “Bunuh juga orang yang berani melindungi perampas lencana itu !”

Cong To makin terkesiap. Ia sayang kepada Han Ping tetapi takut melanggar perintah Kim-pay. Ia menghela napas. Tetapi akhirnya perlahan-lahan ia mengangkat tangan kanan dan didorongkan ke muka dengan tenaga penuh.

Sekalipun dalam benturan tadi, Han Ping rasakan darahnya bergolak keras, tetapi ia seorang pemuda yang berdarah panas berkepala keras. Tak mau ia unjuk kelemahan di hadapan sekian banyak orang. Ia paksakan diri mengerahkan tenaga dalam untuk menenangkan darahnya yang bergolak. Beberapa jenak kemudian ia dorongkan kedua tangannya untuk menyambut serangan Cong To.

Pukulan Cong To itu tampaknya biasa saja. Tetapi sesungguhnya pukulan kedua Itu jauh lebih keras dari pukulan yang pertama tadi. Ketika saling berbentur Han Ping tersurut mundur dua langkah. . . .

Pengemis sakti Cong To kerutkan alis dan berseru nyaring : “Terimalah pukulan pengemis tua yang ketiga. Jika engkau tak mati, biarlah aku yang menerima hukuman perguruan !”

Ia menutup kata-katanya dengan lontaran pukulan. Pukulan itu dilambari dengan seluruh tenaganya. Kedahsyatannya tak terperikan. Anginnya sampai menyambar pakaian Ca Giok dan kedua nona Ting.

Han Ping benar-benar keras kepala. Ia tak mau menghindar dan menangkis dengan kedua tangan didorongkan ke muka.

Desss . . tubuh Han Ping terlempar ke udara dan melayang jatuh beberapa meter jauhnya.

Pengemis sakti Cong To menghela napas panjang, serunya : “Sudahlah, sudahlah. Pengemis tua rela menerima hukunan perguruan. Tetapi juga kagum setulus hati !”

Perlahan-lahan pengemis sakti itu berputar tubuh dan memberi hormat ke arah Kim-pay : “Murid ke 12 dari Kim pay-bun, menyerahkan diri menerima hukuman !”

Heng Ciu mendengus dingin. Lencana disimpan kembali dan ia lari tinggalkan tempat itu. Pengemis sakti Cong To dan pengemis kecil segera lari mengikutinya. Tak lama mereka pun lenyap.

Setelah mereka pergi, barulah Ca Giok dan kedua nona itu segera menghampiri Han Ping.

Han Ping tegak seperti patung. Wajahnya pucat seperti kertas. Ting Hong mengucurkan airmata. Ketika ia menjamah pemuda itu, tiba-tiba dari belakang terdengar suara orang berseru mencegahnya : “Jangan !”

Ketiga orang itu berpaling ke belakang. Tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah berwibawa, tegak pada jarak lima langkah jauhnya.

Bahwa kedatangan orang itu sedikitpun tak mengeluarkan suara, benar-benar membuat Ca Giok dan kedua nona itu tercengang-cengang.

Lelaki pendatang itu ternyata mengenakan pakaian kim-ih atau baju bersulam yakni pakaian seragam dari penjaga gedung bertingkat itu.

Lelaki itu melangkah ke samping Han Ping, memandangnya beberapa jenak lalu berkata dengan nada dingin kepada Ca Giok dan kedua nona : “Dia menderita luka dalam yang parah. Sekalipun dapat disembuhkan tetapi paling tidak harus memakan waktu beberapa hari. Demi memandang keadaannya, malam ini akan kuberi kelonggaran. Lekas kalian tinggalkan tempat ini !”

Ting Ling tertawa dingin. Ia menepuk punggung Han Ping. Pemuda itu menguak dan muntahkan segumpal darah segar ....

Ca Giokpun cepat menutuk jalan darah di perut Han Ping, lalu memanggulnya : “Kita angkat kaki dari sini !” - terus melangkah pergl.

Kedua nona itupun segera mengikuti mengawal di belakang.

Baru beberapa langkah jauhnya, terdengar pengawal gedung tadi berteriak : “Berhenti !”

Sambil membenam jarinya ke dalam bubuk Bi-hun-hun, Ting Ling berpaling : “Mengapa ? Apakah engkau menyesal ?”

Pengawal gedung itu melesat ke tempat ketiga muda mudi itu, tegurnya : “Apakah dia terkena racun sengatan tawon ?”

Sejenak merenung, Ca Giok menyahut : “Benar, tetapi apa bahayanya seekor tawon saja ? Apakah dapat membahayakan jiwa ?”

Sahut pengawal gedung itu dengan dingin : “Untunglah dia yang terkena, andaikata engkau, hm, mungkin racun tawon itu sudah bekerja . . . .”

Ia mengeluarkan sebuah kantong dan mengambil botol batu kumala putih. Dituangnya dua butir pil berwarna hitam lalu : “Dua butir pil ini, khusus untuk mengobati segala macam racun. Sebelum engkau obati, berilah dia minum pil ini.”

Ting Hong menyambuti pil itu : “Bagaimana jika pil ini bukan obat pemunah racun . . . .”

“Jika tak percaya, jangan diberikan kepadanya !” teriak pengawal itu dengan murka lalu berputar tubuh dan melangkah pergi.

Kuatir Ting Hong akan menyelutuk lagi, buru-buru Ca Giok mendahului : “Memang dalam dunia persilatan terdapat tata susila yang melarang orang mencelakai orang yang sudah terluka. Harap nona jangan curiga lagi,” - ia terus lanjutkan langkah.

Ting Ling pun suruh adiknya menyimpan pil itu baik-baik.

Pengawal gedung itu ternyata memegang janji. Kira-kira dua tiga tombak jauhnya, terdengar suara suitan berbunyi nyaring. Hutan pohon bunga yang penuh dengan penjaga-penjaga itu, tiada seorangpun yang bergerak merintangi perjalanan mereka.

Setelah keluar dari tempat itu, mereka berhenti di dalam sebuah lembah. Tempat itu kira-kira tiga li jauhnya.

Han Ping dibaringkan di tanah dan mulailah Ca Giok mengurut-urut tubuh pemuda itu. Setelah dapat duduk, Han Ping menghela napas : “Pukulan pengemis tua itu telah melukai organ dalam tubuhku. Lukanya cukup parah, mungkin tak dapat sembuh dalam waktu yang singkat. Kalian . . . .”

Ia berhenti sejenak lalu : “Jika saudara Ca dan nona berdua mempunyai lain urusan yang penting,silahkan. Tak perlu mengurusi diriku,” habis berkata Han Ping menggeliat bangun dan hendak pergi.

Ting Hong buru-buru mencegahnya : “Lukamu begitu berat, hendak kemana engkau ?”

Han Ping deliki mata dan menyahut dingin : “Apa pedulimu ? Minggirlah !” - Ia menyiak.

Ting Hong tahu pemuda itu tinggi lwekangnya. Buru-buru ia kerahkan tenaga dalam untuk menangkis.

Ternyata dalam keadaan terluka saat itu tenaga dalam Han Ping masih belum kembali. Tenaga dorongan itu hanya tenaga luar, sedang tenaga tangkisan Ting Hong menggunakan tenaga dalam. Seketika tubuh pemuda itu bergetar dan terdampar ke belakang sampai tiga langkah dan jatuh terduduk. Huak . . . beberapa kali ia muntah darah ....

Plak . . . . Ting Ling menampar pipi adiknya dan mendamprat : “Budak hina, mengapa engkau menggunakan kekuatan sungguh-sungguh !”- Ting Ling terus melesat ke samping Han Ping dan berjongkok.

Ting Hong menangis : “Ah, aku lupa kalau dia sedang menderita luka dalam ...”- dara itupun cepat menghampiri ke samping Han Ping dan bertanya dengan tergugu : “Apakah engkau terluka ?”

Han Ping menggeliat bangun. Sambil mengusap mulutnya yang berdarah ia tertawa : “Aku tak menyalahkan engkau !”- Ia terus berputar tubuh dan melangkah ke muka.

Ting Ling terkesiap : “Harap berhenti dulu, saudara Ji. Dengarkanlah aku hendak bicara sedikit !”

“Saudara terluka berat. Jika memang mau pergi, lebih baiklah kalau menyalurkan darah dulu”, seru Ca Giok.

Han Ping berpaling : “Rasanya tak perlu, aku masih kuat bertahan. Apakah yang saudara berdua hendak mengatakan kepadaku ?”

Ting Ling menghela napas : “Adalah karena hendak melindungi aku maka engkau terluka oleh pukulan pengemis tua itu. Dengan pergi begitu saja, bagaimanakah perasaan hatiku ?”

Hari Ping tertawa hambar : “Harap nona tak usah pikirkan hal itu. Memang demikianlah watak hidupku. Jika belum mati, kelak kita pasti akan berjumpa lagi. Tak perlu saudara memikirkan diriku dan menelantarkan urusan penting !”

Kata Ca Giok : “Baru beberapa hari berkenalan, rasanya hubungan kita sudah seperti sahabat lama. Tak peduli bagaimana pandangan saudara kepada diriku, tetapi aku mengagumi sekali pribadi saudara. Sekalipun karena perangai saudara tak suka menerima pertolongan orang, tetapi dalam keadaan terluka berat saudara hendak pergi itu, benar-benar membuat hatiku tak enak sekali . . . .”

Tiba-tiba dari tempat gelap tak jauh di sebelah samping mereka, terdengar orang menyelutuk : “Aha, benar-benar tak menyangka kalau Ca Cu jing mempunyai seorang putra yang begitu baik hati. Sungguh membuat aku si orang tua kepingin sekali !”

Ca Giok kenal siapa orang itu. Ia tertawa murka : “Apakah itu bukan Leng locianpwe !”

Terdengar suara tertawa macam tambur pecah. “Benar, ternyata engkau kenal suaraku.” sesaat muncullah seorang lelaki kate yang berwajah panjang tirus. Sepasang matanya berkilat-kilat tajam. Ia menghampiri Han Ping dan ketiga pemuda kawannya.

ltulah Leng Kong-siau, salah seorang tokoh dari ketiga Manusia racun Lembah Seribu racun !

Ting Ling cepat melesat ke muka Han Ping, dan memberi hormat “Paman Leng, Ling ji menghaturkan hormat !”'

Leng Kong-siau batuk-batuk dua kali, tertawa : “Ah, kelewat menjunjung. Bilakah engkau begitu menaruh hormat kepada pamanmu Leng ini ?”

Ting Ling tertawa : “Dalam dunia persilatan, Siapakah yang tak tahu akan persahabatan antara Lembah Raja setan dengan Lembah Seribu racun ?”

Wajah Leng Kong-siau berobah gelap. Dengan tertawa dingin Ia menyahut : “Setiap orang mengatakan bahwa cerdas sekali, banyak akal kaya muslihat. Rasanya hal itu memang benar. Asal terhadap paman Leng ini, jangan engkau terlalu banyak memberi bubuk obat !”

Ting Ling tertawa : “Dalam wilayah Kanglam sampai ke Kangpak, siapakah yang tak ....”

Leng Kong-siau menukas dengan tertawa gelak-gelak : “Percuma engkau merangkai pujian setinggi langit, karena pamanmu Leng ini tetap takkan terkecoh. Nama Tiga manusia beracun, masakan hanya gelar kosong doang ? Minggirlah !”

Dengan matanya yang tajam dapatlah Ca Giok menerka bahwa Leng-Kong-siau hendak menindak Han Ping. Diam-diam pemuda itu menimang : “Kepandaian manusia tua beracun ini, tiada yang menandingi. Jika dia benar-benar hendak membunuh Han Ping, pemuda itu tentu takkan lolos. Pemuda itu memang aneh tabiatnya. Sebentar bersikap angkuh, sebentar bersikap perwira. Wataknya sukar diduga, sukarlah kupakai tenaganya. Lebih baik kubiarkan si tua beracun itu mengakhiri jiwanya. Biarlah kedua budak perempuan itu menubruk bayangan kosong”.

Dengan pertimbangan itu, ia sengaja membisiki Han Ping supaya pemuda itu menyalurkan tenaga dalam : “Kemungkinan akan terjadi pertempuran dahsyat”, ujarnya.

Sekalipun hanya dengan bisik-bisik tetapi telinga Leng Kong-siau yang tajam tetap dapat menangkap pembicaraan itu.

Belum Han Ping menyahut, tiba-tiba Ting Ling tertawa mengikik : “Sungguhpun paman Leng sudah kenal dengan kami berdua taci beradik, tetapi kami benar-benar belum mengetahui kedudukan paman dalam Lembah Seribu racun. Entah jatuh pada urutan nomor berapakah paman Leng ini ?”

Pertanyaan itu membuat Leng Kong-siau tertegun heran. Ia benar-benar tak tahu apa yang dimaksud si nona dengan mengajukan pertanyaan semacam itu, tanyanya : “Perlu apa engkau tanyakan hal itu ?”

Ting Ling tertawa : “Tiada seorangpun dari Lembah Seribu racun yang tidak beracun. Tiada seorangpun dari Lembah Raja setan yang tidak seperti setan. Jika paman Leng berani menjawab pertanyaanku, kutanggung paman tentu menyadari gelagat dan tinggalkan tempat ini.”

Leng Kong siau merenung sejenak, tertawa : “Benarkah begitu ? Aku ingin coba-coba. Dengarlah, aku termasuk dalam urutan nomor dua. Benarkah engkau mempunyai akal setan yang hebat ?”

“Ih, kiranya paman kedua Leng,” Ting Ling tertawa.

“Ah, ah, jangan menyanjung !”

“Entah berapakah usia paman tahun ini ?” tanya si nona pula.

Leng Kong siau kerutkan alis dan membentak marah : “Budak setan, siapa sudi meladeni bicara seperti itu ! Lekas menyingkir, jangan sampai membakar kemarahanku. Hm, apa engkau tak sayang batok kepalamu akan kupisahkan dari lehermu !”

Namun Ting Ling tetap ganda tertawa : “Seluruh orang persilatan tahu bahwa lembah Seribu racun itu mahir dalam ilmu meramu racun. Tetapi sedikit sekali orang yang tahu bagaimana riwayat asal usul kepandaian kaum Lembah Raja setan itu !”.

Mendengar Itu tanpa disadar, tertariklah hati Leng Kong-siau. Dan bertanyalah ia serentak : “Umurku sekarang 64 tahun. Dilahirkan pada bulan 7 tanggal 3, biar engkau tahu semualah dan jangan bertanya-tanya lagi !”

“Ai, hari lahir paman hanya terpaut lebih dulu dua hari dari hari jadi Lembah Seribu racun. Rupanya hawa setan tidak berat tetapi juga tidak ringan. . . .”

Sudah tentu Leng Kong-siau segera menyadari bahwa dirinya hendak dipermainkan nona itu yang mengoceh tak keruan. Rupanya nona itu tentu hendak main siasat mengulur waktu.

Sambil melangkah maju ia membentak : “Jangan ngoceh tak keruan seperti setan ! Awas, berani mempermainkan aku, tentu kubunuhmu dulu !”

Ting Lingpun tahu bahwa cara bermain siasat mengulur waktu seperti itu tentu tak dapat mengelabui Leng Kong siau. Tetapi betapapun ia harus melanjutkan siasat mengulur waktu itu beberapa saat lagi.

Dengan tenang ia tertawa : “Jangan marah, paman Leng. Malam ini hendak kupersembahkan kepadamu cara memanggil arwah !”

“Jangan ngaco belo ! Siapa sudi percaya di dunia benar-benar terdapat kepandaian semacam itu !” bentak Leng Kong-siau.

Melihat siasatnya tak mempan, guguplah Ting Ling. Ia tampil selangkah ke muka Leng Kong-siau, serunya : “Jika paman kedua Leng tak percaya hal itu, jangan marah kalau aku berlaku kurang hormat !”

Leng Kong-siau ayunkan tangan kiri, lepaskan hantaman ke arah Ting Ling. Untunglah Ting Ling sudah siap. Ia selalu memperhatikan setiap gerak gerik orang. Tahu bahwa hantaman itu dilambari tenaga dalam yang hebat, ia tak berani menangkis melainkan mundur dua langkah.

“Karena paman Leng menekan sekali, terpaksa aku berlaku kurang hormat, “serunya seraya ayunkan tangan kanan ke udara untuk menarik perhatian Leng Kong siau. Dan serempak dengan itu tangan kiri merogoh obat bubuk dari bajunya.

Sekonyong-konyong terdengar suara suitan panjang memecah angkasa. Dan pada lain kejap, sesosok bayangan melesat tiba. Tepat pada saat tangan Ting Ling diturunkan, orang itupun sudah tiba di hadapan Leng Kong siau. Berpakaian serba hitam, wajahnya contrang contreng mirip setan. Tegak di hadapan Leng Kong-siau tanpa berkata.

Kemunculan orang itu tak saja membuat Leng Kong-siau terkejut, pun Ting Ling juga tersirap kaget. Tetapi nona itu cepat dapat mengembalikan ketenangannya.

“Tak peduli pendatang ini kawan atau Iawan, yang penting apabila perlu, aku harus mengajak Ca Giok dan adik Hong untuk mengenyahkan Leng Kong-siau,” diam-diam ia memutuskan dalam hati.

Setelah menentukan rencana, Ia tertawa dingin : “Dalam dunia yang begini luas, segala keanehan tentu dapat terjadi. Paman Leng sekarang tentu percaya omonganku tadi.

Leng Kong siau menengadahkan kepala dan tertawa gelak-gelak, serunya : “Dalam sepanjang hidupku, pernah melihat segala macam manusia. Tetapi tak pernah melihat bangsa setan siluman. Bahwa kali ini dapat berhadapan muka, benar-benar suatu pengalaman yang menyenangkan sekali !”

la menutup kata-katanya dengan hantamkan tangan kanannya ke dada orang aneh itu.

Ting Ling tahu kelihaian tokoh Lembah Seribu racun itu. Ia cemas orang aneh itu akan binasa di bawah tangan Leng Kong-siau. Cepat ia hendak membantu. Tetapi orang aneh itu mendahului dengan memutar tubuh menghindar beberapa langkah dan secepat kilat tangannya mencengkeram bahu Leng Kong-siau.

Ting Ling tertegun menyaksikan gerakan orang yang amat cepat sekali. Terpaksa ia tunda tindakannya memberi bantuan.

Leng Kong-siau miringkan tubuh ke samping seraya balas menyambar pergelangan tangan orang aneh itu . . . .
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 7 : Pemuda yang angkuh"

Post a Comment

close