Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 13 : Rahasia Dunia Persilatan

Mode Malam
Jilid 13.

“Ah, kalian sudah bertempur semalam suntuk, tentu kehabisan tenaga. Sekalipun kalah, juga tak perlu malu,” kata Ih Seng.

Kim Loji tak menghiraukan kata-kata Ih Seng, ia melanjutkan lagi, “Pada saat aku rubuh, sesosok bayangan loncat ke atas panggung. Karena saat itu sedang dilanda hamburan darah dalam tubuh, mataku kabur tak dapat melihat jelas siapa pendatang itu. Samar2 kurasa tentu toako yang muncul. Kurasa pula tubuhku diangkat dan bagaimana selanjutnya aku tak tahu karena pingsan. Ketika tersadar, hidungku terbaur hawa harum. Kiranya kuberada dalam sebuah kamar yang indah. Nona Pek Beng-cu tegak berdiri bersandar kursi, Sedang toako mengenakan pakaian ringkas berdiri di muka pembaringanku. Melihat aku siuman, ia gelengkan kepala memberi isyarat supaya aku jangan bicara dulu. Dengan berbisik toako mengatakan bahwa aku dan sam-te telah termakan ilmu jari Pi-peh-ci dari nona Pek. Selain orangtua nona itu, tak mungkin orang mampu menolong. Oleh karena itu toako membawa aku kemari untuk meminta nona Pek mengobati. Walaupun sudah sadar tetapi tenaga dalamku belum pulih dan harus beristirahat selama tiga hari. Jika luka itu tak kambuh lagi, berarti sudah sembuh sama sekali. Toako memperingatkan pula bahwa keadaanku berbahaya, jangan bicara dulu.”

“Paman, kedua taci-beradik dari lembah Raja setan datang kemari,” tiba-tiba Han Ping menyelutuk.

Kim Loji berpaling. Tampak Ting Ling dan Ting Hong lari mendaki ke puncak. Karena saat itu mereka hanya terpisah empat atau limabelas tombak, Kim Loji terpaksa tak mau bercerita lagi.

Beberapa kejab, kedua nona itu sudah tiba. Begitu melihat Han Ping duduk berhadapan dengan Kim Loji, kedua nona itu heran sekali. Beberapa saat kemudian baru mereka berseru kepada Han Ping, “Karena sudah bertemu dengan Kim Lokoay, apakah engkau sudah meminta kembali kotak pedang Pemutus-Asmara itu?”

Mendengar kedua nona itu mememanggil Kim Loji dengan panggilan Kim Lokoay (situa aneh), masamlah hati Han Ping, Ia tak mau menyahut dan pura2 tak mendengar. Lalu ia berpaling dan pura2 kaget melihat kedatangan kedua nona itu.

“Hai, nona Ting datang kemari juga? Silahkan duduklah!” serunya.

Mendengar Ting Hong menyebut Kim lokoay, (situa eksentrik), mendelulah hati Han Ping. Ia tak mau menjawab melainkan balas bertanya, “Hai, nona Ting juga datang kemari? Silahkan duduklah!”

Ting Hong memang kalah cerdas dengan tacinya. Mendengar seruan Han Ping itu, ia kira pemuda itu tak menaruh perhatian pada dirinya. Namun ia tak marah. Sambil mengangguk, ia berdiri di sebelah Han Ping dan memandang Kim Lokoay, “Ji Siangkong, Kim lokoay inilah yang malam itu mencuri kotak pedangmu. Apakah engkau sudah memintanya kembali?”

Han Ping hendak memberi keterangan tetapi pada lain saat ia merasa tak leluasa. Apalagi keterangan itu memerlukan kata-kata yang panjang lebar. Ia hanya menjegek. Tetapi tiba-tiba ia berbangkit, melangkah maju dan berseru, “Hati-hati nona Ting…..”

Ternyata dengan mendekap dada, Ting Ling berjalan pe-lahan2. Jelas ia belum sembuh betul. Ting Hong cepat lari memapahnya duduk.

Ketika dara itu melihat lengan kanan Kim Loji hilang dan masih dibalut kain, kejutnya bukan kepalang, “apakah kalian sudah bertempur?”

Baru Han Ping hendak menyahut, Kim Loji mendahului batuk-batuk, sahutnya, “Tidak, tidak, lukaku ini tak ada sangkut paut dengannya. Janganlah nona sembarangan menduga….”

Sebagai seorang persilatan kawakan, ia tak mau menceritakan tentang peristiwa dalam makam itu. Maka cepat-cepat ia mendahului Han Ping.

Mata Ting Ling yang tajam memandang bergantian ke arah Han Ping lalu Kim Loji kemudian Ih Seng. Sambil memainkan Ujung baju dan menggigit bibir, nona itu tenang2 saja tampaknya, Tetapi diam-diam ia memperhatikan sikap orang-orang itu.

Dia seorang nona yang amat cerdik. Setelah memperhatikan beberapa jenak, segera ia jelas. Sambil kicupkan mata ia menarik tangan adiknya. “Sudahlah, jangan banyak bicara…”

Serempak dengan itu terdengar Ih Seng mangeluh kaget, sehingga mengejutkan sekalian orang. Ketika berpaling, mereka melihat di padang rumput sebelah kiri kaki gunung, muncul dua sosok bayangan. Mereka berlari pesat menuju ke puncak.

Sekalipun jauh tetapi karena tak teraling apa-apa, dapatlah Han Ping dan kawan2nya melihat jelas kedua pendatang itu. Yang di sebelah muka, berpakaian pertapa warna hitam. Kepalarnya ditutup dengan kain selendang sehingga ketika lari, selendang itu bertebaran melambai-lambai, Sedang yang di belakang, seorang bertubuh kurus sekali.

“Hai, bukankah itu Ca sau-pohcu dari marga Ca?” teriak Ting Hong.

Kim Lojipun berseru, “Hmm, Leng Kong-siau pun datang. ..”

Pada lain kejab, kedua orang itu tiba di kaki gunung dan mulai mendaki. Tampak Ca Giok berlari dengan langkah terhuyung. Keadaannya kusut masai. Sambil berlari ia melambaikan tangan seraya berseru keras, “Saudara Ji…” bluk, rubuhlah pemuda itu.

Melihat Ca Giok rubuh, Leng Kong-siau mendengus dan loncat ke muka terus ayunkan tinjunya menghantam pemuda itu.

Pada saat mendengar seruan Ca Giok, Han Ping pun sudah ayunkan tubuh melambung ke udara, lari turun gunung.

Puncak itu cukup landai. Tetapi tanpa menghiraukan bahaya, Han Ping loncat ke bawah. Melihat itu Ting Hong sampai meramkan mata dan mendesis seraya memegang tangan Ting Ling erat-erat.

Pada saat Leng Kong-siau ayunkan tinju, Han Pingpun sudah tiba dan lepaskan pukulan ke ubun-ubun kepala Leng Kong-siau.

Keduanya bergerak dengan cepat sekali. Karena merasa tak sempat lagi mencegah pukulan Leng Kong-siau, dalam gugupnya Han Ping memukul dari jauh.

Ia marah sekali. Pukulannya dilancarkan sekuat tenaga. Kalau tak menghindar, Leng Kong-siau tentu terluka. Ia memilih menyelamatkan diri lebih dulu daripada membunuh Ca Giok. Dengan mengempos semangat, ia loncat ke samping.

Leng Kong-siau seorang jago tua yang julig dan ganas. Walaupun menghindar tetapi ia tetap ayunkan kakinya menendang Ca Giok.

Saat itu Han Ping masih mengapung di udara.

Walaupun pukulannya dapat memaksa Leng Kong-siau menghindar, tetapi ia tak kuasa menahan tendangan orang itu.

Tetapi ternyata Ca Giok masih dapat berusaha menyelamatkan dia. Ia bergulingan beberapa meter ke samping sehingga terluput dari tendangan maut.

Peristiwa itu berlangsung cepat sekali. Pada saat Leng Kong-siau turun ke bumi. Han Pingpun sudah berdiri tegak. Keduanya terpisah dua tiga meter jauhnya. Mereka saling berpandangan dan serempak sama-sama loncat ke tempat Ca Giok. Hanya saja, tujuannya berbeda. Kalau Leng Kong-siau tetap harus membunuh Ca Giok, adalah Han Ping hendak menyelamatkannya.

Melihat Han Ping hendak membela, Leng Kong siau ayunkan tangannya dari jauh. Serangkum tenaga pukulan dahsyat, melanda Ca Giok.

Tetapi Han Pingpun tak tinggal diam. Ia pun lancarkan sebuah pukulan. Bum…. ketika kedua tenaga itu saling beradu, terdengarlah letupan dan angin berkisar hebat di samping Ca Giok.

Saat itu Han Ping merasa, tenaga-membal dari pukulan Leng Kong-siau itu tetap melanda dirinya. Ia terkejut dan buru-buru loncat ke udara. Tetapi ketika memandang ke muka, tampak Leng Kong-siaupun loncat ke atas. Kedua-duanya sama terlanda oleh tenaga pukulan lawan.

Adu pukulan dari jauh itu, telah memberi pelajaran kepada mereka berdua. Leng Kong-siau memandang Han Ping tajam-tajam. Dalam hatinya heran, mengapa hanya berpisah beberapa hari saja, pemuda itu sudah begini hebat kepandaiannya.

Saat itu Ih Sengpun berlarian mendatangi sambil tebarkan kipas, ia memperhatikan gerak-gerik kedua orang itu.

Ternyata karena terkejut dalam adu pukulan tadi, Leng Kong-siau tak berani gegabah menyerang. Ia hanya kerahkan tenaga-dalam ke arah kedua tangannya dan memandang lekat2 kepada Han Ping.

Juga Han Ping yang mengatahui kesaktian orang, tak berani memandang rendah. Diam-diam iapun kerahkan tenaga-dalam, siap sedia menghadapi.

Dalam keadaan saling berpandangan itu, diam-diam keduanya mencuri lirik ke arah Ca Giok. Ternyata tubuh pemuda itu masih terguling-guling. Karena ia kebetulan jatuh pada tanah yang miring. Karena terluka parah, pemuda itu tak mampu menghentikan gerakan tubuhnya. Tangannya menjambak kian kemari untuk mencari pegangan.

Akhirnya Han Pinglah yang tak sampai hati melihat Ca Giok berguling-guling diatas tanah yang penuh batu2 gunung. Ia meminta kepada Ih Seng, “Saudara Ih, tolong bawa saudara Ca itu ke puncak……” habis berkata cepat Han Ping pusatkan semangatnya lagi.

Sekali loncat, Ih Seng melayang ke tempat Ca Giok. Menyambar tubuh pemuda itu, Ih Seng ayunkan tubuh melambung ke arah puncak gunung lagi. Di situ Ting Hong segera memberi minum dan memapah Ca Giok duduk di atas batu.

Setelah melihat Ca Giok ditolong orang, Leng Kong-siau mendengus dan tertawa dingin. Tiba-tiba ia melambung ke udara sampai tiga tombak tingginya. Di atas udara ia berjumpalitan dan meluncur turun ke bawah gunung.

Han Ping terkejut. Sebenarnya pada saat orang she Leng itu melambung keudara, Han Ping hendak melepaskan pukulan. Tetapi entah bagaimana, ia bersangsi dan hendak menunggu apa maksud Leng Kong-siau. Bahwa ternyata Leng Kong-siau lari ke bawah gunung, membuat pemuda itu heran. Ia hendak mengejar tetapi teringat akan keadaan Ca Giok. Terpaksa ia batalkan niatnya.

Setelah beristirahat beberapa waktu, keadaan Ca Giok mulai baik, semangatnya segar lagi.

“Mengapa Leng Kong-siau menyerangmu?” tanya Ting Hong.

Ca Giok memandang nona itu dengan tertawa tetapi tidak menyahut.

Ting Ling mendengus, “Hm, sudah tentu Leng Loji menyerangnya karena dia membakar mati orang……”

Saat itu Han Pingpun datang Kim Loji menanyakannya adakah Lang Kong-siau itu benar-benar telah meloloskan diri.

Belum pemuda itu menyahut, Ting Ling sudah mendahului, “Leng Kong-siau terkenal licik. Mana begitu saja ia tinggalkan tempat ini………”

“Benar,” kata Kim Loji, “Leng Kong-siau tentu tak puas. Sekarang kita berjumlah enam orang, sebagian menderita luka. Jika Leng Kong-siau sampai mengeluarkan muslihat, tentu berabe juga. Ping-ji, lebih baik kita siapkan rencana menghadapinya.”

Tiba-tiba Han Ping teringat bahwa Ting Ling menderita luka parah akibat pukulan wanita cantik baju hijau. Untung ketemu dan ditolong si dara baju ungu dari Lam-hay-bun.

“Nona Ting, bagaimanakah lukamu sekarang?” tanyanya.

Sambil mendekap dada, Ting Ling batuk-batuk, katanya tertawa, “Tak mungkin bisa baik. Mungkin seumur hidup tak dapat sembuh!”

Han Ping tertegun.

“Apa? Apakah nona baju ungu itu memberikan resep salah?”

“Adakah ia mengandung pikiran hendak mencelakai diriku, sekarang belum dapat kukatakan. Tetapi aku memang tak menurut petunjuk dalam resepnya, supaya dia mempunyai alasan…….”

“Kalau begitu tak dapat menyalahkan orang. Tetapi mengepa engkau tak mau menurut petunjuk resep itu?” tanya Han Ping.

Ting Ling tersenyum rawan, “Ketika adikku pergi mencari obat dan tinggalkan aku di atas pohon, rombongan orang gagah bertempur, setiap saat jiwa terancam bahaya…….”

Ia terharu, dua titik airmata menetes turun. Tetapi nona itu seorang yang keras hati. Dalam menghadapi segala apa, ia selalu tabah. Ia cepat palingkan muka.

Ting Hong menghela napas. “Ketika pulang membeli obat, taci telah pingsan di tanah. Saudara Ca dan gadis baju ungu dari Lam-hay-bun itu tengah duduk di sisi taci……”

Tiba-tiba Ca Giok yang saat itu sudah membuka mata segera menyeletuk, “Adalah nona Ting sendiri yang kurang hati2 hingga terjatuh dari atas pohon. Jika tak kusambuti, mungkin ia terluka lebih parah lagi. Harap nona Hong bcara sejujurnya jangan menfitnah orang……….”

“Eh, bukankah aku tak mengatakan engkau yang menjatuhkan taci? Mengapa engkau bingung tak keruan?” sahut Ting Hong.

Han Ping cepat melerai, “Sudahlah, tak perlu meributkan peristiwa yang lalu! Karena melihat peristiwa itu, bukankah saudara Ca hendak memberi pertolongan?”

Belum pemuda itu menyahut, Ting Hong sudah mendahului, “Dia hanya bercumbu rayu dengan si dara dari Lam-hay-bun itu, mana dia mempedulikan keadaan taci!”

cepat Han Ping menukas tetapi ia tak tahu bagaimana kelanjutan kata-katanya.

Ca Giok menghela napas, “Karena tak mau tenang2 merawat lukanya sehingga hawa dalam tubuh nona Ling itu merangsang ke atas dan mendorong racun bekerja lagi.”

“Eh, bagaimana engkau tahu kalau taci tak tenang hatinya?” seru Ting Hong.

“Nona Ling yang mengatakan sendiri!”

Ting Hong jebikan bibir menyeringai. “Akupun dengar juga omongan itu, tak perlu engkau katakan lagi! Kalau mengingat sikapmu terhadap taci tempo hari, tak seharusnya kupapah engkau duduk dan memberi minum padamu!”

Ting Hong memang seorang dara yang masih ke-kanak2an. Apa yang dikandung dalam hati terus dihamburkan dalam kata-kata.

Ca Giok tak dapat berbuat apa-apa kecuali merah padam selembar airmukanya.

Ting Ling segera menghibur pemuda itu. “Ca sau-poh-cu jangan melayani pikiran adikku itu. Dia memang masih seperti anak kecil saja, suka bicara blak-blakan tanpa menghiraukan perasaan orang lain. Harap sau-poh-cu jangan mengambil di hati!”

Ting Ling lebih cantik dari Ting Hong. Sejak menderita sakit. tubuhnya agak kurus. Sikapnya dalam berkata-kata itu benar-benar membuat orang merasa kasihan.

Han Ping menghela napas pelahan, ujarnya, “Sebenarnya aku berniat mengejar wanita baju hijau itu untuk memaksanya memberi obat kepada nona Ling. Tetapi bertemu dengan gadis baju ungu dari Lam-hay-bun. Dia sanggup mengobati luka nona Ling dan suruh saudara Ca menusuk dengan jarum. Kukira pengobatan itu akan segera menyembubkan nona Ling. Siapa tahu ternyata telah terjadi beberapa perobahan. Kalau tahu begitu, aku tentu tak mau meninggalkan nona Ling sebelum sembuh benar.”

“Tetapi kurasa lebih baik lekas mati, lebih baik bagiku karena lekas terhindar dari segala kesulitan,” kata Ting Ling tertawa.

Ting Hong mengomel, “Jika siluman perempuan dari Lam-hay-bun itu tidak melepas obat peledak, sehingga Leng Kong-siau tak bertempur dengan penduduk Bik-lo-san, tentulah botol obat taciku tak sampai pecah, sehingga memperlambat minum obatnya dan tak sampai jadi begini menyedihkan keadaannya……”

Ting Ling tersenyum, “Budak tolol, sekalipun aku menurut resep orang, belum tentu aku sembuh!”

Diam-diam Han Ping anggap ucapan gadis itu memang tepat. Segera ia berseru, “Jangan kuatir, pasti akan kucari gadis itu untuk meminta kembali resepnya….”

“Setiap penduduk dari Bik-lo-san itu memiliki kepandaian silat tinggi dan penuh dengan ranjau yang berbahaya. Jika saudara Ji pergi seorang diri tentu berbahaya sekali,” kata Ca Giok.

Tiba-tiba Kim Loji berbangkit, “Kutahu peribadi Leng Kong-siau, jika belum selasai mengerjakan sesuatu, tentu belum mau sudah. Saat ini sebagian dari kita menderita luka. Jika Leng Kong-siau memanggil bantuan, tentu kita terancam bahaya. Maksudku, lebih baik kita hindari bahaya di depan mata terlebih dahulu. Kalau ada pendapat lain, silahkan nanti saja setelah kita pindah ke lain tempat!”

Sejak mengatahui siapa diri Kim Loji yang sebenarnya, Han Ping menaruh perindahan. Segera ia berbangkit dan menanyakan bagaimana luka Ca Giok. Ca Giok mengatakan bahwa saat itu semangatnya sudah hanyak baikan.

Ting Ling tertawa. “Kim Lo-cianpwe hanya memikirkan mencari daya untuk menghindari Leng Kong-siau tetapi lupa bahwa sekalipun kita lari ke ujung langit, tentu tetap akan dikejarnya. Daripada berkelahi pada waktu itu, lebih baik kita tunggu saja kedatangannya di sini. Dengan mengandal letak puncak yang berbahaya ini, kita dapat menghadapinya. Dan kalau dia mampu keluar dari barisan Lam-hay-bun itu, masakan paman ketigaku tidak…”

Ting Hongpun ikut tertawa, “Paman ketigaku itu selekas keluar dari barisan Bambu-batu, tentu akan mencari kami berdua. Di tempat-tempat yang penting, taciku sudah meninggalkan pertandaan rahasia dari lembah kami. Asal orang kami mengetahui, tentu akan mencari kami!”

“Budak goblok, sungguh goblok sekali,” diam-diam Ting Ling mengumpat dalam hati ketika mendengar adiknya membuka rahasia itu.

“Paman, kita baik cari lain tempat atau tidak?” tanya Han Ping yang bersangsi.

Kim Loji tersenyum. “Orang memuji kedua nona Hun-bong-ji-kiau itu cerdas sekali, ternyata memarg benar. Rupanya lebih dapat memperhitungkan sesuatu dengan cermat daripada aku.”

Ting Ling tertawa, “Ah, paman Kim terlalu memuji. Masakan aku mampu menandingi kelihaian paman!” karena melihat Han Ping bersikap menghormat kapada Kim Loji, iapun ikut berbahasa dengan sebutan ‘paman’.

Dalam keadaan terdiam itu, Ca Giok sesungguhnya sedang menimang. Kalau Leng Kong-siau masih mendendam kepadanya karena ia telah membakar barisan itu, Ting Yan-san atau paman ketiga dari kedua nona Ting itu tentu juga akan marah kepadanya. Ia gentar membayangkan hal itu. Diam-diam ia mencari akal hendak meloloskan diri sebelum Leng Kongsiau atau Ting Yan-san datang.

Setelah mengambil keputusan, segara ia berputar tubuh dan melangkah pergi. Karena mengira hanya hendak melemaskan urat2nya dengan berjalan-jalan, Han Ping tak mencegah.

Tetapi tindakan Ca Giok itu tak luput dari pengawasan Ting Ling. Tiba-tiba nona itu tertawa mengikik. “Hendak kemana engkau Ca sau-poh-cu?”

Pertanyaan yang langsung kena pada sasarannya, membuat Ca Giok tertegun. Ia berpaling dan menyahut tertawa, “Lukaku masih belum sembuh sama sekali. Kupikir hendak mencari tempat sunyi untuk merawat luka itu.”

Han Ping terkejut, serunya, “Ah, masa bisa begitu! Engkau baru saja sembuh, kalau seorang diri pergi, kita tentu tak tega. Kembalilah, kita bersama-sama menjaga disini saja. Sekalipun Leng Kong-siau datang bersama kawan2nya, kita dapat menghadapi bersama-sama!”

Ca Giok tersenyum, “Terima kasih atas kebaikan saudara Ji. Tetapi lukaku benar-benar memerlukan perawatan. Aku harus mencari tempat yang sepi……….”

“Harap Ca sau-pohcu kembali kesini,” seru Ting Ling, “sekalipun pamanku datang mencarimu, tak nanti dia akan berbuat apa-apa kepadamu……..”

Ca Giok gelengkan kepala, “Ini……….. ia tak dapat melanjutkan kata-katanya karena saat itu dari kejauhan tampak beberapa sosok bayangan lari mendatangi. “Ah, percuma ia hendak pergi sekarang. Akhirnya ia berjalan kembali ke tempat rombongan Han Ping.

Diam-diam Ting Ling heran mengapa pemuda dari marga Ca itu begitu mendengar sekali nasehatnya. Tetapi ketika ia berpaling dan melihat beberapa sosok bayangan itu, tahulah ia rahasia ketaatan Ca Giok itu.

Saat itu Ca Giok menyadari bahwa mati hidupnya berada di tangan Han Ping. Namun ia masih kuatir akan perkembangannya. Kalau dalam tanya jawab dengan pendatang itu, ternyata dia dipersalahkan membakar barisan, kemungkinan tiada seorangpun yang akan membelanya.

Setelah memutuskan rencana, ia segera menghampiri ke samping Han Ping dengan pura2 lukanya kambuh payah lagi. Katanya dengan berbisik, “Saudara Ji, lukaku kambuh berat lagi, jika tak lekas2 beristirahat, tentu takkan tertolong. Biar aku menjalankan penyaluran tenaga-dalam dulu untuk satu dua jam. Begitu menghadapi musuh, agar dapat membantu saudara.”

Han Ping mengiakan. Ia suruh pemuda itu beristirahat. Kalau Leng Kong-siau datang, ia sendiri yang akan menghadapinya.

Sudah tentu Ca Giok gembira. Setelah menghaturkan tetima kasih, iapun segera pejamkan mata menyalurkan napas.

Memandang ke muka, tampak pendatang2 itu Leng Kong-siau dan rombongannya. Tak berapa kejab, mereka sudah ke puncak. Begitu melihat Ca Giok, Leng Kong-siau mendengus, “Hmm, bilakah manusia itu tidur pulas?”

Han Ping menyahut dingin. “Saudara Ca sedang menyalurkan tenaga-dalam untuk mengobati lukanya. Jika hendak bicara, tunggu saja nanti setelah dia sudah baik!”

Dua orang yang mengiring di belakang Leng Kong-siau itu, yang satu seorang tua berumur 70-an tahun, menyanggul sebatang padang, berjubah panjang dan sikapnya seperti seorang sasterawan.

Yang seorang lagi, masih agak muda, mengenakan pakaian sebagai seorang pelajar. Wajahnya putih seperti berbedak. Tetapi apabila diperhatikan dengan seksama, warna putih pada wajah itu mengandung cahaya kehijau-hijauan.

Ting Ling tak kenal siapa kedua orang itu, tetapi ia yakin bahwa mereka bukan orang Lembah Seribu-racun. Segera ia bertanya kepada Leng Kong-siau, “Leng lo-cianpwe, siapakah kedua tuan ini? Mengapa aku belum pernah bertemu?”

Leng Kong-siau batuk-batuk, sahutnya, “Kedua saudara ini adalah tokoh-tokoh yang ternama dalam dunia persilatan, masakan engkau belum pernah mendengar namanya? Kalau begitu kalian berdua saudara ini, masih picik pengalaman!”

“Hanya lebih banyak kenal beberapa orang saja, kiranya bukan sesuatu yang dapat dibanggakan,” sahut Ting Ling. Tajam sekali nona itu mengembalikan serangan kata Leng Kong-siau, hingga orang she Leng itu tertegun. Beberapa saat kemndian baru ia tertawa dingin . “Budak setan, jangan bermulut tajam hingga membangkitkan kemarahanku!”

“Ah, paman Leng terlalu serius sekali,” Ting Ling tertawa, “kalau paman hendak menghajar aku, apakah paman tak merasa keterlaluan?”

Leng Kong-siau mendengus, dampratnya “Budak tak tahu aturan! Siapakah diriku ini? Mengapa budak semacam engkau berani mengolok-olok aku?”

Mahasiswa muda itu tiba-tiba tampil ke muka Leng Kong-siau, katanya, “Saudara Leng, siapakah budak perempuan ini? Perlukah diberi pengajaran?”

Sikap mahasiswa itu terlalu meremehkan Ting Ling. Begitu berkata kepada Leng Kong-siau ia terus menatap Ting Ling.

“Ah, mana aka berani merepotkan saudara. Kutakut dianggap merendahkan kedudukan saudara Ceng apabila bertempur dengan seorang budak perempuan,” buru-buru Leng Kong-siau mencegah.

Padahal dalam hati orang she Leng itu kuatir akibatnya kalau sampai melukai Ting Ling. Yang jelas Lembah Raja-setan tentu tak mau menerima begitu pula Lembah Seribu-racun. Kedua golongan itu kecuali sama-sama ternama pun juga hampir berimbang kekuatannya. Dan yang lebih penting pula, ia tahu bahwa saat itu paman ketiga dan kedua nona tersebut yakni Ting Yan-san tak berapa lama lagi tentu akan tiba disana.

“Huh, manusia lenggang-kangkung yang mukanya pucat tak berdarah, manusia bukan manusia, setanpun bukan setan. Apa engkau kira mukamu itu tidak memuakkan orang?”

Hebat sekali semprotan Ting Ling itu. Saking marahnya, mahasiswa itu sampat gemetar. Dengan menggembor keras, ia segera menerkam Ting Ling.

Tetapi Ting Ling memang sudah siap, sekali menggeliat, is sudah menyisih ke samping.

Ting Hong yang tahu tacinya masih belum sembuh, segera melengking dan menyerbu mahasiswa pucat itu dengan sebuah hantaman mengarah dada.

Setelah terkamannya luput dan pukulan Ting Hong malah hampir tiba di dadanya, mahasiswa muka pucat itu segera loncat ke samping lalu secepat kilat menerkam tangan si nona.

Tetapi Ting Hongpun cepat surutkan tangannya, diganti dengan tendangan serta hantaman tangan kiri dalam jurus Kipas-memadamkan-api.

Dua kali selalu ditindas oleh Ting Hong, mahasiswa muka pucat itu merasa kehilangan muka. Saking marahnya wajahnya yang pucat itu makin tampak kebiru-biruan. Dengan mengempos semangat ia loncat mundur.

Melihat itu Ting Hong tertawa mengejek, “Manusia begitu tak ada gunanya, masih berani buka mulut besar, huh!”

Tiba-tiba Han Ping berseru nyaring, “Nona Ting, hati-hati…”

Ting Hong tertegun. sahutnya, “Apa……?” baru ia berkata begitu, sekonyong-konyong serangkum angin bertenaga kuat, melandanya. Buru-buru ia menghindar ke samping.

Dua kali ditindas Ting Hong, si mahasiswa muka pucat malu sekali. Jika dalam dua tigapuluh jurus tak mampu menindas dara itu, benar-benar ia akan jatuh nama. Maka begitu loncat mundur, ia segera kumpulkan tenaga-dalam dan maju menyerang lagi.

Waktu Ting Hong menghindar ke samping, mahasiswa itu sudah memperhitungkan. Bagaikan bayangan, cepat ia sudah mengejar untuk menerkam bahu si dara.

“Tahan!” teriak Han Ping seraya menerjang dan memukul dengan jurus Hui-pa-jong-ciong. Dahsyatnya bukan kepalang.

Sejak tiba di puncak situ, mahasiswa muka pucat itu telah memperhatikan orang-orang yang berada di situ. Melihat Han Ping hanya seorang pemuda, walaupun dari perguruan ternama, tetapi tentulah tenaganya belum memadai. Jadi tak perlu dirisaukan. Kim Loji dan Ca Giok sedang bersemedhi mengobati lukanya. Sedang kedua nona Ting itu pun masih muda, tak perlu diperhitungkan. Satu-satunya yang harus diperhatikan ialah Kipas-besipedang-perak Ih Seng. Maka ketika ia bertempur dengan Ting Hong, ia hanya memperhatikan Ih Seng saja. Sama sekali tak diduganya bahwa Han Ping akan melancarkan pukulan yang sedahsyat gunung rubuh kuatnya.

Mahasiswa muka pucat itu terkejut bukan kepalang dan cepat mengempos semangat. Ia terpaksa hentikan pengejaran kepada Ting Hong, sambil membuat suatu gerakan memukul kosong dengan tangan kanan, ia mencelat menghindar ke sebelah kiri.

Maksud Han Ping hanya untuk menolong Ting Hong. Setelah hal itu tercapai, iapun tak melanjutkan serangannya kepada mahasiswa itu.

Tampak Ting Hong berdiri di samping dengan mengulum senyum, Sedikitpun dara itu tak takut.

Ibu jarinya dilekatkan pada jari telunjuk, memandang Han Ping tanpa bicara apa-apa.

Serentak tersadarlah Han Ping bahwa kedua nona bersaudara itu memiliki senjata ampuh, ialah Tan-ci-tui-hun-san atau Bubuk pemburu-nyawadengan-lentikan-jari. Jika ia tak mengganggu pertempuran itu, kemungkinan si mahasiswa muka pucat tentu sudah termakan lentikan-jari-bubuk-pemburu-nyawa dari Ting Hong.

Melihat sikap Ting Hong, Leng Kong-siau segera memberi peringatan kepada kawannya. “Hati2- lah saudara Ceng. Kedua budak dari Lembah-raja-setan mahir menggunakan bubuk beracun. Jangan sampai saudara termakan siasat mereka!”

Sejenak memandang ke arah Ting Hong, mahasiswa muka pucat itu tertawa. Kemudian ia berpaling ke arah Han Ping dan membentaknya marah. “Karena berani menyerang Ceng ji-thay-ya, jelas engkau tentu sudah bosan hidup!”

Sambil keliarkan pandang matanya, Han Ping tertawa dingin. “Karena engkau berani berkata menghina orang, engkaulah yang sudah bosan hidup!”

Tiba-tiba Ih Seng membentak keras, “Manusia macam begitu tak perlu kiranya saudara turun tangan sendiri, berikan dia kepadaku!” begitu berseru, terus tebarkan kipas-besi dan mencabut pedang perak lalu maju menyerang.

Leng Kong-siau tertawa gelak2, “Saudara Ih segan menjadi pemimpin kaum Rimba Hijau dari empat propinsi, sebaliknya rela berhamba pada seorang budak tak ternama. Sungguh aneh sekali. Entah berapakah saudara menerima gaji sebulannya?”

Merah padam selembar muka Ih Seng mendengar ejekan itu. Tetapi sesaat ia tak dapat menjawab.

“Leng loji,” tiba-tiba Kim Loji berseru nyaring, “nama lembah Seribu-racun bukan olah2 hebatnya dalam dunia persilatan. Tetapi tak kira kalau engkau ternyata mau bersekongkol dengan Sepasangdurjana dari daerah Kwan-gwa yang jelas banyak melakukan kejahatan dalam daerah Tiong-goan. Apabila hal itu sampai tersiar didunia persilatan, nama lembah Seribu-racun dan dirimu pribadi tentu akan hancur lebur!”

Leng Kong-siau terbeliak, pikirnya, “Kim Loji itu benar-benar tak bernama kosong. Masuknya kedua Durjana dari daerah Kwan-gwa (luar perbatasan) ke Tiong-goan itu, jarang sekali diketahui orang. Yang tahu hanya dapat dihitung dan yang kenal pada kedua Durjana itupun hampir tak ada. Tetapi mengapa dia tahu ..”

Cepat ia menyahut, “Soal kedua saudara dari Kwan-gwa itu, apa hubungannya dengan engkau? Jika engkau tetap mengoceh tak keruan, jangan sesalkan diriku kalau bertindak kasar!”

Mendengar Kim Loji sedikitpun tak gentar menyebut nama Sepasang-durjana dari Kwan-gwa, bahkan bernada mengejek, tertawalah mahasiswa muka pucat itu, serunya, “Aha, tak kira kalau di Tionggoan terdapat orang yang kenal akan nama kami berdua saudara!”

Ih Seng mendengus dan mendamprat, “Tionggoan bukanlah hutan belantara seperti tempat kediamanmu!” pedang diangkat terus ditusukkan.

Ih Seng adalah pemimpin Rimba Hijau dari ke empat propinsi. Dia merasa malu karena tak mengetahui kedua jago dari luar perbatasan itu menyelundup ke daerah Tiong-goan. Maka sekali serang, ia gunakan jurus yang ganas. Pedang menebar jadi tiga kelompok bunga sinar yang sekaligus menyerang tiga jalandarah maut didada orang.

Tersirap darah mahasiswa muka pucat itu setelah menyaksikan serangan Ih Seng. Diam-diam ia mengakui kebenaran cerita orang bahwa Tiong-goan itu penuh dengan jago2 silat sakti.

Cepat ia loncat mundur beberapa langkah lalu melolos jwan-pian atau cambuk lemas yang melilit di pinggangnya. Ia tak berani menghadapi Ih Seng dengan tangan kosong.

Tertawalah si Kipas-besi-pedang-perak Ih Seng, “Sebaiknya kalian sepasang Durjana maju serempak, agar dapat menambah pengalamanku!”

Mahasiswa muka pucat itu tertawa dingin, serunya “Jangan bermulut besar, bung! Terimalah seranganku 100 jurus dulu baru bicara lagi!”

Dengan kata-kata itu jelas kecongkakan jago dari luar perbatasan itu sudah berkurang banyak.

Ih Seng getarkan pedang. Secepat kilat ia sudah lancarkan serangan tiga jurus. Sebagai pemimpin kaum penyamun dari empat propinsi, sudah tentu kepandaiannya bukan olah-olah. Serangannya mengejutkan orang.

Mahasiswa muka pucat itupun segera memutar senjatanya untuk melindungi diri. Tring, tring, tring, terdengar dering senjata beradu dan serangan Ih Seng dapat dipunahkan.

Tetapi Ih Seng tak nanti memberi kelonggaran. Sebelum musuh sempat balas menyerang, ia sudah lancarkan dua buah serangan lagi.

Mahasiswa muka pucat itu benar-benar terkejut. Dengan mengempos semangat ia segera melambung ke udara. Liong-thau-pian atau ruyung kepala Naga, ditusukkan ke kepala Ih Seng.

Ih Seng menangkis dengan pedang lalu menusukkan kipas-besinya. Tetapi mahasiswa muka pucat itu mendengus dingin lalu berjumpalitan tubuhnya dan meluncur turun. Begitu menginjak tanah, ia sudah menyerang lagi.

Rupanya kali ini ia sudah siap. Tak mau ia didahului lawan. Serangannya itu menggunakan jurus Lat-soh-ngo-gak atau Menabas-lima-gunung dengan sekuat tenaga……

Ih Seng berputar diri seperti roda. Setelah menghindari serangan, ia menyelinap maju dan memaksa musuh mundur sampai tiga langkah.

Beberapa kali dapat didesak oleh ilmu permainan kipas dan pedang yang istimewa, marahlah jago dari luar perbatasan itu. Cambuk lemas atau ruyung yang ujungnya merupakan kepala naga, diputar sekeras-kerasnya sehingga menimbulkan deru angin yang tajam. Laksana badai menyiak gelombang, ruyung melanda Ih Seng.

Namun Ih Seng hanya tertawa hina. Kipas di tangan kiri dikatupkan untuk dipakai sebagai penutuk jalandarah orang. Pedang di tangan kanan diputar laksana naga bergeliatan di angkasa. Tring, tring, tring, badai serangan ruyung, dapat dibuyarkan semua.

Kedua tokoh itu, yang seorang adalah pemimpin kaum Rimba Hijau dari empat propinsi dan yang seorang jago ternama dari luar perbatasan, walaupun baru pertama kali itu bertempur, tetapi mereka telah menghidangkan suatu permainan yang bermutu tinggi.

Tigapuluh jurus cepat berlalu. Namun belum tampak siapa yang kalah. Diam-diam Ih Seng menimang, “Jika terhadap orang ini aku tak mampu mengalahkan, bagaimana aku mempunyai muka diangkat sebagai pemimpin Rimba Hijau empat propinsi? Bagaimana kelak aku dapat mengangkat nama di dunia persilatan?”

Ia mencuri lirik ke arah orang yang hadir di gelanggang situ. Hatinya makin gelisah. Cepat ia gencarkan gerakan kipas dan pedang untuk menghujani serangan.

Jago kedua dari Sepasang Durjana Kwan-gwa yang bernama Ceng Bu itu, berpaling ke arah Leng Kong-siau. Ketika melihat Leng Kong-siau agak cemas, Ceng Bu pun makin gelisah. Pikirnya, “Jika aku tak dapat mengalahkan orang ini, bukankah akan dihina Leng Loji?”

Maka Ceng Bupun segera perhebat gerakan ruyungnya. Udara seolah-olah diliputi oleh gumpalan sinar emas berkilat yang menghamburkan deru badai yang dahsyat,

Demikian kedua jago itu telah sama-sama mempunyai keputusan untuk mengalahkan lawan dan sama-sama pula melaksanakan dalam ilmu permainannya yang istimewa.

Sepuluh jurus telah lewat lagi. Bermula keduanya berimbang. Tetapi sekonyong-konyoug bangkitlah nafsu pembunuhan dalam hati Ih Seng. Dengan menggembor keras, ia melambung keudara. Pedang bergerak dalam jurus hujan-mencurah-dari-langit dan kipaspun memantul dalam jurus Bangaumelayang-diangkasa. Pedang berobah seperti ribuan kelopak bunga dan kipas laksana gunung rubuh. Atas bawah, kanan kin, mencurah ke arah Ceng Bu.

Setelah mengeluarkan ilmu simpanan yang istimewa itu, barulah Ih Seng dapat merobah kedudukannya. Saat itu Ceng Bu merasa kepalanya akan kejatuhan gunung roboh. Untuk menangkis, ia merasa sudah tak keburu lagi. Yang penting adalah menjaga keselamatan jiwanya dulu. Soal gengsi dan nama, boleh dikesampingkan dulu. Cepat ia mengendap ke bawah lalu membuang diri bergelundungan di tanah sampai beberapa meter. Hanya dengan cara itu barulah ia dapat terhindar dari bahaya maut. Selekas loncat bangun, dengan tertawa dingin ia maju menyerang lagi.

Tiba-tiba lelaki yang bersenjata pedang itu loncat ke muka Leng Kong-siau seraya berseru, “Loji, mundurlah. Biarlah aku yang akan menghadapi tokoh Tiong-goan ini!”

Ih Seng keliarkan matanya menatap orang itu lalu tertawa mengejek, “Ah, jangan keliwat sungkan. Lebih baik kalian Sepasang Durjana maju serempak saja!”

Lelaki yang berumur 50-tahun itupun tak mau banyak bicara. Ia berpaling dan menganggukkan kepala kepada Ceng Bu, kemudian melesat ke samping kanan. Secepat mencabut pedang, ia terus menusuk Ih Seng.

Ih Seng menangkis dengan pedang. Tiba-tiba dari samping kiri terdengar ruyung menggeletar keras. Tak sempat melihat lagi, Ih Seng menangkis dengan kipas di tangan kiri.

Kwan-gwa-song-bong atau Sepasang-durjana dari-luar perbatasan, amat termasyhur di daerahnya. Dan memang keduanya berilmu tinggi. Ih Seng tak berani memandang rendah. Ia memberi perlawanan sengit dengan pedang dan kipas.

Tetapi lama kelamaan, berkat gabungan permainan kedua durjana yang dapat membentuk kerjasama rapi, Ih Seng harus memeras keringat benar-benar.

Melihat itu, Ting Hong segera bertanya kepada Ting Ling, “Taci Ling, bagaimana pendapatmu tentang pertempuran itu? Apakah dia seorang dapat mengatasi?”

Sesunggulmya Ting Lingpun sudah mengetahui kedudukan Ih Seng yang kurang baik. Tetapi sebagai seorang nona yang hati-hati, ia hams menjaga nama baik Ih Seng dalam dunia persilatan. Maka sambil tertawa pelahan, ia menyahut, “Dapat mengatasi atau tidak, tetapi cara main kerubut itu sudah bukan cara ksatrya. Apabila dia membela kita maka sudah sepantasnya kalau kita ikut campur. Baiklah, tak apa kalau engkau hendak membantunya……..”

Ting Hong tersenyum. Sekali loncat ia melayang ke tengah gelanggang dan kebutkan lengan bajunya menampar Ceng Bu.

Jago dari luar perbatasan itu benar-benar terkejut melihat gerakan si dara yang sedemikian lincah dan gesit. Diam-diam ia harus mengakui kebenaran kata orang bahwa daerah Tiong-goan itu menjadi Kedung atau sumber dari orang sakti.

Cepat Ceng Bu menangkis dengan tangan kiri.

“Besar sekali nyalimu. Hai! Rupanya engkau memang sudah bosan hidup,” seru Ting Hong seraya manarik pulang lengan bajunya diganti dengan gerakan tangan kanannya untuk mencengkeram tangan Ceng Bu.

Ceng Bu tersenyum, iapun gunakan tangan kiri untuk mencengkeram siku Ting Hong.

“Saudara Ceng, hati-hatilah. Tangan budak perempuan itu menggenggam setan……….” seru Leng Kong-siau. Tetapi sebelum ia menyelesaikan peringatannya, tiba-tiba telunjuk dan jari tengah Ting Hong meletik. Dan seketika itu serangkum bau harum melanda Ceng Bu.

Mendengar peringatan Leng Kong-siau, Ceng Bu cepat-cepat menyurut mundur. Tetapi sudah terlambat. Hidungnya menyedot bau yang amat barum, sekali berbangkis, ia sudah terjungkal rubuh.

“Sepasang durjana dari Luar-perbatasan, uh, namanya saja menyeramkan sekali. Tetapi nyatanya hanya begitu tiada gunanya!” Ting Hong memaki seraya ayunkan kakinya menendang ke dada Ceng Bu.

Melibat kedua Durjana itu tak mampu mengalahkan Ih Seng, diam-diam Leng Kong-sian mengomel dalam hati, “Hmm, kiranya sepasang Durjana itu hanya bernama kosong belaka!”

Tetapi sekalipun hatinya tak puas dengan kedua jago dari luar perbatasan itu, ia tak dapat berpeluk tangan mengawasi Ceng Bu mati di tangan Ting Hong. Apalagi lelaki setengah tua itu, salah seorang dari Sepasang Durjana, masih sibuk menghadapi serangan Ih Seng sehingga tak dapat berbuat apa-apa untuk menolong kawannya. Terpaksa Leng Kong-siau harus bertindak sendiri.

Didahului oleh sebuah gemboran keras, Leng Kong siau lepaskan sebuah hantaman dari jarak jauh. Karena tenaga-dalamnya tinggi, maka pukulan itu bukan olah-olah hebatnya.

Ting Hong yang sedang menendang, begitu merasa disambar oleh gelombang angin pukulan dahsyat, ia duga tentu dari Leng Kong-siau. Bru-buru ia menghindar ke samping. Namun ia tetap tak mau membuang kesempatan untuk ‘menyelesaikan’ Ceng Bu. Maka sambil loncat menghindar ke samping itu, ia tetap mampir menendang lambung Ceng Bu.

Walaupun dalam kondisi terdesak, tendangan Ting Hong itu cukup berat. Tubuh Ceng Bu dua kali bergelundungan baru berhenti. Tetapi karena ia pecah tenaganya untuk menendangi Ceng Bu, gerakannya menghindar pun agak lambat. Angin pukulan pun dapat menggempur tubuhnya sehingga ia harus terhuyung beberapa langkah baru dapat berdiri tegak.

“Budak perempuan yang ganas!” teriak Leng Kong-siau seraya loncat memburu gadis itu.

Gerakannya luar biasa cepatnya, sehingga baru saja Ting Hong berdiri tegak, Leng Kong-siau sudah tiba di hadapannya dan secepat kilat ulurkan tangan hendak mencengkeram siku lengan Ting Hong yang kanan.

Melihat adiknya terancam bahaya, sesungguhnya Ting Ling sudah hendak berusaha menolong. Tetapi lain kilas menunda rencananya karena Han Ping berada lebih dekat dengan Ting Hong. Jika terjadi sesuatu kepada Ting Hong, tentulah Han Ping akan turun tangan lebih dulu.

Tetapi sungguh di luar dugaan sekali, Han Ping tetap tegak diam. Sudah tentu Ting Ling kelabakan sekali. Sebelum ia berbuat apa-apa, ia berbuat apa-apa, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara dingin yang tak asing. “Wah… hebat sekali kegagahan saudara Leng! Menghina seorang anak muda, apakah tak kuatir ditertawai orang? “

Secepat dapat mencengkeram tangan Ting Hong, Leng Kong-siau segera mengalingkan tubuh gadis itu dimukanya sebagai perisai. Setelah itu baru ia memandang pendatang itu dan menyahut tertawa, “Apakah saudara Ting hendak ikut melakukan pengejaran pada budak perempuan dari partai Lam-hay bun itu? Aku………..”

Pendatang itu bukan lain adalah tokoh dari lembah Raja-setan si Imam-pencabut-nyawa Leng Yan-san, paman ketiga dari kedua nona Ting. “Harap lepaskan anak itu dulu baru nanti kita bicara lagi,” seru Ting Yan-san.

Tetapi Leng Kong-siau balas tertawa meloroh, “Ah, aku hanya sekedar bergurau dengan kedua keponakan perempuan ini…….” ia kendorkan lengan Ting Hong, lalu berkata pula, “aku si orang tua ini masakan mau meladeni engkau. Kelak jika engkau berani memaki-maki lagi…..”

Ting Ting Hoag cepat loncat ke samping tacinya lalu mencibirkan bibir, “Hm, siapa senggang bergurau dengan engkau. Jelas setelah melihat pamanku datang, engkau lantas katakutan…………”

“Ho, siapakah yang tak tahu bahwa aku ini sejajar mama dengan pamanmu itu …… “ ia berpaling ke arah Ting Yan-san, katanya, “Saudara Ting, apakah kata-kataku ini salah?”

Ting Yan-san menyeringai, “Benar, benar, Lembah Seribu-racun dan Lembah Raja-setan sama-sama muncul di dunia persilatan. Saudara Leng dan aku pun sama-sama ternama! “

Sekonyong-konyong terdengar Ih Seng membentak, “Lepaskan …. “ dengan jurus Awandari luar-langit, ia tamparkan kipasnya ke batang pedang sastrawan setengah tua itu.

“Ah, belum tentu,” sahut sasterawan setengah tua itu seraya gentakkan pedangaya yang tertindih ke bawah.

Tetapi Ih Seng susuli dengan tusukan pedang ke lengan kiri orang. Karena pedang pusakarnya sedang disisihkan ke samping oleb lawan, sasterawan itu tak dapat menangkis. Terpaksa ia loncat mundur.

Ih Seng memburunya. Kipas dan pedang diserangkan dahsyat sehingga sasterawan setengah tua itu terdesak mundur sampat ke ujung karang.

Dalam pada itu, Ting Yan-san yang memandang ke sekeliling segera tertawa, “Ah… kiranya saudara Kim juga hadir di sini……..” tiba tiba ia hentikan kata-katanya ketika melihat pakaian Kim Loji yang berlumuran noda-noda darah. Segera ia bertanya, “Eh, apakah sauda Kim menderita luka?”

Ting Yan-san seorang yang bernada dingin. Walaupun ucapan itu merupakan pertanyann bersahabat, tetapi karena dia yang mengatakan, kedengarannyapun dingin dan sinis.

Sambil menunjukkan lengannya yang kutung, Kim Loji menyahut, “Bukan hanya terluka biasa saja tetapi kehilangan sebuah lengan!”

Oleh karena lengannya disembunyikan dalam baju maka Ting Yan-san tak mengetahui kalau kutung.

Mendengar keterangan Kim Loji itu, mata Ting Yan-san berkilat-kiiat memandang hadirin yang berada dalam gelanggang situ, serunya, “Hai! siapakah yang telah melukai saudara Kim itu? Bilanglah, nanti tentu akan kubalas mengutungi sebelah lengannya juga.”

Karena kedua nona Ting itu belum menceritakan tenting tindakan Kim Loji mencuri kotak pedang pusaka milik Han Ping sehingga telah menimbulkan peristiwa2 yang merugikan kedua nona tersebut maka Ting Yan-san tak tahu apa yang telah terjadi selama itu.

“Terima kasih atas perhatian saudara Ting,” kata Kim Loji, “yang mengutungi lenganku bukan tokoh sembarangan dan lagi orangnyapun tak berada disini!”

Hubungan antara Ting Yan-san dan Kim Loji memang erat sekali. Ting Yan-san mendesak lagi, “Siapakah orang itu? Harap saudara Kim mengatakan, tentu akan kucarinya orang itu!”

Kim Loji tertawa: “Kalau saudara Ting berkeras mengetahui, tentu akan kukatakan. Dia adalah ketua marga Nyo di Kim-leng ialah si Perancang sakti Nyo Bun-giau!”

Mendengar pernyataan itu, bahkan Leng Kong-siau pun ikut terbeliak, serunya, “Apa? Nyo Bun-giau yang selamanya tak pernah tinggalkan sarangnya itu juga datang ke daerah Tionggoan sini?”

Kim Loji tertawa hambar, “Kecuali kalian berdua dan tokoh-tokoh dari It-Kiong, Ji koh serta Sam-poh, siapakah yang mampu melukai aku?”

Kata-kata yang mengindahkan itu telah membuat kedua tokoh Leng Kong-siau dan Ting Yan-san puas hatinya. Serempak mereka berseru, “Nyo Bun-giau adalah tokoh penting dari marga Nyo. Bukan suatu kehilangan muka kalau saudara Kim terluka olehnya…..”

Bahwa Kim Loji dapat tenar di dunia persilatan dan mempunyai pergaulan luas dengan partai-partai persilatan serta tokoh-tokoh dari It-kiong, Ji-koh dan Sam-poh, adalah berkat ketajaman lidahnya. Baik golongan Hitam maupun Putih, semua kenal dan bersahabat dengan dia.

Kaum persilatan memang memandang utama pada persahabatan. Dan Kim Loji tahu akan hal itu. Ia dapat memanfaatkan naluri itu untuk kepentingannya.

Menurut suara angin nada orang, Kim Loji pun tersenyum: “Karena itulah maka aku tak mau mendendam………..”

Merahlah selembar muka Ting Yan-san, serunya tergagap, “Sekali pun aku tak yakin dapat mengalahkan Nyo Bun-giau, tetapi aku tetap akan mencarinya untuk meminta keterangan!”

“Ah, peristiwa itu sudah lalu, tak perlu diperbincangkan lagi,” kata Kim Loji, “untung Nyo Bun-giau pun masih mempunyai rasa sungkan kepadaku. Di antara Ji-koh dan Sam-poh, sejak beberapa tahun ini mempunyai hubungan baik. Perlu apakah karena soal sedikit dendam pada diriku itu akan menimbulkan perselisihan antara Ji-koh dengan Sam-poh?”

Tiba-tiba Leng Kong-siau tertawa dingin, ia melangkah menghampiri ke tempat Ca Giok yang masih duduk bersemedhi lalu membentaknya, “Entah saudara Ting hendak melanjutkan atau menghapus dendam dengan marga Nyo, tetapi aku sendiri tetap hendak melangsungkan dendam kepada marga Ca!”

Han Ping cepat melangkah dua tindak dan melindangi di muka Ca Giok, serunya tawar, “Mau apa engkau!”

“Minggir!” Leng Kong-siau ulurkan tangan menyiak pemuda itu. Tetapi secepat kilat, Han Ping menutuk jalandarah pada siku lengan Long Kongsiau.

“Menyerang orang yang sedang luka berat, bukan laku seorang ksatrya!”

Cepat dan tepat sekali gerakan Han Ping itu sehingga Leng Kong-siau terpaksa menyurut mundur tiga langkah.

“Paman Leng, berhenti dulu. Aku hendak bertanya,” seru Ting Ling seraya berbangkit.

“Silahkan,” kata Leng Kong-siau.

“Tadi engkau telah mencengkeram lengan adikku. Apakah hal itu suatu senda gurau saja?”

“Masakan saya Leng Loji ini masih mengandung pikiran seperti kalian?” sahutnya.

“Tetapi kalau pamanku tidak keburu datang, apakah paman Leng juga rela melepaskan adikku tadi?”

Didesak begitu rupa oleh Ting Ling, marahlah Leng Kong-siau, bentaknya, “Dunia persilatan menyohorkan nama kedua Hun-bong-ji-kiau. Tentu aku Leng Loji masih belum percaya. Hari ini anggap saja aku telah beruntung mendapat pelajaran. Jika saudara Ting tak mempedulikan kedua anak keponakanmu itu, terpaksa aku yang akan mewakili memberi hajaran.”

Kemarahan Leng Kong-siau disalurkan ke bawah kakinya. Berkat tenaga-dalamnya yang hebat, batu yang dipijaknya itu hancur lebur.

“Ah, tak perlu saudara Leng marah2. Biarlah kudampratnya………..”

Ting Yan-san tersenyum lalu berpaling ke arah Ting Ling dan membentaknya, “Budak besar, mengapa tak lekas menghaturkan maaf kepada paman Leng!”

Ting Ling tertawa melengking. Ia membungkuk memberi hormat. “Ah, janganlah paman Leng serupa pikiran dengan kami anak2 muda ini!”

Dikocok begitu rupa oleh Ting Ling, Leng Kong-siau tak dapat berbuat apa-apa kecuali meringis. Buru-buru ia berbatuk-batuk seraya berseru, “Sudahlah, sudah. Anggap saja hari ini Leng Loji baru mengenal kalian!”

Kemudian ia berpaling memandang Ca Giok, katanya, “Saudara Ting, ketika kita dikurung dalam barisan batu oleh dara Lam-hay-bun itu, tibatiba ada orang yang melepas api supaya kita mati terbakar. Tahukan saudara siapa orang itu?”

Ting Yan-sanpun pelahan-lahan alihkan pandangan matanya kepada Ca Giok, ujarnya, “Apakah yang saudara Leng maksudkan itu si Ca Giok?”

Leng Kong-siau tertawa mengekeh, “Budak itu memang licin sekali. Berdasarkan hubungan dengan Ca Cu-jing, terpaksa akupun hendak memberinya sedikit pelajaran!”

“Engkau benar, saudara Leng,” kata Ting Yan-san, “anak muda memang tak kenal tingginya langit dalamnya lautan. Sering suka menepuk dada. Kalau tidak diberi pelajaran memang selalu tinggi hatinya…”

Ucapan itu seolah-olah menunjang maksud Leng Kong-siau. Sukar diraba bagaimana maksud sesungguhnya di balik ucapan itu.

“Rubah tua yang licin!” diam-diam Leng Kong-siau memaki dalam hati. Namun ia tertawa saja, serunya, “Membakar barisan itu, memang kudengar dari mulutnya sendiri. Jelas tak salah lagi. Entah bagaimana pendapat saudara Ting mengenai soal itu?”

Ting Yan-san tertawa hambar, “Terserah saja kepada saudara Leng, aku tak punya usul apa-apa.”

Nama marga Ca, sejajar juga dengan Lembah Seribu-racun dan Lembah Raja-setan. Membunuh Ca Giok, tentu akan membangkitkan kemarahan marga Ca. Hal itu besar sekali akibatnya. Disaksikan oleh sekian banyak orang, pembunuhan terhadap Ca Giok itu pasti akan diketahui.

Leng Kong-siau menatap Ting Yan-san, Diam-diam ia menggerutu, “Aku sudah turun tangan melukai anakmuda itu. Jelas sudah terikat permusuhan dengan marga Ca. Tetapi Ting Yan-san tetap tak mau campur tangan. Memang sukar untuk memaksanya. Tetapi jika tidak mendesaknya supaya terlibat dalam peristiwa ini, terlalu enak baginya!”

Setelah mendapat pikiran, berserulah Leng Kong-siau dengan lantang, “Maksudku, untuk mambalas dendam pembakaran barisan itu, bagaimana pendapat saudara Ting kalau kita lenyapkan pemuda itu, setuju?”

Ting Yan-san merenung beberapa saat baru menjawab, “Urusan saudara Leng, aku tak berani banyak mencampuri!”

“Kalau begitu berarti saudara Ting setuju?” desak Leng Kong-siau tertawa menyeringai.

Tan Yan-san mengangkat kepala memandang tebaran awan yang berarak di langit.

“Jika saudara Ting tak menyahut, berarti secara diam-diam menyetujui,” kata Leng Kongsiau pula. Sekonyong-konyong ia terus berputar tubuh dan dari jarak jauh ia lepaskan sebuah hantaman dahsyat ke arah Ca Giok. Cepat dan tepat sekali ia mengarah pada sasarannya.

Sesungguhnya walaupun tampak sedang bersemedhi melakukan pengobatan, tetapi diam-diam Ca Giok tetap waspada akan gerak gerak di sekitarnya. Dia mendengar semua pembicaraan yang telah barlangsung tadi. Begitu menyimpulkan bahwa Leng Kong-siau tetap hendak membunuhnya, diam-dram ia kerahkan tanaga-dalam bersiap-siap.

Begitu mendengar deru angin yang hebat melanda ke arahnya, segera hendak loncat menghindar. Tetapi Han Ping mendahului membentak nyaring, “Sekalipun kalian mempunyai dendam permusuhan besar, tetapi tak layak kalau menyerang orang yang sedang mederita luka….” ia melangkah dua tindak dan menghantam.

Selama beberapa bulan bertempur dengan tokoh-tokoh sakti, banyaklah kemajuan yang dicapai Han Ping. Pukulan yang dilancarkan saat itu, tepat sekali waktunya.

Dar …. terdengar suara menggelegar karas ketika kedua angin pukulan itu beradu. Debu dan pasir berhamburan kemana-mana.

Terdengar Leng Kong-siau mendengus dan tubuhnya dua kali berguncangan. Dan Han Ping menyurut mundur tiga empat langkah baru berdiri tegak.

Wajah Ting Yan-san berobah seketika. Ia melangkah maju dan menatap dingin ke arah Han Ping, tegurnya, “Apakah saudara Leng kenal dengan orang ini?”

Leng Kong-siau gelengkan kepala tak menyahut. Kiranya saat itu alat perkakas dalam tubuhnya sedang bergoncang keras. Kini tengah salurkan hawa murni untuk menenangkan gejolak darahnya.

Ting Yan-san tertawa dingin, “Biarlah kuwakili saudara Leng nanti melenyapkan orang itu!” Berputar diri ia terus loncat ke tempat Han Ping.

“Paman,” tiba-tiba Ting Ling berteriak. Tetapi Ting Yan-san tak perduli. Ia mengangkat tangan dan menghantam.

“Saudara Ting, harap berlaku murah!” seru Kim Loji yang tanpa menghiraukan lukanya terus loncat ke muka.

Waktu adu pukulan dengan Leng Kong-siau, Han Ping juga menderita goncangan darah. Saat itu ia tengah menyalurkan hawa-murni untuk mengobati dirinya. Ketika Ting Yan-san menghantamnya, ia tak berani menangkis. Ia condongkan tubuhnya ke samping lalu menampar dengan tangan kiri.

Aneh sekali gerak tamparan Han Ping itu sehingga Ting Yan-san terpaksa harus menghindar ke samping.

Sebelum pertempuran lanjut lagi, Kim Loji dan Ting Ling pun melayang ke tengah kedua orang itu.

Sambil lintangkan tangannya ke dada, Kim Loji memberi hormat kepada Ting Yan-san, “Dia telah menolong jiwaku. Harap dengan memandang mukaku, janganlah saudara Ting memusuhinya.”

Ting Yan-san tertawa dingin, “Dalam hal apa saja, aku tentu meluluskan permintaan saudara Kim. Tetapi dalam soal ini terpaksa aku tak dapat. Harap saudara menyingkir ke samping……”

Sekonyong-konyong Ting Yan-san sudah menyelinap di samping Kim Loji dan gerakkan pukulan Burung-bangau-kaget-melambung-ke-udara dan menendang dengan ilmu tendangan Bintang-gui-menendang-bintang-tou. Sekaligus ia lancarkan dua macam serangan kepada Han Ping.

Sekalipun dua jurus serangan itu bukan termasuk ilmu yang hebat tetapi karena tenaga dalam Ting Yan-san kuat sekali dan dilancarkan dengan cepat, ilmu permainan biasa telah berobah menjadi suatu serangan yang mengejutkan.

“Harap paman jangan mencemaskan diriku….” teriak Han Ping menenangkan Kim Loji. Ia gunakan jari kanan untuk menutuk pukulan lawan dan miringkan tubuh untuk menghindarkan tendangan.

Kembali Ting Yan-san tertegun. Buru-buru ia menarik pulang tangan dan kakinya.

“Saudara Kim, bilakah engkau mempunya seorang keponakan yang begitu lihay?” serunya kepada Kim Loji.

Kim Loji tergetar hatinya. Pikirnya, “Sin-ciu it-kun Ih Thian-heng itu mempunyai mata-mata yang tersebar di seluruh penjuru. Jika berita itu didengarnya, dia tentu akan mengirim orang untuk mengusut asal usul Han Ping. Kalau dianggap berbahaya, dia tentu akan membunuh dengan ganas. Ah, jangan sampai berita ini tersiar di luaran…..”

Kim Loji tertawa menyahut, “Diriku termasuk deretan yang kedua. Semua orang persilatan tahu hal itu. Siapa saja tentu akan memanggil dengan sebutan Ji-susiok….”

“Hm… kalau begitu saudara tentu jelas akan asal usul orang itu?” desak Leng Kong-siau.

“Ini . ….”

“Kalau tahu, apa keberatannya? Tolong saudara suka menceritakan kepada kami!” Leng Kong-siau tak mau melepaskan kesempatan mendesak Kim Loji.

“Mungkin perguruannya ada bubungan dengan fihak kita dari kedua Lembah Raja-setan dan Seribu racun. Lebih baik diterangkan agar jangan menimbulkan kesalahan faham!” Ting Yan-san pun ikut meminta.

Rupanva baik Ting Yan-san maupun Le Kong-siau ingin sekali mengetahui asal-usul Han Ping sehingga Kim Loji tak dapat menyahut.

Rupanya Han Ping tahu akan kesulitan Kim Loji. Buru-buru ia berseru lantang, “Adakah layak kalian bertanya tentang perguruanku?”

“Huh, sombong benar!” Ting Yan-san tertawa dingin, “atas dasar ucapanmu yang sombong itu biarlah Ting Loji memberi sedikit pelajaran kepadamu, agar engkau bisa tahu diri. Setelah membunuhmu baru akan kucari gurumu untuk mendampratnya mengapa sebagai guru dia tak mampu mengajar muridnya supaya sopan!”

Dalam pada berkata-kata itu Ting Yan-san diam-diam sudah kerahkan tenaga-dalam.

Setelah beristirahat sejenak, pulihlah semangat Leng Kong-siau. Ia segera siap hendak membantu Ting Yan-san untuk menghajar Han Ping. Setelah memberesi Han Ping, ia pun akan menghabiskan Kim Loji dan Ih Seng juga. Tinggal Ting Yan-san dan kedua nona Ting itu, rasanya takkan mampu berbuat apa-apa terhadap dirinya.

Melihat gelagat yang jelek itu, Kim Loji cepat-cepat berseru mencegah Ting Yan-san dan Leng Kong-siau supaya jangan bertindak dulu.

“Harap saudara Kim minggir!” rupanya Ting Yan-san sudah tak dapat dicegah lagi kemauannya. Serempak berkata, ia sudah lepaskan sebuab hantaman. Pukulan itu dilambari dengan tenaga penuh hingga dahsyatnya bukan kepalang.

Juga Leng Kong-siau tak mau tinggal diam.

“Karena saudara Kim tak mau menceritakan asal-usul anak itu, jangan sesalkan aku sebagai orangtua akan menindas seorang anakmuda!”

Ia mengangkat tinju terus menghantam dari belakang Han Ping.

Kim Loji tertawa dingin, sahutnya, “Saudara berdua adalah tokoh-tokoh yang ternama. Jika saudara berdua serempak menyerang seorang anakmuda, apakah saudara-saudara tak sungkan didengar kaum persilatan…??”

“Kalau begitu. saudara Kim pun kumasukkan dalam hitungan juga!” seru Leng Kong-siau seraya ayunkan tangan kiri dengan jurus Memeriksa-keledai-mengambil-mutiara kearah Kim Loji.

Berhadapan dengan kedua tokoh yang terkenal itu, semangat Han Ping malah menyala. Dengan tertawa nyaring, ia rentangkan kedua tangan untuk menangkis Ting Yan-san dan menolak pukulan Leng Kong-siau dari belakang.

Melihat tindakan Han Ping yang dianggap terlalu gegahah itu, mengeluhlab Ting Ling dalam hati. Dengan tubuh gemetar ia menyurut mundur lima langkah.

Melihat itu Ting Hong cepat lari menghampiri dan memapah tacinya. “Ci Ling, jangan kuatir lihatlah, bukankah dia tak kurang suatu apa?”

Ketika Ting Ling memandang ke muka, dilihatnya Han Ping memang masih tegak dengan gagahnya. Leng Kong-siau dan Ting Yan-san terlongong-longong memandang anakmuda itu.

Sedang Kim Loji yang diserang Leng Kong-siau tadi, terpaksa menyingkir ke samping.

Ting Ling kicup-kicupkan matanya dan memandang lagi dengan seksama. Ia kuatir pandang matanya kabur. Tetapi sampai mata direntang lebar, apa yang disaksikan itu tetap serupa… “Aneh, aneh! Di dunia persilatan yang mampu menahan serangan kedua tokoh itu, hanya segelintir orang saja. Tetapi mengapa dia mampu juga?” pikirnya.

Dalam pada itu Ting Yan-san maju dua langkah ke hadapan Han Ping, tegurnya, “apakah yang engkau gunakan untuk menangkis pukulanku Pembelah-angkasa tadi? Mengapa……..” tiba-tiba ia tak melanjutkan kata-katanya karena merasa terlalu merendah diri.

Sejenak Han Ping sapukan pandang matanya ke sekitar gelanggang Lalu ia tertawa dingin, “Dalam dunia yang begini luas, segala apa tentu mungkin terjadi. Ilmu silatpun tiada batasnya, Dengan ukuran seperti kalian berdua itu, masakan mampu mengetahui rahasia keanehan itu!”

Walaupun mulut mengucap begitu tetapi dalam hati, Han Ping sendiri juga heran mengapa ia mampu menangkis pukulan kedua orang itu.

Pukulan yang dilancarkan kedua orang itu, sebenarnya telah dilambari dengan tenaga penuh. Mereka geram dan ingin dengan sekali pukul dapat meremuk-binasakan anak muda itu. Tetapi betapalah kejut mereka ketika pukulan mereka terbentur oleh suatu lautan tenaga yang lunak sekali, bergoncangan, mental balik dan hapuslah tenaga pukulan itu.

Setelah menghindar, Kim Loji kerahkan semangat, siap hendak menghadapi serangan Leng Kongsiau. Ia bertekad hendak mengadu jiwa agar Han Ping mempunyai kesempatan untuk lolos. Tetapi demi melihat Han Ping tak kurang suatu, iapun terkejut bukan kepalang!

Sesaat kemudian, Leng Kong-siau segera menerjang maju lagi seraya berteriak, “Saudara Ting, budak itu mempunyai ilmu setan. Jika dibiarkan hidup, kelak dia tentu berbahaya sekali!”

Kali ini Leng Kong-siau gerakkan tangan kanan untuk menghantam dengan jurus Macan-tutul-mengunjuk-cakar.

Tetapi Han Pingpun sudah siap. Tiba-tiba tubuhnya berputar dan tangan kirinya menampar dari samping, direntangkan terus mencengkeram lengan Leng Kong-siau.

Tampaknya sederhana sekali gerakan itu. Tetapi sesungguhnya gerakan itu memerlukan suatu ketepatan waktu dan sasaran. Berputar tubuh, menghindari serangan dan balas mencengkeram. Tiga buah gerakan sekaligus dimainkan dalam waktu sekejab.

Leng Kong-siau terkejut. Buru-buru ia menurunkan tangannya ke bawah lalu gerakkan tangan tangan kiri diangkat dan ditamparkan ke pusar Han Ping.

Jika orang berilmu sedang bertempur, setiap gerakannya tentu merupakan bencana. Pukulannya luput, diam-diam Han Ping memuji kelihayan Leng Kong-siau.

Dalam pada itu Ting Yan-san pun menerjang dengan kedua tangannya. Berturut-turut ia telah taburkan 12 pukulan. Gencar dan hebatnya seperti hujan prahara. Han Ping sibuk juga menghadapi serangan. Berulang kali ia terpaksa harus menyurut mundur untuk menghindari.

Serangan kalap yang dilakukan Ting Yan-san itu dilambari dengan tenaga penuh. Ia yakin tentu dapat menghancurkan Han Ping. Paling tidak pemuda itu tentu akan terluka parah. Tetapi betapalah kejutnya ketika serangan bertubi-tuhi itu dapat dielakkan Han Ping.

Juga Leng Kong-siau tak lepas dari rasa heran. Makin bulat tekadnya untuk membasmi pemuda itu, “Masa begitu muda sudah memiliki kepandaian yang begitu hebat Jika saat ini tak dilenyapkan kelak dalam 10 tahun lagi, dia tentu tak ada yang mampu menandingi……”

“Ah, hebat benar pukulan saudara Ting. Aku yang bodoh, pun hendak mengunjuk permainan jelek,” serunya.

Setelah mengamuk tadi, dahi Ting Yan-san pun bercucuran keringat. Pada saat ia bimbang hendak melanjutkan serangannya atau tidak, tiba-tiba Leng Kong-siau sudah loncat menyerang pemuda itu. Sungguh kebetulan sekali.

“Silahkan saudara Leng turun tangan!” cepat Ting Yan-san memersilahkan dan ia sendiri pun segera menyingkir ke samping memulangkan tenaga.

Serangan kilat Ting Yan-san tadi membuat Han Ping sibuk sekali sehingga ia harus main mundur. Napasnya pun agak terengah. Belum sempat ia memutuskan tindakannya hendak balas menyerang atau tidak, tiba-tiba Leng Kong-siau sudah menyerangnya dengan hebat. Han Ping terpaksa mundur empat lima langkah lagi.

Tetapi setelah itu, bangkitlah amarah Han Ping. Sesaat serangan Leng Kong-siau agak kendor, cepat ia gunakan kesempatan itu untuk balas menyerang. Dengan menggembor keras ia menghantam.

Karena menuruti kemarahan, Leng Kong-si mendengus dingin dan menangkis. Pada saat dua pukulan saling beradu, keduanya terhenti gerakannya. Tetapi pada lain saat, Han Ping segera maju lagi. Dengan tangan kanan dilindungkan dada, tangan kanannya menyambar tangan Leng Kong-siau.

Dalam adu pukulan tadi, Leng Kong-siau merasakan darahnya bergolak-golak keras, maka ia tak berani lagi manangkis gerakan tangan pemuda itu. Cepat-cepat ia loncat mundur.

Han Ping hendak loncat mengejar tetapi saat itu, Ting Yan-sanpun sudah menerjangnya,

Kedua tokoh itu setelah bertempur beberapa jurus, menyadari bahwa pemuda yang dihadapinya itu ternyata amat sakti. Jika bertempur satu lawan satu, mereka tak yakin menang. Tetapi keduanya sama-sama mempunyai pendapat bahwa Han Ping harus dilenyapkan. Maka walau pun tanpa melakukan persepakatan, mereka telah melakukan serangan bersama kepada pemuda itu. Leng Kong-sian menyurut mundur. Ting Yan-san segera main menerjang.

Tetapi saat itu Han Pingpun sudah lebih waspada. Sebelum Ting Yan-san sempat memukul pemuda itu sudah mendahului mendorong dengan kedua tangannya.

Sudah banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang dihadapi Ting Yan-san, tetapi belum parnah ia bertemu dengan seorang yang memiliki pukulan begitu aneh dan hebat seperti Han Ping. Tak berani ia mengadu, ia hentikan gerakan kaki, mengendap ke bawah terus membabat perut orang dengan gerak Burung-alap2-pentang-sayap.

Tetapi Han Ping tak semudah itu dimakan lawan. Tiba-tiba ia rentangkan kedua tangannya. Tangan kiri menangkis serangan, tangan kanan tetap merangsak ke dada lawan.

Gerak perobahan itu aneh dan tak terduga-duga. Dan cepatnyapun bukan alang kepalang sehingga Ting Yan-san sampai kucurkan keringat dingin.

Tetapi dia seorang tokoh persilatan yang sudah kenyang makan asam garam pertempuran. Walaupun hatinya gentar tetapi permainannya tetap tenang. Secepat menghimpun napas, ia meluncur mundur tiga langkah.

Tetapi Han Ping sudah terlanjur terbakar oleb hawa kemarahan. Bagaikan bayangan, ia terus mengejar lawan. Sebelum Ting Yan-san sempat berdiri tegak, Han Ping sudah memukul lagi.

Bermula kedua nona Ting, amat mencemaskan nasib Han Ping akan dihajar pamannya. Tetapi setelah menyaksikan pemuda itu ternyata dapat mengatasi pamannya, bahkan mampu juga mendesak kedua orang yang mengeroyoknya, diam-diam kedua nona itu lega. Tetapi pada saat Ting Yan-san dikejar Han Ping dan pasti akan terluka, Ting Hong menjerit lalu mendekap mukanya.

“Ji Siangkong, harap suka berlaku murah,” teriak Ting Ling dengan nada terisak.

Saat itu tangan Han Ping sudah melekat di dada Ting Yan-san. Asal pemuda itu gunakan tenaga, tamatlah tentu riwayat Ting Yan-san. Paling tidak jago she Ting itu tentu akan menderita luka parah.

Tetapi ketika mendeagar pekikan Ting Hong dan seruan Ting Ling, Han Ping loncat mundur.

ooo000ooooo

Pengemis sakti.

Ting Ling cepat menghampiri Ting Yan-san dan menanyakau apakah pamannya itu terluka.

Tetapi Ting Yan-san hanya menengadah memandang ke langit. Sepatahpun ia tak berkata.

Ting Hong menghampiri Han Ping untuk mengucapkan terima kasih kepada pemuda. Sejenak Han Ping memandang nona itu lalu berpaling ke arah Leng Kong-siau. Tampak orang itu masih berdiri di tepi gelanggang.

Memang Leng Kong-siau licin sekali. Meskipun dia memutuskan untuk bersama Ting Yan-san mengeroyok Han Ping, tetapi pada saat dilihatnya pemuda itu mengeluarkan jurus yang luar biasa dan dada Ting Yan-san sudah di ambang kehancuran, tiba-tiba berobahlah pikiran Leng Kong-siau, “Ehm, bagus juga! Kalau Ting Yan-san mati, Lembah Raja-setan tentu akan mencari balas. Hm, sekali pun mampu menembus langit, tak mungkin budak itu lolos dari ancaman Lembah Raja-setan!”

Maka dia diam saja tak mau bergerak menolong Ting Yan-san. Di luar dugaan, Han Ping batalkan pukulannya. Leng Kong-siau merasa gegetun setengah mati.

Sekonyong-konyong Ting Yan-san tertawa nyaring. Setelah mengusir kedua nona itu supaya menyingkir dari sampingnya, ia berseru lantang kepada Han Ping, “Ting Yan-san seumur hidup tak menerima budi orang, tetapi juga tak mau menerima hinaan orang. Hutang budi, balas budi, Hutang dendam, bayar dendam. Kelak pada suatu saat apabila aku membalas budi, adalah untuk melunasi apa yang telah kuterima hari ini …..”

Han Ping tertawa dingin, “Ah, tak perlu. Mengapa engkau tak jadi kubunuh adalah hanya karena memandang muka kedua anak keponakanmu itu. Pinjam budi tak perlu dibalas. Menuntut hinaan, setiap saat aku bersedia menyambut!”

Ting Yan-sanpun tiba-tiba tertawa keras. Memandang kepada kedua nona keponakannya ia berseru, “Karena monghargai kalian, maka kalian saja yang mewakili aku untuk menyelesaikan budi dan dendam ini!”

Ting Ling – Ting Hong kerutkan dahi menatap pamannya itu lalu berseru, “Paman……”

“Paman tak suka menerima budi orang, kalian tentu sudah tahu watakku, bukan?” tukas Ting Yan-san.

Ting Ling mengiakan.

Dengan wajah membesi Ting Yan-san berkata pula, “Asal kalian nanti sudah membalas budinya, barulah aku enak untuk melunasi hinaan hari ini …..” Kata-kata itu mengunjukkan betapa besar rasa mementingkan diri dari jago tua itu sehingga sama sekali tak mempedulikan peribadi kedua keponakannya.

“Paman,” buru-buru Ting Ling menanggapi, “saudara Ji ini seorang yang lapang dada. Dia pasti tak mengharap balas apa-apa. Harap paman jangan …..”

Tiba-tiba Ting Yan-san deliki mata dan membentaknya, “Engkau tahu bagaimana kedudukan pamanmu dalam dunia persilatan. Masakan aku mau menerima budi dari seorang budak yang tak terkenal? Salah satu dari kalian sudah selayaknya kalau mengorbankan jiwa untuk paman…….”

Mendengar kata-kata itu kedua nona Ting merah wajahnya dan tersipu-sipu menunduk. Beberapa butir airmata mengucur.

Melihat itu, Han Ping heran. Ia merasa ucapan Ting Yan-san itu kurang pada tempatnya. Tetapi pada saat ia hendak membuka mulut, terdengarlah seseorang mendamprat keras, “Bagus, diri sendiri tak mampu mengalahkan orang, lalu suruh kedua anak keponakan untuk membalaskan budi orang. Hm, hm, bukankah lebih baik berikan saja kedua budak perempuan itu sebagai isteri orang!”

Dampratan itu bernada penuh ejekan sehingga mengejutkan sekalian orang. Ketika berpaling, mereka melihat seorang pengemis tua berpakaian compang camping tengah tegak berdiri di atas puncak sambil mencekal buli-buli arak.

Amboi! Kiranya si Pengemis-sakti Cong To! Bukan kepalang kejut sekalian tokoh yang berada di puncak situ. Sama sekali mereka tak mendengar dan mengetahui kemunculan si pengemis sakti itu. Dapat dibayangkan betapa sakti kepandaian ilmu meringankan tubuh dari pengemis itu.

“0, kukira siapa, ternyata engkaulah hai pengemis tua ..” seru Leng Kong-siau.

Cong To menyahut dingin, “Apanya yang tak baik menjadi seorang pengemis tua? Kan jauh lebih terhormat dari kalian manusia2 setan dari Lembah Raja-setan, bukan?”

Leng Kong-siau sejenak memandang Ting Yan-san. Diam-diam ia menimang dalam hati, “Pengemis ini paling gila. Jika Ting Yan-san mau bersama kuajak menghadapinya, walaupun tidak menang tetapipun tak sampai kalah juga. Tetapi jika hanya aku seorang, tak mungkin dapat menundukkan pengemis itu……”

Pada saat ia hendak membuka mulut untuk membakar Kati Ting Yan-san. tiba-tiba orang she Ting itu tertawa keras, berputar diri lalu lari pergi. Sudah tentu sekalian orang kaget melihat tindakan orang ketiga dari Lembah Raja-setan itu.

Melihat gelagat kurang menguntungkan, Leng Kong-siau pun segera loncat sampai dua tombak jauhnya, kemudian berpaling, serunya, “Pengemis tua, urusan hari ini Ting Lo-sam tentu tak mau menghabiskan begini saja. Tunggulah kalau orang Lembah Raja-setan mencarimu!”

Cong To tertawa gelak-gelak. “Pengemis tua tak takut setan, tak mempan racun! Kalau engkau merasa tak puas, marilah kita coba-coba dulu!”

“Perhitungan kita hari ini, kupertangguhkan sampai nanti beberapa waktu lagi!” seru Leng Kong-siau. Lenyapnya suara, orangnyapun sudah tak kelihatan lagi bayangannya.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa gelak-gelak yang berkumandang memenuhi penjuru gunung. Dan menyusul orang itu memaki-maki, “Kukira sepasang Ganas dari luar perbatasan itu benar-benar manusia yang sakti. Ternyata hanya kantong nasi yang tak berguna. Apakah dengan kepandaian begitu saja berani meliar di daerah Tiong-goan?”

Sebagai pemimpin empat propinsi kaum Rimba Hijau, Ih Seng merasa terhina karena masuknya sepasang jago ganas dari Kwan-gaw itu. Maka ia puas sekali setelah dapat memenangkan sasterawan setengah tua itu.

Ketika sekalian orang berpaling, dilihatnya Ih Seng lintangkan pedang di dada, kipas-besi dilekatkan di atas batang pedang dan berdiri tegak di tepi batu kurang. Sambil memandang ke bawah lembah, ia tertawa lepas. Sasterawan yang menjadi lawannya tadi, tak tampak.

Walaupun sudah menduga bahwa sasterawan setengah tua itu tentu sudah terpelanting ke bawah lembah, namun Kim Loji masih bertanya, “Kemanakah gerangan sasterawan yang menjadi lawan saudara Ih tadi? Apakah dia sudah melarikan diri?”

Kena sekali pertanyaan itu di hati Ih Seng sehingga ia mempunyai kesan baik terhadap Kim Loji. Berputar tubuh ia menyahut tertawa, “Dia kurang hati-hati dan dapat kupukul jatuh ke dalam lembah!”

Pengemis-sakti Cong To sejenak memandang ke arah Ceng Bu yang terkapar di tanah, lalu tertawa dingin. “Harap saudara Ih jangan buru-buru bergirang dulu. Dapat mengalahkan dua orang kerucuk yang tak ternama, apanya yang harus dibanggakan..?”

Ih Seng hendak marah tetapi demi mengetahui yang berkata itu si Pengemis-sakti Cong To yang termasyhur, terpaksa ia menekan kemurkaannya. Sahutnya, “Tiada seorang kaum persilatan Tionggoan yang tak kenal nama Sepasang Ganas dari Kwan-gaw. Jika menilai mereka sebagai kerucuk yang berkepandaian kosong, berarti memandang rendah kepadaku!”

Gluk, gluk, gluk ……. pengemis itu meneguk buli-buli araknya beberapa kali, kemudian tertawa dingin, “Bukan hanya engkau, pun si Leng Kong-siau yang licin itu, juga kena dikelabui oleh kedua penipu itu. Dahulu ketika pengemis tua ini berada di Kwan-gwa, pernah bertemu dengan Sepasang Durjana. Bukan aku hendak memuji kepandaian mereka, tetapi sesungguhnya salah seorang dari sepasang Durjana itu, dapat menghadapi saudara Ih.”

Jika lain orang yang mengatakan, tentu takkan dipercaya dan akan menimbulkan kemarahan yang hadir di situ. Tetapi karena Pengemis-sakti yang bicara, sekalian orang tak berani membantah.

Han Ping melirik ke arah kedua nona Ting. Dilihatnya kedua nona itu masih menutupi muka dengan lengan baju. Wajah mereka masih tersipu-sipu merah. Han Ping hendak menasehati tetapi tak tahu bagaimana harus bicara, Terpaksa ia berpaling kepada Cong To., “Mengapa kedua orang itu memalsu nama Sepasang Durjana dan masuk ke Tiong-goan?”

Sejenak keliarkan pandang matanya ke sekeliling, pengemis tua itu tertawa meloroh, “Hoho, dalam hal ini kecuali mereka berdua dan si pengemis tua, mungkin tiada lain orang yang mengetahui rahasia itu!”

“0, jadi kecuali yang tersangkut dan Cong tayhiap, tak seorangpun orang luar yang tahu hal itu?” Kim Loji menegas.

“Pokoknya, perampok menggasak penyamun. Dengan diri pengemis tua tiada sangkut pautnya!” kata Cong To.

“Kalau begitu lo-cianpwe tahu jelas persoalan itu?” seru Han Ping.

Cong To deliki mata, “Kapankah pengemis-tua pernah bicara bohong!”

Diam-diam Han Ping menyadari bahwa dalam kedudukannya yang begitu ternama, tak mungkin pengemis itu bicara bohong, Ia menyesal telah meragukan keterangan orang.

“Harap lo-cianpwe jangan marah atas ucapanku yang kurang layak itu,” buru-buru ia minta maaf.

Pengemis-sakti meneguk buli-bulinya, baru berkata lagi, “Pengemis tua mempunyai cara untuk mencarimu……” tiba-tiba pengemis itu sudah berada puluhan tombak jauhnya.

Kepergian pengemis sakti itu, disusul oleh keheningan suasana. Beberapa saat kemudian Kim Loji berbisik kepada Han Ping, “Lekas hiburlah kedua nona itu….” ia menghampiri Ih Seng, menganjurkan Ih Seng supaya membuang saja mayat Ceng Bu itu ke dalam lembah. Tetapi Ih Seng menyatakan hendak mengubur mereka secara baikbaik.

Dalam pada itu Han Ping pun menghampiri ke tempat kedua nona, katanya, “Sepatah kata yang tak kuanggap serius, ternyata telah menimbulkan salah faham paman nona berdua…..”

Ting Ling mengangkat muka dan mempesut air-matanya, “Aku tak menyalahkan engkau. Ah, tak kira kalau paman akan memperlakukan kami berdua sedemikian rupa!”

“Lebih-lebih pengemis tua itu, Bicaranya tak sedap didengar!” seru Ting Hong.

Ting Ling memang cerdik sekali. Ia gunakan kesempatan mengusap airmata itu untuk meneliti ke sekeliling penjuru. Kim Loji dan Ih Seng berada enam tujuh tombak jauhnya. Hanya Ca Giok yang masih duduk bersemedhi. Segera nona itu berbangkit dan menghampiri ke tempat Ca Giok, ujarnya, “Ca sau-pohcu, si Tua beracun sudah pergi, perlu apa engkau pura-pura bersemedhi terus?”

“Hai?” Han Ping terbeliak.

“Apa engkau kira dia benar-benar menderita luka parah?” Ting Ling tertawa.

Mendengar keterangan itu marahlah Han Ping. Jelas ia hendak diperalat Ca Giok untuk melindunginya. Deegan pemuda yang banyak muslihat begini, ia anggap tak perlu bergaul lebih lama. Tetapi teringat akan sikap manis dari pemuda itu selama ini, Han Ping agak berkurang amarahnya.

“Tempo kulihat sendiri dia telah menderita pukulan Pembelah-angkasa dari Leng Kong-siau, Bagaimana engkau mengatakan dia hanya berpurapura saja?” sahutnya kepada Ting Ling.

Ting Ling tertawa, “Taruh kata benar terluka berat dan tak dapat berjalan, kitapun tak dapat tinggal disini menunggunva. Kutahu saudara menjunjung budi, tentu tak sampai hati tinggalkan dia disini. Maka lebih baik tutuk jalandarahnya supaya lukanya tidak makin parah, lalu kita bawa pergi.”

Habis berkata nona itu tiba-tiha menutuk dada Ca Giok.

“Jangan nona Ting…….” baru mulut Han Ping berseru mencegah, tiba-tiba Ca Giok menyambar tangan Ting Ling lalu pelahan-lahan berbangkit.

Melihat itu Ting Hong cepat-cepat loncat menghampiri dan sambil siap-siap, ia berseru tertawa, “Aih cepat benar lukamu sembuh Ca sau-poh-cu…?”

Tetapi Ca Giok tak menghiraukan ejekan kedua nona itu. Ia memandang Han Ping, katanya, “Terima kasih atas bantuan saudara Ji. Kelak tentu akan kubalas budimu. Karena lukaku masih memerlukan perawatan, maka aku hendak minta diri.”

Ia memberi hormat lalu ayunkan langkah.

“Kalau belum sembuh, mengapa saudara Ca buru-buru hendak pergi?” seru Han Ping.

Ca Giok berpaling tertawa, “Luka-dalam yang kuderita ini bukan dua tiga hari dapat sembuh. Aku hendak pulang beristirahat merawat luka.”

Sejenak Han Ping memandang ke arah kedua nona itu lalu berkata, “Tetapi bagaimana kalau di tengah jalan saudara kesomplokan dengan Leng Kong-siau? Ah, baiknya kuantar saja!”

Ca Giok tergerak hatinya melihat kebaikan pemuda itu. Ia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Kemudian ia mengatakan hendak menyampaikau sesuatu kepada Han Ping.

Setelah Han Ping mempersilahkan, barulah Ca Giok memandang sejenak ke arah kedua nona. Tibatiba ia berputar diri lalu melanjutkan langkahnya.

Tahu kalau pemuda itu hendak mengatakan sesuatu, Han Ping terpaksa mengikutinya. Kira-kira empat lima tombak berjalan, barulah Ca Giok kedengaran berkata dengan berbisik, “Dalam dunia persilatan, mengadu domba dan siasat menyiasati, memang sudah lumrah. Makin licik makin hebat. Tetapi aku sungguh tertarik sekali atas kesungguhan hati saudara Ji memperlakukan orang. Sesungguhnya aku sudah berjanji kepada orang untuk tidak mengatakan hal itu kepada saudara…”

“Dunia persilatan menjunjung kepercayaan. Jika saudara sudah berjanji. lebih baik jangan mengatakan hal itu kepadaku,” sambut Han Ping.

“Saudara telah banyak melepas budi kepadaku. Jika tak kukatakan hal itu, rasanya seperti duri da!am tenggorokan. Kalau tidak dimuntahkan tentu tetap mengganjel. Sekalipun mengingkari janji, tetapi tak apalah!”

Han Ping kerutkan dahi, tanyanya, “Adakah hal itu menyangkut diriku?”

“Bukan hannya menyangkut dirimu, pun juga mengenai mati hidup saudara Ji!”

Han Ping mendesus.

Ca Giok tersenyum. “Rasanya tiada menjadi soal untuk mengatakan hal itu. Asal selanjutnya berlaku hati-hati, tentulah saudara tak sampai celaka di tangannya!”

“Ah, sampai sekian lama belum juga saudara mengatakan dengan jelas,” akhirnya Han Ping tak sabar.

“Ialah tentang si nona baju ungu yang memberi ohat kepada nona Ting Ling itu,” kata Ca Giok.

“Tetapi aku tak mempunyai dendam apa-apa dengan dia…….”

“Hal ini kudengar ia sendiri yang mengatakan. Jika bertemu lagi dengan engkau, ia tentu akan membunuh mati atau melukaimu,” tukas Ca Giok.

Han Ping tersenyum. “Aku tak mempunyai permusuhan dengan dia, mengapa dia hendak mencelakai aku?”

Ca Giok menghela napas, “Memang hal itu tak mudah diceritakan dengan singkat. Yang jelas, nona itu cerdas dan sakti sekali. Apa yang dikatakan tentu akan dilakukan. Jika bertemu dengannya, harap saudara waspada dan hati-hati. Maaf, aku hendak mohon diri, Kiranya tak perlulah saudara mengantar!” kembali ia memberi hormat lalu hendak pergi.

“Baiklah, karena saudara tak mau kuantar, aku pun tak dapat memaksa, Selamat jalan!”

Setelah Ca Giok pergi, barulah Han Ping balik ke tempat kedua nona.

“Mengapa engkau menghela napas?” tanya Ting Ling melengking dari samping, “Mengapa engkau menghela napas? Ca Giok seorang licik, engkau memperlakukannya begitu sungguh-sungguh, kelak tentu akan menderita kerugian!”

Karena sedang memikirkan Ca Giok, Han Ping sampai tak mengetahui kalau kedua nona itu sudah berada di sampingnya. Ia berpaling dan berkata, “Atas bantuan nona berdua untuk mengejar kotak pedang yang hilang itu, aku mengucap banyak terima kasih. Oleh karena kotak sudah diketemukan, maka aku pun tak berani membikin repot nona lagi.”

“Apa? Engkau hendak mengusir kami?” seru Ting Hong.

Han Ping tertawa hambar. “Sesungguhnya aku tak berani melanggar kesopanan. Jika kita selalu bersama-sama, tentu akan menimbulkan ejekan orang dan hal itu tentu akan mencemarkan nama baik nona berdua…..”

Berhenti sejenak, Han Ping berkata lagi, “Semisal dengan paman nona, pun telah salah faham.”

Memandang ke arah adiknya, Ting Ling tundukkan kepala katanya, “Selama mengangkat nama di dunia persilatan, belum pernah paman menderita hinaan seperti hari ini. Maka untuk menjaga gengsi, dia telah mengucapkan kata-kata yang tak wajar, harap Ji siangkong jangan menaruh di hati.”

Ia mengangkat kepala. Matanya berlinang-linang memandang Han Ping lalu berkata pula, “Tetapi hal itupun tak dapat menyalahkannya. Sepuluh tahun yang lalu, nama Paderi-pencabut-nyawa sudah terkenal di dunia persilatan. Sudah tentu ia tak dapat menguasai diri lagi pada waktu menderita kekalahan.”

“Sekalipun hati panas, tetapi tak selayaknya mengucap begitu…..” kata Han Ping tetapi mendadak berhenti sampai di situ.

“Karena jarang berkelana di dunia persilatan, maka engkau belum memahami perangai orang persilatan, Mereka lebih suka hancur lebur daripada jatuh nama. Apalagi dia tergolong angkatan tua. Sekalipun kita menerima sedikit dampratan, bukanlah hal hina.”

Sejenak merenung, Han Ping berkata, “Menilik gelagat, paman nona tentu sudah mendendam kepadaku. Jika nona terdua tetap bersamaku, dia tentu akan membikin susah kepada kalian.”

“Harap tuan jangan kuatir. Kami berdua saudara bukanlah manusia yang hina. Setelah tuan mendapatkan kotak pedang itu, kami merasa telah menyelesaikan tugas kami …….Ting Ling menghapus airmatanya, lalu berkata pula, “Kelak apabila bertemu dengan paman kami, harap engkau suka berlaku murah. Nah, kami berdua hendak mohon diri…..”

“Baiklah, demi nona berdua, aku akan memberi kelonggaran pada dia sampai tiga kali.”

Ucapan Han Ping yang besar itu membuat kedua nona Ting tertegun. Beberapa saat kemudian, barulah Ting Hong bertanya, “Apakah engkau merasa yakin dapat mengalahkan paman kami?”

Ting Ling tertawa hambar. “Tentu menang. Kalau sekarang kemenangan Ji siangkong itu hanya terbatas. Tetapi satu setengah tahun kemudian, jangan harap paman mampu menandinginya lagi!”

“Satu setengah tahun, kemajuan yang dapat dicapai tentu terbatas. Apalagi pamanpun masih gagah, tentu tetap berlatih giat,” kata Ting Hong.

Tetapi Ting Ling cepat menukas omongan adiknya itu, “Ji siangkong berbakat luar biasa dan mendapat peruntungan yang luar biasa. langan diukur dengan ukuran biasa…..”

Habis itu ia berpaling ke arah Han Ping, “Harap Si siangkong baik2 menjaga diri. Kami Hun-bong-ji-kiau walaupun berasal dari kalangan Rimba Hijau dan tersohor sering menggunakan obat bius Tui-hun-yok-hun sehingga orang tak manyukai kita, namun terhadap engkau kami memang bersikap sungguh-sungguh dan setulus hati…… .”

Han Ping menghela napas. Ia mengucapkan terima kasih kepada kedua nona itu dan menyatakan kelak akan membalas budi mereka.

Singkatnva kedua nona Ting itu segera berpisah dengan Han Ping. Han Ping kembali ke atas puncak lagi. Di situ Kim Loji dan Ih Seng sudah menunggunya. Ketika Han Ping hanya seorang diri, Ih Sang menanyakan tentang kedua nona itu.

“Kemanakah kedua gadis iblis itu?”

“Mengapa engkau menghina begitu?” tegur Han Ping.

Ih Seng tertegun, “Kedua nona dari Lembah Raja-setan itu termasyhur sebagai Jelita beracun. Wajahnya amat cantik tetapi ganasnya bukan kepalang, Entah sudah berapa banyak tokoh persilatan yang terluka di tangan mereka!”

Kim Loji menghela papas, “Ah, tetapi mereka bersikap baik sekali kepada Ping-ji ….”

Kipas-besi-pedang-perak Ih Seng tertawa gelak2, serunya, “Sungguh merupakan suatu kelucuan besar apabila kedua nona itu dapat menaruh hati kepada orang. Saudara Kim memang banyak pengalaman, tetapi dalam soal ini, terpaksa aku tak dapat menyetujui pandangan saudara!”

“Kupercaya mataku tak kabur. Jika tak percaya, baiklah saudara mencobanya!”

“Eh, apakah hal itu dapat dicoba? Bagaimana caranya…?” seru Ih Seng.

“Betapa pun sikap kedua nona itu terhadap orang lain, tetapi kenyataan mereka meming baik sekali kepadaku. Harap jangan diolok-olok!” tukas Han Ping.

Tiba-tiba serangkum angin keras melanda ke arah mereka.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 13 : Rahasia Dunia Persilatan"

Post a Comment

close