Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 1 : Kitab Tat mo Ih kin keng dari Siau Lim si

Mode Malam
Jilid 1
Dengan gerak Ceng-ting-sam-tiam-cui atau Kecapung-tiga-kali-menyambar-air, pemuda itu melambung dan bergeliatan tiga kali diudara lalu melayang turun diatas wuwungan kuil.

Sejenak ia tertegun. Mengapa malam itu kuil Siauw-lim-si tampak sunyi, padahal Siauw-lim-si termasyur sebagai pusat jago-jago sakti. Akhirnya ia menyadari bahwa ia harus menemukan ruang Perpustakaan sebelum paderi-paderi bangun bersembahyang subuh. Pada ruang disebelah muka, terdapat pintu dengan dua buah tiang tinggi, diukir naga-nagaan.

Cepat ia melayang turun, loncat pula keatas pintu lalu melambung hinggap dipuncak gedung.

Hampir saja ia putus asa karena tak melihat apa-apa. Seluruh kuil Siauw-lim-si yang dibangun diatas gunung Kosan seolah-olah tertutup kegelapan malam. Melihat beberapa belas bangunan ruang, achirnya ia tiba dihutan itu. Dua buah lampu merah tergantung pada sebatang pohon siong. Dibawah penerangan lampu itu terdapat sebuah bangunan, pintunya terbuka.

Seorang paderi tua duduk menghadapi giok-ting (padupaan kumala) yang membaurkan asap wangi. Dua orang paderi kecil duduk dikanan kirinya. Mereka pejamkan mata bersemadhi.

Pemuda itu tersirap. Mata kedua paderi kecil itu berkilat-kilat tajam sekali, pertanda memiliki lwekang yang tinggi. “Kuil itu tentu penuh dengan paderi yang berilmu tinggi, rencanaku tentu gagal, lebih baik kuangkat kaki dari sini ……..”

Baru pemuda itu berputar tubuh, suara hatinya mendamprat, “Ji Han-ping, pengecut benar engkau! Mengapa engkau takut mati? Bukankah kitab pusaka Tat-mo-ih-kin-keng itu…..”

Benaknya melintas peristiwa yang lampau. Peristiwa ngeri yang tak mudah dilupakan.

Dua butir airmata menitik turun dan serentak menyala pula semangatnya, ia harus mendapatkan kitab pusaka itu!

Ia berjalan dari samping gedung itu, dibelakang terdapat deretan ruang yang dihubungkan sebuah lorong batu merah. Pada ujung lorong sebuah bangunan bertingkat, bertangga titian batu marmer putih. Girangnya bukan kepalang ketika papan diatas pintu gedung itu berbunyi, “Gedung Perpustakaan”.

Tetapi disamping itupun terdapat papan maklumat berbunyi “Dilarang masuk”.

Han Ping mencabut pedang, ketika hendak membacok pintu, sekonyong-konyong terdengar suara orang berseru, “Harap sicu simpan pedang sicu! Kuil ini tempat ibadah, dilarang bertindak sembarangan!”

Han Ping berpaling, seorang paderi bertubuh kekar, tegak pada jarak beberapa meter, jubahnya putih, lehernya berkalung seuntai tasbih mutiara, matanya menatap Han Ping.

“Kuil Siauw-lim-si mempunyai sepuluh pantangan, sudah tigapuluh tahun loceng tak pernah bertempur ……..” kata paderi tua itu. “Ruang perpustakaan ini merupakan daerah terlarang, tak boleh orang sembarangan masuk. Loceng bertugas menjaga disini, mungkin sicu keliru masuk, silahkan melanjutkan perjalanan agar jangan membikin susah loceng!”

Han Ping tertegun, kata-kata paderi tua itu memang beralasan. Tetapi ia harus mendapatkan kitab Tat-mo-ih-kin-keng. Karena sampai beberapa saat diam saja, paderi tua tertawa dingin, “Benar, memang dalam dunia persilatan orang selalu bertempur sampai ada yang kalah, baru selesai. Menilik berani masuk kemari, sicu tentu memiliki kepandaian sakti, peringatan loceng tadi, tentu sukar sicu terima ……..”

Kemudian ia menjemput sebatang jarum berbentuk daun pohon siong yang runcing seperti daun cemara. “Dunia persilatan mengatakan bahwa kaum Siauw-lim-si mengutamakan ilmu kekuatan atau gwakang ……..”

Paderi itu menjamah tasbih mutiara dengan tangan kiri, lalu menusuk biji mutiara itu dengan jarum. Ujung jarum siong itu perlahan-lahan menyusup kedalam mutiara dan pada lain saat tembus kebelakang. Tasbih mutiara paderi Siauw-lim-si, dibuat daripada kayu Lam-bok yang kerasnya seperti baja. Jika tak memiliki lwekang sakti, tak mungkin paderi tua itu sapat menusuk dengan jarum daun siong!

Paderi tua itu tersenyum, “Ilmu menusuk dengan jarum runcing ini, termasuk ilmu lwekang. Jika sicu dapat melakukan hal itu, saat ini juga aku segera minta berhenti sebagai penjaga Ruang Perpustakaan ini. Tetapi jika sicu tak dapat melakukan, harap sicu lekas tinggalkan tempat ini. Sukalah sicu mempertimbangkan kata-kata loceng ini.”

Habis berkata paderi tua itu segera rangkapkan kedua belah tangan dan pejamkan mata.

Han Ping tersirap, ia menyadari kepandaiannya kalah sakti dengan paderi itu. Diamdiam ia memutuskan, yang penting ia sudah tahu letak ruang Perpustakaan itu, lebih baik ia datang besok malam lagi. Sejenak ia menengadah memandang gedung bertingkat itu, lalu berputar diri dan melangkah pergi.

“Sebab dan Akibat, merupakan lingkaran hukum karma. Omitohud, siancai!” tiba-tiba paderi tua itu menghela napas.

Hang Ping berhenti dan berpaling, tampak paderi tua itu tegak berdiri di depan ruang Perpustakaan, bagaikan malaikat penjaga pintu Achirat. Ketika Han Ping melintasi hutan siong dan tiba di lorong yang lebar, ia berhenti. Di lihatnya cakrawala memburat kuning, pertanda fajar segera datang.

Pada saat ia mencari jalan keluar dari kuil itu, tiba-tiba dari balik sebatang pohon besar terdengar suara tertawa dingin, “Ah, sicu benar-benar mempunyai selera besar, tengah malam masih memerlukan berkunjung ke kuil Siauw-lim-si. Hanya sayang, sicu bisa masuk tetapi tak mungkin keluar!”

Serempak denga kata-kata yang terachir, seorang paderi tinggi besar loncat menghadang. Melihat paderi itu tak membawa senjata, Han Ping menyahut angkuh, “Siauwlim-si merupakan kuil yang termasyur di seluruh dunia, bukan suatu tempat yang terlarang, Hmm, mengapa aku tak boleh berkunjung kemari?”

Paderi tinggi besar itu tertawa dingin. “Tampaknya ucapan sicu itu memang benar, tetapi para tamu yang hendak berkunjung, seharusnya pada siang hari. Cara sicu menyelundup pada malam hari dengan membekal senjata itu, dapat dianggap sebagai tindakan menghina kuil ini!”

Paderi itu menengadah dan tertawa kecil serunya pula, “Setiap orang persilatan tentu memaklumi, mudah masuk kedalam Siauw-lim-si tetapi tak mudah bisa keluar. Sicu tentu mengandalkan kepandaian tinggi maka berani masuk kemari!”

Siauw-lim-si dianggap sebagai sumber ilmu silat dari dunia persilatan. Paderi Siauwlim-si amat diindahkan orang karena selain memiliki pengetahuan agama yang tinggi, pun rata-rata memiliki ilmu silat sakti. Kuil itupun terkenal mempunyai peraturan yang keras.

“Lalu bagaimana maksudmu?” melihat sikap paderi tinggi besar itu makin congkak, Han Ping marah.

“Sederhana sekali,” paderi itu tertawa ringan, “jika engkau yakin mampu menerobos keluar, silahkan, tetapi jika merasa tak mampu, lekas Han Ping tertawa dingin, “Sudah kusadari apa akibatnya masuk kedalam kuil ini.”

Paderi itupun tertawa kecil, “Karena sicu membekal kegagahan semacam itu, kiranya tentu tak keberatan apabila mencoba ilmu silat kuil Siauw-lim-si.”

Han Ping tak mau menyahut, tangan kiri bergerak menebas, tangan kanan memukul.

Pernyataan paderi itu telah dijawab dengan serangan dalam jurus Song-liong-jiang-cu atau sepasang-naga-berebut-mustika.

Diam-diam paderi besar itu terkejut menyaksikan serangan si anak muda yang demikian dahsyat.

“Hmm, maka dia begitu sombong, kiranya dia mempunyai andalan!” pikir paderi itu seraya berputar ke samping. Selekas terhindar dari tebasan tangan Han Ping, cepat ia tamparkan tangan kanan. Jurus itu disebut Hui-tim-ceng-than atau Mengebut-debu-membersihkan-kotoran. Hebatnya bukan alang kepalang, menangkis dan membalas mendahului gerakan orang.

Han Ping terpaksa menyurut mundur tiga langkah. Secepat kilat ia menyerang lagi, tangan kiri bergerak dalam jurus Pek-hun-jut-yu atau Awan-putih-keluar-gunung. Tangan kanan berkilat dalam jurus Long-bak-kiau-yan atau Ombak-menghempas-batu-karang.

Sekaligus dua buah serangan dilancarkan!

Serangan itu dapat memaksa paderi tinggi besar mundur selangkah. Diam-diam ia membatin, “Rupanya anak ini mempunyai guru yang ternama, tentu bukan tokoh sembarangan ……..”

Ia bermaksud hendak menanyai perguruan Han Ping, tetapi anak muda itu tak memberinya kesempatan lagi ……..

Han Ping memburu lagi dengan serangan yang cepat dan gencar. Jurusnya serba aneh, sukar dinilai dari perguruan mana. Dalam beberapa kejab saja, pemuda itu sudah melancarkan tendangan berantai sampai empat buah dan pukulan tiga kali.

Dalam ancaman maut, paderi tinggi besar tak mempunyai keluangan untuk bertanya lagi.

“Hmm,” ia mendengus, sepasang tangannya segera bergerak mengirim serangan balasan. Lo-han-kun ilmu silat tangan kosong kuil Siauw-lim-si yang termasyur, dilancarkannya. Lo-han-kun itu terdiri dari 108 buah jurus, dahsyatnya bukan kepalang. Lohan-kun merupakan salah satu dari ke 72 ilmu silat istimewa dari cabang Siauw-lim-si, pukulannya berlambar tenaga keras. Maka begitu dilancarkan, sepasang tangan paderi tinggi besar itu tak ubah seperti sepasang palu besi yang menghantam batu karang.

Sepuluh jurus kemudian, paderi tinggi besar itu berhasil mengembalikan kedudukannya yang buruk, dan bahkan dua tiga puluh jurus kemudian Han Ping terdesak dibawah angin.

Ternyata paderi tinggi besar itu, anggauta dari tiga-serangkai paderi yang mengepalai bagian Kwat-si-wan atau Bagian Peradilan kuil. Dia bergelar Pek Heng. Paderi yang memakai gelar nama Pek, termasuk angkatan keempat dari kuil Siauw-lim-si, sebagai kepala pemegang hukum kuil, sudah tentu Pek Heng dipilih berdasarkan ketaatan, tingkah laku, kecerdasan dan kesaktiannya.

Tetapi ternyata pemuda itu cukup tangguh, sampai 30 jurus, keduanya masih bertempur dengan berimbang.

Kiranya setelah menyadari tak dapat menangkis pukulan besi dari lawannya, Han Ping merobah cara berkelahinya. Ia kembangkan kelincahan dan kegesitannya, dengan cara itu dapatlah ia bertahan sampai sekian lama.

Paderi Pek Heng sebenarnya seorang yang sudah tinggi kebatinan dan ajaran agamanya. Tetapi dia tetap seorang manusia. Bahwa dirinya sebagai salah seorang kepala Bagian Peradilan yang amat disegani oleh anak murid paderi Siauw-lim-si, ternyata tak mampu mengalahkan seorang anak muda tak terkenal. Diam-diam malulah paderi itu, rasa malu mengembangkan timbulnya rasa marah. Padahal nafsu marah sudah ia tindas dengan latihan semedhi berpuluh tahun.

Saat itu Lo-han-kun mencapai jurus yang ke 48, disebut Cang-bi-soh-pik, lalu jurus yang ke 50 yaitu Hok-hou-ciang-liong atau Harimau-menerkam-naga-menukik. Pada saat itulah Pek Hek tak dapat menguasai diri lagi. Nafsu menang mencengkam hatinya. Seketika ia pertinggi saluran tenaga dalamnya. Pukulannya berobah makin dahsyat sekali!

Tiang-bi-soh-pik atau Alis-memanjang-tangan-menjulai dan Hok-hou-ciang-liong, merupakan jurus yang paling hebat dari Lo-han-kun. Ditambah pula dengan pengerahan tenaga dalam yang telah diyakinkan selama berpuluh tahun, menjadikan serangan sedahsyat gelombang samudera yang bergulung-gulung mendampar keras.

Sedari paderi Pek Heng melancarkan ilmu silat Lo-han-kun, sebenarnya Han Ping sudah tak tahan. Maka ketika paderi itu memperhebat tenaga dalamnya patahlah perlawanan pemuda itu.

Dia gugup dan cepat menyurut mundur, kemudian menyelinap keluar. Sekalipun demikian, ia masih terdera aleh angin yang dipancarkan pukulan Pek Heng. Begitu kaki menginjak tanah, ia masih terhuyung-huyung lima langkah kemudian baru dapat berdiri tegak.

Dan saat itu ia rasakan darah dalam dadanya bergolak keras, kepalanya pusing dan mata berkunang-kunang. Han Ping menyadari, jika melanjutkan pertempuran dengan paderi itu, tentu ia bakal celaka. Dengan kerahkan semangat ia berputar diri dan terus lari kesebelah kanan. Untunglah Pek Heng tak mengejar, paderi itu hanya tegak berdiri memandang anak muda itu.

Setelah melintasi dua buah tikungan, Han Ping berhenti untuk memulangkan napas.

Pada saat ia hendak loncat ke atas rumah, tiba-tiba dari bawah serambi yang gelap loncat keluar dua orang paderi. Mereka menghadang dengan senjata Hong-pian-jan yang panjang.

Paderi yang berdiri disebelah kanan tertawa dingin, “Berani memasuki kuil pada malam hari tentulah sicu tahu akan peraturan kuil ini, jika tak mau serahkan diri, silahkan melolos senjata bertempur!”

Han Ping menyadari bahwa tak mungkin terhindar dari pertempuran, mencabut pedang, tangan kiri bergerak mengimbangi gerak tangan kanan yang memainkan pedang dalam jurus Hong-hong-tiam-thau atau Burung-hong-mengangguk-kepala. Sekaligus menyerang ke dua paderi itu.

“Serangan yang ganas!” teriak kedua paderi itu dengan marah seraya menyurut mundur dan serempak menyapukan Hong-pian-jan. Hong-pian-jan berbentuk seperti sekop, panjang dan berat. Han Ping tak berani adu senjata, ia menghindar dan balas menyerang.

Pertempuran dengan paderi Pek Heng telah memberinya pelajaran bahwa paderi Siauw-lim-si memang tak boleh dibuat main-main. Maka di dalam menghadapi ke dua paderi itu, ia tak mau meremehkan. Sekali gerak ia menyerang dengan jurus yang dahsyat. Honghong-tiam-thau, merupakan salah sebuah jurus dari ilmu pedang Tui-hong-kiam (pedang pemburu angin). Perbawanya menyerupai gelombang bengawan Tiangkiang, dahsyat dan tak berkeputusan.

Keindahan dari ilmu pedang Pemburu angin itu cepat dan berantai. Setiap serangan selalu disusuli dengan lain serangan yang tak menyempatkan musuh balas menyerang.

Bagaikan air bah yang melanda atau kilat yang menyambar-nyambar. Ke dua paderi itu terdesak dan untuk beberapa saat tak dapat balas menyerang.

Tetapi betapapun halnya, kedua paderi itu merupakan paderi Siauw-lim-si yang tinggi kepandaiannya. Ilmu permainan hong-pian-jan merekapun luar biasa, sekalipun terdesak oleh ilmu pedang Pemburu-angin, tetapi hong-pian-jan itupun mengembang gulungan sinar yang menyelubungi diri mereka, dengan demikian sekalipun tak dapat balas menyerang, tetapi tak mungkin dapat di lukai. Barulah setelah ilmu pedang Pemburu-angin selesai dimainkan semua, kedua paderi itu mulai lancarkan serangan balasan. Diantar oleh deru angin yang

dahsyat, dalam dua jurus saja, mereka telah merobah kedudukannya, dari fihak yang diserang menjadi penyerang.

Saat itu Han Ping menyadari bahwa ia tak mampu bertahan lagi. Diam-diam ia mengeluh, “Aku tak sayang mati, hanya menyesal bahwa tujuanku untuk mencuri kitab pusaka Tat-mo-ih-kin-keng bakal tak terlaksana selama-lamanya ……..”

Terlintas oleh cita-citaku itu, timbullah semangatnya untuk menyelamatkan diri.

Diam-diam ia kerahkan tenaga dalam, dengan jurus Kim-si-jan-wan, ia desak paderi yang menyerang dari sebelah kanan. Kemudian loncat mundur beberapa langkah terus loncat keatas rumah. Secepat kilat ia merogoh sebatang senjata rahasia Yan-wi-gin-soh atau Ekorwalet-perak, Siap ditimpukkan apabila kedua paderi itu mengejarnya.

Diluar dugaan ternyata kedua paderi itu tak mau mengejar. Mereka tertawa dingin lalu menyusup lagi ke bawah serambi yang gelap. Pada saat itu insyaflah Han Ping bahwa kuil Siauw-lim-si yang tampaknya sunyi itu ternyata padat dengan penjagaan yang ketat. Memang mudah orang masuk kesitu tetapi jangan harap dapat keluar lagi. Dua kali pertempurannya dengan paderi penjaga tadi, cukup memberi pelajaran bahwa paderi Siauw-lim-si rata-rata memang berilmu tinggi. Seketika padamlah semangatnya yang menyala-nyala untuk berhasil mencuri kitab pusaka itu ……..

Tetapi Han Ping seorang pemuda yang berhati keras, sekalipun tahu tak mungkin berhasil namun tak mau ia menyerah begitu saja. Setelah sejenak memulangkan semangat, dengan menghunus pedang ditangan kanan untuk melindungi diri, tangan kiri pun siap dengan senjata rahasia Ekor-burung-walet, kemudian setelah menentukan arah, ia segera gunakan ilmu ginkang untuk lari keluar.

Ternyata apa yang di duganya itu benar, setiap ruang dan paseban kuil terdapat penjagaan pendam yang ketat. Baru Han Ping melintasi dua buah gedung sekonyongkonyong ia mendengar suara paderi menyebut, “Omitohud, harap pelahan sedikit, sudah lama pinto menunggu di sini!”

Han Ping hentikan larinya, menengadah ke atas, di lihatnya tiga orang paderi berjubah kelabu tegak berjajar menghadang jalan, mereka masing-masing mencekal golok kwat-to yang berkilat-kilat tajam. Han Ping sudah menyadari sia-sia ia memberi penjelasan. Maka dengan mendengus dingin, segera ia putar pedangnya dalam jurus Tiang-hong-koan-jit atau Pelangi-mengaling-matahari. Orang dan pedang bersama loncat menerjang.

Ketika paderi itu bergerak, memecah diri di tiga penjuru, paderi yang di tengah menangkis serangan Han Ping. Tringgg …….. bunga api muncrat berhamburan. Benturan senjata itu mematahkan lingkaran pedang Han Ping yang diperuntukan melindungi diri.

Tetapi paderi itupun tersurut mundur dua langkah.

Paderi itu tertawa dingin….

”Ah, sicu ternyata hebat sekali, Pinto beruntung sekali dapat berjumpa dengan orang berilmu ……..”

Tiba-tiba ia maju menabas.

Han Ping tak mau lagi beradu kekerasan, ia menghindar ke samping lalu secepat kilat menusuk tiga kali. Itulah salah satu jurus yang paling istimewa dari ilmu pedang Pemburuangin, walaupun di lancarkan susul-menyusul tetapi karena cepatnya seperti suatu serangan yang serempak.

Paderi itu gugup dan loncat mundur, pada saat Han Ping hendak ayunkan tubuh menerobos dari kepungan, tiba-tiba ke dua paderi yang berada di samping serempak membentak, ”Ilmu pedang lihay!”

Dua buah golok kwat-to yang berkilat-kilat menghambur dari kanan kiri, terpaksa Han Ping gunakan jurus Ya-hwe-soh-thian atau Api-liar-membakar-langit…….. Tringg, tringg …….. dengan pedang ia menangkis golok, dengan senjata Ekor-burung-walet di tangan kiri ia menusuk dada paderi yang menyerang dari samping kanan.

Jika saat itu ia timpukkan senjata rahasia Ekor-burung-walet itu, tentulah ia dapat melukai salah seorang paderi, tetapi ia berpendapat lain. Dalam pertempuran secara merapat tidaklah selayaknya kalau menggunakan senjata rahasia, akan di anggap curang oleh kaum persilatan, maka ia memutuskan untuk menggunakan senjata rahasia yang berada di tangan kiri itu untuk senjata biasa. Tusukan Ekor-burung-walet itu telah mengejutkan si paderi.

Hendak menangkis, sudah tak keburu. Terpaksa ia mengisar dua langkah ke samping.

Dengan tindakan itu, berarti ia menghalang jalan bagi kawannya yang berada di sebelah kiri.

Kesempatan itu tak disia-siakan Han Ping, cepat ia loncat menyelinap dari samping mereka, tetapi belum lagi ke dua kakinya menginjak tanah, sebatang golok berkilat-kilat melayang kearah kepalanya! Ternyata paderi yang mengepung di tengah tadi lah yang loncat menghadang jalan Han Ping.

Karena masih melayang di atas, Han Ping tak dapat menghindar. Terpaksa ia menangkis, terdengar dering senjata beradi keras. Dalam posisi kaki masih di atas tanah, Han Ping tergempur dan terpental ke belakang sampai dua langkah jauhnya. Dan ke dua paderi tadi pun segera mengepungnya lagi, kini ia di serang dari tiga jurusan pula.

Diam-diam Han Ping mengeluh…. ”Jika satu lawan satu, aku dapat mengalahkan mereka. Tetapi mereka bertiga maju berbareng untuk mengepung aku. Aku harus cari akal untuk memecahkan rantai kepungan mereka!”

Tengah ia memutar otak untuk mencari akal, tiba-tiba terdengar genta atau lonceng besar berdering tiga kali. Dan sebelum gema suara genta itu sirap, sekonyong-konyong ketiga paderi itu serempak maju menyerangnya. Melihat orang main kerubut, marahlah Han Ping.

Cepat ia mainkan ilmu pedang Pemburu-angin dengan gencar. Seluruh tenaga dan perhatian dicurahkan dalam ilmu permainannya. Sinar pedang menyambar-nyambar laksana halilintar, angin menderu-deru bagai prahara. Han Ping berhasil menguasai ke tiga lawannya. Tui-hong-kiam atau ilmu pedang Pemburu-angin, merupakan ilmu pedang istimewa dalam dunia persilatan. Sayang karena kurang pengalamannya, Han Ping tak dapat mengembangkan sebagaimana layaknya. Tetapi karena di rangsang oleh kemarahan, ia mengamuk dan mainkan pedangnya dengan gencar sekali. Sepuluh jurus kemudian, ketiga paderi itu terdesak, hanya membela diri tak mampu balas menyerang.

Diam-diam Han Ping gembira, semangatnya makin menyala, tiga jurus istimewa Hong-cuan-jan-hun (angina-menyapu-sisa-awan), Coa-hwat-lam-hay (gelombangmendampar-laut kidul) dan Cok-boh-thian-keng (batu-hancur-menggemparkan-alam), sekaligus telah di lancarkan.

Ketiga paderi itu terdesak mundur, Han Ping cepat loncat menerobos keluar kepungan.

Berpaling kebelakang, tanpak ketiga paderi itu tegak memandangnya dengan terlongong-longong ……….

“Hemm, jika penghadang-penghadang nanti setingkat dengan ketiga paderi itu, aku mempunyai harapan untuk keluar dari kuil ini, diam-diam Han Ping menimang dalam hati.

Semangatnyapun bergelora lagi.

Tetapi baru ia hendak teruskan langkah, tiba-tiba dari arah belakang terdengar sebuah suara menegurnya, “Ilmu pedang Tui-hong-kiam sicu baru mencapai enam bagian kesempurnaan. Sayang mereka tak mampu menahan sicu!”

Han Ping terkejut. Taburkan pedangnya menjabat, ia meloncat menerjang. Tetapi ternyata tempat itu kosong melompong. Di tengah keheranan tiba-tiba Han Ping terkejut mendengar suara orang berseru dari arah belakang, “Siauw-lim-si penuh dengan alat pekakas rahasia. Hanya mengandalkan ilmu pedang Tui-hong-kiam, mungkin sukar keluar dari sini.

Lebih baik lemparkan senjata dan ikut loni menghadap Hong-tiang. Hud bersifat pemurah, tentulah tak sampai mencelakai sicu!”

Mengenali arah datangnya suara itu, jelas dari belakang. Secepat kilat Han Ping berputar diri dan menusuk. Ah, kali ini orang itu tak dapat melenyapkan diiri lagi. Seorang paderi tua yang tegak berdiri di belakang. Tetapi hai ………., mengapa paderi itu diam saja menghadapi tusukan?

Entah bagaimana, serasa ada suatu kekuatan gaib yang menyuruh Han Ping menarik pulang pedangnya dan mundur selangkah.

“Mengapa tak menghindari tusukanku? Betapapun kesaktianmu, tetapi tak mungkin tubuhmu mampu menahan pedang pusakaku ini!” tegurnya.

Paderi tua itu tersenyum, ujarnya, “Perbuatan baik atau jahat, hanya berlangsung dalam sekejap mata. Bahwa sicu yang sudah acungkan ujung pedang ke dada loni, tetapi tiba-tiba menarik pulang kembali, menandakan sicu mempunyai jodoh dengan Hud-ya.

Omitohud, siancay, siancay!”

Hang Ping memandang tajam kepada paderi itu. Seorang paderi tua yang alisnya sudah putih semua, menjulai panjang sampai sejari dan menutupi wajah berseri senyum, sikapnya berwibawa. Menimbulkan rasa pengindahan orang.

Han Ping terpengaruh sekali oleh kepribadian paderi tua itu. Serta merta ia memberi hormat, “Terima kasih atas petunjuk losu, tetapi kalau disuruh buang senjata dan serahkan diri, wanpwe maaf, tak dapat melakukan.

Paderi tua itu tertawa …..

“Dengan begitu, apakah sicu benar-benar hendak menguji kepandaian loni?”

“Wanpwe pribadi tiada halangan untuk menyerahkan diri, tetapi sayang wanpwe harus bertanggung jawab untuk menjaga nama perguruan. Terpaksa wanpwe memberanikan diri untuk mohon pelajaran pada lo-suhu. Apabila dalam sepuluh jurus lo-suhu dapat menundukkan wanpwe, wanpwe akan rela menyerah dan ikut lo-suhu menghadap hong-tiang!”

Tiba-tiba paderi tua itu membeliakkan sepasang alisnya yang putih, ujarnya, “Rasanya sepuluh jurus terlalu banyak. Menangpun loni tentu akan dianggap menindas orang yang lebih muda. Begini sajalah, silahkan sicu menyerang dengan ilmu pedang Tui-hong-kiam yang termasyur itu. Kembangkan sepenuh kemampuan sicu untuk menyerang, jika losu sambil mundur setengah langkah saja, bukan saja sicu menang, pun loni akan bersedia menerima hukuman hong tiang dan akan mengantar sicu keluar dari kuil ini dengan Selamat!”

Han Ping tercengang. Pikirnya, “Betapapun kesaktianmu, tetapi tak mungkin engkau begitu gegabah omong besar. Aku tak percaya engkau mampu menghadapi taburan pedang pusakaku!”

Berkatalah ia menyahut pernyataan paderi itu, “Losu seorang ulama yang ternama, kiranya tentu maklum bahwa setiap patah kata harus ditepati. Bagi kaum persilatan, janji itu adalah kehormatannya!”

“Murid penganut Budha dilarang berdusta. Silahkan sicu segera mulai!” kata paderi tua itu seraya pejamkan kedua matanya.

Han Ping mendengus. “Maaf, wanpwe akan melaksanakan perintah lo-suhu!” serunya seraya geliatkan pedang menusuk dada paderi tua itu.

Terdengar mulut paderi tua itu menyebut “Omitohud”, badannya sedikit dimiringkan kesamping dan tusukan Han Ping itu tak mengenai sasarannya. Tidak melainkan kedua kaki paderi itu masih melekat di tempatnya, bahkan kedua matanyapun masih memejam.

“Ahhh ……….!” Han Ping mengeluh kejut, ia mundur dan tertegun.

Terdengar paderi tua itu tertawa jernih dan berseru, “Sicu tak perlu cemas, Loni takkan balas menyerang!”

Kata-kata itu membangkitkan penasaran Han Ping, maju kemuka, ia menabas pinggang paderi itu.

Sekonyong-konyong tubuh paderi tua itu menekuk ke belakang dan untuk yang kedua kalinya babatan pedang Han Ping itupun hanya mengenai angin saja. Karena tusukan itu dilancarkan dengan sepenuh tenaga maka ketika tak mengenai, tubuh Han Ping ikut menjorok ke samping, “Wuuut …..” tiba-tiba angin menyambar dan tahu-tahu kain kerudung hitam yang menutupi mukanya telah di sambar oleh tangan si paderi tua.

Menghindar babatan pedang, menyambar kain selubung muka dan tegak lagi dengan tenang. Demikianlah yang dilakukan oleh paderi tua beralis putih!

Saat itu Han Ping benar-benar dirangsang kemarahan. Dengan menggembor keras, ia taburkan pedangnya menyerang paderi tua itu. Dalam sekejap mata lima buah serangan telah dilancarkan sederas-derasnya.

Kelima serangan itu diambilkan dari jurus-jurus ilmu pedang Pemburu-angin yang paling dahsyat. Dan dilancarkan dengan kecepatan yang sepenuh-penuhnya. Jika tetap berdiri di tempatnya, tak mungkin paderi tua itu mampu menghindarkan diri.

Tetapi apa yang disaksikan saat itu, benar-benar membuar Han Ping tak percaya kepada pandang matanya. Paderi tua itu bergeliatan indah gemulai. Condong ke kanan, miring ke kiri, membungkuk ke muka, menjerembab ke belakang, tanpa mengisar kakinya sejaripun juga, paderi tua itu telah dapat menghindar kelima serangan pedang itu!…..

Han Ping menghela napas, ia buang pedangnya dan berkata, “Kesaktian lo-suhu benar-benar belum pernah wanpwe menyaksikan pada lain orang. Kini wanpwe menyerah dan bersedia ikut menghadap hongtiang!”

Paderi alis putih itu tak segera menyahut. Sepasang matanya yang tajam berkilat-kilat menatap Han Ping. Beberapa saat kemudian baru ia menghela napas perlahan. Ujarnya, “Menilik ucapan dan sikap sicu, rasanya sicu bukan orang rimba persilatan. Tengah malam memasuki kuil Siauw-lim-si tentu ada sebabnya, maukah sicu memberi tahukan hal itu kepada loni?”

Han Ping tertawa hambar ….., “Tak sekali-kali wanpwe berani berdusta. Terus terang saja, kedatangan wanpwe kemari ini adalah karena hendak meminjam kitab pusaka Tat-moih-kin-keng dari Siauw-lim-si!”

Tubuh paderi alis putih itu agak gemetar. Serunya pula, “Siauw-lim-si memiliki tujuhpuluh dua buah kitab berisi pelajaran ilmu kesaktian, dan kesemuanya itu merupakan ilmu pusaka Siauw-lim-si yang termasyur, mengapa sicu hanya hendak meminjam Tat-mo-ihkin-keng saja?”

Han Ping menghela napas. “Wanpwe mempunyai dendam permusuhan sedalam lautan. Musuh wanpwe itu luar biasa saktinya. Maaf, ke 72 buah ilmu kesaktian Siauw-lim-si itu belum tentu dapat menundukkannya.”

Paderi alis putih itu tertawa, “Separuh bagian saja sicu dapat mempelajari ke 72 macam ilmu kesaktian Siauw-lim-si itu, sicu tentu tiada yang mampu menandingi lagi!”

Paderi tua itu berhenti untuk menghela napas. “Tetapi hidup manusia itu terbatas, berapa tinggikah umur manusia itu? Tak mungkin kiranya dengan usianya yang terbatas itu seorang manusia akan dapat meyakinkan berpuluh-puluh ilmu kepandaian yang berbeda-beda. Sejak Tat Mo sucou mendirikan kuil ini, sudah berlangsung turun menurun sampai pewaris angkatan ke 31. Murid-murid Siauw-lim-si pun beratus-ratus ribu jumlahnya. Namun tiada seorangpun yang mampu memahami separuh dari ke 72 ilmu pusaka Siauw-lim-si. Untuk memahami ilmu tersebut keseluruhannya, sampai matipun takkan selesai!” kata paderi beralis putih itu pula.

Han Ping heran, mengapa paderi tua itu tak segeranya mengajaknya menghadap pimpinan kuil tetapi bicara sendiri begitu panjang lebar! Han Ping hendak membuka mulut tetapi kembali didahului oleh paderi tua itu lagi.

“Bahwa sicu tak menginginkan kitab dari ke 72 ilmu pusaka tetapi menghendaki kitab Tat-mo-ih-kin-keng yang memuat pelajaran ilmu lwekang, tentulah karena sicu mendapat petunjuk dari seorang sakti. Ketahuilah, kitab Tatmo-ih-kin-keng itu merupakan salah satu dari tiga pusaka Siauw-lim-si. Taruh kata sicu berhasil mengambil kitab itu, tentu akan mengalami kesulitam besar. Pimpinan kuil tentu akan mengerahkan seluruh tenaga untuk mengejar jejak sicu. Kemanapun sicu akan menyembunyikan diri. Dan ketahuilah juga, bahwa tulisan dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng itu terdiri dari sastra yang dalam sekali artinya, taruh kata sicu seorang sasterawan, belum tentu sicu dapat memahaminya. Kecuali mendapat petunjuk dari orang sakti yang mengerti seluk beluk ilmu pelajaran itu, tak mungkin sicu akan berhasil meyakinkannya.”

Paderi beralis putih itu berhenti sejenak lalu melanjutkan pula, “Sejauh yang loni tahu, dewasa ini dalam dunia hanya ada seorang yang faham ilmu itu. Asal sicu mempunyai rejeki belajar padanya, cukup dalam waktu setahun saja, sicu tentu sudah hebat. Dan dalam waktu tiga tahun, kemungkinan sicu tentu sudah dapat memahami semua ilmu pelajaran itu!”

Mendengar itu, terbeliaklah mata Han Ping. Serunya serta merta, “Dimanakah orang itu? Mohon lo-suhu sudi memneri petunjuk pada wanpwe. Wanpwe akan mohon lo-cianpwe itu sudi menerima wanpwe sebagai murid ……….”

Dalam mengucap kata-kata yang terachir itu nada Han Ping terdengar rawan.

Benaknya kembali terlintas bayang-bayang peristiwa ngeri yang lampau. Gerahamnya bercaterukan keras, beberapa titik airmata menetes turun. Geram dan dendam dan serta merta ia berlutut memberi hormat dihadapan paderi itu.

Wajah paderi itu memancarkan sinar kasih dan dengan menghela napas ia berkata, “Dia adalah suhengku sendiri. Kecerdasannya menonjol, bakat gemilang. Sayang, karena suatu kechilapan, dia telah melanggar peraturan kuil dan dihukum oleh mendiang suhu loni.

Sampai kini sudah sepuluh tahun dalam ruang penjara. Walaupun suhu sudah mukswa (meninggal), tetapi suheng masih tetap tak dikeluarkan dari penjara. Pada saat pertama dia di hukum, loni pernah berjanji hendak menolongnya. Karena memberi pernyataan itu loni di hukum juga selama sepuluh tahun, tiap malam harus belajar kitab ajaran Budha. Jika sicu dapat menolongnya tentulah sicu dapat mohon padanya supaya memberi petunjuk pelajaran ilmu lwekang dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng. Dengan demikian cita-cita sicu tentu tercapai dan lonipun dapat menunaikan janji loni kepadanya!”

Han Ping memberi hormat lalu bangkit. “Wanpwe berjanji akan melaksanakan petunjuk lo-suhu. Untuk itu wanpwe tak sayang mengorbankan jiwa raga. Tetapi dengan kepandaian wanpwe yang tak berarti seperti sekarang ini, dapatkah wanpwe melaksanakan hal itu? Mohon lo-suhu sekali lagi sudi memberi petunjuk.”

Kembali paderi itu menghela napas. “Sesungguhnya sejak mendiang suhu sudah wafat, tiada seorangpun yang mampu menandingi kesaktian suheng. Jangankan hanya ruang penjara dari tembok biasa, sekalipun dari dinding besi, suheng tentu dapat lolos. Tetapi diatas pintu penjara itu telah di tempeli Surat Hukuman yang ditulis oleh suhu sendiri. Karena takut melanggar peraturan perguruan, terpaksa suheng tak berani menerobos keluar. Maka sesungguhnya mudah sekali untuk membebaskannya. Asal sicu melenyapkan Surat keputusan hukuman pada pintu itu, suheng tentu akan bebas …..”

Kembali paderi tua itu berhenti lagi. “Tetapi perlulah loni memberitahukan lebih dahulu kepada sicu. Suheng loni itu berwatak aneh, berhati dingin dan congkak luar biasa.

Setengah abad hidup dalam pengasingan, entah apakah perangai sudah berobah atau belum.

Loni tak berani menjamin adakah dia mau menurunkan pelajaran Tat-mo-ih-kin-keng kepada sicu atau tidak. Kalau dia menolak, lonipun tak berani memaksanya. Tetapi andaikata dia menolak karena sicu sudah menyelesaikan janji yang pernah loni ucapkan kepadanya itu, loni akan membalas budi sicu dengan memberi pelajaran lima macam ilmu pusaka Siauw-lim-si kepada sicu. Asal sicu berhasil memahami pelajaran itu, sekalipun tidak menjagoi dunia persilatan, tetapi dalam dunia persilatan dewasa ini sukarlah terdapat orang yang mampu menandingi sicu. Sicu, loni tak memaksa engkau harus melakukan permintaan loni ini. Sicu setuju atau tidak harap suka mengambil keputusan sendiri!”

Han Ping menjawab tegas, “Atas petunjuk lo-suhu yang berharga, wanpwe merasa berterima kasih seumur hidup. Tentang apakah lo-cianpwe itu mau memberi ilmu pelajaran kepada wanpwe atau tidak, memang tergantung dari peruntungan dan rezeki wanpwe sendiri.

Dalam hal itu, sekali-kali tak dapat menyesali lo-suhu!”

Paderi alis putih itu tertawa ….., “Obat takkan mematikan orang sakit. Mendapat penerangan batin dari ajaran Budha hanya orang yang berjodoh. Asal sicu dari sini menuju ke utara, kira-kira tigaratus tombak tentu akan tiba pada gedung yang diterangi dengan tiga buah lentera merah yang digantung tinggi. Itulah gedung peradilan Kwat-si-wan. Kira-kira sepuluh tombak disebelah kiri gedung itu terdapat sebuah lapangan yang penuh ditumbuhi pohon bambu. Setiap anak murid Siauw-lim-si dilarang masuk kesitu. Asal sicu masuk ke halaman itu, sicu berada disebuah daerah yang aman. Tetapi bagaimana akibatnya sicu masuk kedalam halaman itu tergantung dari nasib sicu sendiri …..”

Han Ping memungut pedang yang dilemparnya tadi. Kemudian ia menghaturkan terima kasih kepada paderi alis putih itu, serta menyatakan bahwa ia takkan melupakan budi bantuan dari paderi tua itu selama-lamanya. Habis itu, Han Ping terus berputar tubuh dan melangkah ke utara. Tapi sekonyong-konyong paderi tua loncat menghadang jalan.

“Dalam perjalanan nanti sicu tentu akan mengalami rintangan. Ilmu pedang Tui-hongkiam yang sicu miliki, meskipun tergolong ilmu pedang yang termasyur, tetapi jangan harap dapat mengatasi rintangan-rintangan itu. Loni akan memberi dua buah jurus ilmu pedang. Di waktu perlu boleh sicu menggunakannya, tetapi sekali-kali jangan melukai orang!” kata paderi alis putih itu seraya meminta pedang dari Han Ping.

Sambil mengucapkan ilmu pedang itu secara lisan ia mainkan pedang menurut ucapan itu. Han Ping berotak cerdas, dalam waktu yang singkat ia dapat memahami ilmu pedang itu.

Sekali lagi ia memberi hormat terima kasih kepada paderi itu, lalu melanjutkan langkahnya.

Ternyata ia tergesa-gesa sekali untuk mencari gedung yang dikatakan paderi alis putih tadi. Setiap dirintangi penjaga ia terus langsung menggunakan ilmu pedang ajaran paderi tua.

Dan hasilnya memang hebat sekali, penjaga-penjaga itu terdesak mundur semua. Cepat sekali Han Ping sudah dapat melintasi empat rombongan penjaga. Dan akhirnya tibalah ia di samping gedung Kwat-si-wan. Ia segera membiluk kesebelah kiri, ah, memang di sebelah muka tampak sebuah lapangan pohon bambu menyerupai hutan kecil.

Tiba-tiba kegirangannya itu dibuyarkan oleh sebuah bentakan dari belakang, “Hai ….., siapakah berani memasuki daerah terlarang ini?” Semula suara itu terdengar pada jarak

beberapa tombak jauhnya, tetapi ketika mengucap kata-kata terakhir, orang itu sudah berada dibelakang Han Ping. Ditilik dari gerakannya yang begitu gesit, tentulah pendatang itu seorang sakti. Saat itu sebenarnya Han Ping hanya terpisah dua tombak dari hutan pohon bambu. Dalam kejutnya ia enjot tubuh melayang ke hutan bambu itu seraya tabaskan pedangnya ke belakang.

“Lepaskan!” teriak orang itu dengan murka. Seketika Han Ping rasakan pergelangan tangannya kesemutan dan terlepaslah pedangnya. Tubuhnyapun terdorong ke bawah oleh hamburan tekanan tenaga orang itu. “Bluk …..! jatuhlah Han Ping ke tanah. Untunglah tujuan orang itu hanya memukul jatuh pedangnya. Dan secepatnya Han Ping bergulingan ke tanah. Ketika mencapai tepi hutan bambu secepatnya ia loncat bangun!

Tetapi tepat pada saat itu juga sesosok tubuh yang terbungkus jubah bergerombyongan menukik dari udara. Cepatnya bukan kepalang sehingga Han Ping tak mampu melihat bagaimana keadaan orang itu. Tetapi ia menyadari bahwa orang itu tentu sakti. Apabila sampai terkungkung dalam kekuasaan serangannya, sukar untuk lolos. Dengan menghimpun seluruh semangatnya, Han Ping nekad loncat.

“Apakah sicu benar-benar tak mau berhenti dan ingin cari mati?” orang itu membentak bengis seraya tamparkan tangannya.

Han Ping sedang melayang setombak tingginya. Hanya ada dua pilihan baginya, menangkis serangan itu atau gunakan ilmu Cian-kin-tui atau Tindihan-seribu-kati, untuk meluncur turun. Seketika terlintas dalam benaknya bahwa pada saat itulah satu-satunya kesempatan baginya untuk dapat mencapai hutan bambu, sekalipun harus dibayar dengan pengorbanan jiwanya. Seketika ia kerahkan seluruh lwekangnya dan mendorong kedua tangannya menyambut serangan orang itu.

Sesungguhnya posisi Han Ping tidak menguntungkan sekali, ia seperti telur membentur tanduk. Han Ping rasakan gelombang tenaga pukulan orang itu sedahsyat ombak mendampar gunung. Jantung pemuda itu berguncang keras, telinganya mengiang-ngiang dan darahnya bergolak-golak. “Huaaak ….. “ ia muntah darah dan rubuh tak ingat diri lagi.

Entah berapa lama pingsan, tiba-tiba ia rasakan badannya dingin dan tersadar. Ketika membuka mata, ternyata hari sudah terang tanah. Pakaiannya basah lembab tercurah embun pagi. Ia bergeliat duduk dan memandang keatas. Ia kesima melihat gumpalan mega putih berarak di langit. Benar-benar ia asing sekali dengan keadaan disekeliling tempat itu.

Ditampar-tampar kepalanya untuk memulihkan ingatannya. Helas ….. mengapa otaknya serasa kosong melompong tak ingat apa-apa lagi? Akhirnya ia bangun, baru berjalan dua langkah, ia rubuh lagi. Kepalanya seperti tertindih oleh papan besi seribu kati beratnya.

Kedua kakinya terasa lentuk tak bertenaga sama sekali. Akhirnya ia terpaksa berjalan dengan merangkak …..! Tiba-tiba di dengarnya doa nyanyian pagi, tetapi tak dapat menemukan ingatannya yang hilang.

Bagian 2

Tawanan.

Tiba-tiba nyanyian itu bernada tinggi dan setelah terdengar ucapan Omitohud, nyanyian itupun sirap seketika. Han Ping menghela napas lalu duduk ditanah. Saat itu matahari mulai merayap dipagar tembok, sinar keemas-emasan meningkah darah kental yang

berlumuran di dadanya. Di usapnya pelahan-lahan noda darah itu, ia tertawa rawan lalu pejamkan mata. Sesungguhnya ia memiliki dasar keyakinan ilmu lwekang yang baik, sekalipun kehilangan ingatannya, tetapi luka yang dideritanya itu tak sampai membahayakan jiwanya. Maka mulailah ia menyalurkan hawa dan tenaga murni dalam tubuhnya. Kira-kira satu jam kemudian, ia mendengar suara orang menghela napas berat. Ia bangkit dan berpaling ke belakang. Diantara hutan bambu seluas beberapa tombak itu, tampak tiga buah rumah pondok tua. Pintunya yang berwarna putih dan hitam terkancing rapat. Pagar tembok pondok itupun sudah tak terawat dan penuh pakis hijau, memberi kesan yang merawankan.

Suara helaan napas tadi berasal dari dua buah pondok tersebut. Saat itu semangatnya sudah berangsur-angsur segar kembali. Sekalipun masih susah berjalan, tetapi tidak terhuyung-huyung seperti tadi. Dengan perlahan-lahan ia menghampiri kedua pondok itu.

Secarik maklumat dilekatkan dengan zegel tulisan pada maklumat itu sudah tak dapat dibaca lagi. Tetapi andaikata dapat dibacapun, karena ingatannya kosong, ia tentu tak ingat apa maksudnya. Dan hal itu menyebabkan ia berani menghampiri pondok itu. Andaikata pikirannya sadar dan mengerti bunyi tulisan pada maklumat itu, pasti nyalinya jadi ciut!

Dengan pikiran yang kosong ia segera merobek maklumat itu dan melemparkannya ke tanah.

Kemudian ia mendorong daun pintu dengan kedua tangannya, Braaak ….., sepasang daun pintu hancur berantakan. Aah ….. kiranya berpuluh-puluh tahun dibenam hujan, dibakar matahari, daun pintu itu menjadi lapuk. Han Ping melangkah masuk, dan ….. pertama-tama ia disambut dengan hamburan debu tebal sehingga kepala, muka dan tubuhnya terbaur kotoran debu. Setelah mengibas debu pada pakaiannya, ia mulai memandang kedalam ruang pondok itu. Di atas sudut ruang penuh dengan sarang laba-laba, hampir dikata seluruh ruang itu penuh debu kotoran. Suatu tanda bahwa tempat itu sudah lama tak dihuni orang.

Haai ….., tiba-tiba Han Ping terkejut, pandang matanya menangkap dua sinar berkilat.

Dan ketika diamati dengan seksama, ternyata sinar kilat itu berasal dari sepasang mata seorang manusia yang duduk bersila di atas ranjang kayu di sudut ruang. Dari gumpalan rambut putih yang menjulai sampai kebahu, orang aneh itu mengenakan jubah warna kelabu.

Seharusnya Han Ping berteriak kaget dan takut menyaksikan pemandangan yang seram itu. Tapi karena pikirannya kosong melompong ia bahkan malah maju menghampiri.

Sedikitpun ia tak memiliki rasa takut sama sekali.

Tiba-tiba orang aneh itu membuka mata, sinar yang memancar dari kedua matanya luar biasa tajam dan berpengaruh sehingga orang tentu akan menggigil ketakutan. Bahkan Han Ping yang kehilangan ingatannya itu pun menjadi kaget dan berhenti. Sepasang gundu mata manusia aneh yang berkilat tajam itu menumpah lekat-lekat pada Han Ping, sehingga pemuda itu serasa terbang semangatnya. Ingin rasanya ia hendak menyurut mundur saja.

Sejenak rambut orang aneh itu bergoyang pelahan lalu pejamkan matanya lagi. Dan setelah tertegun sepeminum teh lamanya, akhirnya Han Ping melangkah ke samping orang aneh itu.

Tanpa membuka mata, sekonyong-konyong orang aneh itu menyambar lengan Han Ping.

“Pyuur …..,” lengan baju yang digerakkan itu menghambur debu tebal, lengan bajunya pun ikut hancur lebur. Kiranya, saking bajunya tua sekali jadi lapuk juga. Beberapa jalan darah Han Ping terasa kesemutan dan rubuhlah pemuda itu di samping orang tersebut. “Braaak ….” kepalanya terantuk pada ujung ranjang dan ujung ranjang itupun hancurlah. Sekalipun tak dapat berkutik, tetapi Han Ping masih sadar pikirannya. Ia tak dapat bicara melainkan memandang orang itu dengan bingung.

Orang aneh itu menghela napas, “Sudah enampuluh tahun loni tak berjumpa dengan orang.”

Jenggotnya berkibar-kibar, suatu pertanda bahwa dia tegang sekali.

Han Ping tak dapat bicara, dan andaikata dapat pun, karena kehilangan kesadaran otaknya ia tentu tak bicara dengan genah.

Tiba-tiba orang aneh itu ulurkan tangan kanannya, mengusap tubuh Han Ping, kemudian tangan kirinya pun ikut mengurut-urut. Seketika Han Ping rasakan tubuhnya disaluri hawa panas yang nyaman. Tak berapa lama tertidurlah pemuda itu. Ternyata orang aneh itu telah mengobati luka Han Ping dengan menyaluri tenaga murninya.

Peristiwa semalam terlintas dalam benak pemuda itu pula. Masih mengiang dalam telinganya akan ucapan paderi tua alis putih itu, “Orang itu adalah suheng dari loni, kecerdasannya menonjol, bakatnya gemilang sekali. Hanya karena suatu kechilapan dia telah dimasukkan kedalam penjara kuil. Sampai sekarang sudah limapuluh tahun …..”

Bayangan pesan paderi alis putih membangunkan semangat Han Ping. Diamatinya orang aneh yang tengah duduk bersila diatas ranjang kayu itu dengan seksama. Rambutnya mengurai panjang sampai ke tubuh, tangan dirangkap ke dada dan mata dipejamkan. Orang aneh itu tengah bersemedhi mengheningkan cipta.

Kini Han Ping makin yakin bahwa orang aneh yang duduk diatas ranjang itu adalah tokoh yang disebut oleh paderi tua beralis putih, yakni suheng dari paderi itu yang telah dipenjara selama enampuluh tahun.

Diam-diam Han Ping menghela napas panjang ….., pikirnya, enampuluh tahun bukanlah waktu yang sedikit, waktu itu hampir meliputi dua pertiga dari hidup manusia.

Hidup seorang diri dalam kesepian dan pengangsingan selama enampuluh tahun sukar terlukiskan penderitaan yang dialaminya …..!

Teringat penderitaan itu, tiba-tiba Han Ping teringat akan penderitaan yang dialaminya sendiri. Rasa sependeritaan nasib itu telah menimbulkan kesan mesra di hati Han Ping, serentak ia berbangkit dan berlutut memberi hormat kepada orang aneh itu. Ketika tangannya menjamah ranjang yang diduduki orang aneh itu berhamburan gumpalan debu membawa hancuran kayu ranjang….., karena sudah enampuluh tahun tak dirawat dan termakan serangga, maka tempat tidur yang tampaknya masih utuh itu, begitu tersentuh tangan langsung hancur jadi abu.

Buru-buru Han Ping menarik pulang tangannya seraya berseru, “Wanpwe Ji Han Ping, menghaturkan terima kasih atas budi pertolongan lo-cianpwe!”

Orang aneh itu tertawa dingin ….., “Nyalimu besar sekali, berani masuk kedalam ruang penjara ini ….., hemm….., siapakah yang memberi petunjuk padamu?”

Han Ping terdiam beberapa jenak, lalu menyahut, “Wanpwe mendapat petunjuk dari Pek Bi (alis putih) lo-siansu supaya menghadap lo-siansu disini guna mohon supaya lo-siansu sudi menerima wanpwe sebagai murid.”

“Apa kau bilang? Engkau hendak menjadi muridku?” tiba-tiba orang aneh itu membuka matanya.

“Wanpwe mempunyai dendam permusuhan sedalam lautan, tetapi tak mampu membalas dendam itu. Maka wanpwe hendak mohon kepada lo-siansu supaya sudi mengajarkan beberapa jurus ilmu kesaktian kepada wanpwe.”

Orang itu kembali tertawa, nadanya penuh dengan kehambaran dan keangkuhan.

Kemudian katanya, “Mengajarkanmu beberapa jurus ilmu silat? Ha – ha – ha, benarkah di dunia ini terdapat hal yang seenak itu?”

“Asal lo-siansu sudi memberi pelajaran silat sehingga wanpwe dapat melakukan pembalasan sakit hati, wanpwe bersumpah akan melaksanakan apapun yang lo-siansu perintahkan!” kata Han Ping.

Tiba-tiba orang aneh itu menghela napas rawan, ujarnya. “Apakah pernyataanmu itu hanya senda gurau atau sesungguhnya?”

“Jika wanpwe sampai inkar janji, biarlah wanpwe mati ditumpas langit dan bumi!”

Han Ping memberi pernyataan dengan tandas.

Tiba-tiba sepasang mata lebar dari orang aneh itu berkilat-kilat menatap Han Ping, serunya, “Hemm, mereka datang hendak menangkapmu!” habis berkata ia terus pejamkan matanya lagi.

Han Ping terkejut dan berpaling, dalam lapangan yang penuh ditumbuhi pohon bambu itu tak tampak barang seorangpun jua. Ia menyangsikan keterangan orang aneh itu. Tetapi sekonyong-konyong terdengar suara bok-hi (sepasang kayu yang dibenturkan satu sama lain untuk mengantar doa sembahyang kaum paderi). Menyusul terdengar suara orang berseru nyaring, “Ciang-bun Hong-tiang tiba!” Ciang-bun adalah pewaris dan Hong-tiang berarti ketua kuil. Berpuluh bayangan melesat kesamping. Dua orang paderi berjubah kuning dan bertubuh tinggi besar melesat masuk ke dalam sanggar pondok. Mereka berhenti di depan pintu serta memandang lekat-lekat ke arah orang aneh itu. Wajah kedua paderi itu menampilkan rasa kejut, mereka tersipu-sipu memberi hormat kepada orang aneh itu, lalu berdiri di muka pintu dengan tundukkan kepala penuh kehormatan.

Han Ping memandang kepada kedua paderi yang berdiri di luar pintu itu. Kedua paderi itu dan kokoh sekali sikapnya. Wajah mereka berseri merah, kedua pelipisnya menonjol keluar, pertanda dari ahli ilmu lwekang yang tinggi tingkatnya. Han Ping terkejut, cepat ia merabah punggungnya hendak mencabut pedang. Tetapi ternyata pedang tak ada. Ia teringat semalam pedangnya telah dihantam jatuh oleh seorang yang diduga tentulah salah seorang paderi sakti dalam kuil Siauw-lim-si.

Alat bok-hi kembali dibunyikan tiga kali. Dua orang paderi berjubah merah muncul pula dari balik pagar tembok halaman. Merekapun serupa dengan kedua paderi jubah kuning tadi, memandang kedalam ruang sanggar, lalu memberi hormat kepada orang aneh itu kemudian berpencar diri dan berdiri berhadap-hadapan di muka pintu.

Melihat cara mereka loncat dari balik pagar tembok, Han Ping sudah menduga bahwa kedua paderi itu tentu golongan paderi berkedudukan tinggi dalam kuil Siauw-lim-si. Han Ping diam-diam menghela napas, nyalinya mulai gentar. Ia merasa tak mungkin menang melawan salah seorang dari keempat paderi itu. Ia berpaling kearah orang aneh itu, dan ternyata orang aneh itu masih pejamkan matanya. Sedikitpun tak mengacuhkan peristiwa yang terjadi diluar pintu sanggar kamar tahanannya.

Serempak pada saat itu, tiga orang berturut-turut loncat masuk dari pagar tembok.

Yang tengah, seorang paderi berjubah kuning dengan garis jahitan benang merah, sedang yang di kanan kirinya, dua paderi kecil berumur kira-kira 14 – 15 tahun. Yang sebelah kiri memondong kebut Hud-tim, yang disebelah kanan memegang sebatang tongkat mustika yang aneh bentuknya. Mereka melangkah perlahan-lahan ke sanggar tempat tawanan itu. Paderi yang dikawal dua paderi kecil berusia sekitar limapuluhan, bermuka persegi, telinga lebar dan alis memanjang sampai ke pipi. Sikapnya penuh wibawa dan bermuka agung.

Han Ping terkejut. Pikirnya, “Paderi ini memiliki kewibawaan yang luar biasa, tentulah tokoh yang berkedudukan tinggi dalam kuil Siau-lim.”

Pada saat paderi itu tiba dimuka pintu sanggar, keempat paderi yang tegak berjajar di depan pintu serempak memberi hormat.

“Omitohud!” seru paderi jubah kuning itu sambil merangkap kedua tangannya, “Ciang-bun Hong-tiang angkatan ke 32 Goan Thong, dengan hormat menghadap supeh!”

Habis berkata paderi itupun terus berlutut memberi hormat ke arah ruang sanggar. Keempat paderi dan kedua paderi kecil itupun serta merta turut berlutut.

Mendengar ucapan itu, jenggot orang aneh itu bergetaran. Dengan masih duduk di atas ranjang kayu, tubuhnya agak membungkuk dan berseru, “Maaf, karena masih menjalankan hukuman dari siansu (mendiang guru) terpaksa loni tak dapat menyambut Ciangbun sebagaimana layaknya!”

Pederi berwibawa yang menyebut dirinya sebagai Goan Theng itu tersenyum lalu berbangkit, “Murid tak berani …..” tiba-tiba pandang matanya tertumbuk akan maklumat keputusan hukuman yang telah lenyap dari atas pintu, seketika berobahlah wajahnya.

“Karena terpancang oleh peraturan, murid terpaksa tak dapat sering-sering menyambangi supeh. Harap supeh suka maafkan,” katanya.

Orang aneh yang dipanggil supeh atau paman guru oleh paderi Goan Thong itu tertawa hambar, “Dalam hal itu memang bukan salahmu. Tetapi dengan maksud apa engkau berkunjung kemari ini?”

“Semalam murid telah mendapat laporan dari paseban Kwat-si-wan bahwa seorang tak dikenal telah menyelundup kelingkungan tempat persemedhian supeh sini. Mengingat tempat ini merupakan daerah yang dilarang oleh dua orang Ciang-bun Hongtiang dari angkatan yang terdahulu, maka anak murid Siauw-lim-si tak boleh masuk kemari, apalagi orang luar. Murid tak berani melanggar tugas, maka murid sengaja mengundang Lok-giok-hud- ciang sebagai lambang dari pimpinan Siauw-lim-si turun menurun untuk menyelidiki peristiwa ini!” Habis berkata Goan Thong mengambil tongkat Lok-giok-hud-ciang atau tongkat pusaka kuil Siaulim-si yang terbuat dari batu kumala hijau dari paderi kecil yang berada disamping kanan.

Lalu mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi diatas kepalanya.

Ternyata walaupun mulut sedang bicara dengan ketua Siauw-lim-si paderi Goan Thong tetapi orang aneh berambut gimbal itu tetap pejamkan mata. Ia hanya mengandalkan indra pendengarannya untuk menangkap gerak gerik beberapa paderi yang berada dimuka pintu itu.

Tetapi demi mengetahui tongkat pusaka Lok-giok-hud-ciang diacungkan keatas, sekonyong-konyong orang aneh itu serentak membuka mata. Dua kilap cahaya mata yang luar biasa tajamnya, telah mengejutkan para paderi yang berada diluar ruang. Hanya Goan Thong yang tetap tenang, sedikitpun wajahnya tak berobah. “Mohon supeh sudi memandang tongkat pusaka Siauw-lim-si, murid hendak mengeluarkan perintah untuk menangkap orang itu.” serunya.

Tongkat pusaka Lok-Giok-Hud-Ciang adalah tongkat kepemimpinan kuil Siau-limsi yang disimpan oleh setiap ciangbun hong-tiang atau pewaris ketua kuil. Tak peduli angkatan dan golongan paderi Siauw-lim-si yang manapun, begitu berhadapan dengan tongkat pusaka itu, harus berlutut memberi hormat dan mentaati segala perintah pemimpin kuil.

Oleh karena bukan anakmurid Siauw-lim-si maka Han Ping tak mengerti peraturan mengenai tongkat pusaka itu. Yang diketahuinya, tongkat itu batangnya memancarkan cahaya kilau kemilau bercampur gurat-gurat garis merah darah. Tentulah sebatang tongkat mustika yang jarang terdapat keduanya di dunia.

Kurang lebih sepeminum teh lamanya, orang aneh dalam penjara itu memandang tongkat mustika, dalam saat-saat itu berulang kali pancaran matanya mengalami perobahanperobahan. Tiba-tiba memancar sinar kemarahan dan dendam kebencian, tetapi pada lain saat memancarkan sinar kerawanan dan kedukaan. Akhirnya ia memejamkan mata lagi, di atas ranjang kayunya ia berlutut memberi hormat. Menyaksikan kepatuhan orang aneh itu, tersenyumlah Goan Thong. Kemudian ia memberi pesan kepada kedua paderi yang berjubah merah, “Hou-hwat berdua, silahkan menjatuhkan keputusan kepada tamu itu!” Kedua paderi jubah merah itupun mengiakan dengan hormat, mereka segera masuk kadalam ruang penjara dan menghampiri perlahan-lahan ketempat Han Ping.

Ham Ping gugup, ia bingung untuk mengambil keputusan, menyerahkan diri atau melawan! Sekonyong-konyong telinganya seperti tersusup oleh suara lengkingan tajam, mirip dengan dengung nyamuk, “Mundurlah kesisi ranjangku ini lalu berdayalah untuk menangkis serangan mereka, jangan khawatir, betapapun mereka menyerang dengan hebat engkau tentu tetap selamat.” Suara itu seperti berasal dari jauh, tetapi tiap-tiap patah kata, melengking jelas ditelinga Han Ping dan anehnya, kedua paderi jubah merah yang melangkah diambang pintu itu sama sekali tak dapat mendengar. Mereka tetap maju perlahan-lahan, langkah kakinya amat berat, pertanda memiliki ilmu lwekang tinggi.

Han Ping tak berani berayal lagi, cepat ia menyurut mundur. Punggungnya melekat pada ranjang kayu, dengan demikian ia seolah-olah melindungi orang aneh yang duduk dibelakangnya.

Kedua paderi itu memberi hormat dengan membungkuk badan, serunya. “Ketua Siaulim angkatan ke tigapuluh bersama pejabat bagian Peradilan, Pek Ti dan Pek Kia telah menerima amanat dari Ciangbun untuk menangkap tamu yang berani masuk ke daerah terlarang ini, mohon dengan hormat su-cou memberi izin kepada murid sekalian untuk bertindak …..” habis berkata paderi itupun tundukkan kepala berdiri tegak.

Orang aneh itu menyahut dengan nada dingin, “Karena ciang-bun-jin sudah mengeluarkan tongkat pusaka sudah tentu loni tak berani melanggar perintahnya. Jika kalian hendak melaksanakan perintah, silahkan, loni takkan ikut campur!” Karena orang aneh itu terhalang oleh tubuh Han Ping maka tak dapat terlihat bagaimana perobahan air mukanya saat itu. Tetapi dari nada ucapannya jelas bahwa orang aneh itu tak senang hati.

Kedua paderi itupun tengadahkan kepala dan menyahut, “Murid hanya sekedar memenuhi kewajiban sebagai Hou-hwat, sama sekali tiada mempunyai kepentingan pribadi. Mohon sucou sudi memafkan.”

Paderi yang berdiri disebelah kiri segera bertindak, ia ulurkan tangan untuk mencengkeram bahu Han Ping.

Han Ping terkejut, belum tangan paderi Peh Ti itu menjamah, angin gerakannnya sudah menyambar keras sekali, buru-buru ia menampar. Tetapi ternyata Peh Ti memang menghendaki supaya Han Ping bergerak begitu. Sekali mengisar kesamping kanan, secepat kilat ia menyambar siku lengan Han Ping. Pukulannya luput, membuat Han Ping gugup. Ia menyadari bahwa kedudukannya berbahaya sekali, ia hendak menarik kembali tangannya itu, tetapi sudah tak keburu lagi. Lengan kanannya terasa kesemutan karena dijepit oleh sepasang jepitan besi. Tenaganyapun serasa lumpuh.

Hou hwat atau Pemegang Hukum yang mengiring Goan Thong itu, terdiri dari murid angkatan muda yang tinggi kepandaiannya. Mereka memiliki kecerdasan dan bakat yang terpilih, maka tanpa harus menjalani latihan bersemedhi di ruang Tat-mo-wan selama tiga tahun, mereka langsung diberi pelajaran ilmu silat oleh Tiang-lo atau tetua kuil. Ilmu menangkap orang dengan tangan kosong dari paderi Peh Ti itu, merupakan salah satu dari ke 72 macam ilmu kesaktian kuil Siauw-lim-si. Han Ping bingung menghadapi cengkeraman istimewa itu, hampir ia putus asa dan hendak menyerah. Tetapi tiba-tiba punggungnya serasa dijamah tangan orang dan serempak dengan itu serangkum hawa panas mengalir keseluruh tubuhnya. Perasaannya nyaman, semangat segar dan nyalipun timbul kembali, ia meronta …..

Peh Ti mengerang tertahan. Paderi yang bertubuh tinggi besar itu telah dilontarkan sampai empat lima langkah ke belakang. Sudah tentu tangannya yang mencengkram siku lengan Han Ping, pun terlepas.

Peristiwa itu bukan hanya Peh Ti seorang, pun Peh Kia yang menyaksikan di samping, ikut terperanjat. Bahkan Goan Thong taysu, ketua siau lim si yang berada beberapa langkah di belakang mereka, tampak berobah wajahnya. Mereka benar-benar terkejut bahwa seorang anak muda yang baru berumur 17-18 tahun, ternyata memiliki tenaga dalam yang sedemikian hebatnya!

“Sicu hebat sekali. Pinto pun hendak minta pelajaran beberapa jurus,” seru Peh Kia seraya terus ayunkan tangan menampar.

Sesungguhnya Han Ping sendiripun terlongong heran karena mampu melontarkan paderi Peh Ti. Ia hamper tak percaya atas dirinya sendiri. Ia kaget gelagapan ketika kepalanya tersambar angin keras. Serangan Peh Kia itu jauh lebih hebat dari Peh Ti. Disamping luar biasa cepatnya, pun gerakannya hamper tak mengeluarkan suara apa-apa.

Dalam gugupnya karena tak sempat menghindar lagi, Han Ping nekad menangkis. Krek…. Ketika saling berbentur, seketika Han Ping rasakan tangannya seperti ditindih oleh sebuah bukit rubuh.

Melihat kegagalan Peh Ti, Peh Kia telah tumpahkan seluruh tenaga dalam pukulannya. Dalam hal ilmu lwekang, Han Ping terpaut jauh sekali dengan Peh Kia. Sudah tentu ia tak mampu menahan tekanan paderi itu. Seketika ia rasakan darah dalam tubuhnya bergolak keras. Kepala pening, mata berkunang-kunang dan tulang lengannya seperti meledak patah.

Tetapi anak muda itu menyadari. Bahwa sekali ia kendorkan pertahanannya, gelombang tenaga dari paderi itu tentu akan menghancurkannya. Maka terpaksa ia bertahan sekuat tenaganya. Tiba-tiba tangan orang aneh yang masih melekat di punggungnya itu, kembali menekan lekat-lekat. Seketika serangkum hawa hangat menyusup ke dalam dada. Tenaga murni dalam tubuhnya tumbuh lagi, semangatnyapun bergelora pula dan uh,… dengan sekuat tenaga ia menyiapkan tangannya ke atas.

Uh… terdengar mulut Peh Kia mendengus perlahan dan tubuhnya mencelat keudara. Duk… tubuh paderi yang tinggi besar itu membentur dinding tembok. Sedemikian keras benturan itu sehingga tembok berhamburan gugur….

Pondok atau sanggar hukuman itu sudah berpuluh puluh tahun tak pernah disapu. Kecuali tiang beranda atau penglari, banyak sudah tiang-tiang lainnya yang lapuk. Sekaligus 13 batang tiang rusak berguguran jatuh!

Tebalnya debu kotoran yang berhamburan menyelubungi ruangan, telah menyebabkan paderi Peh Ti, Peh Kia dan Han Ping tak dapat melihat gerak gerik masing-masing. Bahkan Goan Thong taysu, ketua siau lim si yang tinggi lwekangnya, pun hanya dapat meneropong keadaan dalam ruang itu secara samar-samar. Dilihatnya Peh Kia menderita luka yang tak ringan. Setelah membentur dinding, sampai saat itu belum dapat berdiri lagi, sedang Peh Ti menutupi muka dengan lengan jubah. Tangan kanan disongsongkan kemuka untuk melindungi Peh Kia. Sementara Han Ping masih tetap duduk bersila sambil menutupi muka dengan lengannya.

Hampir sepeminum teh lamanya barulah kabut debu itu perlahan-lahan mulai menipis. Peh Ti cepat mengangkat Peh Kia dibawa loncat keluar. Goan Thong kerutkan alis. Ia memeriksa luka Peh Kia.

“Organ dalam tubuhnya, menderita goncangan keras. Lukanya tidak ringan. Lekas bawa keruang Tat-mo-wan dan segera diberi pertolongan,” kata ketua Siauw-lim-si itu.

Setelah Peh Ti melakukan perintah itu, Goan Thong suruh kedua paderi kecil menjaga diluar pintu. Kemudian dengan mencekal tongkat pusaka Lok-giok-hud-ciang, ia melangkah masuk kedalam ruang….

Melihat itu buru-buru kedua paderi berpangkat Hou hwat mengikuti, mengawal disamping kanan kiri ketuanya.

Melihat ketua Siauw-lim-si yang masuk, tergetarlah hati Han Ping. Sikap Goan Thong taysu memancarkan keperbawaan yang membuat orang jeri dan mengindahkan.

Tiba-tiba tangan si orang aneh yang melekat dipunggungnya itu mengencang dan telinganya pun terngian suara yang halus, “Lekas lepaskan pukulan. Jangan biarkan dia mendekat kemari!”

Serentak Han Ping rasakan tubuhnya disaluri lagi oleh suatu aliran hawa panas. Han Ping tak berani membantah. Ketika ia mengangkat tinjunya, tiba-tiba ia terkesiap memandang wajah Goan Thong taysu yang berwibawa itu. Tinju yang diangkat itu, perlahan-lahan diturunkan pula.

Sekonyong-konyong kedua paderi Hou hwat yang mengapit di kanan kiri Goan Thong taysu itu loncat menerjang. Han Ping terkejut dan serempak songsongkan kedua tangannya.

Sebenarnya gerakan pemuda itu hanya diperuntukkan menahan kedua paderi. Tetapi diluar dugaan kedua Hou hwat itu mengerang tertahan dan tubuh mereka terlempar keudara!

Kejut Goan Thong taysu bukan kepalang. Tongkat pusaka digigit dengan mulut lalu kedua tangannya menyambuti tubuh kedua Hou hwat tersebut. Gerakan ketua Siauw-lim-si itu memang hebat dan cepat sekali. Tetapi tenaga pendorong kedua Hou hwat itu bukan olah-olah dahsyatnya. Walaupun dapat menyambuti, tetapi kuda-kuda kaki Goan Thong taysu tergempur dan terhuyung-huyunglah ketua Siauw-lim-si itu sampai tiga langkah kebelakang….

Han Ping tercengang-cengang. Benar-benar ia tak percaya akan kemampuan yang dimiliki saat itu.

“Lekas hantam lagi supaya dia keluar dari ruang ini!” kembali suara lembut seperti dengung nyamuk itu melengking ditelinganya pula. Dan serempak dengan itu, kembali aliran hawa panas itu menyalur ke tubuhnya.

Diluar kesadaran, Han Ping segera lepaskan sebuah hantaman kepada Goan Thong taysu.

Saat itu Goan Thong taysu belum sempat meletakkan tubuh kedua Hou hwat. Karena tak keburu menangkis, ia kerahkan hawa murni dan busungkan dada menyambut pukulan anak muda itu.

Tampaknya ringan-ringan saja pukulan Han Ping itu. Namun ternyata suatu peristiwa yang hebat telah terjadi pada saat itu. Tubuh Goan Thong taysu gemetar. Dadanya serasa dihantam dengan sebuah palu godam yang ribuan kati beratnya. Darahnya bergolak keras, kuda-kuda kakinya tergempur dan ketua Siau –lim-si itu dipaksa harus terhuyung mundur sampai tiga langkah. Setiap telapak kakinya, menimbulkan bekas setengah dim dalamnya.

Dalam kalangan murid Siauw-lim-si angkatan ke 32, Goan Thong lah yang paling sakti sendiri. Ilmu lwekangnya tinggi, pukulannya dahsyat, Tetapi menerima pukulan dari seorang anak muda yang tak terkenal, ia dipaksa harus mundur dan muntah darah…

Namun dia adalah seorang paderi yang terkemuka. Walaupun menderita luka tak ringan, ia tetap tenang. Setelah meletakkan kedua Hou hwat, ia mencekal tongkat pusaka lagi.

“Murid memang bersalah, berani mengganggu supek. Apapun hukuman yang murid terima, murid tak penasaran. Tetapi murid telah menerima budi dari siansu (mendiang suhu) untuk menjabat sebagai ketua ke 32. Dalam rangka melaksanakan tugas itu, murid selalu taat akan peraturan dan terpaksa harus bertindak. Sanggar tempat kediaman supek ini, telah dinyatakan sebagai tempat terlarang oleh sucou angkatan ke 30. Setiap murid Siauw-lim-si dilarang menginjak daerah ini. Maka tidaklah seharusnya kita biarkan seorang luar masuk kemari. Hal itu bukan saja menodakan nama baik Siauw-lim-si, pun berarti melanggar maklumat sucou. Karena itu murid terpaksa memberanikan diri untuk mengundang tongkat Lok-giok-hud-ciang. Tetapi sungguh tak murid sangka, bahwa supek ternyata melindungi orang itu. Mungkin supek mempunyai alas an dalam tindakan supek itu. Tetapi muridpun tak berani tinggal diam dan terpaksa hendak mohon tanya kepada supek. Apakah tindakan supek meminjam tangan orang untuk melanggar amanat tongkat pusaka, bukan berarti melanggar peraturan kaum kita? Murid sendiri tak berani menetapkan keputusan maka murid hendak memanggil para tianglo untuk berunding dan mengambil keputusan. Setelah selesai, murid akan menghadap kemari lagi untuk menerima hukuman supek…”

Habis berkata, ketua Siauw-lim-si itu terus melangkah pergi.

Ternyata Goan Thong taysu memiliki perasaan yang luar biasa tajamnya. Ketika Han Ping bertempur melawan Peh Ti dan Peh Kia, sesungguhnya Goan Thong taysu sudah curiga jangan-jangan supeknya atau orang aneh yang dipenjarakan itu, diam-diam telah membantu pemuda tersebut. Kecurigaan itu menjadi suatu kenyataan ketika ia sendiri beradu pukulan dengan pemuda itu. Ia tak percaya pemuda yang baru berumur paling banyak 20-an tahun itu, mampu memiliki tenaga dalam yang sedemikian dahsyatnya.

Sekalipun belum pernah berhadapan muka dengan supek atau paman guru yang dipenjara selama 60 tahun itu, namun gurunya pernah menceritakan tentang peristiwa malang yang menimpa supeknya itu.

Supeknya itu seorang tunas yang berbakat paling gilang gemilang sendiri sejak 10 angkatan ketua Siauw-lim-si. Dalam usia 18 tahun, ketika diadakan ujian ilmu silat dipasebaan Lo han tong, dia telah menundukkan semua saudara seangkatan dalam perguruan kuil Siauw-lim-si. Para pelatih dan penguji memberi pujian yang tinggi atas hasil yang dicapainya.

Pada usia 20 tahun, dia ditugaskan untuk mengembara di dunia persilatan. Sejak 300 tahun yang terakhir, dia adalah paderi yang paling muda usianya yang diizinkan untuk melakukan tugas berkelana itu. Dalam waktu 2 tahun saja, namanya telah menggemparkan seluruh wilayah Kanglam dan Kangpak…

Sayang, tunas yang sedemikian cemerlang, karena tak sengaja telah melanggar pantangan perguruan, telah dijebloskan dalam penjara. Sampai kini Siauw-lim-si sudah berganti dua kali ketua, dia tetap berada dalam penjara.

Membayangkan akan kemalangan supeknya itu, Goan Thong taysupun menghela napas. Sejenak ia berhenti dan berpaling memandang ke sanggar pengasingan supeknya itu. Tampak pemuda itu masih duduk dimuka ranjang kayu, mengalingi supeknya.

Tiba-tiba Goan Thong taysu rasakan dadanya sakit dan hendak muntah darah lagi. Cepat-cepat ia menekan semangat dan menghilangkan segala kekacauan pikirannya. Setelah memusatkan seluruh pikirannya dalam beberapa saat, darahnya yang bergolak itu tenang kembali.

Dengan diiring kedua paderi kecil dan dua orang Hou hwat, ketua Siauw-lim-si itu pun tinggalkan sanggar pengasingan.

Setelah rombongan Goan Thong taysu lenyap dari pemandangan, barulah Han Ping membalik tubuh menghadapi paderi tua yang telah membantunya.

“Tanpa bantuan locianpwe, wanpwe tentu sudah hancur binasa,” katanya seraya member hormat kepada tokoh aneh itu.

Bagian 3

Pertaruhan.

Orang aneh itu tertawa dingin “Agama Buddha, menyanjung peribudi Kebaikan dan Welas asih. Sekalipun loni tak membantumu, merekapun takkan melukai engkau. Hm, karena berani masuk kedaerah terlarang dalam kuil Siauw-lim-si, sudah selayaknya engkau harus menerima penderitaan yang setimpal!” katanya.

Han Ping terbeliak. Bukankah orang aneh itu sendiri yang menyuruhnya melalui ilmu menyusupkan suara, untuk menghantam rombongan Goan Thong taysu? Mengapa sekarang ia yang dipersalahkan?

Namun Han Ping tak berani mengutarakan keganjilan itu. Ia diam saja.

Tiba-tiba orang aneh itu menengadahkan kepala dan tertawa nyaring. Nada ketawanya menggetar urat-urat dijantung dan menegakkan bulu roma Han Ping. Diam-diam pemuda itu memperhatikan bahwa dalam nada ketawa yang luar biasa dahsyatnya itu, pun mengandung hamburan rasa kecewa, duka, penasaran dan kemarahan. Sehingga sukar untuk mengatakan bagaimana perasaan yang sesungguhnya dari orang aneh itu.

Karena tak tahu apa yang harus dilakukan , Han Ping hanya berlutut terlongong longong….

Kira-kira sepeminum the lamanya, barulah orang aneh itu hentikan tertawanya. Dibalik hamburan rambut putihnya yang terurai menutup muka, samar-samar Han Ping memperhatikan bahwa sepasang mata orang aneh itu berlinang-linang airmata….

Han Ping tersirap. Serentak timbullah kesadarannya. Orang aneh yang berada di hadapannya itu, ternyata menderita kedukaan dan kehampaan batin. Seorang tokoh yang memiliki kesaktian tiada tandingan didunia, harus menghabiskan masa mudanya dalam tempat pengasingan yang memisahkan diri dari keramaian dunia. Ah, siapakah yang takkan kecewa dan putus asa mengalami derita nasib yang sedemikian itu ….?

“Engkau menghendaki ilmu pelajaran apa dari aku?” tiba-tiba orang aneh itu berseru.

Han Ping terkejut dan tersipu-sipu menyahut “Wanpwe ingin mendapat pelajaran dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng!”

Orang aneh itu gelengkan kepala dan tertawa hambar, “Masakah engkau juga ingin merasakan derita menghadapi dinding tembok selama 20 tahun ditempat pengasingan?”

“Apa? Harus memakan waktu 20 tahun?” Han Ping terkejut.

Orang aneh berambut gimbal panjang itu tersenyum. Itulah yang pertama kali Han Ping dapat menikmati senyum simpul yang wajar dari orang aneh itu, Tetapi ketika memandang dengan seksama, anak muda itu terbeliak kaget. Ternyata wajah orang aneh itu berwarna merah segar. Dan karena tersenyum, wajahnya makin berseri-seri. Jelas, orang aneh itu merasa puas dan gembira atas hasil kesaktiannya yang dicapai saat itu.

Sekonyong-konyong seri gembira pada wajahnya itu lenyap seketika. Pancaran matanya yang bersemangat itupun ikut meredup. Dia menghela napas panjang lalu pejamkan mata seraya berkata, “Ilmu pelajaran dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng itu, termasuk jenis pelajaran lwekang yang tinggi. Jangankan 20 tahun, bahkan 30 tahun mempelajarinya, belum tentu dapat berhasil. Ketahuilah, ilmu kesaktian yang cemerlang, bukanlah suatu hasil secara kebetulan. Sekalipun beruntung mendapat hal-hal yang luar biasa, tetapi juga harus melalui latihan yang keras baru dapat berhasil. Pula ilmu itu kebanyakan termasuk aliran liar. Jika gagal mencapai kesempurnaan, pasti akan terjerumus dalam aliran Pian Kek (mengutamakan kekerasan). Suatu hal yang akan menimbulkan bahaya dikemudian hari. Seumur hidup, loni baru tahu akan seseorang yang mempelajari ilmu kesaktian dari suatu aliran tersendiri dan berhasil mencapai kesempurnaan….”

Orang aneh itu berhenti sejenak lalu melanjutkan pula dengan nada yang sarat dan tubuh agak gemetar: “Dia… dia seorang wanita…”

Han Ping mendengus kejut, “Apa? Apakah di dunia persilatan dewasa ini, masih ada orang yang melebihi kesaktian locianpwe…?”

Tiba-tiba ia teringat akan derita nasib yang dialaminya selama ini. Ya, kecuali sakti, musuhnya itu luar biasa ganasnya. Hanya dalam setengah malam saja, orang itu sudah membunuh 12 orang jago silat yang berilmu tinggi….

Peristiwa berdarah itu, kembali melintas dalam benak Han Ping. Seketika darahnya bergolak meluap kerongga dada, membanjirkan airmata yang berderai-derai memancur dari matanya….

Tiba-tiba orang aneh itu ulurkan tangan membelai-belai kepalanya. Hiburnya dengan penuh kasih saying, “Nak, kutahu engkau tentu menyandang nasib yang menyedihkan maka engkau nekad berani mencuri kitab Tat-mo-ih-kin-keng kemari. Engkau tentu hendak belajar ilmu kesaktian agar dapat membalas dendam sakit hati….”

Orang aneh itu berhenti sejenak lalu menyambung pula, “Tetapi hal itu hanya suatu harapan yang sia-sia, Jangan harap dengan kepandaian yang engkau miliki sekarang ini, engkau mampu mencuri kitab pusaka Siauw-lim-si. Karena bukan hanya engkau seorang, tetapi puluhan bahkan ratusan tokoh-tokoh dunia persilatan yang berusaha hendak mencuri kitab itu, tetapi tiada seorangpun yang berhasil…”

“Tujuan wanpwe hendak belajar ilmu kesaktian itu hanyalah untuk membalas dendam. Setitik pun wanpwe tak mengandung maksud hendak menguasai dunia persilatan,” kata Han Ping.

“Ilmu pelajaran dalam kitab itu ditulis dalam bahasa sastra tinggi. Hanya mempelajari sastra itu saja, engkau harus membutuhkan waktu paling sedikit tiga tahun. Kemudian untuk mempelajari ilmu itu sampai berhasil, engkau harus bersedia mengorbankan masa mudamu selama 20 tahun!”

Saat itu Han Ping merasa bahwa yang dihadapinya bukanlah orang aneh yang berhati dingin dan angkuh, melainkan seorang tua yang ramah dan berbudi.

“Dua puluh tahun bukanlah waktu yang pendek. Pada waktu itu, kemungkinan musuhmu itu sudah tak berada di dunia lagi,” kata orang aneh itu pula.

“Kalau begitu, dalam hidup sekarang ini wanpwe tiada mempunyai harapan untuk membalas sakit hati?”

Orang aneh itu merenung beberapa jenak.

“Ilmu Pelajaran dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng itu, sekalipun luas dan dalam sekali. Tetapi tak dapat digunakan secara nyata untuk mengalahkan musuh. Karena sukar untuk memilih dan meyakinkan bagian pelajaran ilmu silat yang mana yang sesuai. Dengan begitu sukarlah untuk meyakinkannya secara memilih, tetapi harus secara menyeluruh semua. Maka sukarlah harapanmu itu dapat terlaksana.”

Dari ribuan li jauhnya, Han Ping menempuh perjalanan. Tanpa menghiraukan segala kesukaran dan jerih payah. Tujuannya semata-mata hanya hendak mencuri kitab pusaka yang termasyur itu. Tetapi setelah mendengar penjelasan dari orang aneh itu, semangatnya serasa tersiram air dingin.

“Kalau begitu, sia-sia saja wanpwe hendak mempelajari kitab pusaka itu?” ia menegas.

“Sesungguhnya dalam perguruan kuil Siauw-lim-si ini banyak sekali ilmu pelajaran silat yang sakti. Engkau berhasil memahami beberapa macam ilmu silat yang dapat digunakan secara nyata, jauh lebih berguna daripada mencuri kitab Tat-mo-ih-kin-keng itu!” kata orang aneh itu pula.

“Musuh wanpwe itu adalah jago nomor satu dalam dunia persilatan hitam dewasa ini. Ilmu kepandaian sakti, ganasnya bukan kepalang dan kakitangannya pun berjumlah banyak sekali. Dia seorang yang licin dan kaya akan tipu muslihat!”

Orang aneh itu menghela napas. Ujarnya, “Sudah 60 tahun loni tinggal disanggar ini. Loni sudah dapat memahami semua pelajaran dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng itu. Tetapi saat ini loni tak merasa yang paling menang sendiri dalam dunia persilatan. Sekalipun loni rela untuk melanggar peraturan perguruan memberikan pelajaran kepadamu, tetapi belum tentu engkau berhasil membalas sakit hatimu….” tiba-tiba ia pejamkan kedua mata dan diam merenung.

Sesaat tampak rambut dan jenggotnya bergetaran. Ubun-ubun kepalanya mengeluarkan uap. Agaknya dia tengah berjuang untuk memecahkan suatu kesulitan.

Han Ping mulai gelisah. Ia merasa saat itu merupakan detik-detik yang menentukan dalam hidupnya. Mungkin ia beruntung akan mendapat warisan pelajaran dalam kitab Tat-mo-ih-kin-keng yang termahsyur. Atau mungkin dia akan diusir oleh orang aneh itu!

Tiba-tiba orang aneh itu menghela panjang. Sikapnya yang tegang, perlahan-lahan tenang kembali. Perlahan-lahan ia membuka mata dan berkata, “Perobahan selama 60 tahun, telah membuat dunia persilatan melupakan loni. Lonipun sudah tersingkir dari dunia keramaian. Sayang masih ada suatu hal yang belum dapat terlaksana sehingga mengganggu ketenangan hati loni dalam persiapan menuju ke alam yang kekal….”

Tiba-tiba suara genta bertalu, memutuskan ucapan si orang aneh yang belum selesai itu. Han Ping tegang sekali dan wajah orang aneh yang sudah tenang itu kembali meregang pula.

“Genta itu merupakan pertandaan memanggil sidang darurat. Para tianglo dan kepala bagian dari Siauw-lim-si akan berkumpul di ruang Tat-mo-wan untuk merundingkan keputusan mengenai diri loni,” kata orang aneh itu setelah genta berhenti bertalu.

“Locianpwe adalah supek dari ketua Siauw-lim-si yang sekarang. Masakan mereka berani akan menindak locianpwe?”

Orang aneh itu tertawa hambar, “Memang peraturan Siauw-lim-si memisahkan tajam sekali garis perbedaan antara orang muda dan tua. Tetapi kedudukan seorang Ciangbujin diatas semua kaum dan tingkat angkatan. Tadi memang aku kelewat keras menggerakkan tangan sehingga mulutnya sampai berdarah. Hal itu memang tak seharusnya terjadi. Asal dia memerintahkan, Paderi-paderi tinggi dari tingkat Hui, Goan, Peh dan Thian tentu akan segera menyerang loni!”

Han Ping terkesiap. Paderi Siauw-lim-si berjumlah ribuan orang. Paderi-paderi berilmu tinggi yang termasuk dalam ke 4 angkatan itu, ratusan jumlahnya. Jika mereka maju serempak, sekalipun pendiri Siauw-lim-si yakni Tat Mo hidup kembali, juga tak mungkin mampu melawan. Dengan demikian gentinglah keadaan orang aneh itu ….

Diluar dugaan orang aneh itu tertawa meloroh, “Ho, anak muda, marilah kita bertaruh!”

Han Ping terbeliak, “Bertaruh? Locianpwe hendak bertaruh apa? Baiklah, wanpwe menurut saja!”

“Pertaruhan ini mudah sekali. Duduklah, nanti kita bicara dengan tenang!”

Karena sikap orang aneh itu begitu tenang sekali menghadapi ancaman bahaya, semangat Han Ping pun timbul. Segera ia mengambil tempat duduk.

Orang aneh itu tak segera berkata melainkan berkeliaran memandang ke sekeliling ruang. Rupanya dia belum bersedia apa yang harus dipertaruhkan. Tetapi sampai beberapa saat, dia belum mendapatkan sesuatu.

Han Ping makin tercengang. Menurut anggapannya, kepandaian orang aneh itu telah mencapai tingkat sempurna, Sembarang saja dia mengatakan acara pertaruhan itu, tentulah akan menang. Tetapi mengapa orang aneh itu seperti mendapat kesulitan?

Tiba-tiba orang aneh itu kebutkan tangan kirinya kemuka Han Ping. Seketika Han Ping rasakan matanya gelap tersambar angin. Buru-buru ia menutup kelopak matanya. Ketika beberapa saat membuka mata lagi, orang aneh itu tertawa tergelak-gelak.

“Rasanya cara inilah yang paling adil. Cobalah terka, benda apa yang tergenggam dalam kedua tanganku ini?” katanya.

Han Ping mengamati orang aneh itu. Memang kedua tangan orang itu menggenggam, wajahnya berseri gembira. Rupanya dia gembira sekali atas cara pertaruhan yang dilakukan itu.

Han Ping pun turut tersenyum senang. Pada saat ia hendak membuka mulut menerka sejadinya, tiba-tiba orang aneh itu menyurut senyuman tawanya dan berkata dengan nada bengis.

“Ingat, pertaruhan ini membawa akibat yang besar bagimu! Jika engkau menerka salah, segera kuhalau engkau dari sini. Selanjutnya jangan harap loni mau menurunkan pelajaran ilmu silat kepadamu!”

Tiba-tiba terdengar genta kuil bertalu tiga kali gema suaranya berkumandang menembus telinga, menyusup dinding tembok.

Gema talu genta itu belum reda, sekonyong konyong dari luar sanggar terdengar suara orang dalam nada perlahan tetapi sarat, “Apakah selama ini toa-suheng sehat sehat saja? Siaute datang hendak menjenguk toa-suheng.”

Wajah orang aneh itu serentak berobah.

“Buddha serba pemurah. Selama ini aku sehat walafiat. Kapan sute kembali ke kuil?” sahutnya dengan nada dingin.

Terdengar suara helaan napas yang panjang. Dan sebelum helaan napas itu reda, orangnyapun sudah tiba di muka pintu sanggar.

Seorang paderi tua sekitar umur 80 tahun, berjubah kelabu, tengah berdiri dimuka pintu.

“Sudah tiga hari ini siaute dating,” sahutnya.

“Apakah sute membawa perintah dari Ciangbujin untuk menangkap aku?”

“Omitohud! Siaute tak berani melakukan hal itu.”

“Jika perintah itu diberikan atas nama tongkat pusaka Kumala Hijau, apakah engkau membangkang?”

Paderi tua itu terkesiap, sahutnya, “Itu lain pula persoalannya. Sudah tentu siaute tak berani!”

Orang aneh itu tertawa, serunya, “Kalau tak mengemban titah tongkat Kumala Hijau, silahkan sute tinggalkan tempat yang terlarang ini agar jangan mendapat hukuman…” kata orang aneh itu seraya tak menghiraukan si paderi tua, terus berpaling kepada Han Ping.

“Jika engkau dapat menerka, loni akan meluluskan permintaanmu itu ….!”

0 Response to "Persekutuan Tusuk Konde Kumala Jilid 1 : Kitab Tat mo Ih kin keng dari Siau Lim si"

Post a Comment