Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 27

Mode Malam
Jilid 27 

MENYAMBUNG itu, terdengar pertanyaannya Ceng Hian : “Bagaimana dengan anaknya Cin Siau San  itu bocah, apa benar dia binasa di tanganmu?”

Cin Hui melainkan menghela napas ia tidak menjawab. “Menurut katanya muridku,” terdengar pula Tiat Tiang

Ceng, dengan suaranya yang mendesak, “di Su-coan Utara kau telah bunuh belasan bocah cilik, maka aku pikir, kau bukannya satu enghiong atau hoohan. Coba tadi aku tidak saksikan kau terlalu dikekang oleh Kang Siau Hoo, hingga aku merasa berkasihan terhadapmu, tidak nanti aku tolongi kau. Sekarang lekas  bilang, bagaimana kepandaiannya Kang Siau Hoo bila dia dibandingkan dengan aku Tiat Tiang Ceng?”

Kembali jago tua itu menghela napas.

“Kepandaiannya Kang Siau Hoo benar-benar ada sangat liehay,” ia menyahut. “Aku Pau Cin Hui adalah seorang yang tangguh, akan tetapi menghadapi dia, tak dapat tidak, aku mesti mengaku kalah … Suhu, tentang nama kau, sejak tiga piluh tahun yang lampau, aku telah mengaguminya, akan tetapi, apabila kau bertemu dengan Kang Siau Hoo, pasti aku akan ... ”

Tiat Tiang Ceng ada demikian mendongkol, hingga sebelum orang bicara habis, ia  sudah banting kakinya, hingga menerbitkan suara keras, sampai pintu dan jendela pada tergetar.

“Ceng Hian, pergilah kau ke Tin-pa.“ berteriak ini guru. “Kau cari dia punya murid supaya muridnya itu datang menyambut dia!“ Tapi selelah itu, ia kata pada jago tua itu: “Aku telah tolongi kau dan cucumu perempuan, aku hendak lihat bagaimana di belakang hari kau orang balas budiku! Sekarang aku hendak pergi cari Kang Siau Hoo, nanti besok aku akan ajak kau turun gunung, untuk kau saksikan mayatnya dia itu yang aku telah buat mampus!”

Sampai disitu, Ah Loan dengar suara tindakan kaki yang riuh, yang terus sirap, seperti juga semua orang sudah berlalu, ia lantas tutupi mukanya, ia menangis dengan sedih sekali. Ia sekarang mengarti tentang kesukarannya ia punya engkong, siapa ternyata baru ditolong dari tangannya Kang Siau Hoo.

Sesaat kemudian, Nona Pau dengar elahan napas panjang diluar jendela. Ia kenali itu ada suaranya ia punya engkong, ia jadi semakin berduka, hingga ia  menangis tersedu-sedu.

“Yaya, kau sangat telengas!” berkata ia. “Apakah yang kau telah lakukan di Su-coan Utara? Kejahatan di Lao Sit Nia pasti ada perbuatannya Liong Cie Khie, apa perlunya kau masih lindung dia? Kang Siau Hoo tidak binasakan yaya karena ia tak tega hati, kenapa sekarang kau pancing kemurkaannya Tiat Tiang Ceng untuk dia pergi bunuh Kang Siau Hoo? Kau kejam, yaya … aku …”

Sebenarnya Ah Loan hendak teruskan bilang: “Aku punya penghidupan-pun bukankah telah dirusak oleh kau? Kenapa dulu yaya paksa aku menikah dengan Kie kong Kiat?” Akan letapi, sebelum ia dapat ucapkan itu, ia dengar engkongnya gedruki kaki dan terus bentindak pergi. Ia berhenti menangis, karena ia merasa heran.

“Kenapa tabeatnya engkong berubah jadi begini rupa?” tanya ia  pada dirinya sendiri. “Tentang perbuatannya diwaktu muda, aku tidak tahu, akan tetapi ada sialnya yang aku tahu benar, engkong ada berhati murah. Kenapa baru saja keluar merantau pula, lantas ia jadi kejam begini? Apakah mungkin, karena usianya yang tinggi, ia  jadi linglung?“ Berbareng dengan itu, Ah Loan-pun berkuatir engkong itu menjadi nekat, timbul pikirannya yang pendek, atau dia akan turun gunung, akan bantu Tiat Tiang Ceng pergi kepung Kang Siau Hoo.

Tidak ayal lagi, nona ini keluar dari kamarnya. Ia pergi kepekarangan dimana ia tidak lihat engkong itu, maka ia terus pergi ke depan, dan mana ia-pun pergi kebelakang, karena di depan, Cin Hui-pun tidak ada. Ia mulai sibuk. Itu waktu, sang malam telah datang bersama cuacanya yang gelap, sedang disitu ada banyak pepohonan yang lebat, sampai-pun sinar bintang-bintang tak dapat menembusnya. Sebaliknya, sang angin menyebabkan pohon-pohon cemara menerbitkan suara berisik.

Dengan air matanya meleleh turun, Ah Loan kembali kekamarnya. Itu antero malamn, ia tidak dapat tidur, ia punya pikiran tidak tenteram, ia berkuatir dan berduka.

Selama satu malam itu juga Pau Cin Hui luntang lantung saja digunung itu. Ia tahu Tiat Tiang Ceng pergi cari Kang Siau Hoo tetapi ia tak tahu, apa hweeshio itu sanggup lawan si anak muda yang gagah. Ia ada sangat menyesal yang ia sudah kesalahan membinasakan Cin Siau Hiong. Ia merasakan tegoran cucunya barusan, ia berduka.

“Jikalau muridnya lihat Tiang Ceng berhasil mengajak Thio Cie Cay atau Ma Cie Hian datang kemari, apa  aku ada muka akan menemui mereka?“ demikian ia berpikir. “Umpama kata mereka ajak aku pulang, tetapi selama Kang Siau Hoo masih belum mati, dia tentu masih belum mau sudahi urusannya dengan aku …”

Dengan pikiran yang kusut Cin Hui terus jalan sana dan jalan sini tanpa tujuan, sesudah ia lelah, ia  berhenti dibawah sebuah pohon cemara, ketika ia rebahkan diri, ia kepulesan. Ketika ia mendusin, hari sudah bukan pagi lagi. Untuk tangsel perutnya yang  lapar, ia  munguti buah cemara, ia kepe kulitnya dan dahar itu.

Tidak antara lana datanglah tiga ekor menjangan, yang mendekati ia, akan cium ia berulang-ulang, nampaknya binatang itu jinak sekali, maka itu, ia cabuti rumput, ia kasih binatang itu makan sambil usap-usap tanduknya. Dengan cara demikian sambil main sama menjangan itu, ia lewatkan temponya. Selama itu, ia tidak lihat Tiat Tiang Ceng, dan Ceng Hian-pun tidak kembali bersama ia punya murid atau murid-murid. Ia menjadi heran, ia bersangsi.

“Apa bisa jadi pertempurannya Tiat Tiang Ceng dengan Kang Siau Hoo masih belum ada keputusannya?” ia menduga-duga. “Atau bisa jadi Tiat Tian Ceng telah rubuh ditangannya Siau Hoo dan ia tak ada mudah untuk balik kemari? Apa mungkin beberapa muridku, yang berada tidak terlalu jauh dari sini, seperti Lou Cie Tiong, Ma Cie Hian dan Thio Cie Cay, pada tidak sudi mengaku lagi aku sebagai guru, hingga mereka tidak suka datang menyambut aku?”

Cin Hui terus berada dalam kesangsian, kebingungan, kekuatiran dan kelaparan juga. Ia-pun tidak berani kembali ke kuil, untuk menemui cucunya, buat minta makan.

Adalah selagi Pau Kun Lun berada dalam kedudukannya yang sulit itu, Kang Siau Hoo dapat mencari ia, dan kapan jago tua ini tengok itu musuh, ia kaget bukan kepalang, semangatnya seperti terbang, tidak ayal sedikit juga, ia lari ke arah kuil, ia masuk terus keruangan Lu Cou-su, akan ketemui cucunya.

“Siau Hoo datang! Dia kejar aku. Tolong aku …“ demikian ia mohon pada cucunya itu. Sembari berkata begini, dengan tangan gemetaran, engkong ini cekal tangannya sang cucu. Ah Loan kaget, ia berduka berbareng mendongkol.

“Kang Siau Hoo, pikiranmu terlalu cupat!“ kata ia seorang diri, dalam hatinya. “Engkong sudah lari ke ini gunung, sudah tinggalkan pergaulan, kenapa kau masih susul ia dan hendak membinasakan juga?”

Selagi Ah Loan berpikir demikian, Siau Hoo menggedor pintu, maka Si nona lantas pergi keluar, dengan kesudahan seperti apa yang kita sudah ketahui, nona itu merampas orang punya pedang, untuk dipakai menikam diri, walau- pun Siau Hoo mencegah , ujung pedang dari tenggorokan lalu mengenai cada. Tadinya Ah Loan pikir, dengan beri keterangan pada engkongnya, sang enkong nanti mengerti duduknya hal dan suka maklum, diluar dugaan engkong itu gusar dan pergi meninggalkan dia, hingga dia jadi bertambah berduka, sedang itu waktu lukanya ada hebat, terpaksa ia antap Siau Hoo bawa ia kedalam kamar untuk rawat ia. Disini ia jadi dapat ketika akan buka rahasia hatinya kepada si anak muda, siapa juga utarakan isi hatinya kepadanya.

Kesuiltan tidak berhenti sampai disitu. Apa mau Too Teng Su-kou datang dengan terus satrukan Siau Hoo, yang ia bokong hingga pemuda itu terluka peluru besi, hingga keduanya jadi bertarung dengan kesudahan imam itu kalah dan mesti angkat kaki sambil menantang musuhnya bertanding pula nanti di Bu Tong San.

Demikan dengan Ah Loan, sesudah Siau Hoo berangkat ke Un-sin-tin, akan cari kereta, ia terbenam sendirian dalam kusutnya pikiran, hingga ia  ngelamun dan bayangkan pengalaman atau penderitaannya yang maha hebat, tetapi diakhirnya pikirannya toh terbuka juga hingga ia jadi hanya berduka dan bergirang berbareng. Ia-pun punyakan harapan besar, bagaikan pohon yang sudah kering mendapat air dan jadi segar pula. “Semua tidak ada yang salah kecuali aku ... “  demikian ia putuskan. “Aku cintai Siau Hoo, mengapa aku tidak utarakan itu, kenapa aku manda yaya nikahkan aku dengan Kong Kiat? Coba aku pisahkan diri dari kaum Kun Lun Pay, aku cari Siau Hoo dan nikah padanya, bisa jadi ia  tidak sampai desak yaya ... Ah, kenapa dulu aku tidak berpikir begini?”

Malam itu, sehabisnya semua imam bersembahyang dan masuk tidur, Kiu Sian koan jadi sangat sunyi, apa yang masih terdengar adalah sampokan angin antara pohon- pohon cemara dan kucing hutan. Sekali pun si imam yang rawati si nona sudah tidur menggeros. Cuma Ah Loan sendiri yang masih belum tidur, karena rasa sakinya mengganggu padanya. Justeru itu, diluar Too Teng Su-kou muncul pula di kuil itu.

Too Teng ini, seperti diketahui ada sucie saudara seperguruan dan Tiat Tiang Ceng si Pendeta Aneh. Dia gagah seperti sang sutee, ia biasa merantau tak ketentuan, benar dia bukan satu imam cabul, akan tetapi ia tak pantang mencuri atau membunuh orang. Dua-dua su-cie dun sutee ini pernah lakukan kejahatan, tetapi juga benar, sering merela lakukan perbuatan-perbuatan mulia. Melainkan ada satu cacat luarbiasa dari mereka, yalah mereka  tidak senang, mereka tidak mau ijinkan ada lain orang kangou yang terlebih gagah daripada mereka, atau mereka mesti mensatrukannya.

Siok Tiong Liong ada satu jago yang ke sohor, ia menjagoi sejak umur muda, pada sebelumnya Tiat Tiang Ceng dan Too Teng muncul, tapi setelah ia berusia lanjut kedua imam itu desak padanya hingga terpaksa ia pindah kelain tempat, untuk jauhkan diri.

Cuma ada satu orang, yang kedua imam tidak sanggup ganggu, sebaliknya merekalah yang dibuat malu. Dia ini ada satu siucay tua, yang bugeenya liehay sekali, yang tak ketentuan tempat kediamannya. Orang tua ini tidak berniat membinasakan mereka sebagaimana pernah dia menasehati mereka itu, katanya : “Kendati kau orang sudah malang melintang di dunia kangou dan pernah juga membunuh sejumlah jiwa. Tapi karena kau orang juga pernah lakukan berbagai kebaikan, kebaikan itu sukalah aku pakai tebus kejahatan kau orang, aku suka mengasi ampun, hanya mulai saat ini selanjutnya kau orang mesti masuk kedalam gunung untuk sucikan diri, jangan lagi kau orang hidup dalam dunia kang-ou.”

Itu adalah kejadian selang dua atau tiga belas tahun yang sudah. Ketika itu dimulai Tiat Tiang Ceng berikan janjinya, akan tetapi didalam hati ia dan sucienya tidak puas, malah mereka memikir untuk menuntut balas.

Siucay tua itu sering muncul diantara Cin Nia dan Ngo Bie San, karena itu terpaksa Tiat Ciang Ceng berdua perbataskan diri. Berbareng dengan itu mereka berdaya akan menerima murid, supaya kemudian murid-murid itu bisa digunai sebagai kaki tangan mereka untuk mereka lawan musuh besar itu.

Begitulah sejak sepuluh tahun yang lalu Tiat Cian Ceng dapati Ceng Hian sebagai muridnya, dan belakangan ia dapatkan juga Tio Hek Hou, Too Teng Su-kou sebaliknya belum mempunyai murid, ini disebabkan ia ingin dapati murid perempuan serta juga yang sudah mengarti silat. Untuk lebih gampang dididik. Dia dapatkan cuma dua orang perempuan, yang berderajat utuk jadi muridnya, ialah Pau Ah Loan dan Cin Siau San, tetapi mereka ini masing- masing ada cucunya Pau Kun Lun dan nona mantunya Long Tiong Hiap, ia tahu mekipun ada jalan muridnya, mereka tidak bakal ikuti ia terus menerus. Tak dapat ia gunai tenaga mereka, ia batalkan niatnya itu. Adalah sekarang setelah Kun Lun Pay runtuh, Ah Loan terlunta- lunta malah nona itu ditolongi Tiat Tiang Ceng dan dibawa ke kuilnya, lalu timbul pula keinginannya akan ambil nona itu menjadi muridnya. Ia pulang ke kuilnya justeru Kang Siau Hoo-pun datang untuk tolongi si nona.

Kang Siau Hoo adalah musuh besar Too Teng, melulu disebabkan Siau Hoo ada muridnya loo-sinshee, si siucay tua, ia benci orang punya murid ini, justeru ini pemuda disangka olehnya sudah membinasakan Tiat Tang Ceng, ia punya sutee, hingga mau membalas sakit hati. Ia sudah berhasil bokong musuh itu, siapa tahu ia  sendiri kena ditotok sampai ia rubuh tidak berdaya, busurnya dibengkoki, goloknya dipatahkan. Ia anggap semua itu ada hal yang memalukan ia, hingga sakit hatinya jadi bersusun tindih. Ketika ia angkat kaki, ia  tidak pergi jauh, ia sembunyi diatas sebuah pohon cemara. begitu lekas ia lihat Siau Hoo turun gunung, ia segera kembali ke kuilnya, terus saja ia datangi Ah Loan.

Nona Pau sedang rebah sambil merintih ketika ia dengar tindakan kaki.

“Eh, kenapa kau kembali?” tanya si nona sebelum orang memasuki kamarnya. “Baik kau jangan sewa kereta, aku rasai lukaku ada hebat sekali, barangkali itu tak dapat disembuhkan, hingga aku tak dapat ikut pergi.  Kau tetapkan hati, aku sekarang sudah berkeputusan tetap, aku tak menyesal lagi aku akau jadi isterimu!”

Ah Loan menyangka pada Siau Hoo, ia  mengucap demikian tanpa tunggu orang muncul, siapa tahu sebagai jawaban, ia dengar suara tertawa aneh yang disusul dengan jengekan : “Kemarin ini kau nyatakan ingin menjadi imam, sekarang kau hendak menikah! Malah kau hendak sia- siakan suamimu! Oh, perempuan cabul!“ Tidak terhingga adalah kagetnya sinona, apa-pun setelah ia kenali orang punya suara dan lihat orang punya roman. Too Teng ada punya bahan api siong-hio, kapan itu ditiup menyala, maka tertampaklah imam ini punya roman bengis dan mata yang mengancam sinarnya. Ia lantas saja menangis.

“Su-kou, kau tidak tahu hal-ikhwal kita …“ ia berkata. “Denan Kang Siau Hoo, aku ada punya perkenalan sejak sepuluh tahun yang lalu ... ”

Too Teng tidak menjawab, hanya tertawa mengejek, terus ia cari dua lembar tambang, sesudah padamkan apinya ia menghampiri si nona, untuk ringkus padanya.

Ah Loan rasai orang punya tangan yang berat dan kuat, sudah begitu, ia sedang terluka, tak berdaya ia ketika imam itu ringkus ia dengan keras, malah saking sakit, ia menjerit, kemudian ia lupa akan dirinya!

“Aku nanti bawa kau pergi!” kata si imam dengan sengit, walaupun orang sudah pingsan. “Aku nanti nikahkan kau! Setiap kali kau nikah, aku nanti bunuh suamimu, supaya kau bisa menikah terus dengan suami yang baru!”

Imam ini tidak dapat kendalikan diri, ia hinai si nona itu yang tidak berdaya. Kemudian ia angkat orang punya tabuh, yang ia beri naik atas panggulannya, terus ia bawa pergi dari kuilnya itu turun gunung.

Ah Loan pingsan, ia  tidak tahu segala kejadian atas dirinya, ketika belakangan ia sadar dengan  pelahan-lahan, ia dapatkan dirinya masih diringkus dengan keras, ia tetap tergendol imam perempuan yang bengis itu.  Hebatnya setiap kali Too Teng menindak yang mana berarti tubuhnya turut bergerak, ia berjengit, karena ia merasakan sakit skali. Too Teng sendiri tidak pernah lalai, jalannya makin lama makin cepat, dia berlari-lari, agaknya dia berkuatir. Beberapa jauh ia sudah dibawa pergi, Ah Loan tidak tahu, hanya tiba-tiba, ia dengar tindakan kaki berlari-lari dan seekor kuda disebelah belakang ia, habis itu, Too Teng berlompat ke pinggir jalanan.

“Bur!“ demikian satu suara.

Ternyata imam itu sudah loncat ke air yang tidak dalam, tapi kedua kakinya toh terendam di air. Ia dibawa pergi ke kolong jembatan dimana imam ini umpatkan diri.

“Jangan bersuara!“ imam itu-pun mengancam, dengan bengis.

Hal 26 dan 27 Hilang/robek!

… minta banyak tempo. Nyata orang lelaki itu ada liehay sekali, baru tiga gebrak, ia sudah hajar si imam perempuan hingga rubuh, tatkala dia merayap hendak berbangkit, orang itu sudah mendahului mendupak padanya, hingga tidak tempo lagi ia rubuh pula, tubuhnya bergulingan beberapa kali.

Selagi orang bergulingan, si orang lelaki samber Ah Loan, untuk dikempit, kemudian dengin gesit dia lompat naik keatas kuda, yang segera ia kasih kabur meninggalkan si imam perempuan.

Ah Loan kaget dan tidak mengerti, ia merintih bahna kesakitan. Ia punya napas-pun mengorong.

“Siapa kau?“ ia tanya. “Apakah kau ada orang yang Kang Siau Hoo suruh tolongi aku?”

Pertanyaan itu tidak dapat jawaban, itu orang lelaki diam saja, kudanya terus dikasih larat. Terang sekali dia ada bertenaga sangat kuat dan sebat, akan tetapi kempitannya ada enteng. hingga si nona tak usah merasakan sakit. Sekejap saja, kuda itu sudah kabur melalui tiga atau empat puluh lie. Selama itu, tidak pernah orang itu tukar ia punya tangan, rupanya sama sekali ia tidak merasa pegal.

Tempo cuaca sudah menjadi terang betul, barulah itu orang letaki berhentikan lari kudanya, ia loncat turun, akan letaki tubuhnya Ah Loan diatas rumput, diberi turunnya secara sangat hati-hati. Kemudian, ia keluarkan sebuah pisau kecil, yang ia pakai memotong putus tambang yang meringkus nona itu, hingga dilain saat, Ah Loan sudah merdeka.

Sembari bekerja, orang itu menggoyang-goyang tangan, mengasi tanda supaya Nona Pau tidak buka mulutnya.

Ah Loan ada sadar betul. Ia lihat orang berusia empat- puluh lebih, tubuhnya tidak tinggi. air mukanya tidak terlalu terang, kuncirnya digulung diatas kepalanya. Orang itu punya baju ada pendek, sudah pecah disana-sini, juga kotor, sebagaimana celananya, yang juga pendek, yang asalnya ada hitam, tapi karena tua dan terkena lumpur, warnanya jadi tak keruan macam mirip dengan warna bajunya. Dia punya kedua kaki, yang berlepotan lumpur, ditutup dengan sepatu rumput. Dengan dandanannya itu, dia adalah seorang desa yang melarat atau satu bujang tukang nyalakan api diwarung tegalan.

Masih orang itu tdak bicara, ia hanya antap Ah Loan beristirahat, hanya kemudian, ketika dari  kejauhan tertampik ada kereta mendatangi, ia angkat tubuhnya si nona, untuk diberi naik atas kudanya.

Ah Loan diam saja, bagaikan mayat, ia antap dirinya dinaikkan atas bebokong kuda, ia juga tidak bicara. Ia melainkan tahu, kuda dikasi jalan dengan pelahan.

Lama juga mereka sudah ambil tempo, akhirnya mereka sampai disatu tempat di mana segera terdengar suara anjing menggonggong. Ah Loan tidak tahu, berapa lie sudah dilewati. Mereka sekarang memasuki sebuah kampung, kedalam suatu tempat dengan pekarangan yang lebar. Disitu ada sejumlah orang yang menghampiri mereka.

“Eh, apakah artinya ini? Entah dari mana toaya ini bawa-bawa orang perempuan?” demikian Ah Loan dengar orang saling tanya, agaknya mereka itu merasa heran.

Orang itu mengarti bahwa orang herankan dia, dia cuma tertawa, dengan tidak buat suatu apa, ia jalan lerus, sampai di depan sebuah rumah tanah, ia  berhenti, ia angkat tubuhnya nona itu, untuk dibawa masuk kedalam rumah itu, yang mirip dengan gubuknya si orang ronda.

Didalam gubuk ada sebuah pembaringan tanah, diatas itu ada tergelar selembar kasur, keatas itu, Ah Lan diletaki. Sampai disitu, orang ini awasi Si nona,

Orang-orang tadi telah datang berkumpul, mereka bergerumuan dimuka rumah tanah itu terus sampai didalam, dimuka pintu, yang menjadi penuh.

Ah Loan merintih, tapi sekarang ia menanya.

“Aku tahu kau ada orang baik, tapi tempatmu ini tempat apa?”

Orang itu tidak menjawab, hanya dengan jari tangannya, ia tunjuk ia punya hidung, ia perlihatkan ia punya jempol, disusul sama dipentangnya, digerakinya kedua lengannya, akan akhirnya, ia tunjuki ia punya kelingking.

Ah Loan tidak mengarti, ia menjadi heran sekali.

Orang banyak, yang menyaksikan itu, pada tertawa berkakakan.

“Dia ada seorang gagu, dia tak dapat bicara,” kemudian seorang tua beritahukan Nona Pau. “Dia juga ada tuli. Melainkan wan gwee kita yang mengarti ia punya pembicaraan dengan gerak-gerakan tangannya itu.”

Ah Loan jadi tambah-tambah heran.

“Bagimana Si gagu tolong aku? Kenapa?“ demikian ia tanya dirinya sendiri.

Si gagu mengarti yang orang tak mengarti dia, agaknya dia sibuk, maka kembali ia geraki ia punya jari-jari tangan dan kedua lenganya itu, sekali ini, ia  bersikap seperti menelad burung terbang, hingga kelakualnya itu membuat semua orang yang ada pegawai-pegawai disitu ada tertawa terpingkal-pingkal, hingga mereka tak dapat tutup mulut mereka …

Sementara itu ada orang yang telah pergi memberi kabar pada wan gwee, hartawan yang menjadi tuan rumah atau pemiik dan kampung itu, yang rumahnya besar dia ini sudah lantas muncul. Ia sudah tua sudah kumisan, tangannya menyekal sebatang tongkat, pakaiannya dari sutera, romannya ada manis budi.

Kapan Si gagu lihat wan-gwee itu, segera ia bicara pula dengan kedua tangannya. Ia pentang kedua tangannya, yang ia geraki kembali seperti burung terbang. lalu ia tunjuk Ah Loan seraya terus bersikap sebagai orang memukul tambur dan meniup terompet.

Hartawan tua itu mengawaai, ia berpikir, akhirnya ia manggut-manggut dan tertawa.

Lalu, sambil tunjuk si gagu itu, ia bertanya pada si nona : “Dia ini gagu tetapi ia ada satu hiap-kek, orang gagah yang hatinya mulia. Dia-pun ada punya kepandaian yang liehay. Aku sendiri ada Gan Pek, pada dua puluh tahun yang lalu, aku ada memangku pangkat. Pernah aku menjadi Too-tay di Bu-hu-too di propinsi An hui. Dua kali sudah Si gagu ini tolongi aku punya jiwa. Dia benar gagah dan mulia. Baru belakangan ini dia datang mencari aku disini. Menurut dia punya gerak-gerakan tangan itu, aku duga dia ada punya satu saudara seperguruan, entah suheng atau sutee, dan namanya barangkali Hoo atau Au, dua-duanya berarti burung. Dia datang ke Siamsay Selatan ini, untuk cari saudaranya itu. Aku beri dia tinggal disini. Sering-sering dia pergi dan kembali. Barusan dia hunjuki gerakan memukul tambur dan meniup terompet, rupaya dia beritahukan aku bahwa kau ada isterinya dia punya saudara itu karena mana, dia jadi sudah bawa kau kemari. Aku cuma menduga-duga, nona, dugaanku itu benar atau salah, harap kau tidak buat kecil hati.”

Hartawan ini berdiam sesaat, lantas ia melanjutkan. “Aku lihat kau terluka, nona, siapa sudah aniaya

padamu?” tanya ia. “Nona asal dari mana?”

Sekarang Ah Loan mulai mengarti. Rupanya Si gagu ini adalah suheng, saudara tua dalam perguruan, dari Siau Hoo. Dan ia menjadi sangat berduka, hingga ia lantas saja menangis. Ia-pun merintih. Tapi hartawan itu tanya ia, ia mesti menjawab. Karena ada hal-hal yang ia tak dapat dijelaskan, ia bicara dengan ringkas.

“Aku benar ada isterinya Kang Siau Hoo,” ia  aku dengan terpaksa. “Satu penjahat perempuan sudah begal aku, baiknya ada si gagu ini yang tolongi aku ditengah jalan. Aku tidak punya rumah sekarang, aku ingin sekali bisa bertemu dengan Kang Siau Hoo ... ”

Gan Wan-gwee menghela napas, kelihatannya ia sangat menaruh perhatian, ia merasa berkasihan terbadap nona ini.

“Apakah kau tahu dimana adanya Kang Siau Hoo sekarang?” ia tanya. “Boleh jadi dia berada di kuil Kiu Sian Koan di In Ciat Nia,” sahut Ah Loan sesudah dia merintih.

Gan Wan-gwee berdiam. Ia tidak kenal kuil itu dan gunungnya, ia jadi tidak bisa memberkan lukian apa-apa pada Si gagu. Tidak ada jalan lain, ia lantas geraki kedua tangannya, seperti sayap burung terbang, lalu ia  menjambret-jambret ke arah udara.

Si gagu mengerti tanda-tanda itu, yalah ia ia disuruh pergi cari kang Siau Hoo, maka ia lantas manggut-manggut dan segera keluar pula dari rumahnya, nampaknya ia sangat gembira.

Wan-gwee sendiri terus perintah satu orangnya masuk kedalam, untuk panggil beberapa bujang perempuan guna mereka layani dan rawat nona Pau.

Tidak lama nona Wan-gwee bersama nona mantu dan cucunya perempuan-pun muncul, akan tengok itu tamu perempuan. Nyonya rumah dengan manis-budi anjurkan Ah Loan rawat diri baik-baik.

“Ah Loan ada sangat berterima kasih untuk orang punya kebaikan itu. Akan tetapi disebelah itu, ia  merasakan lukanya menjadi terlebih hebat akibat penganiayaannya Too Teng dan ia mesti tergendol dan rebah melintang diatas kuda, yang bawa ia larat, maka itu, sambil merintih, ia kucurkan air mata.

Itu waktu, Si gagu telah pergi untuk bersantap pagi. Beberapa chungteng, pegawai wan-gwee, puji ia sambil unjukkan jempolnya. Ia kelihatannya girang ia  sampai tepok-tepok dada. Habis dahar, ia pergi tuntun kudanya, akan keluar dari kampung itu, Gan-kee-chung, dengan ikuti jalan besar ia kabur ke barat. Si gagu ini tidak bisa bicara, ia juga tidak kenal mata surat, akan tetapi, pada dua puluh tahun yang lampau, ia telah ikuti gurunya merantau, karena itu, ia kenal baik berbagai propinsi dan jalanannya, malah ia tahu juga, gunung mana ada beberapa pay atau tugu. Disebelah itu, ia pernah jadi sebagai bayangannya Kang Siau Hoo.

Di hari ke dua setelah Siau Hoo turun gunung, Si gagu telah dapat tugas dari gurunya. Loo-sinshe itu, Si siucay tua, ketahui sampai dimana kepandaiannya Siau Hoo, muridnya yang baru itu, dan ia-pun kuatirkan muridnya ini nanti gunai kepandaiannya untuk main gila. dari itu ia ingin menilik. Untuk ini, ia kirim si gagu. Ketika ia  berikan titahnya, ia ambil secabang pohon, dengan itu ia corat coret ditanah, membuat peta jalanan. Si gagu lantas mengarti bahwa ia dimestikan kuntit suteenya.

Buat belasan tahun si gagu kenal sang sutee, akan tetapi sampai segitu jauh ia tidak tahu she dan namanya  Siau Hoo, hanya pernah satu kali, diwaktu mereka lihat burung hoo terbang melayang-layang, Siau Hoo hunjukkan huruf itu pada suhengnya, ia tunjuk burung itu, terus ia tunjuk dirinya sendiri, maka barulah Si gagu tahu, sutee ini bernama Hoo.

Si gagu tidak tahu setelah seberangi sungai, Siau Hoo telah beli kuda, ia jalan dengan ikuti penghunjukan gurunya, tapi karena ia berjalan kaki, walau-pun ia jalan cepat, ia tak dapat candak suteenya itu. Inilah sebabnya, baru setengah bulan yang lalu, ia sampai di Gan-kee-chung, dirumahnya si wan-gwee she Gan bekas too tay yang tinggal di distrik Seng-kau. Ia hargai toa-tay itu, yang ada satu pembesar jujur, sedang juga, adalah si too-tay yang paling mengarti ia punya gerak-gerakan tangan. Baru dua hari ia tinggal bersama Gan Wan-gwee, lantas ia lanjutkan perjalanan, menuju ke Tin-pa. itu adalah tempat yang gurunya utamakan dalam corat-coretnya. Sampai didaerah ini, ia lantas singgah, ia segera mulai cari Siau Hoo. Ia sudah pergi ke Pau-kee-cun, ke Bie Chomg San, In Ciat Nia juga, tidak lantas ia berhasil mencari ia  punya adik seperguruan. Sebaliknya, ia dapat lihat Tiat Tiang Ceng dan Too Teng Su-kou. Ia kenal itu dua su-cie dan sutee, yang dimatanya adalah orang-orang galak dalam kaum  kangou, ia lantas perhatikan mereka, hingga ia curigai mereka. Ia percaya, mereka hendak lakukan sesuatu, ia segera pasang mata, ia ingin dapati Tiat Tiang Ceng punya perbuatan buruk, supaya ia bisa mendahului turun tangan.

Demikian datanglah itu hari, yang Kang Siau Hoo sampai bersama-sama Ngo Kim Piu dengan mengiringi Pau Kun Lun sebagai orang tawanan, dan justeru Siau Hoo pergi meninggalkan kawan dan musuhnya itu dirumahnya si pemburu suami-isteri, Tiat Tiang Ceng yang senantiasa intip Siau Hoo sudah lantas datang, untuk turun tangan. Hweeshio ini tolongi Pau Cin Hui sambil dilain pihak bunuh Ngo Kim Piu dan suami-isteri pemburu itu. Kejadian ini, si gagu ketahui dengan baik.

Si gagu-pun menonton dari tempatnya sembunyi ketika Siau Hoo layani berkelahi pada si pendeta yang tenaganya besar. Ia kagumi ia punya sutee itu, yang kepandaiannya ada sempurna. Dan tempo Tiap Tiang Ceng kena dihajar rubuh, jatuh menggelinding kebawah gunung, adalah ia yang susul pendeta itu, yang ia bunuh, sesudah mana, ia ambil seekor kuda, untuk dibawa pergi. Ia tidak pergi jauh, ia buang kepalanya Cie Khie disatu selokan, kuda itu ditambat, di tempat yang tersembunyi, lalu ia kembali, akan awasi terlebih jauh sepak terjangnya ia punya sutee.

Siau Hoo berhasil menemui sepatu merahnya Ah Loan, pemuda ini telah kawal si nona didalam kamarnya, selagi si nona terluka, semua itu si gagu dapat lihat dengan matanya sendiri. Karena ini juga, ini suheng sangka nona itu adalah isteri atau tunangannya sang sutee. Diam-diam ia tertawai laga-lagunya sutee itu.

Satu hal membuat si gagu ini gusar terhadap sang sutee. Yalah ketika Siau Hoo totok rubuh pada Too Teng Su-kou. Ia anggap perbuatan itu ada semberono, ada menyalai pesan dari guru mereka untuk tidak sembarang gunai Tiam- hiat-hoat. Di saat ia pikir untuk berikan hajaran pada sutee itu, ia justeru saksikan Siau Hoo telah tolongi si imam perempuan, kejadian ini membuat amarahnya reda, apa pula ia lantas lihat sesudah keluar dari kuil, Too Teng umpatkan diri diatas pohon cemara, hingga ia menduga, perkara bakal ada ekornya. Maka itu, ia terus umpatkan  diri, ia hendak lihat kejadian selanjutnya, ia  juga ingin ketahui Siau Hoo sanggup atau tidak layani terus imam perempuan yang licik itu.

Apa yang terjadi terlebih jauh adalah Kang Siau Hoo sudah berlaku alpa, malam-malam dia pergi turun gunung, untuk mencari kereta, hingga ketika yang baik itu sudah tidak disia-siakan oleh Too Ceng, siapa muncul pula di kuilnya, untuk culik Ah Loan, yang dia bawa lari.

Dan hal ilmu lari keras, Too Ceng ada terlebih lihay daripada si gagu, ia-pun kenal baik jalanan digunungnya  itu, maka itu, ia buat si gagu ketinggalan, hingga Si gagu itu terpaksa kembali ketempat sembunyian kudanya, buat dengan menunggang kuda, datang mengejar pula imam yang licin itu.

Si gagu ada cerdik, ia percaya ia sudah lewati si imam, ia lantas saja pakai akal, yalah ia antap kudanya ditepi jalan, ia sendiri umpatkan diri. Ia berhasil, ia kena akali Too Ceng, siapa mengira kuda itu dia bisa culik. Tadinya si gagu pikir untuk binasakan imam perempuan itu, disaat terakhir, ia memberi ampun. Ia ingat Si imam ada orang perempuan dan ia malu untuk berlaku telengas. Demikian, sesudah bebaskan Too Ceng, ia bawa Ah Loan  ke Gan-kee-chung, ke rumahnya bekas tootay she Gan itu. Adalah  setelah dapat usul dari Gan Wan-gwee, ia berangkat pula akan cari ia punya sutee.

Ditengah jalan, Si gagu ini sudah pikir:

“Kapan aku bertemu sama Siau Hoo, paling dulu aku mesti sentil kupingnya sampai beberapa kali, habis itu aku mesti gusur dia ke hadapan suhu, buat minta suhu tanya padanya, kenapa dia lancang gunai Tiam-hiat-hoat, sesudah dia ditegor, baru aku nanti suruh dia pergi pada isterinya ... ”

Si gagu yalah Ah Hiap, atau Jago Gagu yang kita kenal belakang pandai menunggang kuda, ia larat dengan kudanya hingga dalam tempo pendek sekali, ia sudah sampai di kaki bukt In Ciat Nia.

Tapi ini kali ia sampai justeru ia dapat keadaan  ada ramai, yalah ada kereta, ada sejumlah orang. Ia menjadi heran, segera ia turun dari kudanya. Ia menghampiri satu orang kepada siapa ia serahkan ia punya kuda.

“Kau hendak apa?“ tanya orang itu.

Si gagu tidak dengar orang punya pertanyaan, ia tidak mengarti, percuma itu orang ulangi pertanyaannya, ia hanya tepok-tepok kudanya, lalu ia  usapi orang punya kepala, habis itu ia tinggalkan kudanya. Ia lari naik keatas bukit, terus sampai di Kiu Sian Koan dimana ia masuk kedalam.

Didalam kuil, beberapa orang sedang bicara dengan berbisik bersama rombongan imam perempuan, seperti juga mereka itu sedang berselisih. Melihat demikian, si gagu nyelak ditengah, terus ia geraki kedua tangannya, ia-pun berlompat-lompat. Terang ia tanya : “Dimana adanya si burung hoo?”

Beberapa orang itu ada Ma Cie Hian bersama Lou Cie Tiong dan Kie Kong Kiat. Kong Kiat punya luka sudah sembuh, pada beberapa hari yang lalu ia ikut Lou Cie Tiong ke Tin-pa.

Sementara itu, Ceng Hian sudah sampai di Tin-pa, untuk jalankan titah gurunya guna cani orang Kun Lun Pay. Di Pau-kee-cun, pendeta ini tidak berhasil mencari keuarga Pau. Sebabnya adalah sejak Thio Cie Cay terluka dan Pau Cie Lim pindah dengan ajak anak isterinya, rumahnya Pau Kun Lun ditinggal kosong, semua dikunci. Ceng Hian mesti tanya penduduk kampung tentang keluarga Pau itu akan tetapi ia ketemu orang-orang yang menggeleng-geleng kepala. karena tidak ada yang ketahui ke mana perginya keluarga yang tadinya tersohor itu.

Itu hari Teng Hian mencari dengan sia-sia , hingga ia mesti putar kayun didalam kota Tin-pa. Adalah malamnya, disebuah rumah makan, selagi ia dahar, ia ketemu seorang muda yang menyoren pedang, ketika ia ajak orang itu bicara, ternyata dia itu ada Kie Kong Kiat, maka lantas saja ia tuturkan ia punya maksud kedatangan.

Mengetahui Pau Cin Hui berada di In Ciat Nia, Kong Kiat tidak terlalu taruh perhatian, tetapi mendear Ah Loan berada di Kiu Sian Koan, ia girang bukan kepalang, segera ia ajak Ceng Hian menemui Ma Cie Hian dan Lou Cie Tiong, buat ajak mereka ini segera menyusul.

Itu waktu sudah malam, mereka tidak bisa lantas berangkat, dengan terpaksa Kong Kiat mesti bersabar satu malaman. Besoknya, pagi-pagi sekali, mereka sudah berangkat. Tapi, ketika akhirnya mereka sampai di Kiu Sian Koan, dua Pau Kun Lun dan Pau Ah Loan sudah tidak ada, dalam sibuknya, Kong Kiat minta keterangan dari imam-imam perempuan dari kuil itu.

Sekalian imam itu memang tidak ketahui kemana perginya Pau Cin Hui dan lenyapnya si nona yang terluka, mereka tidak dapat menerangkan. Mereka sendiri turut merasa heran.

Kie Kong Kiat tidak sabaran, ketika Ceng Hian ajak dia pergi mencari, mereka akhirnya ketemu rumahnya si pemburu suami-isteri dimana mereka dapati mayat suami- isteri itu berikut mayatnya Ngo Kim Piu, yang sudah rusak, dan kemudian lagi, Ceng Hian ketemui toya gurunya serta mayatnya guru itu, yang juga  sudah rusak, tinggal dua pahanya serta segundukan daging. Bukan main sedihnya pendeta muda ini, ia tangisi mayat gurunya itu.

Selagi begitu, Kong Kiat lari kembli ke Kiu Sian Koan, ia kumpulkan semua imam perempan, ia tanya mereka, tetapi mereka itu tetap tak dapat memberikan keterangan. Itu waktu, si gagu kebetulan datang

Keterangan yang bisa diberikan oleh rombongan imam itu adalah halnya Siau Hoo datang, bertengkar dengan Pau Kun Lun, bentrok dengan Too Teng Su-kou, yang kena dikalahkan, sesudah Too Teng pergi, malamnya Ah Loan lenyap, lalu paginya, Siau Hoo datang pula. Penuda ini menjadi gusar dan sibuk sebab Si nona lenyap tak karuan paran. Ketika rombongannya Kong Kiat sampai, Siau Hoo baru saja pergi.

Kong Kiat menjadi pusing kepala. Ia  sangsikan itu rombongan imam, ia percaya mereka ketahui duduknya hal tetapi tidak mau bicara, ia hendak gunai cambuk untuk hajar dan kompes mereka, tetapi Cie Hian dan Cie Tiong mencegah. Adalah disaat cucunya Liong Bun Hiap hampir kalap, datang si gagu, yang nyelak diantara mereka. Darahnya Kong Kiat naik dengan tiba-tiba. Ia memang lagi mendongkol dan uring-uringan, dengan tidak mengucap sepatah kata juga, ia angkat kakinya, ia tendang orang yang tidak dikenal ini.

Ah Hiap lolos dari tendangan, ia egos tubuhnya. “Binatang kurang ajar!“  Kong  Kiat  mendamprat. “Dari

mana   datangnya   binatang   ini,   yang   mengacau disini?”

Terus ia  membabat dengan pedangnya yang dihunus dengan segera.

“Sabar Kie Kou-ya!“ Cie Tiong dan Cie Hian berseru, untuk mencegah.

Hampir berbareng dengan cegahannya dua saudara ini ada terdengar suara “Trang!” dan “Buk!“ saling susul. Ah Hiap tidak terluka karena serangan hebat itu, sebaliknya, pedangnya Kong Kiat kena dirampas, dilemparkan ketempat jauh, hingga jatuhnya menerbikan suara nyaring, menyusul mana, kakinya si gagu melayang, kepada orang punya tubuh hingga lantas saja pemuda itu rubuh celentang.

Cie Tiong dan Cie Hian terkejut, sampai muka mereka berubah pucat.

Kie Kong Kiat merayap bangun selagi dua saudara itu tercengang. Ia jerih sekarang, ia berdiri sambil mundur dua tindak, cuma karena ia penasaran dan gusar, ia mengawasi dengan mata melotot.

“Binatang, kau buat apa?” ia menegor pula. “Apa kau punya she dan nama? Kau berani serang Kie Kou-ya?”

Ah Hiap tidak ketahui apa yang orang bilang, ia tidak dengar, hanya, tunjuki ia punya jempol, ia tunjuk dirnya sendiri lalu ia perlihatkan kelingking, kemudian ia beraksi pula seperti burung terbang. Melihat demikian, Kong Kiat jadi tambah murka

“Binatang, kau permainkan aku!“ ia berseru. Ia maju berbareng dengan kepalannya, akan menyerang pula.

Ah Hiap berkelit kesamping, ia tidak menangkis, hanya ia goyang-goyang tangan sebagai tanda mencegah: “Jangan menyerang!“ Kembali ia hunjuki jempolnya, ia  tunjuk dirinya, ia geraki kedua tangannya seperti burung terbang. Ini kali, ia teruskan itu seraya perlihatkan gerakan tangan dan tubuh seperti gerak geriknya seorang perempuan.

Mau atau tidak, Kong Kiat tertawa. “Apakah kau gila?“ ia tegasi.

Sampai disitu, Cie Tiong majukan diri ia tarik itu baba mantu keluarga Pau.

“Sabar, “ ia bilang. “Aku lihat orang ini gagu. Dia tentu ada punya urusan. Nanti aku yang ajak ia bicara.”

Ma Cie Hian juga lantas maju, ia dekati si gagu, untuk perhatikan orang punya gerak-gerak tangan. Si gagu tunjuk satu imam perempuan, lagi-lagi ia telad gerak geriknya seorang perempun, kemudian ia miringkan tubuhnya, seperti orang lagi rebah.

Pelahan-lahan, Cie Tiong bisa bade orang punya makud.

“Kelihatannya si gagu ini bermaksud baik,“ kata ia. “Dia datang untuk beritahukan bahwa Ah Loan sudah dibawa pergi oleh satu imam perempuan. Aku percaya, imam itu ada Too Teng Su-kou dari kuil ini ... ”

Dugaan ini mauk diakal karena itu Kong Kiat jadi sabar pula.

“Cobalah kau bicara, dengan dianya,” ia bilang pada Cie Tiong. Ia kerutkan alis. “Coba tanya Too Teng bawa Ah Loan ke mana. Minta supaya dia suka antarkan kita pergi menyusul!”

Cie Tiong menurut, ia mainkan ia  punya tangan, ia tepuk orang punya pundak terus ia menunjuk pintu, akan akhirnya ia jalan beberapa tindak.

Melihat itu, Ah Hiap goyang-goyang tangan dan kepalanya.

Kembali Kong Kiat jadi gusar, “Terang dia hendak ganggu kita,” kata dia. “Pasti dia gagu berpura-pura! Kalau tidak, kenapa dia tidak pernah buka mulutnya? Kenapa dia tidak bersuara sedikit juga?”

“Sabar,” Cie Hian bisiki kawan itu. “Aku lihat dia benar- benar gagu, dia punya bugee-pun liehay. Kita orang tidak kenal satu dengan lain, pastilah dia bukannya sengaja datang untuk ganggu kita!”

Disaat itu, muncul Ceng Hian. Dia baru saja  selesai bakar mayatnya dia punya guru, dia punya air mata masih belum kering.

Ah Hiap sudah lantas lihat hweeshio muda ini, dengan tiba-tiba ia maju mendekati, akan menjambak.

Ceng Hian kaget bukan main, mukanya menjadi pucat dengan tiba-tiba.

Cie Hian dan Cie Tiong segera maju, untuk pisahkan mereka.

An Hiap tidak lebih daripada menjambak, lantas ia tertawa pada hweeshio itu, kepada siapa ia-pun bicara dengan tanda gerakan tangannya.

“Jangan gusar, Ceng Suhu,” kata Cie Hian pada muridnya Tiat Tiang Ceng itu. “Dia ini ada seorang gagu, baru saja dia sampai. Dia telah perlihatkan dia punya bugee, kita dapat kenyataan dia ada liehay. Baru saja da bicara dengan kita dengan ia  punya berbagai gerakan tangan, kita tak mengerti itu tetapi kita bisa membade-bade. Rupanya dia beritahukan kita bahwa Ah Loan sudah dibawa lari oleh Too Teng Su-kou. Boleh jadi sekali, tadi pagi Kang Siau Hoo sudah datang kemari, dia tidak dapat ketemukan Ah Loan, dia lantas pergi menyusul.  Ceng Suhu, apakah kau tahu kemana perginya Too  Teng Sukou?”

Mukanya Ceng Hian masih tetap pucat, ia  masih menjublak saja.

“Aku tahu orang ini,” kemudian ia menjawab seraya ia tunjuk Ah Hiap, yang sudah lepaskan jambakannya. “Dia ada suhengnya Kang Siau Hoo. Sebenarnya suhu wafat, dia pernah beritahu aku yang Kang Siau Hoo ada punya satu suheng yang gagu, yang bugeenya sudah hampir sama liehaynya seperti mereka punya guru ... ”

Baru si pendeta berkata sampai disitu, Ce Hian, Cie Tiong dan Kong Kat jadi tercengang, hingga mereka mengawasi dengan bengong saja pada si gagu itu.

Ah Hiap sendiri tidak perdulikan apa yang orang bicarakan, ia hampirkan tembok, Ia jumput sepotong kapur, dengan itu ia menulis ditembok melukiskan seekor burung hoo tetapi yang tak ada miripnya, kemudian ia mencoret lempang dan berlugat legot seperti roman cacing, rupanya untuk hunjuki jalanan.

Ceng Hian bisa bade orang punya maksud.

“Si gagu ini tanya kita apa kita tahu sekarang Kang Siau Hoo ada dimana,” ia kata pada Cie Tiong. “Aku tahu Too Teng Su-kou pergi ke Bu Tong San. Cit Toa-kiam-sian dari itu gunung, semua ada dia punya sahabat-sahabat baik. Pasti dia bawa nona Ah Loan ke Bu Tong San dan pastilah Kang Siau Hoo sudah menyusul kesana.”

Mendengar disebutnya Bu Tong San, semangatnya Kie Kong Kiat jadi terbangun pula.

“Bu Tong San adalah tempat yang  aku kenal baik sekali!“ ia bilang. “Bagus! Dia cari dia punya sutee, aku cari aku punya isteri! Biar kita orang berdua pergi ke Bu Tong San!“

Lantas ia hadapi Ah Hiap, ia  tepok-tepok dadanya sendiri, ia tunjuk-tunjuk dadanya si gagu itu, kemudian ia perlihatkan ia punya jempol, buat unjuk bahwa ia kagumi suheng dari Kang Siau Hoo itu, bahwa selanjutnya mereka harus menjadi sahabat satu sama lain. Ia  juga lantas menunjuk ke tanah, akan melukisan burung hoo, lalu ia manggut seraya ia bilang : “Aku tahu tempat kepergiannya Kang Siau Hoo, mari aku antar kau!“

Dalam gembiranya itu, Kong Kiat lari ke tempat dimana pedangnya terletak, untuk pungut itu. Kemudian, ia menoleh pada Cie Tiong dan Cie Hian.

“Pergi kau orang lekas turun gunung, untuk cari loo-ya- cu!“ kata ia pada itu dua saudara seperguran. “Loo-ya-cu berlalu dari sini dengan tidak pernah pulang ke rumah, tentulah dia malu, tetapi tentulah dia belum pergi jauh.”

Habis berkata demikian, ia berpaling pada Ceng Hian. “Ceng Suhu,” katanya, “sampai kita bertemu pula!“ Ceng Hian manggut, tetapi ia pesan:

“Jikalau kau orang bertemu dengan Too Teng Su-kou, aku harap kau orang suka bicara secara baik-baik dengan dianya, jagalah supaya tidak sampai terbit  bentrokan,” demikian katanya. “Too Teng benar bertabiat keras, akan tetapi jikalau dia tidak didesak, dia pasti tidak akan celakai Ah Loan. Umpama dia diperlukan keras, hingga ia gusar, tidak bisa disangsikan lagi, nona itu bakal tak ketolongan jiwanya. Lagi aku mau minta tolong umpama kau bertemu dengan Kang Siau Hoo, kau boleh terangkan padanya, walau-pun guruku, Tiat Tiang Ceng, binasa ditangannya, pasti sekali aku tidak akan cari dia untuk menuntut balas. Sebabnya dari sikapku ini adalah, ke satu kita berdua dahulu ada bersahabat, ke dua aku sudah ambil putusan akan pergi kepedalaman gunung untuk sucikan diri, aku tak sudi lagi campur tahu segala urusan kangou.”

“Baik,” sahut Kie Kong Kiat, yang tidak sempat lagi untuk bicara banyak, terus saja ia tarik tangaunya Ah Hiap, untuk diajak berlalu dari kuil itu, akan bersama-sama turun gunung. Karena mereka sama-sama bawa kuda, mereka naiki masing-masing punya binatang tunggangan. Kong Kiat jalan disebelah depan, ia lantas bedal kudanya itu.

Ah Hiap, disebelah belakang, ikuti itu pengantar.

Perjalanan dilakukan ke arah timur, dengan cepat telah dilalui tujuh atau delapan puluh lie, hingga matahari sudah doyong kebarat. Ah Hiap belum bersantap tengah hari, ia merasa lapar, ia perdengarkan suara untuk memanggil- manggil kawan itu.

Kie Kong Kiat tidak mengerti, ia masih larikan kudanya, ketika ia menoleh ia geraki tangannya berulang-ulang, ia serukan: “Lekas!”

Au Hiap, mendongkol melihat orang punya sikap itu, ia kaburkan kudanya untuk menyusul, setelah menyandak ia jambret orang she Kie itu sampai Kong Kiat terguling jatuh dari atas kuda. Tentu saja ia jadi mendongkol. “Oh, orang gagu, orang edan!” ia mendamprat. “Coba aku tak tahu kau liehay, siapa sudi antar kau ke Bu Tong San?”

Ah Hiap tidak tahu apa yang orang bilang, ia tahan kudanya terus ia lantas tunjuk-tunjuk ia punya mulut, ia punya perut.

Menampak demikian, barulah Kong Kiat mengarti bahwa orang lapar dan ingin dahar. Ia sendiri juga segera merasakan perutnya menagih makanan, maka ia lantas manggut berulang-ulang dengan napas tersengal-sengal, ia loncat naik atas kudanya.

“Marilah!“ katanya, yang sekarang beri kudanya jalan pelahan-lahan.

Mereka jalan tidak seberapa jauh, sampailah mereka disebuah dusun.

Kong kiat menghampiri satu rumah  makan di depan mana ia loncat turun dari kudanya.

Ah Hiap girang sekali apabila ia lihat rumah makan, ia tertawa.

Setelah tambat kudanya di petatok di depan pintu Kong Kiat mendahului masuk kedalam rumah makan, si gagu ikuti ia. Kong Kiat masih sedikit uring-uringan. Ia lantas pesan arak, sakalian bersama makanan.

Jongos berlaku sebat dengan sajiannya.

Ah Hiap lapar luar biasa, ia dahar secara gembul, tapi tidak demikian dengan si orang she Kie yang masgul.  Dia ini hirup araknya ia merasa sukar akan telan nasinya. Ternyata ia dapat pikiran baru.

“Jikalau dari siang aku ketahui Ah Loan ada punya persahabatan dengan Kang Siau Hoo, sejak pertama Kun Lun Pay juga tak sudi aku bantui,” demikian ia ngelamun. “Sekarang menjadi sulit, hingga aku manusia bukan bukan hantu-pun bukan ... Lebih celaka aku sampai peroleh luka- luka, baru sekarang aku sembuh ... Sekarang  aku pergi ke Bu Tong, masih belum tentu aku dapat cari Ah Loan, atau umpama kita bertemu juga, barangkali satu pertempuran bebar mesti dilakukan … Apa arti pertempuran itu? Andaikata pihakku peroleh kemenangan, mungkin sekali, Ah Loan akan tetap menjadi kepunyaan Kang Siau Hoo ... Apakah harganya itu? Tapi sudah terlanjur, aku tak bisa tak campur tahu lebih jauh …!”

Pemuda ini menghela napas, ia punya pikiran ruwet, ia bersangsi, tanpa merasa ia gebrak meja.

Ah Hiap lihat orang punya kelakuan itu ia bersenyum, ia tunjuk sayuran maksudnya adalah menganjurkan orang dahar. Tapi Kong Kiat goyang kepala, ia tidak bernapsu, menampak mana Si gagu turut jadi masgul. Nyata agaknya ia tidak mengerti orang punya kemasgulan itu.

Sebentar kemudian Ah Hiap telah dahar habis nasi dan sayuran, ia-pun tenggak beberapa cawan arak.

Kong Kiat hendak bayar uang makan mereka, selagi ia hendak merogo saku Ah Hiap dului ia. Si gagu ini keluarkan sebungkusan kecil yang dekil, ketika ia buka itu disitu ada sejumlah perak hancur serta, tembaga ia pisahkan sejumlah uang yang cukup buat bayar perhitungan, kemudian sembari tertawa ia menunjuk keluar. Seperti ia hendak bilang pada kawannya: “Mari kita berangkat!“

Diam-diam Kong Kiat merasa si gagu ini ada harganya untuk dijadikan sahabat. Ia lantas turut keluar untuk loncat naik atas kuda masing-masing guna lanjutkan perjalanan mereka ke arah Timur. Mereka jalan pula lagi tiga-puluh lie, lantas mereka singgah dirumah penginapan, besoknya pagi-pagi mereka sudah melanjutkan pula. Mereka jalan sampai tengah hari, baru mereka singgah untuk bersantap.

Ah Hiap tidak bisa bicara, akan tetapi  didalam perjalanan itu Kong Kiat mesti turut ia punya kehendak. Hal yang membuat si anak muda masgul adalah si gagu tidak mau jalani segera tetapi juga tidak ayal-ayalan. Sebaliknya Kong Kiat ingin segera sampai di Bu Tong San, dia tidak sabaran hatinya seperti dibakar. Dengan terpaksa Kong Kiat sabarkan diri. ia harap betul. yang bugeenya kawan ini nanti sanggup tandingi tujuh akhli pedang dari Bu Tong San.

Tiga hari lamanya mereka sudah berjalan, baru mereka sampai di Tiok-kie, tempat ini masih terpisah seratus lie lebih dari Bu Tong San. Disini Kong Kiat jalan disebelah depan si gagu. Benar selagi mereka mendekati tembok kota distrik, tiba-tiba dari arah belakang mereka ada terdengar panggilan, “Kie Kong Kiat!”

Heran dan kaget adalah orang she Kie itu, siapa sudah menoleh dengan segera. Ia lihat lari mendatangnya dua ekor kuda yang masing-masing ada penunggangnya, kedua kuda berbulu putih dan hitam. Penunggang kuda hitam ada seorang bertubuh besar berumur kurang lebih dua puluh lahun, dan penunggang kuda putih ada satu pemuda dan sebagai anak sekolah, muka siapa ada putih. Kapan Kong Kiat telah lihat nyata anak sekolah itu, tanpa merasa ia tertawa dingin,

“Aha, Lie Hoag Kiat!” ia berseru. “Ketika bertempur di Wie Sui, kau telah terluka dan kabur, kiranya sampai sekarang kau belum mampus? Sekarang kau mau apa? Apakah kau berniat melakukan pertempuran pula?” Hong Kiat-pun tertawa ketika ia  punya kuda sudah datang dekat, ia tak merasa malu atau gusar karena itu ejekan, ia hanya kata: “Untuk orang Kangou, tubuh terluka belum pasti berarti kematian! Apa pula aku hanya mendapat luka tusukan pedang yang ringan sekali! Umpama kata sekarang aku telah mati, bagaimana dengan kau yang terkena piau dan juga pedang? Pastilah siang-siang kau sudah tidak bernyawa pula!“

Bukan kepalang gusarnya Kong Kiat, yang balik dijengeki, hingga segera ia raba pedangnya dan hunus itu, matanya mengawasi dengan mendelik pada orang she Lie itu.

Hong Kiat bersikap sangat tenang, sama sekali ia tidak undurkan diri.

“Buat apa, eh?” tanya ia sembari tertawa. “Umpama kata kau berhasil menusuk aku lagi sekali, nama kau pastilah tidak akan lewati namanya kang Siau Hoo!“

Kong Kiat tertawa dingin, pedangnya ia terus pegangi, tapi belum ia berhenti tertawa, tiba-tiba si gagu menjerit “ah-ah-uh-uh” hingga ia kaget dan segera loncat turun dari kudanya. Berbareng dengan itu, ia punya kuda berbenger dua kali, terus lompat, baru dua tindak, binatang itu sudah rubuh sendirinya!

Apakah sudah terjadi?

Selagi Kie Kong Kiat ejek Hong Kiat dia ini punya kawan, yang naik kuda bulu hitam, yang kulitnya hitam juga, sudah menghampiri Kong Kiat dari samping, lalu dengan tiba-tiba ia menyerang dengan gembolannya, yang tadinya digantung disamping kuda. Gembolan itu bulat sebagai semangka dan gagangnya panjang dua kaki lebih. Serangan itu diarahkan pada pinggang. Sukur orang she Kie itu keburu kelit, karena ia dengar suaranya si gagu, maka ia luput dari penyerangan gelap. Akan tetapi dia punya kuda, yang kena terhajar belakangnya, tak dapat ampun lagi.

Menampak demikian, si gagu pentang kedua tangannya, ia tertawa berkakakan.

Kie Kong Kiat mendongkol bukan main, ia loncat maju dan tikam Lie Hong Kiat yang berada diatas kudanya.

Orang she Lie itu keprak lompat ia punya kuda, berbareng dengan itu, ia-pun cabut ia punya pedang.

Si muka hitam loncat turun dari kudanya, ia merangsek kearah Kong Kiat, gembolannya telah diputar.

“Tahan!“ membentak Hong Kiat terbadap kawannya itu, ia bersikap bengis.

Orang tua itu menurut, ia berhentikan gerakannya.

Tetapi Kong Kiat masih gusar, tanpa bilang apa-apa ia maju pula akan serang Si orang she Lie.

Sekali ini, Hong Kiat tangkis orang punya pedang, yang ia terus tahan, lalu dengan lain tanganaya, sambil diulap- ulapkan, ia mencegah.

“Kie Kong Kiat, dengar aku!‘ demikian suaranya. “Bukannya aku niat curangi kau tetapi adalah orang yang ikut aku ini sudah berlaku terlalu sembrono! Aku bukannya jerih terhadap kau, aku hanya tidak ingin bentrok pula denganmu! Jikalau kau henar ada punya kepandaian, mari kita orang pergi ke Bu Tong San, disana Kang Siau Hoo sendirian saja sedang layani Cit Toa-kiam-sian! Sudah selayaknya kalau kita bantui dia!”

Mendengar itu, Kie Kong  Kiat tarik  pulang pedangnya, ia mundur dua tindak. Itu waktu ada banyak orang yang berlalu lintas pada merandek, untuk saksikan itu dua orang bertempur, sedang si gagu, diatas kudanya, tetap tertawa ia gerak-geraki kedua tangannya seperti juga menganjurkan: “Hayo, kau orang bertempurlah, untuk aku saksikan kau orang punya kegagahan!“

Lie Hong Kiat sudah lantas masukkan pedangnya kedalam sarung, ia-pun tolak tubuhnya si muka hitam, untuk dikasi mundur, kemudian ia mendekati Kong Kiat, ia tepok-tepok orang punya pundak.

“Kaulah yang harus disesalkan,” kata ia sembari tertawa. “Coba kau tidak mulai hunus pedangmu, sahabatku  ini tidak nanti serang kau dengan gembolannya! Dia adalah Ou Jie Ceng, tukang lindungi aku!“

Kie Kong Kiat tertawa menyindir.

“Akun tidak sangka bahwa kau piara tukang melindungi!“ mengejek ia.

Hong Kat tak gubris jengekan itu, ia tidak membalas dengan kata-kata, ia hanya tunjuk si gagu.

“Siapa dia itu?” ia tanya.

“Dia ada seorang gagu, tetapi dia ada suhengnya Kang Siau Hoo,” Kong Kiat jawab. “Aku justeru lagi antar dia ke Bu Tong San untuk cari orang she Kang itu.”

Hong Kiat tertawa pula, kembali ia tepuk orang punya pundak.

“Kau juga pakai tukang pukul!“ ia menggoda.

Mukanya Kong Kiat merah tanpa merasa Hong Kiat segera maju menghampiri Ah Hiap kepada siapa ia memberi hormat. Si gagu balas hormat itu, kemudian ia loncat turun dari kudanya, untuk ia terus beraksi seperti burung terbang.

Orang she Lie itu heran, ia mengawasi dengan bengong. “Dia tanya kau, kau kenal Kang Siau Hoo atau tidak,”

Kong Kiat beri mengerti.

Mendengar demikian, Hong Kiat terawa, ia  terus manggut pada Si gagu itu.

Si gagu lantas saja tertawa.

Hong Kiat lalu berpaling pada Kong Kiat.

“Apakah tidak baik kita cari tempat singgah didalam kota, untuk sekalian bersantap?” ia mengundang.

Kong Kiat menggeleng kepala.

“Bersama-sama Si gagu perlu aku segera pergi ke Bu Tong San, menyesal aku tidak punya ketika untuk layani kau pasang omong,” ia sahuti. “Jikalau kau benar ingin bersahabat denan aku, silahkan kau ganti dahulu kudaku!“

Hong Kiat tersenyum ia manggut.

“Inilah gampang!” kata ia. Terus ia tegor Ou Jie Ceng, kuda siapa ia minta, malah sarung pedangnya Hong Kiat, yang tercantel dikudanya yang terluka, ia yang tolong diambilkan, untuk ia pulangkan kepada pemiliknya.

Diperlakukan demikian Kong Kiat jadi jengah sendirinya.

“Kita hendak lantas berangkat, bagaimama dengan kuda terluka ini?” ia tanya Hong Kiat. “Apakah tidak baik kita jual saja?”

“Jangan jual,” Hong Kiat cegah. “Aku lihat kuda ini masih dapat disembuhkan. Aku nanti suruh Ou Jie Ceng menantikan disini, kita nati pergi bersama, sesudah urusan selesai, baru kita kembali kemari!”

Kong Kiat setuju, ia manggut.

“Sekarang kau singgah disini,” Hong Kiat lantas kata pada kawannya yang sembrono itu. “Kau obati kuda ini, sesudah dia sembuh, kau tunggui aku didalam kota Tiok- kie. Jangan sekali-sekali kau tinggal aku! Sekarang aku hendak pergi ke Bu Tong San, sepulangnya dari sana, aku akan samper kau. Ingat, jangan kau terbitkan onar!“

Jie Ceng menyahuti berulang-ulang.

Lie Hong Kiat tinggalkan sejumlah uang, lantas ia menoleh pada Kie Kong Kiat.

“Mari kita berangkat!“ ia mengajak.

Kong Kiat manggut, terus ia menggapai pada Ah Hiap, habis itu ia loncat naik atas kudanya, yalah kudanya Jie Ceng.

Sebentar saja, tiga orang itu sudah laratkan kuda mereka kearah timur.

Semua orang mengawasi, kemudian mereka tonton Ou Jie Ceng. Dengan susah-payah, si sembrono ini angkat bangun kuda kurbannya ia punya gembolan untuk dituntun pergi ke rumah pondokan.

*** Bab 19

KANG SIAU HOO YANG SUSUL Too Teng Su-kou,

sudah sampai di Bu Tong San. Ia tidak segera mendaki gunung itu, ia hanya terlebih dahulu mencari keterangan di dekat-dekat situ. Di gunung Bu Tong San itu imam-imam yang dipanggil “Cit Toa-kiam-san” atau “tujuh dewa pedang yang  terbesar” adalah Yok Hian Ceng, Thio Hian Ceng dan Ka Hian To serta mereka ini punya tiga murid dan satu tamu, yalah Cou Kiam Hong dan Nie Kiam Tiau yang ada murid- muridnya Thio Hian Ceng, dan Tan Kiam Hui, muridnya Ma Hian To. Sang tamu ada Leng In Kiam-kek Lu Cong Giam, satu toosu.

Dantara mereka itu cuma Lu Cong Giam yang suka pergi pesiar, yang gemar ikat persahabatan. Yang gemar berkelahi adalah Cou Kiam Hong berdua Tan Kiam Hui. Empat yang lainnya, semua ada imam-imam yang alim, yang taat kepada agama mereka, tak sembarangan mereka turun dari gunung mereka. Mereka semua tinggal berpencaran. masing-masing di Cin Bu Bio di Thay Kek Hong, di Gie Cin Kiong di Thian Kie Hong, dan di Ngo Liong Hong, Cie Siau Hong dan lain. Dan mereka semua telah mewariskan ilmu silat aseli dan mereka punya Cou-Su Thio Sam Hong.

Sama sekali ada lebih daripada enam ratus toosu yang berada dibawah perintah dari tujuh Kiam-sian itu. Mereka ada punya penghasilan yang lebih daripada cukup, mereka ada tangguh, akan tetapi mereka tidak pernah memandang enteng atau menghinai lain orang. Cuma ada satu pantangan, yang mereka ingin orang indahkan, atau mereka akan hunjuki tangan besi.

Di Bu Tong San itu ada sebuah sumber yang dinamai “Kay Kiam Coan” atau Sumber ini mereka pandang suci, bagaikan keramat. Siapa datang ke sumber itu, tidak perduli pembesar negeri, sipil atau niiliter, atau orang kangou, atau piausu, apabila dia membawa pedang, pedangnya mesti diloloskan. Orang boleh bawa tumbak dan golok, mereka tidak menghalanginya, tapi dilarang orang membawa pedang. Apabila ada kedapatan orang bawa pedang, mereka tak dapat mengasi ampun. Inilah pantangan atau larangan, yang membuat Kie Kong Kiat dan Kang Siau Hoo pernah mengalami peristiwa hebat.

Sekali ini, Kang Siau Hoo telah datangi pula gunung kesohor itu. Ia menduga Too Teng Su-kou pergi ke Bu Tong San ini, sebagaimana si imam perempuanpun pernah menantangnya, akan tetapi sebagai hasil ia punya penyelidikan, katanya diatas gunung tidak ada imam perempuan, sedang juga tujuh kiam-sian pasti tidak ijinkan orang jahat berdiam digunungnya itu. Ia jadi bersangsi.

Akhirnya, setelah berpikir, ia  ambil putusannya. Ia memang tidak bekal senjata, ia anggap tidak ada halangannya kalau ia naik terus ke atas gunung, disana ia boleh buat kunjungan kehormtan pada Cit Toa-kiam-sian, untuk sekalian minta keterangan halnya Too Teng Su-kou dan Ah Loan, umpama kata mereka itu berani menanggung benar-benar Too Teng tidak datang bersama nona kurban penculikannya, ia tidak akan terbitkan onar, ia akan pergi mencari kelain gunung.

Ketika Siau Hoo mendaki gunung, itu adalah diwaktu pagi yang mendung, maka juga seluruh gunung telah tertutup dengan kabut, sedang dibawah, es melulahan dengan tak kurang tebalnya, hingga batu-batu gunung salin rupa menjadi serba putih. Angin musim  rontok telah mendatangkan hawa dingin sekali kepada tubuh.

Pada waktu itu, Kang Siau Hoo mengenakan baju dan celana warna biru, pakaiannya sepan dan pendek, bahan citanya tipis, ia-pun tidak memakai kaos kaki hanya melainkan ciau-ee, sepatu rumput! Ia naik setindak dengan setindak keatas gunung. Ia sukar melihat segala apa di depannya karena tebalnya kabut, karena sulit akan melihat jalanan, ia bertindak dengan hati-hati. Disitu, jangan kata satu manusia, suaranya seekor burung-pun tak terdengar.

Sekian lama Siau Hoo mendaki, ia punya sepatu telah pecah rusak, hingga terpaksa ia buka itu dan melanjutkan perjalanan nanjak dengan kaki telanjang. Beruntung bagi ia, ia ada punya  kaki yang kuat. Malah sekarang ia dapat bertindak dengan terlebih leluasa.

Terus Siau Hoo berjalan naik, sampai kupingnya dengar mengaungnya genta. Dengan sungguh-sungguh ia pasang kupingnya, akan dengari suara itu, akan cari tahu dari mana arah datangnya. Dengan perhatian, ia dapat dengar suara yang tegas sekali, hingga ia merasa, genta atau lebih benar kuil, berada dekat dengan ia. Kemudian, dengan  perdatakan tujuan, ia berjalan pula, ia maju terus.

Bertindak belum seberapa jauh, tiba-tiba pemuda ini dapati ia lagi menghadapi sebuah lamping gunung atan jurang, didalam itu kabut ada memain-main bagaikan laut. Ia tak dapat melihat apa juga lainnya. Dari situ terdengar, agaknya suara genta datangnya dari lembah dibawah jurang itu.

Siau Hoo berdiri diam ditepi jurang. Melihat keletakan, nampaknya agak sukar sekali untuk ia turun kedalam lembah itu. Suara genta sudah berhenti, yang masih ada adalah sisa kumandangnya ditengah udara. Ia ingin turun, untuk cari kuil dari mana suara genta datang. Jalan tidak ada, bagaimana?

Tiba-tiba Siau Hoo ambil putusannya yang getas, tanpa bersangsi pula, ia enjot tubuhnya, akan loncat turun ke dalam jurang!

Diantara suara berkeresekan, segera Siau Hoo dapat kenyataan tubuhnya sampai pada sebuah pohon cemara yang besar, ia punya kaki dan tangan kena bentur cabang- cabang hingga ia merasakan sakit, akan tetapi ia  tidak perdulikan itu. Terus ia gunai kaki dan tangannya, hingga  di lain saat, ia sudah loncat turun ke tanah datar. Dan apa mau ia justeru jatuh ke dalam pekarangan kuil.

Baru saja pemuda ini lempangkan pinggang untuk berdiri, ia lihat jendela pendopo terbuka sedikit, dari situ lompat keluar seekor macan tutul, yang lehernya dikalungi rantai tembaga, lalu dengan pentang kedua kaki depannya yang berkuku tajam, binatang itu loncat menerkam.

Siau Hoo terperanjat, tetapi ia masih punya kesempatan akan loncat naik ke atas pohon cemara.

Macan tutul bisa panjat pohon, demikian dengan binatang ini, mencoba menyusul dengan terus naik juga kepohon cemara itu.

Tidak tunggu sampai ia  kena dicandak, Siau Hoo mendahului akan naik terus, akan terus loncat keatas pendopo, yang gentengnya terbuat dari besi hitam.

Macan tutul itu liehay, ia juga naik tinggi, ia-pun loncat keatas genteng akan menyusul, lantas ia angkat tubuhnya, berdiri bagaikan manusia, untuk lompat menerkam.

-ooo0dw0ooo-

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 27"

Post a Comment