Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 26

Mode Malam
Jilid 26 

MENJANGAN jantan itu jalan di muka, dua yang betina, jalan belakangan. Dari situ, mereka mendaki tanjakan bukit, akan pergi ke arah barat.

Siau Hoo gunai toya bekas busur, akan menekan tanah dan mengenjot tubuh, lantas ia mencelat naik ke atas tanjakan, ketika ia  injak tanah, ia tampak  ketiga ekor menjangan sedang membiluk di tembok sebelah barat. Ia heran, ia terus mengikuti mereka itu.

Diluar tembok sebelah barat itu ternyata ada dua buah rumah tanah yang rendah dan tak berjendela, ketiga ekor binatang itu masuk kedalam rumah tanah itu, untuk rebahkan diri. Adalah menjangan yang lelaki, yang masih saja suka awasi pemuda kita ini. Siau Hoo bersenyum, hatinya lega.

“Bagus!“ demikian ia dapat pikiran. “Imam perempuan larang aku bermalam didalam kuil, tapi sekarang aku bisa menumpang di kandang menjangan ini, dia pasti tak dapat mencegah. Didalam rumah tanah ini aku bisa menyingkir dari hujan dan angin.”

Lalu ia bertindak ke rumah tanah itu dan memasukinya sambil berjongkok. Ia letaki toyanya di pinggiran, ia cabak segumpal rumput kering untuk dijadikan kasur, sesudah mana segera ia jatuhkan diri dan duduk.

Ketiga menjangan itu tidak menyingkir karena orang menumpang kepada mereka.

Tidak lama setelah ia numprah Siau Hoo merasakan perutnya perih meminta makan, sedang bahu kirinya mendatangkan rasa sakit yang hebat, sampai sukar untuk diangkat. Sekarang ia ingat bagaimana tadi ia  sudah dibokong oleh Too Teng Su-kou, si imam perempuan yang liehay panah pelurunya. Ia tidak menyangka suatu apa dan datangnya peluru cepat luar biasa, ia telah kena terpanah. “Benar-benar imam itu sangat menjemukan!“ kata ia dalam hatinya. “Dia telah tantang aku datang ke Bu Tong San, mestinya dia ada bersahabat dengan Cit Toa-kiam-san dari gunung tersebut rupanya dia memikir untuk gunai tujuh imam akhli silat Bu Tong Pay itu untuk buat aku tunduk! Mana aku ada punya kesempatan akan pergi layani mereka itu?“

Habis itu, Siau Hoo ingat Kie Kong Kiat. Ia seperti bayangkan bagaimana orang she Kie itu mengacau diatas Bu Tong San, bagaimana dia itu punya kelicinan dan kecurangan juga, hingga ia kena dikepung dijembatan Pa Kio.

“Hampir jiwaku hilang karena perbuatannya yang  curang itu,” ia berpikir. “Dia benar ada suaminya Ah Loan, tetapi Ah Loan sendiri sudah terangkan padaku bahwa ia tidak menyintai suaminya. Pernikahan mereka ada pernikahan paksaannya si tua bangka she Pau, namanya saja mereka suami isteri, kenyataannya tidak ada, dari itu buat apa aku pandang-pandang lagi padanya!  Bukankah aku kenal Ah Loan terlebih dahulu daripada dia dan kita ada bersahabat sejak dahulu sampai ini hari? Tadi-pun si tua-bangka bilang, dia tidak sudi kenal lagi cucu perempuannya, maka kenapa aku mesti berpura-pura saja dan tidak mau dekat Ah Loan!”

Kapan ia telah memikir demikian, kegembiraannya anak muda ini terbangun, hingga untuk sementara, ia lupai sakitnya ia punya bahu kiri. Ia terus buka bungkusannya akan keluarkan sepatu merah simpanannya dengan bawa itu, ia lompat keluar dari kandang menjangan, ia  lari kembali ke dalam kuil. Baru ia sampai didalam, ia sudah dengar suara liangkeng yang pelahan sekali, ia  tidak perdulikan suara itu, ia menuju terus ke kamarnya Si nona. Kamar ada gelap, sampai sukar kelihatan tubuh orang yang rebah diatas pembaringan. Pemuda ini dengar pertanyaan lemah dari nona itu : “Siapa?”

“Aku!” ia jawab dengan cepat. Diam-diam ia bergirang karena ia dapati nona itu terang pikirannya. Ia-pun mendekat lagi dua tindak. Terus ia kata : “Ah Loan, tidak sempurna untuk kau berdiam lama didalam kuil ini, baik kita berdaya agar lebih lekas kau pindah, maka aku pikir sekarang juga aku hendak turun gunung, buat pergi ke Un- sin-tin, guna mencari kereta, agar besok pagi aku datang menyambut kau. Mari kita pergi, ke Long-tiong, disana aku ada punya dua sahabat kekal, ialah Kimkah-sin Ciau Tek Cun dan Long-tionghiap Cie Kie.

Ah Loan merintih, ia tidak menyahuti.

”Selama sepuluh lahun aku merantau, aku mencari ilmu silat, adalah dua keinginanku yang utama,” Siau Hoo lanjutkan. “Cita-cita ku itu adalah pertama menuntut balas untuk ayahku dan kedua supaya bisa nikah kau akan tetapi dua-dua itu, aku belum bisa wujudkan. Aku telah berhasil membengkuk engkongmu, aku sangat benci kepadanya, tetapi aku lihat dia punya kumis jenggot dan rambut ubanan, berbareng aku ingat kau bagaimana diwaktu masih kecil, kau tuntun tangan engkongmu buat ditarik, diajak berlari-lari, lantas aku jadi tidak tega hati. Jodoh kita-pun terhalang, kau sudah menikah dengan Kie Kong Kiat, dia- pun ada satu laki-laki, dari itu, tak dapat aku rampas kau dari tangannya dia itu!“

Sembari mengucap demikian, Siau Hoo rebah tangannya si nona, untuk serahkan kasut merah yang  ia  bawa. Ia tambahkan, ”inilah kau punya kasut merah, yang kau buat ketingalan di Cin Nia, yang aku dapat  menemuinya sesudah lewat banyak waktu tetapi sia-sia saja aku cari kau. Kasut ini aku telah bawa ke Cie-yang ke Tongkang, dan ke Gie-long juga. Setiap aku lihat kasut ini hatiku duka, aku lantas teringat akan dikau. Sekarang aku sudah ambil putusanku.” Sampai disitu, suaranya jadi sungguh-sungguh sekali. Ia kata, “Liong Cie Khie adalah si penjahat yang telah bunuh ayahku, dia punya kepala aku sudah kutungkan sebatas batang lehernya dengan begitu selsailah sudah aku menuntut balas! Tentang engkongmu, aku berkasihan terhadapnya yang sudah lanjut usianya, bolehlah aku kasi ampun dia punya jiwa, asal di belakang hari dia tidak berbuat jahat pula, aku tidak nanti cari padanya. Kau bilang bahwa kau tidak cintai Kie Kong Kiat, karena itu, baik kau lekas-lekas lupakan padanya! Baiklah kita penuhi janji kita dibawah pohon yang-liu pada sepuluh tahun yang lampau, ialah kau jadi isteriku, lantas besok kita berangkat meninggalkan kuil ini, disepanjang jalan aku nanti  obati kau punya luka, bila nanti kita sudah sampai di Long-tiong, kita orang jalankan upacara nikah, buat jadi suami isteri yang sah. Untuk selanjutnya, aku berniat membuka sebuah piautiam. Mengingat aku punya bungee, aku percaya aku bakal jadi piau-su nomor satu untuk Su-coan dan Siamsay!“ Siau Hoo begitu bersemangat hingga ia tertawa. Lalu ia tanya: “Bagaimana? Kau akur atau tidak? Lekas bilang! Jawab saja dengan satu patah perkataan, secara terus terang! Umpama kata kau membilang tidak mau, aku juga tidak akan menjadi gusar, aku tidak nanti marahi kau!”

Rintihannya Ah Loan berhenti, tetapi ternyata ia sedang berpikir. Selang sekian lama, terdengarlah jawabannya yang pelahan dan lemah: “Aku setuju ... ”

Siau Hoo tertawa pula, ia girang bukan main, semangatnya terbangkit

“Ah, kenapa aku tak bicarakan ini sejak tadi?”  ia sesalkan dirinya. “Coba tadi aku bicara, sekarang tentu kita sudah berada dalam perjalanan …” Lantas ia hadapi pula nona itu.

“Bagus! Bagus!” kata ia berulang-ulang. “Sekarang juga aku akan berangkat ke Un-Sin-tin! Sekarang sudah malam, besok pagi-pagi tentu belum dapat kita orang berangkat, kecuali kereta harus disewa, keretanya-pun mesti dipakaikan kasur istimewa untuk kau. Kau sedang  sakit, kau tidak boleh terlalu terkocok-kocok …”

Habis berkata begitu, Siau Hoo lantas saja bertindak keluar. Ia pergi kependopo dimana ada belasan imam perempuan sedang liamkeng. Ia bicara sama mereka itu, bicara separuh mengancam, supaya mereka itu wajibkan satu orang rawat Ah Loan dengan baik-baik, karena besok dia mau bawa kereta untuk papak dan sambut si nona.

“Jikalau malam ini ada terjadi suatu apa atas dirinya Ah Loan, atau pelayanan terhadapnya kurang sempurna, maka besok kau orang mesti tahu sendiri!“ demikian ia punya ancaman. “Aku cuma mau berurusan dengan kau orang!“

Setelah itu, dengan gembira, Siau Hoo pergi akan turun gunung, tak perduli sang waktu sudah mulai malam dan cuaca ada gelap. Ia telah pergi ke Un-sin-tin, untu cari kereta, buat disewa untuk besok pagi, untuk siapkan segala apa.

Tidak lama seberlalunya Siau Hoo, In Ciat Nia telah terbenam dalam gelap gulita. Kawanan kampret sudah pada keluar dan berterbangan serabutan dalam pekarangan kuil. Semua imam telah selesaikan sembahyang mereka, yang terganggu oleh Siau Hoo, dan imam kepala telah tugaskan satu muridnya yang usianya tertua untuk layani Ah Loan.

Nona Pau berdiam dalam kamarnya yang tidak berlampu. Dia punya pelayan tidur di luar, disamping meja pujaan Lu Cousu. Dilahir, nona ini menderita, karena, asal ia geraki tubuhnya, sedikit saja, luka di dadanya mendatangkan rasa sakit sekali bagaikan ditusuk-tusuk. Ia menderita. Ia lelah, akan tetapi semangatnya telah terbangun, Siau Hoo sudah nyatakan akan bawa dia, buat dijadikan isteri, dan ia jadi sangat girang. Hanya kapan ia ingat ia punya pengalaman yang paling belakang, ia punya hati menjadi ruwet pula.

Ah Loan bayangkan ia punya pengalaman di Cin Nia, dalam sarangnya Ou Lip, setelah ia  kena ditawan oleh kepala berandalan itu. Ia sudah dimasuki kedalam penjara gua. Disitu, kemudian, ia telah dipenjarakan bersama-sama Kie Kong Kiat, yang-pun rubuh ditangannya Ou Lip yang lihay piaunya. Ia sebenarnya jemu terhadap suaminya itu, akan tetapi belakangan rasa jemu itu pelahan-lahan berubah. Diantara jeruji besi, pernah ia nyatakan kepada suami itu supaya mereka biarlah dibinasakan berandal, agar didunia baka, mereka jadi suami isteri, di waktu mana, ia pasti akan menyintai suami itu. Ketika itu, ia dapat kenyataan, Kie Kong Kia telah hunjuk sifatnya laki-laki, hingga ia jadi lebih ketarik hati dan menyesal tadinya sudah berlaku tak sepantasnya kepada suami itu. Adalah diluar ia punya dugaan, itu malam ia sudah ditotongi oleh  Kang Siau Hoo, yang bertenaga kuat, yang sudah kempit ia melalui jalan-jalan berbahaya. Ia kagum bukan main atas orang punya kekuatan dan kegesitan. Ia terharu melihat bagaimana Siau Hoo letaki ia dibatu, ketika pemuda itu suruh ia menunggu, untuk dia itu tolongi Kie Kong Kiat.

Saking terharu, Ah Loan sudah keluarkan air mata. Ia anggap Siau Hoo ada sangat baik hatinya, bahwa pemuda itu bukannya kejam, bahwa kebengisannya terhadap engkongnya adalah disebabkan si engkong tadinya sudah berlaku terlalu telengas.

“Siau Hoo ada satu laki-laki, memang tak bisa menjadi karena menyintai aku, dia lupakan sakit hati ayahnya,” demikian ia pikir terlebih jauh. “Terhadap aku sendiri, dia belum pernah lakukan apa juga  yang tak selayaknya, sebaliknya, akulah yang telah tidak perlakukan benar kepadanya. Dia berbuat begini baik terhadap aku, sekarang dia hendak tolongi Kong Kiat, apabila sebentar kita orang berkumpul bertiga, apa aku mesti buat? Jikalau aku tetap ikut Kong Kiat, Siau Hoo pasti bakal merantau pula, ia tetap akan jadi musuh, sukar aku menemui ia pula. Apabila terjadi demikian, aku bisa mati menderita. Sebaliknya, apabila aku tinggalkan Kong Kiat, aku jadi sudah langgar adat-istiadat, aku sudah berlaku kejam, aku ada tak berbudi. Bukankah Kong Kiat sudah berkorban untuk aku? Aku lupakan budi, aku sia-sia Kong Kiat, sebaliknya, aku ikut Siau Hoo, satu musuh, dengan demikian apakah aku ada satu manusia?“

Ah Loan jadi sangat bingung dan bersusah hati kebetulan, diantara sinar rembulan, ia tampak solokan dihadapannya, dengan tiba-tiba, timbul keinginan untuk habiskan saja ia punya jiwa ia ambil putusan dengan cepat. Begitu ia menghampiri tepi jurang dan buang diri kedalamnya. Jurang itu dalam belasan tumbak, siapa terjatuh kedalam situ, dia mesti terbinasa. Tapi tidak demikian dengan Si nona, yang pandai silat, benar ia nekad, tetapi kaki tangannya tetap siap berjaga-jaga. Ia-pun telah nyemplung ke air hingga, ketika ia terjatuh ke air muncrat dan menerbitkan suara nyaring.

Didalam air, tanpa ia  merasa, ia geraki kaki dan tangannya, sedang mulutnya, ia tutup, dan napasnya, ia tahan. Beberapa kali ia tenggelam dan timbul, ia rasa ia punya pikiran telah sadar, cuma matanya terus meram. Kemudian, ketika diakhirnya ia buka ia punya mata, ia lihat langit, ia lihat mega antara cahaya rembulan, ia  punya tubuh rebah disamping batu, kedua kakinya masih terbenam dalam air. Air-pun saban-saban menyampoki ia. Ia lantas saja coba angkat kedua kakinya. Ia ada sangat berduka, hingga ia menangis seorang diri.

“Kenapa untuk cari mati ada begini sukar?“ ia tanya dirinya sendiri. Ia menangis pula.

Dalam kesunyian, kecuali suara angin, samar-samar Ah Loan dengar panggilan berulang-ulang : “Ah Loan! Ah Loan!” ia terperanjat, tapi pun, ia bersusah hati. Ia  bisa duga siapa itu yang memanggil-manggil ia. Ia ambil putusannya : ia diam saja. Ia membungkam, sampai sekian lama, sampai ia tak dapat dengar pula panggilan itu.

-o0dw0o-

Bab 18

LAMA AH LOAN REBAH SAMBIL menangis,

pikirannya ruwet sekali akhirnya, ia coba berpikir juga.

“Tak dapat aku berdiam terus disini di mana aku, hidup tidak bisa, mati juga tidak bisa. Baiklah aku pergi kelain tempat. Umpama aku terpeleset dan jatuh mampus, aku tidak harus menyesal. Atau, lebih baik lagi, di daerah Cin Nia ini aku bisa dapatkan kuil dimana aku bisa tumpangkan diri. Biarlah itu ada satu kelenteng, supaya aku bisa cukur rambutku, akan menjadi pendeta, hingga selanjutnya, aku tidak akan bertemu pula dengan manusia biasa …

Dengan air mata masih meleleh, Ah Loan merayap bangun. Ia menahan sakit. Ia jalan dengan sukar, diair, diantara batu, sambil berpegangan. Ia jalan, ia berhenti, untuk beristirahat. Dengan pelahan-lahan, ia toh dapat jauhkan diri dari selokan. Ia jalan terus. Tanpa merasa, sang fajar datang. Ia sekarang berada disebuah jalanan gunung,  ia punya pakaian basah anteronya, malah kasutnya-pun lenyap sebelah. Kecuali luka piau dipundak, ia-pun baret disana sini.

Dengan pelahan, matahari naik semakin tinggi.

Kecuali burung atau binatang lainnya, disitu tidak ada barang satu manusia, akan tetapi hatinya Ah Loan tidak tenteram. Ia kuatir Siau Hoo atau Kong Kiat  nanti dapat cari padanya, atau si orang jahat nanti ketemui pula padanya dalam ia punya keadaan tidak berdaya itu. Maka, dengan paksakan diri, ia mencoba jalan terus. Ia menderita sekali. Kemudian ia berhenti di satu tempat rendah yang penuh pepohonan dan rumput. Ia rebahkan diri, untuk beristirahat sambil sembunyikan diri. Ia punya air mata mengucur, napasnya-pun memburu. Lewat sekian waktu, letihnya lenyap, tapi pikirannya, bertambah kalut.

“Paling benar aku bunuh diri!” ia ngelamun. “Bagaimana aku dapat hidup dalam dunia yang  penuh penderitaan ini?“

Ah Loan ada pakai ikat pinggang hijau, ia loloskan itu. Ikat pinggang itu demak, kotor dan ketempelan rumput halus. Ia angkat kepalanya, mengawasi keatas pohon angco, kemudian ia berbangkit, ia bertindak menghanipirkannya pohon itu. Baru ia ulur tangannya, atau daun pohon telah mengenai tangannya, ia merasa sakit. Tapi ia kertek gigi, ia mencoba membuat kalakan yang tergantung. Kemudian ia awasi angkinnya itu sambil air matanya turun bercucuran.

“Aku masih begini muda, apa aku mesti binasa secara begini?“ ia tanya dirinya sendiri. “Apa tak kececva, setelah belajar silat, aku mesti habiskan jiwaku secara begini menyedihkan?“

Ingat demikian, lemah hatinya si nona hingga ia lantas duduk numprah pula. Kembali ia menangis, sampai sekian lama. Tetapi ia tidak dapat pikiran yang baik. “Tidak bisa lain!” pikir ia  akhirnya, dan ia ambil putusannya. Ia berbangkit dengan segera, ia masuki lehernya kedalam kalakan.

Berbareng dengan itu, dari tempat yang tinggi, terdengar teriakan: “He, jangan bunuh diri!“

Kaget Ah Loan, terus ia memandang ke atas. Maka ia dapat lihat seorang yang umurnya kurang-lebih empat puluh tahun, dibebokongnya ada tergemblok buntalan kayu dan rumput, ditangannya ada sebuah kampak.

Melihat orang itu, Ah Loan lantas loloskan kepalanya, ia turun dari cabang pohon. Ia-pun loloskan angkinnya, untuk dibawa pergi.

Orang diatas tadi, satu tukang ambil kayu bakar, bertindak turun.

“Nona.” ia memangil. “Kau tinggal di mana? Kau masih begini muda, kenapa kau nekat?”

“Jangan usil aku!“ sahut Ah Loan, yang cepatkan tindakannya.

Tukang kayu itu lekaskan tindakannya, ia dapat menyusul ia ulur tangannya, akan cekal orang punya bahu.

Ah Loan coba lepaskan diri, ia menoleh.

“Kau jangan perdulikan aku!“ ia kata pula. “Kau urus saja kayumu! Aku mau berlaku nekat karena ada kesulitan, walau-pun kau mau, kau tak dapat tolong aku!”

“Jangan bilang demikian, nona,” kata Si tukang kayu. “Aku telah bertemu dengan kau, mana bisa aku diam saja mengawasi kau bunuh diri? Siapa tolong satu jiwa, dia berbuat kebaikan untuk tiga penitisan ... Malaekat gunung ada matanya, apabila aku tampak kematian tetapi aku tidak menolong, di belakang hari, siang atau malam, aku bakal mati jatuh dari atas gunung! … Jikalau kau ada punya kesukaran, tuturkan itu padaku, aku nanti berdaya untuk tolong kau. Sebenarnya kau kenapa? Apakah ayah dan ibumu pukul dan comeli kau? Atau … kau bercedera dengan suamimu?“

Ah Loan anggap tukang kayu ini berhati mulia, ia berhentikan tindakannya.

“Tak perlu untuk kau cari tahu urusanku.” kata ia seraya susuti air matanya. “Umpama aku kasihkan keterangan pada kau, kau juga pasti tak akan mampu berbuat suatu apa

... Ah, aku bukannya terdesak kemelaratan, atau karena dihajar atau dicomeli siapa juga, aku … aku memang tidak ingin hidup lebih lama …”

Saking sedih, Ah Loan tunduk, ia menangis. Tukang kayu itu heran, ia tercengang.

“Kau  tinggal dimana?“  tanya  ia  pula. “Mari aku  antar

kau pulang. Umpama kau gantung diri di rumahmu, aku boleh tak usah campur tahu lagi, tetapi disini, aku mesti wakilkan  Malaekat  gunung  melindungi dia  punya gunung

…”

Ah Loan susut air matanya. Pelahan-lahan, pikirannya berubah.

“Rumahku terpisah jauh dari sini, kau tidak dapat antarkan aku,” berkata ia. “Dan di rumahku juga sudah tidak ada orang lainnya. Apa kau tahu dimana didalam gunung ini ada kelenteng pendeta atau imam perempuan? Tolong kau antar aku ke rumah suci itu. Di belakang hari, tidak nanti aku lupai kau punya budi kebaikan.”

Tukang kayu itu mengawasi. Ia duga orang perempuan ini ada satu nona yang oleh orang tuanya sudah ditunangkan kepada seorang yang bila bukannya terlalu miskin, tentu romannya tidak mencocoki, atau dia telah dipaksa ayah-ibunya buat menjadi orang punya gundik, hingga dia buron dari rumahnya buat bunuh diri atau menjadi orang suci.

“Disini memang ada rumah suci ialah Tay Su Am.“ ia menjawab kemudian. “Kuil itu berada belasan lie jauhnya dari sini, untuk pergi kesana kita mesti lewati empat puncak, tetapi kau sendiri belum pernah pergi kesana, untuk pasang hio dan memohon anak … Pendek, begini saja lebih dahulu aku ajak kau kerumahku, nanti aku minta isteriku yang antar kau ke kuil itu. Kau setuju? Isteriku itu kenal baik semua orang suci disana.”

Ah Loan manggut, hatinya menjadi sedikit lega. Ia lantas tanya orang punya she dan nama.

“Aku Thio Loo Sit,” sahut tukang kayu itu. “Disini aku sudah tinggal empat atau lima tahun, sejak kecil aku menjadi tukang cari kayu bakar, malah beberapa kali aku pernah tolong orang-orang yang  gantung diri atau yang dilukai penjahat. Oleh karena aku baik hati, Malaekat Gunung sudah hadiahkan aku nasi untuk didahar. Kalau lain orang, apabila dia bukan terpeleset jatuh, dia tentu diganggu binatang buas. Sama sekali belum pernah aku nampak halangan. Kau datang ke rumahku, nona. Boleh jadi isteriku sudah matangi nasi, sehabisnya aku dahar, aku nanti suruh dia pergi antar kau ke Tay Su Am.”

Ah Loan terima baik undangan itu, ia  ada sangat bersukur, kemudian ia ikuti si tukang kayu, yang ajak ia pergi kearah utara. Tidak jauh dari situ, mereka membiluk, melalui dua tikungan. habis itu, sampailah mereka di rumahnya Thio Loo Sit. Itu ada sebuah rumah gua dikaki bukit, diatasan itu ada sebuah kuil kecil. “Itulah San Sin Bio,” kata Loo Sit seraya tunjuk kuil itu, kuilnya malaikat gunung. “San Sin-ya ada lengkam sekali, disiang hari, dia tidak muncul, tapi setelah datang sang malam, dia keluar dengan menunggang harimau suci, dia ajak pembesar Leng koan pergi merondai gunung ... ”

Ah Loan tidak bilang apa-apa hanya ia  ikuti orang masuk kedalam rumahnya.

Seorang perempuan umur kira-kira tiga-puluh tahun kelihatan sedang duduk membuat sepatu. Ia heran kapan ia lihat suaminya pulang dengan ajak seorang  perempuan yang pakaiannya demak dan kotor, yang kasutnya tinggal sebelah.

Thio Loo Sit, yang  telah letaki kayunya diluar dan kampaknya di kaki tembok, lantas kata pada isterinya itu: “Aku ketemu nona yang sedang hendak gantung diri setelah bicara padanya sekian lama, baru putusannya bisa diubah, tetapi dia tetap tidak hendak pulang ke rumahnya, sebaliknya, ia ingin sucikan diri. Aku anggap, niatnya itu ada baik juga. Sekarang lekas kau masak nasi, habis dahar, kau ajak dia ke Tay Su Am.”

Nyonya itu letaki perabot jahitannya, tapi ia duduk tetap ditempatnya, di kepala pembaringan tanah.

“Mana bisa aku antarkan dia?’ katanya. “Kakiku yang sakit masih belum sembuh, jalanan pegunungan ada demikian sukar, mana bisa aku jalan kesana? Apakah kau ada punya uang untuk sewakan aku joli?”

Loo Sit melengak. Benar-benar ia lupa yang isterinya sedang sakit kaki dan tentunya tidak bisa jalan jauh.

“Kalau begitu, tidak apa,” kata ia kemudian. “Ini hari kau tidak bisa pergi, lagi dua hari tentulah bisa.” Lantas ia menoleh pada Ah Loan seraya bilang: “Nona, kau duduk. Isteriku sedang sakit kaki, tunggu sampai dia  sudah sembuh, nanti dia antar kau. Atau aku pergi ke kuil diatas gunung disana ada tinggal Yo Jie Piu-cu. Dia tingal seorang diri, tetapi dia ada berhati baik, dia bisa antarkan kau.”

“Tadi malam Yo Jie Piu-cu tidak pulang!” berkata si nyonya. “Sun Hek Cu, yang pulang dan Ma Put Na, bilang bahwa Yo Jie Piu-cu sudah pergi kegunung utara buat satu urusan, barangkali selang dua-tiga hari, baru dia kembali. Untuk berbuat baik, kenapa kau mesti minta pertolongan lain orang? Apakah kau tidak bisa antarkan sendiri padanya?”

“Mana aku kenal jalanan?” Thio Loo Sit baliki. “Ketika dahulu kau pergi ke Tay Su Am dan sampai dua hari tidak pulang, aku kuatir, aku lantas susul kau, tetap aku pergi dari siang sampai sudah gelap, aku masih tak sanggup cari kuil itu …”

“Dasar kau yang buta!” isteri itu menjebi. “Kuil aku demikian besar, tihang benderanya ada begitu tinggi, kenapa kau tidak bisa lihat itu?”

Lantas nyonya itu pandang Ah Loan.

“Kau tinggal dimana?’ tanya ia. “Kenapa kau nekat dan hendak bunuh diri? Kau begini muda, romanmu elok kenapa kau bosen hidup? Orang semacam aku barulah tepat untuk gantung diri!”

Ah Loan menyahuti, terpaksa dengan mendusta. “Rumahku  adanya di Cie-yang,” begitu penyahutannya.

“Cie yang itu  terpisah beberapa ratus lie  dari  sini. Kemarin

aku sampai disini, lantas kita ketemu … berandal. Semua anggota keluarga-pun mati dibunuh, ketinggalan aku sendiri yang bisa lolos. Karena itu, cara bagaimana aku bisa hidup sendirian saja?” Nyonya Thio nampaknya terkejut, sedang Loo Sit sendiri lantas goyang-goyang kepala.

“Rombongan diatas gunung itu jadi semakin edan!” berkata si tukang kayu.

Selana ini, kejadian-kejadian jadi makin banyak! Tadinya cuma membegal uang, sekarang setiap hari meminta jiwa manusia! Lambat-laun mesti ada pebalasannya, Malaikat gunung ada matanya!”

Sang isteri tidak gubris suaminya.

“Kau she apa?” ia tanya Ah Loan. “Kau sudah pernah menikah atau belum? Ada siapa saja didalam rumahmu?”

“Aku she Kang …“ si nona jawab. “Aku tidak menikah.

Ayahku ada seorang dagang.”

“Ah, kau harus dikasihani ... “ kata nyonya Thio. “Nah, kau tinggallah disini untuk beberapa hari. Perkara makan, kau tidak usah kuatirkan. Lagi dua-tiga hari, apabila kakiku sudah sembuh, aku nanti antar kau ke Tay Su Am. Loo- suhu disana ada sangat murah hati, dia punya kuil  ada besar dan ramai, jikalau kau pergi kesana, dia tentu suka terima. Memang, menjadi niekou ada terlebih senang daripada menjadi iseri orang!”

Ah Loan manggut. Ia  anggap tidak apa menumpang sama orang she Thio ini, lagi dua hari, dia toh bakal pergi ke kuil dan akan cukuri rambutnya untuk menjadi pendeta. Ia percaya, setelah masuk agama. akan lenyaplah semua kesengsaraan atau penderitaannya. Akan tetapi ia  ada sangat berduka, tanpa merasa, air matanya mengucur turun.

“Sudah jangan nangis, jangan nangis,” si nyonya menghibur, agaknya ia sangat menaruh perhatian. “Boleh jadi dasar kau  berbakat  suci dari Pou-sat  sengaja membuat kau sedikit menderita, supaya gampang untuk kau diajak memasuki pintu Buddha ... ”

Thio Lao Sit telah pergi keluar, untuk ikat rapi ia punya kayu.

“Kau lekasan masak nasi!” demikian suaranya, terhadap ia punya isteri. “Si nona tentu sudah lapar.”

Nyonya itu menurut, ia pergi keluar, akan ambil seikat kayu, maka dilain saat, ia sudah bisa nyalakan api didapur.

Ah Loan menghampiri dapur, ia niat garang pakaiannya supaya lekas kering.

Nyonya Loo Sit tuang air kedalam kwali, ia masukkan berasnya, kemudian sehabis tambahkan kayu, ia ambil kipas, untuk kipasi api. Sembari bekerja, ia dapat lihat kakinya Nona Pau. Lantas saja ia tertawa.

“Nona, kakimu ada lebih besar sedikit, jikalau tidak, kau bisa pakai kasutku,” kata ia. “Bagaimana, apakah sepatumu hilang?“

“Orang jahat kejar aku, aku sembunyi di solokan,” sahut Ah Loan. “Sudah pakaianku basah semua, juga sebelah sepatuku lenyap. Aku-pun dapat dua luka, bekas ditumbak penjahat, sukur luka itu tidak terlalu hebat, aku masih dapat menahannya.”

“Oh kawanan berandal itu!” berseru Si nyonya. “Lambat-laun, mereka bakal mampus!“

Selang tidak lama, nyonya rumah sudah masak matang nasinya. Thio Loo Sit juga sudah selesai mengikat kayunya, ia masuk untuk dahar sambil jongkok ditanah. Nasi itu ada nasi perah dan tanpa sayuran lainnya kecuali lobak, tetapi Ah Loan, yang turut dahar, rasai itu wangi dan lezat sekali. Habis dahar, Loo Sit pergi pikul kayunya untuk dijual, akan uang penjualannya dibelikan beras, isterinya pegang pula penjahitannya, sambil bekerja. Ia pasang omong dengan Ah Loan, hingga si nona dapat perasaan. nyonya  itu ada baik hati, melainkan cara bicaranya ada kasar, sebagaimana biasanya orang gunung. Memang, nyonya Thio belum pernah keluar dari gunungnya itu.

Segera Ah Loan merasa tenteram tinggal menumpang di rumahnya si tukang kayu itu. Sekarang ia telah berubah banyak, sebagai akibat pengalaman dan penderitaannya itu. Tadinya ia pandang dirinya kosen dan tak lihat mata dunia kang-ou. Sekarang ia berharap si nyonya lekas sembuh, agar ia lantas diantar ke kuil, untuk sucikan diri.

Nyonya Thio bicara, ia  menjahit, tetapi agaknya ia kurang tenterarn, walau-pun kakinya sakit, dan ikatan kakinya kendor, beberapa kali ia turun dari pembaringan, sambil seret sepasang kasutnya yang butut, ia pergi keluar, diluar dengan bergantian, ia memandang ke selatan, ia mengawasi ke utara, seperti ia berharap sangat datangnya suatu orang. -pun pernah sambil dongak memandang berhala San Sin Bio diatas gunung, ia berseru memanggil- manggil : “Siau Gou-cu, kau dimana?“ Tapi panggilan itu tidak memperoleh jawaban dan juga tidak ada orang yang turun dari gunung, untuk jalan dijalan pegunungan yang sangat sempit disitu. Kapan ia kembali ke dalam, dengan roman masgul, dengan uring-uringan ia mengutuk seorang diri : “Orang-orang tak mau mampus! Diwaktu gembira kau orang muncul, lantas di lain waktu, kau orang lupai nyonyamu! Sampai belasan hari kau orang tidak pernah muncul!”

Diam-diam Ah Loan bisa menduga, nyonya ini mesti ada punya kendak, bahwa mesti ada orang atau orang- orang buruk, yang suka datangi rumahnya Loo Sit ini. “Toa-nio, apa di dekat-dekat sini ada rumah-rumah lainnya lagi?“ ia tanya.

“Mana ada rumah orang lainnya?” sahut  si nyonya, dengan suara masih mendongkol. “Hanya diatas gunung, di berhala San Sin Bio ada beberapa bang ... “ ia berhenti dengan tiba-tiba dan merubahnya jurusan : “Aku punya saudara, yang juga menjual kayu bakar, bersama-sama Yo Jie Piu-cu, masing-masing sebatangkara, berdiam dalam berhala itu, meskipun mereka tidak membegal, mereka toh bertulang bangsat, asal ada uang, mereka pergi berjudi di Kwan Ong Bio atau tenggak air kata-kata, sebelumnya uangnya ludas, mereka tak sudi pulang!“

“Apa Kwan Ong Bio jauh letaknya dari sini? Apa itu ada kuil pendeta perempuan?”

Nyonya Thio menggeleng kepala, ia tetap masih mendongkol, ia berdiam saja.

“Kwan Ong Bio bukan kuil perempuan tetapi biara imam,” terangkan ia kemudian, “dan letaknya jauh sekali dari sini, hampir-hampir dimulut gunung sebelah sana. Ini hari ada tanggal empat, Si tolol pergi bawa kayunya untuk dijual di sana!”

Habis mengucap demikian, kembali nyonya itu bertindak keluar.

Ah Loan jumput orang punya sepatu, untuk dilihat bulak-balik.

Sampai magrib, sia-sia saja nyonya Thio tunggui datangnya orang atau orang yang ia berharap, ia masuk kedalam sambil mencaci dengan kutukannya, terhadap tamunya sampai ia tak perlihatkan tampang yang menyenangkan. Tidak antara lama, Loo Sit pulang dengan pikulaunya yang kosong, mukanya merah seperti bekas habis tenggak susu macan, tangannya menyekal sebungkus beras serta serenteng uang tembaga. Begitu ia bertindak masuk, terus saja ia kata : “Sejak pagi aku menyangka kayu kita tak bakal ada yang beli, siapa tahu setelah memasuki kuil, aku dapati setengah batok beras serta dua ratus chie, habis dahar, aku ketemu si Siau Uy Sam, dia habis menang main, dia pulangkan uangku yang dulu dia rampas. Nah, kau terimalah uang ini!“

Ia benar-benar serahkan uang pada isterinya, sedang dari sakunya, ia  keluarkan dua potong kue phia, yang ia kasihkan masing-masing satu pada isterinya itu dan Ah Loan, kemudian ia numprah ditanah untuk betistirahat.

“Apakah kau tidak lihat Siau Gou-cu didalam kuil?” tanya nyonyaThio pada suaminya sambil dahar phia.

“Jangan sebut, jangan sebut-sebut dia!“ sahut Loo Sit seraya awasi isterinya, dengan tangannya digoyang-goyang. “Besok aku tak pergi cari kayu. Biar si nona tinggal dahulu bersama kita. Lain hari saja kita bicara pula.”

Nyonya Thio  awasi suaminya dengan mata dibuka lebar.

“Eb, ada apakah, kau kelihatannya ketakutan?“ tanya ia.

“Ini hari orang-orang yang datang ke Kwan Ong Bio tahu semua!” sahut sang suami dengan pelahan. “Di Cui Yau Hong sudah terjadi onar. Kang Siau Hoo dari Kun Lun Pay sudah binasakan Ou Toaciangkui.”

Nyonya itu terperanjat sampai matanya mencilak.

“Eh, orang kun Lun Pay begitu liehay?” berseru ia “Bukannya Ie Tay Piu juga telah terbinasa ditangannya? Bukankah Ou Toa-ciangkui pandai mengunai gin-piau? Kenapa ... ?” Ah Loan sangat ketarik, hingga ia pasang kupingnya.

“Dasar harus mampus!” sahut Thio Loo Sit, “Sekalipun Siau Gou-cu, Yo Jie Piu-cu, Ang Lian Khau-cu dan  Pek Mo Hou, semua mereka bakal peroleh pembalasan mereka! San Sin-ya ada punya mata!” Ia  goyangi tangan, ia menambah: “Duduknya hal yang jelas  aku tidak tahu, begitu dengar orang bercerita, aku lantas singkirkan diri. Aku takut ketemu orang dari atas gunung. Tunggu sampai sebentar Yo Jie Piu-cu pulang, dia tentu tahu segala apa, kau boleh tanyakan keterangannya ... Apa yang aku dengar, katanya Kang Siau Hoo itu ada Kun Lun Pay punya orang paling liehay, puncak Cui Yau Hong yang demikian tinggi, sekali dia enjot tubuhnya, dia sudah bisa naik keatasnya. Katanya dia ada punya ilmu dan wasiat! Piau dari Ou Lip tak berdaya, belum sampai piaunya mengenai, dia sudah mendahului mampus sendiri!”

Ah Loan lihat Nyonya Thio diam dengan mulut bungkam, diam-diam ia girang sendirinya. Dengan diam- diam juga ia kagumi Siau Hoo. Tapi dilain pihak ia ingat suatu apa.

“Tempat ini dekat dengan Cui Yau Hong, Yo Jie Piu-cu dan Siau Goucu yang dikenal perempuan itu tentu ada begal-begal dari gunungnya Ou Lip, apabila mereka ketahui aku berada disini, aku terancam bahaya. Aku sedang terluka, aku juga tidak punya senjata, cara bagaimana aku bisa lawan mereka itu? Aku gagal berlaku nekat apabila aku binasa ditangan mereka, sungguh kecewa ... ”

Ingat demikian, Ah Loan segera memikir untuk angkat kaki.

“Rombongan itu kehilangan pemimpin, entah mereka akan jadi sewenang-wenang bagaimana!” berkata pula Thia Loo Sit. “Aku kuatir, aku-pun sukar,untuk cari kayu lagi disebelah itu aku dengar disini ada muncul seorang yang terlebih liehay dari pada Kang Siau Hoo,” ia tambahkan. “Dia ini ada satu pendeta, kemarin ada orang lihat dia Cong-hok-tin dimulut gunung sebelah Utara, katanya dia bertubuh jangkung dan besar, senjatanya ada sebatang toya, beratnya tiga sampai lima ratus kati. Tutur katanya Oy gu Hwie Loo Toa si penjual silat yang pandai menggunai  golok besar, yang biasa buka pertunjukan di Kwan Ong Bio sepuluh orang biasa tak nanti sanggup angkat toya itu. Pendeta itu sedang minta derma, tidak lama lagi dia tentu bakal naik, ke gunung, maka keadaan diatas gunung mestinya bakal jadi terlebih ramai pula. Pendek, semuanya delapan belas raja muda pemberontak bakal berkumpul diatas gunung!”

Heran Ah Loan dengar keterangan yang belakangan ini. “Engkong pernah omong padanya bahwa didunia

kangou ada satu Tiat Tang Ceng yang dianggap sebagai pendekar luar biasa,” pikir ia. “Dia itu ada punya tenaga yang sangat besar. Engkong belum pernah ketemu sama pendeta itu, hingga ia orang belum pernah bentrok, tetapi engkong pesan semua muridnya untuk berlaku hati-hati bila bertemu sama dianya Pendeta yang Loo Sit sebut-sebut ini mesti dia adanya. Apa dia punya maksud datang kemari? Pasti dia bukan untuk minta derma saja, rupanya dia bertujuan mencari engkong atau Kang Siau Hoo …

Menduga demikian, Ah Loan jadi berbalik berduka.

Thio Loo Sit itu, habis bercerita, lantas menguap, ia ambil selembar tikar rombeng dan ia gelar ditanah, terus ia rebahkan diri. Tidak terlalu lama, ia sudah lantas menggeros.

Nyonya Thio nyalakan pelita, ia tutup pintu yang ia ganjel dengan sepotong batu besar. Nampaknya ia berduka hingga sisa phia ia tak dahar habis. Ia duduk bengong saja, hingga ia tak gembira dan doyan bicara seperti siangnya.

Ah Loan hunjuk sikap yang tenang, ia mendekati pelita dan lanjutkan penjahitannya nyonya rumah. Ruangan ada sunyi kecuali gerosannya Lou Sit dan jalannya jarum. Oleh karena tangannya sakit, baru beberapa tusukan, si nona sudah menunda. Demikian seterusnya ia lewati sang waktu.

Nyonya Thio dari menjublak saja lalu rebahkan tubuh, ia tidur, maka itu Ah Loan pikir, untuk padamkan pelita, ia- pun niat tidur. Tapi hampir berbareng dengan itu, diluar rumah terdengar tindakan kaki yang pelahan sekali, disusul sama suara bunyinya kertas jendela. Cepat tetapi tidak bersuara, Ah Loan rebahkan diri.

Segera juga terdengar suitan, beberapa kali, atas mana nyonya Thio geraki tubuh.

Ah Loan berpura-pura tidur pulas.

Nyonya Thio berbangkit. Pada daun jendela kembali terdengar suara.

“Fui!” terdengar suaranya si nyonya, suara mana disambut dengan suara tertawa ditenggorokan dan orang diluar rumah.

Nyonya Thio turun dari pembaringan tanah, paling dulu ia padamkan pelita, lalu ia geser batu ganjelan pintu untuk buka pintu dan bertindak keluar.

Ah Loan loncat dari pembaringan, ia menghampiri jendela untuk pasang kuping, hingga ia dengar suara nyaring. Rupanya si nyonya gaplok orang punya kuping, atas mana orang itu seorang lelaki tertawa. Lalu terdengar mereka itu bicara dengan pelahan, akan kemudian terdengar lebih jauh suaranya si orang lelaki: “Bukankah romannya sangat elok.” “Kalau dia elok, habis kau mau apa?” terdengar nyonya Thio. “Apakah kau ketarik padanya?”

Masih nyonya Thio bicara, cuma suaranya tidak terdengar nyata, kemudian apa yang Ah Loan bisa dengar adalah: “Dia terluka, pakaiannya berlepotan darah. Tentulah itu semua ada buah pekerjaan kau orang diatas gunung.”

Rupanya si orang lelaki kaget, ia berdiam tapi tak ama, ia kata: “Ah, jangan-jangan nona di dalam rumahmu ini ada nona Ah Loan, cucunya Pau Kun Lun …”

Ah Loan kaget.

“Bangsat itu kenali aku, jangan-jangan dia bakal menerjang masuk ... “ ia berpikir, “Kalau dia nerobos masuk, inilah lebih baik, aku nanti sambut dia dengan hajaran hingga rubuh! Ada terlebih baik lagi jikalau dia bekal senjata, aku boleh sekalian bunuh padanya seraya rampas dia punya senjata itu ... “

Segera si nona bertindak kebelakang pintu, untuk bersiap sedia.

Sampai sekian lama, dua-dua si lelaki dan si nyonya tidak ada yang masuk, sedang suara makin pelahan, hanya paling belakang terdengarlah suaranya nyonya Thio: “Nah, pergi lekas! Lekasan suruh mereka datang kemari!”

Segeralah terdengar tindakan kaki c√ępat dan berisik, rupanya si orang lelaki pergi sambil berlari-lari.

Ah Loau merasa pasti bahwa kenalannya nyonya Thio ada orang-orang jahat, bahwa orang-orang jahat itu mesti ada orang-orangnya Ou Lip, dan bahwa orang lelaki tadi pergi untuk memanggil kawan. Ia jadi sangat gusar, ia lantas ambil putusan. Nyonya Thio masih berdiam sekian lama diluar rumah, baru ia buka pintu dan masuk. Dengan pelahan-lahan Ah Loan hampirkan orang punya belakang, dengan, tiba-tiba ia hajar orang punya bebokong.

Sambil keluarkan jeritan dari kesakitan, nyonya rumah rubuh hingga tubuhnya menimpa tubuhnya loo Sit, yang sedang tidur nyenyak, hingga suami ini kaget dan mendusin sambil berseru.

Nona Pau tekan tubuhnya si nyonya, leher siapa ia cekek.

“Jangan berteriak!” ia pun ancam Lou Sit, ”jikalau kau orang berteriak, aku nanti bunuh kau orang!” Kemudian, seraya kendorkan cekelannya, ia tanya nyonya rumah:

“Siapa yang barusan bicara sama kau diluar rumah?” “Dia ada Lay Siau-cu, orangnya Ou Lip!’ sahut nyonya

Thio dengan suara sukar, tubuhnya-pun gemetaran.

“Apa yang kau orang bicarakan? Bilang terus terang!” “Dia omong tentang Pau entah apa Loan ... “ sahut

nyonya itu sambil menangis. “Dia sekarang pergi untuk panggil Ang Lian Khau-cu ... ”

Ah Loan gusar hingga ia hajar orang dengan kepalan, hingga nyonya itu menjerit sekali, lalu tak ingat akan dirinya, setelah itu, ia berbangkit.

“Kau orang ada punya tumbak atau golok atau tidak?“ ia tanya Loo Sit, suaranya menyatakan ia masih sedang gusar.

“Tidak ada, ada juga kampak,” sahut Loo Sit, dengan suara gemetar, saking takut. “Nona, urusan mereka tidak mengenai diriku segala, perbuatan mereka aku tidak tahu, isteriku memang harus mampus, aku sendiri ada orang baik

... ” “Aku tahu kau,” sahut Ah Loan. Ia hendak pinjam orang punya kampak, tapi segera ia urungkan itu. Ia ingat, dengan sebuah kampak tukang kayu, ia bisa buat apa, sedang juga, selagi ia sendiri terluka. sepatunya pula tinggal sebelah. Ia menduga, Ang Lian Khaucu tidak bakal datang sendirian saja.

“Maka paling benar aku segera singkirkan diri dari sini.“ pikir ia kemudian.

Lalu, dengan tidak perdulikan Loo Sit dan isterinya. Ia lari keluar. Ia lihat sinar rembulan ada guram, awan tebal disana-sini, tapi ia jalan terus, ia  lari tanpa perhatikan jurusan. Ia  mendaki dimana ada jalanan terbuka, ia melapay antara pepohonan oyot, dengan susah-payah, ia sampaikan sebuah puncak. Ia menahan sakit, ia  lawan kelelahan. Dari atas puncak, ia  memandang kebawah, lantas ia jadi terperanjat. Kebetulan sekali, di kaki puncak ada terlihat beberapa obor, yang terbawa oleh dua-atau tiga- puluh orang.

“Mereka tentu ada Ang Lian Khau-cu dan orang- orangnya,” ia menduga-duga mereka itu. Ia-pun segera dengar suara riuh dari mereka, cuma tidak terdengar nyata apa yang mereka bilang.

Anggap bahwa ia masih berada di tempat  yang terancam, Ah Loan kertek gigi, untuk manjat lebih jauh. Ia telah lewatkan banyak waktu ketika kemudian ia dapati sang fajar lagi mendatangi. Ia ada sangat lelah, hingga ia berhenti akan duduk melenyapkan lelah atas sebuah batu.  Ia ambil cukup banyak tempo, baru ia merasa sedikit lega, napasnya-pun tidak lagi tersengal-sengal. Sang embun membuat pakaiannya demak, ia punya luka juga menyebabkan ia merasa sangat sakit, tapi yang hebat adalah sisa sepatunya sudah pecah, pada kakinya yang sebelah, kaos kaki juga pecah hingga kakinya mengeluarkan darah, kakinya bengkak, sampai ia sukar berjalan. Tanpa merasa, nona yang tadinya kosen ini lantas kucurkan air mata dan menangis. Kembali ia bayangi penghidupannya dahulu dan sekarang, penderitaannya paling belakang, hingga timbul pula pikirannya untuk berlaku nekat ... Hanya sekarang, ia tidak punyakan ia punya ikat pinggang hijau, dan ia mengerti juga, kalau mati disitu, penjahat  bakal dapat cari ia punya mayat.

“Sungguh hina bila mereka dapati aku telah jadi mayat,” pikir ia. “Dengan perbuatanku itu, ludaslah kehormatannya keluarga Pau ... ”

Ah Loan menjublak sekian lama, kemudian ia rebahkan diri diatas batu. Ketika kemudian matahari muncul dan sinarnya mensoroti si nona, dia merasa tubuhnya menjadi hangat. Ia rebah terus, akan tetapi ia tidak berani tidur pulas.

Dalam sedikit tempo, Ah Loan punya pakaian demak telah jadi kering seperti biasa, ia  punya kesegaran-pun kembali. Ia paksa berbangkit, ia rapikan pakaiannya, juga kaos kakinya.

“Thio Loo Sit bilang di barat ada kuil pendeta perempuan, baik aku pergi kesana,” ia ambil putusan.

Sekarang nona ini mencari jalan turun, tindakannya pelahan sekali. Ia memerlukan tempo lama akan sampai ditempat yang rata dimana tapinya tetap ada batu gunung. Ia awasi ia punya bayangan, sesudah itu baru ia menuju kearah barat. Ia berhasil melalui dua tikungan ketika dengan tiba-tiba ia dengar suara suitan beruntun hingga ia kaget bukan main. Pada mulanya. Ia  menyangka suara burung tapi segera ia tampak di depan ia, diatas bukit, ada belasan orang yang semuanya bersenjata golok dan toya, segera berlari-lari turun kearah ia. Itulah rombongannya Ang Lian Khaucu Khu Jie.

Dalam kagetnya, Ah Loan segera memutar tubuh, untuk lari. Apa lacur, ia tidak dapat berlari keras, ketika baru menikung satu kali, ia sudah kena dicandak.

“Ah Loan, isteriku, kau masih hendak lari?“ demikian ia dengar ejekan, yang disusul dengan ejekan kasar lainnya, hingga, dalam gusarnya, ia berhenti lari, ia putar tubuh.

“Aku benar tidak punya senjata, mustahil aku tak sanggup lawan mereka?” pikirnya. Dan ia segera jumput beberapa potong batu, satu antaranya dipakai menimpuk, bagaikan piau saja.

Berandal yang paling depan menjerit, kepalanya borboran darah, darahnya mengalir kemukanya. Dia adalab Ang Lian Khaucu sendiri, si monyet muka merah, hingga ia jadi surup benar dengan julukannya itu.

“Serang, serang padanya!“ ia berseru-seru, saking gusar. “Bunuh padanya! Jangan tangkap dia hidup-hidup!“

Belasan berandal itu merangsek, tapi Ah Loan sambut mereka dengan berbagai timpukan, hingga mereka jadi repot, kemudian setelah batunya habis dan ia tak keburu memungut pula, ia rampas sepotong golok dari satu berandal, siapa ia terus bacok hingga rubuh. Kemudian, ia- pun dapat rebut sebatang toya, hingga dengan toya dan golok itu ditangan kiri dan kanan ia terus layani semua musuh.

Kawanan berandal terpaksa mundur. Atas anjurannya Ang Lian Khau-cu, mereka punguti batu, akan turut buat si nona, hingga sekarang adalah Ah Loan, yang jadi ripuh. Beberapa buah batu mengenai juga tubuhnya. Saking kewalahan, ia lempar toyanya, ia  lari seraya tengteng goloknya. “Kejar. Kejar!” kawanan berandal berseru-seru, sambil mereka mengudak.

Ah Loan lari terus, sampai ditikungan yang lain. Apa celaka, ia terpeleset, tidak tempo lagi, ia rubuh terguling. Ia rasakan sakit pada kaki kirinya, seperti kaki itu  patah sampai ia tak dapat digerakan lagi. Karena ini, ia tidak mampu lari lebih jauh. Ia jadi sangat kuatir, bingung dan penasaran, hingga tanpa merasa, air matanya mengalir keluar. Ia putar tubuh seraya cekal keras goloknya.

“Aku mau lihat, siapa diantara kau orang yang berani maju?” ia berseru kapan ia lihat orang sudah mendekati ia lagi kira-kira dua puluh tindak.

Ang Lian Khau-cu Khu Jie titahkan orang-orangnya berhenti berlari, ia sendiri berdiri di depan mereka. Ia belum seka darah yang berlumuran, hingga mukanya nampak tak keruan macam. Ia menuding dengan goloknya, ia perdengarkan tertawa menghina.

“Nona manis, letaki golokmu!” kata ia. “Baiklah, dengan baik kau turut aku naik ke gunung, disana kau mesti haturkan maaf kepada Looya, nanti aku perlakukan baik padamu ... Jikalau tidak, segera kita buat habis jiwamu, untuk balaskan sakit hatinya kita orang punya ketua dan ketua muda!”

“Ya, kalau kau dengarlah perkataannya Khu Jie-ya kita!“ rombongan berandal itu turut perdengarkan suara mereka. “Kau masih begini muda, apa benar-benar kau tidak berniat menikah seorang lelaki dengan siapa kau bisa hidup beruntung?“

Ah Loan gusar, ia tak perdulikan ocehan itu.

“Siapa maju, dia mampus!“ ia berseru pula. “Siapa berani maju?” Rombongan itu mengawasi Khu Jie, dia ini agaknya berat akan serang si nona. Ia lihat orang punya pakaian rubat rabit, muka yang penuh air mata, ia merasa kasihan sambil berbareng tergiur hatinya.

“Lebih baik tangkap ia hidup-hidup!“ akhirnya ia kata pada orang-orangnya.

Belasan berandal itu mulai maju, yang bersenjatakan toya disebelah depan, yang bergenggaman golok disebelah belakang. Mereka mulai menyerang.

Ah Loan tak dapat bergerak, tapi dengan oloknya, ia coba tangkis sesuatu serangan. Tentu saja, dengan tak dapat berlompat atau berkelit, ia tidak bisa berbuat banyak. Segera juga beberapa toyoran atau kemplangan mengenai ia. Benar sedangnya ia sudah putus asa, saking tidak berdaya, dengan sekonyong-konyong dari atas puncak ada jatuh suatu barang berat, rupanya seperti ular hitam. Jatuhnya menerbirkan suara nyaring dan berisk, dan batu gunung pada hancur dan meletik berhamburan.

Kawanan berandal kaget, mereka semua lari mundur. Ah Loan juga rubuh sendirinya, ia jatuh numprah.

Menyusul jatuhnya benda itu, dari atas gunung kelihatan berlari-lari turunnya satu hweeshio atau pendeta yang berewokan, tubuhnya tinggi dan besar.

“Rapat!“ serukan Khu Jie pada orang-orangnya, untuk ia terlindung, kemudian ia pandang dengan bengis pada pendeta itu, yang telah sampai  di depannya, diantara mereka.

“Eh, hweeshio, kau buat apa?“ ia menegor dengan kasar.

Pendeta itu tidak sahuti orang punya tegoran, ia hanya jumput benda yang tadi ia lemparkan dari atas puncak, ialah ia punya toya besi yang besar dan berat, lalu dengan tak mengucap sepatah kata juga, ia  maju menyerang kawanan berandal itu. Ia berlaku telengas, toyanya mengemplang, menyamber dari kiri dan kanan. Diantara suara beradunya senjata, juga terdengar jeritannya si orang- orang jahat, yang pada rubuh, tidak ada satu diantaranya yang sempat lari, karena hweeshio itu ngamuk dengan hebat, bagaikan seekor singa saja.

Cepat sekali, belasan tubuh malang melintang, jiwanya pada terbang melayang.

Ah Loan heran berbareng berkuatir.

“Jangan-jangan dialah Tiat Tiang Ceng si hweeshio budiman yang luar biasa,” pikir ia. Ia hanya tidak tahu kenapa orang ada demikian kejam. Dan ia tak tahu juga, orang ada bermaksud bagaimana terhadap dirinya.

Selagi nona ini bingung, satu pendeta lari kelihatan berlari-lari turun. Dia ini ada kurus-kering dan kecil, umurnya baru kira-kira duapuluh tahun. Ketika dia sudah datang dekat, pendeta ini menghampiri si nona, untuk rampas goloknya.

Ah Loan curiga. Ia coba berbangkit, untuk buat perlawanan. Tapi tahu-tahu, orang berkelit kesampingnya, ia punya bebokong lantas ditotok, hingga sekejap saja kakulah seluruh tubuh atau anggautanya. Ia  cuma bisa meleki mata, akan mengawasi. Ia insyaf, ia  sudah jadi korbanaya Tiam hiat-hoat.

Pendeta tinggi-besar itu bertindak kepada muridnya kepada siapa ia ucapkan beberapa kata-kata, yang Ah Loan tidak mengarti, sudah bahasanya ada bahasa daernah lain, suaranya pun keras dan tak tedas. Atas itu si pendeta muda pegang tubuhnya si nona, untuk diangkat terus dipanggul dan dibawa pergi, dengan melewati belasan mayat ia menuju ke barat. Si pendea tinggi besar mengikuti sepintas-lalu, lantas dengan bawa toyanya sendiri, dia jalan terus mendaki bukit.

Pendeta muda itu jalan terus, sampai beberapa tikungan bukit, rupanya setelah duga si pendeia tinggi besar, atau gurunya sudah pergi jauh, ia berhentikan tindakannya, ia turunkan Ah Loan, tubuh siapa ia totok pula, tapi ini kali untuk buat orang bisa geraki kaki-tangannya dan tubuhnya juga.

Ah Loan sangka si pendeta ada orang buruk, ia lompat bangun sambil terus mengawasi dengan bengis.

“Kaii orang apa? Kemana kau hendak bawa aku?“ tanya dia.

“Jangan curigai aku,” sahut si pendeta muda seraya ia ulapkan tangan. “Kita tahu kau ada cucu perempuan dari Pau Kun Lun, kita sengaja datang untuk tolong kau. Guruku adalah Tiat Tiang Ceng yang kesohor didalam dunia kang-ou, aku sendiri ada Wan Keng Goan dari Wan- kee-chung di Kanglam, tetapi sekarang sebagai pendea, aku bernama Ceng Hian. Aku ada bersahabat  dengan  Kang Siau Hoo, belum lama ini, aku ketemui dia didistrik Teng- hong. Aku tahu betul, kepandaian dari Kang Siau Hoo ada sangat liehay, kau orang-oang Kun Lun Pay, semua bukannya tandingan dia. Dalam hal kau orang ini, kesalahan ada pada kau. Coba dulu kau tidak menikah dengan Kie Kong Kiat hanya dengan Siau Hoo, tidak nanti dia satrukan kau orang Kun Lun Pay seperti semacam sekarang.“

Ah Loan berduka mendengar orang punya tegoran itu, mukanya menjadi merah.

“Apakah kau tahu, sekarang ini Kang Siau Hoo ada dimana?“ ia paksa tanya. Ceng Hian mengeleng kepala.

“Sekarang ini, aku tidak tahu,” ia menjawab.  “Ketika aku bertemu Kang Siau Hoo, itu waktu kita orang berada di Tenghong di rumahnya Lie Hong Kiat dimana dia orang- pun berpisahan. Sejak itu, aku belum pernah bertemu pula dengannya.”

Ah Loan terperanjat akan dengar disebuinya Lie Hong Kiat, salah satu musuhnya.

“Selama dua bulan ini, aku senantiasa ikuti guruku,” Ceng Hian berkata lebih jauh. “Untuk sekian lama, kita orang berdiam digunung Hoa San. Sebenarnya guruku sudah jenuh dengan penghidupan didalam dunia kangou, ia sudah pikir buat cari satu tempat dimana ia bisa sucikan  diri, untuk ia didik terus padaku dalam ilmu silat, apa  mau ia telah dengar kabar Kang Siau Hoo membuat onar di Tiang an, seorang diri Siau Hoo rubuhkan Kun Lun Pay, ia- pun berhasil mengalahkan Kie Kong Kiat, hingga semua orang bilang, Kang Siau Hoo ada enghiong nomor satu untuk Kanglam. Mengetahui itu, guruku jadi tidak puas, ia ajak aku, dan dengan bawa-bawa toya besinya, ia turun dari Hoa San, untuk cari Kang Siau Hoo, guna lakukan satu pertandingan yang memutuskan. Tatkala kita orang sampai di Tiang-an, kita dapat keterangan Kang Siau Hoo sudah pergi lagi, sedang Kat Cie Kiang bersama-sama Kie Kong Kiat dan kau telah pergi ke Hantiong. Kita juga lantas menuju ke Selatan. Baru dua hari yang lalu kita orang sampai di Cong-hok-tin, itu dusun diluar mulut gunung sebelah Utara. Dengan berpura-pura memungut derma, guruku cari tahu halnya Kang Siau Hoo, aku sendiri dikirim ke berbagai tempat, guna buat penyelidikan. Aku tidak kenal tempat disini, untuk satu harian, aku berputar-putar di ini daerah juga, tidak pernah aku dengar halnya orang she Kang itu. Belakangan aku dengar cerita hal puteranya Ou Lip terbinasa ditangan kau, lantaran mana, kau  kena diawan oleh Ou Lip dan dibawa naik ke atas gunung. Juga ada orang lihat Kat Cie Kiang, dengan luka-lukanya, telah digotong dari mulut gunung Utara. Guruku gusar mendengar hal kau ditawan, ia benci Ou Lip yang dikatakan sudah culik orang perempuan, maka dengan  bawa toyanya, guruku pergi dengan niatan menolongi kau. Karena malam dan gelap, untuk setengah malaman, sia-sia saja ia cari kau, ia  tak dapatkan sarangnya Ou Lip. Besokannya, ketika ia keluar dari gunung, ia dapat kabar  hal Ou Lip pada itu malam binasa di tangannya Kang Siau Hoo, bahwa kau telah ditolongi dan dibawa lari oleh orang she Kang itu. Guruku jadi semakin gusar, ia anggap Kang Siau Hoo ada satu pemogor. Dia percaya, dengan rampas kau dari tangan penjahat, Kang Siau Hoo ada kandung masud busuk …”

Ah Loan susut air matanya ia goyang-goyang kepala. “Kang Siau  Hoo bermusuh  dengan  keluarga Pau, tetapi

malam itu  ia  naik gunung dan  tolongi aku, maksudnya ada

baik,” ia terangkan. “Melainkan aku …“

“Itulah aku tahu,” Ceng Hian potong. “Memang Kang Siau Hoo ada satu hoohan sejati. Tapi guruku ingin sekali lakukan pertandingan yang memutuskan dengan Kang Siau Hoo. Kemarin, satu hari lamanya kita cari Siau Hoo diatas gunung kita tidak berhasil. Tadi guruku ajak aku, untuk mencari pula, siapa tahu, ia pergoki kau sedang dikepung orang jahat.”

“Aku berterima kasih yang kau orang, guru dan murid sudah tolong aku.” nyatakan Ah Loan. “Aku menang tahu kau orang ada orang-orang gagah yang budiman, sekarang semua penjahat telah terbinasa tidak akan ada lain orang lagi yang bakal buat susah padaku, maka baiklah aku pergi susul gurumu. Selanjutnya, bagaimana adanya persengketaan kau orang dengan Kang Siau Hoo, aku tak ambil perduli pula. Dan aku hendak minta, tidak perduli kau orang bertemu siapa, jangan sekali-sekali kau orang beritahukan kemana aku sudah pergi!”

Habis kata begitu, Ah Loan putar tubuhnya, untuk berjalan pergi, untuk mana, ia tidak pernah pikirkan tujuan.

”Kau hendak pergi kemana?” tanya Ceng Hian, yang menyusul beberapa tindak.

“Tak perlu kau perdulikan kemana aku pergi!” kata Ah Loan sambil menangis. ”Aku tahu kemana aku mesti pergi

…”

Ceng Hian menghalang.

“Itulah tak dapat kau lakukan,” berkata ia. “Guruku pesan aku, untuk antarkan ke suatu tempat. Jangan kau anggap guruku ada seorang kasar. Benar dengan toya besinya itu ia telah bunuh berapa banyak orang, akan tetapi dia punya hati ada pemurah, ia biasa berbuat kebaikan, untuk menolong pada sesamanya, menolong sampai di akhirnya.”

Ah Loan tercengang.

“Habis kau orang hendak bawa aku ke mana?” taya ia. “Ke suatu tempat yang baik,” Ceng Hian jawab, “Ke Kiu

Sian Koan di Ciat Nia digunung Bie Cong San. Itu ada satu

kuil dari imam perempuan, imam tua disitu ada Too Teng Su-kou, Su-cie dari guruku, dia ini punya ilmu pedang ada liehay, tak ada disebelah bawahnya Kang Siau Hoo. Barusan guruku kasi tahu padaku, sekalian antarkan kau ke sana, Too Teng Su-kou akan diminta suka datang ke Cin Nia akan membantu ia mencari Kang Siau Hoo. Jikalau Kang Siau Hoo  dapat ditaklukkan, kaum keluarga Pau   jadi sudah lolos dari musuhnya, habis itu, kau akan diantar pulang kerumahmu.”

Ah Loan menggeleng kepala.

“Aku tidak mau pulang!” ia nyatakan. Lantas ia tanya: ”Kenapa kau orang begitu musuhkan Kang Siau Hoo? Aku tidak percaya yang kau orang dengan benar-benar hendak membantu Kun Lun Pay? Aku punya engkong tidak kenal Tiat Tiang Ceng.”

“Tabiatnya guruku ada luar biasa sekali,” Ceng Hian terangkan, “Dia tidak senang jikalau dalam dunia kang-ou ada orang yang terlebih liehay daripadanya. Long Tiong Hiap, Lie Hong Kiat dan Kie Kong Kiat, semua mereka itu ia tak lihat mata, tidak demikian terhadap Kang Siau Hoo. Turut apa yang guruku dengar, kepandaian dari Kang Siau Hoo ada warisannya Satu siucay tua, siapa tadinya cuma punyakan satu murid yang gagu. Si gagu itu ada gurunya adalah musuh besar guruku selama tigapuluh tahun, entah sudah berapa banyak kali guruku kena dibuat malu oleh mereka itu. Karena adanya itu guru dan murid, walau-pun guruku ada liehay sekali, ia toh melainkan bisa malang- melintang di Su-coan Utara dan Siamsay Selatan, untuk ke Su-coan Selatan dan bagian luar dan Tong kwan, ia sampai tidak berani pergi. Sekarang siucay tua itu telah punyakan lagi Kang Siau Hoo, karena itu guruku jadi tidak dapat bersabar pula, ia telah memikir untuk binasakan Kang Siau Hioo, kemudian dia mau cari Siucay tua dan si gagu, untuk menuntut balas!”

Mendengar demikian, Ah Loan jadi berkuatir untuk Kang Siau Hoo. Disebelah itu, ia insaf bagaimana berbahayanya orang kang-ou, yang gampang sekali memperoleh musuh dan permusuhan seperti tidak ada habisnya. Karena ini, ia punya hati jadi semakin tawar. Ia benar-benar jerih. “Kelenteng Kiu Sian Koan di In Ciat Nia pasti ada suatu tempat yang sunyi,” kemudian dia berpikir, “dan  disana aku terlindung oleh satu imam perempuan yang liehay, pastilah aku tidak bakal terganggu orang jahat. Iniah kebetulan bagiku, aku jadi bisa sekalian sucikan diri …”

Oleh karena ia berpikir demikian, ia  lantas nyatakan pada Ceng Hian : “Aku suka pergi ke kuil imam untuk sucikan diri, sekarang baik kau tunjuki jalanannya, supaya aku bisa pergi sendiri.”

“Kuil itu berada di tempat sangat sunyi, tidak nanti kau dapat cari,” Ceng Hian bilang. “Too Teng Su-kou juga ada seorang dengan tabiat aneh sekali, apabila kau pergi sendiri dia tidak bakalan terima padamu. Sekarang kau ikuti aku keluar dari mulut barat dari gunung ini, disana aku nanti sewa sebuah kereta, untuk kau naiki, aku sendiri akan ikuti kau secara diam-diam. Aku tanggung yang aku akan antar kau sampai ke Kiu Sian Koan dengan tidak kurang suatu apa!“

Ah Loan berdiam. Melihat orang bisa bekerja demikian sempurna, ia jadi sangsikan pendeta muda ini.

Ceng Hian rupanya dapat bade orang punya kecurigaan. “Kau  jangan curigai aku,” kata ia  dengan  hunjuk roman

sungguh-sungguh.   “Kita   orang-orang   suci   tidak   punya

pikiran yang tak keruan. Mengenai kau, kita melainkan hendak tolong padamu. Kau ada seorang perempuan, kau juga sedang terluka, berdiam didalam gunung ini, kau terancam bahaya. Disebelah itu, aku tahu benar kau telah dipersukar oleh urusannya kau punya engkong. Tidak seharusnya engkongmu titah kau, seorang perempuan, pergi layani Kang Siau Hoo.”

Ah Loan usut air matanya, sekarang lenyap ia punya kesangsian, maka ia lantas menurut. “Baikiah,” bilang ia.

Ceng Hian lantas bertindak, menuju kemulut barat dari gunung itu.

Ah Loan ikuti ini pendeta, terus sampai diluar gunung, disebuah dusun. Disini Ceng Hian lantas cari kereta, yang ia sewa. Kepada Ah Loan ia serahkan dua puluh tail perak, untuk ongkosnya nona ini. Sesudah pesan pada tukang kereta, hweeshio ini lantas ngeloyor pergi.

Ah Loan ada sangat berterima kasih pada Tiat Tiang Ceng dan muridnya itu, orang-pun sudah tolong ia dengan sesungguh-sungguhnya hati. Hanya disebelahnya itu, ia berkuatir untuk Kang Siau Hoo. Tiat Tiang Ceng menggunai sebatang toya besi yang sangat berat dan Ceng Hian, Si murid, pandai Tiam-hiat-hoat, walau-pun Siau Hoo lehay, mana dia sanggup layani itu guru dan murid berdua? Maka ia jadi berduka.

Dihari pertama itu, kereta keledai jalan seantero hari, kapan sang sore datang, Ah Loan singgah disebuah pondokan. Disini ia bicara sama isterinya tuan rumah, ia keluarkan sejumlah uang, untuk minla tolong dibelikan pakaian dan sepatu bekas, untuk ia salin dan dandan, benar kemudian ia dapati pakaian yang kurang sepan, tetapi ini ada lumayan. Ia-pun anggap, sesampainya di Kiu Sian Koan, ia bakal tukar pakaian lagi, ia akan pakai jubah suci.

Dihari ke dua, perjalanan dilanjutkan. Ah Loan tidak kenal jalanan, ia antap si tukang kereta jalan sendiri.

Sesudah jalan dua hari setengah, pada itu tengah hari, Ah Loan lihat Tiat Tiang Ceng dan Ceng Hian mendatangi dari sebelah depan, untuk memapak padanya. Sesudah mana, mereka hunjuki kemana tukang kereta mesti menuju lebih jauh, ialah dengan melintasi gunung, akan berbenti di kaki bukit di tempat yang penuh dengan pepohon lebat, hingga kereta tak dapat berjalan lebih jauh.

Oleh karena lukanya tidak terawat dan ia mesti lakukan perjalanan berhari-hari, Nona Pau menjadi lelah, ketika ia turun dari kereta, hampir-hampir ia sukar menindak, oleh karena itu, Tiat Tiang Ceng suruh Ceng Hian gendong kembali nona itu, buat dibawa nanjak keatas bukit, hingga sampailah mereka di Kiu Sian Koan yang mencil sendirian dan sunyi.

Itu hari, Too Teng Su-kou tidak ada di kuil, dari itu Tiat Tiang Ceng titipkan Ah Loan kepada imam perempuan yang urus kuil itu, untuk mana ia minta Ah Laon diberikan satu kamar sendirian serta si nona mesti dirawati, kemudian pendeta ini bersama muridnya turun gunung, akan pergi ke dusun dimana ada sebuah bio dimana mereka menumpang tinggal.

Berselang dua hari, Too Teng Su-kou pulang, bersama- sama Tiat Tiang Ceng. Ah Loan dapatkan imam perempuan ini ada beroman sangat bengis, mulutnya lancip, matanya bundar seperti mata burung garuda, meski- pun romannya tidak mengasih, dia bersikap ramah tamah sekali.

“Kau baik-baik rawat lukamu disini,” demikian imam itu. “Jikalau nanti kau sudah sembuh, aku akan ambil kau sebagai muridku. Tentang musuh kau ialah Kang Siau Hoo di Cie.yang dia telah bunuh Liong Cie Khie, dari sana dia buron, mungkin ke Su-coan Utara, tapi kau jangan kuatir, lambat atau laun, kita bakal balaskan sakit hatinya kau orang kaum Kun Lun Pay.”

Ah Loan manggut, ia menyahuti, akan tetapi didalam hatinya, ia berkuatir untuk Kang Siau Hoo. Setelah itu hari, beberapa hari Tiat Tiang Ceng masih suka datang. Adalah Cen Hian, yang belum pernah muncul pula. Setiap kali Tiat Tiang Ceng datang, dia tentu pasang omong dengan Too Teng Su-kou mengenai halnya Kang Siau Hoo. Karena tempat mereka bicara ada disamping ruangan Lu Cou-su, diruangan luar, dekat  dengan kamarnya Ah Loan, si nona saban-saban bisa dengar pembicaraan mereka. Lama-lama Ah Loan-pun jadi mengarti juga bahasanya Tiat Tiang Ceng, hingga ia jadi ketahui bahwa Ceng Hian sudah dikirim gurunya pergi buat penyelidikan ke Su-coan Utara, bahwa satu atau dua kali Ceng Hian pulang, terus dia pergi pula. Kabar yang didapat berbunnyi bahwa Kang Siau Hoo sudah membegal keluarga pembesar negeni di Lo Su Nia serta telah membinasakan bahwa hamba negeri pengiring keluarga pembesar itu.

Dua-dua Tiat Tiang Ceng dan Too Teng Su-kou percaya habis kabar yang didapat itu, karenanya mereka jadi sangat gusar dan sengit, ingin mereka bisa segera cekuk Kang Siau Hoo untuk lantas dibunuh mampus. Dengan adanya peristiwa itu sebagai alasan, mereka jadi tak boleh ijinkan orang yang terlebih gagah itu hidup lebih lama pula dalam dunia kang-ou.

Sebaliknya daripada itu imam dan hweeshio, Ah Loan tidak percaya kabar itu. Ia sudah ketahui baik sifatnnya Kang Siau Hoo, dia tahu pemuda itu bukannya seorang kejam, jahat dan pemogor. Sebaliknya, mendengar hal lukisan roman dan potongannya Kang Siau Hoo yang katanya bemuka hitam dan gemuk, kepalanya besar dan senjatanya golok, ia teringat kepala Liong Cie Khie, ia punya susiok, paman.

Oleh karena pikiran keselamatannya Kang Siau Hoo, kendati-pun kuil ada tenteram, hatinya Ah Loan ada tidak tenang, apa pula kemudian ketka ia tak tampak pula Tiat Tiang Ceng dan Too Teng, buat beberapa hari saja, ia jadi semakin kuatir.

Oleh karena ia dapat beristirahat hari lewat hari, luka- lukanya Ah Loan mulal menjadi sembuh, kemudian selang hampir satu bulan, pada suatu sore, Tiat Tiang Ceng datang bersama-sama muridnya, dengan mereka-pun ajak seorang tua yang sudah ubanan, ialah bukan lain dari pada Pau Kun Lun.

Ah Loan menangis sedih sekali kapan ia telah bertemu dengan engkongnya itu, kemudian sesudah tuturkan ia punya semua pengalaman, yang membuat hatinya tawar. Ia benitahukan sang engkong bahwa ia tidak ingin pulang lagi, bahwa ia hendak sucikan diri didalam Kiu Sian Koan, untuk mana, tentu saja ia tidak sudi bertemu pula dengan Kie Kong Kiat.

“Ya-ya,” ia-pun tambahkan, setelah ia utarakan cita- citanya, “kau juga baik menyingkir ke gunung ini saja, jangan kau pergi kelain tempat agi, disini kau boleh bersembahyang dan bersujut kepada Buddha yang maha suci. Tentang aku, yaya jangan buat kuatir. Lagi beberapa hari, kapan Too Teng Su-kou pulang, aku akan salin pakaian, selanjutnya, yaya tak usah cari-cari pula padaku, harap yaya tidak omong kepada siapa juga perihal aku berada disini!”

Ah Loan menangis.

Cin Hui menjublek, ia bungkam.

Engkong ini punya pakaian juga robat-rabit tak keruan, kumis-jenggotnya kusut seperti bulu domba putih, ditubuhnya ada kedapatan tanda darah, sedang kulit mukanya, yang biasanya merah tua, sekarang menjadi putih pucat. Pada muka itu-pun ada baret-baret. Dengan sangat berduka, Ah Loan tarik tangannya sang engkong.

“Yaya, kau kenapa?” tanya cucu ini sembari menangis. “Yaya hadapi perkara apa? Sekarang dari mana yaya datang?”

Pau Kun Lun menghela napas, ia ada sangat lesu, ia goyang-goyang kepala, ia tidak lantas menyahuti.

Tiat Tiang Ceng sudah lantas keluar pula dari dalam kamar, sesudah mana, kemudian Ceng Hian pegang tangannya jago tua itu, untuk juga diajak keluar.

Mereka itu pergi kepekarangan, Ah Loan tidak mengikuti, akan tetapi ia pasang kuping.

“Kang Siau Hoo telah dapat tangkap kau tetapi ia tidak bunuh padamu, kenapa?” demikian pertanyaan dengan suara yang keras dari si pendeta bertoya besi.

“Melihat dia punya sikap,” sahut Pau Kun Lun, selelah ia menghela napas, “dia rupanya hendak bawa aku ke Tin- pa ke gunung dimana dulu aku bunuh ayahnya, disitu barulah dia hendak bereskan aku. Mungkin secara demikian barulah hatinya bisa puas …”

“Dan siapa yang lakukan kejahatan di Loo Su Nia itu?” Tiat Tiang Ceng tanya pula.

“Itulah aku tidak tahu,” sahut Cin Hui. “Hanya aku berani tanggung dengan jiwaku yang tua ini, itu pasti bukan perbuatannya Liong Cie Khie!”

-ooo0dw0ooo-
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Burung Hong Menggetarkan Kunlun (Ho Keng Koen Loen) Jilid 26"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close