close

Budi Ksatria Jilid 16

Jilid 16

"Seandainya dia cuma malang melintang seorang diri belaka, dan tujuannya hanya untuk mencari harta kekayaan, keadaan tersebut masih rada mendingan, sebaliknya kalau dia sampai ditarik Shen Bok Hong untuk menjadi komplotannya, entah berapa banyak jago persilatan lagi yang bakal menemui ajalnya ditangan mereka berdua...."

Berpikir sampai disini, timbulah napsu membunuh dalam hati kecilnya, dengan suara dingin ia segera berkata

"Memandang pada perbuatan kalian berdua yang begitu terkutuk, serta cara melepaskan racun yang sama sekali tidak menimbulkan sedikit gerakanpun, sungguh membuat orang sukar untuk menjaga diri seandainya tujuan lo hujin adalah untuk menjagoi kolong langit, entah berapa banyak pembunuhan serta peristiwa menyedihkan yang bakal berlangsung dalam dunia persilatan".

"Hmm!Kalau dikatakan aku suka akan harta kekayaan, hal itu akan kuakui dengan senang hati, akan tetapi selamanya aku belum pernah mencelakai jiwa seorang manusiapun" seru nenek itu bermuka jelek itu dengan suara dingin.

"Mungkin saja lo hujin memang memiliki hati yang halus seperti itu, akan tetapi dunia persilatan penuh diliputi berbagai kelicikan, banyak kejadian dalam dunia persilatan yang sukar diduga sebelumnya andaikata lo hujin sampai terseret oleh arus kejahatan dalam dunia persilatan, bukankah keadaan itu bakal berabe dan seperti halnya meninggalkan bibit bencana buat kemudian

Mendengar perkataan itu nenek bermuka jelek itu jadi amat gusar. Segera bentaknya

"Kalian memaksa diriku terus menerus dengan ucapan yang sama sekali tak masuk diakal, rupanya kalian benar2 hendak paksa aku untuk mengadu jiwa??"

"Apabila keadaannya memang sangat mendesak, daripada kejadian ini berlangsung di masa mendatang, aku lihat lebih baik terjadi pada saat ini juga....!"

Sorot matanya segera dialihkan kearah Teng It Lui kemudian sambungnya lebih jauh.

"Teng jihiap, engkau adalah seorang jago persilatan yang kawakan, banyak pengalaman serta pengetahuan yang kau miliki apakah engkau mengetahui akan asal usul dari nenek dan cucu perempuannya berdua ini ??"

"Aku belum pernah mendengar" jawab Teng It Lui sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Siau Ling segera alihkan kembali sorot matanya keatas tubuh nenek bermuka jelek itu ujarnya lagi:

"Teng ji hiap sudah berpuluhan tahun lamanya melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, akan tetapi ia belum pernah mendengar nama serta asal usul dari kalian berdua hal ini menunjukkan kalau perbuatan kalian didalam dunia persilatan masih belum terlalu lama"

"Apa yang sebenarnya kau kehendaki!" seru nenek tua bermuka jelek itu dengan nada dingin, "cepat katakanlah akan tetapi ada satu hal aku hendak menerangkannya lebih dahulu kalau syarat yang kau ajukan terlalu muluk2 maka bukan saja aku tak akan menerima syaratmu itu bahkan kemungkinan besar aku akan mengandalkan kepandaian silat yang kumiliki untuk beradu jiwa dengan kalian"

"Hal itu harus dilihat dulu bagaimanakah jalan pikiran lo hujin.. " sahut Siau Ling. Setelah berhenti sebentar, dia menyambung lebih jauh:

"Pertama engkau harus membawa cucu perempuanmu untuk segera mengundurkan diri dari dunia persilatan, selama lima tahun mendatang dilarang untuk melakukan perjalanan lagi didalam

dunia persilatan, disamping itu kalianpun harus mengasingkan diri kesuatu tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia. Kalian dilarang untuk menerima undangan diri siapapun jua untuk muncul kembali didalam dunia persilatan."

"Selain itu???" tanya sang nenek jelek dengan cepat.

"Jawab dulu, sanggupkah engkau menerima syarat yang barusan kuajukan itu...??"

"Aku sudah pernah berdiam selama puluhan tahun lamanya ditengah hutan serta pegunungan yang terpencil, untuk mengasingkan diri selama lima tahun lagi bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan bagiku."

"Kedua, asalkan lo hujin dapat mengajukan suatu cara yang bisa menjamin bahwasanya engkau akan menepati janji serta pegan teguH syarat tersebut maka aku segera akan lepaskan cucu perempuanmu ini

"Jaminan bagaimanakah yang kau inginkan?"

"Asalkan engkau dapat menjamin bahwa dalam lima tahun mendatang engkau tidak akan melakukan kegiatan lagi didalam dunia persilatan." "Aku tak dapat melakukan sesuatu cara apa pun jua!"

Siau Ling memandang sekejap kearah gadis manis yang berada dicekalannya, kemudian berpikir didalam hati:

"Ilmu melepaskan racun yang dimiliki nenek tua bermuka jelek itu lihay sekali, aku rasa budak inipun pasti sudah mendapat warisan atas seluruh kepandaian yang dimilikinya, kalau aku gunakan perempuan ini sebagai jaminan, maka rasanya dia tak akan berani melanggar perjanjian"

Berpikir sampai disini ia segera berkata.

"Kami akan menahan cucu perempuanmu sebagai jaminan, asalkan lohujin bisa pegang janji dan selama lima tahun tak akan melakukan perjalanan lagi dalam dunia persilatan, maka kamipun akan melayani cucu perempuanmu ini secara baik2. Lima tahun kemudian akan kulepaskan dirinya kembali sehingga dapat berkumpul kembali dengan dirimu.

Mendengar perkataan tersebut nenek tua bermuka jelek itu jadi naik pitam, teriaknya:

"Tidak bisa jadi, kami berdua hidup bersama sudah banyak tahun, kalau engkau menahan dirinya sebagai jaminan, alangkah baiknya kalau selembar jiwaku dicabut sekalian saja!"

Padahal ketika Siau Ling mengutarakan cara tersebut, dalam hati kecilnya dia sudah merasakan ketidak sesuaian cara itu untuk dilaksanakan, meskipun caranya bagus, namun tindakan itu terlalu kasar dan tidak memakai aturan,

Sebelum sianak muda itu sempat buka suara, Ceng Yap Ching telah berkata dengan suara lantang

"Kalau engkau merasa cara ini tidak sesuai dengan jalan pikiranmu, aku lihat lebih baik engkau sendiri saja yang mengajukan suatu cara yang lebih baik?"

Tiba2 nenek tua bermuka jelek itu menengadah keatas dan tertawa terbahak2.

"Haaah..haaah...haaah... Tidak sulit apabila kalian mengharapkan agar aku menerima syarat yang kalian ajukan itu, akan tetapi aku mohon dilangsungkan lebih dahulu suatu pertarungan yang

adil"

"Bagaimana maksudmu?? Pertarungan adil yang bagaimana??"

"Diantara kalian pilihlah salah seorang jago untuk berduel satu lawan satu melawan diriku, kalau kalian tidak mampu untuk menandingi kepandaian silatku maka lepaskanlah cucu perempuanku itu, jangan campuri soal gerak gerik dari diriku lagi."

"Seandainya kami yang beruntung dan berhasil merebut kemenangan?"

"Kalau kalian yang menang maka aku akan menyetujui dengan syarat yang kalian ajukan itu aku akan serahkan cucu perempuanku kepada kaiian sebagai jaminan, sementara aku sendiri akan mencari suatu tempat yang terpencil dan jauh dari keramaian dunia untuk melewatkan masa lima tahun yang sepi dan sunyi itu seorang diri"

"Ehmm! cara yang kau ajukan itu memang adil sekali!" sahut Siau Ling kemudian.

"Kalau memang engkau merasa bahwa cara yang kuajukan itu adil mengapa tidak kalian setujui cara itu??"

"Tentu saja akan kusanggupi... "

"Tunggu sebentar!" tiba2 Teng It Lui berseru dengan suara lantang. "Teng jihiap, engkau ada urusan apa??" Siau Ling segera bertanya.

"Kita harus tanyakan dahulu pertarungan yang akan dilangsungkan itu adalah suatu

pertarungan dengan cara bagaimana? Andaikata masing2 harus andalkan ilmu silat untuk

bertempur, tentu saja kita boleh menerima syarat tersebut sebaliknya kalau dia menggunakan

racun keji untuk menjebak kita, lebih baik kita jangan terjebak oleh siasat liciknya itu "

"Ehmm! Masuk diakal juga perkataanmu itu... "

"Siapakah yang akan bertarung melawan diriku??" tanya nenek tua bermuka jelek itu kemudian.

"Aku yang akan menghadapi dirimu", sahut Siau Ling serta Ceng Yap Cing hampir bersamaan waktunya.

Nenek tua bermuka jelek itu tertawa dingin tiada hentinya.

"Too ya ini memiliki ilmu silat yang sangat tinggi dan luar biasa sekali, aku bersedia untuk melangsungkan pertarungan melawan too ya ini saja."

"Bagus sekali! Jawab Siau Ling cepat, aku pun dengan senang hati akan melayani dirimu."

Nenek tua bermuka jelek itu tertawa dingin, katanya kemudian.

"Heeeeh... Heeeeh... Heeeeh... Kita akan saling beradu senjata tajam? ataukah beradu

kepalan????"

"Tentang soal ini terserah kepada kehendakmu sendiri!"

"Aku sinenek tua ingin bertempur dengan kepalan kosong maupun senjata tajam secara bersama!" Kata nenek tua bermuka jelek itu lagi dengan nada dingin. "Apa maksudmu itu???."

"Mula mula kita saling beradu kepalan kosong lebih dahulu. Kalau didalam seratus jurus gebrakan menang kalah masih sukar untuk diientukan, maka kita beradu lagi dengan menggunakan senjata tajam kalau dalam seratus jurus gebrakan dalam senjatapun kita tak berhasil untuk menentukan siapa menang siapa kalah. Terpaksa kita harus saling beradu dalam hal tenaga dalam.

Jikalau dalam seratus jurus bertempur dengan kepalan kosong. Menang kalah sudah bisa ditentukan? Apa yang kita lakukan???."

"Siapa yang menderita kekalahan. Dialah orang yang berada dipihak kalah....!" ^1

Siau Ling segera berpaling dan menotok dua buah jalan darah penting diatas tubuh Yong ji.

Pek li peng menggerakkan tangan kanannya untuk mencengkeram pergelangan kanan Yong ji, lalu serunya:

"Serahkan saja orang ini kepadaku!"

Siau Ling melepaskan Yong ji lalu perlahan2 berjalan msju kedepan, ujarnya: "lo hujin, sekarang engkau boleh bersiap-siap untuk turun tangan"

Meskipun dia memakai baju seorang toosu akan tetapi dalam pembicaraan sianak muda itu tak mampu untuk menirukan gerak gerik serta logat berbicara dari kaum beribadat. Dengan suara dingin dan ketus,nenek tua bermuka jelek itu segera berseru lantang:

"Engkau bukan seorang imam ..bukankah begitu??"

"Engkau tak usah menanyakan siapakah aku, kalau bisa menangkan diriku maka sama urusan akan menjadi jelas dengan sendirinya"

Nenek tua bermuka jelek itu seketika naik pitam, hawa amarahnya sukar dibendung lagi, dengan mulut membungkam telapak tangannya langsung diayun kedepan menghajar dada lawannya.

Angin pukusan amat kuat dan kencang, segulung desiran angin tajam langsung menghajar kearah muka.

Siau Ling angkat tangan kanannya dan menyambut datangnya ancaman tersebut deng an keras lawan keras...

"Blaaam?" Suatu benturan yang amat dahsyat segera menggeletar diangkasa.

Nenek tua bermuka jelek itu merasakan tenaga pukulan yang dilancarkan Siau Ling sangat hebat sekali, tak dapat dikuasai lagi badannya tergetar mundur satu langkah kebelakang.

Siau Ling sendiripun merasakan pengelangan tangan kanannya jadi linu dan kaku diam2 diapun merasa amat terperanjat. Pikirnya

"Tenaga dalam yang dimiliki nenek tua ini betul2 amat kuat"

Berpikir sampai disini, sepasang telapaknya secara beruntun didorong kearah depan, secepat kilat ia lancarkan serangan yang betubi2 kearah nenek tua jelek itu.

Rupanya rienek tua bermuka jelek itu telah menyadari bahwa ia telah berjumpa dengan musuh amat tangguh, sekuat tenaga ia berusaha melancarkan serangan cepat untuk merebut posisi yang lebih menguntungkan.

Daiam waktu singkat suatu pertarungan sengit yang amat mendebarkan hatipun berlangsung disana.

Enam puluh jurus telah berlalu tanpa terasa, rupanya nenek tua bermuka jelek itu telah menyadari bahwa pertarungan dalam seratus jurus tak mungkin dapat menangkan Siau Ling, ia segera merubah posisinya dari menyerang jadi bertahan, ia bersiap siap untuk bertarung sampai seratus jurus kemudian baru mencari kemenangan dalam pertarungan senjata tajam.

Akan tetapi serangan demi serangan yang dilancarkan Siau Ling semakin lama semakin cepat, makin lama makin gencar dan luar biasa.

Kembali belasan jurus telah lewat, nenek tua bermuka jelek itu sudah digencet dan didesak Siau Ling habis-habisan hingga sama sekali tak bertenaga lagi untuk melancarkan serangan balasan.

Keringat dingin sebesar kacang kedelai mulai mengucur keluar membasahi seluruh wajah nenek tua itu, secara paksakan diri kembali ia bertahan sebanyak jurus lagi suatu ketika ia meleset untuk menghindarkan diri dan tak ampun lagi bahu kirinya termakan sebuah pukulan yang amat keras dari si anak muda itu.

Serangan tersebut mengenai sasarannya dengan amat berat, menggetarkan sekujur badan nenek tua bermuka jelek itu sehingga secara beruntun mundur empat lima langkah kebelakang dengan sempoyongan, setelah berusaha dengan susah payah akhirnya ia baru berhasil berdiri tegak.

Siau Ling segera menarik kembali serangannya dan loncat mundur kebelakang, ujarnya dengan lirih: "Maaf.."

Air muka nenek tua bermuka jelek itu berubah jadi hijau membesi, katanya dengan dingin: "Serangan itu berhasil pada jurus yang ke berapa ??" "Jurus kesembilan puluh tiga ! "

"Diantara sembilan puluh tiga gebrakan tersebut sudah berapa kali engkau saling beradu tenaga dengan diriku ?"

"Tiga kali!"

"Ada suatu hal aku hendak menerangkan lebih dahulu kepadamu!" "Katakanlah, akan kudengarkan dengan seksama!"

Aku sudah menderita kekalahan ditanganmu, tentu saja aku harus menuruti perjanjian dan segera mengasingkan diri dari keramaian dunia persilatan... "

"Aku lihat lohujin bukanlah seseorang yang biasa mengingkari janji "sela Siau Ling dengan cepat

"Aku hendak menerangkan kepadamu bahwasanya diatas telapak tanganku mengandung sejenis racun keji yang sangat aneh sekali, ketika engkau saling beradu tenaga sebanyak tiga kali tadi, racun keji tersebut sudah menempel diatas telapak tanganmu dan menyusup masuk kedalam tubuh, tiada obat lain yang bisa menyelamatkan jiwamu lagi. Setelah aku mengasingkan diri dari keramaian dunia pada akhirnya engkaupun akan menemui ajal",

Pek li Peng segera tertawa dingin, ujarnya :

"Heeh..heeh..heeh. Lo hujin, aku rasa engkau telah melupakan tentang suatu persoalan" "Persoalan apa"

"Cucu perempuan masih berada didalam cengkeraman kami setiap saat kami dapat pula menyelesaikan selembar jiwanya.

Nenek tua bermuka jelek itu jadi naik pitam dibuatnya ia segera berteriak keras. "Perkataan yang telah kalian ucapkan masih terhitung atau" tidak?"

"Engkau meracuni orang secara diam-diam tentu saja janji pertaruhan tersebut batal dan tidak berlaku lagi!"

"Akan tetapi pada waktu itu engkaupun belum mengatakan pula bahwa engkau akan mempergunakan racun, jika obat pemunah tersebut tidak kau serahkan kepada kami, maka engkaupun jangan harap cucu perempuanmu bisa hidup dengan segar bugar di kolong langit."

"Kalau kalian mengingkari janji serta mencelakai jiwa cucu perempuanku, maka aku akan pergunakan beribu-ribu lembar jiwa manusia dalam dunia persilatan untuk menebus kematiannya

itu!"

"Hmmm! Engkau mana mampu untuk meloloskan diri dari tempat ini?? setelah cucu perempuanmu kubunuh maka kami akan mencabut selembar jiwamu, kemudian badanmu akan kami geledah untuk mencari obat pemunah tersebut."

Mendengar ancaman itu nenek tua bermuka jelek tersebut segera tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeeh.. heeeh heeeh kecuali hidung kerbau ini, aku masih belum dapat melihat jelas siapa diantara kalian yang mampu menandingi diriku, sekalipun kalian turun tangan bersama, bila aku ingin melarikan diri rasanya bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu menyulitkan bagiku"

Siau Ling tertawa ewa, selanya.

"Mungkin lo hujin menganggap bahwa racun yang mengeram dalam telapak tanganmu itu amat dahsyat dan luar biasa sekali sehingga cukup untuk membinasakan diriku, akan tetapi kalau aku tidak jeri menghadapi kematian dan tetap memegang janji apakah lo hujin pun akan tetap memegang janjimu semula??"

"Tentu saja aku akan memegang janjiku seperti semula!"

"Bagus sekali kalau memang begitu mari kita laksanakan janji kita seperti apa yang telah dirundingkan tadi."

Nenek tua bermuka jelek itu memandang sekejap kearah Siau Ling, kemudian dengan nada tercengang serunya;

"Benarkah engkau tidak takut mati?"

"Tidak takut!" Jawab Siau Ling sambil gelengkan kepala berulang kali "Kalau memang begitu aku akan berpamitan kepada kalian sekarang juga aku akan mengasingkan diri ditengah pegunungan yang terpencil dan selama lima tahun tak akan muncul kembali didalam dunia persilatan, tetapi kalianpun harus baik-baik melayani cucu perempuanku ini apabila dia mendapat sesuatu perlakuan yang tidak genah sehingga terluka atau cedera, bukan saja semua orang yang berada disini harus mengorbankan jiwanya, bahkan dunia persilatanpun akan dilanda oleh badai darah yang sangat mengerikan."

"Jangan kuatir, kalau engkau mau pergi pergilah dari sini secepatnya, Nenek tua bermuka jelek itu tidak banyak bicara lagi, tiba2 muncullah dua orang pria kurus tinggi berbaju abu2 yang berjalan masuk kedalam rumah makan secara bersama-sama.

Pintu ruangan itu lebarnya hanya lima depa, dengan jalan bersanding maka seluruh pintu itu tersumbat.

Sejak menderita kekalahan ditangan anak muda she Siau itu, hawa gusar dan rasa mendongkol yang berkecamuk dalam dada nenek tua bermuka jelek itu belum tersalur, menyaksikan ada dua orang pria menghalangi jalan perginya, ia jadi semakin naik pitam tegurnya dengan suara dingin.

Kedua orang pria tinggi kurus yang memakai baju abu2 itu saling bertukar pandangan sekejap mereka masih tetap berdiri tegak ditempat semula tanpa berkutik barang sedikitpun jua.

Nenek tua bermuka jelek itu segera berpaling kearah Siau Ling dan bertanya dengan suara lirih:

"Apakah engkau kenal dengan kedua orang itu??"

"Aku sama sekali tidak kenal dengan dirinya!" jawab Siau Ling sambil gelengkan kepalanya berulang kali.

Mendengar jawaban tersebut napsu membunuh dengan cepat terpancar keluar dari balik mata nenek tua bermuka jelek itu, serunya kemudian dengan nada dingin;

"Apakah kalian berdua telah mendapat perintah dari seseorang untuk menyusahkan diriku??"

Sambil berkata tangan kanannya secara tiba-tiba berkelebat kearah depan dan mencengkeram pergelangan tangan pria kurus yang berada disebelah kanannya itu.

Dengan cepat pria itu memutar tangan kanannya, tiba2 dengan jari tengah serta jari telunjuknya dia melancarkan serangan balas menotok urat nadi diatas tubuh nenek tua bermuka jelek itu.

Dengan cepat nenek tua itu menarik kembali tangan kanannya, tangan kiri bersamaan waktunya bergerak kedepan, sepasang telapak secara beruntun melancarkan serangan berantai.

Pria tinggi kurus itu sama sekali tak mau mengalah, tiap serangan dibalas dengan serangan, tiap kepala dibalas dengan kepala sehingga suatu pertarungan yang amat sengitpun terjadi.

Dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah saling bergebrak sebanyak belasan jurus lebih. Diantara kedua orang manusia berbaju abu-abu itu hanya orang yang berada disebelah kanan saja yang turun tangan sedangkan orang yang berada disebelah kiri masih tetap berdiri tak berkutik ditempat semula, ia tidak melerai pun tidak turun tangan membantu, sambil berpeluk tangan tetap berdiri menonton jalannya pertarungan itu dari sisi kalangan.

Diam-diam Siau Ling mengawasi kedua orang manusia berbaju abu-abu itu dengan seksama, ia lihat mereka berdua mempunyai perawakan badan yang tinggi dan kurus, berdiri didepan pintu persis seperti sepasang bambu yang tinggi.

Potongan wajah kedua orang itu aneh sekali, kalau sebelumnya pernah mendengar atau pernah melihat orang itu maka dalam sekilas memandang siapapun akan mengenalinya kembali, akan tetapi sesudah setengah harian lamanya Siau Ling memperhatikan kedua orang itu, namun tak seorangpun diantaranya yang ia kenal.

Ketika ia berpaling kearah lain, maka tampaklah Teng It Lui berdiri termangu-mangu ditempat semula, air mukanya menunjukkan sikap yang kereng dan amat serius.

Jelas ia merasa amat kaget dan terperanjat sekali dengan kehadiran dua orang manusia berbaju abu2 yang muncul secara tiba-tiba itu.

Dalam pada itu, pertarungan antara nenek tua bermuka jelek dengan manusia berbaju abu2 masih berlangsung dengan serunya, menang kalah masih sukar untuk ditentukan, kedua belah pihak sama2 menggerakkan telapak tangannya dan saling beradu sebanyak puluhan jurus.

Tiba-tiba lelaki berbaju abu2 itu loncat mundur kebelakang dengan hati terperanjat, serunya dengan dingin.

"Diatas tanganmu mengandung racun yang amat keji!"

"Sedikitpun tidak salah, diatas tanganku memang mengandung racun yang amat keji.'

Napsu membunuh yang amat tebal dengan cepat menyelimuti seluruh wajah manusia berbadan kurus kering itu, dia singkap baju luarnya dan cabut keluar sebatang senjta penggaris kumala panjang, serunya lantang.

"Sekarang obat pemunah berada dimana??"

"Berada didalam sakuku!"

"Kubunuh engkau obat pemunah itu segera akan kudapatkan!" "Hmm! Yang aku kuatirkan justru engkau tak mampu untuk membinasakan diriku." "Baik!" seru manusia baju abu2 itu sambil ayunkan senjata penggaris kumalanya, "mari kita coba saja"

Sambil miringkan badan ia segera maju kedepan.

Tiba-tiba manusia baju abu2 yang ada disebelah kiri menghalangi jalan maju rekannya sambil berseru,

"Loji, jangan bergerak secara gegabah!"

Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah nenek tua bermuka jelek itu, serunya,

"Apakah engkau adalah Wu Popo??"

Nenek tua bermuka jelek itu tertegun, kemudian sahutnya,

"Siapa engkau? Dari mana bisa tahu akan asal usulku??"

"Haaah...haaah...haah... aku adalah Ma Poo!"seru manusia baju abu-abu itu sambil tertawa tergelak-gelak.

"Sepasang pendekar dari propinsi Leng lam??"

"Wu Popo, engkau tak usah menempelkan emas diatas wajah kami dua bersaudara, kami sama sekali tidak keberatan orang lain memanggil diri kami dengan sebutan yang ada, orang kangouw menyebut diri kami sebagai sepasang iblis dari propinsi Leng lam saja."

"Kalau memang kalian berdua kenal dengan diriku, sudah sepantasnya kalau kuhadiahkan pula obat pemunah untuk mu!"

Sambil berkata dari dalam sakunya nenek itu ambil keluar sebutir pil dari kotak emas kemudian diangsurkan kedepan.

Manusia baju abu2 itu melirik sekejap kearah obat pemunah tersebut akan tetapi dia sama sekali tidak menerimanya.

Ma Poo segera tersenyum katanya,

"Lo ji, terimalah obat pemunah itu! Wu Popo bukan orang luar."

Manusia baju abu-abu yang ada disebelah kanan segera menyimpan kembali senjata penggaris kumalanya kemudian menerima obat pemunah itu dan dimasukkan kedalam mulut.

Siau Ling maupun Ceng Yap Ching sekalian yang menyaksikan orang2 itu dari pertarungan kemudian jadi bercakap-cakap dengan suasana damai dalam hati segera menyadari apabila pembicaraan itu berlangsung terus ada kemungkinan besar sepasang iblis dari propinsi Leng lam itu akan membantu Wu Popo untuk merebut kembali Yong ji dari tangan mereka dan pada waktu itu suatu pertarungan sengit tak akan terhindar lagi.

Sedikitpun tak salah terdengar Wu Popo sedang berkata.

"Aku baru saja kalah bertarung dengan orang lain sehingga menderita kekalahan total, sekarang juga harus tinggalkan tempat ini aku harap kalian berdua suka menyingkir kesamping!."

"Engkau kalah ditangan siapa?? apa pula yang kalian pertaruhkan??" tanya Ma Po keheranan.

"Hmmm! Peristiwa ini tak ada sangkut pautnya dengan kalian berdua."

Sambil menjawab Wu Popo segera bergerak menuju kearah luar.

Dengan cepat Ma Po merentangkan tangannya untuk menghalangi jalan pergi Wu Popo, serunya:

" Wu Popo, mengapa engkau pandang luar terhadap kami berdua ?? engkau pasti kenal bukan dengan Siau yau cu totiang??"

"Kalian berdua kenal dengan Siau yau cu ?" Wu Popo segera menghentikan langkah kakinya.

"Kedatangan kami justru karena mendapat undangan dari Siau yau cu totiang untuk datang kemari menyambut kedatangan Wu Popo "

sesudah berhenti sebentar, sambungnya lebih jauh.

"Sebenarnya kami sudah puluhan tahun lamanya mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan setelah kali ini mendapat undangan dari Siau yau cu totiang, tak bisa tidak terpaksa kami harus turun gunung untuk memenuhi undangan itu"

"Aku sendiripun sudah duapuluh tahun lebih tak pernah melakukan perjalanan lagi didalam dunia persilatan, tapi setelah tiap hari datang sepucuk surat undangan dari Siau yau cu hidung kerbau tua itu, lama kelamaan aku jadi tak betah juga sehingga akhirnya munculkan kembali didalam dunia persilatan, sungguh tak nyana nasib kami memang kurang begitu beruntung, dalam suatu pertaruhan aku telah menderiia kekalahan total, bukan saja aku sudah kehilangan muka, bahkan cucu perempuankupun kalah bertaruh ditangan orang "

Mendengar perkataan itu, Ma Po segera mengerutkan dahinya, ia berkata perlahan.

"Kami dua bersaudara telah mendapat pesan dari Siau yau cu totiang untuk menyambut kedatangan Wu Popo, sepanjang perjalanan kami memburu kesini sungguh beruntung akhirnya dapat ditemukan juga... "

"Tidak bisa jadi. "tukas Wu Popo sambil gelengkan kepalanya, aku telah kalah bertaruh dan sekarang harus mengasingkan diri selama lima tahun lagi, tolong kalian berdua suka menyampaikan pesanku kepada Siau yau cu totiang, katakanlah kalau aku tak dapat memenuhi undangannya lagi dan berharap agar dia suka memaafkan!"

"Kalah bertaruh kita toh bisa menebusnya kembali"sambung Ma Po dengan cepat, "sekalipun popo sudah kalah, kami dua bersaudara toh dapat membantu dirimu untuk bertaruh pula dengan orang itu"

Siau Ling yang mendengarkan pembicaraan tersebut, dalam hati kecilnya segera berpikir.

"Oooh...! Rupanya ketiga orang ini adalah bala bantuan yang diundang oleh Siau yau cu untuk membantu pihaknya. Su hay kun cu sudah bekerja sama debgan Shen Bok Hong. Setelah Siau yau cu mengundang kehadiran begitu banyak gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia untuk membantu pihaknya mungkin suatu gerakan secara besar2an bakal dilakukan, aku harus dengarkan pembicaraan mereka secara baik2"

Setelah mengambil keputusan didalam hati kecilnya. Diapun berdiri tak berkutik lagi ditempat semula.

Tampak wajah Wu Popo berkerut kencang perlahan2 katanya.

"Aku sudah kalah bertaruh, tidak panya muka lagi untuk berjumpa dengan mereka!" "Kalau memang begitu harap popo suka menonton dari samping kalangan saja, lihat sajalah

kami dua bersaudara akan tuntut kembali modalmu yang sudah kalah dipertaruhkan itu "

Ia memandang sekejap kearah Siau Ling serta Teng It Lui, kemudian tanyanya: "Apakah engkau sudah kalah bertaruh dengan beberapa orang itu?" 00000o00000 76

Rupanya Wu Popo telah digerakkan hatinya oleh perkataan dari Ma Poo ia mundur kesamping dan tidak berbicara lagi.

Ma Poo segera alihkan sinar matanya keatas wajah Teng It Lui, ujarnya dengan suara lantang: "Kalau daya ingatku tidak keliru, semestinya engkau adalah Teng ji hiap bukan ?" "Sedikitpun tidak salah pada lima belas tahud berselang kita pernah saling berjumpa dikota Si

ciu ! "

"haaahh...haaahh... haah... Sungguh hebat daya ingatanmu sedikitpun tidak salah! " jawab Ma Poo sambil tertawa terbahak2.

Ia berhenti sebentar senyuman yang semula menghiasi bibirnya tiba2 lenyap tak berbekas dan segera menyambung lebih jauh;

"Barang apakah yang telah dipertaruhakan Wu Popo dengan kalian beberapa orang?"

Sebenarnya Siau Ling ingin menjawab tapi akhirnya ia batalkan niatnya itu sambil berpikir didalam hati.

"Usia Teng It Lui paling besar semua persoalan memang sudah sepantasnya kalau diselesaikan

olehnya

Berpikir sampai disinipun ia segera membungkam dalam seribu bahasa. Teng It Lui memandang sekejap kearah Siau Ling, kemudian menjawab: "Persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kalian bedua, lebih baik janganlah terjunkan diri kedalam air keruh ini" Ma Poo kontan saja tertawa dingin.

"Heeeh...heeeeh...hereeh kami dua bersaudara sudah mengambil keputusan untuk

mencampuri urasan ini", serunya, "kalau Teng ji hiap tak mau menjawab sejujurnya, terpaksa

kami harus "

"Hmm! Tak ada salahnya untuk memberitahukan kepada kalian", tukas Teng It Lui dengan ketus.

Maka diapun segera menceritakan apa yang telah dilakukan Wu Popo untuk mencari harta dengan jalan meracuni semua orang. Selesai mendengarkar kisah cerita itui Ma Poo alihkan sorot matanya keatas wajah Siau Ling lalu berkata.

"Tooya mendiami kuil manakah selama ini??"

"Kuil Sam Koan dikolong langit"

"Hmm! Tekebur amat perkataanmu itu..." Sorot matanya segera dialihkan keatas wajah Pek li Peng dan melanjutkan

"Apakah tosu kecil ini adalah murid too tiang???"

"Aku rasa persoalan ini tak ada sangkut pautnya dengan dirimu!"

Ma Poo kembali tertawa dingin;

"Heeehh... heeeehh.. heeehh... Wu Popo sudah kalah bertaruh sehingga kehilangan cucu perempuannya, aku akan menebuskan kembali kekalahannya itu!" "Apakah kalian ingin bertaruh lagi dengan diriku??"

"Sedikitpun tidak salah, yang kita pertaruhkan adalah menghapuskan perjanjianmu dengan Wu Popo serta serahkan kembali cucu perempuannya kepada kami....!"

"Pertaruhan macam apakah yang hendak kalian ajukan ? Katakan saja secara terbuka aku pasti akan melayani keinginanmu itu."

"Kalau kudengar dari nada ucapanmu agaknya belum lama engkau masuk menjadi seorang imam!" seru Ma Poo dengan dahi berkerut

Rupanya Siau Ling selalu lupa bahwa dirinya sedang menyaru sebagai seorang imam sehingga dalam berbicara maupun tingkah lakunya selalu pula bertindak mengikuti keadaan sehari-hari.

Teng It Lui maupun Ceng Yap Ching sama sama mempunyai perhitungan bahwa ilmu silat yang dimiliki Siau Ling jauh diatas kepandaian mereka, semua persoalan memang sudah sepantasnya kalau dibereskan oleh pemuda itu maka kedua orang itu tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Ma Poo sendiri dari kisah yang diceritakan oleh Teng It Lui barusan telah mengetahui kalau Wu Popo menderita kekalahan ditangan totiang tersebut, andaikata dia harus bengebrak juga melawan dirinya niscaya dia sendiripun akan menderita kekalahan ditangannya, maka ia berusaha mencari suatu cara bertaruh yang kesempatan bagi pihaknya untuk merebut kemenangan jauh lebih besar.

Berpikir sampai disini iapun sengaja berkata:

"Kalau aku yang mengajukan usul untuk pertaruhan ini, aku kuatir totiang tak berani untuk menerimanya!"

Siau Ling tertawa dingin mendengar perkataan itu, serunya dengan cepat:

"katakan saja apa caramu itu. Pinto pasti akan melayani kehendakmu itu "

"Aku ingin bertaruh dengan totiang dengan menggunakan suatu cara yang baru!" ..pertaruhan macam apakah itu??" ..tontiang pilihkan seekor ular berbisa untukku dan aku akan makan ular itu mentah mentah, setelah itu akupun akan pilihkan seekor ular beracun yang lain untuk totiang, seperti halnya dengan aku, totiangpun harus menghabiskan pula ular beracun itu."

Siau Ling sama sekali tidak menyangka kalau mereka dapat mengajukan cara Bertaruh yang aneh dan luar biasa seperti ini, ia jadi tertegun dan untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Menyaksikan keadaan lawannya, dengan dingin Ma Poo segera berkata:

"Aku sudah menduga sejak semula kalau totiang pasti tak berani menerima tantanganku ini, ternyata dugaanku sedikitpun tidak salah "

Siau Ling mengerutkan dahinya.

"Mencabut gigi dimulut harimau, aku sih pernah mendengar orang hendak bertaruh dengan cara makan ular berbisa??" serunya.

"Ini hari toh totiang sudah mendengarnya sendiri, bahkan melibat dengan mata sendiri. Aku akan menelan ular berbisa itu dalam keadaan hidup2"

"Tidak membicarakan soal keracunan atau tidaknya sesudah makan ular beracun tersebut" pikir Siau Ling didalam hati, "cukup meninjau dari keadaan sewaktu makan ular berbisa itu sudah cukup membuat orang merasa muak dan ingin tumpah kalau ia benar2 berani memilih seekor ular berbisanya untuk dimakan, nampaknya hari ini aku bakal menderita kekalahan total ditangan orang ini:"

Berpikir sampai disitu ia lantas berkata.

"Belum pernah pinto mendengar ada orang yang berani makan ular berbisa dalam keadaan hidup2, aku tidak percaya kalau engkau berani makan ular berbisa itu"

"Oleh karena itulah aku menantang dirimu uutuk bertaruh!" sambung Ma Poo dengan cepat;

Siau Ling segera alihkan sorot matanya ke atas wajah Teng It Lui, ia berharap dari perubahan wajahnya dapat menemukan suatu petunjuk untuk menghadapi kejadian tersebut, siapa tahu wajah Teng It Lui masih tetap diliputi oleh keraguan dan kebingungan.

"Apakah totiang merasa menyesal?" ejek Ma Poo dengan suara dingin.

"Apakah pinto sudah menyanggupi caramu itu??"

Pada saat ini Siau Ling sudah tahu bahwa maksud kedatangan sepasang iblis dari propinsi Leng lam ini adalah membantu Siau yau cu untuk menarik Wu Popo serta cucunya membantu komplotan mereka, bagaimanakah ilmu silat yang dimiliki kedua orang nenek dan cucunya untuk sementara waktu tak usah dibicarakan, cukup meninjau dari cara mereka lepaskan racun tanpa meninggalkan bekas sudah cukup membuat orang merasa sulit untuk berjaga2 seandainya didalam pertaruhan ini dia menderita kekalahan dengan Ma Poo sehingga perjanjiannya dengan Wu Popo dibatalkan, dengan kerjasama Wu Popo dengan Su hay kuncu dan para jago lihay dan perkampungan Pek Hoa San cung bukankah berarti keadaan musuh bagaikan harimau yang tumbuh sayap.

Tetapi sebagai seorang pendekar yang berjiwa besar, meskipun tahu bahwa persoalan ini menyangkut suatu masalah yang besar, akan tetapi perkataan yang telah diucapkan keluar tak mungkin bisa ditarik kembali.

Terdengar Ma Poo tertawa dingin dan berkata.

"Kalau totiang merasa menyesal dan ingin membatalkan pertarungan ini sebenarnya tidaklah

sulit "

"Apakah maksudmu mengucapkan kata kata semacam itu ! " seru Siau Ling dengan dahi berkerut.

"Asal totiang sebut gelarmu kemudian mengakui bahwa persetujuanmu itu tidak berlaku lagi,

maka kita bisa merundingkan cara bertaruh yang lain "

"Siau Ling tertegun lalu berkata: "andaikaka pinto benar2 sudah menyetujui, tentu saja apa yang telah kusetujui itu tak bisa dibatalkan kembali... "

"Hmm.. coba bayangkan, apakah engkau telah menyetujuinya atau tidak?" tukas Ma Poo dengan cepat.

Air muka Siau Ling berubah jadi amat serius. Ia segera berseru:

"Baik, engkau makanlah dahulu, sayang sekali ditempat ini tidak terdapat ular"

Ma Poo tertawa dingin, dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah kantong kain, dari dalam kantong kain itu nampaklah berisikan dua ekor ular yang amat kecil.

Panjang kedua ekor ular kecil itu hanya tujuh delapan cun, seluruh tubuhnya berwarna putih berbintik2, berkepala segitiga dan lidahnya yang merah mendesis amat menyeramkan, sekilas memandang dapat diketahui bahwa ular tersebut termasuk sejenis ular yang sangat berbisa.

"Nah! Pilihkanlah seekor ular itu untukku" kata Ma Poo dengan suara dingin.

Menelan ular berbisa dalam keadaan hidup2 merupakan suatu kejadian yang amat langka dalam dunia persilatan, air muka Teng It Lui serta Ceng Yap Ching seketika berubah hebat setelah menyaksikan kesemuanya itu,

Dengan pandangan dingin Siau Ling memandang sekejap kearah Ma Poo, lalu ujarnya:

"Agaknya setiap waktu dan setiap saat kalian selalu bersiap sedia untuk bertaruh makan ular berbisa dengan orang. Maka ular2 itu selalu dibawa didalam saku!"

"Ular itu adalah ular hidup masa diantaranya masih ada yang palsu, lagipula didalam pertarungan ini engkaulah yang jauh lebih beruntung daripada diriku"

"Jauh lebih beruntung?? Dalam hal apa k mi lebih beruntung???"

"Asal aku makan seekor ular dan totiang pun makan seekor ular berbisa. Maka kemenangan sudah berada dipihakmu"

"Jadi kalau begitu engkau sudah menduga kalau aku tak berani makan ular itu??"

"Semoga saja totiang berani makan, sehingga aku bisa kalah dalam keadaan yang benar2 puas... "

Setelah berhenti sebentar, tambahnya:

"Harap totiang suka pilihkan seekor ular beracun untukku"

Memandang kedua ekor ular berbisa itu mempunyai bentuk serta potongan yang tidak berbeda Siau Ling segara menuding salah satu diantaranya sambil berkata: "Yang ini saja"

Ma Poo segera menangkap bagian tujun cun dari ular berbisa itu. Dengan ditangkapnya bagian yang penting itu, ular tadi tidak berkutik lagi.

Ia segera memasukkan ular tersebut kedalam mulut, dan ekor sampat keatas kepala segera dilalap dengan nikmatnya.

Siau Ling membelalakkan sepasang matanya bulat2. Dengan wajah tertegun ia saksukan Ma Poo menghabiskan ular berbisa itu hingga sama sekali tak ada sisanya.

Pada waktu itu semua orang yang hadir ditempat itu sama2 menyaksikan jalannya peristiwa dengan wajah tegang, suasana sepi tak kedengaran sedikit suara pun.

Jelas, perbuatan Ma Poo dengan menghabiskan ular berbisa itu dalam sekali lahapan telah membuat semua orang berdiri terbelalak dengan melongo.

Setelah menghabiskan ular berbisa itu, Ma Poo segera alihkan sorot matanya keatas wajah Siau Ling sambil berkata

"Totiang sekarang tiba giliranmu!"

Secara diam2 Siau Ling telah memperhatikan bagaimana caranya dia menangkap ular berbisa itu. Seperti halnya dengan apa yang dilakukan Ma Poo barusan. Bagian tujuh cun dari ular tadi segera dicekal.

Memandang tubuh ular berbisa itu yang peouh dengaan bintik putih, diam2 Siau Ling merasakan arak dan makanan yang sudah berada didalam perutnya terasa mau tumpah semua,

Akan tetapi ketika ia teringat kembali akan keselamatan dunia persilatan. Bagaimanapun juga terpaksa harus dimakan juga ular beracun itu, maka dia segera pejamkan matanya dan masukan ekor ular itu kedalam mulutnya.

Namun sebelum ia sempat meneruskan perbuatannya, Tiba-tiba ujung bajunya ditarik orang.

Disusul terdengarlah Pek li Peng berbisik dengan suara lirih

"Lebih baik mengaku kalah saja!"

Jari tengah dan telunjuk tangan kanannya segera dikerahkan tenaga dan secara tiba tiba dikebaskan keatas tubuh ular berbisa yang berada dicekalan Siau Ling sehingga tersampok jatuh keatas tanah sambil menggandeng tangan Yong ji maju kedepan katanya;

"Orang ini kuserahkan kembali kepadamu kami mengaku kalah."

Ma Poo menerima Yong ji dan menepuk bebas jalan darahnya kemudian mengambil ular berbisa yang jatuh ditanah dan dimasukkan kembali kedalam sakunya.

"Maaf.. maaf... " katanya sambil memberi hormat.

"Hmmm dalam pertaruhan kali ini kami mengaku kalah" ujar Pek li Peng dengan ketus, tapi aku harap kalian semua janganlah sampai bertemu kembali dengan kami sebab dalam pertemuan selanjutnya kita harus mengandalkan kepandaian silat yang sesungguhnya untuk menentukan mati hidup tidak mungkin kami akan menantang dirimu untuk melakukan pertaruhan makan ular

lagi"

Ma Poo sama sekali tidak menjawab dengan membawa serta Wu Popo sekalian mereka segera berlalu dari sana. Dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka telah lenyap dari pandangan Sepeninggalnya beberapa orang itu, Siau Ling menghela napas panjang katanya; "Aku benar benar merasa amat menyesal, pertaruhan yang berhasil kumenangkan akhirnya

kalah kembali!"

"Pertaruhan makan ular bukanlah perbuatan yang bisa dilakukan oleh setiap orang", sahut Cheng Yap Cing dari samping "Propinsi Leng lam adalah daerah penghasil ular beracun, mungkin saja sedari kecil dahulu mereka sudah berlatih makan ular berbisa,

"Sekalipun sedari kecil mereka sudah berlatih kepandaian makan ular berbisa dalam keadaan hidup, belum tentu mereka berani menelan pula leher ular serta kantong berisi racunnya kedalam perut, aku rasa dibalik kesemuanya itu pasti sudah terselip suatu tipu muslihat yang licin" sambung Teng It Lui dengan cepat.

Siau Ling mengangguk,

"Ia selalu membawa serta dua ekor ular beracun, itu berani bahwa setiap saat ia telah bersiap sedia untuk bertaruh dengan siapapun juga... Orang itu memang sangat berbahaya."

"Sekarang kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi "tukas Pek li Peng dari samping, "apakah dibalik kejadian itu terselip tipu muslihat atau tidak yang penting kita sudah menderita kekalahan ditangan mereka. Persoalan yang paling penting pada saat ini adalah bagaimana caranya untuk menangkap kembali orang itu, tadi aku sudah terangkan kepada mereka jikalau sampai bertemu lagi dikemudian hari maka kita tak akan bertaruh lagi dengan mereka tapi akan bertarung dengan andalkan ilmu silat yang dimilikinya.. "

Ia memandang sekejap kearah Siau Ling, kemudian melanjutkan:

"Andaikata Wu Popo itu sangat berbahaya bagi keselamatan dunia persilatan maka kita tak boleh lepaskan mereka dengan begitu saja kita harus segera melakukan pengejaran dan membasmi mereka dari muka bumi".

"Sangat masuk diakal" sahut Teng It Lui dengan cepat, "Sekarang juga mari kita susul mereka"

Sesudah membayar rekening rumah makan berangkatlah mereka untuk melakukan pengejaran.

Berbubung Siau Ling serta Pek li Peng sama-sama tidak menunggang kuda maka Teng It Lui serta Ceng Yap Ching pun rneninggalkan kudanya untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Dalam pada itu senja hari telah menjelang tiba, pandangan disekeliling tempat itu mulai kelihatan samar2,

Keempat orang itu segera mengambil jalan raya dan terus mengejar kearah depan.

Malam semakin kelam.. orang yang melakukan perjalanan pun sudah tak nampak lagi,membuat suasana jalan raya itu hening sepi dan menyeramkan.

Dengan andalkan sepasang matanya yang tajam Teng It Lui menyapu sekejap kesekeliling tempat itu, namun sejauh pandangannya sama sekali tidak nampak cahaya lampu, ia segera berkata:

"Perjalanan yang bakal kita tempuh benar-benar sunyi dan jauh dari keramaian, empat penjuru di sekeliling tempat ini agaknya tidak terdapat dusun atau rumah penduduk" Tiba-tiba Siau Ling teringat sesuatu, ia segera berkata;

"Aku rasa Wu Popo masih tak akan rela menderita kerugian dengan begitu saja, mereka pasti akan berusaha untuk membalas dendam terhadap kita semua, sepanjang perjalanan kita harus bertindak sangat hati2 sehingga tidak sampai jatuh kecundang ditangan mereka."

"Dalam kolong langit benar2 banyak terdapat kejadian yang serba aneh" kata Ceng Yap Ching dari samping, "kau percaya dan yakin bahwa semua gerak gerik serta perbuatan dari Wu Popo serta cucu perempuannya telah kuperhatikan dengan seksama, akan tetapi aku tidak berhasil melihat jelas bagaimana caranya mereka turun tangan untuk melepaskan racun keji itu, nampaknya ilmu silat bukanlah satu2nya sumber pokok yang kisa dipengunakan untuk mencari kemenangan dalam dunia persilatan."

Sementara pembicaraan masih berlangsung sampailah mereka dibawah sebuah pohon besar.

Tiba2 Pek li Peng berseru tertahan dan menjerit:

"Aaah!Apakah itu??"

Siau Ling sekalian segera hentikan langkah kakinya dan menengadah keatas, tampaklah sesosok mayat mengantung diatas pohon besar.

Meskipun kegelapan malam sudah mencekam diseluruh jagad, akan tetapi dengan ketajaman mata beberapa orang itu,mereka dapat melihat jelas bahwasanya benda itu adalah sesosok mayat.

"Agaknya sesosok mayat ??" bisik Ceng Yap Ching dengan suara lirih.

"Mungkin seseorang telah dibunuh orang? sambung Teng It Lui, .

"Sedikitpun tidak salah pohon besar ini tingginya mencapai tiga tombak lebih, jarak antara mayat itu dengan tanahpun masih ada satu tombak lima depa. Kalau orang itu mencari mati tak mungkin keadaannya demikian."

Sambil berkata jago muda dari partai Butong ini segera cabut keluar sebilah pedang Ji kiam yang terselip dipinggangnya dan sekali ayun, pedang pendek itu laksana kilat segera berkelebat kearah depan.

Gerakan tangannya benar-benar luar biasa dimana cahaya pedang itu berkelebat lewat, tali penggantung itu segera terkena babat sehingga putus menjadi dua.

Setelah tali penggantungnya patah jadi dua bagian, mayat itupun segera terjatuh kebawah.

Ceng Yap Ching segera loncat maju kedepan menyambut jatuhnya mayat itu. Ketika dilihat dengan seksama ia segera menjerit dengan hati terkesiap:

"Aaah...!Wu Popo..."

Terhadap Wu Popo yang bermuka jelek rupanya ia sudah menaruh perasaan waswas yang amat tebal, sekalipun yang ditemukan hanya mayatnya namun tak dapat membendung rasa kagetnya yang luar biasa, cekalannya jadi mengendor dan mayat itu segera terjatuh keatas tanah.

Sreeet.. ! Desiran ringan berkelebat, pedang Jit siu kiam itu terjatuh kembali keatas tanah.

Pedang Jit siu kiam milik Ceng Yap Ching tersebut adalah pedang yang dibuat dari baja murni hasil gunung Thin san yang berusia seribu tahun, pedang itu dibuat oleh ciangbunjin partai Butong dua angkatan sebelumnya, bukan saja kuat sekali bahkan tajam luar biasa dan amat berharga sekali, tanpa memperdulikan keadaan dari Wu Popo lagi, buru2 ia ambil kembali pedang pendeknya dan segera disorenkan kembali kedalam sarungnya.

Baik Teng It Lui maupun Siau Ling sekalian sama-sama sudah menaruh perasaan was-was yang amat tebal terhadap diri Wu Popo, oleh karena itu semua orang sama-sama tidak menggerakkan mayatnya.

Teng It Lui memandang sekejap tubuh Wu Popo yang menggeletak diatas tanah, kemudian bisiknya:

"Kejadian semacam ini tak mungkin terjadi, kenapa dia bisa dibunuh orang dan mayatnya digantung diatas pohon??"

Ketika beradu tenaga dengan Wu Popo sewaktu berada dirumah makan tadi, secara diam2 Siau Ling telah mengenakan sarung tangan kulit ular berusia seribu tahun, oleh karena itu dia sama sekali tidak keracunan setelah memandang sekejap kearah mayat Wu Popo, sianak muda itu kembali mengenakan sarung tangan kemudian berjongkok disisi tubuhnya dan memeriksa pernapasannya.

"Jangan sentuh dirinya!' Teriak Pek li Peng dengan suara keras.

'Tidak mengapa!" jawab Siau Ling sambil tersenyum, ia julurkan tangannya dan memeriksa pernapasan nenek itu.

Teng It Lui agak jera menghadapi nenek bermuka jelek itu, ia tak berani berjalan terlalu dekat, segera serunya.

"Bagaimana ?? Dia sungguh2 sudah mati? Atau pura2 mati ?"

"Sungguh sungguh sudah mati ! aneh siapa yaa yang sudah bunuh nenek tua itu!" gumam Teng It Lui keheranan, kalau dibilang sepasang iblis dari propinsi Lenglam yang sudah mengerubuti dirinya, meskipun tidak sampai menderita kekalahan ditangannya tetapi kalau ingin membunuh nenek itu bukanlah suatu pekerjaan yang gampang, apalagi cucu perempuannya tentu akan membantu nenek itu ??"

Dengan sorot mata yang tajam Siau Ling segera memeriksa raut wajah mayat itu, kemudian katanya:

"Aku rasa yang mati bukanlah Wu Popo yang asli! "

Sambil berkata ia segera mencengkeram raut wajah mayat itu sedikitpun tidak salah segera terlepaslah selembar topeng kulit manusia.

Teng It Lui maupun Ceng Yap Ching segera memeriksa wajah mayat itu, ternyata yang mati adalah seorang nenek tua.

Ceng Yap Ching segera menggertak giginya rapat rapat dan berseru :

"Wu Popo benar benar berhati kejam, telengas dan tak kenal peri kemanusiaan, untuk mencarikan pengganti bagi dirinya, ternyata ia telah membinasakan seorang nenek tua yang sama sekali tak ada sangkut paut dengan dirinya."

"Kalau lain kali kita bertemu muka lagi dengan dirinya, jiwa nenek jahat itu tak boleh diampuni

lagi."

"Oooh toako menurut penglihatanmu orang ini sudah mati berapa lama???" tanya Pek Li Peng. Dengan seksama Siau Ling mengawasi wajah nenek tua itu beberapa saat lamanya, kemudian menjawab:

"Agaknya belum terlalu lama!"

Pek li Peng tersenyum dan segera berjongkok sambil memegang dada nenek tua itu, kemudian katanya:

"Hawa panas ditubuhnya belum hilang, jelas kematiannya terjadi belum lama berselang!"

Ternyata Siau Ling tak mau langsung periksa dada nenek tua itu sebab pihak lawan adalah wanita, kendatipun sudah tua peyot dan jadi mayat.

Pek li Peng menengadah memandang sekejap kearah Teng It Lui lalu berkata dengan lantang:

"Locianpwee pengetahuan dan pengalamanmu luar sekali, apakah engkau dapat menebak apa maksud serta tujuan Wu Popo membunuh seorang nenek tua untuk menyaru sebagai dirinya ?"

"Kalau dugaanku tidak salah tujuannya pasti akan melepaskan racun dengan menggunakan cara ini"

Tiba tiba Ploook! Segumpal bubuk halus terjatuh dari tubuh mayat itu dan segera menyebar

keempat penjuru.

Siau Ling amat terperanjat, buru2 ia loncat mundur kebelakang untuk menghindarkan diri.

Terdengarlah suara gelak tertawa yang amat keras bagaikan jeritan kuntilanak bergema memecahkan kesunyian disusul seseorang berseru:

"Sedikitpun tidak salah aku hendak melepaskan racun diatas tubuh kalian semua!"

Bersamaan dengan bergemanya suara bentakan itu, sesosok bayangan hitam melayang turun dari atas pohon.

Teng It Lui, Ceng Yap Ching serta Pek li Peng sama-sama menaruh perasaan jeri terhadap kelihayan Wu Popo didalam melepaskan racun, tetapi mereka sama sekali tidak menduga kalau

Wu Popo bakal memasang racunnya diatas mayat seorang nenek tua yang disaru bagaikan wajahnya.

Mendengar seruan tersebut mereka tersentak kaget dan segera loncat mundur kebelakang, namun pada saat itulah segulung bau harum yang sangat aneh secara lapat2 masuk kedalam lubang hidung mereka, membuat orang-orang itu segera tutup napas.

Siau Ling segera alihkan sorot matanya kearah bayangan hitam yang baru saja melayang turun dari atas pohon itu, sedikitpun tidak salah! Ternyata bukan lain orang itu adalah Wu Popo, hal ini membuat hatinya jadi amat gusar.

Sambil tertawa dingin segera ujarnya

"Caramu ini benar2 keji dan jahat sekali!"

"Selamanya aku tak pernah memikirkan dengan cara apa aku harus turun tangan, yang penting adalah bagaimanakah pembalasan dendam yang kulakukan itu bisa terwujud!"

Tetapi engkau jangan lupa, sebelum kami keracunan hebat masih ada sisa kekuatan yang kami miliki untuk membinasakan dirimu"

"Akan tetapi dalam melepaskan racun kali ini aku telah mempergunakan cara yang paling cepat dan paling dahsyat."

Tiba2 Siau Ling miringkan badannya kemudian menerjang kearah nenek bermuka jelek itu.

Wu Popo sepera ayunkan tangan kanannya kedepan, segumpal kabut berwarna putih dengan cepat menerjang kearah depan.

Siau Ling mengerutkan dahinya, diam2 ia haturkan hawa murninya dan balas melancarkan satu pukulan kedepan.

Pukulan ini benar2 luar biasa sekali, segulung angin pukulan yang sangat kuat dengan cepat menerjang kearah tubuh nenek tua itu.

Kabut putih yang sedang meluncur dating sesudah termakan oleh angin pukulan Siau Ling yang kuat itu segera mencelat balik dan melayang kembali kearah tubuh Wu Popo.

Dengan cepat Wu Popo meloncat dan menghindarkan diri dari datangnya ancaman tersebut.

Menggunakan kesempatan tersebut Siau Ling loncat maju kedepan, telapak kirinya membabat dengan gerak melintang sementara tangan kanannya laksana kilat mencengkeram urat nadi nenek itu.

Rupanya Wu Popo sudah mengetahui akan kelihayan dari Siau Ling, ia tarik napas panjang2 kemudian loncat mundur lima depa kearah belakang.

Napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Siau Ling, jarinya menyentil kedepan dan ia lancarkan serangan dengan ilmu Sian ci sinkang.

Segulung desiran angin tajam segera berkelebat menembusi angkasa dan langsung menyerang kemuka.

Baru saja Wu Popo berdiri tegak, angin serangan yang dilancarkan iga Wu Popo!

Terdengar nenek tua bermuka jelek itu mendengus berat. Badannya tergetar mundur dua langkah ke belakang hingga jatuh terduduk diatas tanah.

Siau Ling segera menerjang maju kedepan siap melancarkan totokan untuk menghajar jalan

darahnya, tiba2 dari arah belakang berkumandang datang suara benda berat terjatuh keatas

tanah

Ia segera berpaling kebelakang tampaklah Teng It Lui, Ceng Yap Cing serta Pek li Peng sudah roboh terkapar diatas tanah, hal ini membuat hatinya jadi tertegun.

Pada saat itulah terdengar suara Wu Popo yang lirih berkumandang datang memecahkan kesunyian:

"Mereka semua telah keracunan hebat!"

"Kenapa aku sama sekali tidak merasakan sesuatu apapun?? ejek Siau Ling dengan nada dingin.

"Akupun sedang merasa keheranan",setelah berhenti sebentar sambungnya, "aku tidak percaya kalau tenaga dalam yang engkau miliki telah mencapai pada taraf tidak mempan terhadap segala macam serangan racun".

Dalam hati kecilnya Siau Ling segera berpikir:

"Perduli siapapun dan tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan yang bagaimanapun, tak mungkin dia bisa kebal terhadap serangan racun, andaikata akupun keracunan dan sampai sekarang racun itu belum mulai bekerja, dibaiik kejadian ini pasti terdapat latar belakang lainnya."

Berpikir sampai disini ia lantas berkata,

"Walaupun ketiga orang itu keracunan, belum tentu mereka bakal mati, tapi engkau sudah pasti bakal mati diujung telapakku!"

Tiba2 ia maju dua langkah kedepan, telapak kanannya segera diayun kedepan.

"Jangan kau lukai nenekku!" tiba2 satu jeritan lengking berkumandang datang.

Bersamaan dengan bergemanya suara itu, sesosok bayangan manusia melayang turun dari atas pohon besar, dia bukan lain seorang gadis berpakaian ringkas:

Kepalanya memakai kain pengikat berwarna hijau, sebilah pedang tersoren pada punggungnya, rasa panik dan gelisah mencekam raut wajahnya yang manis dan menawan itu.

Rupanya gadis itu sudah menyadari bahwa kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan merupakan tandingan dari Siau Ling, oleh sebab itu ia sama sekali tidak menunjukkan sikap untuk melakukan serangan.

Siau Ling mendengus dingin lalu berkata:

"Nenekmu pandai sekali menggunakan racun keji, lagipula jadi orang tidak berhati bajik, kalau manusia semacam ini dibiarkan hidup dikolong langit entah berapa banyak orang yang bakal dkelakai olehnya. Nenekmu tak dapat dibiarkan hidup"

"Kalau engkau tidak bersedia mengampuni jiwa nenekku, masa engkaupun sama sekali tidak berminat untuk menyelamatkan jiwa rekan-rekanmu itu??" Tanya Wu Yong dengan sedih.

"Sekalipun nenekmu sudah mati. Nona ton masih hidup dikolong langit, aku rasa nona masih memiliki kemampuan untuk membebaskan mereka dari pengaruh racun."

"Kalau engkau binasakan nenekku yang selama ini hidup berdampingan dengan diriku, apakah engkau anggap aku bersedia pula membantu dirimu untuk membebaskan kawan2mu dan pengaruh keracunan??"

"Aku rasa pada waktu ini nona tak dapat mengambil keputusan dengan sekehendak hatimu sendiri."

"Orang yang beribadah paling mengutamakan kebajikan dan perasaan welas kasih", seru Wu Yong dengan gusar, "engkau toosu hidung kerbau berhati kejam dan telengas hm mm! Sedikitpun tidak mencerminkan kebesaran jiwa seorang manusia yang beribadah."

Selama Siau Ling bertindak dan mengambil keputusan dengan berdasarkan kebesaran jiwanya. Kali ini berhubung dia menaruh perasaan was2 terhadap kelihayan nenek itu didalam melepaskan racun, timbullah niatnya untuk membinasakan Wu Popo sehingga melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan di kemudian hari. Kemudian ia baru paksa Wu Yong untuk menyerahkan obat pemunah serta memusnahkan kepandaian silatnya,

Siapa tahu Wu Yong telah mencaci maki dirinya dengan kata2 yang tajam, hal ini membuat Siau Ling jadi terbelalak dan gelagapan, untuk beberapa saat lamanya ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

"Bunuhlah aku! "kembali Wu Yong berseru "setelah engkau binasakan nenekku, aku pun akan bunuh diri menyusul nenek kealam baka. Kami dua lembar jiwa harus ditukar dengan kalian tiga lembar jiwa, sekalipun harus mati aku rasa kami akan mati dengan mata meram"

"Kalau obat pemunah itu berada didalam saku kalian berdua, setelah pinto membinasakan kalian berdua, obat pemunah itu toh dapat kutemukan pula didalam saku kalian"

Wu Yong segera tertawa dingin, jengeknya.

"heeeh...heeeh...heeeh... racun yang bersarang ditubuh mereka adalah sejenis racun keji hasil campuran pelbagai macam2 yang dilakukan oleh nenekku sendiri, kalau engkau tidak mengerti bagaimana caranya mencampurkan bahan2 obat itu, darimana pula jiwa mereka bertiga dapat kau selamatkan??"

Wu Popo yang duduk diatas tanab tiba2 loncat bangun, tangan kanannya diayun menunjukkan gerakan seakan2 sedang melepaskan senjata rahasia...

Siau Ling sendiri menyatakan bahwa ilmu sentilan Sian ci sinkangnya masih belum berhasil mencapai puncak kesempurnaan, tempat yang dituju meskipun tepat sekali, dan serangan yang barusan dia lancarkan meskipun bersarang telak ditubuh Wu Popo, namun belum tentu melukai

dirinya secara telak, karena itu meskipun sedang bercakap2 dengan Wu Popo namun seluruh perhatiannya ditujukan untuk mengawasi semua gerak gerik dari nenek bermuka jelek itu.

Tatkala dilibatnya Wu Popo loncat bangun dari atas tanah, ia segera menerjang maju kedepan sambil melancarkan sebuah serangan.

Gerakan tubuhnya amat cepat bagaikan sambaran kilat, serangan yang dilancarkan olehnya itu dengan telak bersarang diatas bahu kanan nenek tua bermuka jelek itu.

:Blaaam...! Tubuh Wu Popo yang baru saja hendak bangkit berdiri, setelah termakan lagi oleh serangan dari Siau Ling itu, badannya terjungkal sejauh empat lima depa keluar dan roboh terkapar kembali diatas tanah...

Wu Yong menggerakkan tangan kanannya, pedang panjang segera dicabut keluar dari dalam sarungnya, cahaya tajam berkilauan dan ia mengirim sebuah lusukan maut kearah tubuh Siau Ling.

Sianak muda itu mengigos kesamping tangan kanannya berputar dan mencengkeram ujung pedang lawan yang sedang menyapu datang itu.

Wu Yong segera memutar pedangnya dengan sekuat tenaga, maksudnya ia hendak membabat kutung beberapa ruas jari tangan Siau Ling yang sedang mencengkeram senjatanya itu.

Siapa tahu tangan kanan Siau Ling yang mencengkeram pedangnya itu kuat bagaikan sebuah jepitan baja, keras dan kuat, sekalipun Wu Yong sudah mencoba dengan sekuat tenaga, bukan saja ia gagal untuk mengutungkan jari2 tangan Siau Ling, bahkan uutuk menggerakan pedangnya barang satu dimpun ia tak mampu.

Setelan mengetahui sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki lawannya sadarlah Wu Yong bahwa dia masih bukan tandingan sianak muda itu, sambil melepaskan pedangnya ia segera lari kesisi tubuh Wu Popo dan menangis tersedu sedu.

Suaranya merdu dan menawan hati, meskipun sedang menangis akan tetapi suaranya tetap mempesonakan hati orang.

Siau Ling yang menyaksikan kejadian itu segera mengerutkan dahinya, lalu menegur

"Eeeeei... Kenapa engkau??"

"Engkau hendak membunuh nenekku, lebih baik bunuhlah juga diriku" ^1

"Aaaaai.. perempuan... perempuan selamanya kaum hawa paling susah dilayani" pikir Siau Ling didalam hati,

Segera ujarnya dengan suara lantang

"Bukankah nenekmu sudah terlalu banyak membunuh orang????".

"Tingkah laku nenekku memang agak aneh dan sukar dijajaki oleh manusia, akan tetapi dalam ingatanku belum pernah ia bersungguh sungguh membunuh orang", jawab Wu Yong dengan cepat.

"Hmm! Sungguhkah perkataan nona itu?"

"Kalau aku bicara bohong barang sekejap pun, biarlah aku mendapat kematian dalam keadaan yang mengerikan!"

"Nona tak usah bersumpah, baiklah aku tidak akan membinasakan dirinya."

"Dapat dipercayakah perkataanmu itu?" tanya Wu Yong sambil menghapus air mata yang membasahi wajahnya.

"Seorang pria sejati tidak akan bicara bohong apalagi menjilat kembali ludah yang telah dikeluarkan, akan tetapi ada suatu hal pinto pun mengharapkan bantuan nona."

"Persoalan apa", tanya Wu Yong sambil tertawa.
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Budi Ksatria Jilid 16"

Post a Comment