close

Bayangan Berdarah Jilid 15

JILID 15

Mendengar makian itu Peng Im berpaling, dilihatnya orang yang barusan memaki dirinya habis2an adalah seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, saat itu pemuda tadi telah meloloskan pedangnya dari dalam sarung dan dicekal ditangan siap melancarkan terjangan.

Peng Im tidak kenal dengan orang ini, tapi disisinya berdiri seorang kakek tua bertongkat yang bukan lain adalah sipendekar pincang Tjang Toa Hay, terang pemuda itu adalah muridnya.

Selagi ia hendak mengucapkan beberapa kata bantahan, mendadak terdengar lagi suara ucapan seseorang dengan nada yang nyaring dan dingin berkumandang datang.

“Cuwi sianpwee sekalian, sewaktu berada di atas sebuah loteng rumah makan dikota Koei Cho, boanpwee pernah berusaha membinasakan Cioe Cau Liong dengan senjata rahasia tapi usahaku ini digagalkan oleh orang tersebut karena hadangannya ditengah jalan, karena hal dendam sakithati ayahku selama tujuh tahun gagal kutuntut balas, malam ini ia berhasil meneylundup masuk ke dalam markas pertemuan kita, orang ini tak boleh dilepaskan lagi ia menyaru nama besar Siauw Thayhiap untuk mengacau Bulim dan menimbulkan huru-hara saja harap para paman sekalian jangan sampai tertipu dan mendengarkan bujuk rayunya yang manis.

Oleh ucapan itu berpuluh2 pasang mata para jago yang hadir dalam kalangan bersama2 dialihkan ke atas wajah Siauw Ling sinar mata mereka penuh diliputi rasa benci, mendendam serta gusar yang susah dikendalikan.

Melihat para jago telah dibakar oleh suasana sehingga sukar dipertahankan lagi. Sang Pat merasa terkesiap, pikirnya.

“Para jago yang hadir dalam kalangan pada saat ini rata2 merupakan jago Bulim bersamaan yang memiliki kepandaian silat luar biasa, bagaimanakah akhir dari pertumpahan darah ini darah segar dan tumpukan mayat pasti akan bergelimpangan memenuhi permukaan, pemandangan saat itu pasti sangat mengerikan!”

Siauw Ling semakin gelisah lagi, banyak persoalan yang hendak diutarakan keluar tapi untuk sesaat tak sanggup baginya untuk memulai ucapan itu, melihat pula para jago dengan senjata telanjang mulai mendekati dirinya semakin cemas lagi.

Ia tahu dalam menghadapi situasi macam ini asal salah seorang saja mulai turun tanganmelancarkan serangan maka para jago lainnya secara berbareng akan turun tangan secara bersama2. situasi waktu itu susah ditolong lagi dan suatu pertarungan tak akan terhindar.

Apalagi kekuatan Kiem Lan serta Giok Lan yang berjaga2 dikedua belah sisinya hanya terbatas, tak mungkin bagi mereka berdua untuk menahan gempuran yang datang dari empat penjuru.

Karena itu segera bisiknya lirih

“Giok Lan, Kiem Lan cepat mundur kelbelakang tubuhku!”

Kedua orang dayangpun itu mengerti dengan kepandaian silat yang mereka miliki tak akan sanggup menahan seranganlawan karenanyamereka menurut dan mundur ke belakang tubuh Siauw Ling.

Tiong Cho Siang Ku sebagai jago kawakan yang banyak pengalaman, setelah meninjau situasi didepan mata tanpa berisik dan menimbulkan banyak suara segera mundur dan memencar kedua belah sisi Siauw Ling melindungi pemuda itu dari dua sayap kiri dan kanan.

Dengan demikian pertahanan mereka berubah menjadi posisi segi tiga.

Si Segulung angin Penge Im berdiri kurang lebih tujuh delapan depa dihadapan Siauw Ling kalau dibicarakan sesungguhnya maka dialah yang akan bentrok dengan para jago terlebih dahulu.

Tapi kedudukan Shen Pangcu dari Kay Pang di dalam Bu-lim sangat terhormat dan mendapat rasa kagum dan setiap insan Bu-lim kebanyakan dan para jago tidak ingin mencari gara2 dengan pengemis cilik ini.

Pikir mereka kendati pengemis cilik ini sudah menjual para jago kepada pihak perkampungan Pek Hoa Sancung, dikemudian hari Shen Pangcu dari Kay Pang bisa turun tangan sendiri memberi hukuman kepadanya, dengan pengeruh Kay Pang yang besar mereka tidak ingin mengikat permusuhkan dengan perkumpulan tersebut.

Karena itu para jago rata2 pada menghindari bentrokan dengan Peng Im, mereka mengitari dari sisinya melanjutkan terjangan kedepan.

Ketika itu semua jago yang ada di dalam barak sudah mulai bergerak secara berbareng kepungan berlapis dan maju selangkah demi selangkah kedepan.

Serbuan yang datang dari depan pada menghindari bentrokan maju mendesak terus, dengan demikian situasi memaksa Peng Im harus bersiap sedia, karena ia tidak berani memastikan apakah ada orang yang ada dibelakangnya itu akan turun tangan terhadap dirinya atau tidak.

Selama ini Be Boen Hwie berdiri dengan tenang disisi kalangan, ia tidak turun tangan mencegah pun tidak turun tangan memberi petunjuk kepada para jago untuk menyerang.

Suasana dalam barak sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, tapi ditengah keheningan terasalah suasana penuh ketegangan yang menyesakkan pernapasan.

Mendadak tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang gadis berbaju hijau meloncat ketengah udara menubruk Siauw Ling. telapak tangannya berputar mengirim serangan dahsyat.

Siauw Ling sedikit menggerakkan badannya menyingkir kesamping, ia berkelit dari tangannya serangan tadi mengancam dada bagian depan sebagai tempat penting dan menerima hantaman tadi dengan pundak kananya.

serangan dengan telak bersarang ditubuh pemuda itu membuat seluruh badan Siauw Ling bergetar tiada hentinya.

Tu Kioe tertawa dingin teriaknya, “Budai cilik. nyalimu sungguh tidak kecil!”

Telapak kanannya bergetar dihantamkan kedepan.

Tapi Siauw Ling keburu menggerakkan tangannya menghadang serangan Tu Kioe yang mengarah sang gadis, ujarnya sambil tertawa hambar, “Nona, kau telah menghantam satu kali diri cayhe, rasanya seluruh hawa mangkel serta dendam yang mengeram dihatimu sudah punah semua bukan!”

Diatas selembar wajah sang dara berbaju hijau yang diliputi keseriusan mendadak terlintas suatu perasaan bimbang dan kosong.

“Mengapa kau tidak melancarkan serangan balasan?” tanyanya bengong.

“Tempo dulu cayhe telah turun tangan menghadang tindakan nona untuk membalas dendam walaupun perbuatanku itu dilakukan tanpa maksud tapi dalam hati kecil nona selalu mengingatnya sebagai suatu sakit hati yang sangat mendalam. Eeeei….! padahal, sekalipun waktu itu cayhe tidak turun tangan mencegah, senjata rahasia yang nona lepaskan belum tentu bisa melukai diri Cioe Cau Liong”

Ketika itu Tu Kioe siap turun tangan tadi para jago yang ada diempat penjuru telah meloncat siap melancarkan kerubutan, tapi berhubung Siauw Ling keburu turun tangan menghalangi serangan yang hendak dilancarkan Tu Kioe maka dalam keadaan diluar dugaan para jagopun ber-sama2 menghentikan gerakannya.

Terdengar si dara berbaju hijau itu dengan suara dingin berkata kembali, “Cioe Cau Liong telah membinasakan ayahku memaksa ibuku bunuh diri, dendam berdarah sedalam lautan ini apakah aku tidak patut menuntut balas ….?”

“Dendam membunuh orang tua memang berat seberat gunung Thay-san dan dalam sedalam samudra, kau seharusnya menuntut balas atas sakithati ini”

“Tapi kau telah menghalangi kesempatan yang sudah lama ku-tunggu2, apakah aku tidak patut mengalihkan rasa gusar, kecewa dan benciku ini ke atas badanmu?”

Sikap Siauw Ling tetap tenang bagaikan tenangnya air telaga, ujarnya lambat2, “Nona, harap kau teliti kembali situasi yang tertera pada hari itu, sekalipun Cayhe tidak turun tangan mencegah, mungkinkah kau berhasil melukai diri Cioe Cau Liong?”

si dara cantik berbaju hijau itu termenung berpikir sebentar akirnya ia mengeleng.

“Aku tidak tahu …. aku tidak tahu ….” yang kuingat selalu adalah kau telah turun tangan menghadang meksudku untukmenuntut balas”

“Eeeei…. bocah, apa yang ia ucapkan sedikitpun tidak salah” tiba-tiba tersengar suara seseorang yang serak dan penuh kesedihan menimbrung dari samping. “Sekalipun ia tidak turun tangan mencegah senjata rahasia yang kau lepaskan tak bakal berhasil melukai diri Cioe Cau Ling”

Orang yang barusan bicara adalah seorang lelkai berwajah persegi empat. bermata bulat besar dan seorang akhli melepaskan senjata rahasia. Dia bukan lain adalah “Pat so Sin Liong” atau sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Tjeng.

Mendadak terdengar suara dengusan berat berkumandang memecah kesunyian yang mencekam disekitar barak tersebut, kemudian diikuti robohnya badan seorang lelaki kekar ke atas tanah.

Air muka Siauw Lig amat serius, ia berpaling memandangn sekejap ke arah lelaki itu kemudian tarik napas panjang2 dan muntahkan darah segar dari bibirnya.

Ternyata lelaki kekar itu setelah melihat Siauw Ling kena dihantam tapi tidak mau turun tangan membalas dalam hati lantas berpikiran lain, ia berpikir.

“Tenaga pukulan orang perempuan bagaimanapun sangat lemah, dalam hal tenaga pun ada batasnya, tidak aneh kalau serangannya tadi tidak berhasil melukai dirinya, kalau aku berhasil membinasakan dirinya dalam sekali hantaman atau melukai dirinya bukankah namaku akan cemerlang dan menerima penghormatan dari kawan2 Bulim ….?”

Karena berpikir demikian maka secara diam2 ia kumpulkan tenaga pukulan Thiat san Ciang nya dan perlahan-lahan maju mendekat seraya mengirim sebuah pukulan bokongan.

Ia tidak pernah berpikir bahwa Siauw Ling seorang jago yang sangat lihay, ketajaman pendengaran serta penglihatannya melebihi orang lain. Sewaktu ia mendekati punggungnya Siauw Ling telah merasakan tindakannya itu hanya saja karena mengingat situasi yang tidak menguntungkan dirinya, ia takut sedikit salah bertindak dan menimbulkan suatu pertumpahan darah yang tidak diinginkan maka setelah mengerahkan tenaga untuk melindungi badan ia pura2 tidak tahu,

Tapi ia tidak mengira kalau lelaki itu berhasil melatih ilmu pukulan Thiat Sah Tjiang yang terkenal akan keampuhannya.

Walaupun Sang Pat pun dapat melihat kejadian ini, tapi karena ia menduga Siauw Ling berhasil memiliki tenaga Khie-kang pelindung badan ingin melihat orang yang berbuat tidak senonoh ini mendapat ganjaran yang setimpal iapun pura2 tidak melihat.

Ketika lelaki itu merasa Siauw Ling sama sekali tidak merasa kendati serangan sudah dipersiapkan, ia jadi kegirangan setengah mati pikirnya lagi dalam hati

“Kali ini nama besarku akan terangkat beberapa kali lipat dalam sekali serangan namaku ikut menanjak!”

Dengan menambahi dengan dua bagian tenaga pukulan, dengan sekuat tenaga ia menghantam kedepan.

Tapi ketika serangannya mengenai ujung badan Siauw Ling ia mulai merasakan keadaan yang tidak beres.

Terasa olehnya segulung tenaga pantulan yang maha dahsyat memental kembali menghantam dadanya, darah segar terasa bergolak di dalam rongga dada tak tertahan lagi ia mendengus berat dan jatuh tidak sadarkan diri diatas tanah.

Hawa Khie-kang pelindung badan yang berhasil dimiliki Siauw Ling pun masih cetek tarafnya, apalagi serangan yang digunakan pihak lawan adalah tenaga pukulan Thiat Sah Tjian yang dapat menghancurkan batu nisan, ia segera merasa jalan darah bergolak cepat, isi perut mendapat getaran keras dan tak kuasa darah segar muncrat keluar dari ujung bibirnya.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini seketika menggetarkan suasana diseluruh ruangan Giok Lan, Kiem Lan berbareng menjerit tertahan

“Siangkong!”

Mereka ber-sama2 maju kedepan memayang badan Siauw Ling.

Pemuda she-Siauw buru-buru atur pernapasan menekan golakan darah segar dalam rongga dadanya, sambil tertawa hambar ia menggeleng.

“Aku tidak mengapa, cepat lepaskan diriku!”

Karena tidak menemukan tanda yang aneh diatas wajahnya, kedua orang dayang itu tidak berani terlalu memaksa, mereka menurut dan lepas tangan.

Dari dalam sakunya Siauw Ling mengambil keluar secarik sapu tangan dan tiba-tiba dilemparkan ke arah dara berbaju hijau itu.

“Maaf telah menodai baju nona!” katanya lirih.

Ternyata sewaktu Siauw Ling tak sanggup menahan golakan darah dalam perutnya dan darah segar menyembur keluar tadi dengan tanpa sengaja noda darah telah mengotori baju dibadan dara berbaju hijau itu.

Dara berbaju hijau tadi tetap ter-mangu2, dengan mata mendelong ia memperhatikan tubuh silelaki kekar yang mengeletak diatas tanah.

Ia kenali lelai ini sebagai sipenghancur batu nisan Ong Ih yang tersohor akan kehebatan ilmu Thiat Sah Ciangnya.

Dalam hati ia terkesiap kaget pikirnya.

“Terang2an ia ada maksud mengalah padaku tadi, sewaktu aku menghantam dirinya tak terasa olehku akan tenaga pantulan yang muncul dari badannya, sedang tenaga pukulan Ong Ih berpuluh2 lipat lebih dahsyat dari seranganku, ternyata ia menderita luka semakin parah.

Kepala tertunduk memandang noda darah yang melekat diatas bajunya, mendadak timbul perasaan tidak tenteram dalam hatinya, kepala tertunduk semakin rendah dan tidak berbentrokan mata lagi dengan Siauw Ling.

“Tidak mengapa” jawabnya lirih. “Siangkong tak usah pikirkan di dalam hati!”

Diam2 ia mengundurkan diri ke belakang dan kembali kesisi tubuh sinaga sakti berlengan delapan Toan Bok Ceng.

Be Boen Hwie pada waktu itu telah berjalan kesisi Ong Ih sekalian mencengkeram badannya ke atas.

“Ong-heng parahkan lukamu yang kau derita!” tanyanya lirih.

Dari lubang hidng telinga bibir serta mata Ong Ih mengucurkan darah berwarna kehitam2an, hal ini menunjukan bahwa isi perutnya telah bergeser dan semua urat nadinya telah terputus, kendati ada obat mujarabpun tidak bakal sanggup menolong selembar jiwanya. 

Tiba-tiba Ong Ih membuka matanya sembari berseru.

“Dia memiliki hawa Khie-kang pelindung badan….”

Bicara sampai disitu badannya berkerut agaknya dengan menggunakan sisa tenaga yang ada ia coba mempertahankan diri, tapi pada detik berikutnya ia telah menghembuskan napasnya yang penghabisan…. Perlahan-lahan Be Boen Hwie meletakkan jenasah Ong Ih ke atas tanah lalu sambil ulapkan tangannya ke arah para jago katanya.

“Harap Cuwi sekalian untuksementara waktu kembali ketempat duduknya masing-masing!

Kematian dari sijago penghancur batu nisan Ong Ih membuat golakan dalam hati para jago jauh lebih tenang lagi, setelah mendengar teguran Be Boen Hwie mereka masing-masing kembali ketempatnya semula.

Kini Be Boen Hwie alihkan sinar matanya ke arah Siauw Ling dan tegurnya dengan nada dingin, “Kedatangan Siauw heng kemari entah ada petunjuk apa?”

“Siauw-te telah lepaskan diri dari ikatan perkampungan Pek Hoa San-cung….”

“Menurut apa yang cayhe ketahui” tukasi Be Boen Hwie dengan wajah agak gusar. “Saat ini Jen Bok Hoang sedang mengirim utusan untuk mengundang seluruh pentolan serta jagoan Bu-lim untuk menghadiri perayaan yang diselenggarakan mereka dalam rangka ikut sertanya Siauw-heng dalam perkampungan Pek Hoa Sancung mereka, belum pernah kami tangkap berita tentang lepasnya hubungan Siauw-heng dengan pihak perkampungan Pek Hoa San-cung.

“Ooouw…. ada kejadian seperti ini?” seru Siauw Ling dengan sepasang alis berkerut.

“Semua jago yang hadir dalam kalangan pada tahu akan soal ini, Siauw-te mana berani bicara sembarangan?”

Siauw Ling jadi serba salah, pikirnya dalam hati, “Kalau aku ceritakan keadaanku yang sesungguhnya, walaupun bisa dudapatkan kepercayaan dari semua para jago dan mereka akan memahami kesulitanku, tapi dengan demikian keselamatn kedua orang tuaku yang terkurung di dalam perkampungan Pek Hoa Santjung akan terancam….”

Untuk beberapa saat lamanya ia jadi kebingungan apa yang harus dilakukan pada saat ini.

“Be-heng!” tiba-tiba si sie poa emas Sang Pat menimbrung dari samping. “Aku rasa ada suatu rahasia hendak disampaikan kepadamu secara pribadi, entah dapatkah kita menghindar sebentar dari hadapan umum?”

Be Boen Hwie termenung sebentar, akhirnya ia putar badan dan berjalan menuju keujung barak.

Dengan langkah lebar Sang Pat mengikuti dari belakang, dan mereka berdua kasak kusuk beberapa saat lamanya.

Sesaat kekmudian dengan wajah serius Be Boen Hwie muncul kembali ditengah kalangan sembari berseru lirih.

“Siauw heng silahkan!”

Tangan kirinya diulapkan mempersilahkan Siauw Ling ambil tempat duduk diujung sebelah Timur barak.

Siauw Ling sendiri tidak tahu apa yang telah diucapkan Sang Pat kepada diri Be Boen Hwie, terpaksa ia menurut dan melangkah kedepan.

Tempat dimana Siauw Ling duduk saat ini adalah bagian barak yang paling sepi dan tak ada jago yang duduk disana.

Entah dikarenakan kepandaian silat Siauw Ling yang lihay telah menggetarkan hati para jago ataukah sikapnya yang gagah telah menundukkan mereka, mendadak suasana jadi tenang dan masing-masing jago duduk kembali ketempatnya masing-masing.

Perlahan-lahan sinar mata Be Boen Hwie menyapu sekejap ke arah para jago yang ada diempat penjuru, kemudian ujarnya lirih.

“Tadi cayhe kurang paham terhadap maksud kedatangan Siauw heng yang sebenarnya, harap kau suka memaapkan semua kesalahan yang telah kulakukan ….”

“Siauwte hadir tanpa diundaing, hal ini tak bisa disalahkan timbul kecurigaan diantara Be-heng serta para jago dalam soal ini tak bisa salahkan diri Be-heng.”

“Walaupun malam ini atas anjuran para jago siauwte bertindak sebagai ketua pertemuan tapi dalam kenyataan keputusan terakhir tetap berada ditangan para jago, Siauwte rela membantu Siauw-heng dalam menanggulangi persoalan yang maha berat ini, tapi aku rasa dalam beberapa waktu masih sulit untuk menundukkan hati para jago.”

“Be-heng, kau hendak menyampaikan soal apa silahkan diutarakan sejujurnya, asalkan siauwte bisa melakukan tanpa membantah.

“Pada saat itu di dalam perkampungan Pek Hoa San-cung sedang diadakan persiapan untuk merayakan Siauwheng yang telah menggabungkan diri dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung, dalam hubungan soal ini aku rasa semua jago telah mengetahuinya dalam situasi seeprti ini sekaliun siauwte akan gunakan semua tenaga untuk menjelaskan keadaan Siauw heng yang sebetulnya juga percuma saja oleh karena itu dapatkah untuk sementara waktu Siauw heng mengundurkan lebih dahulu dari sini. setelah siauwte berhasil memperoleh kepercayaan dari para jago baru kirim orang lagi untuk menyambut kedatanan Siauw heng dengan penuh kehormatan….”

Maksud kedatangan Siauw Ling ketempat itu adalah ingin minta bantuan para jago untukmenolong orang tuanya lolos dari orang2 perkampunan Pek Hoa Santjung.

Tapi karena telah melihat situasi tidak menungtungkan baginya untuk tetap tinggal disana, ia segera bangkit berdiri.

“Jikalau siauwte tak bisa memperoleh kepercayaan dari saudara2 seklian terpaksa aku mohon diri terlebih dahulu!”

Setelah menjura it putar badan berlalu.

Sang Pat, Tu Kioe, Giok Lan serta Kiem Lan pun segera ikut bangkit dan berlalu mengikuti dari belakang Siauw Ling.

Mendadak Peng Im meloncat bangun dan menghadang jalan pergi Siauw Ling, serunya cepat-cepat

“Siauw Thay-hiap kau hendak pergi kemana?”

“Siauwte tidak berhasil mendapat kepercayaan dari para jago dan tidak dapat pula ikut menghadiri pertemuan rahasia ini, lebih baik untuk sementara waktu mengundurkan diri terlebih dulu”

Aku sipengemis cilik tak becus dan tidak dapat merebut kepercayaan dari para jago aku pun tidak punya muka lagi untuk ikut menghadiri pertemuan itu ….”

“Peng-heng kau jangan salah sangka” tukas Be Boen Hwie ter-buru-buru. “Dengan nama harum Peng-heng dalam dunia persilatan, tak seorang jago yang hadir dalam kalangan inipun yang tidak menaruh rasa hormat kepadamu sedangkan mengenai masalah Siauw Thay-hiap sebelum kami berhasil memastikan kebersihan asal usulnya sungguh mati tak dapat kami biarkan ia ikut hadir dalam pertemuan ini. Sekarang suhumu belum tiba dan saat ini hanya Peng-heng seorang yang dapat mewakili pihak Kay-pang, kalau Peng-heng hendak mengundurkan diri dari pertemuan ini bukankah dari pihak Kay Pang tidak ada wakil yang ikut menghadiri pertemuan ini? urusan menyangkut masalah yang besar, aku harap Peng-heng suka berpikir tiga kali sebelummengambil tindakan”.

“Apa yang diucapkan Be Cong Piauw Pacu sedikitpun tidak salah” sambung Siauw Ling pula. “Peng-heng, kau jangan mencampuri suatu urusan persoalan yang kecil menghancurkan masalah besar, harap kau lebih mementingkan urusan lebih penting.

Peng Im termenung berpikir beberapa saat lamanya, kemudian ia berkata.

“Berhubung pada saat ini sikap para jago terhadap pihak perkampungan Pek Hoa San cung penuh diliputi oleh perasaan jeri dan takut, hal ini mengaibatkan timbulnya suasana yang kaku, nama Siauwte kecil tak berpengaruh dan tidak berhasil membuat para jago menaruh kepercayaan terhadap diri Siauw heng, kalau dibicarakan sungguh memalukan.

“Tebal salju tiga dim, kejadian ini hanya berlangsung selama musim dingin, Pengheng harap baik2 berjaga diri dan siauwte mohon diri terlebih dulu.”

Tanpa berpaling lagi dengan langkah lebar ia berlalu.

“Aku sipengemis cilik akan menghantar kalian sampai diperahu.”

Tanpa menunggu apakah Be Boen Hwie mengijinkan atau tidak, dengan langkah lebar Peng Im ikut berlalu mengikuti rombongan Siauw Ling.

Setibanya diujung papan kayu yang dirapikan sebagai sebuah lorong kecil, ternyata disitu tidak dijumpai adanya perahu sampan yang digunakan untuk menghantar mereka ketepian.

Tu Kioe tak dapat menahan rasa gusar yang terpendam dalam hatinya lagi, ia mulai memaki kalang kabut.

“Bangsat cilik itu sungguh kurang ajar sekali kalau tidak ijinkan kita orang ikut hadir dalam pertemuan tersebut seharusnya disini disediakan perahu untuk memuat kita ketepian, masa perahu saja tidak ada…. bangsat! keparat! entah apa maksud yang sebenarnya?”

“Aku rasa ia sudah mengatur segala keperluan untuk kita, saudara Tu tak usah gelisah!”

Tu Kioe masih marah2 hanya saja ia tak berani memaki lagi karena barusan ditegur oleh Siauw Ling, sinar matanya dialihkan ke arah Sang Pat dan ujarnya kembali.

“Sang Loo-toa apa yang telah kau ucapkan terhadap bangsat keparat itu? kalau kita harus mundur karena gertak sambal seorang bocah cilik macam dia, bukankah tindakan ini akan mempengaruhi merek mas Tiong Cho Siang Ku kita?”

Mendengar ucapan itu Sang Pat lantas tersenyum

“Jangan kuatir, jangan kuatir, selamanya siauwte paling tidak suka melakukan perdagangan yang rugi, tentang soal ini kau boleh berlega hati”

“Orang2 yang bertugas mendayung perahu kebanyakan adalah anggota Kay Pang kami” ujar Peng Im. “Biarlah aku sipengemis cilik menggunakan kedudukanku di dalam Kay Pang untuk memerintahkan mereka mengirim perahu datang kemari”

“Peng-heng jangan bertindak gegabah, aku rasa Be Boen Hwie tentu sudah melakukan persiapan2 lebih baik kita menanti sejenak lagi”

Baru saja mereka ber-cakap2 sampai disitu mendadak terdengar suara dayung memecah ombak berkumandang datang….

“Nah! coba kalian lihat bukankah perahu sudah datang?” seru Siauw Ling segera.

Ketika semua orang berpaling, tampaklah sebuah perahu sampan dengan cepat sedang meluncur datang.

Dalam waktu singkat perahu kecil tadi sudah mendekati beberapa orang itu.

Sedikitpun tidak salah para pendayungnya adalah dua orang anggota Kay Pang.

Diam2 Peng Im mengirim kode rahasia dari perkumpulannya untuk menunjukkan kedudukannya dalam partai. kedua orang anak murid Kay Pang tadi segera merangkap tangannya menjura.

“Kalian berdua harus baik2 menghantarkan beberapa orang ini tiba ditepian, kemudian cepat kembali memberi laporan.”

Kedua orang anak murid Kay Pang itu saling bertukar pandangan sekejap. terdengar orang yang ada disebelah kiri berkata.

“Tecu sekalian mendapat perintah dari Be Cong Piauw Pacu untuk segera mendayung perahu datang kemari dan semua perintah diturunkan oleh Gien Pay Toocu, entah apakah kami harus melapor pula pada diri Be Cong Piauw Pacu….”

“Kali ini teristimewa” jawab Peng Im setelah termenung sejenak. “Setelah kalian memberi laporan kepada diriku kemudian baru kembali kepos kalian untuk mendapat perintah selanjutnya dari Be Boen Hwie!”

“Tecu sekalian turut perintah,”

“Cuwi sekalian silahkan naik ke atas perahu” kata Peng Im selanjutnya dengan nada sedih. “Setelah aku sipengemis cilik kembali kebarak pertemuan tentu akan kuusahakan sedapat mungkin membereskan persoalan dari Siauw heng dan memaksa Be Boen Hwie berangkat sendiri untuk mengundang kehadiran Siauw-heng!”

“Aai soal ini tak bisa disalahkan kepada orang lain, hal ini harus menyalahkan siauwte bertindak gegabah dan salah melangkah menimbulkan sesal dikemudian hari, sekali telah salah terjun kepihak perkampungan Pek Hoa Santjung, tak boleh kita timpahkan kesalahan tersebut ketangan orang lain”

Sembari berkata pemuda she Siauw ini meloncat naik ke atas perahu.

Tiong Cho Siang Ku, Kiem Lan serta Giok Lan pun secara beruntun naik ke atas perahu.

Kedua orang anak murid Kay Pang tadi segera menggerakkan dayung menjalankan perahunya menembus jalan rahasia diantara hutan gelaga.

Gerak gerik kedua orang ini sangat sebat dan terlatih, dalam waktu singkat mereka telah meninggalkan hutan gelaga tersebut.

“Cuwi sekalian hendak mendarat dimana?” tiba-tiba tanya murid Kay Pang yang ada disebelah kiri.

“Perduli dimanapun boleh saja lebih cepat mendarat lebih baik,” jawab Siauw Ling.

Kedua orang murid Kay Pang itu tak banyak bertanya lagi, mereka belokkan perahu sampan tersebut ke arah Timur dan dalam waktu singkat telah merapat ditepian.

Tempat dimana mereka menepi adalah sebuah hutan yang amat lebat.

Berturut2 Siauw Ling sekalian meloncat ke daratan, setelah itu kedua orang murid Kay Pang tadi menggerakkan perahunya berlalu.

“Toako, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Sang Pat sambil melirik sekejap ke arah Siauw Ling sepeninggalnya kedua orang anggota Kay Pang tadi.

“Memohon orang lebih baik memohon diri sendiri, setelah aku tidak berhasil meyakinkan para jago untuk menolong diriku, terpaksa sekarang kita harus berusaha sendiri menolong orang tuaku lolos dari mara bahaya!”

“Tidak bisa jadi, orang2 perkampungan Pek Hoa San-cung rata pada kenali dirimu itu, sebelum kau tiba didepan pintu perkampungan Pek Hoa Santjung, jejakmu sudah bakal diketahui mereka!” seru giok Lan memberikan pendapatnya.

“Bukankah aku bisa pergi kesana dengan menyaru!”

“Orang2 perkampungan Pek Hoa Santjung rata2 berpenglihatan tajam, penjagaan mereka dilakukan sangat ketat, kalau cuma ilmu menyaru biasa rasanya tidak gampang untuk mengelabui penglihatan mereka”

“Kalau cuma menyaru saja sih bukan suatu persoalan yang terlalu sulit….” tiba-tiba si Pit besi berwajah dingin Tu Kioe menyela. “Dalam saku cayhe memiliki obat menyaru yang sangat bagus sekali, rasanya tidak sulit bagi kita untuk menyelundup masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa Santjung….”

Mendadak sepasang sinar mata Sang Pat dialihkan ke atas badan Giok Lan, ujarnya lambat2

“Kalau dugaan cayhe tidak salah, nona Giok Lan tentu mempunyai suatu rencana yang sangat bagus”

“Rencana sih memang ada satu, hanya entah bisa berhasil atau tidak?”

“Apa rencanamu! cepat utarakan keluar!” seru Siauw Ling tidak sabaran.

“Menurut apa yang budak ketahui, disebelah Timur laut perkampungan Pek Hoa Sancung terdapat sebuah pintu pribadi yang kebanyakan digunakan masuk keluar oleh para koki serta babu tua. aku rasa hanya ditempat itulah merupakan satu2nya lubang dalam perkampungan Pek Hoa San cung yang bisa digunakan untuk menyelundup masuk.”

“Bagus sekali!” seru Sang Pat kegirangan. “Saudara Tu, kita bisa menyaru sebagai koki perkampungan dan menyelundup masuk melalui pintu samping tersebut”

“Bagaimana dengan aku? tanya Siauw Ling cepat.

“Siauwte telah pikirkan suatu rencana yang bagus buat Toako, kau serta Giok Lan bisa menyaru sebagai kacung atau pembantu para jago lihay yang diundang masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung, dengan berbuat demikian bukankah kalian bisa menyelusup kedalam!”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau di dalam perkampungan Pek Hoa San cung telah berkumpul jago-jago lihay.

“Untuk merayakan diri Toako yang menggabungkan diri dengan pihak perkampungan Pek Hoa San-cung, Jen Bok Hong telah mengirim utusan untuk mengundang para jago dari kalangan hitam untuk menghadiri pertemuan enghiong ini, diluaran mereka menggunakan alasan hendak merayakan dirimu, dan mengambil kesempatan ini mepopulerkan namamu dalam dunia persilatan, padahal yang benar dibalik kesemuanya ini tersusun suatu rencana yang busuk, ia hendak menggunakan siasat yang paling licik untuk menarik semua jago lihay untuk membantu usahanya menguasai salah seorang yang diundang!!!”

“Ouuuw…. jadi maksudmu kau ingin aku menyaru sebagai pembantu Be Boen Hwie dan menyelundup masuk ke dalam perkampungan |Pek Hoa San-cung?”

“Siauw-te mengambil keputusan sendiri, harap toako suka memaafkan dosa atas kelancanganku ini”.

Siauw Ling tertama.

“Demi diriku kau sudah banyak mengorbankan tenaga serta pikiran, untuk mengutarakan rasa terima kasihpun sudah tidak sempat, apalagi menyalahkan dirimu!!!”

“Aku sudah mengadakan perjanjian dengan Be Boen Hwie untuk bertemu besok pagi pada kentongan pertama, keesokan harinya ia akan masuk ke dalam perkampungan”.

Per-lahan-lahan Siauw Ling mendongak memeriksa keadaan cuaca, setelah itu katanya, “Dari saat ini hingga besok malam pada kentongan pertama masih terpaut suatu jangka waktu yang sangat panjang, kita punya waktu yang cukup untukmengadakan persiapan!”

Sang Pat tertawa.

Kedua ekor anjing harimau yang siauw-heng bawa walaupun sudah memiliki kecerdikan yang tiada bandingan, tak bisa juga aku tinggalkan dalam jangka waktu yang lama, aku hendak pergi mengaturnya, harap Toako serta nona berdua mencari tempat disekitar hutan untuk beristirahat, Siauw-te akan pergi sebentar dan segera akan kembali!!!”

“Baik! kita akan menanti disini!!!”

“Paling lama dua jam paling cepat satu jam siauw-te pasti sudah kembali lagi disini!!!”

Selesai mengucapkan perkataan tersebut bersama Tu Kioe ia segera berlalu.

Sejak Siauw Ling munculkan diri dalam dunia persilatan, ia sudah terlibat ketengah masalah bentrokan pihak kalangan lurus dengan golongan hitam, ditambah pula tanpa ia ketahui pemuda ini sudah salah melangkah masuk ke dalam pihak Pek Hoa Santjung sehingga menimbulkan kesalah pahaman para jago terhadap dirinya.

Kini baginya sulit untukmembersihkan diri dari segala macam tuduhan, terutama sekali orang tuanya telah ditawan sebagai barang jaminan hal ini menimbulkan ketegangan antara dia dengan perkampungan Pek Hoa Santjung.

Dalam hal mengadu kecerdikan serta mengadu kekuatan ini, ia jadi seorang jago yang berada dalam posisi serba salah.

Hubungan orang tua erat melebihi rentetan pegunungan, dengan adanya kejadian ini tanpa disadari telah mendatangkan suatu belenggu dalam semangat serta pikirannya, teringat akan penderitaan yang dialami kedua orang tuanya sang hati jadi amat murung.

Memandang bayangan punggung Tiong Cho Siang Ku yang pergimenjauh, dengan sedih ia menghela napas panjang, dua titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Siapa bilang seorang lelaki sejati tak pernah mengucurkan air mata? asal menjumpai kejadian yang menyedihkan atau menyinggung hati kecilnya ia pasti akan menangis.

Bagi Kiem Lan serta Giok Lan untuk pertama kali ini mereka menemukan pemuda berhati kokoh dan memiliki kepandaian silat sangat lihay ini mengucurkan air mata penuh kesedihan.

Dari dalam sakunya Kiem Lan mengambil keluar secarik sapu tangan untuk mengusap kering air mata yang menodai pipinya.

“Siangkong!” hiburnya dengan suara halus. “Kau memikul beban yang sangat berat, baik2 lah menjaga kesehatan badan!”

Giok Lan pun berusaha menekan rasa sedih di dalam hati, ujarnya pula dengan suara halus.

“Barusan Siangkong menerima dua kali serangan tanpa berkelit, aku rasa luka yang kau derita tidak ringan walaupun tenaga lweekang dari siangkong amat sempurna. lebih baikjangan bertindak ceroboh, Harap siangkong suka mengatur pernapasan untuk menjaga kondisi badan, jangan sampai karena kurang perhatian luka yang kecil menimbulkan sakit yang parah dan mengganggu kesehatan badan.

Dengan wajah sedih Siauw Ling berpaling ke arah kedua orang dayangnya, kemudian sambi lmenghela napas, katanya,

“Sebagai putra manusia tak bisa berbakti untuk orang tua sudah merupakan suatu dosa yang berat, apalagi membuat orang tua menderita…. aku sebagai putra mana punya muka untuk tancapkan kaki dikolong langit ini….”

“Urusan sudah jadi begitu gelisah pun tidak berguna, kedua orang tua yang ada dalam perkampungan Pek Hoa San-cung pun aku rasa tidak jelek kondisinya karena orang budiman selalu dilindungi Thian. Siangkong kau harus ingat dapatkah mereka bebas dari belenggu atau tidak semua tugas ini telah terjatuh diatas pundakmu, jikalau kau sampai terganggu kesehatannya bukankah semua akan menemui kegagalan!” Aai terima kasih atas nasehat nona berdua” kata Siauw Ling.

Ia segera duduk bersila untuk mengatur pernapasan.

Kiranya setelah ia terhantam oleh pukulan Thiat Sah Ciang, walaupun ada hawa khie-kang yang melindungi badannya tapi berhubung kesempurnaan yang belum mencapai taraf paling atas membuat isi perutnya masih juga menderita luka.

Kini setelah menerima peringatan dari kedua orang dayangnya ia baru sadar kembali, segera pikirnya, “Orang2 Bu-lim yang ada dikolong langit walaupun tidak sedikit menaruh rasa benci terhadap Jen Bok Hong, tapi kenyataan dalam hati kecil mereka menaruh rasa jeri yang tiada terhingga kepada orang itu, tugas menolong orang tuaku lolos dari mara bahaya aku rasa harus tergantung diatas pundak aku Siauw Ling sendiri, kalau tidak kujaga lagi kesehatanku sehingga luka yang semula kecil dalam isi perut bertambah memburuk sehingga akhirnya membuat badan jadi cacad, siapa yang bisa bantukan aku menolong kedua orang tua itu lolos dari bahaya….”

Dia adalah seorang pemuda berotak cerdik, setelah berpikir sampai disitu tanpa bicara lagi segera duduk bersila mengatur pernapasan.

Kiem Lan, Giok Lan merupakan jago-jago berpengalaman, mereka tahu seseorang yang memiliki tenaga lweekang amat sempurna dalam saat mengatur pernapasan tidak boleh sesekali mendapat gangguan dari luar.

Mereka berdua lalu saling bertukar pandangan dan sambil mengempos semangat melakukan penjagaan disekelilingnya.

Kurang lebih dua pertanak nasi kemudian, mendadak terdengar suara langkah manusia berkumandang datang.

Dengan cepat Giok Lan dapat menangkap suara tersebut, pedangnya segera diloloskan dari sarung bisiknya pada diri Kiem Lan dengan nada lirih.

“Cici, harap kau berjaga disisi siangkong, biarlah aku pergi tengok siapakah yang datang, jikalau yang datang bukan kawan tapi lawan, aku akan berusaha untuk memancing ia pergi dari sini enci harus baik2 melindungi keselamatan siangkong dan tidak usah merisaukan keselamatanku lagi!”

Beberapa patah kata yang diucapkan secara terburu-buru ini meninggalkan kesan yang sangat besar dihati yang mendengar.

Tampak Kiem Lan dengan air mata mengucur keluar membasahi wajahnya mencekal tangan Giok Lan erat2, ujarnya.

“Urusan memancing pergi lawan biarkan aku yang melakukan! kecerdikan enci melebihi orang lain dan sering menerima pujian dari siangkong, ada kau yang berada disisinya mungkin setiap saat bisa membantu dirinya Siauw-moay tidak becus dalam hal ilmu silat untuk membantu siangkong dan tidak becus dalam soal Boea untuk melebihi kecerdikan cici….”

“Justru karena kecerdikanmu tak bisa melebihi aku inilah maka kau tak bisa memikul tugas berat ini” tukas Giok Lan tiba-tiba sambil meronta lepas dari cekelan Kiem Lan.

Kiem Lan jadi tertegun sebelum ia sempat memberi jawaban Giok Lan telah melayang pergi.

Ketika ia berpaling maka dilihatnya Siauw Ling sedang mencapai taraf yang paling penting dalam semedinya, dibawah sorotan sinar rembulan yang remang2 dapat dilihat dari atas batok kepala pemuda itu mengepul selapis asap berwarna putih.

Dalam sekejap mata itulah bayangan tubuh Giok Lan sudah lenyap tak berbekas.

Kembali Kiem Lan memeriksa keadaan disekeliling tempat itu kemudian melayang dan bersembunyi dibelakang sebuah pohon besar, ia bersiap sedia asalkan ada orang datang kesitu maka tanpa perduli apa yang terjadi ia akan melancarkan serangan bokongan untuk membinasakan orang itu.

Sewaktu ia meneliti suara tadi, suara langkah manusia tersebut sudah tidak kedengaran entah oran gitu berhasi lterpancing pergi oleh Giok Lan atau memang telah berputar ke arah lain.

Waktu berlalu dengan cepat ditengah suasana ketegangan yang mencekam disekeliling tempat itu, selama seperminum teh lamanya tak kedengaran sedikit suarapun.

Ketenangan yang diluar dugaan ini sebaliknya malah mendatangkan rasa jeri dihati kecil Kiem Lan, otaknya mulai diliputi dengan pikiran yang tidak genah.

“Mungkinkah orang itu berhasil membinasakan Giok Lan? mungkinkah orang itu tanpa menimbulkan sedikit suarapun telah tiba dibelakang tubuhku….”

Dengan hati berdebar ia mendongak memeriksa keadaan disekitar tempat itu, terasa olehnya ditengah malam yang buta disetiap pohon besar bagaikan tersembunyi seseorang.

Suasana yang amat tegang ini hampir2 saja membuat Kiem Lan tak dapat bernapas, matanya melotot bulat2 dan telinga dipasang secermat2nya.

Mendadak….

Suara tertawa dingin berkumandang datang dari belakang tubuhnya.

Suara tertawa dingin itu amat perlahan tapi cukup membuat Kiem Lan terkesiap sehingga hampi2 jatuh tidak sadarkan diri, dengan cepat ia berpaling ke belakang.

Kurang lebih delapan depa dibawah bayanan pohon yang rindang berdiri sesosok bayangan manusia yang kurus kecil berbaju hitam.

Ditengah malam buta bayangan manusia tersebut bagaikan selapis roh yang muncul secara tiba-tiba saja.

Buru-buru Kiem Lan tenangkan hatinya sambil menyeka keringat dingin yang mengucur keluar membasahi wajah, ia menegur.

“Siapa?”

“Aku!” jawab bayangan manusia itu sambil secara mendadak putar badan, serentetan cahaya mata yang tajam segera memancar datang menggidikkan hati yang melihat.

Mendadak ia melangkah mendekati tubuh Siauw Ling.

Kiem Lan jadi gelisah, sambil putar pedang ia meloncat kedepan menghadang jalan pergi orang itu.

“Berhenti!” bentaknya keras2.

Mendadak orang berbaju hitam itu berhenti dan menengok kesejap ke arah Kiem Lan.

“Orang yang sedang duduk bersemedi itu bukankah Siauw Ling?”

Kiem Lan terkesiap setelah melihat jelas siapakah orang itu, pedang yang dicekal ditangan jadi lemas dan terjatuh kebawah.

“Kau…. kau…. Tok So Yok Ong?”

“Tidak salah loohu adanya! eei…. aku sedang bertanya kepadamu orang yang sedang duduk bersemedi itu bukankah Siauw Ling?”

“Kepandaian silat yang dimiliki Tok So Yoh Ong sangat lihay, aku bukan tandingannya” pikir Kiem Lan dihati. “Tapi asalkan aku bisa lebih banyak menerima serangannya ini berarti Siauw siangkong punya satu bagian kesempatan untuk melanjutkan hidup, aku Kiem Lan sudah banyak menerima budi dari Siauw Siangkong, inilah saat yang bagus bagiku untuk membalas budi kebaikan tersebut…. sekalipun mati juga tak perlu disesalkan!”

Setelah tidak merisaukan soal mati hidup sendiri, semangat gadis ini makin bertambah besar tegurnya dingin “

“Yok Ong! bukannya kau berdiam dalam perkumpulan Pek Hoa San-cung, apa maksudmu datang kemari?”

Melihat pertanyaannya tidak dijawan malahan dirinya ditegur Tok So Yok Ong jadi amat gusar.

“Eeeeei…. Loohu sedang bertanya apakah orang ini Siauw Ling atau bukan, kau sudah dengar belum?”

“Ouuuw…. kiranya Thian tidak me-nyia2kan harapanku, akhirnya looku berhasilmenemukan kembali dirinya” gumam si raja pbat bertangan keji ini seorang diri.

“Siauw Siangkong sedang mendapat tugas dari Jen Toa Cung-cu dengan membawa aku serta enci Giok Lan meninggalkan perkampungan Pek Hoa San-cung, kau mengganggu kami….”

Tok So Yok Ong tertawa dingin tiada hentinya.

Heeee heee…. kau anggap dengan menyebutkan nama Jen Bok Hong aku lantas jeri? demi menolong selembar jiwa putriku, aku tak akan perduli hubunganku dengan Jen Bok Hong.

Mendadak badannya mencelat ketengah udara menyingkir dari hadapan Kiem Lan dan langsung menubruk ke arah Siauw Ling.

Kiem Lan segera putar pedangnya mengirim sebuah babatan kedepan coba menghadang jalan pergi Si raja Obat bertangan keji ini.

Tok So Yok Ong segera putar tangan kanannya dan didorong kedepan, segulung hawa pukulan meluncur keluar menahan datangnya serangan pedang Kiem Lan. sedang badannya laksana kilat meneruskan terjangannya ke arah Siauw Ling.

Kepandaian silat yang dimiliki Tok So Yok Ong benar2 luar biasa, menanti tubuh Kiem Lan telah meloncat ketengah udara waktu itulah Tok So Yok Ong sudah berada disisi sang pemuda, tangan kanannya segera bergerak sepat menotok tiga buah jalan darahnya.

Ketika itu semedi Siauw Ling sedang mencapai taraf yang sangat penting, walaupun ia mendengar suara pembicaraan kedua oran gitu tak bisa bercabang-cabang karena itu tanpa mendapat perlawanan apapun Tok So Yok Ong berhasi menotok jalan darahnya.

Melihat kejadian itu Kiem Lan semakin gelisah, pedangnya diputar sedemikian rupa mengirim tiga buah serangan gencar.

Dengan gerakan yang sangat mudah dan ringan Tok So Yok Ong berhasil memunahkan ketiga buah serangan itu dan menangkis pedang Kiem Lan sehingga miring kesamping, ujarnya dingin, “Memandang diatas wajah Jen Bok Hong, loohu tidak ingin melukai selembar jiwamu, tapikalau sampai menimbulkan hawa amarah loohu…. Hmm! jangan salahkan aku tidak akan mengikat hubunganmu dengan Jen Bok Hong lagi”

“Cepat lepaskan dirinya!” jerit Kiem Lan dengan suara yang melengking.

Pedangnya ber-turut2 melancarkan serangan berantai, satu jurus lebih hebat dari jurus yang lain.

Tok So Yok Ong menggerakkan tangan kanannya menahan datangnya serangan pedang Kiem Lan, tangan kiri didorong ke atas punggung Siauw Ling membuyarkan hawa murni yang sedang berkumpul disana sehingga tidak sampai menimbulkan luka.

Dalam sekejap mata Kiem Lan melancarkan dua puluh jurus serangan, tapi dengan sangat mudah berhasil dipunahkan semua oleh Tok So Yok Ong.

Karena cemas dan kaget gadis ini mulai mengucurkan air mata.

Mendadak terdengar ujung baju tersampok angin, serentetan cahaya putih meluncur datang langsung menusuk badan Si raja Obat bertangan keji itu.

Kiem Lan berpaling setelah ditemukan orang itu bukan lain adalah Giok Lan ia menangis sejadi2nya.

“Siauw-moay tidak becus dan tak berhasil menghalangi dirinya, Siauw Siangkong kena ditangkap.”

“Urusan yang sudah lewat tak perlu diributkan lagi, saat ini menolong orang lebih penting” tukas Giok Lan cepat.

Pedangnya berubah berulang kali mendesak dan meneter musuhnya.

Semangat Kiem Lan bangkit kembali iapun putar badan melancarkan serangan2 gencar.

Walau kepandaian silat yang dimiliki Tok So Yok Ong sangat lihay tapi pada saat ini disamping ia harus cabangkan pikiran untuk salurkan hawa murni melancarkan peredaran darah dalam tubuh Siauw Ling ia harus pula melawan serangan musuh, keadaannya agak keteter.

Apalagi keadaan dari kedua orang gadis ini sudah mirip manusia kalap saja serangan pedang mengikuti aliran mengadu jiwa dan semua ancaman ditunjukkan ke-bagian2 yang bahaya jadi ia terdesak dan timbullah hawa amarah di dalam hati.

Sambil tertawa dingin serunya.

“Budak2 yang tak tahu diri karena memandang diatas wajah Jen Bok Hong loohu tidak ingin melukai diri kalian tapi kalau kamu berdua menteter loohu sedemikian rupa. Hmm! jangan salahkan aku akan turun tangan melukai kalian!”

Hawa murninya segera disalurkan ketangan kanan dan per-lahan-lahan didorong keluar.

Segulung hawa pukulan yang maha dahsyat dengan cepat menggulung keluar mengancam tubuh Kiem Lan.

Buru-buru Kiem Lan menggerakkan pedangnya menangkis, sedang telapak kirinya dengan sepenuh tenaga menangkis datangnya serangan pukulan tersebut.

Terasa datangnya tenaga dorongan tersebut dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra ketika bentrok dengan tenaga pukulannya seluruh tubuh bergetar badanpun tak kuasa lagi muncur tujuh, delapan langkah ke belakang dengan sempoyongan dan akhirnya roboh terjengkang.

Ketika Giok Lan melihat Kiem Lan terpukul roboh hatinya sangat terperanjat ia tahu dengan kekuatan seorang diri pasti bukan tandingan pihak musuh tapi ia nekad, dengan mempertaruhkan jiwanya ia melancarkan sebuah tusukan dengan jurus “Tiang Hong Tjing Thian” atau pelangi Merah melati langit, menggunakan kesempatan sebelum Tok So Yok Ong menarik kembali telapak tangannya yang didorong kedepan.

Tok So Yok Ong mendengus dingin.

“Hmm! budak celaka kau cari mati

Tangan kanannya ditarik lantas didorong ke pemudam sekali lagi ia mengirim sebuah pukupan dahsyat.

Giok Lan sidayang cilik ini mana bisa tahan menerima datangnya serangan Si raja Obat bertangan Keji yang demikian dahsyat? bersama2 dengan pedangnya ia terpukul mencelak ke belakang menhantam diatas pohon besar.

“Brak….!” tak tahan lagi ia terpelanting dan roboh tak berkutik

Sinar mata Si raja Obat bertangan keji berkilat sambil menyapu sekejap wajah kedua orang dayang yang menggeletak ditanah gumamnya seorang diri, “Loohu tidak cabut jiwa kalian bukannya karena takut pada Jen Bok Hong. Hmm! sekalipun kalian laporkan peristiwa ini kepadanya loohu takkan jeri!”

Sembari berbicara ia sambar badan Siauw Ling dan berlalu dari sana.

Malam semakin kelam ditengah kegelapan yang mencekam hutan lebat tersebut dalam dua tiga kali tikungan saja bayangan tubuh si raja obat bertangan Keji serta Siauw Ling telah lenyap.

Kiem Lan meronta bangun lebih dulu menghembuskan napas panjang lambat2 mendekati Giok Lan memeluk lengan saudaranya dan berbisik lirih.

“Enci bagaimana keadaanmu?”

Termakan oleh hantaman si Raja obat bertangan keji sehingga tubuhnya menumbuk pohon Giok Lan merasakan darah panas bergolak dalam rongga dadanya membuat ia hampir2 jatuh tidak sadarkan diri tergoncang oelh bayangan Kiem Lan ia segera tersadar kembali.

“Aku tidak mengapa, diamana Siauw Ling!” serunya.

“Siauw Siangkong diculik oleh Si raja Obat bertangan keji!”

“Aai…. diculik pergi “

Mendadak terdengar ujung baju tersampok angin menggema datang disusul munculnya dua sosok bayangan manusia.

Dalam keadaan seperti ini baik Kiem Lan maupun giok Lan sudah tiada kemampuan untuk bertempur kembali seandainya orang ini mengandung maksud bermmusuhkan maka terpaksa mereka hanay menantikan dirinya dibelenggu.

“Didepan apakah nona Kiem Lan?” terdengar orang menegur dengan suara cemas.

Berhubung Kiem Lan tidak tahu orang yang munculkan diri itu sahabat atau lawannya, lagipula menyadari mereka berdua sudah tiada berkekuatan untuk melakukan perlawanan lagi maka ia tetap menundukkan kepalanya rendah

Kini, sehabis mendengar teguran tersebut, merasakan pula bahwa nada suaranya amat dikenal lambat2 ia mendongak.

Setelah melihat jelas siapakah mereka, seketika ia berseru tertahan dan mengucurkan air mata, ujarnya menahan isak tandis.

“Kedatangan kalian berdua terlambat satu langkah!”

Orang yang baru datang bukan lain adalah ;tiong Cho Siang Ku atau sepasang pedagang dari Tiong Cho.

“Kenapa?” teriak si Sie poa emas Sang Pat dengan nada cemas. “Siauw Toako telah pergi kemana?”

“Dia…. dia kena diculik oleh si Raja Obat Bertangan keji”

“Si Raja Obat bertangan keji? makhluk tua inipun sudah ikut munculkan diri dikota Koei Tjhiu?”

Luka yang diderita Kiem Lan tidak ringan setelah berganti napas dua kali ia baru menjawab

“Sudah banyak tahun Si Raja Obag Bertangan Keji bersahabat dengan Shen Bok Hong pelbagai obat beracun serta pbat pemabok yang dimiliki Shen Bok Hong adalah hasil karya dari si raja Obat Bertangan keji itu”

Sang Pat menengok skejap ke arah Tu Kioe lalu ujarnya.

“Loo Djie-te saat ini bukan wakut yang tepat untuk ber-cakap2, kita harus berusaha menolong nona berdua lebih dahulu”

Tu Kioe mengangguk, dari sakunya ia ambil keluar sebuah botol tersebut dari porselen dan mengeluarkan dua biji pil pemunah. lalu katanya.

“Nona berdua harap menelan pil ini lebih dulu.

“Tidak sempat lagi” tukas Giok Lan dengan hati cemas. “Budak berdua tidak perlu kalian kuatirkan, lebih baik kalian berdua cepat-cepat pergi mengejar Si Raja Obat bertangan keji itu.

“Ditengah malam buta begini susah buat kita untuk menemukan kembali jejaknya, kalau benar ia mempunyai hubungan dengan Jen Bok Hong selama banyak tahun, aku pikir perbuatannya ini pasti didasarkan atas perintah Shen Bok Hong.

“Bukan, bukan” kembali Giok Lan menukas “Ia hendak menolong jiwa putrinya”

“Menolong putrinya? Apa sangkut pautnya dengan Siauw Ling?” Sang Pat tercengang.

“Pernah budak mendengar cerita dari Siauw ya, katanya poutri si raja obat bertangan keji mengidap suatu penyakit aneh dimana seluruh darah dalam tubuhnya harus diganti dengan darah bersih dengan demikian kesehatannya baru bisa sembuh seperti sedia kala. Darah Siauw ya…. darah….” ia berbatuk keras dan tak kuasa muntahkan darah segar.

Sang Pat segera tempelkan telapak kanannya ke atas punggung Giok Lan, hiburnya dengan suara lembut.

“Nona tak usah gelisah, kalau benar tujuan si raja Obat bertangan keji menculik Siauw Thay-hiap karena mengandung maksud2 tertentu untuk beberapa waktu ia tak akan mencelakai jiwanya, luka nona jauh lebih penting Cayhe akan bantu melancarkan pernapasanmu kemudian baru berusaha menemukan si raja Obat bertangan keji”

Sementara berbicara, tenaga murninya bagaikan gelombang ditengah samudra menerjang masuk ke dalam tubuh Giok Lan melalu jalan darah “Ming Bun Hiat”.

Dalam hantaman yang dilancarkan Si Raja Obat Bertangan Keji tadi, sebenarnya ia dapat membinasakan Giok Lan serta Kiem Lan saat itu juga namun berhubung kedua orang dayang itu adalah anggota perkampungan Seratus Bunga atau Pek Hoa San-cung lagipula si Raja obat Bertangan Keji ada hubungan yang erat dengan Jhen Bok Hong, maka ia tidak turun tangan terlalu berat. Dengan andalkan tenaga pukulannya yang besar dia hanya melukai kedua orang ini belaka.

Setelah memperoleh bantuan tenaga dalam dari Sang Pat, dengan cepat darah panas yang bergolak dalam dada Giok Lan bisa teratasi ia menghembuskan napas panjang dan berseru.

“Tidak bisa jadi, kita harus pergi mencari Siauw siangkong, seumpama kedatangan kita rada terlambat, kemungkinan besar si Raja Obat bertangan Keji telah menghisap habis darah siangkong”

“Tidak salah” kata Tu Kioe membenarkan. “Kita harus cepat-cepat mencari Siauw Toako!”

“Ilmu silat yang dimiliki si Raja Obat bertangan Keji amat lihay” kata Sang Pat dengan suara perlahatn. “Dengan andalkan kekuatan kita beberapa orang sulit rasanya untuk menemukan jejak mereka….”

Sinar matanya dialihkan ke arah Tu Kioe dan sambungnya lebih lanjut.

“Panggil seekor anjing raksasa kita, tidak sampai dua jam tidak sulit buat kita untuk mengetahui tempat persembunyiannya”

“Aakh…. benar, siauwte benar2 bodoh!” buru-buru Tu Kioe putar badan dan berlalu,

Setelah memandang keadaan cuaca, ujar Sang Pat.

“Menggunakan peluang yang demikian bagusnya harap nona berdua baik2 beristirahat sebentar seandainya Si raja Obat bertangan keji tidak berlalu terlalu jauh, kita masih bisa memenuhi pertemuan besok hari sesuai dengan rencana.

Setelah kedua orang dayang itu berlega hati teringat pula harus melakukan perjalanan jauh dalam pencarian nanti, mereka berdua segera pejamkan mata mengatur pernapasan.

Sepertanak nasi kemudian Tu Kioe muncul dengan membawa seekor anjing raksasa berwarna hitam, Sang Pat segera kemak kemik mengeluarkan kata2 yang tidak dimengerti agaknya ia sedang berbicara dengan anjing hitam itu, kemudian sambil menuntun binatangnya ia berputar satu lingkaran diempat penjuru, dan secara tiba-tiba melepaskan tali cekalannya.

Anjing hitam itu segera menggetarkan bulu2 badannya yang panjang dan berdiri tegak setelah itu meloncat beberapa depa kedepan dan lari ke arah muka.

Melihat arah yang dituju anjing raksasa itu bukan lain adalah arah dimana si Raja Obat bertangan keji berlalu Giok Lan kegirangan setengah mati tak kuasa teriaknya.

“Benar, benar sekali, tak disangka anjing raksasa berwarna hitam ini mempunyai kegunaan sedemikian besarnya”.

Mendadak Sang Pat bersuit rendah, anjing hitam yang telah lari kedepan segera berhenti dan berjalan balik berdiri empat, lima depa didepan Sang Pat memandang ke arah majikannya dan se-akan2 sedang menanti perintah.

Kembali si Siepoa emas Sang Pat berkemak kemik memperdengarkan ucapan yang tak dimengerti manusia. Anjing hitam itu putar badan kembali dan lari kemuka, hanya saja kecepatannya tidak lagi seperti tadi.

“Eeeeeei…. apa maksudmu berbuat demikian” tanya Giok Lan tercengang.

“Luka nona berdua belum sembuh, tidak baik untuk melakukan perjalanan cepatm, didamping itu menurut dugaanku si raja obat bertangan keji belum pergi terlalu jauh, seandainya kita bergerak terlalu cepat, ujung baju yang tersampok angin akan menimbulkan suara ditengah malam buta seperti ini suara tersebut dapat berkumandang sampai sejauh sepuluh tombak, tindakan ini bukankah sama arti memukul rumput mengejutkan ular?”

“Tidak salah!” Giok Lan mengangguk, ia menggerakkan badannya berkelebat ke arah depan.

Mengikuti dibelakang anjing raksasa berwarna hitam itu, beberaoa orang tersebut mengitari hutan tadi sebanyak dua kali kemudian baru bergerak ke arah Utara.

Diam2 Tu Kioe mengerutkan dahi bisiknya lirih

“Coba lihat si raja obat bertangan keji mengitari hutan ini sebanyak dua kali entah apa maksudnya berbuat demikian?”

“Ia hendak memeriksa dahulu apakah dalam hutan bersembunyi jago-jago lihay yang mengincar dirinya atau tidak” jawab Sang Pat.

Setelah mengatur pernapasan beberapa waktu kendati semangat Giok Lan serta Kiem Lan suah jauh lebih baikan, namun rasa sakit masih menyerang dalam tubuh mereka gertak gigi dan dengan paksakan diri meneruskan perjalanan kedepan.

Sianjing raksasa berwarna hitam itu setelah menerobos keluar dari hutan meneruskan larinya lurus ke arah sebelah Utara.

Beberapa orang lainnya mengikuti dari belakang dengan andalkan meringankan tubuh tiap langkah kaki mereka sama sekali tidak meninggalkan sedikit suarapun.

Empat, lima li dengan cepat telah dilalui, akhirnya anjing raksasa pembawa jalan itu berhenti ditengah sebuah tanah pekuburan yang luas.

Anjing raksasa itu berhenti tepat didepan sebuah kuburan besar yang menonjol ke arah luar, sikapnya seakan2 hendak melakukan tubrukan sedangkan matanya dengan tajam memperhatikan kuburan itu tak berkedip. Melihat kejadian ini Sang Pat seera berkata lirih. 

“Ditempat ini?”

“Dalam kuburan tersebut!” seru Tu Kioe tercengang.

Seumpama anjing raksasa kita tidak salah membawa jalan, seharusnya tempat inilah sasaran kita. kau jaga baik2 anjing kita jangan biarkan dia menggonggong sendiri, aku akan kesana melakukan pemeriksaan.”

Dengan gesit ia meloncat kedepan.

Usia kuburan besar ini sudah tua sekali. diatas kuburan penuh ditumbuhi rerumput setinggi setengah pinggang, Sang Pat mengitar kuburan itu satu kali, sedikitpun tidak salah dibawah semak ia temukan banyak tanah galian baru, ia segera menyingkap semak2 tersebut dan memeriksa lebih teliti.

Dibawah sorotan cahaya bintang yang redup muncul sebuah gua yang luasnya ada dua depa ditutupi oleh rerumputan.

Agaknya si raja obat bertangan keji mengira tampat itu cukup rahasia dan tak mungkin ada orang bisa menemukannya sehingga dengan ceroboh ia tidak menutupinya kembali dengan sebangsa dedaunan.

Sang Pat pusatkan seluruh perhatiannya untuk mendengar, secara lapat2 ia menangkap adanya suara pembicaraan manusia dari dalam kuburan.

Si raja Obat Bertangan keji adalah seorang manusia kenamaan dalam dunia persilatan Sang Pat tidak berani berlaku gegabah secara berhati2 ia mundur ke belakang minta Giok Lan, Kiem Lan dengan membawa anjing raksasa itu menanti ditempat kejauhan, lalu kepada Tu Kioe bisiknya lirih.

“Loo-jie ilmu silat yang dimiliki si raja Obat bertangan keji sangat luar biasa, Toako pun terjatuh ketangannya, dengan adanya beberapa masalah yang menyulitkan membuat kita jadi sulit untuk turun tangan sekuat tenaga, apalagi bertindak secara gegabah”

“Siauwte akan bekerja mengikuti perintah Toako!”

Dengan langkah hati2 Sang Pat membawa Tu Kioe berjalan kembali kedepan kuburan besar, telinga kanan ditempelkan kemulut gua dan mendengarkan suara2 yang ada di dalam dengan penuh perhatian.

Terdenar suara Siauw Ling berkumandang keluar dari dalam kuburan ia sedang berkata

“Kau memiliki julukan si Raja Obat. dalam soal ilmu pertabiban serta obat2an tentu memiliki kemampuan yang lebih hebat dari orang lain, mengapa kau tidak coba menciptakan Obat mustajab yang bisa digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang diderita putrimu?”

Seorang kakek tua dengan suara sedih segera menyambung.

Selama banyak tahun Loohu sudah menjelajahi seluruh kolong langit baik Utara maupun Selatan tempat2 terkenal sudah kudatangi sayang belum berhasil juga kudapatkan obat mujarab yang bisa digunakan untuk menyembuhkan putriku. dan belum pernah kutemukan pula orang yang cocok untuk dimintai bantuannya menolong siauw-li. Hanya saudara cilik seorang adalah satu2nya manusia yang paling cocok semoga kau suka menghadiahkan bantuanmu loohu akan merasa sangat berterima kasih.

Siauw Ling menghela napas, ujarnya lirih.

“Aku sudah kau tawan, mati hidupku sudah berada ditanganmu mengapa kau masih memohon secara demikian kepadaku?”

“Tabiat putriku ramah dan welas kasih” ujar si orang tua itu dengan nada serak. “Seandainya ia sadar dan tahu bahwa aku sedang memaksa kau untuk memberikan darahmu kepadanya, ia akan bersikeras tidak mau menerimanya, waktu itu Loohu tak bisa memaksa dirinya lagi dengan kekerasan”

“Jadi maksudmu mohon kepadaku agar aku tidak beri tahu kepadanya kalau kau yang paksa aku berikan darahku kepadanya?”

“Memang demikian adanya Siauw Tahyhiap berjiwa pendekar dan bersemangat jantan, bagaimanapun juga kau sudah pasti mati, mengapa tidak mau berbuat kebaikan untuk menolong putriku?”

Sang Pat yang mendengar ucapan itu diam2 merasa hatinya tercekat, ia berpikir.

“Persoalan besar yang menyangkut mati hidup seseorang mana boleh dirundingkan seenak maunya sendiri?”

Sementara itu Siauw Ling telah menghela napas panjang dan katanya.

“Korbankan diri sendiri untuk menolong orang lain adalah suatu perbuatan mulia namun dalam keadaan dan sitausi seperti ini cayhe masih belum rela mati”

Mendadak terlihat cahaya api berkelebat secara tiba-tiba ruangan dalam kuburan itu jadi terang benderang.

Sang Pat segera melongok kedalam, tampak olehnya diatas mati berlapisan selembar permadani warna merah berbaring seorang gadis muda. batu2 batas disekitar peti sudah digali dan sebagai gantinya empat dinding tergantung kain sutar warna merah, jelas untuk membuat tempat ini sebagai tempat tinggalnya sementa si raja obat bertangan keji telah mengeluarkan banyak tenaga maupun pikiran.

Siauw Ling dan si raja obat bertangan keji duduk disisi peti mati, tetapi jauh jaraknya dari mulut gua. bayangan tubuh memencar dibalik dinding terkena cahaya lampu. Sang Pat cukup memandang kedua orang itu sudah dapat melihat jelas bagaimana gerak gerik mereka berdua.

Terdengar si raja obat bertangan keji setelah menghela napas panjang berkata lagi, “Kematianmu pada saat ini sudah pasti, persoalan bukan menyangkut tentang rela atau tidak loohu berjanji akan membantu dirimu dengan obat2an dan mengurangi rasa penderitaan yang menyerang dirimu, agar kau bisa mati dengan lebih tenang dan tenteram”.

“Aku masih ada persoalan pribadi yang belum kuselesaikan, sekalipun mati aku mati dalam keadaan tidak meram!!!”

“Persoalan pribadi apa? katakan saja secara terus terang, setelah jiwa siauw-li ketolongan loohu pasti akan bantu menyelesaikan masalahmu!”

“Eeeeei….! sekalipun kuucapkan juga percuma, lebih baik tak usah kuutarakan, sekarang kau boleh mulai turun tangan”.

Sang Pat merasakan jantungnya berdebar keras, pikirnya, “Posisi dari si raja obat bertangan keji saat ini terletak disudut jalan mati dalam kuburan itu, sekalipun diam2 aku turun tangan membokongpun belum tentu bisa mencapai sasaran agaknya aku harus masuk sendiri ke dalam kuburan tersebut!!!”

Sang Pat adalah manusia cerdik, banyak akal dan teliti dalam menyelesaikan segala masalah, walaupun hatinya tegang pikiran tidak kacau setelah meninjau keadaan situasi, memperhitungkan tindakan selanjutnya dalam menghadapi gerakan si raja obat bertangan keji, mendadak ia tarik napas panjang2 lambung yang gemuk dan gendut lambar2 menyusut diikuti badannya merendah dan melayang masuk ke dalam ruang kuburan.

Senjata sie-poa emas ditangan kirinya bergeletar, cahaya tajam berkilauan menusuk pandangan dan melindungi seluruh badan, sementara tangan kanannya secepat kilat mencengkeram sang dara yang berbaring diatas peti mati.

Si raja obat bertangan keji mimpipun tidak menyangka ditengah kuburan yang sunyi dan terpencil bisa muncul seorang asing, menanti ia sadar akan bahaya dara diatas peti mati itu sudah terjatuh ketangan Sang Pat, hatinya jadi terkesiap semangat bertempur punah dan lambat2 ia menurunkan kembali telapaknya ke bawah.

“Lepaskan dirinya” katanya lirih. “Badan gadisitu sangat lemah napasnya amat lirih ia tak boleh menjumpai hal2 yang mengejutkan hatinya lagi”

Menyadari perhitungannya tidak meleset, si raja obat bertangan keji benar2 memandang putrinya yang hampir mati bagaikan barang mustika nyali Sang Pat makin bertambah besar ia mendongak tertawa ter-bahak2.

“Jarakku dengan putrimu hanya terpaut beberapa coen, asalkan kau tidak turun tangan secara gegabah cayhe pun tidak bakal melukai putri kesayanganmu”

Semangat jantan si raja obat bertangan keji punah, ia menghela napas panjang.

“Loohu tiada ikatan dendam maupun sakit hati dengan kalian sepasang dari Tiong Chiu, tapikalian bersikap demikian tak tahu adat kepadaku merusak rencanaku untuk menolong jiwa putriku, sebenarnya apa maksud kalian?….

“Haa…. haa…. hal ini harus salahkah mengapa Yok Ong salah mencari orang?”

“Salah mencari orang? salah mencari siapa?” tanya Tok So Yok Ong keharuan.

“Siauw Ling, tahukah kau apa hubungan Siauw Ling dengan kami sepasang pedagang dari Tiong Chiu?” 
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 15"

Post a Comment