Bayangan Berdarah Jilid 09

Mode Malam
JILID 9

Hari itu baru saja cuaca terang tanah, keempat orang itu sudah tiba ditepi telaga Tiang Pek Auw.

Sambil menuding sebuah tembok putih berdiri ditepi telaga seru Siauw Ling sambil tertawa, Itulah rumahku. Aaaai…. sewaktu meninggalkan rumah aku baru berusia dua tiga belas tahun waktu itu badanku kurus dan berpenyakitan kini aku sudah dewasa entah Tia serta Ma masih ingat dengan aku atau tidak ….?

Walaupun wajahnya penuh dihiasi dengan senyum kegirangan di sepasang matanya secara lapat2 dibasahi dengan butiran air mata.

Tak kuasa lagi Siauw Ling lari lebih cepat lagi mendekati rumahnya pintu pagar tertutup rapat suasana sunyi tak kedengaran sedikit suarapun.

Siauw Ling berhenti didepan pintu mendehem lalu berseru.

Siauw Hok Siauw Hok dimana kau?

Ia berteriak beberapa kali tapi tak kedengaran suara jawaban suatu perasaan kurang enak segera menyerang hati pemuda ini membuat air mukanya berubah serius, Kiem Lan Giok Lan serta Tong Sam Kauwpun punya perasaan yang sama enam buah mata bersama2 dialihkan ke atas tubuh Siauw Ling.

Tampak air muka pemuda itu pucat kehijau hijauan dengan termangu mangu ia memandang pintu pagar dengan mendelong badan tetap tak berkutik dan ia tidak berani melanjutkan langkahnya kedepan.

Perlahan lahan Giok Lan berjalan menghampiri kesisi pemuda itu tegurnya halus, Sam ya apakah kau beritahu alamat rumahmu kepada Toa Cung cu?….

Tidak Siauw Ling menggeleng dan menghela napas panjang.

Mendadak kakinya melancarkan sebuah tendangan menghajar pintu pagar tersebut.

Bunga pepohonan dalam halaman bersih dan sangat terawat rapi halaman bersih tidak kelihatan debu dan keadaan tak ada yang patut dicurigakan,

Setelah melihat kejadian ini rasa tegang dalam hatipun mengendor dengan langkah lebar dia segera melangkah keruang belakang.

Suasana dalam ruangan masih tetap seperti sedia kala perabot yang ada persis dengan perabot dahulu hanya satu2nya yang patut dicurigai adalah tidak tampaknya sesosok bayangan manusiapun.

Rasa mangkel dalam dada Siauw Ling susah ditahan lagi mendadak ia menggembor keras, Eeeei…. adakah manusia disini? coba kalian lihat siapa yang telah pulang.

Tak kedengaran suara jawaban, yang terdengar hanya bunyi pantulan suara sendiri.

Setelah melihat keadaan semacam ini bukan saja Siauw Ling merasa keadaan tidak beres sekalipun Kiem Lan Giok Lan serta Tong Sam Kauwpun merasa kejadian ini luar biasa.

Peristiwa terbunuhnya Gak Im Kauw pada lima tahun berselang mendadak berkelebat dalam benaknya hati terasa bergidik wajah kontan berubah pucat pasi.

Setelah berdiri tertegun beberapa saat akhirnya ia melangkah masuh ke dalam ruang baca ayahnya.

Sepasang pintu ruang baca tertutup rapat Siauw Ling terjang masuk ke dalam dengan paksa.

Tampak rak buku teratur sangat rapi diatas meja masih terbentang sejilid kitab kuno ini menandakan bahwa Siauw Thayjien belum lama meninggalkan ruangan ini bahkan kepergiannya sangat gugup hingga bukupun lupa ditutup.

Secarik kertas tertindih dibawah bak ujung kertas berkibar tiada hentinya tertiup angin, Buru-buru Siauw Ling mengejar kesana diambilnya kertas itu dan dibaca isi surat yang tercantum, Sejak Sam te berlalu mendadak Siauw heng menerima laporan kilat yang mengatakan bahwa ada beberapa orang musuh besar yang pernah mengikat permusuhan dengan Siauw heng dulu ada maksud mencelakai orang tuamu demi keselamatan maka Siauw heng telah menerima utusan kilat untuk menyambut kedua orang tuamu masuk keperkampungan Pek Hoa San-tjung.

Bila Sam-te telah membaca surat ini, harap kau cepat-cepat kembali keperkampungan Pek Hoa San-tjung sehingga kalian sanak keluarga bisa cepat berkumpul.

Tertanda: Djen Bok Hong

Sehabis membaca surat itu Siauw Ling berdiri tertegun, setengah harian lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Siauw heng! apa yang tertulis di dalam surat itu? tegur Tong Sam Kauw sambil menghela napas panjang.

Djen Bok Hong tiba dirumahku terlebih dahulu, ia sudah membawa kedua orang tuaku ke dalam perkampungan Pek Hoa San-tjung.

Apa? Toa Tjung-tju telah tiba duluan? seru Kiem Lan sangat terperanjat.

Nah kalian bacalah sendiri ujar Siauw Ling sambil angsurkan surat ini ketangan mereka.

Kiem Lan menerima surat itu bersama Giok Lan serta TOng Sam Kauw membaca berbareng, sehabis membaca mereka bertigapun membungkam,

Suasana dalam kamar baca perubahan jadi sunyi senyap penuh diliputi awan kesedihan entah sudah lewat beberapa lama akhirnya Kiem Lan menghela napas panjang terlebih dahulu.

Samya urusan sudah jadi begini cemaspun tak berguna lebih baik kita pikirkan cara yang tepat.

Sepasang mata Siauw Ling melotot penuh berapi api sembari gertak gigi serunya gemas, Asal orang tuaku kena diganggu barang seujung rambutpun bila tidak kuhabiskan perkampungan Pek Hoa San cung aku bersumpah tidak mau jadi manusia.

Samya, kau tidak usah gelisah, Hibur Giok Lan halus, menurut pendapat budakmu Toa Cungcu pasti tak berani melukai Looya serta Hujien karena tindakan mereka ini tidak berharap agar Sam ya suka bersetia dengan pihak perkampungan Pek Hoa San-cung.

Hmm! tindakan serendah inipun bisa dilakukan mereka masih membicarakan soal persaudaraan segala…. anjing keparat,

Samya jangan marah2 dulu hibur Kiem Lan pula. Mari kita bersama2 pikirkan satu cara yang tepat.

Kecuali kembali keperkampungan Pek Hoa San cung aku rasa tiada pilihan lagi buat kita.

Siauw Ling benar2 putus asa dengan akibat yang dijumpainya saat ini.

Sepasang biji mata TOng Sam Kauw berputar tiba-tiba ujarnya.

Bila ditinjau dari ruangan ini tidak ternoda oleh debu aku duga Siauw Loo pek serta Pek bo belum lama berlalu bila kita melakukan perjalanan cepat mungkin masih bisa hadang perjalanan mereka ditengah jalan, Semangat Siauw Ling segera bangkit kembali, Betul mereka tidak tahu dimana aku tinggal dan akupun belum pernah menceritakan kepada orang perkampungan Pek Hoa San cung dimanakan desa kelahiranku mereka pasti tiba disini dengan menguntit perjalanan kita mau kejar sekarangpun masih belum terlambat.

Samya jangan bertindak gegabah bagaimana kalau dengarkan dulu sepatah dua patah kata budakmu seru Kiem Lan mencegah,,

Kemungkinan besar kita masih bisa cegat dan rebut kembali kedua orang tuaku tidak sampai sepuluh li dari sini.

Samya kau jangan terlalu memandang enteng diri Toa Cungcu.

Sebetulnya Siauw Ling sudah siap untuk berlalu mendengar ucapan dari KiemLan ia jadi tertegun, Kenapa?

Kalau Samya berhasil mengejar Loo ya serta Hujien dan tidak berhasil menolongnya kembali apa yang hendak kau lakukan? Waktu itu masing-masing pihak akan saling bermusuhan dan akibatnya bukankah semakin parah?

Siauw Ling segera sadar kembali ia menghela napas sedih dan tundukkan kepala membungkam

Sebenarnya soal ini tidak terlalu sulit kata TOng Sam Kauw penuh semangat kita bisa turun tangan bersama2 untuk membabat habis semua orang yang mengawal Looya serta Hujien.

Kalau Toa Cungcu yang turun tangan sendiri apa yang hendak nona Sam lalukan?

Kita bantu Siauw Ling bertempur mati2an.

Kalau mereka menggunakan mati hidupnya Looya serta Hujien untuk memaksa kita menyerah apa yang hendak kita lakukan.

Tong Sam Kauw tertegun.

Soal ini…. Soal ini….

Setelah demikian terpaksa kita harus menyerah untuk mendengarkan perintah mereka. Toa Cungcu kagum akan kepandaian silat yang dimiliki Sam Cungcu tapi takut Sam Cungcu menghianati dirinya atau dengan perkataan kasar Samya merupakan paku dalam mata TOa Cungcu paku dalam mata ini kalau tak bisa di cabut maka akan mendatangkan bencana kematian buat diri sendiri.

Samya apa yang dikatakan enci Kiem Lan sedikitpun tidak salah sambung Giok Lan sambil menghela napas. Maksud Toa Cungcu berbuat demikian adalah ingin memaksa Samya cepat-cepat kembali keperkampungan Pek Hoa San Cung ia tidak bakal punya maksud untuk melukai Looya maupun Hujien.

Siauw Ling memandang sekejap wajah Kiem Lan serta Giok Lan kemudian menghembuskan napas panjang.

Sejak kecil budak sekalian dibesarkan dalam perkampungan Pek HOa San cung kata Kiem Lan lirih, sekalipun ada beberapa famili hubunganpun sudah lama putus apalagi siapa yang mau menerima budak karena ini berarti mengundang bencana kematian buat diri sendiri.

Dunia bukan sebesar daun kelor, dimanapun kalian bisa gunakan untuk berteduh dari mara bahaya kalian bisa saja mencari suatu tempat yang terpencil dari keramaian dan hidup disana. Menanti perkampungan Pek Hoa San cung sudah bubar kalian baru munculkan diri kembali.

Bagaimana dengan Samya sendiri? tanya Kiem Lan sambil tertawa sedih.

Aku hendak kembali keperkampungan Pek Hoa San cung untuk menyambangi orang tuaku.

Samya keluar perkampungan dengan membawa serta diri kami sekarang kembali seorang diri tindakan ini akan memancing kecurigaan dari TOa Cungcu kata Giok Lan.

Sekalipun kalian ikut kau masuk kembali kesarang macan sama saja tindakan ini akan menimbulkan kecurigaan DJen Bok Hong aku rasa menghadapi dirinya seorang diri jauh lebih leluasa.

Jika Toa Cungcu menggunakan keselamatan Looya Hujien untuk memaksa Samya jual nyawa bagi perkampungan Pek Hoa Sancung apa yang hendak Samya lakukan?

Sepasang mata Siauw Ling berkilat sebentar kemudian dengan hati sedih ia menunduk.

Walaupun harus mendapat caci maki dari kawan2 Bulim terpaksa akan kulakukan juga.

Dengan langkah lambat Kiem Lan berjalan menghampiri Siauw Ling lalu hiburnya dengan suara halus, Di dalam Bulim ada sebuah pepatah yang mengatakan begini. Kalau ini rejeki pasti bukan bencana kalau bencana tak akan terhindar Toa Cungcu tak bakal membiarkan budak berdua hidup tentram dikolong langit mereka pasti mengirim pengejar untuk membereskan kami lain halnya kalau budak sekalian ikut Samya kembali keperkampungan Pek Hoa San cung dibawah perlindungan Samya mungkin sekali kami berdua masih bisa melanjutkan hidup beberapa tahun lagi….

Kalau Samya pulang keperkampungan seorang diri hal ini tentu akan menambah penjagaan yang lebih ketat dari TOa Cungcu sambung Giok Lan dari samping sebaliknya kalau Samya pulang membawa budak sekalian hal ini malah mengendorkan kewaspadaannya.

Benar ujar Kiem Lan kembali Budak berdua sudah tidak pikirkan keselamatan pribadi Samya tak usah merasa kuatir buat keselamatan kami.

Siauw Ling pejamkan mata berpikir sejenak ia berpaling memandang wajah Tong Sam Kauw.

Nona Tong mempunyai keluarga yang punya nama tersohor dalam Bulim aku rasa Djen Bok Hong tak bakal berani mencari gara2 kerumah kalian bukan? Aku rasa nona tak perlu kembali ke perkampungan Pek Hoa San cung lagi.

Kalau Siauwheng membutuhkan bantuanku….

Ooooooouw tidak2 lebih baik nona cepat-cepat kembali ke Su Tzuan tukas Siauw Ling cepat-cepat.

Baiklah Tong Sam Kauw mengangguk setelah pulang menjumpai nenek aku tentu akan mohon bantuan dia orang tua untuk turun tangan membantu dirimu,

Siauw Ling segera tertawa getir.

Aku rasa nenekmu pun susah untuk menolong aku….

Ia merandek sejenak lalu tambahnya….

Harap kalian bertiga suka menunggu sebentar diruang tamu aku mau memeriksa sebentar kamar ibuku….

Samya silahkan….

Dengan langkah lambat2 Siauw Ling berjalan menuju kamar ibunya tampak sprai kasur teratur sangat rapi seorang dara berbaju hijau duduk terpekur diatas ranjang sepasang matanya terpejam rapat2 dan badannya tak berkutik,,

Dalam sekali pandang secara lapat2 Siauw Ling mengenali dara ini sebagai dayang yang melayani ibunya tidak disangka lima tahun berpisah kini ia sudah menginjak dewasa.

Dengan cepat diperiksa hembusan napas dilubang hidung sesudah diketahui hanya jalan darahnya yang tertotok buru-buru dibebaskannya totokan jalan darah tersebut.

Gadis berbaju hijau itu menghembuskan napas panjang sepasang mata terbentang dan memperhatikan Siauw Ling terpesona.

Siapa kau serunya penuh rasa kaget dan takut.

Aku adalah Siauw Ling.

Aku kenal dengan Sauwya kami badannya kurus dan lemah tidak seperti badanmu kekar dan berotot.

Saat ini Siauw Ling sedang merasa gelisah ia tidak ingin banyak berdebat dengan dayangnya lagi segera ujarnya lebih lanjut, Aku adalah Siauw Ling apakah Looya serta Hujien kena diculik orang?

Walaupun dalam hati dara berbaju hijau itu merasa tidak percaya tapi berhubung hatinya sangat takut dengan jujur jawabnya juga.

Seorang perempuan berusia setengah baya menculik pergi Hujien sedang dua lelaki kekar menyeret Looya.

Bagus sekali kiranya mereka main paksa teriak Siauw Ling secara mendadak sambil mendepakkan kakinya ke atas tanah.

Kena dibentak dara berbaju hijau itu ketakutan setengah mati sepasang lututnya terasa jadi lemas dan tak kuasa lagi pantatnya mencium tanah keras2.

Buru-buru Siauw Ling bimbing dara itu bangun katanya dengan nada menghibur;

Jangan takut baik2 jaga dirumah sebelum Looya serta Hujien kembali untuk sementara kau yang mengurusi rumah ini.,

Habis berkata tidak menunggu jawaban dari dayang itu lagi ia segera melangkah keluar dari kamar dan berjalan keruang tamu….

Apakah Hujien meninggalkan sesuatu? tanya Kiem Lan setelah melihat munculnya pemuda itu.

Siauw Ling menggelang….

Mari kita segera berangkat….

Kiem Lan serta Giok Lan tahu hati pemuda ini tentu cemas seperti kebakaran jenggot sehingga ingin sekali punya sayap sekarang juga terbang kembali keperkampungan Pek Hoa San cung.

Air telaga Tiang Pek Auw masih tetap seperti sedia kala gelaga yang tumbuh ditepi telaga bergoyang tiada hentinya terhembus angin, Siauw Ling terbayang kembali akan kematian Gak Im Kauw dalam sumur kering lima tahun berselang kemudian secara bagaimana bersama2 Gak Siauw Cha secara diam2 meninggalkan rumah.

Tidak disangka lima tahun kemudian keadaan sudah berubah seratus delapan puluh derajat.

Ia mendongak dan menghela napas panjang lama sekali baru gumamnya seorang diri, Sekarang aku sudah paham sungguh keji cara mereka berpikir,

Melihat cara pemuda itu bersikap Kiem Lan serta Giok Lan saling bertukar pandangan sedang hati mereka tergetar keras.

Jangan sampai membuat ia gelisah setengah mati pikir mereka hampir berbareng.

Walaupun kedua orang dayang itu merasa kuatir tapi mereka tidak berani bertanya.

Apa yang telah kau pahami? tanya Tong Sam Kauw.

Mereka minta aku membawa banyak barang bukti melakukan perjalanan disamping secara diam2 menyiarkan kabar berita keseluruh dunia persilatan yang mengatakan Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San Cung dengan membawa jago hendak menyerang keselatan berita ini mengakibatkan para jago bersama2 turun tangan mencegat perjalananku ditengah jalan setelah tanda bukti pengikat permusuhan itu tertera didepan mata maka sekalipun aku punya mulut juga tak bisa memungkir tindakannya ini disamping memperkenalkan wajahku dihadapan para enghiong dari seluruh kolong langit merekapun membiarkan agar aku marah dan melukai jago-jago itu sehingga dendam baru terikat ditanganku setelah musuh tersebar dimana2 maka aku tak bisa tancapkan kaki lagi dalam dunia kangouw dalam keadaan seperti ini satu2nya jalan yang bisa kutempuh hanyalah menggabungkan diri dengan pihak perkampungan Pek Hoa San cung.

Siapa sangka dugaan mereka meleset karena aku rela menerima penghinaan daripada melukai orang orang mereka dalam keadaan rencana gagal total timbullah maksud mereka untuk menculik pergi orang tuaku agar bisa memaksa aku balik lagi keperkampungan Pek Hoa San cung dan menjual nyawa buat mereka.

Selamanya Toa Cungcu menyusun rencana paling cermat kata Kiem Lan memberi pendapat. Sekalipun sepanjang jalan Samya melakukan pembunuhan secara besar2an aku rasa Looya serta Hujienpun tetap akan mereka culik balik keperkampungan Pek Hoa Sam cung….

Pada mulanya Siauw Ling agak tertegun tapi segera ia mengangguk.

Sedikitpun tidak salah carakum berpikir memang rada mulia.

Mendadak dia percepat larinya melanjutkan perjalanan kedepan.

Karena hatinya amat cemas perjalanan kali ini dilakukan dengan kecepatan penuh. Kiem Lan, Giok Lan maupun TOng Sam Kauw tak bisa berbuat apa2 terpaksa mereka hanya mengiringi dari belakang.

Hari itu keempat jago ini telah tiba dikeresidenan Auw Pak, Tong Sam Kauw segera mohon diri untuk kembali ke Su Tzuan sedangkan Siauw Ling dengan membawa Kiem Lan serta Giok Lan kembali ke dalam perkampungan Pek Hoa Sancung.

Perkampungan Pek Hoa Sancung yang pada biasanya sunyi senyap tak kelihatan kesibukan apapun ini kali begitu ramai dimana2 penuh dengan hiasan dan bayangan manusiapun hilir mudik dengan ramainya.

Dengan menahan rasa sedih serta dongkol dalam hatinya Siauw Ling memperlambat langkahnya memasuki perkampungan setelah menjumpai berbagai peristiwa selama perjalanan ia berhasil mempelajari bagaimana cara menahan diri.

Baru saja mereka mendekati pintu perkampungan dari tempat jauh tampaklah Cioe Cau Liong dengan memakai pakaian perlente serta kuda jempolan menyongsong dari dalam kampung.

Ketika melihat munculnya Siauw Ling disana Cioe Cau Liong buru-buru meloncat turun dari kudanya dan lari menyongsong.

Aaaakh…. Sam te sungguh tepat sekali saat kembalimu ke dalam perkampungan katanya sambil tertawa beberapa hari ini perkampungan Pek Hoa San cung lagi mencapai jaya2nya banyak jago lihay dari kalangan Bulim yang berdatangan.

Kalau begitu kedatangan Siauwte sangat kebetulan sekali? seru Siauw Ling hambar.

Siauw heng sama sekali tidak menyangka kalau sam te bisa sedemikian cepatnya kembali ke dalam perkampungan barusan saja kami menerima kabar ini melalui merpati yang mengatakan samte telah kembali ke dalam perkampungan. Eeei…. siapa tahu belum saja Siauw heng keluar kampung untuk menyambut samte telah tiba.

Sembari berkata sinar matanya menyapu sekejap wajah Kiem Lan serta Giok Lan berdua tampak olehnya wajah kedua orang ini kucal dan keletihan agaknya selama ini mereka melakukan perjalanan cepat.

Siauw Ling mendehem setelah ragu2 beberapa kali ujarnya juga….

Entah apakah ayah serta ibuku telah tiba disini?

Oooow apakah kedua orang tuamu pun sudah tiba disini? tanya Tjioe Tjau Liong dengan wajah melengak….

Dengan ketajaman mata Siauw Ling ia dapat melihat sikap ini sengaja diperlihatkan kepadanya kepadanya hal mana menambah rasa gusar yang telah berkobar di dalam dadanya.

Tak tertahan lagi ia tertawa dingin.

Bukankah Jie Cungcu ikut di dalam perundingan rahasia ini apakah kau tidak tahu mengenai persoalan ini?

Kembali Cioe Cau Liong teretegun.

Samte kalau bicara perlahan-lahan jangan keburu napsu Siauw heng betul2 tidak tahu katanya sambil tertawa.

Dari dalam sakunya Siauw Ling mengambil keluar surat yang ditulis oleh Djen Bok Hong sembari diangsurkan kedepan ujarnya,

Kalau Djie Tjung-tju benar tidak tahu. Nah ambillah surat ini dan periksa sendiri.

Mungkin TOako berani demikian karena mengandung maksud yang mendalam ujar Tjioe Tjau Liong setelah membaca isi surat itu, kemungkinan sekali orang2 Bulim telah menimpahkan segala kemarahannya ke atas tubuh kedua orang tuamu.

Hmmm, sekarang rasanya Djie Tjung-tju sudah paham bukan kata Siauw Ling sambil menarik kembali surat itu.

Sudah paham, aku segera menemani kau pergi menjumpai toako, aku rasa ia tentu ada pertanggung jawabnya.

Aku hanya bertanya kepada Djie Tjungtju apakah kedua orang tuaku sudah tiba disini atau belum.

Tjioe Tjau Liong yang mendengar pemuda ini sedikit2 memanggil dirinya dengan sebutan Djie Tjung-tju dan walaupun nadanya tenang tapi susah menutupi pergolakan hatinya serta hawa gusar yang bergelora di dalam dada pemuda itu

Segera ia tahu kalau urusan ini sangat penting sudah tentu saja Tjioe Tjau Liong tidak berani mengambil keputusan, dengan wajah penuh senyuman katanya.

Siauw heng benar2 tidak tahu tentang soal ini.

Apakah surat ini palsu? tukas Siauw Ling cepat.

Menurut apa yang Siauw heng lihat surat ini memang betul2 tulisan Toako dan pasti bukan barang palsu.

Ia merandek sejenak lalu sambungnya.

Sewaktu Sam-te berjumpa dengan Toako nanti aku rasa Toako bisa memberi penjelasan yang lebih terang lagi kepadamu.

Baiklah mari kita pergi menjumpai Toako kemudian baru bicarakan lagi urusan ini.

Perlahan lahan Cioe Cau Liong mengalihkan sinar matanya ke atas tubuh Kiem Lan serta Giok Lan katanya dingin.

Kalian berdua ayo kembali kepesanggrahan Lan Hoa Cing Si.

Kedua orang dayang itu mengiakan tapi badannya tetap berdiri tak berkutik dari tempat semula.

Melihat perintahnya tidak digubris Cioe Cau Liong berkelebat lewat dari sisi Siauw Ling mendekati diri Kiem Lan sambungnya kembali, Hey kalian sudah dengar belum ayoh kembali kepesanggrahan Lan Hoa Cing Si.

Terima kasih atas perhatianmu, Djie Tjung-tju tak usah repot memberi perintah kepada mereka mendadak Siauw Ling menukas dengan nada dingin.

Sam-te apa yang kau ucapkan? seru Tjioe Tjau Liong sambil putar badan.

Kiem Lan serta Giok Lan oleh TOa Tjungtju sudah dihadiahkan buat Siauw-te, aku tidak berani merepotkan Djie Tjungtju untuk mengurusi mereka lagi!

Air muka Tjioe Tjau Liong kontan berubah hebat, tapi sebentar kemudian ia sudah tertawa hambar.

“Sam-te! tahukah kau bagaimana peraturan yang ada dalam perkampungan Pek Hoa San Tjung ini?” tanyannya

“Tidak tahu.”

Sam-te belum lama menggabungkan diri dengan perkampungan Pek Hoa San Tjung, tidak aneh kalau kau tidak tahu dalam perkampungan kita ada tercantum peraturan yang pertama berbunyi: Setiap anggota perkampungan dilarang membangkan perintah dari tingkat yang lebih atas.

Siauw Ling segera mendongak tertawa terbahak bahak sehabis mendengar ucapan itu.

“Haaa haaaaa haaaaaa, Djie Tjungtju aku ingin bertanya kepadamu apa kedudukanku dalam perkampungan Pek Hoa San Tjung ini?”

“Orang Kangouw siapa lagi yang tidak kenal kau Siauw Ling sebagai Sam Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San Tjung?” ujar Tjioe Tjau Liong sambil tertawa.

“Jadi kalau begitu di dalam perkampungan Pek Hoa San Tjung ini hanya kedudukan Toa Tjungtju saja yang lebih tinggi dari kedudukanmu?”

“Tidak salah!”

“Entah bagaimana pandangan Djie Tjungtju terhadap aku Siauw Ling?”

“Saudara angkat hubungan erat bagaikan saudara kandung sendiri.”

“Bagus, bagus sekali jadi kalau begitu ayah ibu Siauw Ling sama pula dengan ayah ibumu?”

“Hal ini sudah tentu” jawab Tjioe Tjau Liong kelihatan tertegun.

“Tapi kalian tidak menghormati kaum yang lebih tinggi, kalian menangkap kedua orang tuaku sebagai barang jaminan.”

Sembari berkata dari sepasang mata Siauw Ling memancarkan cahayanya penuh napsu membunuh yang melototi wajah Tjioe Tjau Liong tanpa berkedip

Pada saat ini dalam hati kecil Cioe Cau Liong sudah timbul rasa jeri terhadap pemuda she Siauw ini ia segera tertawa hambar.

Bagaimana terjadinya persoalan ini Siauw heng benar2 tidak tahu selamanya Toako bertindak dan berbuat dengan disertai rencana yang masak aku rasa ia berani berbuat demikian tentu disertai pula dengan maksud tertentu.

Oooouw…. kalau begitu walaupun kedudukan Jie Cungcu dalam perkampungan sangat tinggi hal mana tidak lebih hanya nama kosong belaka.

Beberapa patah kata ini bagaikan sebilah golok yang menghujam ke dalam ulu hati Cioe Cau Liong memaksa hawa gusarpun ikut menerjang naik ke atas benak ia tertawa dingin.

Kakak beradik ada tingkatan Samte aku harap kau sedikit berhati2 kalau bicara.

Orang2 perkampungan Pek Hoa San Cung kalau memandang aku orang she Siauw sebagai sahabat karib ia tak akan menawan kedua orang tuaku sebagai barang jaminan.

Dalam hati Cioe Cau Liong menyadari bila ia banyak bicara maka urusan semakin berabe buru-buru ia alihkan bahan pembicaraan.

Ayoh jalan: aku hantar kau menemui Toako.

Tanpa menunggu jawaban lagi dengan langkah lebar ia berjalan kedepan.

Siauw Lingpun tidak banyak bicara, ia menguntit dari belakang Tjioe Tjau Liong dengan langkah cepat pula.

Kiem Lan serta Giok Lan saling bertukar pandangan sekejap lain secara diam2 mengikuti pula dari belakang Siauw Ling.

Setelah melewati beberapa buah halaman luas sampailah mereka didepan loteng Wang Hoa Loo

Pintu diloteng sebelah bawah tertutup rapat diatas tiang tergantung sebuah papan nama yang berukiran kata kata: Tidak menerima tetamu.

Sesudah melihat papan itu Tjioe Tjau Liong segera berpaling kepada Siauw Ling, katanya.

Saat ini Toako sedang beristirahat, ia tidak terima tamu, bagaimana kalau nanti kita datang lagi?

Hmmm! setelah menyambut diri sebagai saudara, mengapa harus memandang kita sebagai tamu?

Tanpa sungkan2 lagi Siauw Ling menggerakkan telapak kirinya menghantam pintu tersebut keras.

Hey, cepat buka pintu: teriaknya keras.

Hantaman yang disertai hawa pukulan dahsyat ini menggetarkan pintu loteng sehingga berbunyi tiada hentinya.

Air muka Tjioe Tjau Liong berubah hebat, buru-buru badannya menyingkir kesamping.

Sepasang pintu yang tertutup rapat rapat, mendadak terbuka dan muncullah seorang lelaki bersenjata golok berdiri didepan pintu dengan sikap jumawa.

Setelah memandang sekejap wajah Tjioe Tjau Liong serta Siauw Ling bergantian, tegurnya dingin.

“Siapa diantara kalian yang menghantam pintu keras keras?”

“Aku, Sam Tjung-tju Siauw Ling.”

“Apa Sam Tjung-tju tidak bisa membaca papan nama yang bergantung didepan pintu?“

“Kalau sudah baca mau apa?”

“Dalam keadaan dan saat seperti ini Toa tjung-tju tidak terima tamu, setelah Sam Tjung-tju mengetahui hal ini dan menghantam pintu pula, bukankah tindakanmu ini merupakan suatu kesengajaan?”

“Anjing keparat! sungguh besar nyalimu Bangsat….” maki Siauw Ling penuh kegusaran.

“Perintah Toa Cungcu berat bagaikan gunung sekalipun Jie Cungcu sendiri juga harus menurut sambung lelaki itu dingin.”

Mendadak Siauw Ling mengayunkan tangan kanannya memerseni sebuah tempelengan keras ke atas pipi lelaki tersebut.

“Anjing keparat! anak jadah! kau berani bersikap kurang ajar terhadap diriku?”

Pertama karena gerakan Siauw Ling sangat cepat kedua lelaki itu sama sekali tidak membuat persiapan maka tempelengan ini bukan saja bersarang dengan telak bahkan berat sekali membuat lelaki itu kehilangan dua biji giginya dan darah segar mengucur membasahi seluruh badan.

Melihat kejadian itu Cioe Cau Liong kerutkan dahi bibir bergerak tapi sebentar kemudian ia sudah batalkan kembali maksudnya….

Lelaki berbaju singsat itu berdiri tertegun kemudian ujarnya….

Perintah dari Toa Cungcu hamba tidak berani membangkang sekalipun semisalnya hamba memberi ijin kepada Jie Cungcu serta Sam Cungcu untuk masuk melalui pintu inipun penjaga yang ada dikedua belas tingkat lainnya tak akan melepaskan kalian berdua.

“Barang siapa yang bernyali berani menghadang perjalananku ini berarti ia sudah bosan hidup! ayoh cepat menyingkir!” teriak Siauw Ling dingin.

Dengan langkah lebar segera menerjang ke dalam ruangan loteng.

Lelaki kekar itu buru-buru mundur dua langkah goloknya dengan cepat dicabut keluar.

“Perintah Toa Cungcu sangat keras, bila Jie Cungcu serta Sam Cungcu ada maksud masuk dengan andalkan kekerasan, maaf terpaksa hamba harus berbuat dosa dengan kalian berdua.”

Sinar mata Siauw Ling berkilat penuh napsu membunuh sembari berpaling memandang sekejap wajah Tjioe Tjau Liong ujarnya, “Orang ini tidak menghormati kita yang berkedudukan lebih tinggi patutkah ia dibunuh?”

Kalau dibicarakan menurut peraturan perkampungan kita ia harus dibunuh tapi…. ia sedang menjalankan perintah dari Toako.

Kalau patut dibunuh orang ini tak boleh diampuni lagi tukas Siauw Ling.

Tangan kirinya dikebut keluar menghantam lengan kanan lelaki tersebut yang mencekal golok sedang tangan kanannya laksana kilat mengirim sebuah pukulan.

Tangan kirinya ia menggunakan ilmu menotok jalan darah Cap Jie Lan Hua Hu Hiat So sedang tangan kanannya mengeluarkan ilmu telapak berantai Lian Huan San Tiam Ciang Hoat.

Dua macam ilmu silat yang maha sakti digabungkan menjadi satu kedahsyatannya susah dibayangkan.

Dengan ngotot silelaki kesar itu menerima empat lima jurus serangan pemuda itu akhirnya tak kuasa lagi jalan darah Ci Ti Hiat pada iga kanannya kena disodok oleh Siauw Ling sehingga menjadi kaku dan golokpun terjatuh ke atas tanah.

Sekali tendang Siauw Ling menyepak badan lelaki itu jatuh tersungkur ke atas tanah ujarnya dingin.

Mengingat kesalahan ini baru kau lakukan untuk pertama kalinya aku hanya memberi sedikit pelajaran saja kepadamu kalau dikemudian hari kau masih tidak menyesali perbuatanmu ini. Hmmm! hati2 dengan selembar nyawa anjingmu.

Dengan langkah lebar ia melanjutkan terjangannya keloteng tingkat kedua.

Cioe Cau Liong yeng mengikuti dari belakang membungkam diri selama ini karena ia tahu perasaan Siauw Ling pada saat ini sedang bergolak wajahnya penuh hawa napsu membunuh dan hatinya sedih kalau ia turun tangan mencegah maka jadinya akan lebih hebat lagi. 

Dasar wataknya memang licik dan banyak akal selamanya ia tidak ingin berbuat sesuatu hal yang tidak berpegangan kerana itu sambil membungkam ia mengikuti dari belakang Siauw Ling naik keloteng tingkat dua.

Kiem Lan serta Giok Lan saling bertukar pandangan sekejab bisiknya lirih, “Bagaimana dengan kita? mau ikut Sam-ya naik ke atas.”

“Benar. kita ikut naik,” sahut Giok Lan dengan wajah yang sudah mantap. “Kalau Sam-ya mengalami celaka ditangan Toa Cungcu kau anggap kita bisa hidup dengan merdeka? Kalau Sam-ya selamat ia pasti tak akan membiarkan Toa Cungcu menjatuhi hukuman mati kepada kita….”

“Ehmm…. akupun berpikir demikian.”

Tanpa buang tempo lagi kedua orang dayang inipun ikut lari naik ke atas loteng tingkat kedua.

Diloteng tingkat kedua berdirilah dua orang lelaki berpakaian singsat warna hitam menghadang, perjalanan beberapa orang itu orang yang ada disebelah kiri mencekal senjata golok sedang orang yang ada disebelah kanan mencekal sepasang Pak Koan Pit.

Jelas kedua orang ini sudah bersiap sedia dengan senjatanya sewaktu mendengar suara ribut2 diloteng terbawah.

Kalian kenal dengan aku? tanya Siauw Ling dengan nada dingin sepasang matanya melotot gusar.

Petugas diatas loteng Wang Hoa Loo hanya taat dengan perintah Toa Cungcu terhadap orang lain sama sekali tidak kenal, jawab silelaki bersenjata golok dengan suara yang wajar.

Kurangajar, kembali Siauw Ling berteriak marah. Orang2 dalam perkampungan Pek Hoa San cung memanggil aku dengan sebutan Sam Cungcu kalian anggap sebutan ini hanya sebutan kosong belaka.

Loteng Wang Hoa Loo adalah tempat tinggal Toa Cungcu kata silelaki yang bersenjatakan Pan Koan Pit. Sudah sewajarnya tempat ini diatur penjagaan yang keras kecuali memperoleh panggilan dari Toa Cungcu siapapun dilarang naik ke atas loteng.

“Kalau aku bersikeras ingin naik?”

“Walaupun kami kenal dengan cungcu berdua tapi senjata tak bermata sudah tentu tak kenal siapa yang bernama Sam Cungcu jawab lelaki yang ada disebelah kiri.”

“Anjing keparat, kau harus rasakan kelihayanku.”

Dengan penuh kegusaran Siauw Ling menggerakkan goloknya pukulan ilmu menotok Siauw Loo Sin Ci sudah bersarang dalam perutnya.

Tak tertahan lagi orang itu muntah darah dan jatuh terjengkang ke atas tanah,

Sinar mata Siauw Ling segera dialihkan ke atas wajah lelaki bersenjata Pan Koan Pit itu.

“Kalau kau masih ingin nyawamu? ayoh cepat menyingkir,” bentaknya keras.

Lelaki ini sama sekali tidak menyangka hanya dalam sekali serangan saja Siauw Ling berhasil merubuhkan kawannya ia jadi tertegun untuk beberapa saat.

Menanti Siauw Ling menegur ia baru sadar kembali sepasang pit segera digerakkan mengancam dua buah jalan darah diatas tubuh Siauw Ling. Melihat dirinya diserang pemuda kita tertawa dingan.

“Hmm jadi kau ingin cari mati? baik jangan salahkan aku bertindak keji terhadap kalian.”

Badannya menyingkir kesamping meloloskan diri dari datangnya serangan sepasang pit ini dengan cepat badan mendesak lebih kedepan tangan kanan mengirim sebuah babatan dahsyat ke arah dada lawan.

Serangan ini memaksa lelaki itu harus menarik kembali sepasang pitnya tapi belum sempat ia melakukan sesuatu Siauw Ling sudah memutar tangan kirinya mencengkeram lengan kiri lelaki tersebut.

Pleeetak! tidak ampun lagi lengan kiri lelaki tadi kena dihajar putus jadi dua bagian.

Hmm untuk sementara hanya kupatahkan sebuah lengan kirimu tapi kalau lain kali berani kurang ajar lagi jangan harap kau bisa hidup,….

Sekali sepak badan lelaki itu kena terhajar telak hingga menggelinding ke atas tanah.

Tanpa perduli korbannya lagi dengan langkah lebar Siauw Ling melanjutkan perjalanannya naik keloteng tingkat ketiga.

Setelah lengan kirinya kena dipatahkan tadi lelaki bersenjata Pan Koan Pit itu kesakitan luar biasa diam2 ia kerahkan semua hawa murni yang ada untuk melawan rasa sakit tersebut siapa sangka kena ditendang jalan darahnya oleh pemuda itu badannya seketika menggeletak diatas tanah sekalipun melihat Siauw Ling naik keloteng tingkat ketiga itu tak berhasil mencegah.

Sebaliknya Cioe Cau Liong yang melihat tindak tanduk Siauw Ling yang gila dimana berturut2 melukai penjaga dua tingkat dalam hati merasa sangat terperanjat.

Teringat olehnya dari ketiga belas tingkat penjaga loteng Wang Hoa Loo ini setingkat lebih dahsyat dari tingkat yang lain maka pertarungan macam Siauw Ling ini makin lama makin seru ditambah pula para penjaga loteng ini merupakan jago-jago pilihan dari perkampungan Pek Hoa San cung bila Djen Bok Hong melihat anak buahnya dihancurkan ia pasti tak akan merasa puas.

“Kemungkinan sekali diantara saudara sendiri akan segera terjadi suatu pertempuran yang mengerikan.”

Selagi ia berpikir mereka telah tiba diloteng tingkat ketiga.

Sejak loteng Wang Hoa Loo ini dikacau oleh si pendekar pincang Ciang Toa Hay beserta kedua orang muridnya beberapa bulan berselang dimana banyak penjaga yang kena dilukai, Djen BOk Hong telah mengatur penjagaan disini lebih teliti lagi.

Saat ini sipenjaga loteng tingkat ketiga adalah seorang kakek tua berusia kurang lebih lima puluh tahunan ditangan kirinya mencekal sebuah tameng besi sedang tangan kanannya mencekal sebilah golok pendek wajahnya hijau membesi dan berdiri dengan sikap angker.

Sewaktu ia melihat munculnya Cioe Cau Liong serta Siauw Ling mulut tetap membungkam sikapnya amat dingin.

“Eeeeii kau kenal siapa aku?” tegur Siauw Ling sambil berjalan mendekati orang itu.

Tanpa menoleh atau memandang wajah Siauw Ling kagi si kakek tua itu menjawab dengan suaranya yang ketus, “Kau adalah Sam Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Setelah mengetahui kedudukanku mengapa kau tidak hunjuk hormat kepadaku?”

“Orang yang ada diloteng Wang Hoa Loo kecuali berjumpa dengan Djen Bok Hong kepada siapapun tidak pernah memberi hormat.”

“Hmm sungguh besar bacotmu….”

Ia merandek sebentar lalu bentaknya keras, “Ayoh menyingkir”

“Hee heee heee bawa kemari.”

“Apanya yang bawa kemarii?”

“Leng pay tanda perintah dari Toa Tjungtju.”

“Aku hendak masuk dengan gunakan kedudukan San Tjung-tju ku, tidak usah menggunakan Leng pay lagi.”

“Kalau Sam Tjung-tju suka mendengarkan nasehat baik dari cayhe, lebih baik untuk sementara waktu turun dari loteng ini.”

“Kalau aku bersikeras ingin naik?”

“Terpaksa kita harus berduel, kalau bukan kau yang mati adalah aku yang musnah” jawab si kakek itu sambil membenturkan tameng besi ketangan kirinya dengan golok ditangan kanannya.

“Bagus, naah berhati hatilah.”

Ditengah suara bentakan keras sebuat babatan dahsyat telah meluncur kedepan.

Si kakek tua itu segera mendorong tameng besi yang ada ditangan kirinya kedepan menerima datangnya serangan dari Siauw Ling ini sedangkan golok pendek ditangan kanannya dengan jurus Tan Hong Liauw Im atau Hong merah menyekop awan menggulung keluar.

Tameng besi adalah sebuah benda yang licin lagi mengkilap ketika telapak Siauw Ling menghantam diatas tameng besi itu kontan tangannya kena disingkirkan kepinggir.

Siauw Ling segera menggerakkan badan kesamping meloloskan diri dari babatan lawan kakinya diangkat melancarkan sebuah tendangan menghajar lambung si kakek itu.

Ternyata kakek tua ini tidak lemah, dia tekan pergelangan kirinya dibawah tameng besinya mengunci tubuh bagian bawah, sedangkan golok pendek ditangan kanannya bagaikan kilat membabat kaki kanan Siauw Ling.

Ketika pemuda she Siauw melihat penjagaan tubuh dari si kakek tua ini sangat ketat dengan cepat dia menarik kembali kakinya yang sedang melancarkan tendangan.

Mengambil kesempatan yang baik ini si kakek mendesak lebih kedepan tameng besi digunakan sebagai penjagaan golok pendek mengambil peranan penyerang serangan2 yang dilancarkan ternyata luar biasa hebatnya.

Kena diserang dengan begitu gencar Siauw Ling kena didesak sehingga berturut2 mundur lima langkah ke belakang.

“Samya silahkan menggunakan senjata” bisik Kiem Lan lirih.

Melihat Kiem Lan membantu pemuda itu Cioe Cau Liong dengan gusar segera memaki, Budak anjing jangan banyak bicara,

Serangan Siauw Ling tiba-tiba berubah ia balas melancarkan serangan2 gencar.

Angin menderu2 bayangan telapak menyilaukan mata dalam sekejap mata empat jurus sudah berlalu dengan cepatnya memaksa kakek itu harus banyak bertahan.

Walaupun si kakek tua itu kena dipaksa mengubah posisi dari menyerang jadi bertahan tetapi pertahanan badan bagian bawahnya masih kuat sedikitpun tiada lubang2 kelemahan.

Pertarungan kembali berlangsung puluhan jurus banyaknya tanpa berhasil menentukan siapa menang siapa kalah.

Melihat situasi demikian mendesak Giok Lan segera mencabut keluar pedangnya yang tersoren dipunggung.

“Sam-ya terima pedangnya” teriaknya, “Jelas kedua orang ini sudah bulatkan tekad untuk menyertai sang pemuda kendati Cioe Cau Liong ada disisinya merekapun tidak mau tahu.”

Melihat tindakan kedua budak itu meledaklah hawa amarah cioe Cau Liong tapi belum sempat ia menegur tiba-tiba Siauw Ling sudah membentak keras, Lepas tangan.

Braaaak! sebuah hantaman dengan telak bersarang pada pergelangan kanan si kakek tua itu golok pendeknya tak kuasa lagi terlepas dan jatuh ketanah,

Setelah berhasil mengenai sasarannya Siauw Ling tidak membiarkan orang tua itu melarikan diri lagi menggunakan kesempatan tersebut kaki kanannya menendang pergelangan kiri si kakek membuat tameng besi terlepas pula dari genggaman sedang kelima jari tangan kirinya segera mencengkeram pundak kiri orang itu kencang2.

“Kedudukanmu rendah, berani menghina atasan tahu apa kau hukuman terhadap dosa macam ini!” bentaknya dingin.

Si kakek tua itu memejamkan matanya rapat2 ia tidak mau gubris dan bungkam dalam seribu bahasa.

Siauw Ling yang melihat kekukuhan si orang tua ini hatinya segera rada bergerak pikirnya, Mengapa orang ini bersikap begitu setia kepada Djen Bok Hong bahkan memandang mati bagai pulang kerumah? dibalik kesemuanya ini pasti tersembunyi hal2 yang sangat rahasia aku harus menyelidikinya sampai terang.

Karena berpikir demikian iapun membentak dingin, “Kau sudah tidak ingin jiwamu lagi?”

“Samte jangan bunuh orang seru Cioe Cau Liong dari samping dengan hati cemas.”

Pada dasarnya Siauw Ling memang tidak bermaksud membinasakan si kakek tua ini meminjam kesempatan ini mengikuti aliran sungai mendorong perahu ia tarik kembali telapak tangannya.

“Karena ada perintah dari Jie Cungcu ku ampuni jiwamu satu kali ini.”

Pada saat itulah dari atas loteng berkumandang datang suara gelak tertawa yang sangat menyeramkan,

“Haaaa…. haa tingkatan ada urutannya dalam keadaan gusar Samte masih suka mendengar diantara kita sebetulnya masih ada….”

Siauw Ling segera mendongak tampak badan Djen BOk Hong yang tinggi besar tapi bongkok itu berdiri dimulut loteng tingkat keempat wajahnya penuh senyuman dan saat ini sedang memandangi beberapa orang itu dengan ramah,

“Menghunjuk hormat buat Toako” buru-buru Cioe Cau Liong menjura dengan penuh rasa hormat.

“Jie te tak perlu banyak adat.”

Agaknya orang ini benar2 mempunyai pengaruh yang amat besar untuk menindas kewibawaan seseorang walaupun pada saat ini Kiem Lan serta Giok Lan ada maksud mengikuti jejak Siauw Ling tapi setelah menjumpai diri Djen BOk Hong mereka jatuh ketakutan sehingga badannya gemetar keras.

Tak kuasa lagi kedua orang dayang ini jatuhkan diri berlutut.

“Budak sekalian mengunjuk hormat buat Toa Cungcu.”

Djen Bok Hong tertawa hambar.

“Kalian berdua telah menemani Sam Cungcu melakukan perjalanan jauh kamu terhitung punya jasa yang besar ayoh cepat bangun.”

Agaknya Kiem Lan dan Giok Lan sama sekali tidak menyangka Djen Bok Hong bisa bersikap demikian ramah dengan mereka setelah tertegun beberapa saat lamanya mereka baru bangun berdiri.

“Terima kasih atas kemurahan hati Toa Cungcu.”

Djen Bok Hong tidak menggubris mereka lagi sinar matanya dialihkan diatas wajah Siauw Ling.

Karena siauw-te banyak mengikat tali permusuhan dengan para jago dikolong langit katanya halus mau tak mau aku harus memperketat penjagaan disekeliling loteng Wang Hoa Loo ini anak buahku tidak tahu dan ternyata menghadang pula perjalanan Jie te serta Sam te, ini berarti mereka tidak tahu diri dan ingin mencari penyakit buat diri sendiri aku tak bisa menyalahkan Samte turun tangan memberi pelajaran kepada mereka.

“Sungguh aneh sekali sikap Toa Cungcu kali ini” pikir Cioe Cau Liong dalam hatinya.

Setelah selesai mendengar ucapan dari Toakonya ini loteng Wang Hoa Loo sudah terkenal sebagai daerah terlarang yang tidak memperkenankan siapapun masuk keluar semaunya, orang yang sudah tinggal dalam perkampungan Pek Hoa San cung tentu mengetahui akan hal ini. Mengapa saat ini ia malah bicara dengan begitu sungkan?

Waktu itu Djen Bok Hong telah melanjutkan kembali kata2nya.

“Samte baru saja pulang dari tempat kejauhan Siauw hengpun sudah seharusnya menanyakan kisa perjalananmu. Nah mari naik ke atas loteng kita tiga bersaudara minum beberapa cawan arak sambil merundingkan suatu hal dengan kalian berdua.”

Beberapa kali Siauw Ling menggerakkan bibirnya hendak bertanya dimanakah orang tuanya berada tapi beberapa kali pula terpaksa harus menahan sabar karena tidak menjumpai kesempatan yang baik.

Tanpa banyak cakap lagi ia melangkah terlebih dahulu naik ke atas loteng tingkat keempat.

Kiem Lan serta Giok Lan saling bertukar pandangan sekejap, hati mereka bimbang dan ragu haruskah mengikuti Siauw Ling naik ke atas loteng atau tidak.

Ketika itulah Cioe Cau Liong telah berpaling dan memandang sekejap wajah kedua orang dayang itu. Loteng Wang Hoa Loo bukan tempat cocok buat kalian untuk tancap kaki ayoh cepat turun dari sini.

“Tunggu sebentar” seru Djen Bok Hong sambil tertawa dan melirik sekejap wjah kedua orang dayang itu.”

“Saat ini kedudukan Kiem Lan serta Giok Lan adalah dayang pribadi Samte. Sudah tentu mereka tak boleh dipandang sebagai budak biasa, biarkan mereka ikut naik ke atas loteng.”

Cioe Cau Liong kembali dibikin tertegun, ia merasa sikap Djen Bok Hong terhadap diri Siauw Ling terlalu ramah dan hal ini belum pernah terjadi selama ini.

Memandang diatas wajah Sam Cungcu, Toa Cungcu memberi keringanan buat kalian untuk ikut naik keloteng. “Ayoh cepat berterima kasih.”

Kiem Lan serta Giok Lan sama2 menjura kemudian mengikuti dari belakang, Cioe Cau Liong naik ke loteng tingkat ketiga belas.

Sepanjang perjalanan dengan sepasang mata yang tajam Siauw Ling memperhatikan penjaga2 yang ditemuinya. Ia merasa penjaga yang berjaga disetiap tingkat, makin ke atas usia orang itu makin lanjut bahkan sikapnya kukoay serta dingin.

Menanti mereka mencapai tingkat kesepuluh maka penjaga ditempat itu adalah seorang kakek tua berambut putih wajahnya dingin kaku sama sekali tidak terdapat perubahan perasaan bahkan terhadap Djen Bok Hong sendiri tidak pandang sebelah matapun.

Walaupun Siauw Ling pernah satu kali mengunjungi loteng ini tapi tempo dulu ia tidak terlalu memperhatikan sipenjaga loteng2 ini sekarang sesudah memperhatikan dengan cermat ia baru merasa orang2 tua ini memiliki sepasang mata yang tajam. Jelas tenaga lweekang mereka sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Diatas loteng tingkat ketiga belas meja perjamuan telah dipersiapkan dan empat orang dayang cantik berbaju hijau sudah menanti didepan meja perjamuan.

Djen Bok Hong mengambil tempat duduk dikursi tengah Siauw Ling serta Cioe Cau Liong dikedua belah sisinya sedang Kiem Lan Giok Lan duduk dipaling bawah,

Keempat dayang cantik berbaju hijau itu segera memenuhi cawan masing-masing dengan arak setelah itu mengundurkan diri.

“Samte,” kata Djen Bok Hong kemudian sambil angkat cawannya. “Barusan saja kau pulang dari tempat kejauhan tentu badanmu masih lelah.”

“Mari Siauw heng menghormati dirimu dengan secawan arak.” Siauw Ling angkat cawannya ke atas meja.

Dalam hati Siauwte ada beberapa patah kata yang serasa tak enak kalau tidak kuucapkan keluar.

“Samte silahkan bicara.”

“Sewaktu siauwte kembali kedesa untuk menyambangi kedua orang tuaku disepanjang jalan telah menjumpai banyak cegatan2 dari jago-jago Bulim yang hendak memeriksa barang bawaan Siauwte, karena sama sekali tidak berprasangka siauwte membiarkan mereka memeriksa isi peti2 itu. Siapa sangka isi dari peti tadi adalah sebuah batok kepala.”

Air muka Djen Bok Hong sangat tenang selama mendengar perkataan itu, ia tersenyum.

“Hal ini kulakukan sebagai rencana guna mempopulerkan nama besar Sam te dalam dunia persilatan. Bagaimana reaksi mereka setelah menjumpai batok kepala itu?”

Sebetulnya Siauw Ling ada maksud membongkar rahasia betapa kejinya rencana busuk Djen Bok Hong agar orang2 itu dibikin jengah dan kikuk.

Siapa sangka sikap Djen Bok Hong sangat tenang, agaknya ia merasa sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan persoalan ini tindakan tersebut membuat Siauw Ling merasa jengkel bercampur gelisah untuk beberapa saat lamanya ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Kiem Lan yang melihat pemuda itu membungkam dengan beranikan diri segera menyambung,

Setelah orang2 itu menjumpai batok kepala tersebut mereka tak bisa menahan diri dan menuduh Sam ya sebagai sipembunuh orang itu.

“Ehmmm….” Djen Bok Hong mengangguk sambil tertawa. “Setelah mereka menjumpai batok kepala tersebut maka terbuktilah apa yang selama ini tersiar dalam Bulim, tidak aneh kalau dalam keadaan terkejut dan kaget mereka mengambil suatu tindakan kasar.”

“Toako,” seru Siauw Ling tertegun beberapa saat. “Apa maksudmu memberi sebuah batok kepala di dalam peti tersebut sebagai hadiahku kembali kedesa?”

“Hmm….menurut pandangan Siauwte tindakanmu ini tidak lebih hanya merupakan siasat meminjam pisau membunuh orang, jengek sang pemuda dingin. Kalau aku kena dikerubuti para jago Bulim itu sampai mati apa kau kira berharga kematianku itu?”

“Soal ini Samte boleh berlega hati potong Djen Bok Hong sambil tertawa hambar Siauwte sudah melakukan persiapan2 untukmu asal Samte menjumpai mara bahaya maka ada orang yang segera datang memberi bantuan kepadamu.”

Ia merendek dan mendongak tertawa terbahak2 sambungnya.

Tapi Siauw heng percaya dengan kepandaian silat yang dimiliki Samte sekalipun kena dikerubuti juga tak bakal jatuh kecundang.

“Jadi kalau begitu Toako memang ada maksud2 tertentu?”

“Tidak salah kesemuanya ini berada dalam dugaan Siauw heng.”

Ucapan ini mendatangkan golakan yang keras dalam dada Siauw Ling sambil menekan hawa gusar tersebut katanya lagi….

“Menawan orang tua siauwte juga termasuk rencana yang telah disusun Toa Cungcu?’

Djen Bok Hong mengangguk….

“Kita orang2 perkampungan Pek Hoa San cung sudah banyak mengikat permusuhan dengan orang lain jago-jago Bulim memandang siauwte sebagai duri diatas mata kalau tidak dicabut rasanya tidak leluasa dan peristiwa samte menggabungkan diri dengan perkampungan Pek Hoa San cung pun sudah diketahui oleh semua jago yang ada dikolong langit kalau Siauw heng tidak menjemput kedua orang tuamu masuk keperkampungan Pek Hoa San cung bagaimana kalau sampai mereka kena diculik oleh para jago Bulim?”

Siauw Ling yang melihat air muka orang itu sangat tenang bahkan ucapan ini bagaikan sedang menegur dirinya dan apa yang ia tanyakan sudah berada dalam dugaannya, hati jadi bergerak pikirnya, Agaknya ia sudah melakukan persiapan2 untuk menghadapi peristiwa ini kalau aku cari gara2 maka keadaan akan termakan kembali dalam dugaannya….

Karena berpikir demikian sambil menekan hawa napsu amarah yang berkobar didada ia bangun berdiri seraya menjura, “Cara berpikir Toako benar2 amat teliti siauwte merasa sangat berterima kasih ujarnya sambil tersenyum.”

Tindakannya ini sedikitpun tidak salah, telah mendapatkan rasa diluar dugaan bagi Djen Bok Hong. Tampak ia tertegun dan wajahnya memperlihatkan perasaan terperanjat.

Tapi dalam sekejap saja perasaan tersebut sudah lenyap dari pandangan ia tertawa terbahak bahak.

Sejak semula siauwte sudah menduga kalau Sam te adalah seorang yang cerdik dan berpikiran tajam, ternyata dugaanku sedikitpun tidak salah,

Sambil mengacungkan jempolnya ia menambahkan, “Seorang lelaki sejati bisa bertindak sesuatu dengan keadaan. Samte ternyata kau cukup terlatih dalam hal ini.”

Mendengar sindiran itu Siauw Ling merasa bagaikan ulu hatinya ditusuk dengan sebilah pisau, seluruh badannya gemetaran keras.

Tapi ia tahu soal keselamatan orang tuanya jauh lebih penting, ia tak boleh bertindak sembarangan karena sedikit persoalan, karenanya sambil paksakan diri memperlihatkan suatu senyuman ujarnya

“Entah bolehkah Siauw te pergi menyambangi kedua orang tuaku.”

“Setelah kita berada sebagai saudara angkat, orang tuamu sama pula dengan orang tuaku. Tidaklah mungkin aku akan menyiksa kedua orang tua tersebut, tentang soal ini harap samte berlega hati.”

“Bukannya begitu, sudah banyak tahun siauwte tidak pernah berjumpa dengan wajah beliau. Hatiku sangat risau dan ingin cepat-cepat menyambangi mereka.”

“Haa….haa…. karena perjalanan yang jauh dengan kereta, saat ini kedua orang tuamu sedang beristirahat. Sam te apa gunanya kau gelisah tidak keruan, menanti kedua orang tuamu sudah pulih kembali kesehatannya rasanya Samte belum terlambat untuk menyambangi mereka.”

Mendengar perkataan tersebut Siauw Ling tak bisa membendung hawa gusarnya lagi. Ia segera bangun berdiri, Giok Lan jadi cemas melihat tindakan yang gegabah dari pemuda ini, dari bawah meja buru-buru menyentil kaki Siauw Ling.

Tampak Siauw Ling menghantam meja perlahan seraya berteriak, “Cara Toako berpikir sangat cermat sekali. Siauwte harus mengucapkan terima kasih kepadanya.”

Dia adalah seorang cerdik setelah mendapat peringatan dari Giok Lan adalah pikirnya segera tersadar kembali karena itu niatnya segera diubah dan sambil menyingsing baju dia sungguh2 mau berlutut.

Djen Bok Hong segera mengulapkan tangan kanannya, segulung tenaga pukulan menahan badan pemuda itu untuk berlutut.

“Sam te tak perlu banyak adat, katanya serius, Siauw heng ada beberapa patah perkataan yang penting hendak dibicarakan dengan diri Sam-te….”

Mengambil kesempatan itulah Siauw Ling duduk kembali kekursinya.

“Toako ada perkataan apa?”

Setelah kemunculan Siauw heng kali ini aku sudah merencanakan untuk menempatkan diri Sam-te sebagai salah seorang musuh tangguhku, setelah ku lihat kecerdikanmu dalam menghadapi perobahan ini hari, semakin membuktikan kalau pandanganku tidak meleset….

Toako terlalu memuji.

Ada pepatah mengatakan: Satu daerah tak mungkin muncul dua jago apalagi perkampungan Pek Hoa San cung yang demikian kecil, mana mungkin bisa dikuasai oleh Siauw heng serta Samte dua orang enghiong sekaligus?

“Toako berpikir terlalu jauh. Siauw-te sama sekali tidak bermaksud untuk merebut kedudukan itu.”

“Sekalipun Samte tidak sudi berebut nama maupun kekuasaan tapi cara berpikir kita dua orang sangat berlawanan, bagaimanapun juga pada suatu hari kita akan berhadapan sbg musuh tangguh.”

“Oleh karena itu Toako menawan kedua orang tuaku sebagai barang jaminan agar aku bisa jual nyawa untuk perkampungan Pek Hoa San cung kalian?”

“Sebelum hujan sedia payung apa salahnya?” sahut Djen Bok Hong sambil tertawa hambar.

Air muka Siauw Ling berubah hebat sebentar hijau sebentar memutih dalam sekejap saja pengalamannya bertambah lagi.

“Samte!” ujar Djen Bok Hong kemudian sambil angkat cawan. “Bagaimana kalau kita keringkan cawan arak ini?”

Perlahan-lahan Siauw Ling mengangkat cawan arak.

“Setelah Toako memandang siauwte sedemikitan tingginya, mengapa kau tidak turun tangan keji untuk membokong diriku, sebaliknya menimpakkan penderitaan ini pada kedua orang tuaku yang telah tua dan berbadan lemah.”

Dikolong langit banyak urusan yang susah dijelaskan apabila Siauw heng mengundang datang kedua orang tuamu sama sekali tidak bermaksud mencelakainya.

Kali ini Siauw Ling betul2 tak dapat menahan diri lagi tak kuasa ia menghantam meja keras2.

“Toako demikian tak berbudi, jangan salahkan kalau siauwtepun tidak setia….”

Sreeet ia robek ujung jubah sendiri lalu dilempar ke atas meja, teriaknya, Ini hari juga kita saudara robek jubah putus hubungan, sejak kini masing-masing hidup secara berpisah.

Djen Bok Hong mendongak tertawa terbahak2

Air dan api susah bersatu padu kita bersaudara cepat atau lambat akan terjadi juga peristiwa macam ini hari….

Mendadak ia tarik kembali suara tertawanya dengan nada dingin ia menambahkan, Setelah hubungan kita bersaudara putus, sejak ini hari pula masing-masing pihak akan berusaha untuk merebut dunia persilatan dengan andalkan kepandaian serta kecerdikan masing-masing.

“Siauwte tidak bermaksud merebut dunia persilatan,” seru Siauw Ling tertegun.

Tapi sebentar kemudian ia sudah merasa bahwa keadaannya berada dalam saat2 kritis Djen Bok Hong sedang bermaksud memanasi hatinya.

Terdengar Djen Bok Hong kembali tertawa dingin,

“Sekalipun kau tidak bermaksud merebut dunia kangouw tapi aku orang she Djen merasa kaulah satu satunya penghalang maksudku untuk menguasai Bulim.”

Ia merandek sejenak dan bangun berdiri, Besok siang harap kau suka datang kebawah loteng Wang Hoa Loo untuk menjumpai orang tuamu. Saat ini maaf aku tak dapat menemani dirimu lebih lama lagi.

Jelas dari ucapan tersebut bukan saja hubungan persaudaraan mereka sudah putus bahkan saja saat ini ia sedang mengusir pemuda tersebut dari tempat itu.

Hawa gusar bergelora dalam rongga dada Siauw Ling tapi teringat akan keselamatan orang tuanya ia coba menahan diri.

Baik besok siang cayhe pasti datang menepati janju serunya seraya menjura, Djen Bok Hong tersenyum.

“Maaf aku tak dapat menghantar terlalu jauh.”

“Tidak berani merepotkan dirimu.”

Sambil putar badan dengan langkah lebar pemuda ini segera turun dari loteng.

Kiem Lan Giok Lan pun ikut bangun berdiri ikut berlalu.

“Duduk,” mendadak Cioe Cau Liong membentak.

Agaknya kedua orang dayang itu sudah bulatkan tekadnya mereka hanya melirik sekejab ke arah Cioe Cau Liong kemudian meneruskan langkahnya turun dari loteng.

“Budak bangsat kalian mau membangkang?” teriak Jie Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San-cung ini semakin gusar.

Dengan cepat ia meloncat bangun siap melakukan terjangan ke arah kedua orang dayang tersebut.

Tapi Djen Bok Hong sudah ulapkan tangan kanannya segulung tenaga pukulan segera menghadang jalan pergi orang she Cioe itu.

“Lepaskan mereka pergi.”

Kiem Lan Giok Lan berpaling lalu memberi hormat.

“Terima kasih Toa Cungcu.”

“Tidak perlu banyak adat setelah kalian mengikuti Siauw Ling berarti pula sudah bukan anggota perkampungan Pek Hoa San cung kami lagi.”

“Budak sekalian turut perintah daripada membangkang” seru Kiem Lan sambil gertak gigi seraya menarik tangan Giok Lan, buru-buru kedua orang itu berlalu.

Menanti ketiga orang itu sudah lenyap dari pandangan, Cioe Cau Liong baru berpaling, ujarnya kebingungan, “Toako kau benar2 bermaksud melepaskan kedua orang dayang ini?”

“Orang gelisah akan adu jiwa, anjing cemas akan lompat tembok. Kalau Siauw Ling tak ada yang memberi nasehat dari samping, tak terhindari suatu oertarungan sengit segera akan berlangsung kata Djen Bok Hong sambil tertawa, jika sampai begini bukankah usahaku selama ini akan sia2 belaka?”

“Perhitungan Toako betul2 hebat siauwte merasa tak dapat menandinginya.”

Kembali Djen Bok Hong tertawa.

“Menurut dugaanku sepeninggalnya Siauw Ling kali ini ia pasti tak berani tinggal terlalu lama disekitar perkampungan Pek Hoa San cung turunkan perintah kepada masing-masing pos pengintai untuk mengawasi segala gerak geriknya tapi jangan turun tangan mengganggu.”

Cioe Cau Liong mengiakan dan turun dari loteng untuk melaksanakan perintah Toakonya….

“Kita balik pada Siauw Ling setelah turun dari loteng Wang Hoa Loo menerobosi beberapa halaman sampailah mereka diluar perkampungan Pek Hoa San Cung.”

Kiem Lan, Giok Lan mengikuti terus dari belakan pemuda itu mereka berjalan dengan mulut bungkam sejauh lima enam li….

Akhirnya Kiem Lan buka suara berkata, “Samya kau siap hendak kemana? sudah punya rencana tersebut….”

Siauw Ling menghembuskan napas panjang….

“Tidak aneh orang2 kangouw mengatakan Djen Bok Hong sebagai makluk ganas dalam air, orang ini benar2 keji, licik dan bahaya.”

“Sebenarnya Toa Cungcu hendak meminjam kesempatan sewaktu Samya kembali kekampung untuk menciptakan suatu pembunuhan agar kau tak mendapat tempat untuk tancapkan kaku dan satu2nya jalan hanya berbakti kepada perkampungan Pek Hoa San cung, kata Giok Lan sambil menghela napas panjang siapa sangka Sam ya adalah seorang pendekar sejati walaupun didesak berulang kali tidak mau juga membuka pantangan membunuh. Kegagahan Samya ini justru merupakan bibit kebencian bagi Toa Cungcu inilah sebabnya mengapa ia menculik kedua orang tua Samya sebagai barang jaminan….”

“Toa Tjungtju memaksa kau serta nona Tong menelan pil pengerut tulang justru bertujuan hendak menyulitkan Sam ya, sambung Kiem Lan dari samping. Ia hendak membuat Sam ya murung dan susah karena hal ini, atau karena keadaan kita menimbulkan kemarahan Sam ya untuk turun tangan melukai orang. Siapa nyana Sam ya mendapat bantuan dan secara kebetulan menjumpai Tjhee Toa Nio yang menghadiahkan pil mujarabnya secara suka rela setelah racun pengerut tulang dari Toa Tjung tju punah dan merasa pula kami ada maksud menghianati perkampungan Pek Hoa San cung dengan membantu Sam ya. Timbullah maksudnya untuk menculik orang tua Sam ya…. aaaaai…. kalau dipikir kami kakak beradklah yang mengakibatkan kesemuanya ini.”

“Kalian tak perlu menyesali diri sendiri,” hibur Siauw Ling sambil menghela napas panjang. “Bukan disebabkan kalian lantas Djen Bok Hong menculik orang tuaku, ia memang sudah punya maksud ini sejak dahulu. Kerena bermaksud dengan menggunakan kedua orang tuaku hendak memaksa aku berbicara dengan mereka.”

Ia merandek sejenak, setelah menghelakan napas panjang sambungnya lagi, sekalipun misalnya racun Gioke Lan tidak terbebaskan dan seperti juga kemauannya ku bunuh para jago Bulim yang menghadang perjalanan kita, belum tentu kesemuanya ini bisa membebaskan kedua orang tuaku dari penculikan mereka.

Dengan sedih kedua orang dayang itu menghela napas panjang.

“Lalu bagaimana maksud Samya saat ini?”

“Kita harus mencari sebuah tempat yang tersembunyi untuk baik2 beristirahat,” sahut Siauw Ling sesudah termenung sejenak.

Menurut apa yang budak ketahui seratus li disekitar perkampungan Pek Hoa San cung merupakan daerah mata2 dari pihak mereka.

Sinar mata Siauw Ling segera berkilat.

“Hmm asal kena kutangkap basah jangan harap mereka bisa lolos dalam keadaan hidup.”

“Menurut pendapat budakmu,” ujar Giok Lan dari samping. “Sebelum kita menjumpai Looya serta Hujien lebih baik Sam ya jangan melukai dulu orang perkampungan Pek Hoa San cung.”

Siauw Ling merasa amat sedih tak terasa titik-titik air mata jatuh berlinang ujarnya sambil mendongak.

“Sebelum aku Siauw Ling berbakti dihadapan mereka berdua kini menyusahkan dulu beliau berdua. Dosa ini benar2 sangat mendalam.”

Mendadak Siauw Ling teringat kembali dengan kuil bobrok yang pernah digunakan untuk melakukan Tiong Cho Siang Ku serta menjumpai Tok So Yok Ong itu.

“Ayoh berangkat aku akan membawa kalian kesebuah tempat baik untuk beristirahat.”

Siauw Ling sangat hapal dengan jalanan disana dengan membawa kedua orang dayang tersebut tidak sampai sepertanak nasi kemudian mereka sudah tiba di dalam kuil bobrok tadi.

Siauw Ling berangkat menuju keruang belakang sebelah Timur.

“Sam ya budak pernah datang kemari untuk mencari Sam ya tapi tidak ketemu,” ujar Giok Lan tiba-tiba sambil hela napas panjang.

Sewaktu mereka sedang bercakap2 ruangan yang dituju sudah ada didepan mata….

Sepasang pintu kayu tertutup rapat2 suasana sunyi tak kedengaran sedikit suarapun.

Melihat pintu tertutup Siauw Ling merasa hatinya agak bergerak.

Karena curiga ia jadi berhenti.

“Sam ya mengapa kau berhenti?”

“Kalian berhati2 siapkan senjata,” bisik Siauw Ling lirih.

Dalam ruangan kecuali beberapa buah peti mati tak kelihatan benda apapun juga.

Perlahan lahan Siauw Ling melangkah masuk ke dalam ruangan dan langsung menghampiri peti mati sebelah selatan, penutup peti segera dibuka dengan sepenuh tenaga.

Dilihatnya sebuah sangkar burung terdapat di dalam peti tadi, dalam sangkar terdapat seekor burung beo warna hijau yang meloncat tiada henti kesana kemari.

Sangkar itu terbuat dari serat emas indah halus dan menarik hati.

“Sungguh indah burung itu,” pujinya.

“Burung beo ini sudah ada banyak hari disimpan dalam peti mati ini ….” serunya pula.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Coba kau lihat bahan makanan yang ada disangkar sudah habis, air telah mengering paling sedikit sudah dua hari dua malam disini.

Bicara sampai disitu ia merandek, sinar matanya perlahan-lahan dialihkan ke atas wajah kedua orang itu, sambungnya, “Entah kalian berdua takut tidak?”

“Tidak takut.”

“Bagus sekali kita beristirahat satu malam disini.”

Suara kicauan burung yang nyaring berkumandang keluar dari balik peti mati memecahkan kesunyian yang makin mencekam.

“Aaaach…. burung itu pasti kelaparan lebih baik kita lepaskan saja,” ujar Giok Lan lirih.

Siauw Ling merasa ucapan itu sedikit tidak salah karenanya ia bungkam.

Giok Lan segera membuka sangkarnya seraya bergumam, “Nah burung kelaparan pergilah selamatkan jiwamu.”

Setelah burung beo itu terbang dari sangkarnya ia tidak langsung pergi ia berputar dulu diatas kepala Giok Lan kemudian baru melayang pergi.

Tak terasa ia menghela napas panjang, “Mengapa kalian tidak menggunakan kesempatan yang baik ini untuk mengatur pernapasan, besok pagi kemungkinan besar kita harus mengalami suatu pertarungan sengit….”

Minal 'Aidin wal-Faizin gan🙏🙏🤗

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 09"

Post a Comment