coba

Bayangan Berdarah Jilid 02

Mode Malam
JILID 2

Ia merandek sebentar kemudian tambahnya, “Jikalau benar-benar Samte yang paksa mereka datang, aku rasa kemungkinan besar Toako tak akan menyalahkan mereka.”

Dari dalam sakunya ia ambil keluar sebuah panji kecil berwarna merah lalu diayunkan ketengah udara.

Keempat orang manusia aneh yang kaku bagaikan mayat hidup itu segera putar badan dan berlalu.

Gerak gerik keempat orang itu sangat aneh sekali loncat mencapai beberapa tombak jauhnya dalam beberapa kali kelebatan mereka telah lenyap dari pandangan.

Melihat kecepatan gerak dari keempat orang itu diam-diam Siauw Ling sangat terperanjat pikirnya, “Suatu ilmu meringankan tubuh yang sangat lihay gerakan badan yang amat cepat.”

Dalam pada itu orang Bu tong pay dengan membawa Tiong Lam Djie hiap telah berlalu sedang Ih Boen Han To mengikuti Kiem Hoa Hujien sudah lenyap tak berbekas ditengah kalangan kecuali Tjioe Tjau Liong yang berdiri menanti kurang tiga tombak dari mereka berdiri.

“Mari kitapun harus pulang” ujar Tjioe Tjau Liong kemudian seraya menyimpan kembali panji kecil berwarna merah.

Tanpa banyak bicara lagi ia putar badan dan berlalu.

Siauw Ling yang segera percepat langkahnya mengikuti dari belakang Tjioe Tjau Liong.

“Djie ko” ujarnya tiba-tiba. “Di dalam hati siauwte ada beberapa urusan yang merasa kurang paham entah bolehkah aku orang mengajukan pertanyaan?”

Tjioe Tjau Liong berpaling memperlihatkan wajah Siauw Ling sekejap kemudian tertawa.

“Samte! urusan yang mencurigakan hatimu bukankah menyangkut soal keempat orang tadi.”

“Tidak salah apakah mereka berempat adalah anak murid perkampungan Pek Hoa San cung?”

“Kedudukan mereka berempat sangat istimewa” jawab Tjioe Tjau Liong setelah termenung sebentar. “Boleh dihitung mereka adalah anak murid perkampungan kami. Tapi boleh dihitung pula bukan anggota perkampungan kami….”

“Apa maksud ucapan dari Djie ko ini? makin mendengar siauwte merasa semakin bingung.”

“Bicara yang lebih jelas lagi! mereka adalah orang didikan langsung oleh Toako.”

“Aku masih tidak paham” seru Siauw Ling seraya menggeleng.

Melihat pemuda itu belum juga mengerti Tjioe Tjau Liong segera tertawa hambar.

“Yang jelas aku sendiripun tidak begitu paham tentang persoalan ini bilamana Samte ingin mengetahui hal yang sebetulnya boleh kau tanyakan langsung dengan toako sendiri.”

“Aaaah! aku hanya bertanya saja jikalau Djie ko tidak tahu yaa sudahlah! urusan sekecil ini apa perlunya sampai ditanyakan pada Toako sendiri.”

“Waktu sudah tidak pagi, nanti siang Toa Cungcu masih ingin mengadakan perjamuan perpisahan untuk Samte. Aku sebagai saudaramupun ada seharusnya mempersiapkan sedikit hadiah untukmu.”

“Djie ko tak perlu repot terhadap saudara sendiri buat apa memakai hadiah-hadiah segala.”

“Soal ini sih tidak terlalu mengganggu.” Tjioe Tjau Liong tertawa.

Mendadak ia percepat langkahnya kedepan.

Kiem Lan dan Giok Lan mengikuti dari belakang kedua orang itu kembali ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung.

Siauw Ling langsung kembali kerumah pesanggrahan Lan Hoa Cing Si.

Dengan cepatnya ia benahi pakaiannya sewaktu berpaling ia melihat kedua orang dayang tersebut masih berdiri berjajar didepan pintu.

Bilamana pada hari-hari biasa kedua orang dayang itu pasti sudah persiapkan air teh serta makanan tetapi sikapnya ini hari sangat berbeda. Mereka tidak melepaskan pedang juga tidak berganti pakaian.

Tiba-tiba terlihat kedua orang dayang itu berlutut.

“Budak sekalian menghanturkan terima kasih untuk kebaikan Samya selama ini semoga Samya bisa tiba ditempat tujuan dengan selamat.”

Sehabis memberi hormat mereka berlalu dengan tergesa-gesa.

Memandang lenyapnya bayangan kedua orang budak itu Siauw Ling berpikir dalam hatinya, “Setelah aku pergi kedua orang dayang ini tentu akan memperoleh siksaan lebih baik kubawa serta mereka untuk terbang jauh meninggalkan tempat ini.”

Sekalipun dalam hati sudah mengambil keputusan tapi ia tidak sampaikan maksud hatinya ini kepada kedua orang dayang tersebut.

Segulung angin bertiup lewat membawa bau harum bunga yang semerbak.

Dari dalam sakunya Siauw Ling mengambil keluar kitab pusaka Sam Khie Tjin Boh serta lukisan Giok San Tju ia bersiap-siap dalam perjamuan nanti mengembalikan kedua benda ini untuk Djen Bok Hong serta Kiem Hoa Hujien.

Disamping itu iapun berhasil menemukan apabila perkampungan Pek Hoa San cung penuh diliputi napsu membunuh jikalau tinggal lebih lama lagi kemungkinan besar diri sendiripun bakal kecipratan noda darah.

Oleh karena itu ia bertekad bulat untuk tinggalkan tempat itu dan meminjam alasan hendak menengok orang tuanya sejak ini tidak kembali lagi ke dalam perkampungan.

Mendadak hatinya sedikit bergerak, pikirnya, “Setelah kepergianku kali ini selamanya tak akan balik lagi kemari entah kapankah aku baru punya kesempatan untuk melihat lukisan Giok Sian Tju tersebut? kenapa aku tidak menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk melihatnya?”

Segera ia keluarkan lukisan Giok Sian Tju dan dibentangkan diatas meja.

Ketika ia alihkan sinar matanya ke atas lukisan tersebut, maka dilihatnya seorang gadis yang amat cantik sekali bediri dengan ditangannya mencekal sekuntum bunga merah, wajah dara tersebut benar0benar luar biasa ayunya. Ia memiliki alis yang melentik dengan bibir yang kecil mungil, sebaris gigi berwarna putih dengan mata yang cerah, sungguh merupakan seorang gadis yang tiada tandingannya dikolong langit.

Tak kuasa lagi Siauw Ling berseru memuji.

“Pepatah kuno mengatakan: kecantikan tidak mempersonakan melainkan manusialah yang dipersonakan, kelihatannya kata-kata ini memang benar, semisalnya lukisan ini jadi orang sungguh-sungguh maka seluruh jagad bakal gempar.”

Segulung angin kencang bertiup lewat menyingkap horden sehingga cahaya matahari menyorot masuk melalui jendela tepat menyinari putik bunga merah yang dicekal gadis tersebut.

Mendadak Siauw Ling merasakan diantara putik bunga merah itu kelihatan rada sedikit menonjol keluar, bagian yang menonjol keluar sangat kecil sehingga susah ditemukan.

Apabila bukan adanya cahaya matahari yang menyorot masuk dan tepat menyinari putik bunga merah tadi kendati memiliki ketajaman mata yang sangat lihaypun jangan harap bisa temukan rahasia ini.

Tetapi Siauw Ling masih salah menganggap mejanya yang tidak rata, jari tangannya segera menggosok perlahan bagian putik bunga merah tersebut.

Terasa putik bunga merah tadi mendadak terlepas tempatnya sehingga muncullah sebaris tulisan yang amat kecil sekali.

Apabila bukannya sepasang mata Siauw Ling amat tajam mungkin ia tak akan membaca tulisan sekecil ini.

Terbaca tulisan itu berbunyi demikian, “Singkaplah ujung gaun sebelah kirinya.”

Melihat hal itu Siauw Ling tertegun ia sama sekali tidak menyangka dalam lukisan tersebut bisa ditemui hal yang demikian kukoynya selagi ia sipa melakukan pemeriksaan yang lebih teliti lagi terhadap ujung gaun sebelah kiri dari lukisan itu mendadak suara langkah kaki manusia bergema datang memecahkan kesunyian.

Horden kembali tersingkap segulung angin segar bertiup lewat membuat putik warna merah yang berada ditangan Siauw Ling kena tertiup kabur.

Djen Bok Hong dengan wajah penuh dihiasi senyuman telah munculkan dirinya disana air muka yang begitu tenang sama sekali tidak memperlihatkan sedikit perubahan apapun hal ini menimbulkan keragu-raguan dihati orang lain tentang sikapnya waktu itu.

Buru-buru Siauw Ling bangkit berdiri untuk menjura.

“Tidak mengetahui akan kehadiran Toako maaf apabila siauwte tidak menyambut kedatangan Toako dari tempat kejauhan.”

Djen Bok Hong hanya mengangguk, mulutnya tetap membungkam.

Seraya menggendong tangan perlahan-lahan ia berjalan masuk ke dalam ruangan dan berhenti didepan meja dimana lukisan tersebut terbentang setelah diperiksanya sejenak seluruh lukisan itu dengan teliti mendadak diatas wajahnya yang hambar sama sekali tidak memperlihatkan perubahan apapun itu tersungging satu senyuman yang dingin.

“Samte apakah kau berhasil menemukan rahasia yang menyangkut lukisan Giok Sian Tju ini?”

Siauw Ling terperanjat mendengar teguran itu, pikirnya dihati, “Aduuuh celaka, putik bunga merah itu kena kusentil hingga terjatuh mungkin ia sudah menemukan rahasia ini….”

Sewaktu sinar matanya dialihkan kembali ke atas lukisan tersebut, tertampak olehnya putik bunga warna merah itu tetap seperti sedia kala. Jelas dibalik tonjolan putik warna merah tersebutpun mempunyai lukisan yang mirip dengan lukisan diatasnya.

Diam-diam Siauw Ling memuji akan kelihayan sipelukis itu pikirnya, “Simalaikat pelukis Si Thian To benar-benar seorang seniman yang berbakat melukis serta berkepandaian silat kecerdikanpun melebihi orang lain.”

Di dalam hati ia berpikir demikian, sedang diluaran jawabnya dengan tegas, “Pengetahuan siauwte tidak luas tak berhasil kutemukan kekukoyan di dalam lukisan ini.”

Sepasang mata Djen Bok Hong dengan memancarkan cahaya dingin yang menggidikkan segera beralih ke atas wajah Siauw Ling agaknya ia hendak memeriksa sesuatu dari perubahan air mukanya.

Dari bagian putik bunga merah tadi tetap tidak menunjukkan hal-hal yang bisa timbulkan kecurigaan hal ini membuat hati Siauw Ling jauh lebih tenang lagi.

Dengan demikian sekalipun pandangan mata Djen Bok Hong sangat tajam serta pikirannya bagaimana cerdikpun ia tak berhasil menemukan sesuatu hal yang patut dicurigai diatas wajah pemuda ini.

Melihat dirinya dipandang terus menerus Siauw Ling pentangkan matanya lebar-lebar ia tertawa hambar.

“Toako memandang diri siauwte sedemikian rupa entah apa maksudmu?”

Djen Bok Hong angkat pundak mendadak tertawa terbahak-bahak.

“Haaa….haaa….jikalau dalam hatimu tiada sesuatu perasaan menyesal atau rahasia yang perlu disimpan apa halangannya kalau toako memperhatikan dirimu sekejap.”

Suara gelak tertawanya mendadak merandek. Dengan sepasang mata yang tajam ia alihkan sinar matanya dari atas wajah Siauw Ling keseluruh ruangan disekitar tempat itu.

Seluruh tubuh Siauw Ling tergetar keras diam-diam pikirnya, “Djen Bok Hong benar-benar seorang jago yang amat teliti dan cermat di dalam menghadapi sesuatu hal macam apapun tentu ia sudah temukan sikapku tadi yang kelihatan agak kaget sehingga mendesak terus persoalan ini hingga sampai kedasar-dasarnya.”

Tetapi sangat kebetulan putik bunga merah yang terlepas tadi dengan mengikuti tiupan angin telah terbang keluar jendela dengan demikian walaupun Djen Bok Hong telah menyapu tajam seluruh ruangan hasilnya tetap nihil.

“Samte!” ujarnya kemudian dengan perlahan-lahan. “Jikalau di dalam ruangan ini tertinggal sebatang jarum yang kutungpun aku percaya tak akan lolos dari pandangan mataku.”

“Tenaga sakti yang toako miliki sangat dahsyat siauwte percaya tak akan berhasil mengungguli.”

Duduklah Djen Bok Hong diatas kursi yang ada disisinya.

“Lima tahun kemudian!” ujarnya perlahan. “Aku percaya hanya Samte seoranglah diantara para jago lihay diseluruh kolong langit yang bisa mendatangi kepandaian toakomu.”

Dalam hati Siauw Ling merasa sangat terperanjat, tapi diluaran dia tetap tertawa.

“Toako terlalu memuji diri siauwte walaupun siauwte berhasil mendapatkan kasih sayang dari guruku sehingga mendapat pendidikan ilmu silat tapi patut disayangkan otakku terlalu kebal sehingga tidak sanggup untuk mempelajari seluruh kepandaian yang diturunkan oleh gurumu….”

Djen Bok Hong tertawa hambar potongnya, “Sekalipun kepandaian silatmu seperti sekarangpun belum tentu kau pandang sebelah mata toako.”

“Yang kumaksudkan adalah kecerdasanmu di dalam menghadapi segala perubahan Samte adalah seorang jago bagaikan intan yang belum diasah asalkan kau telah memperoleh pengalaman yang luas maka kau pasti akan menjadi seorang enghiong yang gagah perkasa baik lihay dalam ilmu silatnya maupun lihay dalam kecerdasan cukup ditinjau dari sikapmu dalam menghadapi setiap perubahan sudah lebih untuk meyakinkan aku.”

Walaupun pada dasarnya Siauw Ling adalah seorang yang berotak cerdik mendapat pula pendidikan dari Tjung San Pek yang sering menceritakan kegagahan para enghiong pada ratusan tahun berselang tetapi ia hanyalah seorang pemuda yang baru sekali ini terjunkan diri ke dalam dunia persilatan mendengar ucapan-ucapan Djen Bok Hong yang sangat tajam bagaikan pisau itu untuk beberapa saat tidak berhasil menemukan jawaban yang tepat untuk membantah.

Terdengar Djen Bok Hong melanjutkan kembali perkataannya, “Ketika untuk pertama kalinya siauw heng menginjak ruangan tadi ketemukan air muka Samte sangat mencurigakan bila kutinjau dari situasi ketika itu aku berani menduga dibalik hatimu pasti tersembunyi sesuatu rahasia yang sangat besar apalagi setelah kutemukan lukisan Giok Sian Tju ini terbentang diatas meja semakin menguatkan dugaan siauw heng apabila rahasia yang ada dalam hatimu tentu punya sangkut paut yang sangat erat dengan lukisan tersebut.”

Pada dasarnya Siauw Ling sudah timbul rasa was-was dalam hatinya terhadap orang ini mendengar tuduhan yang dilontarkan hatinya jadi panas ia siap berseru membantah.

Mendadak hatinya jadi bergerak pikirnya, “Banyak bicara kemungkinan salah omong sangat besar. Lebih baik aku membungkam saja sehingga memberikan suatu dugaan yang membingungkan bagi dirinya.”

Segera ia tersenyum dan membungkam dalam seribu bahasa.

Sedikitpun tidak salah tindakannya ini seketika itu juga mendatangkan sikap diluar dugaan dari Djen Bok Hong. Setelah ditunggu lama sekali belum kedengaran Siauw Ling memberi jawaban. Alisnya langsung berkerut sambungnya lebih jauh, “Di dalam waktu yang amat singkat Samte bisa pulihkan kembali ketenangan hatimu tindakan tersebut sungguh mendatangkan rasa kagum dihati Siauw heng, tetapi siauw heng pun merasa yakin apabila yang kuduga sama sekali tidak salah! entah bagaimana menurut pendapat Samte?”

Bila didengar dari nada ucapannya ia ada maksud mendesak Siauw Ling untuk buka suara.

“Nasehat dari Toako sedikitpun tidak salah, siauwte akan pentang telinga mendengarkan semua nasehat toako?”

“Suatu ucapan pentang telinga mendengarkan semua nasehat yang amat bagus sekali!” kontan Djen Bok Hong meninggalkan kursinya dan mendongak tertawa terbahak-bahak.

Suara gelak tertawa tersebut mendatangkan hawa bergidik dan penuh dengan napsu membunuh bagi Siauw Ling yang mendengar jantungnya ikut berdetak keras.

Gelak tertawa berlangsung seperempat jam lamanya, suara pantulan memenuhi seluruh ruangan dan memekikan telinga sehingga terasa sakit.

Diam-diam Siauw Ling mulai salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh tubuh untuk mempertahankan diri terhadap suara gelak tertawa yang sangat memekikan telinga itu kendati begitu air mukanya masih tetap mempertahankan ketenangannya.

Braaak….suara bentrokan keras tiba-tiba berkumandang memenuhi angkasa sehingga bercampur dengan suara gelak tertawa. Kontan Djen Bok Hong berhenti tertawa dan berpaling.

Tampak Giok Lan dengan wajah pucat pasi badan gemetar berdiri didepan pintu, nampan dicekal telah melemas kebawah sedang dua cawan arak berwarna putih tujuh hancur berantakan diatas lantai.

Air muka Djen Bok Hong berubah dingin menyeramkan tapi sebentar kemudian sudah penuh dihiasi kembali dengan senyuman.

“Sam Tjungtju telah mengambil keputusan nanti siang berangkat meninggalkan perkampungan Pek Hoa San tjung untuk kembali kedesa menjenguk orang tuanya apakah kalian ada maksud untuk mengikuti dirinya?” terdengar Djen Bok Hong bertanya.

“Budak sekalian akan mendengarkan perintah dari Toa Tjungtju.” buru-buru Giok Lan menyahut dengan nada penuh hormat.

Djen Bok Hong tersenyum.

“Soal ini akan kutinjau dari sikap Sam Tjungtju sendiri apakah ia suka membawa kalian atau tidak.”

“Justru siauwte memang ada maksud memohon Toako suka mensertakan Kiem Lan serta Giok Lan kedua orang dayang ini untuk ikut siauwte kembali kedesa karena siauwte merasa sangat senang dengan kelincahan serta kecerdikan mereka berdua entah apakah Toako suka menyanggupi atau tidak.”

“Kiem Lan, Giok Lan dua orang dayang memang merupakan dayang yang paling top di dalam perkampungan Pek Hoa San tjung tidak aneh kalau Samte menyukai mereka, apalagi kepandaian silat yang mereka berdua miliki tidak lemah kecerdikannya dalam menghadapi perubahan masih bisa diandalkan. Jikalau Samte suka membawa serta mereka berdua sehingga ditengah jalan ada yang melayani dirimu siauw heng pun boleh berlega hati.”

Mendadak Siauw Ling teringat kembali akan diri Tong Sam Kauw sembari menjura ujarnya ragu-ragu, “Terima kasih toako eeee….siauwte masih ada satu….”

“Diantara saudara sendiri tak perlu kau ucapkan terima kasih kepadaku” potong Djen Bok Hong.

“Siauwte masih ada satu urusan ingin mohon persetujuan Toako.”

“Katakanlah asalkan siauw heng bisa melakukan tentu tak akan kutolak permintaanmu itu.”

“Tong sam Kauw telah melanggar peraturan perkampungan kita sehingga kena dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah oleh Toako bolehkah sekalian kau lepaskan dirinya?”

“Oooouw….Samte, urusan yang kau ketahui tentang perkampungan kita sungguh tidak sedikit” seru Djen Bok Hong sambil tertawa.

“Setelah siauwte menjadi Sam Cungcu dari perkampungan ini sudah seharusnya menaruh perhatian yang serius pula terhadap semua persoalan yang terjadi di dalam perkampungan Pek Hoa San cung.”

“Apa kau hendak membawa serta dirinya untuk pergi menjenguk kedua orang tuamu didesa.”

“Bila aku tidak suka membawa serta dirinya meninggalkan tempat ini mungkin selama hidup dia tak akan bisa meninggalkan perkampungan Pek Hoa San cung lagi….” pikir Siauw Ling di dalam hati. “Aku harus berusaha keras untuk menolong gadis itu….”

Segera sahutnya, “Walaupun siauwte ada maksud demikian hanya tidak tahu apakah Tong Sam Kauw menyetujui atau tidak.”

“Samte adalah seorang pemuda yang berwajah tampan sikapmu gagah perkasa justru inilah merupakan inceran dari kaum gadis-gadis sekalian aku rasa Tong Sam Kauw pasti tak akan menolak.”

“Toako menyetujui untuk lepaska dirinya.”

“Segala permintaan dari Samte selamanya belum pernah Siauw heng tampik!”

Perlahan-lahan Siauw Ling menghela napas panjang.

“Sebetulnya saat ini adalah saat-saat perkampungan kita membutuhkan orang tidak seharusnya siauwte meninggalkan perkampungan ini, tetapi rasa rinduku terhadap kedua orang tuaku.”

“Samte tak usah menyesal dikarenakan hal ini” potong Djen Bok Hong sambil tertawa. “Asalkan kau bisa cepat pergi cepat kembali dan bisa kembali sebelum pertemuan para enghiong hoohan dibuka itu sudah lebih dari cukup!”

“Justru maksudku dengan meminjam alasan ingin pulang kedesa untuk menjenguk kedua orang tua adalah tidak ingin membantu kau melakukan kejahatan” pikir Siauw Ling di dalam hatinya. “Setelah meninggalkan tempat ini sudah tentu tak akan kembali lagi.”

Sekalipun ia berpikir begitu tapi diluaran mejawab: “Siauwte akan berusaha keras secepatnya kembali kemari.”

“Siauw heng segera akan persiapkan perjamuan untuk menghantar kepergian dari Samte” ujar Djen Bok Hong. “Setelah memperhatikan sejenak keadaan cuaca sekarang waktu sudah mendekati siang hari. Samtepun seharusnya mengadakan persiapan sejenak setelah selesai perjamuan kau boleh segera berangkat.”

Habis berkata ia putar badan siap berlalu.

Mendadak Siauw Ling mengambil keluar kitab pusaka Sam Khie Tjin Boh yang berada di dalam sakunya.

“Toako kitab pusaka Sam Khie Tjin Boh yang siauwte simpankan lebih baik kuserahkan kembali kepada Toako saja!”

“Biarlah ditinggal dulu disaku Samte dan boleh kau serahkan kepada Kiem Hoa Hujien dalam perjamuan nanti.”

Dengan percepat langkahnya Toa Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San tjung ini segera berlalu dari sana.

Menanti bayangan punggung dari Djen Bok Hong telah lenyap dari pandangan Siauw Ling baru berpaling ke arah Giok Lan.

“Giok Lan agaknya kau sangat takut dengan Toa Tjungtju kalian?” serunya.

Dengan sedih Giok Lan menghela napas panjang.

“Samya berhati-hatilah di dalam perjamuan siang nanti!”

Ia berbongkok untuk memunguti pecahan gelas lalu buru-buru berlalu dari sana.

“Djen Bok Hong si Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San tjung ini, kecuali seorang manusia yang sangat mudah mencurigai orang lain. Terhadap diriku boleh dihitung sangat baik dan ramah” pikir Siauw Ling setelah mendengar ucapan dari dayangnya. “Tapi mengapa Giok Lan memperingatkan diriku dengan ucapan ini? aku harus berhati-hati dalam tindakanku nanti.”

Setelah membereskan buntalannya ia gulung lukisan Giok Sian Tju dan dimasukan ke dalam saku kemudian dengan langkah lambat menuju keruangan tengah.

Dalam ruangan tengah telah dipersiapkan sebuah meja perjamuan. Djen Bok Hong, Tjioe Tjau Liong, Kiem Hoa Hujien serta Ih Boen Han To sudah menanti semua disana.

Yang membuat Siauw Ling jadi terperanjat adalah ikut hadirnya Tong Sam Kauw di dalam perjamuan itu.

Melihat munculnya Siauw Ling disana Kiem Hoa Hujien segera tertawa cekikikan seraya menuding kursi disisinya ia segera berseru, “Saudara cilik cepat kemari disinilah kursimu.”

Siauw Ling berjalan menghampiri perempuan itu setelah tiba dihadapannya ia keluarkan lukisan Giok Sian Tju kemudian diangsurkan kedepan.

“Hujien silahkan menerima kembali lukisanmu ini!” katanya.

“Sebenarnya lukisan ini patut bila kuhadiahkan buat saudara cilik, tetapi lukisan Giok Sian Tju terlalu indah biarlah aku simpan sendiri saja.”

Ia terima lukisan itu kemudian dimasukkan ke dalam bajunya.

Selama sang pemuda itu mengembalikan lukisan tersebut ketangan Kiem Hoa Hujien, Djen Bok Hong si Toa Tjungtju dari perkampungan Pek Hoa San tjung ini dengan sepasang mata yang tajam memperhatikan perubahan wajah Siauw Ling agaknya ia ingin mencari tanda-tanda yang mencurigakan dari perubahan air mukanya.

Tampak wajah Siauw Ling amat tenang sedikitpun tidak memperhatikan perubahan apapun ia jadi keheranan.

“Apa mungkin dugaanku salah besar….?”

Kembali Siauw Ling mengambil keluar kitab Sam Khie Tjin Boh dari sakunya kemudian sekalian diangsurkan ketangan perempuan itu.

“Toako minta aku suka menyerahkan kitab pusaka Sam Khie Tjin Boh ini agar Hudjien yang simpankan?”

“Baiklah biar aku periksa sebentar kemudian baru kuserahkan kembali ketangan Toa Tjungtju agar ia yang simpan” Kiem Hoa Hujien segera terima angsuran kitab tersebut.

Setelah semua mengambil tempat duduk Djen Bok Hong baru angkat cawan araknya seraya berkata, “Samte, moga-moga kau bisa cepat-cepat pergi dan cepat kembali.”

Sekali teguk ia habiskan dulu isi cawannya.

Siauw Lingpun angkat cawannya siap diteguk atau secara mendadak ia teringat kembali akan pesan dari Giok Lan, hatinya mulai merasa ragu-ragu.

Tetapi Djen Bok Hong tidak memperhatikan perubahan dari pemuda itu ia melanjutkan tegukannya.

Terdengar Tjioe Tjau Liong tersenyum, iapun angkat cawannya sendiri.

“Semoga Sam te bisa tiba ditempat tujuan dengan selamat.”

“Saudara cilik baik-baiklah kau berjaga diri” sambung Kiem Hoa Hujien.

Dan terakhir Ih Boen Han To yang menghormati pemuda ini dengan secawan arak.

“Sam Cungcu semoga perjalananmu kali ini memperoleh kegembiraan.”

Ketika keempat orang itu menghormati sang pemuda dengan secawan arak, masing-masing orang telah mengeringkan arak dicawan sendiri tetapi arak dicawan Siauw Ling masih tetap utuh seperti sedia kala, tak setetespun yang diteguk ia jadi riku sendiri sehingga pikirnya dihati, “Sekalipun secawan arak ini berisikan arak beracunpun aku harus meneguknya hingga habis….”

Ia segera angkat cawan sendiri siap diteguk habis secara mendadak terdengar serentetan suara yang sangat halus berkumandang masuk ke dalam telinganya.

“Secawan arak ini jangan kau teguk.”

Hati Siauw Ling rada bergerak buru-buru ia tutup semua pernapasan dan meneguk arak dalam cawannya ke dalam mulut hanya saja arak tersebut tidak sampai ditelan ke dalam perut perlahan-lahan ia duduk kembali kekursinya.

Dalam sekejap mata itulah ia mulai memahami apabila dirinya berada dalam lingkungan yang penuh dengan napsu membunuh ia harus menggunakan suatu tindakan yang dingin dan tenang untuk menghadapi situasi ini.

Diluaran air mukanya tenang-tenang saja seperti belum pernah terjadi sesuatu apapun, padahal secara diam-diam ia perhatikan terus siapakah yang barusan mengirim suara kepadanya.

Tapi di dalam ruangan tersebut kecuali beberapa orang yang duduk dimeja perjamuan hanya dua orang dayang berbaju hijau saja ikut hadir disana.

Bila orang yang mengirim suara adalah orang-orang yang duduk dalam perjamuan ini maka orang itu kemungkinan sekali adalah berasal dari Tong Sam Kauw serta Kiem Hoa Hujien.

Tetapi selama ini kedua orang itu tidak menggerakkan bibirnya, apalagi suara itupun kedengaran sangat asing sekali. Menurut ingatannya belum pernah ia dengar suara semacam ini.

Setelah Djen Bok Hong melihat Siauw Ling meneguk habis arak di dalam cawannya, ia segera menggerakan sumpitnya sembari berkata, “Samte berhasrat cepat-cepat tinggalkan perkampungan untuk pulang kedesa mari cepat kita bersantap.”

Terpaksa Siauw Ling menggerakkan sumpitnya untuk mengambil sayur, tapi ia tidak berani masukan ke dalam mulutnya. Karena arak yang semula diteguk masih berada di dalam mulut.

Terdengar suara yang sangat asing itu kembali berkumandang dalam telinganya.

“Jika kau tidak suka mendengarkan nasehatku dan meneguk habis arak beracun itu maka selama hidup kau akan berada dibawah kekuasaan Djen Bok Hong kecuali kau berhasil menjumpai Tok So Yok Ong dan ia menyanggupi untuk menolong diriku kau baru bisa lolos dari cengkramannya. Bila arak beracun tersebut belum kau teguk cepatlah berusaha untuk ditumpahkan keluar.”

Setelah Siauw Ling dengar orang itu mengungkap Tok So Yok Ong dan teringat peristiwa melepaskan darah malam itu hatinya baru percaya delapan bagian.

Pikiran dengan cepat berputar akhirnya dia mendapatkan satu akal bagus untuk berusaha tumpahkan keluar arak dari mulutnya.

Dari dalam saku dia mengambil sebuah mata uang setelah menyalurkan tenaga benda itu segera disentil keluar melalui bawah meja.

Dari Liuw Sian Cu pemuda itu pernah mempelajari ilmu memantul Hwee Sian So Hoat yang tiada keduanya dikolong langit ini.

Uang logam yang disentil keluar dari meja tadi segera berdesir keluar melalui jendela kemudian berputar ke arah jendela yang lain dan berkelebat masuk melewati sisi telinga Tjioe Tjau Liong menghajar piring sayur diatas meja.

Sebetika itu juga piring hancur berantakan dan sayur berhamburan keempat penjuru.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini sama sekali berada diluar dugaan semua orang walaupun di dalam meja perjamuan itu duduk para jago kelas wahid tapi tak seorangpun yang sanggup menerima datangnya sambaran senjata rahasia.

Siauw Ling segera menekan permukaan meja menerobos keluar melalui jendela kemudian meloncat naik ke atas atap rumah meminjam kesempatan yang sangat baik ini arak beracun yang berada dalam mulutnya segera ditumpah keluar.

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat

Tjioe Tjau Liong, Kiem Hoa Hujien serta Ih Boen Han To bersama-sama meloncat keluar dan melayang naik ke atas atap rumah.

“Saudara cilik, kau sungguh cepat gerakan badanmu apakah kau berhasil menemukan jejak musuhmu?” bisik Kiem Hoa Hujien lirih.

“Tidak!” pemuda she Siauw menggeleng kepala.

“Siapa yang berani menyelundup masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa San tjung kita untuk mengacau sungguh kurang ajar” Teriak Tjioe Tjau Liong dari samping.

Kiem Hoa Hujien segera tertawa mendengar ucapan itu.

“Djie Tjungtju sering mengatakan apabila penjagaan di dalam perkampungan kalian sangat ketat, bahkan melebihi dinding besi maupun tembok baja siapa sangka ini hari disiang hari bolong kena dimasuki musuh bahkan mengacau pula di dalam ruangan perjamuan sungguh menakjubkan sekali.”

Tjioe Tjau Liong tidak menggubris terhadap jengekan tersebut sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap keadaan diempat penjuru, tampak suasana amat tenang sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan alisnya sangat berkerut.

Peristiwa yang terjadi ini hari sungguh aneh.

Kiem Hoa Hujien menyapu sekejap keadaan disekeliling tempat itu terlihat olehnya semak yang paling dekat dengan ruangan besar itu berada kurang lebih tiga tombak dari ruang tengah tapi arahnya tidak benar hatinya jadi tergetar keras tapi diluaran ia masih tersenyum merdu.

“Eeeei….kekuatan pergelangan itu sungguh luar biasa dahsyatnya ternyata ia bisa melancarkan senjata rahasia dari sebuah tempat kurang lebih lima tombak dari ruangan.”

Air muka Tjioe Tjau Liong segera berubah jadi merah panas mendadak ia bertepuk tangan tiga kali.

“Dimanakah petugas penjaga halaman?” teriaknya keras-keras.

Dari balik semak sekeliling tempat itu mendadak muncul sepuluh orang lelaki kekar bersenjata tajam lari mendekat.

Tjioe Tjau Liong pertama-tama meloncat dulu turun kebawah kemudian disusul oleh Kiem Hoa Hujien sekalian.

Sewaktu beberapa orang itu tiba diatas permukaan tanah beberapa orang lelaki kekar itupun sudah berdiri berjajar dihadapan mereka.

Melihat gerakan beberapa orang itu sangat cepat, Ih Boen Han To segera berpikir di dalam hatinya, Gerakan beberapa orang ini sungguh cepat sekali jelas kepandaian silat yang mereka miliki sangat luar biasa walaupun sepintas lalu perkampungan ini kelihatan tidak dijaga padahal penjagaan yang diatur sangat ketat sekali jangan dikata musuh susah menyembunyikan diri bahkan tamu perkampunganpun tak akan lolos dari pengawasan mereka yang ketat.”

Tampak beberapa orang lelaki kekar itu bersama-sama menjura.

“Djie Tjungtju memanggil datang kami semua entah ada perintah apa?”

“Apakah kalian menemukan adanya jejak musuh yang menyelundup masuk ke dalam perkampungan Pek Hoa San Tjung kita?”

Mendengar perkataan itu sepuluh orang lelaki kekar tersebut sama-sama berdiri tertegun mereka saling berputar pandangan dan tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Lama sekali baru terdengar salah seorang diantaranya menjawab, “Kami sekalian berjaga dengan serius tak ada seorangpun yang berani teledor tapi benar-benar tak kami temukan jejak musuh yang mendekati tempat ini.”

Tjioe Tjau Liong yang beberapa kali kena sindir Kiem Hoa Hujien saat ini tak dapat menahan hawa gusar dalam dadanya ia segera membentak keras.

“Jikalau tak ada musuh menyelundup masuk apakah senjata rahasia punya sayap yang bisa terbang masuk sendiri ke dalam ruangan?”

Sewaktu mendengar ada senjata rahasia menyambar masuk ke dalam ruangan air muka kesepuluh orang lelaki kekar itu sama-sama berubah hebat.

Selama ini perkampungan dijaga penuh kekuatan belum pernah terjadi peristiwa macam begini barang satu kalipun setelah kejadian ini jelas mereka tak akan luput dari hukuman berat.

Terdengar suara dari Djen Bok Hong pada waktu itu berkumandang datang dari dalam ruangan.

“Djie te tak usah menegur mereka lagi peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan mereka. Lepaskan saja beberapa orang itu.”

Suara tersebut tidak keras tapi dapat berkumandang meluas sehingga setiap orang dapat mendengar sangat jelas.

Selamanya Tjioe Tjau Liong tidak berani membangkang perintah Djen Bok Hong ia segera ulapkan tangannya.

“Kalian pergilah.”

Setelah putar badan ia masuk ke dalam ruangan.

Kesepuluh orang lelaki kekar itu bersama-sama menjura lalu putar badan dan berlalu di dalam sekejap mata mereka telah lenyap dibalik semak-semak disekitar tempat itu.

Siauw Ling yang mengikuti dibelakang Tjioe Tjau Liong berjalan masuk ke dalam ruangan hatinya mulai merasa berdebar pikirnya, “Djen Bok Hong adalah seorang manusia berotak cerdik kepandaian silat yang dimilikipun sangat lihay apakah berhasil mengetahui apabila permainan setan ini adalah hasil perbuatanku?”

Ketika otaknya masih berputar ia telah berada diruangan tengah.

Tampak Djen Bok Hong masih duduk ditempat semula wajahnya tenang sama sekali tidak memperlihatkan sikap kegusaran.

“Maaf, maaf telah mengganggu Tjuwi sekalian” serunya sambil mengangguk dan tertawa.

Kiem Hoa Hujien tertawa cekikikan.

“Wajah Toa Tjungtju tenang sama sekali tak ada perubahan tentunya dalam hatimu sudah punya perhitungan yang matang bukan?”

Djen Bok Hong tidak menjawab pertanyaan perempuan itu sebaliknya malah ia bertanya, “Siauw Samte, sudah tidak nanti untuk buru-buru datang kedesa melihat kedua orang tuanya kitapun tak usah karena peristiwa ini sampai mengganggu waktu pemberangkatannya!”

Diam-diam Siauw Ling merasa hatinya berdebar, sedang diluar sahutnya, “Aaaaah….! perkampungan kita sudah kedatangan musuh, peristiwa ini amat penting sekali. Bagaimann boleh tidak periksa….”

“Sudah tak usah diperiksa lagi” Potong Djen Bok Hong. “Orang yang melepaskan senjata rahasia itu mungkin sudah mengundurkan diri mengejarpun percuma.”

Setelah merandek sejenak katanya lagi, “Silahkan kalian ambil tempat duduk, jangan karena peristiwa itu sampai mengganggu kesenangan kita untuk menikmati arak.”

Piring serta mangkok yang pecah sudah disingkirkan menanti para jago duduk kembali ketempat masing-masing perjamuanpun dilanjutkan.

Siauw Ling yang takut di dalam arak ada racun ia tak berani meneguk lagi tetapi mengikuti jejak Djen Bok Hong ia ikut menyumpit sayur.

“Jikalau dalam sayur inipun kau beri racun maka termasuk kau sendiripun tak akan lolos dari keracunan” pikirnya.

Setelah perjamuan selesai Djen Bok Hong sambil menggandeng tangan Siauw Ling berjalan keluar dari ruangan tengah, melewati semak dan menuju keluar perkampungan.

Tampak sebuah kereta kuda yang amat mentereng dan mewah dengan dihela oleh empat ekor kuda jempolan telah siap diluar perkampungan. Seorang bocah cilik berbaju hijau duduk pegang kemudi ditangan kanannya mencekal cambuk sedang

tangan kirinya mencekal tali les siap berangkat.

Seraya tertawa Djen bok Hong menuding kereta mewah itu, katanya: “Aku serta Djie ko mu masing-masing telah mempersiapkan hadiah untuk kedua orang tuamu. Barang-barang milik Samte, aku sudah perintahkan orang untuk dimasukkan ke dalam kereta. Sedang keempat ekor kuda jempolan ini adalah kuda-kuda pilihan dalam sehari bisa melakukan perjalanan yang amat jauh. Samte kau boleh segera berangkat.”

Dengan pandangan tajam Siauw Ling memperhatikan sibocah berbaju hijau yang duduk pegang kemudi setelah diperhatikan dengan cermat akhirnya ia menemukan bilamana orang itu bukan lain adalah Kiem Lan yang sedang menjura.

Ia segera menjura untuk memberi hormat.

“Toako bisa persiapkan semua barang dengan siauwte mengucapkan terima kasih dan selamat berpisah.”

“Samte, silahkan kau bimbing nona Tong naik ke dalam kereta” ujarnya Djen Bok Hong tiba-tiba seraya berpaling memandang sekejap wajah Tong Sam Kauw.

Mendengar ucapan itu Siauw Ling segera mendongak tampak wajah Tong Sam Kauw tawar sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun selama ini ia membungkam dan tidak tertawa keadaannya sangat berbeda dengan keadaan sewaktu mereka berjumpa untuk pertama kalinya.

Hatinya merasa keheranan tapi ia tidak menanyakan hal tersebut kepada Sang Cungcu dari perkampungan Pek Hoa San cung ini sembari menjura katanya, “Jikalau Nona Teng ada maksud berangkat bersama-sama cayhe silahkan segera naik ke dalam kereta.”

Sinar mata Tong Sam Kauw perlahan-lahan beralih sekejap kewajah Djen Bok Hong kemudian perlahan-lahan naik ke dalam kereta. Setelah Tong Sam Kauw naik ke dalam kereta mendadak Kiem Hoa Hujien berjalan menghampiri Siauw Ling seraya mencekal tangan kanannya kencang-kencang ujarnya sambil tertawa, “Saudara cilik encimu tidak menghantar lebih jauh semoga sepanjang jalan tak menjumpai kesulitan.”

Siauw Lingpun mencekal tangan perempuan itu penuh rasa terima kasih.

“Terima kasih atas perhatian hujien” sahutnya.

Mendadak ia merasa segulung kertas menyelinap masuk ke dalam telapak tangannya buru-buru dia jepit diantara jari-jari tangannya kemudian menjura ke arah Tjioe Tjau Liong.

“Siauwte mohon diri? sampai jumpa lain waktu.”

Ia segera meloncat masuk ke dalam kereta.

Menanti pemuda itu sudah berada di dalam kereta, Kiem Lan yang pegang kemudi segera menggetarkan tali lesnya kereta kuda dengan cepat bergerak maju kedepan.

Dari arah belakang masih terdengar suara Kiem Hoa Hudjien sedang berseru, “Saudara cilik, jikalau kau menginginkan lukisan Giok Sian Tju tersebut lebih baik cepat-cepatlah kembali.”

Siauw Ling berdiri didepan kereta sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, tapi ia tidak menjawab perkataan dari Kiem Hoa Hudjien ini.

Suara roda berdetakan melintasi jalan raja, debu mengepul memenuhi angkasa. Bayangan tubuh Djen Bok Hong serta Kiem Hoa Hudjien sekalian makin lama makin kecil dan akhirnya tak berbekas.

Setelah menyembunyikan kertas ke dalam sakunya Siauw Ling menurunkan horden dan masuk ke dalam ruang kereta.

Tampak olehnya Giok Lan dengan menyaru sebagai lelaki duduk bersila di dalam kereta sinar matanya memandang ketempat kejauhan dengan mendelong agaknya gadis ini sedang memikirkan sesuatu urusan yang maha berat.

Dibelakang kereta terletak dua buah peti besar. Tong Sam Kauw bersandar diatas kereta dengan sepasang mata terpejam agaknya ia sudah tertidur pulas.

Kuda jempolan kereta kencana diiringi pula dengan gadis-gadis cantik, bagi orang-orang biasa keadaan seperti ini tentu merupakan kejadian yang amat menyenangkan.

Tapi bagi Siauw Ling ia mempunyai perasaan yang lain ia merasa ruangan kereta ini penuh diliputi oleh kesedihan serta kemesteriusan, seriap orang

terjerumus dalam pikiran masing-masing.

Akhirnya tak tertahan lagi ia menghela napas.

“Aaaaaai….Giok Lan apa yang sedang kau risaukan?”

Kiranya sejak ia memasuki ruangan kereta hingga detik itu. Giok Lan belum pernah menengok barang sekejappun ke arahnya seperti ia tidak mengetahui apabila ia telah masuk ke dalam kereta.

Setelah mendengar teguran tersebut Giok Lan baru tersadar dari lamunannya perlaban-lahan ia alihkan sinar matanya ke atas wajah Siauw Ling, sapanya penuh mengandung kesedihan dan berperihatin.

“Samya….”

Hanya ucapan itu saja yang meluncur keluar kemudian membungkam kembali.

Siauw Ling tercengang.

“Eeeeeii kenapa kau?” tegurnya. “Sekarang kita sudah meninggalkan perkampungan Pek Hoa San cung. Bila ada perkataan utarakan saja terus terang?”

Giok Lan menggeleng dan tersenyum.

“Budak sangat baik. Tak ada apa-apa yang perlu diucapkan.”

Walaupun ia berusaha keras untuk perlihatkan senyuman yang lebih leluasa, tak urung Siauw Ling berhasil menemukan juga apabila senyuman itu terlalu dipaksakan, sangat mengenaskan.

Melihat dayang itu tidak mau menjawab, Siauw Ling jadi mendongkol, pikirnya, “Baiklah, jikalau kau tidak ingin bicara juga sudahlah, akupun tak akan bertanya lagi.”

Ia lantas pejamkan mata untuk mengatur pernapasan tidak selang beberapa saat kemudian ia berada dalam keadaan lupa segala-galanya.

Menanti ia tersadar kembali dari semedi sang surya sudah lenyap dilangit barat senja haripun telah tiba.

Kereta kuda sudah berhenti Tong Sam Kauw serta Giok Lan tidak kelihatan lagi sedang dipintu kereta cuma Kiem Lan seorang diri.

“Samya kau sudah bangun?” terdengar Kiem Lan menegur dengan suara yang amat lirih.

Siauw Ling mengangguk.

“Dimana mereka?”

“Sudah masuk ke dalam untuk beristirahat Pouw Tjungtju pun telah lama sekali menanti diluar kereta.”

“Pouw Tjungtju? siapakah dia aku tidak kenal.”

Dari luar kereta mendadak terdengar suara gelak tertawa yang sangat nyaring.

“Haaa….haaa cayhe telah menerima tanda perintah Kiem Hoa Hujien dari Toa Tjung tju sengaja datang menyambut kedatangan Sam Tjung tju. Silahkan Sam Tjung tju masuk ke dalam untuk beristirahat perjamuan telah disiapkan.”

Siauw Ling kerutkan alisnya, ia menyingkap horden dan melangkah turun dari dalam kereta.

Tampak seorang kakek tua berusia lima puluh tahunan dengan memakai jubah panjang berwarna biru langit dengan wajah penuh senyuman telah berdiri disisi kereta sikapnya sangat menghormat.

Sewaktu orang itu melihat Siauw Ling menyingkap horden berjalan keluar dari kereta, dengan cepat ia menjura.

“Aaaaah! mana berani merepotkan saudara” buru-buru Siauw Ling balas memberi hormat.

“Perintah Kiem Hoa Leng yang pernah dikirim Toa Tjungcu meminta cayhe menyambut San Cungcu dengan penuh berhati-hati cayhe tidak berani membangkang apabila Sam Cungcu tidak inginkan loolap kena marah, harap kau suka menerimanya dengan senang hati.”

Pengaruh perkampungan Pek Hoa San cung sungguh patut dlipandang ringan diam-diam pikir Siauw Ling di dalam hatinya: “Ternyata dimana-manapun tersebar cabang-cabangnya.”

Ketika ia mendongak tampaklah sebuah bangunan yang tinggi besar berdiri dihadapannya dengan megah pintu bercat merah dengan atap warna hijau.

Seharusnya tempat itu merupakan sebuah bangunan orang kaya.

Orang yang tidak tahu tentu menduga rumah ini adalah tempat tinggal seorang Wan gwee dan tak bakal ada yang tahu apabila tempat itu sebetulnya adalah kantor cabang dari perkampungan Pek Hoa San tjung.

“Sam Tjung tju silahkan” seru si kakek tua itu sembari rangkap tangannya didepan dada.

Dua buah pintu besar terbuka seorang pemuda berbaju hijau yang usianya sekitar dua puluh tahunan dengan membawa sebuah lentera berdiri menanti disana.

Lentera terbuat dari empat penjuru terterai tulisan Pauw yang sangat besar.

Dengan kencang si kakek itu mengikuti dari belakang Siauw Ling sedangkan Kiem Lan berada dipaling belakang.

Setelah ketiga orang itu berlalu beberapa tombak ke dalam ruangan mendadak pintu besar berwarna hitam itu menutup dengan sendirinya.

Sesudah melewati dua buah halaman mereka memasuki sebuah ruangan besar, lampu lilin menerangi seluruh ruangan dimana meja perjamuan telah dipersiapkan.

Sinar mata Siauw Ling berputar keempat penjuru ditemukan dalam ruangan yang sangat luas itu kecuali berdiri dua orang dayang berbaju hijau tak ada tamu terhormat lainnya lagi.

Mendadak si kakek tua itu menyingkir dan berjalan terlebih dahulu didepan Siauw Ling.

“San Cungcu silahkan menduduki kursi utama” serunya sembari menjura.

Di dalam hati pemuda ini tahu sekalipun menampikpun tiada gunanya dengan langkah lebar ia segera ambil tempat duduk dikursi utama.

Menanti Siauw Ling sudah duduk si kakek tua itu baru menjinjing jubah seraya jatuhkan diri berlutut.

“Pouw Tju Wie menghunjuk hormat buat Sam

Tjungtju.”

Melihat segala tingkah laku orang she Pouw ini Siauw Lingpun berpikir, “Kelihatannya di dalam keadaan seperti ini mau tak mau aku harus menjaga kedudukanku yang tinggi.”

Ia segera ulapkan tangannya.

“Tak usah banyak hormat.”

ooooo0ooooo

Setelah bangun berdiri Pouw Tju Wie berkata kembali, “Sam Tjungtju baru saja tiba dari tempat kejauhan. Silahkan mencicipi arak dan sayur!”

Ia sendiri berdiri menanti disamping dengan sikap hormat.

Sayur memenuhi meja dan hanya Siauw Ling

seorang yang duduk dikursi terutama Pouw Tju Wie ternyata tak berani mengiringi disisinya.

“Pouw heng silahkan duduk” akhirnya Siauw Ling mempersilahkan orang itu untuk ikut duduk sembari tertawa hambar.

“Hamba mengucapkan terima kasih.”

Setelah mengucapkan perkataan tersebut ia baru berani duduk mengiringi disisinya.

Kedua orang dayang berbaju hijau segera berjalan menghampiri dengan membawa teko arak untuk memenuhi cawan kedua orang itu.

Sinar mata Siauw Ling berputar sewaktu melihat Kiem Lan tak ada disana hatinya jadi murung.

Tetapi ia belum sempat membuka suara untuk bertanya agaknya Pouw Cu Wie sudah menduga apa yang sedang dipikirkan Siauw Ling di dalam hatinya.

“Ketiga orang nona sudah diterima oleh istri hamba dan kini bersantap diruangan belakang” sahutnya terlebih dahulu.

Perjamuan malam inipun lewat dengan cepatnya dibawah sikap serta pelayanan yang sangat hormat dari Pouw Cu Wie. Walaupun Siauw Ling merasa tidak leluasa dengan sikap yang demikian hormatnya itu tapi ia terima juga dengan hati kesal.

Setelah perjamuan selesai Pouw Cu Wie menghantar sendiri Siauw Ling untuk beristirahat.

Ruangan yang diberikan kepadanya adalah sebuah ruangan yang mungil dan megah dengan kelambu dari sutera. Perabot yang ada disana rata-rata sangat mewah.

Menanti Siauw Ling sudah ambil duduk, dengan penuh rasa hormat Pouw Tju Wie kembali berkata, “Sam tjungtju, kapan kau hendak berangkat?”

“Besok pagi segera berangkat.”

“Dan Sam Tjung tju hendak menggunakan kereta ataukah ingin berganti dengan perahu saja? silahkan Sam Tjungtju turunkan perintah sehingga hamba bisa bikin persiapan.”

“Dari sini pulang kerumah memang paling tepat menunggang perahu” pikir Siauw Ling di dalam hati. “Tapi diatas perahu tersebut tentu ada anak buah yang mereka kirim untuk awasi semua gerak gerikku jauh lebih baik apabila kunaik kereta saja.”

Segera jawabnya, “Lebih baik aku menunggang kereta saja, tidak perlu kau susah-susah untuk repot.”

Pouw Cu Wie mengiakan dengan hormat ia lantas mengundurkan diri.

Sepeninggalnya orang she Pouw itu Siauw Ling memperhatikan sekejap keadaan disekeliling ruangan serta situasi diluar halaman kemudian padamkan lampu lilin dan duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.

Tetapi pikirannya tak bisa tenang berbagai persoalan memenuhi benaknya.

Teringat olehnya akan sikap Giok Lan serta Kiem Lan yang tidak sebagaimana biasanya agaknya didasar hati kedua orang ini telah tersembunyi suatu rahasia yang sangat besar masih ada lagi perubahan sikap Tong Sam Kauw yang menyerupai orang tolol dibalik kesemuanya ini tentu ada hal yang tidak beres.

Ia mengambil keputusan setelah keberangkatannya besok pagi akan berusaha untuk mencari tahu persoalan ini hingga jelas.

Setelah keputusan diambil hatipun perlahan-lahan jadi tenang kembali hawa murni berputar mengitari seluruh tubuh hingga mencapai loteng tingkat kedua belas.

Haruslah diketahui kweekang yang dimilikinya saat ini telah mencapai tarap yang tak terhingga. Setiap kali mengatur pernapasan keadaanya tentu akan berada dalam tidak sadar diri. Jikalau ilmu pernapasannya sedang mencapai saat-saat yang berbahaya asalkan ada orang turun tangan membokong dirinya, sekalipun tidak sampai mati sedikit-dikitnya ia bakal terluka parah.

Entah berapa saat sudah lewat, mendadak suara bentrokan senjata yang amat ramai menyadarkan dirinya dari semedi. Ia membuka mata memandang keluar jendela.

Dibawah sorotan sinar rembulan tampaklah dua sosok bayangan manusia sedang bergebrak dengan ramainya ditempat luaran.

Siauw Ling berseru tertahan ia segera bangun meninggalkan pembaringan dan mendekati jendela.

Sewaktu ia perhatikan dengan telak maka tampaklah Pouw Tju Wie dengan memutar sebilah golok emas bergebrak melawan seorang lelaki bersenjatakan Siang Koat Pit.

Permainan pit dari lelaki itu amat telengas serangannya gencar dan kesemuanya mengancam jalan darah ditubuh Pouw Tju Wie.

Kepandaian silat yang dimiliki Pouw Tju Wiepun tidak lemah golok emas ditangannya berputar mengelilingi seluruh badan meninggalkan serentetan cahaya tajam yang menyilaukan mata kendati serangan-serangan senjata pit yang dilancarkan lelaki itu sangat dahsyatnyapun untuk beberapa saat tak berhasil merebut kemenangan.

Siauw Ling yang melihat kejadian itu diam-diam merasa tercengang pikirnya, “Ruangan yang demikian luasanya ia mana mungkin bisa begitu sepi? jikalau tempat ini adalah kantor cabang perkampungan Pek Hoa San Tjung seharusnya bukan hanya berisikan Pouw Tju Wie seorang kenapa tidak kelihatan adanya orang lain yang turun tangan membantu dirinya?”

Sebelum teka teki ini berhasil dipecahkan situasi pertarungan di dalam kalangan sudah berubah.

Tampak golok emas Pouw Tju Wie telah berubah gerakan dari bertahan kini mulai melancarkan serangan balasan.

Seketika itu juga cahaya golok memancar keempat penjuru kini balik silelaki bersenjata pit itulah yang kena dikurung di dalam cahaya golok.

Siauw Ling yang diam-diam menonton jalannya pertempuran itu, secara tidak sengaja telah menambah pengetahuannya. Ternyata pada permulaan Pouw Tju Wie bergebrak tadi sengaja ia sembunyikan kemampuan yang sebenarnya dengan memiliki posisi bertahan membiarkan silelaki bersenjata pit itu meneter terlebih dahulu disamping memperhatikan kelemahannya yang dimiliki dalam permainan pit lawan. Setelah ia punya pegangan yang kuat barulah mulai melancarkan serangan-serangan balasan.

Perubahan jurus yang amat banyak memaksa silelaki bersenjata pit itu susah menghindarkan diri lagi, ia mulai dipaksa berjingkrak kalang kabut dan keteter mundur terus.

Beberapa kali ia ada maksud melancarkan serangan balasan, tetapi setiap kali ada kemauan sayang tenaga tidak memadai.

Ditengah pertarungan yang amat sengit mendadak terdengar suara dengusan berat memecahkan kesunyian. Cahaya golok bayangan pit tadi bergoyang keras kemudian roboh ke atas tanah.

Tangan kiri Pouw Tju Wie laksana kilat segera melancarkan totokan ke arah orang itu kemudian menyimpan goloknya ke dalam sarung dan menjura ke arah kamar Siauw Ling.

“Hamba tidak becus sehingga membiarkan musuh menyerbu masuk ke dalam kamar Sam Tjungcu dan mengganggu tidur yang nyenyak, hamba mohon maaf sebesar-besarnya.”

Diam-diam Siauw Ling merasa terperanjat juga mendengar ucapan itu, pikirnya, “Kiranya ia tahu kalau aku telah sadar dan secara diam-diam memperhatikan pertarungan yang sedang berlangsung itu….”

Otaknya dengan cepat berputar jawabnya kalem, “Aaaakh….tidak mengapa.”

“Terima kasih atas budi Sam Tjungtju yang luhur.”

Ia angkat badan lelaki bersenjata pit itu kemudian mengundurkan diri dari sana.

Siauw Ling marasa semakin murung beberapa kali ia bermaksud panggil kembali Pouw Tju Wie untuk ditanyai siapakah lelaki bersenjata pit itu dan apa pula maksudnya malam-malam datang kemari? tapi akhirnya ia berhasil menahan diri juga.

Keesokan harinya ketika ia bangun dari tidurnya Pouw Tju Wie telah menanti diluar pintu dua orang dayang berbaju hijau dengan membawa peralatan cuci muka menanti pula disisi kamar.

Menanti Siauw Ling telah selesai cuci muka dan sisir rambut Pouw Tju wie baru melangkah masuk ke dalam seraya menyapa tetapi tak sepatah katapun mengungkap peristiwa kemaren malam.

Siauw Ling yang melibat wajah Pouw Tju wie sangat tenang agaknya telah melupakan peristiwa kemaren malam iapun terpaksa pura-pura memperlihatkan wajah yang hambar.

“Mereka sudah bangun semua?” tanyanya.

“Nona bertiga telah mempersiapkan segala persiapan mereka menanti perintah keberangkatan dari Sam Cungcu.”

“Bagus sekali suruh mereka segera naik ke dalam kereta aku akan berangkat.”

“Di dalam ruangan tengah telah dipersiapkan sarapan pagi untuk Sam Cungcu. Hamba persilahkan Sam Cungcu suka bersantap dulu baru berangkat.”

Sebenarnya Siauw Ling hendak menampik ajakan tersebut tetapi iapun merasa apabila sampai tawaran inipun ditampik maka tindakannya ini akan membuat wajah Pouw Cu Wie kurang enak.

Terpaksa ia ikut masuk ke dalam ruangan untuk bersantap pagi, kemudian melanjutkan perjalanan.

Ini hari Kiem Lan serta Giok Lan masih menyaru sebagai kacung buku dengan pakaian warna hijau. Tong Sam Kauwpun keadaannya seperti sedia kala, setelah naik ke dalam kereta ia selalu bersandar dikereta tidak bercakap maupun bergerak lagaknya mirip baru saja sembuh dari penyakit berat.

Setelah Siauw Ling naik ke dalam kereta, Kiem Lan segera ayunkan cambuknya melarikan kereta mereka untuk melanjutkan perjalanannya.

Terdengar Pouw Cu Wie berteriak ke belakang.

“Hamba menghaturkan selamat buat Sam Tjungtju selama diperjalanan….”

Siauw Ling membungkam ketika itu seluruh benaknya sudah dipenuhi dengan teka teki yang membingungkan hatinya. Ia tidak mengerti apa sebabnya peristiwa yang demikian banyaknya bisa terjadi di dalam ketika yang sama….

Kereta kembali berjalan sejauh tiga li, ketika ia menyingkap horden tampak kereta mulai berjalan memasuki sebuah jalan pegunungan yang sunyi.

Ia mulai ambil keputusan untuk paksa kedua orang dayang serta Tong Sam Kauw untuk menceritakan rahasia yang disembunyikan dalam hati mereka.

Jalanan gunung ini amat sunyi, tak sesosok bayangan manusia yang nampak ketika kereta berjalan dua, tiga li lagi jalanan semakin susah dilewati yang terlihat diempat penjuru hanyalah rumput liar setinggi lutut.

Siauw Ling tiba-tiba menarik tali les kuda sehingga kereta berhenti kepada kedua orang dayang itu ujarnya dingin, “Kiem Lan, Giok Lan kalian turunlah!”

Kedua orang dayang itu mengiakan dan berdiri.

Siauw Ling sentak tali les untuk putar arah kereta mereka, kemudian ujarnya lagi lambat-lambat, “Tempat ini berjarak sangat dekat dengan perkampungan Pek Hoa San cung. Bila kalian ingin kembali keperkampungan nah silahkan segera pulang?”

Mendengar perkataan itu Kiem Lan menghela napas panjang.

“Jikalau budak sekalian telah berbuat salah harap Samya memaki kita saja mengapa Samya hendak paksa budak sekalian untuk kembali kesarang macan….”

“Aku lihat penghidupan kalian yang dialami di dalam perkampungan Pek Hoa San cung sangat gembira, lebih baik kalian kembali saja.”

“Samya” seru Kiem Lan secara tiba-tiba sambil melelahkan air mata. “Apakah kau merasa gusar dengan sikap enci Giok Lan?”

“Aku lihat keadaan kalian sama saja agaknya di dalam hati penuh diliputi oleh persoalan yang memberatkan kalian dan kini aku rasa hanya ada dua jalan yang bisa kalian pilih sesuka hati jalan

pertama adalah kalian segera kembali keperkampungan Pek Hoa San Cung perduli di dalam hatimu ada rahasia apapun aku tak akan banyak pertanyaan.”

“Dan jalan yang kedua?” tanya Kiem Lan seraya mengusap kering air mata yang membasahi wajahnya.

Siauw Ling yang melihat wajah gadis itu merah padam seluruh wajah basah dengan air mata tapi tak berani terisik nangis hatinya lama kelamaan jadi lemas juga sembari menghela napas katanya, “Jalan kedua adalah kalian harus menceritakan kepadaku apa rahasia yang kalian sembunyikan dalam hati. Aku larang menyembunyikan sepatah katapun dan aku tak akan menegur ataupun mendesak kalian lebih lanjut.”

Kiem Lan menghela napas panjang.

“Aaai apabila Samya ingin tahu terpaksa budak harus menceritakan keadaan yang sesungguhnya.”

“Aku larang kalian sembunyikan sepatah katapun jikalau sampai aku tahu kalian sengaja menyembunyikan sepatah kata saja jangan harap aku suka mengampuni diri kalian lagi.”

“Setelah budak mau bercerita sudah tentu tak akan kupikirkan lagi mati hidupku semoga saja Samya selalu sehat-sehat” kata Kiem Lan mengangguk.

“Bukankah aku sangat baik sekali?”

Kiem Lan tertawa sedih.

“Sekalipun Samya tidak bertanya setelah lewat ini haripun akan budak ceritakan kesemuanya ini kepada Samya kau tak dapat memarahi Giok Lan Tjici karena ia sudah dipaksa menelan obat racun Suo Kut Tok Tan….”

“Obat racun?” Siauw Ling kelihatan tertegun.

“Benar Suo Kut Tok Tan adalah sebuah obat

beracun yang punya daya kerja sangat lambat tapi berakibatkan mengerikan setiap orang yang telah menelan obat ini di dalam tujuh hari pertama tak akan kambuh tetapi orang itu sendiri bakal jadi goblok dan bodoh setiap hari berada dalam keadaan mengantuk dan selalu ingin tidur….”

Mendengar perkataan itu seluruh tubuh Siauw Ling tergetar keras ia segera berpaling.

Tampak sepasang mata gadis itu sayu tak bersinar wajahnya jelas kelihatan tanda-tanda keracunan.

Tak kuasa lagi ia menghela napas panjang.

“Aaaah kiranya aku sudah salah menuduh kalian.”

“Samya tidak tahu kejadian sesungguhnya. Sudah tentu tak dapat terhitung salah menuduh.”

“Lalu apakah Tong Sam Kauw pun juga ikut menelan pil beracun pengerut tulang itu?”

“Aku lihat keadaanya tidak berbeda, tapi bagaimana keadaan yang sebetulnya budak tidak berani memastikan peristiwa yang ada di dalam perkampungan Pek Hoa San cung kecuali Toa Cungcu sendiri siapapun tidak tahu perubahan apakah sebenarnya yang telah terjadi tetapi peristiwa enci Giok

Lan menelan pil beracun pengerut tulang itu dapat budak lihat dengan mata kepala sendiri….”

“Apakah Toa Tjungtju yang paksa untuk menelan pil beracun tersebut….?”

“Kecuali Toa Tjungtju apakah enci Giok Lan mau mandah diperintah dan melakukan perkataannya seperti domba?”

Tiba-tiba Siauw Ling teringat akan sesuatu dengan nada keheranan serunya, “Pendengaran Toa Tjung tju sangat tajam daun yang rontok disuatu tempat lima tombak darinya tak akan berhasil mengelabui dirinya, kenapa kau dapat melihat semua kejadian itu tanpa ditemukan olehnya!”

“Ia ada maksud agar budak dapat melihat

kejadian tersebut waktu itu aku berada sama-sama dengan Giok Lan. Toa Tjungtju tiba-tiba mengeluarkan pil beracun pengerut tulang setelah menerangkan daya kerja racun tersebut kemudian diserahkan kepada enci Giok Lan suruh ia menelannya aku lihat enci Giok Lan seraya menahan curahan air mata dengan wajah pura-pura gembira menelan pil beracun tadi.”

“Lalu kenapa ia tidak sekalian hadiahkan sebutir pil juga kepadamu!”

“Aku harus mengurusi tempat tinggal Samya mengemudikan kereta Samya dan melayani segala keperluan, jikalau akupun menelan pil racun sehingga kesadaran hilang bukankah budak tak dapat membantu apapun buat Samya?”

“Pekerjaan yang diserahkan Toa Tjungtju kepadamu apakah hanya ini saja?” tanya Siauw Ling kembali.

“Masih ada yang lain ia minta budak suka menasehati Samya agar cepat-cepat kembali keperkampungan Pek Hoa San cung jikalau Samya tidak suka mendengarkan maka ia perintahkan budak secara diam-diam mencabut nyawa Samya.”

Kontan Siauw Ling tertawa dingin tiada hentinya.

“Perhitungan sie poa dari Toa Tjungtju apakah tidak terlalu sederhana dengan andalkan sedikit kepandaianmu apakah kau kira bisa menandingi aku Siauw Ling?”

“Menyerang secara terang-terangan dapat ditangkis serangan gelap susah dihindari karena Toa Tjungcu melihat kepandaian silat yang dimiliki Samya luar biasa maka ia telah menghadiahkan dua macam barang kepada budak jikalau Samya tidak suka kembali lagi keperkampungan Pek Hoa San cung maka ia perintahkan budak untuk turun tangan membokong.”

“Ehmm….perkataan ini sedikitpun tidak salah” diam-diam Siauw Ling mulai berpikir dalam hatinya: “Sepanjang hari ia selalu mendampingi diriku jika mau turun tangan membokong rasanya memang tak akan kuduga sama sekali.”

Tetapi diluaran ia tetap tertawa hambar.

“Apa yang ia berikan kepadanya?”

Kiem Lan masukan tangannya ke dalam saku untuk merogoh keluar sebuah kotak kecil terbuat dari kumala, sembari dicekal ditangan ujarnya, “Toa Tjungtju beritahu kepada budak, di dalam kotak ini kesemuanya berisikan dua macam benda yang pertama adalah bubuk beracun tak berbau dan tak berwarna dan yang kedua adalah hio racun yang bisa disulut sehingga memabokan. Jikalau Samya tidak suka kembali ke dalam perkampungan Pek Hoa San tjung maka budak diperintahkan untuk meracuni makanan Samya.”

“Hmm! cara ini terlalu kuno tidak perlu diherankan lagi?” sela Siauw Ling dengan nada yang dingin.

“Semisalnya penjagaan Samya terlalu ketat sehingga tidak mungkin turun tangan melalui makanan maka budak diharuskan menyulut hio beracun ini” sambung Kiem Lan lebih lanjut. “Menurut pemberitahuan Toa Tjungtju, hio beracun ini dapat terbakar selama dua belas jam berturut-turut asalkan diletakan dimana jalan yang sering dilalui Samya maka begitu tercium bau itu ini mengartikan diri Samya sudah terjatuh ke dalam cengkeramannya.”

Siauw Ling merasa tercengang dan keheranan sehabis mendengar ucapan tersebut pikirnya dihati, “Sekalipun racun hio luar biasa lihaynya belum tentu bau harum tersebut benar-benar menghilangkan kesadaranku hingga pikiranku bisa dikuasai keseluruhnya hanya mencium sebentar saja aku mungkin ucapannya agak sedikit berlebihan.”

Sekalipun begitu diluaran ia berkata, “Bila ditinjau dari sudut ini agaknya Toa Tjungtju adalah seorang ahli yang pandai menggunakan berbagai macam racun?”

Kiem Lan tidak menjawab hanya secara mendadak pergelangan kanannya menggetar siap membuang kotak kumala tadi ke dalam semak.

“Nanti dulu berikan kotak kumala itu kepadaku” teriak Siauw Ling ketika melihat perbuatan dayang tersebut.

“Toa Tjungtju adalah seorang jagoan yang berwatak licik serta banyak akal aku takut ia biasa hal ini sampai kesini dan mengerti bilamana rahasia ini pasti kubocorkan kepada diri Samya apalagi apa sebenarnya isi kotak kumala ini budak hanya mendengar perkataannya belaka untuk menhindarkan diri dari sesuatu kejadian lebih baik dibuang saja.”

Tetapi Siauw Ling telah menggeleng sembari tersenyum.

“Jangan, jangan dibuang kita periksa dulu apa isi kotak ini.”

Terpaksa Kiem Lan mengangsurkan kotak kumala tadi ketangan pemuda tersebut.

“Samya hati-hati jangan terlalu ceroboh dan waspada terhadap segala bokongan” serunya memberi peringatan.

Siauw Ling mengangguk diam-diam ia salurkan hawa sinkangnya menutup seluruh jalan darah ditubuhnya lalu perlahan-lahan membuka kotak tadi dengan sangat hati-hati.

Seketika itu juga cahaya tajam yang menyilaukan mata berpancaran memenuhi angkasa. Isi kotak kumala tersebut sama sekali bukan bubuk beracun ataupun hio beracun melainkan sebuah mutiara yang luar biasa besar dan indahnya.

Kontan Kiem Lan maupun Siauw Ling dibikin tertegun dan berdiri melongo.

“Samya jangan membiarkan bubuk beracun tersebut beterbangan diluaran” kembali teriak Kiem Lan memberi peringatan.

“Biarlah untuk sementara disimpan di dalam sakuku….”

Ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Kiem Lan lalu tambahnya lagi, “Kiem Lan apa yang harus kita perbuat untuk memunahkan racun ganas yang mengeram dalam tubuh Giok Lan?”

“Menurut apa yang budak ketahui Toa Tjungtju hanya memiliki ilmu silat yang sangat lihay dan ia bukan seorang ahli dalam penggunaan racun-racun berbisa, tetapi seorang sahabat karibnya eeeeh yaaa, orang itu bernama Tok So Yok Ong sangat pandai di dalam penggunaan pelbagai macam racun-racun keji pil Suo Kut Tan yang didapatkan Toa Tjungcu bukan lain adalah hasil kerjanya.”

“Kau pernah berjumpa dengan Tok So Yok Ong?”

“Belum, budak belum pernah menjumpai manusia aneh ini” sahut Kiem Lan sambil menggeleng. “Ia sangat jarang mengunjungi perkampungan Pek Hoa San cung, tetapi budak mengerti jelas apabila orang ini memang benar-benar ada?”

Terhadap diri Tok So Yok Ong yang pernah menotok roboh jalan darahnya dalam kuil bobrok malam itu serta melepaskan darah dari badannya untuk menolong sang gadis yang menderita sakit ia mempunyai gambaran yang lain dari pada yang lain terhadap orang ini.

Ia sangat berharap Kiem Lan bisa menjelaskan bentuk tubuh manusia tersebut kemudian kecocokan dengan apa yang berada dalam benaknya bilamana apa yang diucapkan tidak benar maka ini

membuktikan bila Kiem Lan tidak sungguh-sungguh mau memihak padanya sehingga lain kali dapat bersikap lebih berhati-hati lai menghadapi sepasang dayang ini.

Siapa sangka mereka tidak pernah menjumpai orang aneh itu, ia segera menyentak tali les kuda sembari berkata, “Cepatlah kalian berdua naik ke dalam kereta! aku pikir Toa Cungcu secara diam-diam tentu kirim orang untuk mengawasi semua gerak gerik kita jikalau

kita terlalu lama berdiam disini aku takut pihak mereka akan menaruh curiga.”

“Bilamana dugaan budak tidak salah, maka semua gerak gerik kita sepanjang perjalanan susah untuk meloloskan diri dari pengamatan kaki tangan Toa Cungcu.”

Ia merandek sejenak dia untuk bimbing Giok Lan naik ke dalam kereta lalu sambungnya lebih lanjut, “Tetapi hingga detik ini budak berani memastian Samya tak bakal menerima serangan-serangan bokongan bila budak tinjau dari nada ucapan Toa Tjungtju

agaknya ia masih mengharapkan Sam ya bisa cepat-cepat balik ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung. Jadi budak berani memastikan sebelum Sam ya memberi keputusan suka balik lagi ke dalam perkampungan Pek Hoa San cung atau tidak mereka tidak bakal turun tangan keji terhadap diri Sam ya.”

Siauw Ling ayunkan cambuk untuk membawa keretanya balik kejalan raya. Sedang dimulut ia berkata lambat-lambat, “Satu-satunya urusan yang patut kita murungkan saat ini adalah keadaan dari Giok Lan serta Tong Sam Kauw yang dicekoki racun Suo Kut Tan, tak bisa jadi kita harus membawa serta mereka berdua dalam keadaan demikian parah terutama sekali sewaktu racun yang mengeram ditubuh mereka mulai bekerja.”

“Soal ini sih harap Sam ya suka berlega hati. Toa Tjungtju telah beritahu kepada budak bahwa di dalam tujuh hari ini daya kerja racun yang mengeram dalam tubuh mereka berdua tak akan kumat semisalnya sudah tiba waktunya racun mulai bekerja. Toa Tjungtju akan kirim orang untuk mengantarkan obat pemusnah buat mereka….”

Mendengar ucapan tersebut tiba-tiba sepasang mata Siauw Ling berkilat.

“Kiem Lan, bagaimanakah sikap aku Siauw

Ling terhadap dirimu?” tanyanya lirih.

“Sam ya adalah seorang lelaki sejati yang mengutamakan kebajikan budak merasa sangat kagum?”

“Bagaimanakah perasaanmu selama hidup dilingkungan Pek Hoa San tjung?”

“Walaupun pakaian, makanan lebih dari cukup tapi penghidupan satu hari amat tersiksa bagaikan melewatkan setahun lamanya.”

“Bagus sekali! Setelah aku bawa kalian jauh meninggalkan lingkungan pengaruh perkampungan Pek Hoa San tjung sekarang kalian terbanglah jauh keujung langit! kolong langit bukan selebar daun kelor! pergilah kemana saja yang terasa jauh lebih aman dari tempat ini! mulailah kalian mengatur penghidupan yang haru dan sama sekali lepas dari tempat ini, mulailah kalian mengatur penghidupan yang baru dan sama sekali lepas dari pergolakan Bulim, jadilah rakyat biasa dan carilah pasangan kalian untuk melanjutkan keturunan dalam suasana aman dan damai.”

“Sam ya, sungguh gampang sekali caramu berpikir” seru Kiem Lan sembari tertawa getir. Jikalau urusan bisa berjalan gampang seperti apa yang Samya katakan dari dalam perkampungan Pek Hoa San Tjung sudah banyak saudara-saudara kami yang

melarikan diri dari cengkeraman iblis Toa Tjungtju tetapi aku rasa Samya tak perlu bingung-bingung serta repot karena kami berdua aku serta Giok Lan moay-moay telah menyusun rencana bagaimana jalan yang harus kami tempuh dikemudian hari.”

“Terus terang saja budak beritahu kami kakak beradik walaupun sangat menghormati diri Samya rela berbakti sampai mati tetapi kami adalah sisa-sisa makanan orang lain budak mengerti bila kami berdua tidak berbak untuk menjadi budak Samya tetapi kami mengakui apabila Samya adalah satu-satunya jago lihay satu-satunya orang yang bikin Toa Tjungtju jadi jeri.”

“Kesucian badan kami kakak beradik telah hancur di ditangan Toa Tjung tju walaupun dalam cengkereman iblisnya yang keras kami tidak berani membangkang dan tiada bertenaga untuk melawan tapi hati kami sangat membenci dirinya saking bencinya ingin sekali kami dahar dagingnya meneguk darahnya kami rela mendapat makian maupun teguran dari Samya rasa hormat kami tak bakal musnah kesemuanya ini bukan disebabkan kami kagum akan ketampanan wajah Samya kami kagum gembira dengan sifat Samya yang gagah. Jikalau Samya mengijinkan ingin sekali kami sumbang tenaga kami untuk membantu diri Samya dalam menyelesaikan segala cita?”

Pada mulanya Siauw Ling bermaksud setelah

membawa ketiga orang itu keluar dari lingkungan pengaruh perkampungan Pek Hoa San tjung lantas membiarkan mereka ambil jalan sendiri-sendiri.

Tetapi setelah mendengar ucapan dari Kiem Lan ini jalan pikirannya berubah.

Benar juga perkataannya setelah Siauw Ling ada maksud menolong mereka. “Mengapa harus membiarkan mereka sengsara ditengah jalan? sekalipun aku ada maksud suruh mereka pergi sendiripun harus bebaskan dulu racun yang mengeram dalam tubuhnya. Baru kemudian mereka suruh pergi….”

0 Response to "Bayangan Berdarah Jilid 02"

Post a Comment