Sepasang Garuda Putih Jilid 29

Mode Malam
Akan tetapi sikap mengalah dari Bagus Seto ini merugikan dirinya sendiri dan dengan sendirinya gerakan tongkat Wasi Shiwamurti menjadi semakin ganas sehingga Bagus Seto terdesak hebat.

Tiba-tiba saja Shiwamurti mengeluarkan suara gerengan panjang. Suara itu mengandung getaran yang demikian kuat sehingga menggetarkan jantung mereka yang menonton dan mereka cepat mengerahkan tenaga batin untuk menahan jantung mereka dari guncangan yang akan mendatangkan luka dalam.

Akan tetapi, bersamaan dengan getaran hebat itu, gerakan tongkat sang wasi menjadi semakin hebat pula. Ujung tongkatnya tergetar-getar menjadi banyak dan ujung tongkat itu menyerang secara bertubi-tubi ke arah tubuh Bagus Seto.

Menghadapi serangan dahsyat dan ganas ini, tiba-tiba tubuh Bagus Seto mumbul ke atas. Tongkat itu mengejarnya pada saat tubuh pemuda itu masih berada di atas, akan tetapi sungguh hebat. Tubuh itu dapat mengelak seolah burung yang sedang terbang saja, atau tubuh itu seolah telah menjadi asap atau uap. Inilah aji kesaktian yang disebut Mego Gemulung, yang membuat tubuh Bagus Seto laksana awan mendung yang berarak di angkasa, serangan tongkat yang bertubi-tubi tidak pernah dapat menyentuhnya. Dengan sedikit elakan saja semua serangan itu luput dan kadang-kadang ujung tongkat dikebut kain pengikat rambut sehingga menyeleweng tusukannya. Tubuh Bagus seto bergerak-gerak di udara seperti seekor kupu-kupu!

Pada saat itu pula terdengar suara gemuruh dan dari jauh tampak datang ratusan orang prajurit Blambangan. Hal ini memang telah diatur sebelumnya oleh Wasi Shiwamurti. Setelah tadi melihat bahwa pihaknya kalah tiga dua melawan pihak Retno Wilis, sebelum dia sendiri maju sebagai jago terakhir, dia telah membisiki Senopati Kurdolangit untuk mendatangkan bala bantuan pasukan untuk mengepung dan menangkap enam orang itu.

Melihat datangnya begitu banyak prajurit dan melihat pula betapa belasan orang prajurit yang berada di situ mulai mengepung mereka, pihak Retno Wilis menjadi terkejut sekali. Juga Bagus Seto melihat ini maka dia melayang turun. Pada waktu tongkat kepala naga menyambar ke arahnya, dia menangkis dengan kain pengikat kepala yang melibat tongkat itu sehingga tongkat itu tidak mampu digerakkan lagi.

Bagus Seto menyimpan bunga cempaka dan ketika itu Wasi Shiwamurti menghantamnya dengan tangan kiri yang terbuka. Pukulan ini dahsyat sekali mengandung hawa sakti yang amat kuat. Melihat ini Bagus Seto juga mendorongkan telapak tangan kirinya menyambut.

"Blarrrr...!"

Dua tenaga sakti yang luar biasa dahsyatnya bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Wasi Shiwamurti terhuyung ke belakang dan tongkatnya terlepas dari libatan kain pengikat kepala yang dipegang Bagus Seto.

Pada saat itu Endang Patibroto yang melihat datangnya pasukan, cepat berteriak kepada putera puterinya.

"Bagus! Retno! Cepat lari...! Mereka curang, mendatangkan pasukan. Lari!"

Retno Wilis menyambar pergelangan tangan kiri Jayawijaya dan mengajaknya lari dari tempat itu. Harjadenta dan Jarot juga melihat bahaya, maka merekapun melompat dan merobohkan prajurit yang berani menghalangi mereka, lalu melarikan diri.

Endang Patibroto menggerakkan kaki tangannya dan empat orang prajurit pengepung berpelantingan dan tidak ada lagi yang berani menghalangi wanita ini lari. Demikian pula Retno Wilis. Biar pun sebelah tangannya ia menarik tangan Jayawijaya, namun dengan kaki dan tangan kirinya ia merobohkan dua orang prajurit lalu berlari cepat sambil menarik Jayawijaya. Bagus Seto sendiri juga melompat dan lari paling belakang untuk melindungi yang lari di depannya.

Pasukan itu telah datang dan dua orang senopati, Rajah Beling dan Kurdolangit, segera mengerahkan mereka untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi Wasi Shiwamurti dan para pembantunya tidak melakukan pengejaran.

Sebetulnya saat para pembantu itu melihat Wasi Shiwamurti tidak melakukan pengejaran, mereka pun tidak berani mengejar sebab mereka merasa jeri terhadap Endang Patibroto, Retno Wilis, dan terutama Bagus Seto.

Wasi Shiwamurti sendiri tidak melakukan pengejaran karena merasa malu kalau harus ikut mengeroyok. Diapun maklum dari pertemuan tenaganya dengan tenaga Bagus Seto tadi bahwa dia tidak akan menang melawan pemuda luar biasa itu.

Enam orang itu melarikan diri dengan cepat sekali sehingga pengejaran pasukan Blambangan itu menjadi sia-sia. Mereka tertinggal jauh sekali. Setelah tiba di luar batas Blambangan, baru mereka berhenti berlari. Endang Patibroto lalu berkata kepada kedua orang putera putrinya.

”Bagus Seto dan kau Retno Wilis, aku telah mendengar bahwa kalian sudah melakukan penyelidikan ke Nusabarung dan sekarang juga berada di daerah Blambangan. Kita semua sudah tahu belaka bahwa Blambangan dan Nusabarung telah mengadakan persiapan untuk memberontak terhadap Jenggala. Selain itu juga mereka mendatangkan pendeta-pendeta dari Cola yang menyebarkan agama sesat kepada rakyat jelata dengan paksaan. Semua ini sudah cukup untuk dijadikan laporan kepada Sang Prabu di Panjalu. Oleh karena itu, mari kita pulang ke Panjalu melapor kepada ayah kalian."

"Kanjeng Ibu, saya menduga bahwa setelah mendengar laporan ini, Panjalu dan Jenggala tentu akan mengirim pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan. Akan terjadi perang dan kalau sudah begitu, saya tidak suka terlibat dalam perang."

"Aku juga tidak suka ikut berperang," kata Retno Wilis dan pernyataan puterinya ini mengherankan hati Endang Patibroto.

Biasanya, puterinya ini adalah seorang yang suka berperang dan merobohkan sebanyak mungkin musuh. Sekarang ia menyatakan tidak suka ikut berperang. Ia tahu bahwa tentu puterinya sedikit banyak telah terpengaruh kakaknya yang biar pun amat sakti namun tidak suka akan kekerasan.

"Urusan perang adalah urusan ayah kalian. Kalian tidak perlu mencampuri. Akan tetapi keadaan di Nusabarung dan Blambangan harus dilaporkan karena kalau dibiarkan saja, dapat membahayakan Panjalu dan Jenggala. Marilah kita pulang dan melaporkan kepada ayah kalian agar ayah kalian dapat melapor kepada Sang Prabu dan dapat diambil tindakan terhadap Nusabarung dan Blambangan sebelum terlambat," kata Endang Patibroto.

Retno Wilis menoleh dan memandang kepada Bagus Seto seolah hendak minta keputusan dari kakaknya itu. Bagus Seto mengangguk dan berkata kepada adiknya,

"Diajeng, sudah semestinya kalau kita menuruti kata-kata kanjeng ibu dan kembali ke Panjalu menghadap kanjeng romo."

"Kalau begitu, marilah kita segera pergi sebelum mereka mengejar sampai di sini Anakmas Jayawijaya, anakmas Harjadenta, dan anakmas Jarot, kami bertiga hendak kembali ke Panjalu. Andika bertiga hendak ke mana?"

"Saya akan pulang ke kadipaten Pasisiran, melapor kepada kanjeng romo agar mengadakan persiapan dan kalau tiba saatnya kami akan membantu gerakan pasukan Panjalu dan Jenggala," kata jarot. "Setelah Nusabarung dan Blambangan dapat ditundukkan, barulah saya akan pergi ke Panjalu dan mengunjungi keluarga kanjeng bibi."

"Baik sekali anakmas Jarot. Bantuan dari Pasisiran tentu akan sangat berguna bagi kami. Dan Andika, anakmas Harjadenta?"

Harjadenta memandang kepada Retno Wilis.

"Sayapun ingin sekali berkunjung ke Panjalu menyambung persahabatan saya dengan kakangmas Bagus Seto dan diajeng Retno Wilis, akan tetapi tentu saja saya akan menunggu sampai akhirnya perang terhadap Nusabarung dan Blambangan yang memberontak. Sekarang saya akan pulang dulu ke Gunung Raung menghadap Eyang Empu Gandawijaya."

"Baiklah, kami tunggu kunjunganmu kelak, anakmas Harjadenta. Dan bagaimana dengan andika, anakmas Jayawijaya?"

Jayawijaya memandang kepada Retno Wilis. Rasanya berat untuk berpisah dari gadis itu, akan tetapi dia tersenyum dan memberi hormat kepada Endang Patibroto dan berkata,

"Kanjeng Bibi Endang Patibroto, saya telah mendapat kehormatan besar sekali dapat berkenalan dengan kanjeng bibi sekeluarga. Sekarang saya akan kembali ke Pegunungan Tengger menceritakan pengalaman saya kepada kanjeng room dan setelah keadaan damai saya akan mengajak kanjeng romo untuk berkunjung kepada kanjeng bibi sekeluarga."

"Jangan lupa aku selalu menunggu kunjunganmu, kakang Jaya," kata Retno tanpa malu-malu karena ucapannya ini sedikit banyak membuka rahasia hatinya terhadap pemuda itu.

Jarot mengerutkan alisnya dan memandang kepada Jayawijaya, akan tetapi Harjadenta menundukkan mukanya. Pemuda ini pernah menyatakan cintanya kepada Retno Wilis namun ditolak dengan halus oleh gadis itu dan diapun tahu diri, tidak berani lagi mengharapkan dara perkasa itu untuk menjadi jodohnya.

"Mari kita berpencar dan pergi dari sini sekarang juga, jangan sampai keburu mereka yang mengejar kita sampai di sini!" kata Endang Patibroto dan setelah saling memberi salam perpisahan, mereka semua meninggalkan tempat itu, mengambil jalan masing-masing.

Ki Patih Tejolaksono, Patih Anom dari Panjalu, menyambut kembalinya isteri, putera dan puterinya dengan gembira. Apa lagi melihat perubahan pada sikap Retno Wilis, dia menjadi gembira sekali. Kalau dulu Retno Wilis bersikap dingin, kini ia berubah menjadi seorang puteri yang hangat dan ramah, penuh hormat kepada ayah bundanya. Sifat keliarannya menghilang dan Ki Patih Tejolaksono mengerti bahwa ini berkat bimbingan Bagus Seto, puteranya yang luar biasa itu. Menghadapi puteranya sendiri ini, Ki Patih Tejolaksono merasa seolah menghadapi seorang yang tingkatannya lebih tinggi sehingga menimbulkan rasa hormat dan kagum dalam hatinya.

Dengan penuh perhatian Ki Patih Tejolaksono mendengarkan Endang Patibroto dan Retno Wilis yang menceritakan pengalaman mereka. Dia mengerutkan alisnya ketika mendengar akan keadaan di Nusabarung dan Blambangan, apalagi tentang cara cara para tokoh dari Cola menyebarkan agama sesat itu.

"Hemm, berita ini penting sekali! Perlu segera kulaporkan kepada Sang Prabu. Memang telah diketahui bahwa Nusabarung dan Blambangan tampaknya menyusun kekuatan dan hendak memberontak, akan tetapi baru sekarang aku tahu bahwa mereka itu bersekutu dan ada usaha melemahkan Panjalu dan Jenggala. Sekarang juga aku harus menghadap Sang Prabu untuk memberi laporan tentang hasil perjalanan dan penyelidikan kalian,"

Hari itu juga Ki Patih Tejolaksono pergi menghadap dan diterima oleh Sang Prabu Sri Jayawarshe Digdaya Shastraprabu. Persidangan itu lengkap dihadiri para pembantu Sang Prabu, di antaranya Senopati Sepuh Suryoyudo dan yang lain-lain. Dengan suara yang tenang dan lancar, Ki Patih Tejolaksono melaporkan apa yang didengarnya dari isteri dan anak-anaknya, tentang hasil penyelidikan mereka.

Laporan tentang persiapan perang yang dilakukan kadipaten Nusabarung dan Blambangan tidak mengejutkan karena semua orang sudah mendengar mengenai hal itu. Akan tetapi keterangan bahwa Nusabarung dan Blambangan didukung oleh Bali-dwipa, dan bahwa ada usaha dari kedua kadipaten itu untuk menimbulkan pertentangan di antara rakyat Jenggala dengan menyebar agama baru yang sesat, mengejutkan Sang Prabu dan para hulabalangnya.

"Kanjeng Gusti, dengan seijin paduka, perkenankan hamba sekarang juga memimpin pasukan untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan, juga membasmi para penyebar agama sesat itu!" terdengar Ki Patih Suryoyudo dengan suara lantang.

Patih yang usianya sudah tujuh puluhan tahun ini memang masih gagah dan penuh semangat. Sang Prabu menoleh kepadanya dan berkata dengan lembut.

"Paman Patih Suryoyudo, kami tidak ragu akan kemampuan andika. Akan tetapi andika sudah tua dan sebaiknya menemani kami di istana dan menjaga ketenteraman dalam kotaraja. Mengenai penalukan Nusabarung dan Blambangan, juga pembasmian para penyebar agama sesat itu, kami serahkan kepada Ki Patih Tejolaksono."

"Sendiko dawuh paduka, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Suryoyudo dengan patuh.

Dia patuh dan tidak kecewa karena diapun maklum bahwa patih anom itu memiliki kesaktian yang bahkan melebihi kesaktiannya sendiri dan diapun tidak ragu bahwa kalau Ki patih Tejolaksono yang maju memimpin pasukan, Nusabarung dan Blambangan pasti akan dapat ditundukkan.

"Hamba siap melaksanakan perintah paduka, Kanjeng Gusti," kata Ki Patih Tejolaksono sambil menghaturkan sembah.

"Kakang Patih Tejolaksono, buatlah persiapan dengan membawa pasukan secukupnya, kemudian berangkatlah segera ke Nusabarung dan Blambangan. Bujuk kedua adipati itu untuk menakluk dan datang menghadap. Kalau mereka menolak, beri hajaran kepada mereka, taklukkan mereka dengan kekuatan. Jangan lupa, cari biangkeladi penyebaran agama sesat itu dan basmi mereka."

"Sendiko dawuh paduka, Kanjeng Gusti. Hamba mohon doa restu."

"Kami bekali puja pangestu yang berlimpah, Kakang Patih."

"Terima kasih, Gusti."

Persidangan dibubarkan dan Ki Patih Tejolaksono segera pulang ke gedungnya untuk memberi-tahu kedua isterinya, Endang Patibroto dan Ayu Candra, dan kedua orang anaknya. Keluarga ini lalu berkumpul untuk membicarakan tugas yang oleh Sang Prabu diberikan kepada Ki Patih Tejolaksono. Setelah dia menceritakan hasil laporannya kepada Sang Prabu dan tentang tugas yang harus dipikulnya, Endang Patibroto lalu berkata,

"Aku akan menemanimu kakangmas. Aku akan membantumu menaklukkan kedua kadipaten itu dan menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu." Ucapan Endang Patibroto itu diucapkan penuh semangat.

Ayu Candra yang lemah lembut itu pun berkata halus, "Aku pun ingin ikut membantumu dan diajeng Endang Patibroto, kakang mas."

"Jangan kalian berdua pergi semua, lalu siapa yang akan berjaga di kepatihan ini?" kata Ki Patih Tejolaksono. "Diajeng Ayu Chandra, lebih baik andika berjaga di rumah saja. Biarlah diajeng Endang Patibroto ikut, sekalian menjadi petunjuk jalan karena ia sudah menyelidiki ke Nusabarung dan Blambangan."

"Apa yang dikatakan kakangmas itu betul, mbakayu. Engkau menjaga rumah karena keamanan di kepatihan juga amat penting. Biarlah aku yang pergi membantu suami kita, juga Retno Wilis dan Bagus Seto membantu ayah mereka."

"Kanjeng ibu, saya tidak ingin melibatkan diri dalam perang," kata Bagus Seto dengan lembut.

"Sayapun tidak mau ikut berperang di mana saya harus membunuh banyak orang," kata pula Retno Wilis.

"Kalian berdua tidak perlu ikut berperang. Akan tetapi para wasi dari Cola itu amat sakti. Kalau kalian berdua tidak membantu, ayah kalian dan aku tentu akan kewalahan menghadapi mereka," kata Endang Pa tibroto.

"Bagus Seto dan Retno Wilis," kata Ki Patih Tejolaksono dengan tenang, "kalian tentu ingat bahwa kehidupan ini baru ada manfaatnya kalau kita melaksanakan kewajiban-kewajiban dalam kehidupan ini. Hidup berarti melaksanakan kewajiban-kewajiban itu. Kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu, kewajiban sebagai seorang suami atau-isteri, sebagai anak, sebagai sahabat, sebagai bawahan, sebagai atasan, sebagai kawula. Mempertahankan negara termasuk kewajiban suci dari seorang kawula. Lalu apa artinya menjadi kawula Negara kalau tidak mau membela negara? Membunuh orang berdasarkan kebencian dan permusuhan pribadi memang tidak baik dan tidak benar, anak-anakku. Akan tetapi membunuh musuh dalam perang merupakan tugas kewajiban seorang kawula yang membela negaranya, bebas dari pada rasa benci perorangan. Nah, sebagai kawula Panjalu, kalian juga berkewajiban untuk membela negara."

"Sudahlah," Endang Patibroto berkata, "Kalau kedua orang anak kita ini tidak mau terlibat perang, terserah kepada mereka. Akan tetapi mereka harus membantu dalam menghadapi para wasi penyebar agama sesat itu, kecuali kalau mereka rela melihat rakyat dipaksa memeluk agama sesat dan kalau mereka tega melihat ayah ibunya menghadapi para wasi yang sakti mandraguna itu tanpa membantu."

"Kakang, kita harus membantu ayah menghadapi mereka!" Retno Wilis berkata sambil memegang tangan Bagus Seto dan mengguncangnya.

Bagus Seto tersenyum dan mengangguk. "Baiklah dan kita lihat saja. Jika memang amat diperlukan, kita akan turun tangan membantu."

Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto merasa girang sekali. Hati suami isteri ini menjadi besar melihat kedua orang anak mereka yang boleh diandalkan itu mau ikut. Ayu Chandra yang tadi merasa tidak enak melihat Bagus Seto tidak mau ikut, kini lega juga hatinya mendengar kesanggupan Bagus Seto.

"Aku merasa ikut girang kalau engkau mau ikut, anakku. Semoga Sang Hyang Widhi memberi kekuatan kepadamu untuk menanggulangi semua rintangan yang dihadapi ayah dan ibumu."

Demikianlah, Ki Patih Tejolaksono membuat persiapan, memilih pasukan istimewa dan keesokan harinya, berangkatlah pasukan itu dipimpin Ki Tejolaksono yang diiringkan isterinya Endang Patibroto dan kedua orang anaknya, Bagus Seto dan Retno Wilis. Mereka bertiga menunggang kuda dan di sepanjang jalan mereka dielu-elukan rakyat jelata yang memandang kagum kepada empat orang itu yang tampak gagah perkasa.

Ki Patih Tejolaksono yang berusia lima puluh dua tahun menunggang kuda pancal panggung yang berkaki putih, masih tampak muda dan gagah perkasa. Di pinggangnya terselip sebatang keris pusaka pemberian Sang Prabu.

Di sisinya, Endang Patibroto menunggang seekor kuda hitam, sudah berusia lima puluh tahun akan tetapi masih tampak cantik dan anggun, dengan sebatang keris terselip di pinggangnya, gagah perkasa seperti Woro Srikandi.

Pasangan yang sudah amat dikenal rakyat ini mendatangkan rasa kagum di hati penonton yang mengelu-elukan mereka. Di belakang pasangan ini, juga menunggang seekor kuda coklat, tampak Bagus Seto yang berpakaian serba putih, lemah lembut dengan sinar matanya yang penuh kesabaran, gerak geriknya halus, seperti Raden Arjuna yang tidak tampak gagah perkasa melainkan lembut namun di balik kelembutan itu terkandung kekuatan yang maha dahsyat yang membuat orang memandang dengan hati tunduk.

Di sampingnya, duduk di atas seekor kuda berbulu putih adalah Retno Wilis yang menjadi pusat perhatian penonton. Seorang gadis yang juga berpakaian serba putih dari sutera, cantik jelita dan gagah perkasa, dengan sebatang pedang di punggungnya, bertubuh sempurna dengan lekuk lengkung yang menggairahkan. Sinom yang melingkar-lingkar di dahinya bergerak-gerak tertiup angin, alisnya yang hitam melengkung dan matanya seperti bintang kejora. Mulutnya tersenyum dan lesung pipit di sebelah kiri mulutnya menambah kemanisannya.

Hati para pria muda yang memandang menjadi terpesona oleh kecantikan dan keanggunan yang amat menawan itu. Sepasang orang muda yang berpakaian serba putih itu benar-benar membuat hati mereka yang menonton berdebar penuh kebanggaan dan kekaguman. Bangga karena mereka adalah putera puteri Ki Patih Tejolaksono yang telah lama menjadi kebanggaan mereka.

Lima losin barisan pengawal menunggang kuda di depan, diikuti oleh Sang Patih dan isteri serta dua orang puteranya dan di belakang mereka berbaris pasukan berkuda, lalu diikuti pasukan pejalan kaki. Jumlah mereka tidak kurang dari selaksa orang.

Sesuai dengan perintah Sang Prabu di Panjalu, Ki Patih Tejolaksono membawa pasukannya singgah di Kerajaan Jenggala. Pasukan berhenti di luar kadipaten, dan Ki Patih Tejolaksono, diikuti Endang Patibroto, Retno Wilis dan Bagus Seto memasuki kadipaten menghadap Sri Samarotsoha Karnakeshana Dharmawangsa Kirtisinga Jayantaka Tungga Dewa, raja di Jenggala yang dahulunya bernama Pangeran Sigit dan pernah menjadi teman seperjuangan Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto. Bahkan Setyaningsih yang kini menjadi permaisuri Raja Jenggala adalah saudara kandung Endang Patibroto. Maka kedatangan keluarga Ki Patih Tejolaksono ini disambut dengan gembira dan meriah oleh keluarga Raja Jenggala.

Tentu saja Sang Prabu Jenggala sudah mendengar akan gerakan pasukan yang dilakukan Panjalu untuk menundukkan Nusabarung dan Blambangan dan untuk itu diapun sudah menyiapkan pasukan sebanyak duaribu orang untuk diikut sertakan dan membantu pasukan Panjalu. Bantuan ini dengan senang hati diterima oleh Ki Patih Tejolaksono.

Tidak lama mereka singgah di Jenggala dan pada hari itu juga, pasukan diberangkat kan menuju ke timur. Kini jumlahnya bertambah menjadi dua belas ribu orang. Jauh sebelum mereka tiba di pesisir yang menjadi tapal batas kadipaten Nusabarung, pihak Nusabarung sudah mendengar lebih dulu dari para telik sandi mereka dan sudah membuat persiapan untuk melakukan perlawanan. Bahkan mereka telah mendapat bala bantuan dari Blambangan sebanyak seribu orang prajurit sehingga jumlah mereka semua ada enam ribu prajurit. Sebagian besar para prajurit itu berjaga di sekitar pantai Nusabarung dan sebagian lagi menjaga di luar kadipaten yang berada di tengah-tengah pulau.

Ki Patih Tejolaksono menghentikan pasukannya di pantai Laut Kidul, membuat perkemahan di situ. Lalu semua alat pembuatan perahu yang telah dipersiapkan lebih dulu dikeluarkan dan sibuklah para ahli pembuat perahu bekerja siang malam membuat perahu. Karena banyaknya orang yang bekerja, dan alat-alat sudah lengkap juga di situ banyak pohon-pohon yang dapat ditebang dan kayunya dibuat papan perahu, maka dalam waktu dua pekan saja selesailah sudah ratusan buah perahu yang akan menyeberangkan pasukan itu ke Nusabarung. Pasukan itu telah membawa selain perlengkapan pembuatan perahu, juga tukang-tukang perahu yang ahli melayarkan perahu-perahu itu menyeberang lautan.

Akan tetapi pelayaran menuju Nusabarung itu tidak mudah karena di tengah Lautan mereka dihadang banyak perahu dari para prajurit Nusabarung sehingga terjadi pertempuran di tengah lautan. Perang anak panah terjadi dan setelah perahu-perahu saling mendekat, terjadilah perang campuh di atas perahu. Ahli-ahli berlayar dari Panjalu dan Jenggala mengemudikan perahu dengan sibuk dan hati-hati ketika perahu-perahu itu bertabrakan dan di atas perahu terjadi pertempuran seru.

Akan tetapi karena jumlah prajurit kalah banyak, dan kalah dalam hal ketangkasan bertempur, pasukan Nusabarung mundur dan melarikan diri dengan sisa perahu-perahu mereka ke pulau, lalu membentuk barisan di pantai pulau itu menanti datangnya perahu-perahu musuh.

Setelah pasukan Panjalu dan Jenggala mendarat, terjadilah pertempuran di darat, di pantai pulau Nusabarung. Dalam pertempuran itu, Ki Patih Tejolaksono dan Endang Patibroto melihat betapa di bagian kiri para prajurit mereka menjadi kacau dan banyak yang berpelantingan, tidak kuat menghadapi amukan lima orang yang rata-rata bertubuh tinggi besar dan mereka ini mengamuk dengan golok mereka. Bahkan dua orang senopati dari Jenggaia yang menjaga bagian itu kabarnya sudah roboh pula. Mendengar ini, Endang Patibroto lalu meloncat dan berlari ke bagian itu, diikuti oleh suaminya.

Adapun Bagus Seto dan Retno Wilis hanya menonton dari tempat tinggi, tidak mencampuri perang itu. Akan tetapi kalau ada prajurit musuh yang datang menyerbu, mereka hanya merobohkan mereka dengan tamparan dan tendangan yang cukup mengusir mereka menjauh dengan gentar dan tidak membunuh mereka.

Ketika Endang Patibroto dan Ki Patih Tejolaksono tiba di tempat pertempuran bagian sayap kiri itu, tampaklah oleh mereka lima orang senopati tinggi besar. Mereka itu bukan lain adalah Senopati Wisokolo, Senopati Wisangnogo, Senopati Krendomolo, Senopati Damarpati, dan Senopati Surodiro, lima orang senopati jagoan dari Nusabarung yang terkenal digdaya.

Sepak terjang lima orang senopati jagoan Nusabarung ini sudah hebat, merobohkan banyak prajurit Panjalu, akan tetapi di bagian lain, ada lagi seorang kakek yang mengamuk lebih hebat lagi. Dia seorang kakek berusia enam puluhan tahun, berpakaian serba kuning, rambutnya gimbal akan tetapi dihias tusuk sanggul terbuat dari emas permata, matanya lebar hidungnya pesek dan mulutnya selalu menyeringai. Hebatnya, bukan saja tangan kakinya yang mengamuk dengan tongkat ularnya, juga mulutnya mengeluarkan bentakan-bentakan dan para prajurit yang terkena bentakan itu berpelantingan seperti terdorong tenaga yang dahsyat!

Endang Patibroto marah sekali melihat kakek ini karena ia mengenalnya sebagai Wasi Surengpati. Kalau dahulu Wasi Surengpati berpakaian butut, kini biar pun pakaiannya masih dekil namun dia memakai banyak perhiasan yang mewah! Hal ini karena dia sekarang telah menjadi penasihat Nusabarung.

"Kakangmas, hajarlah lima senopati dari Nusabarung itu, aku akan menghadapi kakek itu!" kata Endang Patibroto kepada suaminya,

"Hati-hati diajeng. Kakek itu kelihatan sakti, biar aku saja yang menghadapinya!" kata Tejolaksono khawatir.

"Jangan Khawatir, kakangmas. Aku pernah melawannya dan aku mampu mengatasinya. Lima orang senopati itu pun digdaya, harap kakangmas waspada," kata Endang Pati broto yang segera berlari menghampiri tempat di mana Wasi Surengpati mengamuk.

"Wasi Surengpati, sekali ini engkau tidak akan terlepas dari tanganku!" bentak Endang Patibroto, sambil melompat dan tiba di depan kakek yang sedang mengamuk itu.

Melihat tiba-tiba muncul wanita yang ditakuti itu, wajah Wasi Surengpati menjadi pucat lalu merah sekali karena dia sudah menjadi marah. Untuk melarikan diri sudah tidak sempat lagi, maka diapun membentak.

"Endang Patibroto, engkaulah yang akan mampus di tanganku!" Dan diapun segera menerjang sambil mengeluarkan pekik yang dapat menggetarkan jantung lawan.

Akan tetapi, Endang Patibroto sudah mengerahkan kekuatan batinnya dan ia mengelak dari sambaran tongkat ular, lalu mencabut kerisnya dan membalas dengan serangan kerisnya yang berada di tangan kanannya. Tusukan itu cepat dan kuat sekali. Wasi Surengpati terkejut dan mengelak sambil memukulkan tongkatnya untuk menangkis. Endang Patibroto menarik kembali kerisnya dan tiba-tiba tangan kirinya menyambar ke depan dengan aji pukulan Pethit Nogo yang amat ampuh.

"Wuuuuuuttt... desss!"

Wasi Surengpati sudah mencoba untuk menangkis pukulan itu, akan tetapi tangkisannya terpental dan dadanya terkena sambaran pukulan yang amat ampuh itu sehingga dia terjengkang dan terbanting ke atas tanah. Dia cepat melompat bangun, tetapi Endang Patibroto yang menggunakan gerakan dengan ilmu Bayutantra, membuat tubuhnya dapat mengejar dengan cepat dan sebuah pukulan dengan Aji Gelap Musti menyambar ke arah kepala Wasi Surengpati. Sang wasi cepat miringkan kepala untuk mengelak dan pukulan itu mengenai pundaknya.

Namun, hebat sekali pukulan Aji Gelap Musti itu. Tubuh Wasi Surengpati terpelanting keras dan bergulingan, tiba di dekat para prajurit Panjalu. Para prajurit yang melihat musuh yang sakti ini bergulingan di dekat kaki mereka, segera menghujamkan senjata mereka. Sang wasi yang sudah terkena pukulan dua kali dengan hebatnya, tidak lagi mampu mengerahkan ilmu kekebalannya dan tubuhnya hancur lebur di bawah hujan senjata para prajurit itu. Tewaslah dia dalam keadaan tubuh hancur.

Sementara itu, Tejolaksono menerjang lima orang senopati yang segera terdesak ke belakang. Amukan Tejolaksono dengan aji Bajra Dahono amatlah dahsyatnya. Kedua tangannya seolah mengeluarkan api panas dan lima orang ini terhuyung ke belakang. Dengan gerakan Bayu Sakti, Tejolaksono dapat bergerak secepat angin dan selagi lima orang itu belum pulih keadaan mereka, Tejolaksono sudah menerjang dengan amukan Aji Dirodometo. Seperti seekor gajah mengamuk kaki tangannya bergerak dan lima orang itu satu demi satu berpelantingan dan segera dikeroyok oleh para prajurit Panjalu. Lima orang senopati itu pun tewas semua di bawah hujan senjata.

Setelah lima orang senopati dan Wasi Surengpati tewas, para prajurit Nusabarung yang kehilangan pimpinan menjadi kacau balau dan kalang kabut, tunjang palang melari kan diri ke tengah pulau! Mereka bergabung dengan pasukan yang berjaga di luar kadipaten.

Terjadi lagi pertempuran hebat, akan tetapi karena kalah dalam jumlah dan kekuatan, apalagi mereka tidak lagi mempunyai pimpinan yang tangguh, pasukan Nusabarung tidak kuat menahan serangan para prajurit Panjalu dan Jenggala dan akhirnya para prajurit dapat membobolkan gapura Nusabarung dan dipimpin oleh Tejolaksono dan Endang Patibroto, pasukan pengawal memasuki kadipaten!

Di tengah ruangan kadipaten mereka mendapatkan Adipati Martimpang berikut tujuh orang puterinya dan semua isteri dan selirnya berkumpul. Sang Adipati sudah kehilangan kewibawaannya dan menundukkan mukanya ketika Tejolaksono memasuki ruangan itu bersama Endang Patibroto dan dua orang putera puteri mereka mengikuti dari belakang.

Dyah Candramanik, puteri sulung sang Adipati Martimpang ketika melihat Retno Wilis ikut masuk ke ruangan itu, memandang dengan mata berapi. Dara jelita ini masih merasa sakit hati karena dulu pernah ditipu oleh Retno Wilis yang menyamar sebagai Joko Wilis sehingga ia jatuh cinta kepada "pemuda" itu.

"Adipati Martimpang, pasukanmu telah hancur, apakah sekarang andika sudah rnenakluk kepada Kerajaan Jenggala?" tanya Ki Patih Tejolaksono dengan tegas namun cukup hormat.

Adipati Martimpang mengangkat muka, bertemu pandang dengan Tejolaksono dan menarik napas panjang.

"Kami sudah kalah, terserah apa yang akan andika lakukan, Ki Patih."

"Untuk sementara, andika sekeluarga menjadi tawanan di sini dan kadipaten Nusabarung akan diawasi oleh para wakil dari Jenggala. Setelah kami nanti kembali ke kerajaan Panjalu dan Jenggala, andika sekeluarga akan menjadi tawanan dan kami bawa ke Jenggala."

Adipati Martimpang yang sudah merasa kalah hanya mengangguk dan dia bersama keluarganya lalu digiring ke pedalaman kadipaten dan ditawan dalam kamar masing masing dan dijaga oleh para prajurit Jenggala.

Ki Patih Tejolaksono lalu memanggil semua perwira Jenggala dan memerintahkan kepada mereka dan sisa duaribu pasukan mereka untuk menguasai dan menjaga Nusabarung. Dia sendiri bersama pasukan Panjalu yang tadinya sebanyak selaksa orang akan melanjutkan ekspidisinya ke Blambangan. Hanya tiga hari pasukan itu dibiarkan beristirahat di Nusabarung dan pada hari ke empat pasukan itu menyeberang ke daratan lalu melanjutkan perjalanan menuju ke barat, ke Blambangan.

Akan tetapi belum lama mereka bergerak, dari depan menghadang pasukan yang berjumlah lebih kurang limaratus orang. Pasukan ini dipimpin oleh Sang Adipati Kertajaya, yaitu adipati dari Pasisiran, bersama puteranya, Jarot. Ternyata pasukan ini siap membantu gerakan pasukan dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Ki Patih Tejolaksono menerima mereka dengan senang hati, bahkan menganjurkan agar Jarot saja yang memimpin limaratus pasukan dari Pasisiran itu untuk membantu sedangkan Adipati Kertajaya menjaga ketenteraman di Pasisiran.

"Tidak baik kalau andika sekalian ikut pergi karena kadipaten Pasisiran akan menjadi kosong dari pimpinan," kata pula Endang Patibroto. "Kami rasa anakmas Jarot sudah cukup untuk membantu kami."

Adipati Kertajaya akhirnya menurut dan membiarkan puteranya seorang diri memimpin lima ratus orang pasukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Pasukan itu melanjutkan perjalanan mereka dan kembali di tengah perjalanan mereka dihadang dua pasukan yang terdiri dari masing-masing seratus orang. Mereka itu bukan lain adalah Ki Haryosakti dan Bajramusti, dua orang sakti yang menjadi pimpinan Jambuko Cemeng dan ketua Bala Cucut, dua orang yang pernah ditalukkan oleh Retno Wilis dan Bagus Seto dan kepada dua orang kakak beradik ini mereka sudah berjanji untuk kelak membantu Panjalu.

Setelah mendengar bahwa pasukan Panjalu dan Jenggala sudah mengadakan ekspidisi ke timur dan sudah menaklukkan Nusabarung, kini sedang menuju ke Blambangan. Mereka lalu membawa anak buah masing-masing dan menghadang di tengah perjalanan. Retno Wilis lalu memperkenalkan mereka kepada ayah ibunya.

"Paman ini adalah Ki Haryosakti, ketua dari Jambuko Cemeng yang sudah berjanji kepada kakangmas Bagus Seto dan aku untuk membantu Panjalu. Dan yang ini adalah paman Bajramusti, ketua Bala Cucut yang juga berjanji membantu pasukan Panjalu," demikian Retno Wilis melaporkan kepada ayahnya.

Tejolaksono mengangguk senang dan menerima mereka dengan baik, menempatkan mereka di tengah pasukannya. Hal ini menunjukkan bahwa Ki Patih Tejolaksono adalah seorang panglima yang berpengalaman. Biar pun sudah diperkenalkan oleh puterinya, namun dia tidak kekurangan kewaspadaan dan menempatkan dua kepala gerombolan itu di tengah-tengah pasukannya sehingga mereka tidak akan dapat berkhianat kalau terjadi perang melawan pasukan Blambangan. Kalau ditaruh di depan, mereka akan dapat berbalik membantu Blambangan dan kalau ditempatkan di belakang, mereka juga dapat membokong dan menyerang dari belakang untuk membantu Blambangan. Akan tetapi kalau mereka ditaruh di tengah mereka tidak berdaya dan mau tidak mau harus membantu pasukan Panjalu!

Tentu saja pihak Blambangan sudah mendengar akan jatuhnya Nusabarung ke tangan pasukan dari Panjalu dan Jenggala, bahkan pasukan yang mereka perbantukan ke Nusabarung juga sudah melarikan diri pulang, meninggalkan kawan-kawan yang gugur, akan tetapi membawa pula banyak pasukan yang melarikan diri. Kini mereka bergabung dengan pasukan Blambangan dan melakukan penjagaan di perbatasan Blambangan, dipimpin sendiri oleh Senopati Kurdolangit dan senopati Rajah Beling, dibantu para senopati lainnya termasuk Raden Kalinggo, putera Senopati Rajah Beling yang tinggi besar dan brewokan itu.

Raden Kalinggo ini dulu pernah ikut sayembara untuk memperebutkan Dyah Candramanik puteri Adipati Martimpang dari Nusabarung, namun dia dikalahkan oleh Joko Wilis. Jumlah pasukan Blambangan ditambah sisa pasukan Nusabarung tidak kurang dari delapan ribu orang. Begitu pasukan Panjalu muncul, mereka segera diserbu oleh pasukan Blambangan yang masih segar, berbeda dengan keadaan pasukan Panjalu yang baru tiba dari perjalanan yang cukup melelahkan.

Namun pasukan Panjalu melawan dengan gigih. Amukan Senopati Kurdolangit segera dibendung dan dihadapi oleh Ki Bajramusti ketua Bala Cucut yang diperintahkan Ki Patih Tejolaksono untuk maju. Hal ini dinasihatkan oleh Retno Wilis yang sudah maklum akan kesaktian ketua Bala Cucut ini. Adapun amukan Rajah Beling dihadapi oleh Ki Haryosakti yang juga maju atas anjuran Retno Wilis. Ketika Raden Kalinggo maju, maka yang menghadapinya adalah Jarot!

Terjadilah perang pupuh yang amat seru. Tepat sekali perhitungan Retno Wilis yang mengajukan jago-jagonya. Senopati Kurdolangit memang sakti. Senopati yang tinggi kurus ini memainkan pedangnya dengan tangkas dan kuat. Namun yang menandingi adalah Ki Bajramusti yang memegang golok besar. Selain ilmu silat yang tangguh, juga Ki Bajramusti memiliki kekuatan sihir yang cukup hebat.

Setelah bertempur dengan serunya, Ki Bajramusti berulang kali mengeluarkan pekik yang amat dahsyat, dan pekik ini yang mengguncangkan jantung Senopati Kurdolangit dan membuat permainan pedangnya menjadi kacau. Pada saat dia terlengah, golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar dan mengenai pahanya, membuat tubuh Senopati Kurdolangit terpelanting roboh. Golok besar di tangan Ki Bajramusti menyambar ganas dan putuslah leher Senopati Kurdolangit, disambut sorak sorai para prajurit atau anak buah Bala Cucut yang mendukung ketua mereka.

Senopati Rajah Beling mendengar sorak sorai itu dan segera dia mengetahui bahwa rekannya, Senopati Kurdolangit telah roboh dan tewas. Hal ini tentu saja membuat hatinya menjadi gentar. Akan tetapi tak ada jalan lain baginya kecuali mengamuk dengan tombak cagaknya.

Lawannya, Ki Haryosakti juga bersenjata tombak sehingga ramailah pertandingan di antara mereka. Akan tetapi setelah Senopati Rajah Beling mendengar akan tewasnya Senopati Kurdolangit, hatinya yang gentar membuat permainan tombaknya menjadi kacau.

"Haiiittt...!" Dia mencoba untuk mengeluarkan gertakan dan tombak cagaknya menyambar ke arah perut Ki Haryosakti.

"Tranggg...!"

Tombak Ki Haryosakti menangkis, akan tetapi ujung tombak itu terjepit di antara cagak tombak di tangan Senopati Rajahbeling. Mereka bersitegang mengadu kekuatan karena tombak mereka sudah saling jepit. Dan dalam adu tenaga ini Senopati Rajahbeling masih kalah setingkat. Tombak Ki Haryosakti mendorong maju dan tanpa dapat dielakkan lagi oleh lawan, tombaknya menusuk ke arah dada lawan.

"Creppp... auhhh...!"


Tubuh Senopati Rajahbeling terjengkang dan dia tewas seketika karena jantungnya tertembus ujung tombak Ki Haryosakti.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 29"

Post a Comment