Sepasang Garuda Putih Jilid 28

Mode Malam
Kembali mereka bertanding lagi. Jarot membalas pula dengan tusukan-tusukan, diselingi dengan tamparan tangan kirinya dan tendangan kakinya. Tapi semua serangannya dapat dihindarkan oleh lawan dengan elakan mau pun tangkisan, bahkan sang wasi membalas dengan tidak kalah hebat dan gencarnya, membuat Jarot kadang terdesak dan mundur.

Sebetulnya dari Bhagawan Dewondaru Jarot sudah menerima gemblengan yang hebat, mempelajari aji-aji kesaktian yang ampuh. Akan tetapi dia masih muda dan masih kurang pengalaman, jarang mempergunakan kesaktiannya untuk bertanding. Oleh karena itu, kini menghadapi seorang tokoh wasi yang berilmu tinggi dan banyak sekali pengalamannya, tentu saja dia mulai terdesak.

Ketika dia mundur-mundur terdesak dan keris lawan berkelebatan seperti tangan maut mencari mangsa, Jarot menarik tubuh atas ke belakang. Setelah keris meluncur lewat, tubuh atasnya condong lagi ke depan dan dia melancarkan pukulan yang dahsyat ke arah dada lawannya.

Akan tetapi agaknya ini yang dinanti-nanti oleh Wasi Karangwolo. Tadi sudah beberapa kali mereka mengadu tenaga lewat keris mereka dan sang wasi maklum bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih menang sedikit. Maka dia mengharapkan untuk dapat mengadu tenaga sakti melalui pukulan tangan kiri. Ketika melihat Jarot memukulnya dengan telapak tangan dan jari-jarinya terbuka, dia pun cepat menyambut dengan telapak tangan kirinya pula sambil menggeser kaki hingga kedua tangan kiri itu dengan tepat bertemu di udara.

"Dessss...!”

Hebat bukan main pertemuan kedua tangan yang didorong oleh tenaga sakti itu.

Wasi Karangwolo sudah mengerahkan seluruh tenaganya, maka ketika benturan dahsyat terjadi, tubuh Jarot melayang ke belakang seperti daun kering tertiup angin dan dia jatuh terpelanting! Biar pun dia tidak terluka parah, tetapi dia menjadi pucat dan napasnya agak terengah. Endang Patibroto sudah meloncat dan menyambar pundaknya, membantunya bangkit berdiri.

"Engkau tidak apa-apa, anakmas Jarot?" tanya wanita perkasa itu.

Jarot menggeleng kepalanya dan menghela napas. "Tidak apa-apa, kanjeng bibi. Maafkan bahwa saya telah kalah."

"Ha-ha-ha-ha, jagomu yang kedua sudah mengaku kalah, Retno Wilis. Kedudukan kita sekarang menjadi dua satu untuk kemenangan pihak kami!" Wasi Shiwamurti tertawa dan mengejek.

Endang Patibroto menjadi marah sekali dan ia telah melompat ke depan Wasi Shiwamurti sambil membusungkan dadanya

"Akulah jago ke tiga dari pihak kami, wasi siluman. Hayo siapa yang berani melawan aku!" bentak Endang Patibroto, sikapnya amat gagah perkasa, menimbulkan rasa gentar di hati musuh. Terutama sekali Wasi Karangwolo yang tadi menangkan pertandingan melawan Jarot, dia merasa jerih karena dia pernah bertanding dengan wanita perkasa ini dan harus diakuinya bahwa dia tidak mampu menandingi Endang Patibroto.

Di pihak Blambangan, Ni Dewi Durgomala langsung membuat perhitungan yang cerdik. Ia sudah pernah bertanding melawan Retno Wilis dan harus diakuinya bahwa ia tak mampu mengalahkan dara perkasa itu. Juga ia tahu Bahwa Bagus Seto adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian hebat sekali. Jelas ia tidak akan mampu mengalahkan Retno Wilis ataupun Bagus Seto. Maka kini melihat Endang Patibroto maju, ia memilih wanita itu sebagai lawannya. Biarlah Retno Wilis dan Bagus Seto nanti dihadapi oleh Ki Shiwananda dan Wasi Shiwamurti!

Dengan ringannya ia meloncat ke depan menghadapi Endang Patibroto sambil mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebatang kebutan. Tampaknya saja hanya kebutan, tapi benda itu adalah senjata yang sangat ampuh dan berbahaya. Setiap ujung bulu kebutan itu mengandung racun yang berbahaya sekali dan Ni Dewi Durgomala dapat memainkan kebutan itu dengan dahsyatnya.

"Endang Patibroto, akulah lawanmu, sudah lama aku mendengar akan namamu, hendak kulihat apakah itu hanya nama kosong belaka! Aku adalah Ni Dewi Durgomala dari Negeri Cola."

Endang Patibroto tersenyum mengejek dan menatap wajah Ni Dewi Durgomala dengan sinar mata tajam menusuk.

"Hemm, andika tentu perempuan yang menganggap diri nya penitisan Sang Batari Durgo! Akan tetapi sayang, yang kau warisi itu sama sekali bukan kekuasaan dan kebaikannya, melainkan sifat-sifat buruknya sehingga engkau menjadi seorang yang keji dan jahat. Oleh karena itu sudah menjadi kewajibanku untuk membasmi seorang manusia iblis macam andika ini!"

Wajah Ni Dewi Durgomala menjadi merah, kemudian pucat dan merah kembali, matanya melotot sampai seperti akan meloncat keluar dari rongga matanya ketika ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Endang Patibroto.

"Keparat engkau Endang Patibroto! Berani kau menghinaku seperti itu! Aku bersumpah untuk membunuhmu, memenggal kepalamu, mencabik-cabik dadamu dan mengeluarkan jantungmu!" Kebutan itu diputar-putarnya di atas kepalanya sehingga terdengar bunyi bersuitan.

"Tahan dulu...!" Tiba-tiba terdengar seruan kemudian Jayawijaya berlari ke arah Endang Patibroto, tangannya membawa sebatang kayu yang panjangnya sekitar satu meter dan besarnya seibu-jari kaki. "Kanjeng Bibi Endang Patibroto, ini namanya tidak adil sama sekali! Lawanmu memegang senjata sedangkan bibi tidak membawa senjata apapun. Kalau kanjeng bibi tidak membawa senjata, maka pergunakanlah sepotong kayu ini untuk senjata!" Setelah berkata demikian dia mengulurkan tangannya menyerahkan sebatang kayu itu kepada Endang Patibroto. Endang Patibroto tersenyum dan menerima sepotong kayu itu.

"Terima kasih, anak-mas Jayawijaya dan berdirilah engkau menjauh di sana."

Jayawijaya kembali ke tempat dia berdiri semula. Endang Patibroto menggerak-gerakkan sepotong kayu itu dan terasa enak di tangannya. Sebagai seorang sakti, benda apapun kalau berada di tangannya dapat menjadi senjata dan memegang sepotong kayu itu ia merasa seperti memegang sebatang pedang! Biar pun ia tidak gentar menghadapi kebutan Ni Dewi Durgomala dengan tangan kosong saja, akan tetapi menghadapi senjata beracun memang lebih baik kalau ia menggunakan sepotong kayu itu.

"Durgomala, mari kerahkan seluruh tenagamu dan keluarkan semua ilmumu! Aku sudah siap untuk menandingi dan menghajarmu!" kata Endang Patibroto sambil memalangkan sepotong kayu itu di depan dadanya.

Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali itu berteriak, "Endang Patibroto, engkau mampus di tanganku!" Dan secepat kilat dia pun menggerakkan kebutannya melakukan serangan yang dahsyat.

Kebutan itu berputaran di atas kepala, lalu menukik dan menyambar ke arah kepala Endang Patibroto, didahului angin pukulan yang menderu. Tapi sikap dan gerakan Endang Patibroto tenang dan mantap sekali. Ia mengelak dengan melangkahkan kaki kanan ke kanan dan menggeser kedudukannya hingga kebutan itu hanya mengenai tempat kosong saja.

Namun dengan menggerakkan pergelangan tangannya, Ni Dewi Durgomala telah dapat membuat kebutannya itu menyambar balik dan kini berubah menjadi kaku seperti baja dan kebutan yang sudah menjadi kaku itu menusuk ke arah dada Endang Patibroto seperti sebatang pedang!

Endang tidak menjadi terkejut melihat betapa bulu-bulu kebutan yang lemas itu kini berubah menjadi kaku seperti kawat baja dan dengan masih tenang namun tangkas ia menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis tusukan itu.

"Trakk...!" Kebutan yang menjadi kaku itu terpental ketika bertemu tongkat dan Ni Dewi Durgomala merasa betapa tangannya yang memegang gagang kebutan menjadi tergetar hebat. Diam-diam ia terkejut setengah mati. Kiranya wanita yang kondang saktinya ini benar-benar memiliki tenaga sakti yang amat kuat!

Ni Dewi Durgomala menjadi penasaran sekali dan ia mengeluarkan suara melengking panjang, lalu kebutannya bergerak cepat, berubah menjadi sinar bergulung-gulung ketika ia menyerang secara bertubi-tubi. Tapi Endang Patibroto berkelebatan cepat dan kadang ia lenyap dari pandang mata lawannya.

Ni Dewi Durgomala menjadi terkejut sekali. Itulah Aji Bayu Tantra dari Endang Patibroto yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali dan gerakannya cepat seperti kilat. Biar pun Ni Dewi Durgomala mengejar dan menyerang bayangan yang berkelebatan itu, namun kebutannya tidak pernah dapat menyentuh tubuh Endang Patibroto!

Karena penasaran Ni Dewi Durgomala menambah serangan kebutannya dengan pukulan-pukulan tangan kirinya. Tangan kiri ne nek ini berbahaya sekali karena setiap kuku jarinya mengandung racun yang amat berbahaya. Ia bukan hanya memukul dan menampar, akan tetapi juga mencengkeram.

"Yaaaaaaattttttt...!" Ni Durgomala berkali-kali mengeluarkan teriakan melengking.

"Haiiiiiitttt...!" Endang Patibroto juga berteriak-teriak melengking dan tiba-tiba mulut wanita perkasa ini mengeluarkan pekik yang dahsyat sekali dan tiba-tiba mendengar pekik ini, tubuh Ni Dewi Durgomala menjadi gemetar dan jantungnya terguncang.

Itulah pekik yang disebut Aji Sardulo Bairawa yang memiliki pengaruh seperti auman seekor harimau yang dapat membuat calon korbannya menjadi lemas. Dalam keadaan seperti itu, tangan kiri Endang Patibroto menyambar ke arah kepala lawan dan pukulan tangan kosong itu adalah aji yang teramat ampuh, yaitu Aji Pethit Naga!

Angin yang kencang menyambar panas ke muka Ni Dewi Durgomala. Wanita ini maklum bahwa pukulan itu amat ampuh maka ia melempar tubuh ke belakang lalu bergulingan di atas tanah! Ketika Endang Patibroto mengejarnya untuk menyusulkan serangan, Ni Dewi Durgomala melompat bangun dan mengelebatkan kebutannya untuk memukul ke arah muka lawan.

"Hemm...!" Endang Patibroto menggerakkan tongkat kayunya untuk menangkis.

"Plakk!" Bulu-bulu itu membelit tongkat seperti seekor ular!

Endang Patibroto mencoba untuk menarik tongkatnya, tapi tertahan oleh libatan kebutan yang melilit amat kuatnya. Dengan marah Endang Patibroto mencuatkan kaki kirinya menendang ke arah tangan kanan lawan yang memegang kebutan

Melihat tendangan kilat ini, Ni Dewi Durgomala terpaksa melepaskan lilitan kebutannya. Begitu terbebas dari lilitan, Endang Patibroto mengamuk. Tongkat kayunya menyambar-nyambar dengan ganasnya dan biar pun Ni Dewi Durgomala berusaha mengelak dan menangkis, tetap saja tongkat kayu itu beberapa kali mengenai tubuhnya dengan bertubi-tubi.

"Plak! Plak! Plak!" Tongkat itu melecut ke berbagai penjuru dan selalu mengenai tubuh Ni Dewi Durgomala.

Robek-robeklah baju nenek itu dan biar pun tongkat itu tidak mendatangkan luka parah, tetapi kulit tubuhnya menjadi matang biru dan berbilur-bilur, nyeri dan pedih! Ia mundur-mundur terus sambil dikejar oleh Endang Patibroto yang agaknya ingin memukuli lawan sampai mati! Terpaksa Ni Dewi Durgomala lari melompat ke belakang Wasi Shiwamurti dan pendeta ini cepat menggerakkan tongkatnya yang berkepala naga untuk menangkis sambaran tongkat kayu di tangan Endang Patibroto.

"Takkk!" Tongkat di tangan Endang Patibroto terpental. Akan Tetapi wanita perkasa itu tidak takut dan ia menghadapi Wasi Shiwamurti dengan penuh tantangan.

"Andika hendak membelanya? Majulah sekalian!" bentak Endang Patibroto. Akan tetapi Retno Wilis sudah melompat dan menyentuh lengan ibunya.

"Kanjeng Ibu, persilakan mundur. Ibu sudah menang dalam pertandingan tadi!" katanya.

Baru sadarlah Endang Patibroto bahwa ia bertanding untuk mencari kemenangan di pihak puterinya, bukan untuk berkelahi mati-matian. Ia lalu mundur.

"Nah, Wasi Shiwamurti. Kini pihakku menang dalam pertandingan ke tiga!" kata Retno Wilis dengan girang.

"Hemm, keadaan kita baru dua lawan dua, Retno Wilis. Kami masih belum kalah dan masih ada dua pertandingan lagi. Ki Shiwananda, majulah sebagai jago ke empat!" katanya kepada Ki Shiwananda yang bertubuh tinggi besar dan tampak gagah dan kuat sekali.

Ki Shiwananda lalu melangkah lebar ke depan. Tangan kanannya meraih ke belakang punggung dan dia sudah melolos senjatanya yang hebat, yaitu sebuah ruyung besar bergigi. Dahsyat dan mengerikan tampaknya senjata ini, kuat keras dan berat. Hanya orang yang bertenaga gajah saja mampu memainkan ruyung seberat itu. Retno Wilis mendekati Bagus Seto dan ia berkata,

"Kakang Bagus Seto, yang ini akan kuhadapi. Engkau menghadapi jago mereka yang terakhir yang tentu adalah Wasi Shiwamurti sendiri."

Bagus Seto mengangguk. "Berhati-hatilah, Retno. Lawanmu ini bertenaga gajah. Akan tetapi engkau dapat mengatasinya kalau mempergunakan kecepatan gerakanmu," kata Bagus Seto dengan tenang. Kemudian dia memandang ke arah Jayawijaya dan merasa heran mengapa pemuda itu tenang-tenang dan diam-diam saja, tidak mengajukan diri untuk menjadi jago.

Endang Patibroto berkata pada puterinya, "Retno Wilis, engkau harus dapat mengalahkan raksasa itu. Jangan beri ampun, hajar saja dan kalau perlu binasakan dia!"

Retno Wilis tersenyum kepada ibunya. Dulu ia bahkan lebih ganas dan galak dari pada ibunya. Akan tetapi setelah melakukan perjalanan bersama Bagus Seto, ia sudah banyak berubah. Tidak haus darah seperti dulu lagi. Apa lagi setelah ia bertemu dan berkenalan dengan Jayawijaya. Dengan sikap tenang ia lalu menghadapi Ki Shiwananda yang memegang ruyung dan yang memandang dengan sepasang matanya yang besar.

"Ki Shiwananda, akulah yang menjadi lawanmu!" kata Retno Wilis.

Ki Shiwananda adalah seorang laki-laki yang terlalu mengandalkan kekuatan sendiri dan memandang rendah orang lain. Juga dia seorang mata keranjang dan entah sudah berapa ratus atau ribu wanita yang menjadi permainannya ketika para wanita itu terjatuh ke dalam cengkeramannya melalui sihir.

Akan tetapi selama hidupnya belum pernah dia mendapatkan seorang wanita seperti Retno Wilis yang selain cantik jelita juga gagah perkasa dan sakti mandraguna. Dia mengamati Retno Wilis dari kepala sampai ke kaki, lalu berkata dengan suaranya yang berat dan besar.

"Hemm, Retno Wilis. Lebih baik kalau kita berdamai saja. Eman-eman ayumu kalau engkau bertanding denganku dan sampai terluka atau lecet-lecet kulitmu yang halus dan putih mulus tanpa cacat itu. Lebih baik engkau menjadi isteriku dari pada menjadi musuhku!"

Retno Wilis tersenyum. Tidak terpancing kemarahannya karena ia maklum bahwa ucapan itu bukan hanya dikeluarkan karena Ki Shiwananda seorang yang mata keranjang, akan tetapi juga merupakan siasat sebelum bertanding untuk membuatnya marah. Kemarahan dapat mengurangi kewaspadaan dan inilah yang dikehendaki Ki Shiwananda. Maka ia tidak menjadi marah bahkan tersenyum dan begitu tangannya meraih ke belakang, ia sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan. Itulah pedang pusaka Sapudenta!

"Ki Shiwananda, tidak perlu banyak membuka mulutmu yang lebar dan berbau bangkai itu. Mari tandingi aku kalau engkau memang memiliki kepandaian!" tantang Retno Wilis.

"Keparat, tidak dapat dieman! Kalau begitu aku akan membunuhmu! Tubuhmu akan kulumatkan dengan ruyung ini. Haiiiiittt...!"

Raksasa itu menerjang, ruyungnya menyambar dahsyat sampai mengeluarkan bunyi mengaung saking kerasnya. Retno Wilis mengelak, bergerak seperti seekor burung srikatan sehingga sambaran ruyung hanya mengenai angin belaka. Sambil mengelak ke kiri, Retno Wilis menggerakkan pedangnya, menusuk ke arah perut yang gendut itu. Namun, Ki Shiwananda juga cukup tangkas. Dia sudah memutar ruyungnya dan kini senjata itu menangkis pedang yang menusuk perutnya.

"Trangggg...!" Bunga api berpijar ketika ruyung bertemu pedang, dan Retno Wilis merasa betapa tangannya yang memegang pedang tergetar hebat. Ia harus mengakui kebenaran peringatan kakaknya tadi bahwa lawannya ini memiliki tenaga gajah!

Pada saat itu, ruyung kembali menyambar ke arah kepala Retno Wilis. Ruyung yang mengerikan itu kalau mengenai kepala, tentu akan melumatkan kepala itu. Akan tetapi kembali senjata itu hanya mengenai tempat kosong karena Retno Wilis sudah mengelak dan merendahkan diri sehingga ruyung lewat di atas kepalanya. Menggunakan kecepatan gerakannya, dengan tubuh agak merendah Retno Wilis sudah menyerang ke arah kedua kaki lawan dengan pedangnya.

Dibabat pedang secara bertubi-tubi ke arah kedua kakinya itu membuat Ki Shiwananda menjadi kerepotan. Dia meloncat-loncat ke belakang, kemudian setelah ia memutar ruyungnya melindungi kedua kakinya, barulah desakan Retno Wilis dapat dihentikan.

Pertandingan berlangsung seru dan mati-matian. Karena Ki Shiwananda mengandalkan kebesaran tenaganya dan Retno Wilis mengandalkan kecepatannya, maka pertandingan berjalan amat seru, lebih menegangkan daripada pertandingan-pertandingan sebelumnya. Ki Shiwananda mengeluarkan semua ilmu dan mengerahkan seluruh tenaganya. Namun, tidak pernah ruyungnya dapat menyentuh tubuh lawan, bahkan sebaliknya pedang Retno Wilis yang bergerak sangat cepat itu kadang-kadang membuatnya kewalahan untuk mengelak dan menangkis.

"Terimalah Aji Kaladahana!" Tiba-tiba Ki Shiwananda memekik dan tubuhnya merendah dengan kedua lutut ditekuk, dan tangan kirinya dengan jari tangan terbuka mendorong ke depan, mulutnya ternganga mengeluarkan hawa. Dari tangan yang didorongkan itu keluar uap dan telapak tangannya berubah kemerahan seperti mengandung api. Uap yang menyambar ke arah Retno Wilis itu membawa hawa yang panas sekali.

Maklum bahwa lawan menggunakan ilmu pukulan jarak jauh mengandalkan tenaga sakti, Retno Wilis tidak kehilangan akal. Iapun merendahkan tubuhnya dan mendorongkan tangan kirinya, untuk menyambut serangan lawan. Itulah Aji Wisolangking. Gelombang hawa yang dingin menyambar ke depan dan ketika dua tenaga sakti itu bertumbuk di udara, keduanya terdorong mundur sampai dua langkah! Akan tetapi gerakan Retno Wilis memang cepat sekali. Begitu ia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, tubuhnya sudah melesat ke depan dan pedangnya menyambar-nyambar dengan amat ganasnya!

Ki Shiwananda terkejut. Bukan saja ajinya Kaladahana dapat dipunahkan lawan, akan tetapi terutama sekali serangan dara itu membuatnya repot. Dia berusaha untuk menangkis dan mengadu senjata karena dia menang kuat dalam adu tenaga kasar. Akan tetapi Retno Wilis tidak memberi kesempatan dia mengadu tenaga. Pedang itu mengelak setiap kali ditangkis dan sudah menusuk lagi atau membacok dengan cepatnya. Didesak demikian, Ki Shiwananda terpaksa mempertahankan diri sambil mundur terus.

Tiba-tiba saja Ki Shiwananda menjadi nekat dan agaknya dia hendak mengadu nyawa, membiarkan diri terancam asal dia dapat berbalik mengancam lawan. Dia memutar ruyungnya dan menerjang ke depan. Dia membiarkan dirinya terbuka terhadap pedang lawan, akan tetapi kalau pedang lawan mengenai tubuhnya, ruyungnya berbareng juga akan mengenai tubuh lawan.

Menghadapi serangan nekat ini tentu saja Retno Wilis terkejut sekali, tetapi ia tidak sudi mengorbankan diri untuk sama-sama terluka. Ia cepat mengelak dan ketika lawan terus mendesak dengan sambaran ruyungnya, ia menjatuhkan diri ke belakang, berjungkir balik di atas tanah dan pada waktu tangan kirinya menyentuh tanah, diam-diam ia mengambil segenggam tanah dengan tangan kirinya. Ketika ia berdiri lagi dan melihat lawan masih terus maju menerjang, tiba-tiba ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya bergerak menyambitkan tanah yang digenggamnya ke arah dada Ki Shiwananda.

Jarak di antara mereka dekat sekali dan sambitan itu dilakukan tiba-tiba dan sama sekali tidak tersangka-sangka oleh Ki Shiwananda. Ketika ada sinar hitam menyambar ke arah dadanya, dia tidak sempat mengelak dan terpaksa dia mengerahkan aji kekebalannya untuk melindungi dada itu.

"Prattt...!"

Dada itu kena disambar tanah berpasir yang disambitkan dengan Aji Pancaroba, semacam aji melempar pasir biasa menjadi pasir sakti yang berbahaya.

Karena dada itu telah dilindungi aji kekebalan, maka pasir itu tidak dapat menembus kulit. Akan tetapi tetap saja terasa nyeri pada kulit dada dan membuat Ki Shiwananda terhuyung ke belakang. Saat itu, sinar pedang Sapudenta menyambar ke arah lehernya. Ki Shiwananda menggerakkan ruyungnya menangkis.

"Tranggg... bukkk!"

Pedang tertangkis akan tetapi pada saat itu Retno Wilis sudah menendang dan mengenai perut Ki Shiwananda, membuat tubuh raksasa itu terjengkang dan terbanting keras. Untuk menyelamatkan dirinya, Ki Shiwananda menggulingkan tubuhnya ke arah Wasi Shiwamurti. Akan tetapi Retno Wilis yang sudah merasa memperoleh kemenangan tidak melakukan pengejaran, melainkan memandang kepada Wasi Shiwamurti dengan senyum mengejek.

"Wasi Shiwamurti, jagomu yang ke empat sudah keok! Kedudukan kita kini menjadi tiga lawan dua untuk kemenangan pihakku. Sebaiknya kalian minggat dari sini dan jangan ganggu kami lagi karena kalau engkau berani menghadapi pertandingan terakhir, engkau tentu akan kalah pula."

Wajah Wasi Shiwamurti menjadi merah.

"Masih ada sebuah pertandingan lagi, yang ke lima dan aku sendiri yang akan maju! Hayo ajukanlah jagomu, Retno Wilis! Jagomu pasti akan kalah olehku dan kedudukan kita akan menjadi tiga sama dan seri sehingga kalian semua akan tetap menjadi tawanan kami untuk dihadapkan kepada Sang Adipati Blambangan sebagai telik sandi dan pengacau."

"Hei, Wasi Shiwamurti, dengarkanlah omonganku ini!" terdengar suara nyaring dan semua orang menoleh dan memandang kepada Jayawijaya yang mengeluarkan suara itu.

"Sadarlah bahwa engkau sebagai seorang wasi, seorang pendeta yang bijaksana, sedang melakukan hal yang sama sekali menyimpang dari kebenaran!"

"Jayawijaya, engkau ini orang lemah tidak tahu apa-apa bicara tentang kebenaran. Ketahuilah bahwa semua yang kami lakukan ini adalah benar belaka!"

"Kebenaran menurut pendapatmu sendiri! Akan tetapi ada kebenaran umum, kebenaran yang dapat ditelusuri dan dipertimbangkan akal sehat, Wasi Shiwamurti. Ada dua hal yang membuat engkau ingin menahan dan menangkap diajeng Retno Wilis dan pihaknya, yaitu pertama karena mereka engkau tuduh sebagai telik sandi dan kedua karena mereka pengacau. Tuduhan pertama itu, kalau benar bahwa mereka telik sandi, mengapa mereka melakukan itu? Bukan lain karena Blambangan bersikap memberontak terhadap Panjalu dan Jenggala, sehingga sepantasnyalah kalau diajeng Retno Wilis sebagai kawula Panjalu yang setia menyelidiki keadaan Blambangan yang rremberontak. Kedua, tuduhan bahwa ia mengacau itu pun ada sebabnya, yaitu karena engkau dan kawan-kawanmu menyebar luaskan agama baru yang menyimpang dari kesusilaan. Karena itu, mawas dirilah engkau, Wasi Shiwamurti sebelum terlambat karena bagaimanapun juga, yang salah akhirnya akan kalah dan yang benar akan menang."

"Orang muda cerewet! Diam engkau atau aku akan merobek mulutmu! Hayo maju kalau engkau berani, bertanding melawanku, bukan hanya bicara seperti seorang nenek bawel!"

Bagus Seto melangkah maju menghadapi Wasi Shiwamurti.

''Paman Wasi Shiwamurti! Sepatutnya andika berterima kasih karena ada orang yang mau mengingatkanmu. Akan tetapi andika malah marah-marah, ini sesungguhnya bukan sikap seorang pendeta dan pertapa. Bila andika menghendaki kekerasan dan menantang tanding, nah, akulah yang akan menandingi-mu!"

Dengan sepasang matanya yang mencorong Wasi Shiwamurti mengamati pemuda berpakaian putih itu dengan penuh perhatian. Seorang pemuda yang usianya sekitar tiga puluh tahun, wajahnya lembut dan matanya juga bersinar lembut, gerak-geriknya tenang namun dibalik semua ketenangan itu dia dapat merasakan tenaga yang amat dahsyat bersembunyi.

Dia tahu bahwa pemuda ini tentu seorang yang memiliki kesaktian tinggi, dan diapun sudah mendengar laporan mengenai pemuda ini. Maka, diam-diam dia lalu mengerahkan segenap tenaga batinnya dan menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mulutnya kemak-kemik dan matanya terpejam mempersatukan segala daya alam pikirannya. Kemudian dia membuka mata, memandang ke arah kedua mata Bagus Seto dan terdengar suaranya yang bergema seperti bukan suara manusia lagi.

"Bagus Seto, lihat, nagaku akan memangsamu!" Dia mengembangkan kedua lengannya dan terdengar halilintar pada saat tengah hari terang benderang itu. Dia melontarkan tongkat kepala naganya ke udara dan... tongkat itu lenyap berubah menjadi seekor naga hitam yang besar badannya sama dengan pohon kelapa! Moncongnya terbuka lebar, matanya berapi-api menyeramkan sekali sehingga semua orang yang melihatnya menjadi terkejut dan memandang dengan mata terbelalak.

Tetapi walau pun naga itu menghadapinya dan moncongnya ternganga siap menelannya dan sepasang kaki depan dengan kuku-kuku melengkung runcing siap menerkamnya, Bagus Seto tetap tenang saja. Dari rambut kepalanya dia mengambil sesuatu dan ternyata setangkai bunga cempaka putih sudah berada di tangannya. Dengan mata mencorong menatap naga jadi-jadian itu dia menyambitkan bunga cempaka putih itu ke arah naga.

"Segala sesuatu harus kembali ke asalnya!" katanya dan bunga itu berubah menjadi sinar putih seperti kilat yang menyambar ke arah naga.

Terdengar suara menggelegar dan naga hitam itu mengeluarkan asap dan jatuh ke atas tanah, begitu menyentuh tanah berubah menjadi tongkat kembali. Bunga cempaka putih itu melayang turun kembali ke tangan Bagus Seto. Wasi Shiwamurti dengan muka merah karena marah menyambar tongkat kepala naganya lagi, lalu mengetuk-ngetukkan ujung tongkat itu ke atas tanah. Makin lama ketukan itu semakin kuat dan dari bawah tongkat itu mengepul debu tebal berikut pasir dan kerikil menerjang ke arah Bagus Seto! Serangan ini dahsyat sekali sehingga menegangkan hati Retno Wilis.

Namun Bagus Seto tetap tenang. Dia menanggalkan kain putih yang menjadi pengikat rambutnya dan menggunakan kain yang cukup lebar itu untuk mengebut ke depan. Sungguh aneh! Biar pun yang dikebut-kebutkan itu hanya sehelai kain putih, akan tetapi ketika debu tebal berikut pasir dan kerikil itu terkena kebutan itu, terpental kembali, bahkan menyerang balik ke arah Wasi Shiwamurti. Sang wasi menjadi marah dan memutar tongkatnya. Semua pasir dan kerikil runtuh ke atas tanah.

"Paman Wasi Shiwamurti, andika hendak mengadu ilmu ataukah hendak main-main? Segala macam permainan untuk menakut-nakuti anak kecil ini tidak perlu andika keluarkan!" kata Bagus Seto, bukan mengejek melainkan dengan suara bersungguh-sungguh. Wajah sang wasi menjadi pucat, lalu merah kembali dan untuk menutup malunya dia berkata dengan congkak.

"Babo-babo, Bagus Seto! Aku sudah siap dengan senjata tongkat wasiatku, sekarang keluarkanlah senjatamu. Pilihlah senjata yang paling keras dan ampuh untuk diadu dengan tongkat kepala nagaku!"

Mempersilakan lawan memilih senjata adalah sikap yang gagah dan ini diperlihatkan Wasi Shiwamurti untuk menutupi rasa malunya karena dua kali serangan ilmu sihirnya dapat digagalkan lawan. Akan tetapi sekali ini pun dia kecelik karena Bagus Seto tersenyum dan berkata dengan sikap tenang dan lembut.

"Paman Wasi Shiwamurti, sejak tadi aku sudah memegang senjataku. Inilah senjataku!" Dia memperlihatkan kain pengikat rambut di tangan kanan kanan dan bunga cempaka putih di tangan kiri.


Wajah Wasi Shiwamurti menjadi merah sekali sampai ke lehernya. Diam-diam dia merasa terkejut dan juga penasaran. Terkejut karena dia maklum bahwa kalau orang berani bersenjatakan benda-benda lemah seperti kain dan bunga cempaka, orang itu pasti memiliki kesaktian tinggi, dan dia merasa penasaran karena dengan memegang senjata remeh macam itu, pemuda itu seolah memandang rendah kepadanya! Akan tetapi kemarahan lebih menguasai hatinya dan dia segera memutar tongkatnya sehingga tongkat itu melintang di depan dadanya.

"Bagus! Sambutlah keampuhan tongkat kepala nagaku!"

Dan dia sudah menyerang dengan dahsyat sekali.

Retno Wilis sendiri sampai mengerutkan alisnya karena dari sambaran angin serangan itu saja maklumlah dara perkasa ini betapa sakti orang itu dan betapa dahsyat dan berbahaya tongkatnya. Tapi Bagus Seto bergerak sedemikian ringannya seolah tubuhnya berubah menjadi asap dan sambaran tongkat yang bertubi-tubi itu tidak pernah dapat mengenai tubuhnya. Ketika Retno Wilis sedang memandang dengan mata tidak pernah berkedip dan dengan hati tegang, tiba-tiba terdengar orang bicara di dekatnya.

"Diajeng Retno Wilis, kakakmu ini sungguh seorang yang sakti mandraguna. Juga seorang yang bijaksana. Aku kagum sekali kepadanya."

Senang hati Retno Wilis mendengar pujian itu dan merasa bangga, meski kekhawatiran masih menyelinap di hatinya karena ia maklum benar bahwa sekali ini kakaknya harus menghadapi seorang lawan yang teramat sakti.

"Akan tetapi lawannya juga seorang yang sakti mandraguna, kakang. Aku khawatir..."

"Ingat, diajeng. Kita harus pasrah kepada kekuasaan Hyang Widhi. Aku yakin, karena kakangmas Bagus Seto berada di pihak benar, maka dia tidak akan terancam bahaya. Soal kalah menang bukan yang terpenting, akan tetapi yang lebih baik dia selalu berada daiam lindungan kekuasaan Sang Hyang Widhi."

Entah mengapa, setelah mendengar suara dan kata-kata Jayawijaya ini, hati Retno Wilis menjadi tenteram dan timbul pula keyakinan dalam hatinya bahwa kakaknya akan terlindung kekuasaan Hyang Widhi seperti yang dikatakan Jayawijaya.

Sementara itu, pertarungan antara Wasi Shiwamurti dan Bagus Seto masih berlangsung dengan serunya. Tampak sekali perbedaan dalam sepak terjang kedua orang sakti mandraguna itu. Kalau tongkat kepala naga di tangan Wasi Shiwamurti menyambar-nyambar ganas dan merupakan tangan maut yang haus darah, setiap serangannya dimaksudkan untuk membunuh, sebaliknya Bagus Seto hanya berusaha menghindarkan diri dan kalau sewaktu-waktu kain pengikat rambutnya membalas serangan, maka serangan itu hanya untuk menotok jalan darah dan untuk melumpuhkan saja, tidak ada niat untuk membunuh.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 28"

Post a Comment