Sepasang Garuda Putih Jilid 14

Mode Malam
Ketika dia bercampur dengan para anggota agama itu, berkumpul di bawah panggung sambil mendengarkan gamelan yang mengiringkan nyanyian seorang pesinden yang suaranya merdu, dia mencari si muka bopeng yang siang tadi dibantunya bekerja.

"Tampaknya kita semua akan bersenang-senang, kawan." katanya.

"Tentu saja, setiap malam Respati kita semua bersenang-senang, dan inilah yang membuat kita semua senang bekerja di sini dan menjadi anggota agama baru ini." jawab si muka bopeng. Agaknya dia bergembira sekali sehingga mau banyak bicara secara terbuka. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Harjadenta untuk memperoleh keterangan sebanyak-banyaknya.

"Menurut Ni Dewi, aku akan diangkat menjadi anggota baru malam ini. Apa yang akan terjadi denganku nanti. Aku belum mengerti dan tidak dapat membayangkan apa yang terjadi sehingga aku merasa agak gugup."

Si muka bopeng tertawa.

"Ha-ha-ha, tidak perlu gugup, kawan. Engkau akan mendapatkan kesenangan luar biasa. Engkau tinggal menaati saja dan biasanya dalam pengangkatan anggota baru di malam Respati biasa, bukan kalau sedang bulan purnama di mana Sang Hyang Bathara Shiwa sendiri hadir dalam tubuh Wasi Shiwamurti, engkau hanya akan disuruh minum secawan tuak yang sudah diberi mantera dan engkau akan merasa bahagia sekali. Jangan khawatir kawan. Engkau akan mendapat kehormatan dan kesenangan yang luar biasa malam ini dan melihat gelagatnya, Bathari Durgo akan memilih engkau menjadi pelayannya malam ini."

"Bathari Durgo...?"

"Penjelmaan Bathari Durgo, yaitu Ni Dewi. Apakah engkau belum mengerti?"

"Belum. Maukah engkau menerangkan sejelasnya, kawan?"

"Agama kami menyembah Tritunggal, yaitu Sang Bathara Shiwa, Bathari Durgo dan Bathara Kala yang menjelma menjadi Sang Wasi Shiwamurti, Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Nah, kita memuja tiga dewa dewi itu melalui mereka bertiga yang akan mengajarkan tentang agama ini kepada kita."

"Hemm, begitukah? Kawan, apakah pada malam Respati yang lalu juga ada anggota-anggota baru yang diangkat?" tanya Harjadenta sambil lalu, seolah pertanyaan itu tidak penting, pada hal dia mau mencari keterangan tentang Sularko dan Sawitri.

“Oh, ada. Mereka itu adalah kakak beradik dari Bulumanik sini saja, bernama Sularko dan adiknya yang bernama Sawitri."

"Lalu apa yang terjadi dengan mereka?"

Si muka bopeng menyeringai.

"Tentu saja mereka menjadi pilihan Ni Dewi dan Ki Shiwananda. Mereka tentu hidup berbahagia sekarang."

Harjadenta tidak mendesak lebih jauh.

"Bagaimana kalau ada orang berani menentang agama ini?"

"Siapa berani menentang? Ki Demang Kebolinggo sendiri menunjang didirikannya candi baru ini. Bahkan Kadipaten Nusabarung juga mendukungnya. Yang menentang tentu akan celaka oleh kutukan!"

"Kutukan?"

"Ya, tiga orang pimpinan kami adalah orang-orang sakti dan kalau mereka diserang dan menjadi marah, maka cukup dengan kutukan saja mereka yang berani mengganggu akan celaka hidupnya."

"Celaka bagaimana?"

"Sedikitnya tentu akan diserang penyakit berat atau bahkan dapat mati."

Percakapan itu terhenti karena di panggung telah muncul Ni Dewi Durgamala dan Ki Shiwananda. Harjadenta memandang ke atas panggung dan dengan penuh perhatian dia memandang ke arah Shiwananda. Seorang laki-laki yang bertubuh raksasa, tinggi besar dan kokoh kuat. ‘Seorang lawan yang tangguh,’ pikirnya.

Melihat semua orang berlutut dan menyembah ke arah kedua orang itu, Harjadenta juga ikut berlutut dan menyembah. Akan telapi dia segera teringat pesan Ni Dewi bahwa kalau Ni Dewi sudah muncul di panggung, dia harus naik ke panggung menghadapnya. Maka, diapun lalu naik ke panggung melalui tangga yang tersedia di situ. Setelah berada di atas panggung, dia berlutut di depan Ni Dewi dan menyembah.

Ni Dewi Durgomala tertawa melihat dia. Ni Dewi lalu bangkit berdiri dan berkata dengan suara lantang, "Saudara-saudara, malam ini ada seorang anggota baru. Inilah orangnya dan namanya adalah Harjadenta!"

Ia memberi isyarat dan dua orang gadis lalu naik ke panggung membawa seguci tuak dan cawan-cawannya. Ni Dewi sendiri menuangkan tuak ke dalam sebuah guci, lalu membaca mantera dan menyerahkan cawan itu kepada Harjadenta.

"Harjadenta, sebagai tanda bahwa engkau mulai malam ini menjadi anggota agama kami, minumlah anggur bahagia ini sampai habis!" Matanya memandang dengan mencorong ke arah muka Harjadenta.

Harjadenta terkejut sekali ketika merasa betapa jantungnya berdebar dan ketika dia balas memandang, ada pengaruh hebat menguasai pikirannya. Dia berusaha menolak pengaruh itu, akan tetapi dia mendengar suara berwibawa dan memerintah.

"Minumlah anggur kebahagiaan ini!"

Seperti dalam mimpi, Harjadenta tidak dapat melawan atau menolak sama sekali. Seolah bergerak dengan sendirinya, kedua tangannya menerima cawan itu dan dia segera minum tuak itu. Hampir dia tersedak karena pemuda ini tak biasa minum-minuman keras seperti tuak itu. Akan tetapi ditahannya dan tuak secawan itu pun habis diminumnya.

Terdengar suara sorak sorai dan sesudah semua orang memberi hormat kepada Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda dengan nyanyian pujian yang terdengar aneh, maka pesta pun dimulailah. Hidangan yang enak-enak disuguhkan dan tuak berlimpah-limpah. Semua orang makan dan minum dengan gembira, gamelan dibunyikan, semakin lama semakin cepat dan keras iramanya dan orang-orang itu pun mulai berjoget! Berlenggang-lenggok dengan gerakan-gerakan yang menunjukkan berkobarnya nafsu.

Para wanitanya tanpa sungkan dan malu menggoyang-goyangkan pinggul sambil tertawa-tawa dan mereka pun memperoleh pasangan masing-masing. Ni Dewi Durgomala bangkit dari kursinya, menghampiri Harjadenta dan menjulurkan tangan sambil berkata,

"Harjadenta, mari kita bersenang-senang. Mari menari dengan aku!"

Harjadenta merasa heran sendiri ketika melihat betapa dia tidak mempunyai tenaga untuk menolak sama sekali. Bahkan hatinya merasa ikut bergembira dan kegembiraan yang meluap ini dapat disalurkan melalui tarian. Dia melihat Ni Dewi sudah menari di depannya, tariannya liar dan bernapsu, tubuhnya yang montok itu berlenggang-lenggok, pinggulnya bergoyang-goyang dan dua tangannya seperti mengajak Harjadenta. Tanpa dapat ditahan lagi Harjadenta pun mulai ikut menari menurutkan irama gamelan yang panas!

Ki Shiwananda juga sudah mendapat pasangan seorang gadis yang cantik dan agaknya ia adalah seorang anggota yang sudah lama. Ia tidak canggung lagi menari-nari bersama raksasa itu sambil tertawa-tawa genit.

Pesta tari-tarian itu semakin malam semakin panas memuncak hingga akhirnya mereka berpasang-pasangan meninggalkan panggung. Ki Shiwananda juga sudah menggandeng pasangannya menghilang dari panggung. Ni Dewi Durgomala sendiri sambil tertawa-tawa menggandeng tangan Harjadenta menuruni panggung dan menuju ke belakang candi.

Harjadenta bagaikan seekor domba yang dituntun ke tempat penjagalan, hanya menurut saja. Dia bagaikan sedang mimpi dan sama sekali tidak menolak ketika ditarik memasuki sebuah kamar di belakang candi. Ketika pintu kamar itu dibuka dan Ni Dewi Durgomala menarik tangan Harjadenta untuk masuk, tiba-tiba saja ada sinar putih menyambar dan benda putih itu mengenai muka Harjadenta. Harjadenta terkejut dan merasa seperti kepalanya disiram air dingin yang membuat dia seketika menyadari keadaannya, benda putih itu ternyata setangkai kembang cempaka yang kini menyusup ke rambutnya.

"Ah, tidak...!" Dia meronta dan melepaskan diri dari pegangan tangan Ni Dewi Durgomala. Wanita ini pun terkejut dan memandang pemuda itu dengan matanya yang berapi penuh nafsu.

"Harjadenta, wong bagus, mari kita bersenang-senang,” katanya dan ia hendak meraih untuk menangkap lagi tangan pemuda itu. Akan tetapi kini Harjadenta sudah sadar sama sekali akan keadaannya yang luar biasa, bahkan dia teringat betapa tadi dia ikut menari-nari seperti orang gila, tahu pula bahwa semua ini akibat pengaruh wanita yang kini berada di depannya.

"Iblis betina, engkau tak bisa memaksaku!" katanya lagi dan dia mengelak dari sambaran tangan Ni Dewi Durgomala dan melompat keluar dari kamar itu.

Ni Dewi Durgomala menjadi marah dan juga heran sekali. Bagaimana mungkin pemuda itu tiba-tiba sudah terlepas dari pengaruh sihirnya? Ia lalu mengerahkan tenaga sihirnya, menggerakkan kedua tangan ke arah muka Harjadenta dan ia membentak dengan suara yang mengandung penuh wibawa,

"Harjadenta, ke sini kau! Engkau menurut atas segala kehendakku! Engkau telah menjadi anggota perkumpulan agamaku, dan engkau telah menjadi budakku. Kesinilah!"

Harjadenta merasakan ada tarikan yang amat kuat mencengkeram dirinya dan seperti memaksa dirinya untuk masuk ke kamar itu dan berlutut menyembah wanita itu. Akan tetapi ada kekuasaan lain di belakangnya dan terdengar bisikan.

"Adimas Harjadenta. Tolak pengaruh iblis itu!" Bisikan itu amat lembut tapi mengandung kekuatan yang demikian hebatnya sehingga mengalahkan daya tarik dari wanita itu.

"Iblis betina, aku tidak akan tunduk ke padamu!"

Harjadenta berkata sambil melangkah mundur menjauhi pintu kamar itu. Bukan main marahnya Ni Dewi Durgomala mendengar dan melihat sikap ini. Dengan teriakan marah ia melompat keluar dan sudah tiba di depan Harjadenta.

"Keparat! Kalau begitu, apakah engkau lebih memilih mati dari pada menaati perintahku?"

"Ah, Ni Dewi Durgomala, beginikah engkau telah membunuh Sularko?" Harjadenta balas membentak.

Ni Dewi Durgomala terkejut bukan main mendengar ucapan itu dan tanpa banyak cakap tubuhnya sudah meluncur ke depan, tangan kirinya menampar ke arah kepala Harjadenta. Pemuda yang pernah menerima gemblengan ilmu kanuragan dari Empu Gandawijaya, cepat menangkis dengan memutar lengan kanannya.

''Dukkk...!” Harjadenta yang menangkis pukulan itu terpental dan terhuyung ke belakang sampai beberapa langkah.

"Mampuslah!" Ni Dewi Durgomala yang sudah marah sekali, melompat dan mengirim pukulan susulan yang sangat dahsyat dan cepat sehingga agaknya pukulan ini tidak akan dapat dihindarkan lagi oleh Harjadenta.

"Wuuuuuttt...! Plakkkk!"

Kini tubuh Ni Dewi Durgomala yang terhuyung ke belakang. Ternyata pukulannya tadi ada yang menangkis, seorang yang muncul dari belakang Harjadenta, seorang pemuda yang berpakaian serba putih dan bersikap sederhana. Ketika tadi menangkis pukulan Ni Dewi Durgomala, diapun tampak tenang dan menangkis sembarangan saja, akan tetapi ternyata telah membuat Ni Dewi Durgomala terhuyung ke belakang.

Ni Dewi Durgomala tertegun dan bukan main kagumnya melihat seorang pemuda yang demikian tenang dan tampan, seperti Sang Harjuna saja! Jantungnya berdebar keras dan biar pun ia tadi ditangkis sampai terhuyung, ia tidak marah kepada pemuda itu, bahkan kini ia mengerling dan tersenyum manis sekali. Ia sendiri ketika itu sedang dilanda nafsu berahi yang memuncak, maka begitu melihat Bagus Seto yang demikian tampan, ia segera mengerahkan aji pengasihan untuk mengguna-gunai dan menarik hati perjaka yang tampan ini.

"Teja-teja sulaksana tejanya orang yang baru tampak! Satria bagus, siapakah andika, wong ganteng?" Ia bertanya sambil tersenyum.

Saking kuatnya aji pengasihan yang ia kerahkan, bahkan Harjadenta yang sudah terlepas dari pengaruh sihirnya, kini memandang terlongong penuh kagum kepada Ni Dewi Durgomala yang mendadak kelihatan demikian cantik jelita dan menarik seperti seorang dewi yang baru turun dari kahyangan!

Akan tetapi Bagus Seto tersenyum tenang. Sebelum dia menjawab, terdengar suara ribut-ribut di kamar sebelah dan Retno Wilis yang berpakaian serba putih itu melompat keluar dari kamar itu dikejar oleh Ki Shiwananda! Apakah yang terjadi di kamar itu?

Ternyata Retno Wilis membagi tugas dengan kakaknya. Bagus Seto membayangi Ni Dewi Durgomala dan Retno Wilis membayangi Ki Shiwananda. Gadis perkasa ini tadi mengintai pesta liar di atas panggung dan ia pun teringat akan pengalamannya dahulu. Pernah ia terlibat dalam pesta seperti itu di bawah pengaruh orang-orang sesat yang menggunakan sihir kepadanya, ia merasa ngeri dan juga marah bukan main.

Ia melihat pula betapa Harjadenta terpengaruh sihir dan ikut menari-nari liar, akan tetapi karena Bagus Seto yang akan mengawasinya, maka ia terus mengamati Ki Shiwananda yang kemudian menarik tangan seorang gadis yang tadi menjadi pasangannya menari menuju ke belakang candi dan memasuki sebuah kamar!

Retno Wilis merasa malu untuk ikut masuk kamar itu, maka ia mengambil jalan memutar dan tiba di luar jendela kamar itu. Dengan tenaga Argoselo, ia menggunakan tangan kanannya untuk mendorong daun jendela kamar itu. Jendela itu jebol dan Retno Wilis yang bermaksud untuk menghajar lelaki raksasa itu meloncat masuk sambil membentak,

"Jahanam busuk, apa yang telah kau lakukan terhadap Sawitri?"

Ki Shiwananda terkejut bukan kepalang ketika jendela jebol dan ia melihat berkelebatnya bayangan putih memasuki kamar, apa lagi ketika mendengar bentakan yang menanyakan tentang Sawitri itu. Akan tetapi dia pun maklum bahwa wanita yang masuk kamarnya itu tentu seorang yang sakti, maka untuk menyelamatkan diri, dia sudah merangkul gadis pasangannya tadi dengan tangan kiri dan memasangnya di depan tubuh seperti perisai!

Melihat ini tentu saja Retno Wilis kaget sehingga tidak jadi menyerang. Ia melihat betapa sarunya kalau dilihat orang ia berada di kamar seorang pria, maka ia lalu mendorong daun pintu dan melompat keluar.

Ki Shiwananda yang sudah terhindar dari serangan mendadak itu timbul keberaniannya dan dia pun lompat mengejar. Ketika tiba di luar, Retno Wilis melihat bahwa kakaknya bersama Harjadenta juga sudah berhadapan dengan wanita cantik itu, maka ia mengulang pertanyaannya kepada Ki Shiwananda.

"Shiwananda, engkau tentu telah membunuh Sawitri, bukan? Engkau jahanam busuk, pendiri agama yang sesat! Setelah bertemu dengan Retno Wilis, jangan harap engkau akan dapat melarikan diri!"

Mendengar gadis berpakaian putih itu menyebut namanya, Ki Shiwananda terkejut sekali, bahkan Ni Dewi Durgomala juga terkejut sekali. Ni Dewi Durgomala sudah mendengar bahwa rekannya yang bernama Ni Dewi Nilamanik dahulu juga tewas secara mengerikan di tangan seorang dara yang bernama Retno Wilis! Dan gadis ini menurut penuturan Wasi Karangwolo dan Surengpati, gadis ini adalah puteri dari Ki Patih Tejolaksono dan Puteri Endang Patibroto yang terkenal sakti.

Sementara itu, Bagus Seto menjawab pertanyaan Ni Dewi Durgomala yang tadi diajukan kepadanya, "Ni Dewi Durgomala, aku bernama Bagus Seto. Katakanlah, apa yang kalian lakukan terhadap Sularko dan Sawitri?"

Melihat betapa Bagus Seto sama sekali tidak terpengaruh oleh aji pengasihannya, Ni Dewi Durgomala maklum bahwa ia berhadapan dengan orang yang sakti mandraguna, tidak terpengaruh oleh ilmu sihirnya. Tapi ia masih hendak mencoba.

Mulutnya berkemak-kemik, lalu ia membungkuk, mengambil segenggam pasir kemudian menaburkan pasir itu ke atas dan tiba-tiba saja pemandangan menjadi gelap. Entah dari mana datangnya, ada asap hitam menutupi sinar bulan dan Hartjadenta sendiri terkejut dan merasa jerih. Akan tetapi Retno Wilis segera mengeluarkan lengkingan panjang, dan Bagus Seto berkata dengan lembut,

"Ni Dewi Durgomala, simpan saja ilmu setanmu yang hanya dapat dipakai menakut-nakuti anak kecil!" Bagus Seto menggerakkan tangan kirinya ke arah asap hitam itu menjadi buyar dan lenyap dan keadaan menjadi terang kembali.

"Augghhh...!" Ki Shiwananda telah mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang dan tubuhnya sudah menerjang maju, menyerang ke arah Retno Wilis.

Namun dengan tangkasnya gadis itu telah mengelak sehingga lawannya hanya menubruk angin kosong. Segera terjadi pertandingan yang amat seru di antara mereka.

Ki Shiwananda adalah murid Wasi Shiwamurti yang tercinta, bahkan diangkat menjadi anaknya, maka ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Bahkan dia lebih tangguh dibanding Ni Dewi Durgomala, hanya bedanya wanita ini menguasai segala macam ilmu sihir dan guna-guna. Tetapi sekali ini dia bertemu dengan Retno Wilis, maka terjadilah perkelahian yang amat dahsyat.

Sementara itu, Ni Dewi Durgomala menjadi pucat wajahnya ketika ilmu sihirnya demikian mudah dipunahkan oleh bagus Seto. Maka ia tidak mau mencoba lagi ilmu sihirnya dan secepat kilat ia mencabut senjatanya, sebatang keris dan menubruk Bagus Seto mengirim serangan maut.

"Kakangmas, itu Ki Carubuk yang dipegangnya!" Harjadenta berteriak ketika mengenal keris yang berada di tangan Ni Dewi Durgomala. Jelaslah bahwa wanita iblis itu adalah pencuri Ki Carubuk.


Mendengar seruan ini, Ni Dewi Durgomala tidak peduli dan menyerang terus. Kerisnya seperti berubah menjadi seekor naga yang menyambar-nyambar, mengeluarkan hawa panas yang terasa oleh Harjadenta yang berdiri di pinggir. Namun tubuh Bagus Seto bagaikan telah berubah menjadi bayangan, selalu menghindar dengan lembut dan cepat sekali, terbebas dari semua tusukan keris.

Harjadenta hanya menonton perkelahian itu. Ia maklum bahwa ilmu kepandaiannya belum cukup untuk menandingi seorang lawan seperti Ni Dewi Durgomala atau Ki Shiwananda. Maka dia hanya menonton dengan hati tertarik.

Pada saat itu, muncul puluhan anak buah atau anggota kumpulan agama itu dan melihat betapa Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda berkelahi dengan seorang pemuda dan seorang gadis, mereka beramai-ramai segera maju untuk mengeroyok Bagus Seto dan Retno Wilis.

Harjadenta merasa mendapat tugas. Dia melompat ke depan dan mengamuk di antara para anggota agama itu. Akan tetapi karena dia tahu bahwa mereka ini adalah orang-orang yang tidak bersalah, hanya ikut-ikutan saja dan terdiri dari orang-orang dusun yang lugu, maka dia tidak mau mempergunakan senjata, hanya membagi-bagi pukulan dan tendangan saja untuk mencegah mereka mengeroyok Retno Wilis atau Bagus Seto.

Pertandingan antara Bagus Seto dan Ni Dewi Durgomala seperti seekor kucing sedang mempermainkan seekor tikus saja. Bagus Seto hanya mengelak terus dan ketika keris itu menyambar lagi ke arah dadanya, dia berkata,

"Keris ini harus dikembalikan kepada pemiliknya!"

Setelah berkata demikian ia menyambut tusukan itu dengan tangannya, menangkap keris itu dan sekali renggut, keris itu telah terlepas dari tangan Ni Dewi Durgomala.

Wanita ini terkejut bukan main. Hampir tidak percaya bahwa ada orang berani menangkap keris pusaka ampuh itu dengan tangannya begitu saja dan merenggutnya lepas dari tangannya, ia marah akan tetapi juga jerih, maklum bahwa ia tidak akan menang melawan pemuda berpakaian serba putih itu. Sambil berteriak ia lalu mencabut senjatanya yang istimewa, yaitu sebuah kebutan berbulu hitam yang tadi terselip di pinggangnya.

"Haittt... tar-tar!"

Kebutan itu digerakkan sedemikian rupa sehingga ujung bulu-bulunya dapat meledak di atas kepala Bagus Seto. Namun pemuda itu tenang-tenang saja dan ketika ia menangkis ke atas, beberapa helai bulu kebutan putus! Ni Dewi Durgomala kini hanya berputar-putar dan menyerangkan kebutannya ke arah muka Bagus Seto dan selalu dielakkan oleh pemuda itu.

Sementara itu, pertandingan antara Retno Wilis melawan Ki Shiwananda berjalan dengan seimbang. Ki Shiwananda memang tangguh sekali. Raksasa ini selain mempunyai tenaga yang tidak lumrah manusia, juga dapat bergerak amat cepat biar pun tubuhnya demikian besarnya. Sepak terjangnya seperti seorang raksasa saja, kasar dan keras. Kadang dia bergulingan dan menyerang lawan dari bawah. Kedua lengannya yang panjang besar itu mencuat dan menyambar-nyambar ke arah segala bagian tubuh Relno Wilis.

Tetapi Retno Wilis segera mainkan ilmu silat Pancaroba dan tubuhnya berkelebat melebihi burung walet cepatnya, sukar diraih tangan yang besar itu. Akan tetapi, Retno Wilis juga mengalami kesukaran untuk dapat merobohkan lawannya. Sudah dua kali tangan dan kakinya mengenai tubuh lawan, akan tetapi hanya membuat lawan terhuyung saja, tidak merobohkannya. Kiranya raksasa itu pun memiliki tubuh yang kebal sekali.

Karena kesal sampai sekian lamanya tidak mampu merobohkan lawannya, Retno Wilis mencabut pedang pusakanya, yaitu pedang Sapudenta! Tampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika pedang itu berada di tangan kanannya.

"Babo-babo keparat, belum lagi lecet kulitmu tetapi sudah mengeluarkan pusaka!" bentak Ki Shiwananda dan dia pun mengeluarkan senjatanya yang berat, yaitu sebatang ruyung yang tadi tergantung di pinggangnya.

Ruyung ini terbuat dari baja hitam, berat dan kuatnya bukan main. Sebongkah batu besar pun akan pecah berantakan kalau sekali kena pukulannya dengan ruyung ini, apa lagi kalau mengenai kepala manusia!

Akan tetapi begitu dia menggerakkan ruyungnya, Retno Wilis sudah mengerahkan aji Wisolangking di tangan kirinya. Aji Wisolangking ini membuat tangan kirinya panas sekali dan kalau mengenai tubuh lawan dapat menghanguskan bagian yang terkena pukulan!

Melihat sepak terjang adiknya yang begitu menggiriskan, Bagus Seto lalu menyambut serangan Ni Dewi Durgomala. Ketika kebutan itu menyambar ke arah kepalanya, ia menyambut dengan tangan kanannya dan sekali tangan itu menyambar, dia telah berhasil merampas kebutan dari tangan Ni Dewi Durgomala! Wanita ini memekik marah dan juga gentar.

"Ki Shiwananda, sudah saatnya kita pergi!" bentaknya kepada raksasa itu yang sedang bertanding seru melawan Retno Wilis.

Bagus Seto juga melompat ke dekat adiknya.

"Diajeng, hati-hati dengan pusakamu!" Dia menggerakkan tangan menahan ruyung Ki Shiwananda yang dihantamkan.

"Plakkkkk!"

Ki Shiwananda merasa betapa tenaga pada tangan kanannya seperti tenggelam dan lenyap. Dia terkejut sekali. Menarik kembali ruyungnya dan maklumlah dia bahwa seruan Ni Dewi Durgomala tadi benar. Baru melawan Retno Wilis saja dia kerepotan dan tidak mampu menang, apa lagi kalau Bagus Seto maju. Tangan pemuda itu dapat menyambut ruyungnya! Dia merasa gentar dan segera mengayun dan memutar ruyungnya. Ketika Bagus Seto dan Retno Wilis mundur, mereka berdua melompat dan lenyap di kegelapan malam.

Harjadenta masih mengamuk, merobohkan para pengeroyok. Melihat ini, Bagus Seto lalu melompat ke atas atap candi dari berseru,

"Saudara sekalian, hentikan pengeroyokan itu!" Lalu dia melayang ke bawah.

Melihat ini, apa lagi melihat betapa dua orang pemimpin mereka sudah melarikan diri, mereka pun menghentikan pengeroyokan dan berdiri bingung seperti sekawanan domba kehilangan penggembalanya.

Harjadenta juga berhenti mengamuk dan melompat ke belakang, dekat Bagus Seto dan Retno Wilis. Dia menjadi semakin kagum kepada dua orang kakak beradik ini, yang demikian mudah mengalahkan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda sehingga dua orang sakti itu melarikan diri. Dan dia girang bukan main ketika Bagus Seto menyerahkan keris pusaka Ki Carubuk kepadanya.

"Ini keris gurumu, kembalikanlah kepadanya," kata Bagus Seto.

"Terima kasih banyak, kakangmas Bagus Seto," katanya sambil menerima dan menyelipkan keris pusaka itu di pinggangnya.

"Kakang, kenapa kita tidak basmi saja perkumpulan agama ini?" kata Retno Wilis sambil memandang kepada para anggota agama baru itu dengan alis berkerut.

"Jangan, diajeng. Agama mereka itu samasekali tidak bersalah. Sang Hyang Bathara Shiwa yang mereka sembah adalah Yang Kuasa Membasmi di alam mayapada ini, dan sudah selayaknya kalau disembah dan dipuja. Adapun Bathari Durgo adalah isterinya dan Bathara Kala adalah puteranya. Tidak ada salahnya dengan mereka yang disembah-sembah. Semua kesalahan terletak kepada manusianya yang menyelewengkan pelajaran agama itu untuk tujuan buruk. Mereka bebas menentukan agama mereka sendiri. Kita tidak boleh menentangnya dan mereka boleh mendirikan candi seperti yang mereka kehendaki. Yang kita tentang adalah manusianya yang melakukan tindakan menyeleweng dan jahat. Para anggota agama ini tidak bersalah. Mereka bahkan menjadi korban, korban penyelewengan Ni Dewi Durgomala dan Ki Shiwananda. Setelah kekalahan mereka malam ini, kurasa mereka tidak akan berani lagi melakukan kejahatan mereka di antara penduduk Bulumanik."

Harjadenta yang mendengarkan ucapan Bagus Seto ini, menjadi semakin kagum.

"Saya rasa apa yang diucapkan kakangmas Bagus Seto itu benar, diajeng Retno. Orang-orang itu tidak berdosa. Mereka melakukan segala itu karena mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan adalah suatu perbuatan jahat. Mereka seperti mabuk atau terbius, seperti yang kualami tadi. Aku sendiri tidak sadar bahwa aku ikut menari-nari seperti orang yang gila. Mereka tidak salah bahkan patut dikasihani."

"Kalau begitu kesalahan ini selain terletak pada pundak kedua orang pimpinan agama itu, juga terletak di pundak Demang Kebolinggo. Sebagai seorang kepala daerah, dia tidak seharusnya memberi ijin kepada orang-orang seperti Ni Dewi Durgomala dan Ki Suwananda itu untuk membangun candi dan mempengaruhi penduduk. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu apa yang telah terjadi di candi ini," kata pula Retno Wilis dengan gemas. "Orang seperti dia tidak patut menjadi pemimpin dan harus mendapat peringatan keras!"

Bagus Seto mengangguk-angguk.

"Pendapatmu itu ada benarnya, diajeng. Silakan saja kalau engkau ingin memperingatkan dia, akan tetapi ingat, jangan menggunakan kekerasan, apa lagi membunuhi orang."

"Diajeng Retno Wilis memang benar, dan kalau boleh, aku akan senang kalau menemanimu pergi ke rumah demang dan memberi peringatan kepadanya."

"Kalau begitu lebih baik lagi agar Demang Kebolinggo lebih terkesan dan menaati nasihat kalian," kata Bagus Seto.

Retno Wilis terpaksa tidak dapat menolak permintaan Harjadenta. Ia sendiri memang kagum juga kepada pemuda yang berani dan telah membantu ia dan kakaknya menghadapi pimpinan agama baru itu.

"Baiklah, dan sebaiknya kita lakukan itu malam ini juga," kata Retno Wilis.

"Pergilah kalian, aku akan lebih dulu pulang ke pondokan Mbok Rondo Gati."

Tiga orang itu lalu berpisah. Retno Wilis dan Harjadenta pergi meninggalkan Bagus Seto dan mencari rumah Demang Kebolinggo, penguasa di Bulumanik. Tak sukar bagi mereka untuk menemukan rumah yang paling besar di Bulumanik itu.

Mereka berdua melihat bahwa ada tujuh orang penjaga di gardu penjagaan depan gedung itu. Akan tetapi Retno Wilis dan Harjadenta tidak mengganggu mereka. Mereka lalu mengambil jalan dari belakang rumah besar itu. Dengan mudah mereka melompat pagar tembok yang mengitari rumah itu dan menyusup ke arah gedung melalui taman bunga yang berada di bagian belakang.

Malam telah larut dan suasana sunyi sekali. Agaknya semua penghuni gedung itu sudah tidur nyenyak. Akan tetapi mereka menemui kesulitan untuk mencari di mana kamar tidur sang demang.

"Biar aku yang mencari keterangan," bisik Harjadenta kepada Retno Wilis.

Gadis itu mengangguk. Harjadenta mengintai dari lubang di jendela sebuah kamar dan melihat seorang lelaki tidur dalam kamar itu. Melihat kamar itu hanya kecil dan sederhana, maka dia dapat menduga bahwa laki-laki yang berada di dalam kamar seorang diri itu tentulah hanya seorang pelayan.

Dengan mudah dia dapat membuka jendela itu dan melompat ke dalam. Retno Wilis hanya menanti di luar kamar, bersembunyi di balik tikungan dinding. Setelah berada di dekat pembaringan laki-laki setengah tua itu, Harjadenta lalu mengguncang tubuhnya. Laki-laki itu terbangun, akan tetapi sebelum dia dapat membuka mulut, Harjadenta telah menempelkan keris pusaka Ki Mengeng di leher orang itu.

“Jangan bergerak dan jangan berteriak kalau engkau sayang nyawamu!" bisiknya.

Laki-laki itu ketakutan dan membelalakkan matanya, menggelengkan kepala menyatakan bahwa dia tidak akan berteriak atau bergerak.

"Aku hanya ingin kau menunjukkan di mana kamar Sang Demang Kebolinggo!" kembali Harjadenta menggertak, dan menempelkan kerisnya lebih ketat ke leher orang itu.

"Ampunkan saya... kamar... kamarnya berada di ruangan tengah... jangan bunuh saya...” kata orang itu dengan tubuh menggigil dan suara gemetar.

"Hayo turun dan tunjukkan aku kamar itu!" kembali Harjadenta berkata, dan dengan tubuh gemetar ketakutan orang itu lalu turun dari pembaringannya. Dia didorong ke pintu oleh Harjadenta, membuka pintu dan mereka keluar.

Retno Wilis melihat mereka, lalu ia mengikuti dari belakang. Setelah tiba di ruangan tengah dan orang itu menudingkan telunjuknya ke arah sebuah pintu kamar yang besar, tiba-tiba Harjadenta mengetuk tengkuknya dengan tangan kiri. Orang itu mengeluh lirih dan roboh pingsan.

"Sekarang giliranku untuk memasuki kamar sang demang lebih dulu," kata Retno Wilis dan Harjadenta mengangguk.

Dengan mudah sekali Retno Wilis juga membuka daun jendela kamar itu dan bagaikan seekor kucing saja ia melompat ke dalam tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Kamar itu remang-remang karena hanya diterangi sebuah lampu gantung yang kecil. Akan tetapi penglihatan Retno Wilis yang tajam dapat melihat sesosok tubuh yang tinggi kurus rebah seorang diri di atas sebuah pembaringan yang lebar dan berukir indah. Pria itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan dia tidur telentang dan mendengkur.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 14"

Post a Comment