Sepasang Garuda Putih Jilid 03

Mode Malam
Setelah mereka berhadapan, pemuda itu memandang mereka dengan wajah berseri dan segera menegur mereka.

"Kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta!" Pemuda yang bukan lain adalah Jarot itu segera menghampiri semakin dekat.

Akan tetapi kedua orang muda itu memandangnya dengan alis berkerut dan sinar mata marah. "Siapa andika, berani menegur kami begitu saja?" tanya Lembu Alun dengan suara ketus.

"Kakangmas Lembu Alun. Sudah lupakah kepadaku? Aku Jarot, adikmu!"

"Jarot? Tidak mungkin! Jarot sudah mati dan lenyap tujuh tahun yang lalu! Andika hanya mengaku-ngaku saja, andika orang palsu!"

"Kakangmas Lembu Alun! Ini aku, Jarot. Aku masih hidup dan baru hari ini aku pulang."

"Aahh, Jarot sudah mati tidak mungkin hidup kembali. Andika orang jahat yang berpura-pura menjadi adik kami!" kata Lembu Tirta. "Kakangmas Lembu Alun, kita hajar saja orang palsu ini!"

Dua orang itu lalu menerjang maju dan memukul Jarot. Jarot terkejut sekali, bukan saja melihat betapa dua orang kakaknya tidak mengenalnya dan menyerangnya, terutama sekali melihat cara mereka menyerang menggunakan aji kekuatan yang cukup dahsyat! Dari mana kedua kakaknya memiliki kekuatan dahsyat seperti itu.

"Wuuuuuuttt...! Wuuuuuuuut...!”

Jarot cepat mengelak dengan lincahnya sehingga pukulan kedua orang itu luput. Kini kedua orang itu yang menjadi kaget dan heran. Mereka telah menyerang dengan Aji Samber Nyawa, yang sekali pukul dapat membunuh lawan. Akan tetapi dengan mudah saja Jarot dapat mengelak dari dua pukulan mereka! Padahal dahulu Jarot hanya pernah mempelajari ilmu kanuragan yang biasa saja, sama dengan mereka sebelum menjadi murid Bhagawan Dewondaru. Akan tetapi keheranan ini tidak menghentikan kemarahan mereka. Mereka lalu menerjang dan menyerang lagi dengan lebih dahsyat. Melihat ini, terpaksa Jarot menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Dukk...! Dukk...!”


Dua orang kakak beradik itu terpental ke belakang dan terhuyung! Mereka menjadi semakin kaget dan penasaran sekali.

"Kakangmas Lembu Alun dan kakangmas Lembu Tirta. Ingatlah, ini aku Jarot, bukan musuh kalian. Aku telah kembali dan mari kita menghadap Kanjeng Romo dan kanjeng ibu."

Namun Lembu Alun sudah mencabut kerisnya dan membentak kepada adiknya, "Lembu Tirta, kita bunuh manusia palsu ini!"

Dia lalu menyerang lagi menggunakan kerisnya dan perbuatannya ini segera diturut oleh Lembu Tirta yang juga menyerang dengan kerisnya. Jarot cepat mengelak dari tusukan kedua batang keris itu. Keris-keris itu menyambar lagi dan sampai lima enam kali Jarot mengelak.

"Kakangrnas berdua, hentikan serangan kalian. Aku Jarot tulen, bukan palsu. Aku adik kalian!" berulang kali Jarot membujuk mereka, akan tetapi kedua orang itu menyerang semakin ganas, keris mereka berkelebatan menyambar-nyambar.

Jarot maklum bahwa tidak mungkin dia mengelak terus, maka ketika melihat betapa mereka itu benar-benar tidak mau mendengarkan bujukannya, dia lalu menggerakkan kedua tangannya menangkis dengan pengerahan tenaga sakti. Tangkisannya mengena pergelangan tangan kanan mereka dengan kuat sekali.

"Dukk...! Dukkk...!" Dan kedua orang bersaudara itu tidak dapat mempertahankan keris mereka yang terlepas dari tangan mereka yang terasa lumpuh!

Mereka terbelalak, maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi Jarot yang kini demikian digdayanya. Mereka lalu memungut keris mereka dan lari memasuki kota, terus menuju ke pintu gerbang kota sebelah selatan dan terus berlari menuju ke pantai Laut Kidul.

Jarot tidak mengejar mereka, hanya merasa heran sekali mengapa kedua orang kakaknya begitu keras hendak membunuhnya. Benarkah mereka itu tidak mengenalnya lagi? Begitu besarkah perubahan pada dirinya sehingga mereka tidak mengenalnya? Jarot tidak mempedulikan mereka lagi dan langsung saja dia melangkah menuju ke Kadipaten.

Hatinya merasa terharu juga ketika dia berdiri di halaman kadipaten yang telah dikenalnya sejak dia kecil itu. Bahkan dia tahu bahwa pada saat senja seperti itu, para ibunya dan para putera-puteri berkumpul di ruangan dalam berbincang-bincang. Dia mengira-ira apakah namanya disebut dalam percakapan mereka itu. Mungkin tidak lagi. Sudah terlalu lama dia meninggalkan mereka. Mungkin mereka sekarang sudah lupa, seperti dua orang kakaknya tadi. Perasaan kecewa mengalir masuk ke dalam hatinya. Akan tetapi segera diusirnya perasaan ini dengan kesadaran bahwa yang bersalah adalah dia sendiri. Dia meninggalkan mereka selama tujuh tahun tanpa pamit.

Seorang tukang kebun menghampirinya, sapu lidi panjang di tangan kanannya. Meski pun cuaca sudah agak remang, Jarot masih mengenal baik tukang kebun ini. Ki Sambung, tukang kebun yang kini berusia empat puluh tahun itu. Akan tetapi dia diam saja, pura-pura tidak mengenalnya untuk menguji apakah tukang kebun ini juga lupa kepadanya. Padahal dahulu, pada waktu dia masih kecil, sering sekali dia mengajak tukang kebun itu bermain-main.

Ketika tukang kebun sudah tiba dekat di depan Jarot, mendadak dia terbelalak, mulutnya ternganga dan gagang sapu yang dipegangnya terlepas dari tangannya, lalu ia mengamati wajah Jarot dan akhirnya dia berseru dengan suara terputus-putus,

"Den mas Jarot...? Tapi... tapi... benarkah andika denmas Jarot yang sudah sedemikian lamanya hilang?"

Bukan main senang dan lega rasa hati Jarot mendengar seruan ini. Ki Sambung tidak lupa kepadanya, berarti bahwa tidak banyak perubahan terjadi atas dirinya! Jarot tertawa,

"Ha-ha, paman Sambung, kiranya andika tidak lupa kepadaku? Aku memang Jarot, tulen dan bukan setannya!"

"Denmas Jarot...! Ah, sekian lamanya ini, andika pergi ke mana sajakah, denmas? Semua orang mengharapkan kedatangan denmas!" Dan seperti seorang anak kecil, tukang kebun itu lalu berlari ke dalam gedung sambil berteriak-teriak.

”Denrnas Jarot datang...! Denmas Jarot telah pulang...!"

Mendengar teriakannya berulang-ulang itu, para pelayan yang berada di serambi depan sudah berlari-lari keluar ke pekarangan dan mereka semua menyambut Jarot dengan wajah ceria dan senyum gembira. Tak lama kemudian, Sang Adipati sendiri keluar diikuti oleh para isteri, putera dan puterinya.

"Jarot, anakku...!” Ibu Jarot berlari ke depan dan menubruk puteranya. Mereka saling rangkul dan wanita itu menangis tersedu-sedu saking gembiranya.

"Kanjeng ibu, ampunkan anakmu yang berdosa, meninggalkan kanjeng ibu tanpa pamit..." Jarot menelan keharuannya.

"Jarot, benarkah kami tidak mimpi dan engkau yang datang ini?" Sang Adipati bertanya.

Jarot melepaskan pelukan pada ibunya dan dia lalu berlutut menyembah depan kaki ayahnya. "Kanjeng Rama, ampunkan saya, kanjeng Rama, saya telah pergi tanpa pamit selama tujuh tahun."

Sang Adipati memegang pundak pemuda itu dan berkata, "Mari kita semua masuk dan bicara di dalam."

Keluarga itu lalu memasuki gedung dan berkumpul kembali di ruangan dalam. Setelah pelayan menyuguhkan minuman dan Jarot diminta agar minum lebih dulu, Sang Adipati Kertajaya lalu bertanya kepada Jarot,

"Jarot, sekarang tiba saatnya bagimu untuk bercerita. Tujuh tahun yang lalu itu, engkau pergi berburu dengan kangmasmu Lembu Alun... ah, ya. Di mana Lembu Alun dan Lembu Tirta? Kenapa mereka tidak berkumpul di sini?"

"Mereka sejak sore tadi pergi dan belum kembali," jawab seorang di antara para ibu selir.

"Anakku Jarot, kau lanjutkan pertanyaanku. Ketika itu engkau pergi berburu kijang dengan kangmasmu Lembu Alun, kenapa engkau lalu menghilang di dalam hutan itu sehingga kangmasmu pulang seorang diri? Kami sudah mengerahkan pasukan untuk mencarimu di daerah itu sampai tiga hari tiga malam, namun usaha kami sia-sia belaka. Apakah yang terjadi denganmu dan ke mana saja engkau menghilang?"

Dengan terus terang tanpa menuduh siapa-siapa Jarot lalu menceritakan pengalamannya tujuh tahun yang lalu.

"Ketika itu, saya dan kakangrnas Lembu Alun berpencar untuk mencari dan memburu kijang. Ketika itu saya tidak melihat seekorpun kijang dan hawanya gerah sekali maka saya lalu turun ke sungai untuk membasuh muka dan leher saya. Tiba-tiba saja saya merasa sakit sekali pada punggung saya dan selanjutnya saya tidak ingat apa-apa lagi."

Jarot berhenti sebentar dan para pendengarnya penuh perhatian dan mereka ingin sekali tahu apa selanjutnya yang terjadi dengan pemuda itu. Jarot kini berhati lega karena ternyata seluruh keluarganya mengenalnya. Dia pergi ketika berusia limabelas tahun dan pulang setelah berusia dua puluh dua tahun, namun ayahnya, ibunya dan para ibu tiri, juga saudara-saudaranya semua mengenalnya. Mengapa Lembu Alun dan Lembu Tirta tidak mengenalnya? Hal ini membuat dia teringat dan melamun.

"Selanjutnya bagaimana, angger Jarot?” tanya ibunya yang sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui pengalaman Jarot.

"Ketika saya sadar dari pingsan, ternyata saya telah berada di dalam sebuah pondok. Kiranya ada orang yang menolong saya dan orang itu kemudian menjadi guru saya. Namanya adalah Bhagawan Dewondaru, seorang maha sakti yang bertapa di lereng Semeru. Karena ternyata kami saling cocok, saya terus berguru kepada Bapa Guru sampai tujuh tahun lamanya. Kanjeng Rama, dan kanjeng ibu, ampunkan saya yang tidak pulang selama tujuh tahun. Selama itu saya pergi menuntut ilmu dan baru sekarang saya dapat pulang."

"Tidak mengapa, engkau kini pulang sudah membahagiakan hati kami semua. Hanya lain kali, kalau hendak meninggalkan kadipaten lama-lama, harus memberitahu lebih dulu, Jarot. Engkau membuat hati kami gelisah dan putus harapan selama bertahun-tahun."

Keluarga itu lalu makan malam, dan semalam itu mereka bercakap-cakap melepas rindu sampai larut malam, barulah mereka mengaso dan tidur. Jarot mendapatkan kamarnya yang dahulu, yang masih dirawat dengan baik-baik oleh ibunya yang tidak pernah putus asa dan selalu percaya bahwa sekali waktu puteranya akan pulang.

Malam itu, kembali Lembu Alun dan Lembu Tirta menghadap guru mereka, Wasi Surengpati, di dalam goa di tebing Laut Kidul itu.

"Anak mas berdua, mengapa kelihatan gugup dan lesu malam ini. Apakah yang mengganggu perasaan kalian berdua?" Tanya Wasi Surengpati setelah kedua orang muridnya itu menghadap di depannya. Sinar dua batang obor yang apinya bergerak-gerak tertiup angin itu menimbulkan pemandangan yang menyeramkan di goa itu.

"Ah, celaka, Bapa Guru. Secara tiba-tiba Jarot telah muncul kembali. Benar seperti petunjuk Bapa Guru, Jarot masih hidup dan ternyata dia memiliki kepandaian tinggi sehingga kami berdua tidak mampu menandinginya." Lembu Alun dan adiknya menceritakan pertemuan mereka dengan Jarot di luar pintu gerbang utara sore tadi. Wasi Surengpati mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Hemmm, kalau sudah begini, lalu apa yang andika berdua hendak lakukan? Bantuan apa yang dapat kuberikan kepada kalian?"

"Dengan munculnya Jarot, maka usaha melenyapkan kanjeng Rama tidak ada gunanya lagi. Sebelum meninggal, kanjeng Rama tentu akan mengangkat jahanam itu menjadi penggantinya. Sekarang sasaran harus ditujukan kepada Jarot, Bapa Guru. Kalau dia mati, berarti penghalangnya tidak ada lagi. Kami mohon agar Bapa Guru membunuh Jarot."

"Hemm..." Wasi Surengpati mengelus jenggotnya yang tebal. "Kalau pemuda itu memiliki kadigdayaan, mampu mengalahkan kalian berdua, maka tidak akan demikian mudah membunuh dengan guna-guna. Akan tetapi aku dapat memancingnya untuk datang ke tempat ini dan di sini kita bertiga dapat mengeroyok dan membunuhnya. Tempat ini sunyi dan baik, tidak akan ada orang yang melihat dan mengetahuinya... juga kalau mayatnya kita buang ke bawah, dia akan ditelan ombak dan lenyap."

Dua orang kakak beradik ini menjadi girang bukan main.

"Apakah untuk itu ada juga syaratnya, Bapa Guru?"

"Tentu saja, akan tetapi untuk mengguna-gunai agar dia datang ke sini syaratnya hanya mudah. Sepotong baju yang telah dipakai dan belum dicuci akan cukup untuk memaksa dia datang ke sini."

"Baik, Bapa Guru. Kalau hanya itu saja akan kami usahakan dan bawa ke sini secepatnya. Akan tetapi sekarang kami harus menghadapi hal yang amat tidak enak. Kalau Jarot sudah pulang ke Kadipaten, terpaksa kami berdua akan bertemu dengannya. Sungguh amat tidak enak bagi kami berdua."

"Akan tetapi, kakangmas Lembu Alun. Kenapa bingung? Kita pura-pura baru tahu bahwa dia benar-benar adik kita Jarot dan kita minta maaf kepadanya bahwa sore tadi kita tidak mengenalnya dan menyangkanya orang lain yang menyamar sebagai Jarot. Dengan demikian kita dapat menutup rasa malu kita dan menghilangkan kecurigaannya terhadap kita," kata Lembu Tirta kepada kakaknya.

Demikianlah, pada keesokan harinya, ketika Jarot baru saja bangun dari tidurnya dan mandi, dua orang kakaknya itu menemuinya di kamarnya.

"Adimas Jarot, kiranya benar-benar engkaukah yang datang?" kata Lembu Alun dengan wajah berseri dan dia melangkah maju memegang tangan Jarot.

"Sungguh mati, hal ini sukar dipercaya."

"Aku juga tadinya tidak percaya sama sekali bahwa engkau benar-benar masih hidup dan pulang, adimas Jarot. Sungguh kami menyesal sekali bahwa kemarin kami tidak percaya dan menyangka engkau orang lain yang hendak mengacau," kata pula Lembu Tirta dengan wajah sungguh-sungguh.

"Benar, adimas Jarot. Aku merasa menyesal dan malu sekali kepadamu bahwa kemarin aku tidak mengenalmu, bahkan menyerangmu sebagai seorang jahat. Aku khawatir kanjeng Rama akan marah sekali kepada kami berdua."

Jarot tersenyum.

"Tidak mengapalah, kakangmas. Aku tidak menyalahkan kalian, kalau kalian kemarin tidak mengenalku dan tidak percaya bahwa aku masih hidup dan pulang. Dan tentang kanjeng Rama, harap kalian jangan khawatir karena mengenai peristiwa kita kemarin, aku tidak menceritakan kepada siapapun juga. Kanjeng Rama tidak tahu akan peristiwa itu."

Tentu saja kedua orang pemuda itu merasa girang dan lega mendengar ucapan Jarot ini. Mereka berdua kini bersikap ramah dan baik sekali kepada Jarot, bahkan seolah memperlihatkan rasa sukur dan kangennya.

"Dahulu itu aku kebingungan sekali karena engkau tidak muncul kembali dan aku telah berteriak-teriak memanggilmu, mencari-cari sampai hari menjadi sore. Terpaksa aku pulang sendiri sambil menangis karena khawatir sekali. Apakah yang telah terjadi denganmu, adimas Jarot? Ke mana engkau pergi?"

"Ada orang memanah punggungku, kakangmas Lembu Alun. Orang memanahku dari belakang dan anak panahnya mengenai punggungku sehingga aku roboh dan hanyut di Kali Rejali," kata Jarot sambil menatap tajam wajah Lembu Alun. Akan tetapi wajah kakaknya itu tidak menunjukkan sesuatu, hanya tampak heran mendengar jawabannya itu.

"Ada orang memanahmu dari belakang? Akan tetapi, siapakah orangnya yang bertindak sedemikian kepadamu, adikku?"

"Aku tidak tahu, kakangmas. Begitu terkena anak panah, aku lalu jatuh dan tidak ingat apa-apa lagi."

"Ah, aku tahu! Pemanahnya tentulah anggota perampok yang suka bersembunyi di dalam hutan. Karena khawatir ketahuan oleh adimas Jarot, maka dia memanahnya agar tempat persembunyiannya tidak diketahui orang," kata Lembu Tirta.

"Hemm, boleh jadi benar kata-katamu itu, dimas Lembu Tirta. Lalu bagaimana, adimas Jarot? Engkau pingsan dan hanyut di Kali Rejali, bagaimana engkau dapat tertolong dan siapa yang menyelamatkanmu?"

"Tentu ada orang yang menolongmu, bukan? Kalau tidak tentu adimas Jarot akan tewas di kali itu."

"Ehh, nanti dulu. Apakah engkau menyimpan anak panah itu, adimas Jarot? Barangkali dari anak panahnya kita dapat mengenal dan menemukan pemanahnya."

Jarot menggeleng kepalanya.

"Anak panah itu biasa saja, berbulu hitam. Banyak orang memakai anak panah seperti itu, kakangmas, bagaimana kita dapat mengenal orangnya?"

"Ah, sayang. Lalu, siapa yang menolongmu, dimas?"

"Ketika aku sadar dari pingsan, aku telah berada dalam sebuah pondok dan ternyata ada orang yang menolongku dari Kali Rejali dan membawaku ke pondok itu. Dia yang mengobati dan merawatku sampai aku sembuh kembali."

"Siapa dia, adimas?"

"Dia adalah Bhagawan Dewondaru yang kemudian menjadi guruku selama tujuh tahun ini. Dari dialah aku mempelajari sedikit ilmu kanuragan."

Wajah Lembu Alun berubah merah karena dia teringat akan peristiwa kemarin sore di mana dia dan Lembu Tirta mengeroyok Jarot dengan keris namun mereka berdua tidak mampu menandinginya.

“Ahh, engkau sekarang telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dimas Jarot. Aku ikut merasa gembira."

Dua orang itu bersikap ramah dan akrab sekali sehingga Jarot sudah melupakan apa yang pernah terjadi di antara mereka di luar pintu gerbang itu. Dan karena dia tidak menaruh curiga sama sekali, mudah saja bagi Lembu Alun untuk mengambil sepotong bajunya yang kotor dan yang sudah diserahkan pembantu untuk dicuci. Baju itu segera dibawanya ke Goa Iblis di tebing Laut Kidul itu.

Dua hari kemudian, pada suatu pagi Jarot mendadak merasa hatinya gelisah sekali. Dia tidak betah tinggal di rumah dan untuk melenyapkan hati yang gelisah itu dia lalu keluar untuk berjalan-jalan. Kadipaten Pasisiran masih sama dengan tujuh tahun yang lalu, hanya sedikit saja perubahannya. Dia masih mengenal rumah-rumah di kadipaten itu, dan diapun bertemu dengan banyak orang yang pernah dikenalnya ketika dia masih remaja dahulu.

Akan tetapi, setelah berjalan-jalan sampai keliling kota kadipaten, perasaan gelisah dalam hatinya tidak lenyap, bahkan bertambah dengan perasaan yang aneh. Dia merasa seperti dipanggil orang untuk keluar dari kota Kadipaten Pasisiran melalui pintu gerbang sebelah selatan. Diapun menurutkan dorongan hati ini dan pergilah dia keluar kota. Setelah tiba di luar pintu gerbang, masih saja ada sesuatu yang menariknya dengan kuat sekali sehingga dia menjadi semakin heran. Daya tarik itu mendorongnya untuk berjalan terus ke selatan! Dia mulai merasa bahwa dorongan hati ini tidaklah wajar, akan tetapi hal itu bahkan membuat dia tertarik sekali. Apa yang mendorongnya demikian kuatnya menuju ke pantai Laut Selatan? Dia menjadi ingin tahu dan tidak melawan daya tarik itu, bahkan dia lalu mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat.

Setelah tiba di daerah pantai, dia melihat seorang wanita cantik sedang berjalan seorang diri. Sekilas pandang saja Jarot maklum bahwa wanita itu bukan penduduk biasa. Usianya sudah kurang lebih lima puluh tahun akan tetapi wanita itu masih cantik jelita dan memiliki bentuk tubuh seperti seoang dara saja. Wanita itu pun memandang kepadanya, akan tetapi Jarot tidak memperhatikan atau mempedulikannya. Daya tarik itu semakin kuat dan dia berlari cepat mendaki bukit di tepi laut karena dari sanalah daya tarik itu datangnya. Dari atas bukit di tepi laut!

Sementara itu, wanita yang sedang berjalan itu juga memandang penuh perhatian. Tadinya wanita itu hendak mengeluarkan kata-kata, akan tetapi ditahannya kembali. Ketika melihat Jarot menggunakan ilmu berlari cepat ia semakin tertarik dan tak lama kemudian wanita itu pun menggunakan gerakan yang cepat sekali membayangi Jarot.

Siapakah gerangan wanita setengah tua yang wajahnya cantik itu? Wanita itu bukan lain adalah Endang Patibroto!

Sebagaimana kita ketahui, Endang Patibroto melakukan perjalanan menyusuri pantai Laut Kidul menuju ke timur dalam usahanya mencari jejak puterinya. Ketika tiba di situ bertemu seorang pemuda tampan yang jelas bukan pemuda dusun, tadinya ia ingin menyapa dan bertanya kalau-kalau pemuda itu pernah melihat puterinya atau melihat Bagus Seto. Akan tetapi ketika pemuda itu berlari kencang sekali, jelas bukan lari biasa melainkan lari yang menggunakan aji kesaktian, Endang Patibroto terkejut dan tertarik, maka iapun cepat menggunakan Aji Bayu Tantra untuk berlari secepat angina membayangi pemuda tampan itu.

Karena seluruh perhatian Jarot selalu ditujukan ke depan, ke arah tenaga mujijat yang menariknya semakin kuat untuk berjalan terus, pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa ada orang membayanginya dari belakang. Dia mendaki bukit yang cukup tinggi itu, bukit berbatu-batu karang yang tajam dan runcing, harus berhati-hati kalau berlari di atas batu-batu karang itu. Akhirnya dia tiba di ujung jalan yang menuju ke tebing yang amat curam.

Dia menjenguk ke bawah dan bergidik ngeri. Tebing itu sangat curam. Air laut dan batu-batu karang tampak di bawah, sejauh tiga ratus meter lebih. Kalau orang terjatuh dari atas tebing, tentu tubuhnya akan hancur lebur disambut karang tajam dan runcing, kemudian disambut ombak laut yang ganas.

Akan tetapi anehnya, kekuatan yang menariknya itu makin terasa dan kini menarik dari bawah! Dia menjadi makin terheran-heran, akan tetapi dia melihat sejalur jalan setapak menuruni tebing itu.

Ada bekas kaki orang di jalan setapak, tanda bahwa ada orang menuruni jalan itu. Kalau orang lain berani menuruni jalan itu, kenapa dia tidak? Dan lagi, daya tarik itu terus terasa semakin kuat, datangnya dari bawah!

Tanpa ragu lagi Jarot lalu menuruni jalan setapak yang terjal itu. Berpegang kepada akar-akar kayu-kayuan atau kepada batu-batu karang yang menonjol, dia terus menuruni jalan setapak itu dengan cekatan dan cepat. Akhirnya tibalah dia di tempat datar dan dari situ dia melihat beberapa buah goa yang besar. Tenaga yang menariknya itu datangnya dari sebuah di antara goa-goa itu, yang berada di tengah.

Di depan goa itu terdapat tanah datar yang cukup luas. Dengan berani Jarot menurutkan daya tarik itu dan melangkah ke depan. Setelah sampai di depan goa itu, dia mendengar suara orang tertawa. Tiga orang muncul dari dalam goa itu dan dia terbelalak.

Dua di antara mereka dikenalnya dengan baik karena mereka itu bukan lain adalah Lembu Alun dan Lembu Tirta! Kedua orang ini mengiringkan seorang kakek yang tertawa-tawa. Jarot memandang penuh perhatian.

Kakek itu sungguh menyeramkan. Rambutnya panjang dan gimbal, matanya bundar dan besar, hidungnya pesek dan mulutnya yang lebar itu menyeringai ganas, namun mata yang besar itu mencorong seperti mata harimau. Pakaiannya seperti baju pendeta yang longgar dan panjang berwarna kuning dekil. Tangan kanan kakek ini memegang sebatang tongkat berbentuk ular, seperti seekor ular yang dikeringkan.

"Hoa-ha-ha-ha, andika telah datang, Jarot?"

Jarot tidak mempedulikan kedua orang kakaknya, melainkan menatap tajam wajah kakek itu. Dia tidak mengenalnya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek ini yang memiliki ilmu yang menariknya tadi.

"Jadi andika yang menggunakan ilmu hitam menarikku datang ke sini?"

"Hoa-ha-ha-ha, siapapun akan datang kalau kupanggil. Tak seorang pun dapat melawan ilmu sihirku!" Wasi Surengpati membanggakan diri.

"Orang tua, apa kehendakmu memanggil aku datang ke sini?" tanya Jarot, suaranya tetap tenang dan tabah.

"Hoa-ha-ha! Kalau engkau ingin tahu, tanyakan saja kepada dua orang saudaramu ini!"

Mendengar ini, Jarot memandang kepada kedua orang kakaknya dengan alis berkerut. "Kakangmas Lembu Alun dan Lembu Tirta, apa artinya semua ini?"

"Artinya, engkau akan mati hari ini, Jarot!" kata Lembu Alun. "Akan kami sempurnakan usahaku tujuh tahun yang lalu!"

Jarot membelalakkan kedua matanya.

"Jadi... jadi engkau yang dulu melepaskan anak panah menyerangku, kakangmas?"

Lembu Alun tidak menjawab, melainkan mencabut kerisnya dan berkata kepada Wasi Surengpati.

"Bapa, cepat habisi dia!"

Sambil tertawa kakek itu lalu menerjang dengan tongkat ularnya. Terdengar suara angin berdesir ketika tongkat itu menyambar dan Jarot cepat-cepat mengelak karena dari angin sambarannya saja maklumlah dia bahwa kakek itu memiliki tenaga yang amat kuat. Akan tetapi tongkat ular itu menyambar lagi dan kini Lembu Alun dan Lembu Tirta juga sudah menerjang maju dengan keris mereka. Jarot dikeroyok tiga! Tiga orang lawannya semua bersenjata sedangkan dia sendiri hanya bertangan kosong, maka sebentar saja dia telah terdesak hebat.

Tongkat ular menyambar lagi.

"Wuuutt...!”

Jarot terpaksa menangkis dengan lengan kirinya sambil mengerahkan tenaga.

"Plakkk...!”

Pertemuan lengannya dengan tongkat itu membuat tubuh Jarot tergetar hebat dan dia terhuyung.

Lembu Alun mengejar dan menusukkan kerisnya, akan tetapi dapat dielakkan oleh Jarot. Ketika Lembu Tirta menyusul dengan tusukan kerisnya, dia menangkis dengan tangan kirinya.

"Plakk!"

Lembu Tirta terhuyung ke samping. Akan tetapi kini Wasi Surengpati sudah menerjang lagi sambil mengeluarkan teriakan nyaring, teriakan nyaring itu mengandung tenaga yang amat kuat. Jarot merasa jantungnya tergetar dan diapun terhuyung-huyung ke belakang. Ternyata kakek itu dapat menyerang dengan suaranya yang mengandung tenaga dahsyat yang dapat mengguncang jantung lawan seperti auman seekor singa!

Selagi terhuyung, kembali dua orang kakak beradik itu sudah menyerang dengan keris mereka. Namun, Jarot dapat menggulingkan tubuhnya dan terluput dari tusukan kedua keris kakaknya. Ketika dia melompat berdiri dan berniat melarikan diri dari keadaan gawat itu, Wasi Surengpati telah menghadang di depannya. Kembali kakek ini mengeluarkan gerengannya yang dahsyat dan kembali Jarot terhuyung dan pada saat itu tongkat ular telah menyambar dengan cepat dan kuat sekali ke arah kepalanya.

"Wuuuuuuttt...! Tukk!"

Tongkat yang sudah menyambar dekat kepala Jarot itu terpental karena ada sepotong batu menangkisnya.

Kakek ini terkejut dan memandang ke kiri dari mana sepotong batu tadi melayang dan menangkis tongkatnya. Dia melihat seorang wanita yang cantik jelita berdiri di sana sambil memandang tajam kepadanya. Wanita itu adalah Endang Patibroto yang sekali melompat sudah berada didepan Wasi Surengpati.

Endang Patibroto tersenyum mengejek. Sikapnya tenang dan pandang matanya demikian tajam bersinar sehingga Wasi Surengpati diam-diam terkejut sekali dan menduga-duga siapa adanya wanita yang telah menangkis tongkatnya dengan sambitan batu tadi.

"Hemm, orang tua jelek dan jahat! Sungguh tak malu mengeroyok seorang pemuda yang tampaknya tidak bersalah apa-apa! Kalau andika mencari lawan, akulah lawanmu, kakek tua bangka buruk!" Endang Patibroto berseru.

Wasi Surengpati menjadi marah sekali. Biar pun dia dapat menilai bahwa wanita itu memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi dia tidak takut.

"Babo-babo, wanita lancang tangan. Siapakah kamu berani menentang Wasi Surengpati dari Goa Iblis? Apakah nyawamu rangkap maka kau berani mencampuri urusan kami?"

"Biar ditambah lima orang macam kamu, aku tidak takut. Wasi Surengpati, kamu adalah manusia jahat yang pantas dijadikan hamba iblis. Walau pun aku belum tahu duduk perkaranya, melihat penampilanmu saja aku sudah tahu bahwa pemuda yang kau keroyok itu tentulah berada di pihak yang tidak bersalah!"

"Keparat, lancang mulutmu! Heiiiiii...!" Kembali dia berteriak melengking hingga suaranya menggetarkan seluruh tempat itu.

Tetapi Endang Patibroto tidak menjadi gentar, bahkan wanita ini pun lalu mengeluarkan ajinya, menjerit dengan lengkingan panjang. Itulah Pekik Sardulo Bairowo dan lengkingan ini seolah menelan jeritan Wasi Surengpati tadi! Wasi Surengpati menjadi semakin marah dan diapun sudah menerjang maju dengan tongkat ularnya. Endang Patibroto menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukkk!"

Endang Patibroto merasa betapa lengannya tergetar, akan tetapi sebaliknya tongkat Wasi Surengpati terpental ke atas!

Dari pertemuan dua tenaga ini saja sudah dapat dinilai bahwa tenaga Wasi Surengpati masih kalah setingkat dibandingkan tenaga wanita sakti itu. Akan tetapi Wasi Surengpati masih penasaran dan mulailah dia mengamuk dengan tongkat ularnya yang menyambar-nyambar bagaikan ular hidup yang pandai terbang. Namun, Endang Patibroto selalu dapat mengelakkannya dan ketika ia mendapat kesempatan, ia lalu membalas serangan lawan dengan pukulan Pethit Nogo!

"Plakk!"

Ujung jari tangan Endang Pati broto mengibas ke arah kepala Wasi Surengpati, namun kakek itu dapat menangkis dengan ujung tongkatnya. Mereka kini bertanding dengan hebat, saling serang dan kakek itu mendapat kenyataan betapa hebatnya kepandaian lawannya.

Sementara itu dua orang kakak beradik itu masih tetap mengeroyok Jarot. Tetapi mereka bukan tandingan Jarot. Tusukan-tusukan keris mereka dengan mudah dihindarkan Jarot, baik dengan elakan atau tangkisan. Dan ketika dia balas menyerang dengan tamparan-tamparan tangannya, dua orang kakak beradik itu menjadi repot berloncatan ke sana sini untuk mengelak.

"Haiiiiitt...! Pergilah!" Bentak Endang Patibroto kepada lawannya dan kini ia menyerang dengan pukulan jarak jauh Gelap Musti.

Kakek itu mencoba untuk menahan serangan ini dengan pengerahan tenaga saktinya, namun dia tidak kuat dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sampai lima meter. Agaknya kakek itu maklum bahwa ia tidak akan menang melawan wanita sakti itu, maka diapun melompat dan melarikan diri melalui tebing yang curam itu, merayap naik seperti seekor monyet.

Endang Patibroto tidak mengejarnya melainkan menonton pertandingan antara Jarot yang dikeroyok dua oleh Lembu Alun dan Lembu Tirta.....

0 Response to "Sepasang Garuda Putih Jilid 03"

Post a Comment