Sang Megatantra Jilid 41

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Setelah Bancak dan Doyok datang menghadap, terheran-heran mengapa mereka dipanggil Dyah Untari hal yang langka terjadi, Dyah Untari lalu menyuruh para dayangnya keluar dari ruangan. Kemudian dengan berbisik-bisik ia menceritakan semua hal yang baru saja didengarnya dari Puspa Dewi itu kepada mereka. Dua orang abdi yang setia itu mendengarkan penuh perhatian dan wajah mereka menjadi pucat, mata mereka terbelalak, berulang-ulang mereka menggeleng kepala dan menghela napas panjang, terheran-heran mendengar akan rencana pemberontakan yang amat jahat itu. Setelah menceritakan semuanya dengan jelas dan lengkap, Dyah Untari lalu berkata kepada mereka.

"Nah, demikianlah apa yang dilaporkan Puspa Dewi kepadaku, Paman Bancak dan Paman Doyok. Karena aku tidak tahu bagaimana akan dapat menyampaikan berita ini kepada Gusti Sinuwun tanpa diketahui orang lain, maka aku memanggil andika berdua dan setelah aku menceritakannya kepada kalian, sekarang menjadi tugas kalian untuk menyampaikannya kepada Gusti Sinuwun tanpa diketahui orang lain."

"Jangan khawatir, Gusti Puteri. Hamba berdua pasti akan dapat menyampaikan berita penting ini kepada Gusti Sinuwun." kata Bancak yang segera pamit dan bersama Doyok lalu cepat keluar dari ruangan itu dan bergegas mencari kesempatan untuk dapat menghadap Sang Prabu Erlangga.

Akhirnya Bancak dan Doyok mendapat kesempatan itu. Mereka dapat menghadap Sang Prabu Erlangga ketika Sri Baginda berada seorang diri dalam ruangan perpustakaan. Sang Prabu Erlangga terkejut bukan main mendengar laporan Bancak dan Doyok. Akan tetapi sebagai seorang raja yang bijaksana, Sang Prabu Erlangga tidak mau percaya begitu saja kepada laporan yang disampaikan Puspa Dewi kepada selirnya itu. Harus ada buktinya, barulah dia akan dapat bertindak menghukum mereka yang bersalah. Maka, dia merahasiakan urusan itu, akan tetapi diam-diam mengatur segalanya untuk mengatasi bahaya yang mengancam. Dia menulis sebuah surat perintah dan mengutus Bancak dan Doyok menyerahkan surat itu kepada Senopati Wiradana yang dipercaya karena Sang Prabu Erlangga sudah yakin akan kesetiaan senopati tua yang menjadi kepala dari semua senopati di Kahuripan.

Biasanya dia menyerahkan urusan penting ini kepada Ki Patih Narotama, akan tetapi karena dia mendengar bahwa komplotan itu juga merencanakan pembunuhan atas diri Narotama, maka ia memerintahkan Senopati Wiradana untuk mempersiapkan segalanya dan menghancurkan usaha pemberontakan itu, kalau benar-benar terjadi pemberontakan seperti yang dilaporkan Puspa Dewi itu.

Sementara itu, Puspa Dewi juga mencari akal untuk dapat memperingatkan Nurseta akan bahaya yang mengancam dirinya karena menurut rencana, malam itu ia dan Ratu Mayang Gupita beserta dua pembantunya, yaitu Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo, akan melaksanakan tugas membunuh Nurseta dan Senopati Sindukerta. Ada pun tugas membunuh Ki Patih Narotama akan dilakukan malam itu juga oleh Puteri Lasmini dan Linggajaya. Gadis yang cerdik ini akhirnya mendapat akal Ia menghadap Puteri Mandari untuk merundingkan dengan lebih terperinci tentang tugas membunuh dua orang tawanan itu.

Setelah berhadapan berdua saja, Puspa Dewi tidak bersikap sebagai seorang dayang karena ia menganggap dirinya sederajat dengan Mandari. Mandari adalah puteri Ratu Durgamala dari Parang Siluman akan tetapi iapun puteri Raja Bhismaprabhawa dari Wura-wuri, walau pun hanya anak angkat!

"Agar tugas yang kami lakukan dapat berhasil baik, saya minta diberi kesempatan untuk melakukan penyelidikan kerumah tahanan itu, melihat ruangan di mana Nurseta ditahan agar nanti malam kami dapat melaksanakan rencanan itu dengan hasil baik." katanya.

Mandari tidak menaruh curiga dan tentu saja menyetujui usul Puspa Dewi Itu. Ia lalu menuliskan surat kuasa untuk Puspa Dewi. Dan dengan membawa surat ini, Puspa Dewi dapat dengan mudah memasuki rumah tahanan karena para petugas yang menjaga di situ tentu saja tidak ada yang berani menentang surat perintah Gusti Puteri Mandari!

Para penjaga itu pun tidak curiga karena mereka melihat dayang itu hanya lewat saja di depan kamar tahanan sambil memandang ke dalam. Nurseta yang sedang duduk bersila didalam ruangan tahanan yang berpintu baja dengan ruji-ruji (terali), melihat Puspa Dewi dan dia merasa heran sekali. Akan tetapi, tanpa dapat dilihat para penjaga yang hanya memandang dari jauh, ada berkelebat sinar putih kecil memasuki kamar tahanannya. Dia cepat menangkap kertas terlipat-lipat yang meluncur ke arahnya itu. Setelah Puspa Dewi pergi, dia cepat membaca surat itu tanpa diketahui para penjaga. Tulisan itu rapi dan cukup jelas hanya singkat saja:

Bersiaplah! Malam nanti engkau dan Senopati Sindukerta akan dibunuh. Juga Ki Patih Narotama. Tinggalkan rumah tahanan dan selamatkan ki patih!

Surat itu singkat namun cukup jelas. Walau pun Puspa Dewi tidak menyebut siapa yang akan membunuhnya, namun Nurseta dapat menduga bahwa pembunuhnya tentu ada hubungan dengan Pangeran Hendratama. Karena pangeran itulah yang merasa terancam olehnya. Tidak mungkin Sang Prabu Erlangga yang hendak membunuhnya karena Ki Patih Narotama juga terancam!

Hemm, sebetulnya dia tidak takut dan tidak perlu melarikan diri. Akan tetapi dia teringat akan eyangnya Senopati Sindukerta juga hendak dibunuh dan biarpun eyangnya bukan seorang yang lemah, namun dia tidak bisa membiarkan eyangnya terancam bahaya maut. Si pembunuh tentu seorang yang sakti mandraguna karena tidak mungkin Pangeran Hendratama mengirim pembunuh yang kepandaiannya biasa saja.

Malam nanti..., Nurseta mengambil keputusan untuk bertindak sebelum para pembunuh muncul dan dia sudah tahu apa yang akan dia lakukan untuk menyelamatkan eyangnya, juga untuk membantu Ki Patih Narotama yang juga akan dibunuh.

Kita telah mengetahui apa yang terjadi di kepatihan pada malam harinya. Pembunuhan yang di usahakan oleh Linggajaya dan Lasmini terhadap Ki Patih Narotama telah gagal, bahkan terpaksa Lasmini dan Linggajaya melarikan diri karena Ki Patih Narotama telah berhasil mengorek rahasia Lasmini dari mulut Sarti yang kemudian dibunuh Linggajaya dengan Pasir Saktinya.

Dan pada malam itu juga, usaha pembunuhan terjadi pula di rumah tahanan dalam kompleks istana Sang Prabu Erlangga. Ratu Mayang Gupita bersama Ki Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo dapat diselundupkan ke dalam taman istana oleh Puteri Mandari. Tiga orang ini mengenakan pakaian serba hitam dan kepala mereka dikerudungi kain hitam yang ada lubangnya di bagian kedua mata.

Puspa Dewi juga muncul dan gadis ini pun menggunakan pakaian dan kerudung kepala yang sama. Karena sebelumnya memang sudah diatur, maka tanpa banyak cakap lagi mereka berempat sudah bergerak dengan cepat, menyusup di antara pohon-pohon dan tanaman bunga di taman mendekati rumah tahanan.

Sejam kemudian empat orang ini bergerak, pelayan pribadi Puteri Mandari yaitu Kanthi wanita berusia tiga puluh lima tahun yang tinggi kurus dan bermuka burik hitam, membawa beberapa guci terisi anggur merah dan membawa minuman itu ke tempat para perajurit yang menjaga rumah tahanan itu. Jumlah mereka ada tujuh orang.

"Saya diperintahkan Gusti Puteri Mandari untuk menghadiahkan anggur ini kepada kalian dengan pesan agar kalian bertujuh tidak lengah dan menjaga benar-benar supaya disini aman dan tidak ada tahanan yang dapat melarikan diri." kata Kanthi sambil menyerahkan guci-guci terisi anggur itu.

Para penjaga menjadi gembira bukan main, apa lagi setelah mereka membuka tutup guci dan tercium bau anggur yang harum dan sedap bukan main. Setelah Kanthi pergi, mereka lalu minum-minum sampai lima guci anggur itu habis pindah ke dalam perut mereka. Dan beberapa lama kemudian, mereka bertujuh sudah rebah tumpang tindih di dalam gardu penjagaan dalam keadaan pulas dan mendengkur.

Ternyata Mandari telah mengisi racun pembius yang amat kuat dalam anggur yang ia hadiahkan. Maka, empat orang calon pembunuh Itu mudah saja memasuki rumah tahanan karena semua penjaga telah tertidur dan suara apa saja tidak mungkin dapat mengugah mereka dari keadaan tidur yang lebih mirip pingsan itu.

Mereka segera memasuki rumah tahanan dan Puspa Dewi berjalan paling depan karena ia yang dianggap sebagai penunjuk jalan karena yang mengenal keadaan di situ. Puspa Dewi berjalan dan bersikap gagah, siap dengan pedangnya seolah ia yang akan bergerak lebih dulu menyerang dua orang yang harus mereka bunuh!

Akan tetapi ketika mereka tiba depan ruangan di mana Nurseta ditahan ruangan itu kosong! Mereka memeriksa ruangan kedua di mana Senopati Sindukerta dikeram, akan tetapi ruangan ini pun kosong! Diam-diam Puspa Dewi tersenyum lega. Ternyata Nurseta telah mampu menggunakan kesaktiannya untuk membuka kamar tahanan itu dan keluar dari situ!

"Wah, celaka! Mereka berdua telah kabur!" kata Puspa Dewi.

Ratu Mayang Gupita dan dua orang pembantunya tentu saja menjadi terkejut bukan main. Ratu yang seperti raksasa betina ini tadinya sudah merasa yakin bahwa mereka berempat pasti akan dapat membunuh dua orang tahanan itu dan mereka sama sekali tidak khawatir karena yang menyelundupkan mereka masuk istana adalah Puteri Mandari selir terkasih Sang Prabu Erlangga sendiri. Juga andaikata mereka gagal, jalan keluar untuk kabur sudah dipersiapkan Puteri Mandari. Akan tetapi ternyata sekarang, dua orang tawanan itu sudah kabur, tidak berada di dalam kamar tahanan.

"Mereka ke mana? Ke mana kita harus mencari mereka?" tanya Ratu Mayang Gupita kepada Puspa Dewi.

"Aku khawatir kita terjebak..." kata Cekel Aksomolo dengan suaranya yang tinggi kecil seperti suara wanita. Bagaimana pun juga, kalau teringat akan nama besar Sang Prabu Erlangga yang terkenal sakti mandraguna, tiga orang itu merasa gentar bukan main.

Tiba-tiba Nurseta muncul dari kegelapan. "Kalian mencari aku? Nah, aku berada di sini!"

Dibyo Mamangkoro yang sudah gentar itu berseru, "Celaka, kita terjebak!"

Akan tetapi Ratu Mayang Gupita cepat mendorongkan kedua tangannya kearah Nurseta yang berdiri dalam jarak lima depa. Dari kedua tangan wanita raksasa ini keluar bola api yang mengeluarkan suara meledak.

Nurseta mengenal serangan ampuh dan dahsyat sekali. Diapun lalu mendorongkan kedua tangannya ke depan, menyambut serangan orang tinggi besar berkerudung hitam itu.

"Blaaaaaarrrrr..!"

Dua tenaga sakti bertemu dan tubuh tinggi besar itu terhuyung kebelakang. Diam-diam Ratu Mayang Gupita terkejut bukan main.

"Bahaya, ayo kita lari!" kata Puspa Dewi dan Nurseta segera mengenal gadis itu. Seruan gadis itu tentu mengandung maksud agar dia membiarkan mereka berempat itu melarikan diri. Dia tidak tahu mengapa Puspa Dewi menghendaki demikian, akan tetapi yakin bahwa gadis itu tentu berniat baik terhadap dirinya, pun tidak mengejar dan membiarkan mereka berempat melarikan diri! Mereka berempat lari ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya, yaitu kedalam taman lalu menuju ke sudut taman di mana terdapat semak-semak tebal. Di tempat itu muncul Puteri Mandari menyongsong mereka.

"Bagaimana hasilnya? Kenapa kalian berempat berlari seperti ketakutan? Sudah berhasilkah..?" tanya sang puteri.

"Celaka, kita gagal' Mereka itu sudah keluar dari dalam kamar tahanan!" kata Ratu Mayang Gupita.

"Kita harus cepat lari dari sini!" kata Puspa Dewi.

"Jangan khawatir. Mari..!" Puteri Mandari berkata dan mengajak mereka menyelinap di belakang semak-semak tebal.

Di sana ternyata terdapat sebuah pintu kecil yang memang disediakan untuk para abdi kalau ada keperluan di luar istana dan pintu kecil ini hanya diketahui oleh penghuni istana keputren. Biarpun tugas membunuh para tahanan itu gagal, namun Puteri Mandari tidak merasa gentar karena mereka berempat itu berkerudung sehingga Nurseta tentu tidak mengenal mereka dan kini mereka telah berhasil melarikan diri dengan selamat.

Keadaannya menjadi aman sudah walau pun rencana ke dua itu gagal. Ia mengharapkan rencana pertama membunuh Ki Patih Narotama berhasil dan terutama yang terpenting adalah rencana ketiga, yaitu mengerahkan pasukan gabungan untuk menyerbu istana dan menggulingkan kedudukan Sang Prabu Erlangga.

Biarpun demi membela kerajaan ibunya ia tetap mencelakakan dan membunuh Sang Prabu Erlangga akan tetapi kalau ingat akan kejantanan suaminya itu, ingat akan ketampanan dan kegagahannya, kelembutannya kalau bermesraan, ia menjadi sedih karena maklum bahwa akan sukar mencari seorang pria seperti Sang Prabu Erlangga. Setelah empat orang pembunuh gagal itu keluar dari taman melalui pintu kecil, Puteri Mandari masih berdiri termenung. Ia merasa kecewa dan menyesal bahwa usaha empat orang itu gagal.

Selagi ia hendak kembali ke istana keputren, tiba-tiba ada bayangan berkelebat, la sudah siap untuk menyerang, akan tetapi niat itu urung ketika ia mengenal bahwa yang muncul di depannya bukan lain adalah Lasmini, mbakayunya! Dari sinar lampu taman, ia melihat wajah Lasmini pucat dan tegang.

"Mbakayu Lasmini..!"

"Ketiwasan (celaka), Mandari! Hayo cepat kita pergi dari sini. Cepat sebelum terlambat!" kata Lasmini memotong ucapan adiknya.

"Eh, ada apakah?" tanya Mandari terkejut dan heran.

"Jangan banyak bertanya, nanti kuceritakan. Sekarang, mari kita cepat melarikan diri!"

Mandari dengan ragu menengok ke arah istana. "Akan tetapi aku harus mengambil pakaian dan perhiasan..!"

"Aduh, apa artinya semua itu dibandingkan keselamatan nyawamu? Cepat, sebentar lagi Ki Patih Narotama datang dan Sang Prabu Erlangga mendengar tentang kita. Rahasia kita telah pecah! Hayo kita lari!"

Mendengar ini, Mandari terkejut dan iapun menjadi ketakutan. Jelas bahwa usaha Lasmini dan Lingga jaya membunuh Narotama telah gagal. Kalau hanya gagal tidak mengapa, akan tetapi kalau rahasia mereka berdua yang bersekutu dengan pemberontak, hal itu sungguh berbahaya sekali. Maka, dengan hati tidak karuan rasanya mereka cepat melarikan diri melalui pintu kecil itu yang juga diketahui Lasmini sehingga ia tadi masuk dari situ. Dua orang puteri cantik jelita yang juga sakti itu malam-malam terus melarikan diri menuju ke Kerajaan Parang Siluman di selatan…..

********************

Tadi ketika menerima surat dari Puspa Dewi, dan setelah mendengar para penjaga bicara sambil tertawa-tawa karena menikmati minuman anggur kemudian suasana menjadi sunyi, Nurseta lalu menggunakan tenaga saktinya untuk membongkar gembok yang mengunci pintu besi kamar tahanan dengan mudah. Dia keluar dan membongkar gembok di pintu kamar tahanan eyangnya, Ki Sindukerta.

Mula-mula Senopati Sindukerta hendak mencela perbuatan Nurseta karena dia tidak setuju kalau harus melarikan diri dari tahanan atas perintah Sang Prabu Erlangga, kepada siapa dia amat setia dan taat. Akan tetapi setelah Nurseta menjelaskan apa yang terjadi dia terkejut bukan main bahkan mendesak kepada Nurseta agar cepat melaksanakan apa yang diminta oleh Puspa Dewi, yaitu membantu Ki Patih Narotama menghadapi musuh yang hendak membunuhnya.

Nurseta menanti sampai para pembunuh datang. Dia mendengar ucapan Puspa Dewi yang mengajak tiga orang pembunuh lainnya lari dan dia sengaja tidak merobohkan mereka dan tidak melakukan pengejaran karena dia dapat menduga bahwa tentu gadis itu mempunyai maksud tertentu dengan ucapan itu. Akan tetapi setelah para pembunuh itu pergi, dia berkata kepada Senopati Sindukerta yang tadi bersembunyi dalam kegelapan seperti yang dikehendaki Nurseta karena dia tidak ingin eyangnya terancam bahaya maut.

"Eyang, harap eyang tinggal saja disini karena saya kira bahaya telah lewat Saya harus cepat melihat keadaan Ki Patih Narotama dan kalau perlu membantu beliau yang terancam pembunuhan."

"Benar, Nurseta, cepatlah pergi ke kepatihan!" kata Senopati Sindukerta.

Nurseta lalu menggunakan kepandaiannya untuk berlari cepat memasuki taman. Karena dia tidak tahu akan pintu kecil, maka dia keluar dari taman istana itu dengan jalan melompat ke atas pagar tembok dan keluar dengan cepat. Malam telah berganti pagi ketika Nurseta melangkah menuju kepatihan. Karena sudah banyak orang berlalu lalang di jalan itu, Nurseta tidak berani berlari cepat, hanya berjalan agak cepat sambil memperhatikan keadaan di luar istana. Akan tetapi tidak tampak ada ketegangan dan wajah para penduduk kota raja, seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang menggemparkan.

Tiba-tiba wajah Nurseta berseri dan hatinya lega karena dia melihat Ki Patih Narotama berjalan dari depan. Ki Patih Narotama juga melihat Nurseta dan dia memanggil.

"Nurseta, andika di sini?" Pertanyaan itu menunjukkan perasaan herannya melihat Nurseta yang berada dalam tahanan istana, pagi ini dapat berkeliaran di situ.

"Ah, betapa lega rasa hati hamba Gusti Patih, melihat paduka dalam keadaan selamat, terhindar dari bahaya maut!"

"Apa? Hemm, andika tahu bahwa aku terancam bahaya?" Narotama menjadi semakin heran. "Nurseta, mari kita bicara di sana." Ki Patih Narotama mengajak Nurseta meninggalkan jalan raya memasuki ladang yang sunyi. "Nah, ceritakan sekarang, bagaimana andika yang ditahan di istana dapat berada di sini dan bagaimana pula andika dapat mengetahui bahwa keselamatanku terancam?"

Nurseta lalu menceritakan pengalamannya. Bagaimana ketika malam itu Puspa Dewi muncul di depan kamar tahanan dan melemparkan surat dengan tulisan bahwa malam itu dia dan eyangnya akan dibunuh, juga Ki Patih Narotama akan dibunuh orang. Maka dia lalu meloloskan diri dan melihat empat orang bertopeng yang hendak membunuhnya. Seorang di antara mereka adalah Puspa Dewi dan mereka berempat melarikan diri ketika melihat kamar tahanan kosong.

"Hamba memenuhi permintaan Puspa Dewi dalam surat itu agar hamba meninggalkan rumah tahanan dan menolong paduka yang terancam bahaya." Nurseta mengakhiri keterangannya sambil menyerahkan surat dari Puspa Dewi itu.

Ki Patih Narotama menerima surat itu dan membacanya. Dia mengangguk angguk. "Hemm, syukurlah bahwa anak itu ternyata telah menyadari kesalahannya. Mari, Nurseta, mari kita menghadap Gusti Sinuwun. Urusan ini mungkin masih ada ekornya. Tampaknya ada persekutuan yang membahayakan kerajaan. Kita harus melapor kepada Gusti Sinuwun."

Mereka berdua lalu bergegas menuju ke istana. Mereka semakin tegang dan curiga karena sepagi itu Sang Prabu Erlangga segera dapat menerima mereka, bahkan mereka diajak bicara dalam sebuah ruangan tertutup tanpa dapat didengar orang luar. Pasti telah terjadi sesuatu di dalam istana, selain percobaan pembunuhan atas diri Nurseta dan Ki Sindukerta! Akan tetapi sikap Sang Prabu Erlangga masih tenang, walau pun alis matanya berkerut. Juga dia sama sekali tidak merasa heran melihat Nurseta yang mestinya berada dalam kamar tahanan dapat bersama Ki Patih Narotama menghadapnya.

"Kakang Patih Narotama, urusan apakah yang mendorong kakang sepagi ini datang menghadap? Dan andika, Nurseta, bagaimana andika dapat keluar dari tahanan dan ikut menghadap?"

"Perkenankan hamba yang melapor lebih dulu, gusti. Malam tadi, hamba diserang dan hendak dibunuh dua orang pembunuh gelap. Hamba dapat menghindarkan diri dan dua orang pembunuh gelap itu melarikan diri. Akan tetapi setelah hamba melakukan penyelidikan ternyata bahwa dua orang pembunuh gelap itu bukan lain adalah juru taman baru Linggajaya dan Lasmini. Mereka berdua telah melarikan diri dari kepatihan. Hamba datang menghadap paduka untuk melapor karena hamba khawatir terjadi sesuatu di sini."

Sang Prabu Erlangga sama sekali tidak terkejut karena dia sudah mengetahui semua itu dari laporan selirnya, Dyah Untari yang mendengar dari Puspa Dewi dan menyuruh Bancak dan Doyok melapor kepadanya.

"Dan andika, Nurseta, bagaimana ceritamu?" tanya Sang Prabu Erlangga kepada pemuda itu.

"Ampun, gusti, kalau hamba berani lancang ikut menghadap. Malam tadi juga terjadi percobaan pembunuhan atas diri hamba dan Eyang Sindukerta. Baiknya sebelum itu, Puspa Dewi telah memberi tahu hamba, sehingga hamba dan eyang dapat meloloskan diri. Puspa Dewi juga memberitahu bahwa gusti patih juga terancam, maka hamba bermaksud pergi ke kepatihan untuk membantu beliau, akan tetapi hamba bertemu dengan gusti patih di jalan dan langsung menghadap paduka."

Kembali Sang Prabu Erlangga mengangguk-angguk. "Kami sudah mengetahui semuanya dan ternyata Puspa Dewi tidak berbohong. Ketahuilah, kakang Narotama ada persekutuan jahat yang hendak melakukan pemberontakan. Persekutuan yang terdiri dari empat kerajaan Wura-wuri, Wengker, Siluman Laut Kidul, dan Parang Siluman yang bergabung dengan Pangeran Hendratama yang hendak mengadakan pemberontakan. Yang menyedihkan, Mandari dan Lasmini juga terlibat sebagai wakil dari Kerajaan Parang Siluman. Kini Mandari juga sudah lolos dari istana!" Sang Prabu Erlangga menceritakan semua yang didengarnya tentang rencana pemberontakan itu seperti yang diceritakan Puspa Dewi kepada Dyah Untari.

"Syukur bahwa rencana pertama dan kedua, yaitu membunuh kakang Narotama dan Nurseta bersama eyangnya, telah dapat digagalkan. Akan tetapi yang berbahaya adalah rencana ke tiga, yaitu penggabungan pasukan mereka yang akan berkumpul di hutan selatan. Kami sudah mengutus Senopati Wiradana untuk mengerahkan pasukan untuk menghadapi pemberontakan. Akan tetapi sebaiknya andika sendiri, Kakang Narotana yang memimpin dan temuilah Senopati Wiradana. Ingat, Pangeran Hendratama ternyata benar seperti cerita Nurseta, dia mempunyai pusaka Sang Megatantra, maka ada juga para pengkhianat yang mendukungnya."

"Sendika, gusti..! Mari, Nurseta, engkau harus membantuku!" kata Narotama dan setelah memberi hormat, mereka berdua bergegas meninggalkan istana.

Setelah tiba di luar istana, Narotama berkata kepada Nurseta.

"Sekarang kita membagi tugas. Aku akan menemui Senopati Wiradana dan mengatur pasukan, sedangkan engkau, pergilah lebih dulu ke hutan selatan dan selidiki keadaan mereka. Setelah mengetahui keadaan dan rencana mereka dengan baik, baru andika menemui aku."

"Baik, gusti patih!"

Mereka lalu berpisah dan Nurseta keluar dari kota raja melalui pintu gerbang selatan. Keadaan di kota raja masih tenang dan biasa saja karena tidak ada yang mengetahui bahwa kota raja saat itu terancam serbuan pasukan pemberontak!

Matahari telah naik tinggi ketika Nurseta tiba di tepi hutan selatan. Dia berhati-hati dan memasuki hutan lebat itu dengan sembunyi-sembunyi, menyelinap di antara pepohonan. Setelah tiba agak dalam di hutan itu, dia melihat betapa perajurit-perajurit melakukan penjagaan sekeliling tengah hutan dimana terdapat sebuah pondok besar dan beberapa pondok lain yang tampaknya baru saja dibangun.

Nurseta mengelilingi tempat itu dan melihat betapa penjagaan amat rapat dan yang mengherankan hatinya, para perajurit itu adalah perajurit Kahuripan. Dia menduga bahwa tentu ini pasukan Kahuripan yang dipimpin para senopati yang mendukung Pangeran Hendratama! Karena penjagaan ketat dan berbahaya sekali kalau sampai ketahuan, maka dia bersembunyi agak jauh, menanti datangnya malam. Dia akan lebih leluasa bergerak di waktu malam gelap.

Sementara itu, di kota raja juga terjadi kesibukan. Ki Patih Narotama bertemu dengan senopati Wiradana dan memberi petunjuk kepada senopati itu. Pasukan Kahuripan dikerahkan dan diketahui bahwa beberapa orang senopati muda telah membawa pasukan mereka pergi entah kemana.

Narotama dapat menduga bahwa pasukan-pasukan yang menjadi pendukung Pangeran Hendratama itu pasti sudah berangkat ke hutan selatan untuk bergabung dengan pasukan dari empat kerajaan. Dia memerintahkan Senopati Wiradana siap untuk diberangkatkan sewaktu-waktu untuk menyerbu para pemberontak di hutan selatan, mendahului mereka sebelum mereka bergerak menyerang kota raja agar tidak menggegerkan rakyat.

Untuk itu, dia menanti berita dan Nurseta yang sudah dikirim ke sana untuk melakukan penyelidikan. Kemudian, Narotama membawa seregu pasukan dan memimpin sendiri pasukan Itu menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Hendratama. Akan tetapi, seperti sudah diduganya terlebih dulu, gedung yang mewah seperti istana itu telah dikosongkan.

Pangeran Hendratama dengan semua selir dan pembantunya telah pergi. Narotama menduga bahwa tentu pangeran itu juga pergi ke hutan selatan di mana pasukan-pasukan para senopati Kahuripan yang mendukungnya sudah berkumpul.

Dugaan Narotama memang benar. Begitu mendengar akan kegagalan usaha pembunuhan terhadap Ki Patih Narotama, Nurseta dan Senopati Sindukerta sehingga mengakibatkan Puteri Lasmini dan Puteri Mandari melarikan diri karena rahasia mereka terbongkar, Pangeran Hendratama juga merasa lebih aman untuk segera melarikan diri dari gedungnya di kota raja. Diapun membawa semua keluarga, pelayan dan harta bendanya yang ringkas melarikan diri kedalam hutan selatan dimana pasukan para senopati yang mendukungnya sudah berkumpul dengan mereka.

Senopati Sindukerta juga sudah dibebaskan atas perintah Sang Prabu Erlangga yang minta agar senopati tua itu membantu Ki Patih Narotama memimpin pasukan menghadapi pemberontakan. Demikianlah, kedua pihak, pemberontak dan kerajaan Kahuripan, telah membuat persiapan.

Hanya perbedaannya yang menguntungkan Kerajaan Kahuripan adalah bahwa kalau pihak kerajaan sudah megetahui akan rencana pemberontakan yang menggabungkan pasukan di hutan selatan itu, sebaliknya pihak pemberontak sama sekali tidak tahu pihak kerajaan sudah mengetahui akan rencana mereka dan pihak pemberontak mengira bahwa Kerajaan Kahuripan tidak mengadakan persiapan apa-apa sehingga dapat diserbu dengan mendadak dan dapat dikalahkan…..!

********************

Matahari mulai condong ke barat. Nurseta masih menanti datangnya malam. Dia bersembunyi di atas sebatang pohon besar yang berdaun lebat sehingga tidak akan tampak dari bawah pohon sekalipun. Tiba-tiba dia yang mengintai dari atas pohon melihat seorang gadis berlari terhuyung-huyung.

Di belakangnya, sekitar belasan depa jauhnya tampak dua orang gadis lain mengejarnya. Gadis itu rambutnya terurai lepas dari gelungnya berkibar di belakangnya. pakaiannya sudah koyak-koyak dan melihat larinya yang terhuyung Itu Nurseta menduga bahwa ia tentu terluka.

"Widarti, berhenti kau! serahkan kembali Megatantra kepada kami" teriak wanita-wanita yang mengejarnya dan seorang diantara dua pengejar iu meluncurkan anak panah.

Anak panah mengenai bahu gadis itu, menancap dan gadis itu mengaduh lalu terpelanting rubuh. Kini Nurseta teringat, Gadis itu adalah Widarti, selir termuda dari Pangeran Hendratama, dan mereka yang mengejar adalah Sukarti dan Kenangasari, dua orang selir Pangeran Hendratama yang lain. Maka cepat Nurseta melayang turun dari atas pohon dan dengan lompataan yang jauh dan cepat, dia telah tiba lebih dulu di dekat Widarti.

Sukarti dan Kenangasari terkejut bukan main ketika tiba-tiba mereka melihat Nurseta disitu. Tanpa banyak cakap mereka sudah meluncurkan anak panah menyerang pemuda itu. Namun Nurseta bergerak maju menghampiri mereka dan ketika empat batang anak panah menyambar kearah tubuhnya, dia menangkis dengan kibasan kedua tangan dan anak-anak panah itu rubuh.

Akan tetapi dua orang gadis cantik selir Pangeran Hendratama itu kini menyerang dengan keris mereka, menusukkan keris itu ke arah perut dan dada Nurseta. Nurseta menangkis dengan pengerahan tenaga.

"Plak... Plak..."

Dua orang gadis itu menjerit kesakitan, keris mereka terlepas dari pegangan mereka dan terlempar dan lengan kanan mereka terasa nyeri bukan main terkena tangkisan tangan Nurseta. Maklum bahwa mereka berdua bukan lawan pemuda itu, Sukarti dan Kenangasari lalu membalikkan tubuh mereka dan melarikan diri secepatnya.

Nurseta tidak memperdulikan mereka, cepat dia menghampiri Widarti, lalu berjongkok untuk memeriksa keadaan gadis itu. Widarti rebah telentang, memandang kepada Nurseta dan tersenyum, walau pun senyumnya tak dapat menyembunyikan rasa nyeri yang ditanggungnya.....
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 41"

Post a Comment

close