Sang Megatantra Jilid 32

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
"Orang muda. sebetulnya apakah yang kau kehendaki? Siapa namamu tadi?"

"Nama saya Nurseta dan saya hanya ingin mengetahui mengapa paduka memusuhi Dharmaguna, mengapa paduka membencinya dan di mana adanya dia sekarang?"

Senopati Sindukerta memandang heran, "jadi engkau bukan suruhan dia? Engkau juga menanyakan di mana dia? Ah, kalau saja aku tahu di mana dia, si keparat itu!"

"Harap paduka suka menceritakan kepada saya mengapa paduka begitu membencinya."

"Engkau mau tahu mengapa aku membencinya? Huh, dia sudah merampas kebahagiaan kami, sudah dua puluh dua tahun ini dia membuat aku selalu merasa berduka. Bawalah meja itu dekat sini dan duduklah di atas meja kalau engkau ingin mendengarkan persoalannya."

Nurseta menurut. Dia mengambil meja, membawanya ke depan Senopati Sindukerta lalu duduk di atas meja kecil yang rendah itu. Senopati Sindukerta lalu bercerita dan Nurseta mendengarkan dengan penuh perhatian. Senopati Sindukerta menghela napas panjang lalu berkata, "Peristiwa itu telah lama terjadi, kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, akan tetapi rasanya baru kemarin saja terjadinya." Kemudian senopati tua itu lalu bercerita.

Senopati Sindukerta telah menjadi senopati pada waktu Teguh Dharmawangsa menjadi raja. Senopati yang setia ini hanya mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Endang Sawitri. Pada waktu itu Endang Sawitri berusia delapan belas tahun, la terkenal sebagai seorang dara yang selain cantik jelita, juga baik budi bahasanya dan berbakti kepada ayah ibunya.

Tidak mengherankan kalau Senopati Sindukerta dan isterinya merasa amat sayang kepada Endang Sawitri. Tentu saja, seperti para orang tua lainnya Senopati Sindukerta dan isterinya mengharapkan agar puteri mereka itu mendapatkan suami yang tinggi kedudukannya, kaya raya, dan baik budi serta bijaksana.

Dengan demikian maka selain puteri mereka itu akan hidup bahagia juga mereka sebagai orang tuanya akan merasa senang dan terangkat derajat dan martabatnya. Akan tetapi, dalam kehidupan ini, lebih sering harapan manusia tidak terpenuhi, kenyataan yang terjadi sering berlawanan dengan apa yang diinginkan, apa yang diharapkan, sehingga banyak kekecewaan dan duka melanda kehidupan manusia.

Pada suatu pagi, seorang tamu yang di hormati datang berkunjung ke rumah Senopati Sindukerta. Sang senopati dan isterinya menyambut kedatangan tamu ini dengan ramah dan hormat karena tamu itu adalah seorang pangeran yang terkenal gagah perkasa. Dia adalah Pangeran Hendratama yang pada waktu itu berusia sekitar tiga puluh tahun. Seorang pria yang tampan dan gagah, apa lagi karena pakaiannya amat indah, mewah dan mentereng. Sebagai seorang pangeran, putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa yang beribu seorang wanita berkasta rendah, Pangeran Hendratama tentu saja mempunyai hubungan baik dengan para pamong-praja dan juga mengenal baik Senopati Sindukerta.

"Selamat datang, Pangeran." sambut Senopati Sindukerta ramah. Isterinya juga menyambut dengan senyum ramah.

"Silakan masuk, kita duduk di ruangan dalam agar lebih leluasa bercakap-cakap."

"Terima kasih, paman senopati dan bibi." kata Pangeran Hendratama dengan sikap halus.

Mereka memasuki ruangan dalam dan dua orang selir sang senopati juga menyambut dan memberi hormat kepada pangeran itu, akan tetapi mereka segera mengundurkan diri, tidak berani mengganggu. Pangeran Hendratama hanya duduk berhadapan dengan Ki Sindukerta dan garwa padminya.

"Paman dan bibi, di mana diajeng Endang Sawitri ? Tanpa kehadirannya, rumah paman ini tampak sepi."

"Endang sedang sibuk di dapur, membantu para abdi mempersiapkan makan, Pangeran." kata Nyi Sindukerta.

"Begitukah? Sayang, saya ingin sekali melihatnya, walau pun sebentar saja, bibi."

Nyi Sindukerta lalu memanggil pelayan dan memberi perintah agar pelayan Itu memberitahu kepada puterinya bahwa Pangeran Hendratama datang berkunjung.

"Minta kepada Den Ajeng Endang agar keluar dan menemui Gusti Pangeran Hendratama sebentar!" perintahnya.

Pelayan itu menyembah lalu pergi. Tak lama kemudian, selagi Pangeran Hendratama bercakap-cakap dengan Ki Sindukerta dan isterinya, muncullah seorang gadis cantik jelita mengiringkan seorang pelayan wanita yang membawa baki terisi makanan dan minuman yang dihidangkan di atas meja.

Gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, cantik jelita dan manis merak ati, dengan sikap dan gerak-gerik lembut menawan. Itulah Endang Sawitri, puteri tunggal Senopati Sindukerta yang terkenal sebagai seorang di antara para puteri yang cantik di kota raja. Bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar mengharum memancing datangnya banyak kumbang, Endang Sawitri juga membuat banyak pemuda bangsawan maupun bukan bangsawan tergila gila.

Akan tetapi Endang Sawitri tidak menyambut rayuan mereka, bahkan menolak pinangan beberapa orang pemuda bangsawan. Semua ini karena dara jelita itu sudah mempunyai pilihan hati sendiri, yaitu seorang pemuda bernama Dharmaguna. Akan tetapi Senopati Sindukerta marah-marah dan melarang puterinya melanjutkan pergaulannya dengan pemuda itu. Bukan karena pemuda pilihan puteri mereka itu kurang tampan. Sebaliknya, Dharmaguna adalah seorang pemuda yang tampan dan lemah lembut, baik budi pekertinya.

Akan tetapi dia hanya putera seorang pendeta yang miskin, sudah tidak beribu lagi karena ibunya sudah meninggal dunia. Dharmaguna hanya tinggal di padepokan ayahnya, sebuah bangunan yang reyot. Bagaimana mungkin sang senopati dan isterinya mau menyerahkan puteri mereka yang merupakan anak tunggal kepada seorang pemuda miskin, tidak memiliki kedudukan apa pun?

Mereka mengidamkan seorang mantu yang berpangkat tinggi dan kaya raya! Ketika Endang Sawitri muncul. Pangeran Hendratama segera bangkit dari tempat duduknya dan tersenyum memandang kepada dara yang telah mengobarkan gairah berahinya itu.

"Diajeng Endang Sawitri..!" sapanya, tanpa menyembunyikan kekagumannya walau pun ayah ibu gadis itu berada di situ.

"Selamat datang, Gusti Pangeran. Hamba menghaturkan hormat." kata gadis itu dengan sikap hormat.

"Ah, diajeng Endang! Jangan menyebut gusti padaku, sebut saja Kakangmas Pangeran!"

"Hamba... tidak berani..." kata gadis itu sambil menundukkan mukanya, ngeri melihat pandang mata pangeran itu yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat.

"Kenapa tidak berani? Takut? Aku bukan harimau yang perlu ditakuti, diajeng. Mari, duduklah. Aku ingin meyampaikan suatu berita kepada orang tuamu dan engkaupun perlu mendengarkan dan menyaksikan berita yang amat menggembirakan ini."

Endang Sawitri meragu. Ia sudah lama merasa tidak senang dan tidak aman kalau pangeran itu datang berkunjung Biarpun pangeran itu tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan bahkan sangat ramah kepadanya, namun pandang mata pangeran itu slalu seolah menggerayangi seluruh bagian tubuhnya. la menoleh kepada orang tuanya dan Senopati Sindukerta mengangguk kepadanya.

"Duduklah, Endang." kata ayahnya.

Terpaksa gadis itu mengambil tempat duduk di dekat ibunya. Ibu yang menyayang puterinya ini lalu merangkulnya.

"Sebetulnya, kepentingan apakah yang hendak paduka sampaikan kepada kami sekeluarga, pangeran?" Tanya senopati itu dengan hati merasa tidak enak karena sungguh aneh kalau untuk kepentingan kerajaan misalnya, puterinya diharuskan menjadi saksi. "Apakah paduka membawa perintah dari Gusti Prabu?"

"Sesungguhnya memang saya membawa surat dari Ramanda Prabu, paman."

"Tugas apakah yang diperintahkan Sribaginda kepada hamba?"

Pangeran Hendratama tersenyum. "Sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan tugas pemerintahan, paman. Ini adalah urusan pribadi saya. Sesungguhnya, sudah lama sekali saya menaruh hati, jatuh cinta kepada puteri paman, yaitu Diajeng Endang Sawitri. Akan tetapi saya menunggu sampai ia menjadi dewasa. Setelah sekarang Diajeng Endang Sawitri dewasa, maka saya datang untuk mengajukan pinangan kepada paman dan bibi atas diri Diajeng Sawitri."

"Ahh..!" Seruan tertahan ini keluar dari mulut Endang Sawitri yang menjadi pucat wajahnya dan gadis itu merangkul dan menyembunyikan mukanya di pundak ibunya.

Di dalam hatinya, tentu saja Senopati Sindukerta tidak rela kalau puterinya dikawin pangeran ini, bukan karena pangeran ini kurang tinggi kedudukannya atau kurang kaya. Sama sekali tidak! Pangeran Hendratama adalah putera Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, biarpun bukan putera mahkota namun tentu saja kedudukannya cukup tinggi dan diapun kaya raya. Andaikata sang pangeran itu masih perjaka, atau setidaknya belum mempunyai garwa padmi (isteri sah) tentu dia dan isterinya akan merasa girang mempunyai mantu seorang pangeran!

Akan tetapi kenyataannya, Pangeran Hendratama itu telah mempunyai garwa padmi, bahkan mempunyai banyak garwa ampil (selir), maka tentu saja mereka merasa keberatan. Endang Sawitri tentu hanya dijadikan garwa ampil, itu pun entah yang ke berapa! Melihat suami isteri itu saling pandang dengan alis berkerut, tampak tidak gembira menyambut pinangannya, Pangeran Hendratama lalu mengeluarkan segulung surat.

"Paman Senopati Sindukerta, ini saya dititipi surat dari Kanjeng Rama untuk paman!"

Melihat surat dari Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, tergopoh-gopoh dengan sembah sang senopati menerimanya lalu membacanya. Isinya merupakan pernyataan mendukung pinangan itu dan sang prabu mengharapkan agar Senopati Sindukerta menerima pinangan itu sehingga menjadi besan sang prabu!

Setelah membaca surat itu, Ki Sindukerta menghela napas. Kalau Sribaginda sendiri turun tangan, tentu tidak mungkin baginya untuk menolak! Kemudian, dia memandang kepada Pangeran Hendratama dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Pangeran, kami merasa berbahagia dan mendapat kehormatan besar sekali bahwa paduka bermaksud meminang puteri kami yang bodoh. Akan tetapi..." Senopati itu tidak berani atau meragu untuk melanjutkan kata-katanya.

"Akan tetapi, apa, paman?" tanya Pangeran Hendratama sambil mengerutkan alisnya yang tebal.

"Akan tetapi, maafkan sebelumnya, pangeran. Kami sebagai ayah ibu Endang Sawitri, terus terang saja merasa kurang marem (puas) kalau puteri kami hanya dijadikan garwa ampil. Kami sejak dahulu berkeinginan agar puteri kami menjadi garwa padmi yang dihormati... maafkan kami, pangeran. Bukan sekali-kali kami menolak pinangan paduka, hanya... bukankah paduka telah mempunyai garwa padmi?"

Pangeran Hendratama yang sudah tergila-gila kepada Endang Sawitri tidak menjadi marah, malah tertawa.

"Ha-ha..hal itu jangan dirisaukan, paman. Kala paman dan bibi sudah menerima pinangan saya, hari ini juga saya akan pulangkan garwa padmi saya itu kepada orang tuanya dan Diajeng Endang Sawitri saya angkat menjadi garwa padmi!"

Tentu saja hati Senopati Sindukerta menjadi lega. Bagaimana pun juga, tidak mungkin dia berani menolak pinangan sang pangeran yang sudah diperkuat oleh surat Sang Prabu Teguh Dharmawangsa. Surat itu saja berarti sebuah perintah yang tidak mungkin dapat ia tolak. Kalau puterinya diangkat menjadi garwa padmi pangeran, biarpun di dalam hatinya dia tidak begitu suka kepada pangeran ini ia boleh merasa puas karena dia akan menjadi besan Sang Prabu Teguh Dharmawangsa!

Derajatnya akan naik tinggi sekali Dia menoleh kepada isterinya dan ternyata isterinya juga tersenyum dengan wajah berseri. Sang senopati mengerutkan alisnya ketika dia melihat puterinya menangis tanpa suara di pundak isterinya.

"Bagaimana jawaban andika, paman senopati?" Tiba-tiba senopati itu terkejut mendengar pertanyaan pangeran itu. Dia cepat menoleh dan memandang wajah Pangeran Hendratama.

"Oh, baik, Pangeran. Hamba sekeluarga menerima pinangan paduka dengan gembira!"

Tiba-tiba terdengar isak dan Endang Sawitri lalu melepaskan rangkulannya dari pundak ibunya dan ia berlari masuk ke ruangan dalam meninggalkan ruangan itu. Terdengar isaknya ketika ia melarikan diri itu. Pangeran Hendratama mengerutkan alisnya.

"Mengapa diajeng Endang Sawitri menangis, paman?"

"Oh, maaf, Pangeran. Maklum puteri kami itu masih amat muda, tentu ia merasa malu-malu. Biarlah nanti hamba berdua yang akan membujuknya agar ia tidak takut-takut dan malu-malu lagi."

Pangeran Hendratama tersenyum lega mendengar ucapan senopati itu.

"Baiklah, paman dan bibi. Saya mohon pamit dulu, akan saya urus perceraian saya dengan isteri saya. Besok saya akan mengirim utusan untuk membicarakan tentang perayaan pesta pernikahan saya dengan Diajeng Endang Sawitri."

"Terima kasih, pangeran, dan selamat jalan." kata sang senopati yang mengantar pangeran itu sampai ke pelataran rumahnya.

Sementara itu, Nyi Sindukerta memasuki kamar puterinya dan ia mendapatkan puterinya rebah menelungkup di atas pembaringan dan membenamkan mukanya pada bantal. Nyi Sindukerta lalu duduk di tepi pembaringan dan menyentuh pundak puterinya.

"Nini, sudahlah jangan menangis. Engkau akan dijadikan garwa padmi Pangeran Hendratama, mengapa engkau menangis? Dia itu putera Sang Prabu, kedudukannya tinggi, kaya raya dan diapun berwajah tampan dan gagah. Juga belum tua benar, paling banyak tiga puluh tahun usianya. Engkau beruntung sekali menjadi mantu Sang Prabu, Endang Sawitri. Kenapa menangis?"

"Ibu, aku tidak mau menjadi isterinya, ibu..." Endang Sawitri bangkit duduk dan merangkul ibunya sambil menangis. Bantal di mana ia membenamkan mukanya tadi sudah basah air mata.

"Akan tetapi kenapa, nini? Engkau hanya anak senopati dan dia itu putera junjungan kita. Siapa tahu kelak dia akan menjadi raja dan engkau menjadi permaisurinya!"

"Ibu, kenapa ibu tidak berpikir secara mendalam dan berpemandangan jauh? Pangeran itu bukan suami yang baik, bukan laki-laki yang bertanggung jawab! Aku akan celaka kelak kalau menjadi isterinya!"

"Hemm, bagaimana engkau dapat berpikir demikian?"

"Ibu, sekarang dia menginginkan aku dan untuk terlaksananya keinginan itu, dia tega untuk menceraikan garwa padminya yang tidak bersalah apa-apa! Apakah ibu berani memastikan bahwa kelak aku tidak akan mengalami nasib yang sama Kalau dia melihat gadis lain yang lebih muda dan lebih cantik lalu meminangnya, apakah diapun tidak akan menceraikan aku dan mengirim aku pulang kepada ayah dan ibu?"

Diserang ucapan seperti itu, Nyi Sindukerta tidak dapat menjawab! Bahkan iapun mulai merasa khawatir kalau-kalau apa yang ditakutkan puterinya itu kelak akan terjadi. Membayangkan betapa puterinya terkasih itu kelak diceraikan begitu saja oleh Pangeran Hendratama yang menjadi suaminya karena pangeran itu tergila-gila kepada wanita lain, ibu ini tak dapat menahan kesedihan hatinya dan iapun lalu merangkul puterinya sambil menangis. Ibu dan anak itu bertangisan. Senopati Sindukerta memasuki kamar itu dan dia marah sekali melihat isteri dan puterinya menangis.

"Heh, apa-apaan ini kalian .berdua bertangisan? Semestinya kalian berdua bergembira! Apa yang perlu disedihkan? Endang Sawitri akan menjadi garwa padmi Pangeran Hendratama, menjadi mantu Gusti Prabu! Adakah keberuntungan yang lebih besar dari pada Itu? Kenapa kalian malah menangis?"

Nyi Sindukerta dapat menguasai perasaannya yang hanya merasa khawatir akan terjadinya apa yang tadi dibayangkan puterinya. Ia menghapus air matanya dan membujuk puterinya.

"Sudahlah, nini, hentikan tangismu. Ramamu benar, sebetulnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan disedihkan."

"Dikhawatirkan? Apa yang perlu dikhawatirkan?" Ki Sindukerta bertanya dengan suara membentak karena penasaran.

"Begini, kakangmas. Endang Sawitri merasa khawatir kalau-kalau kelak setelah menjadi isteri sang pangeran, dia akan dicerai pula karena sang pangeran hendak menikah dengan gadis lain, seperti yang dilakukannya pada garwanya yang sekarang."

"Omong kosong! Tidak mungkin dia berani mempermainkan puteriku. Apa lagi sang prabu sendiri yang ikut mengajukan dukungan. Sang prabu sendiri yang meminang. Senopati Sindukerta bukanlah orang yang boleh dipermainkan begitu saja. Tidak, aku berani tanggung bahwa kelak engkau tidak akan diceraikan begitu saja, nini. Akan tetapi tahukah kalian bagaimana akibatnya kalau aku menolak pinangan Pangeran Hendratama yang didukung oleh Sang Prabu sendiri? Aku tentu akan dianggap menghina Sang Prabu dan akan dicopot dari kedudukanku, bahkan mungkin sekali kita sekeluarga akan mendapatkan hukuman berat! Nah, sekarang bergembiralah dan tidak perlu bertangis-tangisan lagi!" Setelah berkata demikian, Senopati Sindukerta meninggalkan kamar puterinya.

Nyi Sindukerta juga segera meninggalkan puterinya untuk menyusul suaminya dan mencairkan kemarahan suaminya setelah ia menasihati puterinya agar tidak membantah lagi dan menerima dengan senang hati perjodohan yang sudah ditentukan ayahnya itu.

Setelah ditinggalkan seorang diri, Endang Sawitri tidak menangis lagi. la harus cepat mengambil keputusan dan bertindak. Urusan ini menyangkut nasib hidupnya di masa depan. Sekali ia keliru mengambil keputusan, ia akan menderita selama hidupnya, la merasa yakin bahwa menjadi isteri laki-laki yang pandang matanya penuh nafsu itu akan membuat hidup sengsara selamanya, la hanya akan menjadi permainan nafsu pangeran itu yang kalau sudah bosan tentu akan menyepaknya.

Kalau ia setuju dan ayahnya menikahkannya dengan Pangeran Hendratama, ia akan sengsara selama hidupnya. Akan tetapi sebaliknya kalau ia berkukuh menolak, ayahnya tentu akan memaksanya karena kalau ayahnya menolak pinangan itu, ayahnya sekeluarga akan celaka menerima kemarahan Sang Prabu.

Tidak ada jalan lain, pikirnya. Menerima atau menolak juga salah. Satu-satunya jalan keluar hanyalah minggat! Kalau ia minggat dan pernikahan tidak jadi dilaksanakan, bukan berarti bahwa ayahnya menolak pinangan! Ayahnya tidak dapat disalahkan. Ialah yang bersalah. Setelah mengambil keputusan tetap, dengan nekat malam itu Endang Sawitri minggat dari dalam kamarnya. Kamar itu pintunya masih terkunci dari dalam, Ia menanti sampai rumah itu sepi dan semua orang sudah tidur, lalu ia keluar dari kamar melalui jendela yang menghadap taman, kemudian berjingkat-jingkat ia menyeberangi taman menuju ke belakang dan keluar melalui pintu belakang taman.

Tentu saja keluarga Senopati Sindukerta menjadi geger dengan hilangnya Endang Sawitri. Sang senopati mengerahkan anak buahnya untuk mencari. Dan tentu saja dia merasa curiga kepada Dharmaguna, pemuda yang dulu bergaul akrab dengan putrinya. Ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu pun menghilang dari rumahnya tanpa ada orang mengetahui kemana dia pergi, tahulah Ki Sindukerta bahwa puterinya tentu minggat dengan Dharmaguna. Dia marah sekali dan menyuruh banyak perajurit mencari, namun tidak ada hasilnya. Endang Sawitri dan Dharmaguna lenyap seperti ditelan bumi, tanpa meninggalkan jejak.

Sampai di situ ceritanya, Senopati Sindukerta menghela napas panjang dan menatap wajah Nurseta yang sejak tadi mendengarkan dengan tertarik sekali, senopati tua itu melihat betapa sepasang mata pemuda itu memandangnya dengan sayu, seolah terharu sekali.

"Nah, begitulah ceritanya, Nurseta. kau dapat membayangkan apa akibat perbuatan Dharmaguna yang membawa minggat puteriku itu. Pangeran Hendratama amat marah kepadaku, menuduh aku sengaja menyembunyikan Endang Sawitri. Sang Prabu Teguh Dharmawangsa juga marah sehingga pangkatku sebagai senopati dicopot dan aku diusir keluar dari kota raja. Masih untung bagiku bahwa aku membantu perjuangan Pangeran Erlangga mengusir musuh-musuh kerajaan dan membangun kembali Kahuripan sehingga beliau kini menjadi raja. Aku diangkatnya kembali menjadi senopati. Nah, engkau tahu mengapa aku membenci Dharmaguna. Dia sudah menyebabkan kami kehilangan anak kami dan juga kedudukan kami pada waktu itu."

Nurseta merasa terharu sekali, akan tetapi dia mampu menahan perasaannya itu. Kini dia berhadapan dengan kakeknya Ibunya adalah Endang Sawitri, puteri kakek ini.

"Akan tetapi, eyang senopati, saya kira Dharmaguna itu tidak bersalah. Adalah puteri paduka sendiri yang melarikan diri dari rumah. Juga puteri paduka tidak bersalah, bahkan ia telah memberi jalan keluar yang baik sekali."

"Eh? Apa maksudmu?" tanya Senopati Sindukerta yang tidak merasa heran atau aneh mendengar pemuda itu menyebutnya eyang senopati karena melihat usianya memang sudah sepatutnya kalau pemuda itu sebaya dengan cucunya, andaikata dia mempunyai cucu.

"Begini maksud saya. Puteri paduka tidak suka diperisteri Pangeran Hendratama yang saya juga tahu merupakan orang yang buruk wataknya itu sehingga kalau ia menerima pinangan itu, ia akan hidup sengsara. Sebaliknya kalau ia menolak, atau kalau paduka menolak pinangan, tentu akan berakibat buruk bagi keluarga paduka. Oleh karena itu puteri paduka memilih minggat karena kalau ia minggat, paduka tidak dipersalahkan sebagai orang yang menolak pinangan dan kesalahan akan terjatuh kepada puteri paduka sendiri."

"Hemm, mungkin engkau benar, dia puteriku tidak dapat disalahkan. Akan tetapi si Dharmaguna itu tetap bersalah. Kalau saja Endang Sawitri tidak saling mencinta dengan dia, tentu puteriku itu tidak akan dapat melarikan diri sampai sekarang."

"Maaf, eyang senopati. Salahkah itu kalau ada dua orang muda saling jatuh cinta? Mereka berdua saling jatuh cinta, hidup bersama sebagai suami isteri yang berbahagia walau pun bukan kaya raya, dan mereka telah mempunyai seorang anak. Kenapa paduka masih terus mencari dan membenci mereka. Kalau paduka berhasil menemukan mereka, apakah paduka akan membunuh puteri, mantu, dan cucu paduka, darah daging paduka sendiri?"

Senopati Sindukerta itu terbelalak memandang kepada Nurseta.

"Anakku Endang Sawitri mempunyai seorang anak Dhuh Jagad Dewa Bathara..! Di mana mereka sekarang berada? Nurseta, apa engkau kira aku telah gila? Aku mencinta puteriku. Kalau saja si Dharmaguna itu datang bersama Endang Sawitri dan mohon ampun kepada kami, tentu saja kami akan mengampuni semua kesalahannya. Engkau tahu mengapa aku mencari mereka? Karena aku sudah rindu sekali kepada puteri kami. Akan tetapi si jahanam Dharmaguna itu tidak pernah datang, bahkan dia selalu membawa pergi anakku, selalu menghindar sehingga sampai saat ini, kami belum juga dapat bertemu kembali dengan Endang. Apa lagi sekarang ia telah mempunyai seorang anak, tentu saja kami mau menerima Dharmaguna sebagai mantu kami, sebagai ayah dari cucu kami. Akan tetapi di mana mereka kini berada? Di mana? Katakan, dimana mereka?"

"Saya juga tidak tahu, Eyang Senopati. Mereka itu selalu melarikan diri dan bersembunyi bukan sekali-kali karena tidak lagi mau mengakui paduka sebagai ayah melainkan karena ketakutan kalau-kalau mereka akan dihukum berat dan dipaksa saling berpisah kalau paduka menemukan mereka. Saya sendiri juga tidak tahu dimana adanya mereka, bahkan kedatangan saya ini juga dalam usaha saya mencari mereka."

Senopati Sindukerta menatap wajah pemuda itu dengan penuh perhatian, "orang muda, bagaimana engkau bisa mengetahui bahwa mereka takut bertemu dengan kami? Dan apa pula maksudmu mencari mereka? Ada urusan apakah kau dengan puteriku Endang Sawitri?"

Nurseta tidak dapat menyembunyikan kenyataan tentang dirinya lagi dan dia menganggap bahwa sudah tiba saatnya dia harus memperkenalkan diri kepada orang yang sesungguhnya menjadi kakeknya ini.

"Saya mencari mereka karena Endang Sawitri adalah ibu kandung saya dan Darmaguna adalah ayah saya, eyang."

Sepasang mata tua itu terbelalak, wajah tua itu menjadi pucat, lalu berubah merah.

"Kau... kau..?"

"Saya Nurseta, cucu eyang..."

"Cucuku..!" Senopati Sindukerta lalu melompat berdiri, menubruk ke depan dan merangkul Nurseta. Lalu digandengnya lengan pemuda itu dan ditariknya "Mari, mari cucuku, mari kita bicara didalam dan mari engkau menghadap nenek mu! Ah, betapa akan bahagianya nenekmu melihat cucunya!"

Nurseta dengan kedua mata basah karena terharu membiarkan dirinya ditarik memasuki gedung itu dari pintu belakang. Para pelayan tentu saja merasa terkejut dan heran melihat sang senopati masuk rumah dari pintu belakang sambil menggandeng dan menarik tangan seorang pemuda yang tidak mereka kenal. Akan tetapi melihat wajah senopati itu berseri gembira, mereka tidak menyangka buruk dan tidak berani bertanya. Ki Sindukerta tidak memperdulikan para pelayan yang keheranan itu dan terus menarik tangan Nurseta, dibawa masuk keruangan paling dalam.

Nyi Sindukerta yang sedang duduk melamun di ruangan itu, tentu saja terkejut dan heran pula melihat suaminya memasuki ruangan menggandeng seorang pemuda. Akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Senopati Sindukerta sudah berseru dengan gembira.

"Diajeng, lihat siapa yang kuajak masuk ini! Dia ini anak Endang!"

Wanita yang usianya mendekati enam puluh tahun dan yang tampaknya lesu digerogoti kesedihan itu terbelalak, bangkit berdiri dan wajahnya seketika menjadi pucat.

"Anak... anak... Endang? Cucuku..?"
< br> Nurseta merasa terharu sekali. Dia cepat maju berlutut dan menyembah didepan wanita tua itu, "Saya Nurseta, menghaturkan sembah hormat saya kepada eyang puteri."

"Cucuku..!" Nenek itu merangkul pemuda yang masih berlutut dan ia menangis tersedu-sedu. Setelah beberapa saat ia menangis, suaminya lalu menepuk-nepuk pundaknya dan membantunya bangkit berdiri.

"Sudahlah, diajeng. Tenangkan hatimu dan mari kita dengarkan cucu kita bercerita tentang anak kita."

Nenek itu menurut dan mereka lalu duduk di atas kursi dan mempersilakan Nurseta duduk diatas kursi di depan mereka.

"Cucuku, di mana ibumu? Di mana anakku Endang Sawitri?" tanya Nyi Sindukerta dengan suara serak. "Kenapa engkau kini mencari ayah Ibumu, Nurseta Apakah engkau berpisah dari mereka? Lalu kenapa berpisah? Dan bagaimana pula engkau mengetahui bahwa dahulu aku membenci Dharmaguna dan mencari mereka?" tanya Ki Sindukerta.

"Apakah engkau mempunyai kakak atau adik? Berapa anak Endang Sawitri? Bagaimana kehidupannya? Apa anakku itu sehat-sehat saja? Gemuk atau kurus ia sekarang?" tanya Nyi Sindukerta.

Dihujani pertanyaan bertubi oleh kakek dan neneknya itu, Nurseta merasa terharu. Dia tahu betapa suami isteri yang sudah tua ini amat menderita selama ini. Dia menghela napas panjang lalu berkata dengan lembut.

"Semua pertanyaan kanjeng eyang kakung dan eyang puteri itu akan terjawab dalam riwayat yang akan saya ceritakan kepada paduka berdua."

"Ceritakan, ceritakanlah, Nurseta!" kata sang senopati tidak sabar lagi.

"Nanti dulu, Nurseta. Engkau harus minum dulu!" sela Nyi Sindukerta yang lalu memanggil pelayan dan meuyuruh pelayan mengambilkan minuman. Setelah pelayan datang menghidangkan minuman air teh dan karena desakan neneknya Nurseta sudah minum, mulailah pemuda itu bercerita, didengarkan dengan penuh perhatian oleh kakek dan neneknya.

"Seingat saya, ketika saya masih kecil, ayah dan ibu selalu berpindah-pindah tempat. Saya adalah anak tunggal dan mereka tidak pernah bercerita tentang riwayat mereka kepada saya. Paling akhir, kami pindah ke dusun Karang Tirta di tepi Laut Kidul, dan tinggal sana. Ketika saya berusia kurang lebih sepuluh tahun, tiba-tiba saja ayah dan ibu saya pergi meninggalkan saya di rumah. Mereka pergi tanpa pamit dan saya sama sekali tidak tahu mengapa dan ke mana mereka pergi. Saya menjadi sebatang kara dan hidup seorang diri."

"Aduh kasihan sekali engkau cucuku!" kata Nyi Sindukerta sambil mengusap dua titik air mata yang membasahi pipinya.

"Kemudian di pantai Laut Kidul saya bertemu dengan Eyang Empu Dewamurti dan saya diambil sebagai murid. Saya mengikuti beliau, mempelajari ilmu kanuragan selama lima tahun. Ketika saya bertemu Eyang Empu, saya berusia enam belas tahun dan saya turun gunung setelah Eyang Empu wafat. Setelah saya memiliki aji kanuragan dan merasa kuat, mulailah saya menyelidiki tentang perginya kedua orang tua saya. Saya mendatangi kepala dusun Karang Tirta, yang bernama Ki Suramenggala."

"Hemm, Ki Suramenggala? rasanya pernah aku mendengar nama itu..., oya, dia pernah menjadi perajurit dalam pasukan yang kupimpin, malah menjadi perwira rendahan. Dia melakukan penyelewengan, mengganggu penduduk maka dikeluarkan dari pasukan."

Nurseta mengangguk. "Agaknya benar dia, eyang. Ki Suramenggala memang bukan manusia baik-baik. Setelah saya melakukan penyelidikan, saya mendengar bahwa Ki Suramenggala mengirim utusan untuk melapor kepada paduka tentang ayah dan ibu yang tinggal di dusun itu."

"Ah, benar! Aku ingat sekarang. Lima tahun lebih yang lalu memang ada berita darinya bahwa puteriku tinggal di Karang Tirta. Akan tetapi ketika aku mengirim pasukan ke sana, ternyata mereka telah pergi dan tidak ada seorangpun mengetahui ke mana mereka pergi. Gilanya, Suramenggala itu tidak mau memberitahukan komandan pasukan bahwa anakku meninggalkan seorang cucuku di sana." kata Ki Sindukerta dengan marah. "Lalu bagaimana, Nurseta?"
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 32"

Post a Comment

close