Sang Megatantra Jilid 29

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Pedangnya menyambar nyambar seperti kilat. Nurseta cepat menggerakkan tubuhnya dengan Aji Bayu Sakti untuk mengatasi kecepatan sambaran pedang dan tubuhnya berkelebatan diantara gulungan sinar pedang hitam. Permainan pedang dara itu memang hebat sekali dan akhirnya Nurseta terdesak juga karena dia tidak mau membalas dengan pukulan yang ampuh, takut kalau melukai gadis itu. Akan tetapi kalau terus mempertahankan diri dengan mengelak, akhirnya dia akan terancam bahaya juga karena pedang hitam itu mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.

Terpaksa Nurseta lalu mengerahkan ajinya yang jarang dipergunakan, yaitu Aji Sirnasarira. Tiba-tiba saja Puspa Dewi mengeluarkan jeritan tertahan karena tiba-tiba ia kehilangan lawannya, tubuh Nurseta lenyap dan selagi ia meragu dan bingung mencari-cari bayangan Nurseta, siku kanannya ditepuk jari-jari tangan yang kuat sekali namun tidak tampak dan seketika lengan kanannya menjadi lumpuh dan tak dapat ditahannya lagi pedang hitam yang dipegangnya itu pun terlepas dari tangannya. Ia terkejut sekali dan pada saat itu ia dapat melihat Nurseta lagi yang sudah berdiri sambil tersenyum kepadanya.

Sejenak Puspa Dewi memandang nanar, tidak percaya akan apa yang dialaminya tadi. Tidak mungkin Nurseta menghilang lalu menyerangnya dengan tubuh yang tidak tampak! tetapi kenyataannya, lengannya masih kesemutan dan pedangnya sudah menggeletak di atas tanah, terlepas dari pegangannya. Biarpun begitu, gadis yang berhati keras ini masih penasaran dan belum yakin bahwa dapat dikalahkan sedemikian mudahnya.

Maka sambil menggigit bibir sendiri cepat menyambar pedangnya lagi dan kini mulutnya mengeluarkan jerit yang menggetarkan sekeliling tempat itu. Itulah Aji Jerit Guruh Bairawa! Dengan jerit ini saja, Puspa Dewi sudah mampu membuat lawannya tergetar hebat dan roboh. Dengan jeritnya yang dahsyat ini masih menyayat udara, ia sudah menggerakkan pedangnya lagi, menyerang dengan sekuat tenaga, pedangnya menyambar ke arah leher Nurseta!

"Singgg..!" Pedang itu menyambar lebih dahsyat dari pada tadi karena didukung dan didorong oleh Jerit Guruh Bairawa yang melengking nyaring! Namun dengan gerakan yang lebih cepat lagi, Nurseta sudah menghindar dengan loncatan ringan ke belakang sehingga pedang itu hanya menyambar angin. Namun, Puspa Dewi yang sudah marah sekali dan hatinya dipenuhi rasa penasaran, sudah meloncat mengejar dan pedangnya berputar-putar sehingga berubah menjadi gulungan sinar yang berkelebatan mengirim serangan bertubi-tubi.

Tubuh Nurseta melompat ke atas dan "lessss..!" tubuh itu sudah lenyap lagi dari pandangan Puspa Dewi! Dara itu kembali menjadi bingung akan tetapi kemarahannya makin berkobar, la mengamuk dan mengobat-abitkan pedangnya membacok ke sana-sini dengan ngawur.

"Keparat kau, Nurseta! Hayo perlihatkan dirimu, jangan pergunakan ilmu setan!"

Akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangannya ditangkap tangan yang tak tampak dan tahu-tahu pedangnya telah dirampas. Pedang itu kini melayang dan tampaklah tubuh Nurseta dan pemuda itu berdiri depannya sambil memegang pedang hitam yang sudah dirampasnya!

"Puspa Dewi, untuk apa kita lanjutkan pertandingan ini? Ilmu pedangmu hebat sekali, aku tidak kuat melawannya. Sudahlah, aku mengaku kalah!" Setelah berkata demikian, Nurseta melemparkan pedang itu ke arah Puspa Dewi.

Dara itu terkejut melihat pedangnya meluncur dan mengancam dirinya, akan tetapi setelah dekat, tiba-tiba pedang itu membalik meluncur ke arahnya dengan gagang depan. Hatinya menjadi lega dan cepat ia menyambut pedang itu dan menyimpannya kembali ke sarung pedang. Percuma saja menyerang lagi. Kalau Nurseta dapat menghilang seperti itu, bagaimana mungkin ia akan mampu mengalahkannya?

"Huh, kau... curang!" Dara itu menggerutu dengan bibir meruncing cemberut dan matanya dilebarkan. Dalam keadaan begitu, dara itu malah tampak semakin manis dalam pandangan Nurseta.

"Jangan kau menggunakan ilmu setan yang membuat engkau bisa menghilang seperti setan!"

Nurseta tersenyum. "Puspa Dewi, ilmu Ilmu disebut ilmu setan kalau penggunanya untuk mencelakai orang. Engkau sendiri mempergunakan ilmu-ilmu yang mengandung hawa beracun, bahkan pedangmu itu pun beracun sehingga kalau seranganmu mengenai lawan, lawan akan tewas atau setidaknya terluka parah. Akan tetapi aku sama sekali tidak mencelakaimu. Sekarang ku ingatkan engkau sekali lagi, Puspa Dewi. Engkau seorang dara muda namun telah menguasai banyak aji yang dahsyat, sayang kalau engkau menjadi orang sesat yang mempergunakan ilmumu untuk membunuh atau melukai orang yang tidak bersalah. Ketahuilah bahwa keris pusaka Megatantra memang aku yang menemukan, dan aku hendak mengembalikan kepada yang berhak, yaitu Sang Prabu Erlangga dari Kerajaan Kahuripan. Akan tetapi sungguh celaka, dalam perjalananku, keris pusaka itu dicuri orang karena kelengahanku. Aku tertipu dan Pusaka itu dilarikan orang. Akan tetapi aku harus merampasnya kembali dari tangan si pencuri."

Mendengar semua ucapan Nurseta, di lubuk hatinya Puspa Dewi membenarkan kata-kata pemuda itu. Kebenaran yang tak dapat dibantah, Pikir gadis yang pada dasarnya memiliki hati yang condong membela kebenaran itu. Hanya karena pengaruh sifat gurunya dan pengaruh lingkungan, maka menjadi liar dan ganas. Namun tetap saja ia selalu mempertahankan keadilan maka mendengar ucapan Nurseta itu ia diam-diam menbenarkan.

"Akan tetapi aku hanya menaati perintah guruku yang juga ibu angkatku, Permaisuri Kadipaten Wura-wuri..!" katanya seolah membantah suara hatinya yang membenarkan Nurseta.

"Bukankah seorang murid harus berbakti dan setia pada gurunya yang telah melepas banyak budi?"

"Benar sekali kata-katamu itu, Puspa Dewi. Seorang murid harus berbakti kepada gurunya, itu merupakan suatu kewajiban seorang murid yang baik dan tahu membalas budi. Akan tetapi ada kewajiban lain yang lebih penting lagi, Puspa, yaitu kewajiban sebagai seorang manusia. Karena itu, setiap tugas harus diperhitungkan dengan prikemanusiaan. Kalau tugas yang diberikan guru itu menyimpang dari kemanusiaan, maka kita tidak perlu melaksanakannya. Menyimpang dari prikemanusiaan berarti kejahatan dan haruskah seseorang membantu orang lain melakukan kejahatan, biarpun orang lain itu gurunya sendiri? Tidak, Puspa, engkau bukan seorang gadis yang jahat. Karena itu, tugas yang bersifat jahat amat tidak cocok dan tidak pantas kaulakukan!"

Puspa Dewi menjadi semakin bimbang, ia lalu mengangguk-angguk.

"Baiklah, aku akan mengatakan kepada guruku bahwa perintahnya untuk merampas Megatantra yang menjadi hak milik orang lain itu adalah tidak benar dan jahat sehingga aku berani melanggar perintahnya. Masih ada tugas lain yang tidak kalah pentingnya dan dapat kulakukan dengan berhasil baik."

Senang hati Nurseta mendengar ucapan ini. Kata-kata dara itu menunjukkan bahwa Puspa Dewi belum rusak betul masih mampu menyadari kesalahannya dan dapat mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah.

"Bagus! Aku girang mendengar bahwa engkau tidak akan membantu guru memperebutkan Sang Megatantra lagi Puspa Dewi."

Kini Puspa Dewi menatap wajah Nurseta dan sinar matanya bersinar-sinar!

"Nurseta, engkau... engkau percaya padaku?"

"Tentu saja aku percaya padamu Puspa Dewi. Engkau tadi sudah begitu baik menolongku dari pengeroyokan tiga orang itu. Ratu Mayang Gupita tadi sungguh berbahaya, sakti dan kejam sekali. Juga dua orang yang membantunya, Dibyo Mamangkoro dan Cekel Aksomolo,memiliki ilmu kepandaian yang hebat."

"Hemm, jadi raksasa wanita tadi adalah Ratu Mayang Gupita?"

"Ya, ia ratu dari Kerajaan Siluman laut Kidul."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya, dipati Bhismaprabhawa yang menjadi ayah angkatnya itu berpesan kepadanya agar bekerja sama dengan para kadipaten, termasuk Kadipaten Siluman Laut Kidul untuk menentang Kahuripan. Hemm, tak senang hatinya diharuskan bekerja sama dengan orang seperti raksasa wanita tadi!

"Dan kenapa mereka bertiga itu menyerang dan mengeroyokmu?"

"Mula-mula Ratu Mayang Gupita itu yang menyerangku karena seperti juga gurumu, ia ingin minta Sang Megatantra dariku. Lalu kedua orang yang merupakan tokoh-tokoh sesat itu membantunya."

"Nurseta, sekali lagi aku bertanya, apakah engkau benar percaya kepadaku bahwa aku tidak akan memperebutkan keris pusaka Megatantra lagi?"

Nurseta mengangguk. "Aku percaya padamu, Puspa."

"Kalau begitu, buktikan kepercayaanmu padaku itu dengan mengatakan siapa orangnya yang sudah mencuri pusaka itu dari tanganmu." Ia berhenti sebentar memandang tajam lalu melanjutkan "Kalau engkau tidak mau berterus terang, itu menandakan bahwa engkau berbohong dan sebetulnya engkau masih tidak percaya kepadaku."

Nurseta mengerutkan alisnya. Gadis ini sungguh cerdik, pikirnya. Ucapan itu menyudutkannya dan membuat dia tidak berdaya. Akan tetapi diapun bukan seorang bodoh, maka dia cepat berbalik mengajukan pertanyaan.

"Hemm, jawablah dulu pertanyaaan ini, Puspa Dewi. Kalau engkau mengetahui siapa pencurinya, kemudian pada suatu saat engkau bertemu dengannya lalu apa yang akan kau lakukan? kau rampas Sang Megatantra itu lalu serahkan kepada gurumu?"

"Hemm, bukankah aku sudah berjanji tidak akan merampas keris pusaka untuk guruku? Andaikata aku merampasnya dari pencuri itu, tentu bukan kepada guruku pusaka itu kuserahkan, melainkan kepadamu!"

"Benarkah itu, Puspa Dewi? Ah, aku girang sekali! Akan tetapi kenapa tidak langsung saja kauhaturkan kepada Sang Prabu Erlangga, andaikata keris pusaka itu dapat kau rampas dari si pencuri?"

"Hemm, tidak mungkin. Aku bukan punggawa Kahuripan, dan ingat, aku adalah Sekar Kedaton Kerajaan Wura-wuri!"

"Ah, benar juga. Nah, dengarkan baik-baik. Dalam perjalanan aku bertemu dengan Raden Hendratama yang ternyata adalah seorang pangeran, masih keluarga sang Prabu Erlangga sendiri. Dialah yang menipuku dan mencuri keris pusaka Sang megatantra itu."

"Hemm, Pangeran Hendratama? Belum pernah aku mendengar nama itu. Betapa pun juga, terima kasih, Nurseta. Ternyata engkau benar-benar percaya kepadaku."

"Ada satu hal yang ingin kuketahui, Puspa Dewi. Kalau aku tidak keliru, dulu engkau diculik oleh Resi Bajrasakti, sedangkan Linggajaya diculik oleh Nyi Dewi Durgakumala. Akan tetapi mengapa tahu-tahu engkau dan Linggajaya yang ketika itu sudah kusuruh melarikan diri dapat tertangkap lagi dan engkau menjadi murid Nyi Dewi Durgakumala?

Puspa Dewi menghela napas panjang. "Aku dan Linggajaya melarikan diri dan saking takutnya kami berpencar. Tiba-tiba aku ditawan oleh Nyi Durgakumala dan diambil sebagai murid. Aku bersyukur sekali. Aku masih merasa ngeri membayangkan tertawan oleh raksasa Resi Bajrasakti itu. Setelah aku bertemu Linggajaya, aku mendengar dari dia bahwa ternyata diapun tertawan Resi Bajrasakti dan menjadi muridnya. Kemudian aku diambil anak angkat oleh Nyi Durgakumala dan ketika ia menjadi permaisuri Raja Bhismaprabhawa dari Kerajaan Wura-wuri, aku menjadi Sekar Kedaton.

"Wah, hebat sekali engkau, Puspa Dewi. Sudah menjadi murid seorang sakti mandraguna, masih diangkat menjadi puteri istana lagi! Dan sekarang, engkau hendak pergi kemanakah?"

Puspa Dewi tersenyum. "Tidak perlu aku menceritakan semua urusanku, Nurseta. Aku masih mempunyai tugas-tugas lain yang harus kulaksanakan dengan baik setelah tugas merampas keris pusaka Megatantra kubatalkan. Nah, selamat berpisah, Nurseta."

"Selamat berpisah, Puspa Dewi. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling berjumpa dalam keadaan yang lebih baik, tidak perlu kita harus saling bermusuhan."

Kedua orang muda itu lalu berpisah. Puspa Dewi melompat ke atas punggung Bajradenta, kuda putih pemberian Adipati wura-wuri yang tadi ia tambatkan tak jauh dari situ. Nurseta mengikuti bayangan dara perkasa yang membalapkan kuda putihnya itu dan dia menghela napas panjang.

Biarpun baru sebentar dia mengenal Puspa Dewi, namun dia telah dapat meraba watak gadis yang menarik hatinya itu. Seorang gadis yang memiliki dasar watak yang baik dan gagah, pembela keadilan, namun sifatnya dipengaruhi gurunya sehingga menjadi binal, ganas dan galak. Sayang kalau gadis seperti itu tidak mendapatkan bimbingan yang baik, bisa saja menjadi sesat.

Dan dia... dia akan senang sekali kalau mendapat kesempatan memberi bimbingan kepada Puspa Dewi! Perasaan cintakah ini? Dia sendiri tidak tahu. Yang jelas, belum pernah dia merasakan seperti ini. Tiga orang selir Pangeran Hendratama dengan genit berusaha merayunya, namun dia sama sekali tidak tertarik, tidak bergairah, bahkan dia merasa muak dengan sikap mereka yang genit.

Kepada Widarti, selir termuda Pangeran Hendratama yang bersikap baikpun dia tidak tertarik, hanya merasa iba kepada gadis yang terpaksa menjadi selir pangeran itu. Kemudian Ki Lurah Warsita, lurah dusun Karang Sari, ingin menjodohkan dia dengan Kartiyah, puterinya, akan tetapi diapun sama sekali tidak tertarik. Baru sekarang dia merasa tertarik sekali kepada seorang gadis, yaitu kepada Puspa Dewi.

Nurseta mengusir semua lamunan Itu dari hati dan pikirannya dan melanjutkan perjalanannya. Masih ada dua buah tugas yang harus dia selesaikan sebelum tugas terakhir, yaitu membantu Kerajaan Kahuripan. Kedua buah tugas itu ialah, pertama mencari Senopati Sindukerta yang pernah dilapori tentang orang tuanya sehingga orang tuanya ketakutan dan melarikan diri.

Dari senopati ini agaknya dia akan bisa mendapatkan keterangan tentang orang tuanya. Kedua, dia harus mencari Pangeran Hendratama untuk merampas kembali keris pusaka Megatantra untuk dihaturkan kepada Sang Prabu Erlangga seperti yang dipesan oleh mendiang Empu Dewamurti. Teringat akan tugas-tugasnya ini, Nurseta mempercepat jalannya…..

********************

Dua orang itu berdiri saling berhadapan di sebuah puncak sebuah bukit kapur gersang di daerah pegunungan kidul yang memiliki ratusan, bahkan ribuan bukit itu. Bukit itu tandus karena tanahnya mengandung banyak kapur dan jauh dari pedusunan. Siapa mau tinggal di daerah yang gersang dan tidak dapat ditanami apa-apa itu?

Dua orang itu berdiri di situ, sejak tadi tak bergerak seperti arca. Suasananya sepi karena selain mereka berdua, di bukit itu dan sekitarnya, di pegunungan kapur itu memang jarang dikunjungi manusia. Yang seorang adalah seorang wanita yang usianya sudah lima puluh tahun, namun wajahnya masih tampak cantik, belum tampak dihias keriput. Juga tubuhnya masih padat dan sehat sehingga bagi yang tidak mengenalnya, tentu mengira ia berusia sekitar tiga puluh tahun.

Pakaiannya terbuat dari sutera halus dan serba hitam, meski pun terhias coretan kembang di sana-sini. Rambutnya di gelung seperti kebiasaan wanita Bali, digelung dan ditekuk dengan ciri khas, masih dihias ronce-ronce kembang melati, sepasang matanya mencorong sehingga melihat sinar matanya saja mudah diduga bahwa wanita ini bukanlah orang sembarangan.

Memang ia bukan wanita sembarangan, melainkan seorang wanita yang sakti mandraguna, seorang yang menguasai banyak aji kanuragan dan sihir, yang selama puluhan tahun ia latih dari para pendeta dan pertapa di Nusa Bali. Ada pun yang berdiri dengan sikap tenang di depannya adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh dua tahun. Kalau wanita itu berpakaian serba hitam, maka pria itu berpakaian serba putih bersih dan sederhana sekali. Hanya merupakan kain putih yang dilibat-libatkan di tubuhnya.

Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai lepas di pundak dan punggungnya. Kumis dan jenggotnya juga panjang namun terawat bersih dan rapi. Wajah laki-laki ini pun masih memperlihatkan bekas ketampanan, pandangan matanya lembut namun penuh wibawa, mulutnya terhias senyuman penuh kesabaran dan gerak geriknya lembut. Sungguh merupakan kebalikan dari wajah wanita itu yang tampak muram dan murung, seperti wajah orang yang sakit hati atau sedang susah dan muram.

"Yayi Gayatri..." terdengar suara laki-laki itu lembut. Akan tetapi segera dipotong oleh suara wanita itu yang terdengar ketus.

"Kakang Ekadenta, namaku sekarang bukan lagi Gayatri.

Gayatri sudah mati dan yang ada ialah Nini Bumigarbo!"

Pria itu tersenyum sabar. "Baik sekali, Nini Bumigarbo dan ketahuilah, aku sendiri sekarang juga memakai nama Bhagawan Jitendriya. Nini Bumigarbo, mengapa engkau tiada henti-hentinya berusaha untuk menentang bahkan membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama dari Kahuripan?"

"Hemm, Bhagawan Jitendriya, engkau masih berpura-pura tanya sebabnya kalau engkau sendiri terlibat di dalamnya? Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama adalah murid-murid Sang Resi Satyadharma di Gunung Agung Nusa Bali. Karena tidak mungkin aku dapat membunuh Resi Satyadharma yang sakti mandraguna seperti dewa, maka satu-satunya jalan untuk membalas dendam dan menghilangkan rasa penasaran di hatiku hanyalah membunuh kedua orang muridnya itu."

"Aduh, yayi (dinda) Gayatri..! Eh, maksudku Nini Bumigarbo, kenapa engkau yang dulu amat membanggakan hatiku memiliki adik seperguruan yang cantik lahir batin, sakti mandraguna, kini dapat tersesat dan membiarkan racun kebencian mengeram di dalam hatimu? Sudah berulang kali kujelaskan kepadamu bahwa Sang Resi Satyadharma sama sekali tidak berdosa, sama sekali tidak mempunyai kesalahan terhadap dirimu. Mengapa engkau menanam dendam kebencian sedemikian mendalam terhadap dia? Engkau akan kesiku (bersalah) kepada para dewata, yayi!"

"Tidak berdosa, tidak bersalah kepadaku? Itu adalah pendapat mu, karena engkau tidak merasakan, Kakang Ekadenta! Sejak muda remaja kita telah saling mencinta. Sejak dulu aku mendambakan engkau sebagai calon jodohku dan aku menolak semua pinangan pria, para pendekar, bahkan pangeran dan adipati kutolak semua karena hanya engkaulah satu-satunya pria di dunia ini yang ku inginkan menjadi suamiku. Engkaupun telah menyatakan cintamu kepadaku dan kita sudah sama berjanji untuk menjadi suami isteri. Akan tetapi engkau bertemu dan berguru kepada Resi Satyadharma dan dia yang membujuk dan mengajarmu agar engkau tidak menikah selama hidup, sejak itu engkau memutuskan hubungan cinta kita. Dan engkau kini mengatakan bahwa dia tidak bersalah padaku?"

"Benar, yayi, beliau sama sekali tidak bersalah. Sang Resi Satyadharma hanya menasihatkan agar aku tidak menikah dan mengikat diriku dengan keluarga, sama sekali beliau tidak menyinggung tentang dirimu karena beliau tidak mengenalmu dan tidak tahu bahwa dulu kita saling mencinta. Jadi yang memutuskan hubungan itu adalah aku sendiri. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa aku tidak cinta padamu, yayi. Cinta tidak harus dihubungkan dengan pernikahan, dengan berahi. Cintaku padamu lebih murni, lebih mendalam dan lebih tinggi."

"Omong kosong! Engkau tentu tahu bahwa karena penolakanmu itu, karena engkau menjauhi aku, engkau telah membuat aku patah hati, engkau telah membuat hidupku merana, kecewa, dan penasaran. Karena itu, bagaimana pun juga aku sekarang akan pergi membunuh Erlangga dan Narotama"

"Itu tidak adil, yayi. Kalau engkau menganggap Resi Satyadharma yang bersalah, kenapa tidak kau kunjungi beliau di Gunung Agung dan berhitungan dengan beliau?"

"Huh, aku bukan seorang tolol, kakang! Aku tahu, biar aku menambah ilmu-ilmu sampai seratus tahun lagi, aku tidak akan mampu mengalahkan Resi Satyadharma. Karena itu, aku akan membunuh dua orang muridnya itu!"

"Yayi, kalau engkau merasa hidupmu merana karena aku, mengapa engkau tidak membunuh aku saja?"

"Tidak, aku harus membunuh dua orang murid resi itu agar dia merasai betapa pedihnya kehilangan orang yang di cintanya!" kata Gayatri atau Nini Bumigarbo dengan kukuh.

"Hemm, karena aku tahu benar bahwa tindakanmu itu menyimpang dari kebenaran dan keadilan, maka terpaksa aku menentangmu, Yayi Gayatri. Aku yang akan menghalangi kalau engkau hendak membunuh Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama."

Sepasang mata itu berkilat dan sepasang alis yang masih hitam melengkung Itu bergerak-gerak. "Babo-babo, Kakang Ekadenta, engkau menantangku? Engkau, yang dulu menjadi kekasihku yang amat mencintaku dan menjadi kakak seperguruanku, kini hendak memusuhi aku? Kau kira aku takut padamu, kakang? Ingat, aku bukan Gayatri yang dulu. Aku telah memperdalam ilmu-ilmuku. Sekarang begini saja, kakang, dari pada kita bermusuhan, mari kita putuskan begini saja. Sekarang kita mengadu kesaktian. Kalau kau kalah, maka engkau harus lepas tangan dan tidak mencampuri urusanku dengan Erlangga dan Narotama. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku akan mundur dan berjanji tidak akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri. Bagaimana, kakang?"

Bhagawan Ekadenta atau Bhagawan Jitendriya menghela napas dan menggeleng-geleng kepalanya. "Yayi Gayatri, engkau adalah adik seperguruanku. Sudah berapa kali selama tiga puluhan tahun ini engkau dalam kemarahanmu menyerangku? Engkau selalu kalah. Sekarangpun engkau tidak akan menang melawan aku yayi. Untuk apa kita bertanding lagi? Sudahlah, lebih baik buang semua dendam kebencian itu dan mari ikut aku bertapabrata. Aku akan menuntunmu ke jalan kebenaran yang akan menerangi kehidupanmu."

"Babo-babo, kakang! Jangan memandang rendah Gayatri! Sekarang engkau tidak akan menang dan aku pasti akan dapat membunuh Erlangga dan Narotama..heh-heh-hi-hi-hik!"

Wanita itu tertawa terus, cekikikan dan diam-diam Bhagawan Ekadenta terkejut dan cepat dia mengerahkan tenaga saktinya untuk melindungi telinga dan jantungnya. Suara tawa Nini Bumigarbo demikian dahsyat makin lama semakin kuat menimbulkan getaran amat kuat, seperti gelombang lautan yang makin lama makin mengganas. Bahkan beberapa ekor burung derkuku yang sedang berada dibalik batu-batu kapur, terkejut mendengar suara yang menggetarkan udara itu. Mereka terbang ke atas akan tetapi getaran suara tawa itu menyerang mereka dan burung-burung itu berjatuhan dan mati seketika!

Hebat bukan main serangan Nini Bumigarbo melalui getaran suara tawanya itu. Bhagawan Ekadenta sudah melindungi dirinya dengan tenaga saktinya. Dia berdiri tegak dan memejamkan dua matanya. Namun, betapa pun juga, tubuhnya bergoyang-goyang saking hebatnya serangan melalui suara tawa itu.

Nini Bumigarbo yang memandang dengan sinar mata tajam ke arah Bhagawan Ekadenta, menjadi penasaran sekali melihat tubuh bekas kakak seperguruan dan kekasihnya itu hanya bergoyang-goyang tubuhnya akan tetapi tidak roboh. Banyak tokoh sakti yang roboh hanya oleh serangan suara tawanya itu.

Akan tetapi Bhagawan Ekadenta hanya bergoyang goyang tubuhnya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, tawanya semakin melengking dan getarannya semakin dahsyat, namun tetap saja Bhagawan Ekadenta tidak roboh. Akhirnya Nini Bumigarbo menjadi kelelahan sendiri dan menghentikan tawanya. Getaran yang timbul dari suara tawa yang amat dahsyat itu, begitu dihentikan secara tiba-tiba juga mendatangkan pengaruh kuat. Telinga yang tadinya digetarkan oleh suara melengking-lengking itu, tiba-tiba menjadi kosong dan perubahan mendadak ini menimbulkan suara berdenging dalam telinga.

Bhagawan Ekadenta menarik napas panjang tiga kali dan dengingan itu lenyap dari pendengarannya. Dia membuka matanya dan memandang kepada Nini Bumigarbo sambil tersenyum. Akan tetapi hatinya disentuh rasa iba melihat wanita itu menggunakan sehelai saputangan untuk menyeka keringat yang membasahi dahinya.

"Yayi Gayatri, cukuplah main-main ini, untuk apa dilanjutkan?" kata Bhagawan Ekadenta lembut.

"Hemm, aku belum kalah, kakang! Kita sudah sepakat, siapa kalah harus mematuhi janjinya! Nah, sambutlah ini! Hyaaaaahhh" Nini Bumigarbo membaca mantera, lalu kedua tangannya diangkat ke atas kemudian dilambaikan dan tiba-tiba dari kedua telapak tangannya keluar asap hitam membubung ke atas. Asap itu makin tebal dan besar, kemudian dari dalam asap itu beterbangan keluar puluhan ekor kelelawar hitam sebesar kucing. Puluhan ekor kelelawar itu dengan suara bercicitan, dengan matanya yang merah, bergigi bertaring terbang meluncur ke arah Bhagawan Ekadenta, siap mencakar dan menggigit!

"Sadhu-sadhu-sadhu... Mahluk jadi-jadian, kembalilah kedalam kegelapan. Sinar terang mengalahkan kegelapan!" kata Bhagawan Ekadenta dan begitu dia menggerakkan tangannya menadah ke atas lalu sinar matahari seolah menimpa telapak tangannya lalu membias dengan terang sekali ke arah segerombolan kelelawar itu.

Diterjang sinar matahari yang membias dari telapak tangan Bhagawan Ekadenta, mahluk-mahluk mengerikan itu tersentak dan tertolak ke belakang, mencicit-cicit ketakutan, saling bertabrakan ketika terbang kembali ke dalam asap hitam. Kini sinar terang itu menerjang asap hitam dan asap itu perlahan-lahan mengecil dan meluncur turun kembali ke telapak kedua tangan Nini Bumigarbo.

Wajah wanita itu menjadi agak pucat dan napasnya memburu, la merasa penasaran dan marah bukan main. Hampir tiap tahun sekali sejak ia merasa dibuat patah hati oleh kakak seperguruannya yang memutuskan tali percintaan mereka, ia mencoba untuk mengalahkan Bhagawan Ekadenta, namun ia selalu gagal. Setelah gagal, ia cepat memperdalam ilmu-ilmunya dengan mempelajari segala macam aji kesaktian dan ilmu sihir, ilmu hitam, santet dan tenung.

Namun setiap kali ia mencoba kepandaiannya, Bhagawan Ekadenta selalu dapat mengalahkannya. Agaknya kakak seperguruannya yang mengasingkan diri dari dunia ramai itu pun makin memperdalam ilmu-ilmunya sehingga menjadi semakin sakti mandraguna! Dua macam ilmu baru tadipun ternyata dapat dibuyarkan oleh Bhagawan Ekadenta. Ia masih memiliki aji pamungkas yang baru saja dipelajarinya di Nusa Bali, akan tetapi masih merasa ragu untuk mengeluarkannya karena ajinya itu berbahaya sekali dan bagaimana pun juga ia tidak ingin membunuh pria yang sampai sekarang masih dicintanya itu. la hanya ingin mengalahkannya

"Sudah cukup main-majn ini, yayi"

"Aku belum kalah! Sambut serangan ini!" Nini Bumigarbo menggerakkan tangan kanannya dan tahu-tahu ia sudah memegang sebatang ranting sedepa panjangnya, sebatang ranting hitam.

"Haamtt!" Ranting itu seperti hidup di tangannya, meluncur dengan kecepatan kilat menyerang kearah leher Bhagawan Ekadenta. Pria yang usianya sekitar lima puluh dua tahun ini melompat ke belakang untuk mengelak, tangannya merogoh dibalik jubahnya dan mengeluarkan sehelai kain p utih yang biasa dia pergunakan untuk mengikat rambutnya. Sehelai kain yang panjangnya selengan, tampak sederhana lemas. Akan tetapi ketika ranting itu menyambar lagi, dia menangkis dengan kain putih itu yang tiba-tiba menjadi kaku seperti sebatang kayu.

"Takkk!" Ranting hitam bertemu kain putih dan sungguh luar biasa, pertemuan dua benda sederhana itu menimbulkan bunga api dan asap. Lalu keduanya saling serang dengan kecepatan kilat sehingga ranting itu beruban menjadi gulungan sinar hitam sedangkan kain itu berubah menjadi gulungan sinar putih. Kedua sinar itu berkelebatan saling mendesak dan saling mengurung.

Kalau kebetulan ada orang menyaksikan pertandingan ini, dia tentu akan takjub melihat dua orang itu hanya tampak sebagai bayang-bayang saja yang terkurung dua gulungan sinar hitam dan putih. Bukan main hebatnya pertandingan ini. Gerakan keduanya mendatangkan angin bersiutan yang membuat tanah dan debu berhamburan lalu membubung naik seolah di situ ada dua mahluk raksasa yang amat kuat sedang berlaga.

Kadang-kadang terdengar suara keras dan batu pecah berhamburan terkena pukulan ujung ranting atau kain. Bahkan orang-orang yang memiliki kesaktianpun akan tercengang menyaksikan pertandingan dahsyat ini. Keadaan sekeliling tempat pertandingan, dalam jarak belasan tombak terlanda gelombang tenaga mereka yang akan dapat merobohkan orang dari jarak jauh.

Memang tingkat kepandaian dua orang ini sudah sangat tinggi, maka pertandingan itu pun hebat bukan main. Ilmu silat yang mereka pelajari dan latih selama puluhan tahun sudah begitu mendarah daging di tubuh mereka. Gerakan mereka sudah otomatis seolah tanpa dikendalikan pikiran lagi, tangan kaki sudah bergerak sendiri dan seolah-olah mempunyai mata sendiri. Dan setiap gerakan mengandung tenaga dalam yang dahsyat dan sakti.....
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| cersil terbaru hari ini [Pendekar Latah (Tiao Deng Kan Jian Lu)] akan di upload pada Pukul 20.00 WIB."

(Regards, Admin)

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 29"

Post a Comment

close