Sang Megatantra Jilid 25

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Listyarini bukan seorang wanita yang pemarah, melainkan seorang yang berhati lembut. la memaklumi kedudukan suaminya, maka ia berkata dengan halus.

"Kakangmas, setelah mendengar semua keterangan paduka betapa Lasmini ikut sibuk mencari saya, dan tidak ada tanda-tanda, tidak ada bukti atau saksi bahwa Ia yang benar-benar menyuruh Nismara menculik saya, maka saya pun tidak yakin bahwa ia bersalah. Saya menyesal telah membuat ia marah dan meninggalkan kepatihan, kakangmas."

"Kalau begitu, engkau mau minta maaf kepadanya bahwa engkau pernah menuduhnya bersalah?"

Listyarini menghela napas panjang "Demi kebahagiaan paduka dan demi kepentingan Kerajaan Kahuripan, saya mau melakukan apa saja, kakangmas. Baiklah, saya bersedia minta maaf kepadanya, akan tetapi saya harap paduka bersikap adil, yaitu iapun patut minta maaf kepada saya karena ia telah menuduh saya berbuat zina dengan Kakang Tejoranu."

Ki Patih Narotama mengangguk-angguk. "Itu cukup adil, diajeng... Kalian berdua agaknya hanya salah duga dan salah paham saja. Baiklah, kalau begitu..., aku akan menyusul diajeng Lasmini dan mengajaknya pulang ke kepatihan."

Demikianlah, pada keesokan harinya, berangkatlah Ki Patih Narotama ke Kerajaan Parang Siluman karena dia telah mengirim penyelidik dan mendapatkan keterangan bahwa Puteri Lasmini berada di kerajaan pantai Laut Selatan itu. Ki Patih Narotama naik sebuah kereta untuk menjemput selirnya itu.

Kedatangannya disambut dengan ramah dan hormat oleh Ratu Durgamala, yaitu ibu Lasmini dan Mandari. Setelah upacara penyambutan dan menyatakan maksud kunjungannya, sambil diam-diam kl patih ini merasa heran dan juga kagum melihat betapa ibu dari Lasmini yang sudah berusia empat puluh tahun lebih itu masih tampak seperti puteri puterinya, seperti sebaya dengan Lasmini, Ki Patih Narotama lalu dipersilakan masuk kaputren untuk menjumpai Lasmini yang sudah menanti dalam kamarnya.

Narotama dipersilakan masuk oleh para dayang ke dalam sebuah kamar yang luas dan indah, bersih dan berbau harum melati, bunga kesukaan Lasmini. Ketika dia masuk, dia melihat selirnya itu rebah menelungkup di atas pembaringan dan menangis perlahan. Mukanya ditanamkan dalam bantal dan pundaknya hergoyang-goyang. Tubuh yang indah padat itu bergoyang perlahan, membuat hati sang patih dipenuhi kerinduan kepada selir terkasih ini. Dia menghampiri lalu duduk di tepi pembaringan, disentuhnya pundak Lasmini dengan lembut.

"Diajeng..."

Lasmini tetap menelungkup dan tangisnya kini tersedu-sedu. Beberapa saat lamanya Narotama membiarkan Lasmini menangis, dan setelah tangis itu agak mereda, ia memegang pundak selirnya dan berkata lagi dengan lembut.

"Diajeng, jauh-jauh aku datang menjemputmu, mengapa engkau tidak keluar menyambut kedatanganku, malah berdiam dalam kamar dan menangis?"

Dielusnya tengkuk indah dengan anak rambut melingkar lingkar itu karena rambut yang hitam panjang itu digelung ke atas. Biasanya, belaian seperti ini amat disukai selir itu. Akan tetapi sekali ini, Lasmini menggerakkan tubuh menjauh tanpa mengubah posisi tubuhnya yang menelungkup, akan tetapi terdengar ia berkata agak ketus namun lirih karena mukanya terbenam ke bantal.

"Mau apa paduka datang ke sini? Mau apa mengunjungi hamba yang rendah dan jahat ini?"

Narotama tersenyum. "Diajeng, tentu saja aku datang untuk menjemputmu. Mari kita pulang ke kadipaten, diajeng."

"Apa perlunya hamba kembali ke sana? Hamba sudah tidak dipercaya lagi. Bukankah hamba orang jahat yang menyuruh Nismara menculik garwa paduka?"

"Diajeng Lasmini, aku tidak pernah menganggap engkau seperti itu."

Tiba-tiba Lasmini bangkit duduk. Gerakannya menggeliat dari tidur menelungkup menjadi duduk ini tampak begitu Indah karena memperlihatkan gerakan tubuh yang meliuk dan lemah gemulai, juga padat dengan lekuk lengkung yang sempurna. Wajahnya tampak membayangkan kesedihan, matanya sayu, rambutnya sebagian terjuntai, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, kecantikannya bahkan semakin menonjol. Hal ini tentu saja lebih diperkuat oleh perasaan rindu dalam hati Narotama.

"Mungkin paduka tidak, akan tetapi kakang-mbok Listyarini menuduh hamba begitu. la melempar fitnah kepada hamba,..." Bibir yang mungil merah segar itu meruncing dan tampak menantang.

"Itu adalah kesalah pahaman belaka diajeng. Yang menjatuhkan fitnah adalah jahanam Nismara yang telah mati itu. Sayang dia telah mati, kalau tidak tentu akan kuhukum seberat-beratnya."

Mendengar bahwa Nismara telah mati, hati Lasmini menjadi lega dan girang sekali, namun perasaan itu sama sekali tidak tampak pada wajahnya yang tetap sedih. Dengan matinya Nismara, maka tuduhan itu tidak ada artinya, tidak ada saksinya dan rahasianya tetap tertutup Bagaimana pun juga, berita tentang kematian Nismara ini membuat ia sedemikian girangnya sehingga ia tidak dapat bicara untuk sejenak lamanya.

"Sudahlah, diajeng. Kita lupakan saja hal-hal yang terjadi di Telaga Sarang itu dan marilah kembali dengan aku ke kepatihan. Engkau masih cinta kepadaku seperti aku mencintaimu, bukan?" Narotama kini merangkul dan Lasmini balas merangkul sambil membenamkan mukanya di dada sang patih. Tanpa mengangkat muka dari atas dada suaminya, Lasmini berkata lirih, seperti merajuk.

"Hamba hanya mau kembali dengan satu syarat, kakangmas."

Narotama mengelus dan membelai punggung selirnya. "Katakanlah, apa syaratmu itu?"

"Kalau hamba sudah sampai di kepatihan, kakang mbok Listyarini harus minta maaf kepada hamba. Dengan begitu kesalah pahaman ini baru dapat hamba lupakan."

Narotama tersenyum. Hal itu sudah dia duga sebelumnya, maka sebelum berangkat menjemput Lasmini dia sudah minta janji isterinya untuk minta maaf kepada Lasmini.

"Tentu saja. Akan kusuruh ia minta maf kepadamu, Lasmini."

"Betul, kakangmas? Ah, baru senang hatiku!" Dan Lasmini menerima dengan penuh kepasrahan bahkan menyambut hangat ketika Narotama menciumnya.

"Akan tetapi, diajeng. Untuk membuat ketegangan antara kalian berdua benar-benar mencair, engkau pun sudah sepantasnya minta maaf pula kepada diajeng Listyarini, dengan demikian hubungan kalian akan menjadi akrab."

"Hamba? Minta maaf kepada kakang mbok Listyarini? Untuk apa?"

Narotama tersenyum. "Diajeng, engkau juga mempunyai hutang kepadanya, Engkau menuduh ia melakukan penyelewengan dan berbuat zina dengan Ki Tejoranu."

"Akan tetapi kita melihat sendiri"

"Hemm, tampaknya saja begitu, akan tetapi sesungguhnya, Ki Tejoranu itulah yang telah menyelamatkan nyawa diajeng Listyarini dari tangan si jahanam Nismara." Narotama lalu menceritakan apa yang diketahuinya tentang Ki Tejoranu dan apa yang dialami Listyarini.

Dapat dibayangkan betapa jengkelnya hati Lasmini terhadap Nismara. Baru sekarang ia tahu bahwa Nismara telah mengkhianatinya, tidak melaksanakan perintahnya, tidak membawa Listyarini ke selatan, ke daerah Kerajaan Parang Siluman. Melainkan membawanya jauh ke barat, la menjadi lebih gemas lagi mendengar bahwa Listyarini urung diperkosa Nismara karena tertolong oleh Ki Tejoranu keparat itu! Akan tetapi tentu saja la tidak memperlihatkan apa yang bergolak dalam hatinya.

"Aah, begitukah, kakangmas? Kasihan kakang mbok Listyarini yang mengalami banyak penderitaan, masih kusangka yang bukan-bukan lagi. Baiklah, setelah tiba disana, hamba akan minta maaf kepadanya."

Demikianlah, Lasmini kembali ke kadipaten Kahuripan. Dengan sikapnya yang amat pandai membawa diri ia berbaik dengan Listyarini sehingga garwa padmi patih ini pun terkecoh dan sejak itu menganggap Lasmini seorang yang ramah dan baik hati! Namun, di lubuk hatinya, Lasmini merasa penasaran sekali, la harus membalas dendam karena semua usahanya yang gagal itu ia anggap sebagai kekalahannya yang memalukan. Apa lagi ketika ia mendengar bahwa adiknya, Mandari yang menjadi selir Sang Prabu Erlangga, juga sebegitu lama belum berhasil sama sekali.

Seperti juga Lasmini, Mandari juga berhasil membuat Sang Prabu Erlangga terlena dan terbuai oleh rayuan dan sikapnya yang serba menyenangkan. Mandari juga pandai sekali mempergunakan segala kecantikan dan keindahan bentuk tubuhnya untuk membuat Sang Prabu Erlangga jatuh dengan cinta berahi yang menggebu-gebu. Namun, Sang Prabu Erlangga juga merupakan seorang yang arif dan bijaksana.

Walau pun dia tidak mampu mengekang nafsu berahinya yang berkobar dibangkitkan oleh kecantikan Mandari, namun dia tetap waspada dan tahu benar bahwa cinta di antara dia dan selirnya itu hanyalah merupakan cinta nafsu berahi semata. Jiwa mereka tidak pernah saling bersentuhan. Oleh karena itu, dengan kesaktiannya, Sang Prabu Erlangga juga selalu menjaga agar hubungannya dengan selir terkasih ini jangan sampai menghasilkan seorang keturunan. Dia sama sekali tidak menginginkan keturunan dari Mandari.

Sang Prabu Erlangga telah memiliki seorang permaisuri, yaitu Puteri Sekar kedaton, puteri dari mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, dan seorang selir terkasih dan setia bernama Dyah Untari. Dari kedua orang isterinya itu, Sang Prabu Erlangga telah mendapatkan dua orang putera. Ketika dia meminang dua orang puteri Ratu Kerajaan Parang siluman, bukan semata karena dia mendengar akan kecantikan dua orang puteri itu, melainkan terutama sekali demi menjaga agar permusuhan antara kerajaan kecil itu dan Kahuripan dapat dipadamkan dan terdapat perdamaian. Akan tetapi setelah dia memilih Mandari menjadi selir dan menyerahkan Lasmini kepada Narotama, dia segera tenggelam kedalam pengaruh yang teramat kuat dari kecantikan dan kepandaian Mandari mengambil hatinya.

Dalam waktu singkat Mandari menjadi selir yang tersayang. Hal Ini sebetulnya dianggap wajar saja oleh Sang Permaisuri dan juga oleh selir Dyah Untari yang setia. Pada jaman itu, raja manakah yang tidak memiliki banyak isteri? Dan wajar kalau Sang Prabu Erlangga amat menyayang Mandari, selir baru itu karena selain dara itu seorang puteri, yaitu puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman, juga memang puteri itu cantik jelita dan amat menggairahkan. Baik Sang Permaisuri maupun Dyah Untari sama sekali tidak merasa cemburu atau khawatir, apa lagi mereka berdua masing-masing telah mempunyai seorang putera!

Memiliki putera ini berarti merupakan pengukuhan dan penguatan kedudukan mereka. Juga penguatan hubungan mereka dengan Sang Prabu Erlangga. Putera Sang Permaisuri diberi nama Pangeran Samarawijaya yang pada waktu itu sudah berusia dua tahun. Ada pun putera Dyah Untari diberi nama Pangeran Budidharma dan berusia satu tahun.

Ni Mandari memang berhasil membuat Sang Prabu Erlangga mabuk kepayang dan tenggelam dalam lautan asmara, terpesona oleh kecantikan dan daya tariknya yang amat kuat. Akan tetapi ia kecewa sekali karena semua usahanya untuk mengacau keluarga Sang Prabu Erlangga selalu menemui kegagalan.

Usaha pertama mengadu domba Sang Prabu Erlangga dengan Ki Patih Narotama sudah menemui kegagalan. Maka hatinya selalu merasa tidak senang. Apa lagi melihat betapa para madunya, Sang Permaisuri dan Dyah Untari masing-masing telah mempunyai seorang putera sedangkan ia sendiri belum ada tanda-tanda hamil, hatinya menjadi semakin kesal.

Kalau ia hendak membunuh Sang Prabu Erlangga, memang kesempatannya banyak sekali karena Sang Prabu Erlangga sering kali terlena dan tertidur pulas dalam pelukannya. Dalam keadaan seperti itu ia akan mudah dapat membunuh raja itu. Akan tetapi ada dua hal yang membuat ia tidak mau melakukan atau mencobanya. Pertama, ia tahu betapa sakti mandraguna Sang Prabu Erlangga sehingga ada kemungkinan usahanya untuk membunuh gagal, dan ke dua, diam-diam ia sendiri mabuk kepayang dan jatuh cinta kepada pria yang menjadi suaminya itu.

Sang Prabu bukan saja sakti mandraguna, akan tetapi juga tampan, gagah, dan pandai dalam olah asmara, pendeknya seorang pria yang sukar dicari bandingnya. Karena itu, ia memutar otak untuk mencari cara lain untuk menghancurkan dan melemahkan Kerajaan Kahuripan.

Akan tetapi sebelum ia mendapatkan cara terbaik untuk memenuhi keinginannya, datang persoalan lain yang membuat hati Mandari menjadi semakin penasaran dan marah sekali. Berita itu adalah berita tentang peminangan yang diajukan Sang Prabu Erlangga terhadap puteri Sribaginda Raja Sriwijaya, telah diterima dan sang puteri dari Sriwijaya itu akan segera datang, dijemput oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Ki Patih Narotama!

Juga pernikahan ini merupakan suatu tindakan untuk menjalin perdamaian dengan Kerajaan besar Sriwijaya itu, seperti halnya pernikahannya dengan Mandari. Hanya bedanya, karena Mandari hanya puteri Ratu Kerajaan Parang Siluman yang merupakan kerajaan kecil saja, maka Mandari hanya menjadi seorang selir. Ada pun puteri Kerajaan Sriwijaya yang merupakan saingan Mataram sejak dulu dan merupakan kerajaan besar, dinikahi secara besar-besaran dan diangkat menjadi permaisuri ke dua setelah Sang permaisuri yang dahulunya Puteri Sekar Kedaton, puteri mendiang Raja Teguh Dharmawangsa.

Hal inilah yang membuat hati Mandari menjadi semakin panas. Biarpun ia amat disayang Sang Prabu Erlangga dan Sang prabu lebih sering mengajak ia menemaninya tidur, namun tetap saja ia hanya seorang selir. Di atas ia masih ada Sang Permaisuri yang kedudukannya tentu saja lebih mulia dan lebih dihormati semua punggawa dan rakyat Kahuripan.

Bahkan la masih kalah dalam hal kedudukannya dibandingkan selir Dyah Untari karena Dyah Untari telah mempunyai seorang putera dan merupakan selir terdahulu atau tertua. Juga Dyah Untari adalah puteri dari mendiang Pangeran Sepuh Hardagutama yang masih kakak tiri berlainan ibu dengan mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa dan telah diangkat menjadi patih oleh raja yang masih saudara tirinya itu. Baru menghadapi dua orang saingan ini saja dia sudah merasa berat untuk berebutan pengaruh, dan sekarang malah ditambah datangnya seorang permaisuri ke dua.

Sang Prabu Erlangga menyambut kedatangan sang puteri dari Sriwijaya yang nama lengkapnya adalah Sri Sanggrama wijaya Dharmaprasadatunggadewi. Untuk menghormati sang puteri, tentu saja terutama sekali untuk menyenangkan Sri baginda Raja di Sriwijaya, Sang Prabu Erlangga mengadakan pesta besar-besar untuk merayakan pernikahannya dengan Puteri Sriwijaya itu.

Bahkan perkawinan agung yang mempersatukan dua kerajaan besar itu kemudian ditulis oleh Pujangga Empu Kanwa sebagai kitab kekawin junawiwaha yang mengisahkan pernikahan Sang Arjuna dengan seorang bidadari bernama Dewi Supraba, setelah Sang Arjuna lulus dari segala macam cobaan ujian berupa godaan berat dalam pondok pengasingannya melakukan tapabrata.

Pesta besar diadakan selama tujuh hari tujuh malam dan bukan hanya istana Kahuripan yang merayakan pesta pernikahan besar-besaran ini, bahkan seluruh rakyat juga ikut merayakannya. Akan tetapi kalau semua orang bergembira dan berpesta pora, dua orang merasa ngelangsa. Mereka memang ikut juga berpesta dan tampak gembira, namun semua itu hanya sandiwara.

Di dalam hati mereka, Lasmini yang datang sebagai tamu bersama keluarga Ki Patih Narotama dan Mandari yang bertindak sebagai keluarga tuan rumah yang empunya kerja, kedua orang kakak beradik ini merasa penasaran dan marah sekali. Setelah perayaan berjalan tiga hari, Mandari berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk beristirahat karena merasa lelah dan ia ingin menggunakan kesempatan Itu untuk melepas rindu dengan kakaknya, yaitu Ni Lasmini yang datang sebagai tamu.

Kedua orang puteri jelita ini lalu mengundurkan diri dan tak lama kemudian mereka sudah berada dalam sebuah kamar. Mereka berdua bercakap-cakap. kini kamar itu dan menutup pintu dan jendela-jendela. Biarpun semua jendela dan pintu sudah tertutup rapat, dua orang kakak beradik itu masih bicara lirih agar jangan sampai pembicaraan mereka terdengar orang lain.

"Aduh, bagaimana ini, mbakayu Lasmini? Apakah keadaan kita terus begini saja? Sampai sekarang kita belum juga dapat melakukan sesuatu yang berarti. Ah, tentu kita akan menjadi buah tertawaan di Parang Siluman, semua orang akan mengira kita karena keenakan disini lalu melupakan tugas dan tidak berbuat apa-apa!" kata Mandari gemas.

Lasmini mengepal kedua tangannya dengan gemas.

"Akupun merasa gemas sekali, Mandari. Usahaku berulang kali tak pernah berhasil. Bahkan paling akhir ini aku telah berhasil menyuruh orang menculik Listyarini, akan tetapi sial, ada saja orang yang menyelamatkannya sehingga ia dapat bertemu kembali dengan Ki Patih Narotama. Malah nyaris rahasiaku terbuka. Sekarang ini, apa rencanamu Mandari?"

"Begini, mbakayu Lasmini. Kita tahu bahwa dengan pernikahan Sang Prabu Erlangga dengan puteri Sriwijaya ini, maka kedudukan Kahuripan menjadi semakin kuat karena dia dapat menarik Kerajaan Sriwijaya menjadi keluarga. Maka, hal ini harus kita cegah dengan jalan membunuh puteri Sriwijaya itu sehingga Raja Sriwijaya tentu akan marah dan timbul permusuhan antara Kahuripan dan Sriwijaya."

"Hemm, kurasa rencana itu baik sekali, akan tetapi pelaksanaan..."

"Ssttt..!" Mandari memberi isyarat dengan telunjuk di depan bibir sehingga Lasmini tidak melanjutkan ucapannya yang berbisik itu. Mereka berdua mendengar langkah kaki lewat di depan kamar dan setelah langkah itu tidak terdengar lagi Mandari berkata.

"Itu tadi tentu langkah pengawal yang meronda. Bicara disini tidak aman, mbakayu. Sebaiknya kita masuk ke taman saja dan bicara di sana dapat dilakukan dengan leluasa karena tidak ada orang lain yang mungkin dapat mendengar kita. Mari!" Mandari lalu mengajak Lasmini memasuki tamansari, taman istana yang indah dan luas.

Taman ini lebih indah dari pada taman kepatihan dan di sana-sini diterangi lampu warna-warni. Agaknya taman itu pun dihias dalam rangka pesta pernikahan yang meriah itu. Dua orang puteri itu memasuki taman dan Mandari mengajak kakaknya untuk duduk di sebuah tempat peristirahatan terbuka. Tempat itu berpayon namun tanpa dinding dan di situ terdapat meja kursi ukiran indah, prabot-prabot hiasan dan juga digantungi sebuah lampu. Di sekitar bangunan peristirahatan itu pun diterangi lampu sehingga kalau ada orang mendekati tempat itu, mereka akan dapat melihatnya.

Setelah kedua orang puteri itu duduk berhadapan di bangunan mungil itu dan memandang ke sekeliling, yakin bahwa di sekitar tempat itu sunyi tidak ada orang lain, mereka lalu melanjutkan percakapan yang tadi terpotong.

"Mandari, bagaimana cara melaksanakan rencanamu itu? Kurasa pelaksanaannya tidak mudah, bahkan berbahaya sekali."

"Memang tidak mudah, mbakayu Lasmini, akan tetapi mari kau bantu aku mencari jalan yang baik. Selain itu, masih ada rencana lain yang sudah lama ingin ku laksanakan akan tetapi belum juga menemukan cara terbaik."

"Rencana apa itu?"

"Begini, Puteri Sriwijaya itu akan diangkat menjadi permaisuri ke dua. Akan tetapi sekarang, permaisuri pertama telah mempunyai seorang putera berusia dua tahun, yaitu Pangeran Samarawijaya yang tentu saja sebagai putera pertama permaisuri akan menjadi putera mahkota. Nah, kalau saja putera ini dapat dibunuh..."

"Mandari, hati-hati kau! Rencanamu Itu lebih berbahaya lagi dan amat sukar dilaksanakan'" bisik Lasmini.

Tiba-tiba terdengar suara pria yang lirih namun terdengar jelas di telinga dua orang puteri itu. Sebagai orang-orang sakti, dua orang puteri itu segera mengetahui bahwa suara itu diucapkan lirih, namun didorong tenaga sakti sehingga dapat mencapai telinga mereka dengan cukup jelas.

"Duhai sepasang puteri juwita yang cantik jelita dan sakti mandraguna mengapa risau kalau di sini ada hamba yang akan membikin terang semua perkara yang menggelapkan hati paduka"

Lasmini dan Mandari sudah melompat berdiri dengan sigapnya dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan. Mereka terkejut sekali ketika tiba-tiba saja muncul seorang pria muda yang keluar dari balik batang pohon sawo yang tumbuh tak jauh dari tempat peristirahatan itu! Tempat orang itu bersembunyi begitu dekat dan tentu dia tadi telah mendengar semua percakapan mereka! Akan tetapi dari mana datangnya laki-laki ini? Bagaimana dia dapat tiba dan bersembunyi di balik batang pohon itu? Padahal kalau dia datang, tentu sebelum tiba di situ mereka berdua sudah melihatnya!

Lasmini dan Mandari mempunyai pikiran yang sama pada saat itu. Laki laki ini harus dibunuh karena dialah satu satunya orang yang tadi mendengarkan percakapan mereka sehingga mengetahui rahasia mereka. Ini berbahaya sekali. "Haiiiiittt..!"

Dua orang puteri yang ketika duduk bercakap-cakap tadi tampak cantik jelita dan lemah gemulai, kini tiba-tiba berubah tangkas sekali. Keduanya sudah melompat keluar, bagaikan melayang dan keduanya sudah menyerang laki-laki itu dengan pengerahan tenaga sakti mereka karena mereka memang menyerang untuk membunuh!

Dari tangan-tangan mungil halus itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat, menyerang ke arah tubuh laki-laki yang tiba-tiba muncul itu. Akan tetapi laki-laki muda itu tidak menjadi gentar. Diapun menggerakkan dua tangannya menyambut dan menangkis serangan dua orang puteri itu.

"Wuuuttt... desss..!"

Dua orang puteri itu terkejut bukan main karena tubuh mereka terpental ketika serangan mereka bertemu dengan tolakan pemuda itu. Ternyata laki-laki muda itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat! Kini pemuda itu berdiri tepat di bawah sinar lampu sehingga kedua orang puteri itu dapat melihat wajahnya dengan jelas dan keduanya tertegun.

Pemuda itu masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap, matanya lebar dan tajam mencorong, hidungnya mancung, mulutnya mengandung senyum ejekan dan penampilannya gagah. Akan tetapi mereka sama sekali tidak mengenalnya, maka Lasmini dan Mandari sudah siap untuk menyerang lagi karena orang itu merupakan bahaya besar bagi mereka. Akan tetapi pemuda itu sudah melangkah maju dan mengangkat kedua buah tangannya ke atas seperti hendak mencegah mereka melakukan serangan.

"Perlahan dulu, harap paduka ketahui bahwa hamba bukanlah musuh, melainkan seorang sahabat yang datang hendak membantu agar apa yang paduka berdua rencanakan itu dapat terlaksana dengan baik."

Mendengar ini, dua orang puteri itu saling pandang dan Lasmini yang tertarik oleh ucapan pemuda itu cepat bertanya, "Siapakah andika dan apa maksud ucapanmu tadi?"

"Hamba bernama Linggajaya, murid bapa guru Sang Resi Bajrasakti."

"Sang Resi Bajrasakti, penasihat Kerajaan Wengker? Lalu apa maksudmu datang memasuki taman ini?" tanya Mandari sambil menatap wajah tampan pesolek itu dengan kagum.

Baik Lasmini maupun Mandari memiliki dasar watak mata keranjang, akan tetapi selama ini mereka berdua belum melihat adanya kesempatan untuk menuruti gairah nafsu yang memperbudak mereka. Apa lagi, suami mereka merupakan pria-pria yang tampan gagah, yang cukup memenuhi kehausan mereka yang selalu bergelora.

"Hamba menerima perintah Sang Adipati Adhamapanuda, raja kerajaan Wengker untuk membantu paduka berdua dalam usaha mengacau dan melemahkan kerajaan Kahuripan."

"Ah, baik sekali kalau begitu. Akan tetapi, Linggajaya, kita tidak ada kesempatan untuk berunding karena andika tidak boleh terlalu lama di sini. Kalau sampai terlihat seorang perajurit pengawal yang meronda, bisa celaka!" kata Mandari.

Linggajaya tersenyum. "Harap paduka jangan khawatir, gusti puteri. Tadi hamba memasuki taman juga tidak ada yang dapat melihat hamba. Kalau ada orang datang, hamba dapat mempergunakan Aji Panglimutan dan tidak ada yang dapat melihat kehadiran hamba di sini."

"Hemm, bagaimana kami bisa yakin bahwa andika tidak hanya membual kalau kami tidak melihatnya sendiri?" tiba-tiba Lasmini berkata.

Linggajaya kembali tersenyum, kemudian dia berkata, "Kalau begitu, harap paduka berdua buktikan sendiri sekarang!" Dia telah mengerahkan ajiannya, yaitu Aji Panglirnutan.

Tiba-tiba tampak halimun tebal menyelubungi tubuh pemuda itu dan kedua orang puteri itu pun tidak dapat melihatnya lagi! Mereka berdua merasa kagum sekali dan biarpun mereka memperhatikan dengan pandang mata mereka, tetap saja pemuda itu tidak tampak. Tiba-tiba Lasmini merasa ada tangan mengusap lengannya dengan sentuhan mesra dan ada napas hangat terasa pekat sekali dengan tengkuknya! Tahulah dia bahwa pemuda itu dengan ajiannya yang hebat telah melakukan hal ini kepadanya dan ini hanya mempunyai satu arti, yaitu bahwa pemuda itu tertarik sekali kepadanya seperti juga ia yang tertarik kepada Linggajaya!

Dua orang puteri itu lalu memperlihatkan pula kesaktian mereka. Keduanya bersedakap dan mengerahkan kekuatan batin mereka untuk membuyarkan Aji panglimutan itu dan perlahan-lahan halimun itu pun makin menipis dan tampaklah Linggajaya sudah berdiri di dekat mereka sambil tersenyum manis.

"Hebat paduka berdua memang sakti dan dapat membuyarkan ajian hamba, akan tetapi para perajurit pengawal biasa itu tidak akan mampu melakukan itu karenanya harap paduka jangan khawatir dan harap suka memberi petunjuk, apa yang harus hamba lakukan agar rencana gusti Puteri Mandari tadi dapat dilaksanakan dengan baik."

"Hemm, andika juga sudah mengenal nama kami?" Tanya Lasmini.

Linggajaya memandang kepada Lasmini, tersenyum dan pandang matanya jelas memperlihatkan perasaan hatinya terhadap selir patih ini.

"Tentu saja hamba sudah diberitahu dan mengenal paduka berdua, Gusti Puteri Lasmini yang menjadi garwa Ki Patih Narotama dan Gusti Puteri Mandari yang menjadi garwa Sang Prabu Erlangga. Paduka berdua adalah kakak beradik puteri-puteri Gusti Ratu Kerajaan Parang Siluman yang bertugas untuk menyingkirkan raja dan patih Kahuripan, atau mengadu domba di antara mereka, atau mengusahakan apa saja agar Kerajaan Kahuripan menjadi lemah. Bukankah demikian seperti yang hamba dengar?"

"Benar sekali, Linggajaya. Nah, kalau begitu, dengarlah baik-baik. Aku mempunyai rencana..."

"Hamba tadi sudah mendengar akan kedua rencana paduka itu, gusti puteri. Kalau menurut hamba, hamba dapat bertindak sebagai pedang bermata dua, sekali bergerak mendapatkan dua hasil yang baik."

"Apa maksudmu Linggajaya?" tanya Lasmini dengan tertarik.

"Begini, maksud hamba. Kalau hamba sudah diberitahu tentang tempat, waktu atau saat yang tepat untuk bertindak, hamba dapat membunuh pangeran kecil itu dan sekaligus diusahakan agar yang disangka melakukan perbuatan itu adalah sang puteri dari Sriwijaya! Masuk diakal kalau puteri Sriwijaya itu ingin melenyapkan putera pertama yang akan menjadi putera mahkota itu, bukan? Tentu saja dengan keinginan agar kelak, kalau ia melahirkan seorang putera, puteranya itu yang akan menjadi pangeran mahkota. Dengan demikian, sekali bertindak, mendapatkan dua hasil. Pertama, kematian Pangeran pertama itu tentu akan merupakan pukulan hebat bagi keluarga Sang Prabu Erlangga dan ke dua, kalau Puteri Sriwijaya dituduh melakukan pembunuhan dan ditindak, maka kerukunan antara Kahuripan dan Sriwijaya menjadi rusak."

"Ah, bagus sekali!" Lasmini berseru girang dan ia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata yang mengandung kegairahan. Pemuda seperti inilah yang dapat dijadikan sekutu, juga patut untuk menjadi teman untuk memuaskan gairahnya yang berkobar.

Linggajaya tersenyum dan menyambut pujian Lasmini itu dengan pandang mata yang penuh arti. pandang mata yang merayu dan seolah dengan pandang matanya itu dia membelai tubuh selir Kepatihan itu!

"Sekarang tinggal Gusti Puteri Mandari yang dapat memberi petunjuk kepada hamba tentang cara, tempat dan saat hamba harus bertindak karena tentu saja paduka yang lebih mengetahui keadaan dalam istana ini," kata Linggajaya.

"Aku sudah pikirkan hal itu," kata Mandari dengan suara yang bernada gembira. "Sebaiknya diatur begini." Ia lalu berbisik-bisik lirih sekali sehingga terpaksa Lasmini dan Linggajaya mendekatkan telinga mereka untuk menangkap apa yang dikatakan selir Sang Prabu Erlangga Itu.

Dan tanpa disengaja, ketika mendekatkan telinga, muka Linggajaya berlekatan sekali dengan muka Lasmini sehingga keduanya dapat merasakan tiupan napas masing-masing di pipi mereka. Kembali mereka bertukar pandang yang penuh arti, penuh daya tarik dan sekaligus penuh tantangan!

"Nah, sudah mengerti benarkah andika, Linggajaya?" Tanya Mandari setelah selesai berkasak-kusuk.

Linggajaya mengangguk. "Hamba sudah mengerti, gusti puteri.” Akan tetapi mata pemuda itu mengerling ke arah Lasmini.

"Kalau begitu, aku akan mempersiapkan perlengkapan yang kau butuhkan. Besok malam, datanglah ke sini untuk menerima barang-barang itu."

"Sendiko, gusti puteri. Kalau begitu hamba mohon diri. Sudah terlalu lama hamba di sini."

Kedua orang puteri itu mengangguk dan ketika Linggajaya hendak melangkah pergi, Lasmini memanggilnya lirih, "Linggajaya...!"

0 Response to "Sang Megatantra Jilid 25"

Post a Comment