Pendekar Binal Jilid 43

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
"Sekali ini biar pun kau ingin membunuh diri juga tidak mungkin terjadi."

"O, begitukah?" Siau-hi-ji menegak alis.

Dengan tenang Hoa Bu-koat menjawab, "Dalam jarak sedekat ini, asalkan tangan seseorang bergerak sedikit saja, seketika aku dapat mendahului menutuk delapan belas tempat Hiat-to di kedua lenganmu."

Dia bicara dengan acuh tak acuh seakan-akan sedang mengobrol iseng sesuatu hal yang paling mudah dan sederhana, tapi bagi pendengaran Siau-hi-ji, ia percaya apa yang diucapkan seterunya itu sedikit pun bukan bualan.

Pada saat itulah Thi Sim-lan yang berdiri di luar jendela sana mendadak menggetarkan goloknya yang tipis sehingga menimbulkan suara mendenging. Golok itu ada sepasang, tadi sudah patah satu sehingga masih sisa sebuah.

Mendengar suara senjata itu, biji mata Siau-hi-ji berputar, tiba-tiba timbul sesuatu perasaannya, katanya dengan tertawa, "Tidaklah pantas jika kau membunuhku di sini."

"Di mana pun boleh, tempat bukan soal bagiku," ucap Bu-koat.

"Apakah kau berani membiarkan aku berjalan keluar sendiri?"

"Memangnya kau kira dapat kabur?" jawab Hoa Bu-koat tersenyum.

"Untuk apa kau pikir sejauh itu? Aku hanya tidak suka dipondong keluar olehmu dan ingin berjalan sendiri."

Habis berkata ia lantas melompat turun dari tempat tidur, ia pandang sekejap kepada Kang Piat-ho dan Kang Giok-long. Jika orang lain, bukan mustahil saat ini rahasia kemunafikan ayah beranak itu pasti akan dibongkarnya habis-habisan.

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak mau berbuat demikian, ia tahu cara demikian hanya akan sia-sia dan membuang tenaga belaka. Seumpama dia dapat membikin Hoa Bu-koat percaya Kang Piat-ho adalah manusia paling keji dan munafik di dunia ini, toh Hoa Bu-koat juga tetap akan membunuhnya lebih dulu, dengan demikian ia menjadi lebih sukar lagi untuk lolos. Mana lagi apa yang dikatakannya juga belum tentu dipercaya oleh Hoa Bu-koat.

Begitulah Siau-hi-ji lantas melangkah keluar. Rumah ini adalah bangunan model kuno, ambang jendelanya sangat pendek mirip ambang pintu saja. Maka sekali melangkah saja Siau-hi-ji sudah berada di luar. Ia pandang Thi Sim-lan, nona itu juga sedang memandangnya, matanya yang jeli itu entah betapa banyak mengandung perasaan yang ruwet dan kusut, rasanya siapa pun sukar menelaahnya dengan jelas.

Nona itu masih menggetarkan goloknya yang tipis lentik itu sehingga menerbitkan suara mendenging.

Angin malam meniup sepoi-sepoi dingin. Siau-hi-ji terus melangkah ke depan, sama sekali ia tidak menoleh kepada Hoa Bu-koat, tapi ia yakin pemuda itu pasti berada tidak jauh di belakangnya, ia pikir menoleh juga tiada gunanya.

Begitulah dengan berlenggang bebas ia berjalan lewat di samping Thi Sim-lan.

Sekonyong-konyong sinar golok berkelebat, Liu-yap-to, golok sempit tipis laksana daun pohon Liu yang dipegang Thi Sim-lan itu mendadak membacok ke belakang Siau-hi-ji.

Sudah tentu Siau-hi-ji tahu serangan itu ditujukan kepada Hoa Bu-koat. Biar pun kepandaian Hoa Bu-koat setinggi langit juga mesti menghindar dulu serangan ini. Maklumlah, betapa pun ilmu golok Thi Sim-lan juga tergolong kelas tinggi.

Pada saat sinar golok berkelebat itulah Siau-hi-ji lantas melompat ke depan. Didengarnya Thi Sim-lan berseru, "Tangkap ini...."

Kiranya bacokannya baru mencapai setengah jalan, mendadak arahnya berubah, Liu-yap-to tiba-tiba dilemparkan kepada Siau-hi-ji. Dan bila anak muda itu sampai memegang senjata, maka kisah membunuh diri di Go-bi-san tempo hari itu tentu dapat berulang pula.

Tak tersangka, selagi golok itu melayang di udara, sekonyong-konyong terdengar suara "tring", sisa Liu-yap-to ini secara ajaib mendadak juga patah menjadi dua dan jatuh ke tanah.

Dalam pada itu Hoa Bu-koat tahu-tahu sudah berada pula di belakang Siau-hi-ji, katanya tenang-tenang seperti tidak terjadi apa-apa, "Apakah kau masih hendak berjalan lebih jauh lagi?"

Kalau orang tidak menyaksikan permusuhan mereka dan cuma mendengar ucapan Hoa Bu-koat saja, pasti orang akan menyangka mereka adalah sahabat karib yang akan pergi melancong. Betapa tidak, Hoa Bu-koat tetap ramah tamah, tetap tersenyum simpul, seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu persoalan di antara mereka. Malahan ia pun tidak menoleh, tidak memandang Thi Sim-lan barang sekejap saja.

Ia tahu, bila mana ia memandang Thi Sim-lan, maka nona itu pasti akan malu dan tiada muka lagi buat bertemu dengan dia. Selama hidup Hoa Bu-koat tidak pernah menyinggung perasaan anak perempuan mana pun juga, apa lagi anak perempuan ini ialah Thi Sim-lan.

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh, terpaksa ia berjalan terus ke depan.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia berkata dengan gegetun, "Tampaknya kau sangat baik terhadap anak perempuan."

"Ya, itu sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil," jawab Bu-koat dengan tertawa, "Kebiasaan kan sukar diubah bukan?"

"Tapi kalau anak perempuan bermuka sangat jelek, lalu bagaimana?"

"Asalkan anak perempuan, mukanya baik atau jelek kukira sama saja."

"Haha, aku menjadi ingin mencarikan seorang anak perempuan yang bermuka sangat buruk, ya botak, ya kudisan, ya pesek, ya sumbing, ya pincang, ya... ya... ya burik.... Nah, akan kulihat cara bagaimana kau akan bersikap baik padanya?"

"O, sungguh menyesal, mungkin kau tidak mempunyai kesempatan begitu lagi," kata Hoa Bu-koat.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menghela napas dan berkata pula, "Sungguh fantastis dan sukar dibayangkan bahwa selagi kau hendak membunuh seseorang, tapi tanpa gugup tanpa gelisah kau masih dapat mengajak berkelakar dan mengobrol dengan dia, ini benar-benar sukar dibayangkan."

"Mengobrol dan membunuh adalah...."

"Adalah dua persoalan yang berlainan, begitu bukan maksudmu?

"Betul, aku sendiri ingin mengobrol denganmu, tapi perintah yang kuterima mengharuskan diriku membunuhmu. Makanya kedua soal ini sama sekali berlainan dan tiada sangkut-pautnya satu sama lain."

"Sungguh aku tidak paham, cara bagaimana kau dapat memisahkan persoalan ini?"

"Inilah ajaran yang kuperoleh sejak kecil."

"Ai, kau benar-benar anak yang baik dan penurut."

Hoa Bu-koat tertawa, katanya kemudian, "Kau hendak berjalan pula ke depan?"

"Ya, sebenarnya aku ingin berjalan terus ke depan, bahkan berjalan semakin jauh," jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum getir. "Tapi soalnya kau yang hendak membunuhku dan bukan aku yang ingin membunuhmu, pada hakikatnya kau tidak perlu meminta pendapatku."

"O, jika begitu... jika begitu boleh berhenti saja di sini," kata Hoa Bu-koat dengan perlahan dan rikuh.

Siau-hi-ji memandang sekelilingnya, di bawah cahaya bintang yang kelap-kelip redup tertampak bayangan pegunungan Ku-san yang besar di kejauhan, daun pepohonan yang berdekatan tampak sudah mulai layu dan rontok.... Malam di musim rontok sudah jauh larut....

Siau-hi-ji bergumam, "Sungguh aneh, musim rontok di daerah Kang-lam mengapa begini dini datangnya dan aku Kang Hi, Kang Siau-hi mengapa pula harus mati sedini dan semuda ini...?"

********************

Setelah Hoa Bu-koat bertiga pergi jauh barulah Kang Giok-long melompat bangun.

Kang Piat-ho berbangkit, dengan tertawa ia pandang putranya itu, katanya, "Tak tersangka caramu mencari akal pada saat gawat ternyata jauh lebih pintar daripadaku."

Giok-long menunduk, jawabnya, "Ah, mana anak dapat dibandingkan dengan ayah, anak hanya...."

"Di depan ayahmu sendiri tidak perlu banyak pikir," ucap Kang Piat-ho. "Seumpama kau memang lebih cerdik dan pintar daripadaku juga aku merasa bersyukur, masakah aku sampai berbuat sesuatu yang tidak pantas padamu?"

Giok-long menunduk dan mengiakan.

Kang Piat-ho meraba-raba botol kecil porselen Hoa Bu-koat itu, katanya kemudian sambil berkerut kening, "Siau-cu-hiang dan Soh-li-tan... sungguh tidak nyana bocah she Hoa itu adalah anak murid Ih-hoa-kiong. Munculnya bocah ini di dunia Kangouw membuatku mau tak mau harus hati-hati."

"Meski ilmu silatnya amat tinggi, tapi dia sama sekali tidak paham seluk-beluk orang hidup, kenapa mesti dikhawatirkan?" ujar Giok-long.

"Orang ini tampaknya hijau dan bodoh, tapi sesungguhnya mahapintar, mana kau dapat menjajaki pribadinya yang sesungguhnya?" kata Kang Piat-ho gegetun.

"Nona she Thi itu memang betul rada-rada mirip orang pintar yang tampaknya bodoh seperti ucapan ayah," kata Giok-long dengan tertawa. "Cuma... seperti apa yang dikatakannya tadi, apakah ayahnya benar-benar tidak pernah datang ke sini? Betulkah ayah tidak pernah membunuhnya?"

Kang Piat-ho menjengek, katanya, "Walau pun aku belum pernah melihat Thi Cian si Singa Gila, tapi anak perempuan seperti nona Thi tadi, biasanya apa yang dikatakannya pasti tidak dusta."

"Jika dia tidak berdusta dan membual, sedangkan engkau orang tua juga tidak pernah melihat datangnya si Singa Gila Thi Cian, lalu, bagaimana duduknya perkara sehingga nona Thi itu mencari ayahnya ke tempat kita ini?" kata Giok-long dengan mengernyit dahi.

"Ya, itu berarti bahwa si singa gila Thi Cian pasti pernah meninggalkan jejak di sini, bisa jadi kedatangannya dalam penyamaran, dan karena kelengahanku sehingga tak dapat kukenali dia."

"Tapi... tapi nona itu pun menyatakan bahwa setelah ayahnya datang ke tempat kita ini, lalu... lalu tak pernah lagi pergi dari sini," ujar Kang Giok-long.

"Betul, kukira saat ini dia mungkin masih berada di sini," ucap Kang Piat-ho dengan tenang-tenang saja.

"Masih berada di sini?" Giok-long menegas dengan rada melengak.

Kang Piat-ho mendengus, lalu berdiri, katanya pula dengan dingin, "Kau jangan lupa bahwa yang berada di sini selain kita ayah beranak, kan masih ada lagi satu orang?!"

"Hah, maksud ayah si bisu-tuli itu?" seru Giok-long.

"Bisu-tuli kenapa? Memangnya orang tak dapat berlagak bisu-tuli?"

"Tapi... tapi ayah pernah mencoba dengan merunduk dari belakang dan mendadak membunyikan gembreng besar di tepi telinganya, waktu itu kupandang dari depan dan jelas dia sama sekali tidak mendengar bunyi gembreng yang keras itu, bahkan berkedip saja tidak."

"Orang yang memiliki kekuatan batin, biar pun gunung longsor di depan matanya juga takkan membuatnya gugup, apa lagi mata berkedip?"

Segera Kang Giok-long berkata pula dengan suara tertahan, "Apakah ayah tahu saat ini dia berada di mana? Bisa jadi sudah kabur lebih dulu."

Tapi Kang Piat-ho sengaja membesarkan suaranya, katanya dengan bengis, "Dia menyangka aku takkan mencurigai dia, maka saat ini dia pasti berada di sini. Pokoknya bila sebentar kita pergoki dia, seketika juga kita binasakan dia dan jangan memberi kesempatan padanya untuk bicara. Lebih baik kita salah membunuh seratus orang daripada seorang mata-mata terlolos. Nah, camkan dan ingat baik-baik petuahku ini."

Kalau Kang Giok-long khawatir pembicaraan mereka didengar oleh orang, makanya dia berkata dengan suara tertahan, tak tahunya sang ayah justru sengaja bicara dengan suara keras, tentu saja ia merasa bingung dan heran. Apa bila si kakek memang benar tidak bisu dan tuli, bukankah akan segera kabur bila mendengar ucapannya? Tapi setelah dipikir lagi, segera ia pun paham maksud kehendak sang ayah. Pikirnya, "Bisa jadi ayah sudah tahu kakek bisu tuli itu berada di sekitar sini, maka ayah sengaja bicara keras-keras, jika dia melarikan diri ketakutan, ini akan lebih terbukti bahwa dia memang betul si Singa Gila Thi Cian, tatkala mana belum lagi terlambat untuk mengejarnya."

Dalam pada itu Kang Piat-ho lantas melangkah ke sana, "blang", mendadak ia menolak daun pintu sekeras-kerasnya.

Di luar sana adalah serambi yang panjang, pada ujung serambi sana ada sebuah rumah kecil, di dalam rumah sana tampak cahaya api, yaitu api tungku yang sedang berkobar, si kakek bisu-tuli itu tampak berjongkok di tepi tungku lagi masak air.

Tanpa bergerak sedikit pun kakek itu berjongkok di situ, tenang dan tenteram dia menantikan mendidihnya air yang dimasaknya.

Selama hidupnya dia sudah biasa "menunggu" dan entah sudah berapa lama dia akan "menunggu" lagi? Terhadap soal "menunggu" sudah tentu dia jauh lebih paham dan lebih bersabar daripada orang muda. Walau pun ia menyadari bahwa manusia yang sebaya dengan usianya sekarang, selain "mati" kiranya tiada sesuatu lagi yang perlu ditunggu dan tentu juga tiada sesuatu yang dapat diharapkan pula.

Dalam pada itu Kang Piat-ho sudah berada tidak jauh di belakang kakek loyo itu, mendadak ia membentak dengan bengis, "Bagus, mirip benar penyamaranmu, tapi betapa pun juga akhirnya toh konangan, sekarang serahkan jiwamu padaku!"

Habis berkata, secepat kilat ia melompat maju, telapak tangannya terus menghantam batok kepala kakek itu.

Tapi seperti tidak tahu apa-apa, kakek itu hanya menengadah saja dan tersenyum kepada sang majikan sambil menuding cerek air yang sedang dimasaknya, sikapnya seakan-akan hendak berkata, "Air sudah mendidih, segera akan kuseduhkan teh bagimu."

Telapak tangan Kang Piat-ho yang menghantam itu akhirnya jatuh perlahan di atas pundak si kakek. Betapa pun ia menjadi ragu-ragu pada detik terakhir. Apa bila si kakek dapat mendengar sepatah katanya saja, mustahil sikap dan senyumnya dapat begitu tenang dan wajar.

Sudah tentu Kang Piat-ho tidak tahu bahwa ada sementara orang terkadang memang dapat tersenyum dengan tenang dan wajar sekali pun menghadapi maut yang akan merenggut jiwanya.

Orang demikian memang jarang-jarang ada, satu di antaranya misalnya Siau-hi-ji.....

********************

Bintang berkelip-kelip dengan cahayanya yang suram menyinari wajah Hoa Bu-koat, wajah yang putih bersih tanpa cacat.

Sang pangeran yang didambakan setiap gadis di dunia ini mesti beginilah bentuknya. Hoa Bu-koat, model pemuda yang paling sempurna di kolong langit ini.

Sambil memandangi seterunya itu, tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa dan berkata, "Tahukah bahwa namamu 'Bu-koat' sungguh sangat bagus dan tepat, memang betul kau tiada sesuatu kekurangan, tiada cacat... kau berasal dari tempat yang diagungkan dunia persilatan, yang namanya paling termasyhur dan disegani. Kau muda dan cakap, segala keperluanmu serba kecukupan, tidak pernah khawatir kekurangan uang. Ilmu silatmu dapat membuat setiap orang Kangouw tunduk dan menghormat padamu. Kecakapanmu, tutur katamu dan sikapmu yang menarik dapat pula membuat setiap gadis di dunia ini tergila-gila padamu. Namun juga suci bersih tanpa cela, bahkan di belakangmu juga orang lain tiada alasan buat menista dirimu."

Siau-hi-ji menggeleng-geleng, lalu menambahkan dengan tertawa, "Jika di dunia ini ada manusia yang sempurna tanpa cacat, maka orang itu ialah dirimu."

"Terima kasih banyak-banyak atas pujianmu," ucap Hoa Bu-koat dengan tersenyum.

"Akan tetapi sekarang tiba-tiba kutemukan sesuatu, sesuatu atas dirimu, bahwa kau ternyata juga ada sesuatu kekurangan," sambung Siau-hi-ji dengan perlahan.

"O, apa itu?" tanya Hoa Bu-koat, seperti acuh tak acuh.

"Perasaan!" jawab Siau-hi-ji. "Kekuranganmu adalah perasaan, ya, perasaan. Dari ubun-ubun sampai ujung jari kakimu sudah kulihat bahwa kekuranganmu hanyalah perasaan, kau ini manusia sempurna yang minus perasaan. Darah yang mengalir di tubuhmu mungkin adalah darah dingin."

"O, begitukah?" Hoa Bu-koat hanya tersenyum hambar saja.

"Tentunya kau tidak dapat menerima tuduhanku ini, bukan?" tanya Siau-hi-ji. "Baik, coba jawab, apakah kau benar-benar paham artinya cinta? Tahukah apa itu benci atau dendam? Pernahkah kau rasakan bagaimana rasanya cinta dan bagaimana rasanya benci?"

Ia melangkah terus ke depan sambil menyambung pula, "Kuyakin, bahkan kekesalan dan kerisauan juga tak pernah kau rasakan. Umpamanya sakit, ketuaan, masygul, kemiskinan, kecewa, berduka, malu, gusar... semua ini adalah penderitaan yang tak dapat dihindari oleh manusia umumnya, akan tetapi, kau tidak kenal semua itu, tiada satu pun yang pernah kau rasakan, semua itu tiada terdapat dalam kamus hidupmu.... Coba, seorang yang sama sekali tidak kenal apa artinya siksa derita, cara bagaimana pula dapat mengetahui betapa rasanya bahagia?"

Setelah menghela napas, perlahan-lahan Siau-hi-ji menyambung lagi, "Kalau toh kau tidak pernah mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh dan juga tidak pernah membenci atau dendam pada seseorang, kau tidak memiliki kesukaran, tidak tahu penderitaan dan juga tidak paham kebahagiaan... orang lain mungkin akan kagum padamu, tapi aku justru berpendapat manusia hidup seperti dirimu ini pada hakikatnya tidak ada artinya."

Hoa Bu-koat termenung sejenak, sikapnya masih tetap tenang-tenang saja tanpa memperlihatkan sesuatu perubahan perasaan, dia cuma tersenyum hambar saja, katanya kemudian, "Mungkin apa yang kau katakan ini memang betul, bisa jadi pengaruh lingkungan yang membuat diriku menjadi begini."

"Betul," ucap Siau-hi-ji dengan tersenyum getir, "Hanya Ih-hoa-kiong saja yang dapat menciptakan manusia seperti dirimu dan menjadikanmu manusia patung, patung hidup. Meski kau senantiasa ramah tamah dan sopan santun terhadap siapa pun juga, tapi dalam hati pasti tidak pernah menganggap mereka pantas dihormati, biar pun kau selalu bersikap halus kepada setiap anak perempuan, tapi kau pun pasti tidak benar-benar menyukai mereka."

Lalu ia menghela napas panjang, kemudian melanjutkan, "Seumpama kau hendak membunuh orang, dalam hatimu juga belum pasti menganggap orang itu memang harus dibunuh."

"Ya, semua ini memang harus disesalkan," ujar Hoa Bu-koat.

"Baiklah, ucapanku sudah habis, silakan mulai turun tangan saja," kata Siau-hi-ji akhirnya sambil menengadah dan tertawa. "Aku pun ingin tahu sesungguhnya kau dapat membunuhku dalam berapa jurus serangan."

"Apakah kau ingin memakai senjata?" tanya Bu-koat.

"Aku tidak membawa senjata," jawab Siau-hi-ji.

"Jika kau ingin memakai senjata dapat kutemani kau pergi ke tempat yang terdapat senjata dan nanti boleh kau pilih sesukamu," kata Bu-koat.

"Sudah terang kau tahu sekali-kali aku bukan tandinganmu sekali pun aku memakai senjata, sudah jelas kau hendak membunuhku, tapi sikapmu masih begini halus dan begini sopan padaku," ujar Siau-hi-ji tersenyum getir "Jika dilihat orang lain, tentu kau dianggap keji dan culas. Akan tetapi aku cukup kenal dirimu, aku tahu pasti engkau bukan manusia yang demikian itu, sebab pada hakikatnya kau tidak kenal apa artinya pura-pura, apa artinya munafik, sebab kau memang tidak perlu munafik dan apa lagi berpura-pura."

"Sesungguhnya kau sangat memahami diriku," ucap Bu-koat.

"Makanya mungkin sangat sulit jika kau ingin mencari lagi seorang yang dapat memahami dirimu seperti aku ini," kata Siau-hi-ji.

"Ya, memang betul," tukas Bu-koat dengan gegetun.

Siau-hi-ji mengusap bibirnya yang terasa kering itu, katanya pula, "Rasanya aku tidak perlu menggunakan senjata, silakan saja kau turun tangan sekarang."

Hoa Bu-koat menengadah memandang angkasa raya yang kelam itu, angin musim rontok meniup berdesir membawa daun kering yang rontok, cahaya bintang semakin redup, jagat raya ini serasa diliputi kesunyian yang mencekam. Dengan rasa hampa ia bergumam, "Hawa begini...."

"Hawa begini memang sangat cocok untuk membunuh orang," tukas Siau-hi-ji.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara Thi Sim-lan menyambung, "Hawa begini sungguh membuatku menggigil kedinginan...." tahu-tahu nona itu telah muncul di antara mereka dalam keadaan luar biasa... dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelai benang pun di tubuhnya.

Cahaya bintang yang redup itu dengan halus menyinari sekujur badan Thi Sim-lan.

Tubuh yang putih bersih mulus itu tampaknya seperti ukiran gading karya ahli pahat yang tiada taranya.

Rasanya di dunia ini sukar dicari tubuh gadis telanjang yang semulus, seindah dan secemerlang ini, sungguh membuat orang sesak napas melihat tubuh yang mulus ini.

Seketika napas Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat juga seakan-akan berhenti. Dengan terputus-putus Hoa Bu-koat berkata, "Kau... kenapa kau...."

Thi Sim-lan berpaling menghadapi Hoa Bu-koat, katanya dengan hampa, "Bagus tidak tubuhku ini?" Dada yang montok itu tampak bergerak naik turun, di bawah cahaya bintang yang redup itu tampaknya sedemikian menggiurkan, mustahil laki-laki di dunia ini takkan menelan air liur bila melihat tubuh yang mulus begitu.

Tanpa terasa Hoa Bu-koat memejamkan matanya, katanya dengan gemetar, "Kau... kau...."

Mendadak Thi Sim-lan menubruk maju dan merangkul Hoa Bu-koat erat-erat. Seketika anak muda itu merasakan sesosok tubuh yang halus licin dan dingin memeluknya, jantungnya berdebar-debar hebat sehingga tangan pun terasa gemetar dan lemas.

Selama hidup Hoa Bu-koat belum pernah timbul perasaan membara begini, seakan-akan pingsan rasanya dia, jantung seperti mau meledak dan... hakikatnya dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

"Orang mampus... ken... kenapa kau masih berdiri di situ?" omel Thi Sim-lan dengan suara gemetar, ucapannya itu tertuju kepada Siau-hi-ji.

Ternyata Siau-hi-ji juga berdiri mematung di tempatnya dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

"Aku... aku bertindak begini dan kau... kau malah tidak mau lekas pergi?" jerit Thi Sim-lan dengan suara serak.

Tiba-tiba air mata menetes dari mata Siau-hi-ji.

Untuk pertama kalinya selama hidup Siau-hi-ji mencucurkan air mata, ia pun tidak tahu air mata ini air mata terharu, air mata berterima kasih atau air mata berdukacita atau air mata murka atau air mata malu diri?

Pada hakikatnya tangan Hoa Bu-koat tidak berani bergerak, apa lagi untuk menyentuh tubuh Thi Sim-lan, karena itu, dengan sendirinya ia tak dapat meronta dan melepaskan diri dari rangkulan si nona. Dahinya sudah berkeringat dan mata masih terpejam, ia hanya dapat berseru berulang-ulang, "Lepaskan... lepaskan...."

Air mata pun tampak membasahi wajah Thi Sim-lan, dilihatnya Siau-hi-ji masih tetap mematung di situ, dengan dongkol ia berteriak pula, "Jika... jika kau tidak mau pergi, biar kumati di... di hadapanmu saja!"

"Aku... aku...." sungguh Siau-hi-ji tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Akhirnya dia memandang Thi Sim-lan sekejap, pandangan yang paling berarti... tubuh yang suci bersih dan mulus ini dengan air mata yang membasahi wajah yang cantik itu, semua ini pasti akan tetap terukir di dalam sanubarinya dan takkan dilupakannya selama hidup.

Mendadak Siau-hi-ji meraung keras-keras satu kali, seperti orang gila ia terus membalik tubuh dan berlari pergi laksana orang kesurupan…..

********************

Bintang-bintang di langit semakin jarang-jarang, jagat raya ini semakin sunyi.

Seperti seekor binatang yang terluka Siau-hi-ji berlari-lari terus tanpa arah tujuan, sampai sekian lamanya ia lari di tengah malam senyap di ladang belukar, dia tidak tahu sudah berapa jauh berlari-lari dan entah sudah berlari sampai di mana?

Ia tidak menangis lagi, air matanya sudah kering, hatinya kusut, sekusut rambutnya. Selama hidupnya tak pernah dia menderita seperti sekarang ini, belum pernah bingung dan risau seperti ini.

Tertampak petak-petak sawah membentang luas, tanaman padi sudah membutir, batang padi bergoyang-goyang tertiup angin malam laksana gelombang samudera raya.

Tanpa pikir Siau-hi-ji berlari dan menyusup ke tengah-tengah sepetak sawah, di bawah cahaya bintang yang remang-remang ia terus merebahkan diri.

Air lumpur membenam sebagian tubuhnya, sinar bintang yang berkedip-kedip itu tampaknya semakin jauh dipandang dari rumpun batang padi yang lebat, tampaknya semakin kabur dan sukar diraba.

Ia menggigit bibir sendiri, bibir sudah pecah-pecah tergigit, tapi sama sekali tak terasa olehnya, maklumlah, derita batinnya jauh lebih sakit daripada sakit lahiriahnya, berpuluh kali lebih menderita.

Ia coba bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, "Apakah aku dapat dianggap sebagai manusia?"

Kuanggap diriku manusia super, siapa pun tak dapat membandingi diriku, kupandang rendah orang lain, tapi bila mana orang hendak membunuhku, nyatanya sedikit pun aku tak berdaya, tak mampu melawan.

Kupandang rendah perempuan, lebih-lebih Thi Sim-lan, lantaran kutahu dia mencintai diriku, makanya aku sengaja menggoda dia, menyiksa dia, sedapatnya aku berusaha membuatnya menderita, melukai hatinya. Tapi akhirnya, akhirnya aku harus menerima pengorbanannya untuk menyelamatkan diriku!

Selamanya kuanggap diriku ini manusia mahapintar, manusia paling cerdik di dunia ini, tapi sekarang aku seperti seekor anjing budukan yang diusir dan dikejar orang, aku lari seperti anjing mencawat ekor.

Biar pun sekali ini aku dapat kabur dengan selamat, tapi selama hidupku masakah harus berlari-lari seperti ini? Apakah selama hidupku ini harus selalu memohon pertolongan orang untuk menyelamatkan jiwaku?

Memang betul, tipu akal Hoa Bu-koat tidak selihai aku, tapi orang seperti dia itu buat apa mesti memakai tipu akal? Soalnya dia memiliki kepandaian sejati, kepandaian asli.

Sedangkan aku...?. Aku hanya mengandalkan nasib belaka... seseorang kalau cuma pintar saja tanpa memiliki kepandaian sejati, lalu apa gunanya?

"Selalu kuanggap tokoh-tokoh di Ok-jin-kok itu sama takut padaku, makanya aku menjadi sok, kuangggap diriku ini mahahebat, tak tahunya bahwa sebabnya mereka itu takut padaku hanyalah serupa ayah-ibu yang memanjakan anaknya yang binal, kalau benar-benar bergebrak, memangnya aku dapat mengalahkan To Kiau-kiau? Atau Toh Sat, atau...."

Begitulah Siau-hi-ji berbaring di tengah sawah dan merenungkan kepribadiannya, ia pikir dan menimbang bolak-balik.

Tanpa terasa fajar sudah menyingsing, sang surya sudah mengintip di ufuk timur, tidak jauh di persawahan itu sudah terdengar suara gonggong anjing dan suara orang.

Tapi Siau-hi-ji masih saja berbaring di situ tanpa bergerak, matanya masih terpentang lebar walau pun semalam suntuk dia tak tidur.

Pagi berganti siang dan siang berganti malam, hari sudah gelap pula, angin yang mendesir sayup-sayup itu membawa bau sedap kukus nasi.

Akhirnya Siau-hi-ji merangkak bangun, tubuhnya penuh berlumuran lumpur, mukanya juga berlepot lumpur kotor, tapi ia tak peduli, ia terus melangkah ke depan menyusuri pematang sawah.

Dari kejauhan dilihatnya di depan sana ada kelip bintik-bintik cahaya api, agaknya di depan sana adalah sebuah kota.

Benar juga, memang sebuah kota, kota yang kecil, walau pun sudah malam, tapi jalan kota masih cukup ramai, terdengar suara tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu, ada lampu berkerudung kertas merah yang menyinari tengah kalangan.

Rupanya ada sebuah rombongan pemain akrobat yang sedang mengadakan pertunjukan, pada umumnya rombongan pemain akrobat begini adalah kaum pengembara yang terdapat di mana-mana.

Dalam keadaan limbung Siau-hi-ji terus menerobos ke tengah-tengah kerumunan penonton. Melihat keadaannya yang kotor penuh lumpur itu, tentu saja para penonton yang dijubel oleh Siau-hi-ji sama mengumpat, tapi mau tak mau juga sama menyingkir memberi jalan.

Siau-hi-ji langsung maju ke bagian paling depan, di situlah dia berjongkok menyaksikan permainan akrobat. Dilihatnya seorang anak perempuan berbaju merah dengan rambut berkepang menjadi dua kuncir kecil sedang main berjalan di atas tali. Anak perempuan ini bermata besar dan berwajah lumayan.

Selain anak perempuan yang sedang main berjalan di atas tali itu, ada pula beberapa orang lagi tua dan muda yang sedang main senjata, ada pula yang sedang berjumpalitan, sebagian lagi sibuk menabuh dan memukul bereng-bereng atau bende.

Siau-hi-ji hanya berjongkok saja di situ, pada hakikatnya ia tidak tahu pertunjukan apa yang sedang berlangsung di depannya, dia hanya merasa hampa, merasa sunyi dan ingin melihat wajah orang yang mengulum senyum.

Entah sudah berapa lama ia berjongkok di situ, samar-samar ia merasa ada orang bersorak-sorai, ada orang berkeplok dan berjingkrak, ada pula suara gemerencingnya mata uang yang dilemparkan orang ke tengah kalangan.

Kemudian kerumunan penonton pun bubar, rombongan pemain akrobat itu pun sibuk berbenah dan mengukuti alat perabotnya. Si gadis cilik berbaju merah yang main tali tadi tidak bekerja seperti lain-lainnya, bagai seorang tuan saja ia duduk di samping sana dan sedang minum.....
*** ***
Note 20 oktober 2020
Serial Pendekar Harum telah selesai diupload dari seri pertama sampai cerita terakhir terakhir yaitu seri kedelapan, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Pendekar Harum
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 43"

Post a Comment

close