Pendekar Binal Jilid 38

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
"Juga tidak perlu harus," ujar Ok-tu-kui dengan tertawa, "kalau kau tidak ingin rukun lagi dengan dia boleh kutebas saja lengannya."

Keruan muka Kang Giok-long pucat seketika.

Syukur Siau-hi-ji lantas menanggapi dengan tertawa, "Walau pun tangannya ditebas, tapi mainan setan ini tetap melengket di tanganku. Maka lebih baik biarkan dia tetap mendampingi aku, bila iseng sedikitnya ada teman ngobrol."

Han-wan Sam-kong menatap tajam wajah Kang Giok-long, katanya kemudian, "Bila kau tidak mau tebas tangannya sekarang, kelak mungkin sekali tanganmu yang akan ditebas olehnya."

"Jangan khawatir, dia belum lagi mempunyai kemampuan sebesar itu," ujar Siau-hi-ji.

"Ehm, kau setan cilik ini sangat menarik, sebenarnya aku ingin berkumpul dan omong-omong denganmu, cuma bocah di sampingmu ini bermuka memuakkan, aku menjadi bosan...." ia tepuk-tepuk bahu Siau-hi-ji, mendadak ia sudah berada di luar pintu dan menyambung pula, "Kelak bila kau sudah berada sendirian tentu akan kucari kau untuk minum bersama sepuas-puasnya."

Waktu Siau-hi-ji memburu keluar, namun bayangan Ok-tu-kui sudah tak tertampak lagi.

Waktu itu sang surya sudah hampir terbenam, cahaya senja menghiasi alam pegunungan yang indah itu, Siau-hi-ji jadi teringat kepada istana di bawah tanah yang megah itu, rasanya habis bermimpi saja.

Jalan ke kaki gunung dari kelenteng ini tidak terlalu jauh, setiba mereka di bawah cuaca belum lagi gelap. Tertampak titik-titik cahaya lampu di kota kejauhan sana.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya dengan tertawa, "Sungguh tak tersangka aku masih dapat turun gunung dengan badan utuh, agaknya Thian memang sangat sayang padaku."

Sejak tadi Kang Giok-long enggan bicara, kini tiba-tiba bertanya, "Entah Toako hendak pergi ke mana sekarang?"

"Ke mana kupergi kau harus ikut," jawab Siau-hi-ji.

"Sudah tentu Siaute menurut saja."

"Sebenarnya aku pun tidak ada tempat tujuan, kita berjalan-jalan ke mana saja."

"Jika berjalan-jalan ke mana pun boleh, marilah kita pergi ke Bu-han dulu, di sana Siaute ada sahabat yang mempunyai pedang pusaka, dapat memotong besi seperti menabas tebu...." sampai di sini dia tidak melanjutkan melainkan cuma tersenyum saja.

"Benar juga," segera Siau-hi-ji berseru, "Baiklah mari berangkat mencari sahabatmu itu." Setelah melangkah berapa tindak, mendadak ia berhenti dan berkata pula, "Apakah kau bawa uang? Betapa pun kita harus pergi ke kota untuk membeli pakaian... kita pun harus membeli sepotong baju untuk menutupi tangan kita ini, kalau tidak mustahil kita takkan disangka pelarian dari bui."

"Ai, coba kalau Toako membiarkan kuambil sepotong dua benda mestika di sana, tentu sekarang kita tidak perlu khawatir kekurangan apa-apa lagi," ucap Kang Giok-long dengan gegetun.

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya kemudian dengan tertawa, "Jika kau pun rudin, terpaksa kita harus menipu."

Baru saja habis perkataannya, tiba-tiba dari depan datang seorang dengan membawa lentera berkerudung, tangan yang lain mengepit satu bungkusan besar.

Cepat Siau-hi-ji menjawil Kang Giok-long dan siap beraksi. Di luar dugaan, begitu melihat mereka berdua, mendadak orang itu menaruh bungkusannya serta memberi hormat dari kejauhan, habis itu, tanpa bicara apa pun dia terus membalik dan pergi.

Isi bungkusan itu ternyata empat perangkat baju baru gres, bahkan persis dengan ukuran badan Siau-hi-ji dan Kang Giok-long, seakan-akan sengaja dipesan dari tukang jahit. Maka kedua anak muda itu jadi melongo heran.

"An... antaran dari siapakah ini?"

"Kita baru saja turun gunung, siapakah gerangannya yang tahu akan kedatangan kita?"

Begitulah meski mereka berusaha mengingat-ingat, tetap tidak tahu siapakah yang sengaja mengantarkan baju baru ini. Tapi juga kebetulan, segera mereka ganti pakaian.

Sementara itu hari sudah gelap, setiap rumah telah menyalakan lampu. Mereka menutupi tangan yang terbelenggu dengan sepotong baju, lalu dengan lagak sahabat karib yang bergandengan tangan dengan mesra mereka masuk kota seperti kaum pelancongan.

Perut mereka terasa lapar dan berkeruyukan terus-menerus. Kata Siau-hi-ji, "Orang itu mengantarkan baju, mengapa dia tidak antar uang sekalian."

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki berdandan seperti pelayan menyongsong kedatangan mereka sambil menyapa, "Apakah kedua tuan ini Kang-siauya? Barusan ada seorang tuan tamu menitipkan lima ratus tahil perak pada kasir dan suruh hamba menyerahkan kepada tuan-tuan. Selain itu tuan-tuan juga telah dipesankan kamar dan daharan."

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long saling pandang dengan melongo.

"Siapakah she dan nama tuan tamu itu?" tanya Giok-long.

"Hamba tidak tahu," jawab pelayan itu.

"Bagaimana bentuknya?" tanya Giok-long pula.

"Setiap hari tamu yang pergi datang di tempat kami tidaklah sedikit, maka bagaimana bentuk tuan tamu itu juga tak teringat lagi," berulang-ulang pelayan itu memberi hormat dan mengiring tawa, tapi setiap pertanyaan Kang Giok-long selalu dijawab tidak tahu.

Setelah masuk ke hotel merangkap restoran yang sudah disediakan, betul juga daharan juga sudah siap, tampaknya cukup komplet.

"Orang itu seperti cacing pita dalam perut kita, apa yang kita inginkan seakan-akan sudah diketahuinya," ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Walau pun lahirnya dia bicara bergembira, tapi di dalam hati rada khawatir juga. Lebih-lebih bila teringat pada pengalamannya ketika dalam perjalanan bersama si kambing dan si sapi dahulu, apa yang terjadi pada waktu itu hampir mirip dengan keadaan sekarang. Padahal dirinya sekarang baru saja turun gunung, dari mana orang sudah tahu akan kedatangannya? Tampaknya orang ini memberi pelayanan dengan hormat, entah apa maksud tujuannya di balik perbuatannya ini? Kalau dia memang bermaksud baik, kenapa dia tidak memperlihatkan diri saja?

Di samping lain Kang Giok-long juga sedang berpikir, jelas diam-diam ia pun curiga. Cuma cara berpikir kedua orang sangat cermat meski usia mereka masih belia, maka keduanya sama-sama tidak mau mengutarakan isi hati masing-masing.

Malamnya, mau tak mau mereka harus tidur sekamar, bahkan satu tempat tidur.

"Apakah kau tahu apa yang kupikirkan saat ini?" tanya Siau-hi-ji sambil menguap.

"Barangkali Toako ingin membaca," ucap Kang Giok-long dengan tertawa.

"Haha, tampaknya kau memang sahabat sepahamku," kata Siau-hi-ji dengan bergelak.

Baru saja habis ucapannya, dengan cepat Kang Giok-long telah mengeluarkan kitab pusaka ilmu silat yang direbutnya kembali dari Siau Mi-mi itu.Kalau Siau-hi-ji ingin membacanya, jelas ia sendiri pun kepingin membacanya.

Apa yang termuat dalam kitab itu dengan sendirinya adalah teori ilmu silat yang paling tinggi. Kedua orang seperti tidak dapat memahami isi kitab itu, berulang-ulang mereka menggeleng dan menghela napas gegetun, tapi mata mereka pun melotot sebesar gundu seakan-akan seluruh kitab itu ingin ditelannya bulat-bulat.

Sesudah sekian lamanya membaca, Siau-hi-ji menguap pula, katanya dengan tertawa, "Kitab ini sukar untuk dipahami, aku jadi mengantuk dan ingin tidur, bagaimana kau?"

Giok-long juga menguap, jawabnya dengan tertawa, "Ya, Siaute juga sudah mengantuk."

Kedua orang lantas berbaring, tapi sudah lebih dari satu jam, mata mereka masih terbelalak lebar, entah apa yang dipikirkan. Jika mereka dituduh sedang merenungkan ilmu silat yang baru saja mereka baca dari kitab pusaka itu, mati pun pasti mereka akan menyangkal.

Malam kedua, baru habis makan, dengan tertawa Siau-hi-ji lantas bergumam, "Biar pun sukar dipahami, dari pada iseng, lebih baik membaca saja."

Segera Kang Giok-long menanggapi, "Kalau mata sudah sepat membaca jadinya akan lebih mudah terpulas. Membaca buku yang menarik malahan sukar tertidur."

"Betul, membaca memudahkan tidur, tidur dini bangun pagi, inilah rahasianya ilmu kesehatan," ucap Siau-hi-ji sambil tepuk tangan.

Padahal kedua orang sama-sama tahu pihak lawan tidak mungkin percaya padanya, namun mereka justru berlagak sungguh-sungguh. Maklum, tindak-tanduk anak muda seperti mereka ini terkadang membingungkan orang. Lebih-lebih Siau-hi-ji, ia merasa apa yang dialaminya ini sungguh menarik dan merangsang. Memang, seorang kalau setiap saat harus selalu waswas, baik waktu makan, berak dan tidur, senantiasa harus waspada akan kemungkinan ditipu atau dicelakai orang, maka kehidupannya ini senantiasa akan berlangsung dengan tegang dan tentu juga sangat merangsang.

Begitulah kedua anak muda itu terus mengadu kepintaran secara diam-diam. Tanpa terasa tiga hari sudah mereka lalui dalam perjalanan. Selama tiga hari ternyata tidak terjadi apa-apa, tetap aman sentosa.

Selama tiga hari itu setiap detik Siau-hi-ji merasakan ada seseorang yang menguntitnya, firasatnya itu sama halnya anak kecil berjalan di waktu malam dan merasa dikintil setan, bila menoleh, di belakang ternyata tiada sesuatu apa pun.

Sungguh Siau-hi-ji tidak dapat-mereka siapakah gerangannya dan lebih tidak habis mengerti apa maksud tujuan orang itu. Yang jelas bila mana ia menginginkan sesuatu, maka segera orang mengantarkan kebutuhannya itu. Ia merasa orang ini seperti ingin mohon bantuannya, maka lebih dulu mesti menjilatnya. Tapi urusan apakah yang diharapkan bantuannya, tetap sukar diterka.

Mereka menuju ke selatan menyusuri sungai Bin, suatu hari sampailah mereka di Sikciu. Daerah tengah propinsi Sujwan memang subur, rakyat hidup makmur hingga suasana menjadi berbeda dengan daerah barat-laut yang tandus dan miskin.

Memandangi arus sungai yang bergulung-gulung itu, Siau-hi-ji sangat gembira, katanya dengan tertawa, "Bagaimana kalau perjalanan ini kita sambung dengan naik kapal?"

"Bagus, bagus sekali, memangnya Siaute juga ingin naik kapal," jawab Giok-long.

Tiba-tiba terlihat sebuah perahu besar meluncur datang, belum lagi mereka berseru memanggil, tukang perahu yang bermantel ijuk dan bercaping bambu telah menyapa lebih dulu, "Apakah tuan-tuan ini Kang-siauya? Tadi ada seorang tamu telah memborongkan perahu ini bagi kalian."

Siau-hi-ji memandang Kang Giok-long sekejap, gumamnya, "Orang ini benar-benar seperti cacing di dalam perutku."

Tanpa tanya lagi siapa yang memborongkan perahu itu, sebab ia tahu biar pun ditanya juga takkan mendapat keterangan apa-apa, maka segera mereka naik perahu itu.

Kabin perahu itu cukup luas dan bersih, ada kamar dengan jendela, terbuka dan meja yang bersih. Selain tukang perahu yang sudah tua itu ada pula seorang nona cilik berusia lima belas sampai enam belas tahun, rambutnya hitam dan mukanya bulat telur, lirikan yang genit dan menggiurkan, berulang-ulang gadis cilik itu melirik Siau-hi-ji, namun anak muda itu kurang minat menggubrisnya. Maklum, bila ketemu perempuan Siau-hi-ji lantas kepala pusing.

Malamnya, dengan bisik-bisik Kang Giok-long berseloroh, "Tampaknya nona Su itu penujui Toako."

Siau-hi-ji menguap ngantuk, jawabnya kemalas-malasan, "Kau lebih cakap daripadaku, yang benar dia penujui kau. Cuma sayang mau tak mau kau harus mendampingi aku, kalau tidak Siau-sik-kui macam kau ini dapat beraksi dengan bebas."

Muka Giok-long menjadi merah, jawabnya, "Ah, Siaute tidak... tidak berniat demikian."

"Sudahlah, kalau kau tidak berniat demikian buat apa menyinggung dia dan dari mana pula kau tahu dia she Su?"

"O, secara kebetulan saja Siaute mendengarnya," ucap Kang Giok-long dengan kikuk.

"Hah, kenapa malu, menyukai anak perempuan bukan hal yang memalukan?" ujar Siau-hi-ji dengan tertawa. Segera ia tarik bantal dan bermaksud akan tidur.

"Engkau tidak ingin membaca lagi, Toako?"

"Malam ini rasanya aku dapat pulas dengan cepat dan tidak ingin membaca, kau bagaimana?"

"Toako tidak membaca, dengan sendirinya Siaute juga tidak," cepat Kang Giok-long menjawab dengan tertawa.

Mereka lantas berbaring berjajar di kolong perahu itu, dengan mata terbelalak Kang Giok-long mengawasi Siau-hi-ji, entah selang berapa lamanya terdengar Siau-hi-ji mulai mengorok, jelas sudah tertidur.

Perlahan-lahan Giok-long merogoh keluar kitab pusaka ilmu silat itu, dengan hati-hati sekali ia membuka halaman kitab, baru saja ia hendak membaca mendadak Siau-hi-ji membalik tubuh dan entah sengaja atau tidak, sebelah tangannya tepat menindih di atas kitab yang dipegang Kang Giok-long, sebelah kakinya bahkan menumpuk di atas perutnya.

Keruan Kang Giok-long sangat mendongkol dan geregetan, tapi juga tidak berani membangunkan Siau-hi-ji, terpaksa ia menunggu dan berharap selekasnya Siau-hi-ji membalik tubuh pula dan mengangkat tangannya.

Siapa duga, tidur Siau-hi-ji kali ini benar-benar nyenyak seperti babi mati saja, sedikit pun tidak bergerak lagi.

Gusar Kang Giok-long sungguh tak terkatakan, sorot matanya menjadi beringas, mendadak ia meraba keluar sebuah parang dari bawah dipan terus membacok kepala Siau-hi-ji.

Akan tetapi pada saat itu juga tiba-tiba terdengar suara mendesing dua kali, "tring", dua biji teratai kering menyambar masuk dari jendela kabin, satu biji teratai mengenai parang, satu lagi mengenai pergelangan tangan Kang Giok-long, baik tenaga maupun jitunya ternyata mirip berasal dari sambitan ahli senjata rahasia.

Karena tangannya tersambit miring ke samping, terpaksa Kang Giok-long mengertak gigi menahan rasa sakit sehingga parang tidak sampai terjatuh, namun tidak urung keringat dingin lantas merembes juga di dahinya.

Tiba-tiba Siau-hi-ji seperti setengah mendusin dan seperti mengigau, "Ada apa? Siapa yang menabuh genta?"

Cepat Giok-long menyembunyikan parangnya dan menjawab "O, ti... tidak ada apa-apa."

Untung Siau-hi-ji tidak tanya lebih lanjut melainkan terus mengorok lagi lebih keras. Akan tetapi Giok-long menjadi waswas dan tak dapat tidur.

Siapakah gerangan yang menyambitkan kedua biji teratai itu? Masa di atas perahu ini terdapat ahli senjata rahasia selihai ini?

Jangan-jangan si kakek tukang perahu yang tampaknya sudah loyo itu adalah orang kosen dunia persilatan yang mengasingkan diri? Apakah nona cilik yang suka melirik genit itu juga seorang ahli dan dapat menggunakan dua biji teratai sebagai senjata rahasia?

Sungguh semua itu sukar dipercaya oleh Kang Giok-long, akan tetapi, jika bukan mereka, habis siapa? Di atas perahu ini kan tiada orang lain.

Apa lagi seumpama betul mereka, mengapa mereka harus mengawasi dan melindungi Siau-hi-ji secara diam-diam, padahal tampaknya mereka toh tidak saling mengenal?

Begitulah sepanjang malam Kang Giok-long hanya terbelalak memandangi atap perahu dan tak dapat pulas, namun sampai pagi mendatang tetap dia tidak habis paham sebab musababnya.

Dan baru saja ia hendak pulas saking ngantuknya, tahu-tahu Siau-hi-ji sudah mendusin dan membangunkan dia sambil menegur, "He, apakah nyenyak tidurmu semalam?"

Terpaksa Giok-long menjawab dengan menyengir, "Ya, nyenyak sekali, sekali pulas langsung hingga pagi."

"Ayolah bangun, terlalu banyak tidur juga kurang sehat," ucap Siau-hi-ji.

"Ya, ya sudah waktunya bangun," kata Giok-long. Meski wajahnya tersenyum simpul, tapi dalam batin ia sangat mendongkol, kalau bisa sekali jotos ia ingin membinasakan Siau-hi-ji.

Ketika mereka keluar ke haluan perahu, dilihatnya semangat Siau-hi-ji menyala dan tenaga penuh, saking geregetan Kang Giok-long ingin sekali tendang menjungkalkan seterunya itu ke dalam sungai.

Dalam pada itu si nona cilik telah membawakan satu baskom air cuci muka, wajahnya tersenyum manis, matanya juga melirik genit, bahkan dua lesung pipinya juga berseri-seri. Memangnya apa yang membuatnya tertawa gembira?

Mata Kang Giok-long mengawasi sepasang tangan putih mulus yang mengangkat baskom itu, namun sukar baginya untuk membayangkan tangan kecil halus itu mampu menggunakan senjata rahasia selihai itu.

Perahu itu masih baru, pakaian si kakek dan si nona juga masih baru, tampaknya belum lama mereka menyamar sebagai tukang perahu. Bukan mustahil sasaran mereka adalah Siau-hi-ji. Tapi apa pula maksud dan tujuan mereka?

Siau-hi-ji sendiri seperti tidak tahu apa-apa, ia tetap riang gembira. Habis cuci muka, sekaligus ia habiskan empat mangkuk bubur ditambah empat telur mata sapi. Sebaliknya Kang Giok-long sama sekali tiada nafsu makan.

"He, Lotiang (pak tua), siapakah she dan namamu?" demikian Siau-hi-ji menegur si kakek tukang perahu.

"O, aku she Su...." jawab kakek itu sambil terbatuk-batuk, "Orang... huk... huk... orang menyebut diriku Su-lothau dan huk... huk... dan cucu perempuan ini bernama Su... Su Siok-hun."

Diam-diam Kang Giok-long menertawakan dirinya sendiri yang suka curiga, masakah kakek yang bicara saja sambil terbatuk-batuk bisa jadi tokoh Bu-lim yang tersembunyi segala?

Terdengar Su-lothau berkata pula, "He, Siok-hun, kau jangan makan lagi biji teratai itu."

Baru sekarang Kang Giok-long terkejut, ia menoleh, dilihatnya tangan si gadis remaja Su Siok-hun itu memang membawa secomot biji teratai kering dan sedang dimakannya seperti orang memakan kuaci.

Berdetak jantung Giok-long ketika nona cilik itu tertawa padanya. Waktu ia berpaling kembali, dilihatnya Siau-hi-ji sedang berkipas-kipas dengan menggunakan satu jilid buku, jelas itulah kitab pusaka ilmu silat mereka.

Baru sekarang Kang Giok-long ingat semalam tubuhnya ditindih Siau-hi-ji, waktu membalik tubuh pagi tadi, rupanya kesempatan itu telah digunakan seterunya untuk menyikat kitab itu.

Ternyata kitab pusaka ilmu silat yang diidam-idamkan setiap insan di dunia persilatan itu kini telah digunakan sebagai kipas oleh Siau-hi-ji, keruan Kang Giok-long merasa gemas dan juga khawatir.

Sementara itu perahu sudah jauh meninggalkan tempat penyeberangan, tiba-tiba sebuah perahu meluncur tiba dari depan, cepat Su-lothau menggunakan gala yang panjang menutul haluan perahu lawan sehingga kedua perahu tidak sampai bertabrakan, tapi terus menyerempet lewat.

"Ai, celaka, jatuh ke sungai!" jerit Siau-hi-ji mendadak. Tahu-tahu kitab pusaka yang dipegangnya tadi jatuh ke dalam sungai, seketika jantung Kang Giok-long seakan-akan copot dan ikut jatuh ke dalam sungai. Tertampak air sungai yang keras gulung-gemulung, hanya sekejap saja kitab itu sudah hilang ditelan ombak.

Siau-hi-ji bersungut-sungut dan berseru gegetun, "Wah, celaka! Bagaimana... bagaimana ini...."

Sudah tentu dalam hati Kang Giok-long tak terkatakan gemasnya, tapi lahirnya dia tetap tersenyum dan berkata, "Ah, hanya buku saja, tak apalah kalau sudah jatuh ke sungai."

Diam-diam ia pun tahu bahwa Siau-hi-ji sengaja menjatuhkan kitab itu, ia pikir seterunya pasti sudah menghafalkan dengan baik isi kitab itu. Dalam hal ini Siau-hi-ji dengan sendirinya juga tahu pasti apa yang dipikirkan Kang Giok-long.

Namun kedua orang sama-sama tidak bicara apa-apa dan inilah yang paling lucu dan menarik. Kecuali mereka sendiri rasanya di dunia ini tiada orang yang dapat menerka isi hati mereka berdua.

Pepohonan menghijau permai, air sungai beriak menguning, pemandangan kedua tepi sungai indah bagai lukisan.

"Biarkan perahu laju dengan perlahan saja, kita tidak terburu-buru," ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Ya, betul, kita tidak terburu-buru," tukas Kang Giok-long.

Pada saat itulah sekonyong-konyong sebuah perahu meluncur cepat dari belakang, haluan perahu berkibar sebuah Piau-ki (panji tanda pengenal perusahaan pengawalan), panji itu terbuat dari kain satin bersulam gambar singa pada panji tengah itu.

Melihat itu, wajah Kang Giok-long menampilkan rasa girang, sinar matanya juga terang, cepat ia bangkit berdiri dan berteriak, "Siapakah Piauthau Kim-say-piaukiok (perusahaan pengawal singa emas) yang berada di atas kapal situ?"

Laju perahu itu lantas diperlambat, beberapa lelaki kekar dengan badan bagian atas telanjang tampak sibuk bekerja, dari kabin perahu itu menongol keluar kepala seorang dan berteriak, "Siapa itu yang memanggil...."

Kang Giok-long mengangkat tangan dan menjawab, "Aku, Kang Giok-long, masih ingatkah Li-toasiok?"

Orang itu berwajah hitam bergodek, tampaknya sangat tangkas. Tapi demi nampak Kang Giok-long, seketika ia menyambutnya dengan tertawa, "Ah, bukankah engkau putra Kang-tayhiap, mengapa berada di sini?"

Su-lothau seperti tidak menggubris tegur sapa mereka, dia tetap meluncurkan perahunya ke depan. Tapi perahu cepat Kim-say-piaukiok itu lantas didayung mendekat ke sini, lelaki bermuka hitam ungu itu lantas melompat kemari.

"Ginkang saudara ini tampaknya masih perlu berlatih lagi," ucap Siau-hi-ji dengan tertawa. Bicaranya tidak keras, agaknya si lelaki muka hitam tidak mendengar, dengan tersenyum simpul orang lantas mendekati Kang Giok-long.

"Inilah To-piauthau dari Kim-say-piaukiok yang termasyhur di daerah Kang-lam, di kalangan Kangouw terkenal dengan julukan "Ci-bin-say" (singa bermuka ungu) Li Ting, kepandaiannya Ngekang (tenaga luar) dan di dalam air terhitung nomor satu di Kang-lam," demikian Kang Giok-long memperkenalkan orang itu sebagai jawaban pada Siau-hi-ji yang mengejek kurang tinggi Ginkangnya tadi.

Namun Siau-hi-ji anggap tidak mendengar saja, ia berpaling ke arah lain dan minum teh.

Terdengar Kang Giok-long dan orang bernama Li Ting itu beramah tamah sejenak, mendadak suara percakapan mereka dikecilkan sehingga seperti orang berbisik-bisik, agaknya supaya tidak didengar oleh Siau-hi-ji.

Tapi Siau-hi-ji juga tidak ingin mendengarkannya, biar pun tahu dengan pasti bahwa Kang Giok-long akan berbuat sesuatu yang tidak menguntungkan dia juga takkan dicegahnya, ia justru ingin tahu seterunya mampu menciptakan permainan apa?

Maklumlah, sejak berumur tiga Siau-hi-ji tidak kenal lagi apa artinya takut terhadap siapa pun, dalam urusan apa pun juga, pada hakikatnya ia tidak kenal "takut" itu apa. Semakin berbahaya, semakin menarik baginya.

Begitulah kemudian didengarnya Ci-bin-say Li Ting itu berkata, "Selewatnya Hun-han nanti aku akan menempuh perjalanan darat saja, pesan Kang-kongcu tentu akan kukerjakan dengan baik, jangan khawatir."

Setelah bercakap dan bergurau lagi sejenak, lalu Li Ting melompat kembali ke perahunya sendiri.

"Eh, hati-hati, jangan sampai kecebur!" seru Siau-hi-ji dengan tertawa.

Li Ting menoleh dan melototnya dengan gemas, mulutnya berkomat-kamit seperti memperingatkan Siau-hi-ji harus hati-hati, tapi segera kedua perahu lantas merenggang dan berpisah jauh lagi.

Semangat Kang Giok-long tampaknya terbangkit seperginya Li Ting, dengan tertawa ia berkata, "Kim-say-piaukiok selain Congpiauthaunya yang bernama Kim-say-cu (singa emas) Li Tik, di bawahnya terkenal pula dua ekor singa dan seekor harimau, mereka semuanya boleh dikatakan sahabat sejati dan berbudi."

"Huh, singa dan harimau segala, kukira paling-paling adalah kawanan anjing dan serigala," terdengar Su-lothau bergumam sendiri.

Ucapan itu didengar oleh Siau-hi-ji dan Kang Giok-long. Tapi kedua anak muda itu pun berlagak seperti tidak mendengar.

Laju perahu sangat lambat, sepanjang jalan Siau-hi-ji bertanya melulu. Tempat apa ini? Sampai di mana sekarang dan macam-macam lagi.

Selewatnya Hun-han, mata Siau-hi-ji tambah terbelalak seakan-akan sedang menunggu tontonan yang menarik. Setiba di Wiciu, perahu lantas berlabuh sebelum malam tiba.

"Tidur sekarang apa tidak terlalu dini?" kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Su-lothau hanya mendengus saja tanpa bicara. Sedangkan nona cilik bernama Su Siok-hun itu menanggapi dengan melirik genit, "Di depan sana adalah Bu-kiap yang sukar dilalui waktu malam. Sebab itulah kita beristirahat saja di sini, besok pagi-pagi kita akan menerobosnya dengan bersemangat."

"Aha, kiranya di depan sana adalah ke-12 puncak bukit Bu yang terkenal curam itu?" seru Siau-hi-ji. "Sewaktu kecilku dulu sering kudengar nama selat itu dipuji dalam syair, sudah lama ingin kulihat bagaimana keadaan selat yang terkenal itu?"

"Meski selat itu dipuji oleh penyair, tapi sesungguhnya tidak indah sedikit pun, bahkan kalau kurang hati-hati jiwa bisa melayang di sana, apa lagi sekarang, mungkin kawanan kera yang hidup di tepi selat pun tak dapat bercuit lagi," ucap Su Siok-hun dengan tersenyum.

"Aneh, apa sebabnya?" tanya Siau-hi-ji.

"Dalam beberapa hal sebaiknya kau jangan bertanya terlalu jelas," kata si nona dengan suara tertekan.

Waktu Siau-hi-ji berpaling, dilihatnya Kang Giok-long sedang memandangi air dan seakan-akan tidak mendengar percakapan mereka. Akan tetapi air mukanya ternyata pucat menghijau.

Esoknya air muka Kang Giok-long tambah hijau. Siau-hi-ji tahu, semakin tegang hati seterunya itu, semakin hijau mukanya. Tapi apa yang membuatnya tegang? Apakah sudah diketahuinya bakal terjadi sesuatu?

Sekali gala Su-lothau menutul, segera perahunya meluncur pula dengan pesat. Sementara itu nona Siok-hun sudah berganti pakaian ketat, baju hijau ringkas dan kaki celana ketat sehingga perawakannya kelihatan lebih ramping.

Dengan tersenyum Siau-hi-ji memandangi nona itu tanpa bersuara. Tak jauh di depan sana, arus sungai mulai keras. Akan tetapi jumlah perahu yang berada di situ mendadak juga bertambah banyak. Perahu-perahu itu semuanya terapung diam di permukaan sungai, tidak laju ke depan juga tidak mundur ke belakang. Gerak-gerik setiap orang di perahu-perahu itu tampak mencurigakan.

Tiba-tiba Siau-hi-ji melihat setiap layar perahu itu sama terpajang sepotong kain kuning. Waktu melihat perahu yang ditumpangi Siau-hi-ji ini, orang-orang di perahu-perahu itu sama mengkeret ke dalam.

Jenggot panjang Su-lothau melambai-lambai tertiup angin, ia memegang kemudi perahu dengan penuh perhatian seakan-akan tidak melihat segala apa yang terjadi di sekitarnya. Sedangkan Siok-hun memandang kian kemari, tampaknya sangat gembira.

Siau-hi-ji ingin tahu bagaimana sikap Kang Giok-long, tapi seteru itu justru sengaja berpaling ke sana agar wajah tidak kelihatan.

Ketika perahu masuk ke selat Bu yang terkenal itu, perahu laju dengan cepat terbawa arus, sejauh mata memandang tiada terlihat perahu lain lagi. Tapi pada saat itulah di tepi sungai sana tiba-tiba ada orang meniup kulit keong, suaranya menggema angkasa sehingga menimbulkan kumandang yang ramai.

Pada saat lain tiba-tiba belasan perahu kecil meluncur keluar dari kedua tepi sungai, setiap perahunya membawa lima enam orang lelaki berikat kepala kain kuning, semuanya bersenjata, ada bergolok, ada yang bertombak dan ada pula yang cuma membawa gala bambu, sambil berteriak-teriak mereka terus menerjang tiba.

"Mereka benar-benar datang, kakek!" seru Siok-hun.

Su-lothau tetap tenang-tenang saja, katanya dengan hambar, "Ya, kutahu mereka tentu akan datang."

Betapa pun bandelnya Siau-hi-ji, tapi di tengah sungai dengan arusnya yang deras ini setiap saat bisa terhanyut, apa lagi diadang pula oleh kaum bajak, mau tak mau ia menjadi rada gugup.

"Ayo, bocah-bocah di perahu itu, serahkan saja jiwa kalian!" teriak orang-orang di perahu-perahu yang menerjang tiba itu.

Siau-hi-ji berkedip, katanya dengan tertawa, "Sungguh aneh, kawanan bajak ini tampaknya tidak mau merampok harta benda, tapi ingin mencabut nyawa kita."

Wajah Kang Giok-long tampak pucat menghijau, katanya dengan menyeringai, "Ya, aneh, sungguh aneh."

Dalam pada itu dua perahu pengejar sudah menerjang tiba, orang di perahu itu sama mengangkat senjata mereka dan siap menyerang.

"Jangan galak-galak, makan dulu kacang goreng ini!" tiba-tiba Siok-hun berseru dengan tertawa. Sekali tangannya bergerak, seketika dua lelaki yang berdiri di haluan perahu meraung keras, senjata dibuang dan tangan menutupi muka sendiri, darah tampak merembes melalui celah-celah jarinya.

"Awas, Kawan-kawan, senjata nona cilik ini cukup lihai!" demikian orang-orang itu sama berteriak memperingatkan kawan sendiri dengan bahasa mereka.

Namun Su Siok-hun pura-pura tidak mengerti, dengan tertawa genit ia berseru pula, "Barangkali kau pun ingin makan kacang? Ini, kuberi secomot!"

Berbareng itu kedua tangannya yang putih halus itu bergerak, biji teratai seketika bertaburan laksana hujan. Tapi sekali ini bukan biji teratai kering melainkan biji teratai besi.

Seketika terdengar jerit kaget berulang-ulang dari kawanan bajak itu, ada yang mukanya berdarah, ada yang senjatanya terlepas dari tangan, tetapi ada sebagian di antara mereka yang sempat menerjang maju dengan perahunya.

Su-lothau yang tadi tenang saja kini mendadak bersuit panjang, suaranya nyaring memekak telinga. Berbareng galanya terangkat, sekali sabet kontan tiga orang yang menerjang tiba itu mencelat jauh ke sana menumbuk tebing sungai, darah berhamburan dan mayat menggeletak.....
*** ***
Note 26 oktober 2020
Uang tidak bisa membeli kebahagian. tetapi memiliki uang lebih bahgia dari pada tidak memiliki, lahh???🤔
|Cersil terbaru di upload setiap hari sabtu dan minggu.|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 38"

Post a Comment

close