coba

Pendekar Binal Jilid 33

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
Siau-hi-ji tersenyum getir, katanya, "Meski kutahu kau ini orang busuk, tapi sungguh tak terpikir olehku sedemikian kebusukanmu. Kalau bicara tentang kekejian hati, mungkin kau terhitung nomor satu di dunia."

"Kau sendiri nomor berapa?" tanya Giok-long.

"Dibandingkan dirimu, pada hakikatnya aku tidak masuk hitungan," belum habis ucapan Siau-hi-ji, secepat kilat sebelah tangannya menyambar ke muka seterunya.

Gua itu sedemikian sempit, tanpa melangkah maju juga tangannya dapat mencapai muka Kang Giok-long, apa lagi Siau-hi-ji menggampar dengan cepat, mungkin juga sama sekali Kang Giok-long tidak menyangka akan diserang lawan, maka ia pun sama sekali tidak berkelit. Pendek kata, gamparan Siau-hi-ji itu dengan tepat mengenai sasarannya.

"Plak", seketika bengap sebelah pipi Kang Giok-long, kontan ia pun roboh terjungkal.

"Hehe, meski kelihatan kurus, tapi daging di pipimu tidaklah sedikit, kalau tidak terlihat jelas pukulanku ini mengenai mukamu, bisa jadi aku akan mengira menghantam pantat orang perempuan," demikian Siau-hi-ji berolok-olok.

"Kau... kau mau apa?" teriak Kang Giok-long dengan suara serak sambil memegangi pipinya.

"Kalau tanganmu mampir di pipi seorang lelaki, apa kehendakmu? Untuk mencubitnya?" tanya Siau-hi-ji. "Plak", kembali tangannya membalik dan tepat mengenai muka lawan.

"Apakah... apakah benar kau...."

"Jika kau ingin membunuhku, masa aku tidak dapat membunuhmu?"

Muka Kang Giok-long yang bengap itu mirip perut ikan mati, merah melembung. Katanya dengan suara gemetar, "Toh kita bakal mati dalam waktu tidak lama lagi, untuk apa... untuk apa kau...."

"Kan sudah kau ingatkan padaku tadi, bila kubunuhmu, maka aku dapat hidup lebih lama setengah bulan."

"Ya, aku pantas... pantas mampus...." ucap Kang Giok-long sambil tertunduk. Tapi mendadak sekujur tubuhnya laksana sepotong balok terus menumbuk perut Siau-hi-ji, biar pun kepalanya tidak keras, tapi paling tidak terlebih keras daripada perut.

Sebelumnya Siau-hi-ji juga sudah waspada terhadap kaki dan tangan lawan licik itu, tapi bicara sejujurnya, sama sekali ia tidak memperhatikan kepala lawan yang kecil itu. Dan sekarang kepala yang kecil itu telah membuatnya meringis kesakitan. Kontan ia terseruduk dan bersandar ke dinding tanah, ia terus berjongkok sambil memegangi perutnya.

"Hm, sekarang tentu kau tahu siapa yang pantas mampus," jengek Kang Giok-long, berbareng sebelah kakinya menendang dagu Siau-hi-ji.

Saat itu Siau-hi-ji sedang merintih kesakitan seakan-akan tidak sanggup mengangkat kepalanya. Tapi ketika kaki lawan sudah berada di depan hidungnya, sekonyong-konyong tangan yang memegangi perut itu terjulur secepat kilat, laksana penjaga gawang menangkap bola yang akan menembus gawangnya, dengan cepat dan tepat ia pegang kaki Kang Giok-long, berbareng itu terus diputar ke samping.

Tanpa ampun Kang Giok-long menjerit kaget dan kesakitan, seluruh badan membalik ke bawah, "bluk", ia jatuh terjerembap seperti anjing menubruk najis, kontan hidungnya mengeluarkan darah merah.

Pada detik lain Siau-hi-ji sudah melompat berdiri di atas punggungnya sembari berkata dengan tertawa, "Nah, sekarang kita betul-betul tahu siapa yang bakal mampus."

Sambil tengkurap di tanah, Kang Giok-long mengeluh, "Sungguh... sungguh aku tidak paham...."

"Dalam hal apa kau tidak paham?"

"Perutmu keseruduk kepalaku, tapi... tapi kau masih bertenaga penuh."

"Supaya kau maklum, bahwa kepandaianku memukul orang tidak seberapa tinggi, tapi kepandaianku tahan pukul tidaklah rendah. Jangankan dirimu, biar pun orang yang berpuluh kali lebih kuat daripadamu juga jangan harap dapat merobohkan diriku dengan sekali pukul."

"Baiklah, aku menyerah, sungguh aku menyerah padamu. Dalam segala hal kau memang lebih hebat daripadaku, tapi kutahu kau takkan membunuhku, sebab kalau kau ingin membunuhku sungguh-sungguh tentu tidak perlu menunggu sampai sekarang."

Bocah ini ternyata mulai memohon kasihan, mulai menjilat pantat pula. Tapi sedikit pun Siau-hi-ji tidak merasa senang, sebaliknya malah agak merinding. Ia tahu seterunya itu sesungguhnya ingin sekali membinasakan dia, hanya saja sekarang seteru itu sama sekali tak berdaya, senjata tidak punya, apa lagi punggungnya terinjak.

Dan di sinilah letak kebinalan Siau-hi-ji, sudah tahu jelas Kang Giok-long ingin membunuhnya, dia justru ingin menciptakan kesempatan itu baginya, ia ingin tahu dengan cara bagaimana seteru itu akan membunuhnya.

Ini sungguh hal yang menarik. Terhadap sesuatu yang menarik selamanya tak pernah disia-siakan oleh Siau-hi-ji, lebih-lebih di kala mengetahui hidupnya sudah tidak lama lagi akan tamat.

Begitulah Siau-hi-ji terus merenungkan hal yang menarik itu sehingga lupa daratan bahwa di bawah kakinya masih ada seorang Kang Giok-long. Pada saat itulah sekonyong-konyong Kang Giok-long mengangkat tubuhnya dengan sekuat-kuatnya sehingga Siau-hi-ji yang berdiri di atas itu ikut terangkat.

Kalau dalam keadaan biasa tentu hal itu tidak menjadi soal, tapi sekarang mereka berada di suatu gua yang sempit, orang jangkung hampir sukar untuk mengangkat kepala jika masuk gua ini. Karena itulah kepala Siau-hi-ji lantas tertumbuk langit-langit gua itu, "bluk", kontan ia pun roboh terjungkal.

Cukup lama juga Kang Giok-long baru sanggup merangkak bangun, tapi begitu bangun segera ia cekik leher Siau-hi-ji, katanya sambil menyeringai, "Kutahu kau takkan membunuhku dengan sungguh-sungguh hati, tapi aku benar-benar ingin membunuhmu."

Siau-hi-ji tidak menjawab, rupanya ia jatuh pingsan.

Cekikan Kang Giok-long lantas mengendur, ia tidak ingin membunuh Siau-hi-ji dalam keadaan seteru itu pingsan, ia ingin menyaksikan Siau-hi-ji meronta-ronta dan menemui ajalnya dalam keadaan tak bisa bernapas. Tapi Siau-hi-ji justru belum lagi siuman.

Dengan sebelah tangannya Kang Giok-long angkat guci arak yang jatuh di samping sana, isi arak ia tuang ke atas kepala Siau-hi-ji. Dengan sendirinya isi guci itu tidak sampai tertuang habis, Siau-hi-ji justru menunggu tangan orang sedang dipakai keperluan lain, pada saat itulah mendadak ia balas menonjok tenggorokan orang.

Keruan Kang Giok-long menjerit kesakitan, tapi guci yang dipegangnya itu tidak lupa dipukulkan ke kepala Siau-hi-ji.

Namun Siau-hi-ji sudah memperhitungkan kemungkinan ini, cepat ia menggelinding ke samping, menyusul sebelah kakinya terus menendang selangkang Kang Giok-long, kontan Giok-long menjerit dan guci arak terlempar jatuh dan hancur.

Tubuh Kang Giok-long tampak meringkal udang seperti kering, tangan memegangi bagian vital itu, kaki terimpit kencang-kencang, napas pun terasa sesak.

Tendangan Siau-hi-ji ini sungguh lihai dan membuat "knock-out" seterunya, tapi tendangan ini pun tidak begitu gemilang, pada hakikatnya bukan jurus serangan yang wajar. Ya, sejak awal hingga akhir sesungguhnya mereka belum pernah bergebrak dengan menggunakan jurus serangan yang indah.

Tapi maklum juga, mereka berada dalam gua yang sempit, siapa pun tak dapat mengeluarkan jurus serangan bagus. Untunglah perkelahian mereka tidak untuk dipertontonkan dan memangnya juga tiada yang menonton.

Siau-hi-ji menjilat arak yang membasahi mukanya itu, lalu bergumam "Sayang, sungguh sayang, arak enak ini kau buang begitu saja, kau harus dihukum denda minum air kencing tiga kendi."

Sementara itu Kang Giok-long masih meringkal di tanah sambil merintih. Segera Siau-hi-ji menyeretnya bangun dan berkata, "Jangan pura-pura mampus, ayolah berdiri dan berkelahi lagi."

"Kau... kau ingin berkelahi lagi?" tanya Kang Giok-long.

"Di sini selain cuma minum arak dan berkelahi, pekerjaan apa lagi yang dapat kau kerjakan? Sekarang arak sudah habis, terpaksa hanya berkelahi saja," kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Aku... aku tidak sanggup lagi."

"Tidak boleh, harus!"

"Urusan apa pun pernah kudengar, tapi memaksa orang lain berkelahi, belum pernah kudengar."

"Tapi sekarang sudah kau dengar, bukan?"

"Engkau benar... benar-benar ingin berkelahi pula?"

"Betul, sedikit pun tidak salah!"

Kang Giok-long menghela napas, katanya, "Baiklah, biarkan kuistirahat sebentar baru akan kulayanimu."

"Nah, agak pantas ucapanmu," kata Siau-hi-ji, lalu ia lepaskan seterunya itu, kedua orang lantas duduk berhadapan.

Muka Kang Giok-long yang putih itu sudah berubah loreng, sambil melototi Siau-hi-ji mendadak ia berkata, "Terkadang aku merasa sangsi kau ini sesungguhnya manusia atau bukan."

"Memangnya apa kalau bukan manusia?"

"Di dunia mana ada manusia macam dirimu ini?"

"Selain aku memang betul tiada keduanya lagi."

Kang Giok-long terus mendekap kepala dan tidak bicara pula, sedangkan Siau-hi-ji lantas berbaring, katanya, "Biar kutidur dulu, kalau kau sudah selesai istirahat hendaklah aku diberitahu."

Habis itu ia benar-benar memejamkan mata dan benar-benar seperti mau tidur. Dari sela-sela jarinya Kang Giok-long dapat mengintip, beberapa kali ia bermaksud menubruk maju untuk menyergap seteru itu secara mendadak, tapi akhirnya urung, sesungguhnya ia tidak berani, sudah kapok.

Walau di dalam hati sangat gusar, dendam dan benci, tapi wajahnya sedikit pun tidak menampilkan sesuatu perasaan, hampir tidak ada orang dapat membaca isi hatinya dari air mukanya.

Cahaya lentera tadi makin lama makin redup, makin guram. Sekonyong-konyong Siau-hi-ji melompat bangun dan berteriak, "Wah, celaka?!"

"Celaka apa? Keadaan kita sekarang memang sudah cukup celaka, masakah masih ada yang lebih celaka lagi?"

"Selagi tidur saja aku tahu, masa kau malah tidak tahu?"

"Aku tidak tidur, tapi sedang mimpi."

"Mimpi sekali bacok membinasakan aku, begitu bukan?"

"Mimpi menyembelih sepuluh ekor babi gemuk."

"Sudahlah, tidak perlu mimpi-mimpi lagi, biar pun betul ada sepuluh ekor babi juga tidak sempat kita makan."

Kang Giok-long berpikir sejenak, tanyanya kemudian dengan khawatir, "Jadi maksudmu... maksudmu...."

"Maksudku sebelum kita mati kelaparan lebih dulu kita akan mati pengap."

Kiranya lorong di bawah tanah itu telah disumbat dari atas oleh Siau Mi-mi, zat asam di dalam gua itu makin lama makin menipis sehingga lentera itu pun hampir padam. Maklumlah, api tak dapat menyala kalau hawa udara kurang zat asam.

Meski Siau-hi-ji sangat pintar, tapi teori zat asam itu tidak dipahaminya. Pada jamannya itu memang belum ada seorang pun yang tahu tentang teori itu, dia hanya merasakan napasnya mulai sesak, kelopak matanya terasa berat seperti orang mengantuk.

"Segalanya sudah kuperhitungkan, hanya hal ini saja tidak terpikir olehku," kata Kang Giok-long.

"Setengah jam... setengah jam...." tanpa terasa gigi Kang Giok-long gemertuk.

Siau-hi-ji juga muram durja kehabisan akal, gumamnya, "Mati sesak napas.... Ehm, entah bagaimana rasanya mati pengap."

"Menurut cerita orang," tukas Kang Giok-long, "mati sesak napas jauh lebih menderita daripada mati dengan cara lain. Sebelum mati orangnya bisa seperti gila, mungkin muka sendiri juga akan dicakar hingga luluh."

Dalam keadaan demikian ia masih dapat bercerita, soalnya ia merasa tidak adil kalau dia sendiri yang ketakutan, ia ingin membikin Siau-hi-ji juga ikut merasakan seramnya orang mati begitu.

Siau-hi-ji termenung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, "Bagus juga kalau begitu. Aku justru khawatir akan mati terlalu biasa, syukur kalau sekarang bisa mati dengan cara luar biasa. Betapa pun tidak banyak orang di dunia ini yang mati pengap begini."

Kang Giok-long juga termenung sejenak, katanya kemudian, "Tapi kukira tidak sedikit, bukankah orang-orang yang membangun istana di bawah tanah ini akhirnya juga terbunuh semua, bisa jadi mereka pun mati pengap seluruhnya."

Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, "Sampai saat ini, tampaknya kau masih berusaha membuat aku marah. Memangnya begitu hebat bencimu padaku?"

"Hm," dengus Giok-long tanpa menjawab.

"Kau benci padaku lantaran dalam segala hal aku lebih kuat daripadamu, begitu bukan?"

"Mungkin kita memang dilahirkan sebagai musuh!" ucap Kang Giok-long.

Sama sekali tak disadarinya bahwa apa yang dikatakannya itu memang tidak salah sedikit pun.

Cahaya lentera semakin redup.

Sambil memandangi sumbu lentera yang semakin guram itu, Siau-hi-ji bergumam, "Arak, arak sialan dan kau yang celaka. Mestinya aku dapat minum lagi, dalam keadaan begini masakan ada urusan lain yang lebih baik daripada minum dan mabuk?"

Tanpa sengaja sorot matanya beralih ke tanah. Guci yang pecah berantakan itu masih berserakan di tanah. Arak yang bertumpah itu sudah hampir kering.

Tapi aneh, arak itu ternyata tidak merembes ke dalam tanah, tapi mengalir, sudah tentu tanah di situ tidak rata, jadi arak mengalir ke bagian tanah yang rendah....

Seketika Siau-hi-ji melompat bangun, ia tuang pula seguci air minum ke tanah dan air itu pun mengalir ke tempat yang rendah.

"Hei, lih... lihatlah!" seru Siau-hi-ji mendadak.

"Lihat... apa yang perlu dilihat?" tak acuh ucap Kang Giok-long.

"Lihatlah air ini, airnya mengalir!"

"Dengan sendirinya air mesti mengalir, dengan sendirinya pula mengalir ke tempat yang rendah."

"Tapi... lihatlah air mengalir... mengalir semua ke sini dan tidak menggenang di situ," seru Siau-hi-ji pula sambil menuding sudut sana, karena tegangnya sampai ucapannya tergagap.

Mendadak mata Kang Giok-long juga terbelalak, tukasnya, "He, betul air itu tidak tergenang di situ."

"Kalau air tidak berhenti di sini berarti air terus mengalir keluar, dan kalau air mengalir keluar berarti di sana ada sebuah lubang, tapi tempat ini sudah berada di bawah tanah, masakan masih ada lubang yang dapat dialiri air?"

Habis itu Siau-hi-ji tidak bicara lagi, ia ambil sepotong pecahan guci dan mulai korek-korek tempat itu. Kang Giok-long menyaksikan dengan terkesima dan tangan rada gemetar. Soalnya napas kedua orang itu sudah semakin sesak.

Mendadak lentera yang redup itu padam, keadaan menjadi gelap gulita hingga jari sendiri pun tidak kelihatan. Kang Giok-long juga tidak tahu bagaimana hasil galian Siau-hi-ji. Hanya terdengar suara napas Siau-hi-ji yang megap-megap, ia sendiri pun terengah-engah.

"Blang", tiba-tiba terdengar suara keras, seperti suara pecahnya papan kayu.

Menyusul lantas terdengar teriakan Siau-hi-ji, "He, ada lubang, dapat kutemukan lubang di sini... di luar sana ternyata tempat kosong!"

"Kau... engkau tidak salah?" tanya Giok-long dengan terputus-putus.

"Api, mana korek api.... Demi Tuhan, jangan kau bilang tidak punya korek api!"

Tapi apa gunanya korek api? Mungkin Siau-hi-ji linglung ketika berucap begitu.

Akan tetapi korek api benar-benar telah dinyalakan dan Siau-hi-ji tidak nampak lagi, di sudut sana sudah bertambah satu lubang, angin semilir meniup dari situ dengan bau apek.

Napas Kang Giok-long terasa lancar, dengan girang ia lantas berseru, "Kang... Kang-kongcu, Kang-heng."

"Aku berada di sini, lekas kemari, lekas!" itulah suara Siau-hi-ji di luar sana. Suaranya penuh rasa kejut dan kegirangan.

Seperti tikus saja Kang Giok-long terus menyusup ke sana dengan cepat. Lalu ia pun terkesima di situ.

Ternyata tempat itu adalah sebuah ruangan segi delapan, kedelapan sisi dinding itu terbuat dari logam yang berlainan, ada besi, ada baja, ada batu, bahkan ada satu sisi yang menyerupai emas.

Puji syukur ke hadirat Tuhan, sisi dinding dari mana mereka masuk itu ternyata dinding kayu. Kalau saja dinding itu bukan kayu, mungkin saat ini mereka sudah mati sesak.

Di ruangan segi delapan itu tidak ada meja, tidak ada kursi, sebab di bawah tanah, maka juga tidak ada galagasi atau debu kotoran, entah dari mana pula masuknya hawa udara.

Yang ada di ruangan itu hanya roda bergigi belaka, besar kecil dan berbagai bentuk roda itu, ada yang terbuat dari besi, dengan sendirinya juga ada yang terbuat dari emas.

Kang Giok-long hampir tidak percaya pada matanya sendiri, ia bergumam, "O, Tuhan... tempat apakah ini? Sumpah mampus tak pernah kupikir di sini masih ada ruangan begini, sedangkan tempat ini hanya terpisah oleh papan kayu saja dengan gua yang kugali itu."

Siau-hi-ji juga putar-putar di ruangan itu, kejut dan heran membuatnya bingung entah apa yang harus dilakukannya sekarang.

Tempat apakah ini? Untuk apakah roda-roda sebanyak itu?

Ia coba mengamat-amati kian kemari, tapi tak diketahuinya di mana letak kegaiban roda-roda itu, yang jelas roda bergigi itu satu sama lain berkaitan, entah berapa banyak biaya dan pikiran yang dikorbankan untuk membuat roda-roda begitu?

"Persetan, siapa yang tahu apa gunanya roda-roda ini," omel Siau-hi-ji dengan menyeringai.

Mendadak Kang Giok-long melompat ke sana, dengan lengan bajunya ia gosok-gosok dinding sekian lamanya, habis itu ia berteriak, "O, Tuhan, dinding ini terbuat dari emas."

"Dinding emas tidak mengherankan, yang aneh adalah tempat ini ternyata tembus hawa," kata Siau-hi-ji. "Kukira orang yang membangun tempat ini kalau bukan orang gila tentu mempunyai maksud tujuan tertentu."

"Maksud tujuan tentu apa?" tanya Kang Giok-long

"Ya, mungkin inilah rahasia terbesar yang kita temukan selama hidup ini," ucap Siau-hi-ji sambil menghela napas panjang, lalu ia pegang sebuah roda.

"Akan kau putar rodanya?" tanya Giok-long.

"Tahankah kau tanpa memutarnya?" kata Siau-hi-ji, ia memicingkan sebelah mata kepada Kang Giok-long, lalu menambahkan pula dengan tertawa, "Bisa jadi inilah pintu neraka, bila lalu roda ini berputar, mungkin kawanan setan akan terlepas semua."

"Boleh juga leluconmu ini, sungguh menggelikan leluconmu," ucap Kang Giok-long dengan mendongkol.

"Ciiit... ciittt...." roda itu mulai berputar, dinding batu itu mendadak bergeser dan terbukalah sebuah pintu.

"Haha, lihatlah pintu neraka benar-benar terbuka," seru Siau-hi-ji dengan tertawa. Padahal ia pun tahu entah betapa sumbang suara tertawanya.

Cepat Kang Giok-long merangkak balik ke gua tadi untuk mengambil lentera.

Dengan memegang geretan Siau-hi-ji jalan di depan, bau apek terus menyerang, bau busuk yang selama hidup tak pernah terendus oleh Siau-hi-ji.

Nyali kedua anak muda itu terhitung tabah juga. Akhirnya mereka masuk ke sana. Tapi apa yang mereka lihat di situ membuat bulu roma berdiri serentak.

Mayat, di ruangan itu penuh mayat.

Sebenarnya istilah "mayat" juga tidak tepat, di situ hanya penuh jerangkong atau bengkarak yang berpakaian.

Tanpa terasa Siau-hi-ji bersin dan baju jerangkong di depannya lantas berhamburan menjadi bubuk.

Ngeri juga Siau-hi-ji, katanya, "Orang-orang ini mungkin sudah mati berpuluh tahun yang lalu."

"Mereka... mereka semuanya mati kelaparan," ucap Kang Giok-long. "Coba lihat bentuk mereka, mungkin mereka jadi hampir gila karena laparnya ketika mendekat ajalnya, lihatlah... lihatlah tangan mereka."

Teringat dirinya hampir juga bernasib seperti jerangkong itu, Siau-hi-ji jadi mual, akhirnya ia muntah sungguh-sungguh sehingga arak dan sosis yang dimakannya tadi tertumpah keluar.

"Entah siapa orang-orang ini?" gumam Giok-long.

Setelah air kecut terakhir tertumpah keluar, dengan tergopoh-gopoh barulah Siau-hi-ji berkata, "Melihat pakaian mereka yang kasar ini, mungkin mereka adalah tukang kayu dan tukang batu yang membangun tempat ini."

"Mereka ini tentu serombongan orang tolol," ujar Giok-long.

"Orang tolol?" tukas Siau-hi-ji.

"Kalau bukan orang tolol, untuk apa mereka mau membangun tempat rahasia ini, kan setelah membangun tempat rahasia ini berarti hidup mereka pun berakhir?"

"Kau tidak menaruh kasihan terhadap orang-orang yang mati ngeri begini?" tanya Siau-hi-ji.

"Kalau aku mati, siapa yang akan merasa kasihan padaku?"

"Bagus, bagus, kau sungguh hebat. Belasan tahun kubelajar di pusatnya orang jahat, tapi tampaknya aku masih kalah dibandingkan dirimu, aku masih harus belajar padamu."

"Aneh juga, mengapa Siau...." belum habis ucapan Kang Giok-long, tiba-tiba terdengar suara tindakan orang di bagian atas, suara tindakan itu terasa perlahan dan berat seperti orang menyeret sesuatu barang berat.

Sekujur badan Siau-hi-ji terasa merinding, biar pun dia adalah orang paling tabah, pada saat demikian mau tak mau ia pun merasa takut.

Tidak terkecuali, Kang Giok-long juga gemetar. Kendati keji hatinya, tapi nyalinya kecil, "trang", lentera tembaga yang dipegangnya sampai terjatuh.

Suara langkah orang itu berkumandang dari atas dan semakin dekat. Kaki dan tangan Siau-hi-ji serasa lemas, geretan api entah sudah jatuh sejak kapan sehingga keadaan gelap gulita sama sekali.

Suara tindakan orang yang berat itu tiba-tiba berhenti tepat di atas mereka. Mendadak bagian atas itu merekah sebuah lubang, cahaya senja menembus masuk melalui lubang itu.

Siau-hi-ji dan Kang Giok-long sama menahan napas dan tak berani bergerak sedikit pun. Mereka dapat melihat sepasang kaki. Itulah kaki yang halus dengan sepatu bersulam. Ujung gaun di kaki itu berwarna hijau, bagian lebih atas kaki tidak kelihatan.

Kedua anak muda itu saling pandang sekejap dan hampir berseru berbareng, "Siau Mi-mi!" Jelas itu bukan badan halus atau setan gendruwo, tapi ialah Siau Mi-mi, si tukang pikat mati orang tak ganti nyawa.

Terdengar Siau Mi-mi sedang bergumam, "Silakan kalian istirahat untuk selamanya di sini, tempat ini sangat tenang, cuma rada terlalu berimpitan...." di tengah suaranya itu, berturut-turut beberapa sosok tubuh lantas jatuh ke bawah.

Siau-hi-ji berdua terkejut, mereka mengira Siau Mi-mi sedang membunuh pula, tapi segera mereka tahu tubuh yang berjatuhan itu hanya mayat belaka, yaitu para pemuda linglung yang diaku sebagai selir Siau Mi-mi itu.

Segera terdengar pula Siau Mi-mi bergumam, "Selamat tinggal para kekasihku! Istirahatlah dengan tenang di sini, bisa jadi terkadang kalian akan terkenang olehku."

"Blang", lubang itu lantas tertutup dan suasana kembali menjadi gelap gulita.

Sampai lama sekali Siau-hi-ji dan Kang Giok-long menunggu dalam kegelapan, akhirnya mereka menghela napas lega.

"Kang Giok-long," ucap Siau-hi-ji dengan tertawa, "Mayat-mayat ini adalah orang yang kau bunuh itu, apakah kau tidak takut mereka akan menagih nyawa padamu?"

"Di waktu hidup saja tidak takut pada mereka, apa lagi sudah mati," jawab Kang Giok-long.

Siau-hi-ji berhasil menemukan kembali geretan yang jatuh di samping kakinya, segera api menyala pula sehingga wajah Kang Giok-long kelihatan pucat seperti mayat.

"Katamu tidak takut, mengapa mukamu pucat begini?" tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tetapi mendadak Kang Giok-long menjemput lentera yang jatuh tadi terus melangkah keluar.

Cepat Siau-hi-ji menyusul keluar, betapa pun ia tidak ingin tertutup di sini oleh Kang Giok-long, sesungguhnya ia pun tidak ingin masuk lagi ke ruangan istimewa itu. Jelas demikian pula jalan pikiran Kang Giok-long, ini terbukti sekeluarnya dari ruangan itu, kontan ia muntah habis-habisan sehingga air kecut dalam perut tertumpah keluar.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, "Memangnya sudah kuragukan tempat ini pasti bukan dibangun oleh Siau Mi-mi. Perempuan, huh, mana mungkin perempuan mampu mencapai hasil karya sehebat ini, sekarang terbukti keraguanku itu memang tidak keliru."

"Hm," Giok-long hanya mendengus saja.

"Mungkin waktu itu Siau Mi-mi sedang mujur hingga dapat ditemukan tempat di atas itu. Tapi ketika dia sampai di sini dan melihat kerangka jerangkong sebanyak ini, dia tidak berani menyelidiki lebih lanjut, ia tidak tahu bahwa apa yang dilihatnya ini hanya sebagian kecil saja dari istana di bawah ini, bahkan bagian yang lebih hebat masih berada di belakang." Setelah menghela napas panjang, lalu Siau-hi-ji menyambung pula, "Namun siapa pula yang membangun tempat ini? Siapakah gerangan yang mampu mencapai hasil karya setinggi ini?"

"Paling tidak pasti bukan dirimu," jengek Kang Giok-long.

Mendongkol juga Siau-hi-ji melihat sikap orang, ia mencibir dan berkata, "Jangan lupa bahwa ilmu silatku jauh lebih kuat daripada ilmu silatmu dan setiap saat dapat kusembelih kau."

Mau tak mau Kang Giok-long menjadi jeri, ia menyurut mundur selangkah dan berkata, "Kau... kau...."

"Namun kau pun jangan khawatir, yang kuhendaki adalah cara bicaramu yang sopan sedikit," kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kang Giok-long melenggong sejenak, akhirnya ia menunduk dan menjawab, "Usiaku terlalu muda sehingga tidak tahu sopan santun, bila mana ada yang tidak berkenan di hatimu, hendaklah memaafkan diriku. Betapa pun dalam hatiku selalu menganggap engkau sebagai kakakku."

"Untung kau bukan adikku sungguh-sungguh," kata Siau-hi-ji. Dengan api geretannya ia lantas mengitari ruangan segi delapan itu sambil meraba dan mengetuk ke sana-sini, kemudian ia bergumam pula, "Dinding segi delapan ini hanya satu sisi saja terbuat dari bata tanah, tujuh sisi dinding yang lain kecuali dinding batu dan dinding kayu yang sudah diketahui, selebihnya adalah dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah."

"Mereka membangun dinding segi delapan ini dengan bahan yang berlainan, tentu ada maksud tujuan tertentu," kata Kang Giok-long.

"Benar, tahukah kau maksud tujuannya?"

"Justru karena aku tidak tahu, maka ingin kuminta petunjuk Toako."

Siau-hi-ji melotot sejenak, katanya kemudian, "Coba dengarkan, ingin kuberitahukan dua hal padamu."

"Mohon Toako memberi wejangan," kata Gioklong.

"Pertama, selanjutnya jangan memanggil Toako (kakak) padaku, merinding rasanya bila mendengar panggilanmu ini," ucap Siau-hi-ji dengan melotot.

Terkesiap juga Kang Giok-long, segera ia tertunduk pula dan mengiakan.

"Dan kedua, selanjutnya kau pun jangan berlagak pilon. Kutahu kau adalah orang pintar, bahkan sangat pintar, jadi tiada gunanya berlagak bodoh."

Kembali Kang Giok-long mengiakan dan mengangguk.

"Nah, sekarang coba katakan apa maksud tujuan mereka membangun tempat ini menurut dugaanmu?"

"Entah betul tidak tebakanku...." ucap Kang Giok-long dengan ragu-ragu, "terutama cara mereka membangun delapan sisi dinding yang berlainan ini, pertama menandakan di balik kedelapan sisi dinding ini tersimpan benda-benda yang berlainan pula."

"Benar, dan yang kedua?"

"Kedua, jelas ada hubungannya dengan roda-roda putaran ini. Roda batu ini menguasai dinding batu, maka roda emas itu tentu juga menguasai dinding emas."

"Bagus, coba teruskan!" seru Siau-hi-ji.

"Dinding kayu itu adalah arah kedatangan kita, keadaannya tidak perlu dijelaskan lagi, di balik dinding batu itu adalah kuburan, maka juga tidak perlu diperbincangkan lagi. Mengenai dinding tanah ini, tampaknya memang benar-benar tanah, jadi tiada sesuatu yang menarik. Yang tertinggal kini adalah dinding emas, perak, tembaga, besi dan timah."

"Betul, di balik kelima dinding ini pasti ada permainannya," kata Siau-hi-ji sambil berkedip-kedip, lalu ia menambahkan, "Menurut pendapatmu, dinding mana yang akan kita coba lebih dulu."

"Emas," jawab Giok-long.

"Tepat," kata Siau-hi-ji dengan tertawa. "Sekali ini kau telah bicara dengan setulus hati, sesungguhnya aku pun telah berpikir akan mencoba dinding emas lebih dulu, padahal manusia mana di dunia ini yang tidak berpikir demikian?"

Ketika roda emas itu berputar, benar saja dinding emas itu mulai bergeser dan terlihatlah sebuah pintu, belum lagi mereka masuk ke sana mata mereka sudah disilaukan oleh cahaya kemilauan.

Di balik dinding emas itu ternyata penuh benda mestika, mutu menikam yang sukar dinilai jumlahnya, siapa pun tak pernah bermimpi akan harta pusaka sebanyak ini.

Seketika Kang Giok-long terkesima, wajahnya yang pucat itu tampak bersemu merah aneh, jarinya juga rada gemetar.

Sedangkan Siau-hi-ji hanya memandang sekejap saja ke arah harta pusaka itu, lalu ditatapnya muka Kang Giok-long yang terangsang itu.

"Kau suka bukan?" tanyanya dengan tersenyum.

"Aku... aku...." biji leher Kang Giok-long yang baru mulai tumbuh itu bergerak naik-turun, "Kupikir setiap orang di dunia ini pasti menyukai barang beginian."

"Jika kau suka, anggaplah semua ini milikmu," kata Siau-hi-ji.

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 33"

Post a Comment