coba

Pendekar Binal Jilid 32

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
"Jika ingin hidup, terpaksa tidak menghiraukan bau busuk lagi."

"Tidak sedikit orang busuk yang pernah kujumpai, tapi bicara tentang kesabaran, kekerasan hati, betapa pun kau terhitung nomor satu, mau tak mau aku pun harus kagum padamu."

"Sudahlah, waktu sudah mendesak, lekas lepaskan aku, akan kubawa engkau masuk ke situ."

"Ya, bersihkan jalannya, supaya aku...."

Baru saja Siau-hi-ji lepaskan pegangannya dan belum habis bicara, mendadak kedua kaki Kang Giok-long menendang secara berantai, sungguh tendangan keji dan jitu, padahal tampaknya dia tidak memiliki kepandaian setinggi ini.

Namun Siau-hi-ji juga sudah memperhitungkan segala kemungkinan, baru saja kaki lawan bergerak, segera Siau-hi-ji menutuk Hiat-to bagian kaki lawan sehingga setengah tubuh bagian bawah Kang Giok-long tak dapat bergerak lagi.

"Hm, kan sudah kukatakan padamu bahwa kau takkan mampu mengakali aku, ayolah lekas menerobos lagi!" jengek Siau-hi-ji.

"Aku... kakiku tak dapat bergerak lagi," keluh Kang Giok-long.

"Kaki tak dapat bergerak, merangkak saja dengan tangan," ucap Siau-hi-ji.

Kang Giok-long tidak berani banyak cincong lagi, ia benar-benar merangkak ke dalam dengan menggunakan tangan.

Liang jamban itu sebenarnya ada sebuah lubang untuk saluran kotoran, tapi sedikit di bawah mulut lubang itu telah digali lagi sebuah lubang kecil oleh Kang Giok-long sehingga tiba cukup untuk disusupi oleh tubuhnya. Jadi dia merangkak ke liang itu seperti gangsir.

Terpaksa Siau-hi-ji menahan napas dan ikut merangkak ke situ. Syukur hanya sebentar saja bau tahi tidak terasa lagi.

Sambil menggeleng dan menyengir Siau-hi-ji berkata, "Orang bilang aku ini siluman kecil, tapi kukira yang tepat disebut siluman kecil ialah dirimu. Hebat juga cara berpikirmu sehingga dapat menggali tempat sembunyi seperti ini."

Lorong sempit di bawah tanah itu kira-kira dua-tiga meter panjangnya, pada ujung sana adalah sebuah gua, kecil, luasnya kurang lebih cuma dua meter persegi. Tapi di situ sudah disiapkan dua buah kasur dan selimut, ada lagi dua guci air minum dan satu guci arak, satu onggok dendeng, sosis dan wajik. Selain itu ada pula beberapa jilid buku.

Gegetun juga Siau-hi-ji menyaksikan semua itu, katanya, "Sungguh sempurna persediaanmu, tentu tidak sedikit memakan tenaga dan pikiranmu."

Kang Giok-long tidak menjawabnya, ia sedang meringkuk di pojok sana sambil memandangi Siau-hi-ji dengan sorot matanya yang kemilau laksana mata ular berbisa.

Siau-hi-ji memandang anak muda itu, apakah dia ular atau rase tak dipedulikan. Siau-hi-ji tidak takut pada orang jahat, semakin jahat baginya semakin menarik.

Suasana di bawah tanah terasa sangat sunyi dan membuat orang merasa tidak betah, tapi keadaan itu pun melambangkan aman dan selamat. Gua di bawah tanah itu memang tempat yang aman, Siau-hi-ji yakin tiada orang yang mampu menemukannya di situ.

Dengan enak Siau-hi-ji duduk sambil selonjor di kasur, ia mengambil sepotong sosis, lebih dulu dibumbuinya, lalu digigitnya sebagian, rasa sosis itu ternyata lumayan, cukup sedap terutama bagi orang yang perutnya lagi lapar.

"Bersembunyi di dalam liang jamban, makan sosis di dalam jamban.... Hehe, kau benar-benar seorang jenius, Kang Giok-long," kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kang Giok-long memandang ke arah lain dan bergumam, "Jenius! Ya, jenius...."

"Menggali gua di dalam jamban, sungguh hanya orang yang berbakat istimewa saja yang dapat mempunyai gagasan begini," kata Siau-hi-ji pula. "Padahal setiap saat kau diawasi dengan ketat oleh Siau Mi-mi, tapi pada waktu kau hendak buang air tentunya dia tak dapat membuntutimu."

"Benar, ini memang gagasan dari bakat yang kuat, tapi tahukah kau gagasan yang timbul dari jenius ini telah berapa banyak memakan tenaga dan pikiran?"

"Coba uraikan, aku sangat suka mendengar keluhan orang."

"Engkau hanya tahu sewaktu orang berak sambil menggali lorong di bawah tanah pasti sukar diketahui orang lain, tapi tahukah untuk menggali lorong ini diperlukan buang air berapa kali?"

"Ya, tidak sedikit jerih payahmu, jelas!"

"Dan pernahkah kau pikirkan setiap orang perlu buang air besar berapa kali dalam setahun? Kalau terlalu sering buang air besar apakah tak akan dicurigai orang?"

"Ya, ini... ini memang...." Siau-hi-ji garuk-garuk kepala.

"Dan pernahkah membayangkan kalau seorang yang sedang buang air besar juga harus bekerja keras untuk menggali lubang di bawah tanah, lalu dibuang ke mana kotorannya? Memangnya ia tidak buang air besar selamanya?"

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala pula, katanya dengan menyengir, "Ehm, ini memang suatu persoalan. Kalau kau benar-benar buang air besar, itu berarti tidak ada waktu untuk menggali tanah. Jika kau menggali berarti tidak ada waktu untuk buang air besar. Ya, lantas bagaimana?"

"Bagaimana?" tukas Kang Giok-long dengan menyeringai. "Hehe, pasti takkan terpikir olehmu. Tuan besar macam dirimu tentu takkan pernah membayangkan betapa orang kecil macam diriku ini sanggup menderita."

Ia merandek sejenak, sambil mendelik dan menggereget kemudian ia menyambung, "Terpaksa aku berbuat seperti anjing, sembari bekerja sambil buang air besar. Sebab aku tidak boleh membuang-buang waktu sedikit pun. Aku berhasil belajar cara membuka pakaian dalam waktu sesingkatnya, sekali pun kedinginan setengah mati juga harus telanjang bulat, sebab pakaianku tidak boleh dibikin kotor oleh kotoran dan tanah...." mendadak ia berhenti karena merasa jijik dan ingin muntah.

Tiba-tiba Siau-hi-ji juga merasa mual, ia buang sisa sosis yang dipegangnya itu, ingin bicara sesuatu, tapi sampai lama ia tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Sambil menatap setengah potong sosis yang terbuang di tanah itu Kang Giok-long berkata pula dengan perlahan, "Tahukah apa sebabnya badanku sekurus ini?"

"Ku... kukira kau...."

"Aku kurus karena kurang makan, setiap hari aku selalu kelaparan, sebab demi mengurangi kotoran isi perut, terpaksa aku makan sedikit, demi menabung ransum di sini, terpaksa aku menderita lapar."

Kang Giok-long menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang putih, lalu katanya pula, "Itulah kehidupan si jenius selama setahun ini, hidup sebagai anjing selama setahun dengan hasil gua sempit ini. Sedangkan kau tidak bekerja apa-apa, sekarang enak-enak berbaring di sini."

Siau-hi-ji garuk-garuk kepala, tiba-tiba ia tertawa dan bertanya, "Apakah kau tahu mengapa bisa begitu?"

"Aku ingin tahu," jawab Kang Giok-long.

"Nah, dengarkan, sebabnya meski kau ini jenius, tapi aku ini adalah jeniusnya orang jenius, seorang kalau sepintar diriku, maka bebaslah dia dari segala penderitaannya."

Kang Giok-long memandangnya lekat-lekat hingga lama sekali, akhirnya ia menunduk dan berkata, "Ya betul, aku memang tidak dapat dibandingkan dengan dirimu, aku sangat kagum padamu."

Itu hanya kata-kata pujian saja, tapi entah mengapa, bagi pendengaran Siau-hi-ji, tiba-tiba timbul semacam rasa seram seakan-akan ucapan itu adalah kutukan yang paling keji.

Memang betul, anak muda pucat dan kurus kecil itu memang tidak sepintar dia, tidak secerdik dia, tapi kalau bicara tentang kekejian dan kelicikan, betapa pun Siau-hi-ji sukar membandingkannya. Lebih-lebih dalam hal menahan perasaan dan bersabar, mungkin selama hidup Siau-hi-ji juga tak dapat menandinginya. Sabar adalah budi pekerti yang terpuji, tapi terkadang menakutkan.

Maka Siau-hi-ji tidak bersuara lagi, ia sedang berpikir, "Jika di dunia ini ada lawanku, maka dia tak-lain-tak-bukan adalah rase cilik ini."

Tapi belum lagi habis berpikir segera ia tahu pendapatnya itu keliru. Di dunia ini masih ada lawan yang lain, seorang lawan yang lebih menakutkan.

Tiba-tiba terbayang seorang pemuda yang sopan santun dan lemah lembut, cakap dan menggiurkan, sabar dan tidak suka marah. Hoa Bu-koat atau Bu-koat Kongcu, pemuda yang polos, tidak keji dan juga tidak licin, seakan-akan tiada mempunyai sesuatu kehendak yang tersembunyi, hampir tiada sesuatu yang menakutkan kecuali ilmu silatnya saja.

Tapi "hampir tiada sesuatu yang menakutkan", itu justru yang paling menakutkan, pribadi Hoa-kongcu itu sama halnya samudera raya yang luas dan dalam, sukar dijajaki.

Diam-diam Siau-hi-ji menghela napas, gumamnya, "Bocah ini sungguh sukar diraba, orang yang tak dapat kuraba pribadinya mungkin memang hebat...."

Kang Giok-long memandang Siau-hi-ji, tampaknya ingin bicara, tapi tidak jadi.

"Maksudku bukan dirimu, tapi lain orang," kata Siau-hi-ji.

"Oo," perlahan suara Kang Giok-long.

"Orang itu tampaknya tidak terlalu pintar, tapi betapa pun pintarmu dan betapa pun kau bertingkah, semuanya takkan berguna jika berhadapan dengan dia, sebab dia memang polos dan bersih, dia takkan dirugikan oleh perbuatannya, sebaliknya yang bakal rugi adalah dirimu sendiri."

"O, belum pernah kulihat orang demikian," ucap Kang Giok-long dengan tersenyum hambar.

"Asalkan kau tidak mampus, pada suatu hari kau dapat melihatnya," ujar Siau-hi-ji.

Kang Giok-long bergumam dengan kaku, "Asalkan aku tidak mampus... tidak mampus...." mendadak air mukanya berubah hebat dan teriaknya, "Wah, celaka!"

Siau-hi-ji tahu jika air muka bocah itu sampai berubah hebat begitu niscaya urusannya bakal celaka, tanpa terasa ia pun ikut khawatir, cepat ia tanya, "Urusan Apa?"

"Waktu kau masuk tadi, apakah... apakah kau rapatkan tutup lubang jamban?"

Seketika Siau-hi-ji terbelalak, jawabnya, "Ya, belum. Aku lupa."

"Wah, celaka, kalau tidak menemukan kita, Siau Mi-mi pasti akan mencari kemari, jika dia melihat...."

"Kau pun terlalu hati-hati, masakan dia tahu kita sembunyi di dalam jamban sini?"

"Aku harus hati-hati, sedikit lena, sedikit lengah, tentu akan mendatangkan malapetaka. Apakah kau tahu betapa lihai ilmu silat Siau Mi-mi?"

"Justru lantaran aku tidak tahu betapa lihai ilmu silatnya, maka aku tidak berani melabraknya. Jika dia orang bodoh, betapa pun tinggi ilmu silatnya juga aku tidak takut, tapi dia, dia pada hakikatnya siluman."

"Ya, betapa tinggi ilmu silatnya mungkin jauh di atas perkiraanmu. Konon selama hidupnya dia mempunyai lebih 700 kekasih, di antaranya termasuk anak murid dari ketujuh aliran besar dunia persilatan, maka dapat dibayangkan kalau setiap kekasihnya mengajarkan sejurus saja padanya."

"Jika begitu, sebaiknya hati-hati sedikit, biarlah aku menyusup keluar sana untuk merapatkan tutup jamban itu."

"Nanti dulu," seru Kang Giok-long sambil menempelkan telinganya ke dinding, setelah mendengarkan sekian lama, tiba-tiba ia berseru pula dengan khawatir, "Wah, dia sudah kembali."

Siau-hi-ji juga menempelkan telinga ke dinding tanah, didengarnya permukaan tanah di atas memang betul ada kumandang suara, bermacam-macam suara.

Dapat dibayangkan, tentu Siau Mi-mi sedang berjingkrak-jingkrak marah-marah, tentu juga berteriak-teriak dan mencaci-maki.

Setelah mendengarkan sejenak, kemudian Siau-hi-ji berkata, "Tampaknya dia tidak dapat menerka ke mana lari kita."

"Sudah cukup lama kuperhitungkan bahwa dia pasti takkan menyangka aku bersembunyi di bawah tanah, dia tentu mengira aku sudah lolos keluar, cuma tutup jamban itu...."

"Kukira karena murkanya tentu dia tidak memperhatikan tutup jamban yang terbuka itu."

"Ya, semoga begitu hendaknya," kata Kang Giok-long. Setelah merandek sejenak, lalu ia menyambung pula, "Asalkan dia tidak menemukan kita, tentu dia takkan tinggal lama lagi di atas, semua orang sudah mati, buat apa dia tinggal lagi di situ."

"Betul, dia pasti akan pergi."

"Paling lama kita sembunyi setengah bulan di sini dan dia pasti sudah pergi. Tatkala mana kita boleh keluar dengan sesuka hati dan tidak perlu takut dikejar lagi olehnya."

"Kau tahu jalan keluar rahasia itu?"

"Di dunia ini tiada sesuatu rahasia yang dapat mengelabui setiap orang."

"Baiklah, biar kita menunggu setengah bulan di sini. Tinggal setengah bulan di bawah tanah juga sesuatu yang menarik dan tidak dapat dirahasiakan oleh setiap orang," kata Siau-hi-ji dengan tertawa. Lalu ia berbaring pula dan menambahkan dengan mengedip mata, "Hanya saja... maaf, aku belum dapat membuka Hiat-tomu."

"Meng... mengapa kau buat demikian?"

"Terpaksa, sebab tinggal bersama orang seperti kau ini, betapa pun aku tetap khawatir dan terpaksa harus berjaga segala kemungkinan. Oya, hampir lupa, ingin kuberitahukan padamu bahwa Hiat-to yang kututuk dengan cara khusus itu, kau sendiri tidak mungkin dapat membukanya."

Gua di bawah tanah ini mirip liang ular, Kang Giok-long juga seperti ular. Tidur bersama ular di liang ular pula, yang dapat pulas kiranya tidaklah banyak. Tapi Siau-hi-ji dapat tidur dengan nyenyak. Sebelumnya ia telah lalap sepotong sosis, beberapa potong wajik dan minum semangkuk arak. Habis itu tidurlah dia, nyenyak benar tidurnya dengan wajah kemerah-merahan.

Dengan sendirinya di dinding ada sebuah lekukan tempat lentera, cahaya lentera menyinari wajah Siau-hi-ji yang kemerahan itu. Mata Kang Giok-long juga sedang menatap muka yang merah itu. Diam-diam ia menghitung gerak napas Siau-hi-ji, sudah lebih empat ribu kali ia menghitung.

Pernapasan Siau-hi-ji ternyata sangat rata, ini menandakan tidurnya benar nyenyak. Kang Giok-long sudah memeriksa Hiat-to kedua kakinya, memang benar seperti ucapan setan cilik itu, entah dengan ilmu Tiam-hiat apa dia menutuknya sehingga sukar dipunahkan. Makanya sekarang pasti dia dapat tidur dengan lelapnya, sebab dia yakin Kang Giok-long pasti tidak berani mengganggunya, apa lagi membunuhnya.

Akan tetapi diam-diam Kang Giok-long mengulur juga tangannya. Siau-hi-ji masih tidur lelap, bahkan mulai mendengkur perlahan. Sambil mengawasi seteru itu, tangan Kang Giok-long terus menjulur ke depan dan suara dengkur Siau-hi-ji juga tambah keras.

Mendadak tangan Kang Giok-long yang terjulur itu mengambil sejilid buku, di tengah buku terselip sehelai lipatan kertas. Anak muda itu menghela napas lega dan cepat lipatan kertas itu diambilnya. Lalu perlahan ia menaruh kembali buku itu ke tempatnya semula, dengan hati-hati ia lipat kertas itu lebih kecil, setelah berpikir, semula berniat disusupkan ke dalam sepatu, tapi akhirnya disembunyikan dalam gelung rambutnya.

Mukanya yang pucat tadi kini bercahaya. Kemudian ia menghela napas lega dan memejamkan mata. Tidak lama ia pun terpulas.

Mendadak Siau-hi-ji membuka matanya, terbelalak lebar. Dipandangnya wajah Kang Giok-long yang pucat itu, sorot matanya menampilkan sikap menghina dan mengejek seakan-akan hendak berkata, "Hm, masakan kau dapat mengelabui aku, apa pun yang kau lakukan tak mungkin mengakali aku."

Napas Kang Giok-long juga sangat rata dan halus. Perlahan Siau-hi-ji berdiri, tangannya bergerak naik-turun belasan kali di depan hidung Kang Giok-long, tapi anak muda itu tetap pulas, sedikit pun tidak merasakan apa-apa. Rupanya rase cilik ini teramat lelah sehingga benar-benar sudah tertidur.

Dengan hati-hati Siau-hi-ji menggunakan dua jarinya hendak mengorek gelung rambut Kang Giok-long, tapi sebelum menyentuh rambut orang, sekonyong-konyong jarinya berganti arah dan menutuk ke Hiat-to "menidurkan" di bagian dahi.

Pada saat itulah tiba-tiba Kang Giok-long yang tertidur itu menghela napas dan berkata, "Kalau mau ambil saja, buat apa mesti menutuk Hiat-toku pula?"

Melengak juga Siau-hi-ji, segera ia tertawa dan berkata, "Haha, kiranya kau pun tidak tidur."

"Tinggal bersama orang seperti engkau mana aku bisa tidur?" ucap Kang Giok-long dengan menyeringai.

"Tapi kepandaianmu berpura-pura tidur sungguh hebat, sampai aku pun tertipu."

"Sama-sama, setali tiga uang."

"Bagus, bagus!" seru Siau-hi-ji sambil tertawa terbahak-bahak. "Eh, barang apakah yang kau selipkan di rambutmu, bolehkah kulihat?"

"Apakah mungkin aku menolak?" dengan terpaksa Kang Giok-long mengeluarkan lipatan kertas yang disembunyikan tadi. Padahal lipatan kertas itu sangat bernilai baginya, tapi kini harus diserahkannya kepada Siau-hi-ji. Menghadapi sesuatu yang tak dapat dilawannya selamanya ia pun tidak suka melakukan perlawanan.

Setelah melemparkan lipatan kertas itu kepada Siau-hi-ji, ia menghela napas sambil menengadah, "Ai, barangkali leluhurku berdosa besar, makanya aku ditakdirkan bertemu dengan dirimu."

Siau-hi-ji benar-benar sangat tertarik dan ingin tahu kertas itu mengandung rahasia apa, ia percaya kalau Kang Giok-long sedemikian menghargai rahasia itu, maka rahasia itu tentu luar biasa. Karena itu hatinya agak berdebar juga waktu membentang lipatan kertas itu.

Akan tetapi baru memandang sekejap saja... benar-benar cuma pandang sekejap saja, mendadak ia tertawa terpingkal-pingkal.

Keruan mata Kang Giok-long mendelik, katanya, "Kau sangat gembira bukan?"

"Ya, aku sangat gembira," jawab Siau-hi-ji.

"Kau dapat melihat rahasia ini, pantas kalau kau gembira," ucap Kang Giok-long dengan geregetan. "Sebab selama hidupmu tidak mungkin dapat melihat sesuatu benda yang lebih berharga daripada kertas ini."

"Ya, ya, kertas ini memang sangat berharga," kata Siau-hi-ji, mendadak kertas itu dirobeknya hingga hancur.

Mungkin selama hidup Kang Giok-long tidak pernah terkejut sehebat sekarang ini. Mukanya berubah pucat sekali, katanya dengan gemetar, "Kau... kau... apa-apaan ini?"

"Kukira leluhurmu banyak berbuat bijak sehingga kau ditakdirkan bertemu dengan aku," kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Sebab apa? Tahukah kau betapa nilai kertas ini?" tanya Kang Giok-long dengan suara serak.

"Sudah tentu kutahu," jawab Siau-hi-ji dengan adem ayem saja.

"Sudah tahu mengapa kau merobeknya? Memangnya kau gila?"

"Haha, bukan saja kutahu, bahkan sudah pernah melihatnya... sebab aku sendiri pun pernah memiliki sehelai."

Kang Giok-long melengak dan menegas, "Kau... kau sendiri pun pernah memiliki sehelai? Sehelai kertas serupa ini?"

"Ya, bahkan aku sudah pernah mengunjungi tempat harta karun yang dimaksud itu."

Kiranya kertas lipatan Kang Giok-long tadi serupa dengan kertas pemberian Thi Sim-lan kepada Siau-hi-ji tempo hari, yaitu peta harta karun yang telah banyak makan korban jiwa manusia itu.

Dengan sendirinya Kang Giok-long tidak tahu liku-liku itu, ia melenggong mendengarkan ucapan Siau-hi-ji tadi, ia menegas pula, "Kau... kau pernah mendatangi tempat harta itu? Engkau tidak berdusta?"

"Untuk apa kudusta?"

Tiba-tiba napas Kang Giok-long tersengal-sengal, katanya, "Jadi... jadi harta karun itu sudah jatuh di tanganmu? Kau simpan di mana sekarang?"

Sorot mata Siau-hi-ji gemerlap, jawabnya, "Beritahu dulu padaku dari mana kau mendapatkan peta harta karun itu, sesudah barulah kuceritakan padamu."

"Setelah kukatakan, engkau benar-benar akan memberitahukan juga padaku?" tanya Giok-long sambil meremas-remas tangan sendiri.

"Ya, jika aku tidak menepati janji, anggaplah aku ini kura-kura," jawab Siau-hi-ji.

"Peta pusaka ini kucuri dari kamar tulis ayahku."

"Dari mana pula ayahmu memperoleh peta ini?"

"Entah, aku tidak tahu, sungguh!"

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian, "Ya, kabarnya ayahmu juga seorang tokoh ternama, bisa jadi peta ini adalah pemberian orang lain. Sungguh tak disangka beliau mempunyai seorang putra baik, sampai barang ayah sendiri juga dicurinya. Putra baik demikian sungguh tidak banyak."

Sedikit pun muka Kang Giok-long tidak menjadi merah, bahkan ia menambahkan, "Itu belum apa-apa, aku...."

"Demi harta karun ini, mungkin ayah pun tidak kau akui pula," tukas Siau-hi-ji. "Lalu kau minggat dari rumah dan pergi hingga sampai di Go-bi-san, tak tahunya kau malah jatuh ke dalam cengkeraman Siau Mi-mi."

"Ya, agaknya memang nasibku lagi sial hingga kepergok olehnya, kalau tidak...."

"Untung kepergok dia, kalau tidak saat ini mungkin kau sudah mampus."

"Sebab apa?" tanya Giok-long.

"Untung juga ayahmu mempunyai anak mestika kesayangan seperti dirimu, kalau tidak beliau pasti juga akan tertipu."

"Tertipu?" Giok-long menegas dengan heran.

"Bicara terus terang, peta pusaka ini pada hakikatnya palsu belaka, satu peser pun tidak berharga. Orang yang menciptakan peta pusaka ini hanya bertujuan mengadu domba orang-orang yang serakah dan ingin mencari harta karun itu, supaya mereka saling bunuh membunuh."

Kang Giok-long benar-benar melenggong, sampai lama barulah dia bertanya pula, "Siapakah orang itu?"

"Aku pun tidak tahu siapa dia, tapi aku pasti akan menemukan dia," ucap Siau-hi-ji dengan gemas. "Tujuanku bukan untuk membela siapa-siapa, soalnya dia juga telah menipuku, maka aku harus membalasnya dengan setimpal."

"Pantas kau tanya dari mana kuperoleh peta ini, pantas aku...."

Belum habis ucapannya tiba-tiba terdengar suara seruan orang berkumandang dari lorong sana, itulah suara Siau Mi-mi yang sedang memanggil mereka, "Kang Giok-long... Kang Siau-hi-ji... apakah kalian berdua telur busuk kecil berada di bawah?"

Ketakutan juga Siau-hi-ji dan Kang Giok-long sehingga kaki dan tangan terasa dingin.

"Tiada gunanya kalian tidak bersuara, aku sudah tahu kalian berada di bawah situ!" seru Siau Mi-mi pula sambil mengikik tawa.

"Mungkin... mungkin dia cuma menggertak saja," ujar Kang Giok-long.

"Tidak, saat ini dia berteriak ke dalam jamban, kalau tidak kita takkan mendengar suaranya."

"Ai, gara-gara tutup jamban itu.... Sudah kuduga tutup jamban itu pasti akan mendatangkan penyakit."

"Perempuan itu sungguh lihai...." ucap Siau-hi-ji dengan gegetun.

Dalam pada itu terdengar Siau Mi-mi berseru pula, "Kang Giok-long, sungguh anak berbakat istimewa sehingga mampu timbul pikiran untuk sembunyi di dalam jamban. Memangnya kau tidak takut bau?"

"Dengarkan, ia pun bilang kau berbakat istimewa," kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

"Kau... engkau masih bisa tertawa?"

"Mengapa aku tidak bisa tertawa?"

"Kau... engkau tidak takut padanya?"

"Biar pun dia sangat lihai, asalkan kita tunggu saja di sini, beranikah dia masuk ke sini? Menurut wataknya, kukira ia pun tak betah berjaga di luar sana."

"Ya, betul juga. Dia berada di tempat terang dan kita berada di tempat gelap, dia pasti tidak berani mengambil risiko ini. Seumpama dia tunggu di luar, tentu juga tidak betah tunggu terlalu lama, maka kita akan ada kesempatan untuk lolos keluar."

Sementara itu suara Siau Mi-mi lagi berteriak, "Kedua telur busuk kecil, ayolah lekas keluar!"

"Kau sendiri telur busuk tua, masuklah kemari!" mendadak Siau-hi-ji balas berteriak.

"Kalian tidak mau keluar?"

"Mengapa tidak kau saja yang masuk ke sini?"

Siau Mi-mi terkekeh-kekeh, serunya, "Jadi kalian lebih suka mati oleh bau busuk di bawah situ?"

Siau-hi-ji bergelak tertawa, jawabnya, "Jangan khawatir, kami takkan mati oleh bau busuk, di sini sangat nyaman, ada sosis, ada arak, maukah kau turun kemari untuk minum bersamaku?"

"Kalian tidak takut bau, aku takut," ujar Siau Mi-mi. Setelah merandek sejenak, lalu ia menambahkan, "Apa lagi aku pun tidak berharap kalian akan keluar."

"Betulkah begitu?" makin keras suara Siau-hi-ji.

"Bila kalian keluar, sekali aku mengamuk, bisa jadi kusembelih kalian, jika demikian kematian kalian menjadi terlalu enak, aku justru akan membuat kalian mati perlahan, sedikit demi sedikit."

Siau-hi-ji tetap tertawa, teriaknya, "Apakah kau mampu membuat kami...." Belum habis ucapannya, seketika ia tidak sanggup tertawa lagi.

"Telur busuk kecil, ayolah tertawa lagi, mengapa tidak tertawa?" terdengar suara Siau Mi-mi berolok-olok.

Air muka Kang Giok-long juga berubah pucat, keduanya berteriak berbareng, "Nona Siau... Bibi Siau...." tapi tiada terdengar sesuatu suara lagi dari lorong sana.

Giok-long saling pandang dengan Siau-hi-ji, keduanya sama-sama pucat. Segera terdengar suara gemuruh, menyusul lantas suara gemertak keras tak henti-hentinya.

"Habis sudah, tamat semuanya!" ucap Kang Giok-long dengan gemetar. Ia tahu lubang jamban sudah rusak dan disumbat oleh Siau Mi-mi.

"Keji, hati perempuan sungguh keji, memang sudah kuduga akan tindakannya ini," kata Siau -hi-ji.

"Sekarang tidak diperlukan sesuatu tutup lagi...." ujar Kang Giok-long dengan menyengir.

Tapi mendadak semangat Siau-hi-ji bangkit kembali, serunya, "Meski lubang di atas telah disumbat, kita masih dapat menggali jalan keluar lain?"

"Tidak mungkin," ucap Giok-long. "Ketika membangun tempat ini dahulu, untuk menjaga kelembapan, seluruh permukaan lantai telah dilandasi dengan balok batu yang tebal."

Siau-hi-ji termenung sejenak, kemudian ia membuka Hiat-to Kang Giok-long yang ditutuknya itu, katanya dengan tersenyum getir, "Kukira kau toh takkan mengincar diriku lagi."

"Setengah bulan... hanya setengah bulan saja kita akan mati kelaparan di sini," kata Kang Giok-long dengan kaku dan murung.

"Semangat sedikit, jangan sedih, paling tidak kita masih dapat hidup setengah bulan. Aku memang sudah pernah mati beberapa kali, waktu setengah bulan ini boleh dikatakan hidup ekstra," demikian Siau-hi-ji malah menghibur Kang Giok-long dengan menepuk bahunya sambil tergelak tertawa, tapi tertawa yang sumbang.

Mungkin sudah dua-tiga jam Kang Giok-long duduk termenung tanpa bergerak, entah apa yang sedang dipikirkannya, Siau-hi-ji telah membuka guci arak dan sudah sembilan kali memanggilnya, dan dia tetap tidak mendengarnya.

Maka Siau-hi-ji lantas minum arak sendirian. Meneguk sekali tertawa sekali, teguk lagi dan menarik napas panjang, lalu bergumam sendiri, "Seorang kalau tahu ajalnya sudah tiba dan tidak mau minum arak, maka orang itu pasti tolol."

Kang Giok-long hanya menarik napas tanpa menanggapinya.

"Kau takut mati? Saking takutnya hingga tidak mau bicara lagi?" tanya Siau-hi-ji.

"Ya, benar, aku takut mati," jawab Kang Giok-long dengan ketus.

Siau-hi-ji meneguk araknya lagi, lalu berkata, "Memangnya kau sangka aku tidak takut mati?" Mendadak ia bergelak tertawa dan menyambung lagi, "Hahaha, aku pun takut mati, orang yang tidak takut mati pasti orang tolol atau mungkin orang gila. Tapi kalau sudah jelas mesti mati, lalu apa dayamu?"

Sambil menenggak araknya semangkuk demi semangkuk, Siau-hi-ji mengoceh pula dengan tertawa, "Kutahu bagaimana perasaanmu sekarang, bagaimana rasanya orang menghadapi ajalnya, sudah beberapa kali kurasakan, akan tetapi aku tidak jadi mati? Aku pernah kelelap, pernah terbakar, pernah keracunan, pernah terjatuh, semuanya tidak jadi mematikan aku, tak terduga aku harus mati kelaparan. Cara mati demikian tidak pernah kubayangkan, kukira pasti sangat menarik, sangat bagus."

Memandangi Siau-hi-ji yang terus-menerus minum arak itu, muka Kang Giok-long yang pucat jadi kehijau-hijauan saking dongkolnya.

"Satu-satunya penyesalan adalah kita mati terlalu dini, mati terlalu muda," demikian Siau-hi-ji bergumam pula. "Kini aku benar-benar agak menyesal, tadi mestinya aku main cinta dulu dengan Siau Mi-mi. Ai, pemuda tidak main cinta, sia-sia menjadi manusia...." Tiba-tiba ia bangkit, dengan langkah sempoyongan ia hendak mengambil sisa sosis pula.

"Kau mabuk," ucap Giok-long dengan dingin.

"Paling baik kalau mati mabuk, setan mabuk lebih baik daripada setan kelaparan...."

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, mendadak Kang Giok-long melompat maju, telapak tangannya terus memotong kuduknya. Gerakannya ringan serangannya cepat, sekaligus ia hendak membinasakan Siau-hi-ji.

Tapi ketika melihat cahaya lentera bergoyang, mendadak Siau-hi-ji membalik tubuh sehingga tepat sempat menangkis serangan Kang Giok-long itu. Kedua orang sama-sama tergetar mundur dan bersandar pada dinding tanah.

"Kau... kau ingin membunuhku?" tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

"Mengapa aku tidak membunuhmu?" jengek Giok-long.

"Dalam keadaan begini kau masih ingin membunuhku?"

"Betul, sedikit pun tidak salah."

"Kita toh bakal mati semua, mengapa kau...."

"Ransum yang tersedia di sini mestinya cukup untuk sebulan, karena ketambahan dirimu, jadinya cuma cukup untuk setengah bulan saja. Setelah kubunuhmu tentu aku dapat hidup lebih lama setengah bulan."

"Hanya karena alasan ini? Hanya untuk hidup lebih lama setengah bulan?" Siau-hi-ji menegas.

"Memangnya kenapa? Setengah bukan kan cukup lama? Bisa hidup lebih lama satu hari kan juga lebih baik?"

"Demi untuk hidup lebih lama satu hari kau pun akan membunuhku.?"

"Jelas, demi hidup lebih lama satu jam juga dapat kubunuh dirimu."

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 32"

Post a Comment