Pendekar Binal Jilid 11

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
Siau-hi-ji berkedip-kedip, katanya, “Bisa jadi Kang Khim juga salah seorang musuhku.”

“Ehm....” Ban Jun-liu tidak memberi komentar lagi.

“Lalu orang itu memberitahukan pula padaku tentang diri Yan-pepek (paman Yan), ingin kutanya sebenarnya siapakah dia, tak tahunya mendadak ia menghilang pergi seperti embusan angin.”

“Ya, kutahu... kutahu....” kata Ban Jun-liu dengan gegetun.

“Malam itu sangat gelap, aku cuma tahu dia memakai jubah hitam, kepalanya juga memakai cadar hitam, hanya kelihatan kedua matanya yang besar dan bercahaya dan juga menakutkan... sepasang mata bola itu sampai kini pun belum kulupakan.”

“Selanjutnya apakah kau masih mengenali sepasang mata itu?”

“Pasti dapat kukenali lagi,” jawab Siau-hi-ji mantap.

“Sepasang mata itu bukan milik orang di Ok-jin-kok ini?”

“Bukan, pasti bukan,” jawab Siau-hi-ji. “Kukenal semua mata di lembah ini, tiada mata seterang mata orang itu. Mata To Kiau-kiau juga terang, tapi kalau dibandingkan dia boleh dikatakan seperti orang buta melek.”

“Ai, orang itu mampu pergi-datang dengan bebas di Ok-jin-kok ini, malahan juga mengetahui rahasia sebanyak itu, siapakah gerangannya? Sungguh sukar ditebak,” ucap Ban Jun-liu.

“Tentunya dia seorang yang berilmu silat sangat tinggi,” kata Siau-hi-ji.

“Dengan sendirinya,” ujar Ban Jun-liu. “Orang yang mampu pergi-datang sesukanya menerobos Ok-jin-kok ini, selain Yan-pepekmu sungguh aku tidak ingat masih ada berapa orang?”

“Masakah tiada orang lain lagi?” tanya Siau-hi-ji.

“Kalau masih ada, maka mereka adalah kedua Kiongcu (putri) dari Ih-hoa-kiong, tapi jelas orang itu suruh kau menuntut balas pada orang Ih-hoa-kiong, mana mungkin dia adalah salah satu dari kedua Kiongcu itu?”

“Aha, ingatlah aku sekarang!” mendadak Siau-hi-ji berseru sambil keplok.

“Kau ingat apa?” tanya Ban Jun-liu cepat.

“Orang itu adalah perempuan,” jawab Siau-hi-ji.

“Perempuan?” tergerak hati Ban Jun-liu.

“Ehm, meski dia memakai kain selubung kepala, bahkan sengaja membikin kasar suaranya, tapi melihat gerak-geriknya kuyakin dia pasti seorang perempuan.”

“Gerak-gerik bagaimana?” tanya si tabib.

“Umpamanya... meski dia pakai cadar, tapi terkadang secara tidak sengaja ia suka membelai rambutnya. Selain itu ketika dia memondong aku, dia tidak mau menempelkan tubuhku ke dadanya....”

“Ai, keterangan ini mengapa tidak kau ceritakan sejak dahulu?”

Muka Siau-hi-ji menjadi merah, jawabnya dengan tertawa, “Dahulu aku sama sekali tidak... tidak pernah memperhatikan perbedaan antara lelaki dan perempuan.”

Ban Jun-liu melengak, tapi ia lantas berkata dengan menyengir, “Ya, betul juga, dahulu kau hanya seorang anak kecil, dalam pandangan anak kecil manusia itu hanya ada perbedaan antara orang tua dan anak kecil tanpa ada perbedaan antara lelaki dan perempuan.”

“Apa lagi dalam hidupku juga belum pernah melihat bagaimana bentuk potongan perempuan yang sebenarnya, di Ok-jin-kok ini pada hakikatnya hanya terdapat setengah potong perempuan,” kata Siau-hi-ji.

Ban Jun-liu bergumam pula, “Dahulu kukira orang itu mungkin adalah Lam-thian-tayhiap Loh Tiong-tat yang paling suka ikut campur urusan tetek bengek itu. Tapi kau bilang dia seorang perempuan, maka dugaanku itu menjadi meleset.”

“Di dunia Kangouw, masih adakah perempuan lain yang berilmu silat tinggi kecuali kedua Kiongcu dari Ih-hoa-kiong, apakah paman Ban tahu?”

“Jarang ada, selain Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu dari Ih-hoa-kiong, sungguh aku tidak ingat lagi perempuan mana yang mampu pergi-datang dengan bebas di Ok-jin-kok.”

“Tapi harus ada seorang yang mampu berbuat begitu,” kata Siau-hi-ji. “Pertama, orang itu kenal ayahku dan juga kenal paman Yan. Kedua, orang ini tahu dengan jelas sebab-musabab kematian ayahku.”

“Kukira begitulah,” tukas Ban Jun-liu.

“Dan ketiga orang ini tidak hanya mengetahui seluk-beluk dendam kesumat keluargaku, bahkan sangat menaruh perhatian. Keempat, ilmu silat orang ini sangat tinggi. Kelima, orang tentu juga tidak suka pada Ih-hoa-kiong. Keenam, mata orang ini besar lagi terang, sama sekali berbeda daripada mata orang umumnya....”

“Sungguh tidak nyana anak semuda dirimu sudah sedemikian cermat cara memecahkan persoalan,” ujar Ban Jun-liu dengan gegetun.

“Berdasar keenam ciri tersebut, aku pasti dapat menemukan dia,” kata Siau-hi-ji dengan mantap.

“Ya, semoga demikian hendaknya,” tukas Jun-liu.

“Tapi untuk menemukan dia, pertama aku harus... harus keluar dari Ok-jin-kok ini,” kata Siau-hi-ji pula. “Dan bilakah aku baru dapat pergi dari sini? Bilakah mereka mau melepaskan kepergianku?”

“Ya, hal ini sukar untuk dikatakan,” ujar Ban Jun-liu. “Semoga....”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar ada orang berseru, “Tabib Ban, apakah Siau-hi-ji berada di sini?”

Cepat Ban Jun-liu mendesis kepada Siau-hi-ji, “Itu dia To Kiau-kiau mencarimu, lekas keluar!”

Dan setelah meninggalkan klinik itu, sikap kedua lantas berubah lagi, Ban Jun-liu kembali kepada sikap “tabib sakti” yang dingin dan tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, sedangkan Siau-hi-ji kembali pada si anak binal yang jail itu.

Tertampak To Kiau-kiau sedang bersandar di pintu, katanya dengan tertawa genit, ketika Siau-hi-ji muncul bersama Ban Jun-liu, “He, kalian sedang berbuat apa di situ?”

“Kami sedang berunding cara mengerjaimu,” ucap Siau-hi-ji dengan wajah membadut.

“Ai, setan cilik,” omel Kiau-kiau dengan tertawa. “Jika kalian lagi berunding tentang cara mengganggu orang, seharusnya kalian berusaha membuat semacam obat paling busuk untuk membikin kapok si Li Toa-jui, masakah aku yang menjadi sasaran gangguanmu?”

“Paman Li teramat mudah terjebak, tiada artinya mengganggu dia lagi” ucap Siau-hi-ji sambil tertawa

“Wah, coba dengar, betapa besar nada perkataanmu ini,” kata Kiau-kiau. “Awas kalau kau dicaplok Li Toa-jui.”

“Apakah kedatanganmu ini hanya untuk bercanda dengan Siau-hi-ji?” tegur Ban Jun-liu dengan ketus.

“Ai, tampaknya tabib kita menjadi marah,” kata Kiau-kiau.

“Ya, sebenarnya ada urusan apa bibi To mencari diriku?” tanya Siau-hi-ji.

“Ingin kusampaikan sesuatu berita baik bagimu,” kata Kiau-kiau sambil tertawa.

“Berita baik apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Paman tertawa telah menyiapkan beberapa jenis santapan lezat, Li Toa-jui mengadakan satu guci arak dan aku... aku memasakkan satu panci Ang-sio-bak, malam ini kami hendak menjamu kau.”

Mata Siau-hi-ji berkedip, tanyanya, “Sebab apa?”

“Setelah makan tentu kau akan tahu,” jawab Kiau-kiau.

Siau-hi-ji menggeleng, katanya dengan tertawa, “Kalau bibi To tidak menjelaskan sebab-musababnya, maka jamuan itu tak berani kumakan, sebab bisa jadi jamuan itu akan membuat perutku mules dan tiga hari tidak sanggup turun dari tempat tidur.”

“Setan cilik, mengapa begitu besar rasa curigamu?” omel Kiau-kiau.

“Ini kan kubelajar dari bibi sendiri,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Baik, kuberitahukan, sebabnya kami menjamu dirimu adalah untuk memberi selamat jalan padamu.”

Siau-hi-ji terperanjat. “Memberi selamat jalan pada padaku?” tanpa terasa ia menegas.

“Hihi, setan cilik, sekali ini tidak pernah terpikir olehmu bukan?”

“Sebab apa memberi selamat... selamat jalan padaku?”

“Sebab malam ini juga kau harus berangkat!”

Mulut Siau-hi-ji ternganga dan mata terbelalak, katanya kemudian, “Malam ini juga aku harus berangkat? Ke... ke mana?”

“Ke luar sana! Dunia luar sana sedemikian luas, masakah kau tidak ingin pergi melihatnya?” ujar Kiau-kiau.

“Aku... aku....” Siau-hi-ji meraba-raba kepalanya sendiri yang tidak gatal.

“Apa lagi usiamu juga sudah cukup, perlu juga kau pergi mencari seorang bini....” kata Kiau-kiau pula sambil mengikik. “Ai, setan cilik seperti dirimu, di luar sana entah betapa banyak anak perempuan akan tergila-gila padamu,” Ia tarik tangan Siau-hi-ji lalu berucap pula dengan tertawa, “Eh, tabib Ban,” apakah kau takkan ikut memberi selamat jalan pada Siau-hi-ji?”

Ban Jun-liu berdiri mematung dan bungkam sekian lama, akhirnya ia berkata dengan dingin, “Maaf, waktuku yang berharga takkan kubuang untuk urusan tetek-bengek begitu.... Silakan kalian pergi saja.” Lalu ia membalik tubuh dan masuk ke rumah.

“Huh, otak orang ini cuma berkecamuk di dunianya mengenai akar-akaran busuk, lebih dari itu dia tidak mau tahu sama sekali, seumpama bapaknya mau pergi juga dia takkan memberi selamat jalan,” demikian omel Kiau-kiau.

“Jangan pedulikan dia, marilah kita pergi makan minum, sudah lama aku tidak minum arak,” kata Siau-hi-ji.

“Sudah berapa lama?” kata Kiau-kiau.

“Lama sekali, sedikitnya hampir setengah hari,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

Di sana perjamuan memang sudah disiapkan. Dua guci arak dalam waktu singkat sudah habis. Muka Li Toa-jui semakin merah, wajah Toh-Sat bertambah pucat, sedangkan Ha-ha-ji semakin banyak minum semakin lantang suara tertawanya.Adapun To Kiau-kiau semakin banyak minum semakin mirip perempuan.

Hanya Siau-hi-ji saja secawan demi secawan masih terus minum, air mukanya tidak berubah sedikit pun.

“Haha, kekuatan minum arak Siau-hi-ji sungguh hebat, minum arak dianggapnya seperti minum air saja,” kata Ha-ha-ji.

“Kalau minum air aku takkan minum sebanyak ini,” sahut Siau-hi-ji

“Hm, minum arak juga bukan sesuatu yang baik, tiada harganya untuk dipuji,” jengek Im Kiu-yu.

“Setan tentu saja tidak minum arak, tapi manusia, setiap manusia kudu bisa minum satu-dua cawan....” ujar Kiau-kiau dengan tertawa. “Wahai, Siau-hi-ji, apakah kau tahu, kecuali suatu hal, perbuatan busuk lainnya boleh dikatakan kau sudah paham seluruhnya.”

“Perbuatan busuk apa?!” seru Li Toa-jui gusar. “Lebih tepat dikatakan perbuatan baik! Orang hidup di dunia ini kalau tidak belajar perbuatan-perbuatan baik ini boleh dikatakan hidup secara sia-sia saja.”

Sementara itu Siau-hi-ji lagi berkedip dan berpikir, tanyanya kemudian, “Hal apa yang belum kupahami, bibi To?”

To Kiau-kiau terkikik-kikik, katanya, “Hal ini, hihihi.... Selang satu atau setengah tahun lagi, tanpa diajar juga kau akan mahir dengan sendirinya.... Hihi, melihat tampangmu ini, untuk belajar hal ini tentu jauh lebih cepat daripada orang lain.”

“Se... sesungguhnya urusan apakah ini?” tanya Siau-hi-ji.

“Setan cilik, kau benar-benar tidak paham atau pura-pura tidak paham?” tanya Kiau-kiau.

“Pura-pura,” sahut Siau-hi-ji dengan tertawa.

Li Toa-jui terbahak-bahak, katanya, “Hahaha! Jika kau pura-pura tidak paham, maka kau perlu tahu bahwa hal ini harus dilakukan dua orang bersama, tapi bagi bibi To cukup tutup pintu kamar dan dapatlah dia lakukan sendirian.”

Habis berkata, dengan gembira ia angkat cawan araknya hendak menenggak pula. Mendadak “tring”, cawannya pecah berantakan, Im Kiu-yu mendengus, “Araknya tidak boleh diminum lagi!”

“Sebab apa?” teriak Li Toa-jui dengan gusar. “Berdasarkan apa kau hancurkan cawan arakku?”

“Kalau kita minum lagi, keberangkatan Siau-hi-ji akan gagal,” ujar Im Kiu-yu.

Mata Li Toa-jui mendelik, setelah melotot sekian lamanya, mendadak sebelah kakinya mendepak, kontan sebuah guci kosong mencelat dan jatuh hancur, dengan menggreget ia berkata, “Pada suatu hari kelak pasti akan kucekokimu beberapa guci arak agar kau menjadi setan pemabukan.”

Siau-hi-ji memandang para paman dan mamak itu dengan tertawa, tiba-tiba ia bertanya, “Para paman buru-buru hendak mengusir kupergi, sebenarnya apa sebabnya?”

“Setan cilik, suka curiga, memangnya siapa yang buru-buru ingin mengusirmu?” sahut To Kiau-kiau.

“Ah, kalian tidak omong juga aku tahu,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau tahu? Kau tahu apa? Coba katakan,” ucap Kiau-kiau.

“Soalnya Siau-hi-ji makin lama makin menjadi busuk dan binal, sedemikian binal sehingga membikin pusing para paman. Sebab itulah kalian buru-buru ingin memberangkatkan diriku agar aku dapat mencelakai orang lain.”

“Hihi, apa pun juga, yang pasti ucapanmu terakhir itu memang tepat,” ujar Kiau-kiau dengan tertawa.

“Baiklah, kalian ingin kupergi, boleh. Kalian ingin kucelakai orang lain juga oke. Tapi semua ini adalah untuk kalian, bagiku apa manfaatnya? Betapa pun kalian juga mesti memberikan sedikit kebaikan padaku.”

“Haha, permintaan yang bagus, permintaan yang tepat!” seru Ha-ha-ji. “Kau sanggup omong begitu, tidak percumalah kami mengajarmu selama ini.... Memang, kalau tiada manfaatnya, biar pun ayahku sendiri menyuruh aku juga takkan kulakukan, apa lagi para paman dan mamak.”

“Tepat,” sorak Siau-hi-ji sambil keplok tertawa, “ucapan paman tertawa benar-benar mengenai lubuk hatiku.”

“Jangan khawatir, tentu kami akan memberikan barang-barang baik padamu,” kata Li Toa-jui.

“Barang apa? Perlihatkan dulu padaku,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa. “Harus kulihat dulu barangnya baik atau tidak, suka atau tidak. Jika tidak cocok bagiku, betapa pun aku tetap ngendon di sini dan tak mau pergi.”

“Setan cilik, kau memang rewel,” omel Kiau-kiau sambil tertawa genit. “Baiklah, perlihatkan padanya, Toh-lotoa!”

Toh Sat lantas mengeluarkan sebuah ransel, isinya adalah sepotong baju sutera warna hijau, sebuah mantel warna merah, sebuah kopiah bersulam ikan emas dan sepasang sepatu kulit yang halus dan lemas.

Serentak Siau-hi-ji berdandan, sambil menghadapi cermin tembaga, katanya dengan tertawa, “Pakaian ini tidak seberapa hebat, tapi setelah kukenakan lantas berubah cakap luar biasa.”

“Huh, memuji dirinya sendiri, tidak malu?” Kiau-kiau berseloroh.

“Kalau aku tidak menjunjung diriku sendiri, siapa lagi yang akan memuji diriku?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Haha, betul juga ucapanmu, masuk akal!” seru Ha-ha-ji.

“Dan apa lagi?” tanya Siau-hi-ji.

Ini... lihatlah!” kata Kiau-kiau. Dia membuka suatu bungkusan lain, isinya ternyata satu tumpuk kertas emas. Mungkin tidak seberapa banyak manusia di dunia ini yang pernah melihat emas murni sebanyak ini.

Tapi Siau-hi-ji justru berkerut kening, katanya, “Ah, terhitung benda baik apakah ini? Lapar, tidak dapat dimakan, dahaga, tidak dapat diminum dibawa dalam saku juga berat.... Aku tidak mau barang ini.”

“Anak tolol,” omel Kiau-kiau dengan tertawa. “Benda ini meski tidak menarik, tapi siapa saja yang memilikinya, ingin membeli barang apa pun pasti terkabul. Untuk memilikinya, tidak sedikit manusia di dunia ini saling baku hantam memperebutkannya, tapi kau malah menolaknya!”

“Tidak, aku tidak mau, aku bukan orang tolol macam begitu,” kata Siau-hi-ji.

Sambil mencomot sepotong kecil kertas emas itu, Li Toa-jui berkata dengan tertawa, “Apakah kau tahu bahwa dengan sepotong kecil benda ini sedikitnya dapat membeli tiga perangkat pakaian seperti yang kau pakai sekarang, untuk biaya hidup keluarga biasa sedikitnya cukup untuk dua tahun lamanya.”

“Haha, bukankah kau suka pada kuda?” ujar Ha-ha-ji. “Nah, hanya dengan sepotong kecil benda ini pun cukup untuk membeli seekor kuda Tibet yang paling bagus. Kalau benda ini tidak baik, maka tiada barang lain lagi yang lebih baik di dunia ini.”

Siau-hi-ji menghela napas, katanya, “Baiklah, sedemikian tinggi kalian menilainya, biarlah kuterima. Tapi selain ini masih ada barang apa lagi?”

“Ai, setan cilik, masakah belum cukup?” omel Kiau-kiau. “Selama ini milik kami sudah bersih kau kuras, mana ada sisanya lagi?”

Siau-hi-ji termenung sejenak, kemudian diangkatnya ransel tadi, berbangkit terus bertindak pergi.

“He, he! Kau mau apa?” seru Li Toa-jui.

“Mau apa...? Berangkat kan!” sahut Siau-hi-ji.

“Berangkat dengan begitu saja?”

“Habis mau tunggu apa lagi? Arak tidak boleh minum pula, barang juga tidak ada lagi....”

“Kau hendak pergi ke mana?” tanya Li Toa-jui.

“Sekeluarnya lembah ini, langsung aku menuju ke tenggara sana, sampai ke mana aku pun tidak tahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Apa yang hendak kau lakukan nanti?” tanya Li Toa-jui pula.

“Tidak melakukan apa-apa, jika ketemu yang cocok, aku lantas minum arak bersama dia, kalau tidak cocok, aku lantas menggoda dia agar dia kapok dan serba konyol.”

“Hahaha, bagus, bagus! Jadi manusia harus begitu barulah ada artinya,” seru Ha-ha-ji sambil keplok.

“Dan kau akan... akan pulang lagi ke sini tidak?” tiba-tiba Toh Sat bertanya.

“Kalau orang di luar sana sudah kuganggu seluruhnya, selekasnya aku akan pulang ke sini, sekembalinya nanti akan kuganggu kalian lagi,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Haha, bagus!” seru Ha-ha-ji. “Bila orang-orang di luar sana benar-benar kau ganggu hingga serba konyol, maka kami akan sambut pulangmu dengan gembira dan rela diganggu olehmu.”

“Baiklah, sampai bertemu, selekasnya aku kembali!” seru Siau-hi-ji sambil melambaikan tangan. Dia benar-benar lantas berangkat, berangkat tanpa menoleh lagi.

Toh Sat mengantarnya keluar pintu, katanya dengan perlahan, “Tega benar hati anak ini.”

“Kita justru berharap dia berhati tega, haha, makin keras hatinya makin bagus!” ujar Ha-ha-ji.

“Sudah terlalu lama dunia Kangouw aman tenteram, sudah saatnya kini diaduk oleh orang macam dia ini,” ucap To Kiau-kiau. “Cuma sayang, kita tidak dapat menyaksikan sendiri.”

Begitulah dengan dandanannya yang serba baru sambil memanggul ranselnya, Siau-hi-ji menyusuri jalanan batu itu, sepatu kulitnya yang baru itu menimbulkan suara berkelotak dan terdengar jelas di malam sunyi.

Sembari berjalan Siau-hi-ji sengaja berteriak-teriak, “Wahai, kawan-kawan, Siau-hi-ji akan berangkat sekarang, selanjutnya kalian dapatlah tidur dengan nyenyak dan aman.”

Rumah-rumah di kedua tepi jalan serentak ramai, ada yang membuka jendela, ada yang membuka pintu, tiap-tiap kepala sama menongol keluar mengikuti kepergian Siau-hi-ji.

“He, kulakukan perbuatan sebaik ini, mengapa kalian tidak lekas bersorak dan keplok gembira?” teriak Siau-hi-ji. “Kalau kalian tidak bertepuk tangan, biarlah kubatalkan kepergianku saja.”

Belum habis ucapannya, serentak semua orang sama berkeplok riuh ramai. Maka tertawalah Siau-hi-ji tergelak-gelak. Ketika melalui rumah Ban Jun-liu, tertawanya terhenti sejenak, ia pandang tabib itu sekejap, hanya sekejap saja, tanpa bicara.

Ban Jun-liu juga tidak berucap apa-apa. Banyak hal di dunia ini memang tidak perlu diutarakan dengan berbicara.

Akhirnya Siau-hi-ji meninggalkan Ok-jin-kok.

Bintang bertaburan menghiasi cakrawala nan kelam, meski di malam musim panas, namun di lembah sunyi yang terletak di perbatasan antara propinsi Tibet dan Jinghay itu terasa dingin oleh embusan angin malam yang menusuk tulang.

Siau-hi-ji memakai mantelnya, ia menengadah memandangi langit yang penuh bintang-bintang berkelip itu, ia termangu-mangu sejenak. Langit berbintang demikian selanjutnya masih akan dilihatnya, namun takkan dilihatnya dengan berdiri di sini. Segera dia akan berada di suatu dunia yang asing baginya. Apakah dia takut? Tidak, dia tidak takut! Hanya dalam hatinya terasakan sesuatu yang aneh, entah rasa apa, sukar dikatakan.

Namun dia tetap melangkah ke depan, lurus ke depan, tanpa menoleh…..

********************

Menjelang maghrib, cuaca di daerah pegunungan sudah berubah kelam. Kabut lambat-laun menyelimuti lereng gunung, suasana remang-remang meliputi padang rumput yang tak tertampak ujungnya itu.

Angin meniup sepoi-sepoi sejuk, di tengah embusan angin itu terdengar suara mengembik kambing, suara menguak sapi, suara meringkik kuda, bercampur-baur menjadi macam paduan suara yang menawan hati. Kemudian gerombolan biri-biri, sapi dan kuda bagai gugur gunung membanjir tiba. Sapi yang cokelat, kuda yang kuning, biri-biri yang putih, berbondong-bondong lalu di padang rumput yang luas laksana pasukan tentara berbaris panjang menuju medan bakti.

Dari jauh Siau-hi-ji memandangi adegan itu, wajahnya menampilkan cahaya yang bersemangat, sinar matanya juga gemerlap, betapa hebat dan besar pemandangan luar biasa itu, betapa megah dan besarnya alam semesta ini.

Dari maghrib hingga menjelang gelap malam, untuk sekian lamanya Siau-hi-ji berdiri termangu mangu, hati dan pikirannya mendadak seperti terbuka dan banyak bertambah lapang.

Setelah rombongan ternak jauh berlalu, dari kejauhan terdengar kumandang suara nyanyian merdu, tinggi dan nyaring suara nyanyian itu, namun Siau-hi-ji tidak paham apa yang dinyanyikan itu. Ia hanya dengar awal dari lagu yang dinyanyikan itu berbunyi “Allah....” dan entah apa lagi seterusnya.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa arti “Allah” adalah Tuhan menurut kepercayaan kaum muslimin, suku bangsa Hwe di daerah Tibet dan Jinghay.

Siau-hi-ji terus menuju ke arah datangnya suara itu. Entah berapa lama dia berlari-lari, akhirnya tertampak beberapa buah kemah warna putih menghiasi padang rumput nan luas itu. Bintik-bintik sinar lampu tampaknya begitu kecil berbanding kelip cahaya bintang-bintang di langit, namun penuh mengandung puitis.

Langkah Siau-hi-ji bertambah cepat menuju ke sana. Di depan kemah ada api unggun, tampak gadis-gadis suku Tibet sedang bernyanyi dan menari. Pakaian mereka beraneka warna menarik, jubah panjang dengan lengan baju yang longgar, rambut halus mereka dikepang menjadi kuncir-kuncir panjang bergelantungan di pundak.

Perawakan gadis-gadis Tibet itu kecil mungil, badan penuh dihiasi batu manikam warna-warni, kepala mereka pun mengenakan kopiah kecil berwarna mencolok.

Terkesima Siau-hi-ji melihatnya, dengan setengah linglung ia melangkah maju, mendekati mereka.

Melihat kedatangan Siau-hi-ji, gadis-gadis Tibet itu sama berhenti menyanyi serta merubunginya, ada yang tertawa nyekikik, ada yang meraba-raba bajunya, banyak pula yang bicara dalam bahasa yang tidak diketahui apa artinya.

Pada dasarnya gadis Tibet memang kekanak-kanakan, simpatik dan lugu. Tanpa terasa Siau-hi-ji lantas bertanya dengan tersenyum, “Apa yang kalian ucapkan?”

“Kami bicara bahasa Tibet, apakah kau... bangsa Han?” tiba-tiba seorang gadis menanggapinya. Gadis ini berkucir paling panjang, bermata paling besar, tertawanya paling manis.

Mata Siau-hi-ji berkedip, jawabnya, “Mungkin begitulah.”

Para gadis Tibet itu kembali tertawa nyekikik ramai. Gadis bermata jeli tadi berkata pula, “Siapa namamu?”

“Siau-hi-ji... O, bukan, aku she Kang, namaku Hi.”

“Hihi, namamu Hi (ikan)?” gadis mata jeli menegas. “Konon lezat sekali ikan yang hidup di sungai itu, sayang aku tidak pernah merasakannya.” Lalu dengan bahasa setempat ia menguraikan kembali apa yang dikatakannya kepada kawan-kawannya sehingga gadis-gadis itu pun mengikik tawa.

“Selain engkau, apakah mereka tidak dapat bicara?” tanya Siau-hi-ji.

“Bisa,” sahut si mata jeli, “cuma mereka tidak dapat bicara bahasa Han.”

“Mengapa mereka tak bisa dan kau sendiri fasih?” tanya Siau-hi-ji pula.

“Sebab ayahku juga bangsa Han,” jawab si mata jeli dengan membusungkan dada, sambil tersenyum bangga. “Di sini, akulah paling fasih berbahasa Han. Sebab itulah aku diminta menjadi juru bahasa mereka untuk menghadapi orang-orang Han yang akan datang ke sini untuk berdagang.”

“Selain cantik kau pun sangat cekatan,” ujar Siau-hi-ji tertawa.

Wajah si mata jeli menjadi merah, tampaknya menjadi lebih cantik di bawah cahaya api unggun, katanya sambil tersenyum, “Ai, adik cilik ini sungguh pintar bicara. Eh, apakah engkau bukan rombongan pedagang-pedagang itu? Mengapa engkau tiba lebih dulu, sedangkan mereka....”

“Aku datang sendirian,” sela Siau-hi-ji.

Mata si mata jeli semakin terbelalak lebar, serunya, “He, engkau datang sendirian? Engkau... sungguh pemberani.”

Siau-hi-ji hanya tertawa, tanyanya kemudian, “Kau bernama siapa?”

“Namaku menurut artinya dalam bahasa Han adalah Tho-hoa (bunga Tho). Sebab menurut mereka, katanya wajahku... wajahku mirip bunga Tho.”

“Tho-hoa....” Siau-hi-ji mengulang nama itu. “Ehm, meski tak pernah kulihat bagaimana bentuknya Tho-hoa, tapi kuyakin bunga Tho itu pasti tidak secantik dirimu.”

Tho-hoa terkikik-kikik gembira, jawabnya, “Walau pun belum pernah kumakan ikan yang hidup di sungai, tapi kuyakin ikan itu pasti tidak semanis mulutmu.”

Sementara itu dari dalam kemah telah keluar beberapa lelaki, semuanya terbelalak memandangi Siau-hi-ji. Perawakan mereka tidak tinggi besar, tapi cukup kekar.

“Sudahlah aku hendak berangkat,” kata Siau-hi-ji kemudian.

“Jangan takut, meski mereka tampaknya melotot, tapi tidak bermaksud jahat,” ujar Tho-hoa.

“Aku tidak takut, aku hanya ingin berangkat,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jangan pergi dulu,” mata jeli Tho-hoa mengerling sambil menggigit bibir. “Besok... besok pagi akan datang sejumlah orang Han seperti dirimu, suasana di sini akan menjadi ramai dan menarik.”

“Sejumlah orang Han... padahal sepanjang jalan sama sekali tiada kulihat siapa-siapa.”

“Betul, aku tidak berdusta,” kata Tho-hoa.

“Lantas malam ini....”

“Malam ini kau boleh tidur di kemahku, akan kutemanimu mengobrol,” kata Tho-hoa dengan menunduk tertawa. Dia sedikit lebih tinggi daripada Siau-hi-ji, kuncirnya tertiup angin sehingga mengusap muka Siau-hi-ji, sinar matanya gemerlap laksana kelip bintang-bintang di langit.

Begitulah malam itu Siau-hi-ji lantas menumpang di kemah si Tho-hoa. Cukup hangat berada di dalam kemah, hangat lagi berbau harum susu biri-biri.

Siau-hi-ji menanggalkan bajunya. Kembali mata Tho-hoa bercahaya. Perlahan dia merabai bekas luka yang memenuhi tubuh Siau-hi-ji itu, katanya dengan suara lembut, “Sungguh kasihan, adik cilik, mengapa engkau terluka sedemikian rupa? Cuma aneh, tubuhmu yang penuh luka ini tampaknya tidak menjadi jelek, sebaliknya malah menyenangkan.”

“Meski aku terluka, tapi serigala dan harimau yang melukai aku itu sudah mati semuanya,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau... engkau pernah membunuh harimau?” Tho-hoa terbelalak heran.

“Ya, tidak banyak, cuma empat-lima ekor,” jawab Siau-hi-ji.

Tho-hoa memandangnya dengan terkesima dan tanpa bergerak hingga sekian lamanya.

“Kau tidak percaya?” tanya Siau-hi-ji..

“Percaya! Masakah aku tidak percaya pada ucapanmu?”

“Mengapa kau percaya pada ucapanku?”

Tho-hoa melengak, tapi lantas menjawab dengan tersenyum, “Sebab engkau adalah adikku. Sekali melihatmu, segera kuingin engkau menjadi adikku.”

“Bukanlah sesuatu yang baik memiliki adik seperti diriku ini,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Malam ini Siau-hi-ji tidur dengan sangat nyenyak dan marem. Esoknya ketika dia bangun, Tho-hoa sudah tiada, tapi tertinggal sebotol susu kambing di samping bantalnya.

Setelah minum susu dan mengenakan pakaian, Siau-hi-ji keluar kemah. Segera dilihatnya belasan meter di sebelah sana sudah bertambah sebuah kemah besar dan dikerumuni orang banyak.

Dari jauh Siau-hi-ji melihat Tho-hoa berdiri di tengah serombongan orang Tibet dan orang-orang Han, nona itu sedang tertawa manis dan bicara ke sana ke sini seperti burung berkicau. Kuncirnya yang kecil itu tampak bergerak kian-kemari mengikuti goyangan kepalanya, di bawah sinar matahari wajahnya yang ayu itu semakin menyerupai bunga Tho yang sedang mekar, bahkan mungkin tiada bunga Tho di dunia ini secantik dia.

Setiap kali si Tho-hoa habis berucap, segera seorang Tibet tampil ke depan dan berjabatan tangan dengan seorang Han, jelas itulah tandanya telah menjadi sesuatu jual-beli. Setiap kali terjadi sesuatu perdagangan (dengan barter atau tukar-menukar barang), maka tertawa si mata jeli juga bertambah manis.

Siau-hi-ji mendekat ke sana, ia tidak menyapa si Tho-hoa melainkan putar kayun ke sana ke sini, dilihatnya di depan setiap perkemahan terpajang macam-macam benda mestika yang aneh, banyak pula perhiasan yang indah dan menarik.

Beberapa lelaki dari berbagai ukuran, ada yang tinggi, ada yang pendek, yang gemuk, yang kurus, sama menjagai dasaran barang dagangannya itu. Ada pula beberapa orang Tibet yang juga berbangun tubuh macam-macam ukuran sedang memilih dan membeli barang-barang itu dengan bahasa isyarat tangan.

Siau-hi-ji tertarik dan geli, ia merasa orang-orang ini sungguh bodoh, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, yakni bahwa orang bodoh di dunia ini jauh lebih banyak daripada orang pintar.

Tiba-tiba seorang tinggi kurus muncul dengan menuntun seekor kuda kecil, bulu suri yang putih bagai salju itu bergoyang-goyang terembus angin dan sangat menarik perhatian Siau-hi-ji.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mendekati kuda itu dan meraba-raba punggungnya, tanyanya kemudian, “Apakah kuda ini dijual?”

Si tinggi kurus itu memandang sekejap pada anak muda itu, jawabnya, “Kau ingin beli? Baiklah panggil orang tuamu ke sini.”

“Untuk apa panggil orang tua?” ujar Siau-hi-ji. “Ada duit sama saja dengan orang tua.”

“Kau punya duit?” si jangkung tertawa.

Siau-hi-ji tepuk-tepuk ikat pinggangnya dan menjawab, “Duit tidak punya, emas kubawa tidak sedikit.”

Tertawa si jangkung makin lebar, matanya terus mengincar bungkusan yang terikat di pinggang Siau-hi-ji, sambil mengelus bulu halus kuda yang masih muda itu ia berkata dengan tertawa, “Kuda bagus ini harganya cukup tinggi.”
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 11"

Post a Comment

close