Pendekar Binal Jilid 08

Mode Malam
Pendekar Binal
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
Meski orang ini tidak tertawa, tapi jelas suara Ha-ha-ji.

“Untung kita mendapatkan sandera anak ini,” demikian kata seorang lagi, “Kalau tidak, wah....”

Mendadak terdengar suara To Kiau-kiau menegur, “He, Li Toa-jui, apa yang hendak kau lakukan?”

Terdengar Li Toa-jui, si mulut besar she Li, si tukang makan daging manusia, menjawab dengan tertawa, “Ingin kulihat daging halus mayat perempuan ini, nampaknya mirip benar dengan biniku dahulu itu.”

“Mayat itu kan sudah mati beberapa hari yang lalu!?” ujar To Kiau-kiau.

“Tidak soal,” kata Li Toa-jui, “Asalkan tersimpan dengan baik masih dapat dimakan.”

“Hihi, boleh juga kamu memakannya,” To Kiau-kiau berkata dengan mengikik genit, “Perempuan ini mungkin adalah ipar Yan Lam-thian itu, kau makan dia, anggaplah melampiaskan sakit hati Toh-lotoa.”

“Tapi bau wewangian ini harus dilenyapkan dahulu, habis itu....”

Belum habis ucapan Li Toa-jui, Yan Lam-thian tidak tahan lagi akan rasa murkanya, sambil mengerang kalap ia mendepak daun pintu hingga jebol, menyusul ia terus menerjang masuk rumah.

Tentu saja orang-orang di dalam rumah menjerit kaget dan lari berpencaran.

“Makanlah ini!” bentak Li Toa-jui sambil mengangkat peti mati terus dilemparkan ke arah Yan Lam-thian.

Bahan wewangian di dalam peti mati berserakan, mayat juga jatuh ke lantai.

Dalam kegelapan terdengar Ha-hi-ji bergelak tertawa dan berkata, “Bagus, Yan Lam-thian, kamu memang dapat menemukan kami, asalkan kau berani mengejar, hm, rasakan nanti, Ha-ha, hahaha!”

Sebenarnya Yan Lam-thian sudah hampir menubruk maju lagi, demi mendengar ancaman itu, seketika ia urungkan niatnya dengan lesu, ia merasa murka dan pedih pula, karena ketidaksabarannya tadi, urusan menjadi bertambah runyam.

Cahaya bulan menembus masuk melalui pintu yang sudah jebol itu dan terlihat jelas mayat yang menggeletak di lantai. Itulah mayat ibu si bayi, mukanya yang pucat rada membengkak dengan rambutnya yang semrawut itu kelihatan mengharukan dan seram pula.

“O, maaf, Kang-jite,” gumam Yan Lam-thian dengan sedih, “aku tak dapat... tak dapat menjaga putramu, bahkan jenazah kalian juga... juga tak dapat....” sampai di sini suaranya menjadi tersendat-sendat dan tak sanggup melanjutkan lagi.

Sebisanya ia tenangkan diri, ia betulkan letak peti mati, lalu mengangkat jenazah itu dan menaruhnya kembali ke dalam peti dengan hati-hati sekali. Air matanya bercucuran, sungguh ia tidak tega memandang lagi jenazah iparnya itu.

Dengan rasa pilu ia pejamkan mata dan bergumam, “Semoga engkau istirahat untuk selamanya dengan tenang.”

Cahaya bulan yang lembut, peti mati yang dingin, kegelapan yang tak bertepi, jenazah si cantik yang menyeramkan, semua itu menambah heningnya suasana.

Mendadak, mayat yang baru ditaruh ke dalam peti mati oleh Yan Lam-thian itu melompat bangun. “Blak-bluk-blak-bluk” empat kali, kedua kaki dan kedua tangan mayat itu bekerja sekaligus, dengan tepat empat Hiat-to penting di tubuh Yan Lam-thian terhantam.

Dalam keadaan demikian, betapa pun gagah perkasa dan cerdiknya Yan Lam-thian juga sama sekali takkan menduga akan perubahan yang luar biasa itu. Belum sempat dia berteriak kaget, tahu-tahu empat tempat Hiat-to penting sudah terkena serangan. Tanpa ampun lagi ksatria besar yang tiada taranya itu roboh terguling.

Sementara itu “mayat” tadi telah berdiri sambil bergelak tertawa dan mengejek, “Aha, Yan Lam-thian, sekarang baru kau kenal kelihaianku!”

Di tengah suara tertawa gembira itu, tiba-tiba “mayat” itu menjambak rambut sendiri sehingga seonggok rambut palsu tertarik lepas, wajahnya tersorot cahaya bulan, siapa lagi dia kalau bukan To Kiau-kiau, si bukan lelaki bukan perempuan alias si banci.

Semula Yan Lam-thian yakin To Kiau-kiau yang terkenal pandai menyaru itu pasti tak mampu menjebaknya mengingat kedatangannya hanya sendirian disertai seorang bayi, mustahil To Kiau-kiau mampu menyamar sebagai bayi untuk menjebaknya. Siapa tahu si banci justru menyaru sebagai mayat dan dia tetap kena diakali dan hampir celaka.

Sekonyong-konyong keadaan terang benderang, sinar lampu telah menyala, Ha-hi ji, Li Toa-jui, Im Kiu-yu dan Suma Yan sama memperlihatkan diri. Walau di bawah sinar yang terang, namun bentuk beberapa orang itu tidak bedanya dengan setan iblis yang jahat.

“Hahaha! Yan Lam-thian, tentunya tadi kamu menyangka benar-benar telah menemukan jejak kami bukan?” tanya Ha-ha-ji dengan tertawa. “Haha, padahal apa yang kau lihat tadi tidak lain adalah tipu daya kami memancing kedatanganmu.”

“Yan Lam-thian,” Li Toa-jui juga bicara dengan tertawa ejek, “tadi kamu mengira kami benar-benar takut padamu bukan? Hah, sesungguhnya kami tahu jiwamu toh takkan lolos dari cengkeraman kami, buat apa kami harus bergebrak dan mengadu jiwa denganmu?”

Begitulah beberapa orang itu terus mengejek dengan gembira, suara tertawa mereka pun sambung menyambung. Dongkol dan gemas rasa hati Yan Lam-thian, ia sengaja memejamkan mata, ia menyadari sekali ini dirinya pasti sukar lolos dari tangan keji mereka.

“Nah, apa yang kalian tunggu lagi ?” terdengar Im Kiu-yu berseru. “Memangnya mau menunggu dia membebaskan diri pula.”

“Betul, lekas kita turun tangan!” Li Toa-jui menambahkan.

“Biar aku saja yang membereskan dia, Haha!” seru Ha-ha-ji.

“Nanti dulu!” kata To Kiau-kiau. “Aku paling banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran, adalah bagianku pula untuk membunuh dia.”

“Hm, kalau saja sejak tadi turut usulku, tentu saat ini dia sudah mampus dan tak perlu banyak mengeluarkan tenaga pula. Sekarang biar aku saja yang membereskan dia,” ujar Im Kiu-yu dengan suaranya yang mengambang.

“Tidak bisa,” bentak Li Toa ji, “kalian tidak mahir membunuh orang, jika kurang sempurna cara kalian memotong, tentu dagingnya akan kecut dan tidak enak dimakan. Maka lebih baik aku saja yang turun tangan.”

Begitulah beberapa orang itu ribut sendiri dari berebut ingin membunuh Yan Lam-thian. Bisa membinasakan Si Pedang Sakti Nomor Satu di Dunia dengan tangan sendiri, sudah tentu merupakan suatu karya yang dapat dibanggakan dan berjaya.

Ha-ha-ji memandang tubuh Yan Lam-thian yang tergeletak di lantai itu, mendadak ia tertawa dan berkata, “Kalian tidak perlu bertengkar, aku mempunyai suatu usul.”

“Apa usulmu?” tanya To Kiau-kiau.

“Haha, usulku ini selain takkan mengganggu hubungan baik kita, bahkan sangat menarik,” ujar Ha-ha-ji.

“Kamu memang suka bicara secara bertele-tele, lekas katakan saja!” omel Im Kiu-yu.

“Begini,” tutur Ha-ha-ji, “Kalau kita membuat Yan-tayhiap mati dengan enak, rasanya kita terlalu menyia-nyiakan maksud baik kedatangan Yan-tayhiap ini. Maka usulku, kita harus menghormati Yan-tayhiap, biarkan dia merasakan enaknya orang akan mati secara pelan-pelan, dengan demikian juga tidak percumalah kita telah bersahabat dengan Yan-tayhiap selama ini.”

“Hihi, usul bagus juga,” ujar To Kiau-kiau sambil mengikik.

“Sebab itu, kita harus turun tangan secara bergiliran,” kata Ha-ha-ji pula, “cara turun tangan siapa paling keji, dia yang menang. Tapi siapa yang sekali turun tangan membuat Yan-tayhiap tutup usia, maka dia juga harus didenda.”

“Bagus, benar-benar usul bagus,” segera Im Kiu-yu menyatakan setuju. “Aku memang ingin dia merasakan aku punya ‘Im-hong-sau-hun jiu’ (tangan keji penyambar sukma), betapa enak rasanya kutanggung dia takkan lupa sampai penitisannya yang akan datang.”

“Kukira ‘Siau-hun-bi-jin-kang’ (ilmu si cantik merontokkan sukma, milikku ini, rasanya takkan kalah enak dengan kepandaianmu itu,” kata To Kiau-kiau.

“Hah, memangnya kupunya ‘Kwa-kut-to’ (golok pengerik tulang) kurang enak dibandingkan kepandaian kalian?” seru Li Toa-jui.

“Dan kita masih harus mengundang Toh-lotoa, dia punya ‘tangan berdarah pemburu sukma’ dan ilmu ‘kuras sumsum cuci otak’ kepunyaan Ha-ha-ji rasanya sukar dilupakan orang yang pernah menikmatinya,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa.

“Hah, jika begitu, lalu siapakah yang turun tangan dahulu?” tanya Ha-ha-ji.

“Kamu yang mengusulkan, boleh kamu yang turun tangan lebih dulu”, kata To Kiau-kiau.

“Baik, hahaha!” seru Ha-ha-ji sambil tertawa gembira, berbareng sebelah tangannya terus meraba perlahan ke belakang kepala Yan Lam-thian…..

********************

Antara satu jam kemudian, malam semakin larut, suasana bertambah hening. Yan Lam-thian yang biasanya gagah perkasa dan tangkas kuat itu sudah teraniaya sedemikian rupa, boleh dikatakan sudah dalam keadaan sekarat.

“Haha, sudah enam kali kukerjai dia, kini giliran Li-heng lagi,” seru Ha-ha-ji.

“Sudahlah, aku tidak mau lagi,” kata Li Toa-jui.

“Haha, kamu tidak mau lagi, itu berarti kamu mengaku kalah,” kata Ha-ha-ji.

“Keadaannya sudah payah begini, sekali pun anak kecil kini juga mampu membereskan dia, kenapa kau suruh aku mengerjai dia lagi, menang juga tidak terhormat bagiku,” kata Li Toa-jui dengan marah.

“Ah, juga belum tentu,” ujar Im Kiu-yu.

“Belum tentu bagaimana? Memangnya kau mampu turun tangan lagi padanya tanpa membuatnya mati,” teriak Li Toa-jui.

“Apa sukarnya?” jengek Im Kiu-yu.

“Baik, jika begitu, coba saja,” teriak Li Toa-jui. “Jika giliranku, tentu akan kukerjai dia lagi,” kata Im Kiu-yu.

“Hm, jelas belum sampai giliranmu, makanya kamu....” Li Toa-jui tambah gusar.

Tapi sebelum lanjut ucapannya, Ha-ha-ji cepat menyela,” Sudahlah, kalian tidak perlu bertengkar, paling betul kita datangkan saja si tabib sakti she Ban itu dan suruh dia memeriksanya serta menentukan apakah Yan Lam-thian ini sudah sekarat atau hampir mampus.”

“Siapa pun yang didatangkan untuk memastikannya juga boleh,” jengek Im Kiu-yiu.

“Baik, aku akan mencari tabib itu,” kata Li Toa-jui.

Tidak lama kemudian dia sudah kembali dengan membawa Ban Jun-liu. Perawakan orang yang berjuluk “Tabib Sakti” itu kurus kering tapi tangkas, sorot matanya tajam, namun mukanya yang kurus kering itu tiada mengunjuk sesuatu perasaan.

Agaknya sebelumnya Li Toa-jui sudah menguraikan maksud mengundangnya, maka setibanya Ban Jun-liu hanya mengangguk saja, lalu duduk di sisi Yan Lam-thian yang napasnya sudah kempas-kempis itu.

Setelah memandang sekian lamanya, dari kepala hingga kaki dipandangnya dengan teliti, mungkin itulah cara praktiknya memeriksa pasien, jarinya yang kecil itu, ternyata sama sekali tidak menyentuh kulit daging Yan Lam-thian.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Lia Toa-jui dengan tidak sabar.

Ban Jun-liu termenung sejenak, lalu menjawab, “Payah. Dari semua Keng-meh (urat nadi dan titik-titik saluran darah) yang berada di tubuhnya sudah tujuh-delapan bagian rusak, kalau saja dia masih hidup sampai saat ini boleh dikatakan suatu keajaiban dan kejadian mahaaneh.”

“Nah bagaimana, betul tidak pendapatku tadi?” kata Li Toa-jui dengan tertawa bangga.

“Kukira dia keliru,” ujar Im Kiu-yu.

“Ilmu silatku memang jauh lebih rendah daripadamu, tapi dalam hal ilmu pertabiban aku cukup percaya pada diriku sendiri,” kata Ban Jun-liu.

“Percaya pada dirimu sendiri ? Haha, jika bukan lantaran ilmu pertabibanmu yang mahatinggi itu, masakah dalam sehari semalam saja kota Kay-hong kehilangan sembilan puluh tujuh penduduknya yang mati secara mendadak ?” jengek Im Kiu-yu. “Coba jawab, siapakah yang mencelakai orang-orang itu? Memangnya kamu sudah lupa?”

“Walau pun cukup banyak orang yang kubunuh, namun selama beberapa tahun ini orang yang kuselamatkan juga tidak sedikit,” jawab Ban Jun-liu dengan nada dingin. “Waktu mula-mula kau datang ke sini, jika orang she Ban tidak berada di sini, mungkin engkau pun takkan hidup sampai sekarang.”

Meski mata Im Kiu-yu sudah merah karena gusarnya, tapi mulutnya menjadi bungkam dan tak dapat bicara, soalnya dahulu waktu dia kabur ke Ok-jin-kok sini memang dalam keadaan terluka parah dan berkat Ban Jun-liu jiwanya dapat diselamatkan.

Jadi bagi Ok jin-kok sekarang Ban Jun-liu memang sangat dibutuhkan, betapa pun tidak boleh kehilangan tabib sakti ini.

Maka cepat Ha-ha-ji menyela dengan tertawa, “Jika tabib sakti Ban sudah memastikan demikian, tentu takkan salah lagi. Maka tentang kalah menang kita juga sukar ditentukan, sebaiknya kita beramai-ramai membereskan Yan Lam-thian saja.”

“Nanti dulu,” seru Ban Jun-liu. “Justru kuingin mohon kalian sudi menahan jiwanya.”

“Kau ingin... menolong dia?” tanya Im Kiu-yu dengan gusar.

Ban Jun-liu tenang-tenang saja, katanya perlahan, “Orang terluka separah ini dan tidak mati, sungguh selama hidupku belum pernah kulihat. Orang yang sudah sekarat begini toh tiada gunanya bagi kalian, sebaliknya sangat berguna bagiku.”

“Apa gunanya? Memangnya kau pun ingin makan dia?” tanya Li Toa-jui.

“Luka cacat di tubuh orang ini sedikitnya dua-tiga puluh tempat, akan sangat berguna bagiku untuk mencoba khasiat obat-obatan yang kubuat,” tutur Ban Jun-liu. “Apa bila percobaanku nanti berhasil, kukira akan sangat bermanfaat juga bagi kalian.”

“Walau pun berguna bagimu, tapi setelah percobaanmu berhasil, bukankah kau pun akan menyelamatkan jiwa Yan Lam-thian,” jengek Im Kiu-yu. “Dan setelah lukanya sembuh, kukira akan tiba waktunya kamu harus menolong kami.”

Ban Jun-liu menjawabnya dengan hambar saja, “Sekali pun jiwa orang ini dapat tertolong, keadaannya nanti pasti juga akan cacat atau menjadi orang linglung, bila kalian ingin cabut nyawanya setiap saat masih dapat turun tangan, kenapa mesti terburu-buru dilakukan sekarang?”

Im Kiu-yu mendengus sekali, lalu tidak buka suara pula. Sejak tadi Suma Yan juga tidak bicara, dia hanya pandang Ha-ha-ji, sedangkan Ha-ha-ji juga memandang To Kiau-kiau.

Akhirnya si bukan lelaki bukan perempuan itu berkata dengan tertawa, “Baiklah, apa yang dikatakan tabib Ban Jun-liu kita turuti saja.”

“Tidak, aku tidak terima,” teriak Li Toa-jui. “Sudah jelas keparat ini akan menjadi santapanku yang lezat, maka aku tidak....”

“Orang mati di sini kan sudah cukup banyak, daging mereka juga masih segar, betapa pun sudah cukup untuk memenuhi seleramu, kenapa kamu berkeras ingin makan dia?” kata Ha-ha-ji.

“Sudah kukatakan tadi bahwa daging orang ternama rasanya lebih lezat, sepuluh orang biasa juga tak dapat dibandingkan dengan Yan Lam-thian,” seru Li Toa-jui dengan gusar. “Maka, siapa di antara kalian berani merampasnya, lebih dulu hendaklah melangkahi mayatku.”

Ha-ha-ji hanya angkat pundak dan tidak menanggapinya, ia hanya pandang To Kiau-kiau, tapi To Kiau-kiau juga angkat pundak, katanya dengan tertawa sambil memandang Ban Jun-liu, “Nah, tabib Ban, aku pun tak berdaya, jangan salahkan aku.”

Dengan dingin Ban Jun-liu berkata, “Luka orang ini ada tiga puluhan tempat, maka sedikitnya dapat dibuat percobaan tiga puluh macam obatku, di antara ketiga puluh macam obat itu bisa jadi salah satunya kelak akan dapat menyelamatkan jiwa kalian.”

“Ya, menurut pendapatku, jiwa kita rasanya lebih penting daripada santapan bagi Li-heng,” tiba-tiba Suma Yan membuka mulut.

“Persetan!” bentak Li Toa-jui gusar. “Kamu terhitung kutu nomor berapa, kau berani ikut bicara?”

Suma Yan tidak menjadi marah, dengan tersenyum ia menanggapi, “Menurut pandanganku, kesempatan paling banyak yang memerlukan obat hasil percobaan tabib Ban kelak mungkin adalah Li-heng sendiri.”

Sebenarnya Li Toa-jui hampir mengumbar murkanya, mendadak ia merandek demi mendengar ucapan terakhir Suma Yan itu, setelah mengerling sekeliling, ia merasa sorot mata semua orang sama menatap tajam ke arahnya.

Rasanya tiada seorang pun yang mampu mengumbar marahnya di tengah tatapan tajam kawanan mahadurjana ini, terpaksa Li Toa-jui hanya menghela napas panjang, katanya dengan menyeringai, “Baiklah, kuturut kehendak kalian.... Ai, itik yang sudah di dalam periuk akhirnya terbang!”

“Nah, menunggu apa lagi, tabib Ban?” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Dari kepala sampai kakinya, Yan Lam-thian kini adalah milikmu seluruhnya.”

Sedikit pun tidak nampak rasa girang dari wajah Ban Jun-liu, katanya dengan hambar, “Terima kasih!” Lalu ia mengeluarkan beberapa biji pil dan dijejalkan ke mulut Yan Lam-thian. Lambat laun ludah Yan Lam-thian dapat meluluhkan beberapa pil itu, kemudian mengalir masuk tenggorokannya dengan perlahan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara tangisan anak bayi. Kontan Li Toa-jui berteriak girang, “Aha, betul, masih ada anak itu!”

“Bagaimana?” tanya Ha-ha-ji sambil memandang Im Kiu-yu.

“Bunuh!” ucap si setengah manusia setengah setan itu dengan singkat.

“Tampaknya Li-heng kita sedang menunggu makan enak,” ujar Ha-ha-ji.

“Daging anak bayi juga lumayan, cuma porsinya terlalu kecil, tak bisa kenyang,” seru Li Toa-jui dengan tertawa gembira. Habis itu segera ia hendak lari ke sana.

“Nanti dulu!” mendadak To Kiau-kiau berteriak.

“Ada apa lagi?” tanya Li Toa-jui dengan kurang senang.

“Anak itu pun tak boleh dibunuh!” kata To Kiau-kiau.

Li Toa-jui menjadi gusar, teriaknya, “Kamu si banci ini selalu mengacau dan memusuhi aku.”

“Ya, sekali ini kukira To kecil yang salah,” ujar Ha-ha-ji dengan tertawa. “Kalau anak itu dibiarkan hidup, kelak juga akan menjadi bibit bencana bagi kita. Kukira lebih baik dibiarkan menjadi isi perut Li-heng saja sekarang. Babat rumput harus sampai akar-akarnya dan segalanya menjadi beres.”

To Kiau-kiau tidak menanggapinya, sebaliknya ia malah bertanya, “Coba, ingin kudengar dulu jawaban kalian. Kita ini terkenal sebagai top orang jahat di dunia ini, tapi sesungguhnya siapakah orang yang paling keji, paling ganas, paling culas, paling kejam, apakah kalian tahu?”

“Sudah jelas diketahui, tapi sengaja kamu cari-cari dan mengajukan pertanyaan yang tak keruan juntrungannya itu, apa maksudmu sebenarnya?” teriak Li Toa-jui dengan gusar.

“Anggaplah iseng-iseng kutanya dan anggaplah iseng-iseng kalian menjawab,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Kujamin setelah kau jawab pertanyaanku umpamanya, secuil pun daging anak itu takkan berkurang.”

“Hm!” jengek Li Toa-jui, saking mendongkol ia terus menyingkir ke pojok sana.

Segera Ha-ha-ji menanggapi, “Haha, bicara orang yang paling jahat di dunia, dengan sendirinya harus diakui ialah si To kecil kita.”

“Ah, engkau terlalu memuji diriku,” sahut To Kiau-kiau dengan tertawa genit. “Sebenarnya....”

Belum lanjut ucapannya, dengan gusar Li Toa-jui lantas berteriak, “Huh, dia terhitung apa? Dia cuma mahir beberapa jurus mainan kaum banci, apakah itu dapat dianggap sebagai orang paling jahat di dunia ini? Hm, padahal daging manusia pun dia tidak berani makan!”

“Haha, jika begitu, Li-henglah orang paling jahat di dunia,” ujar Ha-ha-ji dengan ngakak.

“Dia bilang aku bukan orang paling jahat, aku setuju sepenuhnya,” tukas To Kiau-kiau. “Tapi kalau berani makan beberapa kati daging manusia lantas dianggap paling jahat di dunia ini, hah, ini tak dapat kuterima. Dahulu aku pun pernah melihat seorang kusir pedati juga berani makan daging manusia.”

“Habis kalau menurut pendapatmu, siapa orang paling jahat di dunia ini?” teriak Li Toa-jui dengan gusar.

“Hahaha! Tahulah aku sekarang,” sela Ha-ha-ji. “Siapa lagi kalau bukan Im-lokiu!”

“Im-lokiu memang cukup keji, cukup kejam dan cukup tega hati,” ujar To Kiau-kiau. “Tapi segala kejahatannya itu sudah terpampang di mukanya, sekali pandang saja setiap orang akan tahu dia adalah orang jahat dan lebih dulu akan waspada terhadapnya.”

“Jika demikian, haha, jadi dia juga belum masuk hitungan,” seru Ha-ha-ji.

“Dengan sendirinya belum masuk hitungan,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Taraf dasar saja dia belum, misalnya kemahiran di balik tertawa tersembunyi belati, di samping memuji dan mengumpak, berbareng terus menikam....”

“Di balik tertawa tersembunyi belati, hahaha, rupanya To cilik maksudkan diriku!” kata Ha-ha-ji.

“Benar, jawab To Kiau-kiau. “Saudara tukang tertawa kita ini berpotongan seperti Mi-lik-hud (Budha gemuk) sehingga siapa pun takkan menyangka dia adalah orang jahat. Seumpama orang itu dijual olehnya, mungkin orang itu masih belum tahu telah dijual oleh siapa.”

“Hahahaha! Bagus, bagus!” seru Ha-ha-ji dengan tertawa senang. “Jika betul aku ini orang paling kejam dan paling buas di dunia ini, betapa pun harus dibuat girang. Cuma sayang, asalkan nampak Toh-lotoa hatiku lantas takut, maka kukira dia jauh lebih jahat daripadaku.”

“Kecuali mahir membunuh orang, apa pula kemahirannya?” jengek Im Kiu-yu tiba-tiba.

“Memang betul juga,” ujar To Kiau-kiau dengan tertawa. “Lihatlah kita semua berkumpul di sini dengan baik-baik, tapi Toh-lotoa sendiri terluka dan berbaring di sana. Kalau dia orang paling jahat, maka yang terluka tentunya bukan dia melainkan kita ini.”

Ha-ha-ji memandang Suma Yan sekejap, lalu berkata, “Aha, bukankah masih ada Suma-heng. Haha, pedang berbisa penembus usus, korbannya luluh seperti gilasan kacang, pemeo ini sudah lama terkenal di dunia Kangouw.”

“Ah, meski namaku juga terkenal jahat di dunia Kangouw, tapi kalau dibandingkan ‘Cap-toa-ok-jin’ (sepuluh top jahat), diriku ini boleh diibaratkan semut berbanding gajah,” jawab Suma Yan dengan tersenyum.

“Oya, di antara ‘Cap-toa-ok-jin’ kita kan masih ada lima orang lagi?” kata To Kiau-kiau.

Suma Yan menanggapi dengan tertawa, “Tetapi menurut pandanganku, kelima Ok-jin yang masih berada di sana belum tentu dapat dibandingkan dengan kelima Ok-jin yang berada di sini. Terutama si ‘Singa Gila’ Thi Cian, kalau mau bicara secara tegas, pada hakikatnya dia belum terhitung satu di antara ‘Cap-toa-ok-jin’.”

“Sekali si Singa Gila sudah gila, dia benar-benar tidak kenal siapa-siapa lagi, setiap orang dilabraknya, sampai anaknya sendiri juga dipaksanya berkelahi,” kata To Kiau-kiau. “Tapi orang-orang yang benar-benar pernah dibunuh olehnya setahuku belum ada, apa lagi, lebih sering dia dalam keadaan tidak gila.”

“Hahaha, kalau Singa Gila juga tak masuk hitungan, lalu bagaimana dengan Siau-mi-mi, si ‘pemikat orang tak ganti nyawa’. Kukira siapa pun bila terpikat olehnya, mungkin bapak biangnya juga tega dijualnya.”

“Si tukang pikat itu memang mahir memikat, tapi sasarannya yang empuk adalah anak muda belasan sampai likuran tahun, jika bertemu jagoan macam Li Toa-jui, jangankan memikat, mungkin si tukang pikat itu yang akan dicaplok ke dalam perutnya,” ujar To Kiau-kiau.

“Ya, dan manusia bukan lelaki bukan perempuan seperti dirimu sudah tentu takkan terpikat olehnya,” tangkis Li Toa-jui mendongkol.

“Ini tidak, itu bukan, habis siapa sebenarnya orang paling buas dan paling jahat di dunia ini? Apakah barangkali Hwesio tua di biara itu?” omel Ha-ha-ji.

Dengan tertawa To Kiau-kiau berkata, “Kita ini, bicara tentang kejamnya, buasnya, kejinya, dan segala kejahatannya, boleh dikatakan tidak banyak berselisih, jadi tiada seorang pun lebih unggul daripada yang lain. Sebab itulah dapat dikatakan bahwa sampai saat ini di dunia ini belum ada seorang pun yang dapat dianggap paling jahat.”

“Hm, bicara kian kemari sejak tadi ternyata cuma omong kosong belaka,” jengek Li Toa-jui.

To Kiau-kiau tidak pedulikan omelan itu, ia menyambung pula, “Walau pun saat ini belum ada, tapi selekasnya akan ada.”

Ucapannya ini sangat menarik sehingga setiap orang sama bertanya, “Siapa yang kau maksudkan?”

To Kiau-kiau mengerling genit, jawabnya dengan perlahan, dan sekata demi sekata, “Ialah anak yang sedang menangis itu!”

Ucapan ini kembali membuat semua orang melengak. Akhirnya Li Toa-jui bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, kau bilang anak itu adalah orang paling jahat di dunia ini...? Hahaha, hihihi, hehehe, hohoho... Fui!” Akhirnya ia menyemprot.

Tapi To Kiau-kiau tetap tidak menggubris, sambungnya pula, “Saat ini terang anak itu tidak tahu apa-apa, apa yang kita katakan padanya tentu dia akan menurut. Kalau kita bilang burung gagak itu putih, tentu dia takkan menyangkal bahwa gagak bukan putih melainkan hitam, betul tidak?”

“Hm, kembali omong kosong!” jengek Li Toa-jui.

To Kiau-kiau tetap tidak ambil pusing dan melanjutkan pula, “Sejak kecil dia ikut kita, apa yang dilihatnya adalah apa yang kita kerjakan, apa yang didengarnya adalah apa yang kita bicarakan. Nah, kelak kalau dia sudah besar akan menjadi manusia macam apa?”

“Sudah tentu seorang busuk!” tanpa terasa Li Toa-jui menyambung.

“Ya, bukan saja busuk, bahkan adalah telur busuk paling besar di dunia ini,” kata To Kiau-kiau dengan tertawa. “Coba pikirkan, bila setiap perbuatan jahat penghuni Ok-jin-kok ini telah dipahami olehnya, lantas siapa lagi di dunia ini yang dapat menandingi dia dengan lebih busuk, lebih keji, lebih buas, pendek kata, apa bisa lebih jahat daripada dia?”

“Wah, orang macam begitu mungkin setan pun takut bertemu dengan dia, haha!” ujar Ha-ha-ji tertawa.

“Ya, begitulah,” kata To Kiau-kiau. “Setan saja takut padanya, jika orang demikian itu berkecimpung di dunia Kangouw, lalu apa jadinya?”

“Hahaha, mustahil kalau dunia ini tidak diaduknya hingga kacau-balau,” jawab Ha-ha-ji sambil berkeplok gembira.

“Itulah tujuan kita,” tutur To Kiau-kiau dengan perlahan, “kita justru ingin mengaduk hingga dunia ini kacau-balau. Kita didesak orang hingga terasing ke sini, siapakah di antara kita ini tidak mendongkol dan sakit hati? Dan anak ini dikirim ke sini berkat kemurahan hati Thian, dia disuruh kemari untuk melampiaskan dendam bagi kita.”

Sampai di sini, bahkan si setengah manusia separo setan, Im Kiu-yu, yang biasanya tanpa memperlihatkan perasaan sedikit pun, tanpa terasa tersembul juga sekilas senyum pada wajahnya, ia berkata sambil mengangguk, “Ehm, gagasan yang bagus!”

Ha-ha-ji juga tertawa terpingkal-pingkal, serunya sambil keplok tangan, “Hahaha! Sungguh luar biasa! Selain To kecil kita, siapa lagi yang mampu mencetuskan gagasan bagus begini?”

Li Toa-jui merasa penasaran, ia melenggong agak lama, akhirnya ia berkata, “Tidak, gagasan ini kurang baik.”

“Apanya yang kurang baik?” tanya To Kiau-kiau.

“Dengan gagasanmu itu memang cukup membuatnya jahat, tapi masih kurang sempurna, dia harus dibuat aneh juga, untuk itu paling baik sekarang juga kita potong sebelah kakinya agar selama hidupnya nanti takkan bahagia, biarkan dia senantiasa dendam dan marah, dengan demikian dia pasti akan menjadikan orang lain sebagai sasaran pelampiasan dendamnya,” demikian usul Li Toa-jui.

“Haha, boleh juga gagasan ini,” seru Ha-ha-ji.

“Gagasan apa? Gagasan kentut anjing!” To Kiau-kiau menyangga sambil mengikik. “Itu kan cuma alasan Li Toa-jui agar bisa mendapatkan sepotong paha mulus si anak itu untuk memenuhi seleranya.”

Seketika Li Toa-jui berjingkrak murka, dampratnya, “Kamu setan belang bukan lelaki bukan perempuan, kamu memang suka mengolok-olok dan memusuhi aku. Segala macam manusia pernah kumakan, hanya makhluk banci macammu ini belum pernah kurasakan. Pada suatu hari harus kubekuk batang lehermu dan akan kusembelih, sebagian akan kubikin Ang-sio-bak dan sebagian lain akan kumasak kuah bening.”

“Hihi, kau ingin makan diriku? Kamu tidak takut mati keracunan?” sahut To Kiau-kiau dengan tersenyum genit…..

********************

Begitulah untuk selanjutnya penghuni Ok-jin-kok lantas bertambah dengan seorang anak kecil itu. Setiap orang memanggilnya “Siau-hi-ji” atau si ikan kecil. Sebab dia memang seekor ikan kecil yang lolos dari jaring, jaring kematian.

Lambat-laun Siau-hi-ji mulai meningkat besar.

Orang-orang yang paling akrab dengan Siau-hi-ji adalah paman Toh, paman Jiau (tertawa), paman Im, paman Li, paman Ban, lalu ada paman, aha, keliru, lebih tepat di sebut bibi, bibi To.

Di tengah-tengah para paman dan “bibi” itulah Siau-hi-ji dibesarkan. Satu bulan dia ikut setiap orang itu secara bergilir, bulan satu ikut paman Toh, bulan dua bersama paman tertawa, bulan tiga ikut paman Im dan begitu seterusnya... dan sampai bulan tujuh dia bertempat tinggal lagi bersama paman Toh.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Pendekar Binal Jilid 08"

Post a Comment

close