close

Pedang Tetesan Air Mata Bab 17 : Epilog

Pedang Tetesean Air Mata
Gu Long (Khu Lung)
-------------------------------
----------------------------
Di bawah cahaya matahari, warna pedang itu kelihatan amat bening seperti air, noda air mata di atas pedang tersebut betul-betul sudah hilang, lenyap tak berbekas.

Siau-ko mengawasi pedang tersebut dengan termangu, dalam hati kecilnya dia pun sedang memikirkan persoalan itu.

Dia sendiri pun tidak habis mengerti.

Entah berapa saat kemudian, dia baru teringat untuk menanyakan persoalan ini kepada Siau Lay-hiat.

Tapi ia tidak menjumpai Siau Lay-hiat, mayat Cho Tang-lay serta senjata tersebut juga hilang tak berbekas.

Cu Bong hanya memberitahukan begini kepada Siau-ko.

"Siau sianseng sudah pergi, pergi dengan membawa serta Cho Tang-lay."

Tak disangkal lagi hati kecilnya juga dipenuhi rasa kaget dan curiga. 'Sesungguhnya apa yang telah terjadi?'

Siau-ko memandang ke tempat kejauhan sana, memandang langit nan cerah.

"Entah apa gerangan yang terjadi, sekarang semuanya sudah tiada hubungan lagi dengan kita," ucap Siau-ko pelan, "mulai hari ini, mungkin kita tak akan berjumpa lagi dengan Siau sianseng."

********************

Cahaya lentera telah padam, pembawa lentera telah bubar, tinggal si nona buta itu masih berdiri di situ sambil memeluk alat pie-pa nya.

Walau pun cahaya matahari telah memancarkan sinarnya ke seluruh jagad, namun sepasang matanya masih tetap melihat kegelapan yang mencekam.

Tiba-tiba saja Siau-ko merasakan suatu kepedihan hati yang tak terlukiskan dengan kata-kata, tak tahan lagi dia menghampiri gadis cilik itu dan bertanya: "Di mana yayamu? Apakah yaya-mu masih ada?"

"Aku tidak tahu!"

Paras mukanya pucat pias seperti mayat, pikirannya seperti kosong melompong, tiada segala sesuatunya, bahkan sedihpun tidak...

Tapi setiap orang yang melihat keadaannya tersebut pasti akan merasakan kepedihan hati yang luar biasa.

"Kau berdiam di mana?" kembali Siau-ko bertanya dengan perasaan tak tahan, "kau punya rumah? Di rumahmu apakah masih mempunyai sanak keluarga yang lain?"

Gadis cilik itu tidak berkata apa-apa, dia hanya memeluk alat pie-pa nya kencang-kencang, seperti seorang yang tenggelam di air dan memeluk sebatang kayu erat-erat.

Mungkinkah satu-satunya barang yang dimilikinya hanya alat pie-pa tersebut?

"Sekarang kau hendak kemana?" tanya Siau-ko, "di kemudian hari apa pula yang hendak kau kerjakan?"

Setelah mengajukan pertanyaan ini dia mulai merasa menyesal.

Sesungguhnya pertanyaan semacam ini tidak pantas ditanyakan, bagaimana mungkin seorang anak gadis yatim piatu tanpa sanak tanpa keluarga bisa memikirkan masalah di hari depan?

Bagaimana mungkin ia bisa memikirkannya? Mana berani untuk memikirkannya? Apa yang harus ia jawab?

Siapa tahu gadis cilik yang selama hidup hanya bisa hidup dalam kegelapan ini tiba-tiba menjawab dengan semacam suara yang amat nyaring: "Selanjutnya aku masih tetap akan menyanyi, aku akan menyanyi terus, menyanyi sampai ajalku tiba."

********************

Memandang gadis cilik yang mereka hantar pulang memasuki rumah makan Tiang-an-kit, entah bagaimanakah perasaan Siau-ko dan Cu Bong.

"Aku percaya dia pasti akan menyanyi terus," kata Cu Bong, "selama dia belum mati, dia pasti akan menyanyi terus."

"Aku pun percaya."

"Aku pun percaya bila ada orang melarangnya menyanyi terus, dia tentu akan mati."

Ya, sebab dia adalah seorang penyanyi, maka dia harus menyanyi, menyanyi untuk orang lain. Sekali pun nyanyiannya selalu memilukan hati, selalu membuat air mata orang bercucuran, tapi bila seseorang tidak memahami bagaimana rasanya sedih, bagaimana mungkin ia bisa memahami arti dari kesedihan tersebut?

Oleh sebab itu walau pun ia tidak memiliki apa-apa, namun dia masih tetap akan hidup terus.

Bila ia tak bisa menyanyi lagi, hidupnya akan berubah menjadi tanpa arti.

"Bagaimana dengan kita?" tiba-tiba Cu Bong bertanya, "selanjutnya apa pula yang harus kita lakukan?"

Siau-ko tidak menjawab pertanyaan itu, karena dia belum mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut.

Tiba-tiba saja dia melihat cahaya matahari memancarkan sinarnya menerangi seluruh jagad.

"Tentu saja kita pun harus menyanyi lebih jauh," tiba-tiba Siau-ko berseru sambil membusungkan dada, "walau pun nyanyian kita berbeda dengan gadis itu, tapi kita pun harus menyanyi terus, menyanyi sampai mati."

Nyanyian dari penyanyi, tarian dari penari, pedang dari jago pedang dan tulisan dari sastrawan, akan selalu hidup terus. Selama mereka masih hidup, tak akan mereka lepaskan semuanya dengan begitu saja…..

********************

Matahari fajar baru muncul.

Tumpukan salju telah melumer.

Seorang lelaki membawa sebuah peti kecil diam-diam meninggalkan kota Tiang-an.

Dia hanya seorang manusia yang sangat sederhana, dengan sebuah peti yang sederhana pula…..

T A M A T
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Pedang Tetesan Air Mata Bab 17 : Epilog "

Post a Comment