Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 36

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
"Sstt... ini penting sekali, tak boleh diketahui orang iain." Ki Patih Narotama lalu berkata dengan suara berbisik. "Ketahuilah, puteraku Joko Pekik Satyabudhi berada di tangan Lasmini, dan ia mengancam akan membunuhnya kalau aku memimpin pasukan menyerang Parang Siluman. Maka, tentu saja aku tidak mungkin dapat memenuhi perintah Gusti Sinuwun untuk menyerang ke sana, hal itu akan mengorbankan nyawa puteraku."

"Akan tetapi mengapa Gusti Sinuwun memerintahkan menyerang Parang Siluman kalau mengetahui bahwa putera Paduka menjadi sandera di sana?"

"Justru itulah, Puspa Dewi. Aku malu untuk melaporkan tentang janjiku kepada Lasmini untuk tidak menyerang Parang Siluman. Aku malu... maka beliau tidak tahu. Aku sudah diam-diam minta tolong kepada Nurseta untuk merampas kembali puteraku. Akan tetapi sekarang tiba-tiba Gusti Sinuwun memerintahkan menyerang Parang Siluman. Tentu saja aku tidak dapat melakukan hal itu dan membiarkan puteraku terbunuh di depan mataku. Akan tetapi bagaimana pula aku dapat membangkang terhadap perintah Gusti Sinuwun? Karena itu, engkau bantulah aku, Puspa Dewi. Aku tidak sanggup memimpin pasukan melanjutkan penyerangan pembersihan ini. Engkau wakililah aku, dan kau pimpin pasukan ini menyerbu ke Kadipaten Wengker. Aku sendiri akan pergi menyusul Nurseta untuk berusaha merampas kembali anakku yang ditawan di Kadipaten Parang Siluman."

Mendengar cerita Ki Patih Narotama, Puspa Dewi merasa iba sekali. Lasmini sungguh licik dan curang, menculik Joko Pekik Sataybudhi untuk mengancam dan memaksa Ki Patih Narotama agar tidak menyerang Parang Siluman. Memimpin pasukan menyerang Wengker merupakan pekerjaan yang teramat berat karena Wengker merupakan kadipaten yang kuat. Di sana terdapat orang-orang yang sakti mandraguna. Akan tetapi tentu saja ia siap membantu Ki Patih Narotama yang sedang menghadapi keadaan sulit itu.

"Baiklah, Gusti Patih. Saya siap melaksanakan perintah!"

Ki Patih Narotama lalu keluar dari kamar Puspa Dewi, kembali ke kamarnya sendiri, tidak menyadari bahwa sepasang mata Senopati Tanujoyo sejak tadi mengintai, melihat dia memasuki kamar Puspa Dewi lalu keluar lagi. Pada keesokan harinya, pagi-pagi semua pasukan sudah siap untuk menerima perintah berangkat. Akan tetapi ditunggu-tunggu, Ki Patih Narotama belum juga keluar dari kamarnya. Setelah menunggu beberapa lamanya, akhirnya Senopati Tanujoyo sebagai wakil panglima, bersama Puspa Dewi yang menjadi pembantu utama Ki Patih Narotama beserta beberapa orang perwira tinggi, memberannikan diri mengetuk daun pintu kamar tidur Ki Patih Narotama.

"Tok-tok-tok...!"

"Siapa?" terdengar suara Ki Patin Narotama bertanya.

"Saya, Gusti Patih. Senopati Tanujoyo dan para perwira lainnya."

"Masuk sajalah, pintunya tidak terpalang." kata Ki Patih Narotama.

Senopati Tanujoyo, Puspa Dewi, dan beberapa orang perwira memasuki kamar itu. Ki Patih Narotama masih rebah telentang di atas pembaringannya. Puspa Dewi sudah dapat menduga bahwa tentu Ki Patih Narotama akan berpura-pura sakit agar dapat melepaskan tugas memimpin pasukan menyerang musuh. Maka gadis ini pun bersikap tenang saja. Senopati Tanujoyo menghampiri pembaringan.

"Gusti Patih, Paduka kenapakah?! Apakah Paduka sakit?"

Ki Patih Narotama mengangguk. "Badanku rasanya tidak sehat, panas dingin dan kepala rasanya pening. Karena itu, aku serahkan pimpinan pasukan kepadamu, Puspa Dewi. Pimpinlah pasukan kita untuk menyerang Wengker."

"Baik, Gusti Patih. Saya siap melaksanakan perintah!" kata Puspa Dewi tegas.

"Nanti dulu, Gusti Patih!" Senopati Tanujoyo berseru dengan alis berkerut. "Saya mendapat perintah langsung dari Kanjeng Gusti Sinuwun untuk menjadi wakil Gusti Patih memimpin pasukan menyerang dan menundukkan Parang Siluman! Gusti Sinuwun sendiri yang mengangkat saya menjadi wakil Paduka. Kalau sekarang Paduka sakit dan tidak dapat memimpin pasukan, sesuai dengan perintah Gusti Sinuwun, semestinya saya yang mewakili Paduka memimpin pasukan. Mengapa Paduka serahkan kepada Ni Puspa Dewi? Ini berarti menyangkal perintah Gusti Sinuwun, dan saya tidak berani melakukan itu! Pula, Gusti Sinuwun, memerintahkan agar pasukan menyerang Parang Siluman, bukan Wengker lebih dulu. Maka, maafkan, Gusti Patih, terpaksa saya tidak menyetujui perintah Paduka. Ni Puspa Dewi memang gagah perkasa dan sudah berjasa terhadap Kahuripan, akan tetapi maaf, ia bukan senopati, maka tidak selayaknya memimpin pasukan Kahuripan. Sekarang, saya yang berhak menggantikan kedudukan Paduka dan memimpin pasukan...! Ni Puspa Dewi,... kalau suka membantu Kahuripan, akan menjadi pembantu utama saya. Maaf, Gusti Patih, sekarang saya akan memberangkatkan pasukan. Mari, Ni Puspa Dewi!"

Senopati Tanujoyo keluar dari kamar diikuti para perwira yang tentu saja membenarkan dia dan tidak berani mengubah perintah Sang Prabu Erlangga. Puspa Dewi ragu-ragu dan bingung, memandang kepada Ki Patih Narotama. Ki Patih Narotama menghela napas panjang dan berkata kepada Puspa Dewi.

"Pergi dan taatilah dia, Puspa Dewi, karena dia itu menurut hukum benar. Tidak baik bagimu menganggap aku lebih penting dari Sang Prabu Erlangga yang harus engkau taati perintahnya."

Puspa Dewi keluar dan terpaksa ia membantu Senopati Tanujoyo yang mengerahkan pasukannya, bukan ke Wengker melainkan ke Parang Siluman..! Setibanya di jalan simpang dan melihat pasukan hendak dibelokkan ke Parang Siluman, Puspa Dewi mencoba untuk mengingatkan Senopati Tanujoyo.

"Paman Senopati, maaf, apakah tidak keliru mengambil jalan? Bukankah seharusnya kita mengambil jalan itu yang menuju ke Wengker seperti dipesan Gusti Patih Narotama?"

"Ni Puspa Dewi, seorang punggawa kerajaan hanya patuh dan setia kepada atasannya, dalam hal ini yang paling tinggi dan harus dipatuhi adalah Sang Prabu Erlangga. Kalau tidak ada perintah langsung dari Gusti Sinuwun, tentu saja saya akan patuh kepada perintah Gusti Patih Narotama sebagai atasan saya. Akan tetapi ada perintah langsung yang sudah jelas dari Sang Prabu Erlangga, yaitu agar pasukan kita menyerang Parang Siluman lebih dulu. Mana bisa perintah langsung Sang Prabu Erlangga diubah begitu saja oleh Ki Patih Narotama? Saya tidak berani melanggar perintah Gusti Sinuwun, Ni Puspa Dewi."

Puspa Dewi menjadi bingung. Kalau saja tidak ada urusan itu. Kalau saja putera Ki Patih Narotama tidak dijadikan sandera di Parang Siluman. Tentu ia dengan senang hati akan membantu sekuat tenaga kepada Senopati Tanujoyo. Selagi ia kebingungan karena Senopati Tanujoyo sudah menggerakkan kudanya sehingga ia terpaksa mengikutinya, tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu Ki Patih Narotama telah berdiri menghadang di tengah jalan. Wajahnya yang biasanya tenang dan cerah penuh senyum itu kini tampak menyeramkan, matanya mencorong dan alisnya berkerut.

"Berhenti semua...! Kakang Senopati Tanujoyo, sudah kukatakan kepadamu. Bawalah pasukanmu ke Wengker dan serang Kadipaten Wengker!"

Senopati Tanujoyo adalah seorang senopati yang setia kepada Sang Prabu Erlangga. Diam-diam dia memang agak marah dan iri kepada Ki Patih Narotama karena dia tidak dipilih untuk membantu dalam gerakan pembersihan pasukan Kahuripan. Kini, melihat Ki Patih Narotama menghalang di jalan, dia lalu melompat turun dari atas punggung kudanya dan menghampiri Patih itu.

"Gusti Patih, apa yang Paduka lakukan ini? Kami melaksanakan perintah Gusti Sinuwun untuk menyerang Parang Siluman, siapa yang berani menghalangi?"

"Aku yang menghalangi...! Bawa pasukan ini menyerang Wengker! Kalau Andika lanjutkan menyerang Parang Siluman, aku melarangmu!"

Senopati Tanujoyo menjadi marah. Mukanya berubah kemerahan dan dia melangkah maju menghampiri, "Hei, Ki Patih Narotama...! Andika berani menentang perintah Gusti Sinuwun, berarti Andika hendak memberontak terhadap Sang Prabu Erlangga? Aku tahu, Andika tentu hendak melindungi Lasmini, bekas selir yang kini berada di Parang Siluman!"

"Tutup mulutmu dan pergilah!" bentak KI Patih Narotama.

"Sang Prabu Erlangga telah memberi purbawisesa (wewenang, kekuasaan), siapa yang menentang perintah beliau harus kubinasakan!" Setelah berkata demikian, Senopati Tanujoyo sudah mencabut kerisnya dan menyerang Ki Patih Narotama. Akan tetapi Ki Patih Narotama menyambutnya dengan dorongan tangan dan tubuh senopati itu terpental dan jatuh terjengkang! Dia bangkit lagi dan memberi aba-aba kepada beberapa orang perwira pembantunya.

"Tangkap pengkhianat pemberontak!"

Lima orang perwira maju dengan ragu-ragu untuk menangkap Ki Patih Narotama, akan tetapi dengan beberapa gerakan saja Ki Patih Narotama telah merobohkan mereka dengan tamparan dan tendangannya, tanpa melukai berat apa lagi membunuhnya. Senopati Tanujoyo masih ngotot dan hendak menyerang lagi, akan tetapi tiba-tiba Puspa Dewi melompat di depannya.

"Paman Senopati, hentikan semua serangan ini! Andika tidak akan menang melawan Gusti Patih Narotama dan tidak baik berkelahi antara rekan sendiri. Sebaiknya Andika melaporkan hal ini kepada Gusti Sinuwun karena hanya beliau yang berhak untuk memutuskan perkara ini."

Karena jelas bahwa gadis ini tidak akan membantunya mengeroyok Ki Patih Narotama, dan dia harus mengakui bahwa dia dan semua perwira pasti tidak akan mampu mengalahkan Patih itu, dan percuma saja mengerahkan pasukan karena semua prajurit itu pasti tidak akan berani melawan Ki Patih Narotama, maka Senopati Tanujoyo berkata dengan marah.

"Baiklah, akan kulaporkan Andika kepada Gusti Sinuwun, Ki Patih Narotama!"

Setelah berkata demikian, Senopati Tanujoyo menyuruh pasukannya mundur dan untuk sementara berhenti dan membangun perkemahan di situ. Adapun dia sendiri lalu mengajak pasukan pengawal untuk cepat-cepat kembali ke Kota Raja Kahuripan untuk melaporkan larangan Ki Patih Narotama terhadap gerakan pasukannya yang hendak menyerang Parang Siluman itu.

Puspa Dewi tinggal di situ sebagai wakil Senopati Tanujoyo untuk memimpin dan mengawasi pasukan. Beberapa kali ia menemui Ki Patih Narotama dan membicarakan urusan itu. Akan tetapi mereka tidak menemukan jalan terbaik untuk mengatasi masalah rumit itu.

"Tidak ada lain jalan bagiku, Puspa Dewi. Aku harus menepati janjiku kepada Lasmini karena aku tidak ingin melihat anakku dibunuh. Pula, aku sudah melepas janji bahwa selama anakku ditahan di Parang Siluman, aku tidak akan menyerangnya. Tidak mungkin aku melanggar janji dan lebih lagi, tidak mungkin aku membiarkan anakku dibunuh."

"Ah, saya ikut merasa prihatin sekali, Gusti Patih."

"Sudahlah, Puspa Dewi, jangan memikirkan urusanku ini. Biar nanti Gusti Sinuwun saja yang mengambil keputusan."

Beberapa hari kemudian seregu pengawal istana dating menunggang kuda, mengiringkan Sang Prabu Erlangga yang diikuti Senopati Tanujoyo dan para senopati lainnya. Senopati Tanujoyo yang merasa sakit hati karena di depan para pasukan dia dirobohkan Ki Patih Narotama, telah melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa Ki Patih Narotama sengaja melarang pasukan menggempur Parang Siluman untuk membela dan melindungi bekas selirnya, yaitu Lasmini! Bahkan Ki Patih Narotama telah memukul roboh dia dan para perwira lainnya, yang hendak mencegah dia memberontak.

Tentu saja Sang Prabu Erlangga marah bukan main. Dia maklum bahwa kalau Narotama memberontak, tidak akan ada yang mampu menandinginya kecuali dia sendiri. Karena itu, Sang Prabu Erlangga segera berangkat ke tempat berhentinya pasukan Kahuripan yang dihadang Narotama itu. Setelah tiba di situ dia mendengar bahwa Narotama berada di balik batu-batu besar yang berada di depan. Sang Prabu Erlangga yang masih marah segera turun dari kudanya, melompat ke depan lalu berseru sambil mengerahkan tenaga saktinya sehingga suaranya terdengar menggelegar.

"Kakang Narotama...! Andika seorang satria, seorang jantan, mengapa bersembunyi? Keluarlah dan hadapi aku!"

Perlahan-lahan Ki Patih Narotama keluar dari batu besar dan melangkah tenang menghampiri Sang Prabu Erlangga. Pakaiannya kusut, rambutnya juga awut-awutan, dan mukanya pucat, matanya redup dan sayu. Setelah berhadapan dengan Sang Prabu Erlangga, dia lalu menyembah dengan kedua tangan di depan hidungnya.


"Gusti Sinuwun..." Dia hanya menyapa dengan hormat, suaranya gemetar.

"Kakang Narotama, Andika berani berkhianat dan memberontak melawan aku demi untuk membela Lasmini yang telah berkhianat dan berbuat jahat terhadap kita? Untuk perempuan berwatak iblis itu engkau sampai hati mbalelo (memberontak) terhadap aku?"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Hamba tidak sekali-kali hendak memberontak terhadap Sinuwun. Paduka, hamba tetap setia kepada Kahuripan, siap mempertaruhkan nyawa demi membela Paduka dan Kahuripan."

"Hemm, kalau engkau tidak mbalelo, mengapa engkau menghalangi pasukan Kahuripan yang akan menyerang Parang Siluman?"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Hamba hanya menghendaki agar pasukan kita menyerang Wengker lebih dulu."

Sang Prabu Erlangga marah. Dia sudah mendapatkan laporan dari Senopati Tanujoyo akan keinginan Narotama menyerang Wengker lebih dulu. Dia mengira bahwa hal itu sengaja dilakukan Narotama untuk menghindarkan Parang Siluman dari serangan, tentu saja karena Narotama masih mencinta Lasmini dan ingin melindunginya.

"Kakang Narotama, jelas bahwa engkau berani melanggar perintahku! Agaknya engkau mengandalkan kedigdayaanmu untuk menentangku! Kalau begitu mari, kita sama-sama laki-laki jantan, kita buktikan siapa yang lebih unggul di antara kita berdua!" Sang Prabu Erlangga menantang. "Kecuali kalau engkau mau mengaku salah dan tidak lagi menghalangi pasukan yang hendak menyerang Parang Siluman!"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Untuk hal lain, hamba akan menaati semua perintah Paduka. Akan tetapi untuk yang satu ini, yaitu kalau pasukan hendak menyerang Parang Siluman, terpaksa hamba akan menghalangi."

"Keparat! Kalau begitu terpaksa aku tega kepadamu!" Sang Prabu Erlangga sudah marah sekali dan tubuhnya gemetar mengeluarkan hawa sakti yang menggiriskan. Akan tetapi pada saat itu, Puspa Dewi melompat ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Sang Prabu Erlangga.

"Duh Gusti Sinuwun, hamba mohon Paduka bersabar dulu dan sudi mendengarkan keterangan hamba."

Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya memandang kepada Puspa Dewi dengan sinar mata mencorong.

"Engkau juga, Puspa Dewi? Engkau hendak membela pengkhianat ini yang melindungi Parang Siluman?"

"Ampun, Gusti Sinuwun. Sesungguhnya Gusti Patih Narotama sama sekali tidak melindungi Parang Siluman ataupun Lasmini, akan tetapi beliau hendak melindungi keselamatan nyawa putera beliau, Joko Pekik Satyabudhi..."

"Puspa Dewi...!" seru Ki Patih Narotama.

"Biarlah saya menjelaskannya, Gusti Patih. Semua ini hanya salah paham saja. Gusti Sinuwun, seperti telah diketahui, Joko Pekik Satyabudhi telah diculik orang. Gusti Patih Narotama sudah melakukan pencarian ke Parang Siluman dan ternyata Joko Pekik berada di tangan Lasmini. Lasmini dan para tokoh Parang Siluman mengancam bahwa kalau Gusti Patih Narotama mengerahkan pasukan menyerang Parang Siluman, maka putera beliau akan lebih dulu dibunuh! Mereka memaksa Gusti Patih Narotama berjanji tidak akan membawa pasukan menyerang Parang Siluman dan demi melindungi keselamatan putera beliau, Gusti Patih Narotama terpaksa berjanji dan tentu saja menghalangi kalau pasukan Kahuripan hendak menyerang Parang Siluman sebelum puteranya dapat direbut kembali."

Kemarahan Sang Prabu Erlangga menguap seperti embun terpanggang sinar matahari pagi. Dia memandang ke arah Ki Patih Narotama yang berdiri dengan kepala tunduk.

"Kakang Narotama, benarkah apa yang dikatakan Puspa Dewi itu?"

"Benar, Gusti Sinuwun." kata Ki Patih Narotama lirih.

"Akan tetapi, mengapa engkau tidak mengatakan hal itu kepadaku, dan tidak memberitahukan kepada Kakang Senopati Tanujoyo?".

"Ampun, Gusti. Hamba merasa malu dan takut untuk menceritakan kelemahan hamba kepada Paduka."

"Ah, Kakang Narotama, engkau ini bagaimanakah? Melindungi keselamatan anak bukan suatu kelemahan. Apa kau kira aku sendiri akan tega mengorbankan nyawa Joko Pekik Satyabudhi? Kalau aku mengetahui persoalannya, aku pun tentu akan melarang untuk menyerang Parang Siluman dan menundanya untuk sementara waktu sampai puteramu itu dapat direbut kembali. Dan sekarang apa usahamu untuk merebut puteramu itu?"

"Hamba sudah minta tolong kepada Nurseta untuk berusaha merampas Joko Pekik, Gusti."

"Bagus kalau begitu. Sekarang begini saja, Kakang Patih Narotama. Pimpinlah pasukan dengan bantuan Kakang Senopati Tanujoyo, sedangkan Puspa Dewi kami minta untuk menyusul Nurseta, menyusup ke Parang Siluman dan membantu dia merampas Joko Pekik!"

"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti." Kata Ki Patih Narotama dengan wajah berseri.

"Hamba juga siap melaksanakan perintah Paduka, Gusti Sinuwun!" kata Senopati Tanujoyo, lalu dia menoleh kepada Ki Patih Narotama dan berkata lirih, "Gusti Patih Narotama, saya mohon maaf sebesarnya atas sikap saya yang menuduh Paduka berkhianat karena saya tidak tahu duduknya perkara."

"Tidak mengapa, Kakang Senopati Tanujoyo. Salahku sendiri yang tidak bicara terus terang."

"Bagaimana dengan engkau, Puspa Dewi? Sanggupkah engkau membantu Nurseta merebut kembali putera Kakang Patih Narotama?"

"Hamba siap melaksanakan perintah Paduka, walau pun hamba kira tidak akan mudah bagi hamba untuk menyusup ke Parang Siluman. Mereka di sana tentu sudah mengenal hamba sehingga hamba tidak dapat bergerak dengan leluasa."

"Puspa Dewi, mengapa engkau tidak menyamar saja sebagai seorang pria? Dengan demikian engkau tidak akan dikenali orang di sana." kata Ki Patih Narotama.

Mendengar usul itu, Puspa Dewi mengangguk sambil tersenyum. "Gagasan itu baik sekali, Gusti Patih. Akan saya laksanakan!"

Berangkatlah pasukan itu, dipimpin Ki Patih Narotama dan Senopati Tanujoyo, menuju Kerajaan Wengker. Sang Prabu Erlangga dikawal pasukan pengawal kembali ke Kahuripan, dan Puspa Dewi seorang diri lalu berangkat ke Parang Siluman dengan menyamar sebagai seorang pemuda ganteng…..

********************

Sebelum memenuhi permintaan Ki Patih Narotama untuk menyusup ke Parang Siluman dan berusaha membebaskan putera patih itu dari tangan Lasmini, Nurseta telah diberitahu oleh Ki Patih Narotama bahwa dia telah menyebar belasan orang telik-sandi (mata-mata) ke dalam Kerajaan Parang Siluman.

"Mereka adalah perwira-perwira menengah, para pembantuku yang setia dan mereka semua sudah pernah melihatmu. Tentu mereka akan mengenalmu dan dapat membantumu di sana." Demikian Ki Patih Narotama memberitahu kepadanya.

Tidak sukar bagi Nurseta untuk memasuki daerah Parang Siluman. Para penduduk pedusunan di daerah itu tidak mengenalnya. Yang sukar, bahkan amat berbahaya baginya adalah memasuki Kota Raja Parang Siluman. Selain penjagaannya ketat, terdapat banyak orang sakti di sana dan mereka semua telah mengenal wajahnya.

Pada suatu senja, Nurseta memasuki sebuah dusun yang sudah tak jauh letaknya dari Kota Raja Parang Siluman. Dusun itu cukup ramai karena sawah ladang di sekitar dusun itu subur sehingga dusun Werdoyo ini menjadi pemasok sayur-sayuran dan hasil bumi yang cukup besar bagi kota raja. Untuk memperkecil bahaya kemungkinan dikenal orang. Nurseta menjauhi tempat yang ramai dan menyusup di pinggir dusun. Dia bermaksud melewatkan malam di dusun itu. Tubuhnya lelah dan perutnya lapar, akan tetapi dia tidak berani sembrono (gegabah) mencari makan di warung nasi karena tempat seperti itu tentu dikunjungi banyak orang. Ketika dia melihat sebuah rumah sederhana berdiri terpencil di tepi dusun, agak jauh dari tetangga karena rumah itu memiliki kebun dan di sekelilingnya penuh dengan tanaman sayur, dia lalu memasuki pekarangan yang luas dan menghampiri rumah yang sederhana itu.

Seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, bertubuh kokoh kuat dan berkulit kecoklatan hitam karena setiap hari terbakar sinar matahari, pakaiannya jelas menunjukkan bahwa dia seorang petani, keluar dari pintu depan menyambutnya.

"Kisanak, apakah Andika hendak membeli sayuran? Akan tetapi, mana keranjang dan pikulanmu?"

"Maaf, Paman. Aku tidak ingin membeli sayur, akan tetapi ingin mohon diperbolehkan beristirahat dan melewatkan malam di rumah Paman. Biar aku beristirahat di bangku itu pun cukuplah." Nurseta menunjuk ke arah bangku panjang yang terdapat di emper rumah. Dia sengaja bicara dengan bahasa sederhana seperti biasa dipergunakan penduduk dusun.

Orang itu mengerutkan alisnya dan menatap wajah Nurseta penuh perhatian. "Andika siapakah, dari mana dan hendak kemana?"

"Namaku Baroto, Paman, datang dari Kidul Gunung. Aku hendak mencari Pamanku bernama Martoyo yang sebulan lalu katanya hendak pergi ke sini akan tetapi sampai sekarang belum pulang. Bibiku menyuruh aku mencarinya. Barang kali Paman mengenalnya?"

Orang itu menggelengkan kepalanya, memandang Nurseta penuh perhatian, lalu dia tersenyum ramah sekali.

"Aku tidak mengenalnya, akan tetapi tentu saja Andika boleh melewatkan malam ini di sini. Bukan di bangku luar, mari masuk. Aku masih mempunyai sebuah kamar kosong di bagian belakang rumahku. Mari, Baroto, masuk saja dan jangan sungkan. Namaku Juhari, duda yang hidup bersama dua orang keponakanku di sini."

Nurseta merasa girang dan ketika dia memasuki rumah yang telah diterangi lampu gantung dia melihat bahwa di ruangan yang cukup luas itu terdapat banyak tumpukan jagung, ada pula keranjang-keranjang berisi wortel dan buncis. Agaknya semua itu hasil perkebunan yang cukup luas di sekitar rumah sederhana namun ternyata cukup besar itu. Juhari ternyata seorang yang ramah. Dia menyuruh dua orang keponakannya, dua orang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun lebih yang tadi sibuk mengisi keranjang kosong dengan buncis yang masih ditumpuk di atas lantai, agar menyediakan makan malam.

Nurseta lalu diajak makan bersama tiga orang itu. Makanan sederhana dengan sayur dan sambal, namun cukup nikmat bagi Nurseta yang memang sedang lapar. Nurseta lega karena tuan rumah yang baik itu tidak banyak bertanya. Maka untuk memulihkan tenaganya yang banyak terkuras melakukan perjalanan jauh naik turun gunung, dia pamit untuk mengaso lalu memasuki kamar kecil sederhana yang diberikan kepadanya untuk mengaso malam itu. Kamar itu kecil saja, dengan sebuah dipan kayu tua tanpa prabot lain lagi. Ada sebuah jendela kayu dan Nurseta menutupkan daun pintu, lalu merebahkan diri di atas dipan.

Baru saja dia layap-layap mendekati pulas, telinganya mendengar suara orang bicara ramai diselingi tawa di luar kamarnya. Nurseta membuka matanya, masih rebah akan tetapi kini dia mendengarkan percakapan itu.

"He, Kartowi, mengapa malam-malam begini engkau datang? Biasanya besok pagi-pagi sekali engkau kulakan (beli untuk dijual lagi) ke sini!"

"Heh-heh-eh, sekali ini aku tidak mau didahului mereka. Kakang Juhari! Sekarang aku hendak mendahului mereka, maka malam-malam aku datang, kulakan dan dapat memilih sayur lebih dulu sehingga mendapatkan yang terbaik, kemudian besok pagi-pagi sekali sebelum mereka datang kesini mengambil sayur, aku sudah lebih dulu memasuki kota raja menjual daganganku, ha-ha-ha!"

"Ha-ha, engkau cerdik, Kartowi! Tentu engkau akan dapat menjual dengan harga tinggi karena sainganmu belum ada. Dan dua keranjangmu ini... wah, besar amat, dua kali lebih besar dari yang biasa!"

"He-he-heh, Kakang Juhari, setelah berhasil mendahului para penjual sayur lainnya, tentu saja aku harus membawa sebanyak mungkin dagangan agar sekali pikul dapat untung lumayan... Betul tidak?"

Dua orang itu lalu tertawa-tawa lagi.

"Akan tetapi Kakang Juhari, engkau tentu tidak tega membiarkan aku malam-malam begini memikul dagangan yang begini berat, bukan? Kalau boleh, aku akan tidur di sini, biar tidur di lantai beralaskan jerami juga tidak mengapa agar besok pagi-pagi benar, sebelum mereka datang kulakan ke sini, aku sudah bisa berangkat."

"Wah, masa sama langganan yang sudah lama aku tega begitu? Tentu saja boleh. Kebetulan sekali, Kartowi. Sebetulnya kamar di belakang itu ditempati seorang tamu, akan tetapi baiknya malam ini dua orang keponakanku ada keperluan keluar rumah sehingga malam ini engkau boleh tidur di kamar mereka."

Nurseta tidak mendengarkan lagi karena sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya, apa lagi setelah pedagang sayur itu mendapatkan kamar untuk bermalam. Lewat tengah malam, tiba-tiba Nurseta terbangun oleh suara yang tidak wajar yang datang dari arah pintu kamar.

Penerangan lampu yang redup masih membuat dia dapat melihat sehelai kertas putih melayang masuk ke kamar itu. Agaknya kertas itu dimasukkan dengan cara menyisipkan di antara celah-celah daun pintu. Tanpa menimbulkan suara sedikit pun, Nurseta turun dari pembaringan. Naluri kependekarannya menyadarkannya bahwa tentu terjadi sesuatu yang amat penting, yang membuat dia waspada. Dia mengambil kertas itu dan membawanya ke dekat lampu. Ternyata ada tulisannya, singkat saja namun cukup jelas.

JUHARI ADALAH PENYELIDIK PARANG SILUMAN. ANDIKA SUDAH DIKETAHUI. CEPAT PERGI KE BARAT DUSUN, TUNGGU AKU DI TEPI ANAK SUNGAI...!

Nurseta terkejut. Dia percaya akan isi surat itu. Kalau pengirim surat berniat buruk, untuk apa dia mengirim surat gelap ini? Entah siapa yang mengirim surat ini, akan tetapi yang penting, dia harus cepat pergi meninggalkan rumah ini dan pergi menuju tepi anak sungai seperti yang ditunjuk oleh surat itu. Dia akan hadapi apa pun yang akan terjadi. Dengan cepat Nurseta keluar dari kamarnya melalui jendela. Menutupkan daun jendela kembali dari luar lalu berjalan dalam kegelapan yang remang-remang karena mendapatkan sedikit sinar dari bintang-bintang di langit, menuju ke arah barat setelah keluar dari dusun. Tak lama kemudian dia memasuki sebuah hutan kecil dan akhirnya tibalah dia di tepi sebuah anak sungai yang mengalir deras. Dia berhenti lalu duduk di atas sebuah batu di tepi sungai, menanti dengan sikap waspada yang akan terjadi selanjutnya.

Sementara itu, tidak lama setelah Nurseta pergi, menjelang fajar, belasan orang prajurit yang dipimpin sendiri oleh Ki Nagakumala, Senopati Parang Siluman, kakak Sang Ratu Durgamala yang gagah dan tampan, guru Lasmini dan Mandari, berkuda dan memasuki pekarangan rumah Ki Juhari, diikuti pula oleh dua orang muda keponakan Ki Juhari yang semalam meninggalkan rumah itu. Kiranya dua orang muda itu oleh Ki Juhari disuruh pergi melapor ke kota raja tentang kedatangan Nurseta di dusun Werdoyo.

Ternyata Ki Juhari adalah seorang mata-mata Parang Siluman yang disebar untuk menjaga keamanan dan menyelidiki kalau-kalau ada musuh menyusup ke daerah Parang Siluman. Biarpun dia sendiri belum pernah melihat Nurseta, namun dia telah mendapat gambaran oleh atasannya tentang orang-orang yang perlu diperhatikan, termasuk Nurseta. Maka, begitu dia bertemu Nurseta, dia sudah menaruh curiga dan cepat menyuruh dua orang keponakannya untuk melapor malam Itu juga ke Kota Raja Parang Siluman. Mendengar laporan bahwa mungkin sekali yang bernama Nurseta muncul di dusun Werdoyo, Ki Nagakumala sendiri lalu memimpin pasukan pengawal pilihan dan malam itu juga pergi ke dusun Itu membalapkan kuda mereka. Menjelang fajar mereka tiba di pekarangan rumah itu.

Ki Kartowi, pedagang sayur yang bermalam di rumah Juhari itu sedang mempersiapkan dua buah keranjang besar yang berisi sayur-sayuran dan sudah hendak dipikulnya ketika dia mendengar derap kaki kuda di pekarangan rumah itu. Dia menunda pekerjaannya dan memutar tubuh memandang kepada Ki Juhari yang juga keluar dari kamarnya.

"Kakang Juhari. siapa yang datang itu?"

Akan tetapi Juhari tidak menjawab. Dia bergegas ke depan dan membuka daun pintu.....

0 Response to "Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 36"

Post a Comment