close

Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 24

Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
"Ha-ha-ha, bagus! mari, Gayatri dan engkau juga, Niken Harni, mari kita makan bersama dalam ruang makan." Ki Dibya Krendasakti tampak gembira sekali.

Nini Bumigarbo dan Niken Harni mengikutinya meninggalkan ruang tamu menuju ke ruang makan yang ternyata juga cukup luas dan prabotannya mewah. Sebuah meja makan persegi yang besar berada di tengah ruangan. Lima buah kursi berada di seputar meja. Belasan macam masakan berada di atas meja, dan masih mengepulkan uap. Tiga orang pelayan wanita berdiri di dekat dinding, dengan sikap hormat dan siap melayani.

"Ha-ha, duduklah, Gayatri dan Niken. Kalian berdua duduk di sini." Dia menunjuk dua buah kursi yang berjajar. Di seberang meja, berhadapan dengan mereka, terdapat dua buah kursi yang berjajar pula, sedangkan Ki Dibya Krendasakti sendiri duduk di kepala meja.

Diam-diam Nini Bumigarbo merasa heran mengapa ada dua buah kursi kosong di depannya. Siapa yang akan duduk disitu? Akan tetapi ia tidak menyinggung hal itu ketika bertanya.

"Dibya, di mana sahabatku Woro Sumarni? Aku ingin bertemu dengannya dan kau bilang tadi ia akan hadir dalam perjamuan ini."

"Sabar, Gayatri, sebentar juga ia akan datang." Ki Dibya lalu berkata kepada seorang pelayan. "Cepat kamu mohon Bendoro Puteri untuk hadir sekarang!" Pelayan itu membungkuk lalu pergi.

Tak lama kemudian, muncullah orang yang dinanti-nanti Nini Bumigarbo. Niken Harni ikut memandang dan ia merasa kagum. Seorang wanita, usianya sekitar empat puluh delapan tahun, masih cantik dan tubuhnya ramping padat, kulitnya kuning, namun wajahnya pucat dan matanya suram tanpa gairah, mulutnya yang manis bentuknya itupun menunjukkan hati yang penuh duka.

Pakaiannya mewah, bersih dan rapi, dari sutera mahal. Rambutnya masih hitam, panjang dan digelung rapi, dihias tusuk sanggul dari emas permata. Sungguh seorang wanita yang anggun dan cantik. Namun ia pucat dan tak bersemangat, bahkan seperti mayat hidup.

Ki Dibya Krendasakti cepat bangkit dari duduknya kemudian menarik dua buah kursi yang berjajar di depan Niken dan Nini Bumigarbo.

"Diajeng, duduklah."

Wanita itu duduk dengan tubuh lesu. Yang membuat Niken Harni terbelalak adalah ketika dia melihat seorang pelayan wanita yang tadi selalu berjalan di belakang wanita cantik itu, membawa sebuah baki kecil hitam yang tertutup sehelai kain kuning. Sekarang pelayan itu meletakkan baki di atas meja, di depan kursi kosong yang berada di sebelah kiri wanita cantik Itu. Kemudian dengan perlahan dan amat hati-hati dia membuka kain kuning yang menutup baki.

Niken Harni terbelalak dan menahan seruan kagetnya ketika melihat bahwa di atas baki itu terdapat sebuah tengkorak. Tulang itu putih bersih dengan lubang-lubang ternganga pada kedua mata, hidung dan mulutnya. Yang mengerikan adalah mulut tengkorak itu. Masih tampak deretan gigi berbaris rapi pada mulut yang setengah terbuka itu sehingga tengkorak itu seolah menyeringai mentertawakan!

"Diajeng Woro Sumarni, lihat siapa yang datang mengunjungi kita ini!" kata pula Dibya Krendasakti kepada isterinya yang sejak tadi hanya menundukkan muka dan sama sekali tidak melihat ke arah Nini Bumigarbo dan Niken Harni.

"Woro! Engkau kenapa? Ini aku, Gayatri!" kata Nini Bumigarbo sambil bangkit dari kursinya dan menghampiri wanita itu.

Woro Sumarni mengangkat mukanya memandang, sikapnya dingin saja ketika la berkata.

"Ah, engkaukah yang datang, Mbakayu Gayatri?" Setelah berkata demikian, ia menunduk kembali.

Nini Bumigarbo merangkul Woro Sumarni yang dulu ketika masih sama-sama muda menjadi sahabat baiknya.

"Marni..., engkau kenapakah...?"

Akan tetapi Woro Sumarni bersikap dingin saja, menggeleng kepalanya dan berkata, "Tidak apa-apa, Mbakayu Gayatri."

"Ha-ha-ha, Gayatri, ternyata isteriku tercinta ini lebih tenang daripada kamu. Duduklah dan mari kita mulai dengan perjamuan makan yang kami adakan untuk menyambut kalian berdua sebagai tamu kehormatan." Kemudian Dibya Krendasakti memberi isarat kepada para pelayan wanita yang kini berjumlah empat orang itu. "Hayo isi cangkir kami dengan minuman!"

Empat orang pelayan itu dengan cekatan lalu menuangkan minuman berwarna kuning dan dari baunya dapat diketahui bahwa minuman itu terbuat dari perasan jeruk ke dalam cangkir-cangkir kosong yang berada di atas meja di depan Ki Dibya Krendasakti, Nini Bumigarbo, dan Niken Harni.

Di depan wanita cantik itu tidak terdapat gelas kosong dan anehnya, pelayan yang tadi membawa baki terisi tengkorak itu lalu menuangkan minuman ke dalam tengkorak melalui lubang yang berada di bagian ubun-ubun kepala tengkorak itu! Agaknya lubang-lubang di bagian bawah telah ditambal sehingga minuman itu berada di dalam tengkorak, tidak mengalir keluar.

"Mari kita minum untuk menyambut pertemuan yang menggembirakan ini!" kata Dibya Krendasakti sambil mengangkat cangkirnya.

Minuman yang terbuat dari perasan jeruk itu tampak segar dan baunya juga sedap menimbulkan selera. Niken Harni dan Nini Bumigarbo juga sudah mengangkat cangkir masing-masing akan tetapi Woro Sumarni diam saja, dan melihat ini, dua orang tamu itu memandang penuh rasa heran. Di depan Nyonya rumah itu tidak terdapat cangkir lain jeruk.

"Mari, Diajeng, isteriku yang tercinta, Isteriku yang ayu manis merak ati, mari kita minum!" Suara Dibya Krendasakti tampak lembut membujuk dan mesra, namun ada tekanan pada akhir kalimat yang mengandung kekerasan.

Niken Harni memandang Woro Sumarni dengan penuh perhatian. Dia tidak mengerti apa maksud Ki Dibya dengan ucapannya kepada isterinya itu. Semenjak wanita ini datang dan melihat tengkorak itu diletakkan di atas meja, berhadapan dengannya, Niken Harni sudah merasa tidak suka dan muak.

Tanpa memandang siapa pun Woro Sumarni menggunakan kedua tangannya mengambil tengkorak itu, dihadapkan kepadanya, kemudian mendekatkan tengkorak itu dan bibirnya dirapatkan pada mulut tengkorak yang ditundukkan. Dia minum minuman itu yang keluar dari mulut tengkorak dan tampak tentu saja seperti orang berciuman!


"Gayatri dan Niken, mari kita minum, ha-ha-ha!" Dibya Krendasakti berkata lalu minun dari cangkirnya.

Nini Bumigarbo agaknya sama sekali tidak peduli akan perbuatan Woro Sumarni. Ia juga minum sampai minuman itu habis. Akan tetapi Niken Harni merasa muak dan tidak mau minum, bahkan lalu menaruh kembali cangkir minuman itu di atas meja.

Seperti Nini Bumigarbo, Ki Dibya juga menghabiskan minumannya. Malah Woro Sumarni juga menghabiskan minumannya, minum melalui mulut tengkorak, lalu seperti menaruh cangkir kosong, ia meletakkan kembali tengkorak itu ke atas meja.

Melihat Niken Harni tidak mau minum, Ki Dibya berkata, "Niken Harni, minumlah air jeruk yang segar itu, dan rnari kita makan bersama dengan gembira."

Niken Harni marah sekali, la sudah muak dan rasanya mau muntah, la bangkit berdiri dengan kasar dan sebelum membentak nyaring ia menggebrak meja sehingga mangkuk piring di atas meja berloncatan.

"Brakk...!

Aku tidak suka makan minum bersama manusia iblis macam kamu...! Bibi Gayatri, mengapa Bibi diam saja melihat laki-laki iblis jahanam ini menghina dan menyiksa isterinya, yang sahabat Bibi sendiri, seperti ini? Iblis ini sudah sepatutnya dibasmi dari permukaan bumi!"

Nini Bumigarbo adalah seorang datuk aneh yang sama sekali tidak tersentuh perasaannya oleh peristiwa apa pun juga. Juga Ki Dibya Krendasakti juga seorang datuk yang luar biasa, biar dimaki seperti Itu, malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku menghina dan menyiksa isteriku yang amat kucinta ini? Heh-heh-heh, Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang, pujaan hatiku, tolong ceritakan kepada perawan cantik yang kewat (genit) ini, siapakah yang kejam? Ceritakan semuanya agar sahabatmu Gayatri ini juga mendengar dan mengerti."

Ucapan itu lembut dan manis, namun terasa ada kekerasan yang mengancam oleh Niken Harni. Woro Sumarni menghela napas panjang. Dia mengangkat muka dan memandang suaminya, kemudian menoleh dan memandang ke arah tengkorak itu, dan akhirnya ia menghadapkan mukanya kepada Niken Harni dan Nini Bumigarbo yang duduk berhadapan dengannya, di seberang meja. Setelah menghela napas panjang sekali lagi, ia lalu bicara, suaranya lembut halus, mengandung penyesalan dan kedukaan.

"Sesungguhnyalah, Kakangmas Dibya Krendasakti tidak bersalah, tidak kejam dan tidak menyiksaku, melainkan dia amat mencintaku. Akulah yang bersalah kepadanya, akulah yang kejam dan telah menyiksa batinnya."

Niken Harni terheran-heran mendengar ucapan wanita itu. Nini Bumigarbo sambil minum lagi minuman yang sudah diisi ke dalam cangkirnya oleh pelayan, memandang sahabatnya itu dan berkata.

"Marni, tadi aku mendengar suamimu mengatakan bahwa engkau boleh menceritakan semuanya agar aku dan muridku dapat mendengar dan mengerti keadaanmu. Nah, sekarang ceritakan kepada kami apa kesalahanmu kepada Dibya Krendasakti. Kekejaman dan penyiksaan batin apakah Yang telah kau lakukan kepadanya."

Wanita itu mengarahkan pandang matanya kepada suaminya dan Dibya Krendasakti tersenyum dan mengangguk, kemudian dia menoleh ke belakang dan berseru galak kepada empat orang pelayan wanita itu.

"Kalian berempat keluar dari ruangan ini dan tutupkan daun pintunya. Awas, kalau ada yang mengintai dan mendengarkan pasti akan kulemparkan ke sarang ikan hiu!"

Ancaman itu agaknya bukan gertak sambal karena empat orang pelayan itu menjadi pucat dan segera keluar dari ruangan makan itu. Agaknya sudah pernah atau bahkan sering ada anak buah yang melakukan kesalahan dan benar-benar dilempar ke laut dan menjadi makanan gerombolan ikan hiu yang ganas dan buas. Setelah menghela napas lagi, Woro Sumarni mulai bercerita dengan suara lirih, lembut dan datar.

"Terjadinya sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, Mbakayu Gayatri. Setahun setelah aku menjadi lsteri Kakangmas Dibya Krendasakti, kami pindah ke Pulau Nusa Barung ini dan kami hidup berbahagia. Kami saling mencinta, terutama suamiku amat mencintaku. Lalu... Kakangmas Kunarpo datang berkunjung ke sini..."

"Hemm, Kunarpo adik seperguruan Dibya?"

"Benar, Mbakayu. Mungkin engkau masih ingat, dia seorang pemuda tampan, ketika itu berusia sekitar dua puluh lima tahun dan aku berusia dua puluh tiga tahun..."

"Dan aku telah tiga puluh lima tahun, jauh lebih tua, ha-ha-ha!" potong Dibya Krendasakti.

"Semula tidak terjadi sesuatu, Mbakayu Gayatri. Akan tetapi, Kakangmas Kunarpo dan aku masih muda dan dia memang memiliki pribadi yang menarik dan tentu saja, dia jatuh cinta kepada ku, Kakak iparnya sendiri. Lebih lagi Kakangmas Dibya Krendasakti terlalu memanjakan aku dan mempercaya kami berdua sehingga kami berdua seringkali ditinggalkan karena dia sibuk membangun pulau ini. Terkadang sampai dua tiga hari dia tidak pulang dan kami tinggal berdua saja dalam rumah. Kami tidak mampu menahan godaan nafsu maka terjadilah hubungan cinta di antara kami."

Gayatri atau Nini Bumigarbo mengerutkan alisnya. Hatinya tidak senang mendengar betapa lemahnya sahabatnya itu. Padahal, menurut pendapatnya, yang lemah dalam kesetiaan cinta adalah kaum pria, sedangkan wanita, seperti ia sendiri, tetap setia kepada cintanya sehingga ia sendiri begitu berpisah dari Ekadenta tidak mau berdekatan lagi dengan pria!

"Huh, memalukan sekali, Mami!" kata Nini Bumigarbo dan kembali ia menenggak minuman dari cangkirnya yang ia isi sendiri karena semua pelayan telah pergi.

"Bibi Gayatri biarkan Bibi Woro Sumarni melanjutkan ceritanya!" kata Niken Harni yang merasa iba kepada wanita yang lemah lembut tutur bahasanya itu. "Lanjutkanlah, Bibi Woro Sumarni."

"Akhirnya hubungan kami diketahui Kakangmas Dibya Krendasakti. Tentu saja dia marah sekali kepada Kakangmas Kunarpo dan menantangnya untuk bertanding sampai mati memperebutkan diriku..."

"Huh, kau dengar itu, Niken? Laki-laki memang biadab, memperebutkan wanita yang dianggap sebagai permainan belaka!" kata Nini Bumigarbo.

"Teruskanlah ceritamu, Bibi Woro Sumarni." kata Niken.

"Mereka bertanding dan Kakangmas Kunarpo tewas dalam pertandingan itu."

"Heh-heh-heh, dia mengalah. Adi Kunarpo sengaja mengalah dan rela mati untuk Diajeng Woro Sumarni. Hemm, dia amat mencinta Diajeng Woro Sumarni, akan tetapi aku lebih mencintanya!"

"Lanjutkanlah, Bibi Woro Sumarni!" desak Niken Harni sambil mengerling kepada Dibya Krendasakti dengan mata mencorong karena tak senang.

"Setelah Kakangmas Kunarpo tewas... Kakangmas Dibya Krendasakti mengatakan bahwa Kakangmas Kunarpo berhak untuk terus merasakan cintaku dan harus terus berdampingan dengan aku. Maka, Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan Kakangmas Kunarpo selalu bersanding denganku, katanya agar aku tidak rindu setelah ditinggal mati kekasihku..."

"Ahh! Jadi... tengkorak ini adalah tengkoraknya?" Niken Harni berseru nyaring dan memandang tengkorak itu dengan mata terbelalak.

"Benar. Ini adalah tengkorak Kakangmas Kunarpo yang sengaja dipenggal dan dikeringkan. Aku diharuskan minum dari mulut tengkorak untuk menyatakan cintaku kepada Kakangmas Kunarpo, dan tidak pernah berpisah. Bahkan kalau malam, tengkorak ini ditaruh di pembaringanku dan Kakangmas Dibya Krendasakti membiarkan tengkorak ini menjadi saksi ketika dia membelaiku, bercinta dan menggauli aku..."

"Wah, keparat jahanam!" Niken Harni kini bangkit berdiri dan memandang kepada tuan rumah dengan muka merah dan mata mencorong penuh kemarahan.

"Heh-heh, Diajeng Woro Sumarni, katakanlah, apakah selama dua puluh lima tahun ini aku tidak memperlihatkan cintaku kepadamu yang berlimpahan? Pernahkah aku menyiksamu, atau memakimu, atau memukul dan menghinamu?"

"Tidak, Kakangmas Dibya Krendasakti bersikap amat mencintaku, bahkan berlebihan, seolah hendak pamer kepada tengkorak Kakangmas Kunarpo bahwa dia memang benar-benar amat menyayangku, amat mencintaku dan tetap mencintaku biarpun aku telah mengkhianatinya dan menyeleweng. Dia tidak mau mempunyai selir seorang pun, dia hanya mencinta aku seorang dan aku... aku memang layak menerima hukuman derita batin ini..."

"Bohong! Dia masih gila karena dendam dan cemburu! Dia pada lahirnya bilang cinta, akan tetapi sesungguhnya pada batinnya penuh dendam kebencian dan cemburu! Dia menyiksamu dengan kejam sekali, Bibi Woro Sumarni! Dan Bibi menderita hebat! Siapa yang tidak tahu akan hal ini? Bibi menjadi seperti mayat hidup, semangat dan kebahagiaan Bibi telah mati, yang ada hanya kepedihan hati dan derita!" Niken Harni berteriak lantang.

Tiba-tiba Woro Sumarni menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tidak mengeluarkan suara, akan tetapi jelas ia menangis sedih. Air matanya menetes keluar dari celah-celah jari tangannya, pundaknya terguncang-guncang.

"Ah, Diajeng Woro Sumarni, isteriku sayang. Mengapa engkau menangis? Bukankah aku selalu mencintamu dan engkau tidak kekurangan sesuatu di sini, hidup berbahagia sebagai isteriku?" Dibya Krendasakti membujuk dengan lembut dan mengelus pundak isterinya.

"Dibya Krendasakti, engkau manusia berwatak iblis! Engkau menyiksa hati Bibi Woro Sumarni dengan kejam! Lebih kejam dari pembunuhan. Selama dua puluh lima tahun engkau menyiksanya seperti ini, menghinanya dan menghancurkan semua harapan dan kebahagiaannya! Engkau jahat! Bibi Gayatri, buat apa kita menjadi tamu manusia iblis seperti dia ini?" Niken Harni membentak-bentak saking marahnya.

"Ha-ha-ha, Niken Harni Engkau memang pantas menjadi murid Gayatri. Engkau kewat dan galak seperti Gayatri di waktu muda Nah, Cah ayu (Anak cantik), sekarang katakan, apa yang kau ingin aku lakukan? Apakah aku harus mengubah cintaku terhadap isteriku?"

"Dibya Krendasakti! Engkau harus membebaskan Bibi Woro Sumarni dari siksaan ini. Tengkorak itu harus dikubur dan engkau harus memberi kebebasan kepada isterimu...!"

"Kalau aku menolak?"

"Terpaksa aku akan menghajarmu!" Niken Harni berseru galak.

"Ha-ha-ha-heh-heh!" Dibya Krendasakti tertawa bergelak dan terkekeh-kekeh, tidak marah, melainkan geli bahkan gembira. "Bocah ayu, engkau akan menghajarku? Begini saja, kita bertanding. Kalau aku kalah, aku akan menaati perintahmu, akan tetapi kalau engkau kalah, engkau menjadi isteriku yang ke dua. Baru sekali ini aku tertarik kepada seorang gadis lain...!"

"Keparat! Siapa sudi menjadi Isterimu? Kalau aku kalah, lebih baik aku mati daripada menjadi isteri seorang laki-laki yang kejam seperti iblis macam kamu!"

"Wah, Dibya, engkau tua bangka menantang muridku? Tak tahu malu! Kalau sudah gatal tanganmu dan ingin bertanding, akulah musuhmu. Kita tua sama tua dan mari kita bertaruh. Kalau dalam pertandingan kita engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaanku tadi dan permintaan Niken, yaitu engkau harus mencuri Cupu Manik Maya dari Istana Kahuripan dan engkau harus membebaskan Woro Sumarni dari penyiksaanmu untuk melampiaskan dendam dan cemburumu."

"Dan kalau aku yang menang, aku boleh bersikap sesuka hatiku terhadap isteriku, dan Niken Harni harus menjadi isteriku. Bagaimana, Gayatri, pertaruhan ini telah adil, bukan?"

"Baik...! Kalau engkau kalah, engkau harus memenuhi permintaan kami tadi. Sebaliknya kalau aku yang kalah, aku tidak akan menghalangi apa yang hendak kau lakukan terhadap Woro Sumarni dan terhadap Niken Harni."

"Bagus! Mari kita lakukan pertandingan itu sekarang juga! Aku ingin cepat-cepat dapat menikmati pengantinan dengan Niken Harni. Gayatri, terus terang saja, aku belum pernah tertarik wanita lain, kecuali isteriku dan dulu aku pernah tergila-gila kepadamu. Sekarang, muridmu Ini menjadi penggantimu. Ha-ha-ha-ha.."

"Ruangan Ini pun cukup luas untuk kita bertanding, Dibya. Mari kita mulai agar cepat selesai!" Nini Bumigarbo meninggalkan kursinya.

Niken Harni dan Woro Sumarni juga bangkit berdiri dan Niken cepat mendorong meja penuh hidangan Itu ke pinggir sehingga ruangan itu menjadi semakin luas. Nini Bumigarbo sudah berdiri di tengah ruangan itu. Sambil menyeringai dan bersikap memandang rendah, Ki Dibya Krendasakti juga melangkah dan menghampiri Nini Bumigarbo.

Tidak aneh kalau kakek itu memandang ringan calon lawannya. Bukan karena dia berwatak sombong, akan tetapi karena memang dulu, ketika mereka masih muda dan sudah saling mengenal, tingkat kepandaian Dibya Krendasakti memang lebih tinggi dibandingkan tingkat kepandaian Nini Bumigarbo. Pada waktu itu, kepandaian Dibya Krendasakti sudah tinggi dan setingkat dengan Ekadenta.

Dan sejak itu, Dibya Krendasakti terus memperdalam iImu-ilmunya sehingga kini dia menganggap ringan kepandaian Gayatri yang telah menjadi Nini Bumigarbo. Tentu saja dia tidak tahu betapa karena ditolak cintanya oleh Ekadenta dan dalam usahanya yang tiada hentinya ingin mengungguli kepandaian kakak seperguruannya itu, Nini Bumigarbo terus meningkatkan kepandaiannya, biarpun ia sudah semakin tua.

Niken Harni yang merasa iba kepada Woro Sumarni, menarik dua buah kursi ke dekat dinding, menjauhi meja dimana terdapat tengkorak itu. Lalu dengan halus ia menggandeng tangan wanita itu dan mengajaknya duduk di atas kursi Itu, menonton pertandingan. Akan tetapi setelah mereka duduk berdampingan, Woro Sumarni berkata lirih, suaranya penuh teguran.

"Niken, mengapa engkau lakukan ini? Engkau membuat aku susah saja."

"Eh? Bibi, aku melakukan ini untuk membelamu!"

"Tidak, Niken. Pertandingan itu akibatnya akan membuat aku susah. Kalau Mbakayu Gayatri menang, kemudian suamiku membiarkan aku pergi dan berpisah darinya, hidupku tidak ada artinya lagi. Kalau suamiku yang menang dan mengambilmu sebagai isteri, hal itu pun akan menghancurkan hatiku. Lebih baik aku mati daripada harus berpisah dari dia atau melihat dia mencinta wanita lain."

Niken terbelalak. Hati gadis muda ini terkejut dan heran, juga tidak mengerti.

"Bibi... engkau... engkau begitu amat mencintainya?"

"Tentu saja aku mencintainya, Anak bodoh."

Niken Harni tertegun dan bingung sehingga ia tidak mampu berkata-kata lagi. Apakah suami isteri itu keduanya sudah gila? Demikian pikirnya kebingungan. Woro Sumarni begitu mencinta suaminya sehingga biarpun sudah dua puluh lima tahun disiksa batinnya seperti itu, masih tetap mencintanya. Akan tetapi mengapa dulu ia menyeleweng dengan laki-laki lain?

Sebaliknya Dibya Krendasakti sampai sekarang masih amat mencintai isterinya sehingga tidak mau membagi cintanya dengan wanita lain. Akan tetapi mengapa dia tidak mau memaafkan kesalahan isterinya itu dan menyiksa batinnya sedemikian kejamnya? Beginikah cinta? Ataukah mereka gila? Renungannya terhenti karena pada saat itu, Nini Bumigarbo sudah mulai mengadu kesaktian melawan Dibya Krendasakti. Dua orang datuk yang sakti mandraguna itu berdiri saling berhadapan dalam jarak sekitar sepuluh langkah.

Nini Bumigarbo tersenyum mengejek dan berkata dengan suara tenang. "Dibya Krendasakti, mulailah dan keluarkan semua aji kesaktianmu. Hendak kulihat sampai di mana sekarang kemajuanmu!"

Dibya Krendasakti menggerakkan kedua tangannya seperti menyembah di depan dada, kemudian matanya memandang dengan sinar mencorong dan mulutnya berkemak-kemik. Setelah beberapa lamanya, dia lalu membuka kedua lengannya, diangkat ke atas seperti orang berdoa dan dia lalu memukulkan kedua telapak tangannya ke depan dan berteriak lantang.

"Gayatri, sambutlah Aji Bajra Langking!"

Tiba-tiba terdengar suara seperti angin menderu dan banyak sinar hitam meluncur seperti puluhan batang anak panah menuju ke tubuh Nini Bumigarbo. Melihat serangan aji pukulan yang mengandung ilmu sihir ini, Nini Bumigarbo lalu menyambut dengan dorongan kedua telapak tangan ke depan sambil mengerahkan tenaga saktinya, juga diperkuat dengan daya sihirnya. Dari kedua telapak tangannya menyambar angin yang berpusing.

"Wuuuttt... byarrr...!"

Dua tenaga sakti yang diperkuat ilmu sihir Itu bertemu di udara, menggetarkan seluruh ruangan itu, bahkan Niken Harni merasa tubuhnya terguncang oleh getaran yang amat kuat sehingga ia harus menahan napas mengerahkan tenaga sakti untuk melindungi tubuhnya, terutama jantungnya. Ia melihat betapa Woro Sumarni tampak duduk tenang saja. Hal ini membuatnya kagum karena ia dapat menduga bahwa wanita cantik itu juga memiliki kesaktian sehingga mampu menahan getaran yang amat kuat itu.

Ketika dua tenaga sakti Itu bertemu di udara, sinar kecil-kecil seperti puluhan batang anak panah itu terdorong dan membalik, lenyap kembali ke dalam kedua tangan Dibya Krendasakti. Nini Bumigarbo juga menarik kembali tenaganya dan tersenyum.

"Apakah masih ada lainnya, Dibya Krendasakti? Keluarkan semua ilmu mu!"

Dibya Krendasakti terkejut bukan main. Dia tadi telah mengerahkan Aji Pukulan Bajra Langking, akan tetapi ternyata lawannya dapat menyambut dan membuyarkan serangannya. Tak disangkanya Gayatri kini memiliki tenaga sakti yang sedemikian kuatnya. Dia merasa penasaran sekali, maklum bahwa menggunakan aji pukulan yang mengandung sihir itu tidak ada gunanya dan tidak akan dapat mengalahkan lawan.

Maka dia lalu mengerahkan serangan yang menggempur lawan melalui suara. Dia menekuk kedua lututnya, membuka mulutnya dan keluarlah gerengan yang amat dahsyat, menggetar dan menggelora. Tidak lantang benar, namun suara pekik itu seperti gelombang lautan yang datang menerjang, mula-mula perlahan, namun semakin lama menjadi semakin kuat dan getarannya membuat prabot ruangan itu bergoyang.

Kembali Niken Harni harus mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melindungi diri. Bahkan dia terpaksa memejamkan sepasang matanya dan menulikan pendengarannya, memusatkan tenaga untuk melindungi otak dan jantungnya.....
Bagikan cersil ini Sebegai bentuk dukungan untuk situs ini 😊

0 Response to "Nurseta Satria Karang Tirta Jilid 24"

Post a Comment