Jejak Dibalik Kabut Jilid 27

Mode Malam
Sehari, dua hari, tiga hari telah berlalu. Namun tidak ada terjadi apa pun di rumah Nyi Tumenggung Sarpa Biwada. Kehidupan di rumah itu berjalan seperti biasanya tanpa terpengaruh oleh kehadiran Ki Waskita.

Meskipun demikian, para pembantu di rumah itu menjadi heran. Apa yang dilakukan oleh Ki Waskita di rumah itu tidak dapat mereka mengerti. Sedangkan Nyi Tumenggung sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa kepada mereka tentang orang yang kadang-kadang berada di halaman belakang rumah itu.

Sebenarnyalah Ki Waskita sendiri merasa sudah terlalu lama mondar-mandir dari rumah Ki Panengah ke rumah Nyi Tumenggung. Tetapi usahanya untuk memancing Ki Tumenggung masih juga belum berhasil.

Namun dalam pada itu, lewat seorang penghubung, Ki Waskita masih selalu berhubungan dengan Ki Gede Pemanahan. Mereka tidak boleh terlepas yang satu dengan yang lain untuk melaksanakan rencana mereka.

Ternyata baik Ki Waskita maupun Ki Gede cukup sabar. Meskipun hari-hari berlalu, sehingga menginjak sepekan, mereka tidak segera menjadi jemu.

Sebenarnyalah kehadiran Ki Waskita di rumah Nyi Tumenggung itu tidak lepas dari pengawasan para pengikut Harya Wisaka. Di hari-hari pertama, mereka hanya sekedar mengawasi dan memperhatikan kehadiran laki-laki itu. Tetapi karena Ki Waskita setiap kali bahkan hampir setiap senja datang ke rumah itu, maka kehadirannya pun segera dilaporkan kepada Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Jadi laki-laki itu datang setiap hari?”

“Ya, Ki Tumenggung. Setiap senja ia datang. Bahkan kadang-kadang juga pagi dan siang hari ia datang pula”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada menggeretakkan giginya. Katanya, “Nanti aku akan melihat sendiri, siapakah orang itu”

Di sore hari, sebelum senja turun, Ki Tumenggung Sarpa Biwada sudah berada di halaman rumah yang beradu sudut dengan rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Halaman rumah yang tidak seluas halaman rumah Ki Tumenggung. Rumahnya pun lebih sederhana dari rumah Ki Tumenggung.

Rumah itu adalah rumah salah seorang pengikut setia Harya Wisaka yang luput dari pengawasan para petugas sandi, karena penghuninya adalah seorang pedagang yang nampaknya tidak pernah berhubungan dengan persoalan pemerintahan di Pajang.

Orang-orang di sekitarnya pun tidak menghiraukannya ketika sebuah keseran yang membawa beberapa keranjang gula kelapa memasuki halaman rumah itu ditarik oleh seorang laki-laki bertubuh kecil dan didorong oleh laki-laki lain yang bertubuh kekar. Tidak seorang pun menyangka bahwa orang yang tidak berbaju dan mengenakan caping bambu di atas ikat kepalanya itu adalah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Tetapi juga tidak pula ada orang memperhatikan pedati yang hilir-mudik di halaman rumah yang lain, terpisah satu rumah dari rumah yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Rumah itu telah dipergunakan oleh petugas sandi dari Pajang untuk mengawasi rumah Ki Tumenggung.

Menurut penglihatan tetangga-tetangganya, pemilik rumah yang tidak begitu besar itu sedang membangun rumahnya. Hampir setiap hari satu dua pedati datang memasuki halaman rumah itu dengan membawa kayu, batu, pasir dan kebutuhan-kebutuhan lain. Beberapa orang pekerja sibuk membongkar dan membuat bahan-bahan bangunan yang datang serta menyingkirkan bahan-bahan bekas yang sudah tidak dapat dipergunakan lagi.

Namun sebenarnyalah bahwa mereka adalah para petugas sandi Pajang yang mengawasi rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, yang pada saat saat terakhir telah ditingkatkan justru karena Ki Waskita sering berada di rumah itu.

Namun kesabaran Ki Waskita, Ki Gede Pemanahan dan para petugas sandi pajang itu pun tidak sia-sia. Ki Tumenggung Sarpa Biwada hatinya telah terbakar oleh kehadiran laki-laki yang menyebut dirinya Ki Waskita itu di rumahnya. Setiap hari.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu pun telah merencanakan usaha untuk menyergap laki-laki itu.

Dari atas dahan sebatang pohon, lewat senja Ki Tumenggung Sarpa Biwada benar-benar melihat seorang laki-laki memasuki halaman rumahnya. Ketika orang itu berhenti sejenak di depan regol, Ki Tumenggung dapat melihat wajah orang itu agak jelas karena cahaya oncor yang terang yang terpancang di regol rumahnya itu.


Ki Sarpa Biwada memang memerlukan waktu beberapa saat untuk mengenali orang itu. Ia pernah melihat orang itu datang ke rumahnya bersama Pangeran Benawa ketika mereka menangkap Paksi, yang kemudian disadari, bahwa yang terjadi saat itu hanyalah sekedar sebuah permainan dari Pangeran Benawa.

Kini Ki Tumenggung itu ingat dan bahkan yakin, siapakah laki-laki yang datang ke rumahnya itu. Meskipun laki-laki itu sudah banyak berubah, tetapi masih ada sisa-sisa pengenalannya atas laki-laki yang menyebut dirinya Ki Waskita itu.

“Alangkah bodohnya aku” berkata Ki Tumenggung itu di dalam hatinya. “Kenapa aku tidak mengenalinya ketika ia mengambil Paksi demikian Paksi berhasil membawa cincin kerajaan itu pulang?”

Tetapi Ki Tumenggung itu merasa bahwa ia masih belum terlambat. Ia masih mempunyai kesempatan untuk menghancurkan laki-laki keparat itu.

Tetapi Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak segera bertindak. Ia menunggu malam menjadi semakin dalam. Ia ingin semakin meyakinkan diri tentang laki-laki itu. Semakin jauh malam menukik ke pusatnya, maka semakin jauh pula langkah laki-laki yang sangat dibencinya itu memasuki pagar rumah tangganya. “Siapa pun laki-laki itu dahulu, tetapi perempuan di dalam rumah itu adalah istriku” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Bagi Ki Tumenggung, rasa-rasanya malam menjadi sangat lamban. Bintang-bintang yang berkeredipan di langit seakan-akan demikian asyiknya canda di antara mereka, sehingga mereka tidak beranjak dari tempatnya.

Namun akhirnya, malam pun menjadi semakin senyap. Suara cengkerik dan bilalang bersahutan dengan suara angkup yang tertiup angin. Sekali-sekali terdengar derik bajang kerek yang merintih merindukan hangatnya perut ibunya.

“Bersiaplah” berkata Ki Tumenggung Sarpa Biwada kepada dua orang pengikutnya yang terpilih. “Kita akan menangkapnya dan membawanya”

“Atau membunuhnya” desis seorang pengikutnya.

“Kita akan melihat suasana” desis Ki Tumenggung.

“Marilah” geram pengikutnya yang seorang lagi, “aku sudah tidak sabar lagi. Aku juga pernah membunuh laki-laki yang aku temukan di bilik istriku. Aku biarkan mereka tertawa seperti ringkik kuda. Namun kemudian keduanya tidak dapat lagi tertawa untuk selama-lamanya”

“Kau tidak ditangkap karena membunuh?”

“Aku letakkan sebilah pedang di tangannya meskipun ia masih telanjang. Kami dianggap telah berperang tanding”

Wajah Ki Sarpa Biwada menjadi tegang. Namun kemudian ia pun berdesis, “Marilah. Kita masuk ke rumah itu sekarang?”

“Lewat regol?”

“Apakah rumah itu masih diawasi petugas sandi dari Pajang sampai malam ini?”

“Mungkin sekali”

“Mereka justru tidak akan mengawasi regol halaman. Mereka justru akan mengawasi dinding yang mengeliling rumahku itu”

Pengawal Ki Tumenggung itu mengangguk-angguk. Namun ia masih berkata, “Apakah tidak ada pintu butulan masuk ke kebun di belakang?”

“Tentu diselarak”

“Kita akan meloncat masuk. Kita harus menjaga segala kemungkinan”

Akhirnya Ki Tumenggung setuju untuk memasuki halaman rumahnya itu tidak lewat regol.

Beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung dan dua orang pengawalnya sudah berada di dalam halaman rumah Ki Tumenggung. Dengan sangat hati-hati mereka memasuki longkangan dan mendekati dinding rumahnya.

Rumah itu ternyata sepi sekali. Ki Tumenggung tidak mendengar suara seseorang. Tidak mendengar percakapan apalagi suara tertawa seperti ringkik kuda.

“Bagaimana kita masuk, Ki Tumenggung?” bertanya pengawalnya.

“Aku akan mengetuk pintu”

“Jangan” cegah seorang pengikutnya.

“Kenapa?”

“Jika Ki Tumenggung mengetuk pintu, orang itu akan berkesempatan lari melalui jalan yang sudah dipersiapkan atau bersembunyi dimana saja”

“Orang itu tidak akan mempersiapkan jalan untuk lari” sahut kawannya.

“Kenapa?”

“Ia tidak akan menyangka bahwa Ki Tumenggung akan datang malam ini”

“Tetapi lebih baik kita masuk seperti seorang pencuri masuk ke dalam rumah yang menjadi sasarannya”

“Kau dapat melakukannya?”

Orang itu tersenyum. Katanya, “Aku adalah bekas seorang pencuri ulung, sehingga namaku disebut-sebut oleh setiap perempuan karena mengagumiku dan oleh setiap laki-laki yang menjadi ketakutan karenanya. Tersebar kabar bahwa aku mempunyai Aji Penglimunan sehingga aku dapat menghilang dari pandangan mata”

“Kau mampu melakukannya?”

“Tentu dapat. Tetapi di dalam kegelapan dan orang-orang yang mencariku harus memejamkan matanya”

Kawannya tertawa pendek. Tetapi Ki Tumenggung membentak, “Bukan saatnya untuk bergurau. Jika kau mampu, lakukan. Buka selarak pintunya dari dalam”

“Baik, Ki Tumenggung”

Orang itu pun kemudian telah memanjat dinding bagian belakang rumah Ki Tumenggung yang berbentuk kampung.

Dibukanya tutup keyong dengan paksa. Meskipun tutup keyong itu terbuat dari kayu, namun orang itu benar-benar telah membuktikan, bahwa ia adalah seorang pencuri yang ulung, sehingga tutup keyong itu pun telah terbuka.

Hampir tidak masuk akal, bahwa orang itu mampu menyusup di antara lubang sempit pada papan kayu yang dibukanya itu tanpa menimbulkan suara.

“Ia memang seorang pencuri ulung” desis kawannya yang berdiri termangu-mangu di sebelah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Orang itu memang memiliki kelenturan tubuh yang luar biasa sehingga ia mampu menyusup di lubang-lubang yang bagi orang lain dianggap terlalu sempit”

Beberapa saat kemudian, Ki Tumenggung dan seorang pengawalnya terkejut. Mereka mendengar selarak pintu diangkat. Sementara itu mereka tidak yakin bahwa pengawal yang berhasil masuk lewat tutup keyong itu sudah sampai di pintu butulan.

Karena itu, maka Ki Tumenggung dan seorang pengawalnya itu segera meloncat ke samping berjongkok melekat dinding.

Tetapi ketika pintu terbuka, maka yang keluar dari dalam adalah pengawal Ki Tumenggung yang memanjat lewat tutup keyong itu.

Orang itu justru termangu-mangu sejenak. Ia tidak melihat Ki Tumenggung dan seorang kawannya.

Namun orang itu terkejut dan hampir saja ia menarik senjata ketika Ki Tumenggung dan pengawalnya yang seorang lagi tiba tiba bangkit berdiri.

“Kenapa Ki Tumenggung harus berjongkok melekat dinding?” bertanya orang itu.

“Kami ragu-ragu, apakah yang membuka pintu itu kau atau bukan. Kami baru saja melihat kau masuk lewat tutup keyong itu. Bukankah memerlukan waktu untuk sampai ke pintu?”

“Sudah aku katakan. Aku adalah pencuri ulung”

“Ya. Kau tentu seorang pencuri ulung”

“Sekarang, silahkan Ki Tumenggung masuk”

Ki Tumenggung pun kemudian segera masuk langsung ke ruang dalam. Pintu penyekat dengan ruang dalam ternyata tidak diselarak.

Sejenak kemudian, Ki Tumenggung pun berdiri dengan ragu-ragu di depan sebuah bilik. Bilik itu adalah biliknya. Ia memastikan bahwa Nyi Tumenggung pun berada di dalam bilik itu pula.

“Sekarang, ketuk pintu itu Ki Tumenggung” desis pengawalnya yang pernah membunuh laki-laki dan istrinya itu.

Ki Tumenggung masih saja ragu ragu.

“Ki Tumenggung bimbang?” bertanya pengawalnya.

Ki Tumenggung itu mengangguk kecil.

“Jika demikian, biarlah aku saja yang mengetuknya” berkata pengawalnya yang masuk ke dalam rumah itu dengan membuka tutup keyong.

Orang itu tidak menunggu. Perlahan lahan ia mengetuk pintu bilik yang tertutup itu.

Seperti yang diduga oleh Ki Tumenggung, Nyi Tumenggung memang berada di dalam bilik itu. Ketika ia mendengar pintu biliknya diketuk, Nyi Tumenggung itu pun segera bangkit dan duduk di bibir pembaringannya.

Terdengar lagi pintu itu diketuk.

“Siapa di luar?” bertanya Nyi Tumenggung dengan jantung berdebaran.

Pengawal Ki Tumenggung itu memberi isyarat, agar Ki Tumenggung menjawab.

“Aku, Nyi” Ki Tumenggung itu berdesis.

“Siapa?”

“Aku. Buka pintunya”

Nyi Tumenggung mengenali suara itu. Karena itu, maka dengan serta-merta ia pun meloncat berdiri dan berlari ke pintu biliknya.

Dengan tergesa-gesa diangkatnya selarak pintunya sehingga pintu itu pun segera terbuka.

“Kakang Tumenggung” Wajah Nyi Tumenggung nampak tegang.

Ki Tumenggung tidak menjawab. Ia pun langsung masuk ke dalam bilik itu sambil bergumam, “Siapa yang berada di dalam bilik ini?”

Nyi Tumenggung mengerutkan dahinya. Dipandanginya Ki Tumenggung yang mendekati pembaringannya.

Namun yang berbaring di pembaringan itu adalah anak perempuannya yang masih tidur dengan nyenyaknya.

Sejenak Ki Tumenggung itu termangu-mangu. Kerisnya yang sudah diputarnya sehingga terselip di dadanya, sudah siap ditarik dari wrangkanya. Namun yang berada di pembaringan itu adalah anak perempuannya.

Ki Tumenggung itu pun kemudian membungkukkan badannya, mencium anak itu di keningnya.

Sejenak Nyi Tumenggung termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata, “Kakang, sebaiknya Kakang segera meninggalkan rumah ini”

“Kenapa?” bertanya Ki Tumenggung.

“Kakang telah dijebak oleh seorang laki-laki yang mengaku prajurit Pajang. Setiap hari ia datang dengan keyakinan, bahwa Kakang akan mencurigainya dan datang pulang untuk membuat perhitungan”

“Kau kenal laki-laki itu?”

“Ia pernah datang ketika Paksi pulang membawa cincin yang kau cari itu”

“Darimana kau tahu, kalau ia menjebakku?”

“Orang itu sendiri yang mengatakannya”

Wajah Ki Tumenggung menjadi tegang. Katanya, “Kenapa kau tidak mengusirnya saja?”

“Aku tidak berdaya. Ia melakukannya atas nama Pajang. Ia mempunyai wewenang untuk berbuat lebih daripada yang dilakukannya sekarang”

“Terkutuklah orang itu. Tetapi bukankah kau mengenalnya atau pernah mengenalnya?”

“Mungkin. Tetapi kita tidak usah membicarakannya sekarang”

“Bukankah kau memang menginginkan laki-laki itu datang kemari?”

“Tidak. Tidak, Kakang. Sekarang pergilah sebelum kau dijebaknya”

“Aku memang akan menangkapnya”

“Tetapi ia akan dapat memanggil banyak orang yang tentu sudah dipersiapkannya”

“Ia hanya sendiri. Orang-orangku sudah menyelidikinya. Tidak ada orang lain di sekitar rumah ini”

“Tetapi ia mengatakan kepadaku, bahwa ia akan menjebakmu”

Ki Tumenggung menjadi ragu-ragu. Namun Nyi Tumenggung pun mendesak, “Ia bahkan mengancammu, Kakang. Pergilah sebelum orang itu melihatmu datang”

“Dimana orang itu sekarang?”

“Ia terbiasa berada di lumbung. Ia tidur di sebelah lesung”

“Nyi, aku justru akan menangkapnya”

“Tetapi ia tentu sudah siap menghadapi kemungkinan itu. Ia akan dapat menghubungi kawan-kawannya”

Ki Tumenggung itu menjadi bimbang. Sementara seorang pengawalnya pun berkata, “Apakah Ki Tumenggung yakin, bahwa orang itu akan menjebak Ki Tumenggung, atau ia sekedar menyembunyikan dirinya justru karena Ki Tumenggung pulang”

“Apa maksudmu?” bertanya Nyi Tumenggung.

“Memang ada beberapa kemungkinan” sahut Ki Tumenggung.

“Percayalah kepadaku, Kakang. Pergilah. Persoalan di antara kita dapat kita bicarakan kemudian. Orang itu bahkan ingin memanfaatkan keadaan ini bagi dendam pribadinya”

Ki Tumenggung memang menjadi bimbang. Tetapi pengawalnya berkata, “Bukankah kita akan menangkap orang itu?”

“Orang itu berniat menjebakmu, Kakang. Karena itu, pergilah”

“Apakah kita menjadi gentar karena jebakan itu?” bertanya pengawalnya yang lain. “Kita cari orang itu. Kita akan menangkapnya atau membunuhnya”

“Dengar aku, Kakang”

“Jangan beri kesempatan orang itu bersembunyi, Ki Tumenggung. Nanti ia akan merayap ke dalam bilik ini jika Ki Tumenggung pergi”

Jantung Ki Tumenggung bagaikan tersengat bara mendengar kata-kata pengawal itu. Hampir di luar sadarnya, tangannya terayun menampar mulutnya.

Pengawal itu terkejut. Namun kemudian sambil tersenyum ia pun berkata, “Nyi, aku pernah membunuh seorang laki-laki bersama dengan istriku di atas pembaringan”

“Kakang” suara Nyi Tumenggung menjadi serak. Ia bukan seorang perempuan yang cengeng. Ia tidak menangis ketika ia mencoba menolak kehadiran Ki Waskita di rumahnya beberapa hari yang lalu. Tetapi kata-kata pengawal suaminya itu sangat menyakitkan hatinya. Karena itu, maka Nyi Tumenggung tidak dapat menahan tangisnya lagi.

“Kakang” ulang Nyi Tumenggung, “kau biarkan orang itu menghinaku?”

“Maaf, Nyi. Aku hanya mengatakan pengalamanku tentang seorang perempuan”

“Dan kau anggap semua perempuan itu sama?” sahut Nyi Tumenggung di sela-sela isaknya. “Apakah semua laki-laki juga sama? Tidak, Ki Sanak. Tidak semua laki-laki kehilangan harga dirinya seperti laki-laki yang kau bunuh itu. Atau kau juga seperti laki-laki yang kau bunuh itu?”

Pengawal Ki Tumenggung itu tertawa. Katanya, “Segala sesuatunya terserah kepada Ki Tumenggung”

Ki Tumenggung memang menjadi ragu-ragu. Pengawalnya itu telah menyentuh perasaannya. Ia menjadi bimbang. Mungkin laki-laki itu memang bersembunyi. Istrinya memaksanya agar ia pergi sehingga laki-laki itu akan dapat masuk ke dalam biliknya, atau istrinya dapat pergi ke bilik yang mana pun juga tempat laki-laki itu bersembunyi.

“Nyi” Ki Tumenggung itu menggeram, “dimana laki-laki itu sekarang?”

“Kakang, kau tidak mau mendengarkan aku?”

“Laki-laki itu datang tidak hanya malam ini. Tetapi juga malam kemarin, kemarin dulu dan bahkan di siang hari pula”

“Ia memang memancingmu dan berusaha menangkapmu”

“Akulah yang akan menangkapnya”

“Kakang. Kakang tidak mempercayai aku?”

“Bukan tidak mempercayaimu, Nyi. Tetapi aku tidak mau kehilangan kesempatan ini”

Tangis Nyi Tumenggung justru terdiam. Dipandanginya wajah suaminya dengan tajamnya. Dengan suara yang bergetar ia pun berkata, “Kakang, aku sudah mencoba untuk memperingatkanmu. Tetapi terserah kepadamu. Apakah kau masih dapat mempergunakan penalaranmu atau dadamu telah terbakar oleh gejolak perasaanmu”

“Aku akan menangkap orang itu” Untuk menguatkan sikapnya, maka Ki Tumenggung itu pun telah membentak, “Tunjukkan, dimana ia bersembunyi”

Namun Ki Tumenggung itu pun terkejut. Dari luar bilik itu terdengar suara seseorang, “Kau tidak usah mencariku, Ki Tumenggung. Aku sudah berada disini”

Ketika mereka berpaling, maka mereka pun melihat seorang laki-laki berdiri di depan pintu bilik itu. Laki-laki yang dilihat oleh Ki Tumenggung masuk melalui regol halaman rumahnya itu.


“Iblis, kau. Aku ingat sekarang, siapakah kau sebenarnya”

“Syukurlah jika kau masih dapat mengingat siapa aku”

“Tetapi bagaimanapun juga, perempuan ini adalah istriku”

“Aku tahu, Ki Tumenggung. Perempuan itu adalah istrimu. Karena itu, aku tidak mengganggunya”

Tetapi pengawal Ki Tumenggung yang mengaku pernah membunuh seorang laki-laki dan istrinya itu pun tertawa. Katanya, “Ki Sanak, kita adalah laki-laki. Apakah kita akan ingkar, apa yang sering dilakukan oleh laki-laki? Pada suatu hari aku telah membunuh seorang laki-laki dan istriku. Tetapi mungkin lain kali, akulah yang akan dibunuh”

“Ya. Kau akan mati malam ini” desis Ki Waskita.

Tetapi orang itu tertawa. Katanya, “Apakah kau mampu menjaring angin sehingga kau akan membunuhku?”

“Kau bukan angin, Ki Sanak, sehingga aku tidak akan mengalami kesulitan untuk membunuhmu”

Orang itu tertawa semakin keras. Katanya, “Kau agaknya memang seorang yang keras kepala. Baiklah. Kita akan membuktikan, apa yang akan terjadi”

“Ki Tumenggung” berkata Ki Waskita yang seakan-akan tidak mendengarnya, “menyerahlah. Sudah terlalu banyak darah tertumpah. Sedangkan impian Harya Wisaka tidak akan pernah dapat terwujud”

“Jangan mengalihkan persoalan. Persoalan di antara kita adalah persoalan yang sangat pribadi. Kau hanya memanfaatkan keadaan untuk kepentinganmu sendiri”

“Kakang” suara Nyi Tumenggung bagaikan tersangkut di tenggorokan.

“Menyerahlah” geram Ki Tumenggung, “permainanmu akan berakhir malam ini”

Namun Ki Waskita pun menjawab, “Bukan aku yang harus menyerah. Tetapi kau, Ki Tumenggung”

“Bagus. Kita akan melihat, siapakah di antara kita yang harus menyerah dan harus merelakan lehernya dipenggal. Dengan demikian persoalan kita akan selesai”

“Ki Tumenggung, kaulah yang selalu mengungkit persoalan pribadi kita. Sudah aku katakan, bahwa apa yang aku lakukan, terutama dalam lingkup usaha Pajang untuk menangkap Harya Wisaka yang telah memberontak”

“Kau tidak usah membual seperti itu. Kau ternyata telah memanfaatkan keadaan ini untuk kembali kepada perempuan yang pernah kau khianati. Kau tinggalkan dalam keadaan yang paling buruk bagi seorang perempuan. Apalagi seorang gadis”

“Kau jangan mengigau seperti itu, Ki Tumenggung”

“Bertanyalah kepada dirimu sendiri. Kenapa kau waktu itu melarikan diri setelah menghamili seorang gadis? Itukah sikap seorang laki-laki yang bertanggung jawab?”

“Ki Tumenggung, kita akan dapat membicarakan persoalan di antara kita pada kesempatan lain. Sekarang, aku akan menangkapmu”

“Kesombonganmu masih saja melekat padamu sampai hari-hari tuamu. Tetapi juga kelicikanmu. Kau hanya berani mendatangi perempuan yang kau inginkan seperti laku seorang pencuri di malam hari. Kenapa kau tidak datang kepadaku sebelum terjadi kemelut di Pajang? Sebelum aku diburu karena aku berpihak kepada seorang yang memiliki masa depan yang tajam bagi Pajang?”

“Aku menghormati ikatan pernikahan kalian, Ki Tumenggung”

“Tetapi ketika aku tidak ada di rumah, kau baru berani datang menemui perempuan yang pernah kau khianati”

“Sudah. Sudah” teriak Nyi Tumenggung. “Sudah aku katakan, Kakang Tumenggung. Kau telah dijebak. Dengan licik laki-laki ini dengan sengaja mengungkit masa lalu kita, agar kau pulang. Tetapi aku bukan perempuan yang mudah kehilangan kesetiaanku kepada seorang suami”

Seorang di antara kedua orang pengawal Ki Tumenggung itu tertawa. Katanya, “Kau dapat berkata begitu, Nyi. Tetapi laki-laki ini ada di rumahmu. Dengan mendengarkan pembicaraan Ki Tumenggung dan laki-laki itu, kami dapat menangkap ceritera panjang kehidupanmu, Nyi. Ceritera yang diwarnai oleh gejolak di masa gadismu. Melihat sikapmu sekarang, Nyi, aku dapat membayangkan, bahwa Nyi Tumenggung semasa gadisnya adalah seorang gadis yang lincah, ramah dan tentu sangat menarik”

“Cukup, cukup” Nyi Tumenggung itu menjerit, “Kakang Tumenggung, kau biarkan kawanmu itu menghinaku”

“Apa yang harus aku katakan, Nyi. Yang mereka lihat sekarang, laki-laki ini berada di dalam rumah ini”

“Sudah aku katakan, ia sengaja menjebakmu”

Pengawal Ki Tumenggung yang lainlah yang kemudian menyahut, “Satu langkah yang sudah direncanakan dengan baik. Laki-laki ini mendapat dua kesempatan sekaligus. Menjebak Ki Tumenggung dengan cara yang jarang didapat. Agaknya itulah kelebihan laki-laki ini”

“Kakang Tumenggung, Kakang” Nyi Tumenggung tidak tahan lagi mendengar sindiran-sindiran itu, sehingga tangisnya menjadi semakin keras. Ditutupinya wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika ia terduduk dengan lemah.

Dalam pada itu, anak perempuan Ki Tumenggung itu pun telah terbangun mendengar pertengkaran yang berkepanjangan. Ketika ia tegak di hadapan laki-laki yang sering berada di rumahnya itu.

“Ayah” teriak gadis yang menjelang dewasa itu sambil berlari ke arah ayahnya.

Ki Tumenggung terkejut. Ia pun segera berpaling. Demikian anak perempuannya menghambur ke arahnya, maka Ki Tumenggung itu pun segera berjongkok memeluknya.

“Ayah. Ayah pergi lama sekali”

“Ya, Ngger. Sekarang ayah pulang menjemputmu”

Gadis kecil itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berlari ke ibunya yang sedang menangis.

“Ibu, Ibu. Ibu kenapa?”

Nyi Tumenggung pun telah memeluk anak perempuannya itu pula sementara tangisnya masih juga belum mereda. “Ibu”

Nyi Tumenggung tidak menjawab. Tetapi dipeluknya anak gadisnya semakin erat.

“Nah, Ki Tumenggung. Tidak sepantasnya kita menyiksa perasaan Nyi Tumenggung dengan prasangka-prasangka buruk seperti itu. Sekarang, marilah kita selesaikan persoalan kita”

Ki Tumenggung bangkit berdiri sambil berkata, “Aku bunuh kau dan aku membunuh anakmu itu juga”

“Sudah aku katakan, kita tidak membicarakan persoalan kita pribadi”

“Jika aku berhasil membunuhnya, aku akan melempar mayatnya di depan istana Pajang, istana Kangjeng Sultan yang pernah memberikan hadiah sebilah keris kepada anak durhaka itu”

“Kakang” terdengar suara Nyi Tumenggung di sela-sela isak tangisnya.

Tetapi Ki Tumenggung seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan kemudian ia pun berkata kepada kedua orang pengawalnya, “Kita akan menangkapnya hidup-hidup. Aku masih mempunyai persoalan yang harus aku bicarakan dengan orang ini”

Ki Waskita tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera melangkah surut ke ruang dalam. Ruang yang cukup luas untuk membela diri.

Ketika kemudian Ki Tumenggung dan dua orang pengawalnya menyusulnya, maka Nyi Tumenggung hanya dapat memeluk anak perempuannya, sementara tangisnya pun semakin menjadi-jadi.

Perempuan itu merasa bahwa harga dirinya sebagai perempuan telah terinjak-injak. Kehadiran Ki Waskita di rumahnya benar-benar telah menghancurkan kebersihan namanya sebagai seorang istri yang dengan hati-hati menjaga martabatnya.

Meskipun ia tetap bersih, tetapi ia tidak dapat mengelakkan tuduhan-tuduhan terhadapnya, laki-laki itu memang ada di rumahnya. Sementara itu ia tidak sempat minta kesaksian para pembantunya dan bahkan anak perempuannya. Seandainya hal itu sempat dilakukannya, maka semuanya itu tentu hanya dianggap sebagai satu sikap pura-pura yang rendah.

Sejak semula Nyi Tumenggung sudah merasa, bahwa ia berdiri di persimpangan jalan. Jalan yang mana pun yang dipilihnya, jalan itu akan bermula kepada kepedihan yang mengiris jantungnya.

Dalam pada itu, Ki Waskita yang telah berada di ruang dalam, segera mempersiapkan dirinya. Ia harus bertempur menghadapi tiga orang yang berilmu tinggi.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang jantungnya telah terbakar itu pun segera memberi isyarat kepada kedua orang pengawalnya untuk berpencar. Mereka bertiga akan menghadapi Ki Waskita dari tiga arah.

Ki Tumenggung yang sadar, bahwa Ki Waskita adalah seorang yang berilmu sangat tinggi, benar-benar telah mempersiapkan diri. Tetapi bersama dengan dua pengawal terpilihnya, maka Ki Tumenggung yakin, bahwa ia akan dapat menangkapnya hidup-hidup, membawanya ke tempatnya bersembunyi dan membuat perhitungan pribadi.

Kedua orang pengawal Ki Tumenggung itu pun telah bersiaga pula. Sebenarnya mereka lebih senang untuk membunuh korbannya di tempat. Tetapi keduanya tidak dapat melakukan karena Ki Tumenggung ingin orang itu ditangkap hidup-hidup.

Agaknya Ki Tumenggung ingin menunjukkan kepada Nyi Tumenggung bahwa ia berhasil menguasai laki-laki yang dianggapnya telah datang ke rumahnya dengan laku seperti seorang pencuri.

Bagi Ki Tumenggung Sarpa Biwada, kematian merupakan hukuman yang terlalu ringan bagi Ki Waskita. Orang itu harus merasakan penyesalan yang mendalam sebelum ia direnggut oleh maut.

Sejenak kemudian, maka para pengawal Ki Tumenggung itu pun mulai menyerang dengan garangnya. Keduanya berloncatan silih berganti susul-menyusul. Namun sekali-sekali keduanya menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda.

Untuk beberapa saat Ki Tumenggung masih berdiri di tempatnya. Ia mencoba memperhatikan unsur-unsur gerak Ki Waskita yang tangkas itu.

Setiap kali memang terkilas di kepala Ki Tumenggung peringatan istrinya, bahwa laki-laki yang menyebut dirinya Ki Waskita itu memang berusaha menjebaknya. Tetapi Ki Tumenggung memang meragukan kebenaran keterangan itu.

Keterangan itu hanya sekedar untuk menakut-nakutinya agar ia segera pergi dan membiarkan laki-laki itu tetap berada di rumahnya bersama istrinya itu.

Perasaan itulah yang kemudian menyala di dadanya. Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun menggeram sambil berkata, “Aku akan menunjukkan kepada perempuan itu, bahwa aku akan dapat memaksanya menyembahku dan mencium kakiku”

Sejenak kemudian, Ki Tumenggung itu pun segera melibatkan dirinya. Ki Waskita harus bertempur melawan tiga orang sekaligus. Tiga orang yang berilmu tinggi.

Pertempuran itu pun kemudian menjadi semakin sengit. Ketiga orang lawan Ki Waskita itu segera meningkatkan kemampuan mereka. Bagaimanapun juga mereka tidak dapat mengabaikan kemungkinan bahwa kehadiran laki-laki itu memang usaha untuk menjebak mereka.

Tetapi Ki Waskita adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka ia tidak pula mudah ditundukkan.

Sementara itu, Nyi Tumenggung dan anak perempuannya masih tetap berada di biliknya. Ia tidak pergi ke ruang dalam untuk menyaksikan pertempuran itu. Nyi Tumenggung tidak ingin melihat salah seorang dari keduanya itu dikalahkan, meskipun ia tahu, bahwa hal itu jarang sekali terjadi. Dendam yang membakar jantung suaminya dan bahkan mungkin juga Ki Waskita, akan mendorong mereka untuk bertempur habis-habisan.

Sebenarnyalah di ruang dalam, Ki Waskita bertempur seperti banteng ketaton. Sekali-sekali serangannya berhasil menembus pertahanan lawannya, mengenai sasarannya. Namun pada kesempatan lain, Ki Waskitalah yang terdorong beberapa langkah surut.


Namun Ki Tumenggung Sarpa Biwada dan kedua orang pengawalnya itu tidak segera mampu menangkap Ki Waskita hidup-hidup. Kulit orang itu menjadi licin bagaikan kulit belut.

Langkahnya cepat dan ringan. Kakinya berloncatan seolah-olah tidak menyentuh lantai ruang dalam rumah Ki Tumenggung itu.

Nampaknya Ki Tumenggung Sarpa Biwada benar-benar ingin menangkap Ki Waskita hidup-hidup. Meskipun pertempuran itu menjadi semakin seru, namun Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak mempergunakan senjata mereka, sementara Ki Waskita tidak membawa senjata sama sekali.

Dalam pada itu, ternyata Ki Tumenggung Sarpa Biwada dan kedua orang kawannya yang berilmu tinggi itu mulai dapat mendesak Ki Waskita. Serangan-serangan mereka bertiga mulai dapat menembus pertahanan lawan mereka. Ki Waskita terdorong beberapa langkah ketika kaki Ki Tumenggung menyeruak menusuk mengenai tulang-tulang rusuknya.

Sebelum Ki Waskita sempat memperbaiki kedudukannya, serangan seorang pengawal Ki Tumenggung yang berilmu tinggi itu telah mengenai pundaknya.

Ki Waskita terhuyung-huyung. Namun orang itu sengaja menjatuhkan dirinya dan berguling beberapa kali mengambil jarak.

Namun tubuh Ki Waskita justru telah membentur gledeg bambu hingga gledeg itu terdorong dan roboh.

Dengan tangkasnya Ki Waskita pun segera bangkit berdiri. Ketika serangan pengawal Ki Tumenggung yang lain meluncur ke arah dadanya, Ki Waskita sempat merendahkan dirinya sambil bergeser ke samping, sehingga serangan itu tidak mengenainya.

Namun dalam pada itu, Ki Waskita sendiri mengalami kesulitan untuk mampu menyentuh tubuh lawannya. Ki Waskita yang harus bertempur melawan ketiga orang berilmu tinggi itu, seakan-akan tidak mendapat kesempatan untuk membalas.

Meskipun demikian, Ki Waskita masih juga mampu menggapai seorang lawannya. Pengawal Ki Tumenggung itu terdorong ke samping. Tubuhnya membentur dinding gebyok di ruang dalam rumah itu.

Tetapi Ki Waskita tidak sempat memburunya. Serangan Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun datang membadai. Bahkan justru serangan pengawal Ki Tumenggung yang lainlah yang telah menyentuh lengan Ki Waskita.


Ki Waskita harus meloncat surut mengambil jarak. Namun lawannya yang sempat dikenainya itu sudah berdiri tegak bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ki Waskita memang sulit untuk mendapat kesempatan. Serangan-serangan lawannya semakin lama menjadi semakin cepat. Ki Tumenggung yang dibakar oleh perasaan dendam pribadi itu, tidak terkekang lagi. Beberapa kali serangannya berhasil mengenai tubuh Ki Waskita. Demikian pula kedua orang pengawalnya. Sehingga dengan demikian, keadaan Ki Waskita menjadi semakin sulit.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun menjadi semakin yakin, bahwa ia akan segera dapat menguasai Ki Waskita dan menangkapnya hidup-hidup.

“Orang ini tidak boleh terlalu cepat mati” berkata Ki Tumenggung di dalam hatinya.

Beberapa saat kemudian, Ki Waskita benar-benar telah kehilangan kesempatan. Serangan-serangan ketiga lawannya menjadi semakin sering mengenai tubuhnya sehingga Ki Waskita itu bagaikan diguncang-guncang. Ketika kaki Ki Tumenggung Sarpa Biwada mengenai dadanya maka Ki Waskita pun terdorong beberapa langkah ke samping. Namun tangan salah seorang pengawal Ki Tumenggung itu pun menyambar keningnya, sehingga Ki Waskita terpelanting dengan kerasnya. Namun dengan satu putaran kaki pengawal Ki Tumenggung yang lain terayun mendatar menghantam pundaknya.

Ki Waskita itu terlempar membentur dinding. Ketika ia mencoba untuk bangkit, maka tubuhnya itu pun tidak segera menemukan keseimbangannya. Ketika Ki Waskita masih terhuyung-huyung, tumit Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah menghantam perut Ki Waskita.

Sekali lagi Ki Waskita terlempar membentur dinding. Sekali lagi Ki Waskita pun terjatuh terbanting di lantai.

Namun ketika Ki Waskita mencoba untuk bangkit, tubuhnya terkulai lagi dan jatuh bersandar dinding.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada berdiri termangu-mangu. Seorang pengawalnya masih menyerangnya. Kakinya menyambar kening Ki Waskita.

Ki Waskita pun kemudian terbaring sambil mengerang kesakitan. Tubuhnya menggeliat seperti cacing kepanasan.

“Bangkit. Bangkit kau laki-laki sombong. Kau kira ilmumu sudah menggapai langit sehingga kau tidak dapat dikalahkan?” berkata Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Waskita tidak menjawab. Mulutnya menyeringai menahan sakit di seluruh tubuhnya.

“Bangkit. Atau aku bunuh kau” bentak Ki Tumenggung.

Tetapi Ki Waskita tidak dapat bangkit lagi.

“Dimana kawan-kawanmu? Inikah jebakanmu? Tidak seorang pun datang menolongmu. Teriakan-teriakan di rumah ini tidak akan didengar oleh tetangga-tetangga sebelah-menyebelah. Selain halaman rumah ini cukup luas, dinding rumah ini pun terlalu rapat”

Ki Waskita sama sekali tidak menjawab. Ia masih saja mengerang meskipun tertahan-tahan.

Tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu pun menarik kerisnya sambil berkata lantang, “Habislah kesombonganmu sampai disini”

Namun tangan Ki Tumenggung tidak sempat terayun.

Terdengar Nyi Tumenggung itu menjerit tertahan.

Ki Tumenggung pun berpaling. Bahkan ia pun kemudian melangkah mendekati istrinya yang berdiri sambil memeluk anak perempuannya.

“Nyi” berkata Ki Tumenggung, “terima kasih atas kepedulianmu terhadapku. Kau sudah memperingatkan aku, bahwa kehadiran laki-laki ini adalah sebuah jebakan. Bahwa laki-laki ini telah mempersiapkan kawan-kawannya untuk menangkap aku. Tetapi lihat, sampai akhirnya orang itu terkapar hampir mati, tidak seorang pun kawannya datang menolongnya”

Nyi Tumenggung sama sekali tidak menjawab.

“Untunglah bahwa aku tidak mendengarkan peringatanmu sehingga aku lari pontang-panting meninggalkan rumah ini, sementara laki-laki itu masih berada di dalamnya”

Nyi Tumenggung hanya dapat menundukkan kepalanya. “Aku memang harus mencoba memahami, betapa keterpautan perasaanmu dengan laki-laki jahanam itu. Tetapi kau pun harus ingat, jika aku tidak hadir di dalam perjalanan hidupmu, maka kau sudah menjadi sampah. Anakmu yang kau bangga-banggakan itu pun tidak lebih dari anak yang lahir dari seonggok sampah yang kotor”

“Kakang”

Ki Tumenggung seolah-olah tidak mendengarnya. Ia berkata selanjutnya, “Sekarang, laki-laki pengecut ini telah memanfaatkan keadaan yang kalut untuk kembali kepadamu dan agaknya kau telah menerimanya dengan tangan terbuka”

“Tidak. Tidak. Kau salah, Kakang”

“Pada saat aku akan membunuhnya, maka kau pun telah mencegahnya pula”

“Tidak. Tidak” tangis Nyi Tumenggung pun telah meledak lagi. Anak perempuannya pun telah menangis pula sambil bertanya, “Ibu, Ibu. Kenapa Ibu menangis?”

“Jangan kau hiraukan ibumu” berkata Ki Tumenggung. “Ibumu telah berkhianat terhadap kita sekeluarga. Karena itu aku datang menjemputmu”

“Tidak. Aku tidak mau pergi. Aku akan tinggal disini bersama Ibu”

“Ia bukan ibumu lagi. Laki-laki itu telah merampas kesetiaannya sebagai seorang ibu”

“Tidak. Ibu tidak pernah berkhianat”

“Kau masih terlalu kecil untuk mengerti”

“Tidak, Ayah. Aku tidak akan pergi. Aku akan tinggal bersama Ibu, apa pun yang terjadi”

Ki Tumenggung menjadi marah. Dengan lantang ia pun berkata, “Baik. Baik. Jika kau lebih senang ikut bersama ibumu. Sekarang ibumu berkhianat terhadap suaminya. Besok ibumu akan berkhianat pula terhadap anak-anaknya. Kau akan ditinggalkannya untuk mengikuti laki-laki yang diinginkannya”


“Ayah” potong anak perempuannya. Anak itu sudah bukan kanak-kanak lagi. Tetapi ia sudah meningkat remaja, sehingga nalarnya sudah mulai berkembang.

Ki Tumenggung ternyata tidak menghiraukannya lagi. Ia pun kembali berpaling kepada laki-laki yang terbaring lemah.

“Bangkit, laki-laki jahanam. Kalau kau tidak mau bangkit, aku tusuk perutmu sampai ke punggung”

Seorang pengawal Ki Tumenggung mengguncang tubuh Ki Waskita dengan kakinya. “Bangkit. Ikut kami. Kau akan memasuki satu kehidupan yang tidak pernah kau bayangkan. Dunia yang paling pantas bagi laki-laki jahanam seperti kau”

Ki Waskita tidak mempunyai pilihan lain. Dengan susah payah ia pun bangkit. Sementara itu keris Ki Tumenggung segera melekat di punggungnya.

“Berjalan” bentak Ki Tumenggung.

Tertatih-tatih Ki Waskita berjalan diapit oleh dua orang pengawal Ki Tumenggung, sementara itu di belakangnya Ki Tumenggung berjalan dengan mengacukan keris di punggungnya.

Nyi Tumenggung tidak dapat berbuat apa-apa. Apa pun yang dilakukannya pasti salah. Karena itu, maka Nyi Tumenggung itu telah memilih untuk berdiam diri saja.

Sejenak kemudian, maka Ki Tumenggung dan kedua orang pengawalnya telah membawa Ki Waskita keluar lewat pintu butulan. Seorang dari kedua pengawal itu memberitahukan kepada memilik rumah yang beradu sudut dengan rumah Ki Tumenggung, bahwa Ki Tumenggung tidak singgah di rumah itu.

Malam terasa sunyi. Angin malam bertiup perlahan-lahan menggoyang dedaunan.

Dengan hati-hati Ki Tumenggung membawa Ki Waskita menyusuri lorong-lorong sempit Ketika mereka akan menyeberangi jalan yang lebih lebar, maka Ki Tumenggung itu pun berkata, “Tutup matanya. Meskipun umurnya tidak akan panjang lagi, tetapi aku tidak ingin ia mengetahui, dimana kita bersembunyi selama ini”

Seorang di antara kedua pengawal Ki Tumenggung itu pun menyambar ikat kepala Ki Waskita. Ditutupnya matanya dan bahkan kemudian diikatnya pula tangannya.

Dengan nada berat Ki Waskita itu pun berkata, “Kenapa kau tidak jadi membunuhku saja di rumahmu tadi Ki Tumenggung?”

“Kau kira aku benar-benar akan membunuhmu?” sahut Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Jika aku menarik kerisku, aku hanya ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh perempuan itu. Ternyata ia tidak dapat membiarkan kau mati. Kau tahu itu?”

Ki Waskita yang matanya telah tertutup dan tangannya terikat itu pun berkata, “Barangkali akan lebih baik jika kau membunuhku saja”

“Kau menjadi ketakutan? Seharusnya kau bersikap seperti seorang laki-laki yang berani menghadapi akibat apa pun dari tingkah lakumu sendiri. Tetapi agaknya kau akan menyenangkan sekali. Bukan saja bagiku, tetapi juga bagi kawan-kawanku”

Seorang pengawal Ki Tumenggung itu berkata, “Aku ingin melihat wajahmu menjadi putih seperti kapas karena ketakutan. Aku ingin melihat tubuhmu basah kuyup oleh keringat dingin sehingga kau menggigil seperti orang kedinginan”

“Tubuhmu tidak lagi berdarah jika kami menggoreskan pisau mengoyak kulitmu, karena perasaan takutmu itu”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada serta kedua orang pengawalnya itu pun tertawa.

Ki Waskita tidak menyahut. Dengan mata tertutup serta tangan terikat, Ki Waskita itu pun didorong untuk berjalan terus.

Sesudah menyeberangi jalan yang lebih besar, mereka masuk kembali ke sebuah lorong sempit. Mereka merayap perlahan-lahan di atas lorong berbatu-batu padas. Sekali-sekali kaki Ki Waskita itu terantuk batu sementara punggungnya didorong oleh para pengawal Ki Tumenggung, sehingga Ki Waskita itu jatuh tertelungkup.....

Ki Tumenggung dan kedua orang pengawalnya itu masih saja menertawakannya. Meskipun mereka menahan diri agar suara tertawanya tidak terdengar oleh orang-orang yang sudah tertidur di dalam rumah mereka di sebelah-menyebelah lorong itu.

Rumah-rumah itu pada umumnya adalah rumah-rumah yang sederhana saja. Halamannya sempit, dinding halamannya rendah dan tidak terpelihara, tanpa regol halaman dan berkesan kumuh.

Beberapa lama Ki Waskita berjalan dengan mata tertutup dan tangan terikat. Sementara itu, lorong yang mereka lalui pun berkelok-kelok, sulit untuk dapat diingat.

Di dini hari, selagi suasana masih sepi, Ki Waskita telah didorong masuk ke dalam sebuah halaman rumah yang berada di pinggir lorong itu.

Ki Waskita merasakan kakinya terantuk pada tlundak pintu lereg yang terbuat dari bambu. Kemudian ia pun merasa berjalan di atas sasak bambu beberapa langkah. Namun kemudian Ki Waskita itu pun harus menuruni tangga bambu melalui lubang yang sempit.

“Ruangan di bawah tanah” berkata Ki Waskita di dalam hatinya.

Sebenarnyalah bahwa Ki Waskita telah dilemparkan ke sebuah ruangan yang dibuat di bawah tanah. Sebuah lubang yang besar dengan tiang-tiang serta tulang-tulang bambu petung yang kokoh.

Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, penutup mata Ki Waskita itu pun dibuka.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Yang berdiri di depannya adalah salah seorang pengawal Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Namun Ki Waskita tidak melihat Ki Tumenggung itu sendiri.

“Tinggallah untuk sementara di lubang ini” berkata pengawal Ki Sarpa Biwada itu.

Ki Waskita tidak menjawab.

“Besok kau akan mulai memasuki masa-masa yang barangkali tidak pernah kau bayangkan. Ki Tumenggung Sarpa Biwada akan mendapat kepuasan yang sangat besar dengan kehadiranmu disini, sehingga kami tidak membunuhmu di rumah Ki Tumenggung itu”

Ki Waskita masih tetap diam saja.

“Jangan mencoba untuk berbuat sesuatu yang dapat merugikan dirimu sendiri. Ruang di bawah tanah ini memang kokoh. Tetapi jika kau mencoba keluar dari ruangan ini, ada kemungkinan langit-langit dari ruangan ini akan runtuh, sehingga kau akan terkubur hidup-hidup di dalamnya”

Ki Waskita memandang orang itu dengan pandangan kosong. Seakan-akan tidak ada gejolak perasaannya sama sekali menghadapi keadaan yang sangat gawat itu.

“Nampaknya kau sudah berputus asa” berkata pengawal itu. “Tetapi perjalananmu masih belum berakhir meskipun kau sudah sampai ke ujung”

Karena Ki Waskita tetap saja berdiam diri, maka pengawal Ki Tumenggung itu pun berkata, “Kau masih punya waktu sedikit untuk menikmati ketenangan. Sekarang Ki Tumenggung sedang beristirahat. Besok, setelah matahari naik, ia akan mulai dengan permainannya yang sangat menyenangkan. Ki Tumenggung telah menyiapkan beberapa jenis alat yang akan membuat permainannya sangat menarik”

Ki Waskita masih saja diam bagaikan membeku.

Namun pengawal Ki Tumenggung itu pun melangkah ke tangga bambu yang masih tersandar pada dinding ruang di bawah tanah yang lembab itu. Kemudian ia pun memanjat naik sambil berkata, “Lampu minyak itu tidak akan mati. Kau juga tidak akan mati lemas, karena ada udara yang cukup di ruang ini. Tutup lubang itu tidak akan terlalu rapat”

Baru kemudian Ki Waskita itu pun berdesis, “Apakah kau tidak akan melepaskan tali yang mengikat tanganku ini?”

Orang itu tertawa. Katanya, “Apakah jika tali pengikat tanganmu itu dilepas, kau akan dapat melarikan diri?”

Ki Waskita menggeleng. Katanya, “Aku tahu, bahwa tidak mungkin aku dapat lari dari ruangan ini”

“Jadi, bukankah sama saja, apakah tanganmu terikat atau tidak?”

“Ada bedanya” jawab Ki Waskita, “jika aku digigit nyamuk, aku akan dapat menggaruknya”

“Setan kau” geram pengawal itu.

Tetapi pengawal itu tidak menghiraukan Ki Waskita lagi.

Sejenak kemudian orang itu sudah naik ke atas. Kemudian ditariknya tangga bambu yang bersandar di dinding lubang itu ke atas.

Sejenak kemudian, maka lubang itu pun telah tertutup oleh beberapa lembar papan yang tebal. Di atas papan itu kemudian diletakkan sasak bambu seperti sasak di depan pintu. Sasak yang biasa dipasang di lantai rumah berkeliling untuk mencegah seorang pencuri masuk dengan membuat lubang di bawah bebatur rumah.

Demikian lubang itu tertutup kembali, maka Ki Waskita pun berusaha mendapatkan tempat yang tidak terlalu lembab. Dengan tangan masih terikat Ki Waskita itu duduk bersandar tiang penyangga tulang-tulang kerangka ruang di bawah tanah itu. Seperti yang dikatakan oleh pengawal Ki Tumenggung, bahwa lampu itu memang tidak mati. Agaknya udara masih tetap mengalir masuk ke ruang di bawah tanah itu lewat sela-sela papan sasak anyaman bambu yang tidak terlalu rapat menutup lubang ruangan di bawah tanah itu.

Beberapa saat Ki Waskita duduk berdiam diri. Lampu minyak yang terletak di atas ajug-ajug menyala dengan terangnya, menerangi seluruh ruangan itu.

Sementara itu, Ki Tumenggung Sarpa Biwada sedang berbaring di dalam ruangan yang sempit, seakan-akan dihimpit oleh dinding bambu di sebelah-menyebelah. Ternyata ruangan itu pun ruangan rahasia pula. Dinding yang memisahkan ruangan dalam dengan serambi samping ternyata rangkap. Hanya ada rongga sempit di dalamnya berisi sebuah amben kecil yang panjang. Disitulah Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidur. Ketika para prajurit Pajang memasuki rumah itu, mereka memang tidak menemukan apa-apa. Mereka pun tidak tahu, bahwa di dalam rumah itu ada dinding yang rangkap sehingga di sela-selanya dapat dipergunakan untuk bersembunyi seseorang.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah mengalami dua kali penggeledahan atas rumah itu. Tetapi para prajurit yang memasuki rumah itu tidak dapat menemukan apa-apa. Ki Tumenggung sendiri berada di antara dinding rumah itu, sementara beberapa orang pengawalnya berada di bawah tanah.

Ada pun lubang di atasnya tertutup oleh beberapa lembar papan yang kemudian di atasnya ditindih dengan sasak itu, di atasnya lagi disamarkan dengan sebuah amben bambu yang panjang.

Di sisa malam itu, Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidur di dalam ruangan sempitnya itu. Sementara itu di atas lubang yang tertutup oleh sasak dari anyaman bambu itu telah diletakkan amben panjang pula.

Di dalam ruangan di bawah tanah, Ki Waskita berusaha untuk menemukan kemungkinan melepaskan diri. Tetapi ruangan itu benar-benar rapat. Satu-satunya lubang adalah lubang yang telah ditutup rangkap serta berada di bawah kolong amben bambu panjang.

Demikianlah ketika fajar menyingsing di hari berikutnya, padukuhan itu pun mulai terbangun pula. Tetapi Ki Tumenggung sendiri masih tidur dengan nyenyaknya. Sementara itu kedua pengawalnya bersama dengan seorang lagi, yang berperan sebagai pemilik rumah itu, tidur di ruang belakang. Sedangkan istri laki-laki itu berada di sentong sebelah kanan dari tiga buah sentong yang berjajar memanjang itu.

Pada saat-saat terakhir mereka sudah merasa lebih aman karena Pajang tidak lagi terlalu sering mengadakan pencaharian langsung dari rumah ke rumah. Apalagi ketika Harya Wisaka dinyatakan sudah meninggal.

Namun mereka menjadi lebih berhati-hati sejak beberapa orang mereka terbunuh oleh Paksi.

Di dalam ruang di bawah tanah Ki Waskita tidak begitu dapat mengenali waktu. Ia sama sekali tidak melihat sinar matahari yang kemudian terbit, sehingga Ki Waskita itu tidak tahu, bahwa matahari pun sudah terbit.

Kedua pengawal Ki Tumenggung yang kemudian terbangun, harus menahan kesabaran mereka. Mereka menunggu Ki Tumenggung mulai dengan permainannya dengan orang yang berada di ruang di bawah tanah itu.

Tetapi Ki Tumenggung baru terbangun ketika matahari naik sepenggalah. Kemudian duduk di ruang dalam sambil minum minuman hangat.

“Sudah siang, Ki Tumenggung” berkata salah seorang pengawalnya.

“Jangan tergesa-gesa. Kita akan minum dan makan pagi lebih dahulu. Baru kemudian kita bermain-main dengan laki-laki itu”

Kedua pengawalnya itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu laki-laki dan istrinya yang menghuni rumah itu telah menyiapkan makan pagi bagi mereka.

Baru setelah makan pagi, Ki Tumenggung itu pun bersiap-siap untuk mulai dengan permainannya.

Namun seorang dari kedua pengawalnya telah diperintahkannya untuk memberitahukan kepada beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang berada di rumah yang lain, yang tidak terlalu jauh dari rumah yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Sekelompok orang yang berpindah-pindah tempat. Namun seorang penghubung yang sempat menyusup dan berada di lingkungan keprajuritan, selalu dapat memberikan peringatan kepada mereka apabila akan ada peronda yang lewat atau akan ada pencaharian dari rumah ke rumah.

Mereka tidak mendapatkan tempat bersembunyi sebaik Ki Tumenggung Sarpa Biwada karena jumlah mereka yang cukup banyak. Namun mereka masih juga mampu menyamarkan diri di antara para penghuni di padukuhan itu.

“Aku akan ikut” berkata pemimpin sekelompok orang itu.

“Ki Tumenggung tidak memberikan perintah seperti itu”

“Aku akan minta kepada Ki Tumenggung. Senang sekali dapat menangkap orang penting seperti Ki Waskita”

“Ki Tumenggung mempunyai dendam pribadi”

“Kita semua mendendam orang-orang yang setia kepada Sultan Hadiwijaya”

“Tetapi Ki Tumenggung ingin membuat perhitungan atas persoalan pribadi mereka”

“Apa pun yang akan dilakukan Ki Tumenggung. Tetapi aku akan ikut”

“Terserah kepada Ki Tumenggung. Tetapi aku datang untuk memperingatkan, agar kau dan orang-orangmu berhati-hati”

“Kami selalu berhati-hati”

“Jangan biarkan anak laki-laki Ki Tumenggung itu pergi dengan siapa pun juga”

“Anak itu tidak ingin pergi kemana-mana”

Pengawal Ki Tumenggung itu tidak dapat mencegahnya. Pemimpin dari para pengikut Harya Wisaka itu pun mengikutinya kembali ke rumah yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Sarpa Biwada untuk bersembunyi. Ia akan ikut serta dalam sebuah permainan yang tentu akan mengasikkan.

Ketika mereka sampai di rumah yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung itu, maka pemimpin dari para pengikut Harya Wisaka itu pun segera menyatakan diri kepada Ki Tumenggung untuk ikut turun ke ruangan di bawah tanah.

Ki Tumenggung itu pun tersenyum. Katanya, “Tetapi akulah yang berkepentingan dengan orang itu. Kau tidak oleh menggangguku”

“Tidak, Ki Tumenggung. Aku tidak akan mengganggu Ki Tumenggung. Aku hanya akan ikut serta. Aku akan menyesuaikan diri dengan kepentingan pribadi Ki Tumenggung”

“Baiklah. Kita akan membawa orang itu ke kebun belakang. Di halaman yang kosong di antara rumpun-rumpun bambu yang lebat. Tidak akan ada orang yang melihatnya dan seandainya orang itu berteriak-teriak, tidak akan ada yang mendengarnya”

“Baik, Ki Tumenggung. Disana pula aku dua hari yang lalu membantai dua orang prajurit Pajang. Mereka berteriak-teriak sekuat tenaga. Tetapi tidak ada orang yang mendengarnya”

“Baiklah” berkata Ki Tumenggung yang lalu memerintahkan kepada kedua pengawalnya, “Ambil orang itu. Kita akan membawanya ke sela-sela rumpun bambu di kebun kosong itu”

“Baik, Ki Tumenggung”

“Tetapi ingat. Aku tidak ingin ia mati hari ini”

“Ya. Aku mengerti”

Sejenak kemudian, maka kedua orang pengawal Ki Tumenggung itu pun telah turun ke ruang di bawah tanah untuk mengambil orang yang terikat tangannya di ruang itu.

Sementara itu, Ki Tumenggung dan pemimpin sekelompok pengikut Harya Wisaka itu pun menunggu sambil duduk di serambi depan.

Dalam pada itu, istri penghuni rumah itu pun tiba-tiba berlari-lari turun ke halaman, sehingga dengan serta-merta Ki Tumenggung pun memanggilnya, “He, kau akan pergi kemana?”

“Penjual jamu gandring itu lewat, Ki Tumenggung”

“Setiap hari kau membeli jamu gandring. Apakah kau tidak pernah merasa bosan?”

Perempuan itu tersenyum. Ia memang selalu membeli jamu gandring yang dapat membuat tubuhnya menjadi hangat. Namun ketika ia turun ke jalan, maka yang dilihatnya penjual jamu gandring itu berbeda. Bukan orang yang biasanya menjual jamu gandring lewat lorong kecil itu.

Tetapi pikulan yang dibawanya adalah pikulan yang biasanya dipakai untuk menjajakan jamu gandring lewat lorong sempit itu.

“Kenapa ragu-ragu, Nyi?” bertanya penjual jamu gandring itu.

“Apakah karena aku tidak terbiasa menjual jamu gandring lewat lorong ini?”

Perempuan itu mengangguk.

“Tetapi kau kenal pikulan ini, Nyi?”

“Ya. Aku juga mengenal wayang golek itu”

“Tentu. Pikulan ini milik ayahku. Hari ini ia berhalangan karena perutnya sakit. Karena itu akulah yang disuruhnya menggantikannya. Ayah memang mengatakan, bahwa di lorong ini banyak penggemar jamu gandring”

“Aku adalah di antaranya” berkata perempuan itu yang kemudian membelinya.

Perempuan itu semakin percaya bahwa penjual yang muda itu adalah anak dari penjual yang biasanya menjajakan jamu gandringnya di lorong itu, melihat cara anak muda itu menghitung dan membungkus butiran-butiran jamu gandringnya, tepat sebagaimana dilakukan oleh penjual yang disebut ayahnya itu.

“Hari ini nampaknya banyak orang di rumah Nyai” desis penjual jamu gandring itu seakan-akan demikian saja meluncur dari mulutnya tanpa memandang kepada perempuan itu.

“Tidak” jawab perempuan itu.

“Ada beberapa orang nampak hilir-mudik”

“Saudara-saudaraku. Mereka memang tinggal disini. Tidak ada orang lain”

“Keluarga Nyai termasuk keluarga besar, Nyai?”

“Ya. Ayahmu juga sering mengatakan, bahwa keluargaku keluarga yang besar. Tetapi sebenarnya keluargaku tidak terlalu besar. Hanya terdiri dari aku, suamiku, seorang adikku dan seorang adik suamiku. Itu saja. Tetapi bagi orang miskin seperti aku, empat mulut yang harus disuapi setiap hari terasa cukup berat”

Penjual jamu gandring itu tertawa. Katanya, “Nyai masih mempunyai rumah betapapun sederhananya. Nyai masih mempunyai halaman dan barangkali kebun di belakang yang menghasilkan palawija, mungkin sawah dan pategalan? Sedangkan aku? Ayahku tidak punya apa-apa sama sekali kecuali pikulan ini. Kami tinggal di rumah adik ayahku yang sebenarnya kecukupan. Tetapi adik ayahku itu kikirnya bukan main. Kami hanya diperbolehkan tinggal di dekat kandang kuda.

Bahkan jika sehari kami tidak makan, adik ayahku itu sama sekali tidak peduli”

“O” perempuan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian setelah ia menerima sebungkus jamu gandring, perempuan itu pun berkata, “Sudahlah. Ini uangnya”

Anak muda itu mengerutkan dahinya. Katanya, “Tidak ada kembalinya, Nyi”

“Biarlah besok saja. Bukankah besok kau juga akan lewat disini?”

“Ya. Jika bukan aku, tentu ayahku. Aku akan mengatakan kepada ayah, bahwa uang kembali Nyai, masih ada disini”

Perempuan itu pun kemudian telah menghambur kembali ke rumahnya yang sederhana itu.

Namun penjual jamu gandring itu berdesis, “Perempuan itu bukan perempuan sederhana sesederhana rumahnya”

Penjual jamu gandring itu tidak segera pergi. Ia masih mengatur dagangannya yang sedikit di dalam pikulannya.

Sementara itu, dua orang pengawal Ki Tumenggung telah membawa Ki Waskita naik. Demikian ia sampai di atas, ia pun didorong untuk duduk di atas amben panjang yang biasanya diletakkan di atas lubang menuju ke ruang di bawah tanah itu.

“Selamat pagi, Ki Waskita” desis Ki Tumenggung sambil tersenyum, “Aku harap Ki Waskita dapat tidur nyenyak”

Ki Waskita yang tangannya masih terikat itu pun menyahut, “Sejak kemarin aku belum makan. Aku merasa sangat lapar dan tubuhku menjadi sangat lemas”

“Makan?” Ki Tumenggung tertawa. Katanya kemudian, “Kami adalah orang-orang miskin, Ki Waskita. Kami sendiri kadang-kadang tidak makan sehari penuh. Sementara itu, orang-orang Pajang menghambur-hamburkan kekayaannya untuk makan apa saja yang diingininya selain untuk kesenangan yang lain. Perempuan, perjudian, mabuk dan semacamnya”

“Aku tidak pernah mengenalnya, Ki Tumenggung. Aku adalah penghuni padepokan yang terpencil”

“Katakan, kau dapat janji upah berapa dari Pemanahan jika kau dapat menangkap aku”

“Tidak ada janji apa-apa, Ki Tumenggung”

“Omong kosong. Kau telah memanfaatkan gejolak yang terjadi di Pajang ini untuk beberapa kepentingan sekaligus. Kau dapat mendatangi perempuan itu kapan pun kau inginkan. Malam, pagi, sore, siang hari. Kau memang iblis yang paling terkutuk. Kemudian, kau akan menerima upah yang banyak jika kau dapat menangkap aku”

“Tidak. Aku hanya mengakui bahwa aku memang berusaha menangkapmu. Itu saja. Tetapi aku tetap menghormati istrimu sebagai seorang istri yang setia”

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Kau ajari istriku mengatakan kepadaku, bahwa kedatanganmu di rumahku itu merupakan salah satu usaha Pajang yang hampir putus asa itu untuk menangkapku”

“Aku memang ingin menangkapmu”

Ki Tumenggung tertawa semakin keras, sehingga penjual jamu gandring yang mulai beranjak dari tempatnya masih sempat mendengarnya. Penjual jamu gandring itu memang memperlambat langkahnya. Ia mendengar suara tertawa yang berkepanjangan itu. Namun kemudian penjual jamu gandring itu meneruskan langkahnya sambil memikul dagangannya.

“Jamu gandring, jamu gandring” terdengar suara tembangnya yang khusus, tetapi seperti suara tembang penjual jamu gandring yang disebut ayahnya itu.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung itu pun berkata, “Kau pikir aku terlalu bodoh untuk mempercayaimu. Jika kau memang ingin menjebakku, kenapa kau tidak membawa seorang pun yang akan dapat membantumu?”

“Aku yakin akan dapat menangkapmu meskipun aku seorang diri, karena aku mengira bahwa kau pun akan datang seorang diri”

Wajah Ki Tumenggung menjadi merah. Tiba-tiba saja kakinya menyambar perut Ki Waskita. “Jangan mencoba menghinaku”

Ki Waskita mengaduh tertahan. Namun Ki Waskita masih menjawab, “Ki Tumenggung, jika aku mengajak satu dua orang kawan untuk menangkapmu, maka uang yang akan aku terima tentu tidak akan utuh. Aku harus membagi-bagi dengan orang-orang itu. Sementara itu aku yakin bahwa kemampuanku lebih tinggi dari kemampuanmu, sehingga aku akan dapat menangkapmu. Perhitunganku itu aku dasari pada sikap seorang laki-laki. Jika kau menjadi cemburu, maka kau akan datang dan menantangku berperang tanding. Tetapi ternyata kau tidak datang sendiri”

Ki Waskita tidak dapat menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja tangan Ki Tumenggung telah menampar mulutnya, sehingga wajah Ki Waskita terdorong ke samping.

“Kau telah membuat dirimu sendiri semakin menderita”

“Aku tahu, Ki Tumenggung. Tetapi batas terakhir dari segala-galanya adalah mati. Jika seseorang tidak lagi menganggap kematian itu menakutkan, maka ia tidak akan takut apa-apa”

“Omong kosong” teriak Ki Tumenggung. “Ada yang lebih buruk dari kematian. Kau akan mengalaminya”

Ki Waskita tidak menjawab lagi.

Dalam pada itu, penjual jamu gandring itu menjadi semakin jauh. Terdengar tembang khususnya yang ngelangut, “Jamune gandring”

Ki Tumenggung pun kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk menyeret Ki Waskita ke kebun kosong yang arahnya di belakang rumah yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Kebun kosong yang penuh dengan rumpun-rumpun bambu itu terletak agak jauh dari rumah itu.

Jarang sekali atau bahkan tidak pernah ada orang yang datang ke tempat itu. Seandainya seseorang berteriak-teriak di antara rumpun bambu itu tidak akan ada orang yang mendengarnya. Dari rumah yang dipergunakan oleh Ki Tumenggung untuk bersembunyi itu pun teriakan-teriakan yang paling keras, tidak akan terdengar.

Ketika mereka sampai di tempat yang terpencil itu, pemimpin dari sekelompok pengikut Harya Wisaka itu pun berkata, “Disini aku membunuh dua orang prajurit Pajang dengan caraku”

“Kau apakan mereka?” bertanya Ki Waskita. Pertanyaan yang tidak disangka oleh pemimpin sekelompok pengikut Harya Wisaka itu.

Namun orang itu kemudian justru tertawa. Katanya, “Kau benar-benar ingin tahu?”

“Ya” jawab Ki Waskita.

Orang itu masih tertawa. Katanya, “Hatimu memang sekeras batu. Kau sama sekali tidak nampak menjadi gentar menghadapi keadaan yang sangat gawat. Kau berpegang kepada sikapmu, bahwa kematian adalah batas akhir dari penderitaan, sedangkan kau tidak takut lagi menghadapi kematian. Tetapi kau tidak membayangkan jika kematian itu datangnya sangat perlahan-lahan”

Ki Waskita tidak menjawab. Tetapi wajahnya tidak berubah. “Ikat orang itu pada pohon cangkring itu”

Seorang pengawalnya pun kemudian mendorong Ki Waskita ke arah sebatang pohon cangkring yang tumbuh di antara rumpun-rumpun bambu yang lebat. Tanpa menghiraukan duri yang ada di batang pohon cangkring itu, pengawal Ki Tumenggung itu pun mengikat Ki Waskita erat-erat.

Ki Waskita menyeringai menahan pedih di tangannya, karena sepucuk duri terasa menekan kulitnya.

“Kau sudah merasa tidak senang karena tanganmu tersentuh duri” berkata pengawal itu. “Kau tentu akan menjadi semakin tidak senang jika dadamu yang tersentuh ujung keris”

“Tusuklah dadaku dengan keris”

“Tidak. Bukankah kau tahu, bahwa kami tidak akan membunuhmu sekarang. Mungkin besok, mungkin lusa atau kau akan kami biarkan mati sendiri disini meskipun harus menunggu sepekan”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya keadaan di sekelilingnya. Rumpun bambu yang lebat, sehingga rasa-rasanya dunia menjadi demikian sempitnya.

Ki Waskita tahu apa yang akan dilakukan oleh Ki Tumenggung Sarpa Biwada untuk mendapatkan kepuasan batinnya. Kegagalan-kegagalan yang dialaminya bersama Harya Wisaka. Kecemburuan yang membakar jantung, serta kebenciannya kepada laki-laki yang telah menghamili istrinya di masa gadisnya, mendorongnya untuk melakukan apa saja yang dapat memuaskannya. Bahkan di luar batas-batas perikemanusiaan.

“Berikan cambukku” berkata Ki Tumenggung kepada pengawalnya yang seorang.

Pengawal itu kemudian menyerahkan sebuah cambuk dengan juntainya yang panjang kepada Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Terdengar Ki Tumenggung itu tertawa berkepanjangan. Katanya kepada Ki Waskita, “Ini baru permulaan dari sebuah permainan yang panjang”

Ki Waskita tidak menjawab.

Yang terdengar kemudian adalah ledakkan cambuk yang menghentak. Ki Waskita mengatupkan giginya rapat-rapat. Ujung cambuk itu telah mengenai tubuhnya yang melekat pada sebatang pohon cangkring.

Tetapi Ki Waskita tidak mengaduh.

“Buka bajunya” teriak Ki Tumenggung. “Bajunya itu agaknya melindungi kulitnya, sehingga mengurangi rasa sakitnya”

Pengawalnya pun segera mendekat. Namun ia pun kemudian berpaling kepada Ki Tumenggung sambil bertanya, “Apakah aku harus mengurai talinya lebih dahulu?”

“Pergunakan pisaumu. Bukankah kau membawa pisau selain pedangmu?”

“Untuk memutuskan tali-talinya?”

“Kau memang dungu. Tidak untuk memutuskan talinya. Tetapi untuk mengoyak bajunya”

“O” pengawal itu mengangguk-angguk.

Sejenak kemudian, maka baju Ki Waskita sudah dikoyaknya, sehingga dadanya menjadi telanjang.

“Bagus” desis Ki Tumenggung, “sekarang, ujung cambukku akan mengelupas kulitnya”

Ki Waskita yang terikat pada pohon cangkring itu memandangnya dengan tajamnya. Tidak ada kesan ketakutan dan kengerian di wajahnya.

Sikap itu sangat tidak menyenangkan Ki Tumenggung. Ia ingin melihat Ki Waskita itu ketakutan dan bahkan merengek minta ampun kepadanya. Tetapi laki-laki itu masih saja memandanginya dengan tanpa menunjukkan gejolak perasaannya sama sekali.

Sekali lagi terdengar cambuk itu meledak. Di dada Ki Waskita segera melekat goresan memanjang berwarna kemerah-merahan. Ternyata hentakan cambuk itu telah melukai dada Ki Waskita. Darah pun mulai mengembun di sepanjang goresan yang panjang itu.

“Sayang sekali” berkata pemimpin sekelompok pengikut Harya Wisaka yang ingin terlibat ke dalam permainan itu.

“Kenapa?” bertanya Ki Tumenggung.

“Kita tidak menyediakan jeruk atau garam”

“Untuk apa”

“Permainan ini tentu akan lebih menarik. Orang ini sepantasnya memang dihukum picis”

Ki Tumenggung tertawa. Katanya, “Kita masih mempunyai waktu panjang”

“Ya. Besok permainan ini harus menjadi lebih baik”

Ki Tumenggung tertawa. Orang itu dan para pengawal pun tertawa pula.

Dalam pada itu, di sepanjang lorong di padukuhan yang berkesan kumuh itu, seorang penjual jamu gandring berjalan semakin lamban dan bahkan berhenti, namun masih terdengar suara tembangnya yang khusus, “Jamu gandring, jamune gandring”

Namun beberapa saat kemudian, yang tinggal hanyalah sebuah pikulan yang diletakkan melekat dinding halaman yang rendah. Tidak ada yang tahu, kemana penjualnya pergi.

Dua orang anak berhenti mengamati pikulan yang ditinggalkan itu. Mereka mulai meraba wayang golek yang ada di pikulan itu. Namun mereka tidak berani mengambilnya.

“Marilah” ajak seorang di antara mereka, “jika ada yang hilang, kita akan dapat dituduh mengambilnya”

“Bukankah kita tidak mengambil”

“Dituduh mengambilnya”

“Biar saja. Asal kita tidak benar-benar mengambil apa-apa”

“Tetapi sebaiknya kita pergi saja”

Kedua orang anak itu pun kemudian pergi meninggalkan pikulan jamu gandring yang ditinggalkan oleh penjualnya.

“Tentu ada uangnya” berkata salah seorang dari kedua orang anak itu.

“Kalau uang itu hilang?”

“Karena itu lebih baik kita pergi”

Dalam pada itu, telah terdengar lagi sebuah ledakkan di rumpun bambu yang lebat itu. Tetapi ledakkan cambuk itu suaranya bagaikan diredam oleh rumpun-rumpun bambu di sekitarnya. Bahkan ketika kemudian angin berhembus, yang terdengar hanyalah gemerasak daun bambu serta derit batang bambu yang saling bergesek karena digoyang angin.

Meskipun tubuh Ki Waskita kemudian tergores lagi oleh juntai cambuk yang panjang itu, namun Ki waskita masih tetap bertahan tanpa mengeluh sama sekali meskipun harus mengatupkan giginya rapat-rapat.

Sikap Ki Waskita itu telah membuat Ki Tumenggung menjadi semakin marah. Ki Waskita itu sama sekali tidak melakukan sebagaimana telah dibayangkan. Ki Waskita tidak menjadi ketakutan. Tidak pula merengek minta ampun dan bahkan menangis sambil meneriakkan janji-janji.

Tetapi Ki Waskita itu nampak tetap tenang meskipun setiap lecutan membuatnya menyeringai menahan sakit.

Dalam kemarahannya itulah, maka Ki Tumenggung berteriak, “Permainan ini tidak memberikan kepuasan padaku. Cari sarang semut ngangrang. Sebelum kita menyiramnya dengan air garam, biarlah tubuhnya dikerumuni semut ngangrang. Jika semut-semut itu mulai menggigit, maka kita tentu akan mendapatkan kesenangan lebih daripada permainan cambuk ini”

“Jadi, sarang semut ngangrang di pohon jambu air itu harus aku ambil?”

“Ya”

Dahi Ki Waskita nampak berkerut. Jika pengawal Ki Tumenggung itu benar-benar mengambil sarang semut ngangrang dan ditaburkan di tubuhnya dengan tangan terikat, maka ia benar benar akan menderita. Apalagi jika semut itu nanti masuk ke dalam matanya, telinganya atau hidungnya.

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak menunjukkan kecemasan sama sekali.

Demikian salah seorang pengawal itu pergi untuk mengambil semut ngangrang merah dengan selembar kain, maka Ki Tumenggung itu pun berkata, “Jangan sesali nasibmu. Kau seorang jahanam yang pantas mendapat perlakuan seperti itu”

“Lakukan apa yang akan kau lakukan. Aku bukan pengecut yang licik. Ketika aku hilang dalam tugas memburu perampok di masa mudaku sebagai seorang prajurit, aku sudah mengalami penderitaan yang tak terkatakan. Karena itu, dalam umurku yang semakin tua ini, aku tidak akan gentar menghadapi penderitaan yang bagaimanapun juga”

“Iblis kau” geram Ki Tumenggung. Sekali lagi cambuknya meledak mengenai leher Ki Waskita.

Ki Waskita mengatupkan giginya rapat-rapat sambil berdesah tertahan. Namun di wajahnya sama sekali tidak mengesankan, betapa sakitnya juntai cambuk yang mengenai lehernya itu.

Sementara itu, seorang pengawal Ki Tumenggung itu pun telah berlari-lari menuju ke sebuah pohon jambu air yang tumbuh tidak jauh dari rumah persembunyian Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Dengan tangkasnya orang itu pun segera memanjat.

Dengan sehelai kain, orang itu menyelubungi sebuah sarang semut ngangrang merah yang besar, di antara daun jambu air yang kering. Kemudian, kain itu ditelakupkannya dan diikatnya sehingga semut ngangrang di dalam sarangnya itu akan tetap berada di dalam selubung kain panjang itu.

Dengan tergesa-gesa pengawal itu pun segera meluncur turun sambil membawa sarang semut ngangrang di dalam selubung kain panjang itu. Seperti ketika ia pergi ke pohon jambu itu, maka ketika pengawal itu kembali ke kebun kosong di antara rumpun-rumpun bambu yang lebat itu, ia pun berlari lari kecil pula.

Beberapa kali pengawal itu mendengar cambuk Ki Tumenggung meledak. Agaknya sambil menunggu semut ngangrang itu, Ki Tumenggung masih juga mempergunakan cambuknya untuk memaksa Ki Waskita mengakui kekalahannya.

“Kau bawa sarang semut ngangrang itu?” bertanya Ki Tumenggung ketika ia melihat pengawalnya telah kembali.

“Ya, Ki Tumenggung”

“Berikan kepadaku” berkata Ki Tumenggung.

“Tunggu, Ki Tumenggung” berkata pengawalnya. “Kita harus berhati-hati. Jika tidak, maka kita pun akan dikerumuni oleh ratusan dan bahkan ribuan semut ngangrang merah, yang gigitannya sepanas api itu”

“Maksudmu?”

“Biarlah aku yang menaburkan semut ini pada tubuh orang yang sombong itu”

“Kenapa harus kau?”

“Aku sudah mengenal watak semut ngangrang sebaik-baiknya”

“Baiklah. Lakukanlah. Aku ingin melihat, apa yang akan terjadi dengan jahanam yang sombong itu”

Namun sebelum pengawal itu sempat menaburkan semut ngangrang di tubuh Ki Waskita, maka mereka dikejutkan oleh desir halus di belakang rumpun bambu yang lebat itu. Ki Tumenggung dan para pengawal itu mendengar jelas, langkah yang cepat di antara rumpun batang-batang bambu itu dari satu tempat ke tempat yang lain.

“Kau dengar itu?”

“Ya” sahut pemimpin pengawal sekelompok pengikut Harya Wisaka itu.

“Hati-hatilah. Mungkin ada orang yang melihat atau mendengar keributan di tempat ini”

“Bukankah tempat ini terpencil dan tidak ada orang lain yang pernah datang kemari?” berkata salah seorang pengawalnya.

“Ya. Tetapi mungkin ada orang yang tersesat atau yang lebih buruk lagi, ada pengkhianatan”

Orang-orang yang ada di antara rumpun bambu itu menjadi tegang. Adalah mengejutkan, bahwa justru Ki Waskita itu berkata, “Jika di lingkungan keprajuritan Pajang ada yang berkhianat, tentu di lingkunganmu ada pula pengkhianatan”

“Diam” bentak Ki Tumenggung Sarpa Biwada, “kau tidak berhak ikut berbicara”

“Aku tidak peduli” sahut Ki Waskita, “berhak atau tidak berhak, aku akan berbicara”

Tiba-tiba saja cambuk Ki Sarpa Biwada meledak. Segores lagi jejak lecutan itu menyilang di dadanya.

Ki Waskita menyeringai menahan sakit. Tetapi sejenak kemudian Ki Waskita itu pun tersenyum sambil berkata, “Kalianlah yang akan menyesal”

Ki Tumenggung menjadi tegang. Suara langkah kaki itu menjadi semakin jelas. Tidak hanya seorang, tetapi beberapa orang.

Pengawal yang membawa sarang semut ngangrang di dalam ikatan kain panjangnya itu tidak sempat menaburkan ke tubuh Ki Waskita. Sejenak kemudian, mereka tidak hanya mendengar langkah kaki orang-orang yang bersembunyi di belakang rumpun bambu. Tetapi beberapa orang kemudian telah berloncatan di sekitar tempat itu.

“Kau bukan saja laki-laki jahanam. Tetapi kau adalah anak iblis” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Waskita memandanginya dengan tajamnya. Katanya, “Aku merasa kasihan kepadamu. Jika saja kau mau mendengarkan peringatan istrimu, maka masih ada jalan bagimu untuk menghindari jebakanku”

“Persetan dengan perempuan itu” Ki Tumenggung itu membentak dengan suara yang bergetar oleh kemarahan yang bergetar di dadanya.

“Menyerahlah” berkata seorang prajurit yang memimpin sekelompok prajurit yang mengepung tempat itu.

“Kami adalah laki-laki seperti kalian” jawab Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Kaulah yang harus malu kepada dirimu sendiri”

“Kenapa?”

“Kau penjilat. Sejak semula aku muak melihat caramu menjilat Pemanahan itu”

“Aku seorang tumenggung seperti kau, Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Kau tentu tahu, bahwa aku harus mengemban beberapa kewajiban. Jika aku setia kepada tugasku, apakah itu artinya bahwa aku telah menjadi penjilat?”

“Kau dapat saja mengucapkan beberapa kata pembelaan. Tetapi semua prajurit di Pajang tahu, siapakah Ki Tumenggung Yudatama itu. Para prajurit yang kau bawa sekarang pun tahu, siapa kau dan apa pula yang pernah kau lakukan”

Ki Tumenggung Yudatama itu pun menyahut, “Sudahlah, Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Aku masih mau menyebutmu Ki Tumenggung meskipun kau sudah bukan tumenggung lagi, karena kau sudah tidak berada lagi dalam jajaran keprajuritan Pajang atau jabatan-jabatan lain yang diakui oleh Pajang. Menyerahlah. Kau tidak mempunyai kesempatan lagi”

Tetapi Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu tertawa. Katanya, “Jangan terlalu cepat merasa menang. Kedatangan kalian tentu diketahui oleh orang-orang. Siapa pun kau dan prajuritp-rajuritmu yang datang kemari, tetapi akan menjadi umpan ujung senjata-senjata kami”

“Kau tidak usah menakut-nakuti kami. Menyerah atau tidak”

“Iblis kau, Tumenggung Yudatama. Kau adalah orang yang tidak mempunyai sikap selain menjadi penjilat” geram pemimpin sekelompok pengikut Harya Wisaka. “Kau memang seorang tumenggung yang malang. Kau telah tersesat masuk ke dalam sarang srigala hanya dengan beberapa orangmu saja”

“Baiklah” berkata Ki Tumenggung Yudatama, “jika kalian tidak mau menyerah, maka kami harus memaksanya. Adalah di luar niat kami untuk membunuh seorang pun di antara kalian.

Tetapi jika terjadi pertempuran, maka kemungkinan kematian itu selalu ada”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak menjawab. Tetapi ia pun segera bersiap untuk bertempur.

Pengawal Ki Sarpa Biwada menjadi ragu-ragu untuk menaburkan semut ngangrang yang sudah ada di dalam selubung kain panjang yang diikatnya itu. Jika tiba-tiba saja ia diserang sebelum berhasil menaburkan semut itu pada tubuh Ki Waskita, maka semut itu akan dapat tertabur di tubuhnya sendiri.

Karena itu, maka dilemparkannya saja semut ngangrang yang masih berada di dalam selubungnya yang terikat ke arah Ki Waskita. Jika saja ikatan itu menjadi longgar dengan sendirinya, maka semut-semut itu akan dapat merayap keluar.

Tetapi ternyata tidak seekor pun semut ngangrang yang keluar dari selubung kain panjang itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Tumenggung Yudatama pun telah menyerang Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Sementara itu, beberapa orang prajuritnya telah melibatkan diri bertempur melawan kedua orang pengawal Ki Tumenggung Sarpa Biwada dan pemimpin sekelompok pengikut Harya Wisaka.

Seorang di antara para prajurit itu berusaha untuk dapat mencapai Ki Waskita dan melepas ikatannya. Tetapi Ki Tumenggung Sarpa Biwada dan kawan-kawannya bertempur dekat dengan tempat Ki Waskita terikat.

Bahkan Ki Tumenggung itu pun kemudian berteriak, “Bunuh saja jahanam itu daripada kawan-kawannya sempat membebaskannya”

Seorang pengawal Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu pun telah menarik pedangnya. Namun ketika ia siap untuk meloncat sambil menjulurkan pedangnya, seorang prajurit telah menyerangnya dengan tombak pendeknya. Hampir saja ujung tombak pendeknya menyentuh lambung pengawal itu. Namun dengan cepat pengawal itu sempat meloncat mengelak.

Namun dengan demikian, lingkaran di sekitar Ki Waskita itu pun telah terbuka. Namun ketika prajurit itu meloncat untuk melepas tali Ki Waskita, maka prajurit itu menjadi heran.

Ternyata tali Ki Waskita sudah terurai.

“Ki Waskita” desis prajurit itu.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Orang itu tidak pandai membuat simpul mati. Ternyata ikatannya longgar sehingga aku sempat melepaskan tanganku dari ikatan talinya. Namun aku tetap saja berdiri seakan-akan tubuhku masih terikat pada pohon cangkring itu”

Prajurit itu masih saja termangu-mangu. Ia tidak melihat tali itu terlepas. Tetapi menurut penglihatannya tali itu telah terputus.

“Ternyata ia sebenarnya tidak memerlukan pertolongan” berkata prajurit itu di dalam hatinya.

Dalam pada itu, maka pertempuran pun menjadi semakin sengit. Ki Waskita sendiri masih belum melibatkan diri dalam pertempuran itu. Ia mencoba untuk mengenali kemampuan Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang tentu sudah mengerahkan kemampuannya untuk dengan cepat mengakhiri perlawanan Ki Tumenggung Yudatama.

Ki Waskita tersenyum. Katanya di dalam hati, “Tentu Paksi akan dapat mengalahkannya jika mereka bertemu lagi di arena pertempuran”

Namun Ki Waskita itu tertegun ketika ia mendengar derap sekelompok orang yang sedang berlari-lari menuju ke kebon kolong yang penuh dengan rumpun bambu itu.

Ki Tumenggung Yudatama pun meloncat surut mengambil jarak. Ia pun mendengar derap sekelompok orang yang berlari-lari itu.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun tertawa. Katanya, “Apakah kau masih ingin memaksa kami menyerah?”

Ki Tumenggung Yudatama itu pun bertanya, “Siapakah mereka?”

“Mereka adalah orang-orangku. Mereka tentu mengetahui bahwa kalian mencoba menjebakku. Orang-orangku yang bertugas mengawasi keadaan tentu melihat kedatangan kalian, sehingga mereka berdatangan untuk menangkap kalian. Dengan demikian, maka kalianlah yang harus menyerah bukan kami”

Tetapi Ki Tumenggung Yudatama itu pun menjawab, “Aku akan menirukan kata-katamu, Ki Tumenggung Sarpa Biwada, bahwa kami adalah laki-laki seperti kalian”

“Jangan menyesal, Ki Tumenggung. Kau akan terikat pula di pohon cangkring itu”

Namun Ki Waskita yang telah terlepas dari ikatannya itu menyahut, “Orang-orangmu tidak pandai mengikat orang, Ki Tumenggung. Ternyata ikatannya telah terlepas sendiri”

“Diam kau, orang yang terkutuk. Kau dapat terlepas sekarang. Tetapi kau tidak akan dapat pergi dari tempat ini. Tempat ini sudah dikepung oleh orang-orangku”

Ki Waskita itu pun tertawa. Katanya, “Tanpa ikatan, aku dapat melawan”

“Kau dan para prajurit yang dibawa oleh penjilat ini tidak akan mampu mengimbangi orang-orangku. Betapapun tinggi ilmumu, jumlah orang-orangku terlalu banyak untuk kau lawan”

Ki Waskita tidak sempat menjawab. Dari balik rumpun-rumpun bambu bermunculan para pengikut Harya Wisaka dengan senjata yang teracu.

“Menyerahlah” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Ki Tumenggung Yudatama pun menyahut, “Tidak. Bukan watak seorang prajurit untuk begitu saja menyerah. Kecuali jika nyawaku sudah tidak melekat di tubuhku lagi”

“Kau terlalu sombong, Ki Tumenggung, bersiaplah”

Ki Tumenggung Yudatama itu tidak menjawab. Tetapi ia pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Sejenak kemudian, pemimpin sekelompok pengikut Harya Wisaka itu pun memberikan isyarat. Sebuah suitan yang nyaring terdengar menyusup di antara batang-batang bambu yang memenuhi kebun yang kosong itu.

Suitan itu merupakan perintah bahwa para pengikut Harya Wisaka itu untuk segera bergerak.

Sementara itu terdengar Ki Tumenggung berteriak, “Tangkap mereka hidup-hidup. Aku masih mempunyai urusan dengan mereka”

Para pengikut Harya Wisaka itu pun segera menyerang Ki Tumenggung Yudatama dan beberapa orang prajuritnya serta Ki Waskita yang sudah terlepas dari ikatannya.....

Ketika dua orang lawan menyerang bersama-sama, maka Ki Waskita pun dengan cepat mengelak. Namun tidak diketahui, apa yang telah dilakukan, seorang di antara kedua orang prajurit itu telah terlempar membentur serumpun bambu ampel.

Terdengar orang itu mengaduh. Ketika ia mencoba untuk bangkit, rasa-rasanya tulang punggungnya telah patah. Karena itu, demikian orang itu berdiri, maka ia pun telah terjatuh lagi. Namun pedang orang itu tiba-tiba saja sudah berada di tangan Ki Waskita.

Demikianlah, maka pertempuran segera menjadi semakin sengit. Beberapa orang prajurit segera terdesak. Mereka tidak mampu menahan tekanan para pengikut Harya Wisaka yang jumlahnya semakin lama menjadi semakin banyak. Mereka mengalir memasuki kebun yang kosong itu, seperti air yang mengalir ke dalam kolam yang belum berisi.

Namun Ki Waskita sendiri sulit untuk didekati Berapa pun orang yang mengerumuninya, setiap kali seorang di antara mereka terlempar keluar dari arena pertempuran.

Sementara itu, Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun masih saja bertempur melawan Ki Tumenggung Yudatama. Namun bagaimanapun juga Ki Tumenggung Sarpa Biwada mengerahkan kemampuannya, namun ia tidak segera mampu menguasai lawannya.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu pun segera memberi isyarat kepada seorang pengikutnya untuk ikut bertempur bersamanya.

Ternyata tidak hanya seorang yang datang membantunya. Dua orang pengikut Harya Wisaka dengan serta-merta telah berdiri di sebelahnya.

“Kita tangkap orang ini hidup-hidup” berkata Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Tumenggung Yudatama meloncat surut. Ia sempat melihat keadaan medan yang kalut. Para prajuritnya sudah terdesak, dan bahkan mereka berusaha mempertahankan diri sambil berlari-larian di antara rumpun bambu. Tetapi karena lawan terlalu banyak, maka kadang-kadang mereka tidak menemukan jalan lagi.

Dalam keadaan yang demikian, maka Ki Tumenggung Yudatama yang harus menghadapi tiga orang sekaligus itu meloncat mengambil jarak dari lawan-lawannya.

“Jangan lari” teriak Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Kau tidak akan dapat melepaskan diri dari kepungan ini”

Ki Tumenggung Yudatama tidak menjawab. Tetapi diambilnya dari kantong baju sebuah sendaren.

Jantung Ki Tumenggung Sarpa Biwada berdesir. Sebagai seorang prajurit, ia pun segera tahu arti dari sendaren itu. Sebenarnyalah bahwa Ki Tumenggung Yudatama itu telah meniup sendaren. Suaranya bergaung memenuhi udara di atas kebun yang kosong, yang penuh dengan rumpun bambu itu.

Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar juga suara sendaren. Dan bahkan lebih jauh lagi, lamat-lamat terdengar pula suara sendaren bergaung.

“Kau memang seorang penjilat yang licik, Ki Tumenggung Yudatama” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Tetapi jangan mimpi untuk terlepas dari tanganku”

Ki Tumenggung Yudatama pun tersenyum. Katanya, “Mungkin kita sama-sama licik. Jika kau menyebut aku telah menjilat Ki Gede Pemanahan, maka kau telah menjilat Harya Wisaka, yang tidak akan pernah mempunyai kesempatan untuk dapat mewujudkan mimpinya yang indah itu. Sekarang kita bertemu disini dengan kelicikan kita masing-masing, Ki Tumenggung”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak menjawab lagi. Bersama dengan dua orang pengikut Harya Wisaka, ia pun menyerang dengan garangnya.

Tetapi Ki Tumenggung Yudatama masih sempat mengelak dengan loncatan-loncatan panjang.

Ki Tumenggung Yudatama memang harus mengerahkan tenaga dan kemampuannya untuk melawan ketiga orang lawannya. Namun Ki Tumenggung itu pun berharap, bahwa pasukannya segera akan dapat memasuki arena sehingga para prajuritnya tidak terhimpit oleh kekuatan para pengikut Harya Wisaka itu.

Sebenarnya, sejenak kemudian, pasukan Ki Tumenggung Yudatama itu pun telah hadir pula di kebun yang kosong itu. Pasukan yang cukup besar untuk menghadapi para pengikut Harya Wisaka.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada mengumpat di dalam hatinya.

Sementara pemimpin dari sekelompok para pengikut Harya Wisaka itu merasa heran, bahwa tidak ada isyarat dari orangnya yang berhasil menyusup di antara para prajurit Pajang, bahwa akan ada sepasukan prajurit yang datang di tempat itu.

“Apakah pengkhianatannya itu tercium oleh para prajurit lainnya?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya.

Namun sebenarnyalah pasukan yang datang itu adalah pasukan khusus yang langsung berada di bawah perintah Ki Gede Pemanahan, sehingga kehadiran mereka di tempat itu tidak dapat diketahui oleh pengikut Harya Wisaka yang masih tetap dapat bersembunyi di lingkungan keprajuritan Pajang.

Pertempuran di kebun kosong yang mirip dengan hutan bambu itu menjadi semakin riuh. Para prajurit yang datang bersama Ki Tumenggung Yudatama mendahului pasukannya yang lain, tidak lagi merasa sangat tertekan. Lawan-lawan mereka telah terhisap ke dalam pertempuran yang lebih besar, sehingga mereka tidak harus melawan tiga sampai empat orang bersama-sama. Bahkan mereka merasa bahwa ruang gerak mereka sudah tertutup rapat-rapat.

Kedatangan para prajurit Pajang itu rasa-rasanya mereka harus tetap berhati-hati, karena mereka ternyata telah berbaur antara lawan yang kawan di sela-sela rumpun-rumpun bambu yang padat.

Namun para prajurit itu sudah terlatih untuk menghadapi segala macam medan, sehingga mereka segera dapat menyesuaikan diri.

Pertempuran pun semakin menjadi sengit. Dimana-mana di antara rumpun bambu yang lebat itu telah terjadi pertempuran yang semakin seru. Hampir tidak dapat dipisahkan, dimana kawan dan dimana lawan.

Di antara para prajurit Pajang yang turun ke kebun kosong yang menyerupai hutan bambu itu, adalah para prajurit yang ditempa secara khusus untuk memburu Harya Wisaka bersama Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi. Karena itu, maka mereka yang sudah terlatih dengan baik itu, telah membuat lawan-lawan mereka tertekan dan seakan-akan kehilangan setiap kesempatan.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak dapat lagi bertempur bersama dengan dua orang pengikutnya. Keduanya telah dihisap oleh pertempuran yang semakin garang. Mereka harus menghadapi lawan mereka masing-masing.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Sarpa Biwada hanya dapat mengandalkan kemampuannya sendiri. Karena itu dihentakkannya ilmunya untuk mendesak Ki Tumenggung Yudatama.

Tetapi ternyata bahwa Ki Tumenggung Yudatama itu memiliki bekal ilmu yang tinggi, sehingga justru Ki Tumenggung Sarpa Biwadalah yang menjadi semakin terdesak.

“Siapakah di antara kita yang pantas untuk memberi kesempatan lawannya menyerah?” bertanya Ki Tumenggung Yudatama.

“Aku” jawab Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Menyerahlah”

Ki Tumenggung Yudatama tertawa. Katanya, “Kau tidak akan mendapat kesempatan lagi, Ki Tumenggung. Petualanganmu akan berakhir hari ini”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak menjawab. Tetapi serangan-serangannya menjadi semakin garang.

Di sisi lain dari pertempuran itu, Ki Waskita yang membawa pedang itu pun menjadi hantu di pertempuran itu. Pedang yang dirampasnya dari seorang lawannya itu setiap kali menyentuh lawan-lawan yang berani datang menghadapinya. Ketika tiga orang lawan datang bersama-sama, maka ketiga-tiganya pun terlempar dan jatuh menimpa rumpun bambu yang lebat.

Sedangkan di lingkaran pertempuran yang lain, beberapa orang pengikut Harya Wisaka bertempur dengan keras dan kasar menghadapi beberapa orang prajurit.

Ternyata dalam jumlah yang seimbang, para pengikut Harya Wisaka dapat memberikan perlawanan yang baik. Namun para prajurit yang terlatih itu semakin lama semakin menekan pertahanan lawan mereka.

Dalam pada itu, para prajurit Pajang tidak hanya terlatih dalam perang gelar. Tetapi seorang-seorang mereka pun mendapat tempaan yang keras. Apalagi mereka yang pernah berada di lingkungan pasukan khusus yang dibentuk untuk memburu Harya Wisaka keluar kotaraja, meskipun menurut perhitungan Ki Gede Pemanahan, Harya Wisaka masih berada di dalam dinding kota.

Dengan demikian, maka perlahan-lahan para prajurit itu pun mulai mendesak lawan-lawan mereka.

Dalam pertempuran yang semakin keras dan ganas itu, maka korban pun mulai berjatuhan dari kedua belah pihak. Para pengikut Harya Wisaka satu-satu jatuh terkapar di antara rumpun bambu yang lebat. Sedangkan para prajurit Pajang pun telah menyusut pula.

Sementara itu, keadaan Ki Tumenggung Sarpa Biwada menjadi semakin sulit. Ki Tumenggung Yudatama semakin mendesaknya. Serangan-serangan Ki Tumenggung Yudatama rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Pedangnya berputaran, namun kemudian menyambar-nyambar. Menebas mendatar, tetapi kemudian menusuk langsung mengarah ke pusat jantung.

Meskipun pertahanan Ki Tumenggung Sarpa Biwada cukup rapat, tetapi serangan-serangan Ki Tumenggung Yudatama akhirnya mampu menembusnya. Ujung pedang Ki Tumenggung Yudatama itu sempat menyentuh lengan Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Anak iblis kau, Yudatama” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Jika kau tidak menyerah, Sarpa Biwada, maka aku tidak mempunyai pilihan lain”

“Kau terlalu sombong. Lihat prajurit-prajuritmu telah terkapar mati”

“Memang ada prajuritku yang mati. Tetapi tubuh pengikutmu yang terbunuh berserakan dimana-mana”

“Omong kosong” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Tumenggung itu pun kemudian telah menghentakkan kekuatannya.

Beberapa saat Ki Tumenggung Yudatama memang terdesak. Tetapi sejenak kemudian, Ki Tumenggung Yudatama telah menemukan alas perlawanannya kembali, sehingga justru Ki Tumenggung Yudatama lah yang mendesak.

Sementara itu, para pengikut Harya Wisaka mulai menyadari, bahwa lawan mereka benar-benar lawan yang berat. Mungkin jumlah mereka memang terpaut. Namun kemampuan mereka pun terpaut pula. Karena itu, meskipun pada satu dua prajurit yang harus bertempur melawan dua orang, namun mereka tidak mengecewakan. Bahkan kadang-kadang dengan cara yang sangat mengejutkan mereka mengalahkan lawan-lawan mereka.

Ki Waskita masih saja berjalan kian-kemari dengan pedang di tangannya. Semakin lama semakin banyak yang mampu menilai, bahwa tidak ada di antara mereka yang dapat mengimbangi kemampuannya.

Bagi para pengikut Harya Wisaka, maka pertempuran itu merupakan pertempuran yang menentukan. Jika mereka gagal, maka mereka akan terbunuh atau menjadi tawanan. Mereka menyadari, bahwa pemberontak yang tertawan akan mengalami nasib yang buruk. Lebih buruk daripada tawanan perang.

Karena itu, maka mereka pun kemudian telah bertempur habis-habisan. Bahkan ada di antara mereka yang merasa lebih baik mati daripada tertawan.

Tetapi para prajurit pun tidak ingin kehilangan kesempatan. Para pemberontak itu sudah terlalu lama berkeliaran. Setiap usaha untuk menemukan mereka selalu gagal karena pengkhianatan. Sementara pengkhianatnya masih juga belum dapat diketahui.

Apalagi ada di antara para prajurit itu yang menduga, bahwa Harya Wisaka ada di antara mereka. Jika bukan Harya Wisaka tentu juga para pemimpin yang lain. Satu di antaranya yang dapat mereka kenali adalah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Dengan demikian, maka pertempuran yang terjadi di antara rumpun-rumpun bambu itu menjadi semakin sengit. Hampir tidak ada kesempatan untuk tetap hidup bagi yang lengah. Ujung senjata sambar-menyambar dengan cepatnya. Begitu tiba-tiba maut itu menyambar seseorang yang berada di antara rumpun bambu itu.

Ki Waskita sempat menyaksikan pertempuran yang garang itu. Ia melihat beberapa orang prajurit yang terkapar. Ia pun melihat bagaimana para pengikut Harya Wisaka itu bertempur tanpa mengenal menyerah.

Ki Waskita tidak dapat membiarkan semakin banyak korban yang jatuh. Karena itu, maka Ki Waskita pun berniat untuk mempercepat akhir dari pertempuran itu. Karena itulah, maka Ki Waskita pun tidak hanya bertahan jika ia diserang. Ia pun kemudian benar-benar berada di tengah-tengah pertempuran.

Sikap Ki Waskita itu ternyata sangat besar pengaruhnya. Dengan cepat ia menyusut jumlah lawannya. Beberapa orang berteriak kesakitan disambar oleh pedang di tangan Ki Waskita.

Sedangkan beberapa orang lainnya terbanting jatuh sambil menahan pedih. Ujung pedang Ki Waskita itu telah menikam menembus dada.

Ki Waskita memang bukan seorang pembunuh. Ia tidak berusaha membunuh lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi ia berusaha untuk menghentikan perlawanan mereka.

Akhirnya, para pengikut Harya Wisaka itu pun menyadari, bahwa mereka tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.

Sementara itu, lingkungan itu benar-benar telah terkepung. Rasa-rasanya tidak ada jalan keluar dari neraka itu. Tidak ada yang dapat menahan lagi badai yang bertiup menerpa para pengikut Harya Wisaka itu. Meskipun para pengikut Harya Wisaka itu bertempur habis-habisan, namun para prajurit Pajang yang terlatih dengan baik bersama Ki Waskita telah menggulung segala harapan untuk dapat memenangkan pertempuran itu. Sementara itu Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun telah kehilangan kesempatan sama sekali. Ki Tumenggung Yudatama mendesaknya, sehingga Ki Tumenggung itu selalu berloncatan surut.

Bahkan kemudian ujung pedang Ki Tumenggung Yudatama memburunya kemana ia pergi.

Darah yang mengalir dari segores luka di lengannya, membuat Ki Tumenggung Sarpa Biwada menjadi sangat marah. Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Bahkan serangan Ki Tumenggung Yudatama yang cepat, telah berhasil menembus lagi pertahanan Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Ujung pedang Ki Tumenggung Yudatama itu telah menyentuh pundak Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Iblis kau” teriak Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Tumenggung Yudatama tidak menyahut. Tetapi serangan-serangannya justru menjadi semakin garang dan semakin cepat.

Dengan demikian, maka Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak melihat lagi kemungkinan untuk mengalahkan Ki Tumenggung Yudatama. Apalagi ketika ia melihat Ki Waskita itu melangkah mendekatinya. Jika Ki Waskita itu bergabung dengan Ki Tumenggung Yudatama, maka ia tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi.

Karena itu, demikian Ki Waskita mendekat, Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu pun berteriak, “Kau laki-laki jahanam yang licik. Kenapa bukan kau yang berdiri di hadapanku? Kenapa kau minta tolong kepada orang lain untuk melepaskan dendam pribadimu itu?”

“Apa maksudmu, Ki Tumenggung?” bertanya Ki Waskita.

“Kenapa kau tidak berani berhadapan langsung dengan aku? Kau hanya berani mengganggu istri orang dari balik punggung. Kenapa kau tidak berani berhadapan beradu dada?”

Wajah Ki Waskita pun berkerut. Ia melihat darah yang mengalir dari luka-luka di tubuh Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Aku tantang kau berperang tanding. Atau kau akan bertempur berpasangan dengan Yudatama?”

“Sudahlah Ki Tumenggung. Tubuhmu sudah terluka meskipun tidak terlalu dalam. Darahmu sudah tertumpah. Menyerah sajalah”

“Persetan kau. Jika kau laki-laki, aku tantang kau. Jangan kau pinjam tangan orang lain untuk memuaskan dendammu”

“Ki Tumenggung, kau ditangkap karena kau telah memberontak. Itu saja tuduhan yang dilontarkan kepadamu”

“Aku tahu” bentak Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Sementara itu Ki Tumenggung Yudatama telah melangkah surut untuk memberi kesempatan kepada lawannya mengutarakan perasaannya.

“Karena itu, maka Ki Tumenggung Yudatama lah berkewajiban untuk menangkapmu. Jika kau melawan, maka Ki Tumenggung Yudatama lah yang akan memaksamu untuk tunduk kepada perintahnya”

“Kau tidak usah mengajari aku. Aku juga seorang prajurit. Tetapi sebelum aku ditangkap, aku tantang kau jika kau memang laki-laki”

Ki Waskita pun memandang Ki Yudatama sekilas. Namun kemudian ia pun menggeleng sambil berkata, “Ki Tumenggung Yudatama. Silahkan. Aku tidak mempunyai kepentingan lagi dengan orang ini”

“Pengecut” teriak Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Kau hanya berani mencuri kesempatan menemui istriku di luar pengetahuanku. Kau tidak berani bertindak sebagai seorang laki-laki. Jika kau memang akan mengambil istriku, ambillah. Tetapi kita akan membuat penyelesaian dengan cara seorang laki-laki”

“Kau sedang berputus asa, Ki Tumenggung” berkata Ki Waskita dengan nada berat. “Menyerah sajalah. Jika kemudian kau akan membuat perhitungan dengan aku, tentu akan mendapat kesempatan”

“Aku tidak dapat kau kelabuhi, laki-laki jahanam. Kau sudah melanggar pagar ayu, menjebakku dan sekarang kau masih akan membohongi aku”

Telinga Ki Waskita menjadi panas. Sekali lagi ia memandang Ki Tumenggung Yudatama.

Ki Tumenggung Yudatama termangu-mangu sejenak. Tetapi Ki Tumenggung Yudatama yang mengetahui tataran kemampuan Ki Waskita berkata, “Jika Ki Waskita ingin menanggapinya, aku persilahkan. Aku akan menyelesaikan pertempuran ini dan menawan para pengikut Harya Wisaka, menyerah atau tidak menyerah”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Menurut penglihatannya, kemampuan Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu tidak lebih tinggi dari kemampuan Paksi. Tetapi untuk mengelak, telinganya tidak tahan lagi mendengar caci-maki Ki Tumenggung yang sedang berputus asa itu. Ki Tumenggung Sarpa Biwada merasa tidak akan mampu lagi melawan Ki Tumenggung Yudatama, sehingga ia akan mencoba mencari kesempatan lain, meskipun barangkali Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu pernah mendengar tataran kemampuan Ki Waskita.

“Kalau kau hanya berani bersembunyi di balik selendang seorang perempuan, pergilah. Jangan membuat sakit mataku” teriak Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Waskita tidak dapat menahan diri lagi. Karena itu maka ia pun berkata, “Baiklah. Jika Ki Tumenggung mengijinkan”

Ternyata Ki Tumenggung Yudatama tanggap akan keadaan Ki Waskita. Meskipun Ki Tumenggung Yudatama yang masih lebih muda dari Ki Waskita itu tidak tahu hubungan apakah yang sebenarnya terjadi antara Ki Waskita dan ki Tumenggung Sarpa Biwada, namun telinganya pun menjadi gatal mendengar caci-maki Ki Tumenggung.

Karena itu, maka Ki Tumenggung Yudatama itu pun kemudian berkata, “Silahkan, Ki Waskita. Aku akan melihat seluruh arena pertempuran yang luas ini. Apa yang sebenarnya sudah terjadi”

“Terima kasih, Ki Tumenggung” desis Ki Waskita.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, maka Ki Waskita telah berhadapan dengan Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Dengan nada geram Ki Tumenggung itu pun berkata, “Kau memang jahanam yang sombong tetapi dungu. Kau akan segera mati menebus kejahanamanmu”

“Ki Tumenggung, aku tahu bahwa kau menjadi berputus asa. Kau hanya ingin mencari kemungkinan baru dengan menantangku. Tetapi bukan salahku, jika kau sama sekali tidak akan memberimu kesempatan untuk lari”

“Aku tidak memerlukan belas kasihanmu” bentak Ki Tumenggung Sarpa Biwada. “Aku akan membunuhmu”

Ki Waskita itu pun segera mempersiapkan diri. Ia tidak ingin bertempur berkepanjangan melawan Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Sementara itu pertempuran dimana-mana justru mulai nampak keseimbangan yang berat sebelah. Para prajurit Pajang semakin menguasai seluruh medan, meskipun para pengikut Harya Wisaka masih mengadakan perlawanan habis-habisan.

Sejenak Ki Waskita menunggu. Sementara itu, Ki Sarpa Biwada sambil menggeram memutar pedangnya.

Tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu meloncat sambil menjulurkan pedangnya mengarah ke jantung.

Namun dengan tangkasnya Ki Waskita bergeser sambil memiringkan tubuhnya. Pedangnya sempat menyentuh pedang Ki Tumenggung, sehingga arah pedang itu pun bergeser menyamping.

Ki Tumenggung menggeram. Kemarahannya telah membakar jantungnya dan mendidihkan darahnya. Dengan serta-merta pedangnya menggeliat, kemudian menebas mendatar ke arah leher Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita pun dengan cepat merendahkan dirinya, sehingga pedang itu terayun di atas kepalanya. Namun sementara itu, Ki Waskita justru telah menjulurkan pedangnya menggapai pinggang Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Tumenggung itu berteriak. Bukan saja karena pedih. Tetapi kemarahan dan kebenciannyalah yang serasa meledak di dadanya.

Namun Ki Waskita sudah bertekad untuk dengan cepat mengakhiri pertempuran itu. Karena itu, ketika Ki Tumenggung meloncat surut, Ki Waskita tidak mau kehilangan kesempatan. Dengan cepat ia pun meloncat memburu sambil menjulurkan pedangnya.

Ki Tumenggung yang sedang mengambil jarak itu dengan tergesa-gesa berusaha menangkis. Namun ketika pedangnya terayun, Ki Waskita memutar pedangnya. Ketika sekali lagi pedang itu terjulur, maka pedang itu telah menyentuh dada Ki Tumenggung.

Sekali lagi terdengar teriakan nyaring. Teriakan kemarahan dan dendam yang meledak-ledak di dalam dadanya. Namun yang ternyata telah terbentur pada kenyataan bahwa Ki Waskita itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Demikianlah, maka akhirnya dengan putus asa Ki Tumenggung Sarpa Biwada menyerang sejadi-jadinya. Namun Ki Waskita yang tersinggung itu, masih mampu menguasai dirinya, sehingga ia tidak berusaha untuk membunuh Ki Tumenggung meskipun hal itu dapat dilakukannya.

Namun yang terjadi kemudian, Ki Tumenggung yang sudah terluka di beberapa bagian tubuhnya itu, tiba-tiba telah kehilangan pedangnya. Ketika pedangnya membentur pedang Ki Waskita, maka rasa-rasanya pedangnya itu seperti dihisap dan lepas dari tangannya. Ki Tumenggung yang kehilangan pedangnya itu berdiri termangu-mangu. Sementara itu, dari luka-lukanya di lengan, di pundak, di pinggang, di dada dan di beberapa tempat yang lain, telah mengalir darah semakin banyak.

Karena itulah, maka tubuhnya pun semakin lama menjadi semakin lemah.

“Ki Tumenggung” berkata Ki Waskita, “kau sudah tidak bersenjata lagi”

“Jika kau bukan pengecut, kau pun akan bertempur tanpa senjata” geram Ki Tumenggung.

Ki Waskita mengerutkan dahinya. Ternyata Ki Tumenggung Sarpa Biwada adalah seorang yang keras kepala. Tanpa menjawab, Ki Waskita pun telah melemparkan pedang yang dirampasnya dari salah seorang pengikut Ki Tumenggung itu.

“Ternyata kau adalah orang yang tidak mau melihat kenyataan, Ki Tumenggung. Kau adalah orang keras kepala, bodoh dan tidak tahu diri”

Ki Tumenggung tidak menjawab. Dengan sisa tenaganya ia pun meloncat menyerang Ki Waskita.

Tetapi Ki Waskita benar-benar ingin mengakhiri pertempuran itu. Karena itu, ketika Ki Tumenggung menyerangnya, maka Ki Waskita tidak memberinya kesempatan lagi. Serangan Ki Tumenggung yang terjulur itu tidak dihindarinya. Tetapi ditebasnya tangan itu ke samping, sementara itu, Ki Waskita justru meloncat mendekat. Tangannya dengan kerasnya memukul perut Ki Tumenggung.

Ki Tumenggung itu mengaduh tertahan. Demikian kerasnya pukulan Ki Waskita, sehingga Ki Tumenggung itu terbungkuk kesakitan sambil memegangi perutnya dengan kedua belah tangannya.

Tetapi Ki Waskita tidak berhenti. Dihentakkannya kepala Ki Tumenggung itu sementara Ki Waskita mengangkat lututnya, sehingga wajah Ki Tumenggung itu membentur lutut Ki Waskita.

Ki Tumenggung tidak sempat berbuat apa-apa ketika wajahnya tiga kali terantuk lutut lawannya.

Ketika Ki Waskita kemudian melepaskannya, Ki Tumenggung itu pun terhuyung-huyung. Matanya berkunang-kunang sementara mulutnya pun berdarah. Bibirnya pecah-pecah dan serasa mengembang di bawah hidungnya.

Ki Waskita berdiri termangu-mangu. Dipandanginya Ki Tumenggung yang kesakitan itu. Matanya yang merah, wajahnya yang lebam kebiru-biruan, mulutnya yang berdarah serta tubuhnya yang sudah tidak dapat berdiri tegak.

Tetapi Ki Tumenggung itu masih menggeram, “Aku bunuh kau laki-laki jahanam. Kau tinggalkan gadis itu selagi hamil. Aku nikahi gadis itu sehingga gadis itu tidak dianggap sampah karena ia akan mempunyai anak di luar pernikahan. Tetapi ketika kemelut ini terjadi, kau manfaatkan untuk kembali mendatangi perempuan itu tanpa harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu seperti yang kau lakukan di masa mudamu”

Ki Waskita menggeretakkan giginya. Tetapi Ki Tumenggung sudah terlalu lemah, sehingga ia sudah tidak akan berdaya lagi untuk melawannya.

“Kenapa kau begitu lemah, Ki Tumenggung, sehingga kau tidak dapat menjadi lawan yang pantas bagiku”

“Aku sumbat mulutmu” teriak Ki Tumenggung. Tetapi Ki Tumenggung itu harus bertahan agar tidak jatuh berguling.

“Aku yakin, kau tahu bahwa aku terlempar dari kesatuanku sehingga aku dinyatakan hilang. Kau tidak dapat menuduhku tidak bertanggung jawab, karena yang terjadi itu di luar kehendakku. Ketika aku kemudian dapat sembuh karena pertolongan seorang petani yang menemukan kami berdua pingsan di dalam jurang, dan kembali ke Pajang, perempuan itu sudah bersuami”

“Bohong” teriak Ki Tumenggung. “Kau tidak terlempar ke jurang. Tetapi kau sengaja bersembunyi. Kau muncul kembali ketika kau tahu, bahwa perempuan itu sudah menikah”

Jantung Ki Waskita bagaikan terbakar. Hampir di luar sadarnya ketika ia meloncat sambil mengayunkan tangannya, menghantam wajah Ki Tumenggung tepat di bawah kupingnya.

Ki Tumenggung itu terlempar beberapa langkah surut. Namun ia tidak mampu lagi mempertahankan keseimbangannya, sehingga karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun terjatuh di tanah. Hampir saja ia terperosok ke dalam rumpun bambu yang lebat.

Ki Tumenggung memang berusaha untuk bangkit. Tetapi tenaganya tidak mencukupi lagi. Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun terduduk kembali dengan lemahnya.

Ki Waskita pun kemudian berdiri termangu-mangu. Dipandanginya Ki Tumenggung yang sudah tidak berdaya lagi itu.

Dalam pada itu, Ki Tumenggung Yudatama sempat melihat keadaan medan itu. Ia melihat prajuritnya mulai menguasai keadaan. Bahkan beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang sempat melihat kenyataan yang dihadapinya, telah menyerah.

Namun pertempuran itu dalam keseluruhannya telah mulai mereda. Beberapa orang prajurit menyerukan, agar para pengikut Harya Wisaka itu menyerah. Namun orang-orang yang menganggap dirinya pejuang yang setia pada cita-citanya, memang memilih mati daripada menjadi seorang tawanan.

Ketika Ki Tumenggung Yudatama sendiri turun ke dalam arena pertempuran, maka ia telah mempercepat penyelesaian. Apalagi kemudian beberapa orang prajurit telah meneriakkan kekalahan Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Kepada siapa kalian akan bergantung?” bertanya seorang prajurit. “Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah menyerah”

“Omong kosong” sahut seorang pengikut Ki Tumenggung keras-keras.

“Aku beri kesempatan kau melihat sendiri. Ia duduk menyembah di hadapan Ki Waskita yang tadi terikat di pohon cangkring itu”

Bahwa Ki Tumenggung Sarpa Biwada sudah tidak berdaya lagi, ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar. Setelah bertempur dengan keras dan setelah jatuh beberapa orang korban, akhirnya para prajurit Pajang itu dapat menguasai medan sampai orang terakhir dari para pengikut Harya Wisaka itu menyerah.

Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun tidak dapat menolak ketika tangannya diikat di belakang tubuhnya.

“Bangkit dan berjalan” perintah Ki Tumenggung Yudatama.

“Kalian akan kami bawa ke barak kami. Untuk sementara kalian akan berada disana sampai ada perkembangan baru”

“Persetan dengan kau” geram Ki Tumenggung. Tetapi Ki Tumenggung itu tidak dapat menolak perintah-perintah yang diberikan oleh Ki Tumenggung Yudatama agar ia tidak mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi.

Karena itu, maka Ki Tumenggung itu pun kemudian berusaha untuk berdiri. Dengan tangan terikat, ia pun melangkah sesuai dengan perintah Ki Tumenggung Yudatama.

Ketika Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu bertemu dengan seorang pengikutnya yang dipercayainya untuk mengasuh anak laki-lakinya, ia pun bertanya, “Dimana anak itu?”

“Anak itu sempat menyingkir, Ki Tumenggung”

“Bagus. Dengan siapa?”

“Dengan Ki Lulud”

“Ki Lulud?”

“Ya, Ki Tumenggung”

“Kau yakin?”

“Aku yakin”

Ki Tumenggung itu menarik nafas dalam-dalam.

“Anakmu sempat terlepas Ki Tumenggung” desis Ki Tumenggung Yudatama.

“Satu-satunya keinginanku sekarang adalah, bahwa anakku tidak jatuh ke tangan laki-laki jahanam itu. Ia akan dapat melepaskan dendamnya kepada anak yang tidak bersalah itu”

“Kita ternyata berbeda, Ki Tumenggung” berkata Ki Waskita.

“Mungkin kau sampai hati melepaskan dendam kepada anak yang tidak berdosa. Kepada Paksi, misalnya, yang kau paksa untuk pergi mencari cincin kerajaan yang hilang? Bukankah itu hanya satu alasan saja agar anak itu mati? Aku berbeda dengan kau, Ki Tumenggung. Aku sama sekali tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan anakmu. Seandainya ia tertangkap, maka ia akan diperlakukan sebagai anak laki-laki seorang pemberontak. Anak yang sudah remaja dan yang nalarnya sudah berjalan, sehingga pribadinya pun telah terbentuk. Tidak ada hubungan apa pun dengan persoalan kita”

“Omong kosong. Seandainya anak itu tertangkap, maka kau akan mempunyai kesempatan untuk membunuhnya dengan caramu”

“Tidak” bentak Ki Waskita. “Aku tidak akan berbuat apa-apa terhadap anak itu. Tetapi aku akan menunjukkan kepadamu, bahwa aku dapat juga berbuat sekeras dan segarang yang dapat kau lakukan. Sarang semut ngangrang itu masih ada disana. Aku akan mengikatmu dan menaburkan semut ngangrang itu ke tubuhmu”

Wajah Ki Tumenggung menjadi sangat tegang. Keringat dinginnya mengalir di punggung, tengkuk dan keningnya.

“Aku juga senang bermain cambuk dan air garam”

Ki Tumenggung menjadi sangat gelisah.

Namun Ki Waskita pun kemudian berkata, “Tetapi aku tidak akan melakukannya sekarang. Kau akan dibawa oleh Ki Tumenggung Yudatama”

Ki Tumenggung itu tidak menjawab.

Sementara itu Ki Tumenggung Yudatama pun berkata, “Sayang, kita tidak menemukan Harya Wisaka di antara orang-orang itu”

“Kau tidak usah bermimpi, Yudatama. Harya Wisaka sudah meninggal”

Ki Tumenggung Yudatama tersenyum. Katanya hampir berbisik, “Seperti ceritera tentang Harya Wisaka yang berhasil menyusup keluar kotaraja?”

“Kau mengigau” geram Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ki Tumenggung Yudatama justru tertawa. Suara tertawanya sangat menyakitkan hati Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Apalagi ketika Ki Waskita pun berkata, “Kalian memang terlalu sombong. Kalian mengira bahwa kalian dapat dengan mudah mengelabuhi kami”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu menggeram. Sementara Ki Tumenggung Yudatama pun berkata, “Kau adalah rambatan untuk sampai kepada Harya Wisaka”

Wajah Ki Tumenggung menjadi tegang. Ia mengerti arti kata-kata itu. Jika ia harus menjadi sumber keterangan tentang persembunyian Harya Wisaka, itu berarti bahwa tubuhnya akan dihimpit sampai pipih untuk menguras keterangan tentang Harya Wisaka.

Sejenak kemudian, maka para prajurit Panjang itu pun telah mengumpulkan tawanan mereka. Para prajurit itu terpaksa mengikat tangan mereka, karena pada umumnya para pengikut Harya Wisaka itu adalah orang-orang yang keras hati.

Sementara itu, sebagian dari para prajurit itu telah mengumpulkan kawan-kawan mereka yang gugur dan terluka. Dua orang penghubung telah menghubungi barak pasukan yang dipimpin oleh Ki Tumenggung Yudatama untuk memanggil para prajurit yang lain.

Bahkan ternyata Ki Gede Pemanahan sendiri telah datang ke kebun kosong yang menjadi hutan bambu itu. Ki Gede Pemanahan sempat memeriksa rumah tempat Ki Tumenggung Sarpa Biwada bersembunyi. Ki Gede pun melihat pula tempat persembunyian para pengikut Harya Wisaka itu bersembunyi.

“Jika anak laki-laki Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu sempat lolos, maka tidak mustahil bahwa Harya Wisaka berada disini pula, namun sempat meloloskan diri” berkata Ki Gede Pemanahan kepada Ki Waskita dan Ki Tumenggung Yudatama.

“Mungkin, Ki Gede” jawab Ki Waskita. “Tetapi mungkin pula persembunyian mereka memang terpisah”

“Ya. Mungkin persembunyian mereka memang terpisah.

Sementara itu, kita akan sempat meneliti mereka yang meninggal dan tertangkap, apakah ada di antara mereka pemimpin pada tataran yang tinggi dari para pengikut Harya Wisaka selain Ki Tumenggung Sarpa Biwada sendiri”

Sementara Ki Tumenggung Yudatama berkata, “Kami belum sempat mengenali mereka seorang demi seorang. Mungkin justru orang-orang penting dari lingkungan mereka yang berbaur dengan para pengikut lainnya. Tetapi mungkin pula ada di antara mereka yang telah terbunuh”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk.

Hari itu, para prajurit menjadi sibuk. Sebagian dari mereka membawa para tawanan ke barak, sedang sebagian mengumpulkan kawan-kawan mereka yang gugur dan terluka, sedang sebagian yang lain mengumpulkan korban dari para pengikut Harya Wisaka itu. Mencoba mengenali mereka seorang demi seorang, apakah ada di antara mereka yang termasuk pemimpin di lingkungan para pengikut Harya Wisaka itu.

Ketika Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah dibawa ke barak oleh beberapa orang prajurit terpilih, maka Ki Gede Pemanahan dan Ki Waskita pun minta diri kepada Ki Tumenggung Yudatama yang masih harus menangani peristiwa itu sampai tuntas.

“Terima kasih atas kesadaran Ki Waskita untuk menjadi umpan sehingga Ki Tumenggung Sarpa Biwada dapat terpancing” berkata Ki Tumenggung Yudatama.

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Hanya itulah yang dapat aku lakukan”

“Namun nampaknya ada persoalan yang khusus di antara Ki Waskita dan Ki Tumenggung Sarpa Biwada sehingga Ki Tumenggung itu benar-benar terpancing”

“Persoalan yang sangat pribadi, Ki Tumenggung. Namun mendengar pembicaraan kami, agaknya Ki Tumenggung dapat menerka, apakah yang sudah terjadi. Tetapi pada kesempatan lain, aku ingin menjelaskan kepada Ki Tumenggung, apa yang terjadi sebenarnya agar Ki Tumenggung tidak mendapatkan kesan yang salah”

“Maaf, Ki Waskita. Bukan maksudku mencampuri persoalan yang sangat pribadi itu”

“Aku mengerti” jawab Ki Waskita sambil tersenyum. “Tetapi sebaiknya semuanya dapat menjadi jelas”

Ki Tumenggung Yudatama mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi Ki Waskita sudah mempertaruhkan nyawanya. Tubuh Ki Waskita pun telah disakiti karena kelambatan kami. Jika kami tidak terlambat, maka Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak akan sempat melecut Ki Waskita, sehingga terjadi goresan-goresan lecutan juntai cambuk di tubuh Ki Waskita. Meskipun agaknya bagi Ki Waskita goresan-goresan itu tidak berpengaruh apa-apa. Tetapi hal itu sebenarnya tidak perlu terjadi. Karena itu, kami seharusnya minta maaf kepada Ki Waskita”

Ki Waskita tersenyum. Katanya, “Tetapi agaknya kelambatan itu ada juga baiknya. Kita dapat melihat, apa yang dilakukan oleh Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Ia benar-benar melakukan kekerasan dan kekejaman atau sekedar ancaman saja”

“Ternyata Ki Tumenggung telah melakukannya” sahut Ki Tumenggung Yudatama.

“Aku sudah memperingatkan kepada Ki Waskita, bahkan mungkin justru nyawanya yang harus dikorbankan” sahut Ki Gede Pemanahan. “Tetapi agaknya tekad Ki Waskita sudah bulat bahwa jalan satu-satunya itulah yang akan ditempuhnya”

“Ternyata Ki Waskita berhasil”

“Aku harus menjelaskan kepada Nyi Tumenggung” berkata Ki Waskita.

“Menjelaskan apa?”

“Bahwa suaminya telah tertangkap”

Ki Gede Pemanahan menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sangat pahit untuk bekerja sama dengan orang lain untuk menjebak suaminya sendiri. Tetapi Nyi Tumenggung Sarpa Biwada sudah melakukannya. Mungkin karena ia benar-benar mencintai anak sulungnya yang nyawanya terancam. Tetapi mungkin juga karena Nyi Tumenggung itu merasa dirinya orang Pajang, sehingga meskipun ia harus menangis, namun ia tidak dapat membiarkan jantung Pajang selalu menitikkan darah oleh pertikaian yang tidak ada habisnya”

“Ya, Ki Gede. Bahkan mungkin kedua-duanya”

“Baiklah. Marilah kita tinggalkan tempat ini”

“Ki Gede” berkata Ki Waskita, “jika Ki Gede memperkenankan, aku akan langsung pergi menemui Nyi Tumenggung. Mungkin aku akan dikutuknya. Tetapi aku tidak dapat berbuat lain”

Ki Gede merenung sejenak. Dengan nada yang berat, Ki Gede pun menjawab, “Baiklah. Silahkan, Ki Waskita. Mudah-mudahan tidak terjadi salah paham”

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya, Ki Gede. Restu Ki Gede aku mohon agar aku tidak kehilangan akal serta mampu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya”

Demikianlah, maka Ki Waskita pun segera minta diri. Ia benar-benar akan menghubungi Nyi Tumenggung dan memberitahukan apa yang sudah terjadi sebenarnya. Di sepanjang jalan, Ki Waskita sudah menganyam-anyam kata-kata yang diucapkan kepada Nyi Tumenggung Sarpa Biwada.

Namun Ki Waskita sempat singgah di bekas padepokan Ki Panengah untuk berganti baju, karena baju yang dikenakannya adalah yang telah terkoyak-koyak.

Kedatangan Ki Waskita memang mengejutkan. Nyi Tumenggung Sarpa Biwada yang sedang berada di belakang, telah diberitahu oleh pembantunya, bahwa ada seorang tamu di pringgitan.

“Siapa?” bertanya Nyi Tumenggung.

“Laki-laki yang sering datang kemari itu, Nyi. Yang sering berada di kandang kuda”

“Ki Waskita” desis Nyi Tumenggung.

Jantung Nyi Tumenggung itu menjadi berdebar-debar. Ia melihat Ki Waskita itu ditangkap oleh suaminya itu bersama kedua orang pengawalnya. Tetapi kini yang datang kepadanya justru Ki Waskita itu. Justru karena itu maka Nyi Tumenggung pun segera pergi ke pringgitan untuk mengetahui, apa yang sebenarnya sudah terjadi. Demikian Nyi Tumenggung yang nampak kusut dan matanya lebam itu duduk di hadapan Ki Waskita. Maka ia pun langsung bertanya, “Apa yang terjadi, Ki Waskita? Kau akan mengatakan bahwa jebakanmu telah berhasil?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Kata-kata yang disusunnya sepanjang jalan itu menjadi kabur. Yang kemudian keluar dari mulutnya adalah pengakuan, “Aku minta maaf, Nyi”

Nyi Tumenggung itu menundukkan kepalanya. Suaranya mulai bergetar, “Aku mengucapkan selamat atas keberhasilanmu, Ki Waskita. Apakah kau bunuh suamiku?”

“Tidak, Nyi. Tidak” jawab Ki Waskita dengan serta-merta. “Ki Tumenggung sekarang berada di tangan Ki Gede Pemanahan”

“Ki Gede Pemanahan?”

“Ya. Ki Tumenggung agaknya untuk sementara akan berada di barak pasukan Ki Tumenggung Yudatama yang langsung berada di bawah perintah Ki Gede Pemanahan”

Nyi Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Nyi Tumenggung sudah mengenal Ki Tumenggung Yudatama meskipun tidak akrab. Tetapi menurut pendengaran Nyi Tumenggung Sarpa Biwada, Ki Tumenggung Yudatama adalah seorang tumenggung pilihan yang baik.

“Hukuman apa yang akan diterima oleh suamiku?” bertanya Nyi Tumenggung.

“Aku tidak tahu, Nyi. Segala sesuatunya tergantung kepada Ki Gede Pemanahan atau Kanjeng Sultan sendiri”

Nyi Tumenggung mengusap matanya yang basah. Suaranya merendah, “Apakah suamiku akan dihukum gantung?” bertanya Nyi Tumenggung.

“Aku benar-benar tidak tahu, Nyi. Jika saja Ki Tumenggung bersedia bekerja bersama dengan Ki Gede Pemanahan, mungkin Ki Tumenggung akan mendapat keringanan-keringanan”

Air mata Nyi Tumenggung mulai menitik. Namun ia berkata sendat, “Jangan kau rendahkan suamiku sampai terbenam ke dalam lumpur. Ia sudah berkhianat terhadap Pajang. Biarlah ia tetap pada keyakinannya, bahwa Pajang harus berubah. Biarlah ia dihukum mati tanpa melakukan pengkhianatan ganda. Meskipun aku akan kehilangan, tetapi suamiku akan tetap dihormati karena ia berpegang pada satu keyakinan”

“Nyi” suara Ki Waskita merendah, “tidakkah seorang yang berjalan sesat sebaiknya kembali”

“Suamiku tidak tersesat. Jalan yang diyakininya itu diyakininya”

“Tetapi bukankah seorang wajar membuat pertimbangan atas tata nilai yang berlaku di lingkungannya. Kebenaran atas keyakinan tidak dapat berdiri sendiri. Bukan pula dilandasi oleh harapan bagi masa depannya sendiri. Penilaian atas sikap dan tingkah laku bukannya pengkhianatan atas satu keyakinan. Nyi, memang sulit bagi seseorang untuk melihat bahwa apa yang diyakininya sebelum itu keliru. Tetapi bahwa nalar budi seseorang itu berkembang sehingga menimbulkan perubahan pada sikap dan keyakinan, bukanlah pengkhianatan”

Titik-titik air yang bening di mata Nyi Tumenggung itu pun menjadi semakin deras. Dengan suara yang dalam ia pun berkata, “Kakang, kau selalu dapat meyakinkan aku dengan kata-katamu. Aku selalu dapat mengerti dan mengiakannya. Tetapi aku harus ingkar dari kata hatiku. Aku harus setia kepada suamiku”

“Nyi, kenapa kau tidak bersikap jujur terhadap dirimu sendiri? Kenapa kau harus mengingkari kata hatimu? Aku tidak menganjurkan agar kau mengkhianati suamimu. Tetapi aku berharap bahwa kau dapat berdiri di atas suara hatimu sendiri”

“Apa yang harus aku lakukan, Kakang?”

“Jika kau mendapat kesempatan, temui suamimu. Katakan kepada suamimu, bahwa suamimu harus melihat kenyataan serta menilai kembali apa yang diyakininya sebelumnya. Suamimu tidak perlu mengkhianati keyakinannya, tetapi menilai kembali dengan pertimbangan nalar dan budi. Korban sudah terlalu banyak yang jatuh. Alir di bumi Pajang? Ki Tumenggung sebaiknya sanggup menilai kembali jalan yang dipilihnya itu”
*** ***
Note 20 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Saat hidup tidak memberimu senyuman, beri dia sedikit gelitikan."

(Regards, Admin)

0 Response to "Jejak Dibalik Kabut Jilid 27"

Post a Comment

close