Jejak Dibalik Kabut Jilid 25

Mode Malam
Namun Raden Sutawijaya pun menyahut, “Kau aku beri kesempatan untuk menemui kawan-kawanmu yang masih bersembunyi. Katakan kepada mereka, bahwa mereka akan diperlakukan wajar oleh para prajurit Pajang. Tetapi jika mereka tidak segera datang, sementara kami menjadi sangat buruk, maka tidak akan ada kesempatan untuk melarikan diri. Meskipun malam turun, semua jalan akan tertutup. Bahkan dinding yang melingkari padukuhan ini pun akan diawasi dari sejengkal ke sejengkal”

Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun Raden Sutawijaya pun mengulanginya, “Pergi kepada kawan-kawanmu. Katakan kepada mereka, bahwa ini adalah kesempatan terakhir sampai saatnya kami bergerak. Malam nanti, padukuhan ini harus sudah bersih”

Orang itu mengangguk kecil. Meskipun dengan agak ragu, ia pun kemudian meninggalkan banjar untuk mencari kawan-kawannya.

Ternyata orang itu berhasil membujuk sekelompok pengikut Harya Wisaka untuk datang menyerah di banjar.

Ketika kemudian malam turun, maka Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi bersama Ki Lurah Sanggabaya telah menggerakkan lagi pasukannya untuk membersihkan padukuhan itu. Dengan obor di tangan, mereka menyisiri setiap jengkal tanah. Selain mereka membersihkan padukuhan itu dari sisa-sisa para pengikut Harya Wisaka yang masih bersembunyi, maka mereka pun mencari kawan-kawan mereka yang terluka parah dan terbunuh untuk dibawa ke rumah Ki Bekel. Para prajurit itu pun telah menyertakan pula para pengikut Harya Wisaka yang menyerah untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka dan membawanya ke banjar.

Ternyata para prajurit Pajang itu masih menemukan beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang berusaha bersembunyi. Bahkan ada di antara mereka yang bersembunyi di atas dahan-dahan kayu. Seorang di antara mereka mencoba untuk melayang dengan pelepah kelapa sebagaimana pernah didengarnya dongeng naik pelepah kelapa. Tetapi orang itu telah terjatuh menghunjam di tanah dan mati seketika.

Malam itu Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa, Paksi dan Ki Lurah Sanggabaya telah membersihkan padukuhan itu dan menawan sisa-sisa para pengikut Harya Wisaka. Memang ada di antara mereka yang berhasil menyusup keluar dan melarikan diri. Namun jumlahnya hanya kecil sekali dibandingkan dengan jumlah mereka seluruhnya.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya tidak menjadi lengah. Meskipun para prajurit Pajang masih sibuk di dalam padukuhan itu, tetapi Raden Sutawijaya telah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk mengawasi keadaan di luar padukuhan. Raden Sutawijaya dan para pemimpin prajurit Pajang itu sudah mendapat laporan, bahwa telah berkeliaran segerombolan orang yang tidak dikenal. Mungkin mereka adalah orang-orang yang masih bermimpi untuk mendapatkan cincin kerajaan yang mereka ketahui dibawa oleh Pangeran Benawa.


“Kita tidak boleh lengah, sehingga segerombolan orang itu memanfaatkan kesibukan kita sekarang ini atau mengira bahwa pasukan kita sudah tidak berdaya setelah terjadi pertempuran yang keras melawan para pengikut Harya Wisaka”

Dengan demikian, maka beberapa orang prajurit telah bertugas beberapa puluh patok di luar padukuhan itu.

Baru setelah tengah malam, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa, Paksi dan Ki Lurah Sanggabaya sempat beristirahat meskipun mereka masih harus tetap berhati-hati.

Dalam pada itu, menjelang dini hari, para prajurit yang bertugas mengawasi jalan yang langsung menuju ke gerbang padukuhan telah menghentikan tiga orang berkuda yang berpacu menuju ke padukuhan itu.

“Siapakah kalian?” bertanya pemimpin kelompok prajurit yang bertugas itu.

Ketiga orang itu pun telah menunjukkan timang keprajuritan mereka, sehingga para petugas itu pun segera mengenali mereka sebagai petugas sandi prajurit Pajang.

“Kalian para prajurit yang berada di Prambanan?” bertanya prajurit yang bertugas.

“Tidak. Kami diperintahkan langsung oleh Ki Gede Pemanahan untuk menemui Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya”

“Baiklah. Silahkan. Temui prajurit yang bertugas di regol padukuhan”

Ketiga orang itu adalah petugas sandi yang ditugaskan oleh Ki Gede Pemanahan untuk menemui Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya untuk menyampaikan perintah Ki Gede, bahwa pasukan mereka harus ditarik kembali ke kotaraja.

Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi pun menerima mereka di rumah Ki Bekel.

“Darimana kalian mendengar bahwa kami ada disini?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Kami telah pergi ke Prambanan” jawab salah seorang dari para petugas sandi itu.

“Prambanan?”

“Kami sudah menduga, bahwa Raden telah membuat hubungan dengan pasukan Pajang yang berada di Prambanan ketika kami mendapat keterangan bahwa pasukan Raden menuju ke selatan. Beberapa tempat yang kami singgahi memang menuntun kami untuk pergi ke Prambanan. Dari para prajurit yang bertugas di barak, kami mendapat keterangan tentang pasukan Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa, karena pasukan Pajang di Prambanan yang dipimpin langsung oleh Ki Lurah Sanggabaya telah terlibat”

“Perintah apa yang kalian bawa?” bertanya Raden Sutawijaya kemudian.

Seorang di antara ketiga orang prajurit itu menjawab, “Ki Gede memerintahkan pasukan Raden kembali ke kotaraja”

“He? Bagaimana dengan tugas kami untuk memburu Paman Harya Wisaka?” sahut Pangeran Benawa. “Kami yang menyerang para pengikutnya disini ternyata tidak menemukannya. Kami masih harus bergerak lagi untuk mencarinya. Pada saatnya kami akan kembali sambil membawa Paman Harya Wisaka. Pasukannya yang kuat telah kami hancurkan disini bersama-sama dengan pasukan Pajang yang berada di Prambanan”

“Pangeran tidak perlu memburu Harya Wisaka sampai ke tempat yang lebih jauh lagi”

“Maksudmu?”

“Harya Wisaka ada di kotaraja”

“Jadi Paman Harya Wisaka sudah tertangkap?”

“Belum, Pangeran”

“Jadi Bagaimana?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Harya Wisaka sama sekali tidak lari keluar kota”

“Jadi ayah benar” desis Raden Sutawijaya.

“Ya. Ki Gede Pemanahan benar”

“Apa yang telah terjadi di kotaraja?” bertanya Pangeran Benawa.

Prajurit itu pun kemudian menceriterakan apa yang pernah terjadi di kotaraja. Apa pula yang telah dilakukan oleh Harya Wisaka dan beberapa orang kepercayaannya. Bagaimana mereka menebarkan sirep yang amat tajam. Kemudian menyerang langsung ke dalam bilik Kangjeng Sultan Hadiwijaya.

“Harya Wisaka itu sangat terkejut ketika ia melihat Ki Gede berada di dalam bilik itu pula”

“Jadi, Paman Harya Wisaka itu sudah tertangkap?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Belum, Raden”

“Belum? Jadi?”

Prajurit itu pun kemudian melanjutkan ceritanya tentang Harya Wisaka yang berhasil meloloskan dirinya meskipun ia sudah terluka.

Raden Sutawijaya menarik nafas dalam-dalam, sementara Pangeran Benawa menggeram, “Licik juga Harya Wisaka. Ia berhasil lolos dari tangan tiga orang berilmu sangat tinggi. Ayahanda Sultan, Paman Pemanahan dan Ki Waskita”

“Ya. Tetapi ketiga orang itu pun tertahan oleh tiga orang berilmu tinggi pula. Meskipun akhirnya ketiganya dapat dibinasakan, tetapi mereka sudah memberikan waktu kepada Harya Wisaka untuk melepaskan diri”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ketiga orang itu ternyata sangat setia kepada Harya Wisaka, sehingga mereka bersedia mengorbankan jiwa mereka”

“Harya Wisaka memang memiliki pengaruh yang ajaib” berkata Raden Sutawijaya. “Para pengikutnya yang bergerak di luar kota pun sebagian merelakan hidup mereka bagi apa yang mereka sebut perjuangan untuk meluruskan mengalirnya kekuasaan dari tahta Majapahit”

Pangeran Benawa tertawa pendek. Katanya, “Apa yang dikatakan perjuangan oleh Paman Harya Wisaka itu ternyata telah menelan banyak sekali korban”

“Paman Harya Wisaka tidak pernah menghiraukannya” sahut Raden Sutawijaya. “Paman Harya Wisaka membenarkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sehingga jiwa seseorang tidak berarti apa-apa baginya”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi, apa yang akan kita kerjakan?”

“Kembali ke Pajang” jawab Raden Sutawijaya.

“Besok pagi?”

“Tidak. Kita terpaksa kembali besok lusa. Besok kita selesaikan segala masalah disini. Kemudian kita akan kembali menelusuri jalan yang pernah kita tempuh untuk mengambil kawan-kawan kita yang kita titipkan di padukuhan-padukuhan.

Perjalanan kita memerlukan waktu yang lama. Sementara itu, kita masih harus berhati-hati terhadap pasukan yang tidak dikenal itu”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita tidak dapat begitu saja meninggalkan padukuhan ini meskipun disini ada pasukan dari Prambanan”

Karena itu, maka Raden Sutawijaya pun berkata kepada para petugas sandi itu, “Jika kalian telah cukup beristirahat, besok sebaiknya kalian mendahului kami. Kalian dapat melaporkan keberadaan kami disini. Mungkin kami memerlukan dua hari perjalanan pulang, karena kami harus singgah di beberapa padukuhan”

“Baiklah Raden. Besok pagi-pagi kami akan kembali ke Pajang”

“Kalian tidak perlu berangkat pagi-pagi. Kalian memerlukan waktu istirahat”

“Bukankah sekarang kami beristirahat?”

“Jangan paksakan diri kecuali keadaan juga memaksa”

Ketiga orang itu saling berpandangan. Seorang di antara mereka pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan beristirahat sebentar, Raden”

Seorang prajurit kemudian membawa ketiga orang itu ke serambi samping rumah Ki Bekel. Mereka pun kemudian telah dipersilahkan untuk beristirahat di sebuah amben bambu yang cukup besar bagi mereka bertiga.

Ternyata ketiganya sempat juga tidur beberapa lama di dini hari. Namun justru karena itu, maka mereka terbangun pada saat bayangan cahaya fajar yang kekuning-kuningan telah nampak di lubang-lubang dinding.

Dengan tergesa-gesa mereka bangun. Kemudian membersihkan dan berbenah diri sebelum mereka bersiap untuk berangkat.

“Kalian belum cukup beristirahat” berkata Raden Sutawijaya yang juga sudah duduk di pringgitan sambil minum minuman hangat bersama Pangeran Benawa dan Paksi.

“Ternyata kami terlambat bangun. Pangeran Benawa, Raden Sutawijaya dan Paksi telah bangun lebih dahulu”

“Kami tidak letih seperti kalian yang menempuh perjalanan panjang sehingga seakan-akan dalam sehari semalam kalian tidak berhenti”

“Tetapi kami terlalu sering berhenti. Jika bukan kuda-kuda kami yang letih, kami bertigalah yang letih dan perlu beristirahat. Bagi kami tidak ada masalah untuk beristirahat kapan saja kami inginkan. Tetapi pasukan yang berada disini harus bertempur tanpa dapat beristirahat, karena beristirahat akan dapat merubah segala-galanya dalam pertempuran”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Sebenarnya kita sama-sama merasa letih. Tetapi kami pun menyadari, bahwa kewajiban telah mendorong kami untuk menjalankan tugas”

Ketiga orang prajurit dalam tugas sandi itu pun tertawa pula sebagaimana Raden Sutawijaya dan Paksi.

Dalam pada itu, setelah makan pagi, minum minuman hangat dan beristirahat sejenak, maka ketiga orang prajurit itu pun mohon diri untuk segera kembali ke Pajang dan memberikan laporan hasil perjalanan mereka.

Dalam pada itu, pasukan Pajang yang kecil serta pasukan Pajang yang berada di Prambanan itu masih sibuk mengurusi kawan-kawan mereka yang cidera, terluka dan yang gugur. Demikian pula mereka harus mengurusi para pengikut Harya Wisaka. Sehingga dengan demikian maka pada hari itu para prajurit dan para tawanannya itu pun masih harus bekerja keras.

Namun kerja itu mereka akhiri hari itu juga. Ketika matahari turun ke barat, maka semuanya telah mereka selesaikan.

Para prajurit, baik yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa serta membawa seseorang yang mereka sebut Ki Gede Pemanahan itu, maupun para prajurit dari Prambanan yang dipimpin oleh Ki Lurah Sanggabaya itu pun menyempatkan diri untuk beristirahat sebelum esok pagi mereka akan kembali ke arah berlawanan.

Dalam pada itu, para prajurit yang belum berpengalaman itu pun mulai menyadari kedudukan mereka yang sebenarnya. Pertempuran yang telah terjadi itu pun merupakan tempaan bagi jiwa keprajuritan mereka. Memang ada kawan mereka yang gugur. Tetapi apa yang mereka lihat pada kawan-kawan mereka yang sudah berpengalaman apalagi pada pasukan khusus yang datang dari Pajang itu, telah menimbulkan kepercayaan pada diri mereka, bahwa mereka pun akan dapat menjadi prajurit yang dapat dibanggakan seperti para prajurit yang lebih matang itu.

Pada kesempatan yang sempit itu, maka Ki Lurah Sanggabaya pun telah mengetahui apa yang telah terjadi di kotaraja. Karena itu, maka tidak akan ada gunanya lagi memburu Harya Wisaka di luar kota. Mereka tidak akan dapat menemukannya.

“Meskipun demikian, kemungkinan Harya Wisaka lolos itu masih ada. Terakhir ternyata Harya Wisaka juga tidak tertangkap lagi. Meskipun dalam keadaan terluka, orang yang licin itu masih tetap berbahaya” berkata Raden Sutawijaya.

“Karena itu, jangan lengah” pesan Pangeran Benawa pula, “jika tiba-tiba Harya Wisaka muncul di tengah-tengah barakmu”

Ki Lurah Sanggabaya tertawa. Tetapi ia menyadari, bahwa pesan itu tidak berlebih-lebihan. Harya Wisaka yang licik itu akan dapat berbuat apa saja yang sebelumnya tidak terduga-duga.

Ketika malam turun, maka kedua pasukan yang masih ada di padukuhan itu pun segera bersiap-siap. Para pemimpinnya pun telah menemui Ki Bekel yang sudah pulang ke rumahnya yang harus mereka tinggalkan.

“Besok kami akan mohon diri, Ki Bekel” berkata Raden Sutawijaya.

“Kami juga, Ki Bekel” sambung Ki Lurah Sanggabaya.

“Kenapa begitu tergesa-gesa?”

“Masih banyak yang harus kami kerjakan di Pajang, Ki Bekel”

“Kami mengucapkan terima kasih, bahwa kami telah terlepas dari kuasa pasukan yang ganas itu”

“Nampaknya sebagian besar kekuatan Harya Wisaka telah dihancurkan, Ki Bekel. Terutama di daerah ini. Meskipun mungkin di daerah utara para pendukungnya masih kuat, namun agaknya mereka tidak akan berkeliaran sampai kemari”

Ki Bekel mengangguk-angguk. Katanya, “Mudah-mudahan kami dapat hidup tenteram seperti sediakala”

“Jika terjadi sesuatu yang terasa gawat, Ki Bekel dapat memerintahkan dua tiga orang bebahu menghubungi aku di Prambanan” berkata Ki Sanggabaya. “Agaknya Prambanan lebih dekat daripada Ki Bekel harus pergi ke Pajang”

“Baik, Ki Lurah. Jika perlu, aku akan menghubungi Ki Lurah di Prambanan”

Malam itu, para bebahu pun telah mengucapkan terima kasih dan selamat jalan pula kepada para pemimpin pasukan yang akan kembali sebagian ke Pajang dan sebagian lagi ke Prambanan. Pasukan yang ke Prambanan yang lebih besar dari pasukan yang akan kembali ke Pajang, akan membawa para tawanan dalam keadaan terikat tangannya. Para prajurit dari Prambanan tidak mau mengalami akibat buruk jika terjadi kelengahan sehingga para tawanan itu melakukan tindakan yang dapat mengacaukan pasukan yang kembali ke Prambanan itu.

Demikianlah, malam itu adalah malam terakhir bagi pasukan khusus yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa itu. Besok mereka akan kembali ke Pajang, karena orang yang mereka buru itu ternyata masih berada di kotaraja.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka para prajurit dan para pemimpinnya itu pun telah beristirahat kecuali mereka yang bertugas. Besok pagi-pagi benar mereka akan berangkat meninggalkan padukuhan itu ke arah yang berbeda-beda.

Dari Ki Bekel, Raden Sutawijaya meminjam beberapa ekor kuda untuk keperluan yang sangat khusus, terutama untuk mengangkut mereka yang terluka sangat parah dan tidak mungkin untuk berjalan kaki.

Dengan kuda, pasukan itu akan dapat berjalan lebih cepat daripada mereka mempergunakan pedati.

Sementara itu, di dini hari, beberapa orang yang bertugas di dapur telah bangun. Ki Bekel ingin menghidangkan makan yang terakhir kalinya bagi para prajurit yang telah membebaskan padukuhannya dari kerusuhan dan kekacauan yang ditimbulkan oleh para pengikut Harya Wisaka.

Karena itu, maka Ki Bekel telah menugaskan beberapa orang menyediakan makan yang khusus. Beberapa ekor kambing telah disembelih di samping ikan yang ditangkap dengan mengeringkan dua buah belumbang milik Ki Bekel. Beberapa kepis ikan gurameh dan tambra, ikan mas dan bader.

“Sebelum terang tanah, semuanya harus sudah masak” berkata Ki Bekel kepada orang-orang yang ditugaskan menyediakan makanan pagi bagi para prajurit yang akan meninggalkan padukuhan itu.

Ketika para prajurit terbangun, maka mereka tersentak oleh bau yang sedap yang menyengat hidung mereka. Beberapa orang prajurit justru merasa perutnya tiba-tiba menjadi lapar.

“Marilah kita segera mandi. Bau itu tidak tertahankan lagi. Siapa yang lebih cepat mandi dan berbenah diri, maka ia akan makan mendahului yang lain. Siapa yang lambat, mungkin tidak akan mendapat bagian lagi”

Tetapi seorang prajurit yang lain menyahut, “Aku tidak akan mandi. Aku akan mencuci muka, langsung pergi ke dapur”

Terdengar kawan-kawannya tertawa. Seorang berkata, “He, pemalas. Jika kau masuk ke dapur, kau tentu akan diusir. Ki Bekel sendiri menunggui orangnya yang sedang masak”

“He?”

Yang terdengar adalah suara tertawa.

Demikianlah, maka para pemimpin kelompok pun segera memerintahkan pasukan masing-masing untuk segera bersiap. Ki Lurah Sanggabaya memerintahkan untuk berangkat meninggalkan padukuhan itu sebelum matahari naik.

Ketika langit kemudian menjadi merah, maka nasi dan lauk serta sayurnya pun telah siap. Ki Bekel pun kemudian menemui Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Ki Lurah Sanggabaya untuk mempersilahkan para prajurit itu makan. “Nasi, lauk serta sayurnya telah kami sediakan di beberapa tempat. Di pendapa, di ruang dalam”

“Terima kasih, Ki Bekel” jawab Raden Sutawijaya yang kemudian memerintahkan para prajurit untuk makan pagi, kecuali yang bertugas.

Suasananya terasa menjadi gembira. Disana-sini terdengar gurau dan kelakar yang segar, disusul oleh suara tertawa yang meledak. Sementara itu, yang lain sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka lebih sibuk dengan daging kambing dan ikan gurameh bakar.

Bahkan mereka yang terluka pun dapat melupakan perasaan nyeri yang menggigit.

“He, kau tidak boleh makan daging kambing sebelum lukamu sembuh” desis seorang prajurit.

“Aku makan mangut lele”

“Juga tidak boleh. Ikan air akan dapat membuat luka-lukamu gatal dan semakin parah”

“Jika aku harus mati karena luka-lukaku, aku tidak akan menyesal setelah aku makan daging kambing dan mangut lele”

Terdengar suara tertawa berkepanjangan.

Menjelang matahari terbit, maka kedua pasukan itu pun sudah bersiap. Mereka yang semula bertugas sudah berada di dapur untuk makan pagi. Sedangkan sekelompok prajurit yang lain menggantikan tugas mereka di gerbang padukuhan.

Sejenak kemudian, maka semuanya pun telah bersiap. Para prajurit yang baru saja makan, masih berada di dapur. Mereka masih beristirahat sejenak sebelum berangkat menempuh perjalanan panjang, agar lambung mereka tidak terasa sakit.

Tepat pada saat matahari terbit, maka kedua pasukan pun segera meninggalkan padukuhan itu. Pasukan yang besar bersama para tawanan pergi ke Prambanan, sementara pasukan yang lebih kecil yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi berjalan menuju ke Pajang. Orang yang sebelumnya disebut Ki Gede Pemanahan telah memilih untuk menanggalkan sebutan itu setelah ia mengetahui bahwa Harya Wisaka tidak berada di luar kotaraja.

Demikianlah, pasukan kecil itu telah menempuh perjalanan sebagaimana mereka lalui ketika mereka berangkat. Selain menjemput kawan-kawan mereka yang terluka dan ditinggalkan di padukuhan-padukuhan yang dilewati, pasukan itu juga ingin singgah dan mengucapkan terima kasih kepada penghuni padukuhan yang telah menopang tugas mereka.

Seperti yang diperhitungkan, maka perjalanan mereka akan memakan waktu dua hari dua malam dengan waktu istirahat yang terhitung pendek.

Ketika pasukan itu berada di pintu gerbang kota, maka Raden Sutawijaya telah mengirimkan dua orang penghubung untuk memberikan laporan, bahwa pasukan itu telah datang.

Ki Gede Pemanahan dan Ki Waskita bersama beberapa orang senapati menyambut langsung kehadiran pasukan itu di sebuah barak yang disediakan khusus bagi mereka, sebelum mereka dikembalikan ke dalam kesatuan mereka masing-masing.

“Kalian akan berada di barak ini selama tiga hari” berkata Ki Gede Pemanahan setelah mengadakan sesorah penyambutan.

“Dalam kesempatan itu, kalian boleh pulang untuk menengok keluarga. Tetapi baru setelah itu, kalian mendapat waktu beristirahat sepekan. Namun sebelum kalian menengok keluarga kalian, lebih dahulu keluarga mereka yang gugur di dalam tugas akan mendapat pemberitahuan dan diundang untuk bertemu langsung dengan aku sendiri”

Para prajurit itu pun mengangguk-angguk. Mereka dapat membayangkan, betapa sedihnya keluarga yang kehilangan itu.

Mereka melepaskan suami atau anak atau saudara laki-laki dalam keadaan segar bugar bersama kawan-kawan dalam satu pasukan, namun ternyata ketika pasukan itu kembali, keluarga mereka tidak ada di antara para prajurit yang lain dalam pasukan itu.

Demikianlah, ketika para prajurit itu. beristirahat, maka beberapa orang penghubung telah mendapat perintah khusus kepada keluarga para korban untuk bertemu dengan Ki Gede Pemanahan di tempat yang lain. Tidak di dalam barak itu.

Bahkan Ki Gede telah minta mereka datang ke rumah Ki Gede Pemanahan sendiri. Bersama mereka telah diundang pula untuk hadir Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi, yang memimpin tiga kelompok prajurit khusus yang menjalankan tugas yang khusus pula.

“Aku persilahkan mereka datang besok pagi” berkata Ki Gede Pemanahan kepada para penghubung.

Menjelang pertemuan itu, Paksi merasa sangat gelisah. Ia harus menyaksikan betapa mereka yang hadir itu akan menumpahkan kesedihan. Betapapun tabahnya hati mereka, tetapi mereka tentu akan merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

“Yang terjadi itu adalah satu keharusan, Paksi” berkata Raden Sutawijaya. “Untuk menegakkan wibawa serta kekuasaan, maka setiap pemberontakan harus dipadamkan. Untuk memadamkan pemberontakan, kita harus melepaskan korban. Korban itu mungkin para prajurit, mungkin kau, mungkin aku atau Adimas Pangeran Benawa. Dan bahkan mungkin orang-orang yang tidak tahu-menahu sama sekali tentang terjadinya sebuah pemberontakan”

Paksi mengangguk kecil.

Namun ketika ia benar-benar berada di tengah-tengah pertemuan yang berlangsung di pendapa rumah Ki Gede Pemanahan, maka jantung Paksi benar-benar terguncang.

Meskipun Ki Gede Pemanahan telah memberikan pengantar dengan hati-hati, namun ketika nama para korban disebutkan, tangis pun tidak tertahankan lagi. Ada yang tangisnya meledak. Tetapi ada yang mencoba menahan diri. Beberapa orang yang tabah pun harus mengusap air matanya yang meleleh di pelupuk matanya.

Paksi tidak ikut menangis. Tetapi jantungnya terasa pedih. Ia membayangkan, apa yang terjadi pada ibunya, jika ia hadir di tempat itu dan mendengar nama Paksi disebut sebagai salah seorang korban yang harus diserahkan untuk menegakkan wibawa Pajang.

Betapapun beratnya, Ki Gede Pemanahan memang harus segera menyampaikan berita duka itu sebelum mereka mendengar dari desas-desus atau sumber-sumber lain yang tidak jelas.

Demikianlah, setelah pertemuan itu selesai, maka para prajurit yang lain telah diperkenankan untuk menampakkan diri pada keluarga mereka. Namun waktu istirahat yang diberikan kepada mereka, baru tiga hari kemudian. Di dalam tiga hari itu, mungkin masih ada persoalan yang harus diselesaikan. Perintah-perintah khusus serta persoalan penempatan kembali mereka di kesatuan mereka semula harus diselesaikan.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun telah memerintahkan Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi untuk menghadap Kangjeng Sultan bersamanya. Selain untuk memberikan laporan langsung tentang tugas yang mereka lakukan, juga untuk menerima perintah-perintah mirunggan bagi mereka bertiga.

Pada waktu yang telah ditentukan, keempatnya telah pergi menghadap ke istana. Kangjeng Sultan memang sudah siap menerima mereka, sehingga keempat orang itu pun langsung diterima di paseban dalam.

“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada kalian. Kalian telah mengemban tugas dengan sepenuh hati dan bahkan mempertaruhkan nyawa kalian untuk menegakkan wibawa Pajang”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi masih menundukkan kepala mereka. Sementara Kangjeng Sultan pun berkata, “Namun ternyata orang yang kalian cari itu masih berada di kotaraja sebagaimana perhitungan Kakang Pemanahan. Bahkan Harya Wisaka itu telah datang sendiri ke istana ini. Namun kamilah yang gagal untuk menangkapnya. Ternyata kemampuan orang-orang tua ini masih juga dalam keterbatasan”

Pangeran Benawa lah yang kemudian bertanya, “Bukankah Harya Wisaka itu terluka?”

“Ya. Kami telah berusaha memburunya. Tetapi kami telah gagal pula. Kami tidak dapat menemukan Harya Wisaka”

“Ayahanda” berkata Raden Sutawijaya kemudian, “jika saja belum menemukannya. Mudah-mudahan Paman Harya Wisaka masih berada di kotaraja”

Kangjeng Sultan Hadiwijaya termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Kita tidak akan dapat menemukannya”

“Kenapa, Ayahanda?” bertanya Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa hampir bersamaan.

“Harya Wisaka telah meninggal”

“Meninggal?”

“Ya” Kangjeng Sultan mengangguk angguk, “lukanya terlalu parah. Meskipun ia berhasil melarikan diri, tetapi darahnya terlalu banyak mengalir, sehingga Harya Wisaka tidak dapat bertahan lagi”

“Darimana Ayahanda tahu bahwa Paman Harya Wisaka sudah meninggal?”

“Seorang petugas sandi berhasil mencium upacara sederhana pemakamannya. Petugas sandi itu melihat isteri Harya Wisaka menangisinya saat tubuhnya dimasukkan ke dalam kubur dan yang kemudian ditimbun dengan tanah. Petugas sandi itu dengan cepat melaporkan kehadiran isteri Harya Wisaka. Perempuan itu ikut bersalah karena ia telah berusaha membebaskan suaminya dari penjara dan yang kemudian ternyata berhasil”

“Perempuan itu kemudian tertangkap?”

Kangjeng Sultan menggeleng. Katanya, “Ketika sekelompok prajurit datang menyergap, kuburan itu sudah sepi. Tidak ada seorang pun yang tinggal. Petugas sandi itu pun tidak tahu, kemana mereka pergi”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Licin juga mereka. Tetapi menurut Ayahanda, apakah sepeninggal Harya Wisaka, perlawanan para pengikutnya akan berhenti?”

“Jika tidak ada orang kuat yang tampil, perlawanan mereka memang akan berhenti. Para pengikut Harya Wisaka yang berada di sisi selatan menurut laporan telah kalian hancurkan. Tetapi masih ada pengikut Harya Wisaka di sisi utara yang cukup besar. Meskipun demikian, tanpa Harya Wisaka, mereka tidak akan bergerak lagi”

“Belum tentu, Ayahanda” sahut Pangeran Benawa. “Para pembantu Harya Wisaka yang sudah terlanjur basah tidak akan dengan mudah menyerah. Mereka tidak akan bersedia menyerahkan kedua pergelangan tangan mereka untuk diikat”

“Aku mengerti” berkata Kangjeng Sultan. “Tetapi perjuangan mereka akan terpecah-pecah. Kecuali jika tampil seseorang yang mampu mengikat mereka menjadi satu kesatuan yang utuh”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Tetapi Pangeran Benawa tidak bertanya lebih jauh.

Raden Sutawijayalah yang kemudian bertanya, “Apakah dengan demikian berarti bahwa penjagaan di jalan-jalan keluar kotaraja telah terbuka?”

“Tidak. Kami tidak akan membiarkan para pengikutnya yang ada di kotaraja melarikan diri keluar atau sebaliknya yang berada di luar kemudian justru masuk ke dalam. Terutama isteri Harya Wisaka itu sendiri”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Perempuan itu memang sangat berbahaya. Perempuan itu tidak boleh menjadi pengganti Harya Wisaka, menjadi pengikat kesatuan pasukan para pengikutnya. Tetapi perempuan itu juga seorang perempuan yang amat cantik di mata Kangjeng Sultan. Tetapi Pangeran Benawa tidak berkata apa-apa lagi tentang perempuan itu.

Demikianlah, beberapa saat kemudian Kangjeng Sultan menganggap bahwa pertemuan itu sudah cukup. Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi diperkenankan untuk mengundurkan diri bersama Ki Gede Pemanahan.


Di barak, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi telah sepakat untuk melihat keadaan kuburan Harya Wisaka itu. Dari Ki Gede Pemanahan mereka tahu, dimana letak kuburan yang disebut sebagai kuburan Harya Wisaka.

“Paman adalah orang yang sangat licik” berkata Raden Sutawijaya. “Apakah kita percaya begitu saja, bahwa yang dikubur itu Paman Harya Wisaka?”

“Lalu? Maksud Kakangmas?”

“Nanti malam kita akan melihatnya”

“Maksud Kakangmas kita akan membongkar kubur itu?”

“Ya. Mumpung belum terlalu lama. Kita masih akan dapat mengenali tubuh yang terkubur itu, seandainya benar Paman Harya Wisaka”

“Nampaknya Ki Gede Pemanahan juga meragukannya. Dari sikap dan kata-katanya, Ki Gede menduga, bahwa yang dikuburkan itu tentu bukan Harya Wisaka” berkata Paksi kemudian.

“Ya. Karena itu, kita benar-benar akan membongkarnya”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi apakah tidak akan ada orang yang mengamati kuburan itu?”

“Jika kuburan itu benar-benar kuburan Harya Wisaka, tentu akan ada pengikutnya yang menungguinya. Jika bukan, mereka tidak akan menganggap perlu untuk mengawasinya”

“Belum tentu. Mungkin mereka pun memperhitungkan kemungkinan bahwa kuburan itu akan dibongkar”

“Memang mungkin. Karena itu, kita harus berhati-hati” desis Raden Sutawijaya kemudian.

Ketika kemudian malam turun, ketiga orang itu pun benar-benar mencari kuburan Harya Wisaka sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan. Kuburan itu berada di kuburan tua di pinggir sebuah sungai kecil. Beberapa batang pohon besar tumbuh di sekitar kuburan tua itu, sehingga suasananya memang agak menyeramkan.

Tetapi ketiga orang itu tidak mengurungkan niatnya. Mereka menuruni tebing sungai kecil yang agak curam itu. Kemudian menyeberang dan memanjat naik di sisi seberang.

“Kita harus berhati-hati, apakah ada orang yang mengawasi kuburan itu atau tidak” desis Raden Sutawijaya.

Ketiganya telah mengetrapkan Aji Sapta Pangrungu dan Sapta Pandulu. Mereka dapat melihat dengan lebih terang dan mendengar lebih jelas. Namun ketiganya sepakat, bahwa tidak ada orang di kuburan itu.

Demikianlah, maka mereka pun telah berusaha menemukan kuburan yang disebut kuburan Harya Wisaka itu.

“Tentu inilah kuburan itu” desis Raden Sutawijaya.

“Ya. Di dekat sebatang pohon cangkring tua ini” sahut Paksi.

“Kita akan membongkarnya?”

“Ya” sahut Raden Sutawijaya dengan tegas.

Ketiga orang itu memang sudah membawa cangkul yang akan mereka pergunakan untuk menggali kuburan itu.

Beberapa saat kemudian, maka ketiganya telah sibuk menggali gundukan tanah yang masih merah itu berganti-ganti.

“Hati-hati, jangan melukai sosok mayat yang ada di dalamnya, siapa pun orangnya”

Ketika mereka sampai pada potongan-potongan bambu yang melintang di atas tubuh yang terkubur itu, ketiga orang yang menggali kubur itu pun menjadi semakin berhati-hati.

Memang terdapat sosok mayat di kuburan itu. Tetapi ketiganya segera meyakini, bahwa sosok tubuh yang terbujur itu bukan Harya Wisaka. Meskipun mayat itu sudah hampir rusak, tetapi ketiganya pun segera memastikan, bahwa tubuh itu terlalu besar dan terlalu panjang.

Meskipun ketiganya tidak menyalakan obor, tetapi Aji Sapta Pandulu yang mereka trapkan membantu mereka melihat dengan jelas wajah orang yang terbujur itu. Apalagi orang itu sama sekali tidak terluka di tubuhnya.

“Mayat siapakah ini?” desis Pangeran Benawa.

“Apakah mereka sengaja mengorbankan seseorang, atau kebetulan seseorang telah meninggal?”

Pangeran Benawa menggelengkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan orang ini memang sudah meninggal. Kemudian menimbulkan gagasan untuk menyebut mayat itu adalah Harya Wisaka. Dengan demikian mereka berharap, bahwa Harya Wisaka tidak akan dikejar-kejar lagi”

“Satu usaha untuk menghilangkan jejak” gumam Paksi.

“Cara yang cerdik dan licik sekaligus”

Ketiganya pun kemudian sepakat untuk menimbun kembali kuburan itu. Mengembalikan sebagaimana sediakala tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka pun kemudian menyingkirkan cangkul mereka jauh-jauh. Baru kemudian mereka pun membersihkan tubuh mereka di sungai di sebelah kuburan itu.

Namun itu belum cukup. Ketiganya pun segera kembali ke barak untuk berganti pakaian. Di luar pengetahuan para prajurit, ketiganya pun telah berada di dalam barak itu. Tidak seorang pun yang mengetahui bahwa ketiganya telah keluar dari barak, menggali kuburan dan kembali ke dalam bilik mereka masing-masing.

Namun mereka pun telah sepakat, esok pagi-pagi mereka akan pergi menghadap Ki Gede Pemanahan untuk memberikan laporan bahwa yang dikubur itu sama sekali bukan Harya Wisaka.

Laporan itu tidak mengejutkan Ki Gede Pemanahan. Ketika Raden Sutawijaya menceriterakan apa yang dikerjakannya bersama Pangeran Benawa dan Paksi, maka Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Yang kalian kerjakan telah memastikan dugaanku. Itulah sebabnya maka penjagaan di sekeliling kota ini tidak mengendor meskipun diberitakan bahwa Harya Wisaka telah meninggal. Penjagaan ini kami nyatakan ditujukan kepada para pengikut Harya Wisaka dan terutama isteri Harya Wisaka itu”

“Selanjutnya apa yang harus kami lakukan, Ayah?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku akan memberikan pernyataan, bahwa aku akan pergi membuktikan keberadaan kuburan Harya Wisaka itu”

“Maksud Ayah, Ayah akan pergi ke kuburan tua itu?”, “Ya. Mudah-mudahan ada pengikut Harya Wisaka yang melihat kehadiranku. Aku harus bersikap seakan-akan aku mempercayainya bahwa Harya Wisaka memang sudah meninggal”

Pangeran Benawa tertawa pendek. Katanya, “Permainan Paman dengan Paman Harya Wisaka akan diulang kembali. Ketika Harya Wisaka lari keluar kotaraja, maka Paman telah memburunya. Namun akhirnya Paman telah berjumpa langsung dengan Paman Harya Wisaka justru di istana”

Raden Sutawijaya dan Paksi pun tertawa. Bahkan Ki Gede Pemanahan pun tertawa pula.

Sementara itu Pangeran Benawa pun bertanya, “Apakah Harya Wisaka percaya seandainya Paman bersikap seakan-akan Paman mempercayai bahwa Harya Wisaka telah mati? Harya Wisaka juga mempunyai pengalaman bahwa Paman Harya Wisaka telah Paman kelabuhi, sehingga hampir saja ia terjebak di istana”

“Kita sedang bermain macanan, Pangeran. Jika aku berhasil, maka aku akan dapat menangkap macannya. Tetapi jika macan itu lebih cerdik dan kuat, maka orang-orangku akan diterkamnya seorang demi seorang, sehingga akhirnya aku harus menyerah”

Raden Sutawijaya pun tertawa pula. Katanya, “Ayah tidak sedang bermain macanan atau bas-basan. Ayah sedang bermain binten. Permainan keras yang memerlukan pengerahan segenap akal dan kemampuan. Bahkan kekuatan tenaga dan ilmu”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Permainan ini adalah permainan yang keras. Nah, Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi, besok kita pergi ke kuburan itu. Aku akan membawa sekelompok prajurit. Sebelumnya sekelompok prajurit yang lain harus membersihkan kuburan tua itu dari para pengikut Harya Wisaka. Kemudian menjaga agar kehadiranku tidak diganggu oleh para pengikut Harya Wisaka itu”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun mengangguk-angguk. Mereka mengetahui bahwa Ki Gede Pemanahan bukan seorang penakut yang harus mendapat perlindungan sekian banyak orang. Tetapi gelar itu dibuat untuk memancing agar para pengikut Harya Wisaka mengetahui, setidak-tidaknya satu dua orang petugas sandinya, bahwa Ki Gede membuktikan keberadaan makam Harya Wisaka di kuburan tua itu.

Ketika Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi kembali ke barak, mereka sempat meragukan rencana Ki Gede Pemanahan. Bukan karena rencana itu merupakan rencana yang bodoh, tetapi mereka sadari bahwa permainan itu telah saling menguji ketajaman panggraita masing-masing. Tetapi Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi menduga, bahwa Harya Wisaka pun tidak mudah dikelabuhi. Karena itu, maka untuk menemukannya, jalan lain adalah mengerahkan pasukan sandi di samping penjagaan yang semakin diperkuat.

Tetapi ketiganya tidak mencegah rencana Ki Gede Pemanahan sebagai salah satu usaha untuk membuat Harya Wisaka lengah, sebagaimana pernyataan bahwa Harya Wisaka sudah mati dan dikuburkan di kuburan tua itu, ditangisi oleh isterinya serta beberapa orang pengikutnya yang setia.

Meskipun demikian, Ki Gede Pemanahan pun menyadari sepenuhnya, bahwa yang dilakukannya itu tidak pasti akan berhasil sebagaimana diinginkannya. Ki Gede pun menyadari bahwa yang dilakukannya itu bahkan justru ditertawakan oleh Harya Wisaka sebagaimana Ki Gede Pemanahan menertawakan permainan Harya Wisaka.

Demikianlah, seperti yang direncanakan, di keesokan harinya, Ki Gede Pemanahan telah bersiap untuk pergi ke kuburan tua itu. Sebelum Ki Gede berangkat, maka sekelompok prajurit telah mendahului untuk mengamankan kuburan tua itu dan sekitarnya dari penyerang gelap yang mungkin bersembunyi di sekitar kuburan, terutama adalah para pengikut Harya Wisaka.

Kesibukan itu ternyata memang berhasil menarik perhatian beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang berkeliaran di kotaraja. Demikian mereka melihat kesibukan itu, maka mereka pun segera mengamati apa yang akan terjadi.

Mereka pun akhirnya mengetahui, bahwa Ki Gede Pemanahan akan pergi ke kuburan tua itu untuk membuktikan, apakah Harya Wisaka benar-benar telah dikubur di kuburan itu. Karena itu, maka jaringan sandi mereka pun segera bergerak, sehingga pagi itu juga, Harya Wisaka yang di persembunyiannya dalam keadaan luka cukup parah, memerintahkan para petugas sandinya untuk mengamati apa yang akan dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan itu.....

“Jika ada usaha untuk membongkar kuburan itu, kalian harus berusaha untuk menimbulkan kekacauan. Jika pengamanan di kuburan itu terlalu kuat, kalian dapat melakukannya di tempat lain yang tidak jauh dari kuburan itu.

Kalian dapat membakar banjar padukuhan atau menyerang pintu gerbang sebelah barat yang terletak tidak jauh dari kuburan tua itu”

Para pengikut Harya Wisaka yang setia pun segera menempatkan diri. Dua orang petugas sandi berusaha mengamati, apa yang akan dilakukan oleh Ki Gede nanti di kuburan tua itu.

Ketika matahari naik sepenggalah, maka sebuah iring-iringan mulai bergerak. Ki Gede Pemanahan berjalan diapit dua orang pengawal. Di belakangnya Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi mengikutinya. Kemudian sekelompok prajurit pilihan.

“Mereka baru datang dari perburuan yang menggelikan itu” desis seorang petugas sandi.

“Jangan bodoh. Kau kira Pemanahan mudah dikelabuhi? Kau kira Pemanahan benar-benar berada di dalam pasukan yang memburu Harya Wisaka keluar kotaraja?”

“Aku tahu. Tetapi Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa benar-benar melakukan perburuan yang bodoh itu”

“Kau yang bodoh. Gerakan itu perlu dilakukan untuk menjawab muslihat Harya Wisaka. Bukankah Harya Wisaka sendiri hampir saja terjebak di istana?”

Petugas sandi itu tidak menjawab. Apa yang diketahuinya memang tidak sebanyak apa yang diketahui oleh kawannya, seorang petugas yang lebih dekat dengan para pemimpin di lingkungan para pengikut Harya Wisaka.

Petugas sandi yang lebih banyak mengetahui itu pun kemudian berdesis, “Kita akan melihat, apakah Pemanahan itu cukup berhati-hati dan cukup cerdik untuk menggali kuburan itu?”

Kawannya mengangguk-angguk. Namun petugas sandi yang lebih banyak mengetahui itu pun berkata, “Tetapi kau pun harus berhati-hati. Di lingkungan kita sendiri, hanya orang-orang tertentu sajalah yang boleh mengetahui bahwa yang berada di dalam kubur itu bukan Harya Wisaka”

“Kenapa lingkungan kita sendiri tidak boleh mengetahuinya apa yang sebenarnya terjadi atas Harya Wisaka?”

“Apakah kita yakin, bahwa kesetiaan kawan-kawan kita dapat dipercaya sepenuhnya? Apakah kau tahu sebatas mana mulut itu dapat disumbat?”

Kawannya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku tahu”

“Kita, para petugas sandi nampaknya sudah mendapat tempat lahir dan batin. Kita yakini apa yang kita perjuangkan. Tetapi ada pula para pengikut Harya Wisaka yang tidak tahu pasti tujuan perjuangannya. Mereka itulah yang berbahaya”

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Orang-orang yang demikian itu sebaiknya disingkirkan saja dari lingkungan kita”

“Kita memerlukan mereka. Tentu saja dalam batas-batas tertentu”

Kawannya tidak menjawab. Perhatiannya tertuju kepada iring-iringan yang memasuki kuburan tua.

Beruntunglah mereka, bahwa selain para pengawal, beberapa orang ikut melihat pula. Mereka ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh panglima perang Pajang itu. Dengan demikian, maka para petugas sandi itu dapat membaurkan diri dengan orang-orang yang ikut berkerumun di kuburan tua itu.

Namun mereka tidak dapat mendekat. Para prajurit yang menjaga kuburan itu memaksa orang-orang yang ingin tahu itu berada pada jarak tertentu dengan Ki Gede Pemanahan.

Para petugas sandi yang dikirim oleh Harya Wisaka itu pun dapat ikut menyaksikan dengan jelas, apa yang dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan di kuburan tua itu.

“Jika Ki Gede memerintahkan membongkar kuburan itu, maka para petugas sandi itu harus segera memberikan isyarat kepada para pengikut Harya Wisaka yang siap untuk menimbulkan kekacauan sehingga niat Ki Gede Pemanahan itu menjadi batal”

Beberapa saat Ki Gede Pemanahan mengamati kuburan itu. Ia pun berbicara dengan beberapa orang yang sejak semula dibawanya bersama dengan pasukannya.

Petugas sandi itu menarik nafas panjang ketika mereka melihat Ki Gede Pemanahan itu mengangguk-angguk. Agaknya ia sudah cukup yakin berdasarkan atas keterangan-keterangan yang didapatnya dari beberapa orang yang dianggapnya sebagai saksi.

Setelah beberapa lama Ki Gede Pemanahan berada di kuburan itu, maka ia pun memberi isyarat untuk segera meninggalkan kuburan tua itu.

“Ternyata Ki Gede Pemanahan bukan seorang yang teliti. Ia tidak memerintahkan membongkar kuburan itu” desis petugas sandi yang lebih banyak mengetahui dari kawannya itu.

Kawannya mengangguk-angguk. Katanya, “Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa nampaknya juga tidak mengusulkannya”

Kawannya terdiam.

Sejenak kemudian, para prajurit pun telah membuka jalan. Mereka mendorong orang-orang yang berkerumun di pinggir kuburan tua itu untuk menjauhi jalan yang akan dilalui oleh Ki Gede Pemanahan.

Demikian Ki Gede Pemanahan keluar dari kuburan, turun ke sungai, menyeberang dan naik di tebing sebelah, maka orang-orang yang berkerumun itu pun segera meninggalkan kuburan tua itu pula.

Beberapa saat kemudian, kuburan itu menjadi sepi. Tidak ada seorang pun lagi yang tinggal. Para prajurit yang mengamankan kuburan tua pun telah meninggalkan kuburan itu pula.

Namun beberapa saat kemudian, dua orang berdiri termangu-mangu di dekat gundukan tanah di dekat sebatang pohon cangkring tua. Seorang dari mereka yang kemudian berjongkok di samping gundukan tanah itu pun berdesis, “Liwung, baru setelah kau mati, kau dapat memberikan arti bagi perjuangan ini”

Kawannya yang tetap berdiri itu pun tertawa. Katanya, “Arti apakah yang telah diberikannya?”

“Bukankah orang ini dapat berperan sebagai Harya Wisaka?”

Kawannya itu tertawa berkepanjangan. Katanya, “Aku senang mendengar guraumu yang segar itu”

“Aku tidak bergurau. Jika aku wenang, aku akan memberikan penghargaan kepadanya”

“Penghargaan apa yang dapat diberikan kepada orang mati?”

“Mengembalikan nama baiknya”

“Itu tidak mungkin. Ia telah berkhianat. Hukuman mati itu adalah hukuman yang sangat wajar baginya”

“Apakah Liwung sudah pasti berkhianat?”

“Jika ia tidak bersalah, maka ia akan selamat. Ketika ia memasukkan jari tangannya ke dalam kepis yang berisi ular itu, ularnya tidak akan menggigit sampai hitungan kesepuluh. Tetapi baru sampai ke hitungan keenam, jari Liwung sudah digigit ular bandotan sehingga ia mati”

“Aku tidak sependapat dengan cara Ki Lebdasarana menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak. Pembuktian dengan memasukkan jari-jari ke kepis yang berisi ular, bukan cara yang dapat memberikan kepastian. Jika ular itu sedang tidur atau malas, betapapun besar kesalahan seseorang, ular itu tidak akan mematuk. Tetapi jika ular itu sedang menjadi ganas, maka gerakan sekecil apa pun akan menarik perhatiannya dan mematuknya. Bisa ular bandotan termasuk bisa yang paling tajam dari berbagai jenis ular berbisa. Karena itu, Liwung tidak akan dapat bertahan tanpa pengobatan apa pun juga. Apakah kau juga akan mengatakan, seandainya Liwung tidak bersalah, bisa itu tidak akan membunuhnya?”

Kawannya mengerutkan dahinya. Katanya dengan nada tinggi, “Tetapi Harya Wisaka sudah menyetujui cara itu”

“Harya Wisaka yang terluka parah itu tidak sempat membuat pertimbangan yang jernih, sehingga dengan mudah ia menyetujui saja pendapat orang yang sedang merawatnya itu. Nah, seandainya Ki Lebdasarana yang tidak bersalah apa-apa itu kita minta memasukkan jari-jarinya ke kepis ular itu, apakah ia bersedia?”

“Tentu tidak, karena tidak ada alasannya, kenapa ia harus memasukkan jari-jarinya ke dalam kepis itu”

“Bukankah ia yakin bahwa dirinya tidak bersalah?

Seharusnya ia tidak berkeberatan memasukkan jarinya jika ia yakin tidak bersalah”

Kawannya menarik nafas dalam-dalam. Sementara petugas sandi yang berjongkok itu berdesis, “Pada suatu saat, kita akan mendapat giliran untuk memasukkan jari-jari kita ke dalam kepis itu. Tetapi jika Harya Wisaka segera menjadi baik, maka ia akan menghapuskan cara yang tidak berlandaskan pada akal itu”

Kawannya tidak menyahut lagi. Tetapi ia mulai mengangguk-anggukkan kepalanya.

Petugas sandi yang berjongkok itu menepuk gundukan tanah itu beberapa kali sambil berkata, “Jika kau masih hidup, kau tidak akan dapat menggantikan sosok Harya Wisaka dalam kesempatan apa pun juga”

Demikianlah, sejenak kemudian orang itu pun bangkit berdiri dan bersama-sama dengan kawannya meninggalkan kuburan yang disebut sebagai kuburan Harya Wisaka itu.

Kuburan itu benar-benar menjadi sepi. Yang kemudian bergerak-gerak adalah dedaunan dari beberapa pohon raksasa yang rimbun di sekitar kuburan itu. Namun juga batang kamboja yang tumbuh di sela-sela batu nisan pun bergoyang perlahan-lahan dihembus angin.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan pun telah berada di rumahnya. Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi berada di rumah Ki Gede itu pula.


“Kita memang tidak mempunyai pilihan lain” berkata Ki Gede.

“Kita harus mencarinya di seluruh sudut kotaraja”

“Bukankah itu sudah dilakukan, Paman?” sahut Pangeran Benawa. “Tetapi masih juga belum berhasil”

“Tetapi kita harus mencoba terus. Kita tidak dapat membiarkan Harya Wisaka tetap berkeliaran di Pajang. Ia adalah orang yang sangat berbahaya”

“Tentu, Ayah” berkata Raden Sutawijaya. “Tetapi yang dimaksud Adimas Pangeran Benawa mungkin cara yang kita tempuh yang harus berubah”

“Kakangmas benar” sahut Pangeran Benawa.

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Sementara Pangeran Benawa pun berkata, “Paman, sebaiknya pencaharian Paman Harya Wisaka tidak lagi ditekankan pada usaha pencaharian dari rumah ke rumah. Apalagi sekarang Harya Wisaka sudah mati. Kita harus menempuh cara lain. Kita harus mengandalkan ketajaman penglihatan para petugas sandi”

“Aku setuju, Pangeran” jawab Ki Gede Pemanahan. “Kita tidak lagi dapat mencari Harya Wisaka dengan memasuki rumah-rumah yang dicurigai. Tetapi kita masih mempunyai alasan untuk melakukannya. Kita akan mencari isteri Harya Wisaka dan beberapa orang pengikutnya. Namun aku pun sependapat, bahwa pencaharian Harya Wisaka ditekankan kepada ketajaman penglihatan para petugas sandi. Namun, kita pun harus berhati-hati. Kita tidak boleh segan melihat ke dalam. Selama ini usaha kita selalu sia-sia. Kita harus berani menaruh kecurigaan, bahwa di dalam tubuh kita masih saja tersembunyi para pengikut Harya Wisaka yang setia”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi termangu-mangu sejenak. Mereka memang harus mengakui, bahwa kemungkinan sebagaimana dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan itu masih ada.

Paksi, yang tidak dapat ingkar, bahwa ayahnya adalah salah seorang pengikut Harya Wisaka menundukkan kepalanya.

Bahkan sebuah pertanyaan tumbuh di dalam hatinya, “Apakah Ki Gede Pemanahan itu mencurigai aku?”

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya pun berkata, “Aku sependapat, Ayah. Tetapi kecurigaan itu tidak boleh berlebih-lebihan sehingga akan dapat membuat kita sendiri saling mencurigai”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Katanya, “Kau benar, Sutawijaya. Keseimbangan itulah yang harus kita ciptakan. Karena itu, persoalan ini merupakan persoalan bagi orang-orang yang terbatas saja. Orang-orang yang benar-benar dapat dipercaya”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sementara itu Pangeran Benawa pun berkata, “Kita harus segera mulai, Paman.

Kita harus memperhitungkan waktu. Paman Harya Wisaka yang terluka cukup parah itu tentu memerlukan waktu untuk menyembuhkannya. Jika Paman Harya Wisaka itu sudah sembuh, maka ia akan menjadi semakin sulit dicari”

“Baiklah. Aku akan segera mengatur pencaharian itu”

“Ayah” berkata Raden Sutawijaya, “kami mohon ijin untuk mencari Paman Harya Wisaka menurut cara kami. Mungkin kami akan bergerak di luar jaringan yang akan Ayah susun”

Ki Gede Pemanahan termangu-mangu sejenak. Ia nampak menjadi ragu-ragu.

Namun Raden Sutawijaya itu pun menjelaskan, “Kami akan selalu menyesuaikan diri. Maksudku kami tidak akan mengganggu tugas para petugas sandi dan para prajurit yang menurut gelarnya mencari Bibi Sekarsari itu”

Ki Gede Pemanahan akhirnya menganggukkan kepalanya sambil berdesis, “Baiklah. Tetapi kalian harus sangat berhati-hati. Kalian pun harus selalu memperhitungkan jejak penyelidikan kalian. Mungkin saja orang-orang yang sengaja dipasang oleh Harya Wisaka di antara kita memberikan keterangan-keterangan yang sangat penting, sehingga kalian justru akan terjebak. Bagaimanapun juga kalian harus menyadari, bahwa di antara para pendukung Harya Wisaka masih juga terdapat orang-orang berilmu tinggi. Harya Wisaka berhasil mempengaruhi beberapa orang yang berpengaruh di Jipang dan Demak yang tidak sependapat dengan keputusan untuk menetapkan Kangjeng Sultan Hadiwijaya ini menduduki tahta Pajang”

Paksi menjadi semakin menunduk. Jika Ki Gede Pemanahan meragukan salah seorang dari ketiga orang yang disebut Raden Sutawijaya untuk melakukan penyelidikan terpisah itu, tentulah dirinya. Adalah mustahil bahwa yang dimaksud adalah Raden Sutawijaya atau bahkan Pangeran Benawa.

Namun Raden Sutawijaya pun menjawab, “Kami akan melakukan sendiri. Kami tidak akan berhubungan apalagi memanfaatkan para petugas yang lain dalam penyelidikan kami. Karena itu, tidak ada yang harus diragukan. Berhasil atau tidak berhasil, kami akan melakukannya bertiga”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Tetapi ia pun kemudian bertanya, “Apakah kalian tidak akan segera kembali ke padepokan di Hutan Jabung itu?”

Raden Sutawijaya mengangguk sambil menjawab, “Ya, Ayah. Setelah batas waktu tinggal di barak itu habis, kami akan segera kembali ke padepokan. Tetapi kami akan segera menentukan cara yang akan kami tempuh untuk ikut mencari Paman Harya Wisaka. Mungkin Ki Panengah dan Ki Waskita akan dapat membantu memberikan jalan kepada kami”

“Ki Waskita masih berada di istana sekarang”

“Ya. Ki Waskita sudah mengisyaratkan kepada kami untuk bersama-sama kembali ke padepokan”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Marilah kita lihat apa yang akan terjadi kemudian. Aku menghargai setiap usaha untuk membantu menangkap Harya Wisaka. Selama Harya Wisaka masih belum tertangkap, maka ia akan menjadi duri di dalam daging pemerintahan di Pajang”

Demikianlah, maka Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah minta diri untuk kembali ke barak. Ia masih harus tinggal sehari lagi di barak itu, sebelum seluruh pasukan itu kembali ke kesatuan mereka setelah menjalankan tugas khusus bersama Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan telah memerintahkan para prajurit untuk tetap mencari Sekarsari dan para pengikut Harya Wisaka dari rumah ke rumah. Namun di samping mereka, Ki Gede Juga memerintahkan para petugas sandi untuk lebih berperan.

Namun hanya beberapa orang sajalah yang secara khusus masih mendapat perintah untuk mencari Harya Wisaka.

“Harya Wisaka itu terluka parah. Ia tentu belum sembuh benar” pesan Ki Gede Pemanahan. Dalam pada itu, ketika Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi sudah berada di dalam baraknya, maka Paksi pun minta diri untuk mengunjungi ibunya. Bagaimanapun juga ibunya tentu memikirkannya.

“Hati-hatilah, Paksi” pesan Raden Sutawijaya.

“Ya, Raden”

Namun Pangeran Benawa justru menawarkan diri, “Aku akan menemanimu, Paksi”

“Terima kasih, Pangeran. Biarlah aku pergi sendiri”

Pangeran Benawa tidak memaksanya. Tetapi seperti Raden Sutawijaya ia pun berpesan, “Berhati-hatilah. Para pengikut Harya Wisaka tentu ada yang dapat mengenalimu. Bukan saja karena kau anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada, tetapi kau tentu lebih dikenal sebagai salah seorang di antara pemburu Harya Wisaka itu”

“Aku akan berhati-hati, Pangeran” sahut Paksi.

Demikianlah, maka Paksi pun telah meninggalkan baraknya untuk menengok ibu dan adik perempuannya.

Kedatangan Paksi disambut dengan gembira sekali oleh ibunya. Dipeluknya anak laki-lakinya itu sambil menitikkan air matanya. Demikian pula adik perempuan Paksi. Sambil berjongkok Paksi pun memeluk adik perempuannya pula.

“Sudah agak lama Kakang tidak menengok kami” berkata adik perempuannya itu.

“Kakang sedang bertugas” jawab Paksi.

“Itulah yang aku cemaskan, Paksi. Tetapi ketika aku tahu bahwa kau selamat, rasa-rasanya hatiku yang membeku itu pun telah mencair kembali”

Paksi pun kemudian dipersilahkan duduk di ruang dalam. Adiknya pun kemudian telah pergi ke belakang, minta kepada seorang pembantunya untuk menyiapkan minuman bagi kakaknya.

Ketika kemudian Paksi menanyakan tentang adik laki-lakinya, maka ibunya pun berkata, “Aku tidak pernah mendengar kabarnya lagi”

“Apakah ayah belum pernah pulang lagi, Ibu?”

Ibunya menggeleng. Katanya, “Aku juga belum pernah mendengar kabarnya lagi. Sebenarnyalah aku menjadi cemas.

Perburuan atas Harya Wisaka dan para pengikutnya menjadi semakin bersungguh-sungguh. Bahkan meskipun Harya Wisaka sudah terbunuh, namun perburuan terhadap para pengikutnya dan terutama isteri Harya Wisaka masih berlanjut”

“Ibu mengetahuinya?”

“Sudah tiga kali rumah ini didatangi oleh para prajurit dan petugas sandi”

“Tiga kali?”

Ibunya mengangguk. Katanya, “Mereka mencari ayahmu atau mungkin para pengikut Harya Wisaka yang lain. bahkan mereka juga mencari Sekarsari di rumah ini. Seorang perempuan yang tidak aku kenal dengan baik, meskipun aku tahu bahwa Sekarsari itu adalah isteri Harya Wisaka”

“Mereka menggeledah rumah ini?”

Ibunya mengangguk.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Tentunya para prajurit dan apalagi para petugas sandi itu tahu apa yang dilakukannya selama ini. Ia sudah mempertaruhkan nyawanya untuk membantu mencari Harya Wisaka dan para pengikutnya. Tetapi keluarganya masih saja dicurigai.

Tetapi Paksi pun berusaha untuk dapat mengerti dan tidak membebankan semua kesalahan kepada para prajurit dan para petugas sandi. Bagaimanapun juga harus diakui, bahwa ayahnya memang seorang pengikut Harya Wisaka yang setia. Bahkan bukan sekedar pengikut, tetapi ayahnya termasuk salah seorang pemimpin yang dekat dengan Harya Wisaka. Harya Wisaka yang diburu itu memang pernah bersembunyi di rumahnya, sehingga jika kecurigaan itu berkepanjangan, adalah satu hal yang dapat dimengerti.

Tetapi yang kemudian menjadi pertanyaan di hati Paksi adalah, apakah dirinya masih juga dicurigai?

Namun dalam pada itu, ibunya berkata, “Sudahlah, Paksi. Jangan kau risaukan. Ini adalah akibat ulah ayahmu”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi ia masih juga bertanya, “Bukankah para prajurit dan petugas sandi yang menggeledah rumah ini memperlakukan Ibu dengan baik?”

“Ya. Mereka memperlakukan aku dan adikmu dengan baik. Mereka benar-benar hanya mencari ayahmu atau orang lain yang mungkin bersembunyi di rumah ini”

“Syukurlah” desis Paksi kemudian. “Mudah-mudahan untuk selanjutnya mereka tidak akan datang lagi”

“Mudah-mudahan, Paksi. Apalagi sepeninggal Harya Wisaka”

“Tetapi apakah Ibu sama sekali tidak mengetahui kemana adikku laki-laki itu dibawa oleh ayah?”

Ibunya menggeleng. Katanya, “Aku benar-benar tidak tahu, Paksi. Bahkan waktu itu aku mencoba untuk mencegahnya. Tetapi aku gagal”

“Jika keadaan sudah menjadi semakin baik, Ibu, aku berjanji untuk mencarinya”

“Sebaiknya tidak usah kau lakukan, Paksi. Kau tahu, bagaimana sikap ayahmu terhadapmu. Apalagi sekarang. Sikapmu berlawanan dengan sikap ayahmu terhadap Pajang”

Paksi mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian, “Aku kasihan terhadap adikku itu. Mungkin ia berada di satu lingkungan yang sesat. Jika adikku itu terpengaruh, maka aku cemaskan masa depannya”

“Tetapi aku tidak mau kehilangan semuanya. Ayahmu, adikmu laki-laki dan kemudian kau sendiri”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba saja Paksi itu pun berkata kepada adik perempuannya yang duduk di sebelah ibunya, “Aku haus. Apakah kau dapat memberiku semangkuk minuman?”

Ibunya seakan-akan tersadar. Karena itu ia pun berkata, “Bukankah aku tadi sudah minta dibuatkan minuman untuk kakakmu?”

“Ya, Ibu. Mungkin airnya belum mendidih”

“Tolong anak manis” berkata Paksi, “aku haus”

“Lihatlah” berkata ibunya, “apakah air sudah mendidih”

Adik perempuan Paksi itu pun kemudian telah meninggalkan ruang dalam, menghambur berlari ke dapur.

Demikian adiknya pergi, maka Paksi itu pun kemudian bertanya, “Ibu, apakah sebabnya ayah begitu benci kepadaku? Bahkan ayah sudah benar-benar siap membunuhku. Seandainya aku anak yang sangat nakal sekalipun, apakah sudah sepantasnya seorang ayah menghendaki kematian anaknya? Padahal aku sudah berusaha untuk patuh. Untuk menjalankan segala perintahnya”


Ibu menundukkan kepalanya. Katanya dengan suara sendat, “Aku tidak tahu, Paksi. Kenapa ayahmu begitu membencimu”

“Apakah ada yang Ibu sembunyikan?”

“Tidak, Paksi. Tidak” tetapi mata ibunya menjadi basah lagi. Dengan lengan bajunya ibunya mengusap air matanya yang meleleh di pipinya.

Namun Paksi tidak mendesaknya. Apalagi kemudian adik perempuannya pun telah kembali masuk ke ruangan dalam sambil membawa minuman yang masih mengepul.

“Minuman baru saja dituang, Kakang” berkata adik perempuannya.

“Terima kasih”

“Masih panas”

“O” Paksi pun mengangguk-angguk, “aku harus menunggu sampai menjadi lebih dingin”

Adiknya kembali duduk di sebelah ibunya. Gadis kecil itu pun kemudian mulai bertanya tentang banyak hal.

Ketika minuman sudah menjadi agak dingin, maka Paksi pun mulai menghirupnya. Segar sekali.

“Kau bermalam disini, Paksi?”

“Tidak, Ibu” jawab Paksi. “Aku masih harus berada di barak sampai esok. Tetapi esok sore, mungkin sekali aku harus sudah berada di padepokan bersama Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa. Kami sudah terlalu lama meninggalkan padepokan kami”

“Apakah aku boleh ikut, Kakang?”

Paksi tersenyum. Katanya, “Kau seorang gadis. Apalagi kau masih terlalu kecil”

“Terlalu kecil? Aku masih terlalu kecil menurut Kakang?”

“Maksudku terlalu kecil untuk berguru di sebuah padepokan. Apalagi di padepokan kami, tidak ada seorang mentrikpun, yang ada hanyalah para cantrik”

“Mungkin aku adalah mentrik yang pertama. Setelah itu akan ada beberapa orang gadis sebayaku yang ikut berguru”

Paksi tertawa. Katanya, “Mungkin saja. Tetapi tentu tidak sekarang”

“Jika kau pergi, ibu nanti sendiri” desis ibunya.

Adik perempuan Paksi itu memandang ibunya dengan mata yang redup. Katanya dengan nada merendah, “Ya. Kalau aku pergi, nanti Ibu sendiri”

Ibunya mengusap rambutnya sambil berkata, “Tetapi pada suatu saat, jika diperlukan, ibu akan sendiri di rumah”

“Aku akan tinggal bersama Ibu di rumah”

Ibunya tersenyum. Tetapi matanya menjadi panas. Namun ia bertahan untuk tidak menitikkan air matanya lagi.

Demikianlah, maka untuk beberapa lama Paksi masih berbincang dengan ibunya dan bergurau dengan adik perempuannya. Namun kemudian Paksi pun minta diri untuk kembali ke baraknya.

“Hati-hatilah, Paksi” pesan ibunya. “Rumah ini masih diawasi terus. Baik oleh para petugas sandi Pajang, maupun oleh para pengikut Harya Wisaka. Meskipun Harya Wisaka sudah tidak ada, tetapi rasa-rasanya gerakan mereka masih saja terdengar gemanya di kotaraja”

“Ya, Ibu. Aku akan berhati-hati”

Demikianlah, Paksi pun minta diri kepada ibu dan adik perempuannya. “Aku besok langsung kembali ke padepokan, Ibu” berkata Paksi kemudian.

“Sering-seringlah datang, Paksi. Jika kau mempunyai kesempatan, agar aku tidak menjadi kesepian”

“Ya, Ibu. Aku akan berusaha”

“Tetapi tidak hanya sebentar, Kakang. Seharusnya Kakang berada di rumah dua atau tiga hari”

“Jika keadaan sudah menjadi tenang lagi aku akan tinggal di rumah dua atau tiga hari”

“Kapan keadaan menjadi tenang?”

Paksi menyentuh pipi adiknya sambil berkata, “Mudah-mudahan secepatnya. Nah, jaga Ibu baik-baik”

Adik perempuan Paksi itu mengangguk. Demikianlah, sejenak kemudian Paksi pun telah meninggalkan rumahnya. Ia harus segera kembali ke baraknya untuk ikut mengatur penyerahan kembali para prajurit yang dipimpinnya ke kesatuannya besok.

Tetapi di luar sadarnya, seperti yang dikatakan oleh ibunya, rumah itu memang masih diawasi oleh para pengikut Harya Wisaka. Mereka sudah tahu, bahwa salah seorang anak laki-laki Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah ikut serta memburu Harya Wisaka dan bahkan juga memburu Ki Tumenggung itu sendiri.

Mereka pun telah meyakini kemantapan perintah Ki Tumenggung Sarpa Biwada sendiri untuk membunuh anak laki-lakinya itu.

Ketika Paksi menyusuri jalan menuju ke baraknya, maka dua orang telah mengikutinya dengan hati-hati. Namun akhirnya Paksi pun mengetahui, bahwa dua orang telah mengikutinya. Ia tidak tahu, apakah kedua orang itu prajurit sandi Pajang atau mereka adalah para pengikut Harya Wisaka sebagaimana dikatakan oleh ibunya.

Karena itu, maka Paksi pun justru telah memperlambat langkahnya. Paksi pun justru memilih jalan yang panjang dan sepi. Ketika Paksi berbelok di sebuah kelokan, maka kedua orang yang mengikutinya itu pun telah berbelok pula. Namun keduanya termangu-mangu. Paksi tidak lagi nampak berjalan di depan mereka.

“Dimana anak itu?” desis yang seorang.

“Tidak mungkin ia begitu saja hilang seperti ditelan bumi”

“Jadi, dimana?”

“Mungkin anak itu memasuki salah satu regol halaman di sebelah menyebelah jalan ini”

“Apakah kita harus memasuki setiap regol halaman?”

Namun keduanya terkejut ketika tiba-tiba saja terdengar suara di belakang sebatang pohon gayam yang besar, yang tumbuh di pinggir jalan itu, “Kalian mencari siapa, Ki Sanak?”


Kedua orang itu terkejut. Seseorang tiba-tiba saja muncul dari balik pohon gayam itu. Paksi.

“Anak setan” geram salah seorang dari kedua orang itu.

“Siapakah kalian berdua? Kenapa kalian mengikuti aku?”

“Kau harus dibunuh” geram salah seorang dari mereka.

“Kenapa aku harus dibunuh? Kita belum berkenalan. Tiba-tiba saja kalian ingin membunuh aku”

“Kami prajurit sandi Pajang. Kami mendapat perintah untuk membunuhmu?”

“Kenapa?”

“Itu bukan persoalanku. Perintah itu harus kami jalankan”

“Kalian berada di bawah perintah siapa? Ki Gede Pemanahan atau Ki Panengah?”

Kedua orang itu nampak ragu-ragu. Tetapi mereka tahu, bahwa Ki Gede Pemanahan adalah panglima prajurit Pajang, sehingga tentu ada orang lain yang secara khusus memimpin prajurit sandi Pajang.

Dalam keragu-raguan itu, Paksi pun berkata, “Kalian tentu prajurit sandi yang langsung berada di bawah Ki Gede Pemanahan”

Seorang di antara mereka tiba-tiba saja menjawab, “Tidak, kami tidak berada di bawah pimpinan langsung panglima prajurit Pajang itu. Tetapi kami berada di bawah perintah Ki Panengah”

Paksi tersenyum. Ia tahu pasti, bahwa kedua orang itu bukan prajurit sandi Pajang. Selain keduanya tidak tahu, bahwa Ki Panengah sama sekali tidak ada hubungannya dengan prajurit sandi dalam tatanan keprajuritan, prajurit sandi Pajang tidak akan berusaha untuk langsung membunuhnya. Tetapi prajurit sandi Pajang tentu hanya mengamatinya atau sejauh-jauhnya, mereka akan menangkapnya apabila mereka mencurigainya, karena ia adalah anak Tumenggung Sarpa Biwada.

Karena itu, maka sikap Paksi pun sudah pasti. Ia ingin menangkap kedua orang itu atau setidak-tidaknya seorang di antara mereka. Orang itu akan dapat dipergunakan sebagai rambatan untuk melacak persembunyian Harya Wisaka.

Sejenak Paksi memandang sekitarnya. Jalan itu adalah jalan yang terhitung sepi meskipun berada di kotaraja.

“Kau tidak akan sempat menunggu orang lain yang akan dapat membantumu. Kau akan langsung mati sehingga jika ada orang yang lewat, mereka hanya akan menemukan mayatmu”

“Aku dapat berteriak” berkata Paksi.

“Kau tidak mempunyai kesempatan”

Ternyata orang itu memang tidak memberi kesempatan. Dengan cepat, seorang di antaranya mencabut kerisnya dan langsung menikam Paksi di arah jantung.

Namun orang itu terkejut. Kerisnya tidak menyentuh tubuh Paksi. Tetapi keris itu telah menancap di batang pohon gayam yang semula berada di belakang Paksi. Paksi sendiri sudah bergeser selangkah ke samping.

“Menyerahlah” desis Paksi kemudian, “aku adalah prajurit sandi Pajang yang langsung berada di bawah perintah Ki Gede Pemanahan”

Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Keris yang menancap pada batang pohon gayam itu harus dicabut. Tetapi tidak terlalu mudah.

“Tidak ada gunanya kalian melawan” berkata Paksi kemudian.

“Persetan” geram seorang di antara kedua orang itu. “Bahwa kau berhasil menghindar itu bukan pertanda bahwa kau akan dapat mengalahkan kami”

Paksi tertawa. Katanya, “Kalian tentu tidak ingin mati disini”

Keduanya tidak menjawab. Tetapi tiba-tiba saja keduanya menyerang dengan garangnya. Seorang di antara mereka pun telah mencabut kerisnya pula.

Paksi mundur selangkah. Kesempatan itu dipergunakan oleh seorang yang lain untuk mencabut kerisnya yang tertancap di pohon gayam itu.

Paksi tertawa lebih keras ketika ia melihat orang yang mencabut keris dengan mengerahkan tenaganya itu justru hampir jatuh terlentang. Dengan susah payah ia berusaha mempertahankan keseimbangannya.

“Hati-hatilah” berkata Paksi, “kau akan dapat terjatuh nanti”

“Aku koyak mulutmu” geram orang itu.

Keduanya pun kemudian telah menyerang Paksi dengan garangnya. Masing-masing dengan keris di tangannya.

Paksi yang kebetulan tidak membawa tongkatnya itu pun telah mencabut kerisnya pula. Namun ia pun berkata, “Aku tidak ingin membunuh kalian. Aku minta kalian menyerah saja”

Tetapi keduanya tidak menghiraukannya. Keduanya justru meningkatkan serangan-serangan mereka.

Pertempuran pun menjadi semakin sengit. Paksi memang tidak ingin membunuh kedua orang itu. Ia merasa perlu untuk menangkap mereka hidup-hidup.

Namun dengan demikian, maka Paksi pun harus berhati-hati. Kerisnya tidak boleh menikam kedua lawannya sehingga dapat membunuh mereka. Seandainya ia berhasil melukainya dengan kerisnya, ia pun harus segera menaburkan obat pada luka itu, karena kerisnya adalah keris yang mengandung warangan yang keras. Jika ia terlambat, maka orang yang terluka oleh kerisnya itu pun akan mati.

Ternyata kedua orang pengikut Harya Wisaka yang ditugaskan mengawasi rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu juga bukan orang kebanyakan. Keduanya juga memiliki kemampuan olah kanuragan, sehingga dengan demikian, maka Paksi pun tidak mudah menundukkan mereka tanpa membunuh. Tetapi Paksi pun tidak mau terbunuh pula.

Pertempuran itu semakin lama menjadi semakin sengit. Namun kedua orang pengikut Harya Wisaka itu pun segera terdesak. Sulit bagi mereka untuk dapat mengimbangi kemampuan Paksi.

Dalam pada itu, ketika pertempuran itu menjadi semakin seru, maka orang yang tinggal di rumah sebelah mulai mendengar keributan itu. Kedua orang yang akan membunuh Paksi itu kadang-kadang memang berteriak untuk menghentakkan tenaganya.

Mula-mula orang yang tinggal di rumah sebelah mendengarkan dari balik dinding halaman rumahnya, suara apakah yang terdengar ribut di pinggir jalan di depan rumahnya itu. Kemudian ia pun mulai menjenguk dari balik pintu regol halaman rumahnya.

Orang itu pun terkejut. Di pinggir jalan di depan rumahnya itu, tiga orang tengah terlibat dalam perkelahian.

Pada saat yang hampir bersamaan, orang yang tinggal di seberang jalan telah menjenguknya pula. Bahkan orang itu telah melangkah keluar pintu regolnya.

Orang itu juga terkejut. Ketika ia melihat tetangganya di seberang jalan menjenguk, maka ia pun segera berlari melintasi jalan.

“Orang-orang itu berkelahi” katanya.

“Apakah kita harus melerai?”

“Mereka bersenjata”

Keadaan mulai menjadi gaduh. Dua orang yang kebetulan berjalan lewat jalan itu pun berhenti pula.

Beberapa saat kemudian, maka para penghuni rumah di pinggir jalan itu pun telah keluar pula dari rumah mereka.

Sementara beberapa orang yang berjalan pun telah tertahan.

Dalam pada itu, kedua orang yang akan membunuh Paksi itu pun menjadi sangat gelisah. Mereka mengira, bahwa membunuh Paksi dapat dilakukan dalam sekejap. Jika tiba-tiba saja mereka menusukkan kerisnya, maka anak muda itu tentu akan segera terkapar.

Tetapi perhitungan mereka itu keliru. Tusukan mereka tidak menyentuh sasarannya. Bahkan yang terjadi adalah perkelahian yang sengit.

Namun Paksi pun kemudian terkejut ketika tiba-tiba seorang di antara kedua orang yang akan membunuhnya itu berteriak,

“Tangkap orang ini. Anak muda ini telah berusaha melarikan anak gadisku dengan paksa”

Yang seorang lagi, yang langsung tanggap terhadap sikap kawannya berteriak pula, “Kemenakanku itu telah disembunyikannya sejak tiga hari yang lalu”

Beberapa orang yang mulai mengerumuni perkelahian itu menjadi ragu.

Namun orang itu berteriak lagi, “Tangkap orang ini. Ia harus mengatakan dimana anak gadisku disembunyikannya”

Beberapa orang yang berkerumun itu di luar sadar telah mengepung arena perkelahian itu. Karena kedua orang itu berteriak-teriak terus, maka orang-orang mulai percaya, bahwa anak muda yang berkelahi itu telah melarikan anak gadis dan kemenakan kedua orang lawannya.

Tetapi Paksi pun berusaha untuk menjelaskan, “Tidak. Mereka mencoba untuk membunuhku”

“Jangan dengarkan kata-katanya. Ia telah mencuri anakku”

Orang-orang yang berkerumun itu memang menjadi bingung. Sementara itu Paksi pun berkata, “Biarkan aku menangkap keduanya. Nanti, aku akan menjelaskan apa yang sesungguhnya terjadi disini. Ada persoalan yang jauh lebih penting dari sekedar melarikan seorang gadis”

Orang-orang yang berkerumun memang menjadi bingung. Karena kedua orang lawan Paksi itu selalu berteriak-teriak, bahwa anak muda itu telah menculik anak gadis mereka, maka hampir saja orang-orang yang berkerumun itu termakan. Namun di antara mereka ternyata masih ada orang yang sempat mempergunakan nalarnya. Katanya, “Jangan bertindak sendiri-sendiri. Kita mencoba untuk menghentikan perkelahian itu”

Orang-orang yang hampir saja beramai-ramai menangkap Paksi itu tertegun. Sementara orang yang masih mempergunakan nalarnya itu berteriak, “Berhentilah berkelahi. Kita akan berbicara. Yang salah akan ditangkap. Tetapi kita akan sempat membuat pertimbangan-pertimbangan yang benar”

Tetapi seorang di antara lawan Paksi itu berteriak, “Anak ini harus ditangkap. Ia licik dan pintar berbicara. Anak perempuanku telah dilarikannya”

Teriakannya hampir saja berhasil. Namun Paksi pun berkata, “Aku bersedia berhenti berkelahi. Tetapi aku minta agar kami bertiga tidak boleh meninggalkan tempat ini. Kami bertiga harus dihadapkan kepada petugas atau kepada prajurit di barak terdekat. Mereka akan segera dapat mengenali aku, sehingga kalian akan yakin, bahwa aku bukan pencuri”

“Omong kosong. Ia pandai berbicara. Jangan hiraukan”

“Bawa kami bertiga. Kedua orang itu tidak akan dapat mengelak atas kejahatan yang pernah mereka lakukan” berkata Paksi.

Orang yang masih mempergunakan nalarnya itu mengangguk-angguk. Jika anak muda itu bersalah, ia tidak akan bersedia dan bahkan mengusulkan agar ditangkap dan dibawa ke barak prajurit terdekat.

“Baiklah” berkata orang itu, “kami akan menangkap kalian bertiga dan membawa ke barak prajurit terdekat”

Paksi meloncat mengambil jarak dari kedua lawannya sambil berkata, “Aku akan menyerahkan diriku”

Tetapi kedua orang lawannya itu nampak ragu-ragu. Bahkan keduanya pun kemudian saling memberikan isyarat.

Paksi curiga atas isyarat itu. Namun sebelum Paksi mengambil langkah, keduanya pun telah meloncat melarikan diri ke arah yang berbeda. Sambil mengayun-ayunkan kerisnya, mereka menyibak orang yang berkerumun semakin banyak.

Paksi terkejut. Ia tidak mau kehilangan kedua orang lawannya. Karena itu, maka Paksi pun segera meloncat mengejar salah seorang dari mereka sambil berteriak, “Tangkap yang seorang lagi. Mereka bukan sekedar penjahat. Tetapi mereka adalah pengkhianat”

Beberapa orang memang berusaha mengejar seorang di antara lawan Paksi. Tetapi karena orang itu mengacu-acukan kerisnya, sementara orang-orang yang mengejarnya tidak bersenjata, maka akhirnya orang itu berhasil meloloskan dirinya. Tetapi seorang lagi yang dikejar oleh Paksi sendiri, tidak mampu melepaskan diri dari tangan Paksi. Perkelahian masih terjadi. Tetapi Paksi yang telah menyarungkan kerisnya, justru sulit untuk dihindarinya.

Ketika orang itu berusaha mengayunkan kerisnya menusuk ke arah lambung, Paksi mampu mengelak. Sambil meloncat ke samping, maka Paksi pun kemudian berhasil menendang pergelangan tangan orang itu sehingga kerisnya terlepas dan jatuh di tanah.

Dengan cepat orang itu berusaha untuk menjangkau kerisnya. Tetapi dengan cepat kaki Paksi menyambar tubuhnya, sehingga orang itu terlempar jatuh berguling di tanah.

Demikian orang itu berusaha bangkit, maka sekali lagi Paksi menyerangnya. Tangannya terayun mendatar menyambar keningnya, sehingga orang itu pun terhuyung-huyung surut.

Paksi yang memburunya langsung menyerang orang itu pada dadanya. Pukulan tangan Paksi yang menghantam dada orang itu terasa bagaikan hentakan batu sebesar kepala kerbau yang jatuh menghimpitnya.

Sekali lagi orang itu jatuh terbanting, tetapi ia tidak segera dapat bangkit. Matanya menjadi berkunang-kunang, sementara nafasnya menjadi sesak.....

Paksi membiarkan orang itu yang dengan kesulitan memaksa untuk berdiri tegak. Paksi lah yang kemudian memungut keris orang itu. Sambil mengacukan keris itu, ia pun berkata, “Kau aku tangkap”

Orang itu tidak dapat mengelak lagi. Ujung keris itu hampir melekat di dadanya sebelah kiri. Jika keris itu ditekan, maka ujungnya akan segera menancap di jantung.

Sementara itu beberapa orang telah berdatangan. Seorang di antara mereka pun berkata, “Yang seorang tidak dapat ditangkap”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Biarlah. Yang seorang ini akan dapat menunjukkan, kemana kawannya itu melarikan diri”

“Aku akan membawanya ke barak di sebelah alun-alun pungkuran. Ia akan ditahan disana”

“Barak itu adalah barak pasukan khusus yang baru pulang dari perburuannya untuk mencari Harya Wisaka. Tetapi ternyata Harya Wisaka telah terbunuh justru di kotaraja”

“Ya. Aku adalah salah seorang penghuni barak itu”

Beberapa orang nampak ragu-ragu. Untuk memantapkan kepercayaan mereka, maka Paksi pun berkata, “Marilah, kita bawa orang ini kesana”

Memang ada di antara orang-orang itu yang kurang percaya bahwa Paksi akan membawa orang yang telah ditangkapnya itu ke barak di sebelah alun-alun pungkuran. Karena itu, maka beberapa orang pun telah mengikuti Paksi yang menggiring orang itu.

Di sepanjang jalan, iring-iringan kecil itu memang menarik perhatian. Tetapi tidak seorang pun di antara orang-orang yang ikut membawa orang yang ditangkap Paksi itu ke barak prajurit di sebelah alun-alun pungkuran dapat memberi penjelasan jika ada orang yang bertanya kepada mereka.

“Kami kurang tahu. Orang itu akan dibawa ke barak prajurit di sebelah alun-alun pungkuran”

“Orang itu tentu bukan sekedar pencopet di pasar” desis seseorang.

“Kenapa?” bertanya kawannya.

“Barak itu untuk sementara dihuni oleh pasukan khusus. Jika orang itu dibawa kesana, tentu ada hubungannya dengan persoalan-persoalan yang gawat yang menyangkut ketenangan Pajang”

Kawannya mengangguk-angguk.

Sebenarnyalah Paksi memang membawa orang itu ke barak pasukan khusus di sebelah alun-alun pungkuran. Namun yang tidak terduga itu telah terjadi. Ketika Paksi melewati jalan yang menuju ke alun-alun pungkuran, maka tiba-tiba saja orang itu menjerit kesakitan. Paksi memang melihat anak panah yang meluncur dengan cepat yang dilepaskan oleh seseorang yang berada di balik dinding yang memagari alun-alun pungkuran itu langsung mengenai dada orang yang akan dibawa ke barak prajurit itu.

Dengan sigapnya Paksi meloncat memburu ke arah asal anak panah itu. Ia pun segera meloncat ke atas dinding. Namun Paksi itu tertegun. Ia tidak melihat orang yang dicarinya.

Untuk beberapa saat Paksi mengamati keadaan di sekitarnya. Ia hanya melihat sebuah busur dan dua anak panah yang tidak dipergunakan. Agaknya karena satu saja anak panah telah berhasil membunuh sasarannya, orang itu tidak melepaskan anak panah berikutnya.

“Mungkin akulah yang akan menjadi sasarannya kemudian. Tetapi orang itu tergesa-gesa” geram Paksi.

Dalam pada itu, beberapa orang telah mengerumuni orang yang terkena panah di dadanya itu. Namun agaknya orang itu sudah tidak akan dapat tertolong lagi. Nafasnya pun tinggal satu-satu.

Meskipun ia masih sempat mengerang, namun kemudian ia pun terdiam.

Orang-orang yang mengerumuni sama sekali tidak mengerti, apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun Paksi yang kemudian kembali mendekati orang yang terkena panah itu harus menahan kemarahan yang menghentak di dadanya. Tetapi orang itu sudah mati.

Paksi yang jantungnya bergejolak itu pun kemudian berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Siapa yang mau membantu aku untuk pergi ke barak itu?”

Orang-orang itu termangu-mangu. Sementara itu Paksi pun berkata, “Aku tidak dapat pergi sendiri. Aku harus menunggui orang yang terbunuh ini. Meskipun ia sudah mati, tetapi tubuh ini akan menjadi bukti perbuatan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab”

“Apa yang harus kami lakukan jika ada di antara kami yang bersedia pergi ke barak itu?” bertanya seorang anak muda. “Hanya melaporkan apa yang telah terjadi kepada Raden Sutawijaya atau kepada Pangeran Benawa”

“Raden Sutawijaya atau Pangeran Benawa? Apakah salah seorang di antara kami akan dapat menghadap salah seorang dari keduanya?”

“Laporkan saja kepada petugas di regol untuk menyampaikan kepada Raden Sutawijaya atau Pangeran Benawa. Katakan bahwa aku berada disini. Namaku Paksi”

Anak muda itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Aku akan pergi ke barak itu”

Demikianlah, beberapa lama Paksi menunggu. Semakin lama semakin banyak orang yang berkerumun. Mereka bertanya-tanya apa yang telah terjadi. Tetapi tidak seorang pun yang dapat memberikan jawaban yang jelas.

Namun beberapa saat kemudian, beberapa orang berkuda mendatangi tempat itu. Mereka pun kemudian menyibak orang-orang yang berkerumun di sekitar tubuh yang terbaring dengan panah menancap di dadanya.

Dua orang di antara mereka adalah Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa.

“Kita bawa tubuh ini ke barak” berkata Raden Sutawijaya. Seorang prajurit pun kemudian telah menaikkan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi itu ke atas punggung seekor kuda. Kemudian menuntun kuda itu ke barak diiringi oleh beberapa orang prajurit yang lain.

Paksi pun kemudian berkata kepada orang-orang yang berkerumun, “Aku mengucapkan terima kasih atas kesediaan kalian membantu”

Orang-orang itu saling berpandangan. Ternyata anak muda itu tidak berbohong, bahwa ia memang salah seorang penghuni barak pasukan khusus. Bahkan anak muda itu nampak begitu akrab dengan Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa.

Apalagi orang-orang yang hampir saja termakan oleh teriakan-teriakan dua orang yang bertempur melawan anak muda itu. Seandainya mereka benar-benar berusaha menangkapnya dan memukulinya, maka anak muda itu tentu tidak akan berdiam diri. Beberapa orang di antara mereka tentu akan menjadi korban. Kemudian, kemarahan para prajurit dari pasukan khusus itu akan dapat menjadi bencana bagi mereka.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun minta diri kepada orang-orang yang masih berkerumun. Katanya kemudian, “Sekarang, aku persilahkan kalian meninggalkan tempat ini. Sekali lagi terima kasih. Jika kalian melihat atau mengalami sesuatu yang terasa ganjil, hubungi aku, Paksi. Atau jika besok aku meninggalkan barak itu, hubungi prajurit Pajang dimanapun”

Orang-orang yang berkerumun itu berdiri termangu-mangu.

Mereka kemudian memandang Paksi yang meloncat ke punggung seekor kuda yang diberikan oleh seorang prajurit kepadanya. Sementara prajurit itu pun berjalan kaki menyusul kawannya yang menuntun kuda yang di punggungnya diletakkan mayat orang yang terbunuh oleh panah yang dilepaskan oleh orang yang tidak dikenal.

Jarak dari tempat itu ke barak pasukan khusus itu memang sudah dekat. Memang hanya bergeser beberapa puluh patok saja, sehingga sejenak kemudian Paksi pun telah berada di barak itu.

Demikian Paksi duduk di pendapa bersama Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa, maka Paksi pun segera melaporkan apa yang telah terjadi.

Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa mendengarkan laporan Paksi dengan sungguh-sungguh.

Demikian Paksi selesai menyampaikan laporannya, maka Pangeran Benawa pun berkata, “Aku kagumi kesetiaan para pengikut Harya Wisaka”

“Memang luar biasa” Raden Sutawijaya pun mengangguk-angguk.

“Dengan demikian, kita pun tahu, bahwa kau merupakan salah satu sasaran utama dari para pengikut Harya Wisaka, Paksi”

“Tentu ada hubungannya dengan perintah ayahku sendiri”

“Satu teka-teki yang rumit, kenapa ayahmu ingin membunuhmu?” desis Raden Sutawijaya. “Sementara kita tahu, bahwa persoalannya bukan karena kau memusuhi Harya Wisaka. Usaha ayahmu menyingkirkanmu sudah dilakukan sejak kau belum terlibat dalam permusuhan dengan Harya Wisaka”

“Itulah yang membuat aku bersedih, Raden”

“Sudahlah” berkata Raden Sutawijaya, “jangan menambah beban di hatimu. Untuk sementara batasi persoalan yang kau hadapi. Kita sedang mencari Harya Wisaka. Jika kita berhasil, maka kita berharap untuk dapat menemukan Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

Paksi pun mengangguk-angguk.

“Nah, sekarang kita akan menyerahkan orang yang terbunuh itu untuk dikuburkan dengan baik”

“Dimana orang itu akan dikuburkan?”

“Biarlah orang itu dikubur dekat kuburan orang yang disebut Harya Wisaka itu. Sementara kita harus mempersiapkan penyerahan para prajurit dari pasukan khusus ini ke kesatuan mereka masing-masing”

Paksi mengangguk-angguk.

Demikianlah, maka Paksi pun segera tenggelam dalam kesibukan. Ia harus mempersiapkan kelompoknya untuk menyerahkan mereka kembali ke kesatuan mereka.

Perpisahan yang segera akan terjadi itu memang tidak menyenangkan setelah beberapa lama mereka bersama-sama. Bukan sekedar bersama-sama bertamasya menyusuri lembar dan lereng-lereng pegunungan yang udaranya segar. Tetapi mereka bersama-sama bertarung dengan taruhan nyawa mereka. Beberapa orang di antara mereka benar-benar telah terbunuh sehingga untuk selamanya tidak akan bertemu lagi.

Karena itu, maka hubungan Paksi dan para prajurit menjadi sangat erat. Mereka merasa menjadi sekelompok orang senasib sepenanggungan.

“Apakah Ki Lurah dapat masuk ke dalam kesatuan kami?” bertanya seorang prajuritnya.

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku bukan seorang lurah prajurit yang sebenarnya. Karena itu, aku pun harus kembali ke kesatuanku”

“Kesatuan yang mana?” bertanya prajurit yang lain.

“Bukankah aku berasal dari padepokan di Hutan Jabung?”

Prajurit itu menarik nafas. Katanya, “Ki Lurah sudah putus segala macam ilmu kanuragan. Karena itu, Ki Lurah dapat meninggalkan padepokan dan benar-benar menjadi seorang prajurit. Maka Ki Lurah pun akan benar-benar diangkat menjadi seorang lurah prajurit pada usia yang masih muda”

Paksi tersenyum. Katanya, “Aku harus kembali ke padepokan. Masih banyak yang harus aku pelajari. Pada saatnya aku akan mengabdikan diriku bagi Pajang. Mungkin menjadi seorang prajurit, mungkin lewat jalur pengabdian yang lain”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Namun prajurit yang lain pun berkata, “Kami berharap bahwa Ki Lurah akan sering datang ke kesatuan kami”

“Ya. Aku akan berusaha untuk datang mengunjungi kalian di barak kalian”

“Di barakku tidak ada seorang pemimpin yang memiliki tataran ilmu sebagaimana Ki Lurah Paksi”

“Jangan membuat penilaian atas atasanmu. Mereka tentu orang-orang berilmu. Kalian adalah prajurit yang diikat oleh paugeran serta kesetiaan terhadap pengabdian”

Ketika malam turun, maka di barak pasukan khusus yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu telah diselenggarakan pertemuan khusus untuk menyelenggarakan acara perpisahan.

Seorang prajurit yang lukanya masih belum sembuh, dengan haru berkata kepada Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi, “Kami belum pernah mendapat seorang pemimpin seperti Raden, seperti Pangeran dan seperti Ki Lurah Paksi”

“Tentu tidak. Tetapi karena pada saat terakhir kalian berjuang bersama kami, maka seakan-akan kami adalah orang-orang terdekat dengan kalian. Tetapi aku minta, bahwa kalian akan dapat kembali pada suasana semula di kesatuan kalian” berkata Raden Sutawijaya.

Sementara itu Pangeran Benawa pun berkata, “Keberadaan kami di antara kalian, jangan sampai merusakkan kesetiaan kalian kepada paugeran bagi seorang prajurit yang harus kalian taati. Aku adalah Pangeran Benawa, putera Kangjeng Sultan di Pajang. Atas nama Ayahanda, Pajang mengucapkan terima kasih kepada kalian. Tetapi tentu dengan pesan, bahwa pada kalian masih dituntut kesediaan kalian meningkatkan perjuangan atas dasar pengabdian lebih tinggi lagi”

Para prajurit itu mengangguk-angguk.

“Besok akan ada upacara penyerahan kembali pasukan khusus ini. Upacara itu akan dihadiri oleh Ki Gede Pemanahan, yang secara resmi akan mewakili Ayahanda Kangjeng Sultan Hadiwijaya”

Malam itu dilalui dengan suasana yang berbaur antara kegembiraan dan keharuan. Namun mereka bukanlah orang-orang yang cengeng. Mereka berhadapan dengan kenyataan dan ketahanan jiwa seorang prajurit. Karena itu, maka mereka jalani tugas-tugas mereka dengan hati lapang.

Demikianlah, di hari berikutnya, maka di halaman barak itu telah dilakukan penyerahan kembali para prajurit dari pasukan khusus itu kepada kesatuan mereka masing-masing.

Penyerahan kembali itu pun ternyata tidak luput dari perhatian para pengikut Harya Wisaka. Mereka mengartikan serah terima itu sebagai satu babak akhir dari usaha perburuan terhadap Harya Wisaka, karena Harya Wisaka sudah dinyatakan mati.

“Mereka tidak akan memburunya lagi” desis seorang petugas sandi yang ditugaskan Harya Wisaka untuk mengamati para prajurit dari pasukan khusus itu.

“Ternyata ketajaman penglihatan orang-orang Pajang hanya sampai sekian”

Kawannya tertawa. Katanya, “Permainan Harya Wisaka kali ini benar-benar meyakinkan”

“Sst. Jangan didengar orang lain, meskipun orang-orang di lingkungan kita sendiri. Orang-orang kita pun harus yakin, bahwa Harya Wisaka telah mati”

“Apakah pernyataan itu tidak mengendorkan perjuangan para pengikut Harya Wisaka?”

“Mungkin. Tetapi Pajang akan kehilangan kewaspadaan”

Demikianlah, saat matahari sepenggalah, maka upacara itu pun sudah selesai. Para prajurit mendapat kesempatan untuk beristirahat di rumah mereka masing-masing. Jika saatnya mereka kembali, maka mereka tidak lagi kembali ke barak pasukan khusus itu. Tetapi mereka akan kembali ke barak pasukan mereka semula.

Dalam pada itu, ketika Ki Gede Pemanahan yang menghadiri upacara serah terima itu sudah meninggalkan barak itu, maka Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah bersiap-siap untuk kembali ke barak. Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa serta Paksi telah mendapat ijin dari Ki Gede Pemanahan serta Kangjeng Sultan, untuk kembali ke padepokan mereka di Hutan Jabung. Namun mereka pun sudah mendapat ijin pula untuk membantu mencari Harya Wisaka dengan cara mereka.

“Kita akan kembali ke padepokan sore nanti bersama-sama Ki Waskita” berkata Raden Sutawijaya.

Karena itu, untuk beberapa saat mereka masih harus menunggu di barak itu. Ki Waskita lah yang sudah berjanji untuk datang ke barak itu. Kemudian mereka akan berangkat bersama-sama ke padepokan di Hutan Jabung.

Ketika matahari mulai turun, maka Ki Waskita pun benar-benar telah singgah di barak pasukan khusus yang telah ditinggalkan sebagian besar penghuninya. Hanya para petugas dari kesatuan lain tetap berada di barak itu.

“Kapan kita akan berangkat?” bertanya Ki Waskita.

“Kapan saja menurut Ki Waskita” jawab Raden Sutawijaya.

“Pada dasarnya kami sudah siap. Kita tinggal menunggu Ki Waskita. Demikian Ki Waskita memerintahkan kami berangkat, maka kami pun akan berangkat”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan segera berangkat. Tetapi beri kesempatan aku minum lebih dahulu”

“O. Silahkan, Ki Waskita” jawab Raden Sutawijaya.

Paksi lah yang kemudian bangkit untuk mengambil minuman ke dapur Untuk beberapa saat mereka masih berada di barak itu. Paksi masih sempat berceritera tentang dua orang yang akan membunuhnya ketika ia mengunjungi ibu dan adiknya.

Ki Waskita menarik nafas panjang. Katanya, “Kau harus bersyukur bahwa kau berhasil menyelamatkan diri”

“Ya, Ki Waskita”

“Namun dengan demikian, kita tahu bahwa rumah itu masih tetap diawasi oleh para pengikut Harya Wisaka”

“Untuk apa sebenarnya Harya Wisaka mengawasi rumah Paksi, Ki Waskita? Bukankah Ki Tumenggung sudah tidak ada di rumah?”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Agaknya sasarannya memang Paksi”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Begitu benci ayahnya kepadanya. Apalagi setelah keduanya dengan tegas berdiri berseberangan.

“Ikatan di antara para pengikut Harya Wisaka masih juga rapi” berkata Ki Waskita, “sehingga ketika kau berhasil menangkap seorang di antara mereka, maka dalam waktu singkat mereka dapat menyiapkan orang lain untuk membungkam orang yang telah kau tangkap itu”

Paksi mengangguk-angguk.

Demikianlah, setelah Ki Waskita meneguk minumannya, maka ia pun berkata, “Marilah. Kita berangkat. Berhati-hatilah di jalan. Di antara kita ada dua sasaran penting. Paksi yang sudah dijatuhi hukuman mati oleh ayahnya dan Pangeran Benawa yang membawa cincin kerajaan itu”

Pangeran Benawa mengerutkan dahinya. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Ya. Ada dua sasaran. Tetapi bukankah kuda kita mampu berlari kencang?”

Ki Waskita tersenyum. Tetapi ia tidak berkata apa-apa lagi.

Demikianlah, maka Ki Waskita, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi itu pun segera minta diri kepada pemimpin prajurit yang bertugas di barak itu untuk kembali ke padepokan.

Sejenak kemudian, maka empat orang penunggang kuda telah menyusuri jalan yang menuju ke Hutan Jabung. Jalan yang semakin lama terasa semakin sepi. Apalagi ketika mereka sudah memasuki jalan kecil yang menuju ke hutan itu.

Ternyata mereka tidak menemui hambatan di sepanjang perjalanan mereka yang memang tidak terlalu panjang itu.

Dalam satu dua hari, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi itu menjalani kehidupan mereka di padepokan sebagaimana mereka lakukan sebelum mereka meninggalkan padepokan di pinggir Hutan Jabung itu. Namun pembangunan padepokan di bawah pimpinan Ki Kriyadama itu sudah menjadi semakin nyata. Beberapa bangunan telah berwujud. Sedangkan yang lain sudah sampai pada tahap-tahap akhir. Tinggal kemudian sampai pada tahap-tahap penyelesaian pada bagian-bagian yang rumit dan mempercantiknya.

Seperti sebelum mereka meninggalkan padepokan, maka mereka pun ikut bekerja sebagaimana para cantrik yang lain. Mereka pun ikut pula memasuki sanggar terbuka dan sanggar tertutup untuk mengikuti latihan-latihan yang menjadi semakin berat. Meskipun Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi sudah berada pada tataran yang lebih tinggi, namun mereka pun dengan tekun ikut pula mengikuti latihan-latihan bersama para cantrik lainnya. Dengan demikian, maka akan dapat menjadi pendorong bagi para cantrik yang lain.

Namun demikian, Ki Waskita, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi berada di padepokan, maka pola-pola latihan pun mulai berubah. Orang-orang berilmu tinggi itu mendapat tugas khusus untuk membimbing para cantrik itu dalam latihan-latihan khusus, sehingga dengan demikian, kemampuan para cantrik itu akan meningkat lebih cepat.

Namun dalam pada itu, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi, tidak melupakan kesediaan mereka untuk ikut mencari Harya Wisaka dengan cara mereka.

Tetapi pertanyaan pun timbul di antara mereka, “Cara yang bagaimana yang akan mereka tempuh?”

Raden Sutawijaya tersenyum sendiri ketika mereka berbicara tentang maksud mereka untuk ikut mencari Harya Wisaka.

“Darimana kita akan mulai” desis Raden Sutawijaya itu.

“Itulah yang sulit” sahut Pangeran Benawa. “Para petugas sandi dan para prajurit sudah melakukan sejak lama. Tetapi mereka masih belum menemukannya. Padahal Harya Wisaka itu sedang dalam keadaan luka cukup parah”

“Apakah kita dapat minta petunjuk kepada Ki Waskita dan Ki Panengah? Kita memang tidak akan melibatkan orang lain. Tetapi bukankah kita dapat mendengarkan petunjuk-petunjuk orang lain yang kita percaya dan kita yakini akan membantu kita?” bertanya Paksi.

“Aku tidak berkeberatan” berkata Raden Sutawijaya. Sementara itu, Pangeran Benawa pun menyahut, “Aku sependapat. Kita dapat minta petunjuk mereka”

Ketiganya pun sepakat untuk berbicara dengan Ki Panengah dan Ki Waskita setelah mereka selesai dengan tugas-tugas mereka.

Ketika kemudian para cantrik termasuk Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi selesai berlatih, sementara malam menjadi semakin malam, Raden Sutawijaya pun menemui Ki Panengah dan Ki Waskita, mohon waktu untuk menghadap.

“Silahkan, silahkan Raden”

“Aku, Adimas Pangeran Benawa dan Paksi ingin berbicara tentang usaha memburu Harya Wisaka”

“Baiklah, Raden. Aku dan Ki Waskita menunggu di pringgitan”

“Terima kasih atas perkenan Ki Panengah dan Ki Waskita. Kami akan mandi dahulu”

Demikianlah, setelah Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi mandi dan mengganti pakaian mereka yang basah oleh keringat, maka mereka pun segera menghadap Ki Panengah dan Ki Waskita di pringgitan.

“Apa yang ingin Raden bicarakan?” bertanya Ki Panengah.

Raden Sutawijaya beringsut setapak. Dengan nada datar ia pun berkata, “Kami ingin berbicara tentang usaha kami untuk ikut serta mencari Harya Wisaka”

Ki Panengah itu pun tersenyum. Katanya, “Aku mengerti. Kalian tentu terpanggil untuk melakukannya. Apalagi setelah kalian membawa pasukan khusus memburunya sampai jauh ke selatan. Namun ternyata Harya Wisaka itu masih berada di kotaraja”

“Ki Gede memang sudah memperhitungkan” sahut Ki Waskita. “Itulah sebabnya, aku dipanggil untuk ikut menjebaknya. Tetapi kami gagal menangkap Harya Wisaka”

“Rasa-rasanya Pajang tidak akan dapat tenang sebelum Harya Wisaka itu tertangkap. Selama ia masih memimpin pasukannya, maka setiap saat ia akan dapat menggerakkan pasukannya yang kuat untuk menyerang kotaraja”

“Ya. Pasukannya tersebar dimana-mana. Terutama di Pegunungan Kendeng” desis Ki Waskita. “Hanya jika Harya Wisaka tertangkap, maka pasukannya akan bercerai berai”

“Apakah kabar kematiannya itu tidak berpengaruh terhadap para pengikutnya?” bertanya Paksi.

“Para pemimpinnya tentu tahu, bahwa Harya Wisaka tidak mati”

Paksi mengangguk-angguk.

“Nah, kami ingin mendapat petunjuk, darimana kami harus mulai. Apakah kami harus mengawasi setiap pintu di seluruh kotaraja, atau kami sebaiknya berkeliaran siang dan malam di jalan-jalan dan lorong-lorong sempit atau bagaimana menurut pendapat Ki Panengah dan Ki Waskita?”

“Memang rumit” desis Ki Panengah. “Harya Wisaka tentu berada di satu tempat yang tersembunyi. Ia tidak akan pernah keluar dari persembunyiannya sebelum ia sembuh benar serta tenaga dan kemampuannya pulih kembali”

“Para prajurit dan para petugas sandi sudah mencarinya dari rumah ke rumah. Bukan hanya rumah-rumah orang yang dicurigai, tetapi setiap rumah di kotaraja sudah dimasuki. Tetapi para prajurit itu tidak juga dapat menemukannya”

Ki Panengah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang sulit untuk mencari seorang yang berilmu tinggi dan mempunyai pengikut yang luas. Banyak orang yang bersedia melindunginya dan bahkan siap menanggung akibatnya jika perlindungannya itu kemudian diketahui oleh para prajurit Pajang”

“Kita tidak dapat sekedar menunggu”

“Aku mengerti” sahut Ki Panengah, “tetapi kalian pun tidak boleh tergesa-gesa. Apa yang terjadi pada Paksi ketika ia menengok ibu dan adiknya, memperingatkan kalian, bahwa di kotaraja bertebaran orang-orang yang memusuhi kalian. Nampaknya mereka dengan mudah mengenali kalian, sedangkan kalian sangat sulit untuk mengenali mereka”

“Tetapi kami pun dapat membuat diri kami tidak mudah dikenali” berkata Pangeran Benawa.

“Menyamarkan diri akan dapat menjadi salah satu cara untuk mencari jejak Harya Wisaka. Tetapi kalian tidak boleh menyesalinya jika usaha itu menjadi sia-sia”

“Tetapi bukankah kita harus berusaha?” desis Pangeran Benawa.

“Ya. Kita harus berusaha”

Namun dalam pada itu, Ki Waskita pun berkata, “Kita tidak harus langsung menemukan Harya Wisaka. Mungkin kita dapat menemukan isterinya lebih dahulu. Bukankah kalian pernah mengenal wajah Sekarsari?”

“Ya, Ki Waskita” sahut Raden Sutawijaya.

“Mungkin juga pembantu-pembantunya yang dapat kita kenali. Ki Tumenggung Suryanata, misalnya”

“Ya, Ki Waskita. Aku mengenal Ki Tumenggung Suryanata dengan baik” sahut Pangeran Benawa.

“Ki Rangga Darmasasmita”

“Ya”

“Demang Kongas. Dan masih beberapa orang lagi”

“Sebagian dari mereka tentu sudah berada di luar kotaraja” desis Raden Sutawijaya.

“Ya. Bahkan mungkin mereka sempat keluar masuk pintu gerbang utama kotaraja. Mungkin sebagai penjual gula kelapa atau sebagai sais gerobag yang membawa ketela pohon”

“Bukankah kami dapat melakukannya pula?”

“Tetapi bagaimanapun juga ada bedanya” desis Ki Waskita.

“Apa bedanya?”

“Kita adalah orang-orang yang mencari dan mereka adalah orang-orang yang dicari”

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun mengangguk-angguk. Dengan nada datar Raden Sutawijaya pun berkata, “Mereka hanya berkepentingan untuk menyamarkan diri. Sedangkan kita, selain menyamarkan diri juga harus menemukan orang-orang yang sedang menyamar”

“Tetapi cara itu dapat ditempuh. Salah satu usaha yang dapat kalian lakukan. Bukankah para petugas sandi juga berusaha menemukan mereka dengan cara yang hampir sama. Mereka bahkan mempunyai keuntungan, bahwa mereka bukan orang-orang yang sudah banyak dikenal sebagaimana Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi”

“Ya” Pangeran Benawa mengangguk-angguk.

Sementara itu Paksi justru menundukkan kepalanya. Terasa detak jantungnya menjadi semakin cepat.

“Bagaimana menurut pendapatmu, Paksi?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sedang berpikir tentang ayahku. Ia adalah salah seorang dari para pengikut Harya Wisaka. Aku akan dapat mengenalinya dengan baik, meskipun seandainya ayahku berpakaian dan berlaku seperti seorang pengemis. Tetapi ayahku pun akan dengan mudah mengenali aku, meskipun aku bertingkah laku seperti orang gila sekalipun”

“Namun bagaimanapun juga kita harus berusaha” desis Raden Sutawijaya.

“Ya” Paksi mengangguk.

“Mungkin yang akan kita lakukan akan mirip dengan apa yang akan dilakukan oleh para petugas sandi sebelum kita menemukan cara lain yang lebih baik”

“Ya” desis Paksi.

“Kita sudah berpengalaman dalam pengembaraan kita di lereng selatan Gunung Merapi” berkata Pangeran Benawa.

“Aku sama sekali tidak menyamar sebagai siapa-siapa. Aku mengembara sebagai aku sendiri. Sementara itu, Pangeran memang tidak dikenal oleh orang-orang padesan itu”

“Kau benar, Paksi” berkata Pangeran Benawa. “Tetapi kita untuk sementara tidak mempunyai cara lain. Kita pun tidak dapat menjamin bahwa kita tidak akan bertemu dan berhadapan dengan Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

“Paksi” berkata Ki Waskita, “jika kau kemudian harus berselisih dengan ayahmu, itu bukan karena kau seorang anak yang tidak tahu diri. Bukan seorang anak durhaka yang tidak tahu kebaikan orang tua. Tetapi kau tahu, bahwa ayahmu itu adalah seorang yang telah melawan Pajang. Seorang yang telah memberontak. Sehingga persoalannya menjadi jelas”

Paksi hanya menundukkan kepalanya. Jantungnya berdesir ketika Raden Sutawijaya itu pun berkata, “Kau tidak berdosa jika kau melawan ayahmu itu, Paksi. Selain kau mengemban tugas negara, kau juga sekedar mempertahankan hidupmu, karena pada suatu saat, akhirnya kau harus memilih, kau atau ayahmu yang harus mati”

Paksi menarik nafas dalam-dalam.

Namun akhirnya, cara itu pun akan dipergunakan untuk sementara sebelum mereka menemukan cara yang lebih baik. Pada hari-hari tertentu, terutama pada hari-hari pasaran di pasar gedhe, mereka akan memasuki kota dengan membawa segerobag kelapa ke pasar. Mungkin mereka akan bertemu dengan pengikut Harya Wisaka yang dapat mereka kenali, atau bahkan orang-orang terpenting di antara mereka.

Sebenarnyalah, pada hari pasaran di pasar gedhe, ketiga orang itu membawa segerobag ketela pohon memasuki kotaraja. Mereka pun langsung membawa gerobag mereka ke pasar.

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi ternyata tidak canggung-canggung lagi menjual hasil bumi itu. Sebelumnya mereka sudah mempelajari apa yang harus mereka lakukan, jika mereka membawa segerobag ketela pohon.

Di pasar itu, beberapa orang pedagang sudah menunggu. Mereka membeli ketela pohon dari mana pun untuk mereka jadikan gaplek yang dapat tahan lama. Di masa paceklik di daerah pegunungan yang tanahnya tidak subur, gaplek akan menjadi makanan pokok pengganti beras dan jagung.

Setelah gerobag mereka kosong, maka mereka bertiga tidak segera pergi meninggalkan pasar. Mereka masih duduk-duduk di pinggir jalan, tidak jauh dari pasar itu sambil mengamati orang-orang yang hilir mudik.

Tetapi mereka tidak melihat seorang pun yang dapat mereka kenali. Ketika seorang perempuan cantik dalam pakaian yang kusut lewat, Pangeran Benawa bergeser setapak. Namun kemudian dengan nada rendah ia pun berdesis, “Aku kira Bibi Sekarsari”

“Memang mirip” sahut Raden Sutawijaya. “Tetapi Bibi Sekarsari tentu akan nampak lebih tua tanpa merias wajahnya”

Namun setelah mereka melakukannya tiga empat kali, dan bahkan mereka bertiga sudah mencoba memasuki dan ikut berdesakan di pasar, mereka tidak menemukan seorang pun yang mereka yakini sebagai pengikut Harya Wisaka.

“Beberapa orang petugas sandi tentu berkeliaran pula di pasar ini” desis Raden Sutawijaya.

“Tetapi mereka tidak akan dapat langsung mengenali para pemimpin yang menjadi pengikut Harya Wisaka” sahut Pangeran Benawa.

“Belum tentu. Mungkin mereka sudah mengenal Ki Tumenggung Suryanata, atau Ki Rangga Darmasasmita atau……..”

”Sarpa Biwada” sambung Paksi.

Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa menarik nafas panjang. Tetapi mereka tidak menyahut.

Dalam pada itu, Ki Panengah dan Ki Waskita selalu mengikuti usaha Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi itu dengan saksama. Meskipun beberapa kali mereka tidak menemukan apa-apa, tetapi mereka tidak segera menjadi jemu. Bahkan mereka pun telah mengambil cara lain. Mereka membawa gerabah dengan kuda-kuda beban berkeliling lewat lorong-lorong kecil.

Tetapi mereka tidak pernah bertemu atau melihat orang-orang yang mereka cari.

Bahkan ketika mereka dengan sengaja membawa gerabah dengan kuda beban lewat di depan rumah Paksi, mereka tidak melihat seorang di dekat atau di sekitar regol halaman rumah itu. Meskipun mereka tetap menduga, bahwa rumah itu masih selalu diawasi, tetapi mereka tidak menemukan orang yang pantas dicurigai mengawasi rumah itu.

Namun dalam pada itu, ternyata Ki Waskita pun menjadi prihatin pula melihat Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi bekerja dengan tabah dan tanpa mengenal lelah untuk menelusuri jejak Harya Wisaka atau orang-orang terdekatnya.

Tetapi Ki Waskita sendiri seakan-akan berdiri di jalan simpang. Jika ia ikut langsung mencari jejak, akan dapat menimbulkan salah paham.

“Yang paling mungkin aku pancing adalah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, Ki Panengah” berkata Ki Waskita. “Tetapi apa kata orang yang mengetahui atau akhirnya mengetahui persoalannya?”

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam. “Aku mengerti, Ki Waskita. Kita pun harus menjaga perasaan Paksi. Bagaimanapun juga Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu adalah ayahnya. Sampai saat ini, Paksi seakan-akan masih bingung. Apa yang harus dilakukannya menghadapi sikap ayahnya, meskipun ia mempunyai dua alasan terpenting untuk melawan ayahnya”

Ki Waskita mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Paksi sadar sepenuhnya bahwa ayahnya akan membunuhnya. Kemudian Paksi pun sadar bahwa ayahnya telah memberontak. Tetapi ternyata bagi Paksi kedua alasan itu masih belum cukup untuk melupakan hubungan keluarga di antara mereka, sehingga Paksi masih tetap ragu-ragu”

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam. Ia menyadari kesulitan yang dihadapi oleh Ki Waskita jika ia akan langsung melibatkan diri dalam perburuan jejak Harya Wisaka melalui para pengikutnya.

Namun Ki Panengah itu pun kemudian bertanya, “Bagaimana dengan adik laki-laki Paksi itu?”

“Kita belum tahu anak itu akan dibawa kemana. Aku tidak yakin bahwa anak itu dibawa ke perguruan Ki Ajar Wisesa Tunggal. Meskipun Ki Tumenggung pernah ingin menyerahkan Paksi ke perguruan itu, tetapi bahkan sebaliknya Paksi telah mengalahkan orang yang bernama Semburwangi, namun adik laki-laki Paksi itu tidak akan dibawa kesana. Jika anak itu dibawa kesana, maka orang-orang yang memburunya akan dengan mudah melacaknya”

“Ya” jawab Ki Panengah, “tetapi apakah kita tidak mencobanya menghubungi Ki Ajar Wisesa Tunggal?”

“Apakah Ki Ajar akan bersedia membantu kita?”

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Menemui Ki Ajar Wisesa Tunggal mungkin memang adalah usaha yang sia-sia. Tetapi kita dapat mencobanya”

Tetapi Ki Waskita pun berkata, “Aku ingin memperingatkan sifat-sifat Ki Ajar Wisesa Tunggal, Ki Panengah. Apakah kira-kira ia akan dapat diajak bekerja bersama? Ia akan menganggap kita orang-orang yang tidak berarti dan memperlakukan kita sesuka hatinya sendiri. Tetapi pada batas kesabaran itu, akan dapat terjadi hal-hal yang justru tidak kita inginkan”

Ki Panengah mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti, Ki Waskita”

Ki Waskita menarik nafas dalam-dalam.

“Jadi, bagaimana kita dapat melacak anak itu?”

“Sulit, Ki Panengah. Sesulit melacak jejak ayahnya itu sendiri. Tetapi kita memang harus mencari jalan”

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Waskita itu pun berkata, “Ki Panengah, jika tidak ada jalan lain, maka aku akan menempuh jalan yang satu itu, apa pun akibatnya. Mungkin kemudian jantung Paksi akan teriris. Tetapi mungkin pula ia akan bersyukur”

Ki Panengah menarik nafas dalam-dalam.

Namun ternyata Ki Waskita masih juga belum dapat mengambil keputusan. Sementara itu, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi masih juga berusaha untuk melacak jejak Harya Wisaka dengan caranya. Tetapi setelah beberapa lama mereka lakukan, namun masih juga belum terdapat kemajuan apa-apa.

Dalam pada itu, hari-hari Ki Waskita selanjutnya dilewatinya dengan penuh kebimbangan. Ia melihat satu jalan yang dapat ditempuhnya. Tetapi jalan itu akan dapat membawa akibat yang kurang baik bagi Paksi. Bukan hanya karena jalan yang satu itu memungkinkan ayahnya dapat tertangkap, tetapi ada sisi-sisi lain yang akan dapat menghentak ketenangan jiwa Paksi.

Dengan demikian, maka Ki Waskita itu seakan-akan telah berubah menjadi seseorang perenung. Kebimbangan yang sangat telah mengguncang perasaannya siang dan malam, sehingga terasa pengaruhnya terhadap kehidupan Ki Waskita itu sehari-hari.

Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi yang akrab dengan Ki Panengah dan Ki Waskita, ternyata menangkap perubahan sikap Ki Waskita itu.

“Apa yang terjadi dengan Ki Waskita, Ki Panengah?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Aku tidak dapat mengatakannya, Raden”

“Apakah sebaiknya kami bertanya langsung kepada Ki
Waskita saja?”

“Biarlah Paksi yang bertanya”

“Aku?” desis Paksi.

“Ya, kau, Paksi”

Paksi justru menjadi berdebar-debar. Kenapa harus dirinya yang bertanya kepada Ki Waskita?

Namun Ki Panengah itu pun mengulanginya, “Sebaiknya kau sajalah yang bertanya, Paksi, meskipun itu juga tidak menjamin bahwa jawab Ki Waskita itu akan memuaskanmu. Mungkin kau justru menjadi bingung. Tetapi mungkin pula sebaliknya”

“Aku menjadi berdebar-debar, Guru”

“Tetapi mungkin Ki Waskita tidak akan menjawab sama sekali”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya”

“Jangan tergesa-gesa. Kau dapat menemuinya nanti malam atau esok. Bukankah kau besok tidak akan memasuki kotaraja dengan penyamaran?”

“Tidak, Ki Panengah. Mungkin pekan depan, jika pasar gedhe itu sedang pasaran”

“Jika demikian, temuilah Ki Waskita itu esok. Pagi atau siang atau sore”

“Baik, Ki Panengah”

Hari itu Paksi pun telah mempersiapkan diri untuk menemui dan bertanya langsung kepada Ki Waskita, kenapa Ki Waskita nampak menjadi murung. Besok ia akan menemuinya dan berbicara dengan gurunya itu.

Namun sebelum Paksi benar-benar menghadap, anak muda itu sudah menjadi berdebar-debar. Jantungnya serasa berdetak semakin cepat.

“Tetapi aku harus berbicara dengan guru untuk mendapat gambaran yang jelas tentang keadaannya”

Di hari berikutnya, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi tidak pergi ke kotaraja. Mereka telah ikut terjun ke dalam kesibukan menyelesaikan pembangunan padepokan di Hutan Jabung itu.

Namun Paksi pun nampak gelisah. Ia mendapat tugas untuk menemui Ki Waskita yang di hari-hari terakhir nampak murung. Tetapi Paksi tidak melakukannya secara khusus. Ia tidak ingin datang menemui gurunya dan mohon waktu untuk berbicara bersungguh-sungguh. Namun Paksi ingin menemui dan berbicara dengan Ki Waskita itu justru pada saat mereka beristirahat.

Sebenarnyalah, ketika matahari sampai di puncak, maka mereka yang bekerja menyelesaikan padepokan itu pun beristirahat. Mereka mendapat sebungkus nasi dengan lauk-pauknya bagi makan siang mereka.

Seperti biasanya, Ki Waskita memang lebih senang ikut makan bersama mereka yang bekerja menyelesaikan padepokan itu. Ki Panengah juga sering melakukannya, tetapi tidak sesering Ki Waskita.

Namun ketika Ki Waskita mendekati Ki Kriyadama yang juga sedang makan bersama mereka yang sedang beristirahat itu,

Paksi mendekatinya sambil berdesis, “Guru. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan”

“He?” Ki Waskita memandang Paksi dengan kerut di kening.

“Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, Guru”

“Kita akan makan siang dan beristirahat”

“Sambil makan siang, Guru. Persoalannya bukan persoalan yang penting”

Ki Waskita itu pun kemudian duduk di sebatang balok kayu yang terbujur di belakang bangunan yang sedang dikenakan bersama Paksi sambil memegang sebungkus nasi bagi makan siang mereka.

“Apa yang ingin kau tanyakan, Paksi?”

“Maaf, Guru. Bukan maksudku mengusik perasaan Guru”

Ki Waskita memandang Paksi dengan tajamnya. Dengan nada dalam ia pun berkata, “Katakanlah. Jika saja aku dapat menjawab, maka aku akan menjawabnya”

Paksi memang masih saja ragu-ragu. Tetapi rasa-rasanya ia mengemban tugas dari Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa. Paksi dipercaya untuk berbicara dengan gurunya, kenapa pada hari-hari terakhir Ki Waskita nampak murung dan bahkan gelisah.

“Guru” berkata Paksi kemudian, “sebelumnya aku mohon maaf. Mudah-mudahan tangkapan kami atas penglihatan kami pada hari-hari terakhir ini tidak benar”

Ternyata Ki Waskita segera tanggap. Karena itu, ia pun tersenyum sambil bertanya, “Siapakah yang kau maksud dengan kami?”

Paksi mengerutkan dahinya. Katanya, “Aku, Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa”

“O. Terima kasih atas perhatian kalian. Tetapi apakah yang telah kalian lihat?”

“Menurut penglihatan kami, Guru pada hari-hari terakhir ini nampak murung”

Ki Waskita tertawa. Katanya, “Apakah aku menjadi murung? Atau bahkan seperti seorang gadis yang merajuk?”

“Tidak. Tidak, Guru. Dalam pengamatan kami, nampaknya ada sesuatu yang Guru pikirkan. Justru masalah yang agaknya sangat rumit”
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jejak Dibalik Kabut Jilid 25"

Post a Comment

close