Jejak Dibalik Kabut Jilid 23

Mode Malam
Nyi Tumenggung tidak menjawab. Tetapi air matanya menjadi semakin banyak mengalir.

Raden Sutawijaya tidak mendesaknya. Tetapi Raden Sutawijaya itu pun menduga, bahwa persoalannya agaknya tidak hanya sekedar perbedaan sikap antara Paksi dan ayahnya terhadap Pajang.

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Bersama Raden Sutawijaya ia duduk pula di ruang dalam menunggui ibunya untuk beberapa lama.

Setelah tangis ibunya agak mereda, maka Paksi itu pun bertanya, “Apakah Ibu sudah mengambil sikap setelah adikku itu dibawa oleh ayah? Misalnya, apakah Ibu akan tetap tinggal di rumah ini atau Ibu ingin tinggal di tempat lain. Misalnya jika masih ada sanak saudara kita yang dapat Ibu percaya untuk menjadi tempat tinggal Ibu untuk sementara. Bukan apa-apa. Tetapi sekedar agar Ibu tidak merasa terlalu sepi”

Ibunya tidak segera menjawab.

“Mungkin Paman Wanakerti? Atau Paman Sindumurti, atau siapa?”

“Sejak semula aku tidak begitu akrab dengan mereka, Paksi. Lagipula pada masa yang kalut ini aku tidak mengetahui sikap mereka dengan pasti”

Paksi mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia pun berkata, “Segala sesuatunya terserah kepada Ibu”

Ibunya tidak menjawab. Sementara itu Raden Sutawijaya pun berkata, “Mungkin Bibi memang kesepian di rumah ini. Tetapi jika Bibi kehendaki, Bibi tidak usah menjadi cemas, karena para prajurit atau petugas sandi akan mengawasi dan menjaga rumah ini”

“Terima kasih, Raden” jawab Nyi Tumenggung, “agaknya untuk sementara aku masih akan tetap tinggal di rumah ini. Di rumahku sendiri”

“Ki Tumenggung tidak akan dapat masuk lagi ke dalam rumah ini untuk mengambil anaknya yang bungsu” berkata Raden Sutawijaya kemudian.

Nyi Tumenggung itu mengangguk-angguk.

“Aku akan sering pulang, Ibu” berkata Paksi kemudian.

“Jangan, Paksi. Kau tidak usah terlalu sering pulang. Jalan dari Hutan Jabung sampai kemari tentu akan menjadi sangat berbahaya. Kita dapat membayangkan sekelompok orang yang dipimpin oleh Harya Wisaka atau oleh ayahmu akan mencegatmu di perjalanan. Aku sekarang tidak meragukan kemampuanmu yang tinggi. Tetapi aku memperhatikan keterbatasanmu. Betapapun tinggi ilmu seseorang, tetapi tentu ada batasnya. Kau tidak akan dapat melawan sekelompok orang yang juga mempunyai bekal ilmu yang tinggi. Karena itu, kau tidak usah terlalu sering pulang. Aku berterima kasih bahwa para prajurit dan petugas sandi akan mengawasi dan menjaga rumah ini”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah, Ibu. Aku akan selalu mengingat pesan Ibu”

Ibunya memandang Paksi dengan mata yang basah. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Namun kata-kata yang sudah hampir diucapkannya itu ditelannya kembali. Yang kemudian terloncat dari bibirnya adalah, “Hati-hatilah, Paksi. Jiwamu benar-benar terancam”

Paksi mengangguk. Katanya, “Ya, Ibu”

Sementara itu Raden Sutawijaya pun berkata, “Aku akan minta kepada ayah, agar pengawasan terhadap rumah ini mendapat perhatian lebih banyak”

“Terima kasih, Raden” sahut Nyi Tumenggung.

Demikianlah, beberapa saat kemudian, setelah Paksi sempat berbincang dan mencoba menenangkan hati adik perempuannya, maka ia pun minta diri.

“Aku dan Raden Sutawijaya masih akan menghadap Ki Gede Pemanahan lagi, Ibu, sebelum aku kembali ke Hutan Jabung. Tetapi aku dan Raden Sutawijaya nanti tidak singgah lagi kemari. Kami akan langsung kembali ke Hutan Jabung”


Nyi Tumenggung mengangguk. Katanya, “Selamat jalan, Raden. Terima kasih atas perhatian Raden”

Keduanya kemudian meninggalkan Nyi Tumenggung dan anak perempuannya dalam keadaan yang sangat muram. Tetapi Paksi mempercayakan keselamatan ibunya kepada para petugas yang mengamati rumah itu.

Tetapi Paksi pun tahu, bahwa para prajurit itu bukan hanya sekedar menjaga keselamatan ibu dan adik perempuannya. Tetapi lebih dari itu, mereka mengawasi apakah ayahnya pulang lagi atau tidak.

“Kenapa ayah terlibat dalam pemberontakan ini?” bertanya Paksi di dalam hatinya. Tetapi pertanyaan yang lebih pribadinya muncul pula di dalam hatinya, “Kenapa ayah sampai hati untuk benar-benar membunuhku. Bahkan ayah telah berusaha menyingkirkan aku sejak persoalan Harya Wisaka belum muncul ke permukaan”

Di perjalanan kembali ke rumah Ki Gede Pemanahan, Paksi tidak banyak berbicara. Bahkan anak muda itu cenderung diam sambil menunduk, seakan-akan menghitung jumlah batu yang akan dilewatinya.

Raden Sutawijaya tidak mengganggunya. Ia tahu, pikiran anak itu sedang kalut.

Seperti yang dijanjikan, maka Raden Sutawijaya pun minta kepada ayahnya agar memerintahkan pengawasan rumah Nyi Tumenggung itu lebih mendapat perhatian.

“Jangan terjadi lagi, Ki Tumenggung dengan leluasa kembali pulang dan bahkan membawa anaknya”

“Aku sudah memerintahkannya” berkata Ki Gede Pemanahan.

“Paksi sudah menawarkan kepada ibunya, apakah ibunya itu berniat untuk tinggal pada sanak saudaranya agar tidak kesepian. Tetapi Nyi Tumenggung itu menolak, Ayah”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Maaf, Paksi. Bukan maksudku untuk mengumpankan ibumu. Tetapi bahwa ibumu tetap ingin tinggal di rumah itu, ada pula baiknya”

“Maksud Ayah untuk memancing Ki Tumenggung?”

“Ya. Semacam itulah. Bagaimanapun juga Ki Tumenggung sudah terlibat dalam pemberontakan ini. Jika kita dapat menangkap Ki Tumenggung, maka jalan kita menuju ke Harya Wisaka menjadi lebih dekat”

Paksi menarik nafas panjang. Ia pun kemudian bergumam perlahan, “Aku mengerti, Ki Gede”

“Syukurlah. Kau pun tentu mengerti, apa yang akan terjadi terhadap ayahmu jika ayahmu itu tertangkap”

Paksi mengangguk sambil menjawab, “Mengerti, Ki Gede”

“Semuanya itu terpaksa dilakukan karena sikap ayahmu itu sendiri, Paksi”

“Ya, Gede”

“Baiklah. Kau sendiri tidak perlu cemas, bahwa kau akan ikut dianggap bersalah. Kau sudah menunjukkan sikapmu. Karena itu, kau bukan lagi bagian dari ayahmu”,

“Terima kasih, Ki Gede”

Ketika kemudian Raden Sutawijaya minta diri untuk kembali ke Hutan Jabung, maka Ki Gede pun berpesan seperti pesan Nyi Tumenggung Sarpa Biwada kepada Paksi, “Berhati-hatilah. Harya Wisaka dan Ki Tumenggung Sarpa Biwada tidak berdiri sendiri. Maksudku, mereka mempunyai kekuatan yang cukup. Mungkin sekelompok di antara mereka berkeliaran di sepanjang jalan ke Hutan Jabung. Atau bahkan mereka sengaja mengawasi jalan yang sering dilalui oleh anak-anak muda yang berada di Hutan Jabung”

“Baik, Ayah. Kami akan berhati-hati”

“Aku akan selalu menghubungi kalian untuk memberitahukan perkembangan keadaan yang terakhir. Mudah-mudahan aku segera dapat menyelesaikan tugasku, menangkap kembali Harya Wisaka. Tetapi aku pun menyadari bahwa Harya Wisaka itu sangat licik dan licin”

“Terima kasih, Ayah. Berita tentang perkembangan terakhir memang sangat kami perlukan”

Demikianlah, sejenak kemudian maka Raden Sutawijaya dan Paksi pun telah berpacu menempuh jalan kembali ke Hutan Jabung.

Sementara itu, para petugas sandi pun bekerja semakin keras untuk mengetahui persembunyian Harya Wisaka. Sedangkan pengawasan atas rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun menjadi semakin cermat.

Tetapi Ki Tumenggung Sarpa Biwada juga tidak terlalu bodoh untuk pulang kembali ke rumahnya dalam waktu dekat, karena ia pun tentu tahu, bahwa para prajurit atau petugas sandi tentu meningkatkan pengawasan atas rumahnya.

Sementara itu, pembangunan di Hutan Jabung pun berjalan terus. Beberapa buah di antara bangunan yang direncanakan, kerangkanya sudah nampak berdiri. Sementara itu, pembangunan dinding yang mengelilingi padepokan itu pun sedang dibangun.

Setiap hari pedati hilir mudik membawa bermacam-macam bahan bangunan. Kecuali bahan bangunan, ada juga pedati yang membawa persediaan bahan makan bagi para pekerja dan bakal penghuni padepokan yang sedang dibangun itu.

Pembangunan padepokan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh gejolak karena pemberontakan yang dilakukan oleh Harya Wisaka. Kesibukan para prajurit dan petugas sandi terutama terjadi di dalam kota, karena para pemimpin prajurit Pajang memperhitungkan bahwa Harya Wisaka masih berada di dalam kota.

Namun ternyata kemudian, bahwa para petugas sandi Pajang telah menangkap desas-desus bahwa Harya Wisaka telah berhasil lolos meninggalkan kota Pajang dan bahkan mulai melakukan kegiatan di beberapa tempat yang agak jauh dari kota.

Benturan-benturan kekerasan telah terjadi antara pasukan yang sempat dihimpun oleh Harya Wisaka dengan kelompok-kelompok dan perguruan-perguruan yang masih saja bermimpi untuk menguasai cincin kerajaan yang dibawa oleh Pangeran Benawa.

“Kekuatan yang dibangun oleh Harya Wisaka itu telah mampu mengguncang wilayah yang luas. Harya Wisaka sendiri memimpin pasukannya yang bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain” berkata seorang petugas sandi.

“Apakah para petugas sandi mendapat bukti gerakan Harya Wisaka itu?” bertanya Ki Lurah Surapada.

“Belum, Ki Lurah. Tetapi berita itu telah banyak didengar di luar kota”

“Dimana Harya Wisaka itu bergerak?”

“Harya Wisaka bergerak dengan cepat dari satu tempat ke tempat yang lain. Kadang-kadang tanpa meninggalkan bekas. Tetapi kebanyakan tempat-tempat yang menjadi medan geraknya mengalami kerusakan. Sementara itu, sebagaimana didengar oleh para petugas sandi, para pengikutnya semakin lama semakin banyak”

“Bukan. Bukan semakin lama semakin banyak. Tetapi pengikutnya yang semula memencar itu sempat dihimpunnya kembali”

“Antara lain adalah prajurit-prajurit Pajang sendiri”

“Ya. Karena itu kita harus berhati-hati. Di lingkungan kita sendiri agaknya ada orang-orang yang berpihak kepada Harya Wisaka. Mungkin karena janji-janji. Mungkin karena dendam, bahwa di dalam perang yang pernah terjadi, orang tuanya atau saudaranya atau siapa pun orang yang dikasihinya terbunuh oleh prajurit Pajang karena mereka berdiri berseberangan. Misalnya, mereka yang berpihak kepada Jipang”

“Ya, Ki Lurah”

“Satu pukulan lagi bagiku. Rasa-rasanya leherku memang semakin dekat dengan tiang gantungan”

“Ki Lurah”

“Pada saat Ki Tumenggung Sarpa Biwada sempat pulang untuk mengambil anaknya, aku sudah mengira bahwa aku akan menerima hukuman yang berat. Tetapi waktu itu Ki Gede mengampuniku. Sekarang, Harya Wisaka yang menurut perintah Ki Gede harus tetap dikurung di dalam kota, berhasil menyusup keluar dan bahkan telah membangun kekuatan. Nah, aku tidak akan berani bermimpi untuk bebas dari hukuman”

“Tetapi tugas Ki Lurah memang sangat berat. Bukankah memang sangat sulit untuk mengurung seseorang di dalam kota, sementara ada seribu jalan yang dapat dilaluinya untuk menembus keluar. Mungkin jalan-jalan sudah diawasi. Tetapi seseorang, apalagi Harya Wisaka, akan dengan mudah mencari jalan di sela-sela pengawasan itu, karena tidak mungkin para petugas sandi yang jumlahnya terbatas dapat mengawasi setiap jengkal tanah di seputar kita ini. Dinding kota bukan hambatan yang sulit untuk dilangkahi. Sungai dan parit-parit yang melintasi kota adalah jalan-jalan yang baik untuk disusupi”

“Tugas kita adalah memagari kemungkinan itu”

“Kecuali jika semua prajurit Pajang dikerahkan untuk mengepung kota dengan saling bergandengan tangan seperti anak bermain jamuran”

“Satu pembelaan yang baik. Tetapi apakah pembelaan seperti itu dapat kita ketengahkan? Apakah aku dapat mengampunimu seandainya kau membela diri dengan ceritera panjang seperti itu? Tidak. Aku tidak peduli semuanya itu. Dan Ki Gede pun dapat berkata bahwa semua igauan itu tidak berarti apa-apa. Yang dikehendaki oleh Ki Gede adalah, Harya Wisaka tidak menyusup keluar dan segera tertangkap”

Petugas sandi itu menundukkan kepalanya.

“Sudahlah. Aku tidak dapat menghukum seseorang karena kesalahan yang masih saja terulang-ulang. Jika besok aku harus menjalani hukuman, salamku buat saudara-saudara kita. Kalian harus melakukan tugas kalian semakin baik”

“Ki Lurah. Bukan Ki Lurah yang dihukum. Tetapi kami”

“Akulah yang harus bertanggung jawab kepada Ki Gede”

“Tetapi kami yang tidak dapat menjalankan tugas kami sebagaimana yang Ki Lurah perintahkan”

“Lupakan. Aku akan bertemu dengan Ki Gede Pemanahan”

Petugas sandi itu terdiam. Tetapi terasa getar jantungnya menjadi semakin cepat. Bahkan petugas sandi itu merasa betapa mereka menjadi demikian dungunya berhadapan dengan Harya Wisaka. Bahkan Ki Tumenggung Sarpa Biwada pun dapat mempermalukan mereka.

“Tetapi para petugas yang menjaga ruang tahanan Harya Wisaka pun dapat menjadi lengah, sehingga Harya Wisaka sempat melarikan dirinya” berkata prajurit itu di dalam hatinya.

“Kembalilah kepada tugasmu” berkata Ki Lurah Surapada, “aku akan menghadap Ki Gede”

Ketika Ki Gede mendengar laporan Ki Lurah Surapada, maka wajahnya nampak menegang. Namun ternyata jantung Ki Gede tidak cepat membara. Sebagai seorang yang telah kenyang makan pahit manisnya kehidupan, maka laporan itu diterimanya dengan hati-hati. Meskipun seketika itu terasa darahnya tersirap, namun kemudian Ki Gede itu pun menarik nafas dalam-dalam. Diendapkannya gejolak perasaannya di dasar jantungnya.

“Ki Lurah” berkata Ki Gede, “laporan itu baru berdasarkan kata orang. Para petugas sandi tidak selayaknya memberikan laporan sekedar kata orang. Mereka harus mendapatkan keterangan lebih terperinci dan disertai dengan bukti-bukti yang dapat meyakinkan”

“Ya, Ki Gede. Jika hal ini aku sampaikan kepada Ki Gede, maksudku agar Ki Gede mendengar desas-desus ini sebelum para petugas sandi dapat memberikan laporan yang lebih meyakinkan”

“Baiklah, Ki Lurah. Aku minta kau segera memerintahkan kepada petugas-petugasmu yang dapat kau percaya untuk menelusuri kebenaran berita ini”

“Ya, Ki Gede. Besok aku akan memerintahkan beberapa orang petugas sandi untuk mencari kebenaran berita ini”

“Tetapi petugasmu di dalam kota jangan lengah. Ki Lurah harus bekerja sama dengan kesatuan-kesatuan lain sehingga tugas ini tidak dilakukan oleh para petugas yang tidak saling berhubungan, sehingga memungkinkan terjadi salah paham”

“Ya, Ki Gede”

“Aku juga sudah memerintahkan kepada para senapati untuk menempatkan dirinya dalam gejolak yang terjadi. Setiap saat mereka dapat bergerak jika diperlukan”

“Ya, Ki Gede. Tetapi di samping para petugas sandi yang harus berhubungan dengan kesatuan-kesatuan yang ada, aku juga memerintahkan beberapa orang yang khusus, yang tidak dikenal oleh siapa pun juga, kecuali aku sendiri”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti”

“Terima kasih atas kesempatan yang Ki Gede berikan untuk memperjelas persoalan ini”

“Aku ingin segera mendapatkan laporan. Nanti aku harus menghadap Kangjeng Sultan. Kangjeng Sultan harus mendengar dari mulutku lebih dahulu daripada mendengar dari mulut orang lain, meskipun seandainya hanya sekedar desas-desus”

“Baik, Ki Gede. Aku akan melaksanakannya sejauh dapat aku lakukan”

“Jika berita itu benar, Ki Lurah, maka untuk kesekian kalinya aku gagal menjalankan perintah Kangjeng Sultan. Mungkin itu pertanda, bahwa aku sudah menjadi semakin tua. Penalaranku sudah menjadi semakin kabur, sehingga aku tidak lagi mampu mengemban tugas-tugas yang sekarang terasa sangat berat”

“Ampun, Ki Gede. Bukan Ki Gede yang tidak lagi mampu menjalankan tugas-tugas Ki Gede. Tetapi kamilah yang sudah menjadi sangat rapuh. Seperti yang pernah Ki Gede katakan, bahwa kami tidak lagi mampu mempertahankan citra prajurit Pajang”

“Sudahlah. Pergilah. Atur semua tugasmu”

“Baik, Ki Gede”

Sepeninggal Ki Lurah Surapada, maka Ki Gede pun telah menghadap Kangjeng Sultan Pajang, untuk memberikan laporan tentang desas-desus, bahwa Harya Wisaka sudah berada di luar kota.

“Kakang” terasa ketegangan mencengkam jantung Kangjeng Sultan, “apa sebenarnya yang Kakang kehendaki? Apakah Kakang sengaja tidak menjalankan perintahku karena Kakang merasa hak Kakang belum Kakang terima? Kakang, jika aku belum menyerahkan Tanah Mentaok itu tentu ada sebabnya. Jika Kakang menerima Tanah Mentaok, maka akhirnya tanah itu juga akan jatuh ke tangan Sutawijaya. Sedangkan Sutawijaya sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. Kenapa Kakang menjadi tergesa-gesa? Apakah Kakang tidak percaya kepadaku? Atau karena Kakang merasa iri. bahwa Tanah Pati sudah aku serahkan kepada Kakang Penjawi?”

“Tidak, Kangjeng Sultan. Kegagalan-kegagalanku tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tanah Mentaok. Hamba sama sekali tidak ingin segera menerima Tanah Mentaok yang berujud hutan yang lebat. Tetapi kegagalan-kegagalanku itu terjadi karena hamba memang sudah tua. Hamba sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa bagi Pajang. Karena itu, terserah kepada Sinuhun. Hukuman apa yang akan Sinuhun jatuhkan kepada hamba”

“Tidak” berkata Kangjeng Sultan Pajang, “dalam keadaan seperti ini aku tidak akan memecah-belah kekuatan Pajang. Aku tahu, bahwa pengaruh Kakang berakar jauh mencengkam sampai ke pusat bumi Pajang, sehingga jika aku mencoba mencabutnya, maka akar yang berpegang erat itu akan membongkar seluruh bangunan negeri ini. Bukan bangunan dalam ujud kewadagan. Tetapi Pajang akan menjadi rapuh dan hancur di bagian dalam tubuhnya”

“Hamba sama sekali sudah tidak berarti lagi, Sinuhun”

“Dengar, Kakang Pemanahan. Aku perintahkan Kakang memburu Harya Wisaka sampai kemanapun”

Ki Gede menarik nafas panjang. Katanya, “Hamba akan menjalankan perintah Sinuhun. Hamba tidak akan ingkar akan beban tugas ini. Hamba mohon restu”

“Kakang dapat mempergunakan kekuatan prajurit seberapa Kakang perlukan”

“Terima kasih, Kangjeng Sultan. Tetapi di samping prajurit, hamba masih memohon Sinuhun untuk dapat bekerja sama sesuai dengan cara yang akan hamba kemukakan kemudian”

“Kalau cara yang Kakang kemukakan itu masuk akal, maka aku tidak akan berkeberatan”

“Terima kasih. Semoga usaha kita akan segera berhasil”

Ki Gede pun kemudian segera mohon diri. Sebelum ia meninggalkan Kangjeng Sultan, Ki Gede masih berkata, “Dalam waktu dekat, hamba akan menghadap lagi untuk menyampaikan rencana itu”

Dalam pada itu, di keesokan harinya, Ki Lurah Surapada telah memerintahkan petugas-petugas terbaiknya untuk mengetahui kebenaran desas-desus bahwa Harya Wisaka telah berhasil menyusup keluar dan memimpin sendiri pasukannya yang membuat kekacauan di mana-mana. Pasukan yang dipimpin langsung oleh Harya Wisaka itu datang dan pergi seperti pasukan hantu maut yang garang dan bengis.

Sambil menanti berita dari para petugas sandi, maka Ki Gede telah menyiapkan pasukannya pula. Ki Gede tidak mempergunakan pasukan-pasukan yang telah ada. Tetapi Ki Gede telah membentuk pasukan yang baru, yang terdiri dari prajurit-prajurit pilihan.

“Aku sendiri akan memimpin pasukan itu untuk memburu Harya Wisaka” berkata Ki Gede.

Dalam pada itu, Ki Gede Pemanahan telah mengadakan latihan-latihan khusus bagi pasukannya yang jumlahnya tidak lebih dari tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari dua puluh lima orang. Tetapi kemampuan tiga kelompok prajurit itu benar-benar meyakinkan.

Prajurit-prajurit itu disiapkan untuk menghadapi pasukan Harya Wisaka yang garang, yang bagaikan pasukan hantu yang haus darah.

“Pasukan ini harus lebih baik dari pasukan yang terdiri dari hantu-hantu. Kalian harus dapat hadir dan menghilang dalam waktu yang cepat. Kalian harus dapat menyerang tanpa diketahui darimana datangnya. Tetapi jika lawan yang kalian hadapi terlalu kuat, maka kalian harus dapat menghilang tanpa diketahui kemana perginya”

Pada dasarnya, para prajurit yang disusun dalam pasukan khusus itu memang prajurit pilihan, sehingga dalam waktu dekat, Ki Gede dapat menempanya menjadi prajurit-prajurit linuwih.

Ki Gede sendiri turun untuk memberikan latihan-latihan kepada mereka. Memanjat tebing, meluncur dan berayun dengan tali, meloncati dinding-dinding yang tinggi, memanjat pepohonan, menyamarkan diri pada alam di sekitarnya, melekat pada dahan pepohonan, berdiri di celah-celah tebing berbatu padas, berendam dalam lumpur dan bahkan berdiri di tempat terbuka dengan dedaunan yang dilekatkan pada tubuh mereka. Para prajurit itu juga dilatih mempergunakan pelepah kelapa untuk melintasi jarak yang agak jauh. Bagaimana mereka naik dan membuat keseimbangan yang mapan, serta bagaimana mereka harus mengemudikan pelepah kelapa itu.

Dalam waktu dekat, pasukan kecil itu benar-benar menjadi pasukan yang pilih tanding. Mereka mampu mempergunakan segala macam benda sebagai senjata. Sepotong kayu, batu, pasir dan bahkan lidi yang sangat berbahaya jika menusuk mata.

Para senapati dan panglima perang di Pajang yang sempat menyaksikan latihan-latihan mereka menjadi berdebar-debar. Ternyata dalam usianya yang semakin tua, Ki Gede masih saja prajurit yang jarang dicari duanya. Rambutnya yang sudah beruban itu kadang-kadang terjurai saja jika ikat kepalanya sengaja dilepasnya karena ikat kepalanya dapat menjadi senjata dan perisai yang sangat baik.

“Ki Gede benar-benar seorang yang tidak ada duanya di Pajang” desis seorang senapati yang masih terhitung muda.

“Kemarahannya kepada Harya Wisaka, serta perasaan kecewanya terhadap para prajurit dan petugas sandi sehingga Harya Wisaka berhasil menyusup keluar kota, membuat jantung Ki Gede bagaikan terbakar”


“Tetapi sebenarnya ilmu Ki Gede jauh lebih dalam dari yang ditampakkannya dalam latihan-latihan yang berat itu. Jika kita sudah mengagumi latihan-latihan para prajurit yang dipimpinnya sendiri itu, maka apa yang dapat kita katakan tentang Ki Gede sendiri? Ki Gede memiliki ilmu kebal. Tameng waja seperti Kangjeng Sultan Trenggana di Demak. Ki Gede juga memiliki ilmu Bajra Geni, Gundala Sasra dan bahkan yang banyak disebut-sebut orang, tetapi aku belum pernah menyaksikannya sendiri, Ki Gede mempunyai Aji Panglimunan”

“Ya. Hanya Kangjeng Sultan Hadiwijaya sajalah yang dapat mengimbangi ilmunya”

“Masih ada orang yang disegani oleh Ki Gede Pemanahan?”

“Ki Penjawi?”

“Bukan”

“Siapa?”

“Ki Juru Martani”

Kawannya itu mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Ki Juru Martani. Tetapi Ki Juru lebih banyak berada di padepokannya. Ia tidak mengabdikan diri langsung kepada Kanjeng Sultan di Pajang”

“Yang akan memiliki kemampuan seperti Ki Gede adalah puteranya, Raden Sutawijaya. Pada usianya yang masih terhitung muda, ia sudah menunjukkan kelebihannya”

“Seperti Pangeran Benawa yang memiliki kelebihan sebagaimana ayahandanya”

Para senapati itu pun mengangguk-angguk. Mereka sangat mengagumi apa yang dapat dilakukan oleh Ki Gede Pemanahan. Mereka pun ternyata juga mengagumi Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa.

Kangjeng Sultan Hadiwijaya mengurungkan niatnya untuk memanggil dan bertanya kepada Ki Gede Pemanahan, kenapa ia masih belum mulai memasuki padang perburuan ketika ia mendapat laporan bahwa Ki Gede Pemanahan sendiri telah turun ke lapangan untuk memberikan latihan-latihan kepada para prajurit yang akan menjalankan tugas khusus.

Namun akhirnya yang ditunggu oleh Ki Gede Pemanahan itu pun datang. Dua orang petugas sandi melaporkan, bahwa pasukan yang membangkitkan keresahan di luar kota Pajang adalah pasukan yang dipimpin langsung oleh Harya Wisaka.

“Apakah para petugas sandi itu berhasil melihat sendiri Harya Wisaka?”

“Belum, Ki Gede” berkata Ki Lurah Surapada. “Tetapi setiap kali para petugas sandi itu mendengar namanya disebut-sebut. Beberapa orang yang rumahnya pernah disinggahi pasukan itu mengatakan, bahwa ada di antara mereka yang bernama Harya Wisaka. Orang yang justru sangat dihormati”

Ki Gede mengangguk-angguk. Katanya, “Jika demikian, aku harus memburunya. Aku sendiri”

“Ki Gede” berkata Ki Lurah Surapada, “sebaiknya Ki Gede memerintahkan para prajurit yang sudah ditempa itu untuk mencari Harya Wisaka. Mereka akan berhasil tanpa Ki Gede harus turun sendiri ke gelanggang”

“Tidak. Aku harus pergi”

“Perintahkan kepadaku untuk ikut bersama Ki Gede”

“Kau harus tetap berada di kota, Ki Lurah. Kau amati dengan sungguh-sungguh rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Rumah Ki Rangga Wirataruna dan rumah Ki Rangga Yudaprana. Jika Ki Lurah dapat menangkap salah seorang dari mereka, maka akan terbuka jalan menuju ke Harya Wisaka”

Ki Lurah menarik nafas dalam-dalam.

“Itu perintahku, Ki Lurah”

Ki Lurah tidak dapat mengelak lagi. Karena itu sambil membungkuk hormat, Ki Lurah itu pun berkata, “Aku akan menjalankannya dengan sebaik-baiknya, Ki Gede. Aku mohon ampun atas kegagalanku menjalankan tugasku, sehingga Ki Gede harus pergi sendiri ke medan perburuan untuk menangkap Harya Wisaka”

Namun ternyata Ki Gede tidak hanya pergi bersama para prajurit. Tetapi Ki Gede berniat untuk membawa orang-orang Pajang yang terbaik.

Karena itulah, maka Ki Gede telah menghadap Kangjeng Sultan. Diutarakannya rencananya kepada Kangjeng Sultan dan mohon agar Kangjeng Sultan dapat mengerti dan merestui rencananya.

“Hamba akan membawa orang-orang terbaik di Pajang”, “Siapa yang akan Kakang bawa?”

“Jika Kangjeng Sultan berkenan, hamba akan membawa murid-murid Ki Panengah dan Ki Waskita yang terbaik”

Kangjeng Sultan mengerutkan dahinya. Sementara itu Ki Gede berkata selanjutnya, “Hamba akan membawa Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi untuk memimpin tiga kelompok prajurit yang sudah mendapat latihan-latihan khusus”

“Ya. Aku dengar Kakang sendiri turun untuk memberikan latihan-latihan kepada mereka dibantu oleh para senapati terbaik”

“Hamba, Kangjeng Sultan. Tetapi senapati-senapati terbaik itu belum memuaskan hatiku. Karena itu, aku berpaling kepada ketiga orang murid Ki Panengah dan Ki Waskita, meskipun senapati-senapati pilihan itu akan berada di dalam kelompok-kelompok itu pula”

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Bawa mereka bersama Kakang”

“Terima kasih. Hamba sekaligus mohon diri. Hamba akan berangkat dengan pasukan hamba besok malam. Tetapi hamba akan singgah di Hutan Jabung. Mungkin hamba akan berada di Hutan Jabung lima atau enam hari”

“Begitu lama? Sementara itu Harya Wisaka sudah berada di tempat yang sangat jauh. Mungkin di sebelah utara Gunung Kendeng atau di sebelah barat Gunung Merapi dan Merbabu”

“Hamba akan memburunya kemana ia akan pergi. Tetapi Harya Wisaka tidak akan berada terlalu jauh dari Pajang, karena Harya Wisaka masih ingin memuaskan hatinya. Membunuh hamba”

Kangjeng Sultan menarik nafas dalam-dalam. Sementara Ki Gede pun berkata, “Para pemimpin kelompok prajurit itu harus saling mengenal dengan pasukannya. Karena itu, maka para prajurit itu masih perlu menunjukkan kemampuannya kepada mereka yang akan memimpin kelompok mereka. Selebihnya para prajurit itu pun harus yakin akan kelebihan para pemimpinnya”

“Aku mengerti, Kakang”

Sejenak kemudian, maka Ki Gede pun segera mohon diri. “Besok malam hamba akan berangkat”

“Aku akan berdoa bagi pasukan yang akan pergi itu, Kakang”, “Terima kasih, Kangjeng Sultan”

Demikianlah, maka Ki Gede Pemanahan pun meninggalkan Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang termangu-mangu. Kangjeng Sultan Hadiwijaya itu tidak dapat mencegah anak laki-lakinya untuk pergi melakukan kewajibannya sebagai seorang prajurit. Jika ia melarang anaknya pergi, maka Ki Gede akan menjadi kecewa. Pangeran Benawa sendiri tentu akan menyesalinya. Karena itu, maka ia harus merelakan anaknya ikut dalam tugas yang berat itu.

Tetapi Kangjeng Sultan percaya akan kelebihan Pangeran Benawa. Apalagi ia akan berada di antara sekelompok prajurit yang pilih tanding. Meskipun jumlahnya kecil, tetapi bobot kemampuannya sangat membanggakannya.

Dalam pada itu, Ki Gede pun segera mengadakan persiapan-persiapan seperlunya. Prajurit yang akan dibawanya pun telah dipersiapkan pula. Hanya tiga kelompok yang masing-masing terdiri dari duapuluh lima orang. Ditambah dengan seorang pemimpin kelompok yang akan diambilnya di Hutan Jabung.

Sementara pasukan itu bersiap, maka Ki Gede telah memerintahkan dua orang prajurit untuk pergi ke Hutan Jabung, memberitahukan bahwa Ki Gede dan pasukannya akan datang sebelum pasukan itu berangkat memburu Harya Wisaka.

Ki Panengah, Ki Waskita dan para cantrik dari padepokan itu pun telah mempersiapkan sebuah penyambutan. Mereka telah menyediakan tempat untuk bermalam seadanya.

Berita tentang keberangkatan Ki Gede Pemanahan pun segera tersebar. Setiap prajurit Pajang mendengar berita itu. Bahkan semua orang yang menaruh perhatian terhadap hilangnya Harya Wisaka dari bilik tahanan di istana, menanggapi berita keberangkatan Ki Gede itu dengan dada yang berdebar-debar.

Pada saat yang ditentukan, maka tiga kelompok prajurit Pajang telah meninggalkan pintu gerbang kota dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan. Beberapa orang memerlukan keluar dari rumah mereka dan berdiri di pinggir jalan untuk memberikan penghormatan kepada pasukan kecil yang akan melakukan perburuan di padang yang sangat luas.

Meskipun disediakan seekor kuda yang tegar bagi Ki Gede Pemanahan, tetapi Ki Gede tidak mempergunakannya. Ki Gede lebih senang berjalan kaki sebagaimana para prajurit. Seorang prajuritnya diperintahkannya untuk menuntun kudanya itu.

Perjalanan ke Hutan Jabung bukan perjalanan yang panjang. Setelah berjalan beberapa lama, maka iring-iringan pasukan itu pun telah mendekati padepokan yang berada di pinggir Hutan Jabung.

Ki Panengah, Ki Waskita dan para cantrik pun telah siap menyambut kedatangan pasukan itu. Ki Kriyadama pun telah memerintahkan para prajurit yang ikut membangun padepokan itu untuk berhenti bekerja ikut menyambut kedatangan pasukan yang dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan itu.

Sejenak kemudian, maka pasukan kecil itu telah memasuki regol halaman barak padepokan yang sedang dibangun itu, diterima langsung oleh Ki Panengah dan Ki Waskita.

Setelah upacara penyambutan selesai, maka para prajurit itu pun telah dipersilahkan untuk mengenali barak yang diperuntukkan bagi mereka.

“Hanya inilah yang dapat kami sediakan” berkata Ki Panengah.

“Ini sudah lebih dari cukup” sahut Ki Gede Pemanahan.

Sementara para cantrik melayani para prajurit itu, maka Ki Gede Pemanahan pun telah mengadakan pembicaraan dengan Ki Panengah dan Ki Waskita.

“Aku akan meminjam cantrik, Ki Panengah” berkata Ki Gede Pemanahan.

“Untuk apa?” bertanya Ki Panengah.

Ki Gede pun kemudian membeberkan rencananya untuk memburu Harya Wisaka yang berkeliaran di luar kota Pajang. Harya Wisaka itu seakan-akan sengaja mengejek para prajurit Pajang, bahwa mereka tidak dapat mencegahnya membuat rakyat Pajang menjadi resah dan ketakutan.

“Atas persetujuan Kangjeng Sultan, aku meminjam Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi”

Ki Panengah dan Ki Waskita hanya dapat mengangguk-angguk. Jika Kangjeng Sultan sudah mengijinkan, maka mereka tidak akan dapat mencegahnya.

“Baiklah, aku panggil mereka” berkata Ki Panengah.

Sejenak kemudian, maka Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah menghadap Ki Gede Pemanahan.

Dengan singkat Ki Gede menyampaikan maksudnya untuk membawa ketiga orang cantrik itu menyertai perjalanan perburuannya.

“Tentu aku bersedia, Paman” Pangeran Benawa lah yang menjawab pertama-tama.

“Terima kasih, Pangeran. Aku harap Sutawijaya dan Paksi juga tidak berkeberatan”

“Tentu, Ki Gede” sahut Paksi, “aku bersiap untuk menjalankan perintah ini”

“Masihkah Ayah akan bertanya kepadaku?” berkata Raden Sutawijaya.

Ki Gede tertawa. Katanya, “Jika menolak, maka aku minta Ki Panengah menghukummu, menyapu seluruh halaman padepokan ini setiap pagi dan sore, sampai Pangeran Benawa dan Paksi kembali ke padepokan”

Yang mendengar kata-kata Ki Gede itu pun tertawa.

Demikianlah, maka Ki Gede pun telah menetapkan bahwa Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi untuk memimpin kelompok-kelompok prajurit itu.

Sebenarnyalah seperti yang dikatakan oleh Ki Gede Pemanahan, para pemimpin kelompok itu harus mengetahui, seberapa tinggi kemampuan pasukannya. Bahkan kemampuan para prajurit itu seorang demi seorang.

Karena itu, di hari berikutnya, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun mulai berusaha mengenali para prajurit di dalam pasukannya.

Sebenarnyalah Paksi merasa agak canggung untuk memimpin sekelompok prajurit. Bahkan ada perasaan rendah diri yang mengusik perasaannya. Ia merasa masih terlalu muda dan bahkan bukan apa-apa di lingkungan keprajuritan. Tiba-tiba ia harus memimpin sebuah kelompok prajurit pilihan sebanyak duapuluh lima orang. Bahkan di antara mereka terdapat prajurit-prajurit yang sangat disegani.

Tetapi Ki Panengah dan Ki Waskita telah membesarkan hatinya. Hampir semalam suntuk keduanya memberikan pesan-pesan kepada Paksi untuk menjalankan tugasnya yang memang sangat berat itu.

“Paksi, bukan maksudnya untuk menyombongkan diri. Tetapi memimpin sekelompok prajurit, kau tidak perlu terlalu rendah hati, mengalah atau ragu-ragu. Kau harus bertindak tegas. Jika perlu kau dapat menunjukkan kelebihanmu dari mereka, agar kau dihargai, yang penting bukan penghargaan itu sendiri. Tetapi dengan demikian, para prajurit itu merasa yakin, bahwa kau pantas menjadi pemimpin mereka”

Paksi mengangguk-angguk. Ia mencoba memahami pesan-pesan kedua orang gurunya itu. Ia pun mengerti bahwa kepercayaan diri berbeda dengan sikap sombong.

Ketiga orang yang diserahi untuk memimpin kelompok-kelompok prajurit itu pun telah membawa kelompok masing-masing ke tempat yang berbeda. Di tempat yang cukup lapang itu, Paksi mulai mencoba mengenali para prajurit yang akan dipimpinnya. Semula Paksi mengajak kelompoknya untuk melakukan latihan di dalam kebersamaan. Paksi memerintahkan para prajuritnya untuk berdiri berurutan. Berlari-lari kecil memanaskan tubuh mereka di padang perdu di sebelah Hutan Jabung. Kemudian berloncatan dan bergulung di atas tanah. Namun kemudian Paksi memerintahkan mereka untuk meloncat melenting dan berputar di udara.

Tetapi Paksi memang merasakan, bahwa para prajurit itu tidak melakukannya sepenuh hati. Di wajah mereka nampak beberapa orang di antara mereka menjadi kecewa melihat Paksi yang muda itu ditetapkan menjadi pemimpin mereka.

Namun Paksi yang sudah mendapat pesan dari Ki Panengah dan Ki Waskita, tidak segera terguncang hatinya. Ia pun kemudian memerintahkan para prajurit itu berlari dalam lingkaran, mengitarinya.

“Aku akan menyerang dengan tiba-tiba salah seorang di antara kalian yang berlari-lari dalam lingkaran. Yang mendapat serangan harus mengelak atau menangkis atau memberikan perlindungan pada diri sendiri. Dua orang yang berada di depannya dan di belakangnya boleh bahkan wajib membantu melindungi kawannya yang mendapat serangan itu”

Latihan itu mulai menarik bagi para prajurit. Bukan karena latihan itu akan menunjukkan kecepatan dan ketetapan gerak naluriah mereka, tetapi justru para prajurit itu akan dapat menilai kemampuan anak muda yang akan menjadi pemimpin mereka.....

Beberapa saat kemudian, maka duapuluh lima orang prajurit itu berlari-lari dalam lingkaran, mengelilingi Paksi. Sejenak Paksi memandangi para prajurit yang berlari dalam lingkaran itu seorang demi seorang. Paksi mencoba untuk mengetahui tanggapan mereka masing-masing terhadap dirinya.

Sejenak kemudian, maka Paksi pun mulai meloncat menyerang. Mula-mula serangannya masih belum menggetarkan lingkaran yang mengitarinya. Dengan mudah para prajurit yang berlari-lari itu menangkis atau mengelak. Bahkan mereka mulai meragukan, apakah pemimpin mereka itu memang sudah sepantasnya diserahi sekelompok prajurit pilihan yang sudah mengalami tempaan langsung dari Ki Gede Pemanahan itu.

Namun cara itu dilakukan oleh Paksi justru untuk menunjukkan pada para prajurit akan tataran kemampuannya. Jika pada langkah pertama, para prajurit itu meyakininya, maka untuk selanjutnya mereka tidak akan terlalu banyak membuat ulah. Mereka akan tunduk dan melakukan segala perintah yang akan diberikan kepada mereka.

Serangan-serangan Paksi pun menjadi semakin mendebarkan jantung para prajurit pilihan itu. Serangan Paksi semakin lama menjadi semakin cepat. Bahkan kemudian, para prajurit pilihan itu mulai bergetar hatinya. Mereka tidak mengira bahwa anak muda itu benar-benar memiliki kemampuan yang sangat tinggi.

Meskipun demikian, masih ada juga prajurit yang meragukannya. Mereka merasa bahwa menghadapi anak muda itu, mereka masih dicengkam oleh keseganan, sehingga mereka masih belum bersungguh-sungguh. Apalagi sampai ke puncak kemampuan mereka.

“Aku harus mematahkan serangan anak ini” berkata seorang prajurit di dalam hatinya. Karena itu, ia sengaja menarik perhatian Paksi agar Paksi menyerangnya selagi ia berada di lingkaran.

Paksi melihat sikap prajurit itu. Paksi melihat, bahwa prajurit itu sengaja menarik perhatiannya. Karena itu, maka Paksi pun berniat untuk membuat prajurit itu meyakini kemampuan Paksi.

Ketika prajurit itu berlari di hadapan Paksi, maka Paksi pun kemudian justru berlari ke arah yang sebaliknya.

Tiba-tiba saja ketika ia berpapasan dengan prajurit yang memancing perhatiannya itu, telah terjadi benturan yang nampaknya tidak seberapa. Tetapi ternyata prajurit itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah.

Prajurit itu berusaha segera bangkit. Tetapi ternyata punggungnya terasa sakit sekali.

Tetapi Paksi telah berdiri selangkah di sebelahnya sambil membentak, “Bangkit dan kembali masuk ke dalam putaran”

Betapa sakitnya, tetapi prajurit itu berusaha menjalankan perintah. Ia pun segera bangkit. Sambil menyeringai ia berlari pula melingkari Paksi, karena Paksi pun segera kembali ke dalam lingkaran. Para prajurit pun menjadi semakin yakin akan kelebihan Paksi. Mereka melihat anak muda itu bergerak sangat cepat. Sedangkan kekuatannya sangat besar. Sesaat kemudian, maka terdengar Paksi pun memberikan perintah, “Aku akan keluar dari lingkaran yang berputar ini. Usahakan untuk mencegahku”

Para prajurit itu pun bersiap di dalam putaran itu. Serba sedikit mereka sudah mengetahui, betapa tinggi ilmu Paksi yang muda itu. Karena itu para prajurit itu pun benar-benar siap untuk mengerahkan kemampuan mereka.

Namun tiba-tiba saja Paksi sudah berada di luar lingkaran. Dua orang prajurit terpental beberapa langkah, dan jatuh berguling.

Paksi melakukannya tidak hanya sekali. Tetapi untuk meyakinkan para prajurit itu, ia melakukannya tiga kali.

Ternyata Paksi berhasil. Apa yang telah dipertunjukkannya itu membuat para prajurit pilihan itu yakin, bahwa Paksi memang seorang yang pilih tanding.

Dengan demikian, maka para prajurit itu tidak lagi merasa diri mereka terlampau direndahkan, karena mereka harus berada di bawah pimpinan seorang yang mereka anggap masih sangat muda.

Demikianlah, maka pengenalan berikutnya berlangsung lebih mapan. Para prajurit itu benar-benar telah mengakui bahwa Paksi yang muda itu mempunyai ilmu yang lebih tinggi dari ilmu mereka.

Latihan-latihan untuk lebih saling mengenal antara para prajurit dan pemimpin mereka itu pun berlangsung semakin mencengkam. Baik Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa maupun Paksi telah memerintahkan para prajurit mereka untuk bekerja lebih keras. Tetapi ketiga orang yang dipercaya untuk memimpin pasukan khusus itu semakin menunjukkan kelebihan-kelebihan mereka. Bahkan para prajurit itu harus mengagumi indera pemimpin-pemimpin mereka yang masih muda itu.

Ketiga-tiganya mampu melihat sasaran yang tidak dapat dilihat oleh para prajurit. Mereka dapat mendengar apa yang tidak didengar oleh para prajurit.

Bahkan Paksi telah menunjukkan kepada para prajuritnya kemampuan yang mendebarkan.

Dengan mata tertutup. Paksi berlatih melawan seorang prajurit yang dianggap terbaik dari kelompok yang dipimpinnya.


Paksi yang mengetrapkan ilmu Sapta Pangrungu dan terutama Sapta Panggraita itu ternyata mampu mengatasi prajurit yang paling baik di dalam kelompoknya itu.

Kepercayaan para prajuritnya itu pun menjadi semakin mantap. Mereka meyakini bahwa anak muda itu memang dilahirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun mereka terkejut juga ketika Ki Gede Pemanahan mengatakan kepada para prajurit yang dipimpin oleh Paksi itu, bahwa Paksi adalah anak laki-laki Tumenggung Sarpa Biwada.

Wajah para prajurit itu menjadi tegang. Mereka tahu bahwa Ki Tumenggung Sarpa Biwada adalah salah seorang di antara para pemimpin Pajang yang sedang diburu karena mereka bekerja sama dengan Harya Wisaka.

Tetapi Ki Gede pemanahan berkata kepada mereka, “Tetapi jangan berprasangka buruk terhadapnya. Aku percaya kepadanya dan akulah yang memerintahkan kepadanya untuk memimpin kelompok ini. Kita akan memburu Harya Wisaka dan kawan-kawannya. Di antara mereka adalah Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

Begitu besar wibawa Ki Gede Pemanahan, sehingga pernyataan Ki Gede itu dapat menghapus keragu-raguan para prajuritnya. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa Paksi pernah bertempur dengan ayahnya itu di rumahnya, sehingga Ki Tumenggung harus melarikan diri meninggalkan keluarganya.

“Kalian tidak usah mengaitkan Paksi dengan ayahnya dalam pergolakan ini. Paksi sudah dewasa dan sudah menentukan pilihannya sendiri” berkata Ki Gede itu kemudian.

Demikianlah, maka para prajurit pilihan itu telah berada sepekan di padepokan yang sedang dibangun itu. Selama sepekan mereka sudah menjadi akrab dengan orang yang mendapat tugas dari Ki Gede Pemanahan untuk memimpin mereka. Mereka sudah saling mengenal dan mengetahui bobot masing-masing di dalam olah kanuragan, sehingga mereka masing-masing tidak lagi merasa ragu.

Ki Gede Pemanahan pun merasa bahwa waktu yang diberikannya kepada para prajurit dan pemimpin mereka untuk menempatkan diri mereka masing-masing sudah cukup.

Dalam pada itu, Ki Gede pun telah menetapkan ketiga orang pemimpin kelompok itu menjadi Lurah Prajurit. Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah ditetapkan oleh Ki Gede menjadi Lurah prajurit dan bertugas untuk memimpin kelompok-kelompok kecil prajurit pilihan yang akan mencari Harya Wisaka.

Setelah menempa diri dan saling mengenal antara para prajurit dan pemimpin mereka itu, maka para prajurit itu pun mendapat kesempatan untuk beristirahat dua hari di padepokan yang sedang dibangun itu.

Selama itu, para prajurit pilihan itu sempat menyaksikan latihan-latihan yang diberikan kepada para cantrik di samping tugas para cantrik ikut membangun padepokan mereka.

Beberapa orang prajurit menggeleng-gelengkan kepada. Mereka tidak mengira bahwa latihan-latihan yang diberikan kepada para cantrik itu demikian beratnya, sebagaimana latihan-latihan yang harus mereka lakukan beberapa hari terakhir menjelang tugas yang mereka emban itu.

“Pantas, mereka akan dapat menjadi orang-orang yang secara pribadi mempunyai ilmu yang sangat tinggi” desis seorang prajurit. Lalu katanya pula, “Secara pribadi mereka lebih baik dari kita masing-masing”

“Mereka masih muda” desis yang lain.

Seorang yang beralis tebal menyahut, “Mereka adalah calon-calon pemimpin di masa depan”

Ketika saat beristirahat telah habis, maka para prajurit itu pun harus berbenah diri. Menjelang malam di hari terakhir saat beristirahat itu, Ki Gede Pemanahan telah memberikan perintah-perintah kepada mereka.

Perintah Ki Gede memang mengejutkan. Rencana Ki Gede tidak mereka duga sebelumnya. Tetapi para prajurit itu mengerti sepenuhnya, sehingga mereka pun siap menjalankan tugas mereka sebaik-baiknya sesuai dengan kewajiban mereka sebagai seorang prajurit.

“Besok, pasukan ini akan berangkat meninggalkan padepokan ini” berkata Ki Gede Pemanahan. “Empat orang petugas sandi akan selalu menghubungi kalian. Petugas-petugas khusus yang terpilih sebagaimana kalian”

Para prajurit dan tiga orang pemimpin kelompok yang ditunjuk langsung oleh Ki Gede itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Segala petunjuk dan perintah Ki Gede pun mereka pahami dengan sebaik-baiknya.

“Tidak ada bekal yang akan dibawa” berkata Ki Gede Pemanahan kemudian. “Kita harus dapat menghidupi diri sendiri. Tetapi kita bukan perampok dan bukan pula pemungut pajak yang tidak berjantung”

Dalam pada itu, malam itu juga, Ki Panengah dan Ki Waskita telah memberikan pesan-pesan pula kepada Paksi. Anak muda yang belum berpengalaman di lingkungan keprajuritan itu harus mendapat bekal yang cukup. Meskipun ilmunya tidak diragukan, tetapi gaya kepemimpinan seseorang akan sangat berpengaruh.

“Kau tidak boleh malu bertanya kepada Pangeran Benawa dan Raden Sutawijaya, apa yang sebaiknya kau lakukan jika kau mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan” pesan Ki Waskita.

“Ya, Guru”

“Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa memiliki pengalaman yang lebih banyak”

“Ya, Guru”

Malam itu Paksi menjadi sulit tidur. Namun sedikit lewat tengah malam, Paksi itu terlena di pembaringannya.

Pagi-pagi benar, padepokan itu sudah terbangun. Para cantrik memang terbiasa bangun pagi-pagi untuk menunaikan kewajiban mereka. Sementara itu, para prajurit pun segera bersiap-siap untuk berangkat memenuhi tugas mereka.

Sebelum matahari terbit, pasukan itu sudah meninggalkan padepokan tanpa upacara apapun. Para prajurit yang membantu membangun padepokan itu pun tidak tahu, bahwa diam-diam pasukan yang selama lebih dari sepekan berada di padepokan itu telah berangkat. Baru kemudian, ketika mereka bertanya-tanya, kenapa padepokan itu terasa sepi, mereka mendapat keterangan, bahwa para prajurit itu telah pergi.

Sejak hari itu, maka tersiarlah berita bahwa sepasukan prajurit Pajang telah dilepas untuk memburu Harya Wisaka dan pasukannya yang banyak menimbulkan keresahan di desa-desa.

Di hari-hari pertama, pasukan itu masih belum bertemu dengan pasukan Harya Wisaka. Tetapi pasukan itu telah mencium jejak pasukan yang dipimpin langsung oleh Harya Wisaka itu.

Dalam pada itu, pasukan Pajang yang dipimpin sendiri oleh Ki Gede Pemanahan itu pun mendapat sambutan yang sangat baik dimana-mana. Rakyat yang diresahkan oleh kegarangan pasukan Harya Wisaka itu memang sangat mengharapkan kehadiran pasukan Pajang untuk melindungi mereka.

Karena itu, maka para prajurit Pajang itu tidak pernah mengalami kesulitan makan dan minum. Setiap padukuhan yang didatanginya menyambut mereka seperti menyambut rombongan pengiring pengantin.

Hubungan pertama dengan para petugas sandi terjadi ketika para petugas sandi yang khusus ditunjuk dalam tugas bersama dengan pasukan khusus itu menemui pasukan Pajang itu di Kwarasan. Dengan istilah-istilah sandi, para pemimpin pasukan khusus Pajang itu kemudian telah mempercayai dan kemudian menerima mereka.

Dari para petugas sandi pasukan Pajang itu mendapat keterangan, bahwa pasukan Harya Wisaka sedang berada di Jurangjero.

“Mungkin mereka akan bergerak lagi. Tetapi agaknya malam nanti mereka masih berada di Jurangjero. Kehadiran mereka sangat menggelisahkan rakyat Jurangjero. Tetapi mereka tidak berani berbuat apa-apa”

“Berapa orang kekuatan mereka?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Sekitar seratus orang”

“Seratus orang? Apakah Harya Wisaka ada di antara mereka?”

“Menurut orang Jurangjero yang dapat kami hubungi, pasukan itu memang dipimpin oleh orang yang bernama Harya Wisaka”

“Nanti malam kami akan pergi ke Jurangjero. Jika kami berangkat lewat senja, kami akan sampai ke tempat itu wayah sepi uwong”

“Ya, kira-kira begitu Raden”

“Jika Harya Wisaka ada di antara mereka, maka pasukan Pajang tentu akan dipimpin langsung oleh Ayah”

“Ya, Raden”

“Dimana kita bertemu nanti malam?” bertanya Raden Sutawijaya kemudian.

Prajurit sandi itu pun kemudian telah memberikan ancar-ancar dimana ia akan menunggu.

“Dalam tugas ini, kami berempat, Raden”

“Ya. Kami sudah mendapat keterangan tentang itu. Tetapi darimana kalian tahu bahwa kami ada disini malam ini?”

“Kami harus mengetahui dimana pasukan ini berada setiap saat, Raden”

“Kalau pasukan ini terbagi?”

“Kami berempat pun harus membagi diri. Tetapi hubungan-hubungan yang terus-menerus harus kami lakukan, sehingga kami tidak akan pernah ketinggalan”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Baiklah. Kami akan menghubungimu di tempat yang sudah ditentukan”

Sepeninggal petugas sandi itu, maka para prajurit Pajang itu pun segera mempersiapkan diri. Jika di dalam pasukan yang akan mereka buru itu terdapat Harya Wisaka, maka pasukan Pajang itu akan dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan.

Sutawijaya itu pun kemudian bersama Pangeran Benawa dan Paksi telah membicarakan langkah-langkah yang akan mereka ambil.

“Kita akan membagi diri. Kita akan menyerang Jurangjero dari tiga jurusan. Mudah-mudahan Harya Wisaka belum bergerak lagi malam nanti” berkata Raden Sutawijaya.

Mereka bertiga pun kemudian memutuskan untuk memecah pasukan mereka setelah mereka bertemu dengan para petugas sandi.

“Jika Harya Wisaka belum bergerak lagi, kita berharap akan dapat menangkapnya”

“Seandainya Paman Harya Wisaka sudah meninggalkan Jurangjero, kita akan tetap memburunya malam nanti” berkata Pangeran Benawa. “Jika kita menundanya sampai esok, maka kita akan terlambat. Paman Harya Wisaka tentu sudah menjadi semakin jauh. Apalagi jika Paman Harya Wisaka mengetahui kita ada disini sekarang”

“Paman Harya Wisaka tahu benar bahwa kita memburunya. Tetapi agaknya Harya Wisaka tidak tahu kedudukan kita”

“Mudah-mudahan” desis Paksi. “Tetapi petugas sandi Harya Wisaka juga berkeliaran dimana-mana”

Demikianlah, maka menjelang senja, pasukan kecil itu telah bersiap sepenuhnya. Segala persiapan telah dilakukan sebaik-baiknya. Senjata para prajurit itu pun telah diteliti dengan cermat, sehingga tidak akan mengecewakan.

“Jumlah lawan kita lebih banyak. Mungkin seratus, tetapi mungkin lebih dari itu. Tetapi kita yakin akan kemampuan kita, sehingga kita yakin akan dapat mengalahkan mereka dan menangkap Harya Wisaka” berkata Raden Sutawijaya kepada para prajurit yang sudah siap untuk bergerak.

“Sebentar lagi kita akan bergerak. Demikian malam turun, maka kita akan meninggalkan padukuhan ini. Jika tidak ada persoalan yang mendesak, kita akan kembali lagi ke padukuhan ini. Tetapi jika kita harus memburu pasukan Harya Wisaka, kita tidak akan kembali lagi kemari” berkata Raden Sutawijaya pula.

Ki Bekel dan para bebahu ternyata telah hadir pula untuk melepas keberangkatan pasukan Pajang itu. Mereka berharap bahwa Harya Wisaka segera dapat tertangkap.

“Pasukannya telah membuat rakyat sangat gelisah. Pasukan liar itu muncul dengan tiba-tiba dan menghilang dengan tiba-tiba pula. Bahkan ada satu padukuhan yang mereka datangi dua kali dalam sepekan. Terutama padukuhan-padukuhan yang dianggap kaya dan memiliki persediaan bahan makan cukup di lumbung-lumbung rakyatnya” berkata Ki Bekel.

“Mudah-mudahan kita akan dapat segera menghentikannya” berkata Raden Sutawijaya.

Ketika kemudian gelap turun, maka Raden Sutawijaya itu pun berkata, “Aku akan memberikan laporan kepada ayah. Apakah kita akan berangkat sekarang”

Raden Sutawijaya itu pun kemudian telah meninggalkan para prajurit yang berdiri di halaman banjar. Pangeran Benawa dan Paksi masih tetap berdiri di tangga pendapa banjar padukuhan bersama Ki Bekel dan para bebahu.

Baru beberapa saat kemudian, Raden Sutawijaya keluar dari ruang dalam bersama Ki Gede Pemanahan. Sejenak Ki Gede Pemanahan berdiri memandang pasukannya yang telah bersiap. Kemudian ia pun mengangguk hormat kepada Ki Bekel dan para bebahu. Di bawah cahaya lampu minyak yang remang-remang, apalagi Ki Gede Pemanahan dan para bebahu itu berdiri membelakangi, maka wajah-wajah mereka menjadi tidak begitu jelas.


“Kami mohon diri, Ki Bekel” berkata Ki Gede Pemanahan. “Kami masih merencanakan untuk kembali kemari. Tetapi jika tugas kami mendesak, mungkin pula kami akan meneruskan perjalanan kami dan tidak kembali lagi. Jika demikian, maka perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang Ki Bekel, para bebahu dan rakyat padukuhan ini berikan kepada kami”

“Ki Gede dan pasukan ini sedang dalam tugas yang besar yang akibatnya juga akan terasa oleh kami semuanya. Karena itu, sudah menjadi kewajiban kami untuk membantu sejauh dapat kami lakukan. Mudah-mudahan pasukan ini kembali lagi kemari dengan membawa kemenangan serta berhasil menangkap Harya Wisaka”

“Doa Ki Bekel, para bebahu dan seluruh rakyat padukuhan ini akan memperkuat ketahanan wadag dan jiwa kami”

Demikianlah, sejenak kemudian, maka beberapa orang penghuni padukuhan itu mengantar pasukan itu sampai ke gerbang padukuhan.

Perlahan-lahan pasukan itu bergerak menusuk masuk ke dalam kegelapan sehingga kemudian seakan-akan hilang dalam kelam.

Namun pasukan itu sendiri bergerak semakin lama semakin cepat. Mereka tidak ingin terlambat, karena pasukan Harya Wisaka itu setiap kali selalu berpindah-pindah tempat setelah membuat kekacauan di satu padukuhan sehingga menimbulkan keresahan.

Pasukan yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan itu bergerak menurut jalan yang diancar-ancarkan oleh petugas sandi yang telah menghubungi mereka. Mereka melintas di bulak-bulak panjang, padang perdu dan bahkan lewat di pinggir hutan. Mereka berusaha untuk tidak terlalu sering melintasi padukuhan. Karena kehadiran mereka akan dapat membuat rakyat padukuhan itu gelisah. Mereka dapat menjadi salah paham dan mengira bahwa yang datang itu pasukan yang dipimpin oleh Harya Wisaka.

Dalam pada itu, akhirnya pasukan itu sampai di sudut sebuah hutan yang memanjang. Demikian pasukan itu mendekati tempat itu, tiga orang petugas sandi sudah menunggu.

“Dimana orang yang keempat?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Kawan kami itu sedang mengawasi Padukuhan Jurangjero”

“Apakah kita akan langsung menyerang?”

“Ya. Sebaiknya demikian. Nampaknya mereka belum mengetahui bahwa pasukan Pajang telah bergerak menyusul mereka”

“Darimana kau tahu?”

“Mereka tidak melakukan persiapan khusus”

“Baik. Kita akan segera bergerak”

“Tetapi ternyata jumlah pasukan Harya Wisaka lebih dari seratus orang. Bahkan sekitar seratus lima puluh orang”

“Dua kali lipat” desis Raden Sutawijaya. “Tetapi kita sudah bertekad untuk menangkap Harya Wisaka”

“Kita akan memasuki Padukuhan Jurangjero dengan diam-diam. Kita, satu-satu akan berusaha untuk mengurangi jumlah lawan sebanyak-banyaknya sebelum mereka menyadari bahwa pasukan lawan telah menyusup di antara mereka” sahut Pangeran Benawa.

“Ya” Raden Sutawijaya mengangguk-angguk, “kita bertumpu pada kemampuan kita seorang-seorang”

“Bawa kami ke Padukuhan Jurangjero” berkata Ki Gede Pemanahan.

Ketiga orang petugas sandi itu pun masing-masing mendapat tugas untuk mengantar sekelompok di antara pasukan yang dipimpin Ki Gede Pemanahan itu. Mereka akan memasuki Padukuhan Jurangjero dari arah yang berbeda. Mereka akan mengandalkan kemampuan mereka seorang-seorang untuk mengatasi jumlah lawan yang jauh lebih banyak, bahkan lipat dua.

Demikianlah, sejenak kemudian sedikit lewat wayah sepi uwong, pasukan khusus dari Pajang itu mulai bergerak. Mereka terpecah menjadi tiga kelompok yang masing-masing dipimpin oleh Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi. Sementara itu Ki Gede Pemanahan sendiri berada di dalam satu kelompok dengan Pangeran Benawa. Bagaimanapun juga Pangeran Benawa adalah putera Kangjeng Sultan Hadiwijaya, sehingga keselamatannya harus mendapat perhatian sepenuhnya. Meskipun jika hal itu disampaikan kepada Pangeran Benawa, maka Pangeran Benawa itu justru akan dapat tersinggung karenanya.

Sejenak kemudian, maka ketiga kelompok prajurit itu sudah mendekati Padukuhan Jurangjero dari tiga arah. Para petugas sandi telah memberikan keterangan sejauh mereka ketahui tentang padukuhan itu. Tentang jalan induk dan jalan-jalan simpang yang lebih kecil. Letak rumah Ki Bekel dan letak banjar padukuhan yang kedua-duanya dipergunakan oleh pasukan Harya Wisaka. Bahkan dua tiga rumah di sebelah banjar itu juga telah dipergunakan pula.

Seperti yang sudah disepakati, maka tanpa isyarat apa pun juga, maka ketiga kelompok prajurit dari pasukan khusus itu mulai menyusup memasuki padukuhan. Sebagian besar dari mereka melewati sungai kecil yang mengalir di bawah dinding padukuhan. Mereka menyusup lewat sungai kecil saat memasuki padukuhan dan yang lain menyusup jalan air sungai yang keluar dari padukuhan.

Tetapi para prajurit dari pasukan khusus itu tidak beramai-ramai menyerang pasukan yang sedang beristirahat di padukuhan itu. Tetapi seorang-seorang mereka bergerak seolah-olah sendiri-sendiri, sehingga mereka mempertanggung-jawabkan keberhasilan dan keselamatan mereka sendiri.

Sebenarnyalah, seorang-seorang di antara pasukan yang menurut keterangan para petugas sandi dipimpin langsung oleh Harya Wisaka itu, tiba-tiba saja lenyap. Dua orang di antara mereka yang meronda mengelilingi padukuhan itu hilang dan tidak pernah kembali ke banjar. Tiga orang yang berada di sebuah gardu tiba-tiba telah hilang pula. Bahkan para petugas yang berjaga-jaga di rumah Ki Bekel pun telah lenyap tanpa diketahui oleh kawan-kawannya yang ada di halaman.

Seperti hantu, tujuh puluh lima orang prajurit dari pasukan khusus yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan itu menyusup di seluruh Padukuhan Jurangjero. Para penjaga di rumah-rumah yang dipergunakan oleh para pengikut Harya Wisaka itu pun telah hilang seorang demi seorang. Bahkan sekelompok yang terdiri dari enam orang, yang berjalan dari rumah Ki Bekel ke banjar tidak pernah sampai ke tujuan.

Beberapa saat, para pengikut Harya Wisaka itu tidak mengetahui kehadiran prajurit Pajang dari pasukan khusus itu. Tetapi orang-orang mereka semakin lama menjadi semakin susut karenanya. Para petugas yang menggantikan kawan-kawan mereka yang bertugas di regol-regol tempat-tempat yang mereka pergunakan, tidak pernah dapat menjalankan tugasnya. Tubuh mereka pun telah diseret ke gerumbul-gerumbul di sekitar regol itu setelah orang-orang itu menjadi pingsan, diikat dan disumbat mulutnya. Tetapi ada di antara mereka yang bernasib lebih buruk, sehingga para prajurit dari pasukan khusus itu harus menghunjamkan senjatanya ke dada orang itu.

Namun semakin lama para pengikut Harya Wisaka yang bertugas itu merasakan keganjilan yang terjadi di padukuhan itu. Sekelompok orang yang bertugas di banjar merasakan, bahwa kawan-kawan mereka telah menyusut. Seorang yang pergi ke pakiwan tidak pernah kembali. Yang bertugas di regol sesudah diganti oleh petugas baru juga tidak kembali.

“Ada apa dengan kawan-kawan kita?” desis pemimpin mereka yang bertugas malam itu di banjar.

“Ada yang tidak wajar terjadi” sahut kawannya.

“Lihat kedua orang yang bertugas di regol. Aku tidak melihat bayangan mereka”

Orang itu pun turun ke halaman. Tetapi demikian orang itu mendekati regol dan menjengukkan kepalanya keluar untuk melihat apakah kawannya berjaga-jaga di luar, tiba-tiba saja seakan-akan telah dihisap oleh tenaga yang besar yang tidak terlawan. Orang itu pun kemudian jatuh berguling. Sebuah pukulan yang keras menyambar tengkuknya ketika ia mencoba untuk bangkit, sehingga orang itu telah jatuh tertelungkup dan langsung menjadi pingsan.

Orang itu pun segera diseret ke gerumbul di seberang jalan dan disembunyikan di balik rimbun daunnya. Karena orang itu tidak segera kembali, maka pemimpin para pengikut Harya Wisaka yang bertugas di banjar itu menjadi semakin curiga. Ia pun segera memanggil beberapa orang yang bertugas dan memerintahkan mereka untuk mengamati keadaan.

“Kita bersama-sama turun ke halaman. Dua orang melihat halaman sebelah kiri. Dua di belakang, dua di halaman sebelah kanan dan yang lain ke regol. Hati-hati. Agaknya ada sesuatu yang tidak wajar. Jika terjadi sesuatu, beri aku isyarat”

Demikianlah, dengan senjata terhunus di tangan, maka para petugas itu pun telah memencar. Beberapa saat pemimpin petugas yang sedang berjaga-jaga itu berdiri di halaman menunggu kawan-kawannya yang memencar bersama seorang petugas. Tetapi yang kemudian datang mendekatinya adalah dua orang yang tidak dikenalnya. Seorang di antaranya masih sangat muda.

“Siapakah kalian?” bertanya orang itu.

Tetapi keduanya tidak menjawab. Dengan cepat keduanya menyerang orang itu. Pukulan tangan anak muda itu mengenai dada pemimpin mereka yang bertugas itu. Sedangkan yang seorang lagi meloncat sambil mengayunkan kakinya mengenai dada yang seorang lagi.

Kedua orang itu terpental dengan kerasnya. Seorang di antaranya kemudian jatuh terlentang. Bagian belakang kepalanya membentur tangga pendapa banjar. Benturan itu demikian kerasnya. Sehingga tidak sempat mengaduh. Tulang kepalanya telah retak.

Sementara itu, yang seorang lagi berusaha untuk bangkit. Namun ujung pedang orang yang menghantamnya dengan kakinya telah menghunjam ke dadanya.

Anak muda itu mengerutkan dahinya. Tetapi sebagai seorang pemimpin sekelompok prajurit dari pasukan khusus ia pun tidak dapat berbuat lain. Ia harus bersikap tegas meskipun agak menyimpang dari sikapnya sehari-hari sebelumnya.

Meskipun demikian, anak muda itu masih sempat berdesis, “Kita masuk ke dalam banjar. Tetapi ingat, kita bukan pembunuh”

Prajurit yang menyertai Paksi itu sudah dua kali mendengar pemimpin kelompoknya yang muda itu memperingatkannya.

Sejenak kemudian terdengar isyarat suara burung tuhu yang menggetarkan udara banjar Padukuhan Jurangjero.

Beberapa orang dengan diam-diam merayap mendekati banjar padukuhan itu. Dengan cepat mereka bergerak ke pintu-pintu butulan di samping dan belakang. Sedang sebagian yang lain ke pintu depan.

Paksi lah yang kemudian melangkah ke pintu depan. Dengan sangat berhati-hati, Paksi telah mendorong pintu banjar itu.

Ternyata orang-orang yang berada di dalam banjar terlalu yakin akan kesiagaan kawan-kawannya yang bertugas, sehingga pintu banjar itu sama sekali tidak diselarak.

Demikian pintu itu terbuka, maka Paksi dan kawan-kawannya pun bersiap untuk melangkah masuk ke dalam. Tetapi pada saat itu, seorang di antara mereka yang tidur di dalam banjar itu terbangun. Demikian ia melihat beberapa orang berdiri di pintu, maka ia pun menjadi curiga. Dengan masih tetap berbaring diam, ia mencoba memperhatikan orang-orang yang berada di pintu banjar itu.

Ternyata mereka bukan kawan-kawan mereka.

Dengan hati-hati ia menyentuh kawannya yang tidur di sebelahnya sambil berbisik, “Hati-hati. Kita terkepung”

Kawannya itu pun terbangun. Ia tanggap akan isyarat kawannya. Karena itu, ia tidak segera bangkit. Dirabanya senjatanya yang tergolek di sampingnya. Kemudian dibangunkannya kawannya di sebelahnya sambil berbisik pula, “Berhati-hatilah”

Tetapi kawannya itu ternyata tidak tanggap. Karena itu, maka ia pun justru dengan cepat bangkit sambil bertanya, “Ada apa?”

Tidak ada pilihan lagi. Kedua orang yang sudah berteriak lebih dahulu itu pun segera meloncat berdiri sambil berteriak, “Bangun semuanya. Kita berhadapan dengan musuh”

Paksi yang berdiri di pintu segera berteriak, “Menyerahlah. Kami akan mempertimbangkan pengampunan”

Tetapi yang dihadapi oleh Paksi adalah pengikut-pengikut Harya Wisaka yang keras. Karena itu, kesempatan yang diberikan oleh Paksi untuk membuat pertimbangan ternyata disalahgunakan. Kesempatan itu mereka pergunakan untuk mempersiapkan senjata mereka.

Orang-orang yang berada di banjar itu pun segera terbangun semuanya. Mereka segera menghunus senjata mereka, sementara Paksi masih juga berkata lantang, “Menyerahlah. Kalian tidak mempunyai kesempatan lagi”

Para prajurit yang dipimpin oleh Paksi itu menyesali sikap Paksi. Seandainya mereka langsung menyerang, maka para pengikut Harya Wisaka tidak banyak mempunyai kesempatan. Tetapi pemimpinnya yang muda itu telah melakukan satu sikap yang sia-sia.

“Sikap itu bukan sikap seorang prajurit dalam keadaan yang gawat” berkata seorang prajurit yang masih berdiri di luar kepada kawannya.

“Ia sangat perasa” desis yang lain.

Namun seorang justru berkata, “Apakah ia takut bahwa di antara mereka yang ada di banjar ini adalah ayahnya?”

Tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan lagi. Justru kawan-kawan mereka yang berada di depan pintu butulanlah yang mulai lebih dahulu. Beberapa orang yang berniat untuk keluar dari pintu butulan, telah dicegat oleh para prajurit yang berjaga-jaga di muka pintu butulan.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menyala. Sambil bertempur Paksi sempat menilai sikapnya. Ia sadar, bahwa yang dilakukan adalah kesia-siaan belaka, yang justru merugikan para prajurit Pajang itu sendiri.


Meskipun demikian, tetapi para prajurit Pajang itu masih juga memiliki kesempatan yang lebih baik. Beberapa orang pengikut Harya Wisaka yang keluar lewat pintu butulan dan pintu belakang, tidak mempunyai banyak kesempatan. Tiba-tiba saja ujung-ujung senjata telah menyentuh tubuh mereka.

Namun demikian, beberapa orang sempat menggapai kentongan, sehingga sejenak kemudian, maka kentongan itu pun segera berbunyi dengan irama yang tidak biasa terdengar di padukuhan itu.

Pertempuran yang sengit kemudian tidak berlangsung di ruang dalam banjar yang tidak cukup luas itu. Para prajurit Pajang itu seolah-olah telah membuka pintu dan membiarkan para pengikut Harya Wisaka untuk keluar. Tetapi para prajurit itu sudah menunggu di tempat yang lebih luas, sehingga mereka sempat bertempur dengan segenap kemampuan mereka serta dengan leluasa mempergunakan senjata mereka.

Dalam pada itu, suara kentongan di banjar itu ternyata telah disahut oleh suara kentongan yang lain. Kentongan di rumah Ki Bekel. Namun kemudian juga kentongan-kentongan yang lain lagi.

Tetapi adalah di luar dugaan mereka, bahwa dimana pun para pengikut Harya Wisaka berada, pasukan Pajang sudah siap menghadapi mereka. Karena itu maka pertempuran pun telah terjadi dimana-mana. Kentongan dalam irama khusus itu adalah isyarat sandi para pengikut Harya Wisaka. Meskipun para prajurit Pajang tidak mengerti arti dari isyarat sandi itu, namun mereka dapat menduga, bahwa kentongan itu adalah pemberitahuan bagi para pengikut Harya Wisaka, bahwa musuh telah berada di hadapan hidung mereka.

Sebenarnyalah sergapan prajurit Pajang itu berhasil mengacaukan pasukan lawan. Para pengikut Harya Wisaka itu tidak segera mampu menempatkan diri. Apalagi sebagian dari mereka telah hilang tanpa mereka ketahui. Para penjaga dan para petugas malam itu lenyap begitu saja dari tempat-tempat tugas mereka.

Sebenarnyalah bahwa jumlah para pengikut Harya Wisaka yang berada di padukuhan itu jauh lebih banyak dari prajurit Pajang yang menyerang mereka. Tetapi kedatangan mereka dengan diam-diam, menyusutnya satu persatu dari para pengikut Harya Wisaka, serta sergapan yang tiba-tiba, telah menghancurkan ketahanan jiwa para pengikut Harya Wisaka itu. Mereka pun tidak dapat mengetahui dengan pasti kekuatan pasukan Pajang yang menyerang mereka. Mereka mendengar teriakan-teriakan dan sorak yang kadang-kadang meledak di mana-mana, sehingga seakan-akan di seluruh padukuhan itu sudah penuh dengan prajurit dari Pajang.

Dengan demikian, maka perlawanan para pengikut Harya Wisaka itu tidak mampu membendung serangan-serangan pasukan Pajang. Beberapa orang pengikut Harya Wisaka telah terlempar dari arena. Sebagian terluka parah. Namun sebagian lagi telah terbunuh.

Raden Sutawijaya dengan pasukannya berada di sekitar rumah Ki Bekel. Raden Sutawijaya mengira bahwa Harya Wisaka ada di rumah itu. Karena itu, maka beberapa orang prajurit telah berusaha untuk langsung masuk ke dalam rumah Ki Bekel bersama Raden Sutawijaya sendiri.

Sementara itu, Pangeran Benawa bertempur dengan para pengikut Harya Wisaka di halaman yang luas dari sebuah rumah yang besar. Prajurit-prajuritnya dengan cepat melindas para pengikut Harya Wisaka yang terkejut dan menjadi kacau, karena tiba-tiba saja ujung-ujung senjata sudah berada di depan hidung mereka.

Pertempuran yang terjadi di Jurangjero itu adalah pertempuran yang sengit. Tetapi para pengikut Harya Wisaka tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan kekuatan mereka. Selain orang-orang mereka menyusut seorang demi seorang sebelum pertempuran itu terjadi, pertempuran itu sendiri sangat mengejutkan mereka. Mereka tidak bersiap sama sekali untuk memasuki pertempuran yang keras itu.

Karena itu, maka korban pun berjatuhan. Sementara itu, yang masih mendapat kesempatan berusaha untuk melepaskan diri dari putaran ujung-ujung senjata.

Dalam kekalutan itu, Raden Sutawijaya masih sempat juga berteriak, “Jika kalian menyerah, maka pertempuran akan berhenti. Kalian tidak akan dihukum mati”

Tetapi nampaknya para pengikut Harya Wisaka itu tidak ingin menyerah. Yang masih hidup berusaha untuk meninggalkan arena pertempuran.

Yang terdengar kemudian adalah kentongan-kentongan kecil yang berbunyi dengan irama yang lain. Namun suaranya cukup keras menggetarkan seluruh medan pertempuran.

Agaknya beberapa orang penghubung dari para pengikut Harya Wisaka itu selalu membawa kentongan-kentongan kecil yang dapat mereka bunyikan sebagai isyarat dan perintah setiap waktu dan kesempatan. Suara kentongan-kentongan kecil itu menjalar dari halaman rumah yang satu ke halaman rumah yang lain. Sambung bersambung.

Agaknya irama yang terdengar itu adalah perintah untuk menarik diri dari medan pertempuran.

Sebenarnyalah, pasukan yang menurut keterangan para petugas sandi dipimpin oleh Harya Wisaka itu, telah mempergunakan setiap kesempatan yang ada untuk menyingkir dari medan pertempuran.

Para prajurit Pajang tidak begitu saja melepaskan mereka. Apalagi mereka ingin dapat menangkap Harya Wisaka hidup atau mati. Karena itu, maka para prajurit Pajang itu pun telah memburu lawan mereka yang melarikan diri.

Namun gelap malam, pepohonan yang rimbun di halaman dan apalagi di kebun-kebun, rumpun-rumpun bambu, dinding-dinding penyekat, agaknya memberikan perlindungan yang baik bagi mereka yang sedang melarikan diri itu.

Beberapa orang memang tidak sempat keluar dari padukuhan. Ada di antara mereka yang terluka di punggung, di pundak, lambung dan bagian-bagian tubuh yang lain. Namun sebagian dari mereka sempat melarikan diri dan tidak tergapai oleh para prajurit dari Pajang.....

Malam itu juga para prajurit Pajang telah mengumpulkan orang-orang yang terluka dan yang telah terbunuh di peperangan.

Bukan hanya para prajurit Pajang, tetapi juga para pengikut Harya Wisaka. Orang-orang padukuhan yang terbangun dari tidurnya telah dipanggil keluar oleh para prajurit Pajang untuk membantu mereka, mengumpulkan mereka yang terluka dan yang terbunuh.

Mula-mula tidak seorang pun yang berani keluar dari rumahnya. Namun para prajurit telah menyerukan agar mereka tidak takut.

“Kami adalah prajurit-prajurit Pajang yang telah mengusir para pemberontak. Kami hanya ingin minta tolong mengumpulkan orang-orang yang terluka”

Yang mula-mula keluar dari dalam rumah adalah Ki Bekel. Karena rumahnya dipergunakan oleh para pengikut Harya Wisaka, maka Ki Bekel dan keluarganya justru berada di rumah tetangganya. Rumah yang kecil saja, yang tidak dipakai oleh para pengikut Harya Wisaka.

Ketika Ki Bekel yakin bahwa yang memanggilnya adalah para prajurit Pajang yang dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan, maka Ki Bekel pun telah memanggil orang-orang yang ketakutan di dalam rumah mereka masing-masing. Baru setelah mereka mendengar suara Ki Bekel Jurangjero, maka baru mereka berani keluar rumah.

Beberapa orang laki-laki dan anak muda pun telah membawa obor bersama-sama dengan para prajurit, menyusup di halaman-halaman rumah dan kebun untuk mengumpulkan tubuh-tubuh yang tidak berdaya dan yang sudah terbunuh.

Namun di antara mereka tidak terdapat Harya Wisaka.

“Paman Harya Wisaka memang licin” desis Raden Sutawijaya.

“Banyak kesempatan terbuka baginya” sahut Pangeran Benawa.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Mengejar mereka? Tetapi mereka pecah tercerai-berai” bertanya Paksi.

“Tidak” sahut Raden Sutawijaya, “kita tidak memburu mereka sekarang”

Demikianlah, ketika fajar naik, para pemimpin kelompok prajurit Pajang itu dapat mengetahui beberapa orang mereka yang terluka dan yang gugur.

Paksi menundukkan wajahnya ketika diketahuinya seorang prajuritnya gugur. Lima orang terluka. Seorang di antaranya agak parah. Sementara seorang prajurit dari kelompok yang dipimpin oleh Raden Sutawijaya juga gugur. Sedangkan kelompok prajurit yang dipimpin oleh Pangeran Benawa tidak seorang pun yang gugur. Tetapi sepuluh di antara mereka terluka. Tiga orang terhitung agak berat.

Para prajurit Pajang itu memang tidak memburu para pengikut Harya Wisaka. Mereka harus beristirahat lebih dahulu di Jurangjero. Beberapa orang terluka parah, sehingga tidak dapat meneruskan perjalanan. Sementara itu, para pemimpin kelompok tidak dapat meninggalkan mereka yang terluka itu di Jurangjero, karena para pengikut Harya Wisaka akan dapat merunduk mereka dan membantainya.

Karena itu, maka para pemimpin pasukan itu memutuskan untuk tinggal di Jurangjero beberapa hari.

Namun Ki Gede Pemanahan telah memerintahkan para petugas sandi untuk membayangi pasukan Harya Wisaka itu dan setiap kali memberikan laporan kepadanya.

Di hari berikutnya, orang-orang Jurangjero menjadi sibuk memakamkan dua orang prajurit yang gugur. Tetapi mereka juga harus mengubur para pengikut Harya Wisaka yang terbunuh di pertempuran itu. Mereka yang tubuhnya disembunyikan di semak-semak dan di balik dinding halaman. Bahkan ada di antara mereka yang tubuhnya tersembunyi di bawah gardu-gardu perondan. Mereka justru terbunuh sebelum pertempuran yang sebenarnya terjadi.

Selain yang terbunuh, ternyata banyak para pengikut Harya Wisaka yang terluka parah dan tidak dapat melarikan diri dari padukuhan itu. Mereka dikumpulkan di banjar padukuhan untuk mendapat perawatan.

Raden Sutawijaya di banjar telah berpesan kepada Ki Bekel untuk memperlakukan dan merawat para pengikut Harya Wisaka dengan baik.

“Pada suatu saat kami harus pergi” berkata Raden Sutawijaya. “Jika kalian memperlakukan para pengikut Harya Wisaka itu dengan baik, mereka tidak akan mendendam kalian”

Ki Bekel itu mengangguk-angguk.

“Kami masih akan memburu Harya Wisaka, sehingga kami tidak akan dapat membawa mereka atau menyerahkan mereka ke Pajang. Tetapi di perjalanan pulang, kami akan singgah dan membawa mereka yang masih tinggal disini”

Seperti dipesankan oleh Raden Sutawijaya, maka orang-orang Jurangjero memperlakukan dan merawat para pengikut Harya Wisaka dengan baik. Seorang tabib yang pandai dari padukuhan itu merawat dan mengobati para pengikut Harya Wisaka itu sebagaimana ia merawat dan mengobati para prajurit Pajang.

Ternyata para prajurit Pajang harus tinggal dua hari di Jurangjero. Mereka masih belum dapat bergerak, karena masih ada di antara mereka yang masih belum dapat meninggalkan pembaringan. Sementara itu, para pemimpin prajurit Pajang tidak dapat meninggalkan mereka, karena dendam para pengikut Harya Wisaka akan dapat mencelakai mereka, meskipun para prajurit Pajang tidak mengusik para pengikut Harya Wisaka yang terluka.

“Tinggalkan kami” berkata seorang di antara yang terluka parah.

“Kita tidak dapat mempercayai para pengikut Harya Wisaka itu”

“Biarlah, apa yang akan mereka lakukan atas kami. Mudah-mudahan orang Jurangjero dapat mencegah mereka”

“Tidak” berkata Raden Sutawijaya, “kalian harus meninggalkan padukuhan ini”

Setelah dua hari berada di Jurangjero bersama-sama dengan para pengikut Harya Wisaka yang terluka, maka pasukan Pajang itu pun bergerak meninggalkan Jurangjero atas tuntunan para petugas sandi. Mereka sempat mengetahui, bahwa pasukan yang dipimpin oleh Harya Wisaka itu bergerak ke selatan.

“Apakah kami tidak dianggap bersalah jika kami merawat dan mengobati luka-luka para pemberontak itu?”

“Kami adalah saksi bahwa kalian tidak berpihak kepada mereka” berkata Raden Sutawijaya. “Kalian untuk sementara tidak dapat berbuat lain. Jika kalian menahan mereka seperti tawanan, maka mereka akan mendendam. Sementara kami belum dapat memberikan perlindungan kepada kalian sebaik-baiknya”

Ki Bekel mengangguk-angguk.

“Jangan cemas bahwa kami akan memfitnah kalian”

“Terima kasih atas pengertian Raden” berkata Ki Bekel itu. Namun kemudian Ki Bekel itu pun bertanya, “Apa yang harus kami lakukan jika ada di antara mereka yang melarikan diri selama ditinggalkan oleh prajurit Pajang? Atau bahkan mungkin kawan-kawannya datang untuk mengambil mereka?”

“Kalian memang tidak dapat berbuat apa-apa. kami tahu, jika kalian mencoba mencegahnya, maka padukuhan ini akan mengalami bencana” sahut Pangeran Benawa. “Karena itu, lepaskan saja mereka. Jika kami dapat menangkap Harya Wisaka, mereka tidak akan berarti apa-apa”

“Terima kasih, Pangeran” Ki Bekel mengangguk hormat, “mudah-mudahan pasukan Pajang berhasil menangkap Harya Wisaka sehingga kekacauan yang disebarkan dimana-mana segera berakhir”

Demikianlah, maka pasukan Pajang itu pun telah meninggalkan Padukuhan Jurangjero sambil membawa beberapa orang terluka. Masih ada dua orang yang harus dipapah karena lukanya yang parah.

“Sebenarnya Raden tidak usah bersusah payah membawa kami” berkata salah seorang yang terluka parah.

“Kami hanya ingin menjauhkan kalian dari para pengikut Harya Wisaka itu” berkata Raden Sutawijaya. “Kalian akan kami sembunyikan di padukuhan yang agak jauh dari Jurangjero, agar mereka tidak dapat memburu kalian”

“Kami sudah siap menghadapi segala kemungkinan”

“Tetapi kita harus memilih kemungkinan terbaik dari segala kemungkinan itu”

Keduanya tidak menjawab.

Sedikit lewat tengah hari, pasukan itu berhenti di sebuah padukuhan. Ketika seorang penghubung memberitahukan bahwa yang datang itu adalah pasukan khusus dari Pajang yang dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan, maka pasukan itu pun diterima dengan baik oleh para penghuninya.

“Apakah pasukan yang dipimpin oleh Harya Wisaka lewat padukuhan ini?” bertanya Raden Sutawijaya kepada Ki Bekel.

Ki Bekel itu menggeleng. Katanya, “Tidak, Raden. Tidak ada pasukan yang lewat padukuhan ini. Tetapi ada pasukan yang melewati padukuhan di sebelah gumuk kecil itu. Mereka merampas semua isi padukuhan itu setelah mereka minta disediakan makan dan minum secukupnya”

“Berapa orang menurut pendengaran Ki Bekel?”

“Banyak. Seratus orang lebih”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Sementara Paksi berdesis, “Mereka sempat mengumpulkan orang-orang mereka yang bercerai-berai”

“Nampaknya mereka memiliki ikatan yang kuat yang tidak terputus saat Harya Wisaka ditahan. Demikian Harya Wisaka berhasil melarikan diri, maka ikatan itu menjadi semakin erat dan tanpa pertimbangan nalar, pengikut-pengikut Harya Wisaka melakukan semua perintah”

Pasukan itu beristirahat di padukuhan itu semalam. Di hari berikutnya, pasukan Pajang yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan telah meninggalkan padukuhan itu. Namun mereka telah meninggalkan kedua orang yang terluka parah dan menitipkannya kepada Ki Bekel.

“Kami akan segera kembali” berkata Raden Sutawijaya.

Dituntun oleh petugas sandi, pasukan itu bergerak menyusul gerak pasukan yang dipimpin oleh Harya Wisaka.

Meskipun jarak mereka sudah jauh, tetapi para prajurit sandi mampu mencium jejak pasukan itu.

Sehari-hari pasukan Pajang itu pun bergerak. Di sore hari menjelang matahari tenggelam, pasukan itu singgah di sebuah padukuhan yang besar. Seperti di padukuhan-padukuhan sebelumnya, pasukan itu mendapat sambutan yang sangat ramah. Bahkan agak berlebih-lebihan.

“Kami sudah menyiapkan sebuah bangsal yang pantas untuk menginap pasukan ini” berkata Ki Bekel.

“Bangsal?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Ya, bangsal yang besar”

“Apakah kalian membuat bangsal khusus untuk menginap sepasukan prajurit?” bertanya Pangeran Benawa.

“Maksud kami, kami sediakan banjar padukuhan kami sebagai sebuah bangsal bagi para prajurit. Kami sudah menyediakan tikar, bantal dan perlengkapan-perlengkapan lain seperlunya”

“Terima kasih, Ki Bekel” berkata Sutawijaya.

Demikianlah, maka Ki Bekel telah menempatkan para prajurit dan pasukan khusus itu di banjar padukuhan. Sebuah banjar yang cukup besar yang memang dapat menampung sejumlah tujuhpuluh lima orang.

Di pendapa, di ruang dalam dan di serambi-serambinya telah digelar tikar pandan yang putih, yang nampaknya masih baru.

“Silahkan beristirahat sebaik-baiknya. Kami akan menyediakan makan malam bagi pasukan ini”

“Terima kasih, Ki Bekel”

Ketika Ki Bekel dan dua orang bebahu meninggalkan banjar, Raden Sutawijaya, Pangeran Benawa dan Paksi telah berbicara dengan pemimpin tertinggi pasukan khusus itu, Ki Gede Pemanahan.

“Aku menjadi curiga” berkata Pangeran Benawa.

Sebenarnyalah, ketika senja turun, maka seorang petugas sandi telah menghadap Ki Gede Pemanahan dengan wajah yang pucat berkeringat.

“Kami mohon ampun. Ada kesalahan dalam pengamatan kami”

“Kesalahan apa?” bertanya Raden Sutawijaya.

“Padukuhan ini dua hari yang lalu memang benar dilalui oleh pasukan Harya Wisaka itu”

“Lalu?”

Petugas sandi itu termangu-mangu sejenak. Dipandanginya orang-orang yang ada di sekelilingnya.

“Kau berada di antara kami, jangan takut” desis Pangeran Benawa.

“Kami telah masuk ke dalam jebakan. Ki Bekel yang menerima kita, bukan Ki Bekel dari padukuhan ini yang sebenarnya. Padukuhan ini sudah dikuasai oleh pasukan Harya Wisaka. Kita berada di antara mereka”

Wajah para pemimpin pasukan Pajang itu menegang sejenak. Namun Raden Sutawijaya pun berkata, “Baik. Terima kasih atas pemberitahuan ini. Tetapi apakah kau yakin?”

“Ya, Raden. Kami menjadi curiga ketika kami datang ke padukuhan ini. Aku dan seorang kawanku telah mencari keterangan. Kami berdua mendapat keterangan yang sama”

“Kalian mencari keterangan bersama-sama atau sendiri-sendiri, tetapi mendapat keterangan yang sama?”

“Sendiri-sendiri, Raden”

“Dimana kawanmu itu?”

“Masih berusaha untuk meyakinkan”

“Dimana Ki Bekel yang sebenarnya sekarang? Dibunuh atau ditawan?”

“Kami belum tahu. Tetapi kami menduga, bahwa Ki Bekel masih berada di rumahnya. Tetapi dijaga ketat”, “Baik. Kami harus segera mempersiapkan diri”

Berita itu segera disebarkan di antara para prajurit, tetapi dengan sangat berhati-hati. Dari seorang ke seorang yang lain, sehingga akhirnya semuanya telah mendengarnya.

“Tunggu perintah selanjutnya” pesan Raden Sutawijaya.

Dalam pada itu, petugas sandi itu pun telah minta diri untuk mengamati keadaan dan perkembangan terakhir di padukuhan itu.

“Sebelum wayah sepi bocah, kalian harus sudah berada disini dengan para petugas sandi yang lain yang ada disini”

“Kami berdua saja disini, Raden”

“Mereka mendahului perjalanan kita”

Raden Sutawijaya mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Tetapi ingat, sebelum wayah sepi bocah, kalian berdua harus sudah berada disini”

Petugas sandi itu pun meninggalkan banjar. Tidak lewat pintu regol, karena petugas sandi itu yakin, bahwa regol itu tentu diawasi dengan baik.

Sebenarnyalah menjelang wayah sepi bocah, kedua orang petugas sandi itu telah berada di banjar. Mereka menjadi yakin, bahwa keterangan yang mereka dapatkan itu benar. Ki Bekel itu bukan Ki Bekel yang sebenarnya. Sementara itu, pasukan Harya Wisaka yang kuat telah bersiap untuk mengepung dan selanjutnya menghancurkan pasukan Pajang itu.

“Kita harus keluar dari banjar ini. Jika kita harus bertempur, kita akan memilih seluruh padukuhan ini sebagai medan”

“Ya” berkata Pangeran Benawa, “semakin luas ruang gerak kita, akan menjadi lebih baik bagi kita”

“Jika perlu kita akan keluar dari padukuhan ini. Untuk itu kita harus menentukan tempat untuk berkumpul kembali”

Petugas sandi itulah yang memberitahukan bahwa tidak jauh dari padukuhan itu terdapat sebuah hutan.

“Kita dapat berkumpul dan menyusun diri di hutan itu”

Sementara itu, selagi mereka masih berbincang, beberapa orang telah memasuki banjar padukuhan itu dengan membawa nasi yang masih mengepul serta sayur dan lauk-pauknya. Agaknya nasi, sayur dan lauk-pauk baru saja masak, sehingga masih tetap hangat. Demikian pula minumannya.

“Terima kasih” berkata Ki Gede Pemanahan kepada orang-orang yang datang membawa makan malam mereka itu.

Sepeninggal mereka, maka Pangeran Benawa pun bertanya, “Apakah kita akan makan?”

“Kita akan melihat, apakah nasi, sayur dan lauk-pauknya serta minuman itu dapat dimakan dan diminum”

Raden Sutawijaya dan Pangeran Benawa, yang ternyata kebal akan racun itu telah menilik makanan dan minuman itu. Apakah makan dan minum itu beracun atau tidak.

Ternyata nasi, sayur dan lauk-pauknya serta minuman itu tidak beracun, sehingga karena itu, maka Raden Sutawijaya membiarkan para prajurit Pajang itu makan dan minum sepuasnya.

Hidangan makan dan minum itu pun terasa berlebihan. Beberapa ekor ayam telah disembelih. Telur itik dan ikan air tawar yang nampaknya langsung ditangkap dari belumbang.

“Pokoknya sekarang makan” berkata seorang prajurit.

“Kau penuhi perutmu dengan nasi dan daging ayam goreng?”

“Ya. Sayang kalau tidak dimakan”

“Jika kemudian perutmu dikoyak dengan ujung pedang?”

“Jika aku harus mati, aku sudah menikmati daging ayam goreng, telur itik dadar dan mangut lele”

Kawannya mengerutkan keningnya, sementara prajurit yang makan sekenyangnya itu tertawa. Katanya, “Jangan terlalu tegang. Nikmati saja makan dan minummu”

Akhirnya kawannya itu pun tertawa. Katanya, “Kau benar. Sayang kalau lauknya yang nikmat ini tersisa”

Beberapa saat kemudian mereka telah selesai makan. Sementara itu malam pun bertambah malam. Menurut perhitungan Raden Sutawijaya, saat itu adalah saat yang terbaik untuk meninggalkan banjar. Justru saat mereka dikira masih sibuk makan.

Petugas sandi itu pun telah memberikan ancar-ancar beberapa jalan menuju ke hutan sebelah. Jika mereka harus berpencar, maka mereka akan berkumpul kembali di hutan itu sebelum fajar.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, Ki Gede Pemanahan pun telah memerintahkan para prajurit Pajang itu untuk keluar dari halaman banjar. Tetapi mereka tidak diperkenankan keluar lewat regol halaman.

“Kalian harus meloncati dinding bagian belakang banjar itu. Kita tidak berhasil mengetahui jumlah kekuatan lawan kita. Tetapi menurut perhitungan, mereka tidak ingin dihancurkan lagi sebagaimana yang terjadi di Jurangjero. Karena itu, maka kekuatan mereka tentu lebih besar sekarang ini, sementara itu, kita berada di dalam kekuatan mereka itu. Karena itu, kita akan keluar dahulu dari lingkungan mereka. Kita membuat jarak agar penglihatan kita atas mereka menjadi lebih jelas”

Demikianlah, seorang petugas sandi telah mendahului meloncati dinding belakang banjar. Nampaknya lawan terlalu yakin akan keberhasilan mereka menjebak para prajurit Pajang itu, sehingga mereka tidak menempatkan pengawasan yang lebih rapat di belakang banjar.

Setelah ada isyarat, maka berangsur-angsur prajurit Pajang itu keluar dari halaman banjar. Diam-diam dengan menyusup di antara pepohonan di kebun dan menyelinap di sela-sela rumpun bambu, maka para prajurit itu berusaha untuk meninggalkan padukuhan itu.

Sebelum tengah malam, para prajurit itu berhasil keluar dari padukuhan. Mereka mengikuti jalan pintas yang paling dekat menuju ke hutan sebelah untuk memantapkan sikap mereka.

“Kita berharap bahwa mereka akan segera mengetahui, bahwa banjar itu telah kosong. Dengan mengikuti jejak kita, kita berharap mereka akan menyusul kita. Nah, terserah kepada kita, apa yang akan terjadi kemudian. Kita tentu mendapat kesempatan lebih baik di pinggir hutan ini daripada di dalam padukuhan itu”

“Aku akan kembali ke padukuhan” berkata salah seorang petugas sandi. “Aku akan melihat apa yang mereka lakukan setelah mereka mengetahui bahwa kita telah pergi”

“Berhati-hatilah. Ternyata mereka juga cerdik” pesan Raden Sutawijaya.

Dengan sangat berhati-hati sebagaimana dipesankan oleh Raden Sutawijaya, maka petugas sandi itu telah kembali lagi ke padukuhan.

Ternyata padukuhan itu menjadi gempar. Ketika seorang pengawas merasa curiga bahwa banjar itu rasa-rasanya menjadi sepi, ia telah mendekati regol halaman dan menjenguk ke dalam. Rasa-rasanya jantungnya berhenti ketika ia tidak melihat seorang pun di pendapa banjar. Sementara itu mangkuk masih berserakan. Sisa nasi di dalam ceting-ceting bambu masih tetap mengepul. Demikian pula sisa sayur dan lauk-pauknya.

Dengan serta-merta orang itu telah memanggil seorang kawannya dan mengajaknya masuk ke dalam banjar.

Sebenarnyalah banjar itu telah kosong.

Berlari-lari keduanya, melaporkan kepergian pasukan Pajang yang berada di banjar itu.

“Gila” orang yang mengaku Ki Bekel itu berteriak, “bukankah mereka tidak hanya dua atau tiga orang. Tetapi mendekati seratus orang? Apakah tidak ada yang melihat mereka keluar dari regol halaman dan pergi meninggalkan padukuhan ini?”

“Kita akan melihat. Mereka tidak keluar lewat regol halaman banjar”

Orang yang menyebut dirinya Ki Bekel dan beberapa orang dengan cepat pergi ke banjar. Mereka mengamati keadaan banjar itu dengan saksama. Para prajurit itu sempat makan secukupnya. Tidak nampak bahwa mereka menjadi tergesa-gesa.

Mangkuk-mangkuk yang dipakai oleh para prajurit itu sudah menjadi kotor. Tetapi tidak ada makanan yang tersisa di dalam mangkuk-mangkuk itu. Bahkan nasi, sayur dan lauk-pauknya pun hampir habis semuanya.

“Gila prajurit-prajurit Pajang” geram orang yang menyebut dirinya Ki Bekel. “Mereka habiskan makan dan minum yang kita hidangkan. Tetapi mereka sempat lenyap begitu saja seperti hantu”

Orang yang menyebut dirinya Ki Bekel itu pun segera memerintahkan mencari jejak para prajurit Pajang itu.

“Nampaknya dengan tenang saja mereka pergi. Tidak ada benda sepotong pun yang ketinggalan”

Sejenak kemudian, maka beberapa orang pun telah menemukan jejak para prajurit yang menghilang dari banjar itu. Mereka melihat jejak mereka di kebun belakang.

“Mereka meloncati dinding kebun belakang” lapor seorang di antara mereka yang mencari jejak itu.

Orang yang disebut Ki Bekel itu pun telah pergi ke kebun belakang banjar pula untuk melihat sendiri jejak yang ditinggalkan oleh para prajurit Pajang itu.

“Setan alas” geram orang yang disebut Ki Bekel itu. Ia bahkan menemukan beberapa potong tulang ayam. Nampaknya para prajurit itu menghilang dari padukuhan itu masih sempat membawa beberapa potong daging ayam dan dimakannya sambil pergi meninggalkan banjar.

Ki Bekel itu pun segera memerintahkan orang-orangnya untuk mengikuti jejak para prajurit Pajang itu.

“Jumlah mereka tidak sampai seratus orang” berkata orang yang disebut Ki Bekel itu.

“Tetapi prajurit-prajurit itu terdiri dari orang-orang gila.

Mungkin mereka adalah orang-orang yang sudah diputuskan untuk dihukum mati karena kejahatan yang pernah mereka lakukan. Mereka akan mendapat pengampunan jika mereka bersedia ikut dalam gerakan yang gila itu”

“Tetapi pasukan itu dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan”

“Hanya Ki Gede Pemanahan yang berani memimpin sekelompok penjahat yang seharusnya sudah digantung atau dipancung atau bahkan dihukum picis atau hukum sula”

“Siapa pun mereka, kita akan menghancurkannya. Bawa semua orang kita yang sudah dipersiapkan di padukuhan ini”

“Semuanya sekitar seratus lima puluh orang”

“Kita mempunyai kekuatan lipat dua dari para prajurit itu”

“Orang-orang kita di Jurangjero jumlahnya juga sekitar seratus lima puluh orang. Tetapi mereka dihancurkan oleh pasukan Ki Gede Pemanahan itu”

“Mereka diserang dengan cara yang licik. Tetapi sekarang kita akan bertempur beradu dada”

Demikianlah, pasukan dari para pengikut Harya Wisaka itu pun telah menelusuri jejak para prajurit Pajang. Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang berhasil melarikan diri dari Jurangjero.

Mereka masih belum dapat menghapus bayangan kekalahan yang pernah mereka alami di Jurangjero. Karena itu, sebelum mereka bertemu dengan lawan, maka punggung mereka sudah basah oleh keringat.

Mereka mencoba untuk menguatkan hati mereka dengan setiap kali mengucap ulang kata-kata orang yang disebut Ki Bekel itu. Di Jurangjero, pasukannya diserang dengan licik oleh para prajurit Pajang. Mereka merunduk dengan diam-diam. Meloncat dan menusuk dengan tiba-tiba kawan-kawannya yang belum siap.

Sekarang pasukan para pengikut Harya Wisaka itu memburu dan menyerang mereka saling berhadapan.

Seorang pencari jejak berada di paling depan. Dengan obor di tangan orang itu mengikuti jejak prajurit Pajang yang keluar dari padukuhan.

“Mereka memencar” berkata pencari jejak itu.

“Satu usaha untuk mengaburkan jejak mereka. Ikuti jejak yang terbanyak”

Pasukan yang besar itu pun kemudian bergerak mengikuti pencari jejak yang maju perlahan-lahan. Beberapa orang di antara mereka menjadi hampir kehabisan kesabaran. Tetapi mereka tidak dapat berjalan lebih cepat dari pencari jejak itu.

Namun akhirnya orang-orang yang hampir tidak sabar itu berkata, “Mereka pasti pergi ke hutan. Jika kita tidak cepat, mereka mungkin sudah pergi lagi. Kita akan kehilangan makan malam kita”

Mereka memang berjalan lebih cepat. Tetapi setiap kali pencari jejak itu harus merunduk mengamati jejak yang nampaknya semakin lama semakin banyak. Yang semula memencar, mulai bergabung kembali.

“Kita tidak sangsi lagi. Mereka pasti berada di hutan itu. Kita akan mengamati jejak lagi setelah kita sampai ke tepi hutan. Mudah-mudahan mereka masih berada disana”

“Matikan obor. Kita jangan terjebak lagi”

“Bagaimana aku dapat mengamati jejak jika obor itu dimatikan”

“Tetapi kita tidak terlalu dungu dengan menunjukkan kepada para prajurit itu, bahwa kita datang menghampiri mereka”

“Mereka tentu sudah memperhitungkan bahwa kita akan memburu” jawab pencari jejak itu.

“Tetapi tidak sedungu dengan obor di tangan”

Akhirnya orang yang menyebut dirinya Ki Bekel itulah yang memerintahkan memadamkan obor.

Pasukan para pengikut Harya Wisaka itu bergerak lebih cepat. Mereka tidak mau kehilangan prajurit Pajang yang telah menghancurkan pasukan para pengikut Harya Wisaka itu di Jurangjero.

Ketika mereka kemudian mendekati hutan, maka mereka menjadi semakin hati-hati. Pencari jejak itu mencoba untuk melihat jejak para prajurit itu dalam kegelapan. Dicobanya untuk mengamati ranting-ranting pohon perdu yang patah. Jejak kaki di tanah yang lembab.

Tetapi setiap kali pencari jejak itu mengusap matanya. Katanya, “Aku dapat menjadi juling karenanya”

“Persetan dengan matamu” sahut seorang pengikut Harya Wisaka yang bertubuh tinggi.

Pencari jejak itu menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengendapkan kata-kata tajam dari orang bertubuh tinggi itu di dalam dasar hatinya, agar hatinya tidak bergejolak karenanya.

Demikianlah pasukan itu bergerak terus sehingga akhirnya mereka sampai ke hutan itu.

Pencari jejak itu yakin, bahwa para prajurit Pajang itu telah pergi ke hutan itu pula. Tetapi pencari jejak itu kemudian telah kehilangan arah. Tanah yang basah, setumpuk sampah dedaunan kering dan ranting-ranting patah, dahan dan pokok kayu yang roboh, menjadikan pencari jejak itu agak kesulitan. Apalagi di dalam gelapnya hutan.

“Jadi mereka masuk ke dalam hutan ini?” bertanya orang yang disebut Ki Bekel.

“Ya. Mereka berada di hutan ini”

Orang yang disebut Ki Bekel itu menggeram. Ia tidak dapat memerintahkan orang-orangnya untuk menyusul masuk ke dalam hutan. Jika demikian, ia akan dapat mengulangi peristiwa di Jurangjero. Para prajurit Pajang itu akan dapat menyergap mereka dengan tiba-tiba dari balik pepohonan dan gerumbul-gerumbul liar. Mungkin sebagian mereka telah memanjat pohon-pohon yang tumbuh di hutan itu dan siap meloncat sambil mengayunkan senjatanya.

Namun dipanggilnya seorang kepercayaannya dan pencari jejak untuk berbicara.

“Jangan masuk” berkata pencari jejak itu. “Aku yakin mereka ada di dalam hutan ini. Sangat berbahaya jika sekarang kita masuk ke dalamnya”

“Jadi kita biarkan mereka lepas dari tangan?”

Kepercayaan orang yang disebut Ki Bekel itu menyahut, “Kita tunggu sampai esok. Besok, begitu matahari terbit, kami akan menyusul masuk ke dalam hutan”

“Orang-orang yang kita kejar itu sudah berada di seberang hutan. Kita tidak akan sempat memburunya” jawab Ki Bekel.

“Itu lebih baik daripada anak-anak kita dihancurkan lagi seperti yang terjadi di Jurangjero”

“Aku juga berpikir seperti itu. Tetapi rasa-rasanya hati ini tidak rela jika makanan yang sudah ada di dalam mulut ini tumpah kembali”

“Orang-orang kitalah yang dungu. Seharusnya pasukan yang jumlahnya hampir seratus orang itu tidak dapat meninggalkan padukuhan tanpa diketahui. Mungkin satu dua orang dapat luput dari pengawasan. Tetapi hampir seratus orang. Hampir tidak masuk akal”

“Menilik jejak mereka, para prajurit itu justru menyebar melintasi halaman-halaman dan kebun-kebun yang gelap, kemudian meloncati dinding di beberapa tempat”

“Apa pun yang mereka lakukan, tetapi sedemikian banyak orang dapat lolos dari pengawasan”

“Jadi sekarang apa sebaiknya yang kita lakukan?”

“Kita kembali ke padukuhan. Rencana jebakan yang sudah kita susun dengan rapi itu ternyata sia-sia”

“Kita beristirahat disini sebentar. Mungkin ada sesuatu yang menarik perhatian” berkata kepercayaan Ki Bekel itu kemudian.

Orang yang disebut Ki Bekel itu mengangguk. Katanya, “Perintahkan untuk mengawasi keadaan. Jangan sampai kita dirunduk dan diterkam di punggung dan mati sebelum sempat mengangkat senjata”

Kepercayaan Ki Bekel itu pun telah memanggil beberapa orang pemimpin kelompok. Diperintahkannya untuk mengadakan pengawasan yang ketat.

“Kita beristirahat sebentar disini”

Namun dalam pada itu, kepercayaan orang yang disebut Ki Bekel itu telah membawa tiga orangnya yang terbaik untuk masuk ke dalam hutan bersama pencari jejak itu. Mungkin mereka menemukan sesuatu di dalam hutan itu.

Tetapi ternyata mereka tidak menemukan sesuatu.

Akhirnya kepercayaan Ki Bekel itu terhenyak duduk di sebelahnya sambil berdesis, “Tidak ada tanda-tanda apa pun yang dapat kita kenali”

“Marilah kita pulang”

Demikianlah, pasukan yang jumlahnya dua kali lipat dari para prajurit Pajang itu bergerak kembali ke padukuhan. Mereka menjadi sangat kecewa. Dengan rapi mereka menyusun jebakan. Para prajurit Pajang itu sudah masuk ke dalam jebakan mereka, tetapi akhirnya sia-sia.

Perjalanan kembali ke padukuhan itu jauh lebih cepat dari perjalanan mereka memburu para prajurit Pajang. Mereka tidak perlu lagi mengamati jejak.

Beberapa orang di antara mereka mengumpat-umpat di perjalanan pulang. Seorang yang bertubuh raksasa menggeram, “Golokku sudah haus darah prajurit-prajurit Pajang. Seorang saudara sepupuku terbunuh atau mungkin terluka parah di Jurangjero. Aku ingin membalas dendam. Nilai adikku itu sama dengan lima kepala prajurit Pajang”

“Jika sepupumu itu terluka, mungkin ia masih akan dapat hidup” desis kawannya. “Menurut pendengaranku, kawan-kawan kita yang terluka mendapat perawatan yang baik di Jurangjero. Orang-orang Jurangjero tidak berani berbuat semena-mena, karena mereka sadari, bahwa jika pasukan Pajang itu pergi, mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi”

“Persetan dengan orang-orang Jurangjero. Tetapi sepupuku itu tidak sempat keluar dari Jurangjero. Aku harus membalas dendam kepada prajurit-prajurit Pajang itu”

Tiba-tiba saja seorang yang lain berkata, “Jika kau kehilangan saudara sepupumu, aku kehilangan adikku yang bungsu. Adikku yang sangat lucu di masa kanak-kanaknya. Akulah yang menyuapinya. Sayang, aku tidak berada di Jurangjero saat prajurit-prajurit Pajang itu dengan licik menyergapnya”

Seorang kawan mereka sama sekali tidak tertarik pada pembicaraan itu. Ia masih saja berjalan sambil menundukkan kepalanya. Di tangannya dijinjingnya tombak pendeknya.

Berbeda dengan kawan-kawannya yang berbincang dengan lontaran nada dendam itu, maka orang yang berjalan dengan kepala tunduk dan menjinjing tombak pendek itu merasa beruntung, bahwa pasukannya itu tidak bertemu dengan para prajurit Pajang. Orang itu mengalami sendiri betapa ganasnya pertempuran di Jurangjero. Meskipun ia memiliki pengalaman yang cukup, namun pertempuran di Jurangjero itu terasa sangat mencengkam.

Rasa-rasanya orang itu tidak ingin lagi bertemu dengan sekelompok prajurit-prajurit Pajang yang ditemuinya di Jurangjero. Pasukan yang dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan.

Dalam pada itu, di padukuhan di depan mereka sudah terdengar ayam jantan berkokok bersahutan. Meskipun malam masih gelap, tetapi sudah mulai terasa suasana dini. Beberapa saat lagi, fajar akan menyingsing.

Seorang yang bertubuh gemuk menguap sambil berdesis, “Aku mengantuk sekali”

“Masih ada bulak panjang di balik padukuhan itu”

“Ya. Menjemukan sekali”

“Ya. Lebih baik kita bertempur. Udara dingin ini tidak akan merasuk sampai ke tulang. Aku ingin membuktikan ceritera orang tentang keganasan prajurit-prajurit Pajang itu”

Kawannya yang gemuk itu tidak menyahut. Tetapi ia justru menguap lagi tanpa menutupi mulutnya dengan tangannya. Namun orang itu mengumpat-umpat karena seekor binatang telah masuk ke dalam mulutnya.

Rasa-rasanya malas sekali berjalan di dini hari. Jika saja mereka berada di padukuhan, maka mereka dapat tidur nyenyak melingkar dengan berselimut kain panjang.

Namun yang tidak mereka duga-duga telah terjadi.

Selagi pasukan itu berjalan bermalas-malas, maka tiba-tiba saja dari balik tanaman yang hijau di sawah, beberapa orang muncul sambil mengangkat busur.

Tiba-tiba saja anak panah pun meluncur seperti hujan dari sebelah-menyebelah jalan di bulak itu sebelum mereka memasuki mulut padukuhan.

Beberapa orang langsung terpelanting jatuh tanpa sempat menarik senjatanya. Beberapa orang terluka dan beberapa orang lagi justru berlindung di balik tubuh kawan-kawannya.

Serangan yang tiba-tiba itu sangat mengejutkan mereka. Tetapi orang yang disebut Ki Bekel itu tidak segera kehilangan akal. Dengan lantang ia pun berteriak, “Masuk ke padukuhan. Cepat”

Orang-orang itu tidak berpikir panjang. Dengan memasuki padukuhan, maka serangan anak panah itu tidak akan dengan mudah mengenai tubuh mereka.

Dengan serta-merta pasukan itu pun bergerak ke padukuhan yang tinggal beberapa langkah saja di hadapan mereka. Sementara itu, serangan beberapa orang dari sebelah menyebelah jalan itu masih saja berlangsung.

Orang yang disebut Ki Bekel itu pun telah berlari masuk regol padukuhan. Demikian ia terlindung, maka ia pun berteriak, “Menyebar. Dekati mereka dari beberapa arah. Berhati-hatilah terhadap orang-orang gila yang menaburkan anak panah itu”

Orang-orang yang berada di bawah perintahnya itu pun segera menyusup ke dalam padukuhan. Mereka meloncati dinding halaman dan menyebar. Mereka harus mengambil ancang-ancang untuk menyerang orang-orang yang bersenjata busur dan anak panah itu.

“Jumlah mereka tidak terlalu banyak” berkata orang yang disebut Ki Bekel itu.

“Bukan jumlah mereka tidak terlalu banyak. Tetapi agaknya hanya sebagian kecil saja dari mereka yang membawa busur dan anak panah”

“Berhati-hatilah. Prajurit-prajurit Pajang yang gila itu telah mendahului kita dan menunggu kita disini”

“Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Kekuatan kita dua kali lipat. Ternyata mereka terlalu bodoh untuk menunggu kita disini, sehingga kita mendapat kesempatan untuk menghancurkannya”

Dalam waktu dekat anak buah orang yang disebut Ki Bekel itu telah menyebar. Mereka bersiap untuk berlari menyerang orang-orang yang berada di sawah dan menyerang mereka dengan anak panah.

Namun dalam pada itu, beberapa orang di antara mereka telah terbaring diam di tengah jalan beberapa langkah dari mulut jalan itu. Yang lain masih sempat mengerang, sedang ada pula di antara mereka yang masih berusaha merangkak masuk regol padukuhan.

Sementara anak buah Ki Bekel itu memencar, masih saja meluncur beberapa anak panah ke arah mereka. Tetapi anak panah itu tidak berbahaya lagi. Dinding padukuhan serta pepohonan merupakan pelindung yang baik.

“Para prajurit Pajang itu benar-benar sudah menjadi gila” berkata salah seorang di antara mereka. “Mereka masih saja menyerang dengan anak panah pada kedudukan kita sekarang”

Serangan-serangan yang masih saja meluncur dari sawah itu memang menimbulkan kecurigaan orang yang disebut Ki Bekel itu. Rasa-rasanya para prajurit Pajang memang tidak terlalu bodoh untuk menyerang terus setelah para pengikut Harya Wisaka itu berada di dalam dinding padukuhan.

“Apakah mereka ingin menahan agar kita tidak menyerang mereka?” desis kepercayaan orang yang disebut Ki Bekel itu.

“Mungkin. Tetapi itu satu sikap yang dungu. Tetapi ada maksud lain. Berhati-hatilah”

Namun para pengikut Harya Wisaka itu tidak sempat mengurai peristiwa itu lebih jauh. Ketika serangan-serangan anak panah dari sawah itu menjadi semakin deras, maka tiba-tiba saja satu-satu para pengikut Harya Wisaka itu terlempar jatuh dengan luka menembus jantung.

Para prajurit Pajang sempat merunduk mereka justru saat perhatian mereka tertuju kepada para prajurit Pajang di tengah-tengah sawah.

Tikaman dari belakang yang tiba-tiba itu memang sangat mengejutkan. Beberapa orang tidak sempat membela diri. Sementara itu gelombang serangan yang lebih besar telah datang pula.

Para pengikut Harya Wisaka itu memang sempat menjadi bingung. Tiba-tiba saja para prajurit Pajang itu telah berada di antara mereka. Tanpa jarak.

Pertempuran pun segera terjadi dengan sengitnya. Tetapi ketidaksiapan para pengikut Harya Wisaka sangat berpengaruh. Meskipun jumlah mereka lebih banyak, tetapi mereka sama sekali tidak mapan.

Dalam pada itu, para prajurit Pajang yang berada di sawah telah berlari-lari ke padukuhan. Mereka pun segera berloncatan masuk padukuhan. Mereka telah meletakkan busur dan anak panah mereka. Tetapi di tangan mereka tergenggam pedang.

Serangan yang tiba-tiba itu telah merusak ketahanan jiwa para pengikut Harya Wisaka. Apalagi mereka yang pernah mengalaminya di Jurangjero. Hati mereka yang sudah cacat itu, segera menjadi kabur dan bahkan tidak tahu apa yang sebaiknya dilakukan.....
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Jejak Dibalik Kabut Jilid 23"

Post a Comment

close