Jejak Dibalik Kabut Jilid 22

Mode Malam
Sebuah benturan yang keras terjadi. Hampir saja tombak Ki Tumenggung terlepas dari tangannya. Namun dengan cepat ia berhasil memperbaikinya.

“Ayah, aku datang dengan saudara seperguruanku. Ia ingin ikut bermalam di rumah ini semalam”

“Siapa saudara seperguruanmu itu?”

“Pangeran Benawa”

“Pangeran Benawa? Kau Gila Paksi. Dimana Pangeran itu sekarang?”

“Ia baru pergi ke pakiwan sebentar, Ayah”

“Persetan dengan Pangeran Benawa” geram Ki Tumenggung. “Aku tidak dapat memaafkanmu kali ini, Paksi. Jika kau tidak dihentikan sekarang, maka pada suatu saat kaulah yang akan membunuhku. Setidak-tidaknya kau akan menjadi sebab kematianku”

“Aku tidak tahu apa yang Ayah maksudkan”

Ki Tumenggung tidak menjawab lagi. Tetapi serangan-serangannya datang semakin cepat.

Namun Paksi telah mematangkan ilmunya. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia berhasil menghindari dan menangkis serangan-serangan itu. Bahkan demikian besar tenaganya, sehingga pada setiap benturan, terasa tangan Ki Tumenggung menjadi panas.

Tetapi serangan-serangan Ki Tumenggung datang mengalir seperti banjir. Tidak henti-hentinya.

Ketika Nyi Tumenggung kemudian keluar dari pintu pringgitan dan melihat Ki Tumenggung menyerang Paksi dengan tombak pendek, maka tahulah Nyi Tumenggung, bahwa Ki Tumenggung bersungguh-sungguh. Kecemasan yang sudah lama membayang itu pun kini telah ternyata. Ki Tumenggung memang berusaha untuk menyingkirkan Paksi. Jika sebelumnya ia masih mencari cara yang terselubung, maka kini Ki Tumenggung tidak lagi menyembunyikan niatnya itu.

“Ki Tumenggung” Nyi Tumenggung hampir berteriak, “apa yang kau lakukan?”

“Iblis kecil ini telah mengkhianati aku. Dengan sengaja ia ingin menyurukkan aku ke dalam bencana”

“Apa yang dilakukannya?”

Ki Tumenggung meloncat sambil menjulurkan tombaknya. Sementara itu Paksi menghindarinya. “Kakang, berhentilah”

“Aku akan membunuhnya. Kesabaranku telah habis”

“Kakang”

“Kali ini masalahnya bukan lagi kepatuhan seorang anak kepada ayahnya. Tetapi persoalannya sudah menyangkut keselamatan bahkan mati dan hidupku”

“Jadi kau beratkan Harya Wisaka daripada anakmu?”

“Bukan hanya Harya Wisaka. Tetapi keselamatanku sendiri. Aku dan seisi rumah ini. Termasuk kau dan anak-anakmu yang lain, yang masih memerlukan perlindungan ayahnya dan kasih sayang ibunya”

Tiba-tiba saja Paksi bertanya, “Kenapa dengan Ayah, Ibu dan adik-adikku? Jika ada yang mengancam mereka, aku justru akan dapat membantu Ayah melindungi mereka”

“Jangan berpura-pura tidak tahu. Kau harus mati dan Pangeran Benawa pun akan mati di halaman belakang rumah ini. Harya Wisaka sendiri akan membunuhnya”

Dalam pada itu, di halaman belakang rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, Pangeran Benawa memang sudah tidak bersembunyi lagi.

Apalagi ketika kemudian Harya Wisaka itu berkata sambil memandang ke kegelapan, “Jangan bersembunyi seperti seorang pencuri. Keluarlah dan kita akan berhadapan sebagai laki-laki”

Pangeran Benawa pun kemudian telah bangkit berdiri dan melangkah mendekati Harya Wisaka, “Aku, Paman. Aku tidak mengira kalau Paman ada disini”

“Kau tidak usah berbohong. Kita sudah berhadapan sekarang”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku memang ingin bermalam disini bersama Paksi. Tetapi terasa sesuatu agak mencurigakan disini. Karena itu, maka aku telah bersembunyi di halaman belakang untuk mengetahui, apa yang telah membuat aku menjadi curiga”

“Cukup. Sudah aku katakan, kau tidak perlu berpura-pura atau mengarang ceritera apapun. Bersiaplah. Aku akan membunuhmu, sementara Ki Tumenggung Sarpa Biwada akan menyelesaikan anaknya yang telah mengkhianatinya”

“Apakah Ki Tumenggung sampai hati untuk melakukannya?”

“Aku tidak tahu, apa yang akan dilakukan oleh Ki Tumenggung. Apakah ia akan membunuh anak laki-lakinya atau akan memasungnya seumur hidupnya. Tetapi sudah tentu Ki Tumenggung tidak ingin ditangkap karena menyembunyikan aku di rumahnya”

“Seandainya Paksi dipasung seumur hidupnya atau dibunuh sekalipun, bukankah aku akan dapat berceritera kepada Ayahanda, bahwa Ki Tumenggung Sarpa Biwada telah menyembunyikan Paman Harya Wisaka yang melarikan diri dari penjara”

“Kau tidak akan pernah dapat melaporkannya”

“Kenapa?”

“Kau akan mati disini”

“Jangan begitu Paman. Apakah Paman sampai hati untuk membunuhku?”

“Kau memang harus mati, Benawa. Aku tidak ingin kau membawa kabar kepada banyak orang bahwa aku bersembunyi disini. Bagiku sendiri tidak akan ada soal, karena malam ini aku dapat melarikan diri dan bersembunyi di tempat lain. Tetapi aku tidak dapat membiarkan Ki Tumenggung Sarpa Biwada mengalami bencana karena aku”

“Sikap Paman sangat terpuji. Tetapi juga sangat tercela. Paman ingin menyelamatkan seseorang tetapi dengan mengorbankan orang lain. Apakah arti penyelamatan itu?”

“Aku harus menyelamatkan orang yang telah berusaha menolongku. Jika hal itu tidak berhasil, sama sekali tidak mempengaruhi maksud baiknya. Sedangkan kau sama sekali tidak bersikap bersahabat. Kau memusuhiku dan ayahmu sudah memenjarakan aku”

“Siapa yang memusuhi Paman? Pamanlah yang memusuhi aku, dan bahkan telah memburu aku kemana aku pergi, meskipun yang Paman buru adalah cincin ini. Tetapi seandainya di Pajang tidak ada cincin ini pun Paman tentu akan memburuku”

“Untuk apa aku memburumu jika kau tidak mengenakan cincin itu?”

“Maksud Paman untuk menguasai cincin ini hanyalah pengejawantahan dari nafsu Paman untuk menguasai lahir. Tanpa cincin ini pun Paman tetap berniat merebut tahta Pajang dari Ayahanda”

“Cukup. Kau masih terlalu kanak-kanak untuk mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan”

Pangeran Benawa menggeleng. Katanya, “Bukan hanya aku dan anak-anak muda sebayaku atau yang lebih muda lagi daripada aku yang dapat mengerti apa yang Paman lakukan, karena yang Paman lakukan tidak lebih dan tidak kurang dari sebuah pemberontakan”

“Aku akan membuatmu diam untuk selama-lamanya”

“Tetapi tentu aku tidak akan membiarkan diriku menjadi korban, Paman. Aku pun tidak rela jika cincin kerajaan ini jatuh ke tangan Paman”

“Kau tidak akan dapat lari”

“Lari? Untuk apa aku lari? Bukankah aku mampu mengimbangi kemampuan Paman?”

“Kau memang pemimpi. Jika di Alas Jabung aku dapat tertangkap, itu sama sekali bukan karena ilmumu lebih tinggi dari ilmuku. Tetapi saat itu, kau dengan licik mengajak Sutawijaya dan Paksi, anak Sarpa Biwada untuk menangkapku”

“Kenapa saat itu Paman menyerah begitu saja tanpa perlawanan yang berarti terhadap kami bertiga?”

“Aku sama sekali tidak takut ditangkap, karena seperti yang kau lihat, aku dengan mudah melepaskan diri”

“Jika Paman sekali lagi tertangkap, maka Paman akan disimpan di tempat yang lebih kokoh, dijaga oleh prajurit yang jumlahnya berlipat serta beberapa senapati pilihan yang tidak mungkin dapat dibujuk atau diperalat oleh apapun”

Harya Wisaka tertawa. Katanya, “Di seluruh Pajang tidak ada tempat yang dapat memenjarakan aku. Aku dapat keluar lewat lubang sebesar ujung duri”


Tetapi Pangeran Benawa tertawa. Katanya, “Kau memang suka berkelakar, Paman. Jika Paman memang merasa mampu menembus dinding tempat Paman ditahan di lingkungan istana Pajang, kenapa Paman masih harus bersembunyi?”

“Sudah aku katakan, jangan menyesali sikapku. Tetapi yang penting aku ingin bertanya kepadamu Benawa, jika kematian itu datang menjemputmu malam ini, pesan apa yang ingin kau sampaikan kepada ayahandamu, Kangjeng Sultan Hadiwijaya yang tamak itu?”

“Paman tidak usah menyibukkan diri dengan pesan-pesanku. Biarlah aku sendiri yang menyampaikannya kepada ayahanda, bahwa aku telah berhasil menangkap kembali Harya Wisaka yang melarikan diri dari bilik tahanannya”

Wajah Harya Wisaka menjadi merah. Dengan nada keras ia berkata, “Pangeran Benawa, sebenarnya aku tidak ingin bertengkar dengan kanak-kanak. Tetapi dalam keadaan seperti ini, aku tidak dapat berbuat lain dari membunuhmu. Ada atau tidak ada cincin di jari-jarimu. Jika cincin itu ternyata ada di jari-jarimu adalah satu kebetulan, karena aku akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Kau tidak dapat berbicara tentang keberadaanku disini kepada siapapun, sementara aku tidak perlu lagi memburu cincin itu kemana-mana”

“Tetapi seperti yang sudah aku katakan, Paman. Aku tidak mau mati sekarang. Jika Paman memaksa untuk membunuhku, maka aku pun dapat berbuat seperti itu. Karena kita mempunyai kemungkinan yang sama, membunuh atau dibunuh. Kecuali jika Paman bersedia berbaik hati menyerah untuk kembali ke bilik tahanan”

“Cukup. Bersiaplah untuk mati, Benawa”

Pangeran Benawa surut selangkah. Ia melihat Harya Wisaka sudah bersiap menyerangnya.

Sebenarnyalah, sesaat kemudian, Harya Wisaka itu pun telah meloncat menyerang. Sementara itu, Pangeran Benawa yang telah bersiap menghadapi segala kemungkinan pun telah menghindari serangan itu.

Namun agaknya Harya Wisaka benar benar tidak menahan diri lagi. Dengan garangnya ia menyerang dan menyerang terus. Ia ingin dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu dengan membunuh Pangeran Benawa. Kemudian menguburkan mayatnya di kebun belakang rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu.

Tetapi Pangeran Benawa pun telah meningkatkan ilmunya pula. Dengan demikian, maka pertahanannya pun menjadi semakin rapat, sehingga serangan-serangan Harya Wisaka tidak mampu menembusnya.

Dengan demikian, maka pertempuran di belakang rumah Ki Tumenggung itu pun menjadi semakin sengit. Keduanya telah meningkatkan ilmu mereka.

Namun ternyata tidak mudah bagi Harya Wisaka untuk membunuh Pangeran Benawa. Sebaliknya, tidak mudah pula bagi Pangeran Benawa untuk menangkap kembali Harya Wisaka tanpa bantuan orang lain. Apalagi kebun yang luas dan ditumbuhi dengan pohon-pohon yang besar, tanaman-tanaman perdu dan beberapa rumpun empon-empon yang sengaja ditanam oleh Nyi Tumenggung sebagai bahan untuk membuat reramuan jamu, sehingga kesannya kebun belakang itu menjadi rimbun.

Di gelap malam, pepohonan yang besar, tanaman perdu dan rumpun empon-empon itu dapat menjadi perisai bagi keduanya yang sedang terdesak.

Namun ternyata bahwa Pangeran Benawa memiliki ilmu yang sangat tinggi. Harya Wisaka yang meyakini kemampuannya itu pun mengalami kesulitan untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan Pangeran Benawa yang datang seperti prahara.

Dalam pada itu, di halaman depan, Ki Tumenggung Sarpa Biwada mengerahkan segenap kemampuannya untuk membunuh Paksi. Namun Paksi yang sudah ditempa itu pun tidak dapat dengan mudah dibunuhnya.

Sementara itu, Paksi sendiri masih mengekang dirinya. Ia lebih banyak menangkis, menghindar dan berloncatan mengambil jarak daripada melawan, apalagi menyerang.

“Ayah. Kenapa Ayah ingin benar-benar membunuhku” Paksi hampir berteriak.

Keributan itu telah membuat kedua orang adik Paksi pun menjadi kebingungan. Mereka terbangun dan dengan tergesa-gesa keluar dari bilik mereka dan bahkan langsung keluar ke pringgitan.

Sementara itu, Nyi Tumenggung masih berusaha untuk melerai mereka. Dengan lantang ia pun memanggil, “Kakang. Kakang Tumenggung. Kenapa Kakang benar-benar ingin membunuh Paksi”

“Anak durhaka. Anak ini akan membawa bencana bagi seluruh keluarga”

“Kakang takut melihat bayangan sendiri. Lihat, Paksi tidak melawan. Tetapi ia tidak ingin mati”

Tetapi Ki Tumenggung tidak menghiraukannya. Ia masih saja memburu Paksi, memutar tombaknya dan mengayunkannya menebas ke arah perut. Kemudian menjulurkannya mematuk ke arah dada.

Namun Paksi benar-benar tangkas. Kadang-kadang ia berloncatan menghindar. Namun jika terpaksa Paksi menangkis serangan-serangan itu dengan tongkatnya.

“Ibu” adik perempuan Paksi pun berlari memeluk ibunya.

“Ayah” teriak adik laki-laki Paksi, “apa yang telah terjadi?”

Tetapi ayahnya tidak menjawab. Serangan-serangannya datang semakin cepat. Namun serangan-serangan itu tidak pernah berhasil menyentuh tubuh Paksi.

Adik laki-laki Paksi itu pun kemudian berlari menghambur mendekati arena sambil berteriak, “Ayah, Kakang Paksi”

“Minggirlah” teriak ayahnya, “aku harus membunuh kakakmu yang durhaka ini”

“Kenapa” bertanya adik laki-laki Paksi.

“Minggir. Kau akan tahu kemudian, kenapa Paksi harus mati”

Adik laki-laki Paksi itu memang melangkah surut. Sementara adik perempuannya masih saja memeluk ibunya.

Paksi masih saja berloncatan menghindar serta sekali-sekali menangkis dan membenturkan tongkatnya. Tetapi Paksi masih belum membalas menyerang.


Meskipun Paksi masih belum membalas menyerang, tetapi Ki Tumenggung sudah mulai menjadi cemas. Benturan-benturan senjata yang terjadi telah mengisyaratkan kepada Ki Tumenggung, bahwa Paksi memiliki tenaga yang sangat besar, di samping kemampuan olah kanuragannya yang tinggi, yang telah ditunjukkannya ketika Paksi mengalahkan Ki Semburwangi.

Kecemasan Ki Tumenggung itu ternyata mulai mempengaruhi tata geraknya. Unsur-unsur geraknya mulai kehilangan watak. Tombak pendeknya tidak lagi berbahaya seperti sebelumnya. Namun justru karena itu, maka Ki Tumenggung nampak menjadi semakin garang. Serangan-serangannya nampaknya menjadi semakin keras. Tetapi semakin tidak terarah.

Sebenarnya paksi mempunyai kesempatan semakin besar untuk membalas menyerang menembus pertahanan ayahnya yang sudah goyah. Tetapi Paksi tidak melakukannya. Ia masih tetap bertahan. Menghindar dan sekali-sekali menangkis dan membenturkan tongkatnya.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi di halaman belakang rumah Ki Tumenggung pun menjadi semakin sengit. Harya Wisaka telah mengerahkan kemampuannya untuk menyelesaikan pertempuran itu. Ketika Harya Wisaka mulai terdesak, maka ia telah mengetrapkan ilmunya yang mendebarkan. Telapak tangannya seakan-akan telah membara. Dengan menelakupkan telapak tangannya, maka asap tipis yang kemerah-merahan telah mengepul dari telapak tangannya itu.

Tetapi telapak tangannya yang membara itu sama sekali tidak membantunya. Dengan tangkas Pangeran Benawa berloncatan menghindari sentuhan telapak tangannya. Bahkan sekali-sekali serangan Pangeran Benawa justru telah mengenai tubuhnya.

Dalam puncak kemarahannya, maka Harya Wisaka pun telah menarik pedangnya.

Ketika pedang itu berputar sehingga membayangkan kabut tipis di seputarnya, Pangeran Benawa meloncat surut.

“Kau akan mati, Benawa. Kau tidak bersenjata sekarang”

Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak. Ia menyadari, betapa tingginya ilmu pedang Harya Wisaka.

Tetapi di malam hari, tidak ada cahaya matahari yang memantul dari pedang itu, sehingga Pangeran Benawa menduga, bahwa pedang itu tidak akan dapat menyilaukan matanya.

Namun ternyata dugaan Pangeran Benawa itu keliru. Pedang itu semakin lama menjadi semakin berkilau. Pantulan cahaya lampu di kejauhan dan pantulan kilatan bintang-bintang di langit, bagaikan menjadi berlipat ganda sehingga Pangeran Benawa menjadi silau karenanya.

“Kau tidak dapat melihat arah gerak pedang pusakaku, Benawa. Sebentar lagi pedangku akan membuat lingkaran di lehermu”

Pangeran Benawa memang menjadi silau. Meskipun demikian bukan berarti bahwa Pangeran Benawa tidak dapat melihat sama sekali gerak pedang Harya Wisaka. Dibantu oleh ilmunya Sapta Panggraita, maka Pangeran Benawa tidak menemui kesulitan untuk mengamati gerak pedang Harya Wisaka.

Meskipun demikian, Pangeran Benawa memerlukan senjata untuk melawan pedang Harya Wisaka. Meskipun Pangeran Benawa tidak membawa tombak pendeknya, namun ia telah mengenakan lembaran kulit yang melingkari pergelangan tangannya. Sementara itu, kedua tangannya telah menggenggam sepasang pisau belatinya.

Harya Wisaka tertawa pendek sambil berkata, “Apa artinya sepasang pisau belatimu itu, Benawa?”

“Sama seperti arti pedang itu di tangan Paman” Jawab Pangeran Benawa.

“Omong kosong” geram Harya Wisaka. “Pedangku adalah pedang pusaka yang memiliki banyak kelebihan dari kebanyakan pedang”

“Demikian pula kedua pisau belatiku ini, Paman”

“Apa kelebihan pisau dapurmu itu?”

Pangeran Benawa justru tertawa. Katanya, “Jika Paman memang kebal, coba jangan hindari tajam pisau-pisau dapurku ini”

“Persetan dengan igauanmu” geram Harya Wisaka sambil meloncat menyerang.

Pangeran Benawa yang meskipun silau itu tahu pasti arah pedang Harya Wisaka. Karena itu, maka ia pun dengan sigapnya menghindarinya.

Dengan cepat Harya Wisaka memutar pedangnya. Kilatan cahaya yang memantul pada daun pedang itu, maka agak merepotkan Pangeran Benawa. Tetapi ilmunya Sapta panggraita seakan-akan telah memberinya petunjuk arah ayunan pedang Harya Wisaka.

Karena itu, maka dengan tangkasnya Pangeran Benawa menangkis serangan pedang Harya Wisaka itu.

Justru Harya Wisaka lah yang terkejut. Ia mengira bahwa pedangnya akan berhasil menyentuh tubuh Pangeran Benawa yang silau itu. Mungkin Pangeran Benawa berusaha untuk menangkis atau menghindar. Tetapi tentu tidak akan berhasil sepenuhnya, sehingga serangannya itu tentu akan dapat mengenai sasaran meskipun tidak tepat seperti yang dimaksudkan.

Ternyata sebuah benturan telah terjadi. Harya Wisaka yang tidak menduga bahwa Pangeran Benawa berhasil menangkis serangannya dengan tepat, justru hampir saja kehilangan senjata dalam benturan yang tidak diduganya itu.

Namun dengan cepat Harya Wisaka meloncat surut untuk memperbaiki genggaman pedangnya.

Pangeran Benawa tidak segera memburunya. Apalagi ketika Harya Wisaka memutar pedangnya di seputar tubuhnya, sehingga tubuh itu seolah-olah dilingkari oleh kabut yang berwarna keputih-putihan, dan bahkan kemudian kilatan-kilatan pantulan cahaya lampu di belakang rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, serta kerdipan cahaya bintang di langit, bagaikan menghiasi lingkaran kabut itu.

Pangeran Benawa sejenak justru terpesona oleh ujud yang memancar dari ilmu serta kelebihan pedang Harya Wisaka.

Namun tiba-tiba Harya Wisaka telah meloncat menyerangnya pula. Namun dengan kecepatan yang tinggi. Pangeran Benawa berhasil menghindarinya.

Tetapi Harya Wisaka tidak menghentikan serangannya. Pedangnya itu pun terjulur lurus mengarah ke dada. Tetapi dengan tangkasnya Pangeran Benawa menepis ujung pedang itu. Dan bahkan ujung belatinya yang sebuah lagi dengan cepat menggapai tubuh Harya Wisaka.

Harya Wisaka meloncat surut. Terasa pundaknya disengat ujung belati Pangeran Benawa. Tidak terlalu dalam. Tetapi luka itu telah menitikkan darah.

Harya Wisaka menggeram. Kemarahannya semakin membakar jantungnya. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Pundaknya telah terluka.

Ketika kemudian Pangeran Benawa yang meloncat menyerang, maka Harya Wisaka pun menjadi terdesak. Kilatan-kilatan pedangnya yang menyilaukan tidak mampu menghambat serangan-serangan Pangeran Benawa itu.

Harya Wisaka pun kemudian telah dijerat ke dalam kesulitan. Ia merasa tidak akan mungkin dapat mengalahkan, apalagi membunuh Pangeran Benawa. Bahkan Harya Wisaka pun yakin, bahwa di dalam diri Pangeran Benawa tersimpan beberapa kelebihan yang lain dari dirinya.

Namun Harya Wisaka tidak ingin tertangkap dan ditahan kembali. Karena itu, maka baginya tidak ada jalan lain kecuali melarikan diri dari halaman belakang rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu.

Harya Wisaka tidak lagi menghiraukan harga dirinya sebagai seorang prajurit linuwih. Ia bukan kesatria yang memilih mati daripada melarikan diri dari medan.


“Tidak semua orang yang menyingkir dari arena adalah pengecut” berkata Harya Wisaka di dalam hatinya.

Harya Wisaka pun tidak lagi mengingat nasib Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang telah menyembunyikannya. Apakah ia akan ditangkap atau dibunuh oleh Pangeran Benawa. Dalam keadaan yang tersudut, maka Harya Wisaka lebih memikirkan nasibnya sendiri daripada nasib Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang telah membantu menyembunyikannya di rumahnya.

Karena itu, maka memanfaatkan kerimbunan halaman belakang rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, pohon-pohon buah-buahan serta pohon nyiur yang terdapat di halaman belakang dan gelapnya malam, maka Harya Wisaka dengan beralaskan ilmunya, berusaha melepaskan diri dari tangan Pangeran Benawa.

Pangeran Benawa memang terlambat sekejap. Harya Wisaka yang dengan hentakan-hentakan ilmunya menyerang Pangeran Benawa, tiba-tiba saja telah meloncat ke belakang pepohonan.

“Paman” panggil Pangeran Benawa sambil memburunya, “jangan lari. Kita masih akan berunding mengadu kemahiran naik kuda di padang rumput yang luas”

Harya Wisaka tidak mendengarkannya. Bayangan-bayangan pun segera lenyap dalam kegelapan.

Pangeran Benawa memang berusaha mengejarnya. Tetapi Harya Wisaka itu luput dari tangannya.

Pangeran Benawa menjadi sangat kecewa. Ia telah menemukan Harya Wisaka. Tetapi ia telah gagal untuk menangkapnya kembali.

Demikian Harya Wisaka hilang dari halaman belakang rumah Ki Tumenggung serta meloncati dinding halaman turun di halaman rumah sebelah, Pangeran Benawa termangu-mangu sejenak di atas dinding halaman belakang itu. Tetapi ia tidak meloncat turun ke halaman sebelah dan memburu Harya Wisaka, karena usahanya tentu akan sia-sia. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, maka Harya Wisaka dapat berlari sangat cepat, meskipun mungkin Pangeran Benawa dapat pula berlari secepat itu, tetapi di antara pepohonan, rumpun perdu dan gelapnya malam, ia akan sulit untuk dapat menyusulnya.

Dengan kemampuan Aji Sapta Pandulu, Pangeran Benawa masih melihat Harya Wisaka menyusup di belakang rimbunnya tanaman perdu di halaman sebelah. Tetapi Pangeran Benawa terpaksa membiarkannya pergi.

Baru beberapa saat kemudian Pangeran Benawa teringat, apa yang telah terjadi atas Paksi. Apakah ayahnya akan membunuhnya atau memperlakukannya dengan tindakan-tindakan kekerasan yang lain.

Karena itu, maka Pangeran Benawa pun segera meloncat turun dan berlari ke halaman depan, melingkari sudut gandok.

Ternyata Paksi masih berusaha untuk melindungi dirinya dari ujung tombak ayahnya yang menyerangnya dengan garangnya. Tetapi serangan-serangannya sudah tidak lagi terarah dengan baik, sehingga tidak lagi membahayakan keselamatan Paksi.

Pangeran Benawa pun termangu-mangu menyaksikan pertempuran itu. Paksi masih belum berusaha untuk membalas menyerang. Ia masih saja berloncatan menghindar, menangkis dan sekali-sekali membentur senjata ayahnya.

Sementara itu, ibu Paksi masih berusaha untuk melerainya. Bahkan ibu Paksi telah turun ke halaman bersama adik perempuan Paksi. Demikian pula adik laki-laki Paksi. Tetapi mereka tidak berani mendekat. Ujung tombak Ki Tumenggung menyambar-nyambar dengan garang.

Pangeran Benawa yang kemudian berdiri di halaman itu menjadi ragu-ragu, apakah ia akan mencampuri pertempuran itu. Tetapi ketika ia melihat cara Paksi bertempur, maka Pangeran Benawa memutuskan untuk tidak melibatkan diri. Persoalan yang timbul pada ayah dan anak laki-lakinya itu sebaiknya tidak dicampurinya, kecuali dalam keadaan yang sangat khusus sehingga membahayakan jiwa Paksi.

Pangeran Benawa juga tidak dapat menebak perasaan Paksi seandainya ia turun ke arena pertempuran. Apakah Paksi akan berterima kasih, atau sebaliknya akan menyesalinya sepanjang umurnya. Apalagi jika ayahnya terluka dan mengalami keadaan yang sangat buruk.

Cahaya lampu minyak di pendapa nampak redup. Tetapi cahayanya mampu menggapai Pangeran Benawa betapa lemahnya.

Ayah Paksi menjadi sangat gelisah. Pangeran Benawa tiba-tiba sudah berada di halaman itu.

“Bagaimana nasib Harya Wisaka?” pertanyaan itu ternyata sangat mengganggunya.

Dalam keadaan yang gawat itu, maka Ki Tumenggung menjadi bingung, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sementara itu ia tidak akan dapat membunuh Paksi sebagaimana diinginkannya. Bagaimanapun ia berusaha. namun Paksi masih saja mampu menghindarinya.

Dalam kebingungan itu, maka Ki Tumenggung pun telah mengambil keputusan yang tidak diduga oleh Paksi, ibunya dan adik-adiknya. Tiba-tiba saja Ki Tumenggung itu pun melarikan diri menuju ke pintu regol halaman.

“Ayah, Ayah” Paksi mencoba memanggilnya.

Demikian pula Nyi Tumenggung dan adik-adik Paksi. Tetapi Ki Tumenggung sama sekali tidak berpaling.

Pangeran Benawa masih tetap ragu-ragu. Karena itu, ia berdiri saja termangu-mangu.

Namun sejenak kemudian halaman itu bagaikan membeku. Paksi berdiri di tempatnya dengan tongkat kayunya.

Namun kemudian tangis adik perempuan Paksi pun bagaikan meledak. Beberapa kali ia masih memanggil ayahnya yang melarikan diri masuk ke dalam kegelapan malam.

“Kenapa hal ini terjadi Paksi?” bertanya ibunya.

“Aku tidak tahu, Ibu”

“Tentu bukan satu kebetulan kau pulang malam ini, justru pada saat Harya Wisaka bersembunyi disini”

Paksi menundukkan kepalanya. Sementara itu, Pangeran Benawa pun melangkah mendekat.

“Pangeran” desis Nyi Tumenggung Sarpa Biwada, “apakah Pangeran datang untuk menangkap Kakang Tumenggung?”

“Tidak, Bibi” jawab Pangeran Benawa, “kami sebenarnya tidak ingin menangkap siapa-siapa. Tetapi karena Harya Wisaka ada disini, maka aku pun berusaha untuk menangkapnya”

“Tentu Pangeran sudah mengetahui bahwa Harya Wisaka ada disini”

“Semua orang memang sedang mencari Harya Wisaka. Kami pun sedang mencarinya pula. Kami tidak tahu pasti, apakah Paman Harya Wisaka ada disini”

“Tetapi Pangeran sudah menduga sebelumnya, setidak-tidaknya curiga, bahwa Harya Wisaka bersembunyi disini”

“Ya, Bibi. Sebagaimana kami lihat, ternyata Harya Wisaka memang bersembunyi disini”

Mata Nyi Tumenggung menjadi panas. Tetapi ia berjuang untuk tidak menangis. Anak perempuannya yang sudah menangis itu tentu akan menjadi semakin ketakutan menghadapi keadaan yang tidak dimengertinya.

Sementara itu adik laki-laki Paksi pun bertanya, “Kenapa Kakang berkelahi dengan ayah?”

“Aku tidak tahu” jawab Paksi. “Aku sudah berusaha mencegahnya. Tetapi ayah agaknya menjadi sangat marah kepadaku”

Adik laki-laki Paksi itu sudah dapat mempergunakan penalarannya untuk mengurai keadaan. Meskipun agak ragu, adik laki-laki Paksi itu pun bertanya, “Apakah peristiwa ini terjadi dalam hubungannya dengan kehadiran Harya Wisaka disini?”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudahlah. Nanti kita bicarakan untuk mencari jalan keluar”

“Tetapi ayah itu akan pergi ke mana?”

“Aku tidak tahu”

Adik laki-laki Paksi itu terdiam. Sementara itu, ibu Paksi pun telah mempersilahkan Pangeran Benawa naik ke pendapa.

“Bagaimanapun juga, anak-anak masih memerlukan ayahnya” berkata Nyi Tumenggung kemudian. Pangeran Benawa mengangguk-angguk.

“Apakah ayah tidak akan kembali?” bertanya adik perempuan Paksi.

“Kita semuanya tidak tahu. Tetapi aku akan berusaha mencarinya”

Nyi Tumenggung itu pun kemudian menggeleng sambil berdesis, “Kau tidak usah mencari ayahmu, Paksi. Agaknya kau dan Pangeran Benawa berdiri berseberangan dengan ayahmu”

“Jika Ibu menduga demikian, maka Ibu tentu tahu kedudukan ayah di mata Kangjeng Sultan di Pajang”

Nyi Tumenggung masih bertahan. Betapa jantungnya bergejolak, namun Nyi Tumenggung itu berusaha untuk tidak menangis. Tetapi Nyi Tumenggung itu pun mengangguk kecil.

“Aku minta maaf, Ibu. Jika akulah yang menyebabkan ayah pergi malam ini. Tetapi aku tidak tahu, seandainya aku tidak pulang malam ini, apakah tidak ada orang lain yang melakukannya. Bagaimanapun juga, nama ayah sudah terlanjur tersangkut dengan langkah-langkah yang dibuat oleh Harya Wisaka”

Bagaimanapun juga Nyi Tumenggung bertahan, namun air matanya meleleh juga dari pelupuknya. Bahkan Nyi Tumenggung itu pun kemudian telah terisak.

“Ibu, Ibu” adik perempuan Paksi itu pun mengguncang-guncang ibunya.

Tetapi adik laki-laki Paksi itu pun kemudian berkata, “Apakah ayah memang tersangkut dalam gerakan yang dilakukan oleh Harya Wisaka?”

Paksi memandang ibunya sejenak. Tetapi sebelum ia menjawab, adiknya itu pun berdesis, “Satu pertanyaan yang bodoh. Jika ayah tidak tersangkut, maka Harya Wisaka malam ini tentu tidak akan bersembunyi disini”

Paksi mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Tetapi bukan berarti tidak ada jalan keluar yang dapat kita tempuh”

Adik laki-lakinya memandang ibunya sejenak. Tetapi ia tidak bertanya lagi.

Dalam pada itu, Nyi Tumenggung pun kemudian berkata, “Tetapi bukankah ayahmu tidak berperanan dalam gerakan Harya Wisaka itu?”

Paksi menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu pasti, Ibu”

Nyi Tumenggung pun kemudian memandang Pangeran Benawa dengan tajamnya. Dengan nada tinggi serta suara yang bergetar Nyi Tumenggung itu pun berkata, “Pangeran, kenapa Pangeran diam saja? Katakan Pangeran, apakah Ki Tumenggung akan dihukum mati jika tertangkap dan diketahui menyembunyikan Harya Wisaka?”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian agak ragu, “Bibi, Sebenarnyalah aku tidak tahu”

“Katakan terus terang, Pangeran”

“Benar, Bibi. Aku tidak tahu”

Nyi Tumenggung itu pun masih terisak. Tetapi ia masih bertahan agar tangisnya tidak meledak. Tetapi justru karena itu, dadanya terasa sakit sekali. Namun kemudian Nyi Tumenggung itu pun berkata, “Silahkan Pangeran, apa pun yang akan Pangeran lakukan atas keluarga kami. Tetapi jangan lakukan apa-apa atas anak-anakku ini”

Sebelum Pangeran Benawa menjawab, maka Nyi Tumenggung itu pun segera bangun. Dibimbingnya anak perempuannya dan ditariknya pula tangan anak laki-laki sambil berkata, “Marilah. Kita tidak tahu-menahu apa yang telah terjadi”

Demikian Nyi Tumenggung dan kedua anaknya masuk ke ruang dalam, maka Paksi pun berkata, “Peristiwa seperti inilah yang hamba takuti sejak kita berangkat dari padepokan”

Pangeran Benawa menarik nafas panjang. Katanya, “Aku dapat mengerti, Paksi”

“Ayah benar-benar akan membunuh hamba”

“Seharusnya kau tidak terlalu terkejut”

“Kenapa?”

“Kau sudah pernah mendapat tugas yang tidak masuk akal dari ayahmu. Pada waktu kau menginjak tujuhbelas tahun, kau diperintahkannya untuk mencari cincin kerajaan ini. Apakah itu bukan satu rencana pembunuhan? Kemudian rencana ayahmu untuk melemparkan kau ke padepokan yang dipimpin oleh Ki Ajar Wisesa Tunggal”


Paksi menundukkan kepalanya. Dengan suara yang seakan-akan bergetar di dalam dadanya saja itu pun bergumam, “Kenapa?”

“Paksi, bukankah waktu itu kau masih belum tahu apa-apa tentang hubungan antara ayahmu dengan Paman Harya Wisaka? Karena itu, jika waktu itu ayahmu akan membunuhmu, tentu ada sebab yang lain. Bukan semata-mata dalam hubungannya dengan Harya Wisaka”

“Hamba akan menanyakannya kepada Ibu”

“Tanyakanlah”

“Tetapi tidak sekarang, Pangeran. Aku tidak ingin menambah pedih perasaan Ibu”

“Justru sekarang waktunya, Paksi. Ibumu melihat langsung apa yang akan dilakukan oleh ayahmu”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun anak muda itu pun kemudian bangkit sambil berdesis, “Hamba akan mencobanya”

Paksi pun kemudian menyusul ibunya masuk. Dilihatnya ibunya duduk di ruang dalam. Adik perempuannya berbaring dengan meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, sedang adik laki-lakinya duduk di sebelahnya. Mereka hanya berdiam diri saja, merenungi peristiwa yang baru saja terjadi.

Ketika melihat kedua adiknya, maka Paksi pun mengurungkan niatnya. Ia justru duduk di depan ibunya sambil berkata, “Sudahlah, Ibu. Seperti aku katakan tadi, kita akan mencari jalan keluar dari pusaran peristiwa yang tidak kita kehendaki ini”

“Aku sudah pasrah, Paksi”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Katanya kepada kedua adiknya, “Tidur sajalah sambil menunggu pagi”

“Bagaimana aku dapat tidur lagi, Kakang” jawab adik laki-lakinya.

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Aku mengerti. Tetapi setidak-tidaknya berbaringlah di pembaringanmu”, “Aku akan duduk bersama Ibu disini”

Paksi tidak memaksanya. Bahkan ia pun kemudian berkata, “Aku duduk di pringgitan, Ibu” Ibunya mengangguk.

Ketika Paksi keluar, Pangeran Benawa pun bertanya, “Kau sudah menanyakannya?”

“Belum, Pangeran. Ibu duduk bersama adik-adik hamba”

Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, “Baiklah. Mungkin besok pagi kau dapat berbicara dengan ibumu”

Dalam pada itu, Pangeran Benawa pun kemudian berceritera tentang Harya Wisaka yang lepas dari tangannya. Mungkin Harya Wisaka dan Ki Tumenggung Sarpa Biwada sudah bertemu lagi di tempat-tempat yang hanya mereka kenal saja.

“Kedudukan hamba menjadi sangat sulit” berkata Paksi kemudian.

“Ya” jawab Pangeran Benawa, “tetapi mungkin tidak lagi setelah kau mendapat penjelasan dari ibumu, kenapa ayahmu ingin menyingkirkanmu sejak semula tanpa ada kaitannya dengan Harya Wisaka”

Paksi menarik nafas panjang. Katanya, “Mudah-mudahan aku menemukan jawabnya”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti perasaan Paksi. Tetapi memang tidak ada pilihan lain. Ki Tumenggung Sarpa Biwada memang sudah terlibat dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Harya Wisaka. Ia telah menyembunyikan Harya Wisaka yang melarikan diri dari bilik tahanannya.

Sampai langit membayang cahaya fajar, maka Pangeran Benawa dan Paksi masih duduk di pringgitan. Di ruang dalam, ibunya juga masih duduk merenung. Anak perempuannya sudah tertidur di pangkuannya, sedangkan anak laki-lakinya masih juga duduk di sampingnya.

Di pringgitan Paksi bertanya kepada Pangeran Benawa, “Apa yang akan kita lakukan?”

“Kita menghadap Ki Gede Pemanahan dan selanjutnya menghadap ayahanda. Kita harus memberikan laporan, apa yang terjadi di rumah ini”

“Apakah ibu dan adik-adik hamba dapat dianggap ikut bersalah karena Harya Wisaka semalam ada disini?”

“Kita akan memberikan pertimbangan kepada Paman Pemanahan yang mendapat beban untuk menangkap kembali Paman Harya Wisaka. Tetapi menurut pendapatku, ibu dan adik-adikmu tidak dapat dinyatakan ikut bersalah”

Paksi menarik nafas dalam-dalam. Dengan kerut di kening, ia pun bertanya, “Kapan kita akan menghadap Ki Gede?”

“Sekarang” jawab Pangeran Benawa, “sebentar lagi fajar akan menyingsing. Pada saat seperti ini, Paman Pemanahan tentu sudah bangun dan berbenah diri”

“Baiklah. Aku akan minta diri kepada ibu dan adik-adikku”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku pun akan minta diri”

Paksi pun kemudian masuk ke ruang dalam. Jantungnya terasa berdesir ketika ia melihat ibu dan adik-adiknya masih berada di tempatnya tanpa bergeser setapak pun.

“Ibu” desis Paksi.

Ibunya mengangkat wajahnya dan memandang Paksi dengan kerut di dahi.

“Aku minta diri, Ibu”

“Kau akan pergi ke mana?”

“Mengantar Pangeran Benawa ke istana”

“Melaporkan bahwa keluarga ini telah menyembunyikan Harya Wisaka?”

“Kami tidak dapat menyembunyikan peristiwa yang terjadi di rumah ini. Apalagi Pangeran Benawa sendiri telah terlibat di dalamnya”

“Apakah dengan demikian ibu juga akan ditangkap? Atau bahkan kami berdua?” bertanya adik laki-laki Paksi.

“Tidak” jawab Paksi. “Ibu dan kalian berdua tidak akan ditangkap karena kalian tidak ikut bersalah”

Adik laki-laki Paksi itu terdiam.

“Ibu” berkata Paksi kemudian, “Pangeran Benawa juga akan minta diri”

“Aku tidak dapat berdiri untuk keluar ke pringgitan, Paksi. Adikmu tidur di pangkuanku. Aku tidak ingin ia terbangun”

“Biarlah aku angkat anak itu ke pembaringannya”

“Tidak. Ia akan terbangun. Biarlah ia menikmati kesempatannya. Jika ia terbangun, maka ia tidak akan dapat tidur lagi”

“Biarlah Pangeran Benawa kemari” desis Paksi. Ibunya tidak mencegahnya.

Paksi pun kemudian meninggalkan ibunya. Sejenak kemudian maka ia pun telah kembali bersama Pangeran Benawa. “Aku minta diri, Bibi”

“Ampun, Pangeran. Hamba tidak dapat mengantar Pangeran sampai ke regol. Anak ini tidur di pangkuan”

“Sudahlah, Bibi. Jangan kejutkan anak itu. Agaknya tidurnya nyenyak”

“Ya, Pangeran. Meskipun barangkali ia bermimpi buruk”

Pangeran Benawa menarik nafas panjang. Katanya kemudian, “Aku mohon diri, Bibi. Aku minta maaf, bahwa peristiwa yang tidak diinginkan telah terjadi disini. Aku tidak dapat menghindarinya. Tetapi Bibi hendaknya percaya, bahwa tidak akan ada tindakan sewenang-wenang”

“Terimakasih, Pangeran” sahut Nyi Tumenggung.

“Paksi akan ikut bersamaku. Ia juga harus menyampaikan laporan kepada Paman Pemanahan dan kepada ayahanda Sultan”

“Silahkan. Hamba tidak dapat mencegahnya. Hamba tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah”

Pangeran Benawa berdiri termangu-mangu. Namun kemudian ia pun berkata, “Selamat pagi, Bibi”

Nyi Tumenggung mengusap matanya. Tetapi wajahnya tetap saja menunduk mengamati wajah anak perempuannya yang tidur di pangkuannya.....

Sejenak kemudian, Paksi dan Pangeran Benawa pun telah meninggalkan rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada menuju ke rumah Ki Gede Pemanahan. Mereka ingin bertemu dan berbicara lebih dahulu dengan Ki Gede sebelum mereka menghadap Kanjeng Sultan, meskipun Pangeran Benawa yakin, bahwa ayahandanya akan menerimanya meskipun masih terlalu pagi.

Menjelang fajar terdengar derap dua ekor kuda yang berlari menuju ke rumah Ki Gede Pemanahan. Tidak terlalu cepat, agar suara derapnya tidak mengejutkan orang-orang yang tinggal di sebelah menyebelah jalan.

Namun keduanya tidak meninggalkan kewaspadaan. Mungkin saja mereka tiba-tiba mendapat serangan dari tempat-tempat yang tersembunyi. Bahkan mungkin Harya Wisaka sendiri. Tetapi mungkin juga pengikutnya.

Tetapi mereka berdua tidak menemui hambatan apa pun di sepanjang jalan. Bahkan mereka malah berpapasan dengan beberapa orang perempuan yang akan pergi ke pasar yang berjalan beriringan sambil membawa sisa obor belarak. Seorang di antara mereka berjalan sambil berdendang. Tidak terlalu keras, tetapi suaranya terasa menyentuh dinding jantung.

Nadanya yang mengalun bukan menjeritkan keluhan, tetapi keluguan seseorang yang mengusung beban kewajiban yang berat.

Perempuan-perempuan yang berjalan beriringan ke pasar itu menggendong bakul di punggungnya yang disambungnya dengan serumbung yang agak tinggi. Mereka membawa hasil kebunnya yang akan dijualnya untuk mendapatkan beberapa keping uang yang dapat dibelikannya garam dan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari yang lain.

Pangeran Benawa dan Paksi memperlambat kudanya. Sementara itu beberapa orang perempuan yang berjalan beriring itu menduganya bahwa keduanya adalah prajurit yang sedang meronda.

“Mereka adalah pekerja-pekerja yang sangat rajin” berkata Pangeran Benawa. “Namun penghasilan mereka masih belum memadai”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Beban yang mereka bawa itu cukup berat. Namun uang yang mereka peroleh rasa-rasanya kurang seimbang dengan jerih payah mereka”

“Tentu tidak mudah untuk meningkatkan penghasilan mereka. Jika harga hasil kebunnya harus dihargai lebih tinggi, maka ada golongan yang merasa semakin sulit kehidupannya. Orang upahan yang menjual tenaganya akan mengeluh, karena penghasilan mereka nilai tukarnya akan menjadi semakin rendah”

Paksi mengangguk-angguk. Memang tidak mudah untuk mengubah keseimbangan kesejahteraan rakyat Pajang.

Dalam pada itu, maka beberapa puluh langkah lagi mereka akan sampai di rumah Ki Gede Pemanahan. Sementara langit menjadi semakin terang. Burung-burung liar pun sudah terdengar berkicau di pepohonan.

“Meskipun fajar telah naik, tetapi kedatangan kita di rumah Ki Gede tentu akan mengejutkannya. Apalagi kita tidak disertai oleh Kakangmas Sutawijaya”

Paksi mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi Ki Gede akan segera mengetahui persoalannya”

“Ya” Pangeran Benawa mengangguk.

Keduanya pun terdiam. Mereka sudah berada di depan regol halaman rumah Ki Gede Pemanahan.

Keduanya segera meloncat turun. Mereka menuntun kuda mereka memasuki regol halaman rumah Ki Gede Pemanahan yang sudah sedikit terbuka.

Dua orang pengawal menghentikan mereka. Namun setelah mereka melihat bahwa keduanya adalah Pangeran Benawa dan Paksi yang kebetulan juga mereka kenal, maka mereka pun dipersilahkan untuk masuk.

“Apakah Paman Pemanahan masih tidur?”

“Tidak” jawab pengawal, “Ki Gede tadi sudah turun ke halaman. Berjalan berputar-putar sebentar lalu masuk lagi lewat pintu seketeng”

“Katakan, kami akan menghadap”

Salah seorang pengawal pun kemudian masuk ke longkangan lewat pintu seketeng yang tidak diselarak dari dalam.

Sejenak kemudian, maka Ki Gede pun keluar lewat pintu pringgitan dan mempersilahkan Pangeran Benawa dan Paksi untuk duduk di pringgitan.

“Pagi-pagi sekali Pangeran dan Paksi sudah berada disini. Apakah kalian baru datang dari Hutan Jabung?”

“Tidak, Paman. Kami datang semalam”

“O”

“Paksi rindu kepada keluarganya dan ingin bermalam semalam di rumahnya. Aku hanya ikut mengantarkannya”

Ki Gede Pemanahan mengerutkan dahinya. Jawaban itu sangat menarik perhatian Ki Gede Pemanahan. Karena itu, sambil tersenyum Ki Gede pun bertanya, “Jadi kalian benar-benar melakukannya?”

Pangeran Benawa pun memandang Paksi sejenak. Tetapi Paksi hanya menarik nafas panjang saja.

“Paman” berkata Pangeran Benawa kemudian, “adalah kebetulan bahwa Harya Wisaka benar-benar berada di rumah Paksi”

Pangeran Benawa pun kemudian telah menceriterakan bahwa ia gagal menangkap kembali Harya Wisaka, sementara itu ayah Paksi pun melarikan diri.

“Pangeran dan Paksi juga gagal menangkap Ki Tumenggung?” bertanya Ki Gede.

“Aku tidak dapat melakukannya, Ki Gede. Tumenggung Sarpa Biwada itu adalah ayahku. Apalagi di hadapan ibu dan adik-adikku”

Ki Gede Pemanahan mengangguk-angguk kecil, sementara Pangeran Benawa pun berkata, “Aku juga tidak dapat melakukannya”

“Baiklah, Pangeran. Aku harus memerintahkan para petugas sandi untuk bekerja lebih keras. Ternyata mereka tidak mengetahui bahwa Harya Wisaka ada di rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Dan bahkan mereka tidak tahu bahwa telah terjadi pertempuran di halaman belakang dan halaman depan rumah itu, rumah yang harusnya diawasi, karena nama Ki Tumenggung Sarpa Biwada sudah terkait dengan gerakan Harya Wisaka”

“Ketika Paman Harya Wisaka dan Ki Tumenggung melarikan diri keluar dari lingkungan halaman rumah itu pun tidak diketahui pula oleh para petugas sandi. Jika saja rumah itu diawasi, meskipun mereka tidak tahu bahwa Paman Harya Wisaka ada di dalam, mereka akan dapat melihat keduanya lari keluar melalui jalan dan menuju ke arah yang berbeda”

“Ya, Pangeran Benawa. Ini merupakan kelemahan kerja para petugas sandi yang tidak dapat dibiarkan. Apalagi sekarang, setelah Harya Wisaka lari dari rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada”

“Aku mohon maaf, Paman, bahwa aku tidak dapat menangkapnya”

“Bukan salah Pangeran. Harya Wisaka termasuk bukan orang kebanyakan”

“Seharusnya aku datang ke rumah Paksi bersama Paksi dan Kakangmas Sutawijaya. Jika kami bertiga, Paman Harya Wisaka tentu akan tertangkap”

“Semuanya sudah terjadi. Yang harus kita lakukan adalah peningkatan pengawasan di seluruh Pajang. Mudah-mudahan Harya Wisaka masih belum meninggalkan gerbang kota”

“Mudah-mudahan, Paman” jawab Pangeran Benawa.

Dalam pada itu, Ki Gede pun kemudian berkata, “Silahkan duduk sebentar Pangeran dan kau Paksi, aku ingin berbicara dengan para petugas”

“Silahkan, Paman” jawab Pangeran Benawa.


Ki Gede pun kemudian telah meninggalkan pringgitan. Di serambi Ki Gede memberikan perintah-perintah kepada seorang lurah prajurit yang bertugas.

“Pagi ini, semua pengawasan harus ditingkatkan. Terutama di gerbang kota dan regol-regol di segala arah”

“Baik, Ki Gede. Perintah Ki Gede akan segera aku sampaikan kepada Ki Lurah Surapada”

“Setelah itu, perintahkan Ki Lurah Surapada untuk segera menghadap”

“Baik, Ki Gede”

Sejenak kemudian telah terdengar derap kaki dua ekor kuda yang berlari kencang di jalan di depan rumah Ki Gede Pemanahan itu.

Ketika Ki Gede kembali duduk di pringgitan, maka Pangeran Benawa dan Paksi sudah mendapat hidangan minuman hangat.

“Minumlah” berkata Ki Gede Pemanahan yang kemudian duduk kembali bersama mereka.

“Siapakah kedua orang berkuda itu, Paman?” bertanya Pangeran Benawa.

“Prajurit yang bertugas. Aku perintahkan mereka menghubungi Ki Lurah Surapada”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk. Namun kemudian diraihnya mangkuk minumannya sambil berdesis, “Marilah Paksi. Mumpung masih hangat”

Paksi pun kemudian mengangkat mangkuk pula. Namun Paksi masih juga bertanya, “Ki Gede?”

“Aku sudah minum tadi semangkuk” jawab Ki Gede sambil tersenyum.

Namun sebelum mereka meletakkan mangkuk mereka, terdengar derap kaki kuda yang terputus di depan regol halaman. Seorang penunggang kuda telah menuntun kudanya memasuki halaman rumah Ki Gede Pemanahan.

“Ki Lurah Surapada” desis Ki Gede Pemanahan. Sebenarnyalah Ki Lurah Surapada yang datang dan yang kemudian naik ke pendapa.

“Marilah, Ki Lurah” Ki Gede pun mempersilahkan.

Ki Lurah pun kemudian telah duduk pula bersama mereka.

“Apakah dua orang yang aku perintahkan menemui Ki Lurah sudah sampai di rumah Ki Lurah?”

Ki Lurah Surapada mengerutkan dahinya. Dengan kerut di kening, Ki Lurah itu berdesis, “Belum, Ki Gede. Belum ada orang yang datang menemuiku. Aku juga belum pulang pagi ini”

“O” Ki Gede mengangguk-angguk. “Ki Lurah ada dimana semalam?”

Ki Lurah Surapada itu pun menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipandanginya Pangeran Benawa dan Paksi berganti-ganti.

“Tiga orang prajurit sandi terluka parah malam tadi” desis Ki Lurah.

Ki Gede Pemanahan mengerutkan dahinya, sementara Pangeran Benawa dan Paksi mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.

“Kenapa?” bertanya Ki Gede.

“Para petugas sandi yang mengawasi rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada melihat Harya Wisaka melarikan diri dari rumah itu. Mereka berusaha untuk menangkapnya. Tetapi gagal. Lima orang yang mengejarnya, tiga orang terluka parah, sedang dua orang yang lain terluka ringan. Tetapi Harya Wisaka itu terlepas dari tangan mereka”

“Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Seorang petugas sandi yang lain, sempat melihatnya dan mengejarnya. Tetapi juga tidak berhasil”

Pangeran Benawa beringsut sejengkal. Dengan bersunguh-sungguh ia berkata, “Ceriterakan apa yang telah terjadi semalam”

“Pangeran” berkata Ki Lurah Surapada, “para petugas sandi melihat Pangeran dan Paksi memasuki halaman rumah Ki Tumenggung. Para petugas memang mendapat perintah khusus untuk mengamati rumah itu. Tetapi sebenarnyalah bahwa para petugas tidak tahu bahwa Harya Wisaka ada di rumah itu. Kehadiran Pangeran Benawa dan Paksi di rumah Ki Tumenggung seakan-akan memberi kesempatan kepada petugas sandi untuk beristirahat. Kami memang menjadi agak lengah. Apalagi dari dalam rumah itu tidak ada isyarat apa-apa. Kami tidak mengetahui bahwa terjadi pertempuran di dalam rumah itu”

“Di halaman depan dan halaman belakang” Pangeran Benawa meluruskan.

“Ya. Di halaman rumah itu. Namun tiba-tiba saja seorang petugas sandi melihat Harya Wisaka melarikan diri lewat halaman belakang. Beberapa orang mengejarnya sampai beberapa ratus patok dari rumah Ki Tumenggung. Tiba-tiba saja Harya Wisaka berhenti, dan terjadilah pertempuran itu. Lima orang yang mengejar Harya Wisaka itu pun terluka. Tiga di antara mereka sangat parah”

“Dan Ki Tumenggung?”

“Seorang petugas sandi melihatnya dan berusaha menangkapnya. Tetapi tidak berhasil”

“Lalu kenapa kalian tidak segera memasuki rumah Ki Tumenggung?”

“Seorang yang gagal mengejar Ki Tumenggung langsung lari ke rumahku. Ia ingin segera mendapatkan bantuan karena ia pun tahu bahwa beberapa orang kawannya tengah mengejar Harya Wisaka”

“Yang lain?”

“Lima orang menjadi pingsan. Tetapi dua di antaranya segera sadar. Mereka langsung merawat ketiga orang kawannya yang terluka berat sampai kami datang ke tempat kejadian”

“Lalu? Kalian tidak menghubungi kami?”

“Ya”

“Kami memasuki halaman rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Tetapi Pangeran dan Paksi sudah meninggalkan rumah itu”

“Jadi Ki Lurah sudah memasuki rumah kami?”

“Ya”

“Kalian bertemu dan berbicara dengan ibu?”

“Ya”

“Kalian menakut-nakuti ibu dan adik-adikku?”

“Tidak, Paksi. Kami hanya ingin mendengar apa yang telah terjadi di rumah itu”

Wajah Paksi menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia pun bertanya, “Apakah sekarang masih ada prajurit atau petugas sandi yang berada di rumahku?”

“Untuk mengamankan rumah itu, Paksi, ada sekelompok prajurit yang berjaga-jaga disana”

“Ibuku akan menjadi ketakutan. Ia akan tertekan. Kenapa rumah itu harus dijaga?”

“Kami justru ingin mengamankan rumah itu. Ki Tumenggung dan Harya Wisaka mungkin akan datang kembali”

“Apa artinya sekelompok prajurit sandi? Jika Harya Wisaka datang lagi ke rumah itu bersama ayah, maka Ki Lurah akan mengorbankan para prajurit itu lagi sebagaimana kelima orang yang mengejar Harya Wisaka. Apalagi jika Harya Wisaka dan ayah datang bersama satu atau dua orang kawan”

“Mereka sudah mendapat perintah untuk memberikan isyarat dengan panah sendaren. Berbeda dengan perintah bagi lima orang yang mengejarnya. Perintah yang diberikan kepada mereka, jangan membuat orang banyak menjadi resah”

Paksi termangu-mangu sejenak. Namun tiba-tiba ia pun berkata, “Ampun, Pangeran, ampun, Ki Gede. Hamba ingin mohon diri. Hamba harus menemani ibu hamba yang ketakutan karena prajurit-prajurit yang berada di rumah hamba itu”

“Mereka tidak berbuat apa-apa selain mengawasi keadaan”

“Hamba akan meyakinkan ibu hamba, bahwa mereka tidak berbuat apa-apa, sehingga ibu tidak menjadi ketakutan”

Ki Gede termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran Benawa lah yang kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan menemanimu”

Paksi mengerutkan dahinya. Sementara Pangeran Benawa pun berkata kepada Ki Gede Pemanahan, “Maaf, Paman. Aku akan menemani Paksi. Kami berdua akan segera kembali kemari”

“Biarlah Pangeran disini saja. Aku dapat pergi sendiri”

Tetapi Pangeran Benawa seakan-akan tidak mendengar kata-kata Paksi itu. Bahkan Pangeran Benawa lah yang lebih dahulu bangkit.

Sejenak kemudian Paksi dan Pangeran Benawa telah melarikan kuda mereka menuju ke rumah Paksi yang dijaga oleh sekelompok prajurit. Mereka masih mempertimbangkan kemungkinan Ki Tumenggung Sarpa Biwada kembali ke rumahnya bersama Harya Wisaka.

Sepeninggal Paksi dan Pangeran Benawa, Ki Gede pun bertanya kepada Ki Surapada, “Bukankah para prajurit itu tidak akan mengusik Nyi Tumenggung dan anak-anaknya?”

“Tidak, Ki Gede. Mereka hanya mengawasi keadaan”

“Mudah-mudahan mereka tidak membuat Nyi Tumenggung dan anak-anaknya ketakutan”

“Mereka tidak mendapat perintah untuk berbuat apa-apa selain mengamati keadaan. Kecuali jika Ki Tumenggung pulang, apalagi bersama Harya Wisaka”

“Bukankah mereka tidak akan memeriksa Nyi Tumenggung sebagaimana mereka memeriksa orang-orang yang terlibat dalam kejahatan?”

“Tidak, Ki Gede. Aku sendirilah yang tadi berbicara langsung kepada Nyi Tumenggung. Itu pun dengan sangat berhati-hati” Ki Gede pun mengangguk-angguk.

Dalam pada itu, maka Ki Gede pun telah memberikan perintah-perintah baru kepada Ki Lurah Surapada untuk semakin membatasi gerak Harya Wisaka dan Tumenggung Sarpa Biwada. Ki Surapada pun harus lebih menertibkan orang-orangnya yang bertugas, agar keduanya tidak dapat keluar dari kota.

“Baik, Ki Gede”

Namun sebelum Ki Lurah minta diri, Ki Gede pun berkata, “Aku minta maaf, bahwa aku mempunyai dugaan yang salah terhadap kesiagaanmu, Ki Lurah”

“Maksud Ki Gede?”

“Aku dan Pangeran Benawa mengira, bahwa para petugas sandi tidak mengetahui bahwa Harya Wisaka dan Ki Tumenggung Sarpa Biwada meninggalkan rumah Ki Tumenggung itu”

“Kami memang tidak segera memasuki halaman rumah itu, Ki Gede. Seperti sudah aku katakan, kami dalam keadaan yang sulit. Baru beberapa saat kemudian kami dapat melakukannya, justru ketika Pangeran Benawa dan Paksi sudah meninggalkan rumah itu”

“Ya. Ternyata kalian telah melakukan tugas kalian dengan baik. Bahkan beberapa orang telah terluka parah”

“Tetapi kami gagal menangkap kembali Harya Wisaka”

“Bukan salah kalian. Harya Wisaka memang seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, jadikanlah pengalaman, bahwa ilmu seorang prajurit sandi pilihan tidak dapat menangkap Harya Wisaka”

“Ya, Ki Gede”

“Nah, sekarang lakukan tugas Ki Lurah dengan baik. Mungkin Ki Lurah akan bertemu dengan dua orang prajurit yang aku perintahkan untuk menghubungi Ki Surapada”

Demikianlah, maka Ki Lurah Surapada itu pun minta diri untuk menjalankan kewajibannya.

Sementara itu, Pangeran Benawa dan Paksi telah sampai ke regol rumah Ki Tumenggung. Keduanya segera turun dari kuda mereka dan menuntun kuda-kuda mereka memasuki halaman.

Dua orang prajurit yang bertugas di regol segera menghentikan keduanya. Tetapi ketika prajurit itu melihat bahwa seorang di antara mereka adalah Pangeran Benawa, maka kedua orang prajurit itu segera mengangguk dalam-dalam.

Pangeran Benawa dan Paksi pun menambatkan kuda mereka pada patok-patok di sebelah pendapa.

“Marilah, Pangeran” Paksi mempersilahkan.

Namun Pangeran Benawa berkata, “Naiklah. Temui ibumu. Aku menunggu disini”

Demikian Paksi naik ke pendapa, seorang lurah prajurit yang memimpin sekelompok prajurit yang bertugas di rumah itu pun mendekati Pangeran Benawa. Sambil membungkuk hormat, lurah prajurit itu pun berdesis, “Selamat datang, Pangeran. Apakah yang dapat kami kerjakan bagi Pangeran?”

“Tidak apa-apa. Aku tidak memerlukan apa-apa”

“Silahkan naik, Pangeran. Silahkan duduk”

“Pemilik rumah ini sudah mempersilahkan aku naik. Tetapi aku akan menunggu disini”

“Pemilik rumah ini? Maksud Pangeran?”

“Anak muda yang datang bersamaku adalah pemilik rumah ini”

“Anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Ya”

“Apa yang akan dilaksanakan? Apakah anak muda itu harus ditangkap?”

“Ditangkap? Kenapa?”

“Bukankah kami harus menangkap Ki Tumenggung jika ia pulang. Demikian pula Harya Wisaka jika ia datang lagi ke rumah ini?”

“Apakah anak muda itu Ki Tumenggung Sarpa Biwada?”

“Bukan, Pangeran”

“Harya Wisaka?”

“Bukan, Pangeran”

“Jadi, apakah ia harus ditangkap?”

Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggelengkan kepalanya lurah prajurit itu menjawab, “Tidak, Pangeran”

“Jika demikian, biarkan saja anak muda itu. Rumah ini adalah rumahnya. Ia berhak berbuat apa saja di rumah ini”

Lurah prajurit itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangguk hormat pula, “Baik, Pangeran”

“Kembalilah kepada anak buahmu. Aku akan menunggu Paksi disini”

“Hamba, Pangeran”

“Dimana mereka?”

“Mereka tersebar di seluruh halaman rumah itu. Halaman depan dan halaman belakang. Yang sedang beristirahat berada di gandok”

“Kau sudah minta ijin kepada Nyi Tumenggung?”

“Minta ijin apa Pangeran?”

“Minta ijin untuk mempergunakan gandok itu”

“Apakah aku harus minta ijin?”

“Tentu. Rumah ini bukan rumahmu”

“Tetapi aku bertugas disini”

“Tugasmu apa?”

“Mengamati rumah ini. Menangkap Ki Tumenggung jika ia pulang. Juga Harya Wisaka jika ia kembali kemari”

“Apakah kau juga mendapat tugas untuk menguasai rumah ini atau bagian-bagiannya?”

“Tidak, Pangeran”

“Nah, dengan demikian, maka kau harus tetap menghargai pemilik rumah ini”

“Tetapi Ki Tumenggung tidak ada di rumah”

“Jika tidak ada Ki Tumenggung, yang berhak atas rumah ini adalah Nyi Tumenggung”

Lurah prajurit itu mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya, Pangeran”

“Kau tidak boleh bertindak semena-mena terhadap keluarga Ki Tumenggung. Yang harus kau tangkap adalah Ki Tumenggung. Bukan keluarganya, karena yang bersalah hanya Ki Tumenggung”

“Tetapi Nyi Tumenggung tentu juga membantu, setidak-tidaknya melindungi orang-orang bersalah”

“Kesimpulan itu kau ambil darimana? Seberapa jauh kuasa Nyi Tumenggung di rumah ini? Jika Ki Tumenggung membentaknya, apakah Nyi Tumenggung berani melawan?”

Sekali lagi lurah prajurit itu mengangguk sambil berdesis, “Ya, Pangeran”

“Biarlah aku nanti menemui Nyi Tumenggung atas nama para prajurit. Aku harus mohon maaf atas tingkah laku kalian”

Lurah prajurit itu tidak menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam.

Dalam pada itu, Paksi pun telah berada di ruang dalam menemui ibunya. Dengan mata yang basah Nyi Tumenggung pun berkata, “Mereka datang sepeninggalmu. Mungkin kau masih berada beberapa puluh langkah saja dari rumah ini. Mereka menguasai seisi rumah dan mengawasi segala sudut”

“Tetapi bukankah mereka tidak mengganggu Ibu dan adik-adik serta seisi rumah ini?”

“Mereka memang tidak sengaja mengganggu, Paksi. Tetapi kehadiran mereka serta sikap mereka, terasa agak asing. Mungkin karena ayahmu dianggap seorang pemberontak, sehingga mereka dapat berbuat apa saja di rumah ini”

“Seharusnya mereka tidak berbuat seperti itu. Aku akan berbicara dengan pemimpin mereka yang bertugas disini”

“Sudahlah. Biar mereka memperlakukan kami sekehendak hati mereka”

“Itu tidak mungkin”

“Mereka akan dapat marah kepadamu. Kau bukan apa-apa, Paksi. Mungkin kau justru akan dianggap bersalah dan bahkan ditangkap”

“Mereka tidak akan menangkap aku, Ibu. Aku datang bersama Pangeran Benawa”

“O. Dimana Pangeran Benawa sekarang?”

“Ada di depan, Ibu. Di halaman”

Nyi Tumenggung menarik nafas dalam-dalam. Sementara Paksi pun bertanya, “Dimana adik-adik, Ibu?”

“Mereka berada di dalam biliknya”

Paksi mengangguk kecil. Dengan nada berat ibunya berkata selanjutnya, “Biarlah mereka tidak terpengaruh oleh sikap para prajurit itu”

Paksi masih mengangguk-angguk. Namun sejenak kemudian adik perempuannya keluar dari biliknya. Dengan sikap yang ragu ia berdiri di depan pintu biliknya itu.

“Ada apa, Ngger?” bertanya ibunya sambil mendekati anak perempuannya.

“Aku ingin ke pakiwan, Ibu”

“O” Ibunya menarik nafas dalam-dalam. “Pergilah”

“Tetapi”

Ibunya tersenyum. Ia tahu bahwa anak perempuannya itu merasa takut karena kehadiran para prajurit.

“Pergilah. Mereka tidak akan memperhatikanmu”

Adik perempuan Paksi adalah seorang gadis yang meningkat remaja. Tetapi badannya yang tumbuh subur, membuatnya nampak lebih tua dari umurnya, sehingga adik perempuan Paksi itu seakan-akan telah benar-benar remaja penuh, bahkan mendekati dewasa.

Adik perempuan Paksi itu memang merasa ragu. Namun ibunya berkata, “Pergilah ke pakiwan. Ibu akan berdiri di pintu serambi samping”

Gadis itu pun kemudian melangkah ke pintu diantar oleh ibu Paksi. Ketika anak itu keluar pintu, tidak dilihatnya seorang pun di halaman dan di sekitar pakiwan. Karena itu, maka adik perempuan Paksi berlari ke pakiwan yang hanya berjarak beberapa langkah itu.

Demikian anak perempuannya itu masuk ke pakiwan, maka Nyi Tumenggung pun telah kembali ke ruang dalam untuk berbicara bersama Paksi.

Namun beberapa saat kemudian, keduanya terkejut mendengar adik perempuan Paksi itu menjerit. Dengan serta-merta keduanya dan bahkan adik laki-laki Paksi telah keluar pula dari dalam biliknya sambil mengusap matanya. Agaknya ia telah tertidur.

Ketika ibunya berdiri di pintu dilihatnya anak perempuannya itu berdiri bertolak pinggang sambil berkata lantang, “Kau mau apa? Kau kira kau siapa, he?”

Dua orang prajurit berdiri sambil tersenyum. Dipandanginya Nyi Tumenggung sambil berdesis, “Anakmu cantik, Nyi”

Sebelum Nyi Tumenggung menjawab, adik laki-laki Paksi telah melangkah keluar pintu serambi. Namun Paksi menangkap lengannya dan berkata, “Biarlah aku yang mengurusnya”

Paksi melangkah mendekati dua orang prajurit itu. Dengan nada berat ia pun berkata, “Apa yang kalian lakukan? Aku kakak anak ini”

“O” prajurit itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku hanya mengatakan kepadanya, bahwa ia cantik”

“Kau tidak pantas bersikap demikian terhadap seorang gadis. Apalagi masih kanak-kanak”

“Apakah kau tidak melihat bahwa adikmu cantik? Bukankah ia anak Ki Tumenggung yang memberontak itu? Dan kau tentu juga anaknya”

Kemarahan Paksi tidak tertahan lagi. Dengan tangan kirinya ia menampar mulut prajurit itu, sehingga prajurit itu terpekik kecil. Selain terkejut, sentuhan tangan Paksi terasa sakit sekali.

Prajurit yang lain dengan cepat bertindak. Ia pun segera meloncat dengan menjulurkan tangannya untuk memukul wajah Paksi. Tetapi Paksi mengelak. Tangan itu tidak menyentuhnya. Namun justru tangan Paksi yang terjulur memukul dada itu.

Prajurit itu terdorong beberapa langkah surut. Tubuhnya terhuyung-huyung beberapa langkah. Sementara itu kawannya yang seorang lagi telah bersiap. Ia merasakan cairan hangat meleleh di pipinya. Ketika ia mengusap dengan punggung telapak tangannya, ia melihat darah yang segar.

Sejenak kemudian, Paksi harus berhadapan dengan dua orang prajurit yang marah. Seorang di antara mereka berkata kasar, “Kau anak Sarpa Biwada. Kau juga akan memberontak seperti ayahmu? Atau kau akan menyerah? Jika kau mencoba melawan, maka kami bunuh pun tidak akan ada yang mempersoalkanmu, karena kau sudah memberontak seperti ayahmu”

Paksi tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba saja ia meloncat sambil memutar tubuhnya. Kakinya terayun mendatar mengarah ke dada.

Prajurit itu tidak sempat mengelak. Kaki Paksi menghantam dadanya dan melemparkannya beberapa langkah. Prajurit itu jatuh terkapar di tanah.

Namun betapapun Paksi marah, tetapi ia masih dapat mengekang dirinya sehingga ia tidak mempergunakan tongkatnya meskipun tongkatnya itu ada di genggaman tangannya.

Kedua orang prajurit itu tiba-tiba saja merasa ngeri melawan Paksi. Karena itu, seorang di antaranya telah bersuit nyaring.

Beberapa orang prajurit pun berdatangan. Mereka tidak bertanya apa-apa. Tiba-tiba saja mereka telah mengepung Paksi.

“Siapakah anak ini?” bertanya seorang prajurit yang baru saja datang dari halaman belakang.

“Anak pemberontak itu” jawab prajurit yang mulutnya berdarah.

Prajurit yang baru datang itu pun menarik pedangnya sambil menggeram, “Menyerahlah. Kau kami tangkap”

Tetapi sebelum mulutnya terkatup, tongkat Paksi pun telan terjulur dan berputar dengan cepat.

Prajurit itu terkejut. Tiba-tiba saja pedangnya telah terlempar dari tangannya. Para prajurit yang lain yang mengepungnya terkejut pula. Mereka pun dengan serta-merta telah menarik senjata mereka pula.

Dalam pada itu, adik perempuan Paksi telah berlari memeluk ibunya. Sementara itu, adik laki-laki Paksi telah berlari ke ruang dalam untuk mengambil sebuah tombak pendek yang masih berada di plonconnya, sedang tombak pendek yang satu lagi telah dibawa oleh ayahnya yang melarikan diri.

Tetapi ibu Paksi lah yang menahan anak laki-lakinya. Katanya, “Jangan, Ngger. Kau masih terlalu kanak-kanak untuk melibatkan diri dalam perkelahian itu”

“Aku tidak akan membiarkan Kakang Paksi mengalami cidera”

“Kita lihat saja, apakah kakakmu cidera. Jika kakakmu cidera kau harus menyampaikannya kepada Pangeran Benawa yang berada di halaman depan”

Adik laki-laki Paksi itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu, Paksi tidak dapat lagi menghadapi para prajurit itu tanpa mempergunakan tongkatnya.

Dengan demikian, maka telah terjadi pertempuran antara Paksi dengan beberapa orang prajurit.

Namun ternyata bahwa kemampuan Paksi sangat mengejutkan para prajurit itu. Dengan tangkasnya Paksi berloncatan sambil memutar tongkatnya. Sekali-sekali tongkatnya telah melemparkan senjata para prajurit itu. Namun yang lain sempat memungut senjatanya kembali.

Tetapi akhirnya para prajurit itu mengakui, bahwa mereka tidak akan segera dapat menangkap Paksi, karena Paksi mempunyai ilmu yang tinggi. Karena itu, maka salah seorang di antara para prajurit itu pun segera berlari ke halaman depan, mencari lurahnya. “Ada apa?” bertanya lurah prajurit itu. “Anak Sarpa Biwada mengamuk”

“He?” Lurah prajurit itu tidak menunggu prajurit yang memberikan laporan itu mengulanginya. Ia pun segera berlari sambil berteriak, “Tunjukkan, dimana anak itu”

Prajurit yang memberikan laporan itu segera mengikutinya sambil berteriak, “Lewat seketeng sebelah kiri, Ki Lurah”

Pangeran Benawa yang duduk di tangga pendapa mendengar laporan itu pula. Ia pun segera mengerti, tentu Paksi lah yang dimaksud. Karena itu, maka ia pun segera berlari mengikuti lurah prajurit itu.

Sebenarnyalah, bahwa Paksi lah yang bertempur melawan beberapa orang prajurit. Dua orang prajurit justru telah terluka oleh tongkat Paksi. Seorang lagi perutnya menjadi mual dan yang lain berada dalam kegelisahan.

Ketika lurah prajurit itu datang, maka para prajurit pun menyibak.

“Anak Tumenggung Sarpa Biwada, kenapa kau tiba-tiba menjadi gila dan melawan para prajurit? Kau tahu, bahwa dengan demikian kau telah ikut pula menjadi pemberontak dan harus ditangkap dan dihukum sebagai seorang pemberontak”

Paksi termangu-mangu sejenak. Kemudian dengan lantang ia pun menjawab, “Persoalannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan pemberontakan. Tetapi apakah kau akan membiarkan prajurit-prajuritmu, prajurit-prajurit Pajang, tidak tahu diri dan bersikap tidak tahu adat?”

“Kenapa dengan prajurit-prajuritku?”

“Kau tentu pemimpin para prajurit yang ada disini”

“Ya” jawab lurah prajurit itu.

“Bertanyalah kepada prajurit-prajuritmu. Apa yang telah mereka lakukan”

Lurah prajurit itu termangu-mangu sejenak. Dengan ragu-ragu ia pun bertanya kepada para prajurit, “Apa yang telah terjadi?”

Orang yang tertua di antara para prajurit itu pun menyahut, “Kami tidak tahu apa maksudnya. Tiba-tiba saja anak itu menyerang para prajurit”

Tetapi Paksi segera menyahut, “Bertanyalah kepada prajuritmu yang terluka itu”

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak apa-apa. Aku sedang mengawasi daerah ini”

“Kau pengecut yang paling licik”

“Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja kau menyerangku dari belakang”

“Inikah watak para prajurit Pajang?” suara Paksi terdengar mengguruh.

Namun kemudian Pangeran Benawa yang melangkah mendekatinya sambil bertanya, “Apa yang sudah dilakukannya, Paksi?”

“Dua orang prajurit itu sudah mengganggu adik perempuanku. Mereka menganggap bahwa karena adik perempuanku itu anak Ki Tumenggung Sarpa Biwada yang dianggap memberontak, maka ia dapat diperlakukan sekehendak hati mereka”

Wajah Pangeran Benawa terasa menjadi panas. Ia pun kemudian berpaling kepada kedua orang prajurit yang telah terluka itu sambil berkata, “Kalian telah mencemarkan nama baik prajurit Pajang. Kalian tahu akibatnya? Kalian dapat digantung di halaman depan rumah ini jika aku memerintahkan”

“Tetapi, Pangeran” potong lurah prajurit itu.

“Tidak ada yang dapat menghalangi aku. Kau dengar Ki Lurah. Atau kau ingin membela dan melindungi kedua prajuritmu yang gila itu?”

“Ampun, Pangeran. Hamba tidak bermaksud demikian”

“Apa yang ingin kau katakan?”

“Apakah yang dikatakan oleh anak Ki Tumenggung itu benar?”

“Ia sahabatku. Aku percaya kepada kata-katanya. Kau dengar, Ki Lurah?”

“Hamba dengar, Pangeran”

“Sekarang, bawa orang-orangmu pergi”

“Maksud Pangeran?”

“Bawa orang-orangmu pergi. He, Ki Lurah, apakah kau tidak mendengar?”

“Hamba mendengar, Pangeran. Tetapi hamba ditugaskan untuk berjaga-jaga di rumah ini”

“Siapa yang memerintahkan kalian berjaga-jaga di rumah ini, Ki Lurah?”

“Ki Lurah Surapada”

“Siapa yang memerintahkan kalian pergi?”

“Pangeran Benawa”

“Lakukan perintahku. Kau sudah melanggar unggah-ungguh. Kau yang bertanggung jawab atas tingkah laku prajuritmu. Apakah sudah wataknya prajurit Pajang mengganggu anak-anak perempuan? Apakah sudah wataknya prajurit Pajang mempergunakan rumah orang lain untuk kepentingannya tanpa minta ijin? Kau sudah mempergunakan gandok itu sebelum kau minta ijin Nyi Tumenggung”

Lurah prajurit itu menundukkan kepalanya.

“Bawa orang-orangmu pergi. Tetapi persoalanku dengan kedua prajurit itu belum selesai. Ia telah mengotori nama kesatuan prajurit Pajang, khususnya kesatuanmu. Kau harus segera menghadap Ki Lurah Surapada. Laporkan peristiwa ini. Yang dapat kau lakukan kemudian adalah mengawasi rumah ini dari luar dinding halaman”

Ki Lurah itu termangu-mangu sejenak. Namun Pangeran Benawa pun membentak, “Kau dengar?”

“Hamba, Pangeran”

“Jika perbuatan seperti itu terjadi lagi, maka aku biarkan Paksi membunuh kalian semuanya”

Ki Lurah itu pun segera menyembah. Dipanggilnya semua prajuritnya dan diperintahkannya mereka keluar dari halaman untuk mengawasi rumah itu dari luar lingkungan dinding rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Demikian para prajurit itu pergi, maka Nyi Tumenggung itu pun kemudian menghadap Pangeran Benawa sambil berdesis, “Terima kasih, Pangeran”

“Mereka akan berjaga-jaga di luar, Bibi. Jika para prajurit itu kembali memasuki halaman rumah ini, maka merekalah yang telah memberontak dengan melawan perintahku”

“Hamba, Pangeran”

“Nah, sekarang perkenankan kami kembali menemui Paman Pemanahan. Kami pun harus memberikan laporan kepada Paman Pemanahan agar Paman tidak memberikan perintah yang bertentangan dengan perintahku”

“Hamba, Pangeran”

Paksi pun kemudian berkata kepada ibunya, “Ibu, aku mohon diri untuk kembali menghadap Ki Gede Pemanahan”

Ibunya mengangguk sambil menjawab, “Baiklah, Paksi. Tetapi berhati-hatilah”

“Ya, Ibu”

Namun adik perempuannya tiba-tiba bertanya, “Ibu, apakah Kakang Paksi akan pergi?”

“Ya, Ngger. Kakang Paksi harus menghadap Ki Gede Pemanahan”

“Jika para prajurit itu nanti kembali?”

Pangeran Benawa lah yang menyahut, “Mereka tidak akan kembali kemari. Mereka akan berada di luar dinding halaman rumah ini”

Adik perempuan Paksi itu mengangguk-angguk. Tetapi masih nampak kecemasan membayang di kedua matanya.

Paksi pun kemudian mendekati adik laki-lakinya dan berkata, “Kembalikan tombak itu di tempatnya. Mudah-mudahan kau tidak akan merasa perlu menggunakannya”

Adik laki-laki Paksi itu mengangguk. Namun ia pun berpesan, “Nanti, aku minta Kakang singgah kemari”

“Ya” Paksi mengangguk-angguk, “aku akan singgah kemari nanti”

Demikianlah, Paksi dan Pangeran Benawa pun telah meninggalkan rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada. Mereka kembali menghadap Ki Gede Pemanahan. Pangeran Benawa pun telah menceriterakan bahwa ia telah memerintahkan para prajurit untuk berjaga-jaga di luar dinding halaman rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

“Aku minta maaf, bahwa aku telah mendahului Paman” berkata Pangeran Benawa.

“Tidak apa-apa, Pangeran. Aku justru menganggap bahwa Pangeran telah mengambil sikap yang benar”

“Aku telah mengatakan kepada kedua orang prajurit yang mencoba mengganggu adik perempuan Paksi, bahwa persoalannya masih belum selesai”

“Ya. Aku akan memerintahkan Ki Lurah Surapada untuk memanggil prajurit itu”

“Terserah kepada Paman, hukuman apa yang akan Paman berikan. Tetapi aku mohon bahwa keduanya setidak-tidaknya mendapat peringatan keras dan hukuman jabatan”

“Baik, Pangeran. Atau barangkali Pangeran sendiri ingin berbicara dengan kedua orang prajurit itu?”

“Dimana mereka sekarang?”

“Ki Lurah Surapada akan dapat memanggil mereka”

“Tidak usah, Paman. Aku tidak usah menunggu terlalu lama. Aku ingin menghadap ayahanda jika Paman tidak berkeberatan”

“Tentu tidak, Pangeran. Jika yang Pangeran kehendaki, aku ikut menghadap, maka aku akan mengantar Pangeran”

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Bukan untuk mengantarkan aku menghadap, Paman. Tetapi kita menghadap bersama-sama”

Ki Gede Pemanahan tersenyum. Katanya, “Baiklah. Kita menghadap bersama-sama”

Sejenak kemudian, maka Ki Gede Pemanahan, Pangeran Benawa dan Paksi pun telah pergi ke istana bersama empat orang pengawal Ki Gede Pemanahan. Dalam keadaan yang gawat seperti pada saat itu, Pangeran Benawa akan dapat diserang setiap saat dari tempat-tempat tersembunyi oleh Harya Wisaka atau para pengikutnya yang setia. Apalagi setelah Harya Wisaka berhasil membebaskan diri dari bilik tahanannya. Para pengikutnya yang setia itu akan merasakan sebagai pohon-pohon yang mulai layu yang disiram dengan sekelenting air yang segar.

Kedatangan mereka memang agak mengejutkan Kangjeng Sultan. Agaknya Kangjeng Sultan belum mendapat laporan, bahwa Harya Wisaka bersembunyi di rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada, tetapi luput dari penangkapan. Harya Wisaka dan Tumenggung Sarpa Biwada berhasil melarikan diri.

Kangjeng Sultan mengangguk-angguk. Ketika ia memandang Pangeran Benawa, sebelum Kangjeng Sultan mengatakan sesuatu. Pangeran Benawa telah mendahuluinya, “Hamba yang bersalah, Ayahanda. Seharusnya hamba dapat menangkap Harya Wisaka dan Tumenggung Sarpa Biwada. Tetapi hamba gagal”

“Sudah. Jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting, kita berusaha menangkap kembali Harya Wisaka dan Tumenggung Sarpa Biwada”

“Ya, Ayahanda”

“Paksi” berkata Kangjeng Sultan, “hal ini terpaksa dilakukan karena ayahmu terbukti telah menyembunyikan seorang pemberontak di rumahnya”

“Segala sesuatunya terserah kebijaksanaan Kangjeng Sultan”

“Tetapi Pajang tidak akan menjatuhkan hukuman semena-mena. Ayahmu akan diperiksa dengan teliti. Jika ternyata kesalahannya kecil, maka hukumannya pun akan menjadi sangat ringan. Bahkan mungkin dapat diampuni”

Paksi hanya bisa menyembah. Tapi suaranya rasa-rasanya terhenti di kerongkongan.....

“Sekarang, apakah yang Kakang Pemanahan lakukan?”

“Hamba telah memerintahkan pengawasan para petugas sandi di samping meningkatkan perondaan oleh para prajurit yang bertugas di seluruh kota. Meningkatkan pengawasan sehingga memperkecil kemungkinan bagi Harya Wisaka untuk keluar kota”

“Baiklah. Aku harap Kakang cepat menemukan orang itu kembali. Tentu dengan para pengikutnya yang masih berada di dalam kota”

“Hamba akan mencoba, Kangjeng Sultan”

“Kita memang harus mengerahkan segenap tenaga dan akal untuk dapat menangkapnya kembali. Ia orang yang sangat berbahaya bagi Pajang”

“Hamba, Kangjeng Sultan”

“Benawa” berkata Kangjeng Sultan kemudian.

“Hamba, Ayahanda”

“Kau harus menjadi lebih berhati-hati. Kau adalah salah satu sasarannya. Aku minta aku mempertimbangkannya lagi, apakah cincin itu akan terus kau pakai atau disimpan saja di tempat yang tidak akan dapat diusik oleh orang lain”

“Hamba akan memakainya, Ayahanda. Seperti gula, cincin ini akan menarik semut. Paman Harya Wisaka adalah salah satu dari semut itu. Mungkin ia akan datang lagi kepadaku”

“Jika demikian, maka kau harus selalu bersiap menghadapi segala kemungkinan. Juga di padepokanmu. Meskipun mungkin Harya Wisaka tidak lagi mampu mengumpulkan pengikutnya sebanyak sebelumnya, tetapi Harya Wisaka tetap berbahaya bagi padepokanmu di Hutan Jabung”

“Hamba, Ayahanda”

“Nah, Kakang Pemanahan. Bukankah kita menjadi sibuk karena tingkah Harya Wisaka itu?”.

“Hamba, Baginda”

Untuk beberapa saat Kangjeng Sultan masih memberikan petunjuk-petunjuk kepada Ki Gede Pemanahan dan kepada Pangeran Benawa serta Paksi.

“Kau akan kembali kemana, Benawa?”

“Kami akan kembali ke padepokan, Ayahanda. Tetapi kami ingin singgah dan minta diri kepada Bibi Tumenggung Sarpa Biwada”

“Kau harus sangat berhati-hati di perjalanan jika kau hanya berdua”

“Hamba, Ayah”

Namun Ki Gede Pemanahan pun berkata, “Biarlah empat pengawalku yang terpilih menemani Pangeran dan Paksi sampai ke padepokan di Hutan Jabung. Bukan karena aku meragukan kemampuan Pangeran Benawa. Tetapi jika musuh terlalu banyak, maka akan dapat terjadi kesulitan bagi Pangeran dan Paksi”

Pangeran Benawa mengangguk. Katanya, “Baik, Paman. Kami tentu tidak berkeberatan”

Demikianlah, maka Pangeran Benawa dan Paksi pun segera mohon diri. Demikian pula Ki Gede Pemanahan yang kemudian akan menyerahkan beberapa orang pengawal pilihan yang akan menemani Pangeran Benawa dan Paksi kembali ke Hutan Jabung.

Pangeran Benawa dan Paksi tidak lama singgah di rumah Ki Gede Pemanahan. Setelah Ki Gede menunjuk empat orang pengawal yang meyakinkan, maka Pangeran Benawa dan Paksi pun segera minta diri. Mereka masih akan singgah untuk minta diri kepada Nyi Tumenggung Sarpa Biwada.

Ketika Paksi dan Pangeran Benawa minta diri, Nyi Tumenggung yang bukan seorang yang cengeng itu mengusap matanya. Hidupnya menjadi sangat rumit. Keluarganya terpecah-pecah dan bahkan saling bermusuhan.

Nyi Tumenggung memang menjadi sangat kecewa dan menyesal, bahwa suaminya telah terlibat di dalam gerakan yang dilakukan oleh Harya Wisaka. Tetapi semuanya itu sudah terjadi.

“Berhati-hatilah, Paksi” pesan ibunya.

“Ya, Ibu”

“Pangeran” berkata Nyi Tumenggung kepada Pangeran Benawa, “hamba titipkan Paksi kepada Pangeran dan seisi padepokan”

“Kami akan saling menjaga, Bibi”

“Terima kasih, Pangeran”

“Tetapi Bibi juga harus berhati-hati. Mungkin keadaan akan dapat menjadi semakin rumit. Tetapi jangan takut, bahwa para prajurit tidak akan mengganggu keluarga Bibi lagi”

“Hamba, Pangeran”

“Dimana saja, di lingkungan apa saja, tentu ada orang-orang yang menyalahi paugeran. Juga di lingkungan keprajuritan. Aku mohon maaf, Bibi. Tetapi semuanya itu sudah diketahui oleh Paman Pemanahan. Paman Pemanahan akan mengambil langkah-langkah yang perlu”

“Terima kasih, Pangeran”

Demikianlah, setelah Paksi minta diri kepada ibunya, kepada adik-adiknya, maka Paksi pun meninggalkan rumahnya, ia masih mendengar adik perempuannya menangis. Ibunya dan adik laki-lakinya berusaha membesarkan hatinya.

Sejenak kemudian, Paksi dan Pangeran Benawa telah berpacu menuju ke Hutan Jabung. Empat orang prajurit pilihan menyertai mereka.

Namun ternyata mereka tidak mengalami hambatan apa pun di perjalanan. Mereka sampai di padepokan setelah hari gelap dengan selamat. Mereka memasuki padepokan setelah lampu-lampu minyak serta oncor jarak di regol, dinyalakan.

Ki Panengah, Ki Waskita, Raden Sutawijaya serta para cantrik menerima keduanya dengan dada yang berdebar-debar. Rasa-rasanya mereka ingin segera tahu, apa yang telah terjadi.

Pangeran Benawa lah yang kemudian berceritera tentang apa yang telah ditemuinya bersama Paksi di Pajang. Tentang Harya Wisaka yang ternyata memang bersembunyi di rumah Paksi. Tentang Harya Wisaka yang berhasil lolos dan tentang Ki Tumenggung yang melarikan diri dari rumahnya.

Ki Panengah, Ki Waskita, Raden Sutawijaya dan mereka yang lain mendengarkan ceritera Pangeran Benawa itu dengan sungguh-sungguh.

“Aku menyesal sekali bahwa aku tidak dapat menangkap Paman Harya Wisaka” berkata Pangeran Benawa kemudian.

“Tetapi itu bukan salah Pangeran” berkata Ki Waskita. “Kita semuanya mengetahui bahwa Harya Wisaka adalah orang berilmu tinggi, sehingga kemungkinan untuk melepaskan diri dari tangan Pangeran memang besar. Kecuali jika Harya Wisaka itu tanggon. Bertempur sampai akhir”

Pangeran Benawa lah yang mengangguk-angguk. Ia pun kemudian juga berceritera tentang Ki Tumenggung yang juga sempat melarikan diri.

“Itu juga bukan salah Paksi” berkata Ki Waskita, “Ikatan keluarga yang ada antara Paksi dan Ki Tumenggung tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Dan itu tentu dialami oleh setiap orang”

Raden Sutawijaya menarik nafas panjang. Katanya, “Kalau saja waktu itu aku ikut”

“Sudahlah. Yang penting adalah menghadapi keadaan itu sebagai satu kenyataan” berkata Ki Panengah. “Apakah keadaan itu akan berpengaruh terhadap kehidupan di padepokan ini?”

“Mungkin sekali, Ki Panengah. Ayahanda dan Paman Pemanahan memperingatkan, agar kita semuanya berhati-hati. Padepokan ini tentu masih tetap menjadi sasaran bidikannya”

“Peringatan itu harus kita perhatikan. Aku pun ingin memperingatkan Pangeran Benawa, bahwa Harya Wisaka tentu masih menginginkan cincin itu”

“Ya, Ki Panengah” sahut Pangeran Benawa. “Ayahanda juga memperingatkan aku”

“Peringatan itu harus Pangeran perhatikan” berkata Ki Waskita.

Pangeran Benawa tersenyum. Katanya, “Aku mengerti, Ki Waskita. Tetapi aku masih berniat untuk menjadikan cincin ini umpan bagi mereka yang bernafsu untuk menguasai masa depan”

“Bukan cincin itu yang akan menjadi umpan. Tetapi Pangeran Benawa sendirilah umpan itu”

Pangeran Benawa menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Waskita berkata selanjutnya, “Hanya satu peringatan, Pangeran. Seperti juga ayahanda Pangeran memberikan peringatan. Bagaimanapun juga Pangeran ada di dalam lingkungan kami”

Pangeran Benawa mengangguk-angguk.

“Nah, Pangeran dan Paksi tentu letih. Silahkan beristirahat dahulu. Nanti kita akan berbincang lagi” berkata Ki Panengah kemudian.

“Ya, Ki Panengah. Aku akan pergi ke pakiwan”

Demikianlah, setelah Pangeran Benawa dan Paksi mandi dan berbenah diri, maka sambil makan malam, Pangeran Benawa dan Paksi masih saja mendapat pertanyaan-pertanyaan. Giliran para cantriklah yang lebih banyak berbicara. Mereka ingin lebih banyak mengetahui, apa saja yang telah terjadi.

Ki Kriyadama yang lebih banyak berada bersama para prajurit yang bertugas membantu membangun sebuah padepokan yang besar telah berada di bangunan induk pula. Ternyata Ki Kriyadama pun ingin mengetahui lebih banyak tentang Ki Tumenggung Sarpa Biwada dan tentang Harya Wisaka.

Ternyata peringatan Kangjeng Sultan dan Ki Gede Pemanahan itu banyak mempengaruhi sikap seisi padepokan itu. Ki Panengah, Ki Waskita, Ki Kriyadama dan kemudian juga pemimpin prajurit Pajang yang bertugas di Alas Jabung, memperhatikan peringatan itu dengan sungguh-sungguh. Di hari-hari berikutnya, maka pengawasan di sekitar padepokan itu pun semakin ditingkatkan. Hubungan dengan Pajang pun menjadi semakin sering untuk saling mendapatkan keterangan. Para penghubung seakan-akan hilir mudik antara Pajang dan Alas Jabung yang memang tidak terlalu jauh.

Sementara itu, para petugas sandi di kota pun semakin meningkatkan pengamatan mereka. Namun mereka masih belum dapat menemukan persembunyian Harya Wisaka.

Dengan demikian, maka Ki Gede Pemanahan pun berkesimpulan, bahwa masih banyak pengikut setia Harya Wisaka yang berada di dalam Kota. Mereka sama sekali tidak merasa takut mendengar ancaman hukuman berat bagi yang menyembunyikan Harya Wisaka.

Namun para petugas sandi itu memperhitungkan, bahwa Harya Wisaka masih berada di dalam kota. Para petugas sandi mengawasi dengan ketat setiap jalur jalan ke luar kota. Bahkan pedati-pedati pun tidak luput dari pengamatan para petugas. Tetapi Harya Wisaka masih belum dapat diketemukan.

Dalam pada itu, rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada masih saja diawasi oleh para prajurit. Namun yang tugasnya kemudian telah dilimpahkan kepada para petugas sandi.

Tetapi dari hari ke hari, tidak ada tanda-tanda bahwa Ki Tumenggung Sarpa Biwada akan pulang. Suasana rumah itu semakin lama menjadi semakin muram.

Sepekan setelah Ki Tumenggung Sarpa Biwada meninggalkan rumahnya, Paksi telah mengunjungi ibunya. Tidak bersama Pangeran Benawa, tetapi bersama Raden Sutawijaya yang juga ingin menghadap ayahnya setelah sudah agak lama ia tidak pulang.

Jantung Paksi terasa berdenyut semakin cepat ketika ia melihat ibunya yang kusut. Adik-adiknya yang muram.

“Maaf, Ibu, jika yang terjadi telah membuat rumah ini menjadi berduka”

Ibunya tidak segera menjawab. Tetapi matanya menjadi berkaca-kaca.

“Semuanya tentu akan berakhir, Bibi” berkata Raden Sutawijaya. “Mudah-mudahan keluarga ini akan segera menemukan keceriaannya kembali”

“Mudah-mudahan, Raden. Tetapi seandainya sebuah mangkuk, keluarga ini sudah retak. Apakah ada perekat yang akan dapat memulihkannya kembali?”

“Mungkin, Bibi. Tetapi bukan berarti bahwa matahari tidak akan bersinar lagi di rumah ini. Mungkin dalam keutuhan yang lain dari yang terdahulu, tetapi tidak kalah nilainya”

“Aku dan anak-anakku memang harus menerima kenyataan ini. Sejak semula aku memang sudah menduga, bahwa pada suatu saat hukuman itu akan datang juga menimpaku, bahkan menimpa seluruh keluarga kami”

“Hukuman apa yang Ibu maksudkan?” bertanya Paksi.

Mata ibunya yang berkaca-kaca itu mulai menitikkan air yang bening.

“Tidak, Paksi. Maksudku, bahwa tidak selamanya hidup ini seperti biduk yang dikayuh di permukaan air yang tenang. Pada satu saat, angin akan bertiup dan mengguncang wajah air sehingga timbul gejolak-gejolak yang akan menggoncangkan biduk itu”

Paksi mengerutkan dahinya. Ia merasakan keluhan ibunya itu jauh lebih dalam dari yang dikatakannya. Tetapi Paksi tidak ingin mengungkit luka di hati ibunya lebih dalam lagi.

Untuk beberapa lama Paksi dan Raden Sutawijaya berada di rumah itu. Mereka berbincang dan berusaha membuat adik-adik Paksi sedikit cerah dengan gurau-gurau segar.

Namun mereka tidak dapat terlalu lama berada di rumah itu. Paksi dan Raden Sutawijaya pun kemudian telah minta diri.

“Aku pun akan menengok rumahku, Bibi. Sudah lama aku tidak pulang menemui ayah dan sudah lama pula tidak menghadap ayahanda Sultan”

Nyi Tumenggung mengangguk-angguk. Katanya, “Terima kasih atas kunjungan Raden”

Ibu Paksi itu pun kemudian mengusap dahi Paksi dengan jari-jari tangannya sambil berdesis, “Paksi, biarlah aku memikul beban ini. Aku selalu berdoa agar kau dan adik-adikmu kelak menemukan satu kehidupan yang lebih baik dari orang tuamu”

“Terima kasih, Ibu” desis Paksi.

“Jika ada waktu, perlukan mengunjungi kami”

“Ya, Ibu”

“Kakang” desis adiknya laki-laki, “sebenarnya aku ingin ikut Kakang dan tinggal di padepokan. Tetapi aku tidak dapat meninggalkan ibu dan adik perempuan kita”

Paksi menepuk bahu adiknya sambil berdesis, “Untuk sementara sebaiknya kau memang tinggal di rumah mengawasi ibu dan adikmu. Aku tahu, betapa inginnya kau berguru untuk menuntut ilmu. Tetapi agaknya keadaan masih belum mengijinkanmu”

“Ya, Kakang, aku mengerti”

“Selamat tinggal. Aku akan berusaha untuk segera dapat menengok kalian lagi”

Sejenak kemudian, maka Paksi dan Raden Sutawijaya pun telah meninggalkan rumah itu. Mereka masih akan menghadap Ki Gede Pemanahan dan Sutawijaya ingin menunjukkan dirinya di hadapan Kangjeng Sultan, karena ia sudah lama tidak menghadap ayahanda angkatnya itu.

Paksi dan Raden Sutawijaya sempat bermalam semalam di rumah Ki Gede Pemanahan. Mereka merencanakan keesokan harinya, mereka akan kembali ke padepokan di Hutan Jabung.

Namun pada malam itu, yang tidak diduga sama sekali oleh Paksi telah terjadi. Ternyata dengan kemampuannya yang tinggi, Ki Tumenggung dapat menyusup melewati pengawasan para petugas sandi masuk ke rumahnya meloncati dinding kebun belakang.

Nyi Tumenggung terkejut sekali ketika ia mendengar dinding biliknya diketuk orang justru dari luar.

“Nyi, Nyi” terdengar suara tertahan-tahan.

“Kakang Tumenggung?” desis Nyi Tumenggung.

“Ya, Nyi. Aku. Buka pintu. Tetapi pintu dapur saja. Hati-hatilah. Rumah ini diawasi”

Nyi Tumenggung pun segera bangkit. Dengan hati-hati ia pergi ke belakang langsung ke dapur.

Malam sudah larut. Tidak ada orang di dapur. Lampu pun sudah padam. Namun karena Nyi Tumenggung sudah terbiasa berada di dalam dapur itu, maka Nyi Tumenggung pun berhasil menemukan pintunya tanpa menyalakan lampunya.

Demikian pintu terbuka, maka Nyi Tumenggung melihat dalam keremangan malam, dua orang berdiri di depan pintu. Seorang di antara mereka langsung dikenalinya sebagai suaminya.

“Kakang” desis Nyi Tumenggung.

Ki Tumenggung tidak langsung menjawabnya. Tetapi ia pun segera melangkah masuk sambil berdesis kepada kawannya, “Cepat. Masuklah”

Kawannya itu pun segera masuk ke dalam dapur yang gelap itu.

“Kau tidak usah menyalakan lampu, Nyi. Kami dapat melihat jelas dalam kegelapan”

Nyi Tumenggung memang tidak menyalakan lampu. Katanya kemudian, “Marilah, silahkan masuk ke ruang dalam”

“Aku hanya sebentar, Nyi”

“Kenapa hanya sebentar?”

“Aku tidak ingin ditangkap dan disimpan di bilik tahanan seperti Harya Wisaka. Jika aku yang menjalaninya, agaknya aku tidak akan mampu melepaskan diri sebagaimana Harya Wisaka”

“Lalu, apakah maksud Kakang Tumenggung pulang malam ini jika Ki Tumenggung terancam bahaya?”

“Aku akan mengambil anak kita”

“Maksud Kakang?”

“Anak laki-laki kita harus menjadi orang yang pinunjul. Ia tidak boleh seperti ayahnya yang tidak berdaya dalam keadaan yang gawat seperti ini”

“Lalu?”

“Aku akan membawanya ke sebuah perguruan”

“Maksud Kakang, anak itu akan dibawa menyusul Paksi?”

“Tidak. Aku tidak sebodoh itu. Paksi telah dipengaruhi oleh lingkungannya, oleh guru-gurunya dan oleh orang-orang dengki, agar melawan ayahnya”

“Tetapi Kakang berpihak pada Harya Wisaka”

“Apa pun yang aku lakukan, ia tidak boleh menentangku. Bahkan menjerumuskan aku ke dalam petaka”

“Jadi, apa yang akan Kakang lakukan sekarang?”

“Aku sudah berhubungan dengan sebuah perguruan yang dapat dipercaya. Perguruan yang memiliki keunggulan dalam segala hal dari perguruan Hutan Jabung itu”

“Perguruan mana itu, Kakang?”

“Maaf Nyi. Untuk sementara aku masih harus merahasiakannya. Jika aku menyebutnya, mungkin rahasia itu akan dapat didengar oleh orang lain”

“Apakah keberatannya jika tempat berguru anak kita diketahui oleh orang lain?”

“Pertanyaan yang sangat bodoh” sahut Ki Tumenggung. “Kau tahu bahwa aku sedang diburu sekarang. Jika tempat berguru anak kita diketahui, maka anak kita itu tentu akan diambil oleh Pemanahan”

“Apakah anak kita juga dianggap bersalah?”

“Bersalah atau tidak bersalah. Tetapi ia adalah anak seorang pemberontak”

“Kakang”

“Jangan disesali”

“Bagaimana dengan Paksi? Ia juga anak pemberontak”

“Tetapi ia sudah menunjukkan pengkhianatannya kepada ayahnya untuk keselamatannya sendiri”

“Tentu bukan karena itu, Kakang”

“Sudahlah. Karena apa pun juga, tetapi sekarang yang penting aku akan menyelamatkan anak laki-laki kita yang masih mungkin diselamatkan secara jiwani. Tentu saja juga secara kewadagan”

“Apakah itu berarti bahwa sikapnya kelak akan berbeda dengan sikap Paksi?”

“Tentu. Aku tidak ingin anak kita yang seorang ini juga berkhianat terhadap ayahnya sebagaimana anak kita yang sulung”

“Kakang, apakah mungkin kelak pada suatu saat mereka akan berhadapan sebagai lawan?”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Apa salahnya? Mereka masing-masing memiliki kepribadian mereka sendiri. Mereka mempunyai sikap sendiri, cita-cita sendiri dan kebenaran atas dasar keyakinan mereka sendiri-sendiri. Jangankan mereka bersaudara, sedangkan Paksi sudah berani menentang ayahnya”

“Tidak, Kakang. Aku tidak ingin perpecahan di antara keluarga semakin menjadi-jadi”

“Kita sudah terbelah. Jika anak itu tidak berpihak kepadaku, ia akan berpihak kepada Paksi. Nah, apa bedanya menurut penglihatanmu atas keutuhan keluarga kita? Bukankah yang pecah itu tidak akan terpaut kembali?”

“Biarlah yang retak sekarang tetap retak. Tetapi aku tidak mau melihat anak-anak kita akan berdiri berseberangan”

“Tetapi kau sudah melihatnya sekarang. Kau tidak usah menunggu kelak. Anakmu sudah berani melawan suamimu”

“Jika itu sudah terjadi, biarlah itu saja yang terjadi”

“Tidak. Jika aku tidak membawa anak laki-laki kita yang muda itu, maka kelak anak itu akan memusuhiku. Mungkin lebih parah dari Paksi dan bahkan mungkin anak itulah yang kelak akan membunuhku”

“Tetapi aku tidak mau melihat anak kita bermusuhan dan saling mendendam”

“Sudahlah. Biarlah aku yang menentukan”

“Tidak, Kakang. Jangan bawa anak itu”

“Diamlah. Aku akan membawanya”

“Jangan, Kakang”

Ketika Ki Tumenggung melangkah ke pintu yang menuju ke longkangan, kemudian lewat butulan masuk ke serambi samping dan langsung masuk ke ruang dalam, Nyi Tumenggung itu pun telah menahannya dengan memegangi lengannya.

“Jangan, Kakang. Jangan bawa anak kita. Biarlah ia di rumah menemani aku”

Tetapi Ki Tumenggung tidak menghiraukannya. Dikibaskannya tangan Nyi Tumenggung sehingga terlepas.

Namun Nyi Tumenggung itu tiba-tiba mengancam, “Kakang, aku tahu bahwa di luar ada beberapa orang prajurit atau prajurit sandi yang bertugas. Jika Kakang tetap berniat membawa anak kita, maka aku akan menjerit-jerit”

“Jadi, kau pun ingin aku mati?”

“Tidak. Aku hanya ingin kau tidak membawa anakmu”

“Aku tidak peduli”

Ketika Ki Tumenggung melangkah, maka sekali lagi Nyi Tumenggung memegangi lengannya.

Ki Tumenggung pun menjadi jengkel. Dikibaskan Nyi Tumenggung lebih keras lagi, sehingga Nyi Tumenggung itu terpelanting dan jatuh menimpa amben bambu. Bagian belakang telinganyalah yang membentur waton amben yang terbuat dari bambu itu.

Nyi Tumenggung tidak sempat menjerit. Tubuhnya pun kemudian jatuh terbaring di lantai dapur.

“Nyi, Nyi” Ki Tumenggung pun kemudian berjongkok di sebelah tubuh Nyi Tumenggung. Dengan cemas ia memanggil-manggil isterinya yang terbaring diam.

“Ia menjadi pingsan” desis kawan Ki Tumenggung.

“Aku tidak bermaksud menyakitinya”

“Bukan salah Ki Tumenggung. Tetapi bagi kita ini adalah satu kebetulan. Ki Tumenggung dapat membawa anak Ki Tumenggung itu tanpa dihalangi oleh Nyi Tumenggung”

Ki Tumenggung Sarpa Biwada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun bangkit sambil berdesis, “Baiklah. Marilah kita ambil anak itu”

Keduanya pun kemudian meninggalkan Nyi Tumenggung yang pingsan. Ki Tumenggung telah mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di amben panjang.

Ki Tumenggung pun kemudian telah membawa kawannya masuk ke ruang dalam langsung ke bilik anaknya.

Anak itu terkejut ketika Ki Tumenggung membangunkannya. Dengan serta-merta Ki Tumenggung pun berkata, “Berpakaianlah. Kita akan pergi”

“Ayah, kita akan pergi kemana?”

“Nanti kau akan tahu”

“Bersama ibu dan adikku?”

“Tidak. Kau akan pergi sendiri bersama Ayah”

“Kemana, Ayah?”

“Sudah aku katakan, nanti kau akan tahu”

“Bagaimana dengan ibu dan adik?”

“Mereka tidak akan diganggu. Kitalah yang selama ini terancam karena kau anak laki-laki yang sudah menjadi remaja”

“Apakah ibu tidak berkeberatan?”

“Tidak”

“Kita tinggalkan ibu dan adik sendirian tanpa perlindungan sama sekali?”

“Sudah aku katakan, ibumu tidak akan diganggu. Bukankah mereka berjaga-jaga di luar halaman?”

“Ya, setelah para prajurit itu berkelahi melawan Kakang Paksi. Ada dua orang prajurit yang mengganggu adik. Kakang Paksi menjadi marah. Meskipun Kakang Paksi berkelahi melawan beberapa orang prajurit yang bertugas mengawasi rumah ini, tetapi Kakang Paksi menang”

“Kakakmu kemudian tidak ditangkap?”

“Tidak. Pangeran Benawa yang mendapat laporan dari Kakang Paksi menjadi sangat marah. Para prajurit itu pun telah diusir dan harus mengawasi rumah ini dari luar dinding”

Ki Tumenggung termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Nah, jika demikian, ibumu dan adikmu itu tidak akan ada yang mengganggu lagi. Bersiaplah. Kita akan segera pergi. Waktu kita sangat terbatas”

Adik Paksi itu masih saja ragu-ragu, sehingga ayahnya membentak, “Cepat, sebelum leherku dijerat oleh para prajurit sandi”

“Apakah kita akan menemui Kakang Paksi?”

“Cepatlah”

Adik laki-laki Paksi itu tidak sempat bertanya lebih jauh. Ketika ia masuk ke dalam bilik ibunya untuk minta diri, ibunya tidak berada di biliknya.

“Dimana ibu, Ayah?”

“Akulah yang seharusnya bertanya kepadamu, karena kau yang tinggal di rumah”

“Tetapi tadi ibu sudah berada di biliknya”

“Sudahlah. Mungkin ibu sedang mempunyai keperluan di belakang atau di pakiwan atau dimana saja. Sekarang kita akan meninggalkan rumah ini”

“Aku harus minta ijin kepada ibu”

“Tidak perlu. Keadaan sangat gawat sekarang. Marilah, sebelum para prajurit tahu aku ada disini”

“Tetapi ibu akan mencari aku. Ibu akan menjadi cemas, bahwa aku disangkanya hilang”

“Besok malam aku akan datang kembali memberitahukan kepada ibumu. Tanpa membawa kau, aku dapat leluasa masuk keluar rumah ini meskipun rumah ini diawasi oleh prajurit-prajurit sandi yang dungu itu”

“Tidak, Ayah. Aku harus bertemu ibu lebih dahulu”

Tetapi adik Paksi itu terkejut. Tiba-tiba saja ayahnya telah mengacungkan tombak pendeknya ke dadanya, “Jangan ribut. Aku ingin menyelamatkanmu dari kuasa kesewenang-wenangan di Pajang. Kau harus menjadi orang yang memiliki kemampuan dan ilmu yang sangat tinggi. Jauh lebih tinggi dari kemampuan dan ilmu ayahmu. Karena itu, ikut aku sekarang”

Adik laki-laki Paksi itu tidak dapat membantah lagi. Ia pun kemudian telah membenahi pakaiannya dengan cepat.

“Bawa tombak pendek yang satu lagi”

Anak itu tidak membantah. Ia pun segera memungut tombak pendek yang satu lagi dari plonconnya dan membawanya.

Bertiga mereka meninggalkan rumah itu. Kawan Ki Tumenggung itu merayap di depan untuk mengawasi suasana. Baru kemudian Ki Tumenggung dan anak laki-lakinya. Mereka meloncati dinding kebun belakang. Bergeser dengan sangat berhati-hati menjauhi rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada.

Ternyata ketiga orang itu dapat melepaskan diri dari penglihatan para prajurit sandi yang mengawasi rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada sehingga Ki Tumenggung itu menjadi semakin lama semakin jauh menuju ke tempat persembunyiannya yang tidak tercium oleh para petugas sandi.

Sementara itu, Nyi Tumenggung yang pingsan di dapur perlahan-lahan mulai sadar. Mula-mula ia membuka matanya. Yang nampak hanyalah kegelapan, karena ia berada di dapur yang gelap. Dicobanya mengingat-ingat apa yang telah terjadi. Sekali-sekali Nyi Tumenggung itu berdesah karena bagian belakang kepalanya terasa sangat sakit.

Nyi Tumenggung itu pun kemudian mulai teringat bahwa ia terjatuh dan belakang telinganya membentur waton amben di dapur.

Perlahan-lahan ingatannya pun menjadi utuh kembali. Ia dapat mengingat seluruhnya apa yang telah terjadi, sejak Ki Tumenggung mengetuk pintu sampai Ki Tumenggung mengibaskan tangannya demikian kerasnya sehingga ia terjatuh menimpa amben bambu.

Ia pun kemudian teringat pula, apa yang akan dilakukan oleh suaminya terhadap anak laki-lakinya yang kecil, yang akan dibawanya ke sebuah perguruan yang tidak diketahuinya.

Dengan serta-merta Nyi Tumenggung itu bangkit dan dengan tergesa-gesa pula beranjak dari tempatnya.

Tetapi karena gelap dan kepalanya yang masih terasa sakit, maka Nyi Tumenggung itu justru menyentuh gledeg. Ketika ia terdorong ke samping, kakinya terantuk ompak tiang dapur.

Nyi Tumenggung terjatuh lagi. Tetapi ia tidak sempat merasakan betapa kelingking kakinya yang terantuk batu ompak itu sakit sekali. Demikian ia bangkit, maka Nyi Tumenggung itu telah berjalan lagi menuju ke pintu.

Ketika Nyi Tumenggung memasuki bilik anak laki-lakinya, jantung pun berdesir. Anak itu sudah tidak ada di dalam biliknya.

Jantung Nyi Tumenggung berdegup semakin cepat. Ketika ia berlari ke biliknya, ia tidak melihat Ki Tumenggung di dalamnya. Bahkan Ki Tumenggung sudah tidak ada dimana-mana di dalam rumah itu.

Bahkan tombak yang satu yang berada di plonconya sudah tidak ada lagi.

Adalah di luar sadarnya ketika tangis Nyi Tumenggung itu meledak. Setiap kali matanya berkaca-kaca ia masih selalu sempat mengendalikan dirinya meskipun air matanya meleleh juga dari matanya. Bahkan kadang-kadang ia terisak juga. Tetapi ketika ia mengetahui bahwa anak laki-lakinya yang muda dibawa ayahnya untuk ditempa menjadi seorang yang berilmu tinggi, yang kelak akan dihadapkan kepada kakaknya sendiri, maka Nyi Tumenggung itu tidak dapat lagi menahan gejolak perasaannya.

Tiba-tiba saja ia tidak lagi dapat menahan diri ketika Nyi Tumenggung itu menjerit, “Anakku. Anakku”

Anak perempuannya terkejut. Demikian ia terbangun, maka ia pun segera berlari keluar dari biliknya. Dilihatnya ibunya menangis di ruang dalam.

Anak itu pun telah menangis menjerit-jerit pula. Tanpa terkendali anak itu berteriak, “Ibu, Ibu”

Ternyata bahwa para pembantu di rumah Ki Tumenggung itu pun telah terbangun. Mereka pun segera pergi ke ruang dalam. Namun karena pintu diselarak dari dalam, maka mereka pun mengetuk-ketuk pintu sambil memanggil-manggil, “Nyi Tumenggung, Nyi Tumenggung, apa yang terjadi?”

Nyi Tumenggung seakan-akan tidak mendengarnya. Jantungnya serasa hancur di dalam dadanya. Yang terdengar adalah suara tangisnya sendiri serta suaranya yang memanggil-manggil anaknya.

Anak perempuannya itulah yang kemudian berlari membuka pintu yang menghadap ke belakang. Dua orang pembantunya, suami isteri, segera meloncat masuk sambil bertanya, “Apa yang terjadi?”

“Aku tidak tahu” jawab anak perempuan itu.

Namun pembantunya yang laki-laki melihat pintu butulan yang menuju ke longkangan justru terbuka.

Dengan tergesa-gesa ia pergi ke longkangan. Namun tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa.

Dalam pada itu, dua orang prajurit sandi yang bertugas di luar halaman rumah Ki Tumenggung yang kebetulan berjalan di jalan di depan rumah, telah mendengar jerit Nyi Tumenggung pula. Untuk beberapa saat mereka menjadi ragu-ragu. Apakah mereka dibenarkan masuk ke halaman. Pangeran Benawa sudah berpesan, bahwa jika seorang prajurit memasuki halaman rumah itu, maka ia dapat dianggap memberontak karena menentang perintah Pangeran Benawa.

“Tetapi agaknya ada sesuatu yang terjadi”

Akhirnya keduanya sepakat untuk memasuki halaman rumah itu. Dengan sigapnya keduanya pun segera naik ke pendapa dan langsung berlari ke pringgitan. Seorang di antaranya segera mengetuk pintu sambil memanggil pula, “Nyi Tumenggung, Nyi Tumenggung”

Pelayan laki-laki Nyi Tumenggung yang sudah ada di ruang dalam itulah yang bertanya, “Siapa di luar?”

“Kami berdua, prajurit yang bertugas mengawasi rumah ini. Tolong buka pintu. Apa yang telah terjadi disini?”

Pembantu laki-laki itu pun segera membuka pintu pringgitan.

Dua orang prajurit berdiri tegak di depan pintu. Seorang di antara mereka bertanya, “Apakah kami diperbolehkan masuk?”

“Silahkan, Ki Sanak”

Kedua orang prajurit sandi itu pun kemudian melangkah masuk. Seorang di antara mereka itu pun mengangguk hormat sambil bertanya, “Apa yang telah terjadi, Nyi Tumenggung. Kami mendengar Nyi Tumenggung menjerit dan anak perempuan Nyi Tumenggung itu menangis berteriak-teriak. Mungkin kami dapat membantu jika Nyi Tumenggung memerlukannya”

“Anakku, Ki Sanak”

“Kenapa?”

“Anakku laki-laki telah dibawa oleh ayahnya”

“Maksud Nyi Tumenggung, dibawa oleh Ki Tumenggung?”

“Ya”

“Kapan, Nyi?”

“Baru saja, Ki Sanak”

“Ketika Nyi Tumenggung menjerit?”

“Tidak. Aku baru saja sadar dari pingsan. Ketika aku melihat bilik anakku, anakku tidak ada”

“Nyi Tumenggung tahu, bahwa anak itu dibawa oleh ayahnya”

“Ki Tumenggung baru saja ada disini. Ia memang akan mengambil anak itu. Ketika aku menahan dengan memegangi lengannya, maka aku dikibaskannya sehingga aku terlempar jatuh menimpa waton amben bambu. Aku menjadi pingsan. Ketika aku sadar dan memasuki bilik anakku, anakku sudah tidak ada. Ki Tumenggung pun sudah tidak ada pula”

“Jadi Ki Tumenggung baru saja datang kemari?” bertanya prajurit sandi itu.

“Ya”

Kedua orang prajurit itu saling berpandangan sejenak. Yang seorang kemudian berkata, “Laporkan kepada Ki Lurah”

Seorang dari kedua orang prajurit sandi itu pun segera meninggalkan tempat itu untuk memberi laporan kepada lurah prajurit yang sedang bertugas malam itu.

Sejenak kemudian, beberapa orang prajurit telah berada di rumah itu. Para pembantu Ki Tumenggung tidak ada yang dapat memberikan keterangan kecuali Nyi Tumenggung sendiri.

Lurah prajurit yang memimpin tugas malam itu dengan membawa obor belarak telah memeriksa bagian belakang halaman rumah Ki Tumenggung. Mereka memang melihat jejak kaki serta jejak landean tombak yang agaknya menyentuh tanah.

“Rerumputan dan ranting-ranting perdu itu menunjukkan arah mereka” berkata Ki Lurah.

Jejak yang mereka lihat bukan saja saat Ki Tumenggung meninggalkan rumah itu, tetapi juga saat mereka datang.

“Kita harus melaporkannya kepada Ki Surapada” berkata lurah prajurit yang bertugas. “Mudah-mudahan kita tidak digantung karena kelengahan kita”

“Ki Tumenggung memang cerdik” desis seorang prajurit.

“Tidak” sahut lurah prajurit, “kitalah yang lengah, sehingga kita tidak melihat orang itu datang. Buat apa sekelompok prajurit sandi berada di sekitar rumah ini, jika Ki Tumenggung masih dapat pulang tanpa kita ketahui?”

Para prajurit sandi itu terdiam. Mereka hanya dapat menundukkan kepalanya.

“Lebih gila lagi jika jejak yang seorang lagi adalah Harya Wisaka” desis lurah prajurit itu.

“Jika demikian Nyi Tumenggung tentu mengenalinya. Tetapi bukankah Nyi Tumenggung tidak mengatakan, bahwa yang seorang lagi adalah Harya Wisaka?” berkata salah seorang prajurit.

“Mungkin saja Nyi Tumenggung sengaja menyesatkan kesan kita tentang orang yang datang itu”

“Jika Nyi Tumenggung berniat seperti itu, ia tidak akan menangis dan berteriak memanggil anaknya”

Prajurit itu terdiam. Sementara Ki Lurah berkata, “Lihat jejak ini dan telusuri sampai sejauh mana dapat diketahui dan ke arah mana perginya”

Demikianlah, dua orang telah diperintahkannya menyelusuri jejak, dan dua orang yang melapor kepada Ki Surapada.

Demikian mereka pergi, maka lurah prajurit itu pun menemui Nyi Tumenggung sambil bertanya, “Nyi, apakah kami harus keluar lagi dari halaman rumah ini? Jika Nyi Tumenggung menghendaki kami keluar, maka kami akan keluar sesuai dengan perintah Pangeran Benawa. Tetapi jika Nyi Tumenggung menghendaki kami berada di dalam, maka kami akan berada di dalam. Bukan maksud kami menentang perintah Pangeran Benawa, tetapi karena kami memenuhi keinginan Nyi Tumenggung”

“Silahkan berada di dalam di sisa malam ini, Ki Lurah” jawab Nyi Tumenggung.

Dalam pada itu, dua orang prajurit telah berada di rumah Ki Surapada. Mereka segera memberikan laporan tentang kedatangan Ki Tumenggung Sarpa Biwada di rumahnya.

Ki Lurah Surapada menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya, “Bagaimana hal itu dapat terjadi. Bagaimana mungkin Ki Tumenggung datang tanpa kalian ketahui?”

Kedua orang prajurit sandi itu hanya menundukkan kepala mereka.

“Aku sudah terlalu banyak membuat kesalahan. Jika saja aku tidak berhubungan dengan Ki Gede Pemanahan yang pengampun, mungkin aku sudah digantung di alun-alun”

“Ampun, Ki Lurah”

“Kau dapat dengan ringan minta ampun. Tetapi akulah yang harus bertanggung jawab. Waktu yang diberikan kepadaku sudah terlalu lama untuk memburu Harya Wisaka. Dan sekarang, mukaku seakan-akan telah dibedaki dengan lumpur”

Kedua orang prajurit itu masih berdiam diri. Mereka pun mengakui kesalahan mereka, bahwa mereka tidak tahu bahwa Ki Tumenggung itu masuk ke dalam rumahnya.

“Baiklah. Aku akan menghadap Ki Gede Pemanahan. Ki Gede harus segera mengetahui bahwa kita telah melakukan satu kesalahan yang besar”

Kedua orang prajurit itu sama sekali tidak menyahut. Mereka masih saja menundukkan kepala mereka sedangkan jantung mereka berdebar semakin cepat.

Ki Surapada tidak menunggu sampai pagi. Ketika ia keluar dari halaman rumahnya, ia melihat langit sudah menjadi merah oleh cahaya fajar.

Ternyata Ki Lurah telah memerintahkan kedua orang prajurit sandi yang datang melapor kepadanya itu untuk bersama-sama pergi ke rumah Ki Gede Pemanahan.

Laporan Ki Surapada memang agak mengejutkan Ki Gede Pemanahan. Dengan kerut di dahi, Ki Gede pun bertanya, “Lalu apa kerja para prajurit yang berjaga-jaga di sekitar rumah Ki Tumenggung Sarpa Biwada itu?”

“Kami mohon ampun, Ki Gede” desis salah seorang dari kedua orang prajurit yang datang melapor.

Ki Gede termangu-mangu sejenak. Dengan nada rendah, Ki Gede bergumam, “Nampaknya wajah Pajang memang sudah menjadi semakin muram. Aku sudah tidak melihat lagi, citra prajurit Pajang yang gemerlap sebagaimana saat Pajang tegak setelah mengalahkan Jipang. Setiap prajurit adalah bagian dari pilar-pilar penyangga kewibawaan Pajang. Tetapi sekarang semuanya sudah berubah. Mereka tidak lagi menganggap bahwa tugas yang mereka jalani adalah bagian dari kewajiban mereka yang harus mereka junjung tinggi di samping hak yang mereka genggam dengan eratnya”

Prajurit yang melapor itu semakin menunduk. Bahkan Ki Lurah Surapada tidak dapat mengucapkan sepatah katapun.

“Ki Lurah” berkata Ki Gede kemudian.

“Ampun, Ki Gede” sahut Ki Lurah.

“Tidak ada gunanya kita sesali. Yang harus kita lakukan kemudian adalah bekerja dengan sungguh-sungguh. Sudah beberapa kali Kangjeng Sultan bertanya kepadaku, meskipun tidak langsung, tetapi aku merasakan tajamnya sindirannya, kapan dapat mengembalikan Harya Wisaka ke dalam bilik tahanan lagi”

“Kami mengerti, Ki Gede. Kami berjanji untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan lebih keras lagi, agar kami dapat mengetahui tempat persembunyian Harya Wisaka dan Ki Tumenggung Sarpa Biwada serta orang-orang yang setia kepada mereka”

Ki Gede menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sama sekali tidak meragukan tugas-tugas kalian”,

“Kami mohon ampun”

“Yang penting bagi kalian bukannya pengampunan atas kesalahan kalian. Tetapi bagaimana kalian dapat membetulkan kesalahan itu”

Ki Lurah Surapada mengusap dadanya. Terdengar suaranya yang bergetar, “Kami akan berusaha sejauh dapat kami lakukan, Ki Gede”

Namun dalam pada itu, yang lebih terkejut lagi adalah Paksi. Ketika mereka mendengar laporan Ki Surapada, maka Paksi pun segera mohon diri untuk menengok ibunya.

Raden Sutawijaya yang menyadari kegelisahan yang sangat di hati Paksi itu pun berkata, “Kita pergi bersama-sama, Paksi”

Ki Gede Pemanahan tidak mencegah mereka. Dibiarkannya Raden Sutawijaya dan Paksi demikian tergesa-gesa meninggalkan rumah Ki Gede itu.

Demikian Paksi sampai di rumah, maka ia pun segera menemui ibunya di ruang dalam. Ibunya hanya dapat menangis. Demikian pula adik perempuan Paksi.

“Aku akan mencarinya, Ibu” berkata Paksi kemudian.
Tetapi ibunya menggeleng sambil berkata, “Tidak, Paksi. Jika kau mencoba mencarinya, maka aku akan kehilangan kedua-duanya. Adikmu bersama ayahnya yang berada di satu lingkungan yang sikapnya terhadap Pajang berbeda dengan sikapmu. Kau tahu bahwa ayahmu telah berusaha untuk benar-benar membunuhmu”

“Apakah Ki Tumenggung benar-benar ingin membunuh Paksi, atau sekedar menakut-nakuti, Bibi?” bertanya Raden Sutawijaya.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Jejak Dibalik Kabut Jilid 22"

Post a Comment

close