coba

Golok Bintang Tujuh Bab 02 : Pertempuran di Sam-kiong San-Tjhung

Mode Malam
KIM LO HAN dan Pu-yong Nikouw tidak mendjawab pertanjaan 3 saudara Tjoa, tapi masing2 mengambil tempat duduknja dan menaruh pantat tepos mereka.

Tjo Put-djin jang penasaran karena kipas mahalnja dipatahkan orang mulai bangun, dihadapinja Kim Lo-han dan berkata:

“Biasanja para hweshio itu meminta sedekah atas kerelaan hatinja jang diminta. Tadi kau begitu menongolkan kepala botakmu sudah segera menundjuk kipas ini, bagaimana djika aku mau memberikannja untuk sedekah sadja?”

Berbareng, ia sudah melepaskan salah satu tulang kipas jang segera meluntjur kearah orang jang diarah.

Kim Lo-han memeramkan matanja dan berkata:

“Terima kasih.”

Berbareng hweshio ini mengangkat sebelah tangannja, dengan hanja menggunakan dua djari ia mendjepit datangnja tulang kipas tadi.

Tjo Put-djin penasaran dan melemparkan tulang kipas patahan jang kedua.

Kim Lo-han masih belum mau membuka kedua matanja dan mendjepit dengan djarinja pula.

Tjo Put-djin kembali menimpuk dengan 3 tulang kipas setjara beruntun, menudju ke 3 arah djalan darah jang tidak sama.

Kim Lo-han menggunakan ketadjaman kuping dan ketjepatan tangan menjambut 3 tulang kipas itu lagi.

Tjo Put-djin mempereteli semua tulang kipas jang berdjumlah 14 batang, dengan menggunakan sedikit tenaga dalam, sekaligus ia menghudjani orang.

Tiba2 Kim Lo-han membuka kedua matanja, dengan dipelototkan lebar2 ia bangun berdiri dari tempat duduk dan 14 batang tulang kipas mulai bergelantungan dan menempel didjubah badjunja.

Tjo Put-djin membanting kaki, kini ditangannja hanja tinggal batang patahan kipas sadja, untuk langsung menjerang dengan batang kipas ini, tidak mungkinlah rasanja dapat membawa hasil jang sempurna, maka dengan gemas dilemparkannja kearah anglo perapian.

Kali ini agaknja Tjo Put-djin bekerdia tepat, bara api berpentalan dan setjara tidak langsung menjerang kearah Kim Lo-han.

Kim Lo-han tidak menjangka api dapat menjerang dirinja, ia mentjoba lompat menghindari beberapa lelatu, tapi dua diantaranja telah membuat lubang angus djuga di djubah hweshio ini.

Tiga saudara Tjoa jang melihat kedatangannja si Pintjang Tui Kie, Muka Hitam Hek Thian-tong, Tjo put-djin, Kim Lo-han dan Pu-yong Ni-kouw sekalian saling pandang, djelaslah kini bahwa rumah mereka didatangi iblis rimba persilatan. Dengan perlahan Tjoa Tay-kiong berkata kepada adiknja jang ketiga:

“Lo-sam, orang2 ini bukan mudah untuk dihadapi, djanganlah sekali-kali kalian berlaku sembrono.”

Tjoa Tay-hiong jang masih tidak puas terhadap tindakan saudara tua didalam soal menghadapi anak ketjil aneh itu telah mengeluarkan suara dari hidung:

“Aku berani pastikan, kedatangannja mereka mempunjai hubungan dengan sibinatang ketjil jang membawa-bawa belati hitam Kun-lun-pay.”

Hatinja Tjoa Tay-kiong tergerak, ia menengok kearah ruangan dalam dan terlihat kepala ketjilnja si anak jang menjelinap dibalik pintu. Pada saat itu ia tidak dapat mentjurahkan perhatikan terhadapnja menjuruh pergi atau lari, takut kalau iblis2 rimba persilatan itu mengetahui. Maka dikibaskannja tangan badju ber-kali2 memberi isjarat kepada si anak ketjil agar dapat melarikan diri.

Melihat gerak tangannja Tjoa Tay-kiong, si anak ketjil sudah masuk kembali, tapi bukan ia pergi atau lari, malah bersembunji dibalik pintu untuk mentjuri dengar pembitjaraan2 orang banjak tadi.

Di ruangan tamu sudah terlihat si Pintjang Tui Kie berdiri, katanja:

“Tjuwie, kedatangan kita kemari biarpun tidak berdjandji dulu satu dengan jang lain, namum sudah dapat dipastikan ada mempunjai satu tudjuan, mungkinkah dengan beramai-ramai meminta kepada tuan rumah setjara paksa?”

Tjo Put-djin menggeleng-gelengkan kepala. “Lebih baik mengadakan pertandingan.” Katanja.

“Bagus.” Sambung Pu-yong Nikouw.

“Hanja terbatas bagi kita orang.” Si Muka Hitam Hek Thian-tong djuga bitjara.

Kim Lo-han menggeleng-gelengkan kepala, katanja:

“Menurut pendapatku, diantara kita boleh diadakan pertandingan dan siapa jang mendapat kemenangan, itulah orang berhak menerima. Termasuk 3 tuan rumah djuga, bila mereka bersedia mengikuti pertandingan kita.”

Tiga saudara Tjoa jang mulai dibawa-bawa tidak puas, maka terlihat Tjoa Tay-kiong madju berkata:

“Kalian dengan berdjumlah besar setjara tiba2 membikin kundjungan keperkampungan kami, tapi dengan maksud tudjuan apakah hendak membawa tuan rumah segala?”

Si Pintjang Tui Kie tertawa:

“Lebih baik kita bertanding menentukan kemenangan, baru bitjara lagi.”

Tiga saudara Tjoa djuga bukan manusia jang mudah dihina, maka mereka terdiam mendengar tantangan itu.

Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong berunding sebentar, berbareng mereka berkata kepada toakonja:

“Toaka, didalam perkampungan Sam-kiong San-tjhung kita, benda apakah jang dapat menarik dan memantjing kedatangan mereka? Ketjuali anak itu dengan belati hitamnja. Buat apa kita mentjari penjakit membikin perlawanan? Serahkan sadja anak itu kepada para iblis2 ini, bukan lebih baik dari pada mengadu djiwa?”

Tapi, Tjoa Tay-kiong tidak sependapat dengan adik2nja, dengan menekuk muka ia membentak:

“Mengapa kalian dapat berpikiran seperti ini? Sudah terang maksud mereka hanja pada anak ini, djika sampai terdjadi anak ini dibawa lari atau djatuh kedalam tangan mereka, dan sewaktu kabar ini tersiar keluar, dimana harus menaruh muka kita?”

Tjoa Tay-hiong tertawa dingin. “Muka terang! Muka terang!” Katanja geram. “Berapakah harganja muka terang itu? Dapatkah kita membiarkan perkampungan Sam-kiong San-tjhung termusnah?”

“Biarpun Sam-kiong San-tjhung akan termusnah, aku djuga tidak dapat membiarkan kalian menjerahkan anak itu kepada mereka, aku tidak akan membiarkan kalian melakukan pekerdjaan hina.” Katanja tegas.

Mukanja Tjoa Tay-hiong berubah putjat. “Toako,” djeritnja. “Apa kau sudah dapat memastikan wanita badju merah itu orang baik? Bagaimana djika kita salah menolong anaknja seorang djahat? Pikirlah, mana mungkin seorang baik dapat mentjuri belati hitam Kun-lun-pay?”

Tjoa Tay-hong jang sependapat dengan adiknja terdiam dan memandang kearah toakonja untuk meminta putusan.

Tjoa Tay-kiong termenung sedjenak, tapi tidak lama ia berkata: “Biarpun ia seorang djahat, tapi si anak jang tidak ada kesalahannja mana mungkin dapat dibawa-bawa? Djanganlah kalian berdebat lagi. Segera kalian pergi menjingkir dahulu, urusan disini serahkan kepadaku!”

Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong masih mentjoba berkata, tapi Tjoa Tay-kiong sudah membalikkan badan menghadapi Tui Kie sekalian lagi.

Tidak lama terdengar Pu-yong Ni-kouw berkata:

“Mari kita segera mulai!”

Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong jang tahu tidak dapat merubah sikap toakonja, sambil membanting2 kaki berdjalan keluar meninggalkan Sam-kiong San-tjhung.

Kini di dalam ruangan tamu hanja tinggal 6 orang, si Pintjang Tui Kie, Muka Hitam Hek Thian-tong, si hwesio Kim Lo-han, si nikouw Pu-yong Ni-kouw, Tjo Put Djin dan tuan rumah Tjoa Tay-Kiong.

Si Pintjang Tui Kie jang mulai mempertontonkan ilmu kepandaian dan membuka pertandingan sudah mengeluarkan tongkatnja berkata:

“Bagaimana djika mengadu meringankan badan dahulu?”

Sebelum ada orang jang memberikan penjahutan, tiba2 njelonong masuk pula seorang pelajan jang segera berkata kearah Tjoa Tay-kiong:

“Toaya, diluar ada seorang pengemis tua dan seorang gadis tjilik jang hampir mati kedinginan, mereka sedang meminta makan kepada beberapa orang kita.”

Sebelum sipelajan bitjara, Tjoa Tay-kiong sudah menduga didatangi tokoh ternama lagi, tidak tahunja hanja dua pengemis biasa jang meminta makan, maka ia sudah menjuruh sipesuruh memberikan apa jang diminta dan siap melihat pertandingan jang akan segera dimulai.

Tapi, tiba2 hatinja Tjoa Tay-kiong mendjadi tergerak. “Mungkinkah seorang pengemis jang berkepandaian tinggi?” Tanjanja didalam hati.

Maka ditahannja pula sipelajan dan menanja:

“Pengemis tua jang bagaimana?”

Si pelajan sampai bingung mendapat pertanjaan ini, ditataonja sang madjikan dan berkata:

“Pengemis tua jang kotor dan gadis jang di bawanjapun kurus seperti sudah lama tidak makan.”

Hatinja Tjoa Tay-kiong tergerak. Harus diketahui dihari jang sedingin ini, orang biasa jang mengenakan pakaian tebalpun masih merasakan dinginnja hawa, apa lagi hanja pengemis biasa, mana mungkin mereka dapat tahan saldju dan hawa dingin? Ketjuali orang itu mempunjai latihan tenaga dalam jang tjukup tinggi sehingga tidak takut hawa dingin menjerang tubuh.

“Silahkan mereka masuk.” Perintah Tjoa Tay kiong kepada pelajannja.

Baru pertama kali sipelajan mendengar sang madjikan menggunakan istilah 'Silahkan' terhadao searang pengemis biasa, ia terheran-heran dan memandang kearah Tjoa Tay-kiong sekian lama, takut salah dengar atau salah bitjara. Tapi setelah mendapat kepastian bahwa kupingnja tidak salah dengar, baru ia keluar menjilahkan pengemis jang dimaksud masuk kedaiam ruangan tamu.

Tidak lama kemudian terlihat seorang pengemis tua jang kurus dengan terbungkuk-bungkuk dan gerakan lambat masuk kedalam ruangan. Dibelakangnja terlihat seorang gadis tjilik jang kurus kering, dengan pakaian jang tjompang tjamping, tulang badan jang hanja terbungkus kulit sadja mengikutinja.

Melihat kedjadian ini, hatinja Tjoa Tay-kiong dingin kembali. Ternjata hanja dua pengemis biasa dan bukan apa jang seperti diharap-harapkan tokoh pengemis jang ternama. Tapi hatinja tjhungtju dari Sam-kiong San-tjhung ini tidak dapat disamakan dengan kedua adiknja, ia bersifat welas asih, setelah menjilahkan orang masuk, tidak mungkin dapat mengusirnja lagi, ruangan tamunja inipun tjukup luas dan besar, untuk menambah 20 orang lagipun tidak akan mendjadi sempit, apalagi 2 orang sadja. Maka ia segera memberi perintah kepada pelajannja:

“Tambah satu anglo perapian lagi disana, biar mereka menghangatkan badan dahulu. Kemudian bawalah sisa makanan dan berikan kepada mereka agar tidak terlalu kelaparan.

Si pelajan dapat bekerdja sebat agar menjenangkan madjikannja, maka tidak lama, apapun sudah sedia disana.

Sipengemis tua menghaturkan terima kasihnja dan berkata kepada Tjoa Tay-kiong: “Terima kasih.”

Lalu dengan tindakan lambat jang boleh dikatakan merampas dan mengadjak kawan ketjilnja menudju kepodjok ruangan berdjongkok disana memanaskan diri mereka.

Si Pintjang Tui Kie jang sudah siap untuk mempertontonkan ilmu keandaiannja mendjadi batal karena masuknja pengemis tua ini. Tadinja, seperti apa jang Tjoa Tay-kiong duga, iapun menjangka akan kedatangan seorang tokoh pengemis ternama, tidak tahunja hanja pengemis biasa sadja.

Maka iapun siap melandjutkan gerakan jang tertunda, terlihat ia mengambil dua buah media jang dibuat saling sambung kaki mengelilingi anglo api, selesai ia membikin pengaturan, dengan sebelah kaki ia lompat naik keatas pinggiran medja dan nangkring disana berkata:

“Djarak diantara dua media ini tidak seberapa namun tjara inilah jang termudah untuk mengudji kepandaian meringankan badan diantara kita.”

Selesai berkata, Tui Kie sudah lompat kesebrang pinggiran medja jang lainnja diseberang sana.

Tjo-put-djin, Hek Thian-tong, Tjoa Tay-kiong, Kim Lo-han dan Pu-yong Ni-kouw menjaksikan permainan Tui Kie ini dengan hati jang tidak sama, ketjuali Tjoa Tay- kiong, mereka mengharapkan Tui Kie dapat djatuh ke tengah-tengah anglo api dan terbakar badjunja.

Sajang kenjataan tidak demikian, Tui Kie biarpun pintjang kakinja, ilmu meringankan badan jang dinamakan 'Tangga ke Langit' sudah dilatih tjukup sempurna. Maka bagaikan orang naik tangga sadja ia sudah tiba diarah seberangnja.

Tjo Put-djin jang selalu menghina orang tertawa berkakakan: “Kepandaian 'Tangga ke Langit' apa lihaynja?” Tui Kie marah membentak:

“Saudara Tjo mempunjai ilmu jang terlebih lihay lagi, bukan? Silahkan dipertontonkan.”

Tjo Put djin dengan lenggang naik di pinggiran medja jang pertama, maka tidak seperti Tui Kie jang lompat kedepan, ia hanja bertindak madju ditengah udara bebas dengan mengeluarkan kaki kirinja, kemudian kaki kanan menjusul dan tiba dipinggir medja lainnja. Demikian ia menggunakan ilmu tipu 'Berdialan di Udara' menjaingin lawannja.

Selesai ia mempertontonkan, terdengar Tjo Put-djin tertawa lagi:

“Ilmu 'Berdialan di Udara' djika dibandingkan dengan 'Naik ke tangga langit' bagaimana?”

Sebetulnja ilmu kepandaian 'Berdjalan di Udara' berada dibawah dari 'Naik ke tangga langit', tapi di tempat ruangan jang seketjil ini, apa lagi djarak di antara kedua medja tidak terlalu djauh dan medjapun tidak tinggi, maka djika dilihat sepintas lalu Tjo Pu-djin memang mempunjai gerakan jang terlebih indah dari lawannja. Lain pula djadinja bila ia disuruh melewati dua tebing tinggi, ilmu 'Naik ke tangga langit' tetap dapat sampai di tudjuan dengan mudah, tapi tidak mungkin ilmu 'Djalan di Udara' dapat digunakan olehnja.

Karena adanja teladan dari Tjo Put-djin tadi maka semua orang dapat melewati dua medja dengan mudah, termasuk Tjoa Tay-kiong jang mempunjai kepandaian dibawah mereka semua pun dapat melewatinja juga.

Mukanja Tui Ke terlihat masam, kemudian ia menanja kearah tuan rumah:

“Tjoa tayhiap, menurut pendapatmu, ilmu meringankan badan siapakah jang lebih unggul tadi?”

Tjoa Tay-kiong tidak menjangka orang dapat menanja kesoal ini, sebagai seorang 'Tayhiap' atau 'Pendekar besar', ia mempunjai sikap jang adil dan djudjur, maka setelah dipikir sebentar berkata: “Djika menurut ilmu kepandaian, sudah tentu ilmu kepandaian saudara Tui jang dinamakan 'Naik ke tangga langit' itu jang tertinggi, sajang saudara Tui harus bertongkat sehingga kehilangan keindahannja.”

Pu-yong Ni-kouw tidak rela djika diharuskan mengaku Tui Kie menang, maka tjepat ia berkata:

“Anggaplah seri sadja, maka pertandingan boleh diganti dengan ilmu tenaga dalam.”

Tui Kie sangat menjesal tidak mengadjak mereka bertanding di luar ruangan, ilmu kepandaian 'Naik ke tangga langit' jang dapat mendaki sampai tingkat gunung mana mungkin dapat dikalahkan oleh mereka? Mendengar Pu-yong Ni-kouw mengatakan 'Seri' dan kenjataan semua orang telah dapat melewati dua medja dengan selamat, maka ia hanja dapat mengeluarkan suara dari hidung 'Hm' dan berkata:

“Perkataan 'Seri' jang enak!”

Tapi ia tidak mau banjak berdebat lagi, tongkatnja dilintangkan didada dan berkata kepada mereka:

“Tongkat ini adalah tongkat badja, silahkan kalian saksikan.”

Dengan kedua tangan memegang dua belah udjung, Tui Kie mulai membengkokan tongkat badjanja, kemudian dengan satu gentakan lagi ia telah membuat tongkat lempang kembali.

“Kalian boleh meneladani perbuatanku tadi.” Katanja njaring.

Tapi, Tui Kie lupa bahwa orang2 jang sedang berkumpul di ruang tamunja Tjoa Tay- kiong itu adalah iblis2 kenamaan semua, maka sebagai orang pertama terlihat si Muka Hitam Hek Thian-tong madju melakukan pekerdjaan jang tidak terlalu sukar baginja.

Seperti apa jang telah dilakukan oleh Tui Kie, Thian-tong djuga sudah menekuk tongkat badja dan melempangkannja kembali.

Djika Hek Thian-tong dapat bekerdja dengan mudah, demikian pula dengan orang2 lainnja, mereka menelad apa jang telah disaksikan dan tidak ada satu jang tidak lulus dari udjiannja.

Tui Kie menjambuti tongkatnja kembali dari Pu-yong Ni-kouw jang terachir dan berkata:

“Pertandingan seri lagi, bukan? Terpaksa kita harus bertanding melalui kepandaian. Mari, siapa jang mulai?”

Kim Lo-han tertawa berseri-seri dan menghampiri orang. “Biar aku jang memberikan perlawanan terhadapmu.” Katanja.

Tui Kie tidak banjak rewel lagi dan mengemplang dengan tongkatnja, Kim Lo-han djuga sudah mengeluarkan pentungan hweshio dan 'Trang' dua sendjata beradu menerbitkan suara njaring jang tidak terhingga.

Melihat Tui Kie dan Kim Lo-han sudah mulai dengan pertandingan mereka, dengan menundjuk kearah si muka Hitam Hek Thian-tong, Tjo Put-djin membentak.

“Hitam, mari kita berdua membikin perhitungan.”

Hek Thian-tong sebagai muridnja Pek-kut Sin-kun jang mendjadi salah satu dari '4 Manusia Imperialis' bukan sedikit memberikan gangguannja terhadap sesama manusia, melihat ditantang orang setjara terang2-an, tentu sadja mendjadi marah, terlihat dengan petjut pandjang ia membikin penjerangan.

Tio Put djin tertawa. 'Sret' dan pedangnja sudah terhunus membikin perlawanan dan membuka medan pertempuran jang kedua diruangan tamunja Tjoa Tay-kiong.

4 orang sudah tjukup untuk membikin dua medan pertempuran, kini hanja tinggal Pu-yong Ni-kouw dan Tjoa Tay-kiong jang belum mendapat pekerdjaan maka dengan menundjuk kearah tuan rumah, si nikouw mendahului bitjara:

“Tjoa tayhiap, maafkanlah orang jang membikin kedosaan.”

Terlihat nikouw ini melemparkan Pu-yong-tjiamnja mengarah orang.

Tjoa Tay-kiong tidak dapat disamakan dengan dua adiknja, bila Tjoa Tay-hong dan Tjoa Tay-hiong tidak mempunjai njali dan tidak mempunjai kepandaian berarti, tjhungtju Sam-kiong San-tjhuug masih tidak menakuti 5 orang tamu2nja jang galak2, maka melihat datangnja Pu-yong-tjiam, dengan mengeleskan diri ia mengeluarkan goloknja.

Demikianlah, dengan golok ditangan Tjoa Tay-kiong memberikan perlawanan terhadap Pu-yong Ni-kouw jang menggunakan sendjata berbentuk bunga Pu-yong sebagai pegangannja.

6 orang sedang membikin pertempuran didalam 3 gelanggang, si anak jang sedang didjadikan barang rebutan mengintip dari balik pintu, maka kedatangannja si pengemis tua dengan gadis tjiliknja, iapun dapat melihat dengan djelas. Dari gadis tjilik berpakaian tjompang tjamping dan kurus kering itu, pikirannja si anak tergerak. “Mungkinkah ia telah kehilangan ibunja djuga sehingga terlunta-lunta dan harus mengikuti pengemis tua meminta-minta?” Pikirnja.

Mengingat sang ibu, hatinja anak ini mendjadi pilu. Ibunja kini telah meninggalkan dunia jang fana dengan tidak menjebut sebab2 kematiannja. Jang paling membuat ia kesal, ialah belati hitam jang sudah kepunjaan mereka masih disebut mendjadi milik Kun-lun-pay.

Si anak masih merenungkan kedjadian2 lama, maka dengan tidak terasa telah menongolkan kepalanja.

Si gadis pengemis ternjata mempunjai pandangan mata tadjam, melihat nongolnja satu kepala ketjil, tjepat didekatinja sang kakek dan mengutjapkan sesuatu apa. Si pengemis tua dengan tidak menolehkan kepala lagi sudah menggeleng-gelengkan kepalanja sampai berkali-kali tanda tidak setudju......

0 Response to "Golok Bintang Tujuh Bab 02 : Pertempuran di Sam-kiong San-Tjhung"

Post a Comment