coba

Bakti Pendekar Binal Jilid 23

Mode Malam
Belum sempat habis ucapannya, muka Kang Piat-ho menjadi pucat. Sesudah terkesima sejenak, akhirnya ia berkata dengan suara berat, “Keretamu jangan dekat-dekat ke sana, berhentilah agak jauh, tahu tidak?”

Walau pun heran karena kereta diharuskan berhenti di kejauhan saja, namun betapa pun ia harus menurut perintah Kang-tayhiap. Maka ketika masih cukup jauh dari hutan bunga sana kereta itu lantas dihentikan Toan Kui.

“Wah, Hoa-kongcu sudah bergebrak dengan orang itu!” seru Toan Kui.

Tanpa diberitahu juga Kang Piat-ho sudah melihat hawa pedang yang sambar menyambar di dalam hutan. Di tengah sinar pedang itu tampak bayangan seorang mengitar dengan cepatnya, sebaliknya seorang lagi tenang seperti gunung tanpa bergerak.

Gerak tubuh Hoa Bu-koat masih tetap sangat enteng dan gesit, sinar pedangnya juga sangat gencar, sama sekali belum ada tanda-tanda akan kalah. Tapi Kang Piat-ho memang bukan tokoh sembarangan, sekali pandang saja ia lantas tahu pada hakikatnya serangan Hoa Bu-koat itu sama sekali tak dapat menembus sinar pedang lawan, deru angin pedang keduanya bahkan terdengar jelas satu kuat dan yang lain lemah, bedanya sangat mencolok.

Seketika air muka Kang Piat-ho berubah hebat, gumamnya, “Yan Lam-thian, ya, pasti Yan Lam-thian adanya!”

Meski belum lagi melihat jelas siapa lawan Hoa Bu-koat itu, tapi dari deru angin dan hawa pedang yang hebat itu ia yakin pasti bukan lain dari pada Yan Lam-thian.

Sudah tentu Toan Kui tidak dapat membedakan di mana letak kehebatan ilmu pedang itu, sebab itulah maka ia merasa khawatir.

Maklum, biasanya Hoa Bu-koat sopan santun dan ramah tamah terhadap siapa pun juga, biar pun terhadap kaum budak keluarga Toan juga menghormati seperti sikapnya terhadap Toan Hap-pui. Karena itulah setiap anggota keluarga Toan tiada satu pun yang tidak memuji kebaikan Hoa-kongcu dan dengan sendirinya pula Toan Kui menjadi khawatir demi melihat Hoa-kongcu lagi bertempur sesengit itu.

“Apakah Kang-tayhiap tidak ingin membantu Hoa-kongcu?” tanya Toan Kui.

“Sudah tentu akan kubantu,” jawab Kang Piat-ho.

“Ya, kutahu Kang-tayhiap pasti akan membantu Hoa-kongcu, bagaimana kalau sekarang juga kuhela kereta ini ke sana?” tanya Toan Kui.

Tapi mendadak Kang Piat-ho berseru, “He, mengapa pintu kereta ini tidak dapat dibuka, apakah rusak?”

Cepat Toan Kui melompat turun dan mendekati pintu kereta, hanya sekali tarik saja pintu terpentang lebar. Dengan tertawa ia berkata, “Ah, barangkali Kang-tayhiap terburu-buru, maka pintu kereta ini menjadi macet.”

Belum habis ucapannya tiba-tiba dilihatnya wajah Kang Piat-ho berubah menjadi kelam, matanya melotot dengan buas. Tentu saja Toan Kui menjadi takut, serunya dengan gemetar, “Kang-tayhiap, engkau... engkau....”

Kang Piat-ho menyeringai, ucapnya perlahan, “Seorang paling baik tidak ikut campur urusan tetek bengek, kalau tidak pastilah hidupmu takkan awet.”

Kaki Toan Kui menjadi lemas karena ketakutan, segera ia bermaksud lari, tapi baru saja ia membalik badan, tahu-tahu kuduknya sudah dicengkeram dan diseret bulat-bulat ke dalam kereta.

“Kang... Kang-tayhiap, hamba merasa tidak... tidak pernah bersalah pada... padamu....” demikian Toan Kui meratap dengan gigi gemertuk.

“Kutahu hidupmu sangat sengsara, maka ingin mengantarmu ke Surgaloka yang enak bagimu,” kata Kang Piat-ho perlahan.

“Hamba ti... tidak ingin....” belum habis ucapan Toan Kui, tahu-tahu sebilah belati telah menancap di bawah iganya hingga sebatas gagang belati.

Anak muda yang berhati polos ini sama sekali tidak sempat menjerit dan tahu-tahu jiwanya sudah melayang, hanya matanya tampak mendelik dengan beringas seakan-akan ingin bertanya kepada Kang Piat-ho apa sebabnya ia dibunuh?

Perlahan-lahan Kang Piat-ho mencabut belatinya, yaitu sebuah pedang pandak, begitu perlahan sehingga darah setitik pun tak menciprat bajunya. Setelah pedang pandak itu dicabut, batang pedang tetap mengkilat bersih, benar-benar membunuh orang tanpa berdarah.

Nyata itulah pedang pusaka yang dulu pernah digunakan memotong “belenggu cinta” yang membelenggu tangan Siau-hi-ji bersama Kang Giok-long.

Selesai kerja, Kang Piat-ho menghela napas lega dan bergumam, “Sekarang tiada seorang pun yang tahu aku pernah datang ke sini dan juga tiada yang tahu bahwa aku tidak memberi bantuan ketika Hoa Bu-koat lagi menghadapi bahaya. Nama baikku sebagai seorang pendekar budiman tidak boleh rusak demi bocah tolol ini. Sebaliknya kalau jiwa bocah ini dikorbankan demi nama baik ‘Kang-lam-tayhiap’ kiranya juga tidak perlu penasaran.”

Sambil bergumam ia terus memberosot keluar kereta. Karena pertarungan di sebelah sana sedang berlangsung dengan sengitnya, dengan sendirinya tiada seorang pun yang melihat jejak Kang Piat-ho itu.

Setelah menyelinap lagi agak jauh ke sana barulah Kang Piat-ho berpaling untuk melihat gerak tubuh Hoa Bu-koat yang sudah mulai lamban itu, ucapnya dengan gegetun, “Hoa Bu-koat, kita bersahabat juga sekian lamanya, bukan tiada hasratku hendak membantu, soalnya aku memang tidak berani merecoki Yan Lam-thian. Tapi kau pun jangan khawatir, pada setiap hari Cengbeng kelak pasti aku akan berziarah ke kuburmu.”

********************

Sementara itu Siau-hi-ji yang kehilangan jejak kereta yang ditumpangi Kang Piat-ho juga telah menyusul tiba. Lebih dulu ia tertarik oleh hawa pedang yang sambar menyambar di hutan sana, menyusul barulah ia melihat kereta kuda itu. Tapi dia tidak melihat Kang Piat-ho. Jangan-jangan Kang Piat-ho masih berada di dalam kereta? Untuk apakah kereta dihentikan di sini?

Sebenarnya Siau-hi-ji tiada maksud hendak mengusut urusan ini, dia lebih tertarik untuk menonton pertarungan seru di hutan sana, dia ingin tahu betapa hebat ilmu pedang Hoa Bu-koat yang lain dari pada yang lain itu agar kelak dapat digunakan sebagai modal untuk menghadapinya. Dengan sendirinya ia pun ingin tahu siapakah gerangan yang dapat menandingi Hoa Bu-koat itu?

Tapi mendadak dilihatnya dari celah-celah pintu kereta yang tertutup rapat itu merembes keluar darah segar. Ia jadi heran, apakah Kang Piat-ho telah mati, kalau tidak, darah siapakah ini?

Karena heran, ia jadi ingin tahu apa yang terjadi di dalam kereta itu. Ketika pintu kereta itu ditariknya, segera dilihatnya wajah Toan Kui yang beringas, menyusul lantas dilihatnya sepasang mata yang melotot takut dan penuh rasa penasaran itu. Namun Kang Piat-ho sudah tidak kelihatan lagi.

Semula Siau-hi-ji melengak kaget, tapi segera ia pun paham duduknya perkara. Betapa keji hati Kang Piat-ho rasanya tiada orang lain yang lebih paham dari pada Siau-hi-ji.

Tapi segera ia pun melihat keadaan Hoa Bu-koat sedang gawat serta tertampak sikap Thi Sim-lan yang cemas bagi keselamatan Hoa Bu-koat itu, hal ini membuat hatinya tertusuk sakit pula.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara siulan panjang menggema angkasa. Selarik sinar pedang melayang tinggi ke udara, Hoa Bu-koat tergetar mundur sempoyongan dan akhirnya roboh.

Menurut teori, pedang besi Yan Lam-thian keras dan tumpul, bahkan karatan, sedangkan pedang perak Hoa Bu-koat tajam lemas, tajam mengalahkan tumpul dan lemas mengatasi keras, ini adalah hukum alam yang tidak dapat berubah.

Siapa tahu hukum alam di dunia ini ternyata tidak berlaku bagi Yan Lam-thian, jago pedang tiada tandingannya ini benar-benar menghinakan segala dan menolak semua hukum pasti ilmu silat. Dengan pedangnya yang keras dan tumpul justru menggetar pedang Hoa Bu-koat yang tajam dan lemas itu hingga mencelat ke udara. Seketika Hoa Bu-koat merasa darah bergolak di rongga dadanya, dia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh tersungkur.

Sudah jelas Hoa Bu-koat bertekad hendak membunuh Siau-hi-ji, bahkan juga lawan cintanya, kalau Hoa Bu-koat mati, inilah kejadian yang diharapkan dan paling menggembirakan Siau-hi-ji.

Namun aneh, sesaat itu, entah mengapa, darah Siau-hi-ji serasa bergolak, dia lupa permusuhannya dengan Hoa Bu-koat, tanpa pikir mendadak ia menerjang ke sana secepat terbang.

Saat itu Yan Lam-thian lagi bersiul panjang, pedangnya masih bekerja, Thi Sim-lan menjerit khawatir, syukurlah pada detik itu juga sesosok bayangan orang melayang tiba dan mengadang di depan Hoa Bu-koat sambil berteriak, “Siapa pun tidak boleh mencelakai dia!”

Ketika melihat orang yang datang ini ternyata Siau-hi-ji adanya, Thi Sim-lan jadi melongo heran.

Sinar mata Yan Lam-thian laksana kilat mengerling Siau-hi-ji, bentaknya dengan bengis, “Siapa kau? Berani kau merintangi ujung pedang orang she Yan?”

Sementara itu Thi Sim-lan telah tenang kembali, teriaknya, “Dia inilah Kang Siau-hi!”

“Kang Siau-hi?” Yan Lam-thian menegas, “Jadi kau ini Kang Siau-hi?”

Matanya yang tajam menatap Siau-hi-ji, begitu pula Siau-hi-ji juga balas menatap orang, katanya kemudian dengan ragu-ragu, “Apakah... apakah engkau ini Yan Lam-thian, Yan-pepek?”

“Dia memang Yan-locianpwe adanya,” tukas Thi Sim-lan.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, mendadak ia menubruk maju dan merangkul erat Yan Lam-thian sambil berseru, “O, paman Yan, betapa rinduku padamu....”

Air mata berlinang di. kelopak mata Yan Lam-thian, dia bergumam, “Kang Siau-hi... Kang Siau-hi, memangnya kau kira Yan-pepek tidak merindukan dirimu?”

Melihat Siau-hi-ji yang sebatang kara itu tiba-tiba menemukan sanak keluarganya, bahkan inilah Yan Lam-thian yang termasyhur, sungguh hati Thi Sim-lan menjadi girang dan kejut pula, tanpa terasa air matanya juga hampir menetes.

Dilihatnya mendadak Yan Lam-thian mendorong pergi Siau-hi-ji dan berkata dengan suara berat, “Tahukah kau Hoa Bu-koat ini adalah murid Ih-hoa-kiong?”

“Aku tahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Dan tahukah orang yang membunuh ayah-bundamu itu ialah Ih-hoa-kiongcu?” tanya Yan Lam-thian pula dengan bengis.

Tubuh Siau-hi-ji bergetar, serunya, “Apakah betul?”

Waktu kecilnya memang betul pernah ada seorang misterius membawanya keluar Ok-jin-kok dan diam-diam memberitahukan hal itu padanya, tapi dia merasa tindak tanduk orang itu penuh rahasia dan apa yang dikatakan belum tentu dapat dipercaya, sebab itulah selama ini dia tidak pernah menganggap Ih-hoa-kiongcu benar-benar musuh besarnya yang tak terampunkan.

Tapi kini hal ini terucap dari mulut Yan Lam-thian, mau tak mau ia harus percaya.

Thi Sim-lan juga terkejut, serunya, “O, pantas Ih-hoa-kiong mengharuskan Hoa Bu-koat membunuhmu bila mana melihat engkau. Selama ini aku pun tidak habis mengerti sebab musababnya, tapi sekarang... pahamlah aku.”

“Dan mengapa kau menolong dia?” tanya pula Yan Lam-thian sambil melototi Siau-hi-ji.

“Aku... aku....” Siau-hi-ji gelagapan, sesungguhnya ia tidak tahu mengapa dia harus menyelamatkan Hoa Bu-koat, biar pun Ih-hoa-kiong tiada permusuhan dengan dia umpamanya, sebenarnya ia pun tidak perlu menolong Hoa Bu-koat.

Sekonyong-konyong Yan Lam-thian melemparkan pedang besinya ke tanah dan membentak, “Nah, bunuhlah dia dengan tanganmu sendiri!”

Tubuh Siau-hi-ji kembali bergetar, tanpa terasa ia berpaling memandang Hoa Bu-koat. Dilihatnya Hoa Bu-koat telah jatuh pingsan oleh getaran pedang Yan Lam-thian tadi, setangkai bunga yang sudah layu jatuh di atas mukanya, bunga yang merah membuat wajahnya yang pucat itu tambah mencolok.

Melihat muka yang pucat itu, entah mengapa timbul semacam perasaan aneh dalam hati Siau-hi-ji, entah apa sebabnya, mendadak ia berteriak, “Tidak, aku tak boleh membunuh dia?”

“Mengapa kau tidak boleh membunuh dia?” kata Yan Lam-thian dengan gusar. “Bukankah kau tahu dia adalah murid musuhmu? Apa lagi ia pun bertekad ingin membunuhmu?”

“Tapi aku... aku....” sukar bagi Siau-hi-ji untuk menjelaskan. Tiba-tiba ia menghela napas dan berteriak pula, “Aku sudah ada perjanjian dengan dia akan duel tiga bulan kemudian. Sebab itulah Yan-pepek tidak boleh membunuhnya, lebih-lebih tidak boleh membunuhnya ketika dia sudah terluka.”

Yan Lam-thian melengak, tapi segera ia terbahak-bahak dan berkata, “Bagus, bagus, kau memang tidak malu sebagai Kang Siau-hi, tidak memalukan sebagai putra Kang-jiteku.... O, Kang-jite, engkau mempunyai putra demikian, di alam baka dapatlah engkau istirahat dengan tenang.” Suara tertawanya kemudian mendadak berubah menjadi pilu sekali.

Darah di dada Siau-hi-ji seolah-olah bergelora, mendadak ia berlutut dan berseru dengan parau, “Yan-pepek, aku bersumpah selanjutnya pasti takkan berbuat sesuatu yang memalukan ayah!”

Yan Lam-thian membelai-belai bahunya, katanya dengan terharu, “Apakah kau merasa tindak tandukmu di masa lalu ada sesuatu yang memalukan ayahmu?”

Siau-hi-ji menunduk, jawabnya dengan tersendat, “Aku... aku....”

“Kau tidak perlu sedih, juga tidak perlu mencela dirimu sendiri,” kata Yan Lam-thian. “Siapa pun yang tumbuh di lingkungan seperti kau itu juga akan berubah menjadi jauh lebih busuk dari padamu. Apa lagi setahuku, mungkin caramu bertindak ada sesuatu yang kurang tepat, tapi pada hakikatnya kau tidak berbuat sesuatu kebusukan.”

“Yan-pepek....”

“Sudahlah, dapat melihat putra Kang Hong semacam kau, sungguh menggembirakan!” kembali Yan Lam-thian terbahak-bahak, dia tertawa dengan air mata meleleh, jelas hatinya sangat gembira tapi juga pedih dan terharu.

Melihat pertemuan mereka yang mengharukan itu, tanpa terasa Thi Sim-lan juga menunduk dan meneteskan air mata. Hati si nona juga berkecamuk oleh rasa suka dan duka. Kalau kedukaan Siau-hi-ji masih dapat dipahami dan dihibur oleh Yan Lam-thian, tapi rasa duka dan sedihnya siapa yang tahu?

Mati-matian dia membela Siau-hi-ji agar tidak terbunuh oleh Hoa Bu-koat, sebaliknya kalau Siau-hi-ji membunuh Hoa Bu-koat ia pun akan susah, karena itulah dia berharap kedua anak muda dapat hidup berdampingan dengan damai.

Alangkah senangnya ketika menyaksikan Siau-hi-ji menyelamatkan Hoa Bu-koat, ia berharap permusuhan mereka akan dapat diakhiri setelah kejadian ini, siapa tahu mereka justru adalah musuh yang tidak mungkin saling mengampuni, permusuhan mereka tidak mungkin dilerai oleh siapa pun juga, tampaknya salah seorang di antara mereka harus mati di tangan yang lain, kalau tidak permusuhan mereka pasti takkan berakhir selamanya.

Akhir dari pada drama permusuhan mereka itu kini rasanya sudah dapat dibayangkan oleh Thi Sim-lan, yang lebih membuatnya sedih ialah, demi Siau-hi-ji ia tidak sayang mengorbankan segalanya, akan tetapi Siau-hi-ji justru tidak sudi memandangnya barang sekejap saja.

Sementara itu Yan Lam-thian telah menarik Siau-hi-ji duduk di bawah pohon sana, tiba-tiba ia berkata, “Apakah kau tahu To Kiau-kiau, Li Toa-jui dan gerombolannya telah meninggalkan Ok-jin-kok?”

“Kutahu,” jawab Siau-hi-ji.

“Jadi kau bertemu dengan mereka?”

Siau-hi-ji mengangguk, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Yan-pepek, maukah engkau mengampuni mereka?”

“Mana bisa kuampuni mereka?” teriak Yan Lam-thian gusar.

“Meski mereka berniat mencelakai Yan-pepek, tapi akhirnya gagal, apa lagi, betapa pun juga mereka telah membesarkan aku, lebih-lebih lagi mereka juga sudah memperbaiki diri.”

Yan Lam-thian termenung-menung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Tak nyana meski kau ini tampaknya keras, nyatanya hatimu sangat lunak.”

“Yan-pepek sendiri bukankah demikian juga?” ujar Siau-hi-ji.

Setelah berpikir lagi, akhirnya Yan Lam-thian menghela napas, katanya, “Demi kau, asalkan selanjutnya mereka benar-benar tidak berbuat jahat lagi, bolehlah kuampuni mereka.”

“Hahaha!” Siau-hi-ji tertawa girang. “Bila mereka mendengar kabar ini, entah betapa gembiranya mereka dan selanjutnya masa mereka berani mengganggu orang lain.”

Yan Lam-thian memandang Thi Sim-lan sekejap, lalu katanya dengan tersenyum, “Sekarang sepantasnya kau bicara dengan nona itu, aku kan tidak boleh mengangkangi dirimu terus-menerus.”

Tiba-tiba Siau-hi-ji menarik muka, jawabnya, “Aku tidak kenal nona itu.”

“Kau tidak kenal dia?” Yan Lam-thian menegas dengan melengak.

“Hakikatnya aku belum pernah melihatnya sebelum ini,” ucap Siau-hi-ji.

Remuk redam hati Thi Sim-lan, ia tidak tahan lagi, mendadak ia menangis sambil memburu ke arah Siau-hi-ji, tapi baru beberapa langkah mendadak ia membalik badan terus berlari pergi sambil menutupi mukanya.

Sekuatnya Siau-hi-ji menggigit bibir dan tidak berusaha menahan si nona.

Melihat Thi Sim-lan sudah pergi, Yan Lam-thian menatap Siau-hi-ji dengan tajam, tanyanya kemudian, “Bagaimana urusannya ini?”

Siau-hi-ji kuatkan hatinya, ucapnya dengan dingin, “Mungkin nona itu berpenyakit syaraf.”

Yan Lam-thian menghela napas, katanya sambil menyengir, “Urusan orang muda seperti kalian ini sungguh membingungkan aku.”

Meski dengan sebatang pedang dia sanggup memenggal kepala sang panglima di tengah pasukan yang berjuta prajurit, tapi menghadapi masalah cinta remaja yang ruwet begini dia benar-benar tidak paham dan tak berdaya.

Siau-hi-ji juga termangu-mangu setelah Thi Sim-lan berlari pergi, sampai lama sekali dia tidak sanggup bicara.

Setelah mengamat-amati pula anak muda itu, tiba-tiba Yan Lam-thian berbangkit, katanya dengan tertawa, “Kau masih tetap ingin berjuang sendiri atau hendak ikut aku?”

Barulah Siau-hi-ji terjaga dari lamunannya, dengan tertawa ia jawab, “Ikut Yan-pepek sudah tentu sangat baik, tapi kebanyakan orang akan lari terbirit-birit bila melihat Yan-pepek, maka aku jadi tiada pekerjaan dan lebih sering menganggur, jadi tiada artinya dan tidak menarik.”

“Hahaha, kau memang anak yang bercita-cita tinggi!” kata Yan Lam-thian.

“Tapi aku pun ingin omong-omong lebih banyak dengan Yan-pepek....”

“Besok saja pada saat yang sama akan kutunggu di sini, sekarang tiba-tiba aku teringat sesuatu urusan yang harus kukerjakan dan perlu berangkat segera!” ia tepuk-tepuk pundak Siau-hi-ji sambil tersenyum, pedangnya dijemput kembali, sekali melayang lantas lenyap dalam waktu singkat.

Sama sekali tak terpikir oleh Siau-hi-ji bahwa sang paman sekali bilang mau pergi segera pergi begitu saja, gumamnya dengan tertawa, “Watak Yan-pepek sungguh keras seperti api, entah urusan apa yang perlu dikerjakannya secara terburu-buru begini?”

Ternyata tidak diperhatikannya bahwa arah yang ditempuh Yan Lam-thian itu adalah satu jurusan dengan Thi Sim-lan.

Perlahan-lahan Siau-hi-ji ambil bunga layu yang menjatuhi muka Hoa Bu-koat, ia pegang tangan anak muda itu dan diam-diam menyalurkan hawa murni ke tubuh orang.

Selang tak lama, sekali lompat Hoa Bu-koat telah bangun, sinar matanya jelilatan memandang sekitarnya, ketika melihat Siau-hi-ji, ia terkejut dan bertanya, “He, mengapa kau berada di sini?”

Siau-hi-ji memandangnya dengan tersenyum tanpa menjawab, dari suaranya ia tahu Hoa Bu-koat tadi cuma semaput lantaran pergolakan hawa murni sendiri, tapi karena tenaga dalamnya cukup kuat, sama sekali tiada tanda-tanda terluka dalam.

Setelah mengingat-ingat kembali, kemudian Bu-koat bertanya pula, “Kau yang menyelamatkan aku?”

Siau-hi-ji tetap tidak menjawab.

Bu-koat terdiam dan memandangi Siau-hi-ji sekian lamanya, perlahan ia membalik tubuh ke sana seperti tidak ingin perubahan air mukanya dilihat oleh Siau-hi-ji.

Selang sejenak pula barulah ia bertanya dengan perlahan, “Di manakah nona Thi?”

“Nona Thi siapa?” jawab Siau-hi-ji tawar.

Bu-koat menghela napas panjang, ucapnya, “Kau tidak memahami dia....”

“Hakikatnya aku tidak kenal dia, dengan sendirinya tidak memahami dia,” jengek Siau-hi-ji.

Mendadak Hoa Bu-koat memutar balik lagi tubuhnya dan berteriak, “Mengapa kau menyelamatkan aku?”

“Waktu orang lain hendak membunuhku kau pun pernah menyelamatkan aku?” jawab Siau-hi-ji tenang.

“Itu disebabkan aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri,” kata Bu-koat.

Sinar mata Siau-hi-ji gemerdep, katanya, “Lalu tahukah bahwa aku pun ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri? Jangan lupa, setelah tiga bulan berlalu kita masih ada suatu janji pertemuan maut.”

Hoa Bu-koat termangu-mangu sejenak, kembali ia menghela napas dan bergumam, “Pertemuan maut, tiga bulan lagi....”

“Meski kita berdua adalah musuh taruhan mati tapi selama tiga bulan ini betapa pun kau tak dapat membiarkan aku dibunuh orang lain, begitu pula aku tak dapat membiarkan orang lain membunuhmu, betul tidak?”

“Betul,” jawab Bu-koat.

“Itu dia!” seru Siau-hi-ji sambil bergelak tertawa, “Makanya dalam waktu tiga bulan ini kita bukan lagi musuh, pada hakikatnya boleh dikatakan adalah sahabat karib.”

Dia tertawa dengan suara keras tapi dalam suara tertawanya penuh rasa haru dan rawan, ia menyambung pula, “Meski kau dan aku dilahirkan untuk menjadi lawan, tapi sedikitnya kita masih dapat berkawan selama tiga bulan, apakah kau sudi berkawan denganku selama tiga bulan ini?”

Hoa Bu-koat menatapnya dengan tajam, sampai lama sekali tidak menjawab dan juga tidak bergerak, tiba-tiba ujung mulutnya menampilkan senyuman, nyata apa yang hendak dikatakannya sudah tersembul seluruhnya dalam senyumannya ini.

Kedua anak muda itu berjalan keluar hutan bersama, terlihat sebagian besar bunga telah rontok tergetar oleh hawa pedang, di tanah rontokan bunga ada yang sedang menari-nari tertiup angin.

Tanpa terasa Hoa Bu-koat menghela napas panjang, siapa tahu saat yang sama Siau-hi-ji juga menghela napas, kedua orang saling pandang dengan tersenyum.

Padahal sebelum ini bila mana bertemu tentu kedua orang akan saling labrak dan saling bunuh, tapi kini kedua anak muda ini jalan berendeng, baru sekarang tiba-tiba mereka mengetahui ada persamaan jalan pikiran mereka.

Bu-koat membatin, “Dapat berkawan selama tiga bulan dengan dia, rasanya memang bahagia.” Biasanya dia memang pendiam, karena itu dia cuma membatin saja dan tidak diutarakan dengan mulut.

Tak tersangka Siau-hi-ji lantas berkata dengan tertawa, “Dapat berkawan denganmu selama tiga bulan, sungguh terasa suatu kebahagiaan....”

Tentu saja Hoa Bu-koat melengak, tapi akhirnya ia tertawa terbahak-bahak. Selama hidupnya hampir belum pernah tertawa begini.

Pada saat itulah mereka melihat sebuah kereta berhenti jauh di sana. Agaknya kuda penarik kereta itu sudah terlatih, sebab itulah biar pun tiada saisnya, tapi masih tetap berhenti di situ.

Siau-hi-ji membuka pintu kereta, ia menunjukkan mayat di dalamnya dan berkata, “Apakah kau tahu kusir kereta ini di bunuh oleh siapa?”

“Siapa?” terbelalak mata Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Umpama kukatakan sekarang tentu kau pun takkan percaya, tapi selanjutnya kau akan tahu dengan sendirinya.”

********************

Sementara itu hari sudah gelap, sinar lampu sudah menyala, di restoran besar itu tampak tamu ramai berkunjung.

Kang Piat-ho dengan baju hijau tampak berseliweran kian kemari di antara tetamu undangannya, meski wajahnya tersenyum simpul, namun di antara mata-alisnya kelihatan rasa cemas seperti sedang menghadapi sesuatu persoalan pelik.

Seorang jago tua bernama Peng Thian-siu berjuluk “Kim-to-bu-tek” atau golok emas tanpa tanding, karena usianya paling tua, telah diminta duduk pada tempat utama.

Kini jago tua itu sedang mengelus jenggotnya yang sudah putih dan berkata dengan tertawa, “Apakah Kang-tayhiap sedang mengkhawatirkan Hoa-kongcu yang belum pulang?”

Benar juga Kang Piat-ho lantas menghela napas, katanya, “Ya, sudah malam begini dia masih belum pulang, Wanpwe memang rada khawatir.”

“Dengan ilmu silat Hoa-kongcu, pula dia adalah satu-satunya ahli warisan Ih-hoa-kiong, siapakah di dunia Kangouw ini yang berani sembarangan main-main kumis harimau, bila Kang-tayhiap berkhawatir baginya, kukira rada-rada berlebihan,” kata Thian-siu.

“Aku pun yakin takkan terjadi apa-apa atas dirinya,” jawab Kang Piat-ho dengan tersenyum kecut. “Tapi entah mengapa, hatiku merasakan sesuatu alamat tidak enak.... Ya, semoga tidak terjadi alangan apa pun, bila dia benar-benar mengalami sesuatu bahaya, sebaliknya kita makan minum dan senang-senang di sini, lalu kelak cara bagaimana harus kuhadapi kawan-kawan Kangouw.”

Serentak terdengarlah suara gegetun dan memuji atas budi luhur “Kang-lam-tayhiap.”

“Keluhuran Kang-tayhiap terhadap teman sungguh sukar dibandingi siapa pun, sungguh beruntunglah bagi mereka yang dapat mengikat persahabatan dengan Kang-tayhiap,” ucap Peng Thian-siu dengan suara lantang.

Tak terduga seorang mendadak menukas dengan tertawa, “Haha, memang betul, siapa yang dapat bersahabat dengan Kang Piat-ho, benar-benar leluhurnya telah banyak mengumpulkan pahala.”

Di tengah suara tawa lantang itu muncul seorang muda dengan perawakan kekar gagah, meski mukanya ada sejalur codet panjang, namun tidak mengurangi daya pengaruhnya yang sukar dilukiskan.

Meski usianya belum banyak, tapi lagaknya tidaklah kecil, senyumnya meski kelihatan ramah dan menarik, tapi sorot matanya yang mengerling kian kemari seakan-akan tiada seorang pun yang terpandang olehnya.

Di antara hadirin itu ternyata tiada seorang pun yang kenal siapakah gerangan anak muda ini, dalam hati masing-masing sama membatin mungkin pemuda ini juga anak keluarga ternama atau ahli waris sesuatu aliran termasyhur. Kalau tidak mustahil sikapnya begini angkuh tapi berwibawa.

Air muka Kang Piat-ho berubah seketika demi melihat anak muda ini, serunya dengan tergegap, “He, kenapa kau pun datang... datang ke sini?”

“Memangnya aku tidak boleh datang kemari?” ucap Siau-hi-ji dengan tertawa.

Belum lagi Kang Piat-ho bersuara, terlihat orang yang datang bersama Siau-hi-ji, yaitu Hoa Bu-koat, juga telah muncul di atas loteng dan berdiri di sisi Siau-hi-ji dengan tersenyum.

Bahwa Siau-hi-ji mendadak bisa muncul di sini, ini sudah membuat Kang Piat-ho terkejut.

Bahwa Hoa Bu-koat ternyata masih hidup dan tidak berkurang suatu apa pun, untuk kedua kalinya Kang Piat-ho terkejut.

Bahwa Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat ternyata datang bersama, bahkan seakan-akan dari lawan telah menjadi kawan, untuk ketiga kalinya Kang Piat-ho terkejut. Bahkan kejut yang ketiga ini sungguh luar biasa dan membuatnya mendelik.

Para tamu sama berdiri menyambut kedatangan Hoa Bu-koat, ada juga yang menyapa sehingga hampir tiada yang tahu sikap Kang Piat-ho yang terkesiap dan berdiri melenggong itu.

Sama sekali sukar dibayangkannya cara bagaimana Hoa Bu-koat bisa lolos di bawah pedang sakti Yan Lam-thian, ia pun tak dapat membayangkan ke mana perginya Yan Lam-thian sekarang, lebih-lebih tak terbayangkan olehnya bahwa Hoa Bu-koat bisa berada bersama Siau-hi-ji, bahwa tampaknya kedua anak muda ini seakan-akan kawan karib saja.

Dengan penuh tanda tanya di dalam benaknya itu sebenarnya ia ingin minta penjelasan kepada Hoa Bu-koat, namun ada sementara pertanyaan yang tidak leluasa ditanyakan, ada sebagian pula pertanyaan yang tidak dapat diajukan secara terbuka, karena itulah ia terkesima agak lama, habis itu baru ingat seyogianya dirinya harus memperlihatkan rasa khawatir dan perhatiannya terhadap Hoa Bu-koat.

Akan tetapi sayang, sikap perhatian apa pun yang hendak dikemukakannya semuanya sudah terlambat kini.

Pada beberapa tempat duduk utama masih luang, sejak tadi yang satu menyilakan yang lain dan yang lain mengalah pula kepada yang lain lagi, jadinya tetap kosong. Sekarang Siau-hi-ji tanpa sungkan-sungkan lagi terus mendekatinya dan duduk di situ dengan lagak seperti tuan besar, seakan-akan dia memang dilahirkan untuk duduk di tempat utama demikian, meski orang lain melotot padanya juga tidak peduli, malahan ia lantas angkat cawan di atas meja yang masih kosong, katanya tiba-tiba dengan tertawa, “He, Kang-tayhiap menjamu tamu, masa arak saja tidak ada?!”

Dengan kikuk, Kang Piat-ho berdehem, lalu berseru, “Bawakan arak!”

Siau-hi-ji tertawa dan berkata pula, “Melihat sikap Kang-tayhiap, tampaknya tidak begitu suka kepada tamu tak diundang seperti diriku ini? Tapi perlu diketahui bahwa kedatanganku ini bukan kehendakku sendiri melainkan atas undangan Hoa-kongcu.”

Air muka Kang Piat-ho berubah pula, tapi ia sengaja berlagak tertawa dan berkata, “Tamu Hoa-heng kan juga tamuku!”

“Jika demikian, jadi kawan Hoa Bu-koat berarti juga kawanmu?” tanya Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Ya, begitulah,” jawab Piat-ho.

Mendadak Siau-hi-ji menarik muka dan menjengek, “Tapi kawan Hoa Bu-koat sekali-kali bukanlah kawanku!”

Sejak Siau-hi-ji menduduki tempat utama dengan lagak tuan besar, sejak itu para tamu merasa sirik, cuma orang tidak tahu apa hubungannya dengan Kang Piat-ho, maka tiada seorang pun berani buka mulut. Kini setelah mengikuti tanya jawab antara Siau-hi-ji dan Kang Piat-ho tadi, tahulah mereka bahwa anak muda itu tiada hubungan apa-apa dengan Kang-tayhiap yang mereka hormati itu.

Maka jago tua “Kim-to-bu-tek” Peng Thian-siu yang pertama-tama tidak tahan, segera ia menjengek, “Hm, cara bicara sahabat cilik ini sungguh sukar dipahami.”

“Kau tidak paham bicaraku?” tanya Siau-hi-ji.

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 23"

Post a Comment