Bakti Pendekar Binal Jilid 18

Mode Malam
“Bisa jadi Kang Piat-ho yang sengaja menyiarkannya,” ujar To Kiau-kiau. “Lantaran yakin pihaknya mendapat dukungan Hoa Bu-koat dan pasti akan menang, dengan sendirinya pertarungan ini harus ditonton orang sebanyak-banyaknya.”

“Ya, meski kuat pihak keluarga Buyung, tapi kalau dibandingkan Hoa Bu-koat tetap masih selisih sedikit...Ai, apakah di dunia ini memang tiada orang lain lagi yang mampu melayani Hoa Bu-koat itu?”

“Ada, hanya kau,” ucap To Kiau-kiau dengan mengulum senyum.

“Aku....” Siau-hi-ji menyeringai. Sesungguhnya ia tidak ingin membicarakan soal ini, syukur ada suatu hal yang lebih perlu dibicarakannya sekarang, segera ia mengalihkan persoalan dan berkata, “Eh, percakapan kita tadi terganggu oleh kedatangan Oh-ti-tu. Mengenai Ok-jin-kok, sesungguhnya apa yang telah terjadi di sana?”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya kemudian, “Apakah kau masih ingat Ban Jun-liu yang tinggal di sana?”

“Masa lupa?” jawab Siau-hi-ji tertawa. “Waktu kecilku selalu dia merendam diriku dengan obat sehingga kepalaku pusing dan sesak napas, kini kepandaianku memukul orang memang tidak tinggi, tapi kesanggupan tahan pukul terhitung lumayan dan semua ini adalah berkat gemblengannya.”

“Dan apakah masih ingat di rumah Ban Jun-liu itu ada lagi seorang yang biasa dipanggil sebagai kaleng obat?”

Siau-hi-ji terkejut, tapi lahirnya tidak memperlihatkan sesuatu, dengan tertawa ia menjawab, “Sudah tentu ingat, obat yang dimakannya jauh lebih banyak dari padaku, apabila Ban Jun-liu menemukan obat baru tentu suruh dia mencicipinya lebih dulu.”

“Sepuluh bulan yang lalu, Ban Jun-liu dan kaleng obat itu telah menghilang!” ucap To Kiau-kiau sekata demi sekata sambil menatap tajam Siau-hi-ji.

Jantung Siau-hi-ji serasa hendak melompat keluar dari rongga dadanya, tapi sekali pun hidung ditempelkan ke wajahnya juga jangan harap akan dapat melihat kernyit kulit mukanya, dia hanya tersenyum tawar saja dan berucap, “Memangnya terhitung gawat kejadian ini, maka kalian menjadi begitu tegang?”

To Kiau-kiau juga tertawa, katanya, “Apakah kau tahu siapa si kaleng obat itu?”

“Memangnya siapa dia?” tanya Siau-hi-ji dengan mata terbelalak.

“Pernahkah kau dengar di dunia Kangouw dahulu ada seorang jago pedang, sekali pedangnya menabas, dalam jarak beberapa tombak akan terasakan angin pedangnya yang tajam sehingga rambut dan jenggot pun akan tercukur bersih tanpa kau sadari apa yang telah terjadi.”

“Hah, pernah kudengar tokoh itu, kalau tidak salah dia bernama...bernama Yan Lam-thian, betul atau tidak?”

“Selain Yan Lam-thian mana ada lagi jago pedang yang lain?”

“Tapi dia kan sudah mati, kata orang?”

“Dia tidak mati, dia bukan lain adalah si kaleng obat itu!”

Siau-hi-ji berlagak heran, serunya, “He, jadi si kaleng obat itu adalah Yan Lam-thian, si jago pedang nomor satu di dunia? Ai, sungguh tak tersangka sama sekali. Tapi bila ilmu pedang Yan Lam-thian memang setinggi itu, mengapa dia bisa berubah menjadi ‘kaleng obat’ yang lebih menyerupai mayat hidup itu?”

“Justru semua ini karena dirimu inilah,” ucap To Kiau-kiau dengan gegetun. “Demi menyelamatkan kau dari tangannya, maka terpaksa kami telah melukai dia.”

Uraian To Kiau-kiau dilakukan dengan cara sewajarnya dan terdengar sungguh-sungguh, Siau-hi-ji pasti percaya penuh apabila dahulu dia tidak diberitahu rahasia asal-usulnya oleh Ban Jun-liu.

Diam-diam ia gegetun, pikirnya, “Biar pun Yan Lam-thian adalah tuan penolongku dan seorang pendekar besar, tapi antara dia dan aku tidak ada kontak perasaan, sebaliknya meski kalian ini orang jahat, tapi selama belasan tahun kalian telah membesarkan aku dan telah mempunyai ikatan batin dengan diriku, memangnya aku tega menuntut balas kepada kalian demi Yan Lam-thian? Mengapa sampai sekarang kalian tetap mendustai aku?”

Secara garis besar Siau-hi-ji memang tidak terhitung manusia yang sangat baik, tapi dia berdarah panas, penuh perasaan, meski lahirnya keras, tapi batinnya lunak, hatinya lemas. Asalkan dapat mengetuk hatinya, maka biar pun dia disuruh naik ke gunung bergolok atau terjun ke air mendidih juga dia sukarela. Dan asalkan dia sukarela, biar pun untuk itu dia tertipu dan telan pil pahit juga dia tidak penasaran. Sebaliknya kalau dia dibikin marah dan sakit hati, maka apa pun akibatnya juga dia tidak mau tunduk dan pasti akan mengadu jiwa denganmu.

Dia sendiri menganggap dirinya cukup sabar dan tenang, tapi kalau sudah terangsang, maka meledaklah perasaannya bagai gunung api meletus.

Dia pun menganggap dirinya sangat cerdik, tapi kalau sudah berbuat ceroboh, maka tindakannya bisa lebih kasar dari pada siapa pun juga.

Justru lantaran tabiatnya inilah telah melahirkan kisah yang beraneka gayanya.

Begitulah Siau-hi-ji merasa gegetun di dalam hati, tapi mukanya tetap tersenyum, katanya, “Demi diriku katamu? Memangnya ada sangkut-paut apa antara diriku dengan ‘kaleng obat’ itu?”

“Kisah ini terlalu panjang kalau diuraikan, biarlah kita bicara lain kali saja, asalkan kau ingat, demi dirimulah kami rela membikin marah Yan Lam-thian, dan karena menghilangnya Yan Lam-thian itu, maka kami pun tidak berani berdiam lagi di Ok-jin-kok.

“Memangnya kenapa?” tanya Siau-hi-ji.

“Meski Ok-jin-kok dipandang sebagai daerah maut bagi orang Kangouw, tapi kalau Yan Lam-thian mau menerjang ke sana, memangnya siapa yang mampu merintangi dia? Dulu dia sudah terjebak satu kali, sekarang dia pasti akan bertindak lebih hati-hati,” sinar matanya yang biasanya penuh tipu akal itu kini menampilkan rasa khawatir dan jeri, ia menghela napas panjang, lalu menyambung pula, “Sekali ini kalau dia datang lagi, maka kawanan Ok-jin kami ini mungkin akan berubah menjadi Ok-kui (setan jahat) semuanya....”

“Apakah engkau yakin ilmu silatnya telah... telah pulih seluruhnya?” tanya Siau-hi-ji.

Dengan gemas To Kiau-kiau menjawab, “Biar pun ilmu silatnya kini belum pulih, tapi Ban Jun-liu itu tentu sudah berhasil menemukan obat baru yang dapat menyembuhkan lukanya, kalau tidak masakah dia berani membawanya kabur dari Ok-jin-kok?!”

“Betul!” ucap Siau-hi-ji setelah berpikir sejenak. “Sementara ini ilmu silatnya tentu belum pulih, kalau tidak, mungkin sekarang dia sudah mencari kalian untuk membikin perhitungan lama. Dan kalau Ban Jun-liu berani membawanya lari, kukira dia pasti yakin dapat menyembuhkan lukanya.”

“Cuma sukar diketahui bilakah lukanya akan dapat sembuh seluruhnya, bisa jadi tiga tahun atau lima tahun lagi atau mungkin delapan atau sembilan tahun pula, yang kuharap hanya semoga jangka waktu itu akan semakin lama.”

“Akan tetapi bukan mustahil saat ini juga kesehatannya sudah pulih, bukan?” Siau-hi-ji menambahkan dengan perlahan.

Tergetar To Kiau-kiau, ia tatap Siau-hi-ji dengan tajam, katanya, “Kau berharap dia sudah sembuh saat ini juga?”

Siau-hi-ji tenang-tenang saja, jawabnya dengan perlahan, “Meski bukan begitu harapanku, tapi apa pun juga kita harus berpikir dulu ke arah yang buruk.”

To Kiau-kiau terdiam sejenak, katanya kemudian, “Ya, betul juga, bisa jadi saat ini ilmu silatnya sudah pulih dan mungkin pula dia sedang mencari kami....” pandangannya tiba-tiba menerawang keluar kereta dan tiada minat buat bicara pula.

Kereta kuda itu semakin kencang larinya, cambuk si kusir terdengar menggelegar seakan-akan ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuan untuk ikut menonton pertarungan yang sengit dan menarik itu.

Siau-hi-ji juga memandang keluar kereta, gumamnya, “Saat ini Yan Lam-thian entah berada di mana? Sungguh aku sangat ingin tahu....”

********************

Sebuah lembah kecil dikelilingi lereng dari tiga jurusan, sementara itu di lereng bukit itu sudah penuh berdiri beratus-ratus orang, bahkan di atas pohon juga sudah penuh bertengger penonton tanpa bayar.

Kereta kuda mereka berhenti di luar lembah sehingga Siau-hi-ji tidak dapat melihat suasana di tengah lembah. Hanya terdengar suara ramai orang berbincang, “Suseng (pelajar) yang kelihatan lemah lembut itu apakah betul ahli waris dari Ih-hoa-kiong? Sama sekali tak tertampak dia memiliki ilmu silat yang tinggi.”

“Tapi kabarnya di dunia Kangouw saat ini tiada orang yang lebih lihai dari pada ilmu silatnya, bahkan Kang-tayhiap juga sangat kagum padanya, entah kabar ini dapat dipercaya atau tidak?” demikian yang lain menanggapi.

Segera seorang lagi menukas dengan tertawa, “Jika tidak percaya, kenapa kau sendiri tidak mencobanya?”

Orang tadi melelet lidah dan menjawab, “Buset, aku masih ingin hidup lebih lama dengan istriku yang masih muda itu.”

Lalu seorang lagi berkata dengan gegetun, “Usianya masih muda belia, tapi ilmu silatnya sudah nomor satu di dunia, orangnya cakap pula, di dunia ini rasanya tiada orang lain yang dapat melebihi dia.”

Yang lain juga menanggapi dengan kagum, “Ya, ‘Putra kebanggaan Thian’, istilah ini sungguh cocok sekali baginya. Bila mana aku dapat hidup satu hari saja seperti dia, maka puaslah aku.”

Begitulah terdengar puji sanjung di sana sini dan yang dimaksud tentulah Hoa Bu-koat adanya. Keruan kesal hati Siau-hi-ji mendengar semua itu.

“Hatimu tidak enak bukan setelah mendengar percakapan mereka itu?” tanya To Kiau-kiau dengan tersenyum.

“Siapa bilang hatiku tidak enak? Hm, aku justru sangat gembira,” jawab Siau-hi-ji mendelik.

“Ai, dia memang benar-benar ‘Putra kebanggaan Thian’, seakan-akan Thian telah memberkahi dia dengan segala hal yang membuat kagum orang, betul tidak?” kata To Kiau-kiau dengan gegetun.

“Betul tidak?” Siau-hi-ji menirukan logat orang sambil mencibir.

“Hahaha!” To Kiau-kiau tertawa. “Meski dia adalah ‘Putra kebanggaan Thian’, tapi Siau-hi-ji kita juga tidak di bawahnya, dunia Kangouw yang akan datang mungkin adalah dunianya kalian berdua.”

Sekonyong-konyong Siau-hi-ji membuka pintu kereta dan berkata, “Aku akan pergi menonton, dan engkau?”

“Pergilah kau,” jawab To Kiau-kiau. “Akan kutunggu di sini, cuma... kau harus bekerja sesuatu bagiku.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hi-ji.

“Berusahalah membawa kedua Auyang... kedua Lo bersaudara itu ke dalam kereta ini, sanggupkah kau?”

“Asalkan keretamu muat, biar pun seluruh penonton yang hadir di sini harus kuangkat ke dalam kereta ini juga bukan soal bagiku,” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Habis itu ia lantas melompat turun dan melangkah pergi, tiba-tiba ia menoleh memandang si kusir. Dilihatnya kusir itu sedang mengelus-elus berewoknya dan lagi memandangnya dengan tertawa.

Tanpa susah payah dapatlah Siau-hi-ji menyusup ke tengah-tengah orang yang berjubel terus naik ke lereng sana. Ia lihat tempat yang paling baik adalah duduk di atas pohon, dari situ dapat memandang sekelilingnya dengan jelas. Cuma sayang waktu itu semua pohon sudah penuh orang.

Tiba-tiba Siau-hi-ji mendapat akal, ia menggeleng-geleng kepala dan bergumam, “Wah, di dunia ini ternyata banyak juga manusia yang tidak takut mati sehingga berani duduk di atas liang ular berbisa, kalau saja pantatnya kena digigit, wah....”

Belum habis ucapannya, sebagian besar orang-orang yang nongkrong di atas pohon itu sama melompat turun dengan ketakutan. Setelah kacau balau sejenak, akhirnya diketahui bahwa orang yang bicara tadi kini sudah nongkrong sendiri di atas pohon dengan tenangnya.

Dengan sendirinya orang-orang itu penasaran dan menegur, “He, sahabat itu, kau bilang pohon ini ada liang ular, mengapa kau sendiri bertengger di situ?”

“O, apakah tadi kubilang begitu,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jelas kau yang bicara begitu,” teriak orang-orang itu.

“Tapi aku kan cuma bilang banyak orang yang tidak takut mati dan berani duduk di atas liang ular, aku tidak pernah mengatakan pohon ini ada liang ularnya, mungkin kalian salah dengar,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Tentu saja orang-orang itu melenggong dan juga gusar, tapi terdengar Siau-hi-ji lagi bergumam pula, “Kalau Kang-lam-tayhiap dan para nona keluarga Buyung sedang bereskan perkara di sini, bila mana ada orang berani mengacau, maka dia pasti sudah bosan hidup.”

Seketika orang-orang itu saling pandang belaka dan terpaksa menahan perasaan murka belaka, ada sebagian merambat lagi ke atas pohon, sebagian lain tidak dapat tempat di atas, terpaksa mereka anggap sial.

Dengan enak Siau-hi-ji bertengger di atas pohon sehingga segala sesuatu yang terjadi di lembah itu seluruhnya tertangkap oleh pandangannya, ia merasa tempat ini sungguh kelas utama, diam-diam ia merasa geli, pikirnya, “Seorang kalau ingin menduduki tempat yang baik memang perlu main-main sedikit.”

Dilihatnya di tanah lapang di tengah lembah sana terparkir sebuah kereta kuda, Hoa Bu-koat tampak bersandar pada pintu kereta dan seperti lagi mengobrol iseng dengan menumpang di dalam kereta.

Kang Piat-ho tampak duduk di atas batu di sebelah Hoa Bu-koat serta berulang-ulang tegur sapa dengan penonton yang mengelilingi mereka, sedikit pun tidak berlagak sebagai “pendekar besar.”

Siau-hi-ji juga melihat Lo Kiu dan Lo Sam, kedua orang itu tinggi dan gemuk sehingga sangat mencolok berada di tengah-tengah kerumunan orang.

Namun anggota keluarga Buyung belum nampak seorang pun yang datang, diam-diam para kawan Kangouw yang hadir itu sama menggrundel dan menganggap mereka terlalu sombong.

Hoa Bu-koat sendiri tidak nampak gelisah, senyum di wajahnya tetap riang gembira, setiap kali dia memandang ke dalam kereta, sorot matanya yang tajam itu berubah menjadi sangat halus.

Tanpa terasa Siau-hi-ji mengepal, hatinya panas, pikirnya, “Siapa yang berada di dalam kereta? Masa Thi Sim-lan juga dibawanya kemari dan mereka sejengkal pun tak dapat berpisah?”

Sekonyong-konyong terjadi kegaduhan di sebelah sana, dua belas lelaki berbaju hitam dan pakai ikat pinggang berwarna-warni menggotong tiga buah tandu besar berbeludru hijau berlari datang. Pada tiap-tiap tandu besar itu mengikut pula sebuah tandu kecil dengan dua orang pemikul, penumpang ketiga tandu kecil ini adalah tiga pelayan molek.

Setelah tandu berhenti dan diturunkan, segera ketiga pelayan molek itu turun lebih dulu untuk menyingkap tirai pintu tandu besar, kemudian keluarlah tiga wanita cantik yang memesona setiap pengunjung.

Ketiga perempuan cantik ini adalah Buyung Siang, Buyung San dan Siau-sian-li Thio Cing. Ketiganya kini berdandan secara putri keraton, semuanya berpakaian anggun, tampaknya mereka lebih mirip nyonya keluarga bangsawan yang sedang keluar bertamu dari pada jago Kangouw yang datang hendak bertempur dengan orang.

Kebanyakan pengunjung itu hanya pernah mendengar nama kesembilan kakak beradik Buyung dan jarang yang kenal wajah asli mereka, sekarang pandangan mereka jadi terbeliak, hampir semuanya melenggong kesima. Bahkan Siau-hi-ji sendiri juga hampir tidak percaya bahwa nona yang berjalan dengan lemah gemulai di bagian belakang itu adalah Siau-sian-li yang pernah malang melintang dan membunuh orang di padang rumput dahulu.

Dandanan Siau-sian-li sekarang juga sangat menarik, dia sudah menanggalkan sepatu botnya dan memakai sandal bertatahkan mutiara, celana yang sempit sudah berganti dengan gaun yang panjang sehingga gaya berjalannya tampak meliak-liuk, tidak lagi terjang sana sini seperti dahulu. Malahan mukanya kini sudah ditambah dengan pupur yang tipis.

“Memang seharusnya begini baru memper seorang perempuan!” diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli. Aneh juga, sehari-hari biasanya ia berpakaian seperti orang yang senantiasa hendak berkelahi, tapi ketika benar-benar hendak bertarung sekarang dia malah berdandan serapi ini, apakah maksud tujuannya? Jangan-jangan dia sengaja hendak membuat Hoa Bu-koat terpesona sehingga lupa daratan dan tidak sanggup berkelahi lagi.”

Pandangan Hoa Bu-koat telah beralih dari dalam kereta ke arah para nona keluarga Buyung ini. Tapi sorot matanya itu dari pada dikatakan terpesona akan lebih tepat bila dikatakan terkejut dan tercengang.

Dengan berlenggang Buyung San berjalan paling depan, ia memberi hormat, lalu berkata dengan tertawa, “Maaf bila kedatangan kami ini rada terlambat sehingga Kongcu telah lama menunggu.”

Dia bicara dengan lemah lembut, mana Hoa Bu-koat mau kurang sopan di depan kaum wanita, cepat ia menjura dan menjawab dengan tersenyum, “Ah, kukira bukan nyonya yang datang terlambat, tapi Cayhe yang datang terlalu dini.”

“Kongcu benar-benar ramah, rendah hati dan halus budi, entah putri keluarga siapa yang kelak beruntung mendampingi Kongcu,” ucap Buyung San dengan tertawa.

Kedua orang bicara dengan ramah tamah seperti dua orang kenalan lama yang kebetulan bertemu di tempat pesiar, mana ada tanda-tanda bahwa maksud kedatangan mereka ini sebenarnya hendak berkelahi.

Tentu saja semua orang melongo heran, kalau melihat gelagat begini, apakah mungkin bisa terjadi pertarungan sengit? Demikian mereka sama bertanya-tanya di dalam batin.

Terdengar Hoa Bu-koat lagi berkata, “Lamkiong-kongcu dan Cin-kongcu mungkin sebentar juga akan tiba?”

“Tidak, karena di rumah ada urusan, mereka sudah pulang dulu,” jawab Buyung San.

Hoa Bu-koat melengak, katanya, “Jika mereka tidak datang, lalu cara bagaimana menyelesaikan urusan ini?”

“Urusan ini kan persoalan antara kami kakak beradik dengan Kongcu,” kata Buyung San.

Segera Buyung Siang menyambung, “Urusan keluarga Buyung selamanya tidak memperbolehkan orang luar ikut campur.”

Bu-koat jadi melengak pula, katanya, “Tapi... tapi mereka kan....”

“Betul, mereka adalah suami kami, tapi urusan istri sebagian juga tiada sangkut-pautnya dengan suami,” ucap Buyung Siang dengan tertawa, “Kami kakak beradik dari keluarga Buyung masakah mau mendapatkan suami yang suka ikut campur urusan istrinya?”

“Ya, mungkin Kongcu sendiri juga tidak suka mendapatkan istri yang suka ikut campur urusan suami,” sambung Buyung San dengan tertawa.

Begitulah kakak beradik itu bicara sambung menyambung sehingga Hoa Bu-koat berdiri terkesima tak dapat bersuara.

Diam-diam Siau-hi-ji tertawa geli, pikirnya, “Lelaki yang memperistrikan nona dari keluarga Buyung sungguh beruntung. Sudah jelas Lamkiong Liu dan Cin Kiam sendiri tidak berani bertarung melawan Hoa Bu-koat, tapi oleh istri mereka telah diputar balik seakan-akan suami mereka itu tidak boleh mencampuri urusan sang istri, dengan demikian nama baik mereka tidak rusak sedikit pun, bahkan orang luar akan memuji mereka memang sayang istri.”

Supaya maklum bahwa dengan kedudukan Lamkiong Liu dan Cin Kiam betapa pun mereka tidak boleh kalah bila bertarung dengan orang, tapi menghadapi Hoa Bu-koat mereka menyadari pasti kalah. Oleh sebab itulah mereka sengaja tidak hadir, cara ini benar-benar sangat cerdik.

Tapi kalau mereka mau membiarkan sang istri menghadapi Hoa Bu-koat, tentu mereka pun yakin sang istri akan menang. Hal ini pun membuat Siau-hi-ji heran, diam-diam ia meraba-raba pula tipu daya apa yang tersembunyi di balik persoalan ini.

Kang Piat-ho itu benar-benar bisa menahan perasaan, baru sekarang dia menyela dengan tersenyum. “Jika Lamkiong-kongcu dan Cin-kongcu tidak hadir, bukankah urusan ini menjadi sulit diselesaikan.”

Pandangan Buyung Siang beralih ke arah Kang Piat-ho, senyumnya mendadak lenyap, jawabnya dengan mendelik, “Siapa bilang sulit diselesaikan?”

Hoa Bu-koat berdehem, katanya dengan tersenyum, “Tapi Cayhe masakah boleh bergebrak dengan para nyonya?”

“Kenapa kau tidak boleh bergebrak dengan kami? Memangnya kami ini bukan manusia?” teriak Siau-sian-li.

Dengan tertawa Buyung San juga berkata, “Apabila Kongcu tidak sudi bergebrak dengan kami, maka diharap Kongcu jangan ikut campur urusan kami dengan Kang Piat-ho. Betapa pun Kang Piat-ho juga bukan anak kecil, masa tidak bisa membereskan urusannya sendiri?”

Dia tertawa dengan lembut, tapi ucapannya setajam sembilu. Para pengunjung sama melengak, mereka menduga Kang Piat-ho pasti tidak dapat menerima olok-olok begitu.

Siapa tahu Kang Piat-ho tetap tenang-tenang saja, ucapnya dengan tersenyum, “Setiap kawan Kangouw tahu bahwa selama hidupku tidak suka melukai orang lain, apa lagi terhadap para nyonya? Lebih-lebih hanya karena sedikit salah paham saja?”

“Kang Piat-ho,” teriak Buyung Siang, “Coba dengarkan! Pertama, ini sama sekali bukan salah paham segala, kedua, kau pun belum pasti melukai kami, boleh silakan maju saja.”

Kang Piat-ho tersenyum jawabnya, “Salah paham ini sementara ini sukar dibereskan, tapi lama-lama tentu akan jelas duduk perkaranya. Kini Cayhe mana boleh berlaku kasar kepada nyonya, sekali pun nyonya akan membunuh Cayhe juga tetap takkan kubalas menyerang.”

Ucapan ini bertambah gemilang sehingga banyak di antara pengunjung itu sama bersorak memuji, bahkan Siau-hi-ji diam-diam juga gegetun, “Di seluruh dunia ini, mengenai kepandaian menghadapi orang mungkin tiada seorang pun yang mampu menandingi kelicinan Kang Piat-ho, bahkan di lapangan begini terlebih menonjol pula kepandaiannya.”

Dengan gusar Buyung Siang lantas membentak, “Huh, sudah jelas kau tahu Hoa-kongcu takkan tinggal diam membiarkan kami membinasakan kau, makanya kau bicara seenak mulutmu!”

“Jika Cayhe sendiri tidak berani bertanggung jawab, tentu sekarang takkan hadir di sini,” jawab Kang Piat-ho acuh.

Mendadak Siau-sian-li menjengek, “Hm, kalau orang lain, bila mana dia minta perlindungan seseorang tentu dia sendiri akan merasa malu, tapi kau masih mampu bicara terang-terangan tanpa tedeng aling-aling, huh, mukamu yang tebal ini sungguh jarang ada tandingannya.”

“Hahahaha!” Kang Piat-ho bergelak tertawa. “Untunglah para kawan Kangouw tiada yang mau percaya bahwa orang she Kang ini adalah orang yang suka minta perlindungan....”

“Ya, paling sedikit Kang-tayhiap pasti takkan mengeluyur pulang dan menonjolkan istrinya untuk bertengkar dengan orang!” demikian tiba-tiba seorang berteriak.

Dari tempat nongkrongnya Siau-hi-ji dapat melihat dengan jelas yang berteriak itu ialah Auyang Ting yang berganti nama menjadi Lo Kiu itu, dengan sendirinya Buyung Siang dan lain-lain tak dapat melihat dan juga tak tahu siapa yang berteriak itu.

Terpaksa mereka pura-pura tidak tahu, tapi dalam hati mereka menyadari tidak boleh bicara lebih lama lagi dengan Kang Piat-ho, kalau kekuatan kedua pihak selisih tidak banyak, ada lebih baik mundur teratur saja.

Sebaliknya Hoa Bu-koat tetap tersenyum simpul, teriakan tadi entah didengarnya atau tidak, bila tak perlu bicara dia memang tidak suka buka suara.

Tiba-tiba Siau-sian-li berseru, “Bicara kian kemari sekian lama tetap sukar menentukan salah dan benar, kukira lebih baik turun tangan saja, biarlah aku belajar kenal dulu dengan kepandaian Hoa-kongcu.”

Bu-koat memandang Siau-sian-li dari atas ke bawah, lalu menjawab dengan tersenyum, “Kau pikir aku dapat bergebrak denganmu?”

“Mengapa tidak?” teriak Siau-sian-li dengan mendelik. “Meski dahulu kita pernah bersahabat, tapi sekarang adalah musuh.”

Hoa Bu-koat hanya tersenyum tanpa menjawab.

Segera Buyung San berseru dan tertawa, “Rasanya Hoa-kongcu pasti tidak sudi bergebrak dengan kaum wanita.”

“Bila kurang hati-hati hingga Cayhe membikin kusut dandanan para nyonya, ini saja berdosa, apa lagi bergebrak dengan kalian?” ucap Hoa Bu-koat dengan tertawa.

“Habis kalau menurut pendapat Kongcu, cara bagaimana urusan ini akan diselesaikan?” tanya Buyung San.

“Menurut pikiranku,” jawab Bu-koat setelah diam sejenak, “pada hakikatnya urusan ini tak perlu diselesaikan mengingat pribadi Kang-heng, baik namanya mau pun kemampuannya sudah cukup diketahui orang Kangouw, maka nyonya....”

“Tidak, urusan ini harus diselesaikan,” teriak Buyung Siang, “Jika Hoa-kongcu tidak punya jalan keluarnya, aku malah punya suatu cara yang baik.”

“Mohon penjelasan,” ucap Hoa Bu-koat.

“Begini, kami akan mengemukakan tiga soal, apabila Kongcu dapat melaksanakannya maka selanjutnya kami takkan mencari setori lagi kepada Kang Piat-ho,” tutur Buyung Siang. “Tapi kalau Kongcu tidak sanggup melakukan tiga soal ini, maka hendaklah Kongcu jangan lagi ikut campur urusan kami dengan Kang Piat-ho.”

Sampai di sini barulah Siau-hi-ji memahami duduknya perkara, rupanya Lamkiong dan Cin Kiam sengaja tidak ikut hadir dan kakak beradik Buyung serta Siau-sian-li sengaja berdandan begitu anggun, tujuan mereka sengaja hendak memojokkan Hoa Bu-koat agar tidak dapat bertarung benar-benar dengan mereka, dengan demikian barulah mereka ada alasan untuk mengemukakan tiga soal itu untuk mempersulit Hoa Bu-koat. Jika Hoa Bu-koat terpancing, maka pertarungan ini baginya berarti sudah kalah.

Namun Hoa Bu-koat juga bukan orang dungu, setelah berpikir sejenak, kemudian ia menjawab dengan tertawa, “Tapi ketiga soal yang akan nyonya sebut nanti bila pada hakikatnya tak dapat dilaksanakan, lalu bagaimana?”

“Masakah kami mempersulit dengan soal yang tidak mungkin dilaksanakan olehmu?” kata Buyung San dengan tertawa.

Mendadak Siau-sian-li menyambung, “Setelah ketiga soal itu dijelaskan dan ternyata tak dapat kau laksanakan, maka kami akan melakukannya sebagai bukti, dengan demikian tentu adil bukan?”

“Tapi kalau nyonya menyuruh kami menyulam, jelas Cayhe tidak sanggup,” kata Bu-koat tertawa.

“Ketiga soal ini dengan sendiri dapat dilakukan oleh siapa pun juga, baik lelaki mau pun perempuan, tidak lain kami cuma ingin menguji kemahiran ilmu silat serta kecerdasan Kongcu saja,” ujar Buyung San.

“Dan kalau Hoa-kongcu tidak dapat melakukan ketiga soal itu dan sebaliknya bila kami dapat melaksanakannya, maka terbuktilah ilmu silat dan kecerdasan Kongcu memang lebih rendah dari pada kami, dengan demikian Kongcu tentu tidak akan ikut campur lagi dengan urusan kami, begitu bukan?” sambung Buyung Siang.

“Jika betul begitu, maka selanjutnya Cayhe akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw dan takkan ikut campur urusan apa pun,” jawab Hoa Bu-koat.

Siau-hi-ji sudah menduga ketiga soal yang akan dikemukakan kakak beradik Buyung itu pasti sangat aneh dan sulit dilaksanakan, maka diam-diam ia menertawakan Hoa Bu-koat, “Wahai Hoa Bu-koat, bila mana kau terima usul mereka, maka terjebaklah kau. Soal yang telah mereka rencanakan dengan matang, bahkan aku pun mungkin sulit melakukannya, apa lagi kau!”

Di sebelah lain para pengunjung juga lagi bisik-bisik membicarakan persoalan ini, kata seorang, “Dalam hal Pi-bu (bertanding silat) sejak dulu hingga kini hanya dikenal dua cara, yaitu Bun-pi atau Bu-pi (bertanding cara halus atau bertanding cara kasar). Apa yang diusulkannya sekarang termasuk bertanding cara halus, hanya kakak beradik Buyung itu menggunakan nama baru saja.”

Lalu seorang lagi menanggapi, “Apabila nona Buyung itu menyuruh Hoa-kongcu berjumpalitan beberapa kali, lalu menyuruhnya pula merangkak beberapa lingkaran seperti anjing, apakah mungkin Hoa Bu-koat mau melakukannya mengingat harga dirinya, dan dengan demikian bukankah berarti dia akan kalah?”

Tapi segera ada yang mendebatnya, “Ah, bila begitu, caranya kan seperti bajingan tengik. Padahal keluarga Buyung sangat termasyhur dan terhormat, rasanya mereka takkan berbuat demikian.”

Maklumlah biar pun ucapan Hoa Bu-koat tadi seperti menyepelekan urusannya, tapi janji akan mengundurkan diri dari dunia Kangouw cukup berbobot, sebab namanya sekarang laksana sang surya yang gilang gemilang di tengah cakrawala dan kehidupannya di dunia Kangouw selanjutnya pasti banyak ragam dan gayanya, tapi kalau nanti dia kalah, maka berarti tamatlah riwayatnya.

Sebab itulah, meski Hoa Bu-koat cukup percaya pada dirinya sendiri, tapi bagi para penonton terasa tegang dan berkhawatir baginya.

Dalam pada itu kakak beradik Buyung sedang bisik-bisik berunding sendiri. Lalu Buyung Siang membuka suara dengan tertawa, “Nah, kita mulai dengan soal pertama, yakni Kongcu berdiri dengan gaya ‘Kim-keh-tok-lip’ (ayam emas berdiri dengan kaki satu), lalu orang disuruh mendorong, apabila engkau tidak roboh terdorong, maka anggap Kongcu telah menang.”

“Tapi beberapa orang yang diharuskan mendorong?” tanya Bu-koat tertawa.

“Beberapa orang boleh sesukanya, umpamanya dua ratus orang begitu?” tanya Buyung Siang.

Setelah merenung sejenak, akhirnya Hoa Bu-koat menjawab dengan tersenyum, “Baiklah kuterima.”

Ucapan ini kembali menggemparkan para pengunjung. Betapa besarnya tenaga gabungan dua ratus orang, sekali pun tenaga dua ratus lelaki biasa saja sukar ditahan oleh seorang Hoa Bu-koat, terlebih lagi dia harus berdiri dengan kaki satu dalam gaya ‘Kim-keh-tok-lip’ segala.....
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 18"

Post a Comment

close