Bakti Pendekar Binal Jilid 04

Mode Malam
Di dalam rumah gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan, dengan sendirinya Siau-hi-ji tak dapat melihat bagaimana bentuk perempuan ini, maka ia menjadi rada curiga, segera ia melompat bangun dan bertanya pula dengan suara tertahan, “Selamanya Cayhe tidak kenal nona, tapi nona sudi menolongku, entah apa sebabnya?”

Terhadap perempuan, tak peduli perempuan macam apa pun, Siau-hi-ji tak pernah menaruh kepercayaan sekali pun perempuan ini baru saja telah menyelamatkan jiwanya.

Tapi perempuan ini mendadak tertawa, katanya, “Apakah betul kau dan aku tidak saling kenal?”

“Perempuan yang kenal padaku selalu ingin membunuhku dan tidak mau menolongku,” kata Siau-hi-ji.

Kembali perempuan itu tertawa, katanya, “Haha, mungkin nyalimu sudah pecah saking takutnya sehingga suaraku juga tidak kau kenal lagi.” Bicaranya tadi dengan suara lemah lembut, sekarang dia tertawa keras sehingga bersemangat lelaki.

Seketika Siau-hi-ji dapat mengenalnya, serunya, “He, engkau Samkohnio?”

“Akhirnya kau ingat juga padaku,” kata perempuan itu.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, tanyanya, “He, mengapa engkau berada di sini?”

“Ini rumahku, kalau aku tak berada di sini lalu di mana?” jawab Samkohnio.

Siau-hi-ji melengak, katanya kemudian dengan tertawa, “Ya, benar, aku sudah pikun barangkali, masa tidak tahu perumahan ini adalah tempat kediaman Toan Hap-pui. Sungguh sangat luas, begitu masuk ke sini aku seperti masuk ke lingkaran setan.”

“Jangankan dirimu, aku sendiri terkadang juga kesasar,” kata Samkohnio.

“Tapi mengapa Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat juga berada di sini?”

“Kedatangan mereka justru menyangkut persoalan hilangnya kiriman barang ayahku itu.”

“Wah, sungguh teramat kebetulan, mengapa segala kejadian yang kebetulan di dunia ini selalu kepergok olehku,” kata Siau-hi-ji sambil menghela napas, “Tak pernah kuduga bahwa Kang Piat-ho bisa berada di rumahmu dan kebetulan aku pun menerobos ke rumahmu ini....”

“Dan mereka pun tak pernah menyangka bahwa aku kenal kau,” sambung Samkohnio dengan tertawa.

“Benar, kalau tidak masakah rase tua itu mau percaya pada keteranganmu tadi,” kata Siau-hi-ji.

Maklumlah, betapa pun Kang Piat-ho tidak menyangka putri kesayangan Toan Hap-pui bisa menolong seorang penjahat, sebab itulah dia percaya kepada keterangan Samkohnio tadi yang mengatakan penjahat itu sudah lari.

Samkohnio lantas tanya pula, “Meng…mengapa kau dan Kang-tayhiap bisa bermu....”

“Kang-tayhiap apa? Hm, tayhiap sontoloyo, tayhiap persetan!” jengek Siau-hi-ji.

“Aneh, siapa yang tak tahu namanya sebagai Kang-lam-tayhiap?” kata Samkohnio. “Jika dia bukan tayhiap, habis siapa lagi?”

“Kalau dia terhitung tayhiap, maka segala setan belang juga akan menjadi tayhiap,” kata Siau-hi-ji.

“Mungkin kau dibikin dongkol olehnya, maka kau benci padanya,” ujar Samkohnio. “Padahal sebenarnya dia seorang baik, begitu mendengar barang kiriman kami dirampok, segera dia berkunjung kemari untuk membela kami....”

“Hm, ini namanya musang mengucapkan selamat kepada ayam,” jengek Siau-hi-ji.

“Maksudmu dia tidak berniat baik, tapi apa pula maksud jahatnya?”

“Jalan pikiran manusia begitu selama hidupmu juga takkan paham,” kata Siau-hi-ji.

Samkohnio duduk miring di atas tempat tidur, tepat di samping Siau-hi-ji, hati si nona berdebar-debar dan kepala tertunduk, setelah termenung sekian lama, kemudian ia berkata pula, “Hoa-kongcu itu juga... juga Kang Piat-ho yang mengajaknya kemari. Konon Hoa-kongcu ini tergolong pahlawan nomor satu di Kangouw dan juga lelaki tercakap di dunia, tapi kulihat lagak-lagunya yang kebetina-betinaan itu rasanya tidak cocok.”

Siau-hi-ji merasa senang karena si nona mencaci maki Hoa Bu-koat, ia pegang tangannya dan berkata, “Benar, pandanganmu memang jitu dan ucapanmu juga tepat.”

“Aku… aku....” dalam kegelapan tangannya dipegang Siau-hi-ji, maka Samkohnio merasa hatinya berdetak keras, mukanya merah dan tenggorokan serasa kering sehingga sukar untuk bicara lagi.

Diam-diam ia khawatir kalau-kalau Siau-hi-ji melakukan sesuatu padanya, tapi sebetulnya ia pun berharap anak muda itu melakukannya, semakin banyak yang diperbuatnya malah semakin baik.

Selagi dia merasa kebat-kebit, sekonyong-konyong Siau-hi-ji berbangkit dan menubruk ke atas tubuhnya, seketika wajah Samkohnio menjadi panas seperti dibakar, serasa napas berhenti.

“Ap… apa yang hendak kau lakukan?” tanyanya dengan terputus-putus.

“Sssstt, jangan bersuara!” tiba-tiba Siau-hi-ji membisiki telinganya.

Sekujur badan Samkohnio menjadi lemas seperti tak bertulang lagi, katanya dengan tergagap, “Aku… aku ti… tidak mau....” Di mulut dia pura-pura tidak mau, tapi badan tidak bergerak sama sekali, bahkan mata pun sudah terpejam.

Kalau anak perempuan sudah memejamkan matanya, itu tandanya sudah terserah apa yang hendak kau lakukan atas dirinya.

Siapa tahu Siau-hi-ji ternyata tidak melakukan sesuatu tindak lanjut lagi, malahan ia terus bangkit berdiri dan menarik napas lega, katanya, “Wah, sungguh berbahaya! Baru saja ada Ya-heng-jin (orang yang lewat pada waktu malam) di atas rumah, apakah kau tidak mendengarnya?”

Buset! Jadi Samkohnio tadi hanya salah wesel dan menghayalkan akan terjadinya “sesuatu”.

Seketika Samkohnio melenggong dalam kegelapan, darah seluruh badannya serasa tersedot habis sekaligus, hatinya terasa kosong blong. Ia termangu-mangu agak lama, dengan hampa kemudian ia berkata, “Aku... aku tidak mendengar apa-apa.”

Siau-hi-ji berpikir sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Hoa-kongcu yang kau maksudkan itu bukankah mempunyai seorang teman yang keracunan?”

“Dari mana kau tahu?” tanya Samkohnio.

“Apabila dia memiliki kepandaian setinggi itu, mengapa temannya sampai diracun orang?”

“Petang kemarin,” demikian tutur Samkohnio, “Hoa-kongcu itu bersama Kang…Kang Piat-ho keluar bersama, hanya nona Thi saja yang berada di kamar tamu, pada waktu itulah ada orang mengantarkan sesuatu oleh-oleh untuk Hoa-kongcu dan nona Thi sendiri yang menerimanya, di antara oleh-oleh itu ada makanan kecil, mungkin nona Thi telah mencicipi sedikit makanan itu dan akibatnya keracunan.”

“Siapa yang mengirim oleh-oleh itu?”

“Oleh-oleh itu langsung diterimakan kepada nona Thi, orang lain tidak ada yang tahu.”

“Masakah nona Thi itu tidak menjelaskan?”

“Waktu Hoa-kongcu pulang, nona Thi sudah pingsan keracunan dan tak dapat bicara lagi.”

“Mengapa dia begitu ceroboh dan sembarangan makan barang antaran orang lain?” ucap Siau-hi-ji dengan mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, lalu dia berkata pula, “Ya, mungkin pengirim oleh-oleh itu adalah kenalannya yang dipercayainya, makanya tanpa sangsi dia makan begitu saja. Tapi…orang yang dipercaya mengapa pula meracuni dia?”

Samkohnio menghela napas, katanya, “Nona Thi itu sungguh cantik dan lemah lembut, dia dan Hoa-kongcu benar-benar suatu pasangan yang sangat setimpal. Kalau sampai nona Thi tidak tertolong, sungguh suatu hal yang sangat harus disesalkan.”

“Kau... kau bilang dia dan Hoa…” sedapatnya Siau-hi-ji menggereget menahan perasaan hatinya.

“Mereka sungguh saling menyayang dan membuat kagum setiap orang yang melihatnya,” tutur Samkohnio. “Lebih-lebih Hoa-kongcu, boleh dikatakan dia menuruti segala kehendak nona Thi itu, ya menyanjungnya, ya meladeninya, ya....”

Mata Siau-hi-ji serasa gelap, dada hampir meledak, tanpa terasa ia berteriak, “Benci aku!”

“Sia… siapa yang kau benci?” tanya Samkohnio.

“O, kumaksudkan… orang yang meracuninya itu,” jawab Siau-hi-ji.

“Sampai saat ini Hoa-kongcu dan Kang Piat-ho belum lagi mengetahui siapa yang meracunnya itu.”

Mendadak Siau-hi-ji tergelak-gelak, “Hahaha, begitu kasih sayang Hoa-kongcu padanya, tapi… tapi dia tak mampu menyelamatkan jiwanya… hahaha… hehe....”

Melihat cara tertawa Siau-hi-ji rada aneh, dengan heran Samkohnio lantas tanya, “Kenapa kau ini?”

“O, aku tidak apa-apa, aku sangat gembira, belum pernah aku segembira seperti sekarang ini,” jawab Siau-hi-ji.

Samkohnio menunduk, katanya, “Berada bersama… bersamaku kau betul-betul merasa gembira?”

Tampaknya dia salah terima lagi, disangkanya Siau-hi-ji benar-benar naksir padanya.

Sejenak Siau-hi-ji terdiam, mendadak ia tarik tangan Samkohnio pula dan berkata, “Sekarang ingin kumohon sesuatu padamu, apakah engkau dapat menerimanya?”

Muka Samkohnio merah pula, jantungnya berdetak lebih keras, napasnya agak sesak, dengan kepala tertunduk dia menjawab, “Apa pun yang kau minta padaku pasti akan kusanggupi.”

“Kumohon kau suka mengantar aku keluar dari sini dan jangan sampai diketahui orang lain,” ucap Siau-hi-ji dengan girang.

Kembali hati Samkohnio serasa kosong blong, malahan juga seperti kena dicambuk satu kali, seketika ia melenggong kesima.

Entah sudah berapa lamanya, akhirnya ia berkata dengan suara terputus-putus, “Apakah sekarang juga kau hendak... hendak pergi?”

“Ya, makin cepat makin baik,” ucap Siau-hi-ji.

Perlahan Samkohnio berbangkit sambil menghela napas, “Baiklah, akan kuantar kau keluar.”

“Terima kasih banyak-banyak,” Siau-hi-ji tertawa.

Di luar dugaannya mendadak Samkohnio terus berteriak, “Tolong... tolong, di sini ada penjahat.”

Seketika wajah Siau-hi-ji menjadi pucat, ia mencengkeram tangan Samkohnio dan berkata, “Ap... apa maksudmu ini?”

Samkohnio tidak menjawab. Dalam pada itu terdengar suara berkibarnya kain baju, tahu-tahu Kang Piat-ho sudah berada di luar dan sedang bertanya di mana penjahat yang dimaksud? Datangnya sungguh cepat luar biasa. Keruan Siau-hi-ji terkejut, ya gemas, ya dongkol.

“Perempuan, dasar perempuan! Hanya demi untuk menahanku di sini, dia tidak sayang mengorbankan diriku. Sejak mula juga kutahu perempuan adalah bibit penyakit, mengapa aku masih percaya padanya?”

Begitulah Siau-hi-ji berpikir, ia telah bertekad akan menerjang keluar dengan mati-matian, jika perlu.

Tak tersangka Samkohnio lantas berseru, “Baru saja kulihat bayangan seorang seperti lari ke tempat tinggal nona Thi.”

Belum lenyap suaranya, segera Hoa Bu-koat berteriak, “Wah celaka! jangan-jangan kita tepedaya oleh akal ‘memancing harimau meninggalkan gunung’ bangsat itu. Lekas kita ke sana!” Menyusul mana lantas terdengar angin berkesiur, hanya sekejap saja kedua orang itu sudah pergi jauh.

Siau-hi-ji menghela napas lega, ucapnya dengan meringis, “Sungguh engkau membikin kaget padaku.”

“Jangan khawatir, aku takkan membikin susah padamu,” kata Samkohnio dengan tenang.

“Tapi engkau telah....”

“Aku sengaja berteriak memancing kepergian mereka agar dapat membantumu keluar dengan leluasa,” Samkohnio terus ambil sebuah mantel dan dilemparkan pada Siau-hi-ji, katanya pula, “Pakai dan kubawa kau keluar.”

Entah bagaimana perasaan Siau-hi-ji, ia hanya bergumam, “Perempuan…sungguh aku pun tidak jelas makhluk apakah sebenarnya perempuan?”

“Kau bilang apa?” tanya Samkohnio.

“O, tidak, kubilang…engkaulah anak perempuan yang paling jujur yang pernah kukenal.”

Samkohnio tertawa, katanya, “Jika benar aku ini jujur tentu aku takkan menggunakan akal ini.”

“Makanya aku merasa anak perempuan itu sangat aneh, anak perempuan yang paling jujur terkadang juga main tipu, anak perempuan yang paling licin terkadang justru sangat bodoh.”

Untung perawakan Samkohnio tinggi besar, mantelnya bagi Siau-hi-ji terasa cocok juga, dengan langkah lebar cepat mereka keluar.

Meski di halaman juga ada peronda, tapi demi melihat Samkohnio mereka lantas menunduk dan memberi hormat, siapa pun tiada yang berani bertanya.

Samkohnio membawa Siau-hi-ji ke pintu samping, ia membuka pintu dan berpaling, di bawah sinar bintang yang redup itu terlihat wajah Siau-hi-ji yang bandel, binal, tapi juga penuh daya tarik itu.

Samkohnio menghela napas perlahan, katanya kemudian, “Apakah kau akan…akan datang menjenguk aku lagi?”

“Ya, aku pasti akan datang lagi, hari ini juga....” sembari bicara anak muda itu terus lari pergi dengan cepat.

Dengan termangu-mangu Samkohnio memandangi bayangan Siau-hi-ji. Timbul semacam perasaan aneh, entah pilu entah girang, semacam perasaan yang selama ini tidak pernah dirasakannya.

Sekarang Samkohnio telah menjadi seorang perempuan yang sempurna, sebab apa yang dia rasakan sekarang hanya timbul pada anak perempuan yang sedang rindu. Perempuan yang belum pernah mengalami perasaan begini pada hakikatnya belum terhitung sebagai perempuan.

Malam sudah larut, waktu yang paling sunyi di tengah kota, jalan raya sepi tiada seorang pun, cepat Siau-hi-ji lari pulang ke rumah obat.

Sampai di jalan itu, samar-samar sudah kelihatan papan merek “Ging-ih-tong”, langkah Siau-hi-ji lantas dilambatkan.

Seperti seekor anjing pelacak, hidung Siau-hi-ji mengendus ke kanan dan ke kiri, matanya celingukan kian kemari. Tiba-tiba ia berjongkok dan mengawasi sesuatu, lalu bergumam, “Ya, ini dia....”

Dilihatnya di atas jalanan balok batu yang mengkilap itu ada sedikit bubuk obat, beberapa kaki di depan sana masih terdapat lagi bubuk obat serupa. Dengan menggunakan indera matanya Siau-hi-ji terus melacak sepanjang jalan.

Kiranya semalam dia menyambit dengan batu pada bungkusan obat yang diborong kedua lelaki itu justru berharap obat-obat itu akan bocor keluar. Dengan petunjuk obat bocoran itu maka dengan sendirinya ia pun akan menemukan ke arah mana bungkusan obat-obat diantar.

Meski masih muda belia, namun cara kerja Siau-hi-ji sangat cermat, bukan saja dia sudah menyiapkan jalur petunjuk ini, bahkan ia pun sudah memperhitungkan di malam sunyi begini, di jalanan yang sepi dengan orang berlalu lalang ini bubuk obat yang berserakan pasti tidak akan terinjak hilang.

Begitulah ia terus melacak ke depan, sampai akhirnya ia tidak perlu lagi berjongkok dan memeriksa, cukup dengan bau obat yang terembus angin malam yang sejuk itu dan pasti takkan salah alamat lagi.

Setelah sekian lamanya, jalanan makin lama makin terpencil dan sepi, tertampak di depan ada sebuah kolam, air beriak kemilau, di tepi kolam ada papan kayu yang bertulis, “Kolam ikan keluarga Tio, dilarang keras memancing di sini”.

Diam-diam Siau-hi-ji membatin, “Kolam sebesar ini ternyata milik pribadi, tampaknya keluarga Tio ini selain kaya tentu juga berpengaruh.”

Tertampak tak jauh di seberang kolam sana memang ada sebuah perkampungan dengan rumah yang berderet-deret. Walau pun tidak semegah perkampungan tempat kediaman Toan Hap-pui, tetapi dibangun membelakangi bukit dan menyebelah kolam, kelihatannya menjadi sangat megah.

Dan bungkusan obat-obat itu ternyata diantar ke arah perkampungan ini.

Siau-hi-ji ragu-ragu, ia coba memandang sekelilingnya, di tengah malam sunyi di tengah perkampungan itu ternyata masih ada cahaya lampu, pintu gerbang yang bercat hitam juga ada sebuah papan.

“Thian-hiang-tong, Te-leng-ceng, Tio”, demikian tulisan di papan itu, artinya kolam Thian-hiang, perkampungan Te-leng, keluarga she Tio.

Siau-hi-ji membatin, “Melihat lagaknya, keluarga Tio ini tidak saja kaya dan berpengaruh, bahkan pasti juga tokoh kalangan Kangouw. Di tengah malam buta mereka belum tidur, rasanya bukan sedang berbuat sesuatu yang baik.”

Setelah mengincar baik-baik keadaan sekitarnya, Siau-hi-ji lantas melompat ke dalam perkampungan itu.

Pada dasarnya Siau-hi-ji memang pemberani, akhir-akhir ini ilmu silatnya maju pesat pula, tentu saja ia meremehkan segala sesuatu, langsung ia menuju ke tempat yang bercahaya lampu.

Itulah sebuah ruangan duduk. Siau-hi-ji merunduk maju sampai di bawah emper, dengan air ludah dia membasahi kertas penutup jendela dan membuat sebuah lubang kecil. Tertampak di tengah ruangan sedang duduk empat orang lagi minum arak.

Ruangan duduk ini dengan sendirinya juga teratur sangat indah, hidangan di atas meja juga kelas tinggi, semuanya ini tidak diteliti oleh Siau-hi-ji, pada hakikatnya ia malah tidak menaruh perhatian.

Yang diincarnya justru pada sudut kiri ruangan itu, di pojok sana penuh tertimbun bungkusan obat-obat sejenis Kuici, Lengka, Himta dan sebagainya.

Terdengar seorang di antaranya sedang bicara, “Betapa pun juga saudara bertiga sudah berkunjung kemari, sungguh suatu kehormatan besar bagi Cayhe, marilah kusuguh pula kalian secawan!”

Orang ini duduk di bagian tuan rumah, tinggi kurus, bermuka lonjong seperti kuda, hidung besar mirip paruh kakak tua, pelipisnya menonjol, sorot matanya tajam, tampaknya berwibawa.

Diam-diam Siau-hi-ji menduga orang ini tentu tuan rumah she Tio.

Segera terdengar seorang menanggapi dengan tertawa, “Ucapan Tio-cengcu ini entah sudah diulang beberapa kali dan arak juga entah disuguh berapa cawan, kalau Tio-cengcu masih sungkan-sungkan begini sungguh kami bersaudara akan merasa tidak tenteram.”

“Padahal kami bersaudara dapat menjadi tetamu Tio-cengcu, inilah yang benar-benar suatu kehormatan bagi kami,” ucap orang ketiga. “Sepantasnya kami yang mesti menyuguh secawan, kepada Tio-cengcu.”

Kedua orang tamu yang bicara ini mempunyai rupa yang sama, sama-sama berwajah bundar dan gemuk. Waktu tertawa matanya menyipit hingga tidak kelihatan biji matanya, cara bicaranya ramah tamah, bentuk mereka seperti pinang dibelah dua.

Diam-diam Siau-hi-ji merasa geli, “Kedua orang gemuk ini ternyata dicetak dari suatu klise yang sama. Meski banyak juga saudara kembar di dunia ini, tapi bentuknya yang benar-benar serupa seperti kedua orang ini tidaklah banyak.”

Ia tidak kenal ketiga orang tamu Tio-cengcu ini, ia lebih-lebih tidak tahu mengapa mereka meracuni Thi Sim-lan.

Selagi menimang-nimang, mendadak dilihatnya orang keempat itu menoleh. Orang ini rambut dan jenggotnya sudah beruban, sikapnya angker, ternyata bukan lain dari pada Thi Bu-siang yang berjuluk “Ay-cay-ji-beng”.

Melihat orang ini, Siau-hi-ji benar-benar terperanjat. Kiranya yang menaruh racun ialah Thi Bu-siang, sungguh sukar dibayangkan olehnya.

Pantas Thi Sim-lan percaya penuh dan tanpa sangsi makan panganan yang diantarkan padanya itu, “Ay-cay-ji-beng” Thi Bu-siang, dengan sendirinya setiap orang persilatan percaya penuh pada nama tokoh besar ini. Sungguh tidak nyana Thi Bu-siang sama dengan Kang Piat-ho, juga manusia munafik yang lahirnya berbudi tapi hatinya berbisa.

Tapi mengapa dia meracuni Thi Sim-lan?

Sesaat itu pikiran Siau-hi-ji telah bekerja keras, ia terkejut dan curiga, ia benar-benar tidak percaya, tapi bukti tertampang di depan mata.

Dilihatnya Tio-cengcu itu sedang sibuk menuangkan arak, ia angkat cawan dan mengajak minum, katanya dengan tertawa, “Kalian bersaudara dan Thi-loenghiong adalah ksatria jaman ini, apa kepintaran dan kebaikanku Tio Hiang-leng sehingga mendapat perhatian kalian, mari, marilah, biar Cayhe menyuguh pula kalian secawan.”

Kedua saudara kembar gemuk itu lantas angkat cawan masing-masing, tapi Thi Bu-siang tidak bergerak sama sekali.

Si gemuk yang duduk di sebelah kiri segera menanggapi dengan tertawa, “Kami bersaudara adalah angkatan muda dunia Kangouw, tergolong Bu-beng-siau-cut (prajurit tak bernama, artinya kaum keroco), mana kami berani disejajarkan dengan Thi-locianpwe. Apabila tiada undangan Tio-cengcu, mana kami sesuai ikut minum arak bersama Thi-locianpwe.”

Yang seorang juga lantas menukas, “Betul, jika kawan-kawan Kangouw mendengar bahwa kami Lo Sam dan Lo Kiu dapat duduk bersama Thi-locianpwe dan ikut minum arak, sungguh entah betapa rasa kagum mereka.”

Mendadak Thi Bu-siang bergelak tertawa, katanya sambil angkat cawan, “Ah, kalian terlalu rendah hati, apa pun juga aku bukan orang tuli, pernah kudengar nama kebesaran Lo-si-hengte (persaudaraan Lo) di dunia Kangouw yang konon berbudi luhur, haha…haha, untuk itu biarlah kuhormati kalian bersaudara satu cawan.”

Diam-diam Siau-hi-ji mengernyitkan dahi, pikirnya, “Thi Bu-siang menganggap dirinya tokoh luar biasa, ternyata juga tidak tahan oleh sepatah dua kata sanjung puji saja. Kedua saudara Lo ini pintar mengumpak dan menjilat, agaknya mereka pun bukan manusia baik-baik.”

Dalam pada itu terdengar Tio Hiang-leng lagi berkata dengan tertawa, “Ah, kalian bertiga tidak perlu rendah hati, bahwasanya Thi-locianpwe jelas dikagumi oleh setiap orang, tapi kedua saudara Lo kan juga ksatria jaman kini.” Lalu dia berpaling dan bicara pada Thi Bu-siang, “Mungkin Thi-locianpwe belum mengetahui bahwa kedua saudara Lo meski baru saja muncul di dunia Kangouw, tapi sekali turun tangan mereka lantas mengalahkan tujuh jagoan di Thay-ouw serta merobohkan lima tokoh di Soatang, lalu di Thay-heng-san mengobrak-abrik delapan belas kawanan bandit, semua ini telah menggemparkan dunia Kangouw.”

“Sungguh aneh, kejadian begitu, mengapa tak kuketahui,” ucap Thi Bu-siang.

“Agaknya Thi-locianpwe tidak paham kedua saudara Lo memang tidak suka menonjolkan diri, apa pun juga yang mereka lakukan sengaja tidak disiarkan, budi luhur begini sungguh jarang ada bandingannya,” demikian tutur Tio Hiang-leng.

“Bagus, bagus, sahabat begini harus kuikat dengan baik,” ucap Thi Bu-siang dengan tertawa. “Cuma…eh, kalian pasti saudara sekandung kembar, mengapa yang seorang berurutan Sam (tiga) dan yang lain Kiu (sembilan)?”

“O, nama kami hanya memakai angka hitungan, jadi tiada sangkut-pautnya dengan nomor urut tua dan muda,” jawab Lo Sam dengan tertawa.

“Padahal aku adalah saudara tua dan dia saudara muda,” sambung Lo Kiu.

“Haha, sungguh aneh dan lucu,” seru Thi Bu-siang tertawa, “Setiap orang yang tahu nama kalian pasti tidak percaya yang bernama Kiu adalah kakak dan yang bernama Sam malah si adik.” Setelah merandek sejenak, lalu katanya pula, “Kalian begini lihai, entah berasal dari perguruan mana? Dan entah mengapa pula sedemikian lambat kalian tampil di depan umum? Baru tiga tahun yang lalu mulai kudengar nama kalian.”

“Kami gemar ilmu silat sejak kecil,” jawab Lo Kiu, “Makanya suka berlatih beberapa jurus cakar kucing di rumah, jadi tiada perguruan segala. Sampai berumur empat puluh mendiang ibu kami masih hidup, kami bersaudara tidak berani pergi jauh, baru setelah ibu wafat kami berani keluar.”

“Tak nyana kalian selain ksatria juga anak berbakti,” ucap Thi Bu-siang dengan gegetun.

“Ah, mana berani dipuji begitu,” kata Lo Sam.

“Mengingat kalian mampu malang-melintang ke sana sini sejak keluar rumah, jika kalian tidak mendapatkan didikan guru ternama, sungguh sukar dipercaya,” kata Thi Bu-siang pula.

“Di depan Locianpwe masakah kami berani berdusta,” ujar Lo Kiu.

“Jika begitu, kalian boleh dikatakan bakat yang sukar dicari, ilmu silat ciptaan sendiri ternyata lebih hebat, entah kalian sudikah mempertunjukkan sejurus dua bagiku?”

“Mana kami berani pamer di depan tokoh besar seperti Thi-locianpwe,” kata Lo Sam.

“Jika kalian tidak sudi, sungguh aku akan tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur.”

“Tapi Wanpwe benar-benar tidak berani,” jawab Lo Kiu dengan tertawa.

“Kalian harus memberi muka kepadaku, memangnya kalian tidak menghargai permintaanku?” kata Thi Bu-siang dengan sungguh-sungguh.

Cepat Thio Hiang-leng menyela, “Thi-locianpwe berjuluk ‘Ai-cay-ji-heng’ dan terkenal menyukai setiap orang muda berbakat, bisa jadi beliau menjadi tertarik oleh bakat kalian bersaudara, maka kalian janganlah mengecewakan keinginan Thi-locianpwe.”

Lo Sam menyengir, jawabnya, “Masakah Tio-cengcu juga....”

“Bicara terus terang, Cayhe memang juga ingin melihat pertunjukan kalian yang pasti menarik,” ucap Tio Hiang-leng.

“Jika begitu, terpaksa kami harus menurut,” kata Lo Kiu sambil berbangkit.

Meski badan kedua Lo bersaudara ini sangat gemuk, tapi juga sangat tinggi. Mereka terus menyingsing baju dan mulai “main” di ruangan tamu ini.

Maka bukan cuma Tio Hiang-leng dan Thi Bu-siang yang mengikutinya dengan cermat, bahkan Siau-hi-ji yang mengintip di luar jendela juga melotot, ia pun ingin tahu sampai di manakah taraf ilmu silat kedua Lo bersaudara itu dan berasal dari aliran mana.

Terlihat permainan silat kedua Lo bersaudara itu memang sedap dipandang, Lo Kiu memainkan ilmu pukulan Siang-poan-ciang, sedangkan Lo Sam main ilmu pukulan Tay-heng-kun. Tampaknya memang tangkas, kuda-kudanya kuat, namun bagi kaum ahli jelas ilmu silat mereka itu cuma sedap dipandang dan tidak enak dimakan, artinya cuma ilmu silat kembangan belaka, ilmu silat mereka ini pada hakikatnya sangat umum, bahkan kusir dokar atau kuli tepi jalan terkadang juga dapat main.

Thi Bu-siang seperti terkesima mengikuti permainan kedua Lo bersaudara itu, tapi bukannya kesima kagum akan lihainya ilmu silat mereka, sebaliknya heran akan rendahnya kepandaian mereka.

Selesai main, tampaknya muka kedua Lo bersaudara rada merah, mereka memberi hormat dan berkata dengan rendah hati, “Mohon Thi-locianpwe suka memberi petunjuk.”

“Oo… ehm....” Thi Bu-siang tidak menanggapi dan tiada komentar.

“Ilmu silat kedua saudara Lo sungguh teramat kuat, entah bagaimana pendapat Thi-locianpwe?” Tio Hiang-leng bertanya dengan tertawa.

“Ehm, be... betul, betul,” kata Thi Bu-siang. Walau pun begitu ucapnya, namun tidak dapat menutupi nadanya yang merasa kecewa, dia benar-benar tidak tertarik lagi oleh kedua orang gemuk itu.

Akan tetapi Siau-hi-ji justru sangat tertarik oleh kedua orang itu. Pikirnya, “Kedua orang ini pintar dan cerdik, mahir menyembunyikan sesuatu tanpa kelihatan pada lahirnya, sampai-sampai jago kawakan Kangouw seperti Thi Bu-siang juga kena dikelabui dan tak dapat melihat bahwa ilmu silat mereka sebenarnya tidak terbatas begitu saja. Tindakan mereka itu tidak saja menyembunyikan asal usul ilmu silat sendiri, bahkan juga menghilangkan rasa curiga orang lain sehingga tidak menaruh waswas kepada mereka. Jelas mereka lebih suka dianggap rendah oleh orang lain, sungguh suatu pikiran yang licin, betapa pun aku harus waspada terhadap orang macam begini.

Biar pun Siau-hi-ji sudah dapat menerka ada sesuatu muslihat yang tersembunyi di balik kerendahan hati kedua orang gemuk itu, tetapi ia pun tak dapat mengetahui dengan pasti akal busuk apa yang mereka atur. Dan dengan sendirinya pula ia tak dapat menerka asal usul mereka.

Tadi ia bermaksud menerjang ke dalam untuk mengambil obat, kini demi melihat kelicinan kedua orang gemuk itu, seketika ia menjadi ragu-ragu.

Terdengar Tio Hiang-leng sedang angkat cawan dan berkata pula, “Malam ini pasti kita tak dapat tidur karena diributkan oleh peristiwa tak terpecahkan itu, namun barusan dapat menyaksikan kehebatan kedua saudara Lo serta dapat mengiringi Thi-locianpwe minum semalam suntuk, sedikitnya terhibur juga rasa kesal semula.”

Diam-diam Siau-hi-ji jadi heran, entah apa “peristiwa tak terpecahkan” yang dimaksud Tio Hiang-leng?

Pada saat itulah di luar perkampungan tiba-tiba berkumandang suara ringkik kuda dan roda kereta. Serentak Thi Bu-siang berbangkit dan berseru, “Jangan-jangan telah datang pula!” Habis berkata, secepat terbang ia terus menerobos keluar.

Di luar perkampungan memang betul telah datang sebuah kereta kuda, waktu pintu gerbang dibuka, kereta itu langsung dilarikan ke dalam, tapi di atas kereta tiada nampak seorang penghela pun.

Tio Hiang-leng lantas memerintahkan centingnya menurunkan muatan kereta itu, begitu bungkusan muatan itu dibuka, serentak terendus bau obat-obatan. Ternyata isi bungkusan-bungkusan itu adalah Kuici, Bakui, Lengka, dan Himta....

Siau-hi-ji dapat melihatnya dengan jelas, kembali ia terkejut.

Di bawah cahaya lampu kelihatan air muka Tio Hiang-leng dan Thi Bu-siang juga berubah.

“Urusan apa-apaan ini? Semalaman berturut-turut beberapa kali tanpa sebab mengantar obat sebanyak ini ke sini, apakah ada orang sengaja bergurau denganku atau sengaja hendak main gila padaku?” demikian omel Tio Hiang-leng.

“Semua bahan obat-obatan ini berharga mahal, siapa yang mau bergurau dengan menggunakan benda berharga begini?” ujar Thi Bu-siang.

“Bagaimana kalau menurut pendapat Locianpwe?” tanya tuan rumah.

“Di balik urusan ini bukan mustahil ada sesuatu tipu muslihat keji,” kata Thi Bu-siang setelah berpikir sejenak.

“Tapi obat-obatan ini bukanlah racun melainkan obat kuat malah, dengan mengantar obat-obatan ini rasanya juga tiada maksud jahat,” kata Tio Hiang-leng. “Apakah barangkali Lo-heng dapat menerka apa sebabnya?”

“Thi-locianpwe berpengalaman luas dan berpengetahuan tinggi, apa yang diucapkannya pasti beralasan,” ujar Lo Kiu dengan tertawa.

“Betul, kalau tokoh seperti Thi-locianpwe tak dapat menerkanya, apa lagi kami bersaudara ini?” dengan tertawa Lo Sam menambahkan.

“Sesungguhnya aku pun merasa bingung,” ucap Thi Bu-siang.

Meski dia merasa bingung, namun Siau-hi-ji sudah tahu jelas duduknya perkara. la membatin, “Bagus sekali, kiranya kalian sengaja mengatur tempat tukang tadahnya, kalian mengantar obat-obatan itu ke sini agar Hoa Bu-koat menyangka yang menaruh racun ialah Thi Bu-siang, rupanya kalian memakai tipu ‘timpuk batu sembunyi tangan’. Cuma sayang persoalan ini kebetulan kepergok olehku, maka apeslah kalian.”

Setelah berpikir dan mendapat akal, diam-diam ia lantas meninggalkan perkampungan keluarga Tio ini.....
*** ***
Note 22 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hidup itu sederhana, kita yang membuatnya sulit."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 04"

Post a Comment

close