coba

Bakti Pendekar Binal Jilid 03

Mode Malam
Dalam pada itu terdengar suara ringkik kuda, ringkik kuda yang berjingkrak kaget bila mana sedang lari cepat dan mendadak dihentikan. Benar juga, habis itu suara derap kaki kuda lantas lenyap. Jelas kuda-kuda itu sudah berhenti di depan Ging-ih-tong.

Menyusul itu lantas terdengar suara pintu digedor dengan keras, seorang berteriak, “He, buka pintu, lekas buka, kami ingin beli obat, ada orang sakit keras.”

Suaranya yang nyaring keras itu memang penuh rasa cemas dan gelisah.

Dengan sendirinya pegawai yang tidur di bagian depan lantas terjaga bangun, maka suara gerundelan dan suara desakan menjadi bercampur aduk dengan suara berkeriutnya pintu terbuka.

Siau-hi-ji bergumam sendiri, “Kalau dugaanku tidak keliru, bahan-bahan obat yang hendak dibeli orang ini pasti Kuici, Bakkui, Lengka, Himta dan sebagainya, sama seperti apa yang diborong orang tadi.”

Dan dugaannya ternyata tidak meleset, segera terdengar suara kasar tadi lagi berteriak, “Kami minta Kuici, Bakkui, Lengka, Himta... masing-masing tiga kati. Lekas bungkuskan! Penting, orang sakit keras!”

Sudah barang tentu pegawai Ging-ih-tong itu melengak heran, kenapa pembeli obat yang datang berturut-turut ini membeli obat yang sama. Maka dengan sendirinya dijawabnya obat-obat itu tidak ada, sudah habis.

Dengan sendirinya orang yang bersuara kasar tadi bertambah gelisah dan cemas, bahkan terus mengomel, “Rumah obat sebesar ini, masakah obat-obat begitu juga tidak ada?”

Perawakan orang ini tinggi besar, sorot matanya tajam, namun merah beringas, tentu saja pegawai toko obat menjadi takut, terpaksa ia memberi penjelasan, “Rumah obat tua dan besar seperti toko kami ini dengan sendirinya mempunyai persediaan obat yang lengkap, cuma sayang dan sangat kebetulan, beberapa macam yang tuan kehendaki ini baru dua-tiga jam yang lalu diborong habis oleh pembeli lain, sebaiknya tuan coba mencari ke rumah obat yang lain saja.”

Diam-diam Siau-hi-ji mendekati dan mengintip dari celah-celah pintu, dilihatnya dahi lelaki kekar itu berkeringat saking gelisahnya, berulang-ulang ia mengomel pula, “Mengapa begini kebetulan. Masa belasan rumah obat di kota ini semuanya kehabisan beberapa macam obat ini?!”

Terlihat pula di luar pintu toko yang setengah terbuka itu menunggu seorang lelaki lain dengan menuntun dua ekor kuda, mulut kuda tampak berbusa, jelas kuda itu baru saja berlari jauh. Ada lagi seorang dengan kudanya berdiri rada jauh di sana.

Di bawah sinar bintang yang remang-remang kelihatan penunggang kuda itu memakai ikat kepala hitam, rambut panjang terurai, kiranya orang ini adalah perempuan.

Sambil membawa lilin, pegawai toko bermaksud mengantar pergi tetamunya, maklumlah dia masih ngantuk dan ingin tidur lagi.

Mendadak cahaya lilin berkelebat, perempuan baju hitam, yang menunggang kuda itu tahu-tahu sudah berada di depan pegawai toko obat itu, sorot matanya setajam sembilu.

Si pegawai terkejut dan mundur sempoyongan, tangannya ketetesan cairan lilin yang panas sehingga dia lepaskan pegangannya, tatakan lilin terus jatuh ke bawah.

Tapi tatakan lilin itu tidak jatuh ke lantai, entah cara bagaimana sudah berada di tangan perempuan baju hitam. Lilin pun tidak padam dan api lilin menyinari wajahnya yang putih pucat itu.

Dengan tajam perempuan itu menatap si pegawai, tanyanya dengan kata demi sekata, “Obat-obatan ini apakah dibeli oleh satu orang saja?”

“Ya, oh... bukan… dibeli dua orang!” jawab si pegawai dengan suara gemetar dan wajah ketakutan.

“Orang macam apa dan siapa mereka?” suaranya semula perlahan, namun mendadak berubah menjadi melengking cepat penuh rasa, dendam dan benci seakan-akan dengan sekali tikam ia ingin membinasakan orang yang disebut si pegawai itu.

Keruan pegawai toko itu bertambah ketakutan, jawabnya dengan gelagapan, “Entah… entahlah… kami cuma berdagang, mana berani sembarang tanya asal usul langganan?”

Perempuan baju hitam ini masih menatapnya dengan tajam tanpa berkedip seakan-akan ingin menyelami apa yang dikatakan pegawai itu sebenarnya betul atau bohong.

Padahal di bawah tatapan sinar mata yang tajam begitu siapa pula yang berani berdusta?

Kaki pegawai itu terasa lemas, untunglah perempuan baju hitam itu lantas lari keluar terus mencemplak ke atas kudanya dan dilarikan terlebih cepat dari pada datangnya tadi, suara derapan kaki kuda itu pun semakin menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi.

Malam, kembali hening pula, angin masih mendesir dan mengaburkan secarik kertas di jalan raya.

Pegawai toko obat itu seperti habis bermimpi saja, waktu dia menunduk, terlihat tatakan Iilin justru tertaruh di depan kakinya, dengan sendirinya ini bukan mimpi, cepat ia berjongkok dan mengangkat lagi tatakan lilin itu… Mendadak api lilin bergoyang, pegawai itu terkejut pula dan tatakan lilin itu tahu-tahu disambar oleh sebuah tangan.

Dengan terkejut pegawai toko obat itu berpaling dan yang terlihat ialah Siau-hi-ji.

Tangan Siau-hi-ji memegang tatakan lilin itu, sedangkan matanya memandang jauh ke sana sambil bergumam, “Tak tersangka… sungguh tak tersangka dia adanya!”

Mata si pegawai toko obat terbelalak lebar, tanyanya, “Kau kenal perempuan tadi?”

“Tentu saja kukenal dia,” jawab Siau-hi-ji dengan tersenyum.

“Dia…dia siapa?” tanya si pegawai.

“Dia bernama Ho-loh, seorang pelayan Ih-hoa-kiong…meski kuberitahukan semua ini juga kau tidak paham,” ujar Siau-hi-ji. Mendadak ia melompat perlahan, sebelah tangannya meraih kertas yang melayang-layang di udara tertiup angin tadi.

Dilihatnya di atas kertas itu tertulis nama rumah obat.

Pegawai toko obat itu pun melongok ingin tahu apa yang tertulis di kertas itu, segera ia pun bergumam, “Semua rumah obat di dalam dan luar kota ternyata tercantum pada kertas ini.”

“Kertas ini telah dibuang olehnya, jelas karena setiap rumah obat sudah didatanginya dan tetap tidak berhasil membeli obat-obat yang diperlukannya itu,” kata Siau-hi-ji.

“Aneh, mengapa dia terburu-buru ingin membeli beberapa macam obat yang aneh ini?”

“Dengan sendirinya lantaran di rumah mereka ada orang sakit aneh yang memerlukan obat-obat ini.”

“Lalu penyakit apakah itu? Kenapa memerlukan obat-obat yang istimewa ini,” gumam si pegawai. Kemudian ia tanya Siau-hi-ji, “Tak pernah kudengar akan penyakit aneh begini, pernahkah kau mendengarnya?”

Tapi waktu dia menoleh, tatakan lilin sudah tertaruh di lantai dan Siau-hi-ji sudah tidak tampak lagi.

Di tengah malam sunyi, sayup-sayup derapan kaki kuda masih terdengar, setelah berlari cepat melalui beberapa jalan samar-samar Siau-hi-ji dapat melihat ketiga ekor kuda yang dilarikan cepat tadi. Betapa pun cepat lari kuda-kuda itu ternyata tidak lebih cepat dari pada Ginkang Siau-hi-ji yang kini telah mencapai taraf yang sukar dilukiskan.

Kuda-kuda itu lari di jalan raya, sedangkan Siau-hi-ji melayang-layang di atas rumah, dari wuwungan satu ke wuwungan rumah yang lain. Diam-diam ia pun bertanya di dalam hati, “Untuk apa Ho-loh terburu-buru membeli beberapa macam obat itu? Jangan-jangan ada orang yang kena racun yang mahapanas atau mahadingin? Masakah racun demikian tak dapat ditawarkan dengan obat mujarab yang dimiliki Ih-hoa-kiong?”

Setelah berpikir lagi, ia menjadi bimbang, batinnya, “Orang yang menaruh racun rupanya sudah tahu mereka pasti akan mencari beberapa macam obat penawar racun ini, makanya lebih dulu beberapa macam obat yang berada di semua rumah obat itu diborongnya hingga habis, ini menandakan bahwa pemberi racun itu bertekad ingin membinasakan sasarannya itu…Sungguh keji pemberi racun itu? Entah siapa dia? Lalu siapa pula yang diracuninya? Apakah Hoa Bu-koat?!”

Begitulah Siau-hi-ji terus berpikir bolak-balik dan entah pula girang atau khawatir perasaannya.

Setelah dilarikan sekian lama, ketiga ekor kuda tadi mendadak berhenti di depan sebuah dinding yang tinggi, dinding itu ada sebuah pintu kecil, rupanya sebuah pintu belakang.

Pintu itu tidak dipalang dari dalam, maka begitu Ho-loh melompat turun dari kudanya segera ia menolak pintu dan masuk ke situ.

Dengan tangkas dan enteng saja Siau-hi-ji melayang ke atas dinding yang tinggi itu terus meluncur ke sana, begitu cepat gerakannya sehingga kedua lelaki di bawah itu sama sekali tidak tahu.

Di balik dinding tinggi itu adalah sebuah halaman luas dengan taman, ada jembatan dan sungai kecil, ada gardu dan loteng megah di sebelah sana, di tengah pepohonan yang rimbun ada sebuah jalanan berbatu terawat bersih.

Ho-loh kelihatan berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri jalan berbatu itu sehingga menerbitkan suara gemertak, kain hitam ikat kepalanya sudah ditanggalkannya sehingga disanggulnya kelihatan sebiji mutiara besar bercahaya kelip-kelip.

Siau-hi-ji terus melayang ke puncak pohon dan mengikuti cahaya kelip-kelip mutiara itu.

Sinar mutiara itu kemudian lenyap di balik semak-semak pohon, di tengah pepohonan itu ada beberapa buah rumah indah.

Tempat sembunyi Siau-hi-ji di balik daun pohon yang lebat sehingga tidak mudah diketahui orang lain. Diam-diam ia mengintai ke bawah, sehingga dilihatnya seraut wajah yang cakap, wajah Hoa Bu-koat.

Wajah yang biasanya cerah dan penuh percaya pada diri sendiri itu tampak gelisah dan cemas, melihat kedatangan Ho-loh, cepat dia menyongsong maju dan kalimat pertama yang ditanyakan adalah, “Mana obatnya?”

“Tak dapat dibeli,” jawab Ho-loh dengan suara perlahan sambil memutar kain hitam ikat kepalanya itu.

Sebelum Ho-loh menjawab sebenarnya Hoa Bu-koat sudah dapat menduga apa yang akan dikatakan pelayan itu demi melihat air mukanya yang murung. Tiba-tiba ia rebut kain hitam dari tangan Ho-loh dan menegas, “Meng…mengapa tak dapat membelinya?”

Biasanya tingkah laku Ho Bu-koat sangat sopan santun dan ramah tamah, terhadap kaum wanita bahkan sangat halus dan menghormat, akan tetapi sekarang dia telah kehilangan kepribadiannya yang biasa.

Melihat perubahan sikapnya itu, Siau-hi-ji langsung dapat menerka hubungannya dengan orang yang sakit itu pasti sangat erat, Apa bila tidak rasanya tidak mungkin dia berubah bingung begitu.

Tapi Hoa Bu-koat yang tampaknya ramah tamah itu sebenarnya berhati angkuh, biasanya tidak menaruh perhatian sebesar itu terhadap seseorang, lantas siapakah gerangannya?

Begitulah sedang Siau-hi-ji merasa heran dan menerka-nerka, dilihatnya Ho-loh dan Hoa Bu-koat bicara beberapa patah kata lagi dan tidak terdengar olehnya, waktu dia kembali menaruh perhatian, namun kedua orang itu sudah masuk ke rumah.

Cahaya lampu tertampak di balik jendela, samar-samar kelihatan dua sosok bayangan, seorang menunduk dengan kopiahnya yang bergerak seperti orang lagi gemetar saking cemasnya.

Tak perlu dijelaskan lagi orang ini pasti Hoa Bu-koat adanya.

Seorang lagi berkopiah tinggi berjenggot panjang duduk menegak, mungkin sikapnya sangat kereng. Meski sudah diamat-amati, tetap Siau-hi-ji tidak tahu siapa yang seorang ini.

Sementara desiran angin rada mereda, suasana malam semakin sunyi, sampai-sampai suara Hoa Bu-koat yang menghela napas panjang sayup-sayup terdengar. Maka Siau-hi-ji juga menahan napas, tidak berani menerbitkan sesuatu suara.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang bicara dengan suara ramah dan kalem, “Orang baik tentu dikaruniai baik, maka Kongcu juga tidak perlu terlalu sedih…Padahal, bahwa nona Ho-loh akan pulang dengan tangan kosong memang juga sudah kuduga sebelumnya.”

Begitu mendengar suara orang ini, seketika jantung Siau-hi-ji berdetak keras.

Didengarnya Hoa Bu-koat lagi menghela napas dan berkata, “Meski obat-obatan itu tergolong mahal, tapi bukan bahan obat yang sukar dicari, namun kota Ankhing sebesar ini ternyata tak dapat dibeli beberapa macam obat ini, sungguh aku tidak mengerti.”

“Tentunya orang itu sudah memperhitungkan dengan tepat bahwa racunnya hanya dapat ditawarkan dengan beberapa macam obat ini,” kata suara tadi. “Dengan sendirinya pula dia sudah tahu bahwa Kongcu pasti juga paham pengobatan ini, makanya dia mendahului memborong habis seluruh persediaan di pasaran, kalau tidak kan berarti sia-sia saja dia meracuni orang.”

Apa pun yang dikatakan suara itu seolah-olah selalu dilakukan dengan tenang dan sabar, diucapkan dengan sewajarnya. Maka sampai di sini Siau-hi-ji sudah dapat memastikan pembicara ini jelas Kang Piat-ho adanya.

Teringat akan kelicinan dan keculasan orang ini, tanpa terasa Siau-hi-ji mengkirik sendiri, Hoa Bu-koat masih mendingan, kalau dirinya kepergok orang ini jangan harap dapat lolos dengan hidup.

Karena itu Siau-hi-ji tambah tak berani bergerak sedikit pun di tempat sembunyinya.

Terdengar Hoa Bu-koat sedang berkata dengan nada gemas, “Betul, orang itu tentu telah memperhitungkan obat mujarab Ih-hoa-kiong kami juga tidak mampu menawarkan racun mahadingin ini, cuma... cuma ada permusuhan apakah antara dia dan dia itu? Mengapa dia sengaja meracuni dia?”

Sudah tentu Siau-hi-ji tidak tahu siapa yang dimaksud “dia” yang pertama dan siapa pula “dia” yang kedua, maka ia menjadi gelisah juga.

“Mungkin sasarannya bukan ‘dia’ melainkan Kongcu sendiri,” ujar Kang Piat-ho.

“Tapi sejak kukeluar rumah belum pernah bermusuhan dengan siapa pun, untuk apakah orang itu hendak mencelakai diriku? Lantas siapakah gerangan orang ini? Sungguh aku tidak dapat menerkanya.”

“Bila Kongcu ingin tahu siapa dia, kukira tidaklah sulit,” ujar Kang Piat-ho.

Hoa Bu-koat merenung sejenak, katanya kemudian, “Maksudmu....”

Kang Piat-ho seperti tersenyum, lalu berkata dengan perlahan, “Asalkan Kongcu tidak berkhawatir bagi keadaan nona Thi dan mau ikut keluar bersama Cayhe sebentar, rasanya besar kemungkinan Cayhe akan dapat menemukan orang yang meracuni nona Thi itu!”

Nona Thi?! yang keracunan itu jangan-jangan Thi Sim-lan yang dimaksudkan?

Sungguh kejut Siau-hi-ji tak terkatakan, hampir saja ia terjungkal dari atas pohon. Seketika daun pohon berkeresek-keresekan.

Segera terlihat Hoa Bu-koat berbangkit dan membentak, “Siapa itu yang berada di luar?”

Saking tegangnya jantung Siau-hi-ji serasa akan melompat keluar dari rongga dadanya.

Terdengar Kang Piat-ho berkata, “Suara angin, mana ada orang. Biarlah kita menjenguk dulu keadaan nona Thi saja.” Lalu kedua orang lantas meninggalkan kamar.

Siau-hi-ji merasa lega, pikirnya, “Syukur Thian memberkati, biasanya Kang Piat-ho sangat cerdik, sekali ini ia rupanya lengah....” Sampai di sini ia terkesiap pula, “Ah, tak mungkin, biasanya Kang Piat-ho sangat hati-hati, tak mungkin ia lena begini, di balik ini tentu ada akal bulusnya.”

Siau-hi-ji memang mahacerdik, jalan pikirannya dapat bekerja cepat, begitu ingat segera ia bermaksud kabur. Walau pun begitu toh tetap saja terlambat. Di tengah kegelapan dua sosok bayangan telah melayang tiba secepat burung terbang.

Tentu saja Siau-hi-ji terkejut, sekilas lirik segera diketahuinya yang datang memang betul Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat berdua. Baju Hoa Bu-koat melambai-lambai tertiup angin sehingga seperti dewa yang baru turun dari kayangan, sepasang matanya gemerdep dalam kegelapan penuh mengandung rasa benci dan dendam, agaknya ia menyangka orang yang mengintai ini pasti ada sangkut-pautnya dengan peracunan Thi Sim-lan.

Meski tubuh Kang Piat-ho juga terapung, tapi jauh ketinggalan di belakang Hoa Bu-koat, agaknya bukan karena Ginkangnya lebih rendah, tapi mungkin karena sudah ada Hoa Bu-koat di depan, maka dia tidak perlu terburu-buru menyerempet bahaya dan kalau bisa mungkin juga tidak unjuk muka.

Biar pun ilmu silat Siau-hi-ji kini sudah lain dari pada dulu, tapi ketemu kedua seteru ini mau tak mau ia rada jeri juga. Namun dia sudah biasa menyerempet bahaya, mati hidup baginya dipandangnya seperti makan sehari-hari, soal rutin, maka biar pun terkejut ia tidak menjadi bingung, sekali ia kerahkan tenaga murni, “krak”, dahan pohon yang didudukinya lantas patah, tubuh lantas anjlok ke bawah.

Harus diketahui bahwa Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho sedang melayang cepat ke depan, kalau Siau-hi-ji melompat turun untuk menghindar betapa pun pasti sukar meloloskan diri dari kejaran kedua tokoh besar ini. Tapi sekarang dia anjlok lurus ke bawah, begitu kaki menyentuh tanah seketika ia menerobos lewat di bawah kaki kedua orang itu.

Karena tubuh Hoa Bu-koat dan Kang Piat-ho terapung di udara, untuk anjlok seketika saja sukar apa lagi hendak memutar balik. Maka begitu Siau-hi-ji merasa angin menyambar lewat di atas kepalanya, tanpa ayal ia terus melayang ke depan secepatnya.

Arah kedua pihak kini berlawanan, Siau-hi-ji sudah memperhitungkan bila mana Hoa Bu-koat memutar balik mengejarnya tentu akan ketinggalan sejenak, selisih waktu ini memang cuma sekejap, tapi bagi Ginkang Siau-hi-ji sekarang cukup dengan sekejap itu saja pasti dapat meninggalkan kedua pengejarnya.

Perhitungan Siau-hi-ji ini boleh dikatakan cukup tepat, perubahan tindakannya juga teramat cepat.

Tanpa terduga, meski Kang Piat-ho tak dapat berhenti seketika dan tetap melayang lurus ke depan, akan tetapi telapak tangannya sempat mengayun balik ke belakang. Ternyata sebelumnya ia sudah mempersiapkan senjata rahasia, maka beberapa bintik perak lantas menghambur ke punggung Siau-hi-ji.

Tubuh Hoa Bu-koat yang terapung itu mendadak juga mengayun sebelah kakinya hingga tepat menjejak pada sebatang pohon. Dengan tenaga tolakan ini seluruh tubuhnya lantas berganti arah, kepala dulu dan kaki belakang terus meluncur balik, cepatnya ternyata tidak kalah dari pada sambaran senjata rahasia yang dihamburkan Kang Piat-ho.

Kejadian itu sedemikian cepatnya, begitu Siau-hi-ji mendengar suara mendenging, lantas bintik-bintik perak sudah menyambar tiba. Untuk meloncat ke atas terasa tidak keburu lagi, terpaksa dia menjatuhkan diri ke tanah terus berguling-guling, maka terdengar suara denting nyaring, bintik-bintik perak dengan tepat menancap di tanah tempat jatuhnya tadi.

Mati hidupnya sungguh boleh dikatakan cuma selisih sekian detik saja, belum lagi hilang kejut Siau-hi-ji dan belum sempat melompat pula ke depan, baru saja dia angkat kepala, tahu-tahu kesiur angin lengan baju Hoa Bu-koat terasa sudah ada di atas kepalanya.

Dalam keadaan demikian Siau-hi-ji serba susah, mundur tak dapat, menghindar juga sulit. Lebih celaka lagi tubuh Hoa Bu-koat yang terapung di atas itu terus menukik ke bawah dan kedua tangannya menghantam sekaligus.

Tak tahunya pada saat itu juga sekonyong-konyong tujuh bintik perak yang menancap di tanah tadi meluncur ke atas dan cepat menyambar ke muka Hoa Bu-koat. Perubahan cepat dan mendadak ini tampaknya sukar dihindarkan Hoa Bu-koat.

Betapa pun lihainya Kang Piat-ho juga tidak menyangka akan kejadian ini, pihak lawan ternyata bisa memperalat senjata rahasia yang disambitkannya tadi untuk menyelamatkan diri. Mau tak mau ia berseru kaget juga.

Tapi Hoa Bu-koat tidak menjadi gugup, kedua tangan mendadak merapat, ketujuh bintik perak itu pun lenyap seketika, semuanya berhasil tertangkap olehnya. Kejadian ini hanya berlangsung sekejap saja, namun telah mengalami gerak perubahan beberapa kali.

Ketika dengan sekali sampuk Siau-hi-ji membikin bintik perak yang menancap di tanah itu terpental ke atas, berbareng itu dengan tenaga pukulannya ia pun melayang ke depan, dalam seribu kerepotannya ia sempat melirik, dilihatnya tenaga dalam Hoa Bu-koat yang luar biasa itu, tanpa terasa ia bersuara memuji, “Bagus!”

Sedangkan Kang Piat-ho juga tercengang oleh gerak perubahan Siau-hi-ji yang aneh dan sulit dibayangkan itu, maka segera ia berseru, “Hebat benar kepandaian sahabat ini, apa maksud kedatanganmu, mengapa tidak meninggalkan sesuatu pesan?!”

Tanpa menoleh Siau-hi-ji menjawab dengan suara yang dibikin kasar, “Ada urusan apa boleh dibicarakan besok saja, sampai bertemu!”

Belum habis ucapannya, dengan dingin Hoa Bu-koat lantas membentak, “Kepandaian sahabat memang luar biasa, kalau engkau pergi begini saja kan sayang.”

Suaranya serasa berada tepat di belakang Siau-hi-ji, tentu saja Siau-hi-ji tidak berani berpaling, bahkan bersuara menanggapi juga tidak berani, sekuat tenaga ia melayang ke depan.

Dilihatnya berderet-deret rumah telah dilintasinya, tapi ternyata belum juga keluar dari lingkungan perumahan ini. Entah rumah keluarga siapa, ternyata begini luas.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Umur sahabat ini tampaknya belum begitu banyak, bukan saja gerak-geriknya cekatan, bahkan daya pikirnya juga cepat, ada ksatria muda begini di dunia Kangouw, kalau Cayhe tidak mengikat persahabatan denganmu sungguh berdosa rasanya.”

Sembari bicara ia pun terus mengejar dan sedikit pun tidak ketinggalan, nada ucapnya terdengar wajar, seperti seorang bicara dengan seenaknya, agaknya dia yakin Siau-hi-ji pasti takkan lolos dari tangannya.

“Betul, melulu Ginkang yang tinggi ini, biar pun belum terhitung nomor satu di dunia, tapi juga sudah jarang ada bandingannya,” demikian Hoa Bu-koat menambahkan. Diam-diam ia pun heran mengapa sebegitu jauh dirinya tak berhasil menyusul lawan.

Maklumlah, biar pun Ginkangnya memang lebih tinggi setingkat dari pada Siau-hi-ji, tapi orang yang lari itu dapat sembunyi ke sana kemari dan mengubah arah sesukanya, dengan sendirinya lebih bebas dari pada orang yang mengejarnya.

Terdengar Kang Piat-ho berkata pula, “Bukan saja Ginkangnya tinggi, bahkan tenaga murni orang ini juga sangat kuat. Sekali ia berlari secepat ini, mungkin kita berdua tak dapat menyusulnya lagi.”

Demi mendengar ucapan ini, sekonyong-konyong Siau-hi-ji telah menyusup ke bawah. Di lingkungan ini memang banyak terdapat deretan rumah dengan serambi yang berliku-liku dan pepohonan lebat, sungguh bodoh kalau Siau-hi-ji tidak memanfaatkan keadaan ini.

Sebenarnya maksud Kang Piat-ho berucap begitu adalah untuk membesarkan hati Siau-hi-ji, sebab ia khawatir kalau anak muda itu melompat ke bawah dan menyembunyikan diri. Tapi tidak tahunya Siau-hi-ji memang setan cilik yang mahacerdik, sekali mendengar ucapan Kang Piat-ho tadi segera tergerak pikirannya dan cepat memanfaatkan lingkungan yang menguntungkan itu.

Diam-diam Kang Piat-ho mendongkol, namun sudah terlambat, Siau-hi-ji telah berputar ke sana sini, habis itu mendadak ia mendobrak sebuah jendela dan melompat masuk ke situ.

Cahaya lampu di rumah-rumah ini sudah seluruhnya dipadamkan, meski tak diketahuinya di dalam rumah ini ada orang atau tidak, tapi rumah ini sedemikian luas, dapat dibayangkan ruangannya pasti kosong. Dan rumah ini memang betul tiada penghuninya.

Baru saja Siau-hi-ji merasa lega, “serrr”, tahu-tahu Hoa Bu-koat ikut melayang masuk, malahan Kang Piat-ho juga tidak ketinggalan.

Di dalam rumah gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan. Waktu Siau-hi-ji melayang pula ke depan, hampir saja sebuah meja ditumbuknya terguling.

Kang Piat-ho tertawa dan berseru, “Lebih baik keluar saja, sahabat, Cayhe Kang Piat-ho, kujamin dengan nama ‘Kang-lam-tayhiap’, asalkan sahabat dapat menjelaskan asal-usulmu, tanggung engkau takkan dibikin susah.”

Kalau saja ucapan ini ditujukan kepada orang lain bukan mustahil orang itu akan percaya penuh. Tapi Siau-hi-ji cukup tahu orang macam apakah ‘Kang-lam-tayhiap’ ini, apa lagi kalau siapa dirinya diketahui, maka mau tak mau pasti akan ‘dibikin susah’ olehnya.

“Jika sahabat tak mau menuruti nasihatku, tentu engkau akan menyesal nanti,” kata Kang Piat-ho pula.

Diam-diam Siau-hi-ji angkat meja yang hampir terguling tadi terus dilemparkan ke arah Kang Piat-ho, di tengah deru angin itu dia terus melompat ke sudut kiri.

Dia memperhitungkan di sudut kiri sana pasti ada daun pintu dan dugaannya tidak meleset, begitu terdengar suara gemuruh jatuhnya meja, berbareng ia pun mendepak terpentang pintu sana dan menerobos keluar.

Rumah di sebelah ini terlebih gelap lagi dan kegelapan selalu bermanfaat baginya. Dia terus sembunyi di dalam kegelapan tanpa bergerak. Selagi menimang cara bagaimana agar dapat lolos, tiba-tiba pandangannya terbeliak, Kang Piat-ho telah menyalakan lampu di ruangan tadi.

Begitu cahaya lampu menyala, serentak Hoa Bu-koat juga melompat masuk. Sekenanya Siau-hi-ji tarik sebuah kursi terus dilemparkan, berbareng ia pun melompat mundur, ‘blang’, sebuah jendela dijebolnya, habis itu ia terus menerjang masuk kamar di seberang.

Setelah terjang sini dan seruduk sana sehingga menerbitkan suara gedobrakan, penghuni rumah-rumah ini juga bukan orang mampus, dengan sendirinya sebagian besar terjaga bangun, seketika suara orang ribut berjangkit dan sama berteriak menanyakan siapa dan ada urusan apa?

Dengan suara lantang Kang Piat-ho lantas menjawab, “Rumah ini kedatangan penjahat, hendaknya semua orang jangan gelisah dan sembarangan keluar agar tidak terkena senjata nyasar. Cukup asalkan menyalakan lampu masing-masing dan penjahat pasti takkan lolos!”

Diam-diam Siau-hi-ji mengeluh dan mengakui kelihaian Kang Piat-ho, apa yang dikatakannya selalu kena sasarannya. Maklumlah, yang diharapkan justru kalau suasana menjadi kacau-balau, dan kesempatan ini akan digunakan untuk kabur dengan mudah. Malahan ia pun berharap lampu jangan dinyalakan, sebab kalau keadaan terang benderang, jangankan hendak kabur, untuk sembunyi saja sulit.

Begitulah dari berbagai tempat lantas terdengar orang berseru, “Itu suara Kang-tayhiap, kita harus turut perkataannya!” Menyusul lampu di segenap pelosok rumah-rumah itu lantas dinyalakan.

Waktu Siau-hi-ji mengawasi, ternyata dirinya sekarang berada di dalam sebuah kamar tulis, kamar ini terpajang dengan indah, di samping meja tulis ada sebuah bangku peranti menyulam.

Ia menjadi heran, mengapa di kamar tulis ada peralatan menyulam kaum wanita?

Dalam pada itu Kang Piat-ho dan Hoa Bu-koat sudah menyusul sampai di luar jendela. Cepat Siau-hi-ji mundur ke arah sebuah pintu.

Pada saat itulah dari belakang pintu tiba-tiba ada seorang menegur, “Siapa itu di luar?” Jelas itulah suara seorang perempuan.

Semula Siau-hi-ji terkejut karena di balik pintu itu ada orangnya, tapi segera pula ia merasa girang, tanpa ragu dan ayal ia terus menolak pintu dan menerobos ke situ.

Menurut perhitungannya, Kang Piat-ho yang munafik itu tentu akan menjaga gengsi dan tidak berani sembarangan menerjang ke kamar wanita, sedangkan Hoa Bu-koat lebih tidak mungkin berlaku keras di depan orang perempuan.

Akan tetapi Siau-hi-ji tidak pedulikan perempuan atau bukan, begitu dia menerjang masuk sekaligus ia sirapkan lampu, sekilas ia terlihat di pembaringan sana tertidur seorang perempuan, segera ia melompat ke sana, secepat kilat ia dekap mulutnya, tangan lain menahan pundaknya, lalu mengancam dengan suara tertahan, “Jangan bersuara jika kau tidak ingin mampus?”

Karena menerobos ke kamar gadis secara kasar, betapa pun hati Siau-hi-ji merasa tidak enak, maka biar pun mengancam juga tidak terlalu menggunakan tenaga.

Di luar dugaannya tenaga perempuan itu ternyata kuat luar biasa, bahkan gerak tangannya juga teramat cepat, tahu-tahu kedua tangan Siau-hi-ji berbalik kena dicengkeram olehnya.

Sungguh kejadian yang tak pernah terpikir oleh Siau-hi-ji, dalam terkejutnya dia bermaksud meronta, akan tetapi perempuan itu telah menindihnya di atas tempat tidur, sikutnya juga menahan di tenggorokannya. Seketika setengah badan Siau-hi-ji terasa kaku kesemutan, ia benar-benar tak bisa berkutik dikerjai orang.

Diam-diam ia menghela napas, katanya dengan tersenyum getir, “Sudahlah, tamatlah aku sekali ini…Agaknya hidupku ini memang ditakdirkan harus mati di tangan orang perempuan!”

Sementara itu suara Kang Piat-ho sudah berjangkit di luar, benar juga dia tidak berani masuk, hanya bertanya di luar, “Nona, apakah penjahat itu menyusup ke kamarmu?”

Dalam keadaan demikian Siau-hi-ji sudah memejamkan mata dan pasrah nasib, ia tahu apa yang bakal dijawab oleh si nona.

Tak tahunya perempuan itu lantas berseru, “Betul, tadi memang ada seorang menerobos ke sini, tapi segera kabur lagi melalui jendela sebelah, mungkin lari ke taman, lekas Kang-tayhiap memburu ke sana.”

Mimpi pun Siau-hi-ji tidak menyangka akan jawaban perempuan ini, didengarnya Kang Piat-ho mengucapkan terima kasih, lalu buru-buru lari pergi.

Kejut dan girang Siau-hi-ji, seketika ia jadi terkesima. Perlahan-lahan perempuan itu lantas melepaskan tangannya dan seperti lagi tertawa lirih.

Siau-hi-ji tidak tahan, tanyanya, “Meng…mengapa nona menolong diriku?”

Perempuan itu tidak lantas menjawab, tapi merapatkan pintu lebih dulu.....

0 Response to "Bakti Pendekar Binal Jilid 03"

Post a Comment