Bahagia Pendekar Binal Jilid 22

Mode Malam
So Ing tidak bersuara lagi. Selang sejenak, mendadak Siau-hi-ji bergelak tertawa dan bergumam, “Hahaha, sebelum ajalku nanti entah bagaimana bentukku, sungguh aku sendiri pun tidak dapat membayangkannya. Ini benar-benar hal yang menarik.”

So Ing menggeser lebih dekat dengan anak muda itu, ucapnya dengan tertawa, “Kau akan berubah menjadi bentuk apa pun pasti akan tetap menyenangkan.”

Perlahan Siau-hi-ji menggigit pipi si nona, ucapnya, “Bisa jadi kau akan kucaplok, kau takut tidak?”

“Jika demikian kita berdua akan berubah menjadi satu untuk selamanya, apa yang kutakuti?” jawab So Ing dengan suara lembut.

Dengan tajam Siau-hi-ji menatap si nona, sampai lama barulah ia berkata pula dengan gegetun, “Cuma sayang engkau terlalu pintar, kalau tidak, mungkin aku bisa menyukai kau benar-benar.”

Muka So Ing menjadi merah, katanya sambil menggigit bibir, “Konon kalau perempuan sudah melahirkan anak bisa berubah menjadi rada bodoh.”

Jika dalam keadaan biasa, mendengar ucapan So Ing ini pasti Siau-hi-ji akan tertawa terbahak-bahak. Tapi sekarang ia merasakan hangat dan manisnya ucapan si nona serta mengandung semacam rasa kecut, sesungguhnya ia pun tidak jelas bagaimana rasanya, yang pasti rasa yang demikian sebelum ini tak dikenalnya.

Dalam pada itu kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga sudah berhenti beraksi, kedua orang itu berdiri mematung di sana, meski tampaknya masih tetap dingin dan angkuh, tapi tak dapat menutupi sorot matanya yang letih dan sedih.

Entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba Siau-hi-ji berdiri, ia mendekati peti mati batu hijau itu, ia angkat tutup peti mati itu dan dialingkan di bagian depan, lalu ia mengumpulkan batu patung yang hancur berserakan itu dan ditumpuk di kedua samping peti mati.

Ih-hoa-kiongcu tidak tahu maksud perbuatan anak muda itu, makin dipandang makin heran mereka. Meski mereka ingin tahu, tapi mereka harus menjaga gengsi dan berharap So Ing yang bertanya.

Namun sorot mata So Ing tampak penuh rasa mesra, dengan tersenyum ia mengikuti tingkah polah Siau-hi-ji tanpa bersuara, agaknya dia sangat jelas apa yang dikehendaki anak muda itu.

Selang sejenak pula, akhirnya Lian-sing Kiongcu tidak tahan, sementara itu dilihatnya kepingan batu telah ditumpuk oleh Siau-hi-ji hingga setinggi manusia, ia lantas tanya, “Kerja apa kau ini?”

Siau-hi-ji mengikik tawa, jawabnya, “Makan, minum, berak, kencing dan tidur adalah lima tugas rutin yang harus dilakukan oleh manusia. Meski sekarang kita tidak makan dan minum, tapi sebelum ini kita kan sudah banyak makan minum, barang-barang yang sudah masuk perut itu akhirnya toh mesti keluar. Jika kita tidak sanggup menahannya di dalam perut, dengan sendirinya juga tak dapat membiarkannya lolos keluar di celana, maka kita harus menggunakan cara ini.”

“Kau... kau berani tidak sopan?” damprat Kiau-goat dengan gusar.

“Tidak sopan?” tukas Siau-hi-ji. “Ini adalah urusan paling sopan di dunia ini, mengapa kau bilang tidak sopan? Kalau kuberak di celana, nah, ini baru dikatakan tidak sopan.”

Saking dongkolnya hingga muka Ih-hoa-kiongcu sama merah padam dan juga tidak sanggup buka suara pula.

Dalam pada itu Siau-hi-ji telah menumpuk kepingin batu di kedua sisi peti mati itu hingga berwujud dua dinding, lalu ditambahkan tutup peti mati itu di atasnya, maka jadinya sebuah kakus yang praktis.

Sambil memandangi kakus darurat itu, Siau-hi-ji bergumam dengan tertawa, “Tempat sebagus ini, digunakan untuk raja kiranya juga memenuhi syarat. Yang hebat, selain tempatnya bagus, ukurannya juga pas, sekali pun digunakan 40 orang sekaligus juga takkan meluap.”

Dia tepuk-tepuk tangan yang kotor, lalu menyambung pula dengan tertawa, “Biasanya Cayhe suka menghormati orang tua dan menghargai orang pandai, jika kalian berdua mau pakai, boleh silakan dulu.”

Dengan muka merah kedua Ih-hoa-kiongcu membanting kaki terus berpaling ke sana.

Siau-hi-ji pandang So Ing pula, tanyanya dengan tertawa, “Dan kau bagaimana?”

“Aku... aku sekarang be... belum ingin,” jawab So Ing dengan jengah.

“Jika demikian, maaf aku tidak sungkan lagi,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa, ia terus menyusup ke dalam sana.

Selang sejenak barulah anak muda itu keluar sambil meraba perutnya, ucapnya dengan gegetun, “Wah, lega rasanya. Mungkin tiada urusan lain di dunia ini yang rasanya lebih lega dari pada habis kerja begini.”

Lalu ia kembali duduk ke tempatnya semula, ia memejamkan mata seperti ingin tidur.

Akhirnya So Ing juga tidak tahan, perlahan-lahan ia merangkak, dan melangkah ke sana.

Tak tahunya, baru saja ia berbangkit, mendadak sebelah mata Siau-hi-ji terpentang, katanya dengan menyengir, “Sekarang kau ingin?”

“Kau... kau telur busuk,” omel So Ing dengan muka merah.

Memang aneh, bila mana tiada orang membicarakan hal-hal demikian, maka terkadang orang menjadi lupa. Tapi bila ada orang menyinggungnya, rasanya lantas tak tahan, makin dipikir makin kebelet.

Entah sudah lewat beberapa lama pula, lambat laun wajah Lian-sing Kiongcu menjadi merah juga. Selang tak lama lagi, kedua kakinya seperti mulai gemetar.

Terdengar suara napas Siau-hi-ji yang setengah mengorok, agaknya anak muda itu sudah pulas.

Sekonyong-konyong Lian-sing Kiongcu melayang ke sana secepat angin, mungkin belum pernah dia bergerak secepat ini biar pun dia sedang bertanding dengan lawan yang paling lihai.

Mendadak Siau-hi-ji mengikik tawa, katanya, “Nah, sekarang mungkin kau takkan bilang aku tidak sopan lagi, bahkan kau akan berterima kasih padaku.”

Memang banyak urusan di dunia ini yang tidak dapat dilawan oleh manusia. Betapa pun agungnya, betapa pun angkuhnya, betapa pun keras kepalanya, terkadang juga bisa berubah sama seperti orang yang paling hina dan paling rendah, sebab urusan-urusan yang dihadapinya ini tidak pandang kepada siapa pun juga, adil dan merata.

Seperti halnya orang paling cantik dan paling buruk, sama-sama akan mengalami masa tua dan lapuk. Orang yang paling pintar dan paling bodoh juga sama-sama bisa merasakan lapar, kedinginan dan keletihan.

Mungkin semua inilah kedukaan paling besar bagi umat manusia.

Ketika Siau-hi-ji tidak sanggup tertawa lagi, akhirnya kakak beradik Ih-hoa-kiongcu duduk juga di lantai, apa yang terjadi hanya dalam dua-tiga hari saja, tapi bagi mereka rasanya sama seperti sepuluh tahun.

Melihat Ih-hoa-kiongcu akhirnya duduk juga, So Ing jadi teringat apa yang dikatakan Gui Bu-geh, tiba-tiba timbul rasa takutnya, “Jangan-jangan kami akan berubah menjadi buas sebagaimana dilukiskan oleh Gui Bu-geh itu?”

Tapi dia tidak melihat sesuatu perubahan pada diri Siau-hi-ji, entah apa pula yang dipikirkan anak muda itu. Tampaknya dia tidak pernah kenal apa itu takut.

Pada saat itulah, tiba-tiba atap ruangan itu merekah sebuah lubang sebesar mangkuk, malahan semacam benda dijatuhkan melalui lubang itu. Setelah mereka awasi, yang dijatuhkan itu adalah sebuah jeruk.

Dalam keadaan demikian, jeruk ini benar-benar lebih berharga dari pada emas di seluruh dunia ini. Barang siapa asalkan bisa lebih banyak makan sesisir jeruk itu, bisa jadi akan hidup lebih lama hingga datangnya Hoa Bu-koat.

Dalam suasana begini, dapatkah mereka membagi jeruk secara adil?

Sudah barang tentu tiada seorang pun berani mendahului meraih jeruk itu. So Ing memandangi jeruk itu hingga kesima. Selamanya tak pernah terpikir olehnya bahwa sebuah jeruk bisa sedemikian menarik baginya. Dilihatnya sorot mata kakak beradik Ih-hoa-kiongcu juga terbeliak memandangi jeruk itu.

Bila makanan lain mungkin takkan begitu menarik bagi mereka, tapi sebuah jeruk yang berisi dan banyak cairannya, bisa melenyapkan dahaga dan dapat dibuat tangsel perut, ini benar-benar sangat mereka butuhkan sekarang.

Sambil menatap tajam jeruk itu, perlahan-lahan Lian-sing Kongcu mulai berbangkit.

Sekonyong-konyong terdengar Siau-hi-ji bergelak tertawa dan berkata, “Hahaha, tak terduga Ih-hoa-kiongcu yang mahaagung sekarang juga sudi makan barang yang dimakan orang di lantai. Hahaha, sungguh lucu, sungguh menggelikan!”

Seketika tubuh Lian-sing Kiongcu mematung di tempatnya, hanya jarinya saja yang rada gemetar. Namun matanya masih terus menatap jeruk itu tanpa berkedip.

Dengan acuh tak acuh Siau-hi-ji berkata pula, “Jangan kau lupa, sepasang mata Gui Bu-geh yang mirip mata maling itu sedang mengintip, jika kau jumput dan makan jeruk ini, bisa jadi dia akan bergelak tertawa hingga copot giginya.”

Kulit maka Lian-sing Kiongcu tampak berkerut-kerut, jelas dia sedang mengalami pertentangan batin yang hebat. Sesungguhnya umpan ini sukar ditolak. Tapi akhirnya ia memejamkan mata dan duduk kembali.

Rupanya dia lebih suka mati dari pada ditertawakan orang. Nyata, Ih-hoa-kiongcu memang punya iman teguh. Di antara seratus ribu orang mungkin cuma ada satu-dua orang yang dapat berbuat seperti dia.

Dengan tertawa Siau-hi-ji berucap pula, “Tapi kalau aku yang menjumput barang makanan yang telah dibuang orang, tentu tiada orang yang akan menertawakan diriku, sebab pada dasarnya kulit mukaku memang setebal tembok.” Sambil bicara ia terus melompat bangun dan mengambil jeruk itu.

Terbelalak So Ing memandangi kelakuan anak muda itu, ia tidak tahu apakah jeruk itu akan dimakan sendiri oleh Siau-hi-ji. Betapa pun ia memang belum mutlak memahami jiwa anak muda itu.

Maklum di antara seratus ribu orang mungkin tiada satu pun yang dapat memahami jalan pikiran Siau-hi-ji.

Dilihatnya Siau-hi-ji telah mengupas kulit jeruk dan dibelah menjadi dua, air jeruk lantas muncrat membasahi mukanya, ia menjulurkan lidah untuk menjilat air jeruk itu, katanya sambil terkecek-kecek, “Ehm, alangkah manis dan sedapnya, tampaknya tidak buruk juga kulit muka seorang dibuat tebal sedikit,” Mendadak ia berpaling pada So Ing, katanya dengan tertawa, “Kulit mukamu biasanya juga tidak tipis, rasanya pantas juga kalau kubagi separo jeruk ini padamu.”

Dalam keadaan demikian, orang yang dapat membagi separo jeruk itu kepada orang lain, sekali pun orang itu adalah ayah-ibu atau sanak keluarganya betapa pun tindakan ini tidaklah mudah dilakukan. Untuk ini diperlukan sebuah hati yang bajik dan welas asih, diperlukan semangat berkorban.

Jika orang lain, pada waktu berbuat demikian, tentu takkan terhindar dari sikap sok orang dermawan, seorang penolong, seorang penyelamat, dengan demikian supaya orang merasa kagum, berterima kasih dan merasa utang budi padanya.

Tapi pada waktu berbuat demikian, Siau-hi-ji justru berolok-olok lebih dulu pada orang lain.

So Ing jadi geli, ucapnya dengan suara lembut, “Sungguh, terkadang aku sangat heran, mengapa seorang yang mempunyai mulut bandit justru mempunyai hati yang bajik.”

Dengan tertawa Siau-hi-ji menjawab, “Memang ada setengah orang pada hakikatnya tidak banyak bedanya dengan bandit.”

“Oo...?.” So Ing melenggong bingung.

“Setahuku,” tutur Siau-hi-ji, “Ada seorang yang pintar dagang, tapi lebih banyak spekulasi dan manipulasi, di mana-mana dia main tanah, tujuannya menghalalkan cara, dengan jalan menipu dan merampas dia telah mengeruk kekayaan berjuta-juta tahil perak. Dari kekayaan sekian itu dia mendermakan seribu tahil perak untuk rumah yatim piatu, dengan demikian berubahlah dia menjadi seorang sosial dan dermawan.”

Sambil menerima pemberian jeruk separo itu So Ing berkata dengan tertawa, “Tapi kan lebih baik dari pada manusia yang kikir, yang tak mau keluar sepeser pun.”

Siau-hi-ji mencium separo jeruk yang tersisa itu, tiba-tiba ia berbangkit dan mendekati Ih-hoa-kiongcu, katanya dengan tertawa, “Biar pun kalian tidak memandang padaku kan juga dapat membau sedap jeruk ini, bukan?”

Kedua Ih-hoa-kiongcu sengaja melengos dan tidak mau memandangnya.

Tiba-tiba Siau-hi-ji menyodorkan separo jeruk itu ke depan mereka dan berkata, “Sekarang boleh kalian lihat, separo jeruk ini adalah milik kalian.”

“Ambil!” teriak Kiau-goat dengan suara serak, “Aku tidak... tidak sudi....”

Dengan tertawa Siau-hi-ji memotong, “Kutahu kalian pasti tidak sudi makan barang buangan orang lain, tapi separo jeruk ini adalah persembahanku dengan hormat, kukira boleh kalian makan dengan senang hati.”

Seketika kedua Ih-hoa-kiongcu saling pandang dengan bingung. Selang sejenak, barulah Lian-sing Kiongcu berkata, “Meng... mengapa kau berbuat demikian?”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, jawabnya kemudian, “Seorang kalau sudah hampir mati, tapi masih dapat menjaga martabat sendiri dan tidak sudi bikin malu pamornya, maka orang demikian sungguh sangat kukagumi.” Ia tertawa, lalu menyambung, “Nah, anggaplah jeruk ini adalah penghormatanku kepada kalian. Sumbangan dengan hormat ini tentunya takkan kalian tolak bukan?”

So Ing menjadi bingung juga menyaksikan kelakuan anak muda itu, mungkin sejak mula ia sudah menduga Siau-hi-ji akan membagi setengah jeruk itu padanya, tapi dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sisa separonya lagi juga akan diberikan Siau-hi-ji kepada orang lain.

Dilihatnya Siau-hi-ji kembali ke tempatnya semula dengan tertawa, sama sekali tiada kelihatan berseri pada wajahnya dan tiada perasaan masygul, seperti halnya dia habis makan seratus biji jeruk dan sisanya setengah biji baru diberikannya kepada orang lain.

“Sungguh aku tidak... tidak paham mengapa kau berbuat demikian,” kata So Ing dengan heran.

“Sebabnya kan sudah kukatakan tadi,” ujar Siau-hi-ji. “Apalagi, coba kau pikir, jika mereka tidak merasa malu, mana kita dapat makan jeruk ini? Tentu sudah diambil mereka dan dapatkah kita merampasnya?”

“Jika sisa separo itu kau berikan kepada mereka, mengapa yang separo ini kau berikan padaku?” tanya So Ing.

“Kalau jeruk ini dapat kutipu berarti jeruk ini punyaku, kalau punyaku dengan sendirinya akan kuberikan separo padamu. Mengenai sisa separo yang lain kuberikan kepada siapa kan urusanku sendiri dan tiada sangkut-pautnya denganmu.”

So Ing terdiam sejenak, ucapnya kemudian dengan rawan, “Engkau sungguh orang yang aneh, aku benar-benar tidak memahami dirimu.”

“Jika seorang lelaki dapat dipahami perempuan sejelas-jelasnya, mana dia bisa hidup lagi?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

So Ing lantas membagi pula separo jeruk itu menjadi dua bagian, katanya dengan lembut, “Setelah kau berikan separo jeruk ini padaku, maka jeruk ini pun sudah menjadi punyaku, kalau aku mempunyai jeruk, dengan sendirinya harus kubagi setengahnya padamu. Nah, anggaplah ini pun tan... tanda penghormatanku padamu.”

“Tidak, aku tidak mau,” kata Siau-hi-ji.

“Mengapa?” tanya So Ing.

“Sebab bagianmu itu lebih besar, aku menghendaki yang itu,” ucap Siau-hi-ji.

So Ing melenggong, tapi lantas mengikik tawa, katanya, “Jika kulahirkan anak mirip kau, mustahil aku tidak mati kaku dibuat jengkel setiap hari.”

“Jika begitu lebih baik kau mati sekarang saja,” ujar Siau-hi-ji.

“Sebab apa?” tanya So Ing dengan melengak.

“Sebab anak yang kau lahirkan pasti mirip aku, jika mirip orang lain, akulah yang akan mati kaku saking gemas.”

Kembali muka So Ing merah jengah, sambil menggigit bibir ia mengomel, “Kau ini memang telur busuk kecil.”

“Salah, telur busuk besar. Telur busuk kecil kan belum kau lahirkan.”

Mendengar ucapan Siau-hi-ji yang mengandung makna ganda itu, tanpa terasa So Ing mencubit si anak muda terus menjatuhkan diri ke pangkuannya, ia menjadi lupa bahwa di samping mereka masih ada Ih-hoa-kiongcu, segalanya sudah dilupakan....

Pada saat itulah Lian-sing Kiongcu memejamkan mata perlahan-lahan, ujung matanya tampak basah, entah apa yang terkenang olehnya.

Terdengar Siau-hi-ji bergumam, “Selanjutnya jika ada orang berani bilang padaku bahwa pada dasarnya manusia berwatak jahat, mustahil kalau tidak kutempeleng dia dua kali.”

Bahwa sebuah jeruk terbagi menjadi empat, yang dapat dimakan oleh mereka masing-masing tidak lebih hanya dua tiga sayap saja, ini sama halnya tetesan embun di tengah gurun, pada hakikatnya tiada gunanya.

Tapi semangat mereka lantas berbangkit, mungkin disebabkan penemuan mereka bahwa watak manusia pada dasarnya adalah bajik, harkat manusia juga tidak semudah itu runtuh sebagaimana dibayangkan oleh Gui Bu-geh.

Akan tetapi mereka pun menemukan suatu kenyataan, jarak mereka dengan kematian sudah semakin mendekat, jelas ini kejadian yang tak dapat dihindarkan, siapa pun tak dapat mengubahnya.

Ih-hoa-kiongcu yang selamanya tinggi di atas, lambat-laun, berubah juga tiada bedanya seperti orang biasa.

Sampai di sini baru Siau-hi-ji merasa mereka ternyata juga manusia-manusia yang membutuhkan macam-macam keperluan dan memiliki berbagai perasaan, bahkan juga bisa mencucurkan air mata.

Sekarang, maukah mereka membeberkan rahasia pribadinya?

Terbeliak mata Siau-hi-ji memandangi Ih-hoa-kiongcu, tiba-tiba ia berkata, “Rasanya aku mempunyai akal yang dapat membuat kita hidup terus.”

Benar saja, Lian-sing Kiongcu lantas bertanya, “Akal apa?”

“Meski akalku ini rada memalukan, tapi pasti berguna,” ucap Siau-hi-ji. Ia merasa setiap orang sama mendengarkan uraiannya dengan penuh perhatian, maka perlahan ia melanjutkan, “Walau pun Gui Bu-geh orang hina dan kotor, tapi dia adalah seorang pecinta yang khusyuk, buktinya sampai sekarang ia masih merindukan kalian dan tak pernah jatuh hati kepada perempuan lain. Sebab itulah kalau sekarang kalian menyanggupi diperistri olehnya, maka dia pasti akan membebaskan kita seluruhnya.”

So Ing berjingkat kaget, sungguh tak terduga olehnya anak muda itu berani bicara demikian, dia mengira Ih-hoa-kiongcu pasti akan berjingkrak murka, bukan mustahil akan membunuhnya.

Siapa tahu Ih-hoa-kiongcu tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun, bahkan memperlihatkan rasa gusar pun tidak.

Gemerdep sinar mata Siau-hi-ji, dengan perlahan ia menyambung pula, “Apa pun juga Gui Bu-geh pernah jatuh cinta pada kalian, tentunya kalian pun tahu bahwa lelaki yang dapat mencintai setulus hati seperti dia tidaklah banyak di dunia ini.”

Sembari bicara ia pun memperhatikan perubahan air muka Ih-hoa-kiongcu, berbareng ia melanjutkan pula, “Jika kalian menjadi istrinya, paling tidak kan jauh lebih baik dari pada diperistri oleh manusia-manusia yang tak berbudi, betul tidak?”

Kiau-goat Kiongcu hanya menggigit bibir dan tak bersuara, sedangkan Lian-sing Kiongcu mendadak berpaling ke sana, sekilas kelihatan matanya mengembeng air mata.

Selang sejenak barulah Siau-hi-ji mulai bertanya lagi, “Nah, apakah kalian sudah sadar sekarang?”

Tiba-tiba Lian-sing Kiongcu menatapnya tajam-tajam dan berucap sekata demi sekata, “Jika ucapanmu ini dikatakan beberapa jam sebelum ini, maka bagaimana akibatnya tentu kau tahu sendiri.”

“Sudah tentu kutahu,” jawab Siau-hi-ji. “Sebab itulah kusimpan kata-kata ini dan baru kukatakan sekarang. Sebab aku pun tahu, seseorang yang mendekati ajalnya, cara berpikirnya pasti akan berubah banyak.”

“Jika begitu, kalau sekarang kukatakan So Ing saja diberikan kepada Gui Bu-geh, apakah kau setuju?” tanya Lian-sing.

Sampai lama sekali Siau-hi-ji tidak dapat menjawab. Tanpa berkedip So Ing memandangi anak muda itu. Selang agak lama barulah Siau-hi-ji menghela napas panjang, katanya, “Ah, apa yang kukatakan cuma omong iseng saja, kan tidak kupaksa kalian harus menjadi istrinya. Boleh kalian anggap kata-kataku tadi sebagai kentut belaka.”

So Ing menghela napas, ucapnya dengan suara lembut, “Asalkan aku sudah tahu dengan pasti pikiranmu, mati pun aku rela.”

“Mati, sebenarnya bukan sesuatu yang sulit, terkadang jauh lebih mudah dari pada makan nasi,” ujar Siau-hi-ji. “Misalnya seorang berjalan di jalan raya, sekonyong-konyong dari udara jatuh sepotong batu dan mematikan dia, coba bayangkan, betapa mudah dan betapa ringan cara matinya, boleh dikatakan itu tidak mengalami penderitaan apa pun juga.” Setelah menghela napas, lalu ia menyambung, “Tapi menunggu ajal, ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Seorang patriot waktu tertawan musuh bila mana dia terus membunuh diri, tindakan ini jelas tiada sesuatu yang luar biasa, tapi kalau dia sanggup bertahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, menolak segala pancingan dan bujukan, tapi tekadnya sudah bulat untuk mati. Patriot demikianlah yang selalu dikenang, namanya akan terukir dalam sejarah secara abadi.”

Bahwa Siau-hi-ji mendadak bicara hal-hal yang berbobot begitu, tanpa terasa hati So Ing menjadi rawan juga. Ia maklum, hanya orang yang menunggu kematian saja yang tahu betapa menderitanva orang yang menanti ajal.

So Ing kucek-kucek matanya dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah kita sekarang benar-benar tiada harapan hidup sama sekali?”

Siau-hi-ji termenung sejenak, jawabnya dengan suara tertahan juga, “Jika kita dapat bersabar, menanti kematian dengan tenang, mungkin akan timbul setitik sinar harapan.”

“Bila harus menanti kematian dengan tenang, masa ada harapan untuk hidup segala?” ujar So Ing.

“Gui Bu-geh menghendaki kita mati perlahan-lahan, tujuannya supaya kita tersiksa lahir batin, menjadi gila, bahkan saling membunuh, sebab hanya beginilah baru dia mendapatkan pelampiasan, hanya orang gila yang cacat seperti dia mempunyai jalan pikiran abnormal begini.”

“Ya, memang betul,” kata So Ing.

“Tapi kita sekarang dapat bersabar dan bersikap tenang, jika kita mati dengan tenang begini, dia pasti tidak rela, pasti akan bertindak dengan cara lain pula. Kalau sudah begitu, maka tibalah kesempatan baik bagi kita.”

“Betul juga,” So Ing manggut-manggut. “Bila dia tidak menggubris kita, tentu kita mati kutu. Tapi sekali dia bertindak sesuatu berarti pula kita telah diberi kesempatan baik. Hanya....”

“Hanya saja kalau dia terlebih sabar dari pada kita, maka celakalah kita,” tukas Siau-hi-ji.

So Ing berkedip-kedip, katanya, “Makanya sekarang kita harus mencari sesuatu akal untuk memancing keluar dia.”

“Betul, memang begitulah maksudku,” kata Siau-hi-ji.

“Lalu akal apa?” tanya So Ing.

“Masa tak dapat kau pikirkan akal ini?”

So Ing menggigit bibir dan tak bersuara pula.

Ih-hoa-kiongcu tidak mendengar apa yang sedang diperbincangkan mereka, sejenak kemudian mereka melihat Siau-hi-ji berjangkit, lalu memberi hormat kepada mereka kakak beradik, kemudian menghela napas panjang dan berkata, “Aku Kang Siau-hi dapat mati dan terkubur bersama Ih-hoa-kiongcu, sungguh terasa sangat beruntung dan rupanya ada jodoh. Sekarang kita sama-sama menghadapi kematian, biarlah permusuhan kita yang sudah-sudah kuhapus sejak kini, sebab apa kalian menyuruh Hoa Bu-koat membunuhku dan apa rahasianya, aku pun tidak mau tanya lagi.”

Ih-hoa-kiongcu menjadi bingung mengapa anak muda ini mendadak bicara demikian, mereka hanya terbelalak dan ingin tahu apa yang akan disambung pula.

Siau-hi-ji lantas berkata lagi, “Karena sekarang Hoa Bu-koat tidak berada di sini, tampaknya kita pun tiada harapan bisa lari keluar, terpaksa kumohon bantuan kalian agar aku diberi mati secara menyenangkan dan cepat.”

“Kau... kau ingin bunuh diri?” tanya Lian-sing Kiongcu.

Siau-hi-ji menghela napas panjang, ucapnya, “Betul, kan sudah kukatakan, aku tidak takut mati, tapi menunggu ajal, inilah yang membuatku tidak tahan.”

Seketika perasaan Ih-hoa-kiongcu kakak beradik merasa tertekan. Mendadak Kiau-goat berseru dengan parau, “Tidak boleh!”

“Mengapa aku tidak boleh membunuh diri? Keadaan sudah begini, memangnya kau ingin menunggu kedatangan Hoa Bu-koat untuk membunuhku?” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. Sembari bicara diam-diam ia pun mengedipi Ih-hoa-kiongcu, jelas mengandung maksud tertentu.

Kiau-goat jadi melengak, sedangkan Lian-sing Kiongcu lantas menarik ujung baju sang kakak. Lalu berkata, “Baiklah, silakan kau bunuh diri jika kau ingin mati.”

“Terima kasih, setiba di depan raja akhirat pasti akan kupuji kebaikan kalian,” kata Siau-hi-ji.

Tiba-tiba So Ing menambahkan, “Aku punya dua biji obat racun, mestinya disediakan Gui Bu-geh untuk muridnya.”

“Kutahu betapa lihainya racun ini, satu biji saja sudah cukup,” ujar Siau-hi-ji.

So Ing tersenyum pedih, katanya pula, “Bila kau mati, satu detik saja aku tak dapat hidup sendirian, masa kau tidak tahu?”

Siau-hi-ji terdiam sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, ingin mati marilah kita mati bersama agar tidak kesepian di tengah perjalanan menuju akhirat.”

Sekonyong-konyong seorang berseru, “Jangan, kalian tidak boleh mati. Kalian muda-mudi yang sedang dimabuk cinta, lebih lama hidup sehari berarti sehari lebih bahagia, Jika kalian mati sekarang juga, bukankah sia-sia belaka hidup kalian ini?”

Jelas itulah suara Gui Bu-geh.

Siau-hi-ji dan So Ing saling pandang sekejap, diam-diam mereka membatin, “Tampaknya dia tak dapat menahan perasaannya.”

Maka terdengarlah Gui Bu-geh berkata pula, “Kalau kalian merasa kesal boleh minumlah beberapa cawan arak. Hahaha, anggaplah arak suguhanku bagi malam pengantin kalian.”

Di tengah suara tertawa itu, dari lubang di atas lantas jatuh sebotol arak. Baru saja Siau-hi-ji menangkapnya, menyusul sebotol lain jatuh pula. Hanya sebentar saja di pangkuan Siau-hi-ji sudah ada dua belas botol arak, bahkan tidak kecil botolnya.

So Ing berkerut kening, bisiknya lirih, “Apa maksud tujuannya ini? Arak kan juga bisa menambah tenaga, bila kedua belas botol arak ini diminum secara perlahan, tentu kita dapat bertahan hidup beberapa hari lebih lama....”

“Arak bisa menambah tenaga, tapi juga bisa mengacaukan pikiran,” kata Siau-hi-ji. “Seorang yang sudah dekat ajalnya, bila minum arak lagi, maka segala apa pun dapat diperbuatnya. Langkah Gui Bu-geh ini benar-benar sangat lihai dan keji.”

“Jika demikian mengapa kau menangkap semua botol arak ini?” tanya So Ing.

“Masa kau tidak paham maksudku?” jawab Siau-hi-ji sambil tertawa.

So Ing menggigit bibir lagi dan tidak bersuara.

Siau-hi-ji lantas menaruh enam botol arak di depan Ih-hoa-kiongcu, katanya, “Tetap aturan lama, kita bagi separo-separo.”

“Ambil kembali saja, selamanya kami tidak pernah minum barang setetes arak,” Kata Kiau-goat Kiongcu.

“Hah, jika benar kalian tidak pernah minum arak, maka sekarang kalian lebih-lebih harus mencicipinya barang dua cawan,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Seorang kalau mati tidak pernah tahu rasanya arak, maka hidupnya boleh dikatakan sia-sia belaka.”

Hanya sekejap saja ia sendiri sudah menghabiskan isi setengah botol.

Jika arak itu sangat keras mungkin Ih-hoa-kiongcu dapat bertahan dan tidak meminumnya, tapi arak itu justru adalah arak Tiok-yap-jing (hijau daun bambu), baunya harum, warnanya menarik, memandangnya saja menyenangkan, apalagi kalau mencicipi rasanya.

Ada peribahasa yang mengatakan “Minum racun untuk menghilangkan dahaga”, seorang kalau sudah kehausan, dalam keadaan kepepet, racun juga akan diminumnya, apalagi arak berbau sedap begini?

Lian-sing Kiongcu dan Kiau-goat Kiongcu saling pandang sekejap, akhirnya mereka tidak tahan, sumbat botol mereka buka dan masing-masing mencicipi seteguk.

Mendingan kalau mereka tidak mencicipinya, sekali sudah tahu rasanya, seketika mata mereka terbeliak, terasa hawa hangat mengalir masuk ke perut, menyusul darah sekujur badan lantas menghangat.

Setelah minum seteguk, segera ada dua teguk, ada dua ceguk tentu ada tiga ceguk dan begitu seterusnya.

Siau-hi-ji mengetuk-ngetuk botol arak sambil bersenandung, karena sekolahnya terbatas, dengan sendirinya senandung Siau-hi-ji senandung kampungan. Namun Lian-sing dan Kiau-goat tidak ambil pusing, setelah minum beberapa ceguk arak enak itu, bahkan mereka mulai merasakan senandung anak muda itu sangat merdu dan menggairahkan.

Tanpa terasa arak terus mengalir masuk ke perut kedua Ih-hoa-kiongcu, hanya sebentar saja isi botol sudah tinggal setengah. Bahkan cara minum mereka bertambah semangat, dan menyesal mengapa tidak sejak dulu-dulu mereka minum arak yang ternyata seenak ini.

Ketika senandung Siau-hi-ji berakhir, sementara itu satu botol arak sudah dihabiskan Lian-sing, dengan wajah merah ia mulai mengigau mengulangi senandung Siau-hi-ji tadi sambil bergelak tertawa.

“Kang... Kang Siau-hi-ji, marilah hab... habiskan secawan ini, marilah kita bersama-sama melupakan....” Demikian Lian-sing tampak mulai mabuk.

So Ing jadi melenggong, sama sekali tak tersangka olehnya Lian-sing bisa berubah menjadi demikian setelah minum arak.....
*** ***
Note 26 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Hari Minggu itu weekend tapi kalau cinta kita will never end"

(Regards, Admin)

0 Response to "Bahagia Pendekar Binal Jilid 22"

Post a Comment

close