coba

Bahagia Pendekar Binal Jilid 16

Mode Malam
“Sudah kupergi ke sana, tapi siapa pun tak kujumpai di sana.”

“Setiba di hutan sana masa tiada orang memapakmu? Jangan-jangan engkau kesasar ke tempat lain?”

“Aku tidak kesasar, setibanya di sana, kulihat di mana-mana hanya tikus belaka, aku menjadi ketakutan dan manjat ke atas pohon. Siapa tahu di atas pohon tergantung sesosok mayat, malahan kulihat di kejauhan ada beberapa lagi mayat bergelantungan di pohon. Selagi merasa bingung, waktu itulah Hoa... Hoa-kongcu lantas muncul.”

So Ing melenggong dan berkhawatir.

“Menurut pandanganku, tentu telah terjadi perubahan besar di sana, akan lebih baik kalau engkau lekas memeriksanya ke sana.”

Tanpa menunggu habis ucapan Thi Sim-lan, segera So Ing lari pergi, tapi baru beberapa langkah ia lantas berhenti, apa pun juga Gui Bu-geh adalah orang yang pernah menolongnya, jika terjadi sesuatu atas diri Gui Bu-geh, betapa pun ia tak dapat berpeluk tangan. Namun sekarang... sekarang Siau-hi-ji sedang memandangnya, mana boleh dia tinggal pergi begitu saja?

Seketika So Ing menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Pertentangan batin. Setiap orang tentu mengalami pertentangan batin dan berharap sang waktu akan berhenti pada detik demikian. Akan tetapi sejak dahulu hingga kini, sang waktu memang tidak pernah kenal kasihan. Semakin hendak kau tahan dia, semakin cepat dia akan berlalu.

Angin meniup kencang, pada saat itu juga sinar sang surya menjadi suram karena teraling oleh gumpalan awan tebal sehingga suasana jagat raya ini berubah menjadi lebih suram dan memilukan.

Melihat air muka si nona yang cemas itu, dengan tertawa Siau-hi-ji berkata, “Tampaknya kau menjadi bingung kerena Ih-hoa-kiongcu mungkin telah membunuh Gui Bu-geh, begitu bukan?”

Belum lagi So Ing menjawab, tiba-tiba sesosok bayangan orang melayang tiba terbawa oleh angin.

Pendatang ini pun sama dingin dan sama cantiknya dengan Kiau-goat Kiongcu, hanya sepasang matanya yang jeli dan berkilau itu sedikit banyak mengandung perasaan kelembutan. Seperti daun yang jatuh, dengan enteng dia hinggap di samping Hoa Bu-koat.

Serentak Bu-koat berlutut dan menyembahnya.

Mata Siau-hi-ji terbelalak, ucapnya, “Mungkin engkau inilah Lian-sing Kiongcu? Engkau benar-benar berasal dari satu cetakan dengan kakakmu, seperti mayat hidup yang bisa bernapas saja.”

“Tapi mereka kakak beradik dapat membuat setiap orang Kangouw merasa segan, sampai menyebut nama mereka pun tak berani,” kata So Ing dengan tertawa. “Jika mereka hanya kau anggap sebagai mayat hidup yang bisa bernapas, maka di dunia Kangouw pasti penuh orang mati.”

“Salah kau,” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Orang hidup harus bisa menangis, bisa tertawa, bisa gembira, bisa berduka dan juga bisa takut. Kalau hidup seperti mereka ini kan tiada artinya.”

Dia sengaja mengeraskan suaranya supaya didengar oleh Ih-hoa-kiongcu. Tapi kedua Ih-hoa-kiongcu ternyata tidak pedulikan dia, bahkan melirik saja tidak.

Berputar biji mata Siau-hi-ji, dengan tertawa ia berteriak pula, “Hah, orang lain mungkin sangat mengagumi mereka, tapi bagiku mereka sesungguhnya harus dikasihani. Seorang kalau tertawa saja tidak dapat, lalu apa bedanya dengan orang mati.”

Ih-hoa-kiongcu tetap tidak menggubrisnya dan entah sedang bicara apa dengan Hoa Bu-koat.

Kembali Siau-hi-ji terbahak-bahak, katanya, “Hahahaha, kau anggap mereka sebagai orang mati, bisa jadi mereka pun menganggap diriku ini orang mati, makanya apa pun yang kukatakan tak dipedulikan mereka dan juga tidak membuat mereka marah.”

Meski kata-kata ini diucapkan dengan tertawa, tapi bagi pendengaran So Ing dirasakan sangat mengharukan dan menusuk perasaan, hampir saja ia menitikkan air mata.

“Hahaha, tampaknya kau pun anggap aku ini orang mati, bukan?” seru Siau-hi-ji dengan tertawa. “Kau mengira aku pasti tiada harapan hidup lagi, bukan? Tapi paling tidak aku masih dapat hidup dua-tiga jam lagi, masih belum terlambat kiranya bagimu untuk menangis bila aku sudah mati nanti.”

Ingin tertawa juga So Ing, paling sedikit supaya bisa membesarkan hati Siau-hi-ji, tapi dalam keadaan demikian mana bisa lagi dia tertawa?

Sesungguhnya dia tidak tahu apakah Siau-hi-ji masih ada harapan untuk hidup seumpama dia mampu mengalahkan Hoa Bu-koat, sekali pun Hoa Bu-koat dibunuhnya, tapi apakah dia mampu melawan Ih-hoa-kiongcu, mustahil kalau dia takkan dibunuh oleh mereka? Jelas di dunia ini tiada seorang pun sanggup menyelamatkan Siau-hi-ji.

Maka Siau-hi-ji berkata pula, “Maukah kau tertawa? Asalkan kau tertawa sekejap saja, mati pun aku puas.”

So Ing benar-benar tertawa, tapi kalau dia tidak tertawa air matanya masih dapat dibendungnya, sekali tertawa, seketika air mata pun ikut bercucuran.

Tiba-tiba angin berkesiur, tahu-tahu Lian-sing Kiongcu telah berada di depan Siau-hi-ji, jengeknya, “Sudah hampir tiba waktunya, tahu tidak kau?”

“Kuharap waktunya akan tiba selekasnya, kalau tidak mungkin aku bisa mati tenggelam oleh lautan air mata,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa.

Sorot mata Lian-sing Kiongcu seperti memancarkan rasa senang, tapi air mukanya tetap dingin seperti es, katanya, “Adakah pesan yang hendak kau tinggalkan?”

“Tidak ada,” jawab Siau-hi-ji. “Waktu hidupku sudah terlalu banyak yang kuucapkan, setelah mati buat apa harus bikin repot orang lagi?”

“Apakah betul tiada sesuatu pula yang ingin kau katakan?” tanya Lian-sing Kiongcu. Berputar bola mata Siau-hi-ji, dengan tertawa dia berkata, “Ya, memang ada sesuatu ingin kutanyakan padamu?”

“Pertanyaan apa?”

“Perempuan seperti kau ini mengapa hingga kini belum kawin? Masa selama ini tiada seorang lelaki pun yang menyukaimu?”

Sekonyong-konyong Lian-sing Kiongcu membalik tubuh, namun sekilas Siau-hi-ji dapat melihat tubuhnya rada gemetar, rambutnya yang hitam panjang juga bertebaran tertiup angin.

Selang sejenak barulah terdengar Lian-sing berkata dengan tegas, “Berdiri kau!”

Sekali ini Siau-hi-ji sangat penurut, segera ia melompat bangun, tanyanya, “Apakah sekarang juga akan mulai?”

“Memangnya kau mau menunggu beberapa jam lagi?” jengek Lian-sing.

“Ya, memang tidak perlu menunggu lagi,” ujar Siau-hi-ji tertawa. “Betapa pun aku tidak gentar bertarung mati-matian dengan siapa pun juga. Waktu menunggu, itulah yang membuatku tersiksa, kalau segera dapat membedakan kalah dan menang serta mati dan hidup, cara demikian paling baik.”

Dilihatnya Hoa Bu-koat yang berdiri di bawah pohon sana juga mulai membalik tubuh perlahan-lahan.

Mendadak So Ing memegang tangan Siau-hi-ji dan berkata, “Apakah... apakah kepadaku pun tiada sesuatu yang hendak kau katakan?”

“Tidak ada,” jawab Siau-hi-ji.

Perlahan-lahan jari So Ing satu per satu mengendur dan akhirnya melepaskan tangan Siau-hi-ji, ia menyurut mundur dua langkah, air mata pun tak terbendung lagi.

“Nah, Hoa Bu-koat dan Kang Siau-hi, sekarang dengarkanlah kalian!” seru Lian-sing Kiongcu. “Pertama, mulai sekarang kalian masing-masing melangkah maju lima belas tindak ke depan, begitu langkah lima belas tercapai, segera kalian boleh mulai bergebrak. Pertarungan ini hanya boleh dilakukan oleh kalian berdua, orang ketiga dilarang membantu. Barang siapa berani ikut campur, seketika jiwanya akan kubinasakan tanpa ampun.”

“Kau sendiri pun tidak boleh membantu bukan?” seru So Ing mendadak.

Belum lagi Lian-sing menjawab, dengan dingin Kiau-goat menyela, “Dia berani ikut campur, seketika aku pun akan membinasakan dia.”

“Sebaliknya kalau kau sendiri yang ikut turun tangan, lalu bagaimana?” tanya So Ing pula.

“Aku pun akan membinasakan diriku sendiri!” ucap Kiau-goat dengan tegas.

So Ing mengusap air matanya dan berteriak, “Nah, Siau-hi-ji, sudah kau dengar bukan? Apa yang telah dikatakan Ih-hoa-kiongcu, kuyakin pasti akan ditepatinya. Maka kumohon engkau harus terus berjuang sekuat tenaga dan jangan sampai dikalahkan olehnya.”

Ia tidak tahu bahwa pertarungan ini adalah pertarungan maut, yang kalah tiada jalan lain kecuali mati, sebaliknya nasib yang menang juga lebih tragis dari pada yang kalah. Jika Siau-hi-ji terbunuh oleh Hoa Bu-koat, maka dia boleh dikatakan jauh beruntung dari pada nasib Hoa Bu-koat nanti.

Cuaca terasa suram, awan berarak, di ujung ranting pohon masih ada beberapa helai daun kering yang tetap bertahan dari embusan angin yang kencang, tapi itu pun cuma rontakan sebelum ajal saja.

Siau-hi-ji sudah mulai melangkah ke depan. Hoa Bu-koat juga mulai menggeser langkahnya dengan perlahan.

Suasana yang mendung sudah mulai mencekam, hanya deru angin barat yang meniup kencang, tiada terdengar suara lain lagi di dunia ini.

Kiau-goat, Lian-sing, So Ing, Thi Sim-lan, empat pasang mata tanpa berkedip mengikuti setiap langkah Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat.

Meski apa yang terpikir oleh hati keempat orang itu berlainan, tapi ketegangan mereka sekarang jelas sama.

Thi Sim-lan tahu dalam sekejap lagi satu di antara kedua anak muda itu pasti akan roboh. Sesungguhnya ia tidak tahu siapa yang diharapkan roboh. Dalam lubuk hatinya ia pun tahu bila mana salah satu di antara kedua anak muda itu sudah roboh, maka pertentangan batinnya juga akan berakhir dan tidak perlu memilih lagi, dengan demikian persoalannya juga akan berubah jauh lebih sederhana.

Akan tetapi jalan pikiran demikian pada hakikatnya tak berani dibayangkannya, sebab kalau terpikir hal ini, ia menjadi marah pada dirinya sendiri, kalau bisa hati sendiri akan dikorek keluar dan dicincang hancur lebur.

Bahkan ia pun menolak adanya jalan pikiran demikian dalam benaknya, sebab jalan pikiran demikian sesungguhnya memang terlalu kotor, terlalu mementingkan diri sendiri, terlalu keji dan tak berbudi.

Betapa pun ia tidak tahu bahwa seorang yang biasanya sangat luhur budinya, seorang yang tidak egois, seorang yang baik hati, terkadang juga bisa timbul pikiran-pikiran yang kotor dan mementingkan diri sendiri.

Memang begitulah tragisnya watak manusia dan tak dapat dibantah oleh siapa pun juga. Sebab Malah Thi Sim-lan berharap dalam sekejap ini sebaiknya dunia ini kiamat saja, biarlah seluruh umat manusia dilebur menjadi abu.

Sedangkan hati So Ing hanya kesedihan belaka tanpa pertentangan batin apa pun, sebab dia sudah bertekad takkan hidup sendirian apa bila Siau-hi-ji terbunuh oleh Hoa Bu-koat.

Dia tahu kesempatan menang bagi Siau-hi-ji tidak banyak, tapi dia berharap akan timbulnya keajaiban dan berharap Siau-hi-ji dapat merobohkan Hoa Bu-koat.

Justru lantaran harapannya itu sangat sederhana dan bersahaja, maka derita batinnya juga paling ringan.

Lantas bagaimana dengan Lian-sing Kiongcu dan Kiau-goat Kiongcu?

Kini rencana dan rekayasa mereka sudah hampir menjadi kenyataan. Kesabaran mereka selama berpuluh tahun kini pun sudah mendatangkan hasil, dendam kesumat mereka dalam waktu singkat juga akan terlampiaskan.

Tapi apakah semua ini telah membuat mereka merasa gembira?

Tidak!

Dendam kesumat yang terpendam selama dua puluh tahun ini dalam sekejap ini malah tambah berkobar.

Sorot mata Kang Hong yang menatap Hoa Goat-loh sebelum ajalnya dalam sekejap ini seakan-akan timbul pula di depan mata mereka.

Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat, tidakkah mereka ini jelmaan Kang Hong?

Mereka hanya mengkhayalkan bila mana satu di antara kedua anak muda itu sudah roboh barulah dapat meringankan derita batin mereka, sebab hanya pada saat itu mereka akan menceritakan rahasia yang mengejutkan ini, rahasia ini mirip seutas rantai yang kukuh dan berat telah membelenggu jiwa mereka selama dua puluh tahun ini, hanya kalau mereka sudah menceritakan rahasia ini barulah mereka merasa bebas, bebas dari tekanan batin. Kalau tidak, maka untuk selamanya mereka akan tetap menjadi budak rahasia itu.

Dan sekarang mereka tetap harus menanti.

Diam-diam mereka menghitung setiap langkah Siau-hi-ji, “Satu... dua... tiga...”

Siapa tahu, baru tiga tindak, tahu-tahu Siau-hi-ji berhenti, tiba-tiba ia menoleh dan tersenyum kepada So Ing, katanya, “Oya, baru saja teringat olehku ada sesuatu ingin kukatakan kepadamu.”

Bergetar hebat hati So Ing, air matanya berlinang-linang dan hampir menetes lagi. Apa pun juga nyata Siau-hi-ji toh bersikap padanya lain dari pada yang lain.

“Bi... bicaralah, akan kudengarkan,” ucap So Ing dengan menahan air mata.

“Begini, kunasehatkan kau lekaslah kawin mumpung masih muda, kalau tidak, makin tua tentu akan semakin tidak laku. Apa bila kau sudah telanjur berusia lima puluh atau enam puluh, maka kau akan berubah seperti siluman tua macam mereka.”

Sungguh konyol. Ternyata beginilah pesan terakhir sebelum ajal Siau-hi-ji kepada So Ing. Dalam keadaan demikian dia masih dapat mengutarakan kata-kata seperti ini.

Seketika hati So Ing seperti dipuntir-puntir. Selang sejenak dengan menggereget barulah dia berkata, “Baiklah, jangan khawatir, pasti takkan kutunggu terlalu lama.”

Tapi Siau-hi-ji seperti tidak mendengar jawaban So Ing ini, dia mulai lagi melangkah maju ke depan.

Hanya ucapan yang acuh tak acuh begitu Siau-hi-ji telah meremukredamkan hati So Ing. Bahkan juga membikin marah Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu sehingga tubuh mereka gemetar dan muka pucat.

Akan tetapi Siau-hi-ji sendiri seakan-akan tidak merasa pernah mengucapkan kata-kata begitu.

Siau-hi-ji, wahai Siau-hi-ji, sesungguhnya orang macam apakah kau ini?

Sesungguhnya apa yang sedang kau pikirkan dan apa yang akan kau lakukan?

Yang aneh dan lucu adalah dalam keadaan demikian, dalam hati setiap orang justru berharap Siau-hi-ji menang, Thi Sim-lan juga tidak sampai hati menyaksikan keadaan Siau-hi-ji setelah dirobohkan oleh Hoa Bu-koat.

Entah mengapa, Thi Sim-lan selalu menganggap Hoa Bu-koat terlebih kuat dari pada Siau-hi-ji, maka tiada alangan baginya untuk menderita lebih banyak, sebab itulah dia lebih suka Hoa Bu-koat yang roboh dari pada Siau-hi-ji yang kalah.

Hoa Bu-koat sekali-kali tidak boleh kalah berbuat apa pun dan juga tidak boleh salah bicara apa pun. Sebaliknya apa pun yang diperbuat Siau-hi-ji dan apa pun yang diucapkannya selalu menusuk perasaan orang, namun orang tetap sudi memaafkan dia.

Yang lebih aneh dan ajaib adalah Kiau-goat serta Lian-sing Kiongcu juga berharap akan kemenangan Siau-hi-ji. Mungkin mereka tidak mau mengakui pikiran mereka ini, namun hal ini memang kenyataan.

Sebabnya, bila Hoa Bu-koat merobohkan Siau-hi-ji, maka mereka harus membeberkan rahasia ini di depan Hoa Bu-koat. Bahwa mereka mendidik dan membesarkan Hoa Bu-koat adalah bertujuan menuntut balas, selama belasan tahun ini berkumpul, sedikit banyak tentu timbul perasaan kasih sayang terhadap anak yang dibesarkan oleh mereka ini.

Betapa pun mereka kan manusia? Manusia yang berdarah daging dan berperasaan.

Karena itulah mereka juga berharap Siau-hi-ji yang akan merobohkan Hoa Bu-koat, sebab mereka dapat menggunakan rahasia di balik peristiwa ini untuk menyiksa batin anak muda itu, lalu menyaksikan dia mati di depan hidung mereka sendiri.

Diam-diam mereka tetap menghitung setiap langkah Siau-hi-ji, “...sepuluh, sebelas, dua belas... tiga belas...”

Tampaknya dalam sekejap lagi kedua saudara kembar itu akan saling bunuh tanpa kenal ampun. Sampai saat ini, di dunia ini tiada lagi seorang pun yang dapat mengubah nasib tragis mereka.

Tanpa terasa tersembul secercah senyum kepuasan di ujung mulut Kiau-goat Kiongcu.

Dalam pada itu Siau-hi-ji dan Hoa Bu-koat sama-sama sudah mengayunkan langkah keempat belas.

Mata Siau-hi-ji senantiasa menatap Hoa Bu-koat, air muka Hoa Bu-koat tidak mengunjuk sesuatu perasaan apa pun, tapi sorot matanya selalu menghindarkan tatapan Siau-hi-ji.

Hoa Bu-koat, wahai Hoa Bu-koat, apa pula yang sedang kau pikirkan sekarang?

Betapa pun lambat langkah mereka, namun langkah kelima belas akhirnya toh harus diayunkan. Tanpa terasa Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu ikut tegang, tangan mereka mengepal erat-erat.

Tapi tangan Thi Sim-lan dan So Ing bergerak saja terasa berat, tangan mereka gemetar sedemikian keras seperti orang yang menggigil kedinginan.

Di luar dugaan, pada saat itulah mendadak Siau-hi-ji roboh terkapar.

Dalam keadaan tegang, pada detik semua orang menahan napas, secara tak terduga-duga dan mengherankan Siau-hi-ji roboh tanpa sebab.

Seketika juga Hoa Bu-koat melenggong, Thi Sim-lan juga melengak. Tentu saja So Ing terlebih-lebih tercengang. Kalau tadi tubuh mereka seakan-akan penuh terisi oleh darah hangat saking tegangnya, kini darah yang memenuhi tubuh mereka itu seolah-olah mendadak tersedot habis seketika, benak mereka pun serasa hampa, semuanya bingung, tiada yang tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengatasi perubahan yang timbul mendadak ini.

Bahkan Kiau-goat dan Lian-sing Kiongcu juga sama melenggong, air muka mereka pun berubah hebat.

Terlihat Siau-hi-ji yang terkapar di tanah itu terus menggigil seperti orang sakit malaria, bahkan makin lama makin hebat menggigilnya, sampai akhirnya tubuhnya meringkuk menjadi satu seperti ebi atau udang kering.

“Apa-apaan kau ini?” omel Lian-sing Kiongcu.

“Dia cuma pura-pura mampus,” kata Kiau-goat dengan gusar.

“Tapi... tapi dia... dia tidak...” Bu-koat tergagap-gagap dan tidak dapat meneruskan.

“Bunuh dia, lekas bunuh dia!” bentak Kiau-goat dengan bengis.

Namun Bu-koat cuma menunduk saja, katanya, “Dia tidak sanggup melawan sama sekali, mana Tecu boleh turun tangan?”

“Kalau dia tidak berani bergebrak denganmu berarti dia mengaku kalah, mengapa kau tidak boleh membunuh dia?” kata Kiau-goat pula.

Bu-koat menunduk, tidak menjawab dan juga tidak turun tangan.

“Apa yang kukatakan padamu tadi apakah sudah kau lupakan?” tanya Kiau-goat dengan gusar.

Dengan suara parau So Ing lantas menyela, “Mana boleh kalian membunuh orang yang tak dapat melawan sama sekali?!” Seperti orang gila ia terus lari maju hendak menubruk tubuh Siau-hi-ji, tapi mendadak terasa suatu arus tenaga mahadahsyat mendampar tiba, tanpa terasa ia terdorong terjungkal ke belakang.

Terdengar Kiau-goat Kiongcu membentak dengan bengis, “Kenapa diam saja dan tidak lekas turun tangan, masa setiap kali dia berlagak mau mampus lantas kau tidak tega membunuhnya? Masa sudah kau lupakan peraturan perguruan kita? Kau berani membangkang pada perintahku?”

Butiran keringat tampak memenuhi dahi Hoa Bu-koat, dengan menunduk ia pandang Siau-hi-ji, ucapnya kemudian, “Kenapa kau tidak berdiri saja untuk bertempur? Masa kau memaksa aku membunuh dalam keadaan begini?”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa lebar, katanya, “Baiklah, lekas kau bunuh aku saja, betapa pun takkan kusalahkan kau, sebab ini tak dapat dianggap kau yang membunuhku, orang yang membunuhku sesungguhnya ialah Kang Giok-long.”

Kiau-goat Kiongcu melengak, tanyanya, “Apa artinya ucapanmu ini?”

Siau-hi-ji menghela napas, jawabnya, “Sebab kalau aku tidak keracunan, tentu kini aku takkan lemas begini sehingga tak dapat bertempur, dan tentunya juga takkan mati konyol begini. Karena itulah, seumpama sekarang kau bunuh diriku juga bukan salahmu dan kau pun tidak perlu menyesal sebab pada hakikatnya bukan kau yang membunuh aku.”

Mendadak ia menatap Kiau-goat dan berkata pula, “Yang membunuhku sesungguhnya ialah Kang Giok-long.”

Kiau-goat dan Lian-sing saling pandang sekejap, tanpa terasa kedua Ih-hoa-kiongcu ini jadi tertegun.

Selang sejenak barulah Kiau-goat bertanya pula dengan suara bengis, “Mengapa kau bisa diracun oleh Kang Giok-long?”

“Betapa pun pintarnya seorang terkadang juga bisa tertipu,” jawab Siau-hi-ji dengan menyengir.

“Kau terkena racun apa?” tanya Lian-sing.

“Li-ji-hong,” tutur Siau-hi-ji.

Lian-sing menghela napas panjang-panjang, ucapnya sambil menatap Kiau-goat, “Melihat keadaan ini, tampaknya memang mirip bekerjanya racun Li ji-hong.”

Air muka Kiau-goat yang pucat itu tampak semakin dingin, selang sejenak, tiba-tiba ia mendengus, “Orang ini banyak tipu akalnya, mana boleh kau percaya pada ocehannya.”

“Percaya atau tidak terserah padamu,” ujar Siau-hi-ji. “Yang jelas waktu aku keracunan cukup banyak-orang yang menyaksikannya.”

“Siapa yang menyaksikan?” tanya Kiau-goat cepat.

“Ada Thi Peng-koh, ada pula seorang yang bernama Oh Yok-su, dengan sendirinya juga ada Kang Giok-long yang meracuniku,” kata Siau-hi-ji.

Lian-sing dan Kiau-goat saling pandang pula sekejap, mendadak mereka melayang berbareng ke sana seperti tertiup angin, hanya sekejap saja mereka sudah berada di bawah pohon sana.

Orang keracunan, hal ini sungguh harus disesalkan, juga menyedihkan. Tapi dalam hati So Ing, Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat sekarang diam-diam justru bergirang, merasa keracunannya Siau-hi-ji sekarang benar-benar kejadian yang beruntung dan menggembirakan.

Dalam pada itu setelah bersama melayang ke bawah pohon sana. Lian-sing Kiongcu lantas bertanya kepada sang kakak, “Sekarang bagaimana pendapatmu?”

Bibir Kiau-goat Kiongcu tampak terkancing rapat dan tidak menjawab.

Maka Lian-sing berkata pula. “Jika Kang Siau-hi betul-betul terkena racun Kang Giok-long, maka kematiannya tidak dapat dianggap terbunuh oleh Hoa Bu-koat. Dengan demikian usaha kita selama ini menjadi tiada artinya sama sekali.”

Sorot mata Kiau-goat setajam pisau mendadak menatap sang adik, ucapnya dengan suara tertahan, “Inilah hasil dari akalmu yang bagus, akalmu ini yang telah membikin susah aku menunggu selama 20 tahun, katamu setelah mereka dewasa tentu akan saling bermusuhan dan saling bunuh, tapi sekarang Hoa Bu-koat harus kupaksa barulah mau turun tangan.”

“Ya, tapi 20 tahun yang lalu mana bisa terpikir olehku bahwa setelah dewasa Siau-hi-ji bisa berubah menjadi begini?” ujar Lian-sing. “Kalau saja ia bukan orang macam begini, bukankah sudah lama Bu-koat telah membunuhnya?” ia menghela napas, lalu menyambung, “Memang banyak kejadian di dunia ini yang tak dapat diduga oleh siapa pun juga, masa engkau menyalahkan aku?”

“Habis siapa kalau bukan kau yang harus kusalahkan?” omel Kiau-goat. “Jika tidak yakin akan akalmu itu, mestinya tidak... tidak perlu kau laksanakan.”

Mendadak Lian-sing menjengek, “Walau pun aku yang mengusulkan akal ini, tapi waktu itu engkau tidak menyanggahnya. Apalagi, bila engkau merasa akalku ini tidak baik, sekarang pun belum terlambat bagimu untuk membunuh mereka berdua.”

Mendadak tangan Kiau-goat terangkat, seperti hendak menampar muka adiknya. Tapi sorot mata Lian-sing tampak mencorong tajam seakan-akan hendak mengatakan, “Aku bukan anak kecil lagi sekarang dan tidak boleh kau pukul sesuka hatimu.”

Akhirnya tangan Kiau-goat diturunkan kembali, ucapnya kemudian dengan suara gemetar, “Aku... aku sudah menderita selama 20 tahun, dan baru sekarang kau menyuruh aku membunuh mereka?”

“Kau menderita selama 20 tahun, memangnya selama 20 tahun ini aku hidup gembira?” ujar Lian-sing dengan nada haru. Selang sejenak, ia menyambung pula, “Tapi penderitaan kita selama 20 tahun ini juga tidak sia-sia, sebab di kolong langit ini hanya kita berdua saja yang tahu kedua anak muda ini sebenarnya adalah saudara kembar. Jika rahasia ini tidak kita siarkan, maka sampai mati pun mereka takkan tahu.”

Air muka Kiau-goat mulai tenang kembali, katanya, “Ya, betul, sampai mati pun mereka tidak tahu.”

“Sebab itulah, lambat atau cepat, pada suatu hari akhirnya mereka pasti juga akan saling membunuh, nasib mereka sudah ditakdirkan begitu, kecuali kita berdua, siapa pun tak dapat mengubah nasib mereka,” Lian-sing merandek sejenak, lalu menyambung pula dengan sekata demi sekata, “Dan kita berdua jelas pasti takkan mengubah nasib mereka itu, betul tidak?”

“Ya,” jawab Kiau-goat.

“Nah, jika begitu, hakikatnya sekarang pun kita tidak perlu cemas,” ujar Lian-sing. “Meski rasanya tersiksa kalau kita harus menunggu dan menunggu lagi, tapi mereka kan juga menderita? Kita justru akan menyaksikan mereka bergelut dengan nasibnya sendiri, mirip seperti seekor kucing yang memandangi tikus yang meronta di bawah cakarnya. Apalagi kita sudah menunggu selama 20 tahun, apa alangannya jika sekarang kita menunggu lagi dua tiga bulan?”

“Lantas maksudmu...” mendadak Kiau-goat tidak meneruskan, sebab tiba-tiba dilihatnya sang adik lagi tertawa. Selama hidupnya untuk pertama kali inilah dia meminta pendapat sang adik. Betapa pun ia merasakan wibawa sendiri telah mengalami gangguan, maka tanpa menunggu jawaban Lian-sing ia lantas melanjutkan, “Kutahu maksudmu, kau hendak menawarkan dulu racun Kang Siau-hi-ji itu, kemudian Bu-koat kau suruh membunuhnya, kau ingin dia benar-benar mati di tangan Hoa Bu-koat, begitu bukan?”

Terpancar rasa senang dalam sorot mata Lian-sing Kiongcu, ucapnya dengan suara lembut, “Betul, sebab hanya dengan cara begini barulah dapat membuat Bu-koat merasa menyesal dan tersiksa sehingga merasa mati lebih baik dari pada hidup.”

“Sedangkan kalau sekarang kita suruh dia membunuh Kang Siau-hi tentu dia akan memaafkan dirinya sendiri, bahkan bisa jadi dia akan membunuh Kang Giok-long untuk membalaskan sakit hati Kang Siau-hi, jika terjadi demikian, maka rencana kita menjadi tiada artinya sama sekali.”

Kiau-goat terdiam sejenak, katanya kemudian, “Tapi apakah kau tahu Kang Siau-hi ini benar-benar keracunan atau tidak?”

“Untuk ini segera dapat kita ketahui,” ujar Lian-sing.

Di sebelah sana Siau-hi-ji masih rebah menggigil, tapi So Ing, Thi Sim-lan dan Hoa Bu-koat tidak lagi memperhatikannya, pandangan mereka justru tertuju ke arah kedua Ih-hoa-kiongcu di bawah pohon sana.

Tapi ini tidak berarti mereka tidak ambil pusing lagi terhadap Siau-hi-ji, justru lantaran mereka terlalu memikirkan keadaan Siau-hi-ji itulah, maka mereka ingin tahu bagaimana sikap Ih-hoa-kiongcu. Dari sorot mata yang tiga pasang itu mereka ingin tahu sedikit kabar berita dari gerak-gerik Ih-hoa-kiongcu.

Cuma sayang, apa pun tak terlihat oleh mereka, bahkan satu kata saja tak terdengar. Mereka hanya melihat wajah Kiau-goat yang dingin penuh diliputi rasa dendam dan benci, penuh nafsu membunuh. Makin dipandang makin cemas mereka, sehingga bertambah khawatir bagi keselamatan Siau-hi-ji.

Waktu berbicara kedua Ih-hoa-kiongcu itu tidak lama, tapi bagi mereka bertiga rasanya telah menunggu beberapa jam lamanya, semakin gelisah dan cemas rasa mereka, semakin lambat pula lalunya sang waktu.

Hanya Siau-hi-ji saja, meski tubuhnya masih terus menggigil, tapi sikapnya sama sekali tidak khawatir. Dia seperti yakin Ih-hoa-kiongcu pasti takkan membunuhnya sekarang.

Entah sudah lewat beberapa lama pula, akhirnya kelihatan kedua kakak beradik Ih-hoa-kiongcu melangkah kemari dengan perlahan. Segera Bu-koat hendak menyongsong mereka, tapi baru bergerak kakinya segera berhenti lagi.

Setiba di depan Siau-hi-ji, dengan suara bengis Kiau-goat lantas bertanya, “Waktu kau keracunan antara lain disaksikan juga oleh Peng-koh, begitu?”

Siau-hi-ji mengiakan sambil merintih.

“Baik, boleh kau suruh dia keluar, akan kutanyai dia,” kata Kiau-goat.

“Ke mana harus kupanggil dia? Pada hakikatnya aku tidak tahu dia berada di mana sekarang?” jawab Siau-hi-ji.

“Kan jelas dia kulemparkan ke dalam gua itu?” bentak Kiau-goat dengan gusar.

“Hah, apakah kau kira gua ini cuma ada sebuah jalan keluar-masuk di sini?”

“Memangnya masih ada jalan keluar lain? Jika ada, masa kau tidak kabur sejak tadi-tadi,” jengek Kiau-goat.

Siau-hi-ji balas menjengek, “Untuk apa kukabur? Betapa pun kan aku tidak boleh ingkar janjiku kepada Hoa Bu-koat. Tapi Thi Peng-koh memang sudah pergi sejak tadi, jika tidak percaya, kenapa tidak kau periksa sendiri ke dalam sana.”

Belum habis ucapannya secepat terbang Kiau-goat Kiongcu telah melayang ke tebing sana. Tali yang dilemparkan ke bawah oleh Hoa Bu-koat tadi masih bergelantungan di situ. Dengan gesit Kiau-goat lantas melorot ke dalam gua. Tidak lama kemudian, secepat angin ia keluar lagi. Dari air mukanya dapat terlihat dia pun merasa heran dan tak terduga-duga.....

0 Response to "Bahagia Pendekar Binal Jilid 16"

Post a Comment