coba

Bahagia Pendekar Binal Jilid 14

Mode Malam
Akan tetapi sekarang Siau-hi-ji telah mati di tangan orang lain, impian dan khayalan selama 20 tahun ini telah buyar dalam sekejap saja, pukulan ini sungguh berat dan tidak dapat ditahan oleh siapa pun juga. Seketika Kiau-goat Kiongcu merasa lemas lunglai dan hampir-hampir ambruk.

Meski Thi Peng-koh tidak dapat melihat perubahan perasaan Kiau-goat Kiongcu, tapi selama ini tak pernah dilihatnya sorot mata sang junjungan ini bisa berubah begini menakutkan.

Dilihatnya Kiau-goat Kiongcu bersandar di pohon dengan lemas, selang sejenak, matanya tampak berkaca-kaca, itulah air mata putus asa. Sungguh sukar dipercaya, Ih-hoa-kiongcu yang tiada bandingannya di dunia ini bisa mencucurkan air mata. Apakah sebabnya? Mimpi pun Thi Peng-koh tak pernah membayangkannya.

Lewat sejenak pula, dengan perlahan Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Apakah benar Siau-hi-ji sudah mati?”

Thi Peng-koh mengangguk dan berkata, “Dia sudah mati, sungguh tak terduga engkau pun berduka baginya.”

“Ya, aku sangat berduka,” kata Kiau-goat Kiongcu. “Padahal, sekali pun semua orang di dunia ini mampus seluruhnya juga aku takkan berduka. Sekarang apa pun juga aku pasti akan menuntut batas baginya.”

Sorot mata Kiau-goat Kiongcu yang tajam itu tiba-tiba menatap Thi Peng-koh, tanpa terasa Peng-koh merinding, katanya, “Tapi... tapi orang yang membunuhnya itu bukanlah aku.”

“Betul, bukan kau yang membunuhnya. Tapi kalau kau tidak membawanya lari, mana bisa dia terbunuh di tangan orang lain?”

“Ya, aku mengaku salah, boleh kau bunuh saja diriku,” ucap Peng-koh dengan parau.

“Bunuh kau? Bisa kubunuh kau begini saja?”

“Memangnya apa... apa pula kehendakmu!” tanya Peng-koh dengan gemetar.

Dengan sekata demi sekata Kiau-goat berucap, “Aku menghendaki kau pun menderita selama 20 tahun. Selanjutnya, setiap hari kusayat dagingmu sepotong demi sepotong, sekarang juga akan kucungkil dulu biji matamu agar kau tidak dapat melihat apa pun, lalu kupotong lidahmu, supaya kau tak dapat bicara lagi.”

Thi Peng-koh tahu apa yang dikatakan Kiau-goat Kiongcu ini bukan cuma gertakan belaka, jika Ih-hoa-kiongcu sudah menyatakan akan membikin seseorang menderita 20 tahun, maka satu hari pun tak dapat ditawar.

Mendadak pada saat itu juga, seluruh lembah pegunungan ini berkumandang suara gelak tertawa orang. Lalu seorang berseru, “Hahahaha! Tak tersangka sedemikian hebat kepandaian Siau-hi-ji. Sesudah mati dia masih membuat Ih-hoa-kiongcu berduka cita baginya.”

Suara tertawa itu menggema dari berbagai penjuru, sampai-sampai Kiau-goat Kiongcu tidak dapat membedakan dari arah mana datangnya suara itu. Tapi dia lantas menenangkan diri, bentaknya, “Siapa itu berani sembarangan mengoceh di sini?” Meski tidak keras suaranya, tapi Lwekangnya sangat tinggi, ucapannya itu seketika berkumandang jauh dan terdengar dengan jelas.

Tapi orang itu masih tergelak-gelak, katanya, “Hahaha, masa suaraku tidak kau kenal lagi? Apakah kau sudah lupa waktu aku berak kan pernah kau tunggu di luar kakus, masa kau telah melupakan bau sedap itu?”

Bergetar tubuh Kiau-goat Kiongcu, serunya, “Siau-hi-ji? Jadi kau Siau-hi-ji? Kau tidak mati?”

“Orang macan diriku ini masa bisa mati begitu saja?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

Kata-kata ini membuat Thi Peng-koh terkejut dan juga kegirangan, walau pun begitu toh kejutnya tidak sehebat Kiau-goat Kiongcu, saking terharunya sampai dia tidak bersuara. Sesudah menarik napas panjang-panjang beberapa kali, akhirnya ia tanya dengan suara parau, “Kau berada di mana?”

“Tepat berada di depanmu, apakah kau tidak melihatku?”

Sorot mata Kiau-goat mengerling, serunya pula, “Apakah kau berada di perut bukit ini?”

“Betul,” jawab Siau-hi-ji, setelah terbahak-bahak ia menyambung pula, “Baru sekarang kutahu Tong-siansing yang serba misterius itu kiranya ialah Ih-hoa-kiongcu, di seluruh dunia ini mungkin tiada orang lain yang lebih beruntung dari padaku.”

Kembali Kiau-goat dibuat gemas tak terkatakan sehingga tubuhnya gemetar pula.

“Sekarang janjiku dengan Hoa Bu-koat sudah tiba waktunya,” demikian Siau-hi-ji berseru pula. “Nah, tentunya kau tidak menghendaki aku mati begini saja bukan?”

“Ya, apa kehendakmu, coba katakan?” tanya Kiau-goat Kiongcu.

“Yang jelas, nona Thi itu...”

“Baik, akan kulepaskan dia, takkan kuganggu seujung rambutnya pun,” kata Kiau-goat dengan mendongkol.

“Tapi meski telah kau bebaskan dia, setiap waktu kau masih dapat mencabut nyawanya?”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Kiau-goat.

“Bila kau membunuhnya setelah aku mati, tentunya aku pun tak berdaya, tapi selama aku masih hidup, aku masih ingin melihat dia hidup senang dan bahagia.”

“Sesungguhnya apa keinginanmu?”

“Gua ini meski sangat dalam, tapi di bawah sini penuh air, siapa pun kalau terjun ke sini pasti takkan mati terbanting.”

Belum habis ucapan Siau-hi-ji, segera Kiau-goat mengangkat Thi Peng-koh terus dilemparkan ke sana.

Dia hanya melempar seenaknya, seketika tubuh Peng-koh terus terlempar belasan tombak jauhnya. Anehnya, dengan tepat dan persis terlempar masuk ke lubang gua itu, tampaknya seperti anak kecil main lempar keranjang saja.

Selang sejenak, terdengar suara “plung” yang keras, suara benda berat tercebur ke dalam air.

Lalu Siau-hi-ji bergelak dan berseru pula, “Bagus, bagus, tak tersangka Ih-hoa-kiongcu yang malang melintang ditakuti orang ternyata juga seorang tolol. Setelah kau serahkan dia padaku, bukankah aku tidak perlu lagi tunduk pada kehendakmu?”

Gemas dan gusar Kiau-goat Kiongcu, saking geregetan jadi tak dapat bersuara.

Dengan tertawa Siau-hi-ji menyambung pula, “Tapi kau pun jangan khawatir, hidupku ini terasa sangat senang, aku tidak ingin mati, pasti akan kuberi kesempatan padamu untuk menolong aku keluar dari sini.”

Sungguh dunia terbalik, sungguh lagaknya seperti memberi pahala kepada orang lain. Di dunia ini mungkin tiada kedua lagi yang serupa dia dan mungkin juga takkan terjadi peristiwa kedua seperti ini.

Dengan menahan rasa gusar terpaksa Kiau-goat Kiongcu bertanya, “Apakah sekarang kau belum mau keluar?”

“Sekarang Hoa Bu-koat juga tidak berada di sini, andaikan aku keluar, lalu apa gunanya? Bila melihat aku kau lantas marah, aku pun kikuk jika melihatmu. Nah, kan lebih baik tetap kutinggal di sini saja.”

“Tapi janji tiga bulan kini sudah tiba waktunya,” kata Kiau-goat.

“Benar waktunya sudah tiba menurut perjanjian, maka lekas kau pergi mencari Hoa Bu-koat dan mengajaknya ke sini, akan kutunggu di sini?”

“Kau... kau benar-benar menunggu di sini?”

“Gua ini mirip sebuah guci arak raksasa, sekali pun kau yang jatuh ke sini juga jangan harap bisa keluar lagi. Masa kau khawatir aku melarikan diri?” Siau-hi-ji bergelak tertawa, lalu menyambung pula, “Apalagi, biar pun kau sangsi juga tak berdaya. Saat ini akulah yang kuasa dan menentukan persoalannya, jika aku tak mau keluar, sekali pun muncul sepuluh orang Ih-hoa-kiongcu juga tak mampu mengusik diriku?”

Secara akal sehat, seorang kalau sudah terjatuh ke gua sumur yang dalamnya tak terkira dan tak dapat lari keluar, maka nasibnya boleh dikatakan konyol, sial habis-habisan.

Siapa tahu hal apa pun yang konyol bila sudah berada di tangan Siau-hi-ji, maka kekonyolan itu akan segera berubah, bukan saja dia tidak merasa konyol, sebaliknya kejadian ini malah dapat diperalatnya untuk memeras Ih-hoa-kiongcu.

Dalam keadaan demikian, Ih-hoa-kiongcu benar-benar tak berdaya, mati kutu. Selang sejenak barulah dia bertanya, “Apakah Hoa Bu-koat juga berada di sekitar sini?”

“Betul, dia juga berada di sekitar sini,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa, “Cuma di pegunungan ini banyak sekali liang tikusnya, dalam waktu singkat kukira kau tak dapat menemukan dia. Jika waktu pencarianmu terlalu lama, bisa jadi aku akan mati kelaparan di sini. Sebab itulah, paling baik kalau kau berusaha dulu membawakan makanan bagiku. Selera perutku kan sudah kau kenal, bukan?”

“Ya, kutahu,” kata Kiau-goat Kiongcu. Saking geregetan, “krak”, mendadak tangannya menabas ke samping, kontan sebatang pohon menjadi sasaran pelampiasan dongkolnya.

Sementara itu pasang naik air dalam gua semakin tinggi, permukaan batu karang yang menongol di atas air tinggal sebesar meja bundar saja. Siau-hi-ji, Oh Yok-su, So Ing dan Thi Peng-koh sama berjubel di atas batu.

Thi Peng-koh basah kuyup dan menggigil kedinginan. Sedapatnya dia ingin membungkus tubuhnya yang bugil itu dengan baju panjang yang basah itu, tapi baju bekas milik Oh Yok-su yang tipis itu kini telah basah dan lengket di kulit, jadinya seperti tembus pandang saja.

Meski dia tidak ingin duduk di sebelah Oh Yok-su, tapi So Ing seperti tidak sengaja memisahkan dia dari Siau-hi-ji, terpaksa dia mengkeretkan tubuhnya seringkas-ringkasnya.

Untung sejauh itu Oh Yok-su tetap duduk bersimpuh dengan sopan tanpa sembarangan bergerak. Akan tetapi, tidak lama kemudian, terdengarlah jantung Oh Yok-su mulai berdetak-detak keras.

Jika jantung seseorang tidak berdetak keras mana kala di sebelahnya duduk seorang gadis cantik lagi menggiurkan, maka dia pasti bukan lelaki atau orang yang mempunyai penyakit tertentu.

Setelah pohon di luar sana ditebas roboh oleh pukulan Kiau-goat Kiongcu, tawa Siau-hi-ji bertambah riang. Tapi kecuali dia, orang lain sama tertekan perasaannya dan tiada yang dapat tertawa.

Jantung Oh Yok-su berdebar semakin keras, Thi Peng-koh semakin menunduk dengan menggigit bibir. Tiba-tiba ia melihat paha sendiri menongol di luar baju yang basah itu. Kulitnya yang putih mulus itu masih ada butiran air serupa embun di atas bunga teratai putih.

Biji mata Oh Yok-su tampak melotot seakan-akan melompat keluar dari rongga matanya. Tentu saja Thi Peng-koh tambah risi, tidak cuma mukanya saja merah, sampai telinganya pun terasa panas. Sungguh ia ingin menceburkan Oh Yok-su ke kolam saking dongkolnya. Ia berusaha menarik ujung baju untuk menutupi paha yang kelihatan itu. Tapi ditarik sini, di sana menongol lagi.

So Ing mengikik geli, katanya kemudian, “Bagaimana kalau lelaki berdiri saja?”

Tanpa tawar Oh Yok-su terus berbangkit. Tapi entah sebab apa, dia tidak berani berdiri tegak, dengan setengah berjongkok ia berlagak garuk-garuk kakinya.

So Ing meraba tangan Thi Peng-koh, katanya dengan tersenyum, “Semua lelaki bermata keranjang. Asalkan kau anggap mereka orang mampus saja kan beres.”

Peng-koh menunduk, jawabnya, “Terima kasih...” tiba-tiba ia angkat kepala dan berkata pula, “Apa yang kukatakan di luar tadi seluruhnya cuma karangan belaka, jangan... jangan engkau pikirkan.”

“Apa sih yang kau katakan tadi?” tanya So Ing.

Setelah melirik Siau-hi-ji sekejap baru Peng-koh menjawab dengan tergegap, “Kubilang kepada Kiongcu bahwa aku... aku menyukai dia, padahal maksudnya hanya untuk membikin marah Kiongcu saja, yang benar...”

“Sudahlah, tidak perlu lagi penjelasanmu,” ujar So Ing dengan tertawa. “Aku kan bukan botol cuka. Apalagi, orang yang menyukai Siau-hi-ji juga tidak cuma kau saja, seumpama kau memang menyukai dia juga bukan soal, malahan aku merasa bangga.”

Meski di mulut ia bilang “bukan soal”, tapi rasa kecut ucapannya itu dapat tercium oleh siapa pun juga.

Siau-hi-ji berkedip-kedip dan tertawa, katanya, “Kau suka padaku, kan aku juga tidak buruk padamu. Coba, kalau bukan lantaran dirimu, sedikit banyak sekarang aku pasti dapat mengorek rahasianya Ih-hoa-kiongcu.”

Muka Thi Peng-koh menjadi merah, ia menunduk lagi.

So Ing merasa tidak tega, ia coba menyimpangkan pembicaraan, “Ih-hoa-kiongcu ada rahasia apa?”

“Kuingin tahu sesungguhnya ada dendam apa antara dia dengan keluarga kami,” tutur Siau-hi-ji. “Bahwa dia sedemikian benci pada orang she Kang, tapi mengapa dia tidak mau turun tangan sendiri, malahan ia sengaja menyamar sebagai Tong-siansing segala dan menyuruh Hoa Bu-koat membunuh diriku. Bukan saja dia sengaja mengelabui aku, bahkan juga main sembunyi-sembunyi terhadap muridnya sendiri. Sampai saat ini mungkin sama sekali Hoa Bu-koat belum lagi mengetahui Tong-siansing adalah samaran gurunya.”

So Ing berpikir sejenak, ucapnya kemudian, “Ya, persoalan ini memang sangat aneh, bahkan tidak masuk akal.”

Siau-hi-ji menghela napas, ucapnya, “Sebab musabab persoalan ini hanya diketahui Ih-hoa-kiongcu kakak beradik saja. Tampaknya, selama aku masih hidup, mereka tidak mau menjelaskannya.”

“Sebab itulah, bila tadi kau tidak bersuara sehingga dia mengira kau benar-benar sudah mati, maka bukan mustahil dia akan memecahkan rahasia ini, begitu maksudmu?”

“Betul, tapi bagaimana aku sampai hati membiarkan dia mencolok biji mata nona Thi?” ucap Siau-hi-ji.

“Nona Thi,” kata So Ing dengan tertawa, “Jangan kau percaya pada ocehannya, ucapannya ini hanya sengaja membikin marah Ih-hoa-kiongcu. Padahal kutahu dalam hatimu cuma ada Kang Giok-long dan dalam hatinya juga...”

Dia sengaja melirik Siau-hi-ji sekejap, habis itu lantas berhenti berucap.

“Hahaha, memangnya di dalam hatiku cuma ada kau? Wah aku bisa mati dongkol oleh ucapanmu ini,” kata Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Jika kau sangat marah, mengapa tertawamu begini riang. Semula kukira kau benar-benar tertipu oleh Kang Giok-long, baru sekarang kutahu kau sengaja ditipu olehnya.”

“Aku sengaja ditipu olehnya?” Siau-hi-ji menegas dengan berkedip-kedip. “Memangnya kenapa aku sengaja membiarkan diriku ditipu orang?”

“Bisa jadi, kau ingin Ih-hoa-kiongcu mengira kau telah mati, maka sengaja membiarkan dirimu didorong masuk ke sini oleh Kang Giok-long. Mungkin pula sebelumnya kau tahu di dalam gua ini ada airnya dan takkan mati terbanting.”

“Dari mana kutahu di dalam gua ini ada airnya?”

“Waktu itu matahari belum terbenam, bisa jadi cahaya matahari telah menyorot masuk ke sini dan memantulkan bayangan air kolam.”

“Seumpama betul demikian kan aku harus tahu berapa dalamnya sumur ini, sekali jatuh ke sini tak bisa keluar lagi.”

“Dengan sendirinya kau punya akal, malahan cukup banyak jalannya, tidak cuma satu saja.”

“Haha, tidakkah teramat tinggi kau menilai kepintaranku?” ujar Siau-hi-ji dengan tertawa.

“Kau memang tidak bodoh,” kata So Ing.

Mendengar sampai di sini, agaknya Oh Yok-su jadi lupa pada si cantik yang berada di sampingnya, ia tanya Siau-hi-ji, “Hi-heng, apakah betul engkau sengaja membiarkan dirimu didorong ke sini oleh Kang Giok-long dan benar-benar ada akal untuk keluar?”

“Bisa jadi benar, mungkin pula tidak benar,” jawab Siau-hi-ji seakan-akan main teka-teki. “Tampaknya nona So ini seperti cacing pita di dalam perutku, kenapa tidak kau tanya dia saja. Mungkin dia lebih tahu isi hatiku dari pada diriku sendiri.”

So Ing tertawa, katanya, “Di dalam gua sini dapat mendengar dengan jelas suara di luar, maka siapa-siapa yang lalu di luar sana tentu akan diketahui olehnya. Nah, dia kan tidak bisu, tentunya dia dapat berteriak minta tolong.”

Oh Yok-su melenggong sejenak, katanya kemudian, “Tapi... tapi waktu itu dia juga belum tahu kalau gua ini bisa mengumandangkan suara.”

“Mungkin kau tidak tahu bahwa dia dibesarkan di lembah pegunungan, tentu situasi pegunungan dipahaminya dengan baik,” tutur So Ing.

“O, jika demikian, rupanya pengetahuan Cayhe yang terlalu cetek,” kata Oh Yok-su gegetun.

“Namun cara ini pun ada kelemahannya,” kata So Ing pula.

“Kelemahannya apa?” tanya Oh Yok-su.

“Lembah pegunungan ini sangat terpencil, apa bila tiada orang lalu di sini, bukankah dia akan mati terkurung di sini? Apalagi kalau kebetulan ada orang lewat di sini, tapi bukan kawannya melainkan musuhnya, lalu apakah dia berani berteriak minta tolong?” setelah tertawa, lalu So Ing menyambung pula, “Kau tahu, musuhnya kan jauh lebih banyak dari pada kawannya?”

“Betul juga, bila orang yang lalu di sini semuanya ialah musuhnya, lalu bagaimana?” Oh Yok-su mengulang pertanyaan ini sambil garuk-garuk kepala.

“Makanya dia masih ada jalan kedua,” tukas So Ing.

“Jalan kedua?” Oh Yok-su menegas dengan terbelalak. “Jalan pertama saja sukar dipecahkan, jika ada jalan kedua yang dapat ditempuhnya, sungguh Cayhe tak percaya.”

“Coba jawab dulu, mengapa di perut gunung ini ada air?” tanya So Ing.

Oh Yok-su terdiam dan berpikir sambil berkerut kening, jawabnya kemudian dengan ragu-ragu, “Bisa jadi... bisa jadi lantaran air hujan merembes masuk ke sini.”

“Gua ini geronggang sebesar ini, sedangkan lubang gua di atas begitu kecil, andaikan air dapat masuk ke sini juga takkan tertimbun sebanyak ini, betul tidak?”

Oh Yok-su membenarkan sambil mengangguk.

“Apalagi, air di sini jelas pasang naik terus, setelah bertahun-tahun bukankah gua ini akan tergenang seluruhnya?”

“Betul, jika air pasang naik begini terus-menerus, tidak sampai sebulan juga gua ini akan terbenam,” seru Oh Yok-su, “Tapi sekarang...”

“Sekarang air pasang ini belum ada sepesepuluhnya tinggi gua ini, apa sebabnya?” sela So Ing.

“Mungkin... mungkin sebelumnya di sini tidak ada air, baru dua-tiga hari ini keluar airnya.”

“Jika semula di sini tidak ada air, mengapa batu kuning ini sedemikian bersih, masa tanpa kena air bisa berlumut?”

“Betul juga,” ucap Oh Yok-su dengan tertawa. “Jika di atas ada lubang gua, dengan sendirinya ada debu pasir yang tertiup masuk ke sini, setelah bertahun-tahun, seharusnya di sini penuh tertimbun debu kotoran.”

“Nah, kan sederhana jadinya persoalan ini,” ujar So Ing. “Sebenarnya air di sini masih terus pasang naik, tapi tidak lama kemudian akan surut pula, jadi air pasang kadang naik dan kadang surut, dengan sendirinya debu kotoran yang tertimbun di sini akan tercuci bersih.”

“Tapi... tapi air di dalam gua ini mengapa bisa pasang naik dan surut? Dari mana datangnya pula air ini” ucap Oh Yok-su.

“Jangan kau lupa, pegunungan ini terletak di muara Tiangkang (sungai Panjang atau Yangzekiang), air di gua ini tentunya juga air sungai. Lantaran air Tiangkang setiap hari pasang naik turun pada waktu tertentu, maka waktu pasang naik air di sini juga ikut naik, waktu pasang turun, air di sini juga lantas surut.”

Oh Yok-su termenung dengan mata melotot, ucapnya kemudian sambil menyengir, “Memang betul, teori ini sekarang pun dapat kupahami.”

“Jika kau dapat memahami persoalan ini, tentunya kau pun dapat memahami persoalan kedua,” kata So Ing.

“Wah, Cayhe... mana...” Oh Yok-su jadi ragu-ragu.

“Kalau air sungai dapat mengalir ke sini, maka di tempat ini pasti ada jalan keluar yang menembus ke Tiangkang, asalkan nanti air menyurut, tentu jalan keluar itu akan dapat ditemukan...” So Ing tersenyum, lalu menyambung pula, “Teori ini pun sangat sederhana, seharusnya kau pun dapat memikirkannya, betul tidak?”

Oh Yok-su termangu-mangu sejenak, katanya kemudian, “Sebenarnya Cayhe bukan orang bodoh, tapi kalau dibandingkan kalian berdua, Cayhe menjadi tolol mendadak.”

So Ing tersenyum, lalu ia berpaling ke arah Siau-hi ji dan bertanya, “Nah, betul tidak apa yang kukatakan?”

“Hm, jangan sok pintar,” jengek Siau-hi-ji, “Perempuan yang benar-benar pintar tentu tahu bahwa apa yang diketahuinya betapa pun tetap kalah sedikit dari pada lelaki. Nah, penyakitmu justru terlalu banyak pengetahuan, terhadap perempuan yang terlalu pintar begini, kebanyakan lelaki tidak berani mendekatinya.”

“Tapi kau pun bukan lelaki kebanyakan, orang seperti kau ini hanya ada satu di dunia...” jawab So Ing. “Apalagi, jelas kau pun paham benar apa yang kukatakan tadi, bahkan apa yang kupahami tidak lebih banyak dari padamu.”

Siau-hi-ji terbahak-bahak, setelah tertawa, ia menghela napas, katanya, “Wah, naga-naganya, lambat atau cepat, pada suatu hari pasti aku akan terpikat oleh budak ini.”

Pada saat itulah tiba-tiba dari atas jatuh pula sesuatu barang. Oh Yok-su dan Thi Peng-koh sama terkejut, tapi Siau-hi-ji lantas berseru dengan tertawa, “Haha, Ih-hoa-kiongcu ternyata sangat penurut, dia telah mengantarkan makan malam bagi kita.”

Memang betul, barang yang jatuh dari atas itu adalah makanan yang diminta Siau-hi-ji tadi.

Antaran Ih-hoa-kiongcu ini tidak sedikit, satu pak besar. Tanpa sungkan-sungkan lagi mereka lantas makan sekenyangnya.

Sambil makan Siau-hi-ji juga memperhatikan air kolam yang mulai menyurut. Belum lagi air itu habis menyurut, segera Oh Yok-su melompat ke bawah untuk mencari jalan keluarnya. Sebaliknya Siau-hi-ji terus merebahkan diri di atas batu, ia benar-benar tidur dengan nyenyaknya.

Oh Yok-su telah menyalakan geretan api, cahaya yang berkelip-kelip menyinari wajah Siau-hi-ji, anak muda ini pulas seperti anak kecil.

Perlahan So Ing membelai rambut Siau-hi-ji yang hitam gilap itu, ucapnya dengan rawan, “Dia benar-benar teramat lelah, selama beberapa hari ini memang banyak sekali pengalaman pahit yang dirasakannya.” Dia berpaling dan tersenyum kepada Thi Peng-koh, katanya, “Jika orang lain yang mengalami pukulan berat ini, andaikan tidak patah semangat dan putus asa, sedikitnya juga akan berkeluh-kesah, tapi coba kau lihat, dia sama sekali tidak peduli dan dapat tidur dengan nyenyaknya. Lelaki demikian, apakah salah kalau aku menyukainya?”

Peng-koh tersenyum, air matanya hampir menetes saking terharunya. So Ing berbangga demi lelaki yang dicintainya, akan tetapi bagaimana dengan dirinya? Apa yang diterimanya dari Kang Giok-long hanya hina dan dusta serta kemalangan belaka.

Apakah ini salahnya? Mengapa harus terjadi demikian? Dunia ini mengapa tidak adil?

Peng-koh berpaling ke sana, ia tidak ingin orang lain melihat air matanya, ia berusaha tertawa dan menjawab, “Ya, dia sangat baik, engkau juga baik, kalian adalah pasangan yang setimpal.”

“Terima kasih...” ucap So Ing dengan senang. Selang sejenak, tiba-tiba ia tanya pula, “Kau kenal Thi Sim-lan tidak?”

“Kutahu dia juga sangat baik terhadap Siau-hi-ji, namun...”

“Namun selain Siau-hi-ji dia juga masih menyukai orang lain,” sela So Ing. “Sebaliknya bagiku, selain Siau-hi-ji aku tak dapat menyukai lagi siapa pun juga, sebab itulah tak dapat kubiarkan dia merampas Siau-hi-ji dariku, dengan cara apa pun pasti akan ku...” dia tertawa dan tidak meneruskan, tapi berganti ucapan, “Kalau dia dapat menyukai lagi lelaki lain, sepantasnya dia tidak boleh berebut Siau-hi-ji denganku, demikian barulah adil, betul tidak katamu?”

Thi Peng-koh tidak menjawabnya, tapi membatin dalam hati, “Untuk apa kau berkata demikian padaku? Memangnya kau masih khawatir Siau-hi-ji akan kurebut darimu? Seumpama aku memang menyukai dia, kini juga sudah terlambat.”

Pada saat itulah mendadak terdengar Oh Yok-su berteriak girang di bawah, “Aha, di sini, inilah jalannya, sudah kutemukan!”

Memang benar, di perut gunung ini ada sebuah lubang tembus ke sungai Tiangkang, tampaknya terowongan di bawah tanah ini berliku-liku tapi cukup untuk dilalui tubuh seorang yang tidak terlalu gemuk.

Cepat So Ing membangunkan Siau-hi-ji, serunya dengan tertawa, “Lekas bangun. Jalan keluarnya sudah ditemukan.”

Tapi Siau-hi-ji hanya menggeliat kemalas-malasan dan membalik tubuh, lalu pulas pula.

“He, he, bangunlah, kalau sudah keluar nanti boleh kau tidur sepuasmu, sekarang kita harus pergi dari sini!” So Ing menggoyang-goyang pula tubuh Siau-hi-ji.

Anak muda itu kucek-kucek matanya, katanya, “Kalian mau pergi boleh silakan, aku ingin tidur lagi di sini.”

“Kau tidak pergi?” So Ing menegas dengan melengak.

“Untuk apa pergi? Tidakkah kau dengar bahwa aku akan menunggu Hoa Bu-koat di sini?”

“Kau... benar-benar menunggu dia?”

“Sudah tentu benar. Mana boleh aku mengingkari janji? Janji ini sudah kami tetapkan tiga bulan yang lalu.”

“Tapi... tapi kalau dia datang, tentu Ih-hoa-kiongcu akan memaksa dia berkelahi denganmu.”

“Istilah berkelahi tidak tepat, pertarungan tokoh kelas tinggi seperti kami ini harus disebut ‘pi-bu’ (bertanding silat).”

“Tapi kalian kan bukan ‘pi-bu’ melainkan hendak mengadu jiwa,” ucap So Ing dengan khawatir.

Siau-hi-ji membalik tubuh pula dan menutupi matanya dengan tangan, katanya, “Terserah, jika kau berkeras mau bilang mengadu jiwa juga masa bodoh. Selamanya aku tidak suka ribut mulut dengan perempuan.”

So Ing menarik balik lagi tubuh anak muda itu dan berseru dengan mendongkol, “Tapi kau... kau bukan tandingannya, kutahu betapa saktinya Ih-hoa-ciap-giok itu...”

Tiba-tiba Siau-hi-ji tertawa, ucapnya dengan tak acuh, “Tapi tahukah kau bahwa di kolong langit ini hanya aku saja seorang yang tahu cara bagaimana mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong?”

“Kau... kau benar tahu?”

“Dengan sendirinya ada orang yang mengajarkan padaku,” jawab Siau-hi-ji dengan tertawa. “Rahasia ilmu silat Ih-hoa-kiong memang tiada orang lain yang tahu terlebih jelas dari pada dia.”

“Siapa dia?” tanya So Ing.

“Tong-siansing?” jawab Siau-hi-ji.

“Tong-siansing? Bukankah Tong-siansing sama dengan Ih-hoa-kiongcu?”

“Ehm,” sahut Siau-hi-ji.

“Mengapa Ih-hoa-kiongcu mau mengajarkan cara mematahkan ilmu silat kebanggaannya sendiri padamu? Memangnya dia sudah gila?”

Siau-hi-ji menguap ngantuk, ucapnya dengan kemalas-malasan, “Mungkin dia sudah gila, bisa jadi pula ada alasan lain. Jalan pikiran perempuan memang sukar dipahami, maka aku pun malas untuk menerkanya.”

So Ing tercengang sejenak, katanya kemudian, “Tapi seumpama kau dapat mematahkan ilmu silat Ih-hoa-kiong tetap kau tak dapat membunuh Hoa Bu-koat, begitu bukan?”

“Dapat kubunuh dia atau tidak, apa sangkut-pautnya dengan kau?” ujar Siau-hi-ji.

“Sudah tentu ada sangkut-pautnya,” jawab So Ing. “Kau tidak membunuh dia berarti dia akan membunuhmu, jika kau tinggal di sini berarti...”

“Sudahlah, siapa di antara kalian mau pergi boleh silakan pergi, yang jelas aku tetap menunggu di sini,” Siau-hi-ji meraung sambil melompat bangun.

Sejak tadi Oh Yok-su sudah siap berdiri di tepi lorong yang menembus keluar sana, yang diharap-harapkannya adalah sekeluarnya dari gua ini akan diperoleh pula obat penawar dari Siau-hi-ji. Kini mendengar anak muda itu tidak mau keluar, bahkan marah-marah dan mengusir mereka, tentu saja ia ikut lemas dan cemas. Sambil memegangi dinding kolam dia memandang Siau-hi-ji dengan napas terengah-engah, tiba-tiba ia berseru dengan suara serak, “Wah, Cayhe... rasanya tidak... tidak tahan lagi.”

“Apamu yang tidak tahan?” tanya So Ing.

Oh Yok-su memegangi tenggorokan sendiri, katanya, “Mungkin... mungkin racun sudah mulai bekerja.”

“Kau pun keracunan?” So Ing menegas, “Racun apa yang kau minum?”

Sambil melirik Siau-hi-ji sekejap, Oh Yok-su menjawab, “Cayhe sendiri tidak tahu.”

“O, dia yang meracuni kau?” tanya So Ing.

Berulang-ulang Oh Yok-su mengangguk.

“Bagaimana rasanya racun itu?” tanya So Ing pula.

“Rada asin, lunak dan... dan rada-rada bau,” tutur Oh Yok-su dengan menyengir.

Tiba-tiba So Ing mengikik tawa, ucapnya, “Baiklah, jika kau ingin pergi, silakan pergi saja, jangan khawatir.”

“Tapi... tapi obat penawar...”

“Tidak perlu obat penawar segala, dia cuma menakut-nakuti kau saja,” kata So Ing, “Yang kau rasakan itu pasti bukan racun, barusan kau rasakan racun sudah mulai bekerja, itu hanya sugesti, kukira pikiranmu sendiri saja yang mengacau.”

“Habis apa kalau bukan racun?” tanya Oh Yok-su.

“Aku pun tidak tahu apa, bisa jadi cuma segelintir upil yang dia korek dari hidungnya,” kata So Ing dengan tertawa.

Muka Oh Yok-su menjadi merah, ia pandang Siau-hi-ji dan bertanya, “Ap... apakah betul begitu?”

Siau-hi-ji menghela napas gegetun, jawabnya, “Kan sudah kukatakan sejak tadi bahwa budak ini adalah cacing pita dalam perutku, masa kau lupa?”

Muka Oh Yok-su sebentar merah sebentar pucat, mendadak ia membalik tubuh, seperti anjing geladak yang mendadak digebuk orang, tanpa omong lagi terus ngacir menerobos terowongan yang ditemukannya itu.....

0 Response to "Bahagia Pendekar Binal Jilid 14"

Post a Comment