coba

Bahagia Pendekar Binal Jilid 08

Mode Malam
Tampaknya Pek-hujin terlalu banyak curiga. Semula ia menyangka di bawah pohon ada lubang jebakan sehingga siapa saja yang hendak meraih pakaian itu akan kejeblos. Atau mungkin juga di atas pohon terpasang sesuatu perangkap. Karena itulah pada waktu dia menjulurkan tangan untuk mengambil baju itu, ia benar-benar siap tempur seperti sedang menghadapi musuh tangguh.

Akan tetapi nyatanya dengan sangat mudah baju itu sudah dapat diambilnya, pakaian ini seperti mendadak jatuh dari langit atau tumbuh dari pohon itu dan sedang menanti di sini untuk dipakai olehnya.

Tanpa sungkan-sungkan lagi Pek-hujin lantas membuang pakaiannya yang kotor dan rombeng itu, dengan gerakan yang paling cepat ia ganti pakaian baru, sutera yang halus itu menyentuh tubuh mulus yang habis tercuci bersih laksana belaian tangan sang kekasih.

Tapi tangan sang kekasih ini rasanya tidak beres, mula-mula seperti membelai punggung, tapi dengan cepat menjalar ke bagian dada, terus ke pantat, ke paha dan sekujur badan rasanya menjadi gatal-gatal geli. Semula seperti seekor ulat kecil yang merambat dari kuduknya menurun ke bawah sampai akhirnya ulat ini seakan-akan berubah menjadi beratus dan beribu banyaknya dan merambat kian kemari di setiap pelosok tubuhnya.

Sungguh luar biasa gatalnya, hampir-hampir gila rasa gatalnya, sampai-sampai berjalan saja tidak sanggup lagi, kedua tangan Pek-hujin terus menggaruk-garuk dan mencakar-cakar kian kemari, tapi semakin menggaruk semakin gatal rasanya, bukan cuma tubuh merasa gatal, hati pun ikut gatal.

Rasanya sungguh sukar dilukiskan, ya enak, ya geli, ya sakit, ingin menangis, ya ingin tertawa... sampai akhirnya ia terus mengesot di tanah sambil terkikik-kikik seperti orang gila.

Pada saat itulah sekonyong-konyong seorang berkata dengan suara nyaring merdu, “Enak bukan baju yang kau pakai itu?”

Rupanya pada baju itulah timbulnya penyakit. Keruan Pek-hujin terkejut dan membentak, “Siapa itu?”

“Masa suaraku saja tidak kau kenal lagi?” ucap orang itu dengan tertawa. Lalu muncul seorang dari kejauhan dengan langkahnya yang gemulai, pakaiannya berwarna kuning gading, orangnya cantik, gayanya memesona. Orang ini ternyata So Ing adanya.

Terkesiap Pek-hujin, serunya, “Kau? Baju ini kepunyaanmu?”

“Baju itu baru kubikin, belum pernah kupakai, indah bukan?” ucap So Ing dengan tersenyum.

Saking gatalnya Pek-hujin hampir tidak dapat bicara lagi, tubuhnya digosok-gosokkan pada sebatang pohon, dengan suara gemetar ia tanya, “Bajumu ini ditaruhi apa?”

“Ah, tidak ada apa-apanya, hanya kuberi sedikit obat gatal,” tutur So Ing. “Selang beberapa hari obat itu akan hilang dengan sendirinya.”

Pek-hujin masih kelabakan menggosok tubuhnya di batang pohon, hampir gila dia karena tidak tahan rasa gatalnya, kalau bisa ingin dia dicambuki orang sekuatnya, sedetik saja tidak dapat menunggu, apalagi selang beberapa hari lagi, sungguh ia rela mati saja.

Dengan tertawa So Ing berkata pula, “Baju baru ini akan kupakai untuk bertemu dengan kekasihku, jika kau rusak harus kau ganti nanti.”

Seperti orang kalap Pek-hujin lantas tarik baju itu hingga robek, teriaknya parau, “Aku tidak memusuhimu, mengapa kau mencelakai aku?”

“Coba renungkan dulu, pernahkah kau berbuat sesuatu terhadapku?” jengek So Ing.

Meski sekarang Pek-hujin menanggalkan pakaian itu, tapi rasa gatalnya tetap tidak kepalang, ia merangkak di tanah dan tergeliat-geliat, dengan air mata meleleh ia memohon, “O, nona yang baik, adik terhormat, aku mengaku salah, ampunilah diriku.”

“Apakah begitu hebat rasa gatalnya?” tanya So Ing dengan tenang.

“Ya, baru sekarang kutahu di dunia ini tiada sesuatu yang lebih menderita dari pada rasa gatal,” kata Pek-hujin.

“Jika begitu, coba jawab, kau yang menculik Hoa Bu-koat bukan?” tanya So Ing.

Dalam keadaan demikian mana Pek-hujin berani menyangkal, cepat ia mengangguk dan berkata, “Ya, ya, aku yang menculiknya, sungguh pantas mampus aku.”

“Di mana kau sembunyikan dia?” tanya So Ing dengan gusar.

“Di belakang bukit sana, di lembah sana ada sebuah rumah kecil...”

“Apakah rumah batu itu?

“Ya, ya, engkau pun sudah tahu.”

“Apakah benar-benar kau sembunyikan dia di sana?” So Ing menegas setelah berpikir sejenak.

“Betul, masa aku berani mendustai nona?” jawab Pek-hujin sambil meringis.

Air muka So Ing seperti berubah sedikit, ucapnya sambil menggeleng, “Di pegunungan sunyi begini bisa terdapat rumah batu sekukuh itu, apakah kalian tidak merasa heran?”

Setelah berpikir, tiba-tiba Pek-hujin juga merasa heran, tanyanya kemudian, “Ya, apakah rumah batu itu ada sesuatu yang aneh?”

So Ing menggeleng dan tidak menjawab.

Sudah tentu Pek-hujin tidak sempat bertanya lebih lanjut urusan ini, betapa pun dia sedang kelabakan oleh rasa gatalnya yang tak tertahan, dengan cepat ia memohon, “Sudah kukatakan semuanya, kumohon engkau mengampuni diriku sekarang.”

So Ing tertawa, tanyanya, “Barusan kau datang dari mana?”

Setelah melenggong sejenak, akhirnya Pek-hujin menjawab, “Dari sungai sana.”

“Jika begitu boleh kau kembali lagi ke sana!” ucap So Ing…..

********************

Dalam pada itu Thi Sim-lan sedang kedinginan karena berendam sekian lamanya dalam sungai, kaki dan tangan serasa hampir beku. Namun dia harus memandang kian kemari, ia khawatir kalau-kalau mendadak ada lelaki nakal muncul di situ. Untung juga keadaan tetap sunyi senyap tiada bayangan seorang pun.

Sebenarnya ia pun pernah berpikir hendak meninggalkan sungai ini, tapi seorang nona yang telanjang bulat bisa berbuat apa dan mau ke mana? Apa bila mendadak kepergok lelaki kan bisa... Begitulah, pada hakikatnya ia tidak berani membayangkan bagaimana akibatnya.

Tengah bingung, sekonyong-konyong dilihatnya dari depan sana kembali ada seorang perempuan bugil sedang berlari-lari mendatangi, “plung”, langsung perempuan telanjang itu terjun ke dalam air dengan napas terengah-engah.

Thi Sim-lan terkejut di samping merasa heran dan geli pula, mestinya dia tidak ingin memandangnya, tapi sekilas melirik, diketahuinya perempuan ini bukan lain dari pada perempuan sialan yang kabur dengan menipu pakaiannya tadi. Sungguh aneh, mengapa dia lari kembali ke sini lagi dalam keadaan telanjang bogel?

Dengan terbelalak heran, Thi Sim-lan jadi tidak sanggup bersuara.

Setelah terjun ke dalam air, rasa gatal Pek-hujin lantas berhenti seketika. Melihat Thi Sim-lan sedang memandangnya, ia balas menyengir dan berkata, “Hihi, aku kembali lagi, kau heran bukan?”

“Ehm,” Sim-lan mendengus.

“Hihihi, soalnya aku tiada hobi lain kecuali mandi,” ujar Pek-hujin dengan tertawa.

Mendadak Thi Sim-lan menubruk ke sana dan menjambak rambut Pek-hujin sambil membentak, “Mana bajuku? Kembalikan!

“Inilah bajumu!” tiba-tiba seorang menukas dengan tersenyum.

Waktu Thi Sim-lan menoleh segera dilihatnya So Ing berdiri di tepi sungai laksana sekuntum bunga teratai yang baru mekar. Ia merasa selama hidup ini belum pernah melihat nona secantik ini, meski dia sendiri juga perempuan, tidak urung ia memandangnya dengan terkesima.

So Ing tertawa dan bertanya pula, “Betulkah ini bajumu?”

Sim-lan menunduk dengan muka merah, jawabnya lirih, “Ya, bajuku.”

“Jika kau tidak ingin mandi lagi, silakan naik dan pakai bajumu,” kata So Ing.

Meski malu, mau tak mau Thi Sim-lan keluar dari sungai, secepat terbang ia terima baju itu terus lari ke balik semak-semak sana.

“Aku pun ingin keluar,” kata Pek-hujin dengan menyengir.

“Mau keluar boleh keluar, kan tiada yang merintangimu” ujar So Ing acuh.

Segera Pek-hujin memanjat ke atas batu, tak terduga, seketika rasa gatal itu kambuh lagi, gatalnya sungguh tidak kepalang. Cepat ia memberosot ke dalam air pula.

“Kenapa kau tidak jadi naik?” tanya So Ing dengan tertawa.

Pek-hujin hanya meringis saja. Katanya kemudian, “Tapi... tapi aku kan tak dapat berendam terus-menerus begini?”

“Asalkan tidak merasa gatal lagi, setiap saat kau boleh naik,” kata So Ing.

“Harus... harus menunggu sampai kapan?”

“Bisa jadi setengah hari, dua hari atau empat hari... Katanya hobimu adalah mandi, nah, silakan mandi sepuas-puasmu!”

Pek-hujin melenggong dan tak dapat bersuara pula, hampir ia jatuh pingsan saking gemasnya.

Sementara Thi Sim-lan sudah selesai berpakaian, ia mendekati So Ing dan memberi hormat, katanya, “Terima kasih atas pertolongan nona.”

Baju yang dipakainya itu kotor lagi rombeng, namun betapa pun tidak dapat menutupi gadis cantik yang habis mandi dengan wajahnya yang kemerah-merahan seperti buah apel.

Tanpa terasa So Ing menarik tangan Thi Sim-lan, katanya dengan tertawa, “Nona secantik ini, sungguh aku pun kesengsem, kaum lelaki seharusnya antri dan berlutut memohon di depanmu, mengapa malah kau yang bersusah payah mencari mereka?”

Muka Thi Sim-lan menjadi merah, jawabnya dengan tergagap, “Aku... aku...”

“Memangnya yang hendak kau cari bukan lelaki?”

Sim-lan menunduk dan terpaksa mengiakan.

“Lelaki manakah yang punya rezeki sebesar itu?” kata So Ing dengan tertawa.

“Dia... dia...”

“Tidak perlu kau katakan, toh aku tidak kenal dia,” ujar So Ing sambil berjalan.

Thi Sim-lan ikut berjalan sejenak, ucapnya kemudian sambil menghela napas perlahan, “Memang paling baik apa bila engkau tidak pernah kenal dia.”

“Kenapa?” tanya So Ing dengan tertawa geli, “Masa orang yang kenal dia akan tertimpa sial?”

Di luar dugaan Thi Sim-lan lantas manggut-manggut dan menjawab, “Ehm.”

So Ing berpaling dan memandangnya dengan terbelalak, “Siapa namanya?” tanyanya.

Thi Sim-lan tidak memperhatikan perubahan sikap So Ing, dengan gegetun ia menjawab, “Dia she Kang, orang memanggilnya Siau-hi-ji.”

Siau-hi-ji, nama ini membuat hati So Ing berdetak keras, akhirnya diketahui juga bahwa gadis yang berada di sebelahnya ini ternyata adalah saingannya, saingan cinta.

Dipandangnya wajah Thi Sim-lan secantik bunga, kecut rasa hatinya, pikirnya, “Wahai Siau-hi-ji, tampaknya tidak keliru pilihanmu ini.”

Dilihatnya mendadak Thi Sim-lan tertawa dan berucap, “Siau-hi-ji, masa namanya disebut Siau-hi-ji, engkau merasa lucu tidak?”

So Ing tetap tenang-tenang saja, jawabnya dengan tertawa, “Ya, sangat lucu.”

“Tapi tingkah lakunya justru sangat menjengkelkan, terkadang kau bisa dibikin mati gemas olehnya,” ucap Sim-lan dengan rawan.

So Ing berkedip-kedip, tanyanya kemudian, “Apakah kau benci padanya?”

Sim-lan menunduk, jawabnya, “Terkadang aku memang gemas dan benci padanya, tapi terkadang…”

“Terkadang kau suka juga padanya,” tukas So Ing dengan tertawa. “Memangnya kau sangat suka padanya, begitu bukan?”

Thi Sim-lan hanya menggigit bibir sambil mengikik.

Melenggong sejenak So Ing, mendadak ia berseru, “Tapi dia kan juga belum pasti suka padamu, betul tidak?”

Thi Sim-lan termangu-mangu sejenak, sorot matanya berubah menjadi halus, tersembul juga senyuman manis pada ujung mulutnya, dengan menunduk ia menjawab perlahan, “Meski kadang-kadang ia tidak baik padaku, tapi lebih sering dia... dia sangat baik padaku.”

Melihat kerlingan mata dan senyuman manis Thi Sim-lan yang penuh arti itu, So Ing tahu orang lagi mengenangkan Siau-hi-ji, seketika hati So Ing seperti ditusuk-tusuk jarum, sungguh kalau bisa ia pun ingin merogoh keluar hati Thi Sim-lan dan ditusuk-tusuknya berpuluh kali agar selanjutnya nona itu tidak berani memikirkan Siau-hi-ji lagi.

Sama sekali Thi Sim-lan tidak melihat perubahan sikap So Ing itu, dengan termangu-mangu ia memandang gumpalan awan di atas langit, gumpalan awan itu seakan-akan telah berubah menjadi wajah Siau-hi-ji yang selalu berseri-seri itu.

Dengan suara lembut kemudian ia menyambung pula, “Sudah beberapa tahun kukenal dia, selama ini meski banyak membawa penderitaan hagiku, tapi juga lebih banyak memberikan kebahagiaan padaku. Sesungguhnya aku... aku harus merasa puas.”

So Ing berpaling ke sana dan sengaja berteriak, “Seumpama dia terkadang sangat baik padamu, ini pun bukan bukti bahwa dia benar-benar suka padamu. Bisa jadi, memang begitulah sikapnya terhadap setiap anak perempuan, atau mungkin juga dia jauh lebih baik kepada orang lain dari padamu.”

“Asalkan dia baik padaku, bagaimana dia perlakukan pada orang lain tak kupusingkan,” ujar Sim-lan dengan lirih.

“Kau tidak cemburu?” tanya So Ing.

“Ada sementara lelaki yang pada dasarnya tidak dapat dimiliki hanya oleh seorang perempuan,” ujar Sim-lan dengan tertawa, “Justru orang demikianlah Siau-hi-ji, jika aku cukup memahami pribadinya, maka aku pun tidak perlu cemburu padanya.”

So Ing tercengang sejenak, jengeknya kemudian, “Hm, tak disangka kau dapat berlapang dada.”

Sebenarnya ia ingin menusuk perasaan Thi Sim-lan, tak tersangka sang seteru justru tidak marah sedikit pun, malahan ia sendiri berbalik kheki setengah mati.

Selang sejenak ia berkata pula, “Bisa jadi lelaki yang kau kenal cuma dia seorang saja, makanya kau setia mati-matian padanya. Apa bila lelaki yang kau kenal tambah banyak, tentu akan kau temukan masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik dari padanya.”

Tiba-tiba berubah juga air muka Thi Sim-lan, makin menunduk kepalanya.

“Kau setuju tidak dengan perkataanku?” tanya So Ing.

“Aku... aku...” Sim-lan tergagap, suaranya terasa gemetar.

Baru sekarang So Ing mengetahui perubahan sikap Thi Sim-lan itu, seketika terbeliak matanya katanya pula, “O, kukira lelaki yang kau kenal memang tidak cuma dia saja, betul tidak?”

“Ehm,” Thi Sim-lan bersuara singkat dan menunduk pula.

So Ing menatapnya lekat-lekat, katanya pula “Selain dia, dalam hatimu masa ada lagi seorang?”

Muka Sim-lan menjadi merah dan tidak menjawab.

So Ing tertawa, katanya, “Dugaanku pasti tidak keliru, pantaslah kau tidak cemburu padanya.” Dia berkedip-kedip, lalu menarik tangan Sim-lan pula, katanya dengan tertawa, “Siapakah yang seorang lagi itu? Apakah jauh lebih baik dari padanya?”

Wajah Sim-lan bertambah merah dan sama sekali tidak mau menjawab.

So Ing tertawa nyaring dan tidak tanya pula, hanya dikatakannya, “Seorang perempuan bila mana hatinya sudah terisi dua lelaki, walau pun sangat memusingkan, tapi juga sangat menarik...”

Thi Sim-lan memainkan ujung bajunya, selang sejenak, tiba-tiba ia berkata, “Sekarang kau pasti menganggap aku ini perempuan busuk, bukan?”

“Mana bisa kuberpikir begitu,” jawab So Ing tertawa. “Apa bila kau perempuan busuk begitu, tentu akan kau anggap main cinta sama seperti makan kacang goreng, tapi sekarang kau mencintai dua lelaki sekaligus, makanya kau serba susah.”

“Sebenarnya hidupku ini sudah kuputuskan akan kuserahkan kepada Siau-hi-ji, tak peduli dia baik atau busuk padaku tetap takkan mengubah pendirianku, siapa tahu...”

Mata So Ing mengerling, ucapnya dengan tertawa, “Siapa tahu ada lagi seorang yang benar-benar teramat baik padamu dan membikin kau sukar menolaknya, begitu bukan?”

Tiba-tiba Sim-lan mencucurkan air mata, jawabnya dengan terguguk, “Ya, tapi kebaikannya padaku bukan lantaran ingin memiliki diriku...”

“Semakin dia bersikap begitu, semakin tak enak hatimu padanya, begitu bukan?” tukas So Ing.

“Ehm,” Sim-lan mengangguk.

“Hah, tingkah lelaki demikian ini sudah lama kuketahui dengan jelas,” kata So Ing dengan tertawa.

“Kau... kau anggap dia sengaja bersikap demikian padaku?”

“Ya, aku mengakui caranya ini memang sangat pintar, terhadap perempuan harus memakai jinak-jinak merpati, seperti didekati, tapi lantas menjauhi, seperti hendak menangkapnya, tapi sengaja dilepaskan, bila mana terlalu kencang kamu mengubernya, dia berbalik akan kabur malah.” Lalu dengan tertawa So Ing menambahkan, “Aku juga perempuan, jiwa kaum perempuan masa aku tidak paham?”

“Ini lantaran… lantaran kamu tidak tahu sebenarnya lelaki macam apakah dia itu?” ujar Thi Sim-lan.

“Kutahu, dia pasti serupa Siau-hi-ji, ya pintar, ya ganteng, ya menyenangkan, tapi terkadang pun rada menjengkelkan, hanya rada-rada menjengkelkan saja.”

“Salah kau,” ucap Sim-lan.

“O?” So Ing melongo heran.

“Dia justru adalah lelaki yang berbeda sama sekali dari pada Siau-hi-ji, pada hakikatnya tiada setitik pun yang sama, terhadap anak perempuan dia selalu sopan santun dan simpati, bergurau sepatah kata saja tidak pernah.”

“Wah, lelaki model anjing penjaga rumah begitu sama sekali takkan kusukai,” kata So Ing.

“Tapi.. tapi…”

“Tapi ada juga yang sangat menyukainya, begitu bukan?” tukas So Ing tertawa.

Muka Thi Sim-lan kembali merah, ucapnya, “Aku bukannya men… menyukai dia, soalnya dia pernah menyelamatkan jiwaku, bahkan sangat… sangat…” suaranya lirih seperti bunyi nyamuk, pula tergagap-gagap dan terputus-putus seperti orang keselak.

Dengan tertawa So Ing menukasnya, “…bahkan dia juga sangat baik padamu, dia sangat memperhatikan dirimu dalam segala hal, andaikan kau tidak suka padanya, mau tak mau juga mesti berterima kasih padanya, begitu bukan?”

“Ehm,” Sim-lan mengangguk.

“Tapi kau harus tahu, antara terima kasih dan suka terkadang sukar dipisah-pisahkan,” kata So Ing.

Sim-lan menggigit bibir dan termenung sejenak, tiba-tiba ia berkata pula, “Seumpama aku menyukai dia juga dia takkan menyukai aku.”

“Jika dia tidak suka padamu, untuk apa dia berbuat sebaik itu padamu? Dia kan tidak sinting?”

“Dia memperhatikan diriku, bisa jadi demi Siau-hi-ji,” ucap Thi Sim-lan dengan menunduk.

Sekali ini So Ing benar-benar seperti terkejut, serunya, “Dia baik padamu demi Siau-hi-ji? Ini sungguh aku tidak paham.”

“Dia bilang semoga aku dan Siau-hi-ji bisa… bisa berada bersama,” tutur Sim-lan dengan rawan.

“Memangnya dia juga sahabat Siau-hi-ji,” tanya So Ing.

Thi Sim-lan berpikir sejenak, jawabnya kemudian, “Terkadang mereka memang dapat dianggap sebagai sahabat karib, bila mana salah seorang menghadapi bahaya, yang lain pasti akan membantunya tanpa menghiraukan dirinya sendiri. Tapi sering pula mereka bertengkar dan saling labrak mati-matian.”

Tiba-tiba So Ing tahu siapakah gerangan orang yang dimaksudkan Thi Sim-lan ini, dia melenggong sejenak, gumamnya kemudian, “Peristiwa ini sungguh sangat aneh dan sangat bagus, sungguh sangat menarik.”

“Setelah kuceritakan isi hatiku sebanyak ini, apakah engkau akan menertawakan diriku?” tanya Sim-lan dengan kikuk.

Dengan suara lembut So Ing menjawab, “Masa kutertawaimu? Apa bila seorang mempunyai isi hati, adalah biasa bila perasaan yang tertekan itu dikemukakan kepada seorang teman, kalau tidak kan bisa mati kesal.”

“Tapi... tapi kita baru saja kenal...”

“Meski kita baru saja kenal, tapi selanjutnya lambat laun kita bisa menjadi sahabat karib.”

Sim-lan tersenyum pedih, ucapnya, “Selanjutnya...? Siapa pula yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

Berkilau sorot mata So Ing, tiba-tiba ia menarik tangan Thi Sim-lan pula dan berkata dengan lembut, “Begitu melihat dirimu, seketika aku merasa cocok. Jika kau tidak jemu padaku, maukah kau mengakui aku sebagai adikmu?”

Permohonan yang diajukan dengan kata-kata halus dan terucap dari mulut anak perempuan secantik ini, siapa pula yang sanggup menolaknya?

Dengan begitu Thi Sim-lan lantas menjadi kakak angkat So Ing.

Gemilang cahaya sang surya menyinari pegunungan yang hijau permai, kicau burung mengiringi arus sungai yang mengalir selalu, di tengah semilir angin lalu sayup-sayup membawa harum bunga yang memabukkan.

Selamanya Thi Sim-lan tidak pernah membayangkan akan hidup segembira sekarang. Selama ini hidupnya selalu merana, perasaannya tertekan, hampir saja ia putus asa. Sungguh tak terduga akan dijumpainya So Ing.

“Sekarang kau sudah menjadi Ciciku, maka takkan kubiarkan kau pergi lagi mencari Siau-hi-ji,” ucap So Ing dengan tertawa sambil menarik tangan Thi Sim-lan.

“Sebab apa?” tanya Sim-lan.

“Kebanyakan lelaki memang sok jual mahal walau pun sebenarnya bernilai rendah,” kata So Ing. Semakin kau ingin mencarinya, semakin dia merasa bangga. Tapi kalau kau tidak menggubris dia, luka dia yang akan mencari kau walau pun dengan mengesot.”

Thi Sim-lan tertawa, katanya, “Habis apa... apa yang harus kulakukan?”

“Kau tidak perlu berbuat apa-apa, tunggu saja tenang-tenang, dengan sendirinya ada akalku akan membuat dia datang mencari kau,” tutur So Ing.

Sim-lan menunduk, ucapnya, “Tapi engkau kenal saja tidak...”

So Ing menggeleng, katanya pula dengan tertawa, “Meski aku tidak kenal dia, tapi pernah kulihat dia.”

“Oo?” Sim-lan rada heran.

“Ya, sekarang aku jadi ingat. Bukankah dia seorang anak muda yang bermata besar, mukanya banyak codet, tapi tampaknya tidak menjemukan, sepanjang hari hanya tertawa melulu, bila berjalan lenggangnya seakan dunia ini dia punya.”

“Mungkin kau tidak tahu, dia malah mengaku sebagai orang paling pintar nomor satu di dunia ini,” tukas Thi Sim-lan geli.

Teringat kepada Siau-hi-ji, hati So Ing terasa manis juga, ucapnya dengan tertawa, “Jika dia mengaku sebagai orang yang paling tebal kulit mukanya kukira lebih dapat dipercaya.”

“Bilakah kau lihat dia?” tanya Sim-lan.

“Belum lama, baru satu dua hari yang lalu.”

Thi Sim-lan menghela napas gegetun, ucapnya, “Orang ini sedetik saja tidak dapat berdiam, baru satu dua hari kau lihat dia, tapi sekarang dia entah sudah berada di mana lagi?”

“Jangan khawatir, asalkan dia berada di pegunungan ini, pasti ada akalku untuk menemui dia.”

“Kau punya akal apa?” tanya Sim-lan.

“Kau tahu, di pegunungan inilah aku dibesarkan, hampir setiap orang penduduk di sini pasti kukenal, kalau aku ingin mencari seseorang yang istimewa begitu, bukankah sangat mudah?”

“Jika... jika begitu, apakah aku mesti menunggu di sini?”

“Wah, kukira kurang aman bila kau menunggu di sini, apa bila pakaianmu ditipu orang lagi, lalu bagaimana?” ucap So Ing dengan tertawa. Sebelum Thi Sim-lan menjawab, segera ia menyambung pula, “Demi keselamatanmu, sekarang juga akan kubawa kau ke suatu tempat.”

“Tempat apa?” tanya Sim-lan.

“Pemilik tempat ini adalah ayah angkatku, meski tampangnya kelihatan bengis, tapi hatinya sangat baik, lebih-lebih terhadap diriku, sungguh tidak kepalang baiknya.”

“Aku percaya,” ucap Thi Sim-lan dengan tertawa, “Kakak angkat seperti aku saja bisa-bisa akan kukorek hatiku untukmu, apalagi sang ayah angkat.”

So Ing mencibir, katanya, “Hatimu hendak kau korek untukku? Bukankah hatimu sudah kau berikan kepada Siau-hi-ji?” Melihat muka Thi Sim-lan berubah merah, cepat ia menyambung pula dengan tertawa, “Ayah angkatku itu she Gui, jika dia mengetahui engkau adalah kakak angkatku, beliau pasti akan membelamu dengan baik. Cuma kau jangan lupa, bentuknya memang kelihatan menakutkan.”

“Jika kelihatannya menakutkan tentu takkan sering kupandang dia,” kata Sim-lan.

“Bagus, cara ini memang sangat bagus,” seru So Ing sambil berkeplok.

Segera dia menarik Thi Sim-lan menyusuri hutan, pegunungan sunyi senyap, dunia ini seakan-akan penuh rasa aman dan damai sehingga membuat orang merasa hidup ini bahagia. Tiba-tiba Thi Sim-lan juga penuh harapan terhadap masa yang akan datang.

Setelah berjalan sejenak, mendadak So Ing berhenti dan berkata, “Ai, hampir saja kulupa, aku masih harus memenuhi suatu janji pertemuan.”

“Janji pertemuan?” Sim-lan menegas.

“Ya, aku sudah berjanji akan bertemu dengan seorang di belakang gunung sana, sekarang waktunya sudah hampir tiba. Wah, bagaimana baiknya?”

“Melihat kegelisahanmu ini, jangan-jangan hendak bertemu dengan jantung hatimu?”

Muka So Ing ternyata tidak merah, jawabnya sambil menggeleng, “Bukan.”

“Jika kau tidak mau terus terang, biarlah aku ikut mengacau ke sana.”

“Memangnya kenapa kalau jantung hatiku? Masa kau saja yang boleh punya kekasih dan aku tidak boleh?”

“Jangan cemas, aku takkan ikut ke sana.”

So Ing mengerling, katanya, “Dari sini langsung menuju ke atas bukit sana, tidak lama kemudian akan kau lihat sebidang pepohonan, di sanalah tempat tinggal ayah angkatku.”

“Masa... masa aku disuruh ke sana sendirian?”

“Sendirian juga tidak apa-apa, asalkan setiba di sana tentu ada orang akan memapak kau?”

“Tapi mereka kan tidak kenal diriku?”

So Ing berpikir sejenak, diambilnya tusuk kundainya dan diberikan kepada Thi Sim-lan, katanya, “Perlihatkan saja tusuk kundai ini, katakan aku yang menyuruhmu ke sana, tentu mereka akan menyambut kedatanganmu dengan hormat dan mengatur segala keperluan.”

Walau pun merasa enggan, tapi mau tak mau Thi Sim-lan harus pergi ke sana. Sekarang ia mirip segumpal awan yang mengambang di udara tanpa arah tujuan, ia pun tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

So Ing memandangi kepergian Thi Sim-lan itu, baru saja ia menghela napas lega, sekonyong-konyong terdengar seorang berkata dengan gegetun, “Kasihan budak itu, sudah dijual oleh orang masih belum tahu.”

“Haha, nona So ini tidak menjualnya padamu, makanya kau berlagak kasihan padanya?” demikian terdengar seorang lagi menanggapi dengan tertawa.

“Semula kuanggap budak she Thi itu tidaklah jelek, tapi kalau dibandingkan nona So ini, hakikatnya budak Thi mirip sepotong kayu belaka,” demikian orang ketiga berkata dengan terkekeh-kekeh.

“Ya, makanya Siau-hi-ji kita tidak boleh punya bini seperti bonggol kayu,” ujar orang keempat dengan tertawa.

Di tengah suara gelak tertawa itu, dari balik batu sana mendadak muncul empat orang. Bentuk keempat orang ini yang satu lebih aneh dari pada yang lain. Heran, entah cara bagaimana keempat orang aneh ini bisa berkumpul menjadi satu.

Terlihat orang pertama berwajah kotor dengan rambut semrawut, pakaiannya sudah dekil lagi compang-camping sehingga mirip pengemis. Tapi tangannya justru memegang sebuah pipa tembakau bertatah jamrud yang tak ternilai harganya.

Orang kedua bermuka bundar, perutnya buncit, usianya jelas tidak muda lagi, tapi lagaknya seperti anak kecil, tiada hentinya bergelak tertawa sehingga mirip Mi-lik-hud, itu Budha tertawa yang terkenal.

Orang ketiga berkundai licin dengan hiasan batu permata, pupur di mukanya setebal hampir setengah senti sehingga mirip orang bertopeng, maka sukar diketahui sebenarnya wajahnya bagus atau jelek, sudah tua atau masih muda? Yang jelas cara bersoleknya adalah perempuan, tapi yang dipakainya adalah baju lelaki, sedangkan kakinya memakai sepatu perempuan yang bersulam sutera merah dan bermutiara.

Orang keempat adalah lelaki kekar tegap, sorot matanya tajam, cuma mulutnya sangat lebar, seperti mulut singa, kepalan tangan mungkin bisa masuk.

Meski So Ing tidak tahu keempat orang ini adalah tokoh-tokoh Cap-toa-ok-jin yang termasyhur, yaitu Pek Khay-sim, Ha-ha-ji, To Kiau-kiau dan Li Toa-jui, tapi dia sudah pernah melihat mereka, telah disaksikannya cara bagaimana keempat orang itu mengerjai Gui Moa-ih. Sekarang keempat orang ini muncul pula dan mengepungnya di tengah. Biasanya dia tidak mudah memperlihatkan perasaannya, kini tidak urung air mukanya rada pucat juga.

“Jangan takut, nona So,” kata Li Toa-jui dengan tertawa. “Sudah dua hari ini aku kurang nafsu makan, umpama akan kumakan kau, sedikitnya perlu menunggu lagi beberapa hari.”

“Hihihi, anak perempuan secantik manis ini, sekali pun kau tega memakannya juga takkan kululuskan,” ucapTo Kiau-kiau dengan terkikik-kikik.

“Tapi, menurut pendapatku, lebih baik biarkan dia dimakan oleh Li Toa-jui,” ujar Pek Khay-sim.

“Hahaha, kau benar-benar cocok dengan julukanmu yang merugikan orang lain tanpa menguntungkan diri sendiri,” seru Ha-ha-ji dengan terbahak. “Umpama Li Toa-jui memakannya, apa pula faedahnya bagimu?”

“Sedikitnya aku tidak perlu khawatir kalau-kalau dijual olehnya,” kata Pek Khay-sim.

“Haha, memangnya berapa harganya satu kati tulangmu yang bau busuk ini, untuk apa dia menjual dirimu?” kata Ha-ha-ji.

“Hm, kakaknya saja sudah dijualnya, apalagi diriku?” jengek Pek Khay-sim.

So Ing mengerling, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Apakah kedatangan kalian ini hendak membela keadilan bagi Thi Sim-lan?”

To Kiau-kiau menghela napas, katanya, “Kalau dibicarakan, budak Thi Sim-lan ini sesungguhnya memang harus dikasihani.”

“Jika kalian merasa aku telah menipu dia, mengapa tadi kalian tidak mencegah kepergiannya?” ujar So Ing sambil tertawa.....

0 Response to "Bahagia Pendekar Binal Jilid 08"

Post a Comment