Roro Centil eps 15 : Langkah-Langkah Manusia Beracun

SATU
“RORO CENTIL...! Jangan harap kau dapat m loloskan diri dari tangan kami!" Terdengar bentakan keras yang diiringi dengan berlompatannya sosok sosok tubuh dari balik candi.

"Aliii...!? apakah gerangan kesalahanku? tak hujan tak angin tahu-tahu kalian datang dan muncul mau membunuhku...! hm, siapakah kalian?" Roro Cen til menatapkan pandangannya satu persatu pada em pat orang di hadapannya. Ternyata mereka adalah tiga orang wanita yang masih tampak muda-muda. Berpa kaian singsat. Rata-rata mengenakan baju berwarna ungu. Dan masing-masing lengan kanannya mencekal senjata gaetan yang amat runcing. Wajah-wajah mere ka menampilkan dendam permusuhan yang amat da lam terhadap Roro. Entah dendam apakah gerangan, karena Roro sendiri memang merasa tak mempunyai kesalahan terhadapnya.

"Heh! kiranya pendekar wanita yang punya na ma besar seperti anda mempunyai akhlak rendah!" Membentak salah seorang yang berwajah paling cantik diantara keempatnya. "Kami adalah murid dari pergu ruan Taring Naga Putih!" Nah, sebulan yang lalu anda muncul di perguruan kami. Kami dari Perguruan Naga Putih amat mengagumi anda dan telah mendengar ten tang sepak terjang serta kehebatan anda dalam hal membela kebenaran, akan tetapi.... perbuatan anda menculik serta membunuh kakak seperguruan kami benar-benar keterlaluan! Seharusnya kamilah yang bertanya, apakah tingkah laku semacam itu adalah perbuatan seorang pendekar...?"

Terkejut Roro Centil bukan kepalang. Alisnya mencuat naik. Sepasang matanya membelalak karena dia merasa tak pernah melakukan hal itu. Mendengar adanya perguruan Taring Naga Putih pun baru men dengarnya. Akan tetapi Roro tak sempat untuk bicara, karena sudah terdengar bentakan salah seorang yang berwajah mirip laki-laki.

“Kakak Parmi...! biarlah aku yang mewakilkan mu mengirim nyawanya ke Neraka! Pendekar Wanita berakhlak bejat ini sudah selayaknya mampus!

SREK! Gadis ini sudah mencabut sebuah lagi senjata gaetannya dari belakang punggung, dan maju dua tindak ke hadapan Roro. Melihat demikian salah seorang kawannya tak mau tinggal diam.

"Eh, jangan serakah kakak Sri Kendil! tangan ku sudah gatal untuk menghajarnya! perempuan bejat macam begini tak perlu dibunuh secara cepat, akan te tapi kematian secara pelahan yang lebih baik! hm, maksudku di bunuh pelan-pelan...!" Melangkah pula dua tindak gadis berambut kepang, yang bertampang galak ini.

“Aiii...! sabar dulu adik-adik manis...! aku me rasa tak melakukan hal demikian. Jangan-jangan ka lian salah terka...!" Berkata Roro sambil tersenyum. Akan tetapi hatinya diam-diam mengeluh. "Celaka! ini pasti ulah perbuatan si Giri Mayang keparat itu. Siapa lagi kalau bukan dia yang telah menyebar kericuhan dengan menyamar sebagai diriku!"

“Bedebah...! seumur hidup baru kujumpai seo rang pendekar bermuka dua! jelas-jelas aku lihat den gan mata kepala sendiri, kau menculik kakak sepergu ruanku mengapa kini kau mungkir?" Teriak Parmi se raya maju melompat.

"Ah ah...! tampaknya kau amat menyayangi ka kak seperguruanmu itu! Kulihat di matamu ada sema cam sinar yang berbeda dengan sinar mata kedua adikmu. Kakak seperguruan kalian itu pasti seorang laki-laki yang gagah dan berwajah tampan. Dan... kau sudah jatuh cinta setengah mati padanya bukan?" Berkata Roro dengan tersenyum sambil menunjuk ke arah Parmi. Gadis ini memang lain dari dua gadis itu, karena Roro dapat melihat ada setitik air bening dis udut mata Parmi. Semakin berkaca-kacalah sepasang mata gadis ini. Akan tetapi dia telah membentak gusar. "Perempuan bejat! aku akan adu jiwa denganmu...!" 

Dan senjata gaetannya telah dicabut lagi keluar lagi dari belakang punggung. Selanjutnya dengan mempergunakan sepasang senjata gaetan itu, dia su dah menerjang Roro Centil dengan beringas. Sementa ra isaknya tersendat dikerongkongan.

WHHUT! WHUUUT! WHUUTT...!

Hebat serangan si dara yang paling cantik dian tara kedua gadis baju ungu itu. Sepasang senjata gae tan itu menerjang bertubi-tubi ke arah bagian-bagian tubuh Roro. Bahkan yang lebih mengerikan adalah Parmi selalu mengarah kepada bagian leher dan sepa sang matanya.

"Aiih...! berbahaya sekali...!" Teriak Roro seraya berkelebatan menghindar. Ternyata cuma dengan tiga kali bergerak ke kiri dan ke kanan serta doyongkan tu buh ke belakang Roro telah dapat meloloskan diri dari serangan maut segebrakan itu. Mengetahui serangan berbahayanya dihindari dengan tersenyum-senyum jumawa membuat Parmi semakin bernafsu untuk men jatuhkan lawannya. Dan dengan menggertak nyaring kembali dia lancarkan serangan beruntun yang lebih berbahaya lagi. Kali ini sepasang gaetannya berubah bagaikan belasan cahaya berkilau yang membersit mengurung tubuh Roro, diiringi suara mendesing yang mengeluarkan hawa dingin. Ayal sedikit saja leher atau perut bisa kecantol gaetan maut itu.

Akan tetapi Roro Centil masih melayani seran gan itu dengan tersenyum manis. Bahkan mengajari lawannya menyerang.

"Yaaak, tebas ke bawah mengarah kaki! terjang menyilang sambil menendangi serang ke kiri-kanan dengan serangan bolak-balik! Bagus...!" Teriak Roro se raya lengannya bergerak menangkap kedua lengan ga dis itu. TAP...!

Sekejap saja lengan Parmi telah kena tertang kap oleh cekalan kuat Roro Centil. Melihat demikian kedua saudara seperguruan gadis itu lakukan seran gan berbareng, seraya membentak.

"Lepas...!" Cahaya-cahaya menyilaukan dari ke dua pasang gaetan si dua gadis baju ungu nyaris membobol perut Roro. Terpaksa Roro lepaskan ceka lannya dengan mengenjot tubuh melesat ke udara se tinggi lima tombak. Ringan sekali sepasang kakinya hinggap di atas candi. Terperangah kedua gadis itu se raya menengadah ke atas.

"Hai...! kau kira semudah itu mau melarikan di ri?" kejaaar...!" Teriak Sri Kendil.

"Hihihi... siapa yang mau melarikan diri?" ber kata Roro. Tiba-tiba si Pendekar Wanita Pantai Selatan meluncur turun ke arah mereka. Tentu saja hal demi kian tak disia-siakan ketiga murid dari Perguruan Li dah Naga Putih itu. Serentak menyambutnya dengan terjangan maut. Akan tetapi yang terdengar adalah ju stru teriakan ketiga dara baju ungu itu berbareng den gan terpentalnya senjata-senjata mereka. Aneh sekali, karena seketika itu tubuh ketiga gadis sudah dalam keadaan tertotok kaku dalam posisi menyerang. Apa kah gerangan yang terjadi? Ternyata Roro Centil baru saja memperagakan ilmu dari jurus "Bayangan Kembar"

Ilmu ini cuma bisa dimiliki oleh orang yang tingkat ilmunya sudah amat tinggi. Karena mengan dalkan kecepatan yang melebihi cepatnya kejapan ma ta. Hingga ketiga gadis itu menyangka tubuh Roro Centil berada di hadapan mereka dan akan berhasil kena di robohkan. Tak dinyana dengan gerakan yang sukar diikuti oleh mata, justru Roro Centil sudah me lesat ke arah sisi dan lakukan serangan pada ketiga lawannya yang menerjang bayangannya. Hingga seke japan saja ketika senjata dapat dibuat terlepas dari masing-masing pemiliknya, bahkan sekaligus melancarkan totokan.

Terbelalak tiga pasang mata dara-dara murid dari Perguruan Lidah Naga. Masing-masing hatinya sudah mengucap. "Matilah aku...! Akan tetapi pada saat itu terdengar suara tertawa mengekeh dibarengi dengan kata-kata. "Hebat...! hebat...! jurus ilmu Bayangan Kembar itu sukar untuk dikuasai, tapi ter nyata telah menguasainya, sobat Roro Centil!" Tentu saja Roro Centil segera palingkan wajahnya, dan mena tap pada sosok tubuh yang barusan saja berkelebat ke hadapannya.

Itulah sosok tubuh seorang wanita tua berju bah putih berwajah masih cantik walau telah penuh keriput. Di lengannya tercekal sebuah tongkat putih tipis, bengkok dan berujung runcing. Rambutnya ter gelung rapi dengan tusuk konde perak. Tak berapa la ma, sudah disusul dengan berkelebatnya sesosok tu buh lagi, dibarengi kata-kata.

"Haiiih! hampir saja terjadi lagi salah paham! selamat jumpa nona Pendekar Roro Centil...!" Ternyata orang kedua yang barusan muncul adalah Ki Gembul Sona, yaitu si kakek yang berjulukan si Belut Putih. Seketika wajah Roro Centil berubah cerah.

"Ah... selamat datang pula pada kalian orang tua gagah, sungguh kebetulan sekali bisa muncul dis ini...!" Tukas Roro seraya menjura. "Bolehkah aku bertanya apakah bibi yang ber tongkat adalah guru dari ketiga gadis ini? Tanya Roro.

Hm......benar! kuharap anda dapat memaafkan kekeliruan mereka karena telah menyangka anda si pembuat kericuhan! mereka memang masih hijau dan belum banyak pengalaman di luar. Kematian murid la ki-laki kami telah membuat mereka menjadi nekat un tuk mencari anda demi membalas dendam!" ujar si wanita tua seraya balas menjura.

"Aku si perempuan tua renta ini adalah yang di juluki kaum Rimba Hijau si Pendekar Tongkat Taring Naga!" sambungnya memperkenalkan diri. Roro Centil tersenyum manggut-manggut. Tiba-tiba Roro Centil se gera balikkan tubuhnya. Sepasang lengannya berge rak. Dan... segelombang angin telah membersit keluar dari sepasang lengannya. Tersentak ketiga gadis itu karena sekejap mereka sudah terbebas dari pengaruh totokan. Tentu saja mereka cepat-cepat memungut kembali senjata masing-masing yang bergeletakan di tanah. Selanjutnya segera melompat ke hadapan sang guru mereka.

"Murid-muridku hayo lekas kalian minta maaf pada nona Pendekar Roro Centil!" Ketiga murid ini tampak ragu-ragu, bahkan salah seorang sudah berka ta,

"Akan tetapi, guru... bukankah dia... dia ucap nya tergagap.

"Seseorang telah menyaru mirip nona Pendekar Roro Centil ini! Kalian telah salah menduga orang. Hayo cepat minta maaf...!" Bentak si Pendekar Tongkat Taring Naga dengan plototkan matanya. Tentu saja membuat ketiga gadis baju ungu itu terperangah den gan mata membelalak. Dan serta-merta segera menju ra di hadapan Roro.

"Maafkan kekeliruan kami, sobat Pendekar Ro ro Centil! kami tak mengetahui tentang hal itu!" ucap Parmi yang mewakilkan bicara.

"Akan tetapi bolehkan anda menjelaskan siapa sebenarnya yang melakukan tipu muslihat keji mem fitnah anda itu?" Tiba-tiba Parmi langsung ajukan per tanyaan.

"Benar! kami ingin mengetahui dan harus men getahui..." Berkata Sri Kendil yang menatap Roro den gan pandangan tajam. Dari tatapannya itu jelas dia masih kurang percaya dengan penuturan gurunya.

"Hihihi... silahkan kalian tanyakan pada guru mu, atau pada kakek rambut coklat itu. Beliau-beliau pasti akan menjawabnya!" Sahut Roro dengan terse nyum seraya leletkan lidah membasahi bibirnya.

"Nah maaf... aku tak bisa berlama-lama dis ini...!" Ujar Roro. Selanjutnya dengan sekali genjot tu buh sang Pendekar wanita ini sudah melayang ke atas candi yang paling tinggi. Dan saat berikutnya sudah lenyap melompat ke belakang candi.

***
DUA
Desa Cilutung yang mengalir pula disana kali Cilutung tampak pada slang hari itu amat lengang. Udara panas membuat seorang laki-laki berusia antara 20 tahun itu melepaskan lelah duduk di bawah pohon. Dia seorang laki-laki gagah yang berwajah cukup tam pan. Memakai baju rompi warna hitam, dengan dada telanjang. Rambutnya tak terurus. Pada pergelangan lengan dan kaki pemuda ini membelit empat buah gelang besi berwarna hitam.

Dialah ADHINATA, murid Ki Panunjang Jagat dari puncak Tangkuban Perahu. Laki-laki yang pernah menjadi murid si Raja Racun ini tampak seperti kebin gungan untuk menentukan langkahnya. Sementara perutnya sudah berbunyi berkeriutan minta di isi.

"Ah, aku harus cari makanan...! perutku lapar. Kukira did alam desa ini pasti ada warung nasi. Atau... aku bisa minta pada salah seorang penduduk. Tak ku punyai sekepingpun uang perak...!" gumamnya perla han. Sesaat dia sudah bangkit berdiri. Dan melangkah memasuki desa. Jalannya tak terlalu cepat karena da lam melangkah itu benaknya terus bekerja.

"Tubuhku mengandung racun yang amat hebat! aku harus hati-hati untuk tidak menyentuh siapa saja! haiih...! sungguh aku tak menyangka kalau akan begi ni jadinya! semua ini gara-gara aku kepincut dengan benda pusaka si Raja Racun yang ternyata adalah ha sil ciptaannya!" desisnya lirih.

Kedai nasi mang Sakri didesa itu terkenal den gan kelezatan masakannya. Warung nasi itu adalah sa tu-satunya yang paling besar di desa itu. Bahkan begi tu terkenalnya masakan maupun pelayanannya, mang Sakri pernah di undang ke rumah Adipati Bayu Nin grat untuk memasak di gedungnya. Ya...! sejak itu se makin terkenal saja kedai nasi mang Sakri. Hingga wa rungnya diperlebar, dan berdagang slang malam. Ka rena banyak para pelanggan yang memesan dari per bagai tempat, juga yang sengaja datang untuk makan di situ.

Seperti juga hari itu. Tampak lima penunggang kuda telah singgah di warungnya. Kelima ekor kuda segera di tambatkan di tempat yang telah tersedia, bahkan diberi rumput pula untuk menyenangkan hati para pelanggan. Beberapa pelayan laki-laki maupun perempuan tampak sibuk mencarikan meja dan tem pat duduk, karena mereka tahu kelima penunggang kuda itu adalah tamu-tamu istimewa yang sering memesan makanan. Kesemuanya adalah dari Kota Ra ja. Mang Sakri sudah tidak lagi memasak di dapur, cu kup memerintahkan saja pada para pelayan. Berkat didikan mang Sakri pelayan-pelayan tamu maupun ju ru masak mengolah makanan telah pandai untuk me nyesuaikan selera orang.

Beberapa saat setelah kelima orang penung gang kuda itu mendapat tempat duduk dan memesan makanan. Adhinata dengan langkah terhuyung mema suki kedai. Seorang pelayan laki-laki segera menyam but di pintu. Pemuda ini menatap mata pelayan. Tentu saja si pelayan ini kerutkan keningnya, karena baru sekali ini ada tetamu yang memasuki kedai dengan ba ju kumal dan rambut awut-awutan. Bahkan sepasang mata laki-laki yang ditatapnya itu terlihat merah seper ti habis mabuk.

"Boleh aku bertanya, apakah aku bisa bicara dengan yang punya kedai ini?" Tanya Adhinata. Melen gak si pelayan, dan ajukan pula pertanyaan dengan menatap tajam orang di hadapannya.

"Apakah maksudmu menanyakan majikanku?" Tanyanya.

"Ah, kau panggil sajalah majikanmu, aku mau bicara hanya dengannya! Sahut Adhinata.

"He...!? lagakmu macam tuan besar saja! ma tamu merah, jangan-jangan kau baru saja mabuk! ke dai kami sedang kedatangan orang-orang terhormat. Sebaiknya kau katakan maksudmu! atau nanti saja se telah para tamu kami sudah pulang...!" kau lihat! ma jikanku sedang sibuk menghormati tamu...!" Ucap si pelayan dengan tandas.

Tercenung sejenak Adhinata, segera dia meno leh pada laki-laki tua bertubuh gemuk yang tengah bercakap-cakap dengan lima orang tamu yang berpa kaian mewah. "Hm, aku tak pernah minum-minuman keras! mataku merah karena aku kurang tidur! baik lah, nanti aku bicara sendiri pada majikanmu! Sedia kanlah makanan, perutku lapar...!" Ujar Adhinata se raya melangkah masuk.

"Eh tunggu dulu! bajumu kotor tubuhmu dekil dari kumal. Dengan keadaanmu seperti itu pasti teta mu kami akan menyingkir pergi! Lagi pula apakah kau punya uang untuk membayar makanan...! cegah pe layan yang dengan sigap telah menghalangi di pintu. Tentu saja hal demikian membuat Adhinata jadi gusar. Tadinya dia mau berterus terang untuk meminta sepir ing nasi pada majikan si pelayan itu. Akar tetapi kare na sang pelayan melarangnya dengar memberikan ala san. Adhinata Jadi batalkan niatnya untuk berterus terang. Benaknya berfikir saat tadi ialah makan dulu mengisi perut, urusan bayar adalah belakangan.

Kini melihat si pelayan itu dengan bertolak pinggang melarangnya masuk, membuat pemuda ini jadi mendongkol. Dan hilanglah kesabarannya, bahkan lupa kalau dia harus berhati-hati untuk bertindak. Se kali lengannya bergerak dicengkeramnya baju si pe layan seraya membentak.

"Pelayan kurang ajar! kau berani melarang aku makan disini? aku kan tetamu? segala alasan kau ke luarkan, kau kira aku tak mampu membayar? Akan te tapi apakah yang terjadi? Tiba-tiba si pelayan menjerit parau. Tubuhnya berkelojotan bagai ayam di sembelih. Terkejut Adhinata. Ketika dia lepaskan cekalannya, tubuh si pelayan itu jatuh mengambruk lalu diam tak berkutik lagi. Gemparlah seketika keadaan di dalam kedai nasi itu. Beberapa orang sudah segera melompat untuk melihat kejadian di pintu kedai. Begitu juga ke lima tetamu berkuda, yang sudah bergegas melompat dari kursi masing-masing. Berpasang-pasang mata menatap terbelalak pada mayat si pelayan yang tubuhnya mulai mencair kehitaman!

"Hih...! dia telah kena pukulan beracun!" berka ta salah seorang dari kelima penunggang kuda.

"Dia lari kesana...! si pembunuh itu!" teriak seorang pelayan yang melihat berkelebatnya tubuh Adhinata. Tak usah menunggu terlalu lama, serentak kelima tamu dari Kota Raja itu telah berkelebatan me lompat untuk mengejar. Ternyata Adhinata yang tahu gelagat tidak baik segera angkat kaki dari muka kedai. Dengan gerakan cepat dia menyelinap masuk pada se buah pintu rumah yang kebetulan terbuka. Akan teta pi terdengar jeritan dari dalam. Sesosok tubuh tertum buk tubuhnya dan terlempar membentur dinding. Ternyata seorang wanita penghuni rumah itu telah jadi korban kedua. Berkelojotan tubuh wanita itu meregang nyawa, dan sesaat kemudian pun tewas dengan tubuh berubah kehitaman.

Tentu saja hal itu membuat Adhinata terperan gah. Dia memang tak sengaja membenturnya. "Celaka

...! aku harus segera kabur dari tempat ini!" Desisnya. Dan... BRRAK... dia sudah menerobos keluar mener jang daun pintu bagian belakang. Akan tetapi telah terdengar bentakan keras.

"Manusia keji! kau telah terkepung!" Dan bebe rapa sosok tubuh sudah mengurungnya. Ketika Adhi nata menatap pada mereka, tahulah dia kalau yang mengejarnya adalah tetamu kedai nasi yang rata-rata berpakaian mewah tadi.

"Pembunuh biadab! apakah kesalahan pelayan itu, hingga kau membunuhnya dengan kejam?" Bentak salah seorang dari mereka.

"Aku... aku tak sengaja..." Teriak Adhinata den gan panik. "Manusia keji macam begini mengapa tak cepat dibunuh mampus? Hayo kita ringkus dia! Teriak salah seorang yang sudah tak sabar. Dan sekejap sudah menghunus golok panjangnya. Tentu saja yang lainnya pun berbuat sama. Masing-masing mencabut keluar senjatanya. Salah seorang menerjang mendahului. Pe dang berkilauan dilengannya ditabaskan ke arah leher Adhinata. Terkejut laki-laki ini. Lengannya bergerak menangkis. TRANG...! Luar biasa! pedang si penyerang itu terpental patah dua. Dan bersamaan dengan itu terdengar jeritan ngeri salah seorang kepala pengawal dari Kota Raja itu. Tubuhnya seketika menghitam dan jatuh berkelojotan. Cuma beberapa kejap saja lang sung tewas dengan keadaan tubuh berubah mengerikan.

Tentu saja keempat kawannya jadi tersentak dan melompat mundur.

"Pergi...! pergilah! atau berikan aku pergi dari sini! aku... aku tak sengaja...!" teriak Adhinata dengan wajah pucat. Sungguh di luar dugaannya kalau tang kisannya barusan membawa efek demikian hebat. Dan tak ayal Adhinata segera melesat untuk melarikan diri. Akan tetapi keempat kepala Pengawal Kerajaan itu mana mau membiarkan orang yang telah menyebab kan kematian kawannya itu melarikan diri? Serentak telah mengejar dengan membentak keras.

"Keparat...! kejar...! dia telah membunuh kawan kita !" Dan berkelebatlah sosok-sosok tubuh keempat

kepala Pengawal, mengejar Adhinata. Akan tetapi pada saat itu berkelebat sesosok tubuh menghadang si em pat Kepala Pengawal.

"Tahan...! jangan kejar...!" Tentu saja teriakan nyaring itu menghentikan langkah mereka. Dan ketika menatap ke arah si penghadang, ternyata seorang wa nita muda yang cantik rupawan. Siapa lagi kalau bu kan Roro Centil, sang Pendekar Wanita Pantai Selatan. "He!? siapakah nona? mengapa menghalangi

kami mengejar manusia keji itu?" Tanya salah seorang dari Kepala Pengawal.

"Dia si MANUSIA BERACUN! pengejaran kalian amat berbahaya! apakah kalian sudah tak sayang nyawa...?" Berkata Roro dengan menatap tajam pada mereka satu persatu.

"MANUSIA BERACUN...??" Teriak mereka den gan kaget hampir berbareng. Dan menatap Roro den gan membeliakkan mata.

"Benar! aku memang tengah menguntitnya, ternyata dia telah mulai membawa korban!" Tukas Ro ro dengan wajah serius.

"Nah, maaf, aku harus meneruskan menguntit nya Aku menghawatirkan akan banyak terjadi kejadian yang mengundang maut!" Ucap Roro. Dan selesai ber kata demikian tubuh si Pendekar Wanita itu sudah berkelebat lenyap dari hadapan mereka. Melesat cepat untuk mengejar Adhinata, hingga tak sempat lagi keempat Pengawal itu untuk menanyakan siapa di rinya. Akan tetapi pada saat itu terdengar suara di be lakang mereka.

"Kalian beruntung dapat peringatan dari Pen dekar Wanita itu! Seharusnya kalian ucapkan terima kasih...!" Kata-kata itu jelas ditunjukkan pada keempat Kepala Pengawal ini. Tentu saja serentak mereka putar tubuh untuk melihat siapa yang bicara.

"Ah, Gusti Senapati Kerta Bumi...!" Teriak me reka hampir berbareng. Dan tak ayal segera menjura hormat pada sang atasan ini.

"Sudahlah! kalian bukan sedang dalam tugas! Ucap sang Senapati. "Bawalah mayat kawanmu pu lang, dan tugas baru telah menanti kalian...!" Selesai berkata Senapati Kerta Bumi melangkah pergi dari si tu. Keempat Kepala Pengawal mengangguk seraya ber gegas menghampiri mayat kawannya. Akan tetapi ter perangah mereka, karena tubuh sang kawan telah be rubah mencair dan menimbulkan bau busuk.

"Gusti Senapati...!" Teriak salah seorang seraya mengejar laki-laki berusia 35 tahun itu.

"Ada apakah?" Tanyanya dengan palingkan wa jah pada si Kepala Pengawal.

"Mengerikan sekali, gusti Senapati! mayat ka wan kami..." Segera si Kepala Pengawal ini beritahukan apa yang dilihatnya. Tampak wajah Senapati Kerta Bumi berubah.

"Mari...! aku segera melihatnya!" Ujarnya seraya mendahului melompat. Kepala Pengawal ini segera menyusul di belakangnya. Terperangah Senapati Kerta Bumi menyaksikan keadaan mayat. Karena tubuh si Kepala Pengawal yang malang itu telah menjadi cairan hitam. Kulitnya meleleh menampakkan tulang belulangnya dari sebagian tubuhnya. Sementara hawa busuk menyebar dari mayat itu.

"Edan! luar biasa sekali racun itu...! benar benar amat mengerikan...! entah racun apakah yang telah mengendap di tubuh laki-laki itu?" Gumam sang Senapati dengan mengelus jenggotnya yang tipis. Bah kan dia telah menatap pula pada potongan pedang si Kepala Pengawal yang telah tewas. Ternyata potongan pedang itupun telah berubah menghitam.

"Racun yang amat ganas itu adalah warisan si Raja Racun! Manusia itu telah menciptakan empat buah gelang beracun yang diwariskan pada pemuda itu! Dunia ini akan dilanda musibah besar! karena si Raja Racun telah berhasil mencapai cita-citanya men ciptakan seorang manusia yang tubuhnya mengan dung racun luar biasa, walaupun dia sendiri harus te was!" Satu suara lembut terdengar dari seberang jalan. Tampak seorang kakek duduk di atas sebuah batu be sar dengan lengan mengelus jenggotnya yang panjang menjuntai memutih. "Kakek tua...! siapakah... anda?" Tanya Senapati Kerta Bumi yang segera telah melihat siapa orangnya yang bicara. Ringan sekali gerakan orang tua berjubah putih itu, sekejap sudah hing gapkan kakinya ke tanah di hadapan Senapati Kerta Bumi.

"Aku si kakek tua yang sial ini bernama Panun jang Jagat, Gusti Senapati. Terimalah hormatku ....

Ucap kakek itu seraya menjura pada Senapati Kerta Bumi. Buru-buru Senapati ini balas menjura. Dari ge rakannya hamba Kerajaan ini telah mengetahui kalau si kakek Panunjang Jagat adalah seorang tokoh Rimba Hijau yang berilmu tinggi.

"Aneh, anda menyebut diri anda sial. Apakah hubungannya dengan masalah ini? dan anda tampak nya mengetahui benar dengan perihal manusia bera cun itu!" Bertanya Senapati Kerta Bumi,

"Bagaimana tak kukatakan diriku sial? si ma nusia beracun itu adalah muridku sendiri yang telah ku gembleng untuk menjadi seorang pendekar kaum golongan putih. Eii, tahu-tahu mengangkat si Raja Ra cun itu menjadi gurunya pula. Dan... jadilah dia ma nusia yang menakutkan...! entah bagaimana nasib nya, kalau dia dipengaruhi kaum golongan hitam?. Tak ada lain jalan selain membunuhnya siang siang...! " Ujar sang kakek Puncak Tangkuban Perahu dengan wajah sedih. Tampak dari sepasang mata tua kakek itu mengalir air bening yang meluncur turun membasahi pipinya yang keriput.

Terangguk-angguk kepala Senapati Kerta Bumi yang diiringi dengan helaan napas. "Benar-benar di luar dugaanku, ternyata anda guru dari Manusia Be racun itu. Masalah ini memang amat besar dan rumit, tapi kukira kita memang harus bertindak cepat sebe lum kasip. Benar seperti yang dikhawatirkaa anda, ka lau muridmu itu telah dipengaruhi kaum golongan se sat, akan membahayakan bukan saja terhadap rakyat akan tetapi juga membahayakan Kerajaan. Bahkan bi sa membahayakan umat manusia!" Ujar sang Senapati dengan menatap wajah Ki Panunjang Jagat.

"Ya! memang lebih cepat kulenyapkan nyawa murid murtad itu adalah lebih bagus!" Tukas Ki Pa nunjang Jagat. Akan tetapi Senapati Kerta Bumi cepat menyambar bicara.

"Tidak...! bukan dengan membunuhnya, kita harus cari jalan untuk melenyapkan racun yang men gendap ditubuhnya! Akan tetapi apakah watak dari si Raja Racun itu belum mengendap pada jiwa muridmu, sobat Ki Panunjang Jagat?"

"Mudah-mudahan tidak, karena waktu yang di pergunakan si Raja Racun untuk memproses si Adhi nata muridku itu menjadi manusia beracun cuma ber kisar antara dua bulan!" Sahut Ki Panunjang Jagat se raya menghapus air matanya. "Sebenarnya waktu itu aku menitahkan pada Adhinata untuk meneruskan berguru pada adik seperguruanku Gembul Sona. Dan kuperintahkan dia turun gunung dari puncak Tangku ban Perahu. Akan tetapi dua bulan kemudian ketika aku menyambangi adikku di pesanggrahannya, ternya ta muridku tak kujumpai ada di sana. Belakangan ba ru ku ketahui dia berguru pada si Raja Racun, tokoh hitam dari Rimba Hijau. Aku bisa menduganya karena kujumpai mayat si Raja Racun dalam keadaan seperti mayat Pengawal Kerajaan ini!" Tutur Ki Panunjang Ja gat lebih lanjut, seraya menatap pada mayat yang telah membusuk itu.

"Baiklah sobat Panunjang Jagat! aku akan be rusaha sebisa mungkin untuk membantumu...!" "Terima kasih atas bantuan anda sebelumnya gusti Senapati...! " Senapati Kerta Bumi anggukkan kepalanya dengan tersenyum, seraya ujarnya.

"Jangan khawatir, orang Kerajaan tidak akan memusuhi muridmu, sepanjang dia masih dalam kea daan belum diperalat orang lain...! Ki Panunjang Jagat manggut-manggut. Lalu segera menjura untuk mohon diri. Akan tetapi tiba-tiba dia balikkan tubuhnya se raya menatap pada mayat.

"Mayat itu sebaiknya dibakar saja, jangan coba coba menyentuhnya! amat berbahaya...!"

***
TIGA
"Setan alas...! aku kehilangan jejak!" Memaki Rora Centil. Tubuh sang dara ayu ini berkelebatan ke beberapa arah, dan kepalanya dipalingkan ke kiri dan ke kanan. Akan tetapi sosok tubuh si manusia beracun sudah lenyap tak kelihatan bayangannya lagi.

Tiba-tiba Roro melihat sosok bayangan yang menyelinap ke balik tebing. Tentu saja hal itu tak dis ia-siakan. Segera dia berkelebat kesana. Akan tetapi tiba-tiba... RRRRRRTT! RRRRTT! RRRRTT...! Terperan gah Roro Centil, beberapa utas tali telah menjeratnya. Dan tak ampun lagi kaki dan lengannya serta ping gangnya kena terjerat. "Alii...! ? aku terjebak dalam pe rangkap! Desis Roro dengan terkejut. Cepat sekali be kerjanya tali-temali itu, karena sekejap Roro Centil te lah tergantung pada beberapa utas tali dengan kaki terpentang, kepala di bawah dan kaki di atas. Tali-tali yang menggantung tubuh Roro menjulur dari beberapa arah. Yaitu dari atas tebing batu dan beberapa batang pohon tinggi.

"Hihihihi... begitu mudahnya menjebak seorang wanita Pendekar yang perkasa...! " Tiba-tiba terdengar suara tertawa mengikik tanpa terlihat orangnya. Roro segera mengenali suara itu. "Keparat si Giri Mayang rupanya!" Desis Roro tersentak. Dan... saat itu pula te lah berkelebatan tujuh sosok makhluk kerdil mengu rung di bawah Roro. Tentu saja Roro mengenal mak hluk-makhluk ini, karena pernah diserang oleh mere ka. Benaknya segera memikir. "Setan alas...! kalau be gitu mahluk-mahluk kerdil ini baladnya si Giri Mayang...!" Diam-diam Roro kerahkan tenaga dalam nya untuk dapat segera melepaskan diri dari jeratan tali. Akan tetapi pada saat itu serangkum angin telah menerpa tubuhnya. Terdengar si Pendekar Wanita ini, karena segera merasai tubuhnya tak dapat digerakkan lagi. Hebat, serangan aneh itu. Roro Centil tak mampu berkutik lagi, karena seketika jalan darahnya telah ter sumbat. Dan dengan demikian dia tak mampu lagi un tuk berbuat apa-apa.

"Hehehe... hehehee... selamat berjumpa nona Pendekar Roro Centil!" Terdengar suara tertawa men gekeh serak yang diiringi kata-kata. Dan sesosok tu buh berkelebat muncul. Sekali gerakan lengannya memutar, tali temali yang menjerat tubuh Roro terpa pas putus terkena sambaran angin aneh. Tanpa bisa dicegah lagi, tubuh Roro meluncur jatuh. Dan mah-

kluk-mahkluk kerdil itu segera menangkapnya. "Bagus! inilah saatnya kemenangan berada di

pihak kita!" Terdengar suara nyaring dan diiringi den gan berkelebat muncul sesosok tubuh wanita dengan ram but terurai. Siapa lagi kalau bukan Giri Mayang. Entah bagaimana si wanita yang amat mendendam pada Roro Centil itu bisa berada di tempat itu, dan apa pula hubungannya dengan nenek renta bertangan ko song yang berilmu tinggi itu?.

"Hihihi... guru! berikanlah padaku manusia yang telah menghinaku itu!" berkata Giri Mayang den gan menatap pada si nenek tangan kosong. Entah se jak kapan tahu-tahu wanita ini telah pula mengangkat guru pada si nenek tua renta berkalung mutiara indah itu.

Si nenek berikan isyarat pada ketujuh makhluk kerdil untuk melepaskan tubuh Roro dari pegangan tangan-tangan mereka. Serentak berlompatanlah mak hluk-mahkluk kerdil itu dengan patuh.

"Heheheheh mau kau apakan-kah dia?" Ta nyanya.

"Guru...! terima kasih atas bantuanmu sekali lagi! kali ini biarkanlah aku yang akan menentukan hidup matinya perempuan bernama Roro Centil ini!" Berkata Giri Mayang dengan menatap pada gurunya lalu alihkan tatapannya pada Roro yang terkapar di tanah dengan keadaan tak berdaya. Sejurus antaranya si nenek bertangan kosong yang ternyata bermata jul ing itu termenung, tapi kemudian ujarnya...

"Heeheheh... heheh... baiklah! akan tetapi ku beri waktu kau untuk segera membunuhnya tidak le bih dari dua hari. Selewat dua hari aku tak mau men dengar adanya nama Roro Centil di atas jagat ini!"

"Baik, baik...! jangan khawatir! manusia pem bunuh muridmu si Kupu-kupu Emas ini aku jamin kau akan segera melihat bangkainya dalam keadaan tidak utuh!" Berkata Giri Mayang dengan tersenyum menyeringai. Sementara itu Roro Centil jadi terkejut karena segera mengetahui kalau si nenek bermata jul ing itu adalah guru si Kupu-kupu Emas yang telah te was di tangannya, sewaktu berada di Pulau Andalas.

Selesai berkata, Giri Mayang segera sambar tu buh Roro. Dan sekejap saja sudah dibawa berkelebat meninggalkan tempat itu. "Dua hari lagi silahkan kau datang melihat ke tempat tinggalnya, guru... teriak Giri Mayang yang masih sempat berpesan pada guru ba runya.

Nenek mata juling tak menjawab, akan tetapi segera berkelebat pergi diikuti ketujuh mahkluk cebol piaraannya.

***

"Iblis perempuan! tahan langkahmu!" Terdengar bentakan nyaring. Giri Mayang yang baru saja tiba di balik bukit jadi terkejut dan hentikan langkahnya,

karena beberapa sosok tubuh berkelebatan menghadang. Ternyata ketiga murid si nenek Pendekar Taring Naga, yaitu si tiga gadis berbaju ungu. Giri Mayang tatapkan matanya pada ketiga dara dihada panya. Tiba-tiba dia tertawa mengikik, dan berkata dengan nada dingin.

"Hihihi... kiranya tiga saudara seperguruan dari Perempuan Taring Naga! He? mau apa kalian mengha dangku? Hm, rupanya kalian mau mencari mati...!"

"Bedebah! perempuan laknat! kau telah mencu lik dan membunuh kakak laki-laki saudara sepergu ruan ku! kau telah memfitnah pula nama Pendekar Roro Centil! kau harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu!" Bentak Sri Kendil dengan berang. Dan sepasang senjata gaetannya telah tercekal di kedua lengannya.

"Hihihi nona Pendekar pujaan kalian itu kau lihat sendiri sudah tak berkutik dalam tanganku! apa kah kalian mau jual lagak untuk mencari mati? Se baiknya lekas kalian merangkak pergi dari sini!" Ben tak Giri Mayang. Sejak tadi mereka memang telah ber prasangka dan tengah menduga-duga pada wanita yang berada di atas pundak Giri Mayang. Kini semakin jelaslah kalau wanita itu benar Roro Centil adanya. Tentu saja membuat mereka cukup terkejut, juga khawatir.

"Hah? Le... lepaskan dia!" Bentak Sri Kendil dengan mata mendelik. Akan tetapi Girl Mayang terta wa mengikik, seraya berkata lantang.

"Silahkan kalian rebut nona Pendekar pujaan kalian ini dari tangan ku!"

"Bedebah! kau turunkan dulu dia dari pun dakmu! dan hadapi kami!" teriak Parmi, si dara paling cantik diantara mereka.

"Hm, baik! kalian kira aku sebangsa manusia pengecut yang mau menjadikan si Roro Centil ini un tuk perisai...? Kalian rasakan nanti sepak terjangkut berkata Girl Mayang dengan senyum sinis. Giri Mayang jatuhkan tubuh Roro menggabruk ke tanah. Dan ber kata lagi dengan suara dingin.

Silahkan kalian maju berbareng! kalian mau membalas dendam kematian kakak seperguruanmu, bukan? Hihihi... dia memang laki-laki gagah. Sayang aku terpaksa membunuhnya, karena itulah kebiasaan ku kalau aku sudah bosan!" Selesai bicara, kembali Gi ri Mayang perdengarkan suara tertawa mengikik. Se mentara diam-diam dia telah salurkan tenaga dalam inti api pada kedua lengannya.

"Iblis perempuan sundal! aku akan adu jiwa denganmu!" membentak Parmi dengan geram, dan se pasang mata berkaca-kaca. Seraya kemudian mener jang wanita ini dengan kemarahan meluap-luap. Sepa sang senjata gaetannya menyambar bagai kilat menga rah leher. Akan tetapi dengan tersenyum Giri Mayang merunduk cepat. Sebelah lengannya Lantas bergerak menghantam ke perut lawan.

WHUUK! Angin panas membersit menyambar perut Par mi Untunglah gadis ini cepat pula berkelit dengan ja tuhkan diri bergulingan. Giri Mayang tak memberi ke sempatan untuk gadis itu bangkit. Segera melesat un tuk kembali hantamkan telapak tangannya bertubi tubi. Akan tetapi saat itu telah terdengar bentakan, berbareng dengan menerjangnya Sri Kendil dan gadis rambut kepang. Dua pasang gaetan itu berkilatan me nyambar tubuhnya dari perbagai tempat. "Bagus...!" teriak Giri Mayang. Gesit sekali wanita itu berloncatan menghindar dari serangan ganas.

Tiba-tiba Giri Mayang mulai merubah gerakan silatnya. Sekejap saja tampak ketiga lawannya mulai menyerang dengan serabutan, karena Giri Mayang mempergunakan jurus-jurus yang mengacaukan se rangan lawan. Ternyata sambil mempergunakan juru sannya, bibir Girl Mayang tampak komat-kamit mem baca mantera-mantera. Itulah ilmu hitam yang diper gunakan untuk menyerang syaraf lawan. Hingga dalam pandangan ketiga gadis itu, mereka seperti menghada pi mahkluk menyeramkan.

Pada satu kesempatan Giri Mayang hantamkan lengannya kedua arah.

WHUUKI WHUUKKK...!

Tak ampun lagi terdengar jeritan menyayat ha ti. Sri Kendil dan si gadis rambut kepang yang berna ma Nirawuni terlempar dengan tubuh menghitam han gus. Bukan saja Parmi salah satu dari ketiga gadis itu saja yang terperanjat, akan tetapi Roro Centil yang da lam keadaan tak berdaya itupun terkesiap kaget. "Iblis telengas Giri Mayang! kelak kau rasakan kalau bisa

terbebas dari totokan si nenek mata juling itu!" maki Roro Centil dalam hati. Ternyata lidah dari Pantai Selatan inipun dibuatnya menjadi kelu dan tak dapat mengeluarkan suara. Kecuali sepasang matanya saja yang mendelik gusar.

***
EMPAT
"Hihihi... segeralah kaupun berangkat menyu sul kedua saudara seperguruanmu itu!" Berkata Giri Mayang seraya hantamkan lengannya mengarah ke tubuh Parmi yang sedang terlongong dengan mata membelalak. Akan tetapi pada saat itu berkelebat sinar kilat berhawa dingin yang meluluhkan pukulan inti api Giri Mayang, disertai bentakan keras. "Wanita terlen gas, kejam nian kau...! " BHUURRR...! pukulan inti api Giri Mayang membalik ke udara, dan menyambar da han pohon besar. Hebat dan mengerikan sekali, pohon itu terbakar hangus. 

Daun-daunnya rontok kering, berjatuhan meluruk ke bawah. Tersentak Parmi bukan buatan. Dalam keadaan terperangah tadi, nyaris saja nyawanya melayang kalau tak datang sosok tubuh yang menangkis serangan berbahaya itu. Ternyata dis itu telah tegak berdiri seorang pemuda tampan berpa kaian serba putih. Di lengannya tercekal sebuah pe dang yang berkilauan seperti perak. Dialah SAMBU RUCI si Pendekar Selat Karimata, alias si Bujang Nan Elok.

Kalau Roro Centil diam-diam merasa girang dengan kemunculan pemuda sahabatnya ini, adalah Giri Mayang memandang dengan terkejut. Bibirnya su dah bergetar untuk membentak. Akan tetapi, aneh...! tampaknya Giri Mayang sulit untuk mengeluarkan ka ta-kata dari mulutnya. Seumur hidup barulah dia me lihat seorang laki-laki yang tampannya sedemikian ru pa. Tiba-tiba, cepat sekali Girl Mayang balikkan tubuh, dan menyambar tubuh Roro yang tergeletak ditanah. Selanjutnya dengan gerakan sebat segera angkat kaki dari tempat itu.

"Haiii? pengecut busuk! mengapa kau melari kan diri...?" Teriak Sambu Ruci. Sepasang matanya se gera dapat melihat siapa adanya sosok tubuh yang di panggul dipundak wanita itu. "Hah? dia... Roro Cen til...!" Sentak Sambu Ruci dengan berdesis. Akan tetapi baru dia mau berkelebat menyusul, sebuah benda te lah dilemparkan ke arahnya.

BRUSSS...! Benda itu meledak menimbulkan asap hitam yang menyebar menghalangi pandangan. Ketika Sambu Runci menerobos asap, tubuh Giri Mayang sudah tak kelihatan lagi.

"Kurang ajar, akal licik untuk melarikan diri!" Memaki Sambu Ruci dengan hati masygul. Saat itu Parmi telah lemparkan sepasang senjatanya, dan memburu ke arah kedua tubuh saudara sepergu ruaannya yang terkapar dengan keadaan mengerikan. Tubuh Sri Kendil dan Nirawuni yang dalam keadaan menghitam hangus itu ditatapnya dengan air mata mengenang.

Tak kuat melihat kengerian yang terpampang di matanya, gadis ini menangis terisak dengan menekap wajahnya dengan kedua belah tangan. Menghadapi kenyataan yang amat luar biasa itu, pandangan mata Parmi menjadi gelap dan berkunang-kunang. Kepa lanya terasa berdenyutan. Dan bumi yang dipijak tera sa berputar. Akhirnya si gadis itu roboh pingsan tak sadarkan diri. Sementara itu Sambu Ruci telah berke lebat menghampiri.

Tentu saja hal itu membuat Sambu Runci jadi kebingungan.

"Ah, dia pingsan pula...! bagaimana ini... ?" Ter sentak Sambu Runci. Sambu Runci memang serba sa lah, karena dia baru mau berniat menyusul Roro yang dilarikan Giri Mayang akan tetapi melihat keadaan ga dis itu tak sampai hati dia meninggalkannya. Terlebih melihat kematian kedua gadis kawannya yang hangus mengerikan.

"Kasihan...! aku harus menolong gadis ini, dan menguburkan mayat kedua gadis malang ini...! " Ber kata Sambu Ruci seorang diri. Demikianlah... dengan segera si Pendekar Selat Karimata menggali tanah, lalu menguburkan jenazah kedua gadis malang itu dengan hati ikut terharu. Bahkan tak terasa air matanya meni tik turun dari kelopak mata.

Matahari mulai menggelincir ke arah barat. Dan selesailah pekerjaan Sambu Runci. Dua gunduk tanah yang ditimbun juga dengan batu dan pasir telah bera da ditempat itu. Pada tanah datar di sisi bukit. Angin

pegunungan berhembus menyejukkan tubuh. Laki-laki ini menyeka peluhnya yang meluncur turun ke dahi. Kini tatapan matanya dialihkan ke bawah po hon dimana dia merebahkan tubuh Parmi yang masih tak sadarkan diri.

Mendengar langkah-langkah kaki menghampiri agaknya gadis ini mulai sadar dari pingsannya. Dan sekejap dia sudah melompat bangun. Dilihatnya seso sok tubuh laki-laki yang tadi telah menyelamatkan ji wanya berada di hadapannya. Berdiri dengan meman dang kagum pada gadis itu. Memang tak dapat di sangkal kalau Parmi adalah seorang dara yang cantik Berambut ikal. Dengan ikat kepala bercorak kembang kembang warna merah. Tatapan matanya sayu, akan tetapi sedikit membelalak karena segera terlihat dua gundukan tanah yang sudah dapat diduga adalah ku buran kedua saudara seperguruannya.

"Anda.... anda yang telah mengebumikan jena zah kedua saudara seperguruanku...?" bertanya Parmi dengan memandang tajam, akan tetapi diam-diam ha tinya berdebar keras. Pemuda itu seorang laki-laki yang amat tampan. "Siapakah gerangan dia ini..?" ber kata Parmi dalam hati. Sementara itu dengan terse nyum Sambu Runci segera menjawab.

"Benar...! kulihat kau telah jatuh pingsan tak sadarkan diri. Aku lalu menolongmu memindahkan ke tempat yang teduh disini, kemudian segera ku gali ta nah untuk mengubur jenazah...! " Terlihat senyum tre nyuh di bibir sang gadis. Sepasang matanya kembali berkaca-kaca. Dan sepasang bibir mungil itupun

tampak tergetar mengucapkan kata-kata... "Te... terima kasih atas pertolongan anda, tu... tuan Pendekar!" Ucapnya dengan suara lirih. Dan... setetes air bening kembali mengalir turun ke pipinya yang pu tih ranum.

"Andapun telah pula menyelamatkan nyawaku. Betapa besar budi anda, entah dengan apa aku harus membalasnya. Lanjut Parmi dengan tundukkan wajah, dan cepat-cepat lengannya menghapus air matanya.

"Ah, sudahlah...! pertolongan itu adalah sudah menjadi dasar dari setiap golongan pendekar. Siapakah namamu, adik...?"

"Namaku amat jelek. Apakah kau sudi menden garnya?" Balas bertanya sang gadis dengan senyum di paksakan.

"Ah, Jelek atau bagus cuma sebuah nama. Tapi yang jelas orangnya kan cantik...?" goda Sambu Ruci dengan tersenyum. Sengaja dia bergurau untuk melu pakan kesedihan sang gadis itu.

"Ah, anda terlalu memuji! aku sedang dalam kesedihan begini, kalau anda mau tahu namaku tentu tak keberatan pula kalau anda menyebutkan nama anda, bukan?" Berkata sang gadis dengan tersipu.

"Haha... mengapa tidak? namaku Sambu Ruci!" sahut Sambu Ruci pendek tanpa memperkenalkan ju lukannya. Akhirnya sang gadis baju ungu itupun se butkan pula namanya.

"Aku... aku Parmi, atau kepanjangannya Parmi Sudira..."

"Aha...! nama yang begitu bagus mengapa kau katakan jelek?" kelakar Sambu Ruci dengan tersenyum dan geleng-gelengkan kepala.

"Bagus dan cantik secantik orangnya! sam bungnya dengan menatap tajam pada wajah sang gadis yang semakin merona merah saja wajahnya.

"Sudira itu tentu nama ayahmu, ataukah nama suamimu.. ?" tiba tiba Sambu Ruci ajukan perta nyaan.

"Suami...? ah, mana aku punya suami... itu nama ayahku!" sahut Parmi.

"Ya, ya... aku percaya! baiknya kau ceritakan riwayatmu, apakah sebabnya bisa bentrok dengan wa nita bersama Giri Mayang itu?" Tanya Sambu Ruci yang segera alihkan pembicaraan. Terdengar suara he laan napas si gadis. Wajahnya kembali menampakkan kesedihan. Akan tetapi segera dia sudah memulai beri kan penuturan.

Demikianlah, secara kebetulan Parmi akhirnya dapat berkenalan dengan Sambu Ruci si Pendekar Se lat Karimata. Dan Parmi pun tuntas pula menceritakan siapa dirinya serta persoalan apa hingga dapat bentrok dengan Giri Mayang, yang nyaris saja dia menyangka Roro Centil biang pelaku dari kejahatan itu. Tercenung sejenak Sambu Ruci. Segera terlintas lagi nasib Roro yang sedang dalam keadaan tak berdaya di tangan Giri Mayang. Walaupun bagaimana hati pemuda ini yang sudah kepincut oleh Roro, tak bisa berpeluk tangan membiarkan Giri Mayang menawan si Dara Pantai Se latan itu. "Dimanakah tempat tinggalmu, nona Parmi... aku akan mengantarkanmu pulang. Selesai itu aku harus mencari jejak si wanita Iblis itu. Dia telah berha sil menawan sahabatku Roro Centil. Amat berbahaya dan mengkhawatirkan sekali. Wanita iblis itu amat te lengas dan mempunyai ilmu tinggi..!"

"Kami bertiga sudah bertekad mencari jejak si wanita iblis pembunuh saudara laki-laki kakak seper guruaku. Ternyata telah berhasil menjumpai. Akan te tapi kedua saudara seperguruanku kembali tewas di tangan iblis wanita telengas itu. Tak ada lain jalan, aku akan turut mencari jejak nona Pendekar Roro Centil. Ajaklah aku kemana kau pergi, sobat Sambu Ruci...! " Berkata Parmi dengan wajah bersemangat.

Tercenung Sambu Ruci. Walau dalam hati tak menyetujui gadis itu turut serta dalam melacak jejak Giri Mayang, akan tetapi Sambu Ruci memang tak da pat menolak keputusan si gadis. Juga dikhawatirkan hal itu akan menyinggung perasaan sang gadis yang amat bersemangat dan berani itu. Akhirnya Sambu Ruci pun mengangguk.

***
LIMA
Kemanakah gerangan lenyapnya Adhinata, si manusia beracun? Ternyata dia berada dalam sebuah lubang sumur yang amat dalam. Kalau Adhinata tak memiliki kepandaian tinggi, serta akal cerdik yang di pergunakan, niscaya tulang-tulang tubuhnya telah pa tah-patah karena jatuh dari tempat ketinggian terje rumus masuk ke dalam sumur itu. Itulah pula sebab nya Roro Centil kehilangan jejak. Di dalam sumur itu Adhinata termangu-mangu. Untuk merayap naik amat sulit, karena dinding sumur penuh lumut yang amat licin. Sedangkan untuk me lompat keluar juga tak mungkin, karena dalamnya sumur lebih dari lima puluh kaki. Kecuali dia punya sayap untuk terbang barulah dia bisa keluar dari su mur itu. Berpikir demikian, Adhinata jadi termangu mangu dengan mulut memaki panjang pendek.

"Sial! siaaal...! mengapa nasib buruk selalu me nimpa ku? Kini nasibku tak lebih buruk dari nasib si

Raja Racun! cepat atau lambat akhirnya toh aku akan mati kelaparan di asar sumur celaka ini...!"

Malam pun semakin merayap, Adhinata masih termangu-mangu di dasar sumur tanpa bisa berpikir apa-apa selain menunggu datangnya maut. Dan lagi lagi hawa lapar menggerogoti perutnya. Akan tetapi ti ba-tiba dia berseru kegirangan. Matanya menatap pada lumut yang menempel tebal didinding sumur.

"Ha...? aku... masih bisa hidup! mengapa aku jadi tolol? lumut ini bisa menjadi bahan makananku! hahaha..." Tergelak-gelak Adhinata. Dan serta merta lengannya sudah mencongkel lumut itu. Lalu langsung memakannya dengan lahap. Tak perduli lagi bagaima na rasanya, baginya yang panting adalah dia bisa ber tahan hidup sambil menunggu kemukjizatan yang da pat menolong dirinya keluar dari sumur itu.

Adhinata memang sudah ditakdirkan menga lami hal yang aneh-aneh. Perjumpaanya dengan si Ra ja Racun telah membawa akibat tubuhnya mengan dung racun yang amat hebat. Empat buah gelang besi berwarna hitam yang terpasang di empat anggota tu buhnya adalah empat buah gelang yang sudah diren dam dengan racun puluhan tahun dengan bermacam racun jahat. Semasa hidupnya si Raja Racun telah be rambisi menciptakan seorang manusia yang amat luar biasa yang bakal diperalat untuk menguasai Dunia Persilatan. Hingga dengan segala daya dia berhasil menciptakan gelang-gelang besi itu. Apakah yang telah menyebabkan kematian si Raja Racun itu? marilah ki ta ungkapkan peristiwanya.

***

Betapa girangnya si Raja Racun tokoh hitam itu yang telah menemukan Adhinata, yang dianggap cocok untuk dijadikan bahan percobaan keempat gelang be sinya. Si Raja Racun memang telah mendusta Adhina ta dengan mengatakan bahwa dia memiliki dua pasang benda pusaka, yang kalau Adhinata mengingini pasti dia akan memberikannya. Adhinata yang baru turun gunung dan belum banyak pengalaman segera kepin cut untuk memiliki dua pasang gelang pusaka itu. Ka rena menurut Langir Setho bakal menjadikannya seo rang yang luar biasa di dunia persilatan.

Demikianlah, Adhinata di bawah ke tempat tinggal tokoh hitam itu. Selanjutnya dengan menuruti setiap perintah dan petunjuk si Raja Racun, yang telah di angkat guru oleh Adhinata, pemuda murid Ki Pa nunjang Jagat dari puncak Tangkuban Perahu itu di proses dengan waktu singkat hingga tubuhnya men gandung racun yang amat luar biasa dahsyatnya. Akan tetapi justru si Raja Racun sendiri tewas tanpa sengaja karena kecerobohan yang di luar dugaannya.

Keempat buah gelang besi itu telah terpasang di pergelangan keempat anggota tubuh Adhinata. Dia memerintahkan pemuda itu menyalurkan tenaga da lam untuk menyebarkan pengaruh racun dari keempat gelang besi ke sekujur tubuhnya. Sebelumnya Adhina ta memang telah meminum beberapa macam ramuan untuk memperkuat tubuh, yang harus dimakannya se lama waktu satu bulan. Hal itu pernah dicobanya pada beberapa pemuda yang di Jadikan calon memproses ide gilanya itu, akan tetapi dari tiga orang pemuda yang dicobanya itu telah tewas. Hingga si Raja Racun segera merobah beberapa macam ramuan, dengan me nambahi ramuan lain. Hal itu memang berhasil baik seperti yang telah dicobakan pada Adhinata. Akan te tapi Adhinata ternyata tak mampu mengembalikan ra cun yang menyebar ditubuhnya ke tempat asalnya yai tu keempat buah gelang besi itu. Adhinata memang ti dak mati, akan tetapi dia tak sadarkan diri hingga be berapa hari.

Tentu saja hal itu amat mengkhawatirkan si Ra Racun. Berbagai cara dilakukan untuk menyadarkan Adhinata. Kekhawatiran akan kegagalannya semakin memuncak karena setelah lewat dua pekan, Adhinata tetap belum sadar dari pingsannya. Untunglah ra muan-ramuan yang dijejalkan di mulut Adhinata dapat memperkuat tubuhnya untuk masih tetap bisa berta han hidup. Sepekan pun berlalu lagi, dan Adhinata te tap terkapar tanpa daya. Semakin gelisahlah hati Lan gir Setho. Tinggal satu proses lagi yang harus dite rapkan pada tubuh pemuda itu. Akan tetapi keadaan Adhinata semakin memburuk. Nafasnya tinggal satu satu.

Akhirnya si Raja Racun ini jadi nekat. Proses yang satu lagi harus dilaksanakan, yaitu merendam tubuh Adhinata dalam kubangan air beracun. Tanpa harus menunggu lama lagi, si Raja Racun segera cem plungkan tubuh Adhinata dalam kubangan air bera cun yang telah disiapkan. Ketika pemuda yang jadi bahan percobaannya satupun belum ada yang sampai pada proses terakhir ini, karena telah keburu tewas di awal percobaan. Cuma Adhinatalah yang bisa menca pai proses akhir ini. Akan tetapi itupun masih dalam teka-teki......

***

Tiga hari tiga malam si Raja Racun merendam tubuh Adhinata dalam kubangan air beracun itu. Se lama itu Langir Setho kerahkan tenaga dalamnya un tuk membantu menguatkan tubuh Adhinata dengan saluran tenaga dalamnya ke tubuh pemuda itu. Ter nyata hebat akibatnya. Racun yang menyebar di tubuh Adhinata telah bercampur telah bercampur lagi dengan racun. Napas pemuda itu sudah semakin gawat. Detik detik maut hampir menjelang. Semakin resah hati si Raja Racun. Kekhawatiran akan kegagalan percobaan nya semakin memuncak. Karena bila gagal kali ini bu kan saja dia harus memulai segalanya dari nol, akan tetapi hal ini juga telah menguras habis tenaga dalam nya, dan telah merugikan tidak sedikit dari usahanya yang sia-sia itu.

Dan... pada detik-detik yang mendebarkan itu ternyata Langir Sheto hampir melonjak karena girang nya. Tampak napas Adhinata kembali normal secara berangsur-angsur.

"Bagus muridku...! kau... kau berhasil! berha sil...! hahaha... hehe..." Tertawa gelak-gelak si Raja Ra cun karena girangnya. Akan tetapi tiba-tiba dia menje rit keras. Cekalan lengannya pada bahu pemuda itu yang selama tiga hari tiga malam tak pernah lepas un tuk menyalurkan tenaga dalam yang mengalirkan ha wa hangat ketubuh Adhinata, mendadak sontak di le paskan. Terhuyung-huyung tubuh si Raja racun mun dur ke belakang. Wajahnya pucat bagai mayat dan membiru. Akan tetapi tak berlangsung lama, karena segera tubuh Langir Sheto jatuh menggabruk untuk selanjutnya berkelojotan bagai ayam disembelih. Dan kejap berikutnya tubuh si Raja racun sudah tak ber kutik lagi dengan keluarnya suara mengorok bagai kerbau dipotong.

***

Beberapa saat antaranya tubuh si Raja Racun itupun mencair dengan mengeluarkan bau busuk yang amat mengganggu hidung. Tewasnya si Raja Racun yang berhasil dengan percobaannya. Akan tetapi me minta korban jiwanya sendiri. Demikian kisah yang di alami Adhinata, hingga dia menjadi si Manusia Bera cun. Betapa amat mengerikan kini keadaan tubuhnya membuat Adhinata sendiri menjadi serba salah. Kare na dengan demikian justru menyulitkan dirinya sendi ri.

Masalahnya adalah si Raja Racun telah tewas. Sedangkan dia tak dapat mengendalikan racun yang mengendap dalam tubuhnya karena tak mengetahui caranya. Seandainya dia dapat berfikir secara normal mungkin hal itu bisa dilakukan. Akan tetapi efek sam pingan dari proses yang terjadi pada tubuhnya juga te lah merusak jaringan syaraf. Hingga Adhinata tak lebih dari seorang pemuda tolol. Terkadang dia berambisi untuk merajai Dunia persilatan, tapi terkadang begitu ketakutan akan keadaan dirinya. Dan berusaha men jauhi manusia, karena dia khawatir untuk menyen tuhnya.

***
ENAM
GIRI MAYANG tertawa sinis menatap Roro Cen til, yang telah dikuliti seluruh pakaiannya. Bahkan te lah menambah beberapa totokan untuk memperkuat agar si musuh besarnya tak dapat lepas lagi dari tan gannya. Giri Mayang ambil seutas tambang, lalu men gikat tubuh kedua pergelangan tangan Roro Centil. Se lanjutnya telah mengereknya ke atas pada dua buah tiang yang menyangga sebuah balok panjang. Rumah itu adalah sebuah rumah tempat seorang pandai besi. Si pandai besinya sendiri telah dibunuhnya. Mayatnya telah di lemparkannya ke sungai di belakang rumah itu. Tentu saja disana banyak bermacam alat-alat kerja si pandai besi. Dari tungku tempat bara api, sampai palu, pahat kikir dan perbagai alat lainnya.

Dan... tungku api itu memang sudah menyala sejak tadi. Tubuh Roro Centil terayun-ayun pada seu tas tambang. Kakinya cuma berada satu jengkal di atas tanah. Entah kejahatan apa yang akan dilakukan wanita telengas ini. Dengan bertolak pinggang Giri Mayang menatap tubuh Roro dengan tersenyum sinis.

"Hm, bentuk tubuhmu memang patut dikagumi Roro Centil! Memang membuat aku jadi mengiri! Hihi hi... akan tetapi tak lama lagi aku akan membuat kulit tubuhmu yang putih itu menjadi seperti kulit macan loreng...!" Berkata Giri Mayang seraya perdengarkan suara tertawa mengikik dan terpingkal-pingkal geli.

"Heh, mengapa tak kau bunuh mampus saja aku sekalian?" bentak Roro. Ternyata totokan pada urat suaranya telah dibuka oleh Giri Mayang. Mak sudnya memang dia ingin mendengar suara Roro yang menjerit-jerit ketika menjalani siksaan darinya.

"Hihih... hihi... aku memang mau membunuh mu Pendekar Perkasa! Akan tetapi secara pelahan lahan. Biar kau rasakan enaknya menjalani kematian dengan caraku ini...!" sahut Giri Mayang dengan terse nyum dingin. Selesai berkata Giri Mayang beranjak menghampiri tungku. Bara api menyala di dalamnya Dan tampak beberapa batang besi telah terbakar me rah membara. Giri Mayang meraih sebatang besi yang sudah membara ujungnya itu. Lalu beranjak mendekati Roro Centil.

"Ck, ck, ck.... sayang, tubuh mulus mu itu akan menjadi buruk, Roro Centil. Bersiap-siaplah un tuk menahan rasa sakit...!" Berkata Giri Mayang den gan suara dingin. Membeliak sepasang mata Roro Cen til. Baru sekali inilah dia kena dikerjai orang. Bahkan justru berhadapan dengan wanita sadis yang memben cinya setengah mati. Tak dapat dibayangkan Roro bak al menjalani siksaan yang tidak ringan.

Sepasang mata Giri Mayang menjalari sekujur tubuh Roro. Dan... besi panjang bergagang kayu yang ujungnya merah membara itu sudah bergerak mende kati tubuh Roro. Beberapa detik lagi Giri Mayang akan mendengar suara jerit kesakitan dari tubuh Roro Cen til. Akan tetapi tiba-tiba....

"Tunggu...!" Terdengar suara teriakan yang me nahannya. Besi panas itu sudah tinggal beberapa inci lagi dari kulit tubuh Roro. Terpaksa Giri Mayang hen tikan gerakannya, untuk segera berpaling ke arah sua ra barusan. Tampak sesosok tubuh berkelebat masuk ke dalam ruangan.

"Weiaaaah, sabar dulu sobat Kelabang Kuning! welaah, welaaah, sayangnya kalau kulit yang putih mulus itu kau bikin cacad !" Berkata sosok tubuh itu

yang ternyata adalah seorang laki-laki yang sikapnya amat genit. laki-laki ini berusia sekitar 40 tahun. Ber tubuh jangkung, dan berbaju gombrong hingga mirip orang kedodoran. Wajahnya tampak lucu, tanpa kumis dan jenggot. Sebelah telinganya memakai anting-anting besar. Melihat kemunculan laki-laki aneh ini tampak Giri Mayang disamping terkejut, juga mendongkol se kali. Laki-laki yang sikapnya genit ini adalah adik tiri ayahnya yang sudah tewas. Bernama PORAK SUPIH. Porak Supih inilah yang memperkenalkan dirinya den gan si nenek mata juling, yang cuma memberi waktu dua hari padanya untuk segera membunuh Roro.

Bahkan Girl Mayang telah pula mengangkat si nenek mata juling itu sebagai gurunya. Giri Mayang memang belum menerima tambahan ilmu, akan tetapi nenek yang mempunyai "piaraan" tujuh makhluk ker dil (siluman) itu telah beberapa kali membantunya. Walaupun si nenek mata juling itu sendiri belum resmi mengangkat Giri Mayang menjadi muridnya. Hubun gan apakah si nenek mata juling dengan Porak Supih? Tak lain dan tak bukan wanita tua renta mata juling itu adalah ibunya sendiri.

"Mau apa kau muncul disini, paman Porak Su pih. Sekali ini kuminta kau tak mencampuri urusanku! Segera keluarlah...! aku tak mau kau mengganggu aca ra ku!" Berkata Giri Mayang dengan suara tegas dan hati mangkel. Akan tetapi Porak Supih malah cengar cengir dan garuk kepala yang tidak gatal. pasang ma tanya menjalari sekujur tubuh Roro dengan membinar binal. Seraya ujarnya.

"Welaaah...! Kelabang Kuning! sombong kali kau ini, bah...! Berilah aku kesempatan untuk masya dulu dengannya, alangkah menyesalnya kalau kesem patan yang langka ini tersia-sia! Kudengar wanita yang kau tawan ini adalah seorang Pendekar Wanita kena maan. Ooh... alangkah sayangnya... Welaah, welaah! aku tidak mau pergi!" Berkata Porak Supih yang telah semakin kurang ajar menatap Roro yang dalam kea daan tanpa penutup aurat tubuh. Perbuatan Giri Mayang memang sudah sangat keterlaluan. Dan diam diam apa yang telah diperlakukan Giri Mayang ini te lah dicatat direlung hati Roro. Di ukir dibenak tanpa bisa dihapus lagi.

Mendengar jawaban kata-kata Porak Supih, Gi ri Mayang semakin mendongkol. Akan tetapi mengingat laki-laki ini masih ada hubungan famili dengan ayah nya, Giri Mayang jadi serba salah kalau harus lakukan kekerasan untuk mengusirnya. Apa lagi Porak Supih sudah banyak menanam jasa padanya. Dan.. kali ini Giri Mayang memohon dengan halus.

"Paman Porak Supih...! si Roro Centil ini adalah musuh besar yang telah membunuh ayahku. Biarlah aku memberinya siksaan pedih. Aku akan membuat nya mati secara perlahan-lahan. Bahkan dia juga mu suh nenek NORI...!" Ujar Giri Mayang dengan suara datar. Nenek Nori yang dimaksud adalah si nenek ma ta juling.

Akan tetapi membersit perasaan mengiri dan cemburu, ketika melihat sepasang mata Porak Supih sejak tadi tak berkejap-kejap merayapi kemulusan tu buh Roro ke setiap lekuk liku dengan pandangan mata membinar. Bahkan kata-kata Giri Mayang seperti tak didengarnya.

"Heh... heh... walau bagaimana tak kuperke nankan kau menyiksanya! Aku sudah benar-benar ja tuh hati padanya... dan... aku... aku sudah tak kuat untuk menahan lagi!" Berkata Porak Supih seraya be ranjak melangkah mendekati tubuh Roro yang meng gantung tak mau bergerak.

Akan tetapi tiba-tiba...

"Tunggu...! tak kuperkenankan pula kau me nyentuhnya, kecuali..." Bentak Giri Mayang. Besi pa nas yang merah membara itu telah meluncur, mena han langkah tindakan kaki Porak Supih. Dan... besi panas itu cuma tinggal berjarak setengah jengkal dari leher Porak Supih. Terpaksa laki-laki ini hentikan langkahnya. Kedipan mata wanita itu membuat Porak Supih mengerti. Segera saja dia tertawa bergelak dan berkata.

"Beres...! untuk jasamu ini aku pasti akan membalas dengan yang lebih baik...!"

"Nah, beri aku lewat...! kelak kalau sudah hi lang penasaran ku, baru ku persilahkan kalau kau mau menyiksanya atau mencabut nyawanya...!" Lan jutnya dengan gerakan lengan menepiskan besi panas. Aneh! serangkum hawa dingin telah menyambar besi panas membara itu, dan... CHESSSSS...! Terdengar bunyi seperti bara disiram air. Ujung besi panas yang merah membara itu seketika kembali menghitam kepu tih-putihan, serta menimbulkan asap tipis akibat pa damnya ujung besi membara itu.

Dan... sekali lompat dia sudah berada di hada pan Roro. Sepasang lengannya bergerak untuk mende kap tubuh Roro Centil, dengan nafsu yang sudah menggelagak tak terbendung lagi.....

DHESS...! BRRAAKKK. !

Terdengar suara jeritan parau disertai terlem parnya tubuh Porak Supih yang membentur dinding ruangan rumah, menimbulkan bergedubrakan. Dua tiang penyangga tempat menggantung tubuh Roro ta hu-tahu telah patah berubah menjadi beberapa po tong. Dan tambang yang mengikat Roro telah putus. Bahkan Roro Centil sendiri sudah tak ada disana. Apakah yang terjadi?

WHUUKK...! tahu-tahu serangkum angin telah menyambar tubuh Giri Mayang yang terpukau dengan mata membelalak. Wanita itu terdengar teriakan terta han, seraya jatuhkan diri bergulingan.

PRRASS...! Tanah di tengah ruangan itu me nyemburat berlubang. Tubuh Giri Mayang berguling guling menghindari serangan dahsyat yang tak diketa hui siapa penyerangnya. Sambaran-sambaran angin dahsyat yang bisa membuat tubuhnya hancur luluh itu mengejar tubuhnya tiada henti.

BRRRAAKKK...! Dengan satu teriakan keras, Giri Mayang berhasil menerobos keluar ruangan den gan melompat ke atas menjebol atap genting. Beberapa kejap kemudian wanita itu sudah jejakkan kaki di luar rumah. Terengah-engah nafas Giri Mayang. Wajahnya pucat bagai kertas. Jantungnya berdebaran. Akan te tapi baru saja dia bernafas lega, lagi-lagi angin keras menyambar dahsyat...

BHLAARRR...! Batu-batu beterbangan hancur. Dan untuk yang kesekian kalinya wanita ini berhasil menyelamatkan diri dari maut dengan melompat tinggi mencelat pergi dari tanah yang dipijaknya. Jantungnya terasa copot, ketika dia jejakkan lagi kakinya di tanah, sebuah bayangan tubuh telah berkelebat... dan sekejap telah berdiri di hadapannya.

"Hah...!???... kka... kau... (glek...!) Giri Mayang menelan ludah. Terasa kelu tenggorokannya untuk berteriak kaget. Ternyata bagaikan area telanjang yang mengerikan sesosok tubuh telah berdiri di hadapan nya. Siapa lagi kalau bukan Roro Centil. Yang mem buat jantung Giri Mayang menyentak kerai adalah di lengan dara ini telah tercekal sebuah kepala manusia yang dijambak rambutnya. Potongan kepala manusia itu tak lain dari kepala Porak Supih. Dara menetes tu run memercik di atas batu yang di injaknya. Dan selu ruh Rambut Roro Centil berdiri menegang ke atas ba gaikan duri-duri landak. Sepasang matanya meman carkan hawa pembunuhan yang membuat nyali Giri Mayang seketika seperti meleleh. Keringat dingin men gembun dan menetes dari sekujur tubuhnya. Seolah olah dia tidak melihat manusia lagi, akan tetapi seperti melihat malaikat maut yang berdiri di hadapannya.

"Alih.... am... ampuni nya.. nyawaku.. nona... nona Pendekar.... Berkata Giri Mayang dengar suara gemetar. Akan tetapi sebelah lengan Roro Centil malah terangkat ke arahnya. Tersentak Jantung wanita ini. Sebelum sesuatu yang mengerikan terjadi, Giri Mayang telah genjot tubuhnya untuk kabur...

Cepat sekali Giri Mayang angkat langkah seribu menyelamatkan jiwanya. Nyalinya sudah hilang lenyap untuk menghadapi Roro Centil yang sudah berubah mengerikan. Ternyata Roro Centil batalkan menghan tam wanita itu dengan pukulan dahsyatnya. Lengar bergerak menjumput sebutir batu. Sekali remas han curlah batu itu jadi beberapa kerikil kecil. Dan...

WHUURR...! Segenggam kerikil itu sudah me luncur deras mengejar tubuh Giri Mayang yang ber lompatan melarikan diri. Terdengar suara menjerit wa nita itu. Tubuhnya menggelinding jatuh. Akan tetapi segera bangkit lagi dengan tubuh luka-luka. Beberapa butir kerikil telah membenam di anggota tubuhnya. Dan Giri Mayang terus berlari jatuh bangun. Hingga beberapa saat kemudian sudah lenyap dibalik batu tebing.....

Ternyata Roro Centil tidak mengejar. Melainkan berkelebat kembali menuju ke rumah pandai besi, tempat tinggal sementara Giri Mayang alias si Kela bang Kuning itu. WHUUUSS...! Dia telah lemparkan kepala Porak Supih ke arah sungai di belakang si pan dai besi. Lalu berkelebat masuk kembali ke dalam ru mah. Apakah sebenarnya yang telah terjadi, hingga Ro ro dapat terlepas dari belenggu dan pengaruh totokan pada tubuhnya?

Kiranya diam-diam Roro Centil telah berhasil melepaskan diri dari pengaruh totokan. Hawa murni yang dikumpulkan di pusar berhasil menyebar untuk membuka totokan. Roro Centil memang mempunyai tenaga dalam tinggi yang sudah jarang tandingannya. Pengaruh totokan si nenek mata juling sebenarnya te lah sirna karena Roro terus menerus kerahkan tenaga dalam untuk mengalirkan hawa murni ke sekujur tu buhnya. Akan tetapi Roro Centil memang belum mam pu bertindak, karena untuk mengembalikan kenorma lan aliran darah memakan waktu beberapa saat lagi.

Tak dinyana Giri Mayang telah menambahnya dengan totokan lagi, memperkuat totokan si nenek ma ta juling. Bahkan lalu membuka pakaiannya. Selanjut nya telah mengikat kedua lengannya. Lalu menggan tung tubuhnya pada dua tiang penyangga balok. Pada saat besi panas membara itu sudah siap menggores kulit tubuh, sebenarnya Roro sudah terlepas dari pen garuh totokan Giri Mayang yang berhasil tembus oleh hawa murni dari dalam tubuh Roro.

Demikianlah, hingga kemudian muncul Porak Supih...

Ketika Porak Supih rentangkan tangannya un tuk memeluk tubuh Roro, si Pendekar Wanita Pantai Selatan ini langsung hantamkan kakinya hingga tubuh Porak Supih terlempar dengan tulang-tulang bagian dalam tubuhnya remuk. Lalu memutuskan tali dan menghantam kedua penyangga itu hingga patah men jadi beberapa potong. Selanjutnya menerjang Giri Mayang, yang ternyata masih mampu menyelamatkan diri.

Ketika Giri Mayang menjebol atap wuwungan, Porak Supih ternyata masih bisa lakukan serangan bokongan dengan hamburan ratusan jarum beracun! Untunglah Roro Centil punya naluri yang teramat pe ka. Sambaran halus dari serangkuman senjata rahasia itu berhasil dipunahkan dengan kibasan rambutnya.

Selanjutnya dengan geram, Roro Centil balik kan tubuh... Dan apakah yang di lakukannya? Ternya ta sekali lengannya bergerak, Roro telah puntirkan ke pala orang dengan menjambak rambutnya. Sekali sen takkan, putuslah kepala itu dari tubuhnya. Selanjut nya melesat mengejar Giri Mayang. Dan kembali menghantam wanita itu dengan pukulan-pukulan maut. Namun berakhir dengan mengalahnya Roro Cen til, karena Roro memegang janji. Hingga loloslah Giri Mayang dari maut......

Ketika Matahari merayap naik hampir tepat di atas kepala, Roro Centil sudah tinggalkan lereng bukit yang telah membawa peristiwa maut. Terdengar suara helaan napas si Pendekar Wanita Pantai Selatan. Per bagai peristiwa telah banyak dialami. Akan tetapi pen galaman barusan telah membuka matanya betapa ba nyaknya manusia licik di kolong jagat ini. Juga manu sia-manusia berakhlak bejat yang mengumbar nafsu seenaknya. 

Porak Supih ternyata sudah dikenali Roro Centil, ketika dalam salah satu pengembaraanya men dengar akan kebrutalan laki-laki aneh beranting anting sebelah itu. Entah berapa banyak suami dari wanita-wanita yang diingini telah dibunuh. Dan mem perkosa mereka. Bahkan tidak jarang wanita yang su dah hamil akibat perbuatannya itu dibunuhnya pula. 

Roro pernah mengejar Porak Supih untuk menangkap nya dan menyerahkannya pada seorang Tumenggung di salah satu wilayah Kerajaan kecil dipesisir laut Pulau Jawa di wilayah selat Sunda. Akan tetapi Porak Supih berhasil meloloskan diri. Hingga ketika men jumpai Porak Supih muncul di hadapannya, Roro tak memberinya kesempatan untuk hidup lagi.

Dengan perdengarkan suara tertawa tawar, Ro ro Centil berkelebat menuju ke arah barat.......

***
DELAPAN
Tiga-hari tiga malam telah dilewati Adhinata yang mendekam di dasar sumur... Selama itu tak ada lain pekerjaan Adhinata selain menghitung-hitung jari jari tangan dan kakinya. Atau mencabuti bulu-bulu yang tumbuh di badannya. Kalau sudah bosan dengan "pekerjaan" itu tak ada lagi keisengan lain selain ma kan lumut. Dan kalau perutnya sudah kenyang terisi, hawa mengantuk pun datang. Tidurlah dia dengan menggeros. Demikianlah nasib Adhinata selama terku rung di dasar sumur. Tak terasa haripun kembali men jadi gelap lagi. Datangnya malam ternyata begitu cepat, karena bila hawa dingin menyelimuti sekitar lubang Adhinata cuma bisa menggigil kedinginan. Untunglah ingatannya mulai agak pulih, dan dia dapat segera sa lurkan hawa hangat dari tenaga dalamnya untuk men gusir hawa dingin yang menyungsum tulang.

Adhinata memang sudah tak perduli lagi akan nasibnya. Bahkan sudah tak ingat lagi berapa hari su dah dia bersemayam di dasar sumur itu. Pada hari ke sembilan pemuda ini kerutkan keningnya, karena mendengar suara jeritan kaget dari atas lubang. Dan bersamaan itu batu-batu kecil berjatuhan meluruk atas kepala. Alangkah terkejutnya Adhinata ketika menengadah ke atas, melihat sesosok tubuh melayang ke bawah.

"Haaii...! ada orang terperosok ke lubang sialan ini...!" Sentaknya kaget. Tak ayal dia sudah bangkit berdiri. Dan.... tentu saja lengannya dengan cepat se gera terentang untuk selanjutnya sudah menangkap tubuh orang yang jatuh terperosok itu.

KREP...! Sekejap kemudian sosok tubuh itu su dah berada dalam rengkuhan sepasang tangannya yang kuat. Orang itu perdengarkan suara keluhan li rih. Segera saja Adhinata sudah dapat menduga kalau sosok tubuh itu adalah seorang wanita. Karena terasa ada dua buah benda lunak yang menempel ke dada.

"Bagus...! kebetulan, kini aku punya seorang teman...!" Berdesis mulut Adhinata dengan sepasang matanya membeliak lebar memperhatikan wajah orang. Akan tetapi tiba-tiba wajah Adhinata berubah pucat. "Celaka...! aku tak boleh menyentuhnya!" desis nya kaget. Dan serta-merta Adhinata melepaskan pon dongannya. Tubuh wanita itu jatuh berdebam ke tanah lembab. Dan Adhinata melompat ke sisi lubang.

Jantungnya berdetak keras. Sepasang matanya memperhatikan tubuh wanita itu dengan cemas.

Segera terbayang akan apa yang bakal terjadi. Tak lama lagi di tempat itu akan ada sesosok mayat yang daging tubuhnya mencair, menimbulkan bau bu suk. Ooh, alangkah tidak menyenangkan...! Akan teta pi ditunggu sekian lama tak ada terjadi apa-apa den gan wanita itu. Bahkan si wanita itu sendiri sudah membuka sepasang matanya. Dan menggeliat untuk bangkit berduduk. Sepasang matanya menatap pada Adhinata dengan tatapan heran. Bibirnya tampak ter getar berucap.

"Ah... siapakah.. anda...?"

"Heh? kau tak apa-apa...? Aneh...! Tubuhku mengandung racun! aku... aku telah menyentuh mu...! Sukurlah kau tak apa-apa...! Namaku Adhinata!" Tu kas Adhinata dengan wajah gerang melihat wanita itu tak terkena racun. Hal itu amat mengherankan Adhi nata. Hingga terlongong Adhinata menatap wanita itu yang tak lain dari Giri Mayang adanya. Entah apa yang terjadi hingga wanita telegas itu bisa jatuh terperosok ke dalam lubang. Giri Mayang sendiri pun terlongong keheranan, karena tak menyangka dirinya masih hi dup. Dia memang dalam keadaan tanpa daksa. Bebe rapa luka ditubuhnya akibat serangan Roro Centil dengan batu kerikil, telah mematikan beberapa urat ja lan darah di tubuhnya.

Dia memang berhasil meloloskan diri dari maut karena Roro tak mengejar. Bahkan tak memperdulikan lagi pada Wanita itu. Padahal Giri Mayang masih be lum beberapa jauh, karena tak dapat berlari cepat. Bergelindingan tubuh Giri Mayang dengan luka-luka pada tubuhnya. Namun dia masih bisa bangkit untuk berlari dan berlari... Kembali kakinya tersaruk, dan dia jatuh terguling. Kali ini dia tak dapat bangkit lagi. Se luruh urat darahnya terasa ngilu. Dan mengeluhlah dia panjang pendek.

Untunglah Roro Centil tak menampakkan diri. Namun begitu takutnya Giri Mayang, hingga dia sem bunyi dibalik sebongkah batu. Demikianlah. Berhari hari dia harus menahan lapar karena tubuhnya tak dapat digerakkan sama sekali. Luka-luka kecil pada sekujur tubuhnya mulai membengkak. Merintih dia menahan sakit. Akhirnya dengan kuatkan diri dia me rangkak untuk mencari makanan yang bisa dimakan. Sekitar tempat itu amat gersang. Cuma batu-batu me lulu yang terlihat. Susah payah dia mendaki lereng lereng berbatu terjal itu dengan setengah menangis.

Siang hari yang panas terik itu dia telah hampir tiba di ujung bukit batu. Beberapa tombak lagi sudah terlihat hutan dengan pepohonan yang menghijau. Dia mengharapkan akan menjumpai sebuah desa. Atau seorang penduduk desa yang lewat. Dan akan selamat lah dia dari penderitaan. Akan tetapi sungguh tragis. Di saat dia sudah berjuang setengah mati, justru bera kibat fatal. Akar pohon beringin yang di raihnya telah terlepas karena kakinya tergelincir. Dan... menggelin dinglah tubuhnya ke bawah tebing. Sungguh sukar disangka kalau ternyata Giri Mayang telah terjerumus masuk ke sumur dimana Adhinata berada di dasarnya. Itulah peristiwa yang telah dialami wanita itu.....

"Ah ... terima kasih atas pertolonganmu !"

Berkata Giri Mayang dengan wajah menampilkan kegi rangan luar biasa mendapati dirinya masih dapat se lamat dari maut untuk yang kesekian kalinya.

"Tampaknya kau terluka, kulihat banyak bekas darah sekujur tubuhmu...!"Berkata Adhinata dengan menjalari sekujur tubuh wanita itu dengan pandangan matanya.

"Benar...!" sahut Giri Mayang." Akan tetapi lu ka-luka ini bukan bekas aku jatuh menggelinding, me lainkan aku diserang musuh besarku!" sambungnya li rih. Adhinata kerutkan lagi alisnya.

"Siapa musuh besarmu...?" Tanya Adhinata. Pertanyaan itu membuat wajah Giri Mayang jadi beru bah seketika. Sepasang matanya memancarkan cahaya dendam yang berapi-api. Bibirnya tergetar mengucap kan kata-kata... "Dialah yang bernama Roro Centil. Wanita iblis itu telah menyiksaku setengah mati. Heh! kelak aku akan membalasnya perlakuan kejinya!" Se mentara Adhinata diam-diam mulai memperhatikan wajah wanita itu yang menurut pandangannya cukup cantik. Dan hatinya ternyata telah tertarik padanya.

"Musuh besarmu itu kalau aku bisa keluar dari dalam sumur celaka ini pasti aku lumatkan tubuhnya! siapakah namamu, nona...?" Bertanya Adhinata. "Na maku Giri Mayang. Dan kau... mengapa bisa berada didalam sumur ini?" Tanya pula Giri Mayang setelah menjawab pertanyaan Adhinata. Hahaha. nasibku sama seperti nasibmu. Aku pun Jatuh terperosok ke dalam sumur celaka ini karena dikejar orang!" jawab Adhinata.

"Dikejar orang? Apakah kesalahanmu?" "Tubuhku mengandung racun yang amat hebat. Apapun benda bernyawa yang ku sentuh pasti menga lami keracunan hebat, dan... mati! Itulah sebabnya aku terperosok ke dalam lubang celaka ini, karena menghindari buruan dari manusia-manusia yang membunuhku! Dan yang mengejarku waktu itu adalah si perempuan bernama Roro Centil, yang khabarnya adalah seorang Pendekar Wanita yang berilmu tinggi!". Tutur Adhinata. Tercenung Giri Mayang dengan mena tap heran. Mengapa nasib mereka bisa hampir bersa maan? Pikir Giri Mayang. Mendengar penuturan bah wa tubuh pemuda itu mengandung racun yang amat hebat, justru membuat dia bertanya.

"Kau katakan tubuhmu mengandung racun, mengapa kau telah menyentuh ku aku mengalami ke racunan apa-apa?"

"Itulah anehnya...!I aku sendiri juga heran. Pa dahal aku sudah menduga kau pasti tewas! Bahkan si RIRIWA BODAS musuh guruku si Raja Racun telah tewas karena beradu pukulan dengan denganku!" Ber kata Adhinata. Sekonyong-konyong ingat akan hal itu. Padahal Adhinata sebelumnya ingat sama sekali.

"Ha...? Jadi kaukah yang telah membuat kema tian Ririwa Bodas?" Tanya Giri Mayang dengan tersen tak kaget.

"Hahaha... benar! bahkan si Raja Racun sendiri yang telah ku angkat sebagai guru baruku juga tewas karena terkena racun tubuhku...!" Melengak Giri Mayang. Tahulah kini dia kalau sebenarnya Adhinata Adalah orang yang pernah disebut gurunya, yaitu si Ririwa Bodas untuk bertarung mengadu kesaktian dengannya. Dan sang guru sendiri juga akan menga dakan pertarungan mengadu kesaktian dengan si Raja Racun itu. Tak dinyana Giri Mayang tak mengetahui lagi nasib sang guru. Karena belum waktunya tiba saat perjanjian pertarungan mengadu kesaktian, Giri Mayang telah kena dipecundangi Roro Centil.

Giri Mayang memang segera kembali untuk menjumpai gurunya. Namun goa tempat tinggal sang guru telah runtuh teruruk, entah akibat gempa entah dihancurkan orang. Tak diketahuinya lagi kemana le nyapnya sang guru. Namun akhirnya dijumpainya juga mayat si Ririwa Bodas yang segera dikenali olehnya. Akan tetapi sudah dalam keadaan hampir tinggal tu lang belulang. Cuma dari ruas tulang dan sepasang tu lang kaki yang amat besar itulah menguatkan dugaan nya kalau kerangka dengan daging membusuk itu ada lah kerangka mayat si Ririwa Bodas.

Seperti sudah menjadi kebiasaannya Giri Mayang selalu berhasil mencari pengganti guru. Si Ri riwa Bodas itu entah gurunya yang ke berapa. Akan te tapi kesemuanya itu dibunuh mati olehnya setelah mendapatkan ilmu, tentu sang guru tewas dibunuh orang. Karena hampir rata-rata guru yang menjadi pi lihannya adalah tokoh-tokoh golongan hitam.

Sukar diduga kalau ternyata kedua orang mu rid dari dua tokoh golongan hitam itu bisa bertemu. Dan kejadian ini terjadi kelak akan membuat gempar nya dunia persilatan. Dan gegernya wilayah Kota Raja. Karena beberapa bulan kemudian....

"Suamiku Adhinata...! kita akan Jadi sepasang manusia yang ditakuti dan berkuasa di Rimba Hijau! Bagaimana kalau kita merebut sebuah Kerajaan kecil dipantai pesisir Pulau Jawa. Setelah puas kita berse nang-senang, segera kita rebut kerajaan lainnya satu persatu. Wilayah kerajaan kita akan menjadi semakin besar dan luas! Hihihi dengan kehebatan racun yang

berada di tubuhmu, dengan mudah kita akan menum pas siapa saja yang tak kita ingini, termasuk si Roro Centil itu! Bahkan masih banyak lagi kaum pendekar golongan putih musuh-musuh kita yang harus kita tumpas sampai tuntas! Dan... selama itu aku akan te tap setia di sampingmu...!" Berkata Giri Mayang. Wani ta ini duduk di atas punggung kuda yang tetap, kekar berkulit coklat kehitaman. Pakaiannya dari kain sutera yang mahal dengan bermacam perhiasan tergerai di leher, lengan dan kaki. Tiga buah tusuk konde emas terselip digelung rambutnya. Tak ubahnya Giri Mayang bagaikan istri seorang bangsawan kaya raya. Atau bisa pula mirip seorang permaisuri sebuah Kerajaan. Se mentara Adhinata berpakaian warna abu-abu dengan ikat pinggang emas. Sebuah keris terselip di belakang punggungnya. Ikat kepalanya bersulamkan benang emas yang gemerlapan. Pada Ikat pinggangnya tergan tung sebuah buntalan kecil yang sudah dapat diduga berisi uang emas dan perhiasan.

***
SEMBILAN
ADHINATA berjalan pelahan menuntun kuda yang dinaiki Giri Mayang. Tak ubahnya bagaikan seo rang anak bangsawan yang menuntun kuda seorang putri Raja. Sedangkan di belakangnya adalah sebuah rumah gedung milik seorang pembesar kerajaan yang sudah dalam keadaan porak poranda. Puluhan mayat bergelimpangan dengan keadaan mengerikan. Karena hampir setiap mayat tak ada yang bertubuh utuh. Masing-masing sudah mirip tengkorak, dengan daging membusuk yang menimbulkan bau tak sedap.

"Apapun yang kau ingini pasti akan aku kabul kan, isteriku...! Apakah kau tak berhasrat menempati gedung Pembesar Kerajaan ini...?" "Heh! aku sudah bosan berdiam di wilayah ini. Bukankah kita ini Pengantin baru? Aku ingin berbulan madu di tempat yang tenang. Kejadian ini pasti akan menggemparkan wilayah Kota Raja. Dengan demikian apakah kita bisa mendapat ketenangan?" Tukas Giri Mayang.

"Hahaha... kau benar istriku! marilah kita cepat tinggalkan tempat ini. Kulihat cuaca sudah hampir gelap!" Berkata Adhinata. Lalu melompat ke atas punggung kuda di belakang Giri Mayang. Sebelum keprak kudanya, pemuda ini peluk dulu tubuh "is tri"nya dengan mesra. Bahkan menciumnya dengan gairah.

"Hihihi... sudahlah, suamiku...! mari kita be rangkat!" Berkata Giri Mayang dengan suara lirih Ad hinata mengangguk. Dan.....sesaat kemudian seekor kuda dengan dua orang penunggangnya telah men congklang lari dengan pesat meninggalkan tempat itu. Sementara dilangit cuaca mulai semakin gelap. Awan hitam menyebar ke arah barat dengan hembusan an gin cukup kencang. Kuda dengan dua penunggang itu semakin menjauh. Dan akhirnya lenyap dibalik tikun gan jalan menuju kesatu rumput sisi hutan......

***
Tiga orang prajurit tampak berlari-lari mema suki pintu gerbang Istana. Empat orang Kepala Pen gawal segera menyongsongnya. Mereka baru saja mau berangkat menjalankan tugas, dengan beberapa belas prajurit yang telah disiapkan. "Hai !? apa yang telah terjadi? cepat katakan!" Salah seorang prajurit segera bicara dengan tanggap keterangan tergagap.

"Celaka...! gedung gusti telah kemasukan sepa sang perampok! Mereka telah membunuhi prajurit. En tah bagaimana nasib gusti Patih sendiri hamba tak mengetahui...!" Ujarnya, lalu lanjutkan laporannya. "Pembunuhan itu seram sekali! pu... puluhan prajurit dan rakyat sekitar yang turut menempur kedua pe rampok itu telah mati keracunan...!" Ketiganya adalah prajurit-prajurit dari gedung kepatihan yang masih tinggal hidup dan sempat meloloskan diri dari maut.

Terbelalak empat pasang mata ke empat kepala pengawal itu. Segera hampir berbareng mereka berkata tertahan.

"Manusia Beracun...!" sentak mereka kaget. Ce laka...! manusia itu telah muncul lagi! kita terlambat mengetahui!" Berkata salah seorang dengan wajah pucat.

"Cepat beri laporan pada gusti Senapati...!" pe rintah seorang kepala pengawal pada anak buahnya. Segera salah seorang prajurit berlari memasuki ruang pendopo. Akan tetapi justru Senapati Kerta Bum! telah muncul di pintu pendopo Istana.

"MANUSIA BERACUN itu telah muncul, gusti Senapati...!" lapor prajurit itu. Lalu laporkan apa yang di dengar tadi. Laporan singkat itu membuat wajah Senapati Kerta Bumi berubah pucat.

"Bagaimana nasib Ki patih!?" tanya Senapati Kerta Bumi.

"Entahlah, menurut yang kami dengar belum diketahui nasibnya...! sahut prajurit itu. Ke empat ke pala pengawal segera datang menyusul untuk meng hadap.

"Benarkah laporan yang kudengar bahwa si Manusia Beracun membantai prajurit di Kepatihan?" Tanya Senapati Kerta Bumi.

"Benar sekali gusti Senapati, cuma tiga orang prajurit itu yang berhasil meloloskan diri. Si manusia beracun itu bersama seorang wanita. Mereka meram pok dan membunuhi para pengawal...!" tutur salah seorang kepala pengawal. Senapati Kerta Bumi segera perintahkan ketiga prajurit kepatihan itu untuk meng hadap dan melapor sekalian pada Baginda Raja. Dari keterangan ketiga prajurit itu segera diketahui siapa adanya wanita pendamping si manusia beracun. Yaitu Giri Mayang. Karena mereka telah mengenali wanita itu, yang pernah membuat heboh dengan ular-ular si luman ciptaan gurunya membunuh habis keluarga Adhipati Banjaran.

Tercenung Senapati Kerta Bumi. Ada perasaan ngeri juga di hatinya. Akan tetapi dia segera perintah kan empat kepala pengawal yang baru diangkat belum lama itu untuk segera membagi tugas menyelidiki, menguntit kemana kepergiannya si Manusia Beracun.

Empat kepala Pengawal segera membagi tugas pada kelompok prajuritnya. Lalu bergegas menuju ke wilayah gedung Kepatihan yang terletak di sebelah ti mur Kota Raja. Pengejaran untuk menyelidiki kemana perginya si Manusia Beracun ternyata mengalami ke gagalan. Karena si manusia beracun sudah lenyap me ninggalkan wilayah itu. 

Tak seorangpun menemukan jejaknya. Kejadian mengerikan itu telah membuat Senapati Kerajaan Sunda Kelapa itu merobah keputusan untuk menumpas si Manusia Beracun, yang sudah jelas diperalat oleh Giri Mayang, si wanita yang masih menjadi buronan Kerajaan. Ratusan laskar telah disebar ke segenap penjuru wilayah Kerajaan Sunda Kelapa. Demikianlah kekalutan yang melanda di wilayah kerajaan itu. Ternyata ki Patih Lengser She ta telah tewas berikut seluruh keluarganya, yang dida pati para prajurit penyelidik di dalam kamarnya...

Kejadian ini hampir mirip dengan kematian Ad hipati Banjaran yang tewas oleh ular-ular siluman. Be danya kini si Manusia Beracun itulah yang membuat mayat-mayat bergelimpangan, dan membunuh habis keluarga Patih Kerajaan Sunda Kalapa. Hujan turun yang turun rintik-rintik membuat suasana di halaman gedung Kepatihan tampak semakin seram juga meng harukan..........

Tak seorang pun dari para petugas Kerajaan yang berani menyentuh mayat yang berkaparan itu. Dan akhirnya mereka menyingkir dari gedung Kepati han karena datangnya malam yang gelap gulita mem buat mereka ngeri untuk berjaga di sekitar gedung itu.

***
DUA HARI KEMUDIAN
Menjelang Pagi, di sebuah jalan desa...

Matahari baru saja merayap naik ke ujung bu kit ketika seekor kuda dengan dua penunggangnya se pasang sejoli yang mirip orang-orang bangsawan itu melintasi jalan desa.

"Kita akan terus kemana, istriku...?" Bertanya Adhinata. Sepasang lengannya memeluk pinggang Giri Mayang. Duduk berdua di punggung kuda dengan se panjang jalan bermesraan begitu saja tentu saja men gundang perhatian orang. Bahkan tiga anak kecil yang tengah bermain segera hentikan permainannya untuk menatap pada mereka.

"Kita sudah berada di wilayah tenggara. Desa ini tampaknya tenang dan damai. Bagaimana kalau ki ta berbulan madu di desa ini saja. ?"

"Aha, boleh juga! Tapi kita harus bersikap baik pada mereka !"

"Bagus! saat ini kita memang kita membutuh kan ketentraman. Usulmu baik sekali. Hihihi siapa

tahu kau jadi kepala desa di sini!" Ucap Giri Mayang dengan suara berbisik. Sementara sepasang matanya menatap pada ketiga bocah yang tengah menatap me reka. Giri Mayang gerakkan lengannya menggapai. "Hei, anak-anak manis kemarilah!" panggilnya. Takut takut salah seorang anak menghampiri. "Bagus! siapa namamu...?" tanya Giri Mayang.

"Namaku...ng... Masiro..." sahut bocah itu den gan lugu.

"Kau tahu apakah nama desa ini...?" "Desa Tembiling...!" Sahut anak itu.

"Aha...! bagus! coba tunjukkan yang manakah rumah kepala desa..?" Tanya pula Giri Mayang.

"Kepala desa belum lama meninggal, itulah ru mahnya!" Sahut anak itu seraya menunjuk pada se buah rumah panggung yang cukup besar berhalaman bersih. Tentu saja membuat Giri Mayang Jadi melen gak. "Kebetulan sekali...!" Desisnya perlahan pada Ad hinata. Adhinata mengangguk-angguk dengan terse nyum lebar. Girang sekali Giri Mayang, segera lengan nya merogoh saku bajunya. Dan..

"Hihihi... terimalah ini, persenan untukmu!" ujarnya seraya berikan sekeping uang perak. Akan te tapi anak ini tampaknya takut untuk menerima.

"Hai, terimalah...! Ujar Giri Mayang lagi. Baru lah bocah itu mau menerimanya. Lalu Giri Mayang ga paikan lengannya pada dua bocah lainya yang masih berdiri terlongong. Bergegas kedua anak kecil itu men datangi. Dan Giri Mayang pun berikan pula pada ke dua bocah itu masing-masing sekeping uang perak. Tentu saja ketiga bocah itu girang nya bukan main, hingga tak sempat mengucapkan terima kasih segera menghambur lari dengan teriakan girang. Tersenyum Giri Mayang dan Adhinata dengan berpandangan. Tak lama Giri Mayang sudah menjalankan kudanya untuk mendatangi rumah Kepala Desa itu. Setelah bercakap-cakap dengan seorang wanita yang ternyata adalah janda Kepala Desa Tembilang, tampak kedua sejoli itu beranjak masuk ke rumah panggung. Tentu saja mereka mendapat penyambutan luar biasa sebagai "tetamu terhormat" istri mendiang Kepala Desa Tembilang itu. Tak memakan waktu lama penduduk bermunculan mengerumuni ketiga bocah tadi.

"Baik sekali nona Cantik itu, kami diberinya masing-masing sekeping uang...!" Berkata Masiro den gan bangga, dan menujukkan kepingan uang perak di telapak tangannya. Tentu saja membuat mereka terke jut, karena sekeping uang perak itu nilainya bukan se dikit. "Ah, bangsawan dari manakah yang singgah ke desa kita? berkata salah seorang. "Entahlah tapi desa kita tampaknya bakal mengalami keberuntungan den gan kedatangan suami istri bangsawan itu. Mereka seorang yang dermawan...!" Ujar seorang kakek yang memegangi lengan salah seorang bocah tadi. Ternyata bocah itu cucunya.

***
SEPULUH
Dengan menunjukkan sikap kedermawanan nya, Giri Mayang berhasil menaruh simpati penduduk. Bahkan rumah kepala desa itu telah dibelinya. Di bayarnya dengan harga mahal untuk ditempati sejoli itu. Tentu saja istri mendiang si Kepala Desa itu tak dapat menolak, bahkan merasa suka-cita. Karena dia memang amat memerlukan biaya untuk menghidupi anak dan keluarganya. Dengan uang itu dia bisa mem bangun rumah lagi sisanya bisa dibelikan kebun. De mikianlah, Giri Mayang dan Adhinata menempati ru mah bekas Kepala Desa itu yang telah dibelinya. Bebe rapa pembantu ditempatkan pada rumah itu untuk melayani keperluannya.

Rasa simpati penduduk akhirnya telah menim bulkan kesepakatan para tetua desa Tembilang untuk mengangkat Adhinata sebagai Kepala Desa pengganti Kepala Desa lama yang telah meninggal. Mereka be ranggapan apa salahnya jabatan itu diberikan pada bangsawan muda itu, karena toh mereka telah mene tap di desa mereka.

Tanpa banyak liku-liku Adhinata ditetapkan sebagai pengganti Kepala Desa Tembilang. Tentu saja Adhinata tak menolak, dan dengan basa-basi yang menarik hati seolah terpaksa menerima pengangkatan itu secara terpaksa, Adhinata berujar, "Sebenarnya tak ada niatku untuk menjabat Kepala Desa disini, tapi karena kalian berkehendak agar desa ini ada pemim pinnya, terpaksa aku tak dapat menolak keinginan ka lian...!" Ucap Adhinata, yang segera diiringi dengan te pukan riuh. Dan tetua-tetua desa memberikan ucapan selamat dengan menyalami sang Kepala Desa baru me reka. Begitu juga Giri Mayang yang mendapat jabatan tangan dari semua penduduk desa Tembilang sebagai istri dari Kepala Desa muda itu.

Kegembiraan rakyat desa Tembilang ternyata di iringi bermacam upacara adat yang disaksikan sang Kepala Desa baru itu bersama istrinya. Menjelang sen ja upacara itu usailah sudah. Para penduduk tampak puas dapat menyuguhkan upacara pengangkatan Ke pala Desa mereka dengan amat meriah. Selesai dengan semua itu, Giri Mayang meraih tangan Adhinata untuk segera dituntun masuk ke dalam kamar yang telah di atur rapi oleh pembantu rumah. Lega sekali perasaan Giri Mayang, karena begitu pintu kamar ditutup rapat segera dia sudah memeluk Adhinata erat-erat. "Selamat...! selamat, tuan ku Kepala Desa...ucap Giri Mayang dengan gembira. "Ahaai... akhirnya kita bisa tinggal di desa ini dengan tentram dan bulan madu kita akan terasa bahagia sekali..."

"Benar istriku...! kini kau telah jadi istri seo rang Kepala Desa Tembilang! hahaha...!" Berkata Ad hinata seraya pondong tubuh Giri Mayang ke tempat tidur...

Ketika sang malam merayap, lengan Giri Mayangpun merayap pula menyingkirkan sesuatu yang menghalangi tubuh Adhinata. Sementara dia sendiri sudah tanggalkan pula pakaian mahalnya un tuk berganti dengan selimut. Ketika "selimut" hangat itu meneduhi tubuhnya, wanita "bangsawan" itu pun perdengarkan keluhan nikmat. Terasa sekali baha gianya jadi istri seorang Kepala Desa. Terasa sekali ba hagianya berbulan madu di desa Tembilang yang tentram itu. Terkadang terpikir juga dibenak Giri Mayang, alangkah bahagianya jadi orang baik-baik. Dihormati orang, dihargai sesama manusia ... Sayang semua itu cuma selintas karena nafsu telah lebih unggul dari ji wanya.

Jiwanya yang tadinya murni telah dirusak, se telah dikotori dan dirasuki nafsu-nafsu sesat. Hingga kotorlah dan rusaklah jiwa murninya...! Dan ketika de sah-desah napas Adhinata menghembusi telinganya, Giri Mayang telah lupakan pikiran baik dibenaknya. Direngkuhnya laki-laki hebat itu dengan nafsu yang menggelora. Sementara Adhinata yang masih "hijau" itu mendesah puas dengan tenaga mulai mengendur. Tak lama dia sudah terlena dengan tak memikirkan apa-apa lagi. Bahkan tak lama lagi sudah terdengar suara dengkurnya membaur dengan suara jengkerik malam di sisi rumah panggung... Berlainan dengan Giri Mayang. Dia masih be lum bisa pejamkan mata.

Khayalnya jauh melambung setinggi langit. Pu askah dia dengan "bersuamikan" Adhinata si Manusia Beracun itu menurut ukuran nafsunya? Tidak ! Giri

Mayang cuma mau memperalat si Manusia Beracun demi cita-citanya. Dan untuk jadi seorang "istri" setia yang "menikah" tanpa saksi dan penghulu di dasar sumur berbau pengap itu, nanti dulu...! Giri Mayang bukan type wanita macam begitu. Istri teladan NO!

Kalau istri serong... YES! Baginya 100 jejaka tulen yang disuguhkan kepadanya masih belum cukup un tuk waktu singkat sekalipun. Demikianlah watak dan pribadi Giri Mayang, si wanita pendendam yang punya 1001 akal licik di benaknya.

Diam-diam Giri Mayang memaparkan aji panyi rep untuk tak membuat bangun Adhinata sampai pagi. Bermacam-macam ilmu memang ada dipunyainya. Akan tetapi semua itu dipelajarinya tidak sampai tun tas, karena sering berganti guru. Dan ilmu Aji Panyirep yang dapat membuat orang tidur pulas itu untuk per tama kalinya dicobakan pada Adhinata. Tak lama dia sudah bangkit dari tempat tidur. Bergegas mengena kan pakaiannya. Dan... di malam yang larut itu, seso sok tubuh melompat dari jendela rumah Kepala Desa baru itu dengan tak menimbulkan suara. Selanjutnya setelah menutupkan kembali daun jendela, sosok tu buh itu berkelebat, dan lenyap di kegelapan malam...

Apakah yang dilakukan Giri Mayang? Ternyata mencari sesuatu yang baru untuk pelengkap hasrat nya. Tentu saja dia harus mencari penyalur hasratnya itu di luar desa Tembilang.

Senyapnya malam itu tidaklah mengganggu langkahnya. Tak berapa lama kakinya sudah mengin jak sebuah desa di wilayah barat dari desa Tembilang. Gerakannya memang telah kembali gesit, sejak Giri Mayang sembuh dari luka-lukanya. Peristiwa di dasar sumur yang secara kebetulan bertemu dengan Adhina ta telah membuat Giri Mayang bagaikan "bersayap" la gi. Sungguh sangat sukar diduga kalau secara tak sen gaja Adhinata telah memakan lumut aneh di dasar sumur yang memulihkan kenormalan tubuhnya. 

Ra cun yang mengendap di tubuhnya secara berangsur setelah berpadu dengan lumut aneh berkhasiat yang dimakannya, justru hal itu membuat lenyapnya penga ruh racun ditubuhnya. Hingga Giri Mayang tak terkena pengaruh racun luar biasa ketika menyentuh tubuh nya.

Satu keanehan lagi adalah lumut di dasar su mur itu menyembuhkan pula luka-luka Giri Mayang dan membuat normal kembali jalan darahnya yang tersumbat akibat serangan Roro Centil oleh batu keri kil. Demikianlah, keduanya akhirnya bersatu hati un tuk mencari jalan keluar dari dasar sumur itu. Bahkan untuk memperkuat kesepakatan mereka yang senasib dan sehidup semati, akhirnya mereka menyatakan diri mereka sebagai suami istri. Tentu saja di dasar sumur itu Adhinata untuk pertama kalinya mengecap nik matnya menjadi pengantin baru. Apalagi sang "istri" adalah seorang yang sudah berpengalaman. Hingga membuat Adhinata semakin mencintai wanita itu.

Demikianlah. Dengan menggali lubang di dind ing sumur untuk injakan kaki, mereka bersatu padu dan saling membantu untuk merayap naik ke atas. Je rih payah yang mereka lakukan beberapa hari itu ak hirnya membuat mereka berhasil keluar dari dasar sumur itu. Dan tiba di atas dengan selamat. Tentu saja membuat kedua sejoli girangnya tak dapat diutarakan.

Girl Mayang ternyata berotak cerdik, walau ji wanya sesat. Mengetahui keanehan yang terjadi pada tubuh Adhinata yang telah lenyap pengaruh racun di tubuhnya setelah makan lumut ajaib itu membuat dia berpikir keras. Giri Mayang tak merasa yakin kalau ra cun di tubuh Adhinata bisa lenyap selamanya, karena pada pergelangan lengan dan kaki Adhinata masih ter belit gelang-gelang racun ciptaan si Raja Racun. Oleh sebab itu dia segera usulkan agar Adhinata mengetes gelang besi itu, apakah masih mengandung racun atau tidak. 

Pendapatnya racun di tubuh Adhinata tak bisa lenyap dengan begitu saja dengan cuma memakan lu mut. Dan bila khasiat lumut ajaib itu sudah sirna ke kuatannya, tidak mustahil kalau tubuh Adhinata kem bali dialiri racun maut itu. Dan akan sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya sendiri, karena mau tak mau dia adalah orang yang paling dekat dengan Adhinata. Siapa sangka kalau dalam keadaan "bergaul" tahu tahu racun itu menjalar lagi. Dan dia bisa Jadi kor ban..."Demikian pikir Giri Mayang.

Usul Giri Mayang disetujui Adhinata karena dia sendiripun memerlukan mengetahui. Agaknya kata kata si Raja Racun kembali teringat oleh Adhinata Yai tu kesempurnaan dalam memiliki dan menguasai ge lang-gelang racun itu adalah dengan membuka jalan darah tertentu pada pergelangan tangan dan kaki den gan melalui pengerahan tenaga dalam. Hal itupun se gera dilakukan. Di tempat yang landai di sisi danau kecil berair jernih itu adalah tempat yang cukup baik untuk mencoba. Karena jauh dari perkampungan dan dirasakan cukup aman bagi mereka. Karena walau ba gaimana hati Giri Mayang masih kebat-kebit khawatir berjumpa dengan Roro Centil. Begitu juga dengan Ad hinata. Disamping khawatir berjumpa dengan gurunya yang mengancam akan membunuhnya, Juga khawatir orang-orang Kerajaan akan mengejarnya. Sedangkan dia dalam keadaan tak siap untuk bertarung.

Pemuda itu duduk bersila di atas batu, dengan sepasang lengan terentang menyilang di depan dada. Sebelumnya pakaian atas Adhinata telah dibuka. Sege ra Adhinata salurkan tenaga dalamnya bolak-balik ke sekujur tubuhnya. Hal yang dilakukan berulang-ulang itu ternyata membuat keringatnya deras mengucur disekujur tubuh. Dan, Adhinata mulai membuka jalan darah tertentu pada empat jalan darah di pergelangan kaki tangan.

Apa yang terjadi kemudian...? Sepasang mata Giri Mayang membelalak lebar tak berkedip, karena seketika tubuh Adhinata sebentar berubah merah dan sebentar berubah hijau. Keadaan itu berlangsung cu kup lama, yaitu selama Adhinata belum berhenti membolak-balik salurkan tenaga dalam ke sekujur tu buh dan menyimpannya kembali pada keempat perge langan tangan dan kaki. Dan pada saat tubuhnya be rubah hijau itu Adhinata hentikan latihannya. Sepa sang matanya membuka menatap pada Giri Mayang.

Melihat wajah Giri Mayang berubah pucat tentu saja membuat Adhinata jadi terkejut dan terheran. Se kejap dia sudah melompat ke arah wanita itu. Akan te tapi justru Giri Mayang melompat dengan menjauhi.

"Jangan dekat...! Berbahaya...! teriak Giri Mayang.

"Hai..? kenapakah kau?" tanya Adhinata tak mengerti.

"Tubuhmu telah dialiri lagi racun luar biasa itu...!" teriak Giri Mayang dengan tubuh bergidik ngeri melihat tubuh Adhinata yang berubah hijau menye ramkan itu.

"Ah...! tersentak kaget Adhinata. Justru dia sendiri tak mengetahui keadaan dirinya. Barulah dia sadar setelah melihat tubuhnya demikian hijaunya. "Jadi.... jadi racun itu memang benar masih mengendap di tubuhku?" Berkata Adhinata dengan ke rutkan keningnya naikkan sepasang alisnya yang teb al. "Benar! bukankah dugaanku tepat sekali...? Hihi hi... tapi aku telah tahu rahasianya. Segeralah kau sa lurkan lagi racun yang telah menyebar itu ke pergelan gan tanganmu. Tepatnya ke tempat gelang-gelang besi itu!" perintah Giri Mayang. Tak usah sampai dua kali menyuruh, Adhinata telah menuruti perintah itu.

"Nah, tubuhmu telah berubah merah. Berarti tubuhmu sudah tak mengandung racun! Akan tetapi kini gelang-gelang besi itu bisa berbahaya bila tersen tuh orang, karena kini racun luar biasa itu telah men gumpul di keempat gelang besi itu! Nah, kini carilah akal bagaimana agar gelang besi itu tak membahaya kan orang...!" Ujar Giri Mayang.

Termenung sejenak Adhinata, tiba-tiba berseru kegirangan.

"He...!? aku sudah tahu caranya!"

Sekonyong-konyong Adhinata melompat kem bali ke atas batu. Akan tetapi tidak duduk bersila se perti tadi, melainkan gerakan tubuhnya tegak lurus dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Kepalanya bertumpu di atas batu. Barulah sepasang lengannya disilangkan ke depan dada. Ternyata dia melakukan pernapasan terbalik dengan pergunakan tenaga da lamnya menembus jalan darah tersumbat di beberapa bagian tubuh yang masih tersumbat. Ternyata pe nyumbatan jalan darah itu adalah dilakukan oleh si Raja Racun. Justru sebelum proses terakhir dilakukan pada Adhinata, si Raja Racun keburu tewas. Hal ini memang pernah di bicarakan pada Adhinata mengenal cara-cara menguasai ke empat pasang benda "mustika" gelang besi itu.

Pengerahan tenaga dalam dengan cara demi kian untuk membuka jalan darah yang tersumbat itu ternyata memakan waktu hampir setengah hari. Giri Mayang menunggu dengan sabar. Dan dalam pada itu secara berangsur kulit tubuh Adhinata mulai mende kati kenormalan. Hingga selang tak lama setelah lewat

waktu setengah hari pulihlah tubuh Adhinata, dan kembali normal seperti biasa lagi.

"Cukup...!" teriak Giri Mayang dengan wajah girang.

"Kau sudah berhasil Adhinata...! ah, menakjupkan sekali suamiku...!"

Adhinata melompat kembali untuk berdiri. Akan tetapi terjungkal dengan punggung terlebih dulu menyentuh tanah. Mengeluh pemuda itu. Ternyata akibat terlalu lama jungkir-balik membuat urat uratnya kaku. Akan tetapi sesaat antaranya dia sudah bangkit berdiri lagi.

"Hm, benarkah aku telah berhasil menjinakkan ke empat gelang besi beracun ini?" tanya Adhinata.

"Tidak meragukan lagi! akan tetapi untuk menghilangkan was-was sebaiknya dicoba dulu!" tukas Giri Mayang.

"Tunggulah sebentar...!" Berkata wanita itu se raya berkelebat ke arah hutan. Tak berapa lama telah kembali lagi dengan menjinjing telinga seekor kelinci ditangannya. Giri Mayang lemparkan kelinci itu, yang segera disambut Adhinata. Demikianlah, setelah dites, ternyata ke empat gelang itu memang sudah jinak, ka rena kelinci itu tak terkena pengaruh racun. Ternyata kemudian Adhinata memang bisa menguasai keempat gelang besi itu, yang dapat dipergunakan untuk men jadikan tubuhnya kembali beracun, serta berubah bi asa lagi sekehendak hati.

Sukses besar itu amat menggirangkan hati ke dua sejoli. Segera Giri Mayang panggang daging kelinci itu untuk makan bersama... Demikianlah awal kisah munculnya kembali si Manusia Beracun yang didam pingi pasangannya yaitu Giri Mayang.

***
SEBELAS
Malam itu juga Giri Mayang telah mendapatkan seorang korban untuk pelampiasan nafsu bejatnya. Seorang laki-laki kekar telah berada di atas pundaknya dalam keadaan tidur menggores dan... tertotok. Pada pagi hari desa Limus yang malamnya disinggahi Giri Mayang segera terjadi kegaduhan, karena seorang lela ki ditemukan dalam keadaan telanjang bulat sudah tak bernyawa lagi dengan tulang leher remuk.

Kejadian itu ternyata telah mengundang perha tian banyak orang, hingga sampai siang hari penduduk masih membicarakan kejadian aneh itu. Bahkan ter nyata dua orang remaja berlainan jenis yang dapat di katakan sepasang sejoli telah melihat kejadian itu. Me reka tak lain dari Sambu Ruci dan seorang gadis can tik yang menemaninya, yaitu Parmi. Seperti telah dice ritakan Parmi dan Sambu Runci mencari jejak Giri Mayang yang telah menawan Roro Centil. Ternyata da lam waktu sekian lama masih belum menemukan jejak Giri Mayang. Hingga secara tak sadar sepasang sejoli ini jadi semakin akrab. Bahkan pula dihati keduanya telah bersemi cinta yang tersembunyi.

Walaupun demikian, Sambu Runci belumlah bisa bertenang hati karena selalu mengkhawatirkan nasib Roro Centil. Dan secara kebetulan dia singgah di desa tempat kejadian itu.... Wajah Parmi tampak me negang. Kejadian itu telah menguatkan dugaannya ka lau Giri Mayang pasti tak berada jauh dari desa Limus, karena sudah dipastikan laki-laki yang tewas itu ada lah korban pelampiasan nafsu bejat wanita iblis itu. "Sssst...! kakak Sambu, mari kita ke sudut sana aku akan bicarakan sesuatu padamu...!" Ujar Parmi seraya tarik lengan pemuda itu. Ternyata Parmi sudah tak canggung-canggung lagi pada Sambu Ruci. Pemuda itu mengangguk seraya menyeruak dari kerumunan orang. Disudut jalan desa itu segera Parmi tuturkan pendapatnya.

"Aku juga berpendapat demikian, Parmi...! Se baiknya kita mulai menyelidiki dimana adanya wanita itu....!" tukas Sambu Runci. Parmi mengangguk, lalu segera menyusun rencana penyelidikan di sekitar desa.

***
Pelacakan mencari jejak Giri Mayang di desa itu ternyata hasilnya nihil. Hingga mereka segera berpisah untuk kembali bertemu. Sambu Ruci memutar ke arah barat, dan Parmi ke arah timur dengan patokan mere ka akan bertemu di bawah lereng satu bukit yang ber nama bukit Ayam. Demikianlah. Mereka pun mulai bergerak sesuai dengan diaturnya rencana itu.

Akan tetapi sungguh sukar sekali diterka kalau ternyata Giri Mayang sejak tadi justru menguntit me reka. Dan pembicaraan itu sudah tertangkap telinga Giri Mayang sembunyi di atas pohon. Sambu Ruci ter nyata beranjak langkahkan kaki terlebih dulu. Parmi menatap sejenak punggung pemuda itu, lalu diapun balikan tubuh untuk berkelebat dari situ. Akan tetapi kira-kira dua-tiga tombak hentikan langkahnya untuk lagi-lagi berpaling. Terasa perpisahan sementara itu memberatkan langkahnya. Hati gadis ini memang su dah bersemikan cinta begitu bersahabat dengan pe muda tampan itu yang pernah menyelamatkan jiwanya dari serangan maut Giri Mayang. Akan tetapi justru Sambu Ruci pun menolehkan... 

Keduanya jadi sama sama tersenyum ketika bertatapan muka. Namun Sambu Ruci segera berkelebat cepat setelah lambaikan tangan pada dara cantik itu seraya berkata. "Sampai ketemu, adik Parmi...!" Parmi cepat menyahut... "Sam pai jumpa nanti senja, kakak Sambu...!" Dan gadis itupun lambaikan tangannya, lalu berkelebat cepat un tuk tidak menoleh lagi. Diam-diam wajah gadis itu di jalari rona merah. Terasa sesuatu yang indah meresap di hati sanubarinya. Itulah perasaan cinta...!

Akan tetapi baru beberapa tombak Parmi ber lompatan cepat dari tempat itu tiba-tiba terdengar sua ra tertawa mengikik. Dan... tahu-tahu di hadapannya telah muncul sesosok tubuh yang melesat turun dari cabang pohon.

"Hihihi..... hihihi.... selamat jumpa lagi nona cantik yang tak lama lagi bakal mampus...!" Membeliak sepasang mata Parmi, bagaikan mimpi melihat orang yang sedang dicarinya justru muncul di depan mata. Tak terasa kakinya mundur dua langkah.

"Bagus! akhirnya kau muncul Juga perempuan Iblis!" Bentak Parmi dengan wajah menegang. Walau hatinya terasa tergetar tapi dia berusaha menutupinya dengan bentakan. Dan sekejap sepasang senjatanya te lah dicabut keluar dari belakang punggung. Itulah se pasang gaetan yang tajam runcing berkilatan.

"Heh! sayang sekali kalian tak bisa menemukan cinta laki-laki itu, Parmi...! Pemuda tampan itu agak nya memang tak berjodoh denganmu. Karena sebentar lagi kau akan mampus! Dan... hihihi... dia adalah ca lon kekasihku yang paling istimewa!" Berkata Girl Mayang dengan tertawa menyeringai. Rasanya hati Parmi bagaikan ditikam belati saja mendengar ucapan Giri Mayang. Kembali membayang wajah kakak laki laki saudara seperguruannya yang juga telah direbut wanita itu yang berakhir dengan kematian. Dan kini lagi-lagi si wanita itu siap merebut kembali pemuda yang baru dikenalnya dan sudah bersemi cinta diha tinya. Hal tersebut membuat Parmi rasanya mau membunuh diri saja saat itu.

Akan tetapi kelemahan jiwanya saat itu segera di tindihnya. Perbuatan tercela dan pengecut itu tak layak dipunyai seorang pendekar! Kini orang yang di carinya telah muncul untuk membunuhnya. Mana Parmi mau berikan nyawanya begitu saja? Justru dia harus membalaskan dendam kematian tiga orang sau dara seperguruannya yang tewas oleh wanita itu. Me mikir demikian dia segera lakukan serangan mener jang Giri Mayang dengan luapan dendam berapi-api.

"Iblis keji! aku akan adu jiwa denganmu !"

bentak. Parmi Sepasang senjata gaetannya menerjang laksana gelombang berpuluh-puluh yang menerjang ganas si wanita terlengas itu. Akan tetapi dengan men gumbar tertawa Giri Mayang melayani serangan itu. Tubuhnya berkelebatan dan melompat dengan gesit. Bahkan luncurkan kata-kata ejekan pada Parmi.

Terasa panas wajah gadis ini membuat dia me nerjang dengan berteriak-teriak histeris. Betapapun Parmi bukanlah tandingan Giri Mayang, yang kalau mau sudah sejak tadi robohkan si gadis dengan puku lan apinya. Tapi agaknya Giri Mayang punya rencana lain.

"Hihihi... sebelum kubunuh kau mampus ada baiknya kau menyaksikan bagaimana aku "bercinta" dengan laki-laki tampan bernama Sambu Ruci itu!" Ejek Giri Mayang dengan melompat ke atas dahan po hon menghindari sambaran ganas sepasang gaetan Parmi. "Bedebah keparat...! perempuan bejat! ku kelu arkan isi perutmu!" bentak Parmi dengan bentakan nyaring seperti menjerit. Dan... kali ini Parmi merobah gerakan silatnya. Aneh! beberapa serangan dengan ju rus ini tampaknya membuat Giri Mayang melengak dan sejengkal rambutnya telah kena tertabas putus sepasang gaetan dan buyar berterbangan. Kiranya se cara tak sadar Parmi telah menggunakan jurus-jurus dari Pedang Aksara yang dipunyai Sambi Ruci. Kiranya dalam waktu beberapa hari atau selama hampir dua pekan itu Parmi telah diajari beberapa jurus ilmu Pe dang Aksara oleh Sambu Ruci.

Melihat serangan Jurus barunya membawa ha sil mengagumkan membuat Parmi semakin berseman gat untuk menjatuhkan lawan. Bahkan kini dia berla ku hati-hati. Giri Mayang memang mulai balas menye rang dengan beberapa pukulan dan tendangan ka kinya. Untunglah Parmi yang telah berlaku hati-hati mampu mengimbangi serangan ciptaan gurunya kare na Parmi memang cuma mempunyai paling banyak li ma jurus dari ilmu pemberian Sambu Ruci.

Ternyata hal itu cukup merepotkan Giri Mayang yang mulai terdesak. Karena serangannya tak dapat lagi dibaca kemana arahnya. Hal mana membuat wani ta itu jadi berang. Tiba-tiba tubuhnya melompat men jauh sejauh enam tujuh tombak. Dan... mulailah dia gunakan mantera dari ilmu hitamnya! Tersentak Parmi ketika melihat perubahan tubuh Giri Mayang yang menjadi seekor ular berkepala tujuh, yang besarnya hampir sebesar tubuh manusia. Masing-masing kepala ular itu menyeburkan api dari mulutnya.

"Ilmu sihir...!" teriak Parmi seraya melompat menjauh. Sambaran-sambaran api ternyata telah me nerjang tubuhnya. Bergulingan Parmi menghindari sambaran api itu dengan jantung berdetak keras. Ha rapannya untuk merobohkan wanita itu seketika pu nah. Tiga kilatan api sekaligus meluncur untuk me nambus tubuh Parmi yang sudah mengurungnya un tuk tak dapat lolos lagi dari "pembalasan" Giri Mayang. ilmu siluman tertinggi yang telah dipelajarinya dari si Ririwa Bodas itu untuk pertama kalinya dipergunakan. Ternyata memang ilmu hitam itu bisa dipergunakan manakala dirinya sedang marah luar biasa.

Terperangah gadis cantik ini, dua serangan li dah api dari mulut ular berhasil dihindarkan. Akan te tapi serangan selanjutnya yang juga beruntun dengan cepat telah menembus tubuh Parmi bersama dengan terbakarnya dahan-dahan pohon. Lenyaplah sudah tu buh Parmi terbungkus kobaran api.... diiringi jeritan terakhirnya. Mengetahui korbannya sudah musnah, ular besar berkepala tujuh itu kembali lenyap. Dan....menjelma lagi menjadi Giri Mayang yang tertawa ceki kikan dengan bertolak pinggang.

WHUUUUK....! lengannya bergerak memadam kan api seketika lenyap. Akan tetapi terkejut Giri Mayang karena tak menjumpai tubuh Parmi terkapar disitu. Api-api ciptaan itu sebenarnya tak membakar dahan pohon atau menambus tubuh Parmi, karena semua itu cuma ciptaan saja. Akan tetapi serangan li dah api itu telah melumpuhkan tubuh gadis murid si nenek Pendekar Taring Naga.

Tentu saja Giri Mayang tak mengetahui kalau pada saat lidah api menyambar tubuh Parmi, sebuah bayangan putih telah berkelebat menyelamatkan gadis itu.

Ternyata berdiri tempat ketinggian tampak seo rang kakek memondong tubuh Parmi di kedua belah tangannya. Dialah si kakek penghuni puncak Tangku ban Perahu. Yaitu Ki Panunjang Jagat. Tampaknya hal itu membuat Giri Mayang tak berniat menyelidiki, ka rena dia sudah berkelebat pergi dari tempat itu. Walau dihatinya membatin. "Aneh, kemana lenyapnya sosok tubuh si Parmi itu? hm, jangan-jangan sudah banyak bermunculan para tokoh sakti kaum putih. Aku perlu segera bergabung dengan Adhinata...!"

Dengan gerakan cepat Giri Mayang segera ber kelebat menuju ke arah desa Tembilang. Sementara itu sosok tubuh Ki Panunjang Jagatpun melesat lenyap. Suasana tempat itu kembali hening pada siang hari yang terik itu... Akan tetapi baru saja kakinya mengin jak mulut desa Tembilang, tiba-tiba terdengar benta kan keras.

Wanita iblis...! kau kemanakan sahabatku Roro Centil, katakan apa yang telah terjadi dengannya...?" Dan... sesosok tubuh berkelebat menghadang di hada pannya. Melengak Giri Mayang. Akan tetapi bibirnya segera tampilkan secercah senyuman dan lirikan mata genit.

"Ahaah...! kiranya anda yang tampan! Hihi hih...!. sobat Sambu Ruci mengapa kau mengkhawa tirkan sekali nasib dia?" Tanya Giri Mayang.

"Setan apa perdulinya dengan semua itu? dia sahabatku, dan kau telah berhasil merobohkannya, tak nantinya kalau kau tak berbuat licik! Hm, Jangan kira kau dapat berbuat seenaknya dengan segala ma cam perbuatanmu!" Bentak Sambu Ruci dengan hati mengkal. Terpaksa dia menahan amarahnya karena harus mengetahui dulu nasib Roro yang amat dikha watirkannya.

"Hai, rupanya kau mau mempacari dua orang perempuan...? Apakah kau tak sayangkan kematian murid si nenek Pendekar Taring Naga? Berkata Giri Mayang tanpa memperdulikan pertanyaan orang.

"Ha...? kau telah membunuhnya...?" Tertawa dingin Giri Mayang, seraya Jawabnya "Benar! kupikir dia "saingan" ku karena aku... aku... hihihi... akupun jatuh cinta padamu, Sambu Ruci!" Tanpa malu-malu Giri Mayang keluarkan isi hatinya. Walaupun sebenar nya cinta yang dimilikinya adalah cuma cinta imitasi belaka. Karena cuma kehangatan laki-laki yang belum pernah dicicipinya saja yang membuat wanita ini menggandrungi orang.

"Perempuan edan...!" tiba-tiba terdengar suara melengking merdu. Terperangah Giri Mayang. Sekele batan saja dia sudah mengetahui suara siapa yang berkumandang barusan.

"Nona Roro Centil...!" Teriak Sambu Ruci den gan wajah girang. Sesosok tubuh telah berkelebat muncul dan berdiri di hadapan mereka yang tak lain memang si Pendekar Wanita Pantai Selatan.

"Giri Mayang apakah kau sudah siap untuk menghadapiku ...?" Tantang Roro dengan wajah dingin membeku. Sepasang matanya menatap wanita itu den gan sorot mata seolah mau menembus jantung lawan.

"Heh...! aku memang sudah siap untuk memba las penganiayaan mu padaku. Tentu saja dengan tebu san nyawamu, Roro Centil!" Ucap Giri Mayang dengan angkuh menutupi gelaran hatinya. Walau bagaimana Giri Mayang memang masih merasa ngeri akan sepak terjang Roro. Walaupun sebenarnya dia memiliki, ber macam ilmu, juga bermacam kelicikan.

"Akan tetapi tidak sekarang bila kau mengin ginkan pertarungan secara jujur. Dan ingat...! kau bu kan seorang Pendekar Siluman, bukan?"

"Hm, kau kira aku sebangsa manusia setan se pertimu yang tak menepati janji, untuk membunuhmu siang-siang telah ku siapkan cara terbaik mengirim nyawamu ke neraka!" Berkata Roro dengan bertolak pinggang. Ternyata Roro mampu menahan kesabaran hatinya.

***
DUA BELAS
"Baik...! ini adalah saat terakhir aku menahan sabar! kini katakanlah dimana kau mau adakan perta rungan itu. Dan kapan waktunya...!" sambung Roro dengan suara tandas.

"Sayang... aku belum bisa memberi keputusan sekarang. Kau tunggulah bulan depan. Aku akan beri kan kabar untukmu dan menyebar berita tantangan melalui orang-orang Rimba Persilatan!" Jawab Giri Mayang.

"Hai, sobat Roro Centil, manusia licik macam begini kalau dibiarkan hidup lebih lama akan menye bar kejahatan seenaknya!" tukas Sambu Ruci. Akan te tapi Giri Mayang cuma mendengus, lalu berkata pada Roro.

"Nah, kini berilah aku jalan! kuharap kau mau menunggu kesabaran mu untuk menghadapiku, Roro Centil! Tanpa kau cari, justru aku yang akan menca rimu!" Seraya berkata Giri Mayang gerakkan kakinya untuk melangkah. Akan tetapi Sambu Ruci telah per dengarkan bentakannya, seraya cabut pedangnya un tuk segera digerakkan menghadang di depan dada wa nita itu.

"Tunggu...! kini kau jawab dulu pertanyaanku, apakah yang kau lakukan terhadap Parmi? apakah benar kau telah membunuhnya...?" kata-kata Sambu Ruci terdengar agak tergetar. Ternyata kini keselama tan gadis itulah yang dikhawatirkan.

"Hm, baik! Kali ini aku tak berdusta, dia mung kin masih hidup. Gadis itu telah kena serangan puku lanku. Akan tetapi tak ku jumpai sosok tubuhnya. Pasti ada orang yang telah menolongnya!" berkata Giri Mayang. Seraya menatap pada Roro menduga-duga apakah wanita Pendekar ini yang telah membawa ka bur sosok tubuh Parmi...? Pada saat itu terdengar sua ra derap kaki kuda mendatangi. Giri Mayang perli hatkan wajah girang, ketika melihat siapa yang datang. Sekali kakinya mengenjot tubuh. Dia sudah melesat ke udara seraya berteriak.

"Suamiku...! bagus, kau menyusul ku! urusan sudah selesai...!" Dan... tepat sekali ketika kuda itu hentikan berlari, tubuh Giri Mayang sudah meluncur turun. Detik selanjutnya wanita itu sudah hinggap di atas punggung kuda di sebelah depan tubuh seorang pemuda gagah yang tak lain dari Adhinata, yang men gendarai kuda.

"Manusia Beracun...!" tersentak Roro. Sementa ra Sambu Ruci cuma bisa terpaku menatap si laki-laki penunggang kuda.

"Hihihi... tidak salah, Roro Centil, sampai jum pa lagi pada pertarungan nanti!" Dan sambungnya lagi. "Agar kau ketahui, si Manusia Beracun ini adalah su amiku...!" Selesai berkata demikian Giri Mayang putar kudanya lalu memacu cepat meninggalkan tempat itu...

***

Saat Giri Mayang dan manusia beracun berlalu, sesosok tubuh berkelebat muncul. Ternyata Ki Panun jang Jagat. Di kedua lengannya masih memondong tu buh Parmi yang terkulai. Tentu saja terkejut dan gi rangnya bukan kepalang Sambu Ruci.

"Kakek, andakah yang telah menolongnya...?" tanya Sambu Ruci seraya menjura. Sementara Roro Centil kerutkan keningnya menatap Ki Panunjang Ja gat dan gadis yang dipondongnya. Apakah yang terjadi dengannya?" tanya Roro.

"Dia sudah tewas...!" berkata Ki Panunjang Ja gat dengan suara datar. Tersentak seketika Sambu Ruci. Serta-merta melompat ke hadapan kakek itu.

"Parmi...!" teriak Sambu Ruci tersendat. Ki Pa nunjang Jagat letakkan tubuh yang dipondongnya di atas rumput. Dan Sambu Ruci duduk menekuk lutut menatap padanya dengan air mata berlinang.

"Wanita iblis itu telah pergunakan ilmu sihir hi tam untuk merobohkan gadis ini. Seandainya hidup pun dia akan Jadi orang tak berguna tanpa daksa, en tah murid siapakah gadis ini, apakah sobat Sambu Ruci mengenalnya?" tanya Ki Panunjang Jagat. Sambu Ruci anggukkan kepala. Seraya ucapnya dengan nada sedih. Dia murid si nenek Pendekar Taring Naga. Keti ka saudara seperguruannya telah tewas oleh si wanita itu...!"

"Hm, agaknya kita telah mengalami satu keka lahan total, kakek Panunjang Jagat! Muridmu si Ma nusia Beracun kini telah bergabung dengan Giri Mayang. Akan sulitlah kiranya untuk merobah watak nya. Bahkan kini Senapati Kerta Bumi telah merobah keputusan untuk menumpasnya. Peristiwa beberapa hari ini yang lalu telah menggemparkan Kota Raja. Si Manusia Beracun telah menumpas prajurit-prajurit pengawal di Kepatihan. Dan membunuh Ki Patih Leng ser Sheta berikut seluruh keluarganya...!" Penjelasan Roro itu tentu saja membuat sepasang mata Ki Panun jang Jagat membeliak. Giginya yang masih utuh itu berkerut menahan geram.

"Pasti si perempuan bejat itu yang telah mem pengaruhi jiwanya! kalau demikian tak ada jalan lain, selain kita harus menumpas kedua manusia itu...!" "Benar, kakek Panunjang Jagat! akan tetapi sa tu kesulitan yang tidak ringan untuk menumpas si manusia beracun! Tapi walau pun begitu aku si Roro Centil merasa orangnyalah yang paling tepat untuk membunuh mereka!" Ujar Roro dengan bersemangat.

"Apakah kau akan melupakan perjanjian untuk bertarung dengan wanita itu, sobat Roro Centil...? tanya Ki Panunjang Jagat.

"Hihihi... hihi... segala macam urusan dengan manusia licik pengecut begitu apakah akan aku pedu likan? Persetan dengan sebutan Pendekar Siluman! Aku toh merasa tak mempunyai ilmu Siluman. Macan Tutu! Siluman yang selalu mengikut padaku itu ter nyata tak mau pergi meninggalkan ku, apakah yang harus kuperbuat?" ujar Roro. Seraya dengan perguna kan kata-kata batinnya Roro Centil perintahkan sang Macan Tutul untuk segera tampakkan diri. Dan...."GRRRR...! Sekejap saja disamping Roro telah muncul sesosok tubuh harimau tutul yang hampir se besar kerbau. Luar biasa besarnya harimau tutul itu hingga membuat Sambu Ruci menindak mundur. Ki Panunjang Jagat sendiri juga melangkah mundur dan tampak terkejut.

"Hihihi... Tutul! mereka adalah kawan-kawan kita!" ujar Roro seraya mengelus-elus leher sang ma can, yang segera tempelkan tubuhnya untuk mengge lendot manja ke tubuh Roro. Roro peluk leher sang macan dengan terharu. Tak lama Roro segera berkata.

"Nah, baiknya sekarang sobat Sambu Ruci, kau semayamkanlah dulu Jenazah gadis itu...! ah, sayang dia telah tewas. Seandainya masih hidup kukira dia amat cocok untuk jadi pasangan mu, Sambu Ruci !"
Sambu Ruci cuma bisa tersenyum pahit. Hatinya tak keruan rasa hingga dalam keadaan kaku demikian dia cuma bisa menelan ludah tanpa mampu bicara apa apa. Kecuali menatap Roro dan mengalihkannya pada jenazah Parmi yang terbaring seperti tengah tidur le lap.

"Baiklah! kukira saatnya sudah tiba untuk me numpas manusia yang bakal membawa kericuhan di jagat raya Ini...!" Setelah menjura pada Ki Panunjang Jagat dan menatap sejenak pada Sambu Ruci serta be rikan seulas senyuman manis padanya, Roro Centil ge rakkan tubuh melompat ke punggung si Tutul. Dan se lanjutnya, sang macan sudah melesat cepat ke arah barat bagaikan lewatnya hembusan angin. Sekejap sa ja sudah tak nampak bayangannya lagi.....

Tertegun kedua laki-laki itu. Terdengar seruan kagum Ki Panunjang Jagat. Sementara Sambu Ruci cuma bisa menatap ke arah barat. Seolah hatinya ikut terbawa oleh kepergian Roro. Tak lama kedengaran Ki Panunjang Jagat menghela nafas, lalu berpaling mena tap Sambu Ruci "Marilah ku bantu kau membuat lu bang untuk mengubur jenazah!" ujar kakek puncak Tangkuban Perahu itu. Sambu Ruci segera tersadar dari tercenungnya. Segera mengangguk dan cepat cepat beranjak untuk mencari tanah baik yang akan digali.....

***

Sementara itu.....

Satu jeritan panjang terdengar parau dia rah belakang bukit. Apakah yang terjadi? Ternyata sesosok tubuh berkelojotan meregang nyawa, namun sekejap sudah terkulai tewas. Tubuhnya berubah membiru. Dan sesaat antaranya membengkak, lalu mencair den gan menimbulkan bau busuk menyengat hidung.

"Hihihi... bagus, nenek peot ini memang sudah terlalu tua untuk jadi seorang Pendekar. Dia lebih ba gus jadi Pendekar di Akhirat...!" Terdengar satu suara Wanita yang ternyata tak lain dari Giri Mayang. Wanita itu duduk ongkang-ongkang kaki di atas kuda, semen tara Adhinata tegak berdiri di atas batu. Kiranya dalam perjalanan meninggalkan tempat itu si Manusia Bera cun dan Giri Mayang telah dicegat si nenek Pendekar Taring Naga. Nenek Pendekar Taring Naga itu tentu sa ja tak lain adalah mencegat Giri Mayang yang telah menipu serta membawa kabur murid laki-lakinya. Yang kemudian didapati telah tewas. Kemurkaannya membuat dia perintahkan ketiga murid wanitanya mencari jejak wanita itu. Hingga nyaris menyangka perbuatan Roro Centil, seperti diceriterakan di bagian depan.

Untunglah si nenek Pendekar wanita itu ber jumpa dengan si Belut Putih yaitu Gembul Sona yang telah mengetahui bahwa adanya seorang wanita pe nyamar Roro Centil yang melakukan kejahatan mem fitnah Pendekar Wanita Pantai Selatan itu. Hingga ben trokan dapat dihindari. Belakangan si nenek ini men dengar berita kematian kedua murid wanitanya oleh wanita itu. Tentu saja di Rimba Persilatan cepat tersiar berita pertarungan yang membawa kematian dua orang murid wanitanya, dan mengetahui selamatnya seorang murid wanitanya bernama Parmi karena dis elamatkan seorang pemuda bergelar si Pendekar Selat Karimata alias Sambu Ruci.

Dengan dendam berkobar, si nenek pendekar itu mencari jejak Giri Mayang. Hingga akhirnya berha sil menjumpai setelah mendengar berita adanya seo rang Kepala Desa di desa Tembilang yang baru diada kan pengangkatan oleh penduduk desa itu. Wanita bangsawan istri si bangsawan muda itu amat dicuri gainya. Dan benarlah, apa yang menjadi dugaannya. Pertarungan seru segera terjadi, akan tetapi Giri Mayang tidak turun tangan. Adhinata-lah yang dipe rintahkan melayani wanita Pendekar Tua itu oleh Giri Mayang, yang kemudian berakhir dengan kematian si nenek Pendekar Taring Naga dengan kematian yang mengerikan.

Kiranya saat itu Ki Gembul Sona telah melihat kejadian itu. Dia memang berniat membantu wanita Pendekar itu untuk mencari Giri Mayang. Melihat ke matian si nenek Pendekar Taring Naga oleh si Manusia Beracun, membuat keringat dingin ki Gembul Sona bercucuran ditempat persembunyiannya. Kejadian itu memang di luar dugaan, karena di saat dia mau mun cul mencegah sahabat tuanya itu telah keburu tewas terkena pukulan Adhinata yang mengandung racun luar biasa.

"Hihihi... keluarlah dari tempat persembunyian mu, orang tua...!" Teriak Giri Mayang mengumbar tawa yang sejak tadi pentang mata dan pasang telinga den gan duduk santai di atas kuda. Mengetahui dirinya sudah diketahui kedatangannya, terpaksa Gembul So na munculkan diri. Berkelebatlah dia keluar dari tem pat sembunyinya. Dan berdiri tegak dengan gagah me natapkan pandangan pada kedua sejoli itu berganti ganti.

"Bagus, ternyata anda seorang Pendekar Tua yang gagah dan bernyali macan. Sayang kaupun akan segera tewas menyusul sahabatmu itu, Gembul Sona!" Berkata Giri Mayang dengan suara dingin. Dan ujarnya pada Adhinata.

"Hihihi... suamiku, satu lagi keledai tua ini kau kirimkan nyawanya ke Alam Baka, tampaknya dia su dah tak sabaran lagi untuk mampusss...!" Membeliak mata Gembul Sona karena gusarnya. Dendamnya pada wanita itu tak alang kepalang, karena wanita itulah yang telah membakar Pesanggrahan dan menewaskan beberapa orang anak buahnya. Belakangan diketa huinya pula kalau si Ririwa Bodas adalah gurunya, yang telah membantai habis anak buah dan para mu ridnya menggunakan ilmu hitam. Bahkan dia sendiri nyaris tewas. Dan wanita itu pula yang telah menyebar maut dengan ular-ular siluman ciptaan si Ririwa Bo das. Menumpas wanita telengas berhati iblis ini adalah tugas kewajiban kaum Pendekar. Dan.... memikir de mikian Ki Gembul Sona sudah menghunus kerisnya seraya membentak dengan suara menggeledek.

"Giri Mayang...! turunlah kau, mari bertarung nyawa denganku, mengapa kau memperalat murid ka kak seperguruanku ini untuk melawanku? Sungguh tak tahu malu!" Akan tetapi Giri Mayang cuma tertawa terpingkal-pingkal seraya menjawab.

"Hihiihi.... dia ini suamiku, masakan tak layak kalau seorang suami membela dan mewakilkan is trinya membunuh keledai tua macam kau?"

"Setan...!" maki Gembul Sona. Dadanya tampak berombak-ombak karena menahan geram. Sementara Adhinata berdiri mematung menatap paman gurunya itu, agak ragu hatinya untuk menempur Ki Gembul Sona.

"Adhinata, ingatlah! apakah gurumu Ki Panun jang Jagat tak kau hargai jerih payahnya mendidikmu untuk menjadi seorang Pendekar penegak kebenaran, mengapa kau terbius oleh bujukan wanita iblis itu un tuk melakukan perbuatan tercela...?" berkata Gembul Sona. Sebisa mungkin kakek ini mencoba menyadar kan si Manusia Beracun.

"Kau memang perlu dikasihani, Adhinata, kau telah jadi korban ambisi si Raja Racun yang mau me rajai dunia! Ingatlah, kejahatan tak akan abadi di atas jagat raya ini! kembalilah ke jalan benar! aku akan membantumu melenyapkan racun jahat yang menge ram di tubuhmu...!" lanjut Gembul Sona yang cepat mengambil kesempatan di saat Giri Mayang belum mengambil kesempatan di saat Giri Mayang belum pentang suara.

"Tutup bacotmu, keledai tua!" Tiba-tiba mem bentak Giri Mayang seraya lancarkan pukulannya dari jarak jauh. Angin panas membersit menerpa tubuh Gembul Sona. Namun dengan ajian Belut Putih puku lan itu kalis, dan lewat tanpa menyentuh kulitnya. Menggeram marah Giri Mayang. Tubuhnya sekejap su dah melompat dari punggung kuda. Dan menerjang kakek tua itu dengan hantaman bertubi-tubi.

Sementara itu puluhan ekor kuda telah mende kat dengan perdengarkan derapnya. Dan ratusan lang kah laki-laki manusia mulai mengepung sekitar tempat itu. Ternyata lasykar Kerajaan Sunda Kelapa yang di pimpin Senapati Kerta Bumi telah mulai bergerak un tuk kedua buronan Kerajaan yang telah membuat ke resahan hati sang Baginda Raja. Dan menghawatirkan merebut kekuasaan. Sekejapan saja ratusan regu pe manah telah disiapkan ke segenap penjuru. Tentu saja semua itu tak luput dari mata Adhinata. Timbulah se ketika kebimbangan di hati pemuda Manusia Beracun itu. Saat mana pertarungan hebat tengah berlangsung di hadapanya. 

Giri Mayang ternyata tak tahan emosi untuk membunuh kakek tua bernama Gembul Sona itu dengan tangannya sendiri. Ternyata setelah berta rung beberapa jurus, Giri Mayang merasa kesulitan kalau tak mempergunakan ilmu sihir hitamnya. Segera dia merobah dirinya menjadi berujud seekor ular besar berkepala tujuh. Terperangah Ki Gembul Sona. Namun berbarengan dengan saat itu Ki Panunjang Jagat dan Sambu Ruci telah berkelebat muncul.

"Mari kita hadapi wanita iblis ini bersama sama...!" Teriak Sambu Ruci. Sementara Ki Panunjang Jagat justru menatap pada Adhinata. Dan kedua

pasang mata guru dan murid itupun saling bertatapan. Diam-diam Ki Gembul segera membisiki di telinga ka kak seperguruannya ini.

"Hm, aku sudah mengambil keputusan untuk menumpasnya, amat berbahaya! kau lihatlah sendiri muridku ini telah menjadi musuh Kerajaan! apakah kau tak mengetahui kalau Adhinata telah membantai habis para prajurit di Kepatihan. Dan telah membunuh pula Ki Patih Kerajaan Sunda Kalapa! Rasanya sulit aku melindungi!" Tukas Ki Panunjang Jagat. Terkejut Gembul Sona ketika menatap berkeliling ternyata telah berdiri berjajar ratusan prajurit pemanah yang telah slap melepaskan anak-anak panahnya. 

Pada saat itu tujuh kilatan lidah api dari mulut ular penjelmaan Giri Mayang telah meluncur untuk menambus tubuh me reka. Terperangah ketiga pendekar ini, segera berlom patan menghindarkan diri. Dan sekejap saja terjadilah pertarungan tiga orang pendekar itu menempur mak hluk ular aneh berkepala tujuh yang menyeramkan. Suara-suara mendesis dan kilatan-kilatan lidah api menyumbrat disana-sini.

Dan ketiga pendekar ini pun bertarung dengan gigih untuk membunuh mahkluk ular itu. Tampaknya keadaan ular itu mulai terdesak, karena kilatan kilatan cahaya pedang Sambu Ruci dan keris pusaka Ki Gembul Sona dapat melumpuhkan sambaran lidah api. Bahkan pedang Sambu Ruci berhasil menabas pu tus leher salah satu ular. Makhluk itu perdengarkan desisannya. Menggelinjang dengan menerjang semakin hebat. Akan tetapi... Cras...! kembali satu kepala ular terbatas oleh keris Gembul

Sona. Terdengar jeritan suara wanita. Dan se konyong konyong tubuh sang ular itu lenyap jadi gum palan asap. Apakah yang terlihat?. Giri Mayang berdiri dengan tubuh sempoyon gan. Tampak kedua buah lengannya terbabat putus...! Darah berhamburan memercik ke tanah. Wajah wanita ini perlihatkan seringai yang menyeramkan. Pasukan pemanah yang melihat kejadian itu mulai maju lagi se tindak. Saat itu tiba-tiba terdengar suara berkata den gan nada parau.

"Tunggu...! kalian tak dapat membunuhnya be gitu saja! Dan..... berkelebat sebuah bayangan me nyambar tubuh wanita itu. Sekejap saja karena den gan gerakan cepat sekali sosok tubuh yang me nyam bar tubuh Giri Mayang telah berkelebat lenyap keluar dari kepungan ratusan prajurit pemanah tanpa terlihat siapa yang menyambarnya. Terperangah semua mata. Bahkan betapa amat masygulnya hati Senapati Kerta Bumi. Akan tetapi pada saat itu, berkelebat pula mun cul sesosok tubuh. Dialah Roro Centil, yang duduk di atas punggung harimau Tutul yang besarnya hampir sebesar kerbau. Segera semua mata memandang ke arahnya.

Tenang sobat-sobat! biarlah aku yang menge jarnya! Hm, urusan si wanita itu adalah urusanku...!" Selesai berkata, Roro Centil berikan isyarat menepuk punggung si Harimau Tutul yang perdengarkan ge ramnya. Dan melesatlah tubuh si harimau Tutul itu

bagaikan lewatnya angin mengejar Giri Mayang yang dilarikan seseorang.

Sementara itu semua mata kini tertuju pada si Manusia Beracun. Urusan Giri Mayang masih belum tuntas, akan tetapi mereka cukup mengandalkan ke mampuan Roro Centil untuk menumpasnya. Kini uru san si Manusia Beracunlah yang harus dituntaskan.

"Adhinata! apakah kau masih menganggapku sebagai gurumu?" tiba-tiba Ki Panunjang Jagat ajukan pertanyaan pada bekas muridnya. Tampak wajah Ad hinata menegang, sebentar pucat sebentar merah. Su kar sekali dia menjawab pertanyaan gurunya. Semen tara suasana menjadi hening. Dari ratusan manusia di sekitar tempat itu seolah tak terdengar sedikitpun sua ra. Selain semua mata menatap pada si Manusia Bera cun, dan menunggu jawaban kata-kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

"Aku... aku telah jadi seorang murid yang mur tad, guru...!" Akhirnya menjawab si Manusia Beracun.

"Semua itu dapat aku ampuni, asalkan kau kembali sadar! Apakah kau tetap akan menuruti ambi si mu merajai kolong jagat ini dengan kekuatan racun dahsyat di tubuhmu...?" Tanya Ki Panunjang Jagat.

"Tadinya aku berniat, guru...!"

"Lalu apakah kini kau sudah merobah niat itu?" bertanya lagi Ki Panunjang Jagat.

"Ya... aku... aku telah merobah niat itu!" sahut Adhinata dengan menunduk. Ki Panunjang Jagat dan Gembul Sona sailing berpandangan. Dan lambat lambat Senapati Kerta Bumi menghampiri, lalu bisikan kata-kata di telinga kakek puncak Tangkuban Perahu. Kini terlihat Ki Panunjang Jagat manggut-manggut. Wajahnya tak menampilkan perobahan sedikitpun. La lu ujarnya pada Adhinata.

"Baiklah, muridku...! sukurlah kalau kau telah kembali pada kesadaranmu ...! Kini gusti Adipati Kerta Bumi dari kerajaan Sunda Kalapa akan bicara pada mu...!Selesai berkata Ki Panunjang Jagat berpaling pa da Senapati itu seraya berkata. "Silahkan bicara pa danya, Gusti Senapati...!" Senapati ini mengganguk. Dan Ki Panunjang jagat segera menjura padanya, lalu kedipkan mata pada Gembul Sona dan Sambu Ruci. Dan mendahului berkelebat keluar dari lingkaran ke pungan prajurit. Hal mana segera diikuti Gembul Sona dan Sambu Ruci, yang segera melompat keluar me nyusul Ki Panunjang Jagat.

Setiba di luar...

"Aneh, apakah yang akan dibicarakan Senapati Kerta Bumi itu? mengapa kita tak diberi izin menden garnya...?" Tanya Gembul Sona pada kakak sepergu ruannya. Sambu Ruci sendiri tak mengerti. Dia hanya menatap pada kedua tokoh tua Rimba Persilatan itu si lih berganti. Tiba-tiba terdengar suara aba-aba yang sangat nyaring dari suara Senapati Kerta Bumi. Ketika mereka menoleh ke belakang, segera terdengar suara bising dari terlepasnya ratusan anak panah yang se perti tiada habisnya. Dan selang sesaat terdengar te riakan sorak sorai dari para prajurit lasykar Kerajaan Sunda Kelapa menggegap gempita. Apakah yang terja di? Kiranya ratusan anak panah segera meluruk ke tu buh Adhinata si Manusia Beracun itu, begitu Senapati Kerta Bumi memberi aba-aba, dan secepat kilat me lompat keluar dari lingkaran pasukan pemanah yang telah mengurung si Manusia Beracun.

Tak ampun lagi tubuh si Manusia Beracun ro boh ke tanah dengan terpanggang berpuluh-puluh anak panah. Dan tewas. tanpa berkelojotan lagi. Ternyata bisikan Senapati itu adalah menyatakan bahwa tak ada jalan lain bagi murid si kakek puncak Tangku ban Perahu itu selain kematian. Karena secara tidak langsung Adhinata telah menjadi musuh Kerajaan. Dan titah Baginda Raja Kerajaan Sunda Kalapa tak dapat lagi dibantah, yaitu menumpas si Manusia Bera cun karena membahayakan bagi Kerajaan juga umat manusia!

Kalau Sambu Ruci dan Gembul Sona menoleh ke belakang, adalah Ki Panunjang Jagat tetap melang kah tanpa menoleh sedikitpun. Bahkan berjalan den gan menundukkan wajahnya. Ternyata dari celah ke dua kelopak mata kakek tua itu telah membersit turun dua titik air mata. Air mata haru, tapi juga penuh ke relaan "Apakah yang terjadi, kakang Panunjang Ja gat...?" tanya Gembul Sona, seraya mengejar kakak se perguruannya dan terkejut melihat wajah sedih serta air mata kakek itu mengalir turun membasahi pipi. Sementara Sambu Ruci pun segera balikan tubuhnya menyusul kedua kakek itu.

Terdengar Ki Panunjang Jagat menghela napas, seraya ujarnya.

"Tak ada lain jalan selain kematian yang harus di jatuhkan pada Adhinata! karena dia telah menjadi musuh Kerajaan yang membahayakan...! itu sudah menjadi perintah Baginda Raja Kerajaan Sunda Kala pa!" Terhenyak Ki Gembul Sona dan Sambu Runci, yang seketika jadi tercenung tanpa bisa bicara apa apa.

"Tapi aku bahagia, karena Adhinata telah sadar sesaat sebelum kematian menjemputnya...!" sambung Ki Panunjang Jagat.

"Benar! walaupun demikian tragis kematiannya, akan tetapi dia masih bisa digolongkan sebagai pahla wan. Walaupun cuma sebagai pahlawan tanpa jasa...! Yah, kini tuntaslah sudah urusan kita! sementara kita bisa bernapas lega. Tinggal menunggu kabar saja nanti apakah Roro Centil dapat menumpas wanita iblis itu?" Tukas Ki Gembul Sona. Dan Ki Panunjang Jagat cuma manggut-manggut seraya menghela nafas. Demikian juga Sambu Ruci.

Sorot Matahari senja itu mulai memudar. Di ufuk barat sana terlihat cahaya merah dari belakang perbukitan. Ketika itu ketiga orang pendekar pembela kebenaran yang masing-masing berbeda usia segera berpisah. Gembul Sona pergi ke arah barat. Sedangkan Ki Panunjang Jagat menuju ke utara. Dan Sambu Ruci ke arah selatan... Perjuangan kamu pendekar dalam menumpas segala macam bentuk kejahatan agaknya memang tak pernah tuntas. Karena 1001 macam kejahatan selalu bermunculan di atas jagat raya ini. Demikian pula dengan Roro Centil sang Pendekar wanita pantai Sela tan.

Sebulan kemudian memang ada berita kema tian beberapa tokoh golongan hitam, akan tetapi bu kanlah manusia yang diburu Roro, karena Giri Mayang seolah lenyap bagai ditelan bumi. Adapun baiknya me nurut Pengarang diberitahukan saja pada pembaca, bahwa sosok tubuh yang menyambar tubuh Giri Mayang dan menyelamatkan jiwanya tak lain dari si nenek mata juling yang punya anak buah tujuh mah luk kerdil. Kelak Giri Mayang memang masih muncul untuk menyebar kejahatan dengan ilmu barunya yang lebih hebat.

Dan adalah tugas kaum Pendekar termasuk Roro Centil si Pendekar wanita Pantai Selatan untuk menumpasnya. Dengan demikian berakhir kisah Langkah-langkah Manusia Beracun....

SELESAI