Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 21

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
Ki Galur kebingungan. Ia ingin sekali memangku dan memeluk gadis yang sejak kecil menjadi buah hatinya itu, tapi tidak berani. Ia hanya berkata gagap,

"Sudahlah, den roro...... sudahlah..... biarkan hamba pergi....."

Dan dengan cepat ia melepaskan diri lalu mundur. Setibanya di luar istana, orang tua ini tak dapat menahan lagi gelora hatinya dan la berjalan pulang sambil menangis! Ia merasa hancur hatinya karena mulai sekarang ia sudah bukan ayah Sekarsari lagi! Buah hatinya itu telah menjadi sekar kedaton, menjadi puteri sultan yang berkedudukan tinggi, dan ia yang sudah tua menjadi sebatangkara.

Kesedihannya bertambah karena Jarotpun hendak pergi meninggalkannya, sedangkan sejak pertemuannya pertama kali dengan pemuda itu, ia sudah mengharap-¬harapkan untuk memungut mantu pemuda itu. Kini semuanya gagal, Sekarsari masuk keraton, Jarot pulang ke gunungnya dan ia..... ia hanya akan menyapu dan mencangkul di tamansari dan harus cukup puas dengan kadang-kadang melihat bayangan Sekarsari sebagai gusti sekar kedaton, Den Roro Susilawati!

Ketika tiba di pondoknya, ia mendapatkan Jarot tengah berdiri termenung sambil memeluk leher Nagapertala yang menggunakan lidahnya menjilat-jilat tangan pemuda itu. Hati Ki Galur makin terharu karena ia tahu betapa hebat penderitaan batin pemuda itu.

"Gus Jarot......"

Jarot sadar dari lamunannya dan ia berpaling.

"Gus Jarot, percayalah, aku menyesal sekali hal ini telah terjadi padamu, gus...”

Jarot memandang muka tua keriputan yang memandangnya dengan penuh bayangan iba hati itu, dan tak terasa ia tersenyum getir.

"Paman, kau sungguh seorang mulia. Mengapa kau malahan kasihan padaku? O, paman, bukankah aku yang telah menghancurkan hatimu? Bukankah kau yang kehilangan anakmu? Aku telah berdosa padamu, paman. Tapi, aku yakin kau akan dapat mengampuni aku, karena sungguh paman, sampai matipun aku takkan membongkar rahasia Sekarsari seandainya tak terjadi hal perkawinan itu. Betapapun juga, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan Sekarsari kawin dengan kakak sendiri!"

KEMBALI ada dua butir air mata mengalir turun dari mata Ki Galur ketika ia mengangguk-angguk.

"Kau benar, gus Jarot. Aku sendiri takkan tinggal diam kalau kuketahui sebelumnya bahwa Sekarsari adalah puteri Sri Sultan."

"Tapi..... tapi aku penasaran dan heran, paman. Bagaimanakah asal mulanya maka Sekarsari sampai hendak kawin dengan pangeran? Dilamarkah ia? Dan mengapa Sekarsari mau? Dipaksakah kalian oleh pangeran?" Suara Jarot terdengar mengandung ancaman.

Ki Galur menggeleng-geleng kepala.
"Semua karena salah paham, gus. Karena salah paham, dan sebagian besar karena... salahmu."

"Salahku? Apa maksudmu, paman? Dalam hal apakah aku bersalah?" Jarot bertanya penuh penasaran.

"Kalau saja dari dulu kau kawini Sekarsari. Kalau saja dari dulu kau nyatakan perasaan hatimu terhadapnya.... ah, takkan begini jadinya...." orang tua itu menghela napas kecewa.

"Tapi..... tapi aku pernah mengutarakan perasaan hatiku padanya, paman dan dia... dia bahkan lari pergi meninggalkan aku, dia.,,, dia menolak cintaku, paman."

Kembali Ki Galur menggeleng-geleng kepala dan menghela napas.
"Itulah kalau seorang muda seperti kau tak mengenal hati wanita. Sekarsari telah mengaku terus terang kepadaku dan ia ceritakan segala hal padaku. Pernyataanmu padanya itu terlambat datangnya, gus Jarot, ia sudah terlampau terluka hatinya, terlampau sakit perasaannya."

"Terluka? Sakit? Mengapa?"

“Inilah pokok permasalahannya dan inilah biang keladi segala perkara ini. Mengapa ia takkan terluka hatinya melihat hubunganmu dengan Maduraras? Ia menganggap kau telah lupa padanya dan bahwa kau cinta kepada Maduraras!"

"Ooo..... demikiankah? Mengapa ia menyangka demikian?"

Ki Galur dengan suara yang menyatakan penyesalannya lalu menceritakan betapa Sekarsari melihat Jarot berkuda dengan Maduraras di depannya dan melihat pula betapa Jarot membela Maduraras dari tangan penjahat-penjahat yang dikepalai oleh Bahar.

Kini Jarot yang merasa kecewa dan penasaran.
"Tapi..... semua itu terjadi bukan karena aku mencinta Maduraras, paman."

Lalu ia menceritakan kepada orang tua itu betapa Maduraras terluka hingga terpaksa diboncengnya di atas kuda, dan bahwa ketika ia berkelahi dengan Bahar dan kaki tangannya, bukanlah karena menolong dan membantu Maduraras. Ia ceritakan pula bahwa Maduraras adalah adik Raden Mas Bahar! Maka jelaslah bagi mereka berdua duduknya persoalan dan mereka hanya dapat menghela napas menyatakan sayang dan sesal.

"Tapi, kalau hanya karena salah sangka, mengapa Sekarsari tidak menyatakan dengan terus terang padaku? Mengapa ia bahkan menerima lamaran pangeran?"

"Kau agaknya belum mengenal betul watak Sekarsari, gus Jarot. Ia memang seorang anak yang menurut dan berbudi halus selama hatinya senang. Tapi, sekali saja tersinggung perasaannya, maka timbullah keangkuhannya yang membuatnya keras kepala. Ini rupanya adalah pembawaan darah ningratnya. Ketika ia merasa bahwa kau sudah tidak suka padanya, ia menjadi angkuh dan sama sekali tidak suka memperlihatkan perasaan hatinya itu kepadamu walaupun di belakangmu ia selalu menangis dengan hati hancur. Semua ini ia ceritakan padaku dengan pesan agar aku tidak menyampaikan hal itu padamu. Ia tidak mau mengalah, lebih baik ia menderita daripada harus memperlihatkan kelemahannya padamu. Melihat kau berkelahi yang disangkanya membela Maduraras itu merupakan pukulan terhebat baginya dan menghancurkan seluruh pengharapannya. Timbullah sakit hati dan bencinya padamu dan ia menaruh dendam, ingin membalas dan membikin sakit hati padamu seperti yang telah kau lakukan padanya."

Jarot mengangguk maklum, hatinya sedih bukan main.
"Tapi, kalau hendak membalas....... mengapa justru menerima pangeran yang dibencinya itu?"

"Itulah! Ketika kau pergi, agaknya pangeran menggunakan kesempatan untuk minta bantuan ramanya. Aku dipanggil oleh Gusti Sultan dan Sekarsari dipinang dengan resmi. Tentu saja hal ini merupakan kehormatan besar sekali terhadap aku, namun demikian, hatiku sedih karena sesungguhnya kaulah orang yang kuharap-harapkan untuk menjadi suami Sekarsari."

"Dan Sekarsari menerima pinangan itu?"

Ki Galur mengangguk.
"Ya, dia menerima pinangan itu dengan menangis sehari semalam tanpa berhenti. Aku katakan bahwa jika ia tidak mau, aku takkan memaksanya dan tak seorangpun di dunia ini, biar Gusti Sultan sekalipun, akan dapat memaksanya selama aku masih hidup, tapi ia menerimanya! Ia berkata bahwa setelah kau tidak menghendakinya lagi, baginya tiada bedanya dikawin oleh laki-laki yang mana saja, dan ia tambahkan bahwa demi kebaikanku, lebih baik berbesan dengan Gusti Sultan daripada dengan orang lain."

Kembali Jarot mengangguk-angguk dan di dalam hatinya yang tadinya marah dan sakit hati sekali kepada Sekarsari, kini timbullah penyesalan kepada diri sendiri. Marahnya terhadap gadis itu lenyap, terganti oleh rasa sayang dan iba yang besar. Tapi apa yang dapat ia lakukan? Kini Sekarsari sudah tidak ada lagi di dunia ini, Sekarsari telah lenyap. Yang ada hanya Raden Roro Susilawati, sekar kedaton Mataram yang agung, mulia dan tak mudah didekati sembarang orang!

Demikianlah, hari itu Jarot duduk bercakap-cakap dengan Ki Galur, hatinya pilu dan sedih, lupa makan dan lupa mandi. Sampai hari telah menjadi gelap mereka masih saja bercakap-cakap tentang Sekarsari.

Semenjak kembali ke gedung tumenggungan, Maduraras tinggal bersama ayahnya. Sebenarnya, Maduraras adalah anak dari isteri pertama Tumenggung Suryawidura, seorang gadis kampung dari Sukowati. Setelah mempunyai dua orang anak yakni Bahar dan Maduraras, Suryawidura menceraikan isterinya itu dan meninggalkan di Sukowati berdua dengan anaknya.

Tumenggung itu kawin lagi dan ia mendapat kedudukan baik ketika Sultan Agung yang ketika itu belum menjadi Sultan mengambil Maduningrum sebagai selir. Maduningrum ini adalah anak angkat Suryawidura yang tadinya hendak diambil selir sendiri, tapi ia rela memberikan gadis cantik itu kepada Sultan Agung, karena ia mengharap kelak mendapat kedudukan yang baik apabila Pangeran Mas Rangsang telah diangkat menjadi sultan.

Namun seringkali Suryawidura datang menengok kedua anaknya di desa Sukowati karena dari selir-selir lain ia tidak mendapat anak. Setelah agak besar, Bahar dibawa ke tumenggungan, tapi Maduraras tidak mau ikut kakaknya, ia lebih suka tinggal dengan ibunya.

Karena Sukowati terpisah hanya dekat dari Karta, maka Bahar seringkali datang mengunjungi ibu dan adiknya, hingga hubungan kakak beradik itu erat sekali. Lebih-lebih Maduraras, ia mencinta kakaknya hingga ketika ibunya meninggal, ia menganggap Bahar sebagai orang tua pula yang selalu ditaatinya, Namun ia tetap tidak mau ikut ke tumenggungan karena isteri tumenggung sering menyakiti hatinya. Ia tetap tinggal di Sukowati. Ketika Bahar datang minta pertolongannya untuk menggoda Jarot, ia tak dapat menolak, walaupun dalam hati ia tidak setuju akan perbuatan itu.

Setelah Bahar tewas dalam perkelahiannya dengan Jarot, Maduraras diharuskan tinggal di tumenggungan oleh ayahnya. Ketika dalam percakapan tentang Jarot yang hendak diadukan kepada raja oleh tumenggung terlihat betapa Maduraras membela pemuda itu, tahulah Tumenggung Suryawidura apa yang terpendam dalam gadisnya. Ketika didesak, mengakulah Maduraras bahwa ia mencinta Jarot.

Kenyataan inilah yang mendorong Tumenggung Suryawidura untuk meminjam tangan Sultan Agung menjodohkan anaknya kepada Jarot, tapi sungguh diluar persangkaannya, usul ini ditolak mentah-mentah oleh Jarot. Maka ia pulang dengan wajah muram.

Kedatangannya disambut oleh Maduraras yang telah mendengar tentang perkawinan Sekarsari.

"Kanjeng rama, bagaimana dengan perkawinan Sekarsari dan gusti pangeran? Ramai dan indahkah?"

Tumenggung Suryawidura hanya menggeleng-geleng kepala, wajahnya makin muram.

"Apakah yang terjadi, kanjeng rama? Mengapa rama bermuram durja?" Dengan cekatan dan manis Maduraras menyiapkan minuman ayahnya.

Tumenggung Suryawidura menghela napas.
"Tidak ada perkawinan...."

"Apa..... apa maksudmu, rama?"

"Gadis yang kau sangka Sekarsari itu, sebenarnya ialah gusti sekar kedaton, Den Roro Susilawati!"

Maduraras terkejut dan memandang ayahnya dengan matanya yang lebar itu terbelalak.

"Sekar kedaton? Bagaimana maksudmu, rama?"

"Jarot yang merusak segalanya. Perkawinan sedang berlangsung, tiba-tiba saja dia datang mengacaukan segala hal!" berkata tumenggung Itu dengan sebal.

"Kangmas Jarot?? Ia sudah kembali? Dan ia datang ke pesta perkawinan Sekarsari? Ya, Gusti! Lalu apakah yang terjadi, rama?"

"Jarot membongkar rahasia...... eh, rahasia Sekarsari yang ternyata puteri dari Bratadewi, jadi puteri Gusti Sultan sendiri dan masih adik sendiri dari pangeran. Tentu saja perkawinan dibatalkan."

"Ya Jagat Dewa Batara! Jadi Sekarsari itu puteri Gusti Sultan malah.... dan kangmas Jarot yang membongkar rahasia itu? Bagaimana ceritanya, rama?" Maduraras sangat ingin tahu.

"Dulu, ketika masih berusia satu tahun lebih, puteri Susilawati diculik berandal pengacau dan....... dan dihanyutkan di bengawan dalam sebuah sampan. Sampan itu ditemukan oleh Ki Galur yang lalu memelihara anak itu dan diberi nama Sekarsari. Entah bagaimana, Jarot dapat membongkar rahasia ini hingga ia membatalkan perkawinan pangeran."

"Dan... dan dimana Sekarsari kini berada dan dimana pula adanya kangmas Jarot?"

"Jangan kau sebut-sebut Sekarsari lagi, Raras. Dia adalah Gusti Den Roro Susilawati. Tentu saja ia tinggal di keraton dan Jarot...."

"Bagaimana kangmas Jarot, rama? Dimana dia??"
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 21"

Post a Comment

close