Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 10

Mode Malam
Kho Ping Hoo
-------------------------------
----------------------------
"Itu benar. Keadaan tidak sangat berbahaya, tidak perlu mengganggu gusti Sultan dari tidurnya. Biarlah aku sendiri pergi melihat-lihat keadaan musuh, menggantikan tugas tiga orang penyelidik yang gugur," kata Jarot sambil memandang kepada Amangkurat yang kebetulan sedang menatapnya dengan pandang tajam. Dua pasang mata bertemu dan Amangkurat tersenyum lebih dulu lalu anggukkan kepala.

"Baik, Jarot. Aku setuju. Pergilah kau melakukan penyelidikan sementara aku berunding dengan para senapati."

Jarot lalu meloncat keluar dan berlari cepat ke pondoknya untuk berkemas dan mengambil Nagapertala. Maksudnya hendak pergi diam-diam dan tidak akan mengganggu Ki Galur dan Sekarsari yang masih tidur. Tapi ketika la telah selesai berkemas dan sedang menuntun Nagapertala keluar dari kandang, tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya,

"Mas Jarot, kemana kau pergi tadi dan sekarang kemana pula kau hendak pergi dengan Nagapertala?"

Jarot terkejut dan gugup. Tak disangka-sangkanya bahwa Sekarsari tahu akan kepergiannya tadi.

"Aku..... aku hendak menyelidik keadaan musuh, Sari."

"Apakah yang telah terjadi?" tanya Sekarsari.

Jarot lalu menuturkan dengan ringkas tentang kembali dan gugurnya penyelidik. Namun Sekarsari tidak tampak takut mendengar bahwa musuh hendak menyerang Mataram.

"Biar mereka datang! Kita pasti akan dapat memukul mundur dan menghancurkan mereka! Panglima-panglima kita gagah perkasa, apalagi sekarang ada kau disini mas Jarot......" katanya dengan gagah;

Jarot tersenyum.
"Sari, kau seperti Srikandi...." tiba-¬tiba ia teringat akan puteri dalam tamansari tadi. "Sari, pernahkah... pernahkah kau melihat ibumu?"

Sekarsari memandangnya heran, lalu melihat ke arah bulan purnama yang telah menurun ke barat.

"Menurut kata ayah, ibu telah meninggal dunia semenjak aku masih bayi," jawabnya perlahan, "Mengapa kau tanyakan hal ini, mas?" tiba-tiba ia bertanya sambil putar tubuh menatap wajah Jarot.

“Tidak apa-apa, Sari. Nah, jaga diri baik-baik. Aku berangkat sekarang." Jarot meloncat ke atas punggung Nagapertala dengan sigapnya.

"Mas Jarot......!"

"Ya?" Jarot tahan kendali kudanya.

Sekarsari ragu-ragu.
"Mas... kalau kau pergi..... bagaimana kalau pangeran datang mengganggu kami.....?"

Hati Jarot berdebar. Hampir ia lupa akan hal itul Tapi ia teringat akan keberanian Ki Galur membela anaknya. Pula, perginya takkan lama.

"Jangan takut, Sari. Paman Galur akan menjagamu. Juga, aku takkan pergi lama. Besok siang aku tentu sudah kembali lagi, dalam keadaan seperti sekarang, kurasa Pangeran Amangkurat takkan mengganggumu." Sekarsari mendengar dengan bimbang tapi tiba-tiba ia kedikkan kepala dan berkata tetap,

"Pergilah, mas. Pergilah lakukan tugasmu. Aku tidak takut kepada pangeran!"

Mendengar kata-kata dan melihat sikap ini Jarot tersenyum girang lalu membungkuk di atas kudanya dan mencubit dagu yang manis dari gadis itu. Kemudian ia kaburkan kudanya ke arah timur.

Setelah keluar kota, Jarot bertemu dengan rombongan-rombongan pengungsi dari kampung-¬kampung sebelah timur. Menurut penuturan mereka, barisan yang besar dari Surabaya telah bergerak menuju ke kota raja. Tiba-tiba seorang kakek-kakek menghampiri Jarot dan berkata,

"Raden, tolonglah. Di kampung sana itu terdapat musuh yang mengganas dan merampok."

Jarot segera melarikan kudanya. Benar saja, terdengar teriakan minta tolong seorang wanita. Ia balapkan Nagapertala memasuki kampung dan meloncat turun. Dalam sebuah pondok ia melihat seorang gadis muda meronta-ronta dalam pelukan seorang laki-laki brewokan.

Jarot marah sekali dan sekali loncat ia telah berada di belakang laki-laki itu dan tangan kanannya bekerja! Laki-laki itu merasa pundaknya terkait dan ia tak dapat mempertahankan tubuhnya ketika ditarik ke belakang oleh sebuah tenaga yang kuat sekali. Dengan marah la melepaskan korbannya dan putar tubuhnya. Tapi sebelum ia jelas benar melihat pemuda yang berani mengganggunya tinju kiri Jarot sudah mampir ke pangkal telinganya, membuat kepalanya pening dan segala apa di depannya tampak berputar-putar!

Sekali lagi Jarot ayun tangannya kali ini menumbuk dada, maka laki-laki biadab itu terpental jauh dan tubuhnya menabrak dinding hingga dinding bambu itu menjadi jebol. Dengan dua kali pukulan saja Jarot membuat lawannya rebah dengan napas empas-empis. Ia lalu meloncat keluar. Ternyata kampung itu dimasuki belasan perajurit musuh, yang bertugas sebagal pelopor penyelidik.

Karena agaknya terpimpin oleh seorang yang berwatak rendah, maka regu musuh ini menyeleweng dari tugasnya dan mengacau kampung. Mereka inilah pula yang membunuh tiga orang penyelidik Mataram.

Melihat seorang pemuda keluar dari pondok segera lima orang perajurit mengepungnya. Jarot bersikap tenang dan menanti serbuan musuh. Tanpa bertanya sesuatu kelima orang itu terus saja menghantam. Tapi alangkah terkejut mereka ketika kepalan mereka beradu dengan tubuh yang keras bagaikan waja hingga tangan mereka terasa sakit sekali.

Sebelum mereka dapat tenangkan pikiran dari rasa heran dan bingung, Jarot sudah bergerak cepat. Kaki dan tangannya bekerja bagaikan empat daun kitiran angin dan kelima lawannya hanya dapat mengaduh kesakitan; dan rebah, tak. dapat bangun lagi!

Teriakan teriakan ini terdengar oleh perajurit-perajurit lain. Seorang perajurit memberi tanda dan berkumpullah tujuh orang perajurit dengan tombak di tangan. Mereka membuat gerakan dan sebentar saja Jarot terkurung di tengah-tengah.

Pemuda itu dengan mata tajam bergerak perlahan memutar-mutar tubuh ke kanan kiri dengan waspada, seakan-akan seekor harimau jantan yang dikurung. Ia tahu bahwa kali ini ia menghadapi tujuh perajurit yang bersenjata tajam sedangkan ia sendiri bertangan kosong, maka ia harus berkelahi mati-matian. Sementara itu, cahaya matahari telah mulai menggantikan kedudukan sang ratu malam yang turun tahta hingga cuaca menjadi remang-remang menyeramkan.

"He, siapakah kau berani melukai kawan-kawan kami?" pemimpin regu itu membentak dengan suara galak.

Jarot tersenyum, karena dari irama ucapan itu tahulah dia bahwa para lawannya ialah orang-orang dari Jawa Timur.

"Kita satu asal, tapi berlainan paham," katanya tenang.

Ketujuh orang lawannya saling pandang,
“Kamu juga orang wetan? Mengapa berani melawan kami?”

"Aku bukan anak buahmu. Aku membela Mataram!"

"Setan alas engkau! Beritahukan namamu sebelum putus lehermu!"

"Namaku? Akulah Jarot anak Tengger, pembela keadilan dan kebenaran, sekarang bertugas sebagal penyelidik dari Mataram."

Maka setelah mendengar keterangan ini marahlah ketujuh orang itu dan menyerbulah mereka dengan tombak mereka. Jarot menggerakkan tubuhnya dan sekali berkelebat ia telah menyerang ke depan, miringkan tubuh hindarkan tusukan tombak dari depan dan cepat bagaikan kilat kempit tombak itu di bawah lengan terus gerakkan kaki menendang.

Terdengar jeritan ngeri dan lawannya Itu terlempar jauh dengan tombak tertinggal dalam tangan Jarot, Terjadilah kini perang tanding antara enam orang melawan seorang. Permainan tombak enam orang perajurit itu cukup kuat dan cepat, tapi menghadapi Jarot mereka itu bagaikan kanak-kanak yang baru belajar jalan!

Kalau dibicarakan memang aneh dan tak masuk diakal tapi benar-benar tombak di tangan Jarot yang hanya sebatang itu telah membuat enam batang tombak lawan-lawannya hanya mampu menangkis saja tanpa kuasa menyerang sedikitpun! Jarot percepat gerakannya dan seorang demi seorang para lawannya berteriak dan roboh karena tendangan atau sabetan gagang tombak.

Kepala regu melihat semua perajuritnya roboh, menjadi takut dan timbul watak pengecutnya. Ia lempar tombaknya dan berlutut menyembah meminta ampun. Jarot tersenyum menghina dan seret orang itu pada rambutnya. Dengan ringan ia kempit tawanannya dan meloncat keatas punggung Nagapertala dan kaburkan kudanya kembali ke kota raja.

Ternyata di alun-alun telah disiapkan perajurit-perajurit Mataram dibawah pimpinan para senapati. Pada saat itu Senapati Ki Ageng Baurekso sedang mengadakan rapat dengan para senapati lain untuk merundingkan cara yang sebaiknya untuk menahan serangan musuh dari Surabaya.

Semua panglima dan senapati maju menyambut Jarot yang datang dengan seorang perajurit musuh sebagai tawanan. Jarot melemparkan kepala regu musuh itu ke atas tanah dan berkata kepada Ki Ageng Baurekso,

"Paman senapati, tawanan ini adalah seorang kepala regu musuh yang sengaja kutawan untuk ditanyai keterangan tentang keadaan barisan musuh."

Ki Ageng Baurekso mengangguk-angguk senang dan ia merasa kagum ketika Jarot dengan ringkas menuturkan pengalamannya. Kemudian di bawah ancaman ujung keris, tawanan itu mengaku dan membuka rahasia kesatuannya yang sedang bergerak dalam penyerangan ke Mataram.

Ternyata bahwa barisan dari Kadipaten Surabaya itu menggunakan siasat menyerang dari dua pihak! Sebagian barisan akan menyerang dari timur dan sebagian pula menyerang dari utara. Penyerangan dari timur merupakan serangan pancingan atau serangan palsu sedangkan sebenarnya tenaga terkuat dikerahkan dalam barisan yang menyerang dari utara.

Ki Ageng Baurekso girang sekali mendengar pembukaan rahasia ini, dan setelah tawanan itu habis bicara, senapati yang terkenal gagah berani itu menggerakkan tangannya yang memegang keris, maka tawanan itu tak sempat berteriak dan matilah dia!

Hal ini tak mengherankan para pahlawan lain karena mereka semua sudah kenal akan watak Ki Ageng Baurekso yang sangat benci akan segala macam pengkhianatan. Sekali waktu pernah tertangkap seorang penyelidik musuh yang bersikap gagah dan rela dibunuh daripada harus membongkar rahasia barisannya. Ki Ageng Baurekso tidak membunuh tawanan yang setia itu, bahkan memberinya seekor kuda dan membebaskannya!

Tapi jika ada tawanan yang bersikap pengecut seperti tawanan dari Surabaya ini, biarpun keterangan-¬keterangannya menguntungkan Mataram, namun sikap tawanan itu demikian menjijikkan hati senapati hingga selalu dia sendiri yang turun tangan menghabisi nyawanya. Sikap ini sungguh cocok dengan sikap Sultan Agung yang menghargai kegagahan dan kesetiaan.

Dengan cepat Ki Ageng Baurekso memberi perintah kepada para panglima untuk menjaga kedatangan musuh. Kemudian ia beri tanda kepada Jarot untuk mendekat. Setelah pemuda itu menghampirinya, senapati itu berbisik,

"Nak Jarot, kau cepatlah pulang dan tengok Ki Galur serta anaknya. Kalau semua dalam keadaan baik, barulah kau bantu kami, gusti pangeran baru saja menuju ke kampungmu!"

Mendengar kisikan ini, tanpa pamit lagi Jarot terus cemplak kudanya dan membalap ke arah kampung Ki Galur dengan hati tidak enak. Benar saja, ketika kudanya memasuki gerbang kampung, ia mendengar jeritan-¬jeritan ngeri dan melihat orang-orang kampung lari kesana kemari dalam keadaan kacau. Ia pegang seorang kampung yang lari di dekatnya lalu bertanya keras.

"Apa yang telah terjadi?"

Orang itu terkejut dan pucat ketika merasa lengannya ada yang memegang, tapi setelah dilihatnya bahwa yang memegangnya Jarot, ia jatuh berlutut dan

"Den Jarot, celaka..... celaka..... gusti pangeran mengamuk.... dia dan beberapa orang pengawalnya..... marah-marah mencari Sekarsari, kami diamuknya, dikira menyembunyikan Sekarsari, bahkan ada beberapa orang kawan yang terbunuh. Tolong, den Jarot, tolonglah.....”

Jarot tak sempat menjawab, segera berlari ke arah pondok Ki Galur. Ia melihat segala barang isi pondok telah mawut dan rusak, pintu-pintu terbuka dan pondok itu kosong! Timbul kemarahan hebat di hati Jarot. Ia lari keluar. dan melihat betapa seorang pengawal pangeran sedang menyeret seorang laki-laki dan membentak¬-bentak.
*** ***
Note 27 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah dimulai."

(Regards, Admin)

0 Response to "Keris Pusaka dan Kuda Iblis Jilid 10"

Post a Comment

close