Bunga Di Batu Karang Jilid 24

Mode Malam
Nampaknya lawannya menjadi marah. Karena itu, maka ia pun segera menghentikan kudanya dan meloncat turun.

Buntal yang memang lebih mantap bertempur di atas tanah, segera meloncati parit itu lagi dan dengan tegak ia berdiri menghadapi lawannya yang mendekatinya.

Pertempuran yang serupa telah terjadi pula Raden Juwiring dengan kemampuannya bertempur di atas kuda, telah mendesak lawannya. Namun nampaknya lawannya kurang cermat mengendalikan kudanya, sehingga tiba-tiba saja kudanya telah tergelincir dan jatuh terguling ke dalam parit.

Malang bagi prajurit itu. Di luar kuasanya mengendalikan diri, ternyata senjatanya telah melukainya sendiri. Lambungnya telah dikoyak tajam senjatanya sendiri.

Karena itu, ketika kudanya berusaha untuk bangun, justru prajurit itu dengan susah payah berusaha untuk bangkit. Tetapi Juwiring terkejut ketika melihat darah mengalir dari tubuh lawannya. Barulah Juwiring sadar, bahwa lawannya telah terluka karena senjatanya sendiri.

Yang masih memberikan perlawanan adalah lawan Buntal. Seorang yang bertubuh tinggi tegap berjambang panjang, tetapi ia tidak akan berdaya jika Juwiring pun ikut pula melawannya.

Karena itu, maka Juwiring yang masih duduk di punggung kudanya berkata, “Sudahlah. Menyerah sajalah. Tidak ada gunanya kau melawan. Kamipun sebenarnya tidak ingin melawan prajurit Surakarta. Jika kami terpaksa melakukannya, maka kami hanya sekedar menghindar. Mungkin kalian akan menangkap kami, karena kami adalah orang-orang dari padepokan di daerah Utara”

“Padepokan Rasa Tunggal” desis Buntal menyambung.

Lawan Buntal yang terluka di pinggir jalan yang mendengar jawaban itu menjadi heran. Yang diucapkan itu berbeda dengan pendengarannya terdahulu. Karena itu. tiba-tiba saja ia ingin meyakinkan. Betapa sakit mencengkam dadanya, namun ia masih bertanya, “Padepokan Rasa Tunggal atau Raga Tunggal?”

Buntal tergagap. Namun kemudian dijawabnya, “Raga Tunggal. Bukankah aku mengatakannya sejak semula Raga Tunggal? Nah, jika kalian ingin memburu kami pergilah ke padepokan Raga Tunggal”

Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu termangu-mangu. ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa tiga orang kawannya sudah tidak berdaya.

Meskipun demikian, ia masih bertanya, “Jika aku menyerah, apa yang akan kau lakukan?”

Sebagaimana pesan yang selalu didengar dari para pemimpin pasukan Pangeran Mangkubumi, maka Juwiring pun menjawab, “Aku tidak akan berbuat-apa-apa. Tetapi jangan berusaha menangkap kami”

Prajurit itu menjadi heran. Tetapi nampaknya kedua anak muda itu bersungguh-sungguh, karena Buntal pun berkata, “Jika kami ingin membunuh, kami sudah membunuh. Karena itu, jika kau memang masih ingin hidup, menyerah sajalah. Tetapi dengan syarat”

“Apa?” bertanya prajurit itu.

“Aku ambil kudamu, karena kudaku telah hilang” jawab Buntal.

Prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu memang merasa, bahwa anak-anak muda itu sengaja menyinggung perasaannya dengan sikapnya. Tetapi ia tidak mempunyai pilihan lain, karena sebenarnyalah bahwa ia masih belum ingin mati.

Karena itu, maka para prajurit itu pun menyatakan tidak akan menangkap mereka dan memberikan kuda yang diminta oleh Buntal.

Sejenak kemudian, maka kedua anak muda itu pun telah meninggalkan medan. Namun Buntal mendapat seekor kuda tidak setegar kudanya sendiri.

Tetapi tiba-tiba saja bagaikan bersorak ia berkata, “He, lihat”

Ketika mereka berpacu sampai batas pategalan mereka melihat seekor kuda yang sedang dengan tenang makan rerumputan di pinggir jalan.

“Itu kudaku” desis Buntal.

“Kuda itu nampaknya masih menunggumu” sahut Juwiring.

Karena itu maka Buntal pun telah berganti kuda. Sementara itu kuda yang dipinjamnya itu pun dihadapkannya kearah pemiliknya. Kemudian dengan satu lecutan kuda itu berderap berlari tanpa penunggang.

Sementara itu, prajurit yang bertubuh tinggi tegap itu telah mengumpulkan kawan-kawannya yang terluka. Yang tinggal di tempat itu hanyalah dua ekor kuda. Karena itu. maka agar mereka tidak terlalu lama, diusahakannya agar setiap ekor kuda dapat membawa dua orang bersama-sama.

Tetapi mereka pun terkejut ketika mereka mendengar derap seekor kuda berlari kearah mereka. Ternyata kuda itu adalah kuda yang dipinjam oleh anak-anak muda yang mengaku dari padepokan Raga Tunggal.

“Siapakah sebenarnya mereka?” bertanya orang bertubuh tegap itu seolah-olah kepada diri sendiri.

Hampir di luar sadarnya, orang yang berkulit kehitam-hitaman, yang terluka di dada menyahut, “Mungkin mereka adalah para pengikut Pangeran Mangkubumi”

“Tandanya?” bertanya kawannya yang terluka oleh senjata sendiri.

“Mereka tidak membunuh kita” jawab arang yang berkulit kehitam-hitaman, “Aku merasa, bahwa anak muda itu sengaja membiarkan aku hidup, justru karena ia menggeser tikaman senjatanya”

Para prajurit itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian orang yang bertubuh tegap itu berkata, “Cepat, sebelum luka kalian itu menuntut lebih banyak lagi dari kalian”

Demikianlah maka dengan kuda yang ada, para prajurit itu kembali ke Jatimalang. Dengan pakaian yang di kotori oleh darah mereka sendiri, maka prajurit itu bagaikan merangkak kembali kepada kawan-kawannya.

Kedatangan, mereka telah mengejutkan. Seorang Senapati muda langsung bertanya, “Apakah kau bertemu dengan para pengikut Pangeran Mangkubumi?”

Orang yang berkulit kehitam-hitaman itulah yang dengan serta merta menjawab, “Tidak Senapati. Kami bertemu dengan sekawanan perampok yang justru mempergunakan kesempatan pada saat-saat seperti ini”

“Perampok? Dan kalian tidak dapat menangkap mereka?” bertanya Senapati itu, “Menurut laporan yang aku dengar, mereka hanya berdua saja”

“Ya. Ketika kami melihat dari padukuhan sebelah, mereka memang hanya berdua. Kami mengejarnya berempat Tetapi ternyata ada tiga orang kawannya telah menunggu di ujung bulak sebelah. Selagi kami berempat bertempur melawan lima orang perampok, telah datang lagi dari arah yang berbeda, seorang yang ternyata adalah pemimpinnya”

“Enam orang perampok. Dan kalian adalah prajurit. Surakarta” geram Senapati itu.

“Ya. Kami berhasil bertahan. Mereka telah melarikan diri dengan membawa beberapa orang terluka. Tetapi kami sudah terlalu lemah, sehingga kami tidak akan mungkin mengejarnya lagi” jawab orang berkulit kehitam-hitaman itu.

Senapati itu agaknya kurang mempercayai keterangan itu. Dipandanginya wajah-wajah pucat dari ketiga orang lainnya. Namun orang bertubuh tegap itu pun mengangguk sambil menjawab, “Kami tidak mendapat kesempatan terlalu banyak. Para perampok itu ternyata memiliki kemampuan yang cukup untuk melawan kami selain jumlah mereka yang lebih banyak. Karena itu kami tidak dapat menangkap seorang pun di antara mereka, meskipun kami dapat melukai beberapa orang. Mungkin membunuhnya, karena mereka sempat dibawa oleh kawan-kawannya”

“Bodoh sekali” geram Senapati itu, “musnahkan mereka. Perampok-perampok memang berusaha untuk memanfaatkan keadaan”

Keempat orang itu tidak menjawab Namun Senapati itu pun kemudian berkata, “Obati lukamu”

Para prajurit yang terluka itu pun kemudian telah pergi ke belakang barak mereka untuk menemui tabib pasukan yang segera mengobatinya.

Dalam pada itu Raden Juwiring dan Buntal telah berpacu semakin cepat. Perkelahian itu telah merampas waktu mereka cukup panjang. Sehingga karena itu, maka mereka harus berpacu lebih cepat lagi, agar mereka tidak terlalu lama mencapai daerah pertahanan Pangeran Mangkubumi untuk memberikan surat jawaban Raden Mas Said yang sudah mereka mengerti isinya.

Namun dalam pada itu, perjalanan Arum ketika ia kembali itu pun tidak selancar ketika ia berangkat. Ketika ia sampai di bulak panjang yang sepi, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan dua orang berwajah kasar. Seorang masih muda sedangkan yang lain mendekati pertengahan abad.

Semula Arum tidak menghiraukan mereka. Jarak yang ditempuh sudah menjadi tidak terlalu panjang lagi. Sebentar lagi ia akan memasuki daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi.

Namun ternyata kedua orang itu telah menghentikannya. Anak muda itu berdiri di tengah jalan sambil bertolak pinggang, sementara orang yang separo baya itu berdiri termangu-mangu di pinggir jalan.

Arum menjadi berdebar-debar. Menilik bahwa kedua orang itu bersenjata, maka agaknya keduanya adalah bagian dari satu pasukan. Tetapi pasukan yang mana.

Arum mengenal kalimat-kalimat sandi apabila diperlukan. Karena itu apabila keduanya adalah orang-orang dari pasukan Pangeran Mangkubumi maka keduanya tidak akan berbahaya baginya.

Tetapi ternyata bahwa jantung Arum pun berdebar semakin cepat. Nampaknya keduanya memiliki sifat yang agak berbeda dari para pengikut Pangeran Mangkubumi. Karena itu, maka Arum pun menjadi semakin berhati-hati ketika ia mendekati kedua orang yang nampaknya sengaja menunggunya.

“Jika keduanya orang-orang yang dipasang kumpeni, aku akan menjadi sangat bingung. Jika aku melawan, maka ia akan dapat melihat bahwa aku memiliki kemampuan serba sedikit. Jika pada suatu saat aku bertemu lagi dengan mereka di kota apabila aku menghadapi Raden Galihwarit, maka mereka akan dapat berbahaya bagiku” berkata Arum di dalam hatinya.

Kedua orang itu tidak menegornya sampai Arum berada beberapa langkah saja di hadapan anak muda yang berdiri di tengah jalan itu. Tetapi ketika Arum melangkah menepi, barulah anak muda itu beringsut. Sambil tersenyum ia bertanya, “He, anak manis. Dari mana, he?”

Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian sambil melangkah surut ia menjawab, “Dari kota, Ki Sanak”

“Ada apa ke kota? Apakah kau mempunyai sanak kadang di kota? Bukankah di kota suasananya sedang kisruh setelah kumpeni ada di Surakarta ” desis anak muda itu.

“Tidak Ki Sanak, di kota tidak ada apa-apa. Aku berjualan jamu dan mangir serta lulur untuk perempuan-perempuan kota” jawab Arum.

“O, begitu” jawab anak muda itu, “agaknya karena itu maka kau cantik. He, apakah daganganmu itu laku?”

“Sebagian” jawab Arum.

Dalam pada itu, orang yang separo baya itu pun berdesis, “Ambil saja uangnya. Jangan terlalu lama”

Arum mengerutkan keningnya. Atas sikap, itu, ia sudah dapat menduga, bahwa keduanya tentu bukan para pengikut Pangeran Mangkubumi. Atau seandainya keduanya pengikut Pangeran Mangkubumi juga, maka keduanya sudah menyalahi paugeran bagi pasukan Pangeran Mangkubumi.

Anak muda yang berdiri di tengah jalan itu pun berdesis, “Tidak hanya uangnya paman, tetapi gadis, eh, perempuan ini terlalu cantik, apakah ia gadis atau bersuami atau janda muda”

Wajah Arum menjadi tegang.

“Kau sudah kambuh” desis orang yang separo baya. Tetapi anak muda itu tertawa. Katanya, “Paman jangan berpura-pura. Jika aku bawa gadis ini, pamanlah yang akan lebih senang dari aku sendiri, karena paman memerlukannya lebih banyak”

Laki-laki separo baya itu mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Ambil uangnya. Kita segera pergi”

“Paman agaknya menjadi cemas, bahwa daerah ini menjadi daerah pengamatan pasukan Pangeran Mangkubumi. Jangan takut paman. Bulak ini terlalu panjang, sepi dan jarang dilalui orang. Jika perempuan ini berteriak, tidak akan ada seorang pun yang mendengar, di sawah di sekitar tempat ini, aku tidak melihat seorang pun yang sedang bekerja. Sementara jika pasukan Pangeran Mangkubumi nganglang lewat bulak ini, jauh-jauh kita sudah melihatnya” jawab anak muda itu.

“Anak setan” geram orang tua itu, “jika kau ingin berbuat sesuatu, lakukanlah. Aku hanya memerlukan uangnya. Bukankah ia baru saja menjual jamu, mangir dan lulur? He, perempuan yang malang, berikan uangmu. Aku hanya memerlukan uangmu”

Arum menjadi semakin tegang, ia tidak mendapat uang. Ia hanya membawa bekal seperlunya di perjalanan. Apalagi jika ia memperhatikan anak muda yang berdiri di tengah jalan itu. Hatinya menjadi berdebar-debar.

Tetapi dengan demikian Arum pun mengetahui, bahwa orang itu bukan kaki tangan kumpeni. Juga bukan orang-orang dari pasukan yang manapun juga. Kesimpulan Arum orang-orang itu adalah perampok atau penyamun yang mengambil kesempatan justru pada saat yang sedang gawat.

“Berikan uangmu, anak manis” desis anak muda itu, “dan berikan apa saja yang aku kehendaki”

Wajah Arum menjadi merah. Tetapi ia sudah dapat mengambil sikap tegas. Orang-orang itu harus dilawannya. Meskipun Arum belum mengetahui tataran kemampuannya, namun Arum tidak akan menyerahkan apapun yang diminta, oleh orang-orang itu. Sejenak Arum mengamati senjata orang-orang itu. Keduanya membawa parang yang tidak terlalu panjang, tetapi nampaknya besar dan berat. Sementara Arum sendiri tidak membawa senjata panjang, ia hanya menyembunyikan beberapa senjata pendek di bawah setagennya. Pisau-pisau belati kecil yang akan dapat membantunya jika terpaksa.

“Jangan mencoba menentang kehendak kami” berkata anak muda itu, “bulak ini terlampau panjang. Meskipun kau berteriak, suaramu akan hilang ditelan luasnya bulak ini, sementara seperti yang kau lihat, tidak ada seorang pun yang bekerja di sawahnya di saat seperti ini”

Arum mengumpat di dalam hati. Hambatan itu justru datang dari orang-orang gila seperti itu. Bukan dari prajurit Surakarta, dan bukan pula dari Kumpeni.

“Tetapi aku dapat bertindak tegas menghadapi mereka” berkata Arum di dalam hatinya.

Sementara itu, orang yang sudah separo baya itu berkata kepada kawannya dengan lantang, “Jika kau menjadi gila melihat gadis itu, terserah. Tetapi aku akan mengambil uangnya dan pergi. Lakukan apa yang kau lakukan seterusnya tanpa menghiraukan aku lagi”

Anak muda itu tertawa. Katanya, “Sejak kapan kau menjadi demikian lembut hati”

“Daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi. Setiap saat orang-orangnya dapat saja muncul di bulak ini. Dan kata tidak akan mendapat kesempatan untuk lolos”

“Baiklah” berkata anak muda itu, “jika kau pergi, pergilah. Aku akan mengambil apa saja yang dapat aku ambil dari perempuan ini. Termasuk uangnya. Katakan, dimana kau akan menunggu aku”

Kawannya menggeram. Namun katanya, “Aku akan membawa uangnya lebih dahulu” Ia berhenti sejenak, lalu katanya kepada Arum, “He, anak malang. Berikan uang itu kepadaku. Kau tentu mendapat uang dari perempuan-perempuan yang sudah bersolek dengan mangir, lulur dan memelihara kemudaan mereka dengan reramuan jamu”

“Aku tidak membawa uang” jawab Arum, “Aku hanya menyerahkan barang-barang itu. Semuanya adalah urusan ibuku. Uangnya pun akan diterima oleh ibuku kelak”

“Jangan begitu” desis orang yang separo baya itu, “aku sudah berusaha untuk menghindarkan diri dari tindakan-tindakan yang lebih gawat bagimu. Karena itu, serahkan saja uangmu. Kemudian aku akan pergi”

“Aku tidak mempunyai uang. Aku tidak bohong” jawab Arum.

Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Sementara anak muda itu tertawa, “Percayalah. Perempuan ini tidak mudah menyerahkan uangnya. Karena itu, jangan terlalu berbaik hati”

“Nampaknya perempuan ini memang keras kepala” sahut yang lain, “Apakah kau ingin kami berdua menyeretmu keluar dari daerah ini? di sebelah padesan itu terdapat sebuah sungai. Menelusuri sungai itu, kami akan dapat sampai ke sarang kami. Apakah kau ingin mengikuti kami?”

Wajah Arum terasa bagaikan tersentuh bara. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Baiklah. Aku akan datang ke sarangmu kelak bersama Ki Jagabaya dari padukuhan ini. Kau akan diseret dan di pertontonkan kepada seluruh penghuni Kademangan ini”

“He” wajah kedua orang itu menegang. Sementara itu, anak muda itu pun menyahut, “Jangan lancang berbicara dengan aku. Aku dapat berbuat apa saja. Halus, kasar dan barangkali akan dapat membuat kau menyesal seumur hidupmu”

Arum pun menjadi semakin marah pula. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Jangan mengancam dan menakut-nakuti aku. Ingat, daerah ini adalah daerah pengawasan pasukan Pangeran Mangkubumi seperti yang kau katakan sendiri. Setiap saat, pasukan peronda akan lewat. Sementara menunggu mereka, aku akan melawan kalian berdua”

Kata-kata itu benar-benar membingungkan kedua orang itu. sehingga untuk sejenak, keduanya justru berdiam diri sambil berpandangan.

“Ki Sanak” berkata Arum kemudian, “Aku masih memberi kesempatan kalian untuk menyingkir dari jalan ini sebelum pasukan peronda Pangeran Mangkubumi lewat dan menyeret kalian ke daerah pertahanannya untuk diadili”

Wajah anak muda itu pun masih nampak tegang. Namun kemudian ia tertawa sambil berkata, “Luar biasa. Kau adalah perempuan yang luar biasa. Kau tidak menjadi gemetar melihat kami dan rencana kami, bagaimana kami akan memperlakukan kau. Justru kau masih sempat berusaha untuk membebaskan dirimu dengan menggertak kami”

“Aku tidak menggertak. Aku akan melakukannya” desis Arum sambil melepaskan keba yang didukungnya dengan selendang di lambungnya, “Bagaimanapun juga, aku wajib melawan kalian, Cacing pun akan menggeliat jika terinjak kaki. Apalagi aku”

Sikap Arum benar-benar mengherankan kedua orang itu. Namun anak muda itu berkata, “Sikapmu semakin menarik anak manis. Perempuan yang demikian adalah perempuan yang sangat menarik perhatianku”

Namun anak muda itu terkejut bukan buatan. Sebelum ia sempat tertawa lagi, tiba-tiba terasa wajahnya bagaikan dibakar dengan api.

Ternyata Arum yang sudah melepaskan keba pandannya itu, telah meloncat pendek, mendekati anak muda itu dan langsung menampar pipinya. Demikian kerasnya, sehingga terasa pipi anak muda itu bagaikan terbakar. Sementara itu ketika ia meludah, ternyata giginya telah berdarah.

Yang dilakukan Arum itu memang sangat mengejutkan. Namun sekaligus Arum dapat menjajagi serba sedikit, kekuatan dan daya tahan lawannya. Ternyata anak muda itu tidak sempat mengelak, meskipun Arum pun sadar, bahwa hal itu disebabkan karena anak muda itu lengah dan tidak menduga sama sekai, bahwa hal itu akan terjadi

Namun dalam pada itu, apa yang dilakukan Arum itu benar-benar menggetarkan hati. Keduanya pun menyadari, bahwa ternyata perempuan yang mengaku penjual reramuan jamu, mangir dan luhur itu bukannya perempuan kebanyakan.

Karena itu, maka keduanya pun bergeser surut. Dengan suara lantang anak muda itu berkata, “Perempuan ini agaknya perempuan gila. Baiklah, kau akan menyesal karena kau sudah menghina kami. Kami dapat membuat kau malu dan menyesal sepanjang hidupmu. Tetapi kami pun dapat membunuhmu dan membiarkan mayatmu terkapar di jalan bulak ini”

“Kau kira aku menjadi gemetar mendengar ancamanmu itu?” jawab Arum, “Marilah. Aku terpaksa melakukannya untuk mempertahankan diri dan sedikit memberi peringatan kepada perampok dan penyamun yang memanfaatkan keadaan yang gawat ini”

Kedua orang berwajah kasar itu termangu-mangu. Namun anak muda itu pun berkata, “Baik. Kau memang sangat menarik anak manis. Kau menjadi semakin menarik bagiku”

Anak muda itu pun tiba-tiba saja telah bersiap. Sementara kawannya pun telah bergeser. Dengan suara berat ia berkata, “Kau sudah menyakiti hati kami”

Arum tidak melihat kemungkinan lain daripada berkelahi melawan kedua orang itu. Tetapi karena ia tidak memakai pakaian khususnya, maka rasa-rasanya memang agak canggung juga baginya. Namun demikian ia terpaksa menyingsingkan bukan saja lengan bajunya, tetapi juga kain panjangnya.

“Anak gila” geram anak muda yang mencegatnya.

Arum tidak menghiraukannya, ia tidak ingin mengalami bencana yang gawat menghadapi kedua orang itu. Karena itu, maka ia tidak menghiraukan apa saja yang dikatakan oleh kedua orang lawannya.

Ternyata kedua orang laki-laki berwajah kasar itu masih juga menganggap bahwa Arum adalah seorang perempuan yang meskipun memiliki kelebihan, tetapi tidak akan mengejutkan mereka. Sehingga karena itu, maka keduanya tidak segera mencabut senjatanya.

“Perempuan yang banyak tingkah” geram anak muda itu, “aku masih dapat bersabar saat ini. Tetapi jika kau keras kepala, maka kau akan mengalami perlakuan yang sangat buruk. Kami akan menyeretmu ke sarang kami. Dan kau akan dapat membayang-kan, apa yang dapat terjadi dengan beberapa orang kawan-kawanku jika mereka melihatmu”

Arum tidak menjawab. Tetapi ia sudah siap menghadapi segala kemungkinan.

“Nampaknya anak ini memang keras kepala” desis orang yang sudah separo baya, “Baiklah. Aku akan merampas uangnya. Dan aku kira karena kekerasan hatinya, ia wajib mendapat hukuman di sarang kita nanti”

Arum masih tetap berdiam diri. Tetapi ia sudah benar-benar siap.

Dalam pada itu, anak muda yang menganggap Arum hanyalah seorang perempuan yang keras kepala, telah melangkah mendekat. Dijulurkannya tangannya untuk menjajagi kesigapan lawannya, Namun agaknya Arum mengerti, sehingga ia sama sekali tidak berbuat sesuatu karena ia tahu, tangan itu tidak akan sampai menyentuhnya.

Sikap Arum itu justru mendebarkan. Ternyata perempuan itu memiliki pengamatan yang tajam atas gerak lawannya. Karena itu, maka orang yang sudah separo baya itu bergerak lebih jauh lagi. Ia mulai menyerang, meskipun belum bersungguh-sungguh. Tetapi tangannya benar-benar telah mengarah kening.

Arum bergeser selangkah surut. Tetapi ia masih belum berbuat yang lain.

Ketenangan sikap Arum membuat kedua orang itu semakin bersungguh-sungguh menghadapinya. Ketika orang yang lebih tua itu menarik tangannya, maka anak muda itu pun tidak sabar lagi. Ia mulai dengan serangan yang sebenarnya.

Sambil meloncat maju tangannya terjulur kearah pundak Arum.

Arum menyadari, bahwa lawannya mulai menjadi marah dan bersungguh-sungguh. Karena itu, maka ia pun menjadi semakin berhati-hati. Ia dengan cermat mengelakkan serangan lawannya. Namun seperti yang diperhitungkannya, demikian ia bergeser, lawannya itu pun telah meloncat menyerang dengan kakinya mengarah lambung.

Tetapi Arum pun telah siap menghadapinya. Ia pun telah bertekad untuk melawan dengan bersungguh-sungguh. Bahkan Arum pun sadar, bahwa pada saatnya kedua orang itu tentu akan mempergunakan senjatanya apabila mereka terdesak.

Namun demikian Arum harus tetap berhati-hati, karena ia belum tahu tingkat kemampuan lawannya yang sebenarnya.

Dengan tangkas Arum pun meloncat menghindar. Tetapi ternyata bahwa kawannya yang lebih tua itu, tidak membiarkan gadis itu melepaskan diri. Karena itu, dengan serta merta ia pun telah menyerang juga.

Barulah keduanya menyadari, bahwa perempuan itu benar-benar tangkas. Ia mampu bergerak lebih cepat dari kedua orang itu. Kedua orang yang merasa dirinya sudah kenyang makan garam petualangan dalam benturan-benturan ilmu dan kekuatan.

Karena itu, maka orang yang lebih tua itu pun bergumam, “Ternyata perempuan ini merasa mempunyai bekal ilmu untuk melawan kita berdua. Itulah agaknya ia dengan sengaja menentang setiap keinginan kita. Mungkin dengan sengaja pula ia ingin menunjukkan kemampuannya”

“Tidak” jawab Arum, “Kau memaksa aku untuk mempergunakan ilmu kanuragan. Tetapi bahwa sikapmu telah menunjukkan siapakah kalian, maka telah timbul pula keinginanku untuk menangkap kalian”

“Huh. perempuan sombong” geram anak muda itu, “Kau kira kau dapat melakukannya. Kaulah yang akan menyesal”

Arum tidak menjawab. Tetapi ketika ia bergeser, tiba-tiba saja anak muda itu telah menyerangnya sekali lagi. la ingin bergerak cepat, sebelum Arum siap sepenuhnya. Dengan ayunan yang keras ia memukul kening Arum dengan sisi telapak tangannya.

Namun Arum mengelak. Bahkan dengan tangkas ia pun mulai menyerang. Tetapi karena ia tidak memakai pakaian khususnya, maka Arum tidak menyerang dengan kakinya. Sambil meloncat dan membungkukkan badannya Arum telah menyerang lambung.

Meskipun serangan Arum kurang mapan, tetapi kecepatannya bergerak telah memungkinkan tangannya mengenai lawannya. Arum sengaja menyerang dengan ujung-ujung jarinya yang terbuka dan merapat.

Perasaan sakit telah menyengat lambung anak muda itu. Sambil menyeringai dan mengumpat ia meloncat surut. Arum yang sudah siap untuk memburunya, ternyata harus mengurungkan niatnya karena orang yang lebih tua itu telah berusaha untuk melindungi kawannya. Dengan cepat orang itu menyerang Arum dengan kakinya langsung mengarah perut.

Arum bergeser selangkah. Ketika kaki lawannya gagal menggapai perutnya, maka dengan tangannya Arum memukul kaki itu menyamping.

Ternyata kekuatan Arum sama sekali tidak diduga oleh lawannya yang lebih tua itu. Pukulan pada kakinya telah mendorongnya dalam satu putaran. Hampir saja ia terjatuh, karena keseimbangannya yang goyah oleh putaran itu. Namun dengan susah payah ia berhasil menguasai keseimbangan kembali, sementara kawannya yang sudah berhasil menguasai dirinya itu pun telah berusaha untuk menolongnya pula dengan serangan yang cepat.

Namun betapapun juga, ternyata Arum mampu bergerak lebih cepat. Meskipun ia harus bertempur melawan dua orang, tetapi ia masih mampu membuat kedua lawannya itu menjadi bingung. Sementara lawannya hanya bertumpu pada kekuatan dan kekasarannya, Arum telah bertempur dengan dasar-dasar kemampuan, ilmu dan kecepatan gerak.

Meskipun demikian perkelahian itu semakin lama menjadi semakin seru. Kedua orang yang mencegat Arum itu nampak menjadi semakin kasar. Mereka tidak lagi berusaha untuk bertindak lebih baik menghadapi seorang perempuan, Justru karena perempuan itu ternyata memiliki kemampuan untuk melawan mereka, maka mereka merasa tersinggung karenanya. Mereka bukan saja sekedar ingin merampas uang atau apa saja dari perempuan itu, tetapi harga diri mereka benar-benar telah direndahkan.

Karena itu, maka keduanya pun berusaha untuk bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Keduanya telah bertempur berpasangan dengan sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa keduanya tidak segera dapat menguasai perempuan itu hanya seorang diri.

Dalam pada itu, kedua orang itu tidak dapat bersabar lagi. Kemarahan dan harga diri mereka tidak lagi dapat dikendalikan. Meskipun keduanya semula ragu-ragu, apakah dua orang laki-laki yang berkelahi melawan seorang perempuan harus menarik senjata mereka.

Tetapi mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Keduanya tidak segera dapat mengalahkan perempuan itu. Karena itu, maka mereka tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Dengan senjata. mereka temu akan segera menguasainya. Bahkan jika perlu, kematian perempuan itu tidak akan membebani perasaan mereka, karena keduanya sudah terbiasa membunuh siapa saja yang tidak menuruti kemauan mereka tanpa menganut satu paugeran pun.

Dalam pada itu, Arum telah melihat gelagat itu. Karena itu ia harus berpikir untuk mengatasinya. Jika keduanya bersenjata, maka ia tentu akan mengalami kesulitan. Bagaimanapun juga, dua orang itu sudah terbiasa bermain dengan senjata.

Dengan demikian, maka Arum harus bertindak lebih cepat. Ia sadar, bahwa ia akan menghadapi kesulitan dengan senjata-senjata itu.

Namun Arum tidak kehabisan akal. Sesaat sebelum keduanya menarik senjatanya, Arum telah menyerang mereka dengan garangnya. Bagaikan angin pusaran ia berputar, meloncat dan menyerang dari arah yang tidak terduga. Dalam keadaan yang demikian Arum telah melupakan pakaiannya. Meskipun ia tidak berpakaian khusus Tetapi pertimbangan-pertimbangan lain telah mendorongnya untuk bertempur lebih garang.

Kedua lawannya terkejut melibat perubahan sikap gadis itu. Bahkan anak muda yang mencegatnya itu, tidak sempat mengelak ketika Arum menghantam lambungnya dengan kakinya. Demikian ia menarik kakinya, sambil berputar ia telah menyerang lawannya yang lain dengan tangan yang terjulur lurus kearah dada.

Arum memang memancing kekisruhan di saat keduanya berusaha untuk memperbaiki kedudukan mereka, sehingga kerja sama mereka dapat disusun kembali, maka Arum tiba-tiba saja telah melibat anak muda itu dalam perkelahian jarak pendek. Jangkauan tangan Arum telah menangkap pergelangan tangan anak muda itu dan memilinnya.

Yang terjadi itu demikian cepatnya, sehingga anak muda itu tidak sempat berbuat sesuatu. Apalagi ketika tiba-tiba Arum telah menghantam punggungnya dengan lutut, dan dengan serta merta mendorong anak muda itu sehingga jatuh tertelungkup.

Adalah di luar perhitungan mereka bahwa semuanya itu dapat terjadi begitu cepat. Anak muda itu baru menyadari, apakah yang telah terjadi, ketika tiba-tiba saja terasa wajahnya mencium debu.

Ternyata tangan perempuan itu tidak selembut yang diduganya ketika ia melihat Arum berjalan mendekatinya dari arah kota. Anak muda itu mengira, bahwa perempuan itu adalah sebagaimana kebanyakan perempuan cantik, berkulit lembut dan berhati lemah. Tetapi ternyata perempuan yang seorang ini, agak berbeda dengan perempuan kebanyakan.

Dalam pada itu, kawannya yang melihat sikap Arum, tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja di tangannya telah tergenggam senjatanya tanpa memikirkan harga dirinya lagi, meskipun yang dilawannya hanya seorang perempuan.

Namun orang itu pun terkejut bukan kepalang. Selagi ia sudah siap untuk menyerang, juga dalam usahanya menyelamatkan kawannya yang sedang berusaha untuk bangkit, dilihatnya perempuan itu pun telah memegang senjata pula di tangannya.

Baru kedua orang itu sadar, bahwa dalam pergulatan berjarak pendek antara anak muda itu dengan Arum, maka Arum telah berhasil menarik senjata anak muda itu di luar sadar pemiliknya.

Dengan demikian, wajah kedua orang laki-laki kasar itu menjadi semakin tegang. Ketika anak muda itu berhasil berdiri dan menguasai keseimbangannya, ia pun menjadi bingung karena senjatanya sudah terlepas dari sarungnya.

“Licik” geram anak muda itu, “kau curi senjataku”

“Sudah adil” jawab Arum, “Kalian membawa sebilah senjata, aku pun membawanya. Aku tidak menghitung jumlah orangnya”

“Persetan” geram anak muda yang marah itu, “kembalikan senjataku”

“Jangan merengek seperti kanak-kanak kehilangan mainan. Yang sedang kita pertaruhkan sekarang adalah nyawa kita masing-masing” jawab Arum.

Kedua laki-laki itu menggeram. Tetapi mereka tidak dapat memaksa Arum menyerahkan senjatanya.

Namun dalam pada itu, laki-laki muda yang sudah tidak berpedang itu pun telah mengurai ikat pinggangnya. Sambil mengikatkan kain panjangnya pada pinggangnya, ia berkata, “Ikat pinggangku tidak kalah nilainya dengan parang itu. Jika kau tersentuh ikat pinggangku, maka kulitmu pun tentu akan terkelupas”

“Terserahlah” jawab Arum, “Tetapi agaknya aku lebih senang mempergunakan senjatamu”

Orang yang lebih tua itu tidak sabar lagi. Ia pun segera menggerakkan parangnya yang terjulur mendatar. Sekali-sekali ia bergeser, sementara ujung pedangnya masih tetap mengarah ke dada Arum.

Arum masih sempat mengelak dengan sebuah loncatan pendek. Namun dalam pada itu, lawannya yang muda telah meloncat sambil mengayunkan ikat pinggang kulitnya yang tebal.

Hampir saja ujung ikat pinggang itu menyambar Wajahnya. Untunglah bahwa Arum masih sempat mengelak. Dengan memiringkan kepalanya ia dapat membebaskan diri dari sambaran ujung ikat pinggang yang memang akan dapat mengoyakkan kulit di wajahnya.

“Kurang sedikit” geram anak muda itu, “jika kulit pipimu tersentuh, maka hilanglah kecantikanmu”

Arum tidak menanggapinya. Ia sudah bersiap dengan parangnya, meskipun parang itu agak terlalu berat dibandingkan dengan pedangnya sendiri.

Dalam pada itu, maka kedua orang lawannya itu pun telah berpencar. Nampaknya mereka menjadi semakin cermat menghadapi perempuan yang garang itu. Keduanya telah memilih arah dan keduanya berusaha untuk saling mengisi dalam serangan-serangan berikutnya.

Tetapi Arum tidak sekedar membiarkan dirinya terperangkap ke dalam serangan-serangan lawan yang dapat bekerja bersama dengan baik. Tetapi ternyata bahwa ia pun dapat menentukan jalannya perkelahian itu.

Karena itulah, maka justru Arum lah yang telah menyerang lebih dahulu. Ia memutar parangnya. Namun kemudian parangnya itu telah mematuk anak muda yang bersenjata ikat pinggangnya.

Anak muda itu terpaksa meloncat mengelak, karena senjata, tidak dapat dipergunakannya untuk menangkisnya. Namun sambil mengelak, anak muda itu telah siap mengayunkan senjatanya jika Arum memburunya. Bahkan dalam pada itu, kawannya yang lebih tua itu pun telah memburu Arum untuk mencegah Arum bertindak lebih jauh atas anak muda yang terdorong surut itu.

Tetapi adalah tidak terduga-duga, bahwa Arum justru menyongsong lawannya yang tua. Dengan tangkas Arum memukul senjata lawannya ke samping, kemudian dengan satu putaran maka senjata Arum justru telah mengarah ke dada lawannya.

Lawannya, menjadi bingung, sementara senjatanya terpukul ke samping, dalam sekejap senjata lawannya telah memburunya.

Yang dapat dilakukan adalah berusaha untuk mengelak. Tetapi ketika Ia memiringkan tubuhnya, maka ujung parang Arum telah menyentuh pundaknya.

“Gila. Kau benar-benar betina liar dan buas” geram lawannya yang tua.

“Jangan mengumpat-umpat begitu kasar” sahut Arum. Lalu, “Kita akan bertempur dengan senjata. Bukan sekedar mengumpat dan mencaci maki”

“Persetan” geram lawannya yang tua, yang kemudian telah mengacukan senjatanya pula.

Sementara perhatian Arum tertuju kepada lawannya yang tua, maka yang muda itu pun telah dengan diam-diam meloncat menyerang leher Arum dengan ikat pinggangnya. Demikian kerasnya sehingga terdengar desir angin yang bersuit nyaring.

Namun sekali lagi serangan itu gagal. Ternyata Arum masih sempat mengelak. Sambil berputar dan merendah. Arum mengayunkan senjatanya mendatar, justru pada saat tangan anak muda itu terayun.

Yang terdengar adalah pekik kesakitan. Senjata Arum telah menyentuh sisi dada anak muda itu, sehingga dagingnya telah terkoyak karenanya.

Luka itu tidak terlalu dalam, seperti luka lawannya yang tua. Namun bahwa keduanya telah terluka, maka keduanya pun menjadi semakin gelisah. Betapapun juga luka itu terasa nyeri, sementara darah pun mengalir menghangati kulitnya.

Melihat kedua lawannya menjadi gelisah, Arum menjadi semakin garang. Ia mendesak kedua lawannya, sehingga keduanya hanya dapat meloncat-loncat menghindari serangan Arum yang menjadi semakin cepat.

Dalam pada itu, selagi kedua orang perampok itu kebingungan, terdengar derap kaki kuda di kejauhan. Ketika mereka yang bertempur itu berkesempatan berpaling sejenak, mereka melihat di kejauhan dua orang penunggang kuda memacu kudanya seperti angin.

Kedua perampok itu menjadi semakin gelisah. Mereka tidak tahu, siapakah yang berpacu itu. Namun tentu bukan kawan-kawan mereka. Karena itu, maka mereka harus segera mengambil sikap. Untuk melawan seorang perempuan pun ternyata mereka tidak mampu. Apalagi jika ternyata kedua orang itu adalah pengikut Pangeran Mangkubumi atau prajurit Surakarta yang tidak akan membenarkan tingkah laku mereka pula.

Dengan demikian, maka orang yang lebih tua itu pun segera memberikan isyarat untuk melarikan diri selagi luka mereka masih belum membuat mereka menjadi lumpuh.

Karena itu, maka dengan serta merta keduanya pun segera bergeser surut dan meloncat berlari meninggalkan Arum. Ada juga niat Arum untuk mengejar mereka. Tetapi ia tidak dapat bebas berlari, karena kain panjangnya. Sehingga dengan demikian, ia pun mengurungkan niatnya. Bahkan kemudian timbul pula kecemasannya atas dua orang berkuda itu.

“Aku harus berbohong” berkata Arum di dalam hatinya sambil membetulkan kain panjangnya dan melepaskan parangnya, “Aku harus mengatakan bahwa yang seorang telah mengganggu aku, sedangkan yang lain telah menolong aku. Ketika yang mengganggu aku lari, maka penolongku itu berusaha mengejarnya. Mudah-mudahan mereka tidak melihat jelas apa yang telah terjadi”

Arum pun kemudian mengambil kebanya yang diletakkan di saat ia harus menghadapi kedua orang itu dan membawanya dengan selendang di lambungnya.

Namun Arum justru bergeramang ketika kedua orang itu menjadi semakin dekat. Ternyata keduanya adalah Buntal dan Juwiring.

Sambil menarik kekang kudanya Juwiring bertanya, “Kau baru pulang dari kota Arum? Dan apakah yang telah terjadi?”

“Kalian juga baru pulang?” Arum bertanya pula.

“Ya. Kami baru pulang” jawab Juwiring.

“Kalian singgah dimana saja?” bertanya Arum pula.

“Kami tidak singgah dimanapun” jawab Buntal, kemudian, “Tetapi apa yang terjadi?”

“Tidak apa-apa” jawab Arum.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Hampir berbareng dengan Buntal, ia meloncat turun dari kudanya.

“Aku melihat dua orang yang berlari meninggalkan tempat ini” desis Juwiring.

“Tidak apa-apa. Mereka tidak apa-apa” jawab Arum. Buntal memungut parang yang basah oleh darah. Dengan nada dalam ia berkata, “Katakan Arum. Tentu sesuatu telah terjadi? Kenapa kau tidak mau menyebutnya”

“Kalian juga tidak mau mengatakan, dimana kalian singgah” gumam Arum.

“Kami tidak singgah di mana-mana” Juwiring lah yang menyahut.

Arum termenung sejenak. Ketika ia melihat Buntal menimang parang yang dipergunakannya, maka ia pun menjawab, “Dua orang penyamun. Mereka sangka, aku membawa uang, karena aku menjawab bahwa aku baru saja dari kota menjual jamu, mangir dan lulur bagi perempuan-perempuan kota”

“Parang siapa?” bertanya Buntal, “nampaknya parang ini telah melukai seseorang?”

“Aku yang mempergunakannya, aku pinjam salah seorang dari kedua penyamun itu” jawab Arum.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Arum telah melukai kedua atau salah seorang dari lawannya. Tetapi tidak terlalu parah, sehingga keduanya masih sempat melarikan diri.

Juwiring pun nampaknya mengerti juga. Karena itu, maka katanya, “Marilah kita kembali segera. Mungkin kita sudah ditunggu oleh Ki Wandawa. Barangkali kau ingin mempergunakan salah seekor kuda itu Arum. Biarlah aku dan Buntal memakai yang lain berdua”

“Tentu tidak mungkin. Aku berkain panjang Aku tidak terbiasa menunggang kuda dengan tubuh miring. Aku dapat jatuh terpelanting” jawab Arum. Kemudian, “Pergi sajalah dahulu. Aku akan berjalan kaki”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan berjalan kaki”

“Jika kalian tergesa-gesa, kenapa kalian tidak berkuda saja?” bertanya Arum.

“Tidak. Kami tidak tergesa-gesa” jawab Juwiring.

Arum tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian melangkah melanjutkan perjalanan diikuti oleh Juwiring dan Buntal. Namun dalam pada itu Buntal masih bertanya, “Kau tinggalkan saja parang itu di situ?”

“Apakah aku harus membawanya?” Arum ganti bertanya.

Buntal tidak menyahut lagi. Tetapi ia masih sempat melemparkan parang itu menepi.

Dengan demikian, maka mereka bertiga pun telah berjalan kembali ke daerah pertahanan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk melaporkan tugas masing-masing. Sementara itu, di sepanjang jalan Buntal pun masih sempat pula berceritera kepada Arum, bahwa pedangnya pun telah dibasahi oleh darah prajurit Surakarta yang mencurigai dan mengejarnya.

“Kau bunuh orang itu?” bertanya Arum.

“Tidak. Aku tidak membunuhnya” jawab Buntal, lalu, “kakang Juwiring pun tidak membunuh lawannya pula.

Demikianlah, meskipun agak lambat akhirnya mereka sampai ke barak mereka diantara pasukan Pangeran Mangkubumi. Setelah memberitahukan hasil perjalanannya kepada Kiai Danatirta, maka mereka pun minta diri untuk langsung menghadap Ki Wandawa.

“Syukurlah” berkata Ki Wandawa, “Kalian ternyata telah selamat sampai ke tempat ini. Agaknya perjalanan di daerah Surakarta saat ini menjadi semakin banyak hambatannya. Sementara Arum pun mengalami gangguan di perjalanan”

“Tetapi itu adalah suatu kebetulan saja Ki Wandawa” berkata Arum kemudian, “jalan itu biasanya sepi dan tidak dirambah oleh para penyamun, apalagi di siang hari. Nampaknya perjalananku kali ini mengalami nasib yang buruk, sehingga aku telah berjumpa dengan dua orang penyamun”

“Mungkin memang suatu kebetulan Arum. Tetapi mungkin kejahatan memang semakin meningkat dalam keadaan yang tidak menentu ini” berkata Ki Wandawa, “dan itu harus kau tangkap sebagai suatu isyarat, bahwa kalian harus berhati-hati menghadapi segala pihak”

Arum menundukkan kepalanya. Sementara Juwiring dan Buntal mengangguk-angguk kecil.

“Baiklah” berkata Ki Wandawa, “semua laporan kalian akan aku sampaikan kepada Pangeran Mangkubumi. Baik mengenai surat Raden Mas Said sebagai surat balasan Pangeran Mangkubumi, maupun keterangan Raden Ayu Galihwarit kepada Arum tentang kekuatan yang akan dipergunakan oleh kumpeni dan prajurit Surakarta untuk menggempur kekuatan Raden Mas Said”

“Kami menunggu perintah selanjutnya” berkata Raden Juwiring, “mungkin kami mendapat perintah untuk mengamati perang yang akan berkobar antara kumpeni dengan pasukan Raden Mas Said atau bagian dari pasukan Raden Mas Said yang akan menarik diri”

“Sebaiknya kalian menunggu” jawab Ki Wandawa, “jika ada perintah, maka kalian akan dipanggil menghadap”

Dengan bahan yang didapat dari Juwiring, Buntal dan Arum, maka Ki Wandawa pun segera menghadap. Setelah menyampaikan surat dari Raden Mas Said, maka Ki Wandawa pun melaporkan keterangan Raden Ayu Galihwarit yang disampaikan oleh Arum, tentang kekuatan yang sudah dipersiapkan untuk mengepung kekuatan Raden Mas Said.

“Jadi pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang akan digerakkan adalah kekuatan langsung dari kota” desis Pangeran Mangkubumi.

“Ya, Pangeran” jawab Ki Wandawa.

“Aku sudah mengira. Justru karena pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang berada di Jatimalang seolah-olah tidak mengalami perubahan. Tidak ada persiapan dan tidak ada penambahan pasukan” gumam Pangeran Mangkubumi kemu-dian. Lalu, “Jika demikian Ki Wandawa, kita harus menjajagi kekuatan kumpeni dan prajurit Surakarta di Jatimalang dengan cermat, agar kita dapat memperhitungkan langkah dengan tepat”

“Apakah Pangeran akan memukul Jatimalang pada saat kumpeni dan prajurit Surakarta mengepung pasukan Raden Mas Said?” bertanya Ki Wandawa.

“Aku kira, kita tidak akan bergerak langsung” jawab Pangeran Mangkubumi, “agaknya aku condong untuk mengambil langkah yang lebih bermanfaat daripada langsung memukul Jatimalang”

“Maksud Pangeran?” bertanya Ki Wandawa.

“Menurut suratnya, maka aku sudah dapat melepaskan pasukan Said untuk menghindar tanpa mencampurinya” berkata Pangeran Mangkubumi, “Aku yakin bahwa ia dapat bertindak dewasa. Karena itu, maka aku ingin memusatkan perhatianku untuk satu gerakan tertentu”

Ki Wandawa mengangguk kecil. Ia tidak bertanya lebih jauh. Nampaknya Pangeran Mangkubumi masih akan memikirkannya, dan mungkin juga akan membicarakannya dengan beberapa orang pemimpin yang lain.

Dalam pada itu, sebenarnyalah pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta sudah siap melakukan rencana mereka. Sejalan dengan persiapan yang semakin matang, maka mereka pun semakin menyebar luaskan kabar bahwa pasukan kumpeni dan prajurit Mataram siap untuk langsung memukul pasukan induk Pangeran Mangkubumi.

Beberapa orang petugas sandi telah memberikan peringatan kepada Ki Wandawa akan berita yang tersebar luas di Surakarta itu. Namun Ki Wandawa sedang menunggu rencana Pangeran Mangkubumi untuk mengimbangi gerak kumpeni dan prajurit Surakarta itu.

Meskipun demikian Ki Wandawa tidak lengah. Segala kemungkinan memang dapat saja terjadi. Mungkin pula pada saat terakhir, kumpeni merubah sikapnya. Pasukannya justru benar-benar pergi ke pusat pertahanan pasukan induk Pangeran Mangkubumi.

Karena itu, atas persetujuan Pangeran Mangkubumi, maka para petugas sandi pun telah disebarkan untuk mengamati gerak pasukan kumpeni dan pasukan Surakarta. Sementara itu, pasukan di induk kekuatan Pangeran Mangkubumi pun telah dipersiapkan sebaik-baiknya untuk bergerak setiap saat.

“Aku lebih percaya kepada keterangan Raden Ayu Galihwarit dari kabar angin yang tersiar di Surakarta. Meskipun demikian pasukan kita harus dipersiapkan. Jika tidak untuk menghindari lawan, maka pasukan itu akan aku pergunakan justru menusuk sarang lawan” berkata Pangeran Mangkubumi.

Ki Wandawa berusaha melaksanakan pesan itu sebaik-baiknya. Namun ternyata bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri agaknya ingin meyakinkan apa yang akan terjadi, sehingga karena itu, maka untuk beberapa saat Ki Wandawa tidak dapat menemukan Pangeran Mangkubumi di dalam pondoknya.

Sudah menjadi kebiasaan Pangeran Mangkubumi untuk berada di sembarang tempat di sembarang waktu. Karena itulah, maka Pangeran Mangkubumi sendiri telah menyaksikan, kemana pasukan kumpeni dan Surakarta itu pergi.

Agaknya bukan saja para petugas sandi, tetapi menjelang tengah malam, ketika pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta keluar dari pintu gerbang, dari jarak yang tidak terlalu jauh, Pangeran Mangkubumi sempat menyaksikannya.

Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata kepada diri sendiri, “Syukurlah Said sudah mengetahuinya. Jika ia sempat dikepung oleh pasukan yang demikian kuatnya, maka ia akan berada dalam keadaan yang sangat gawat”

Namun Pangeran Mangkubumi pun yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said akan sempat menghindari pertempuran terbuka melawan pasukan yang sangat kuat itu. Bahkan Pangeran Mangkubumi pun yakin, bahwa pasukan Raden Mas Said yang akan meninggalkan Panambangan akan dapat memasuki Keduwang dengan selamat dan mendudukinya.

Setelah Pangeran Mangkubumi yakin, bahwa pasukan itu menuju kearah Panambangan, maka ia pun segera bergeser menjauhi iring-iringan itu. Pangeran Mangkubumi menganggap penting untuk segera berada di antara pasukannya dan bertindak cepat mengimbangi pasukan kumpeni dan prajurit Surakarta yang menyerang Penambangan.

Namun dalam pada itu, bukan saja Pangeran Mangkubumi yang menyaksikan iring-iringan itu menuju ke Penambangan. Seorang anak muda menyaksikan pula pasukan yang kuat itu meninggalkan kota.

“Kumpeni benar-benar ingin membinasakan pasukanku” desis anak muda yang melihat iring-iringan yang kuat itu, namun di tempat lain sehingga ia tidak bertemu dengan Pangeran Mangkubumi.

Sejenak kemudian anak muda itu pun bergegas menuju ke tempat yang tersembunyi untuk mengambil kudanya yang ditunggui oleh seorang pengawalnya.

“Kita harus cepat mendahului iring-iringan itu” berkata Raden Mas Said.

“Mereka sudah berangkat?” bertanya pengawalnya.

“Ya. Tetapi pasukan kita sudah siap untuk menghindar. Kita tidak akan terjebak. Kita akan meninggalkan sekelompok kecil yang akan memancing pasukan yang kuat itu untuk benar-benar memasuki Penambangan yang kosong” berkata Raden Mas Said.

Sejenak kemudian kedua ekor kuda itu berderap dalam gelapnya malam. Namun agaknya keduanya telah menguasai medan yang akan dilaluinya dengan baik. Mereka mengambil jalan memintas, melalui jalan sempit. Namun yang jaraknya menjadi jauh lebih pendek dari jalan yang ditempuh oleh kumpeni. Apalagi sebagian besar pasukan itu berjalan kaki, meskipun di antara mereka ikut pula sebagian dari prajurit dari pasukan berkuda Surakarta yang terkenal.

Dalam pada itu, Raden Mas Said pun sadar, bahwa kumpeni tentu ingin mengepung Penambangan dan menjelang fajar menyala, mereka akan mendekati daerah pertahanan, sehingga saat matahari terbit, mereka benar-benar akan menyerang.

“Mereka akan sempat beristirahat sejenak menjelang pagi” berkata Raden Mas Said, “Tetapi mereka akan menemukan tempat yang telah kosong”

“Perjalanan mereka yang cukup panjang itu akan sia-sia. Sementara besok mereka akan mendapat laporan, bahwa Keduwang telah memisahkan diri dari kekuasaan Surakarta yang dipengaruhi oleh kumpeni” gumam pengawalnya.

Sementara itu, kedua ekor kuda itu pun berpacu semakin cepat. di dinginnya malam, angin bertiup bagaikan menghunjam sampai ke tulang.

Beberapa bulak lagi dari Penambangan, Raden Mas Said dan pengawalnya terpaksa menghentikan kuda mereka ketika mereka melihat beberapa orang yang menunggu mereka di tengah-tengah jalan. Nampaknya mereka sebagai petani-petani dengan cangkul di pundak. Namun Raden Mas Said yakin bahwa mereka bukan petani-petani yang sedang menunggu air.

“Berhentilah sebentar Ki Sanak” sapa salah seorang petani itu.

Raden Mas Said yang berhenti beberapa langkah di hadapan orang itu menyahut, “Siapakah kalian? Bulan, api atau angin?”

“O” orang yang berpakaian petani itu mengangguk sambil menyahut, “silahkan”

Raden Mas Said tersenyum. Katanya, “Bagus. Kalian harus menguasai daerah ini sebaik-baiknya. Tidak boleh ada seorang petugas sandi lawan yang mengetahui apa yang sedang terjadi di daerah Penambangan”

“Baik. Kami akan melaksanakan sebaik-baiknya” jawab petani itu.

Namun dalam pada itu, salah seorang dari mereka berdesis, “Bukankah salah seorang dari keduanya adalah Raden Mas Said sendiri?”

Raden Mas Said mendengar suara itu. Dengan serta merta ia menyahut, “Lupakan. Raden Mas Said tidak akan berkeliaran pada saat yang gawat ini. Ia berada di antara pasukannya di Penambangan”

Orang-orang yang berpakaian petani itu pun kemudian menyibak. Demikian kuda-kuda itu berderap, mereka segera duduk kembali di pinggir parit, seolah-olah mereka benar-benar petani-petani yang sedang menunggui air yang tidak begitu banyak mengalir.

“Aku kira salah seorang di antara mereka adalah Raden Mas Said sendiri” desis salah seorang dari mereka.

“Kau memang bodoh. Tentu seperti yang dikatakannya, Raden Mas Said ada di antara pasukannya dalam keadaan yang gawat ini” sahut kawannya.

Orang-orang itu meng-angguk-angguk. Tetapi orang yang sudah mengenal Raden Mas Said itu tetap merasa dirinya telah bertemu dengan Raden Mas Said sendiri, meskipun tidak dikatakannya.

Dalam pada itu, ternyata perjalanan Raden Mas Said tidak hanya terhenti satu dua kali. Beberapa kali ia harus berhenti untuk mengucapkan kata-kata sandi. Namun dengan demikian, Raden Mas Said justru merasa tenang, karena para pengikutnya telah melakukan perintahnya dengan sebaik-baiknya. Justru pada saat yang paling gawat.

Ketika Raden Mas Said kemudian sampai ke Penambangan, maka ia pun segera memanggil para pemimpin dari para pengikutnya. Dengan singkat ia memberikan beberapa petunjuk. Kemudian katanya, “Waktu kita tidak terlalu banyak”

“Kita sudah siap” jawab seorang pemimpin pasukannya.

“Baiklah. Kita akan segera meninggalkan daerah ini. Jika kita terlambat, maka kita benar-benar tidak akan dapat keluar dari kepungan” berkata Raden Mas Said, yang kemudian melanjutkan, “Apakah pasukan yang akan memancing perhatian itu sudah dipersiapkan pula?”

“Segalanya sudah siap” jawab seorang Senapati muda.

Raden Mas Said mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kita akan meninggalkan tempat ini langsung menuju ke Keduwang. Sementara pasukan yang akan memancing perhatian kumpeni dan pasukan Surakarta itu pun akan segera menyusul kami. Hati-hatilah dengan pasukan berkuda di sebelah gumuk Watu Pitu, akan menunggu sepasukan yang akan dapat membebaskan pasukan yang akan memancing perhatian itu jika pasukan berkuda mengejarnya. Aku perlu mengingatkan, pasukan berkuda adalah pasukan khusus yang memiliki kelebihan dari pasukan yang lain yang apalagi di antara mereka terdapat pasukan berkuda dari pasukan kumpeni. Dengan senjata api. mereka benar-benar merupakan lawan yang sangat berbahaya. Karena itu, pasukan yang akan memancing perhatian kumpeni itu pun harus dengan cekatan meninggalkan Penambangan apabila tugas mereka sudah selesai, dengan berkuda pula. Jangan memilih jalan lain kecuali lewat gumuk Watu Pitu”

Demikianlah, maka Raden Mas Said dan seluruh kekuatannya pun telah meninggalkan Penambangan menuju ke Keduwang. Meskipun demikian, Raden Mas Said telah meninggalkan sebagian kecil dari pasukannya yang terpilih untuk memberikan kesan bahwa Penambangan tidak kosong.

Dalam pada itu, selagi kekuatan kumpeni dan prajurit Surakarta yang besar menuju ke Penambangan, maka Pangeran Mangkubumi pun telah kembali ke Gebang. Malam itu juga Pangeran Mangkubumi telah memanggil para pemimpin pasukannya.

“Kumpeni benar-benar menuju ke Penambangan” berkata Pangeran Mangkubumi, “Aku telah mendapat laporan terperinci”

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Namun sebagian dari mereka memperhitungkan, bahwa Pangeran Mangkubumi sendiri tentu melihatnya apa yang telah dilakukan oleh kumpeni. Tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang bertanya”

“Karena itu” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian, “Kita harus mampu mengimbangi gerakan kumpeni, sehingga dengan demikian, kita tidak hanya sekedar menjadi sasaran serangan mereka dan sekedar menghindarkan diri”

“Maksud Pangeran?” bertanya seorang Senapatinya.

“Besok, kita memasuki kota Surakarta ” jawab Pangeran Mangkubumi.

Jantung para pengikutnya menjadi berdebar-debar. Demikian tiba-tiba pasukannya harus menyerang kota Surakarta.

“Jangan cemas akan kekuatan kita” berkata Pangeran Mangkubumi pula, “Kita akan berhasil menguasai seluruh kota. Dan kita akan meninggalkan kota, sebelum kumpeni dan para prajurit Surakarta kembali dari Penambangan”

Para pengikutnya mengangguk-angguk. Langkah itu agaknya akan sangat mempengaruhi sikap dan pandangan Rakyat Surakarta terhadap kekuatan Pangeran Mangkubumi. Mereka yang menganggap bahwa Pangeran Mangkubumi dapat diabaikan, akan melihat satu kenyataan bahwa Pangeran Mangkubumi bukan kanak-kanak yang sekedar sedang merajuk, Tetapi perjuangannya berdiri di atas satu atas yang kuat. Baik dari segi keyakinan akan kebenarannya, maupun dari segi kekuatan dan kemampuan menghimpun, menggerakkan dan wibawanya terhadap pasukannya.

Dengan rencana Pangeran Mangkubumi memasuki kota, akan terbuka pulalah mata kumpeni, dengan siapa ia berhadapan. Apalagi jika serangannya atas Penambangan gagal, sementara pasukan Pangeran Mangkubumi berhasil menguasai kota.

Demikianlah, maka malam itu juga, Pangeran Mangkubumi menyiapkan pasukannya yang memang sejak sebelumnya telah diatur sebaik-baiknya untuk menghadapi segala kemungkinan. Bahkan kemungkinan menyingkir dari Gebang jika kumpeni benar-benar menuju ke daerah pertahanannya itu.

Dengan demikian, maka persiapan itu tidak memerlukan waktu yang panjang. Pasukan di Gebang dan juga atas perintah Pangeran Mangkubumi lewat seorang penghubung, pasukan di Sukawati pun telah bersiap pula.

“Nampaknya kumpeni akan memasuki Penambangan saat matahari terbit. Kita pun akan memasuki kota saat matahari terbit atau lewat sesaat” berkata Pangeran Mangkubumi.

Maka sejenak kemudian, pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat telah berangkat menuju ke kota Surakarta yang ditinggalkan oleh kumpeni dan sebagian besar dari prajurit Surakarta termasuk pasukan berkuda. Satu gerakan yang sama sekali tidak diduga oleh kumpeni dan para pemimpin di Surakarta. Mereka mengira bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi sedang bersiap menunggu kedatangan kumpeni yang akan menyerangnya atau menghindar ke Utara. Tetapi ternyata di saat pasukan Surakarta bergerak ke Penambangan justru Pangeran Mangkubumi telah bergerak ke kota.

Meskipun Pangeran Mangkubumi tidak akan dapat mencapai kota tepat saat matahari terbit, namun ia tidak akan terlalu siang memasuki gerbang. Namun jika kota telah bangun, dan pasar mulai mengumandang, maka kehadirannya memang akan dapat membuat kebingungan. Tetapi seperti biasanya, Pangeran Mangkubumi telah menjatuhkan perintah agar para pengikutnya sama sekali tidak mengganggu rakyat Surakarta. Setiap pelanggaran akan mendapat hukuman yang berat.

Sementara itu, pasukan kumpeni dan pasukan Surakarta telah mendekati Penambangan. Ketika cahaya fajar mulai membayang, mereka sudah berada di ambang pintu sasaran.

Namun dalam pada itu, pasukan itu telah dikejutkan oleh obor-obor yang tiba-tiba saja menyala. Satu, dua, tiga dan berpuluh-puluh. Sejenak kemudian, maka terdengar sorak membahana bagaikan menggugurkan langit

Pasukan yang kuat itu terkejut. Mereka tidak menyangka bahwa pasukan lawan telah menyongsongnya. Karena itu, mereka tidak terlalu siap menghadapinya.

Apalagi ketika obor-obor itu telah menyala, maka mereka melihat, sepasukan laskar berkuda telah menyerang mereka dengan lontaran-lontaran lembing.

Belum lagi mereka sempat mengatur diri, ternyata bahwa para penyerang itu tidak saja melontarkan lembing, tetapi mereka yang membawa obor pun telah dilemparkan kearah pasukan Surakarta.

Sejenak ketegangan telah mencengkam. Namun pasukan Surakarta itu sempat bertebaran untuk menghindari obor yang menyala yang langsung dilemparkan kearah mereka dari laskar berkuda yang tiba-tiba saja telah menyerang mereka disamping lontaran-lontaran lembing.

Beberapa orang kumpeni telah mengaduh. Lembing itu cukup tajam untuk menghun-jam ke dalam tubuh mereka. Sementara api pun menyala di sebelah menyebelah. Apalagi selain api obor, beberapa orang sengaja melemparkan bumbung-bumbung minyak yang kemudian tumpah dan disambar api-api obor, sehingga untuk beberapa saat lamanya pasukan yang kuat itu terpecah.

Dalam keadaan yang demikian, maka laskar berkuda itu pun segera meninggalkan medan. Dengan satu isyarat, maka kuda-kuda itu pun segera berlari meninggalkan pasukan Surakarta.

Pada saat itulah terdengar senapan meledak. Tetapi laskar Raden Mas Said telah menjadi semakin jauh. Mereka datang sekejap, kemudian menghilang di dalam keremangan dini hari. Kuda mereka menerobos tanah pategalan. Menuju ke jalan kecil di pinggir padukuhan sebelah untuk kemudian menghilang ke dalam pintu gerbang padukuhan itu.

Namun pada saat itu terdengar perintah melengking. Pasukan berkuda harus mengejar mereka sampai dapat.

“Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Sementara yang lain langsung mengepung Penambangan. Kedatangan kita sudah diketahui oleh Raden Mas Said” perintah Panglima pasukan itu. Seorang kumpeni berpangkat mayor.

Pasukan itu pun kemudian bergegas menuju ke Penambangan yang sudah dekat. Mereka akan langsung memasang gelar, mengepung daerah itu dengan ketat.

Sementara itu, sebagian dari pasukan berkuda tengah mengejar pasukan Raden Mas Said yang melarikan diri. Ternyata pasukan berkuda dari Surakarta yang sebagian dari mereka adalah kumpeni, adalah prajurit-prajurit berkuda yang tangkas. Kuda-kuda mereka pun adalah kuda-kuda yang tegar dan kuat, sehingga meskipun mereka telah tertinggal beberapa saat, namun mereka yakin akan dapat mengejar, dan menghancurkan pasukan berkuda yang menyerang mereka, yang jumlahnya memang tidak terlalu banyak.

Tetapi laskar berkuda itu tidak melarikan diri menuju ke Penambangan. Memang sepercik pertanyaan telah timbul pada hati Letnan Panlangen yang mengenal arah Penambangan di atas peta.

“Mereka pergi kemana?” bertanya Panlangen kepada seorang Senapati muda dari pasukan berkuda Surakarta.

“Aku tidak tahu. Tetapi mereka tidak pergi ke Penambangan” jawab Senapati muda yang benar-benar sudah mengenal daerah itu.

Letnan Panlangen pemimpin pasukan berkuda itu tiba-tiba saja, tertawa sambil memacu kudanya. Disela-sela suara derap kudanya ia berkata lantang, “Orang-orang pribumi yang bodoh. Mereka berusaha memancing agar pasukan Surakarta tidak pergi ke Penambangan. Dan itu adalah pikiran yang bodoh sekali. Jika kita mengejar mereka, mereka sangka, bahwa tidak ada lagi pasukan yang pergi ke Penambangan. Pasukan yang justru pasukan yang terkuat.

Senapati muda itu tidak menjawab. Sementara itu, pasukan berkuda yang mengejar laskar Raden Mas Said, telah melihat dalam bayangan fajar, kuda-kuda yang berderap di hadapan mereka di bulak panjang Panlangen melihat, bahwa laskar Raden Mas Said itu tidak mampu maju secepat pasukan berkuda dari Surakarta.

“Sebentar lagi kita akan menghancurkan mereka” geram Panlangen, “orang-orang pribumi yang bodoh itu telah melukai beberapa orang kumpeni, dan barangkali telah membunuh satu dua orang diantara mereka dengan lembing-lembing bambu itu. Kita tidak akan memaafkan mereka. Setiap pengkhianat harus dibunuh dimanapun kita menemukan mereka”

Senapati muda itu masih tetap berdiam diri. Tetapi rasa-rasanya jantungnya menjadi semakin tegang, ketika jarak antara pasukan berkuda dengan laskar Raden Mas Said itu menjadi semakin dekat.

Panlangen yang tidak sabar lagi itu pun meneriakkan aba-aba untuk mempercepat laju pasukan itu. Selagi mereka berada di bulak panjang dan padang ilalang, maka medan akan lebih menguntungkan daripada jika mereka berada di padukuhan-padukuhan yang banyak ditumbuhi pepohonan.

Jarak antara kedua pasukan itu memang menjadi semakin dekat. Dalam pada itu, seorang anak muda bertubuh tinggi kekar dan berjambang lebat, yang memimpin pasukan Raden Mas Said itu pun memberikan isyarat agar pasukannya bergerak lebih cepat pula.

Jantung mereka pun menjadi berdebar-debar pula ketika mereka melihat sebuah gumuk yang besar di sebelah jalan yang menikung di belakang gumuk itu. Gumuk itulah yang disebut gumuk Watu Pitu.

“Kita harus mencapai gumuk itu” anak muda berjambang itu memberikan aba-aba dengan lantang. Setiap orang di dalam pasukannya pun menyadari, jika pasukan berkuda itu mencapai mereka sebelum mereka melalui gumuk itu, maka mereka akan mengalami kesulitan.

Tetapi kuda-kuda dari laskar Raden Mas Said itu memang tidak sebaik kuda dari pasukan berkuda Surakarta. Dengan demikian, jarak antara kedua pasukan itu memang menjadi semakin pendek.

“Hancurkan mereka” perintah Panlangen itu menggelegar bagaikan bunyi guruh.

Kuda para prajurit dan kumpeni dari pasukan berkuda itu menjadi semakin laju. Tiba-tiba saja seorang prajurit berkuda berkata, “Di belakang gumuk itu jalan menikung kekanan. Kita dapat memotong lewat padang melingkari gumuk itu”

“Jalan berbahaya” sahut Senapati muda itu.

“Tidak. Ilalang itu tidak begitu lebat dan tinggi. Aku mengenal daerah ini dengan baik”

Senapati itu berpikir sejenak. Namun kemudian katanya, “Bawa kelompokmu. Tidak lebih. Tugasmu hanya menghambat”

Prajurit itu pun segera memisahkan diri dengan kelompoknya yang hanya berjumlah sepuluh orang. Tetapi yang sepuluh orang itu akan dapat mengejutkan pasukan berkuda yang sedang mereka kejar. Kemudian menghambatnya. Dalam pada itu, pasukan yang mengejar itu pun akan segera mencapai laskar itu dan menghantam mereka dari belakang, sehingga laskar Raden Mas Said itu akan musnah sama sekali”

Seperti yang dikatakan oleh prajurit itu, padang ilalang di seputar gumuk itu tidak berbahaya bagi kuda-kuda yang berderap. Ilalangnya tidak terlalu lebat dan tinggi, sedang tanah di bawahnya pun datar dan tidak berbatu padas.

Karena itu, maka prajurit itu berharap untuk dapat memotong iring-iringan laskar Raden Mas Said di balik gumuk yang disebut gumuk Watu Pitu itu.

Namun yang terjadi, sama sekali tidak seperti yang direncanakan oleh prajurit itu. Dan juga tidak seperti yang diperhitungkan oleh Letnan Panlangen. Ternyata laskar berkuda Raden Mas Said itu, tidak berlari terus meninggalkan lawan-lawannya yang sudah menjadi semakin dekat. Demikian mereka melintasi gumuk itu, maka anak muda berjambang yang memimpin pasukan itu, memberikan isyarat dengan suitan nyaring, yang disambut dengan isyarat yang sama. Karena itu, maka anak muda berjambang itu pun meyakini, bahwa pasukan yang dipersiapkan di gumuk itu tidak terlambat dan tepat berada di tempat yang sudah ditetapkan.

Karena itu, maka demikian mereka sampai di tikungan. maka terdengarlah anak muda, itu meneriakkan aba-aba agar pasukan berkuda itu berhenti dan siap menghadapi lawan yang akan segera menyerang.

Keadaan itu, ternyata telah mengejutkan pasukan yang mengejarnya. Panlangen dan Senapati prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu mendengar isyarat yang bersahutan. Karena itu, naluri keprajuritan mereka pun telah menggerakkan Panlangen untuk mengangkat tangan sambil memberikan perintah agar pasukannya memperlambat laju mereka.

Namun segalanya telah terlambat. Dalam keremangan fajar yang menjadi semakin terang, Panlangen melihat pasukan berkuda lawannya berbalik di tikungan. Sementara itu, tiba-tiba saja mereka telah mendapat serangan anak panah yang bagaikan hujan dari balik bebatuan di gumuk Watu Pitu.

Panlangen dengan cepat mengatur pasukannya. Diteriakkan-nya aba-aba dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh laskar Raden Mas Said. Namun dalam pada itu, serangan mereka yang tiba-tiba itu telah berhasil mengacaukan pasukan Panlangen dan pasukan berkuda dari Surakarta.

Selagi pasukan itu menjadi kacau, maka laskar berkuda Raden Mas Said mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Tetapi mereka tidak menyerang pasukan yang sedang kacau itu, untuk memberi kesempatan kepada kawan-kawannya yang berada di balik batu-batu padas untuk menyerang dengan lontaran anak panah.

Namun ketika pasukan berkuda dari Surakarta itu sedang berusaha untuk menyusun kekuatannya, muncullah sepuluh orang berkuda yang melingkari gumuk Watu Pitu.

Orang-orang itu terkejut, ketika mereka melihat justru pasukan berkuda yang ingin dicegatnya itu berhenti di tikungan. Apalagi ketika mereka menyadari, bahwa telah terjadi sesuatu di luar perhitungan mereka. Ternyata di antara bebatuan di gumuk itu terdapat pasukan lawan yang sudah siap menunggu kedatangan mereka.

Dalam keremangan pagi yang samar, mereka ternyata tidak segera dapat melihat orang-orang yang seolah-olah telah tersamar di bebatuan. Baru kemudian, lontaran-lontaran senjata itu telah menyatakan, bahwa di gumuk Watu Pitu itu terdapat sepasukan yang memang sengaja menunggu kehadiran prajurit berkuda dari Surakarta.

Pasukan berkuda Raden Mas Said pun terkejut melihat sepuluh orang berkuda yang muncul dari balik gumuk. Namun demikian mereka melihat pakaian dan ciri-cirinya, meskipun pagi masih remang, mereka pun segera mengenal, bahwa mereka adalah prajurit dan pasukan berkuda.

Untuk sesaat pemimpin pasukan Raden Mas Said itu ragu-ragu, justru karena mereka adalah prajurit Surakarta. Namun akhirnya, ketika ia melihat kumpeni yang berhasil menyusun diri siap dengan senjata api mereka, maka pemimpin pasukan berkuda itu pun segera meneriakkan perintah, agar pasukannya segera menyerang.

Bukan saja mereka yang berkuda. Namun demikian perintah itu terdengar, maka bermunculanlah laskar Raden Mas Said dari balik bebatuan. Mereka masih saja menyerang dengan anak panah, sehingga kumpeni dan prajurit dari pasukan berkuda Surakarta, terpaksa berusaha untuk menghindar atau menangkis.

Namun dalam pada itu, pasukan berkuda Raden Mas Said itu pun telah menghadap kembali kearah mereka dan menyerang seperti angin prahara.

Pasukan berkuda kumpeni dan prajurit Surakarta itu memang prajurit pilihan. Tetapi menghadapi keadaan yang tiba-tiba, mereka menjadi berdebar-debar pula. Serangan ternyata datang dari dua arah, dengan kekuatan yang hampir seimbang, sementara orang-orang yang muncul dari gumuk itu masih saja menyerang dengan anak panah mereka.

Satu dua orang kumpeni telah terluka. Karena itu, maka senjata mereka pun segera mulai meledak. Namun dalam pada, itu, pasukan berkuda Raden Mas Said telah menyerang mereka, sehingga mereka terpaksa bertempur dengan senjata jarak pendek.

Sebenarnya seorang demi seorang, pasukan kumpeni dan prajurit dari pasukan berkuda Surakarta, mempunyai kemampuan yang jauh lebih baik. Tetapi tenyata mereka telah terjebak dalam satu keadaan yang tidak menguntungkan. Pada benturan kedua pasukan itu, kumpeni telah kehilangan beberapa orang prajurit yang terluka, sementara prajurit Surakarta pun mengalami keadaan yang serupa.

Ternyata bahwa jumlah pasukan Raden Mas Said yang terdiri dari dua kelompok itu, jumlahnya jauh lebih banyak. Sehingga dengan demikian, maka kumpeni dan pasukan berkuda Surakarta itu segera mengalami kesulitan.

Sepuluh orang yang berusaha memotong jalan itu pun segera memasuki arena pula. Namun mereka pun segera tenggelam dalam keributan pertempuran.

Letnan Panlangen yang hanya sempat menembakkan senjatanya satu kali, telah mencabut pedangnya. Dengan garangnya ia bertempur di atas punggung kuda. Ternyata ia benar-benar seorang Senapati yang memiliki kemampuan tinggi dari pasukan kumpeni. Itulah sebabnya ia dipercaya untuk memimpin pasukan berkuda gabungan antara kumpeni dan prajurit Surakarta dari pasukan berkuda.

Tetapi ia menghadapi musuh yang terlalu banyak. Dalam hiruk pikuk pertempuran ia berhadapan tidak saja lawan yang berada di atas punggung kuda. Tetapi beberapa orang laskar Raden Mas Said telah menyerangnya dengan tombak sambi berlari-lari, karena mereka tidak berkuda”

Kecuali Letnan Panlangen dan kumpeni, prajurit dari pasukan berkuda Surakarta pun memiliki kelebihan. Itulah sebabnya Raden Mas Said sendiri telah memperingatkan, agar mereka berhati-hati menghadapi pasukan berkuda itu.

Tetapi betapapun kuatnya pasukan berkuda itu, namun akhirnya mereka tidak dapat mengingkari kenyataan. Tombak para pengikut Raden Mas Said itu telah menyentuh kumpeni itu seorang demi seorang.

Seperti yang direncanakan, yang menjadi sasaran utama adalah justru kumpeni. Setiap Raden Mas Said bertemu dengan Pangeran Mangkubumi, maka Pangeran itu selalu menekankan, bahwa lawan yang sebenarnya bagi mereka adalah kumpeni Bukan prajurit Surakarta sendiri. Bahwa dalam pertempuran yang sengit itu, terpaksa ada juga prajurit Surakarta yang terbunuh, itu adalah di luar kemampuan usaha mereka yang menghindar, karena sebenarnyalah bahwa prajurit Surakarta itu, telah berusaha pula untuk benar-benar membunuh.

Dalam pertempuran yang sengit itu, maka korban pun mulai jatuh. Seorang demi seorang ujung-ujung tombak telah menyusup di antara tulang-tulang iga kumpeni. Satu-satu mereka berjatuhan dari punggung kuda.

Ternyata prajurit dan pasukan berkuda dan kumpeni tidak berhasil menguasai lawannya yang dengan sengaja telah menjebak mereka. Sementara itu, mereka pun tidak sempat lagi minta bantuan dari Surakarta. Apalagi jika diingat bahwa prajurit yang berangkat ke Penambangan adalah sekelompok prajurit yang paling baik dari Surakarta, termasuk prajurit dari pasukan berkuda.

Tidak ada jalan kembali bagi Letnan Panlangen. Setelah pedangnya merah oleh darah, maka datang giliran ia harus mengakui keunggulan pasukan Raden Mas Said yang jumlahnya jauh lebih banyak dari pasukannya. Dengan marah ia menyaksikan seorang demi seorang kumpeni yang jatuh, terluka dan kemudian terbunuh di peperangan itu.

Namun dalam pada itu, pasukan Raden Mas Said sebagaimana umumnya para pengikut Pangeran Mangkubumi telah mendengar dan selalu mendengar, bahwa lawan mereka adalah kumpeni.

Meskipun demikian dalam pertempuran yang seru, maka tidak akan dapat dihindari, bahwa satu dua prajurit Surakarta dari pasukan berkuda itu pun telah tersentuh senjata. Bahkan satu dua di antara mereka telah terjatuh dan terkapar di tanah.

Letnan Panlangen yang marah itu pun bertempur dengan garangnya. Pedangnya menyambar-nyambar. Demikian pula pasukan berkuda kumpeni yang lain, telah bertempur dengan kemarahan dan kebencian. Apalagi ketika mereka melihat kawan-kawan mereka yang terbunuh dan yang terluka oleh senjata orang-orang yang mereka anggap liar, yang bertempur dengan lembing-lembing bambu dan parang-parang pemotong kayu.

Tetapi lembing-lembing bambu dan parang pemotong kayu itu mampu juga menghunjam ke dalam tubuh mereka.

Pertempuran itu pun menjadi semakin sengit. Tetapi tidak ada lagi harapan Panlangen untuk dapat mengalahkan lawannya. Karena itu, maka tidak ada kemungkinan lain yang paling baik daripada menghindarkan diri.

Karena itu, maka sejenak kemudian terdengar aba-aba yang diteriakkan oleh Letnan itu. Aba-aba yang diberikan kepada pasukannya untuk meninggalkan arena.

Sebenarnyalah kecemasan telah mencekam setiap orang yang masih tersisa dalam pasukan berkuda itu. Mereka sama sekali sudah tidak berpengharapan. Sementara mereka pun tidak ingin untuk membunuh diri dengan meminjam tangan pasukan Raden Mas Said. Karena itu, demikian mereka mendengar aba-aba dari Letnan Panlangen, maka mereka pun segera berusaha melepaskan diri dari keterikatan pertempuran.

Sekali lagi pasukan berkuda itu menunjukkan ketangkasan mereka. Dengan tangkasnya mereka menghindar dan dengan cepat pula mereka berhasil melepaskan diri dari pertempuran yang seru itu.

Pada saat pasukan berkuda dari Surakarta yang terdiri dari prajurit Surakarta sendiri dan kumpeni itu meninggalkan arena, maka anak muda yang berjambang, berkumis dan berjanggut lebat itu pun telah memberikan aba-aba untuk tidak mengejar mereka.

“Kenapa mereka kita lepaskan saja?” bertanya salah seorang dari laskar Raden Mas Said itu.

“Tidak ada gunanya. Kuda mereka jauh lebih baik dari kuda kita. Kita tidak akan dapat mengejarnya. Jika kita mencoba, maka jarak di antara pasukan kita dengan mereka akan semakin lama menjadi semakin panjang” jawab pemimpin pasukan Raden Mas Said itu.

Dalam pada itu, ternyata bekas medan itu telah basah oleh darah. Mayat masih terbujur lintang mengerikan. Sebagian besar dari mereka adalah kumpeni yang merasa diri mereka orang yang lebih tinggi derajat dan martabatnya dari orang berkulit sawo. Namun tidak dapat dihindari bahwa korban pun telah jatuh di antara prajurit Surakarta dari pasukan berkuda, dan bahkan mereka dari pasukan Raden Mas Said sendiri.

“Kita masih mempunyai tugas yang harus kita lakukan dengan cepat” berkata pemimpin dari pasukan berkuda Raden Mas Said itu.

“Tugas apa lagi?” bertanya salah seorang dari laskarnya.

Pemimpin pasukan itu pun merenung sejenak. Namun kemudian katanya dengan nada datar, “Bagaimana dengan mayat-mayat ini?”

Kawan-kawannya pun mengerutkan keningnya. Mereka tidak akan sampai hati meninggalkan mayat itu terkapar begitu saja.

“Kita akan menguburkan mereka” desis pemimpin pasukan itu.

“Apakah kita tidak memikirkan kemungkinan, bahwa pasukan Surakarta itu akan datang lagi dengan jumlah yang jauh lebih besar? Seluruh pasukan berkuda akan datang dan mengepung kita” sahut salah seorang anak buahnya.

Pemimpin pasukan itu termangu-mangu. Namun akhirnya ia berkata, “Kita akan singgah di padukuhan terdekat. Kita akan minta kepada mereka untuk mengubur mayat-mayat. itu. Tetapi kita tidak akan dapat meninggalkan mayat kawan-kawan kita sendiri. Kita akan membawanya menuju ke tempat yang sudah ditentukan dan menguburkannya di sana. Baru kemudian kita akan menyusul ke Keduwang”

Tidak ada jalan lain yang lebih baik. Karena itu, maka laskar Raden Mas Said itu pun segera mencari kawan-kawan mereka yang terbunuh di antara mayat yang berserakan, sementara yang terluka parah telah mendapat perawatan sementara, bahkan lawan sekalipun.

Ternyata bahwa ada beberapa ekor kuda dari pasukan berkuda Surakarta yang masih berkeliaran di sekitar medan itu tanpa penunggangnya. Dengan demikian, maka laskar Raden Mas Said itu kecuali sempat mengambil senjata kumpeni yang terbunuh, mereka pun mendapat juga beberapa ekor kuda yang besar dan tegar.

Demikianlah, dengan kuda-kuda yang besar itu, para pengikut Raden Mas, Said itu telah membawa kawan-kawannya yang terluka dan yang gugur di pertempuran.

Meskipun demikian, mereka tidak sampai hati membiarkan mayat itu tanpa diperlakukan sebagaimana seharusnya. Karena itu, maka mereka pun telah singgah di padukuhan terdekat. Kepada penghuni padukuhan itu pemimpin laskar Raden Mas Said itu pun minta agar mereka bersedia sekedar melakukan tindak terpuji untuk mengubur mayat yang berserakan di sebelah gumuk Watu Pitu, dan merawat yang terluka.

“Ada beberapa pertimbangan” berkata pemimpin pasukan itu, “kecuali dari segi sikap yang terpuji atas dasar perikemanusiaan, juga atas pertimbangan kesehatan penghuni padukuhan ini sendiri. Jika mayat-mayat itu membusuk, maka akibatnya akan kurang baik bagi penghuni padukuhan ini.

“Tetapi apakah hal itu tidak akan membuat kita mendapat bencana. Jika para prajurit Surakarta dan kumpeni menuduh kita terlibat dalam hal ini, maka masih kita akan menjadi sangat buruk.

“Mereka tahu siapa yang telah membunuh kawan-kawannya” jawab pemimpin pasukan Raden Mas Said itu, “karena itu, selagi mereka masih tetap manusia dan apalagi prajurit Surakarta sendiri, tentu akan mengucapkan terima kasih kepada kalian. Tetapi ada kemungkinan kawan-kawan mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini. Mereka akan pergi ke Penambangan, menggabungkan diri dengan induk pasukan mereka, setelah mereka mengalami kerugian yang sangat besar di daerah ini. Karena kalian harus merawat mereka yang terluka untuk sementara”

Meskipun ragu-ragu, namun akhirnya penghuni padukuhan itu pun menyatakan kesediaan mereka untuk melakukannya.

Setelah mendengar kesanggupan itu, barulah pemimpin pasukan itu merasa tenang. Setelah mengucapkan terima kasih, maka mereka pun segera meninggalkan tempat itu, menuju ke tempat yang sudah ditentukan sebelum mereka memasuki Keduwang.

Dalam pada itu, pasukan Raden Mas Said itu pun telah dibagi menjadi dua. Yang berkuda akan mendahului melalui jalan yang lebih besar, sementara yang berjalan kaki akan menempuh jalan memintas, melewati jalan-jalan sempit dan bahkan pematang-pematang. Namun jaraknya menjadi jauh lebih dekat.

Sementara itu, pasukan induk Surakarta benar-benar telah mengepung Penambangan. Mereka yakin bahwa mereka akan berhasil menghancurkan, pasukan Raden Mas Said. Seperti Letnan Panlangen, mereka pun menganggap bahwa serangan kecil itu hanyalah sekedar memancing perhatian untuk mengalihkan sasaran.

“Menurut perhitungan kami” berkata seorang Senapati dari Surakarta, “Mereka tidak sempat menghindar dari daerah ini Demikian pasukan berkuda mengejar penyerang-penyerang yang tidak seberapa jumlahnya itu, beberapa orang petugas sandi telah mendahului perjalanan pasukan ini. Tidak seorang pun yang sempat keluar dari daerah Penambangan”

“Tetapi bahwa mereka mengerti kedatangan kita itu pun merupakan satu persoalan” jawab kumpeni berpangkat, mayor yang menjadi Panglima pasukan Surakarta yang terdiri dari prajurit-prajurit terbaik dari Surakarta dan kumpeni itu.

“Kita akan menunggu sejenak” berkata Senapati itu, “pasukan berkuda itu akan segera datang. Kita tidak usah cemas, bahwa meskipun orang-orang yang berada di dalam kepungan ini mengetahui kehadiran kita, mereka tidak akan dapat mengelakkan diri lagi”

Namun ternyata bahwa pasukan berkuda itu tidak segera datang.

“Orang-orang pribumi itu sempat juga mengadakan perlawanan” desis Mayor kumpeni itu.

Namun akhirnya, mereka melihat juga iring-iringan pasukan berkuda yang letih mendekati kepungan induk pasukan Surakarta di Penambangan.

Kedatangan mereka benar-benar mengejutkan. Keadaan mereka yang parah, memberikan kesan yang sangat buruk bagi Panglima pasukan Surakarta itu.

Dengan garangnya Mayor itu menerima Panlangen yang menghadap dengan kepala tunduk. Pada punggung Panlangen sendiri terdapat noda darah, karena punggungnya memang tersentuh senjata.

Dengan nada dalam. Panlangen membelikan laporan, apa yang telah terjadi dengan pasukannya, sehingga tanpa dapat dicegah lagi, pasukannya telah menjadi parah seperti yang dapat disaksikan itu.

“Gila, anak monyet, sambar geledek” Mayor itu mengumpat-umpat. Sementara Letnan Panlangen hanya dapat menundukkan kepalanya oleh berbagai perasaan yang bercampur baur di hatinya.

Kemarahan mayor itu tidak terkatakan. Dengan wajah merah membara ia kemudian membentak, “Apakah kau tidak mampu mengalahkan monyet-monyet itu he?”

“Jumlah mereka terlalu banyak, mayor” jawab Panlangen.

“Kalian memang pengecut. Berapa banyaknya, tetapi mereka harus dapat dibinasakan” geram mayor yang hampir menjadi gila itu. Karena itu tiba-tiba ia berkata lantang, “Kita hancurkan Penambangan. Semua orang harus dibunuh kecuali Raden Mas Said. Ia harus mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Dan ia akan dibunuh di alun-alun Surakarta dengan tali gantungan di hadapan rakyat”

Panlangen tidak menjawab. Tetapi ia mengenal mayor itu dengan baik. Karena itu, maka ia pun dapat membayangkan, apa yang akan terjadi di Penambangan. Mayor itu akan benar-benar melakukan seperti yang dikatakannya. Semua orang harus mati.

Sementara mayor itu memerintahkan untuk mengurung Penambangan semakin sempit, maka pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat dari arah Gebang dan Sukawati telah mendekati kota. Pasukan itu menjadi tergesa-gesa ketika matahari sudah mulai memanjat langit.

Dengan cermat Pangeran Mangkubumi telah membagi pasukannya. Beberapa orang Pangeran dan bangsawan yang ada di dalam pasukannya telah di bagi dalam beberapa kelompok. Mereka akan memimpin kelompok-kelompok yang akan berpencar di dalam kota.

“Kita harus memberikan kesan, bahwa seluruh kota sudah kita kuasai meskipun hanya untuk sementara” berkata Pangeran Mangkubumi,

Demikianlah, maka ketika panasnya matahari pagi mulai terasa gatal, kota sudah mulai menjadi gelisah. Satu dua orang telah melihat kedatangan pasukan yang kuat itu, sehingga mereka pun dengan cemas telah berusaha untuk memberitahukan hal itu kepada para prajurit yang berjaga-jaga di pintu gerbang.

Namun sebelum mereka sempat berbuat sesuatu, pasukan itu benar-benar telah datang. Tidak hanya dari satu arah, tetapi dari beberapa arah. Pasukan yang memasuki kota tidak saja melalui gerbang-gerbang utama, tetapi juga melalui jalan-jalan kecil di sisi utara kota Surakarta.

Sejenak kemudian kota Surakarta menjadi gempar. Sebenarnya itulah yang tidak diinginkan oleh Pangeran Mangkubumi. Tetapi apaboleh buat. Tidak ada lagi waktu yang lebih baik dari saat itu, selagi kumpeni dengan pasukannya yang terkuat sedang berada di luar kota bersama sebagian besar prajurit Surakarta.

Kedatangan pasukan Pangeran Mangkubumi itu pun segera tersiar ke seluruh kota. Beberapa orang kumpeni yang masih ada di kota segera bersiap. Pasukan berkuda yang tinggal pun segera keluar dari baraknya. Bersama sepasukan kumpeni mereka menyongsong pasukan Pangeran Mangkubumi yang memasuki kota lewat gerbang utama yang menghadap ke Utara.

Pertempuran pun segera berkobar. Jalan-jalan kota telah menjadi ajang peperangan. Terdengar beberapa kali ledakan senjata api. Tetapi jarak demikian dekat, sehingga perang yang kemudian terjadi adalah perang dengan senjata pendek.

Tetapi yang memasuki kota lewat pintu gerbang utama adalah sebagian saja dari pasukan dalam keseluruhannya. Sementara itu, maka kelompok-kelompok yang lain dari pasukan Pangeran Mangkubumi telah menebar.

Dalam pada itu, prajurit Surakarta segera mengalami kesulitan. Tekanan pasukan Pangeran Mangkubumi terasa sangat berat. Apalagi pasukan mereka yang terkuat sedang meninggal-kan kota menuju ke Penambangan.

Namun seperti yang dicemaskan Pangeran Mangkubumi, prajurit-prajuritnya tidak leluasa bertempur melawan kumpeni dan pasukan Surakarta, justru karena kebingungan rakyat Surakarta sendiri. Beberapa keluarga yang ketakutan justru berlari-larian di sepanjang jalan. Mereka menjadi kebingungan dan sebagian tidak lagi tahu, kemana mereka akan mengungsi. Tetapi menurut pendengaran mereka, pasukan Pangeran Mangkubumi adalah pasukan pemberontak yang garang, yang akan mencelakai rakyat Surakarta.

Sebagian besar rakyat yang tinggal di kota Surakarta percaya akan kabar itu. Orang-orang yang membenci Pangeran Mangku-bumi dengan sengaja mengatakan bahwa Pangeran itu telah memberontak karena ia tidak mau tunduk kepada perintah Sri Paduka Kangjeng Susuhunan. Pangeran itu tidak mau menyerahkan tanah Kalenggahannya yang terlalu banyak. Akhirnya bahkan Pangeran Mangkubumi telah menyatakan ingin mengusir Kangjeng Susuhunan dari tahtanya, dan kemudian menggantikannya,

Ternyata kumpeni telah memanfaatkan rakyat yang kebingungan itu. Justru mereka dapat dipergunakan sebagai perisai di saat-saat kumpeni tidak mampu lagi bertahan di belakang rakyat yang kebingungan kumpeni menarik diri masuk ke loji.

Dalam pada itu, pertempuran masih berlangsung dengan sengitnya. Kumpeni yang belum sempat melarikan diri, menjadi sasaran kemarahan pasukan Pangeran Mangkubumi, sehingga korban pun telah berjatuhan.

Tetapi kengerian yang memuncak, memaksa rakyat Surakarta sendiri menjadi hambatan dari gerakan Pangeran Mangkubumi. Dan itu sudah diperhitungkan oleh Pangeran Mangkubumi jika mereka kesiangan masuk ke dalam kota.

Namun mereka sudah terlanjur. Karena itu, maka pasukan Pangeran Mangkubumi pun berusaha menyesuaikan diri. Mereka sama sekali tidak mengganggu rakyat yang sedang mengungsi. Sebagian dari mereka telah masuk ke dalam keraton lewat gerbang belakang. Bagi mereka tidak ada tempat lain yang lebih aman daripada berada di dalam lingkungan dinding keraton yang dijaga oleh para prajurit dan bahkan di antara mereka terdapat beberapa orang kumpeni bersenjata api. Semua pintu gerbang pun kemudian ditutup. Sekali-sekali pintu itu masih harus dibuka jika ada. beberapa orang pengungsi yang memaksa untuk masuk.

“Gila, usir mereka” bentak Setor, seorang sersan kumpeni yang berkumis lebat.

“Mereka ketakutan di luar” sahut seorang Senapati muda, “biarlah mereka mendapat ketenangan disini”

“Itu tidak boleh. Halaman istana ini harus bersih dari orang-orang dungu dan pengecut itu” bentak Setor, “usir mereka dan biar mereka berada di luar”

“Di luar dinding ini terjadi pertempuran. Orang-orang yang tak bersenjata ini akan dapat mati terinjak-injak kaki kuda” Senapati muda itu pun kemudian membentak.

“Aku perintahkan, bawa mereka keluar. Mereka mengganggu di sini. Siapa tahu di antara mereka terdapat petugas-petugas sandi dari pemberontak itu” sersan Setor semakin marah.

Tetapi Senapati muda itu pun menjadi semakin marah pula. Katanya, “Mereka tidak mengganggu di sini. Mereka hanya sekedar mengungsi karena ketakutan”

“Jika kau tidak mau mengusir mereka, kumpeni akan mengusir mereka” teriak sersan berkumis lebat itu.

Senapati muda itu pun telah kehilangan kesabarannya pula. Dengan lantang ia menjawab, “Kau bukan pimpinanku. Kau tidak dapat memerintah aku. Istana ini pun bukan istana rajamu. Ini adalah istana Kangjeng Susuhunan Paku Buwana, raja di Surakarta. Istana ini seharusnya memang memberikan perlindungan kepada rakyat yang ketakutan”

“Aku tidak peduli. Aku akan mengusir mereka” teriak Setor lebih keras sambil menarik pedangnya, “siapa yang tidak mau pergi, aku bunuh ia di sini”

Tetapi Senapati itu tidak kalah marahnya. Ia pun telah menyambar tombak seorang penjaga yang berdiri termangu-mangu sambil berteriak pula, “Lakukan. Coba lakukan jika kau jantan. Ayo, jika kau berani berbuat sesuatu terhadap rakyat Surakarta di hadapan mataku. Perutmu akan aku koyak dengan tombak ini. Biar namamu saja yang kembali ke seberang lautan tempat asalmu”

“Gila. Kau juga pemberontak, ya” geram Setor.

“Aku berada di bumiku sendiri. Aku melindungi rakyatku yang ketakutan. Dan kau akan menambah kalut pikiran mereka dengan tingkah lakumu yang biadab” jawab Senapati itu sambil menggeretakkan giginya.

Untunglah, bahwa karena keributan itu, telah datang pemimpin-pemimpin mereka yang sempat berpikir lebih bening. Seorang Letnan kumpeni telah menenangkan hati sersan Selor dan memerintahkannya untuk tidak meneruskan niatnya, sementara seorang Senapati Surakarta yang lebih tua pun telah berusaha membawa Senapati muda itu bergeser dari tempatnya.

“Setan itu akan mengusir para pengungsi yang ketakutan” geram Senapati muda itu.

“Tidak, ia tidak akan melakukannya lagi” desis Senapati yang lebih tua, “sebaiknya kita tidak berselisih di antara kita, sedangkan pasukan Pangeran Mangkubumi telah berada di luar dinding istana ini. Kangjeng Susuhunan tentu akan menjadi semakin gelisah”

“Tetapi aku tidak dapat membiarkan kebiadaban itu berlaku, justru oleh orang-orang yang katanya akan membawa peradaban baru di Surakarta, bagi kepentingan rakyat Surakarta.”

“Sudahlah” berkata Senapati yang lebih tua, “Kita bersiap menghadapi kemungkinan, jika pasukan Pangeran Mangkubumi memasuki halaman istana dari arah manapun juga”

Senapati muda itu tidak menjawab. Namun masih terasa dentang jantungnya yang memukul-mukul dinding dadanya.

Sementara itu, kota Surakarta benar-benar telah dikuasai oleh pasukan Pangeran Mangkubumi. Hanya beberapa bagian dari barak-barak prajurit sajalah yang dibiarkannya, untuk mencegah korban yang tidak terhitung jumlahnya. Jika sekelompok pasukannya memasuki barak prajurit yang tidak lagi dapat dipertahankan sebaik-baiknya karena sebagian besar dari mereka sedang dalam perjalanan ke Penambangan, maka tidak akan dapat dicegah lagi bahwa perasaan akan mulai berbicara, tidak lagi dengan ujung-ujung lidah, tetapi dengan ujung senjata.

Pangeran Mangkubumi sudah memperhitungkannya sebelumnya, sehingga karena itu, maka para Senapatinya pun telah berbuat serupa pula.

Dalam pada itu, barak-barak prajurit Surakarta pun telah menutup segala regol dan pintu-pintu teteg di halaman dan seketheng. Juga pintu regol istana Ranakusuman yang dipergunakan oleh pasukan berkuda. Namun dalam pada itu, para prajurit yang menarik diri ke dalam barak-barak mereka, selain yang berada di istana, telah bersiap menghadapi kemungkinan terakhir. Sebagai seorang prajurit, maka agaknya mereka pun akan melawan sampai kemungkinan yang terakhir.

Namun dalam pada itu, Tumenggung Reksanata, salah seorang Senapati pada pasukan Pangeran Mangkubumi telah menghadap dan mohon ijin untuk menyerang barak-barak prajurit yang tersisa.

“Mereka tidak akan dapat melawan kekuatan kita” berkata Reksanata.

Namun Pangeran Mangkubumi menggeleng sambil berkata, “Biarlah mereka melihat dan menjadi saksi, apa yang telah kami lakukan. Seandainya kalian memasuki barak-barak prajurit dan membunuh mereka semuanya, apakah kesan dari rakyat Surakarta sendiri dan apa pula kesan yang akan timbul pada diri Kangjeng Susuhunan terhadap kita yang telah menyatakan janji untuk berusaha mengusir kumpeni, belum lagi. jika kita menghitung korban di pihak kita”

Reksanata mengangguk-angguk Namun ia masih mohon, “Jika demikian, biarlah loji itu kita bakar dan semua sisa kumpeni kita binasakan”

“Apakah kau tidak melihat Reksanata” berkata Pangeran Mangkubumi, “Mereka tidak saja bersiap dengan senapan-senapan. Tetapi mereka telah mempersiapkan beberapa buah meriam. Sebenarnya, kita akan dapat memasuki loji itu dari segala arah dan menumpas mereka. Tetapi jika meriam-meriam itu meledak, maka korban akan berjatuhan. Bukan saja dari antara kita sendiri, tetapi kau dapat membayangkan meriam-meriam itu meledak di dalam kota, dan rumah-rumah penduduk yang tidak bersalah itu pun akan dapat menjadi sasaran. Demikian pula pengungsi-pengungsi yang masih saja hilir mudik kebingungan”

“Lalu apa yang akan kita capai dengan serangan ini Pangeran?” bertanya Senapati itu.

“Kita menunjukkan kepada kumpeni, bahwa kita mampu berbuat sesuatu yang besar, terpimpin dan terkendali. Juga satu ketegasan sikap yang kita sampaikan kepada Kangjeng Susuhunan. Khususnya sikap kita menghadapi kumpeni.

Reksanata menarik nafas dalam-dalam. Demikian besar cinta Pangeran Mangkubumi terhadap rakyat Surakarta, meskipun sebagian dari rakyat yang tinggal di kota itu membencinya.

Pertempuran masih terjadi di beberapa bagian dari kota. Namun justru para prajurit Surakarta itu pun berusaha menarik diri memasuki dinding halaman istana untuk bertahan bersama prajurit-prajurit yang lain yang telah lebih dahulu memasuki halaman istana bersama kumpeni yang bertugas berjaga-jaga dan melindungi istana.

Tetapi pasukan Pangeran Mangkubumi yang mendapat pesan mawanti-wanti untuk tidak bertindak sewenang-wenang tidak berusaha untuk menghancurkan mereka. Apalagi berusaha mengejar mereka memasuki regol halaman samping dan belakang istana.

Sementara itu, dalam hiruk pikuk yang terjadi di kota, Juwiring, Buntal dan Arum yang ikut pula di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi sempat singgah meskipun hanya sekejap di istana Sinduratan. Ketika mereka yakin, bahwa jalan-jalan telah menjadi sepi dan tidak ada orang yang melihatnya, maka mereka pun minta ijin kepada Ki Wandawa untuk singgah barang sekejap.

“Waktu kita sangat terbatas” jawab Ki Wandawa.

“Hanya sekejap untuk mengucapkan terima kasih” sahut Arum.

Ki Wandawa mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menyahut, “Sampaikan ucapan terima kasih kami semuanya kepada Raden Ayu Galihwarit. Ternyata karena keterangannya, kita dapat berbuat sebaik-baiknya”

Sebenarnyalah Juwiring, Buntal dan Arum hanya singgah sekejap. Mereka menyampaikan ucapan terima kasih sebagai-mana dipesan oleh Ki Wandawa,

“Sering-seringlah datang” berkata Raden Ayu Galihwarit, “Aku yakin, setelah peristiwa ini, tentu akan disusul oleh peristiwa yang lebih besar. Kumpeni tentu semakin mendendam dan mereka akan berusaha untuk menebus kekalahannya”

“Terima kasih ibunda” desis Juwiring.

Sejenak kemudian mereka pun minta diri. Namun dalam pada itu, Juwiring melihat mata adik perempuannya menjadi berkaca-kaca, “Apakah aku dapat ikut bersamamu kakangmas?” bertanya Rara Warih.

“Kita dalam keadaan yang sangat gawat sekarang ini diajeng” jawab Juwiring, “mungkin beberapa saat lagi, di hari-hari mendatang aku akan mempertimbangkannya”

Rara Warih tidak menjawab. Tetapi ketika Juwiring, Buntal dan Arum yang mohon diri itu meninggalkan serambi samping, Rara Warih sempat berbisik di telinga kakandanya, “Aku tidak tahan lagi kakangmas. Ibunda membuat hatiku hancur, di samping pengertianku akan usaha ibunda membantu perjuangan Pangeran Mangkubumi, namun alangkah pahitnya melihat, kenyataan, cara-cara yang telah dipergunakan oleh ibunda yang telah merendahkan martabat kita sekarang”

Juwiring hanya menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat menjawab karena Raden Ayu Galihwarit berada beberapa langkah saja di belakangnya.

Namun ibu yang sudah mengenyam pahit getirnya kehidupan melampaui kebanyakan perempuan itu. nampaknya mengerti perasaan anak gadisnya. Karena itu, ia justru menjauh. Rara Warih memang memerlukan tempat untuk memuntahkan segala yang menyesak di dadanya, agar anak itu tidak menjadi semakin lama semakin menderita.

Rara Warih yang melihat ibundanya justru mendahului ke regol, yang kemudian seolah-olah dengan hati-hati mengintip keluar, sempat mengulangi, “Aku tidak akan tahan mengalami hal seperti ini”

“Tetapi tidak sekarang diajeng” jawab Juwiring.

“Aku tidak tahan. Tetapi aku tidak dapat mencegahnya. Kecuali aku adalah anak yang berhadapan dengan ibundanya, aku pun mengerti bahwa yang dilakukan oleh ibunda itu bermanfaat bagi perjuangan” desis, Rara Warih.

“Ikhlaskan cara yang dipilih oleh ibunda, diajeng” bisik Juwiring.

“O” Rara Warih terkejut. Namun tiba-tiba ia memeluk Juwiring sambil menangis, “Kakangmas, sampai hati kau mengatakan demikian. Aku tahu, bahwa ibunda Galihwarit bukan ibundamu, sehingga kau tidak merasakan perasaan seperti yang aku rasakan”

“Bukan. Bukan” sahut Juwiring dengan serta merta. Sekilas ia memandang Raden Ayu Galihwarit yang masih berdiri di regol. Namun ibundanya itu pun kemudian melangkah mendekatinya. Dengan nada lugu seakan-akan tidak mengetahui sama sekali perasaan anak gadisnya ia berkata, “Jangan kau tahan kakandamu Warih. Biarlah ia melakukan tugasnya demi perjuangan dalam keseluruhan”

Rara Warih berusaha untuk menahan tangisnya. Sementara ia pun melepaskan tangannya sambil berdesis, “Kapan kau datang kembali?”

“Aku belum tahu. Tetapi kau jangan salah mengerti, “Juwiring masih ingin memperbaiki kata-katanya yang ternyata telah menyinggung perasaan adiknya.

Rara Warih tidak menjawab lagi iapun kemudian melepaskan Juwiring yang menjadi berdebar-debar. Seolah-olah ia tidak sampai hati meninggalkan adiknya dalam keadaan salah paham.

Tetapi ia tidak dapat tinggal terlalu lama di istana Sinduratan. Karena itu, maka sekali lagi ia mohon diri dan keluar dengan hati-hati dari istana itu, agar tidak menimbulkan salah paham.

Sepeninggal Juwiring. Buntal dan Arum, Pangeran Sindurata keluar pula ke halaman sambil berkata lantang, “Kemana anak-anak bengal itu. Ia dapat membuat rumah ini dicurigai”

“Mereka adalah anak-anakku ayahanda. Tentu aku akan menerimanya kapan pun mereka datang” jawab Raden Ayu Galihwarit.

Sementara itu. Raden Juwiring pun telah melapor kembali kepada Ki Wandawa dan kembali ke dalam pasukannya. Arum, yang oleh kawan-kawan Juwiring dan Buntal disebut gadis aneh. tetap berada di antara mereka pula.

Sementara itu Pangeran Mangkubumi masih tetap berada di dalam kota. Bahkan seolah-olah mutlak menguasai seluruh kota. Prajurit Surakarta telah menarik diri dan tidak memberikan perlawanan lagi, sementara pasukan kumpeni pun telah menyusun pertahanannya di baraknya selain mereka yang berada di istana.

Tetapi Pangeran Mangkubumi seolah-olah tidak mengusik mereka. Pangeran Mangkubumi pun sama sekali tidak menyentuh bagian dalam istana, ketika sebagian dari pasukannya melintas di alun-alun, ternyata yang berada di paling depan dengan payung keemasan, bukanlah Pangeran Mangkubumi sendiri.

Hal itu telah sempat menimbulkan persoalan di dalam istana. Dan adalah di luar dugaan Pangeran Mangkubumi bahwa ternyata di belakang para pengawal istana yang kuat. Kangjeng Susuhunan sendiri mencoba melihat suasana di luar istana, meskipun hanya terbatas pada keadaan di alun-alun dan sekitarnya.

Ketika sebagian pasukan Pangeran Mangkubumi yang dipimpin oleh seorang Senapati yang bukan Pangeran Mangkubumi sendiri meskipun dengan payung keemasan itu sudah lewat, maka alun-alun itu menjadi sepi. Seolah olah Surakarta adalah kota mati.

Tetapi Pangeran Mangkubumi memang tidak ingin mengganggu istana. Ia cukup sadar, bahwa Kangjeng Susuhunan Paku Buwana itu pun seorang prajurit. Jika istananya tersinggung, apapun alasannya, maka ia akan bangkit dan mungkin Kangjeng Susuhunan sendiri yang akan memimpin perlawanan untuk menyelamatkan istananya.

Apalagi dalam keadaan yang bagaimanapun juga, Pangeran Mangkubumi selalu ingat, bahwa ia sama sekali tidak akan melawan Kangjeng Susuhunan. Yang dilawannya adalah pengaruh kumpeni yang semakin lama menjadi semakin kuat di Surakarta. Perjanjian demi perjanjian yang bagaikan mata rantai yang mengikat Surakarta, semakin lama semakin erat.

“Kangjeng Susuhunan telah memberikan restu kepadaku ketika aku menyatakan niat untuk melawan kumpeni” berkata Pangeran Mangkubumi kepada dirinya sendiri.

Namun dalam pada itu, ternyata seorang petugas sandi melaporkan, bahwa mereka telah melihat seorang petugas keprajuritan Surakarta dalam penyamaran, telah berkuda kearah Timur. Tidak mustahil bahwa keduanya telah pergi ke Penambangan atau ke Jatimalang.

“Tentu ke Jatimalang” desis Pangeran Mangkubumi

“Lalu, apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang” bertanya salah seorang Senapatinya yang dipanggilnya berkumpul, “Apakah kita merasa sudah cukup dengan gerakan ini untuk memberikan kesan seperti yang kita kehendaki?”

Pangeran Mangkubumi adalah seorang pemikir yang cerdas. Ia dapat memperhitungkan keadaan dengan baik dan cermat. Seolah-olah Pangeran Mangkubumi itu dapat melihat yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Dalam keadaan yang tiba-tiba itu Pangeran Mangkubumi berkata, “Kita akan menyongsong pasukan yang akan datang dari Jatimalang”

Para Senapati pasukan Pangeran Mangkubumi itu menjadi berdebar-debar. Namun sikap Pangeran Mangkubumi itu adalah langkah yang paling tepat yang dapat dilakukan oleh pasukannya.

Karena itu, maka Pangeran Mangkubumi pun segera memerintahkan untuk mengumpulkan pasukannya. Agaknya kesan yang timbul tentang pasukan itu sudah cukup bagi kota Surakarta dan penghuni-penghuninya.

Dalam pada itu, seorang Senapati telah bertanya, “Apakah Pangeran percaya bahwa pasukan yang berada di Jatimalang itu akan datang membantu pasukan Surakarta yang ada di kota ini?”

“Aku mempunyai perhitungan yang demikian” berkata Pangeran Mangkubumi, “pasukan di Jatimalang itu mengetahui bahwa pasukan terkuat telah pergi ke Penambangan. Karena itu, maka mereka tentu mencemaskan nasib para prajurit dan kumpeni yang ada di kota ini. Karena prajurit dan kumpeni yang tersisa tidak terlalu banyak”

Para Senapati itu pun mengangguk-angguk. Perhitungan Pangeran Mangkubumi jarang sekali meleset. Karena itu, maka para Senapati itu pun telah menyiapkan pasukannya sebaik-baiknya. Pasukan Surakarta dan kumpeni di Jatimalang termasuk pasukan yang kuat.

Sejenak kemudian setelah pasukan itu bersiap, maka mereka pun segera meninggalkan kota menuju ke arah Timur.

Sebenarnyalah bahwa dua orang berkuda yang berhasil lolos dari tangan pasukan Pangeran Mangkubumi telah sampai ke Jatimalang. Mereka segera melaporkan apa yang telah terjadi di kota Surakarta.

“Gila” geram Letnan Belangker yang berada di Jatimalang, “Kita Harus membantu pasukan kumpeni yang ada di kota”

Senapati Surakarta yang berada di Jatimalang itu pun sependapat. Kekuatan prajurit Surakarta yang tinggal agaknya kurang mencukupi untuk melindungi istana dan seluruh kota. Karena itu maka prajurit Surakarta dan kumpeni yang berada di Jatimalang telah mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa untuk pergi ke kota, membantu pasukan yang menurut perhitungan mereka tidak akan cukup kuat melawan pasukan Pangeran Mangkubumi.

Demikianlah dengan tergesa-gesa Letnan Belangker telah membawa pasukan Surakarta dan kumpeni menuju ke arah Barat. Mereka harus segera mencapai kota sebelum kota itu hancur sama. sekali.

“Pasukan yang ada akan dapat bertahan untuk sementara” berkata Belangker, “sementara kita datang dan menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi. Belum tentu hal semacam ini dapat kita lakukan jika bukan Pangeran Mangkubumi sendiri memasuki perangkap. Mungkin kita akan gagal jika pasukan kita yang kuat datang mengepung Sukawati atau Gebang”

Senapati prajurit Surakarta hanya mengangguk-angguk saja. Tetapi ia pun merasa cemas, bahwa pasukan itu akan terlambat. Karena itu, maka Senapati itu lebih senang mempercepat perjalanan mereka daripada sekedar bermimpi menghancurkan pasukan Pangeran Mangkubumi.

Setelah menempuh perjalanan beberapa lama, maka mereka pun mendekati Bengawan yang membujur seolah-olah membatasi sisi kota Surakarta bagian Timur.

Seluruh pasukan itu menjadi berdebar-debar. Mereka membayangkan, bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah menguasai sebagian besar dari kota, Namun jika mereka datang, mereka akan segera membebaskan seluruh kota dari tangan Pangeran Mangkubumi. Prajurit dan kumpeni yang hampir menjadi putus-asa tentu akan segera bangkit,

Pasukan Surakarta yang terlatih dan kumpeni yang telah menjelajahi benua dan Samodra itu benar-benar mampu bergerak cepat Mereka seolah-olah telah tahu pasti, apa yang harus mereka lakukan saat mereka berada di pinggir bengawan.

Beberapa orang tukang satang tidak dapat menolak, ketika para prajurit dan kumpeni memerintahkan agar mereka membawa para prajurit dan kumpeni menyeberang. Berapa saja gethek yang ada, seluruhnya telah dipergunakan oleh para prajurit dan kumpeni.

Meskipun demikian, gethek yang ada tidak cukup banyak untuk membawa mereka sekaligus. Sebagian mereka yang terdiri dari prajurit-prajurit Surakarta harus menunggu gethek itu sudah sampai ke sisi sebelah Barat.

Demikianlah, sebagian pasukan gabungan itu telah di bawa dalam beberapa gethek yang ada. Dengan memeras keringat tukang satang telah bekerja keras agar pasukan itu dapat menyeberang secepat mungkin. Letnan Belangker telah membentak-bentak tidak sabar, seolah-olah tukang satang itu dengan sengaja telah memperlambat gethek mereka.

“Cepat sedikit” Letnan itu berteriak.

Tetapi tukang satang itu telah mengerahkan segenap tenaganya. Mereka tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Apalagi arus bengawan itu agak lebih besar dari biasanya.

Namun adalah di luar dugaan mereka, ketika tiba-tiba saja. demikian mereka sampai tepi bengawan di seberang Barat, telah muncul pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat. Dengan sengaja mereka mengejutkan pasukan yang mulai menginjakkan kakinya di tepian bengawan itu.

Tidak banyak kesempatan yang dapat mereka lakukan. Kumpeni yang ada di antara mereka, tidak sempat mempersiapkan senjata api mereka, ketika tiba-tiba saja pasukan Pangeran Mangkubumi yang telah menunggu itu muncul dari balik gerumbul-gerumbul perdu, dari balik tanaman di sawah dan dari balik batu-batu padas.

“Gila” teriak Letnan Belangker, “Apa artinya ini” Lalu terdengar ia meneriakkan aba-aba, “Bunuh semua lawan”

Para prajurit Surakarta dan kumpeni itu pun segera menyongsong pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun demikian tiba-tiba, sehingga sebagian dari mereka menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus segera mereka lakukan. Mereka sadar, ketika tiba-tiba saja mereka telah terdorong masuk ke bengawan. Dengan susah payah mereka harus berusaha untuk tidak hanyut Meskipun sebagian besar di antara para prajurit Surakarta itu berhasil menyelamatkan diri, namun beberapa puluh langkah dari tempat mereka terjatuh karena dorongan lawan, sementara senjata-senjata mereka sebagian telah terlepas di bengawan.

Sementara itu, ternyata pasukan Pangeran Mangkubumi memperlakukan kumpeni dengan sikap yang berbeda. Para pengikut Pangeran Mangkubumi tidak sekedar mendorong mereka ke dalam air, tetapi mendorong mereka dengan ujung pedang dan tombak.

Dengan demikian, maka kumpeni itu pun demikian cepatnya telah menjadi susut. Pada kejutan pertama, para pengikut Pangeran Mangkubumi berhasil memungut korban yang cukup banyak pada pihak kumpeni.

Tetapi mereka memang orang-orang yang tabah dan berani. Meskipun kawan-kawan mereka telah terbunuh dan terluka, namun yang lain masih bertempur dengan garangnya, sementara para prajurit Surakarta yang berhasil naik dari air bengawan telah siap membantu mereka. Tetapi mereka masih harus menemukan senjata, karena senjata mereka telah terjatuh.

Namun mereka yang masih tetap memegang senjata maka mereka pun langsung menerjunkan diri ke dalam peperangan.

Sementara itu, ternyata tukang-tukang satang yang seharusnya kembali ke seberang sebelah Timur itu pun tidak segera kembali. Sebagian dari mereka pun menjadi kebingungan dan ketakutan, sehingga ada di antara mereka yang justru terjun ke dalam air dan meninggalkan gethek mereka tertambat di tepian sebelah Barat, sementara mereka sendiri berenang menjauhi hiruk pikuk pertempuran itu.

Para prajurit yang masih berada di seberang Timur bengawan, berteriak-teriak memanggil para tukang satang. Tetapi mereka hanya, dapat mengumpat-umpat, karena tukang satang yang ketakutan itu tidak lagi mendengarkan suara mereka.

Dengan demikian para prajurit di seberang Timur itu menjadi kebingungan. Tetapi mereka tidak berani turun ke dalam air dan menyeberang ke sebelah Barat dengan berenang dalam air yang cukup deras arusnya itu.

Karena jumlah mereka yang terbagi, maka prajurit Surakarta dan kumpeni yang sudah berada di sebelah Barat bengawan itu sama sekali tidak dapat melawan pasukan Pangeran Mangkubumi yang kuat. Karena itu, maka yang tersisa itu pun telah terdesak. Semakin lama semakin jauh ke Selatan di sepanjang bengawan.

Akhirnya tidak ada pilihan lain dari mereka, kecuali melarikan diri. Karena itulah, maka ketika mereka sudah kehilangan kesempatan, maka Letnan Belangker itu pun meneriakkan isyarat kepada anak buahnya untuk membebaskan diri dari lawan mereka.

Demikianlah, kumpeni dan para prajurit itu pun segera melakukan gerakan mundur. Dengan dilindungi oleh tembakan-tembakan senjata api yang tidak banyak lagi yang tersisa dan sama sekali tidak terarah, mereka telah berusaha melarikan diri dari medan pertempuran.

Seperti yang banyak dilakukan, maka pasukan Pangeran Mangkubumi itu pun tidak mengejar mereka. Tidak terlalu jauh dari bengawan, pasukan itu akan masuk ke dalam kota. Mungkin pertempuran itu akan dapat menggugah pertempuran lain di dalam kota yang akan dapat mencelakai rakyat Surakarta sendiri.

Dengan demikian, maka Pangeran Mangkubumi tidak mengejar pasukan lawan yang menarik diri ke dalam kota.

Untuk beberapa saat Pangeran Mangkubumi masih tetap berada di pinggir bengawan. Sementara itu di sebelah Timur sebagian dari prajurit Surakarta masih tinggal. Namun ketika pasukan Surakarta yang tinggal itu melihat kawan-kawan mereka menarik diri, maka mereka pun justru tidak berusaha lagi untuk menyeberang. Apalagi para tukang satang tidak lagi berada di gethek masing-masing, atau mereka justru telah melarikan diri bersama gethek mereka mengikuti arus bengawan ke Utara.

Namun akhirnya Pangeran Mangkubumi merasa, bahwa yang mereka lakukan sudah cukup banyak pada hari itu. Sementara langit pun menjadi merah, karena matahari yang sudah semakin turun di sebelah Barat.

“Kita sudah menguasai kota sekitar setengah hari” berkata Pangeran Mangkubumi kepada para Senapatinya, “Aku kira kesan yang kita timbulkan sudah cukup. Mereka akan mengerti, bahwa pasukan kita bukan pasukan liar yang ganas dan dengan penuh nafsu untuk membunuh dan merusak. Tentu saja, kita tidak dapat menghindarkan diri sama sekali dari korban-korban yang jatuh. Karena itu, kita akan mengikhlaskan mereka yang telah gugur dalam perjuangan ini”

Ternyata para Senapati dan setiap orang di dalam pasukan Pangeran Mangkubumi itu dapat menanggapi maksudnya.

“Sekarang kita dapat kembali ke Gebang, sambil membawa korban yang sempat kita selamatkan” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian, “Aku kira, pasukan yang mengepung Penambangan akan segera kembali jika mereka menyadari bahwa Penambangan telah kosong”

Sebenarnyalah bahwa. Panglima pasukan gabungan yang mengepung Penambangan itu pun akhirnya menemukan Penambangan yang telah kosong. Betapa dada Panglima pasukan itu hampir meledak. Mereka telah menyiapkan pasukan yang sangat kuat. Namun perjalanan mereka itu sama sekali tidak berarti. Bahkan sebagian dari pasukan berkuda mereka telah menjadi korban karena kebodohan mereka.

“Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi adalah orang yang sama-sama licik. Mereka tidak berani bertempur berhadapan” Mayor yang menjadi Panglima pasukan gabungan yang kuat itu mengumpat-umpat. Ia menjadi sangat marah, bukan saja karena ia gagal menangkap Raden Mas Said, tetapi juga karena justru pasukannya telah menjadi korban. Sebagian dari pasukannya yang terbaik, pasukan berkuda, telah terjebak dan menjadi parah.

Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Penambangan benar-benar telah kosong.

Karena itu, maka kumpeni telah melepaskan kemarahan mereka terhadap ujud, bentuk dan bangunan-bangunan yang ada di Penambangan. Rumah-rumah, banjar, gapura-gapura dan apa saja yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali, telah disentuh oleh lidah api. sehingga kebakaran yang besar pun telah melanda Penambangan.

Tidak ada orang yang berusaha untuk memadamkan api. Tidak ada setitik air pun yang dilontarkan ke dalam api yang menyala bagaikan menjilat langit. Asap mengepul tinggi menggapai awan.

Demikianlah, maka Penambangan telah menjadi lautan api.

Sebagaimana Pangeran Mangkubumi yang kembali ke Gebang dengan mengambil jalan penyeberangan yang lain, maka prajurit Surakarta dan kumpeni di Penambangan pun kembali menjelang. matahari terbenam. Mereka yang lelah lahir dan batin itu akan dapat berjalan lebih tenang di malam hari.

Namun berbeda dengan prajurit Surakarta dan kumpeni yang mengalami kegagalan mutlak, maka pasukan Pangeran Mangkubumi telah berhasil melakukan satu kewajiban sesuai dengan yang mereka rencanakan.

Bahkan kepada para prajurit Surakarta yang tertahan di sebelah Timur bengawan, pasukan Pangeran Mangkubumi itu masih sempat melambai-lambaikan tangan mereka, seperti seorang saudara muda yang mengucapkan selamat tinggal kepada saudara tuanya, menjelang sebuah perjalanan yang panjang.

Lamat-lamat para prajurit Surakarta itu pun melihat pula. Dalam cahaya merahnya senja, para prajurit itu menjadi heran melihat sikap pasukan Pangeran Mangkubumi. Bahkan ada satu dua orang di antara mereka, yang di luar sadar, telah melambaikan tangannya pula,

“He” desis kawannya sambil menggamitnya, “Apa yang kau lakukan? Apakah mereka kawan-kawanmu?”

Prajurit yang melambaikan tangan itu terkejut. Namun kemudian ia menjawab, “Bukan. Bukan apa-apa. Tetapi aku tahu bahwa anak bibiku ada yang berada dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi”

Namun prajurit di sebelahnya lagi justru berkata, “Adik kandungku berada dalam pasukan Pangeran Mangkubumi”

“Dan kau tidak mencegahnya” bertanya kawannya.

“Adalah satu kebetulan bahwa aku telah bertemu ketika kami tanpa berjanji bersama-sama pulang pada saat yang sama” sahut prajurit itu,

“Apa yang kau katakan kepadanya?” bertanya kawannya.

“Aku bertanya apakah ia yakin akan kebenaran langkahnya. Ketika ia menjawab dengan satu keyakinan yang teguh, maka aku berkata kepadanya, “Teruskan saja”

“Apakah kau ingin pada suatu ketika bertemu dengan adikmu di satu medan?” bertanya kawannya pula.

“Seandainya kami bertemu, tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak akan dapat membunuhnya karena ia adalah adik kandungku. Dan ia tidak akan membunuhku, karena ia sudah mendapat pesan dengan sungguh-sungguh dari setiap Senapati di dalam lingkungan pasukan Pangeran Mangkubumi, bahwa musuhnya bukan prajurit Surakarta ”

“Omong kosong” jawab seorang prajurit berkumis lebat, “ternyata banyak juga prajurit Surakarta yang mati”

“Hal itu tidak akan mungkin dihindari. Apa yang harus dilakukan oleh seseorang jika orang lain berusaha membunuhnya? Kitalah yang dengan dendam dan benci tanpa tahu alasan dan sebabnya memusuhi mereka” jawab prajurit itu.

“Nampaknya kau sudah mulai terpengaruh oleh adik kandungmu itu” berkata prajurit berkumis lebat.

Kawannya yang lain tiba-tiba menengahinya, “Sudahlah. Kita harus memikirkan, bagaimana kita akan menyeberang. Tukang-tukang satang itu menjadi ketakutan dan lari tidak tentu arah. Tentu saja kita tidak akan dapat berenang melintasi bengawan ini”

Kawan-kawannya yang hampir saja berbantah itu pun terdiam. Pasukan Pangeran Mangkubumi sudah menjauh. Dan gelap yang turun pun menjadi semakin pekat.

Namun akhirnya pasukan itu harus menyusur tepian kearah yang berbeda dengan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk menemukan tempat penyeberangan yang lain.

Ketika pasukan yang pertama, yang dipimpin oleh Letnan Belangker mendekati gerbang kota, maka sudah terasa olehnya, bahwa kedatangannya tentu sudah terlambat. Belangker sudah menduga, bahwa yang mencegatnya di pinggir bengawan itu adalah pasukan Pangeran Mangkubumi yang baru saja menduduki kota.

Karena itu, demikian pasukan yang sudah tidak utuh lagi itu memasuki kota, maka yang nampak dimana-mana adalah kesepian dan kegelapan yang mencengkam.

“Gila” geram Letnan Belangker, “Kita terlambat. Kota sudah ditinggalkan. Sedangkan pasukan kita sendiri menjadi parah”

Senapati Surakarta yang menyertainya tidak menjawab. Pasukan itu memang sudah parah. Selain yang luka. banyak di antara mereka yang terbunuh. Bahkan mungkin masih terdapat kawan-kawan mereka yang terluka tertinggal di pinggir bengawan, selain yang terbunuh.

“Kita menuju ke istana Susuhunan” desis Belangker, “Apa yang terjadi di istana itu”

Senapati itu hanya mengangguk saja. Namun harapannya sudah sangat tipis bahwa mereka akan dapat bertemu dengan kawan-kawannya di dalam istana. Bahkan timbul sebuah pertanyaan, “Apakah Kangjeng Susuhunan masih berada di istana?”

Surakarta benar-benar sepi seperti kuburan. Jika prajurit Surakarta masih menguasai keadaan, mereka tentu akan nampak di jalan-jalan, terutama di jalan-jalan utama.

Namun seperti yang di katakan oleh Belangker, pasukan yang sudah terluka parah itu menuju ke istana melalui gerbang samping.

Sejenak Belangker termangu-mangu berdiri di pintu gerbang yang tertutup rapat. Namun akhirnya ia pun mengetuk gerbang itu dengan keras setelah memperingatkan pasukan yang tersisa untuk bersiaga.

Sebenarnyalah pasukan yang berada di dalam istana itu pun telah bersiap menghadapi kemungkinan yang terakhir dari serangan pasukan Pangeran Mangkubumi itu. Ketika penjaga regol yang siap dengan senjata telanjang mendengar kehadiran satu pasukan di luar pintu, mereka telah bersiap-siap. Seorang di antara mereka telah melaporkan dan seorang Senapati telah berada di gerbang itu pula.

Ternyata yang terdengar di luar regol adalah suara Letnan Belangker. Namun Senapati itu tidak segera membuka pintu gerbang. Seorang prajurit ditugaskannya untuk melihat pasukan itu lewat tangga yang disandarkan pada dinding halaman samping.

“Siapa tahu. seorang kumpeni yang tertawan telah dipaksa untuk mengetuk pintu” berkata Senapati itu.

Prajurit yang menengok mereka lewat dinding halaman itu kemudian melihat, bahwa sebenarnyalah yang berada di dalam gelapnya malam di luar dinding adalah prajurit Surakarta dan kumpeni.

Setelah memberi isyarat kepada Senapati yang berada di depan regol, maka Senapati itu pun memerintahkan untuk membuka pintu regol.

Letnan Belangker lah yang kemudian bersiap-siap mengha-dapi segala kemungkinan. Bahkan ia menduga, bahwa yang berada di balik pintu regol itu bukan lagi prajurit Surakarta dan kumpeni, tetapi pasukan Pangeran Mangkubumi. Demikian regol itu terbuka, maka mereka akan langsung menyerangnya.

Namun ternyata tidak seperti yang dicemaskannya. Ketika pintu terbuka, maka seorang Senapati berdiri tegak menyambut kedatangan pasukan itu.

Letnan Belangker pun kemudian menyatakan, bahwa pasukan itu adalah pasukan yang berada di Jatimalang. Setelah mendapat laporan bahwa kota diserang, mereka pun dengan tergesa-gesa telah berusaha untuk mencapai kota.

“Silahkan membawa pasukanmu masuk” Senapati itu mempersilahkan.

Dalam pada itu, Belangker pun telah diterima oleh perwira-perwira kumpeni. Seorang kapten bertanya dengan nada keras, “Kau hanya membawa sebagian kecil dari pasukanmu?”

Letnan Belangker menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun harus melaporkan apa yang telah dialaminya.

Kapten itu mengumpat-umpat. Tetapi ia tidak dapat menyalahkan Letnan Belangker. Yang terjadi benar-benar di luar kemampuan pengamatan dan perhitungannya.

“Jadi, bagaimana dengan pasukan yang kau tinggalkan di seberang bengawan” bertanya kapten itu.

“Mudah-mudahan mereka dapat mencari jalan sendiri” jawab Belangker. Kami tidak dapat memberikan petunjuk apa-apa, karena demikian kami mendarat dari rakit-rakit yang menyeberangkan kami, pasukan itu tiba-tiba saja telah menyerang. Sebagian dari kami terjerumus ke dalam bengawan. Sebagian yang lain tidak dapat mengelakkan senjata mereka”

Kapten itu mengumpat-umpat semakin keras. Namun akhirnya ia bertanya, “Bagaimana keadaan kota setelah kau lewat pintu gerbang dan memasuki kota ini”

“Sepi, seperti kuburan” desis Belangker itu.

“Jadi pasukan orang-orang liar itu benar-benar telah pergi?” bertanya kapten itu.

“Ya. Kami tidak menjumpai mereka di dalam kota, kecuali di pinggir bengawan itu” jawab Belangker.

Kapten itu pun kemudian memerintahkan para prajurit dan kumpeni yang terluka untuk mendapat perawatan. Namun Belangker pun melaporkan bahwa mungkin masih ada orang-orang terluka yang tertinggal.

“Kita akan pergi ke bengawan” berkata kapten itu, “Kita akan singgah di loji, dan membawa kumpeni yang tersisa bersama kami”

“Tidak ada lagi lawan seorang pun” desis Belangker.

“Siapa tahu” jawab kapten itu, “mereka sangat licik dan pengecut”

Belangker tidak menjawab, iapun menganggap pasukan lawan itu licik dan pengecut.

Demikianlah, maka sebagian pasukan yang berada di halaman istana itu keluar dari regol samping. Di antara mereka terdapat Belangker dan beberapa orangnya yang tidak cidera, sementara yang lain mendapat kesempatan untuk beristirahat, dan apabila perlu mereka dapat menggantikan pasukan yang meninggalkan istana itu.

Dalam pada itu, pasukan kecil itu pun telah menjelajah jalan-jalan kota. Mereka singgah di loji dan memberitahukan kepada pimpinan pasukan kumpeni yang tersisa di loji itu, bahwa kapten itu memerlukan kumpeni yang ada untuk bersama-sama pergi ke bengawan.

“Berbahaya kapten” jawab seorang kumpeni, “bagaimana jika pasukan liar itu masih berada di tepi bengawan?”

“Kita singgah di barak pasukan berkuda Surakarta. Prajurit yang tersisa akan bersama kita, dan demikian pula prajurit-prajurit yang lain”

Dalam waktu singkat dan tergesa-gesa, disusun sepasukan prajurit yang cukup banyak, yang akan pergi ke bengawan. Mereka seolah-olah sudah siap seandainya pasukan Pangeran Mangkubumi masih berada di tempat itu. Namun menurut perhitungan kapten itu, Pangeran Mangkubumi yang telah meninggalkan kota dan tidak memburu pasukan Belangker, tentu telah pergi.

Dengan diam-diam pasukan itu meninggalkan kota. Pintu gerbang kota sama sekali tidak dijaga oleh seorang prajurit pun. Sepinya kota Surakarta apalagi di malam hari, memang seperti yang dikatakan oleh Letnan Belangker. Seperti kuburan.

Namun pasukan itu terkejut, ketika tiba-tiba saja muncul dari dalam kegelapan, sepasukan laskar di hadapan mereka. Dengan serta merta, kapten itu pun meneriakkan aba-aba agar pasukannya segera bersiap menghadapi kemungkinan.

Tetapi ternyata aba-aba itu telah memperkenalkan pasukan itu kepada pasukan yang baru datang. Pasukan yang datang itu adalah prajurit yang telah ditinggalkan oleh Belangker di seberang bengawan. Sehingga dengan demikian, maka dapat dihindari salah paham.

Ternyata prajurit yang baru datang itu harus menempuh perjalanan beberapa lama sebelum mereka menemukan tempat penyeberangan yang lain. Baru kemudian mereka berhasil menyeberang dan dengan tergesa-gesa menuju ke kota.

“Kita akan mengambil kawan-kawan kita yang terbunuh dan terluka di pinggir bengawan” berkata Belangker kepada pasukan-nya yang baru datang itu. Yang kemudian memerintahkan mereka untuk ikut serta menuju ke bengawan.

Ternyata bahwa prajurit Surakarta dan kumpeni itu tidak menjumpai hambatan apapun juga. Mereka sempat mengambil kawan-kawan mereka yang terbunuh dan terluka. Dengan obor-obor mereka mencari di antara semak-semak dan pohon-pohon perdu di pinggir bengawan itu.

Namun yang kemudian mereka katakan kepada kawan-kawan mereka setelah mereka kembali ke Surakarta, bahwa pasukan mereka telah berhasil menghalau pasukan Pangeran Mangku-bumi.

Malam itu juga, prajurit Surakarta dan kumpeni yang telah yakin bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah menarik diri telah turun ke jalan-jalan. Pasukan berkuda telah meronda sampai ke sudut-sudut bahkan sampai keluar regol kota.

Malam itu juga seorang kapten kumpeni menghadap Kangjeng Susuhunan yang masih tetap berada di antara para pimpinan prajurit di Surakarta untuk melaporkan bahwa pasukan Pangeran Mangkubumi telah mundur.

“Kami telah menghalau mereka” berkata kapten itu.

Untuk beberapa saat Kangjeng Susuhunan tetap terdiam, Sementara kapten itu berkata pula Kami berhasil memukul mundur pasukan Pangeran Mangkubumi dari kota dan mendesaknya sampai ke pinggir bengawan. Akhirnya pasukan Pangeran Mangkubumi itu mundur kearah Utara menyusuri tepian. Mereka meninggalkan mayat dan kawan-kawan mereka yang terluka”

Kangjeng Susuhunan itu pun mengerutkan keningnya. Kemudian ia berkata, “Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang terluka itu, Dimana mereka sekarang?”

Pernyataan itu membuat kapten yang memberikan laporan itu tergagap. Namun akhirnya ia menjawab, “Mereka masih berada di tepi bengawan”

“Aku akan pergi ke tepi bengawan” sahut Kangjeng Susuhunan dengan nada datar.....


*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 24"

Post a Comment

close