Bunga Di Batu Karang Jilid 15

Mode Malam
Arum memandang Raden Juwiring sejenak Namun kecemasannya tumbuh lagi. Apalagi bahwa Raden Juwiring sudah mengetahui bahwa Buntal berada di Sukawati.

Karena itu sekali lagi ia berkata, “Raden. Jika Raden mengetahui bahwa kakang Buntal berada di Sukawati, apakah kedatangan Raden kali ini ada hubungannya dengan hal itu?”

“Kenapa kau sangat berprasangka Arum? Bukankah sudah aku katakan, aku hanya akan mencari keterangan tentang orang-orangku yang hilang. Tidak lebih”

Arum tidak menjawab. Meskipun ia tidak dapat mempercayainya begitu saja keterangan Juwiring. Tetapi Arum tidak bertanya apapun lagi. Diantaranya Juwiring sampai ke halaman. Kemudian dilepaskannya anak muda itu dengan hati yang berdebar-debar.

Sepeninggal Juwiring, Arum duduk merenung di ruang dalam. Ia tidak mengerti, kenapa hal itu dapat terjadi. Ia mengenal Juwiring jauh berbeda dengan Juwiring yang baru saja datang.

“Agaknya keempat orang itu juga anak-anak bangsawan. Menilik ujudnya dan sikapnya, meskipun bangsawan yang telah agak jauh dari pokok keturunan Kangjeng Susuhunan” bertata Arum di dalam hatinya, lalu, “dan sekarang Raden Juwiring mencarinya. Bagaimana mungkin ia dapat berada di antara prajurit Surakarta”

Dalam pada itu. Raden Juwiring pun meninggalkan halaman padepokan Jati Aking. Ia tidak bergegas kembali kepada pasukannya. Perlahan-lahan kudanya berjalan di atas jalan berbatu-batu. Jalan yang pernah dilaluinya beberapa kali sehari, ketika ia masih berada di Jati Aking. Tetapi jalan itu kini rasa-rasanya memang asing baginya.

Namun Juwiring masih tetap menganggukkan kepalanya sambil tersenyum jika dijumpainya orang-orang Jati Sari yang sudah dikenalnya. Ia sama sekali tidak merubah sikapnya seperti ketika ia masih berada di padepokan.

Beberapa orang petani yang menjumpainya, menganggukkan kepalanya pula. Tetapi rasa-rasanya memang ada batas yang menyekat hubungannya dengan orang-orang yang sudah pernah dikenalnya dengan baik itu. Jika mula-mula para petani itu tertawa dengan wajah yang cerah, namun ketika mereka menyadari bahwa Juwiring memakai pakaian seorang prajurit Surakarta, maka sikap mereka pun jadi berbeda. Mereka kemudian membungkuk hormat seperti mereka menghormati para bangsawan yang lain.

Juwiring hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat menyalahkan mereka. Rakyat Jati Sari tentu menganggap bahwa ia kini adalah seorang bangsawan sepenuhnya yang memimpin sepasukan prajurit ke Jati Sari dan padepokan Jati Aking.

Ketika ia sampai ke pasukannya yang menunggu, terasa betapa suasana yang lain telah membayangi Jati Sari. Meskipun ia tidak melihat apa yang terjadi di balik-balik dinding rumah, namun firasatnya menangkap, bahwa beberapa orang telah mengintip dengan dada yang berdebar-debar. Orang yang memiliki halaman yang luas itu pun agaknya menjadi ketakutan dan serba salah. Sepeninggal prajurit yang beristirahat di halamannya, ia harus bertanggung jawab terhadap tetangga-tetangganya, bahwa ia tidak ada hubungan apapun dengan mereka. Bahkan orang itu hanya sekedar memberikan tempatnya karena ia tidak dapat menolak.

Ketika Juwiring kemudian berada di pasukannya, maka perwira yang diserahinya memimpin pasukannya untuk beberapa saat itu pun segera bertanya, “Apakah Raden sudah mempunyai jalan untuk mencari jawaban atas hilangnya empat orang prajurit sandi itu?”

Raden Juwiring menggelengkan kepalanya. Namun kemudian dengan ragu-ragu ia berkata, “Ternyata orang-orang di padepokan Jati Aking tidak mengetahui apapun juga tentang orang-orang itu”

“Jadi, apakah yang harus kita kerjakan”

“Kita beristirahat sejenak. Kemudian kita akan mencari keterangan kepada orang-orang lain”

“Kita akan menyebar prajurit-prajurit ini agar setiap orang dapat ditanya tentang orang-orang yang hilang itu”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Tidak. Kita akan pergi sendiri. Tanpa mereka”

“Jadi?”

“Biarlah mereka di sini. Jika mereka berpencar dan memasuki rumah demi rumah, akibatnya akan sangat jauh bagi Jati Sari. Orang-orang Jati Sari dan padepokan Jati Aking akan ketakutan. Mereka tidak akan mempunyai ketenangan lagi, bukan saja hari ini. Tetapi untuk waktu yang panjang”

“Tetapi kita hanya ingin mendapatkan keterangan”

“Kita tentu mengetahui, bahwa prajurit-prajurit Surakarta akan dapat menirukan sikap kumpeni. Mereka sering melihat bagaimana kumpeni memaksa orang-orang yang diperiksanya untuk menjawab. Dan aku cemas, bahwa sebagian dari kita sudah kejangkitan penyakit serupa”

Perwira itu memandang Raden Juwiring dengan heran. Namun sebelum ia berbicara, Raden Juwiring sudah mendahului, “Lakukan perintahku. Akulah yang memimpin pasukan berkuda ini”

“Tetapi apakah gunanya mereka pergi bersama kita Raden?”

“O, banyak sekali. Jika kita bertemu dengan pasukan Kangmas Said, atau jika kita bertemu dengan perampok-perampok yang gila itu, kita harus bertempur”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, biarlah mereka beristirahat. Kita akan berjalan-jalan berdua saja”

Perwira itu menganggukkan kepalanya. Lalu diperintahkannya seluruh pasukan beristirahat, meskipun mereka masih harus tetap waspada.

“Tugas kita beristirahat di sini” berkata seorang prajurit muda, “Agaknya tidak ada pekerjaan apapun yang dapat kita lakukan selain duduk terkantuk-kantuk”

Kawannya mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukankah kebetulan sekali bahwa kita tidak usah berbuat apa-apa? Bukan salah kita. Pimpinan kita kali ini adalah seorang yang sangat rajin sehingga apapun dilakukannya sendiri”

“Bukan karena ia terlalu rajin, tetapi ia sama sekali tidak percaya bahwa orang-orang semacam kau ini dapat melakukan tugasmu dengan baik. Bukankah kau dengar bahwa empat orang petugas sandi itu telah hilang? Dan kau bukannya orang yang lebih baik dari mereka”

Yang lain lagi tertawa pendek sambil berkata, “Bukankah Raden Juwiring pernah tinggal di padukuhan ini? Mungkin ia ingin mengunjungi gadis simpanannya”

Prajurit-prajurit itu tertawa sehingga beberapa orang yang duduk ditempat lain berpaling kepadanya. Tetapi mereka pun segera terdiam ketika seorang perwira datang kepada mereka dan bertanya, “Kenapa kau tertawa?”

“Tidak apa-apa. Kami sedang bergurau”

Perwira itu pun kemudian pergi meninggalkan prajurit-prajurit yang sedang bergurau. Tetapi agaknya ia mengerti, bahwa prajurit-prajurit itu sekedar melepaskan kejemuan mereka, karena mereka justru hanya harus duduk terkantuk-kantuk.

Dalam pada itu Raden Juwiring bersama seorang perwira bawahannya tengah berjalan-jalan di sepanjang lorong di pinggir padukuhan Jati Sari. Juwiring masih saja mengangguk-anggukkan kepalanya apabila ia bertemu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya Tetapi ia selalu mendapat tanggapan yang serupa. Senyum yang rasa-rasanya beku tanpa gairah.

Tetapi Juwiring pun menyadari, bahwa ia telah menempuh jalan yang tidak diduga sama sekali oleh orang-orang Jati Aking.

“Jika mereka melihat Rudira dalam pakaian ini mereka tentu tidak akan terlampau heran” berkata Juwiring di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba Juwiring terhenti ketika dilihatnya dua orang gadis yang berjalan menepi hampir melekat dinding. Mereka menjadi berdebar-debar karena justru Raden Juwiring berhenti dan memandanginya dengan tajamnya. Beberapa kali ia bertemu dengan gadis-gadis sebaya dengan Arum, dan beberapa kali ia menganggukkan kepalanya. Tetapi kedua gadis itu kini sangat menarik perhatiannya.

“Berhentilah sejenak” minta Raden Juwiring kepada kedua gadis itu.

Kedua gadis itu menjadi tersipu-sipu dan bahkan mereka saling berdesakan.

“He, apakah kalian lupa kepadaku?”

Termangu-mangu kedua gadis itu memandang sekilas dengan sudut matanya. Namun kemudian mereka pun menundukkan kepala dalam-dalam.

“Bukankah kalian mengenal aku” sekali lagi Juwiring mendesak.

Keduanya masih belum menjawab, sehingga Juwiring terpaksa melangkah semakin dekat dan berkata datar, “Lihatlah. Aku adalah Juwiring, yang pernah tinggal di padepokan Jati Aking bersama Arum dan Buntal”

Kedua gadis itu tiba-tiba saja tertawa tertahan-tahan.

“Tentu kau tidak lupa kepadaku” desak Juwiring.

“Tidak, tidak” terbata-bata terdengar salah seorang menjawab sambil mengerutkan lehernya.

“Nah, jika demikian, kenapa kalian bersikap lain. Mungkin kalian melihat pakaianku. Memang kali ini aku memakai pakaian perwira dari pasukan berkuda Surakarta. Tetapi apakah bedanya dengan aku yang tinggal di padepokan itu?”

Keduanya tidak menjawab. Bahkan mereka menjadi semakin berdesak-desakan.

“Jangan malu. Aku tidak apa-apa. Aku hanya tertarik kepada perhiasanmu itu, kepada kalungmu”

Keduanya mengangkat wajahnya bersama-sama. Namun berbareng pula keduanya menutupi kalung merjan yang mereka

“Darimana kalian mendapatkan kalung yang bagus itu?”

Keduanya belum menjawab.

“Kalung itu tentu tidak banyak yang memilikinya”

“Arum juga mempunyainya. Bahkan dua. Tetapi yang seuntai sudah diberikan seorang kawannya” jawab salah seorang dari mereka.

“O” Juwiring mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Aku sudah menemui Arum. Tetapi Arum tidak memakai kalung sebagus itu”

“Tentu tidak sedang dipakainya” desis yang seorang lagi.

Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalung yang dipakai oleh gadis-gadis itulah yang sebenarnya menarik perhatiannya. Ia tahu benar bahwa gadis-gadis padukuhan kecil itu tidak akan memerlukan membeli kalung merjan, karena penghasilan mereka tidak banyak berlebih bagi hidup mereka sehari-hari.

Karena itu, maka ia pun segera teringat, bahwa kumpeni mempunyai banyak sekali benda-benda yang menarik semacam itu. Dari yang bernilai sangat tinggi, sampai kepada kalung-kalung merjan. Namun gunanya tidak jauh berbeda. Yang bernilai tinggi dipergunakannya untuk memikat hati orang-orang besar, sedang bernilai rendah dipergunakannya untuk memikat hati gadis-gadis padesan seperti kalung-kalung merjan itu.

“Apakah ada hubungannya dengan kehadiran keempat petugas sandi yang hilang itu” Ia bertanya kepada diri sendiri.

Namun dalam pada itu, maka ia semakin tertarik kepada kalung-kalung merjan itu dan berusaha untuk mengetahui, dari manakah mereka mendapatkannya.

Tetapi gadis-gadis itu rasa-rasanya masih saja tetap segan menjawab pertanyaan-pertanyaannya, karena ia berpakaian seorang perwira. Namun Juwiring tidak ingin melepaskan kesempatan itu.

Karena itu, maka segala usaha dipergunakannya. Bahkan terpaksa sekali justru Juwiring menakut-nakuti mereka. Katanya, “Kau harus menjawab pertanyaanku. Darimana kau mendapat-kan kalung itu.

Kedua gadis yang saling berdesakkan dan tertawa tertahan-tahan itu terkejut mendengar nada pertanyaan Juwiring yang agak lain. Dengan wajah yang tegang mereka kiai memandang Juwiring dengan kaki gemetar.

Juwiring menyesal melihat ketakutan yang membayang di wajah gadis-gadis itu. Namun ia ingin mendapat keterangan itu. Karena itu ia masih juga mengulangi, “Kau hanya wajib menjawab pertanyaanku ini. Tidak apa-apa. Darimana kau dapatkan kalung merjan itu, supaya prajurit-prajurit Surakarta yang berada di Jati Sari sekarang ini tidak salah sangka.

“Kenapa dengan kalung-kalung merjan ini” salah seorang dari gadis-gadis itu bertanya ketakutan.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu dengan pasti dan benar, dari mana kau mendapatkannya. Tentu bukan kau terima dari tangan yang salah”

“Maksud Raden?” anak-anak itu semakin ketakutan.

“Maksudku, bukan dari orang-orang yang sering mengganggu keamanan di kota. Kumpeni sering kehilangan barang-barang yang berharga seperti kalung-kalung merjan itu selagi barang-barang itu dikirimkan dengan kereta-kereta kiriman untuk sahabat-sahabat mereka di kota?”

“O, tentu tidak Raden. Aku menerima pemberian dari orang yang aku rasa bukan orang-orang jahat” jawab salah seorang dari mereka.

“Siapakah mereka?”

Kedua gadis itu menjadi gemetar. Apalagi ketika tampak olehnya tatapan mata perwira kawan Juwiring yang berdiri mematung saja.

“Kami tidak mengenal mereka Raden” jawab salah seorang gadis yang ketakutan itu.

“Aneh”

“Benar Raden”

“Coba katakan, siapa mereka”

Meskipun dengan ragu-ragu, namun kedua gadis itu pun berceritera berganti-ganti tentang anak-anak muda yang memberikan kalung itu kepada mereka. Merekapun menceriterakan apa yang ingin mereka ketahui dari orang-orang Jati Sari. Tetapi mereka tidak sempat menceriterakan kelanjutannya, bahwa Arum mengatakan tentang orang gemuk berkuda coklat, karena Raden Juwiring pun segera memotongnya, “Terima kasih. Hanya itulah yang aku ingin mengetahui. Jika demikian, kalian mendapat kalung itu dengan baik.”

“Raden” potong perwira pengikut Juwiring yang sejak semula hanya mendengarkannya, “Tetapi agaknya mereka dapat menceriterakan lebih banyak lagi tentang anak-anak muda yang mereka katakan membagi-bagikan kalung itu. Kenapa Arum yang disebut-sebut oleh kedua gadis itu mendapatkan dua untai? Apakah gadis itu dapat memberikan keterangan lebih banyak dari yang lain”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Tetapi ia pun kemudian tertawa, “Tentu. tidak. Mungkin orang-orang itu hanya tertarik kepada Arum yang biasanya pendiam”

“Jika demikian aneh sekali. Kenapa mereka justru tertarik kepada pendiam itu” sahut perwira itu.

“Tetapi bukankah Arum ada di antara kalian” bertanya Juwiring kepada kedua gadis itu, “dan bukankah yang didengar oleh Arum sama bunyinya dengan yang kalian dengar?”

Hampir di luar sadarnya kedua gadis itu mengangguk.

“Nah” Juwiring menarik nafas dalam-dalam, “pulanglah. Kalian sudah memberikan jawaban yang sangat memuaskan kepada kita”

Kedua gadis itu saling memandang sejenak, lalu, “Jadi, apakah kami sudah boleh pergi?”

“Tentu. Kalian boleh saja pergi. Sejak tadi pun kalian boleh pergi jika kalian berkeberatan berhenti sejenak. Aku menghenti-kan kalian karena aku merasa mengenal kalian sebagai kawan-kawan bermain di padukuhan ini pada saat aku masih tinggal di padepokan Jati Aking”

“Ah” gadis itu berdesah.

Tetapi mereka pun segera meninggalkan Juwiring dengan tergesa-gesa.

Juwiring memandang mereka dengan tersenyum, ketika gadis-gadis itu sudah menjadi semakin jauh ia berkata, “Kau harus mengetahui sifat dari gadis-gadis padukuhan. Kau tentu tidak akan dapat bertanya kepada mereka dengan cara-cara yang dapat membuat mereka takut”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam.

“Memang kadang-kadang kita harus menakut-nakuti sedikit. Tetapi setelah itu, kita harus mengembalikan kepercayaannya kepada kita, bahwa kita tidak akan berbuat apa-apa”

“Tetapi kami memerlukan keterangan yang lebih banyak” sahut perwira itu, “dan menilik pembicaraan itu, Arum mengetahui lebih dari mereka berdua”

“Tentu tidak. Tetapi jika demikian, maka kau tidak boleh membuat kesan bahwa kita memerlukan Arum. Gadis itu akan ketakutan, dan barangkali akan melarikan diri atau bahkan membunuh diri”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau mengerti maksudku?”

“Ya, aku mengerti”

“Itulah sebabnya aku tidak mempergunakan prajurit-prajurit yang dungu itu untuk kepentingan serupa ini. Mereka hanyalah sekedar pengawal apabila kita bertemu dengan pasukan Raden Mas Said yang kuat”

Perwira itu masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jika aku memerintahkan mereka berpencar dan mencari keterangan tentang petugas-tugas sandi yang hilang, maka mereka tidak akan mendapatkan keterangan yang benar. Orang-orang Jati Sari akan menjawab apa saja yang diminta oleh prajurit -prajurit-prajurit sandi itu sekedar untuk menghindarkan diri dari ketakutan”

“Maksud Raden?”

“Mereka tidak menjawab berdasarkan atas pengertian mereka tentang persoalannya. Tetapi mereka mengiakan apa saja yang diminta. Bukankah keterangan yang demikian justru akan menyesatkan”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Memang ada juga benarnya bahwa mereka itu sudah menuntut jawaban seperti yang dikehendakinya sebelum mengucapkan pertanyaan. Karena itu maka perwira itu pun sekali lagi mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah, sekarang kau tahu, kenapa aku tidak memerintahkan mereka memencar. Dan kenapa aku harus menangani masalah ini sendiri. Kau pun harus dapat mengerti meskipun tidak perlu kau katakan kepada mereka, bahwa tugas mereka tidak lebih dari kekuatan tempur untuk melindungi kita berdua”

“Baiklah” berkata perwira itu.

“Aku pun mengerti bahwa mereka akan merasa jemu untuk duduk saja sambil menguap. Tetapi apaboleh buat. Aku kira itu adalah yang paling baik yang dapat kita lakukan. Bahkan juga apabila kita harus bermalam”

“Aku akan mencoba untuk mengatasi kejemuan itu” berkata perwira itu.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Membawa mereka sekali dua kali mengitari daerah ini tanpa berhenti dan bertanya kepada siapapun”

“Maksudmu?”

“Seolah-olah kita mendapat keterangan tentang gerakan Raden Mas Said”

“Terserah kepadamu”

Demikianlah maka keduanya pun kemudian kembali ke pasukan mereka, yang seperti dikatakan oleh Raden Juwiring, mereka memang menunjukkan sikap yang aneh-aneh untuk menyatakan kejemuan mereka”

Tetapi mereka pun segera terkejut ketika perwira yang menyertai Raden Juwiring itu memanggil beberapa perwira muda berkumpul di depan regol. Perwira itu mengucapkan perintah beberapa kalimat, seakan-akan ia telah melihat bekas-bekas kaki kuda yang menyilang jalan padesan itu.

“Kita akan mencoba melingkar padukuhan ini. Siapa tahu, ada petugas sandi Raden Mas Said yang melihat kehadiran kita di sini”

Ternyata perwira itu berhasil membangunkan minat prajurit-prajuritnya. Merekapun dengan cepat berkemas. Dan sejenak kemudian mereka telah berada di punggung kuda. Hanya beberapa orang sajalah yang tinggal di halaman itu untuk mengawasi keadaan di padukuhan itu.

Kuda-kuda para prajurit itu pun kemudian berderap di jalur jalan pinggir padukuhan melingkar dan kemudian sampai ke bulak panjang di sebelah.

Tetapi ternyata mereka tidak melihat sesuatu.

“Apakah benar pasukan Raden Mas Said itu lewat?” bertanya salah seorang kepada kawannya.

“Bukan pasukan Raden Mas Said. Tetapi beberapa orang yang diduga anak buah Raden Mas Said yang sengaja mengawasi kita”

Yang mula-mula bertanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia tidak bertanya lagi. Dengan berdebar-debar dilihatnya perwira yang mewakili Raden Juwiring memimpin pasukan itu, berada di paling depan bersama beberapa orang perwira yang lebih muda, seakan-akan mereka sedang meneliti jalan yang membujur di hadapan mereka.

“Mereka sedang mencari jejak” desis seorang prajurit yang lain.

Kawannya yang ada di sampingnya mengangguk, “Ya. Mereka sedang mencari jejak itu”

Perwira yang ada di paling depan itu kadang-kadang mempercepat lari kudanya, kadang-kadang lambat sekali.

Dalam pada itu. selagi para prajurit berkuda itu membelah tanah persawahan, maka Raden Juwiring segera pergi ke rumah Arum. Namun ternyata Kiai Danatirta pun masih belum ada di padepokannya.

“Kenapa Kiai Danatirta belum kembali?” bertanya Juwiring, “bukankah biasanya Kiai Danatirta tidak, terlampau lama di sawah?”

“Aku tidak tahu” jawab Aram, “Aku pun menjadi cemas kenapa ayah belum pulang”

“Benar Kiai Danatirta belum pulang?”

“Kau tidak percaya?”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Arum, Baiklah. Aku tidak dapat menunggu terlalu lama. Tetapi sebenarnya aku memerlukan keterangannya”

“Ayah tidak akan memberikan keterangan apa-apa kepada Raden dan kepada prajurit-prajurit Surakarta itu, karena tidak ada apapun yang kami ketahui”

“Arum” suara Raden Juwiring merendah, “Bagaimana dengan kalung-kalung merjan itu?”

Wajah Arum menjadi tegang. Namun sejenak kemudian ia berusaha untuk menghapus ketegangan itu. Katanya, “Apakah yang Raden maksud dengan kalung-kalung merjan?”

“Kau mendapat dua untai kalung merjan dari dua orang yang tidak kau kenal. Tentu dua orang itu adalah dua di antara empat orang yang sedang aku cari”

“Kenapa Raden dapat mengambil kesimpulan demikian?”

“Mereka memang sering membagikan kalung-kalung merjan kepada gadis-gadis padesan”

“Gadis-gadis dungu yang dapat disadap keterangannya”

“Nah, kau tahu tepat seperti yang sebenarnya”

Wajah. Arum menjadi merah.

“Arum, kau sebaiknya tidak usah merahasiakan. Kau katakan apa yang kau ketahui saja. Selebihnya aku akan mencari sendiri”

“Raden” berkata Arum, “sebenarnya aku merasa bahwa tuduhan Raden pertama-tama tentu terhadap kami. Aku dan ayah, karena terhadap Raden, aku dan ayah tidak dapat bersembunyi bahwa sebenarnyalah kami memiliki kemampuan untuk melakukannya. Katakanlah seandainya kami membunuh keempat orang yang tuan cari. Tetapi kami sama sekali tidak melihat mereka”

“Kau masih tetap ingkar. Kawan-kawanmu sudah mengatakan kepadaku, bahwa kau menerima dua untai kalung”

“Ya, aku tidak ingkar tentang kalung itu. Tetapi Raden jangan memaksa aku mengetahui apa yang tidak aku ketahui selain dua untai kalung yang aku terima dari orang yang tidak aku kenal itu”

“Dimanakah orang yang tidak kau kenal itu sekarang?”

“Aku tidak tahu”

“Kenapa kau menerima dua untai. Tidak seperti kawan-kawanmu yang lain, hanya satu?”

“Itu bukan persoalan kami, Raden. Mungkin orang itu mempunyai niat yang lain. Aku tidak mengatakan bahwa aku cantik dan dapat memikat hatinya. Tetapi bahwa mereka memberi aku dua, itu aku tidak mengerti”

“Jadi kau tidak dapat mengatakan apa-apa Arum”

“Tidak”

“Arum, sampai saat ini aku tetap membatasi, bahwa hanya aku sendirilah yang akan mencari keterangan. Jika orang-orang lain di dalam pasukanku mendapatkan bukti-bukti atau keterangan-keterangan yang dapat melibatkan kau ke dalamnya, maka akan sulitlah bagiku untuk berusaha melepaskan kau dari persoalan itu. Karena itu, jika kau tidak berkeberatan, katakanlah saja kepadaku sebelum orang lain ikut campur di dalam persoalan ini. Sampai sekarang prajurit-prajurit itu masih tetap diam karena aku masih dapat menguasai kejemuannya. Tetapi jika mereka pada suatu saat melihat kau terlibat, aku tidak tahu, apa yang akan mereka lakukan terhadapmu”

“Raden” berkata Arum, “Jika memang demikian, apaboleh buat. Aku mempelajari olah kanuragan bukan sekedar akan aku bawa mati sambil menyilangkan tangan di dada. Tetapi jika terpaksa aku akan merentangkan tanganku dan mati dengan sikap jantan, sebagai seorang anak padepokan Jati Aking”

Wajah Raden Juwiring menegang sejenak. Namun ia pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Adalah wajar jika Arum mengucapkan kata-kata itu, karena ia adalah anak Kiai Danatirta, dari padepokan Jati Aking.

Karena itu, ternyata baginya bahwa ia tidak akan dapat menyadap keterangan itu dari Arum. Arum bertekad untuk tidak mengatakan apapun juga, meskipun ia akan dipaksa dengan kasar atau halus.

Dengan demikian maka Raden Juwiring pun kemudian berkata, “Baiklah Arum. Jika kau memang tidak dapat memberikan keterangan apapun kepadaku”

“Aku tidak tahu apa-apa tentang orang yang tidak aku kenal itu Raden”

Raden Juwiring menarik nafas. Katanya, “Aku mohon diri”

Di regol halaman Raden Juwiring berpaling. Dilihatnya Arum berdiri di halaman sambil termangu-mangu. Adalah di luar dugaannya bahwa Raden Juwiring itu berkata sambil tersenyum, “Kau memang seorang gadis yang tabah Arum. Kau adalah anak Jati Aking yang baik”

Arum tidak tahu maksud Raden Juwiring. Mungkin ia benar-benar memuji. Tetapi mungkin Raden Juwiring sekedar melepaskan kekecewaannya saja. Jika demikian, maka Arum harus berhati-hati. Kekecewaan yang mencengkam dapat memaksanya berbuat sesuatu di luar dugaan.

Dari padepokan Jati Aking, Raden Juwiring tidak segera kembali kepada pasukan induknya yang diduganya masih berkeliling di sekitar padukuhan itu sekedar untuk melepaskan kejemuan. Karena itu maka ia pun segera pergi ke rumah salah seorang gadis berkalung merjan yang dijumpainya di pinggir padukuhan.

Dengan ketakutan ayah gadis itu pun ikut menemuinya pula. Bahkan dengan membungkukkan kepalanya dalam-dalam ayahnya itu berkata, “Raden, jika kalung itu harus dilepas, biarlah ia melepaskannya. Dan jika kalung itu memang harus dikembalikan biarlah ia mengembalikan”

“Kepada siapa kalung itu akan dikembalikan?” bertanya Juwiring.

Orang tua gadis itu menjadi bingung. Dan bahkan ia pun bertanya kepada anaknya, “Kepada siapa kalung itu akan kau kembalikan?”

“Aku tidak tahu” jawab gadis itu dengan gemetar.

Juwiring tersenyum. Katanya, “Jangan takut. Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku hanya ingin mendengar sekali lagi ceriteramu tentang orang-orang yang memberikan kalung itu kepadamu. Aku ingin bertanya, kenapa Arum mendapat dua untai, sedang yang lain hanya satu?”

Gadis itu menjadi semakin cemas. Namun ia masih dapat mengingat apa yang dikatakan Arum tentang orang gemuk berkuda coklat.

Dan hal itulah yang kemudian dikatakannya kepada Raden Juwiring. Bahwa Arum telah memberi tahukan tentang orang berkuda coklat itu sehingga ia mendapat hadiah kalung lebih banyak dari kawan-kawannya.

Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ketajaman berpikirnya telah membawanya ke dalam suatu gambaran tentang Arum dan orang-orang itu. Jika benar-benar Arum memberikan penjelasan itu maka persoalannya tentu tidak hanya akan berhenti sampai sekedar memberikan dua untai kalung itu.

Tetapi Raden Juwiring tidak berhasil mendapat keterangan lebih banyak lagi dari gadis itu, karena gadis itu memang tidak mengetahui peristiwa-peristiwa yang menyusul kemudian.

Dari rumah gadis itu, Raden Juwiring kembali ke induk pasukannya yang ternyata telah kembali pula dari perjalanan mereka mengelilingi daerah di sekitar padukuhan Jati Sari.

“Apa yang kalian ketemukan?” bertanya Raden Juwiring.

“Aku mengambil kesimpulan, bahwa daerah ini memang merupakan daerah yang harus mendapat pengawasan” berkata Perwira itu, “Kami menemukan jejak beberapa orang berkuda.

Semula Raden Juwiring mengira bahwa perwira itu sekedar berpura-pura untuk memberikan kesibukan berpikir kepada anak buahnya. Agar anak buahnya tidak tenggelam ke dalam sikap jemu yang berlebih-lebihan.

Namun ternyata bahwa setelah keduanya duduk terpisah dari para prajurit yang beristirahat, perwira itu berkata, “Sebenarnya aku melihat Raden. Ternyata kedatangan kami telah diketahui. Sepasukan kecil orang-orang berkuda lewat di bulak sebelah”

“Kau berkata sungguh-sungguh?”

“Ya Raden. Semula aku memang sekedar ingin membangun-kan anak-anak yang kantuk itu. Tetapi ternyata kami benar-benar menemukannya, meskipun aku belum dapat mengatakan dengan pasti, bahwa mereka adalah anak buah Raden Mas Said. Mungkin juga mereka adalah beberapa orang saudagar yang pergi bersama-sama untuk menghindarkan diri dari perampokan. Jika mereka bergabung, maka mereka akan dapat melawan perampok-perampok di sepanjang perjalanan mereka”

Raden Juwiring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya. Masih ada kemungkinan-kemungkinan lain. Tetapi sebaik-nya kita memang harus berhati-hati. Kemungkinan paling besar dari jejak itu adalah pasukan Kangmas Said. Ia tentu mengirimkan orang-orangnya untuk mengawasi perjalanan kita. Jika dianggapnya tepat, maka pada suatu saat ia-akan menyergap dan membinasakan kita”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia masih berkata, “Tetapi aku belum pernah mendengar berita tentang sergapan laskar Raden Mas Said atas sepasukan prajurit Surakarta yang tidak dibarengi oleh kumpeni”

“Mungkin kita adalah orang-orang yang pertama mengalami” jawab Raden Juwiring.

Perwira itu hanya menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah Raden Juwiring sesaat. Namun kemudian perwira itu pun melemparkan tatapan matanya kekejauhan.

Hampir di luar sadarnya, jika kemudian prajurit itu membayangkan seorang bangsawan muda yang berpacu di atas punggung kuda yang tegar dengan senjata telanjang di tangan.

“Memang luar biasa” perwira itu berkata di dalam hatinya, “Raden Mas Said memiliki kemampuan di atas kemampuan manusia kebanyakan” sejenak perwira itu memandang Raden Juwiring dengan sudut matanya, “Tetapi bangsawan muda yang duduk di sebelah ini pun memiliki kemampuan orang kebanyakan seperti juga ayahandanya”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi heran bahwa Raden Mas Said tidak segera dapat ditundukkan. di Surakarta sebenarnya banyak sekali prajurit bangsawan dan bahkan pimpinan pemerintahan yang memiliki kemampuan yang luar biasa yang barangkali tidak kalah dari Raden Mas Said. Tetapi kenapa Raden Mas Said masih dapat dengan leluasa melakukan kegiatannya.

Perwira itu terkejut ketika tangan Raden Juwiring menggamitnya. Katanya, “Marilah, kita menemui beberapa orang yang pulang dari sawah”

Setelah menyerahkan pimpinan kepada perwira yang lebih muda, maka Raden Juwiring pun berjalan perlahan-lahan bersama perwira itu ke sudut desa. Sejenak mereka menunggu. Sebentar lagi orang-orang Jati Sari akan pulang dari sawahnya karena matahari telah hampir turun menginjak punggung bukit di sebelah Barat.

“Jika mereka tahu kita berada di sini, mereka akan mengambil jalan lain” berkata Raden Juwiring.

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.

Karena itu, maka mereka pun berdiri di tempat yang agak terlindung di balik tikungan di sudut desa.

Ketika orang yang pertama lewat, dan dihentikan oleh Raden Juwiring, orang itu pun terkejut sekali. Dipandanginya Raden Juwiring dengan tatapan mata yang tajam, tetapi penuh keheranan.

“Paman tentu mengenal aku” berkata Raden Juwiring sambil tersenyum.

Orang itu pun kemudian mengangguk ragu. Katanya, “Ya, ya. Aku sudah mengenal Raden. Bukankah Raden pernah berada di padepokan Jati Aking”

“Ya. Aku Juwiring. Bukankah kita sering pergi ke sawah bersama-sama?”

“Ya, ya. Tetapi hampir saja aku tidak mengenal Raden dalam pakaian yang lain dari pakaian kebiasaan yang Raden pakai saat Raden ada di Jati Aking”

Juwiring tersenyum.

“Apakah Raden akan kembali ke Jati Aking” bertanya orang itu asal saja karena kebingungan.

Raden Juwiring tersenyum. Jawabnya, “Tidak saat ini paman”

Petani itu mengangguk-angguk. Dan Juwiring berkata selanjutnya, “Aku hanya sekedar ingin menengok padukuhan yang sudah lama tidak pernah aku kunjungi”

“O” petani itu merenung sejenak, lalu, “Jika demikian, silahkan singgah”

“Terima kasih paman”

“Kapan Raden sempat, datanglah. Sekarang, aku minta diri”

Juwiring tersenyum. Ada kesan yang aneh di wajah orang yang dengan tergesa-gesa ingin meninggalkannya. Namun karena itu maka Juwiring pun berkata, “Tunggu paman. Jangan tergesa-gesa”

“Tetapi, tetapi aku sudah pergi sehari-harian Raden”

“Aku memerlukan waktu sebentar saja”

Orang itu memandang Juwiring dengan herannya. Namun kemudian ia menjadi sangat gelisah.

“Paman” berkata Juwiring kemudian, “Aku hanya ingin bertanya, apakah di saat-saat terakhir ini paman pernah mendengar atau mengetahui peristiwa yang agak lain di padukuhan ini?”

“Maksud Raden?”

“Misalnya, perkelahian yang terjadi di daerah ini meskipun bukan terjadi atas orang-orang padukuhan ini. Atau peristiwa yang lain yang sebelumnya tidak pernah terjadi”

Orang itu menjadi semakin gelisah. Dengan suara yang terputus-putus ia menjawab, “Aku tidak tahu apa-apa Raden. di sini tidak pernah terjadi sesuatu. Padukuhan Jati Sari selalu tenang-tenang saja. Hanya kali ini sepasukan prajurit itu datang di Jati Sari bersama Raden”

Juwiring memandang orang itu sejenak, lalu, “Perampok misalnya, atau sebaliknya perampok yang tertangkap?”

“Tidak Raden. Tidak ada yang pernah terjadi”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Baiklah paman. Silahkan jika paman ingin segera mandi dan kemudian makan nasi hangat dengan sambal teri”

“Ah” Orang itu bingung sesaat. Namun ia pun kemudian mengangguk sambil minta diri, “Sudahlah Raden. Hari sudah hampir gelap”

Juwiring hanya tersenyum saja sambil menganggukkan kepalanya.
“Sulit untuk mendapat keterangan Raden” berkata perwira itu.

“Mereka adalah orang yang jujur dan terbuka. Jika terjadi sesuatu di daerah ini dan mereka mengetahui, maka mereka tentu akan mengatakan sesuatu”

Perwira itu tidak menjawab lagi, karena Raden Juwiring telah menghentikan orang berikutnya. Tetapi dari orang ini pun mereka tidak mendapat keterangan apapun juga. Menilik wajah dan sorot mata mereka, orang-orang Jati Sari itu sama sekali tidak sengaja mengelabuinya dengan jawaban-jawaban yang menyesatkan.

Bahkan beberapa orang yang kemudian juga dihentikan dan mendapat pertanyaan yang serupa, maka jawaban mereka pun serupa pula.

“Nah, kau dengar” berkata Juwiring kepada perwira itu, “Mereka sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi atas keempat orang petugas sandi itu. Jika terjadi sesuatu di padukuhan ini, maka mereka tentu dapat mengatakan, misalnya terjadi perkelahian antara empat orang melawan sepasukan laskar Raden Mas Said. Atau jika mereka tidak dapat menyebut demikian, maka mereka akan mengatakan, telah terjadi perkelahian antara beberapa orang gerombolan perampok, atau perkelahian antara orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi ternyata mereka tidak mengetahui apapun juga”

Tetapi dua dari empat orang itu pernah datang ke padukuhan ini Raden” sahut perwira itu.

“Wajar sekali, karena tugas mereka memang di padukuhan ini. Mereka harus datang dan berusaha mendapat keterangan, kenapa orang-orang Jati Sari tidak percaya bahwa perampok-perampok yang mengganas itu adalah anak buah Raden Mas Said. Justru mereka menganggap bahwa hal itu sengaja dibuat oleh kumpeni”

“Bagaimana jika tugas itu saja yang kita ambil alih. Kita bertanya kepada mereka, siapakah yang telah menyebarkan pendapat itu”

“Aku sudah tahu jawabnya. Tentu orang-orang berkuda atau orang gemuk berkuda coklat itu, atau orang berjambang berkuda putih”

“Siapakah mereka?”

“Maksudku, tentu ada orang-orang Raden Mas Said yang berkeliaran di sini. Mungkin jejak kaki kuda yang kau lihat itu benar jejak kaki kuda anak buah kangmas Said. Mereka berkeliaran di daerah ini dengan berbagai maksud”

Perwira itu menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Raden. Mungkin pertanyaanku agak terlampau jauh. Tetapi beberapa orang perwira tinggi dari kalangan bangsawan selalu menyebut Pangeran Mangkubumi. Apakah daerah ini menjadi daerah pengaruh Raden Mas Said atau Pangeran Mangkubumi?”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya, lalu, “Aku tidak tahu pasti. Tetapi apa yang kau dengar tentang Pangeran Mangkubumi, “

“Tentu Raden lebih tahu”

“Aku ingin memperbandingkan saja”

“Beberapa bangsawan telah sepakat untuk menyudutkan Pangeran Mangkubumi”

“Dasarnya?”

“Ah. Raden tentu sudah tahu”

“Katakan”

“Daerah palenggahan Pangeran Mangkubumi terlampau luas”

“Tepat. Aku sudah mendengar. di daerah yang terlalu hias itu sudah dibangun kekuatan yang dapat mengganggu ketenangan pemerintahan di Surakarta”

“Nah, begitu Raden”

Juwiring mengangguk-angguk, lalu, “Apa kau sangka bahwa jejak kaki-kaki kuda itu adalah orang-orang dari daerah Sukawati?”

Perwira itu tidak menyahut.

“Atau barangkali kau ingin mengatakan bahwa mungkin sekali keempat orang itu tidak jatuh ke tangan anak buah kangmas Said, tetapi anak buah pamanda Pangeran Mangkubumi?”

“Seperti yang Raden katakan, ada banyak kemungkinan dapat terjadi”

“Aku belum memikirkan kemungkinan itu. Pamanda Pangeran Mangkubumi masih selalu menjalankan kuwajibannya. Ia selalu datang menghadap ke istana pada saatnya. Dan ia tidak berbuat sesuatu yang dapat dianggap dengan berterus terang menentang pemerintahan Surakarta dan kumpeni”

“Bukankah Raden sudah menyebutkan, di daerah Sukawati sudah dibangun kekuatan yang dapat mengganggu ketenangan pemerintahan di Surakarta”

“Bukankah itu baru merupakan perhitungan kita saja? Tetapi belum ada bukti perlawanan yang orang-orangan dari pamanda Pangeran meskipun jelas pamanda Pangeran Mangkubumi tidak senang melihat kumpeni semakin berpengaruh di Surakarta”

Perwira itu mengangguk-angguk. Tetapi di dalam sudut hatinya, sebenarnya tersembunyi juga kecemasannya, bahwa yang berkeliaran di daerah ini tentu bukan hanya pasukan dari Raden Mas Said, tetapi tentu juga pasukan Pangeran Mangkubumi, yang diakui atau tidak diakui, kini sebenarnya sudah merupakan kekuatan yang dapat menggoyahkan kekuasaan di Surakarta.

“Agaknya kabut yang gelap segera akan menyelubungi Surakarta. Jika Pangeran Mangkubumi dan beberapa saat yang lampau berhasil menghentikan kegiatan Raden Mas Said, agaknya tidak mustahil bahwa pada suatu saat keduanya akan merupakan kekuatan yang menakutkan bagi Surakarta” berkata perwira itu di dalam hatinya.

Perwira itu terkejut ketika Raden Juwiring menggamitnya sambil berkata, “Kita tidak akan mendapatkan keterangan apa-apa. Karena itu, kita harus mengambil kesimpulan. Kita harus menghubungkan hilangnya keempat orang itu dengan jejak kaki-kaki kuda itu”

“Mungkin sekali”

Raden Juwiring mengangguk, lalu, “Marilah kita kembali ke induk pasukan. Besok kita melanjutkan usaha kita terakhir”

Demikianlah maka Raden Juwiring pun segera kembali ke induk pasukannya. Mereka bermalam di halaman yang agak luas itu. Sebagian tidur di pendapa beralaskan tikar pandan. Yang lain di gandok sebelah menyebelah, dan yang lain lagi di halaman beralaskan ketepe belarak yang mereka anyam sendiri. Sedang di beberapa bagian, prajurit yang bertugas masih tetap bersiaga. Apalagi mereka mengetahui bahwa daerah itu merupakan daerah yang menyimpan beberapa rahasia yang belum terpecahkan, sehingga pasukan berkuda itu perlu berhati-hati.

Sementara itu di dapur rumah itu pun menjadi sibuk. Mereka harus menyediakan makan prajurit-prajurit berkuda yang ada di halaman itu. Meskipun seorang perwira prajurit itu memberikan sekedar uang kepada penghuni rumah itu sebagai ganti bahan-bahan makanan yang mereka pergunakan, namun menyediakan makan untuk sekelompok prajurit tanpa disiapkan lebih dahulu, adalah pekerjaan yang cukup berat.

Di pagi harinya, Raden Juwiring membawa beberapa orang pengawal berkuda mengelilingi padukuhan itu. Tiba-tiba saja anak muda itu tertarik untuk pergi ke padukuhan di seberang bulak. Katanya kepada para pengawalnya, “Mungkin terjadi sesuatu atas keempat orang itu, tetapi tidak di padukuhan ini Justru ketika mereka sudah meninggalkan daerah ini”

“Maksud Raden?”

“Kita pergi ke padukuhan sebelah”

Demikianlah maka Raden Juwiring dengan beberapa orang pengawalnya pun pergi ke padukuhan sebelah. Padukuhan yang terpisah dari Jati Sari oleh sebuah bulak yang agak panjang.

Adalah mendebarkan hati, ketika Raden Juwiring justru mendapat keterangan dari seorang petani di padukuhan tersebut, bahwa di pategalan seseorang terdapat bekas kaki-kaki kuda yang agaknya ditambatkan di malam hari.

“Darimana kau tahu?” bertanya Raden Juwiring.

“Orang itu berceritera kepada setiap orang, bahwa di pagi hari ketika ia pergi ke pategalan diketemukan jejak-jejak kaki kuda. Agaknya bukan hanya seekor. Tiga atau empat”

Juwiring pun segera tertarik kepada ceritera itu, sehingga sejenak kemudian, ia pun telah berhadapan dengan pemilik pategalan itu.

Tetapi yang dapat diceritera-kan oleh pemilik tegalan itu tidak lebih dari yang sudah didengarnya, ia hanya melihat jejak kaki-kaki kuda. Selebihnya tidak.

Namun dengan demikian Juwiring mengambil kesimpulan bahwa keempat petugas sandi itu sudah melakukan tugasnya di Jati Sari. Namun mereka tidak dapat kembali ke induk pasukannya. Waktu yang diperlukan sudah cukup lama. Jika tidak terjadi sesuatu atas mereka bersama-sama, maka salah seorang dari mereka tentu sudah kembali dan melaporkan apa yang telah terjadi.

Perwira yang mengikutinya pun mengambil kesimpulan serupa. Dengan ragu-ragu ia berkata, “Agaknya keempatnya sudah dibinasakan Raden. Atau mereka tertangkap hidup-hidup dan ditawan oleh pasukan Raden Mas Said, atau . . “

“Pamanda Mangkubumi maksudmu?” Perwira itu mengangguk.

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih mempunyai dugaan lain, meskipun tidak dikatakannya kepada siapapun juga.

Di Jati Aking ada Kiai Danatirta dan Arum. Jika keduanya bertindak atas keempat petugas sandi itu, maka keempatnya tentu tidak akan dapat berbuat banyak. Namun jika demikian, kemanakah kuda-kuda itu pergi”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Tugasnya kau ini memang sangat berat. Berat bagi pasukannya dan berat bagi perasaannya sendiri.

Yang kemudian dapat disimpulkan oleh Raden Juwiring dan pasukannya, adalah bahwa keempat orang itu setelah melakukan tugasnya tidak berhasil kembali ke induknya.

“Itulah yang dapat kita laporkan” berkata Raden Juwiring kepada perwira yang tertua.

Perwira itu menganggukkan kepalanya, “Ya, kita tidak akan dapat mengambil kesimpulan lain. Sedang yang masih meragukan adalah, siapakah yang telah menangkap atau membunuh keempat orang itu. Mungkin anak buah Raden Mas Said, dan mungkin anak buah Pangeran Mangkubumi”

“Pamanda Pangeran belum berbuat sesuatu”

“Raden” berkata perwira itu, “meskipun pamanda Raden belum berbuat sesuatu, biarlah kita menyebutnya. Bahkan jika perlu justru kita sebut kemungkinan terbesar adalah anak buah Pangeran Mangkubumi”

“Gunanya?”

“Tindakan atas Pangeran Mangkubumi itu akan segera dilakukan. Para bangsawan tertinggi di Surakarta sama sekali tidak dapat menerima lagi kehadiran Pangeran Mangkubumi di antara mereka. Sikapnya yang asing, dan tanah kalenggahan yang terlalu luas”

“Jadi para Pangeran yang iri hati itu akan mempercepat tindakan atas pamanda Mangkubumi?”

“Ya, seperti juga ayahanda Raden. Pangeran Ranakusuma akan dapat mempergunakan bahan yang kita bawa ini untuk mempercepat usaha mencabut Tanah Sukawati dari kekuasaan Pangeran Mangkubumi. Tanah itu akan dipecah-pecah agar tidak ada lagi kesatuan di Sukawati”

“Apa keuntunganmu jika hal itu terjadi?”

Perwira itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Tentu tidak secara langsung. Tetapi dengan demikian bahaya yang dapat ditimbulkan oleh orang-orang Sukawati itu menjadi kecil. Lebih dari itu, aku dapat mengharap bahwa Senapati pasukan berkuda, Pangeran Windunata akan mendapat sebagian dari Sukawati itu. Sudah dapat dipastikan, aku akan menjadi penguasa daerah itu seperti yang sudah pernah disanggupkan oleh Pangeran Windunata kepadaku”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Tetapi apa yang akan aku dapatkan?”

“Pangeran Ranakusuma akan mendapatkannya juga”

“Tetapi tentu bukan aku penguasanya”

“Tentu Raden. Raden adalah putera Pangeran Ranakusuma itu”

Raden Juwiring mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun tertawa sambil menepuk bahu perwira itu, “Jika setiap Pangeran yang ikut membicarakan pamanda Mangkubumi akan mendapat bagian atas tanah Sukawati, maka setiap orang tentu hanya akan mendapat sejengkal. Dan itu tidak akan berarti apa-apa”

Perwira itu tidak segera menjawab. Tetapi ia pun kemudian tersenyum pula.

Demikianlah maka Raden Juwiring dan pengawalnya pun segera kembali ke Jati Sari. Mereka tidak mendapat jawaban yang pasti tentang keempat orang yang hilang itu, selain dugaan-dugaan belaka meskipun serba sedikit ia menemukan jejaknya.

“Kita mengatakan apa yang sebenarnya kita lihat” berkata Raden Juwiring, “Jika kita memberikan keterangan yang tidak benar, itu akan sangat berbahaya, karena para pemimpin prajurit akan dapat mengambil langkah yang salah atas dasar keterangan yang tidak benar itu”

Perwira itu pun hanya dapat menganggukkan kepalanya saja. Apalagi ia dapat mengerti keterangan yang diberikan oleh Raden Juwiring itu.

Setelah bermalam semalam lagi tanpa mendapat keterangan apapun juga, maka Raden Juwiring pun membawa pasukannya kembali ke kota. tanpa minta diri lebih dahulu ke padepokan Jati Aking. Raden Juwiring menganggap bahwa ia tidak perlu lagi menemui Arum. Juga Kiai Danatirta. Karena baginya keduanya itu tentu tidak akan memberikan keterangan apa-apa seandainya ia minta.

“Laporan kita tidak akan membuka jalan untuk menemukan keempat orang itu” berkata perwira pengawal Raden Juwiring di perjalanan, “daerah ini adalah daerah terbuka yang luas. Setiap orang dapat lewat jalan yang melalui Jati Sari. Karena itu ada juga masuk akal, bahwa orang-orang Jati Sari sering sekali melihat orang-orang asing yang lewat di jalan yang menembus padukuhan itu”

“Ya” sahut Raden Juwiring, “Apalagi orang-orang yang memakai pakaian petani seperti mereka”

“Kita tidak tahu pasti, apakah para petugas sandi itu mengenakan pakaian petani atau pakaian saudagar”

“Apapun pakaian mereka, namun kita tidak akan dapat menemukan mereka lagi. Bahkan keterangan mengenai mereka pun tentu amat sulit. Apalagi prajurit-prajurit yang belum pernah tinggal di Jati Sari seperti aku”

Perwira itu hanya mengangguk-angguk saja. Sebenarnya memang sulit untuk mendapatkan keterangan lebih banyak lagi tentang orang-orang yang dicarinya.

Dalam pada itu, sepeninggal prajurit-prajurit Surakarta, rasa-rasanya orang-orang Jati Sari dapat bernafas lagi. Mereka sendiri heran, kenapa bagi mereka prajurit Surakarta sama sekali tidak dapat memberikan ketenangan, sehingga mereka kadang-kadang bertanya kepada diri sendiri, “Kepada siapakah sebenarnya kami harus berlindung? Surakarta adalah pusat pemerintahan kami. Tetapi kami tidak pernah merasa tenang dan tenteram apabila kami berada di dekat prajurit-prajurit Surakarta itu” Dan sebagian dari mereka mencoba menjawab, “Karena Surakarta sudah terlampau dalam dicengkam oleh kekuasaan kumpeni”

Di Jati Aking Arum mengadu kepada ayahnya tentang Raden Juwiring yang lain sekali dengan Raden Juwiring yang dikenalnya di padepokan Jati Aking dahulu.

“Apakah ia berbuat sesuatu yang dapat kita anggap merugikan Jati Sari dan Jati Aking?” bertanya ayahnya.

“Kehadirannya sudah mencemaskan setiap orang Jati Sari ayah” jawab Arum.

“Tetapi bukankah ia tidak berbuat apa-apa di sini?”

“Raden Juwiring mencari keterangan tentang empat orang yang hilang itu”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam.

“Ia mencari aku ayah. Aku merasakan kecurigaan disorot matanya. Mungkin ia mengerti dengan pasti bahwa di daerah ini tidak ada orang lain yang dapat melakukannya selain kita berdua”

“Tetapi ternyata ia keliru. Bukankah orang-orang itu telah dibawa oleh Sura?”

“Tetapi bukankah sebagian sudah benar?”

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi sikapmu sudah benar Arum. Dan aku pun menganggap bahwa memang sebaiknya aku tidak menemuinya. Jika aku bertemu dengan Juwiring dengan sikap yang tidak wajar, maka aku tentu akan menyesal karena aku telah memberikan ilmu kepadanya”

“Bahkan semua dasar-dasar ilmu Jati Aking. Tentu ia akan dapat mengembangkannya, ditambah ilmu dari Pangeran Ranakusuma sendiri”

“Kita tidak harus silau melihat ilmunya Arum. Tetapi bahwa ia pernah menjadi keluarga kita kadang-kadang dapat menimbul-kan persoalan tersendiri”

“Tetapi jika ia sudah benar-benar berdiri di seberang, apakah yang dapat kita lakukan atasnya ayah?”

“Kita masih harus meyakinkannya Arum. Kita baru melihat Raden Juwiring berpakaian seorang prajurit Surakarta. Hanya itu. Dan kita pun sebenarnya tidak boleh berprasangka kepada keseluruhan prajurit Surakarta”

“Ayah tidak menjumpainya sendiri. Jika ayah bertemu dengan Raden Juwiring sendiri, maka ayah tentu akan merasakan perubahan itu. Bukan sekedar bentuk badaniah, tetapi agaknya juga sikap batinnya”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku akan mencari bukti yang lebih meyakinkan tentang sikapnya itu Arum”

Arum memandang ayahnya sejenak. Namun seakan-akan ia tidak dapat merasakan kesungguhan kata-kata ayahnya itu. Seakan-akan ayahnya itu berkata kepadanya di masa kanak-kanak jika seseorang nakal kepadanya, “Biarlah nanti aku putar telinganya Arum. Jangan menangis”

Meskipun Arum tidak menyatakan perasaannya, namun agaknya Kiai Danatirta dapat menebaknya sehingga ia melanjutkannya, “Aku berkata sesungguhnya Arum. Tetapi kita tidak akan dapat melontarkan tuduhan begitu saja sebelum kita melihat buktinya”

“Apakah pakaiannya, pasukan yang dibawanya dan tugas yang dilakukannya itu belum dapat meyakinkan kita?”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu baru yang kasat mata Arum. Tetapi apakah kita dapat melihat hatinya? Ia adalah putera Pangeran Ranakusuma. Karena itu ia harus melakukan tugas-tugasnya seperti kebanyakan putera Pangeran”

Arum tidak menjawab lagi meskipun tampak pada wajahnya bahwa ia tidak puas mendengarkan jawaban ayahnya itu.

Demikianlah sikap dan tugas yang dibawa oleh Juwiring benar-benar telah mengecewakan Arum. Ia tidak lagi menaruh hormat yang mendalam seperti pada saat Juwiring masih berpakaian seorang petani di padepokan Jati Aking itu.

Namun demikian, Arum tidak dapat berbuat apa-apa atas Raden Juwiring selain menyesalinya. Raden Juwiring adalah seorang yang telah dewasa dan berkedudukan baik, sehingga ia wenang menentukan sikapnya sendiri.

Di hari itu wajah Arum nampak sangat murung. Kekecewaannya benar-benar telah mempengaruhi keadaannya. Ia tidak banyak berbicara dengan pembantu-pembantunya dan bahkan dengan Kiai Danatirta.

Lewat tengah hari, Arum minta diri kepada ayahnya untuk pergi ke sawah. Sebenarnya tidak ada yang akan dikerjakannya, selain untuk melepaskan kekecewaan yang menyumbat dadanya.

“Aku akan menemui kawan-kawan ayah” berkata Arum.

“Tidak ada gadis-gadis yang pergi ke sawah lewat tengah hari di hari ini. Tidak ada yang akan mereka kerjakan. Pagi tadi banyak kawan-kawanmu pergi memetik lembayung”

“Tentu masih ada ayah. Mereka kadang-kadang pergi ke sawah untuk mengambil bakul tempat makanan ketika mereka membawa makanan itu ke sawah. Atau barangkali masih ada satu dua yang menunggu ayahnya atau kakaknya yang bekerja di sawah dan pulang bersama menjelang sore”

“Tetapi tidak sebanyak pagi hari. Kenapa kau tidak pergi besok pagi saja memetik lembayung?”

“Aku ingin pergi sekarang ayah”

Kiai Danatirta tidak dapat mencegahnya lagi. Ia tahu bahwa sebenarnya Arum hanya ingin sekedar menghirup udara yang lapang di sawah, karena dadanya tentu serasa tersumbat mengalami perlakuan kakak seperguruannya yang ternyata sangat mengecewakannya itu.

Karena itu Kiai Danatirta tidak mencegahnya lagi. Dibiarkannya saja Arum pergi ke sawah membawa sebuah bakul kecil.

“Aku akan memetik terung ayah” berkata Arum ketika ia pergi.

“Kau akan pergi ke pategalan juga”

“Ya ayah”

Ayahnya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Jika ia dapat melepaskan diri dari kekecewaannya dengan bergurau bersama kawan-kawannya maka hatinya tentu akan menjadi sedikit lapang.

Demikianlah maka Arum pergi ke sawah seorang diri. Ternyata tidak banyak lagi gadis-gadis yang masih tinggal di sawah meskipun seperti yang dikatakannya masih ada juga gadis-gadis yang menunggui ayahnya bekerja dan pulang bersama-sama menjelang sore.

Tetapi Arum tidak menemui mereka. Ia langsung pergi ke sawahnya. Perlahan-lahan ia melangkah di pematang sambil memperhatikan air yang mengalir di parit sepanjang pematang sawahnya. Kemudian Arum pun pergi ke gubugnya dan memanjat ke atas.

Matahari yang sudah mulai condong ke Barat, panasnya masih menyengat kulit. Karena itu, maka Arum berteduh saja di dalam gubugnya. Bahkan ia pun kemudian berbaring sambil merenungi peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi di Jati Aking.

Bahkan sejenak ia teringat saat-saat ia bertemu dengan Buntal. Ia menjerit karena terkejut ketika Buntal memanjat gubug. Tetapi ternyata jeritnya telah membuat Buntal menjadi babak belur, dan bahkan hampir saja merenggut nyawa anak muda itu.

“Aku akan menceriterakan semua yang aku ketahui tentang kakang Juwiring” berkata Arum di dalam hatinya.

Namun tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar suara orang yang bercakap-cakap mendekati gubugnya. Semakin lama semakin dekat.

Perlahan-lahan Arum bergeser menepi. Seperti yang diduga, ada dua orang yang berjalan di sepanjang pematang mendekati gubugnya itu.

Namun tiba-tiba saja ia bangkit sambil menyebut nama orang yang datang mendekati gubugnya itu, “Paman Sura”

Langkah Sura terhenti sejenak. Ketika ia menengadahkan wajahnya, dilihatnya Arum dengan tergesa-gesa turun dari gubugnya yang bertiang agak tinggi.

“Siapa yang kau cari paman?” bertanya Arum.

“Aku melihatmu naik ke gubug. Karena itu aku datang kemari”

“Dimana paman selama ini?”

“Aku berada di bawah pohon preh itu melepaskan lelah”

“Darimanakah paman pergi?”

“Aku sengaja pergi ke Jati Sari”

“O” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dipandanginya kawan Sura yang termangu-mangu, sehingga Sura pun kemudian berkata, “Ia adalah kawanku. Kawan yang cukup baik”

Arum menganggukkan kepalanya. Kawan Sura itu bukannya kawannya yang pernah datang bersamanya beberapa saat lampau.

“Apakah ada keperluan penting paman? Atau paman mendengar berita tentang sesuatu yang harus segera mendapat tanggapan?”

Sura tersenyum. Jawabnya, “Benar Arum. Aku mendapat perintah untuk melihat-melihat daerah ini. Menurut pendengar-an kami sepasukan prajurit Surakarta telah dikerahkan untuk mencari keempat orang yang hilang itu”

“Paman benar” berkata Arum sepasukan prajurit berkuda telah datang ke Jati Sari”

“Apakah mereka berbuat sesuatu yang sangat merugikan rakyat Jati Sari?”

Arum termangu-mangu sejenak. Sekilas terbayang Juwiring di masa ia masih berada di padepokan Jati Sari, kemudian Juwiring yang berpakaian seorang prajurit. Namun kemudian terloncat dari sela-sela bibirnya jawaban, “Tidak paman. Mereka tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya bertanya tentang orang-orang yang mereka sangka telah datang ke Jati Sari”

“Kepada siapakah mereka itu bertanya?”

“Kepada banyak orang”

“Apa jawab mereka? Jika mereka mengatakan tidak tahu menahu, maka tentu tidak akan ada pertanyaan-pertanyaan berikutnya”

“Mula-mula mereka berkata demikian paman”

“Kenapa mula-mula?”

Arum memandang Sura sejenak, lalu, “Mereka ternyata melihat beberapa gadis berkalung merjan yang didapat dari orang-orang itu. Merjan itu merupakan pancatan bagi mereka untuk bertanya tentang orang-orang itu.

“O. Lalu apakah mereka bertanya juga kepadamu?”

“Ya, karena aku mendapat dua untai merjan. Dan pemimpin pasukan berkuda itu tahu benar bahwa di Jati Sari tidak ada orang lain yang pantas dicurigai selain aku dan ayah”

“Siapakah pemimpin pasukan berkuda itu? Dan dari mana mereka mengetahuinya?”

“Tentu ia tahu pasti”

“Siapa pemimpinnya? Aku hanya mendapat perintah untuk mengamat-amati akibat dari kedatangan sepasukan prajurit berkuda di Jati Sari. Tetapi aku tidak tahu secara pasti dan keseluruhan dari pasukan berkuda itu”

“Pemimpinnya adalah putera Pangeran Ranakusuma?”

“He” Sura terkejut, “putera Pangeran Ranakusuma? Bukankah Raden Rudira sudah meninggal?”

“Apakah puteranya hanya seorang?”

“Ada yang lain, seorang puteri. Apakah gadis itu ikut di dalam pasukan berkuda?”

“Bukan seorang gadis”

“Aku tidak mengerti”

“Raden Juwiring”

“He” mata Sura terbelalak. Seolah-olah ia tidak percaya kepada pendengarannya sendiri.

Arum sudah menduga, bahwa Sura akan terkejut mendengarnya, karena nama itu tentu tidak akan diduganya sama sekali.

“Arum” desis Sura dengan ragu-ragu, “Apakah maksudmu Raden Juwiring yang pernah tinggal di padepokan Jati Aking?”

“Ya. Raden Juwiring itu adalah Raden Juwiring yang pernah berguru kepada ayah”

Sura menarik nafas dalam-dalam. Sejenak ia termangu-mangu. Namun kemudian ia pun bergumam, “Arum, kadang-kadang kita memang dihadapkan kepada sesuatu persoalan yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Dan itu merupakan ciri kelemahan hati seseorang. Semula kita menyangka bahwa Raden Juwiring adalah seorang anak muda yang jauh berbeda dengan Raden Rudira. Tetapi justru setelah ia berada di istana ayahandanya, maka ia pun telah berubah”

“Raden Juwiring justru akan menjadi lebih berbahaya dari Raden Rudira paman” berkata Arum, “karena Raden Juwiring jauh lebih banyak mengetahui persoalan padesan dan memiliki ilmu yang jauh lebih tinggi pula dari Raden Rudira, yang justru telah dimanjakan sejak kanak-kanak”

Sura mengangguk-angguk. Tetapi ia masih sulit membayangkan bahwa kini Raden Juwiring telah memimpin sebuah pasukan berkuda dari Surakarta.

“Paman” berkata Arum, “sejak masa kanak-kanak Raden Juwiring telah dibebani oleh perasaan dendam. Ia tersingkir dari lingkungannya dan kemudian menjelang masa remaja ia telah dipisahkan dari keluarganya dan tinggal di padepokan ini”

Sura masih mengangguk. Katanya, “Aku ikut bersalah di dalam hal ini Tetapi perkembangan pribadi seseorang benar-benar merupakan teka-teki yang rumit. Aku pernah tersesat ke jalan yang salah. Pada saat itu aku sudah mengalami benturan melawan Raden Juwiring betapapun sifatnya. Tetapi pada saat aku menemukan jalan lurus dan benar, maka kini aku mendengar, bahwa Raden Juwiring lah yang telah memilih jalan silang yang lain, sehingga masih akan ada kemungkinan aku bertemu di persimpangan”

Arum menganggukkan kepalanya. Katanya, “Agaknya keadaan di sekitarnya tentu akan sangat berpengaruh terhadap seseorang”

“Lalu bagaimana dengan Ki Dipanala?”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Sudah lama Ki Dipanala pun tidak pernah datang ke Jati Aking. Aku juga cemas bahwa ia pun akan terlibat ke dalam sikap seperti sikap Raden Juwiring. Pada saat Raden Rudira memiliki kekuasaan tidak terbatas di dalam istana ayahandanya bersama paman Sura, kemudian Mandra, paman Dipanala seakan-akan telah tersisih. Tetapi kini yang ada di istana itu adalah Raden Juwiring, dan paman Dipanala adalah pemomong Raden Juwiring yang paling disegani sejak ia masih berada jauh dari keluarganya”

Sura menarik keningnya, lalu, “Ya, kau benar Arum. Kini aku benar-benar berdiri di atas jalan yang sulit. Akulah yang sering menerima tugas untuk mengawasi daerah di sekitar padukuhan Jati Sari. Tetapi agaknya karena Raden Juwiring pernah tinggal di Jati Aking, maka ialah yang akan selalu mendapat tugas untuk menggarap daerah yang sudah dianggap berbahaya ini. Tentu Raden Juwiring tahu pasti tentang padepokan Jati Aking dan padukuhan Jati Sari secara keseluruhan”

“Kami akan membantumu paman” sahut Arum.

“Tetapi perasaanku akan menjadi pedih jika sekali lagi aku harus berhadapan dengan Raden Juwiring setelah kita seakan-akan bertukar tempat di dalam permainan anak-anak kecil kita kadang-kadang memang harus bertukar tempat, berlintang-alihan. Tetapi yang kita hadapi sekarang ini bukan permainan anak-anak sehingga sangat beratlah rasa hati ini untuk berlintang-alihan seperti ini”

“Tetapi apaboleh buat paman. Kita tidak mempunyai pilihan lain. Kita harus menghadapinya. Sudah barang tentu kami berdua tidak akan mampu berbuat banyak jika kita dihadapkan pada pasukan berkuda dari Surakarta dalam jumlah yang banyak itu”

“Selama ini Arum, kami belum pernah melakukan tindakan langsung terhadap prajurit-prajurit Surakarta tanpa kumpeni. Mudah-mudahan Raden Juwiring tidak memaksa kami berbuat demikian”

Arum menarik nafas dalam-dalam.

“Arum” berkata Sura, “Aku sudah mendapat bahan yang cukup. Kau bagi kami adalah seorang yang sangat penting, meskipun kau seorang gadis” Sura berhenti sejenak, lalu, “Arum. Dahulu Raden Rudira menyebutmu sebagai sekuntum bunga, tetapi yang tumbuh di atas batu-batu karang yang keras dan kasar. Maka aku pun ternyata sependapat meskipun dengan maksud yang lain. Aku bukan seorang yang senang memuji, tetapi bagi kami yang mengetahui sikapmu, kau benar-benar sekuntum bunga meskipun tumbuh di batu karang. Mungkin nada ucapanku agak berbeda dengan Raden Rudira, karena tekanannya pun memang berbeda. Bagi kami yang sedang berjuang, kau akan dapat membantu perjuangan kami sejauh-jauhnya, meskipun sangat berat bagimu, apalagi jika benar, daerah ini kemudian akan menjadi daerah pengawasan Raden Juwiring”

“Kau selalu berlebih-lebihan paman. Jika kau membenci seseorang, kau membencinya sampai ke ujung rambut. Jika kau memuji maka kau pun memuji sampai ke ubun-ubun”

“Tetapi kali ini tidak Arum. Mudah-mudahan kau tabah menghadapi masalah yang cukup rumit, justru karena saudara seperguruanmu sendiri”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Arum” berkata Sura kemudian karena Arum hanya. berdiam diri, “Baiklah aku minta diri. Aku akan seringkali berkeliaran di daerah ini. Mudah-mudahan kau tidak jemu membantu aku dan seluruh kekuatan pasukan Raden Mas Said yang sudah mulai bergerak kembali setelah untuk beberapa saat lamanya terpaksa beristirahat dan menyingkir ke tempat yang terpencil dan jauh”

Arum tidak menyahut. Dipandanginya tatapan mata Sura sejenak, namun kemudian kepala itu terangguk kecil.

“Terima kasih Arum. Kami minta diri. Setiap kali kami akan datang menemuimu. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang memaksa kau dan Kiai Danatirta melakukan perlawanan tanpa kami ketahui sehingga dapat membahayakan kalian”

“Baiklah paman” berkata Arum kemudian, “mudah-mudahan kami tidak harus berbuat terlalu banyak. Kami akan tetap hidup di padepokan Jati Aking dengan tenang dan tenteram”

Sura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia pun berkata, “Arum, memang wajah lautan kadang-kadang tenang dan diam. Ketenangan dan kediaman itu mengandung keindahan tersendiri yang dapat dinikmati. Tetapi suatu saat air laut itu akan berguncang dan ombak pun akan menghantam pantai dengan dahsyatnya. Dan gejolak ombak itu pun mengandung nilai tersendiri pula untuk dinikmati Arum”

Arum masih mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Benar paman. Tetapi sejauh dapat dijangkau, maka aku lebih senang menikmati ketenteraman hidup seperti yang diajarkan oleh ayah kepadaku. Bahkan sebenarnyalah setiap orang mendambakan ketenangan dan kedamaian di hati”

“Aku mengerti Arum. Tetapi untuk menuju ke ketenangan dan kedamaian hati itu, agaknya jalan masih sangat panjang”

Arum menganggukkan kepalanya.

“Baiklah Arum, aku minta diri. Sampaikan salamku kepada Kiai Danatirta. Kepada Kiai Danatirta pun kami akan selalu mohon petunjuk dan pertolongan”

“Aku akan menyampaikannya paman”

Demikianlah maka Sura itu pun meninggalkan Arum termangu-mangu. Semakin lama langkah Sura menjadi semakin jauh diiringi oleh seorang kawannya. Seperti biasanya Sura tentu menyembunyikan kudanya di pategalan atau di hutan-hutan perdu.

Arum menyadari dirinya ketika seseorang menegurnya, “Arum siapakah yang kau tunggu?”

“O, tidak paman”

“Kau lihat matahari sudah sangat rendah?”

Arum pun tergesa-gesa mengambil bakulnya. Tetapi ia tidak sempat mengambil terung di pategalan. Karena itu maka ia pun segera meninggalkan sawahnya dan pulang ke padepokannya. Jati Aking.

Di sepanjang jalan direnunginya persoalan yang berkisar di sekitar Jati Aking, yang seakan-akan menjadi pusaran perhatian kedua belah pihak yang sedang bertentangan.

Tetapi Arum tidak sempat merenunginya lama-lama. Setiap kali ia bertemu dengan seseorang yang pulang dari sawahnya selalu menegurnya, “Kau sendiri saja Arum?”

Arum menyadari bahwa ia terlalu lama berada di sawahnya. Ia sudah tidak melihat lagi seorang gadis pun di antara mereka yang pulang dari sawahnya. Sehingga karena itu maka langkahnya menjadi semakin cepat. Apalagi ia ingin segera menjumpai ayahnya dan menyampaikan pembicaraannya dengan Sura kepadanya.

Tetapi ketika ia sampai di sudut desa ia terpaksa berhenti karena beberapa orang kawannya menghentikannya.

“Arum” berkata, salah seorang dari mereka, “Kenapa kalung merjan itu menjadi persoalan?”

Arum mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku juga akan bertanya begitu. Kenapa kalung itu menimbulkan persoalan yang berkepanjangan. Aku sebenarnya tidak tahu pasti, persoalan apakah yang sebenarnya timbul. Dan apakah kedatangan prajurit-prajurit itu juga ada hubungannya dengan kalung merjan itu”

“Kamilah yang seharusnya bertanya kepadamu. Bukankah yang memimpin pasukan berkuda itu Raden Juwiring, kakak angkatmu?”

“Ia tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Ia memang singgah di padepokan sebentar. Tetapi ia sama sekali tidak berkata berterus terang. Aku memang merasa bahwa kedatangannya itu bersentuhan dengan kalung merjan. Tetapi selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi”

“Jadi bagaimana dengan orang gemuk berkuda coklat itu? Agaknya itu pun akan tetap menjadi tanda tanya. Dengan siapakah sebenarnya kau melihat orang itu?”

Dada Arum menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian ia menjawab, “Aku tidak ingat lagi. Tetapi barangkali aku tidak berkawan waktu itu. Maksudku, meskipun ada orang-orang lain tetapi mereka tidak mendengarkan percakapan kami ketika ia bertanya tentang keadaan padepokan ini dan berceritera tentang beberapa hal”

“Jika demikian, maka kau adalah satu-satunya sumber yang menularkan pendapat orang gemuk itu”

“Aku tidak mengatakannya kepada siapapun. Nah, apakah kau pernah merasa, mendengar atau mengetahui bahwa aku menyebut-nyebutnya? Tetapi persoalan yang tumbuh itu tiba-tiba saja merata. Kita semua tiba-tiba saja tidak mempercayai lagi bahwa perampok-perampok itu adalah anak buah Raden Mas Said seperti yang dikatakan kumpeni. Nah, katakan, dari siapa kalian mendengar dan kemudian bersikap demikian?”

Gadis-gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang berkata, “Memang bukan dari kau”

“Nah, apakah kau dapat mengingat, dari siapa kau mendengar untuk pertama kali?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Tentu sulit untuk diingat. Adalah kebetulan bahwa aku mendengar dari orang yang tidak aku kenal sehingga dengan demikian justru aku selalu dapat mengingatnya. Tetapi mungkin orang gemuk berkuda coklat itu tidak hanya mengatakannya kepadaku. Tetapi juga kepada orang lain dan orang lain lagi”

“Arum” tiba-tiba seorang gadis bertanya, “Kenapa orang berkuda coklat itu mengatakannya justru kepadamu?”

Arum mengangkat bahunya sambil menjawab, “Tentu aku tidak mengetahui alasannya. Tetapi barangkali itu sekedar suatu kebetulan”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Dan seorang gadis yang lain berkata, “Jadi bagaimana dengan kalung-kalung merjan kita itu Arum?”

“Aku tetap menyimpannya”

“Apakah hal itu tidak menyebabkan persoalan yang berkepanjangan kelak?”

“Kalung itu sudah terlanjur ada padaku. Seandainya kalung itu aku buang, maka pasti akan timbul persoalan baru jika orang yang memberikannya atau kawan-kawannya menanyakannya”

“Jika aku tahu bahwa kalung itu akan menimbulkan persoalan, aku tidak akan menerimanya”

“Tentu aku juga” sahut Arum, “Kita bersama-sama berada dalam keadaan yang tidak kita kehendaki”

Gadis-gadis itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun nampak kecemasan di wajah mereka. Ternyata kalung merjan itu menimbulkan kegelisahan yang amat sangat di hati mereka, apalagi setelah sepasukan prajurit berkuda datang ke padukuhan Jati Sari dan bahkan ke padukuhan di sekitarnya.

“Baiklah Arum” berkata salah seorang gadis itu jika kau mengetahui perkembangan keadaan, tolonglah memberitahukan kepada kami”

“Tetapi demikian juga sebaliknya” jawab Arum.

“Ya. Tetapi karena kau adalah adik angkat Raden Juwiring, barangkali kau mendapat banyak bahan daripadanya”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Juwiring kini seakan-akan telah berdiri berseberangan dengan padepokan Jati Aking. Namun demikian Arum mengangguk juga sambil berkata, “Baiklah. Aku akan memberitahukan jika aku mengetahui perkembangannya kelak”

Arum pun kemudian minta diri sementara kawan-kawannya pergi ke warung di sudut desa untuk membeli kebutuhan mereka yang diperlukannya menjelang malam hari.

Sebuah beban telah menambah muatan di hati Arum. Ia dapat mengerti bahwa kawan-kawannya itu pun menjadi gelisah karenanya. Tetapi ia tidak dapat berbuat terlampau banyak. Meskipun demikian semuanya itu harus dikatakannya kepada ayahnya nanti.

Ternyata langit telah menjadi semakin buram. Dan karena itulah maka Kiai Danatirta menjadi gelisah. Ia sadar bahwa Arum memiliki kemampuan untuk menjaga diri, tetapi keadaan di Jati Aking agaknya berkembang kearah yang mencemaskan.

Dalam pada itu Arum berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke padepokan kecilnya. Sebenarnya masih banyak yang ingin dipersoalkannya dengan kawan-kawannya yang lain, yang barangkali mendengar atau mengalami peristiwa yang dapat dijadikan bahan pengamatan bagi keadaan Jati Sari, tetapi Arum menjadi ragu-ragu. Dengan demikian maka ia akan menjadi pusat persoalan bukan saja bagi para prajurit di Surakarta yang justru dipimpin oleh Raden Juwiring, tetapi juga oleh kawan-kawannya di Jati Sari.

Dalam pada itu, selagi Arum melangkah semakin cepat, pendengarannya yang sudah terlatih mendengar lamat-lamat derap kaki kuda yang berpacu semakin lama menjadi semakin dekat. Karena itu, maka Arum pun menjadi berdebar-debar. Ia yakin bahwa kuda itu berderap sepanjang jalan yang dilaluinya menuju ke padepokan Jati Aking.

Sejenak Arum termangu-mangu. Langit yang menjadi semakin buram sehingga bayangan pepohonan membuat jalan itu menjadi samar.

Ternyata Arum tidak banyak mendapat kesempatan. Derap kaki kuda itu menjadi semakin dekat. Karena itu, maka tanpa berpikir lagi Arum pun segera meloncat menepi dan hilang di dalam gerumbul di pinggir jalan.

Sejenak kemudian maka di dalam keremangan senja ia melihat seekor kuda berpacu. Meskipun ternyata tidak terlampau cepat, namun ia belum sempat melihat dengan jelas, siapakah yang berada di punggung kuda itu. Baru ketika kuda itu lewat di hadapannya, ia dapat mengenalnya. Tetapi ada sesuatu yang menahannya ketika ia hendak berteriak memanggil nama penunggang kuda itu.

Tetapi kemudian dengan tergesa-gesa Arum meloncat kembali ke jalan dan berlari-lari kecil menuju ke padepokannya yang sudah tidak begitu jauh lagi.

Ketika ia memasuki regol, ia masih melihat kuda itu di halaman beserta penunggangnya yang sudah meloncat turun. Hampir saja ia berlari dan memeluknya. Untunglah bahwa ia sadar akan kegadisannya sehingga langkahnya tertahan beberapa depa dari penunggang kuda itu. Tetapi mulutnya berdesis, “Kakang Buntal”

Buntal tersenyum. Katanya, “Darimana kau Arum?”

“Dari sawah kakang. Kau melampaui aku di jalan menuju ke padepokan dekat di muka regol”

“He, aku tidak melihatmu”

“Aku bersembunyi. Aku tidak tahu siapakah penunggang kuda itu”

“Kenapa bersembunyi?”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Lalu, “Marilah, naiklah ke pendapa. Apakah ayah sudah mengetahui bahwa kau datang.

Buntal melangkah naik ke pendapa setelah mengikat kudanya sambil berkata, “Seseorang telah menyam-paikannya kepada Kiai Danatirta”

Arum menganggukkan kepalanya. Namun rasa-rasanya dadanya tidak lagi dapat menahan gejolak hatinya yang akan tertumpah. Banyak sekali rasanya yang akan dikatakannya kepada Buntal tentang dirinya, tentang Jati Sari dan terutama tentang Raden Juwiring.

Tetapi Arum masih menahan hatinya. Katanya kepada dirinya sendiri, “Biarlah ayah yang mengatakannya”

Karena itu maka yang ditanyakan kemudian adalah sekedar keselamatan Buntal.

“Lama sekali kau tidak datang kakang”

Buntal menarik nafas. Katanya, “Kita selalu sibuk Arum”

“Apa saja yang kau kerjakan disana?”

“Kami tidak pernah mendapat kesempatan untuk berdiam diri. Kami mendapat latihan yang berat. Bukan saja kesempatan berlatih seorang demi seorang sesuai dengan ilmu yang dimiliki, tetapi kami ditempa untuk dapat bekerja bersama sebaik-baiknya”

“O. menarik sekali. Siapakah yang memimpin kalian?”

“Ada beberapa kelompok yang mempunyai pemimpinnya sendiri. Adalah kebetulan sekali bahwa kelompokku dipimpin oleh Ki Sarpasrana”

“Senang sekali”

“Sekali-sekali Pangeran Mangkubumi memerlukan untuk melihat sendiri latihan-latihan itu”

“Pangeran Mangkubumi”

“Sst, jangan keras-keras”

“Tidak ada orang lain di sini”

“Pangeran Mangkubumi jarang sekali memperkenalkan dirinya sebagai seorang Pangeran. Yang sering kami jumpai adalah orang yang menamakan dirinya Petani dari Sukawati itu”

“Sayang sekali”

“Kenapa?”

“Aku bukan seorang laki-laki seperti kau kakang. Ternyata bahwa Ki Sarpasrana masih membedakan antara laki-laki dan perempuan. Kenapa aku tidak mendapat kesempatan untuk ikut serta bersama kau?”

“Aku kira belum saatnya Arum. Tentu tenaga seorang perempuan akan sangat dibutuhkan. Siapakah yang memasak untuk kami semua jika bukan perempuan yang menyediakan dirinya di dalam perjuangan ini”

“O, jadi ada juga perempuan disana”

“Tentu?”

“Tetapi kenapa aku tidak diijinkan serta?”

“Pada saatnya Arum. Sekarang masih belum terlampau banyak diperlukan tenaganya. Perempuan-perempuan Sukawati sendiri masih jauh mencukupi”

Arum mengerutkan keningnya. Kemudian sambil bersungut ia bertanya, “Apakah perempuan dan gadis di Sukawati cantik-cantik?”

“Ah” Buntal tertawa. Tetapi ia menyadari, betapapun matangnya Arum di dalam olah kanuragan, tetapi ia tetap seorang gadis. Namun dalam pada itu, pertanyaan itu telah menyentuh hatinya pula, seakan-akan Buntal merasakan bahwa Arum tidak mau kehilangan dirinya. Karena itulah, maka hati Buntal pun menjadi berdebar-debar pula.

“Tentu” desis Arum kemudian.

Buntal masih mencoba tertawa dan menjawab, “Pertanyaanmu aneh Arum. Tentu aku tidak sempat memperhatikan apakah perempuan dan gadis di Sukawati cantik-cantik”

“Bohong”

Buntal tidak menyahut. Tetapi ia masih tertawa saja.

Dalam pada itu, Kiai Danatirta pun muncul dari pintu pringgitan. Dengan tergopoh-gopoh Buntal mendekatinya dan berjongkok sambil menangkap tangan Kiai Danatirta.

“Aku menyampaikan baktiku ayah” berkata Buntal.

Kiai Danatirta mengusap kepala muridnya sekaligus anak angkatnya itu. Katanya, “Duduklah. Kau adalah anak yang baik, “

Buntal pun kemudian kembali duduk di atas tikar pandan. Sekilas ia melihat Arum menundukkan kepalanya.

Terasa sesuatu bergetar di dada gadis itu melihat sikap Buntal. Alangkah jauh berbeda dengan sikap Juwiring yang datang dengan pakaian seorang prajurit. Juwiring benar-benar bersikap sebagai seorang bangsawan meskipun ia sudah lama berada di padepokan Jati Aking.

Sejenak kemudian Kiai Danatirta pun menanyakan keselamatan Buntal dan kemudian juga Kiai Sarpasrana.

“Kami semuanya selamat Kiai”

“Apakah kau mendapat kesempatan beristirahat barang sehari dua hari sehingga kau sempat datang ke padepokan ini?”

Buntal menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tidak ayah”

“O, jadi?”.

“Aku mengemban tugas dari Pangeran Mangkubumi lewat Kiai Sarpasrana”

“Tugas apakah yang harus kau lakukan?”

Sekilas ditatapnya wajah Arum. Namun kemudian Buntal itu berkata, “Ayah. Apakah benar bahwa empat orang petugas sandi dari Surakarta telah hilang di padepokan ini justru selagi mereka mencari keterangan tentang sikap orang Jati Sari?”

“O” Kiai Danatirta mengerutkan keningnya, sedang Arum justru bergeser setapak maju.

“Kau sudah mendengar pula akan hal itu?”

Buntal menarik nafas. Katanya, “Maaf ayah. Barangkali tidak sepantasnya aku tiba-tiba saja membicarakan masalah yang tidak menarik itu. Tetapi waktuku sangat terbatas. Aku harus segera kembali menghadap Kiai Sarpasrana.

Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Aku tahu Buntal. Dalam keadaan seperti sekarang ini, maka waktu akan sangat berharga bagimu. Aku kira tidak ada keberatannya apabila kau berbicara langsung pada persoalannya.

“Ayah” berkata Buntal, “sebelum pagi aku harus sudah datang lagi menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan hasil kunjunganku. Kiai Sarpasrana yakin bahwa aku akan segera mendapat bahan selengkapnya tanpa melakukan pengamatan yang panjang, karena justru di sini ada ayah dan Arum”

Kiai Danatirta masih mengangguk-angguk. Sejenak ia memandang Arum. Lalu katanya, “Tetapi barangkali tidak banyak yang dapat aku katakan kepadamu. Apakah yang hendak kau ketahui tentang Jati Aking?”

“Tentang keempat orang itu ayah”

Kiai Danatirta mengerutkan keningnya. Lalu katanya kepada Arum, “Arum, barangkali kau dapat memberikan penjelasan tentang orang-orang itu”

Arum menjadi ragu-ragu sejenak. Namun kemudian ia bertanya kepada ayahnya, “Yang manakah yang harus aku katakan ayah?”

“Katakan seluruhnya kepada kakakmu Buntal. Kedudukannya tidak usah kita ragukan lagi. Juga kita tidak perlu meragukan Kiai Sarpasrana”

Arum termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Sudah ada tiga pihak yang mencari keterangan tentang Jati Aking”

Buntal mengerutkan keningnya.

“Siapa saja Arum?”

“Yang pertama adalah pasukan berkuda dari Surakarta. Mereka mencari keempat orang yang hilang itu. Kemudian aku bertemu dengan Sura yang ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh pasukan berkuda dari Surakarta. Dan kini kau datang pula ke Jati Aking. Jika Sura melakukannya untuk Raden Mas Said, maka agaknya kau mendapat perintah dari pihak Pangeran Mangkubumi”

Buntal menarik nafas. Sambil mengangguk-angguk kecil ia berkata, “Demikianlah agaknya Arum. Tetapi bagaimana dengan paman Sura sekarang?”

Sebelum Arum menjawab, maka Kiai Danatirta pun bertanya pula, “Apakah kau bertemu lagi dengan Sura?”

“Ya ayah. Aku bertemu lagi dengan Sura. Dan paman Sura pun terkejut bukan kepalang mengetahui siapakah yang memimpin pasukan berkuda ke Jati Sari”

“Kenapa terkejut” bertanya Buntal.

“Apakah kau mengetahui siapakah yang memimpin pasukan berkuda yang datang kemari mencari empat orang yang hilang itu?”

“Kedatangan pasukan berkuda itu memang sudah kami ketahui. Tetapi kami belum mendapatkan penjelasan lebih jauh tentang pasukan itu. Petugas sandi kami hanya melaporkan bahwa sekelompok prajurit dari pasukan berkuda telah memasuki daerah Jati Aking sehubungan dengan hilangnya empat orang petugas dari Surakarta yang langsung di bawah jalur hubungan dengan kumpeni”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kau tentu mengenal dengan baik”

“Siapa?”

Arum termangu-mangu sejenak. di luar sadarnya ia berpaling kepada ayahnya. Baru ketika Kiai Danatirta mengangguk, Arum berkata, “Pemimpin dari pasukan berkuda itu adalah Raden Juwiring”

Seperti yang sudah diduga, maka Buntal pun terkejut bukan buatan. Sejenak ia memandang Arum dengan tajamnya, kemudian wajahnya menjadi tegang.

Sura sejenak kemudian ia bertanya, “Maksudmu Raden Juwiring putera Pangeran Ranakusuma yang pernah berada di padepokan Jati Aking ini”

Arum menganggukkan kepalanya.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya seakan-akan kepada diri sendiri, “Alangkah cepatnya perubahan itu terjadi di dalam diri seseorang. Hampir tidak masuk akal bahwa Raden Juwiring tiba-tiba saja sudah menjadi seseorang Senapati dari pasukan berkuda Surakarta. Ia tentu merupakan seorang Senapati yang baik meskipun ia masih belum dapat menyamai Raden Mas Said. Tetapi jarang seorang Senapati semuda Raden Juwiring di dalam pasukan Surakarta”

“Memang hampir tidak masuk akal” sahut Arum, “Tetapi itulah kenyataannya. Aku tidak dapat ingkar dari kenyataan itu”

“Apakah Raden Juwiring mendapat keterangan yang dicarinya di sini?”

“Tidak. Meskipun ia datang juga ke padepokan ini. Tetapi aku tidak memberikan keterangan apapun juga kepadanya”

Buntal mengangguk! kecil.

“Ayah sama sekali tidak menjumpainya”

“Jadi, Raden Juwiring kembali tanpa membawa keterangan apapun?”

Arum bergeser setapak. Jawabnya, “Mungkin ada beberapa keterangan. Tetapi barangkali tentang empat orang yang hilang itu akan tetap gelap baginya”

Buntal menjadi gelisah. Ternyata Raden Juwiring, saudara angkat dan seperguruannya itu kini telah berada di seberang. Namun dalam pada itu, di hati kecilnya yang dalam, membersit pikirannya yang lain. Semakin jauh Raden Juwiring itu berdiri dari padepokan ini, baginya akan menjadi semakin baik. Ia tentu akan semakin jauh pula dari Arum. Jika terjadi perselisihan, maka tidak akan ada lagi keseganan di dalam diri masing-masing.

Namun Buntal pun kemudian menjadi malu kepada diri sendiri. Ternyata ia telah terdorong ke dalam sikap mementingkan dirinya sendiri. Hampir saja ia terseret kepada suatu keadaan yang tidak sewajarnya bagi seorang yang sedang berjuang untuk tujuan yang besar. Bukan sekedar untuk kepentingannya sendiri.

Karena itu, ketika ia menyadari kesalahan di dalam angan angannya ia berusaha untuk meluruskannya, seolah-olah ada seseorang yang dapat melihat perasaannya, “Jadi, jadi Raden Juwiring tidak berhasil mendapatkan keterangan apapun juga? Sayang sekali”

Arum menjadi heran, sehingga karena itu maka ia pun bertanya, “Apa maksudmu kakang? Apakah yang kau sayangkan?”

Sekali lagi Buntal tergagap. Jawabnya, “Maksudku, sayang sekali bahwa Raden Juwiring kini justru menjadi seorang perwira prajurit Surakarta”

“Tetapi kita tidak boleh berprasangka terlampau jauh Buntal” berkata Kiai Danatirta, “mungkin karena kedudukannya sebagai seorang putera Pangeran, maka ia tidak dapat mengelakkan diri dari kedudukan keprajuritan di Surakarta”

Buntal mengangguk-angguk, tetapi Arum menyahut, “Tetapi sikapnya sudah berbeda sama sekali ayah. Jika ayah sempat menemuinya, maka Raden Juwiring bersikap seperti seorang bangsawan yang utuh. Ia ingin memaksakan orang lain memenuhi keinginannya. Tidak ubahnya seperti Raden Rudira. Hanya keinginan yang harus dipenuhi itu sajalah yang berbeda”

Kiai Danatirta tidak menyahut lagi. Hanya kepalanya sajalah yang terangguk-angguk kecil.

“Tetapi Arum” berkata Buntal kemudian untuk menghindarkan diri dari kegagapan, “Apakah kau tahu yang sebenarnya, yang tidak kau katakan kepada Raden Juwiring, tentang empat orang yang sedang dicari oleh para prajurit dari Surakarta itu?”

Arum mengangguk kecil. Katanya, “Aku mengetahui kakang. Dan paman Sura pun mengetahuinya”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kami dari Sukawati sudah menduga, bahwa petugas-tugas sandi itu tentu hilang ditelan oleh kekuatan Raden Mas Said”

Arum mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia pun menganggukkan kepalanya, “Ya. Demikianlah agaknya”

“Dan apakah yang telah terjadi seutuhnya?”

Arum pun kemudian menceriterakan apa yang pernah dialaminya. Diceriterakannya pula bagaimana keempat orang itu hilang, dan di antaranya telah terbunuh”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Itu pun sudah aku duga. Hanya ada dua tebakan. Jika tidak laskar Raden Mas Said yang kebetulan ternyata dipimpin oleh Sura di daerah ini, tentu kekuatan yang tersembunyi di Jati Aking”

“Raden Juwiring pun berpendapat demikian” gumam Arum hampir kepada diri sendiri, “karena itulah maka ia hampir memaksa aku untuk mengatakan tentang keempat orang itu justru karena aku mempunyai dua untai kalung merjan, meskipun yang seuntai sudah aku berikan kepada orang lain”

Buntal mengangguk-angguk. Katanya, “Memang tidak akan ada dugaan lain. Barangkali Raden Juwiring masih mempunyai satu sasaran lagi, yaitu laskar Sukawati”

Arum tidak menyahut. Tetapi kepalanya terangguk kecil.

“Jika demikian, semuanya menjadi jelas bagiku. Aku akan menghadap Kiai Sarpasrana dan menyampaikan hasil kunjunganku ke padepokan ini”

“Kau akan segera kembali?” bertanya Kiai Danatirta.

“Ya ayah. Aku mendapat pesan agar aku segera kembali. Malam ini”

“Tetapi masih ada waktu sedikit. Tinggallah untuk sejenak barangkali sudah disiapkan makan buatmu”

Buntal tidak dapat menolak. Karena itu maka katanya, “Terima kasih Kiai. Aku akan menunggu. Mungkin ada baiknya juga aku makan dahulu agar aku tidak kelaparan di perjalanan”

Kiai Danatirta pun kemudian memberi isyarat kepada Arum, agar gadis itu pergi ke belakang menyiapkan hidangan bagi Buntal.

Sepeninggal Arum, Kiai Danatirta masih berbicara untuk beberapa saat sehingga kemudian ia berkata, “Jika kau akan mencuci kakimu lebih dahulu, pergilah ke pakiwan sebelum makan”

Buntal pun kemudian turun ke halaman dan pergi ke belakang. Ada sesuatu yang menyentuh hatinya ketika ia melangkahkan kaki di halaman samping padepokan Jati Aking. Halaman yang dahulu selalu diambahnya hampir siang dan malam. Tanaman yang masih tetap terpelihara. Meskipun hanya di bawah sinar obor di regol butulan, namun Buntal dapat melihat bahwa tanaman itu masih tetap terpelihara rapi.

Ketika Buntal sampai di halaman belakang, dilihatnya Arum membawa kelenting untuk mengambil air ke perigi. Karena itu maka dengan tergesa-gesa ia menyusulnya dan berkata, “Arum, buat apa kau mengambil air di saat begini. Dan apakah tidak ada orang lain yang dapat kau suruh?”

Arum terhenti sejenak. Lalu jawabnya sambil tersenyum

“Bukan kebiasaanku menyuruh orang lain kakang. Bukankah sejak kau masih ada di sini, aku sering mengambil air untuk mengisi gentong di dapur?”

“Tetapi setelah gelap begini?”

“Menurut orang tua-tua, gentong di dapur harus selalu penuh. Gentong itu ternyata tinggal separo isi, karena para pembantu harus mencuci beras dan mengisi gendi”

“Dan kaulah yang harus mengisi gentong itu”

Arum tersenyum. Katanya, “Biarlah aku mengisinya. Semuanya sedang sibuk menyiapkan makan buatmu”

“O” Buntal pun tertawa, “Terima kasih. Jika demikian biarlah aku membantumu, menimba air dari perigi, dan kaulah yang membawanya ke dapur”

Demikianlah maka Buntal menimba air, mengisi kelenting kemudian Arum lah yang membawa kelenting itu ke dapur dan menuangkannya ke dalam gentong.

Tetapi ketika gentong itu sudah penuh, Arum masih juga pergi ke perigi. Dibiarkannya saja Buntal menuangkan air dari timba yang terbuat dari upih ke dalam kelentingnya. Namun kemudian dibiarkannya saja kelenting itu terletak di pinggir sumur.

“Sudah penuh” berkata Arum.

“O, kau tidak mengatakannya sebelumnya”

“Biar sajalah berada di kelenting”

“Jika demikian aku akan mengisi jembangan di pakiwan. Aku akan mandi”

Arum tidak menyahut. Dibiarkannya Buntal menimba air dan mengisi jembangan. Tetapi ia tidak beranjak pergi.

Setelah jembangan di pakiwan itu penuh, maka Buntal pun berkata sekali lagi, “Aku akan mandi sebelum menikmati hidanganmu, makan malam. Sudah lama aku tidak makan malam di padepokan Jati Aking”

“Apakah kau sering makan siang di sini sejak kau pergi?”

Buntal tertawa, “Juga tidak”

“Jadi, bukan sekedar makan malam”

“Ya” Buntal berdesis, “Aku akan mandi”

Tetapi Arum tidak beranjak pergi. Bahkan kemudian ia pun duduk di atas sebuah batu di bibir sumur.

“He, jangan duduk di situ” Buntal memperingatkan.

“Kau takut aku terperosok ke dalam?”

“Ya”

“Aku cukup hati-hati”

Buntal menarik nafas, ia tidak tahu pasti, apakah maksud Arum.

Dengan demikian maka untuk beberapa saat keduanya. saling berdiam diri. Buntal masih saja berdiri bersandar batang senggot timba, sedang Arum masih tetap duduk di atas batu.

Namun tiba-tiba saja Arum berkata, “Kakang Buntal. Kenapa aku tidak boleh ikut bersamamu?”

Buntal mengerutkan keningnya, lalu, “Tentu bukan aku saja yang berkeberatan Arum. Ayah tentu juga keberatan, dan belum ada tempat di Sukawati. Yang diperlukan adalah perempuan yang cekatan di dapur. Belum diperlukan seorang gadis yang cakap bermain senjata saat ini”

“Aku akan bekerja di dapur. Tetapi aku ingin ikut bersamamu ke Sukawati”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tentu tidak dalam waktu yang pendek Arum. Meskipun kau mau juga bekerja di dapur, tetapi rasa-rasanya kau memiliki sesuatu yang lebih baik daripada sekedar bekerja di dapur. Karena itu, sebaiknya kau tetap di sini”

“Kenapa aku tidak boleh bekerja di dapur? Jika pada saatnya diperlukan tenagaku, maka aku dapat meninggalkan dapur dan berbuat lebih banyak lagi. Tetapi sebelum itu, aku bersedia bekerja di dapur saja”

Buntal menggelengkan kepalanya, “Arum. Kau dapat membantu kami di Sukawati dengan tetap tinggal di sini. Jika saat ini kau tidak ada di Jati Aking, maka aku tentu tidak akan semudah ini mendapat keterangan tentang pasukan Surakarta, apalagi yang ternyata dipimpin oleh Raden Juwiring. Dan terutama keterangan tentang empat orang yang hilang itu”

Arum menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat mengerti keterangan Buntal. Kehadirannya di Jati Sari memang penting bagi Buntal. Namun rasa-rasanya ada sesuatu yang mendesaknya untuk dapat ikut serta bersama Buntal ke Sukawati.

Samar-samar tampak diangan-angan Arum bahwa menyenangkan sekali jika ia sempat pergi bersama Buntal ke Sukawati.

“Bukan karena perjuangan yang wajib kau lakukan di Sukawati, Arum” rasa-rasanya terdengar suara di relung hatinya, “Tetapi sekedar terdengar oleh keinginanmu untuk pergi bersama dengan Buntal”

Arum menundukkan kepalanya dalam-dalam. Meskipun tidak ada orang lain mendengar suara di hatinya itu, namun wajahnya tiba-tiba saja menjadi merah padam. Ia merasa malu kepada dirinya sendiri, bahwa ia telah didesak oleh kepentingan pribadinya.

Karena itu, maka Arum pun kemudian tidak memaksa lagi untuk dapat pergi ke Sukawati. Kepalanya yang tunduk masih saja tunduk untuk beberapa saat lamanya.

Arum terkejut ketika ia mendengar suara Buntal, “Arum. Malam rasa-rasanya menjadi semakin gelap. Aku harus kembali ke Sukawati. Karena itu. apakah pekerjaanmu sudah selesai dan aku dapat mencuci kaki dan tanganku”

“O” Arum tersipu-sipu. Perlahan-lahan ia berdiri. Tetapi ia tidak segera meninggalkan Buntal.

“Apakah kau akan pergi ke dapur?”

“Buntal” Arum berdesis. Tetapi suaranya pun kemudian tersangkut di kerongkongan.

Buntal pun kemudian berdiri seolah-olah membeku. Ditatapnya Arum yang juga terdiri memandanginya.

Keduanya tidak mengucapkan kata-kata apapun. Tetapi tatapan mata mereka yang beradu. rasa-rasanya telah terlampau banyak melontarkan isi hati mereka. Namun bagaimanapun juga tangkapan hati mereka masih tetap merupakan sentuhan yang sama, karena tidak seorang pun di antara mereka berdua yang mengucapkan perasaannya dengan kata-kata sehingga dapat dijadikan pegangan karena telah menyentuh indera wadag.

Arum memang menunggu. Tetapi Buntal sama sekali tidak mengatakan apapun juga.

Memang ada sesuatu yang rasa-rasanya mendesak ingin meloncat lewat bibirnya, tetapi rasa-rasanya bibirnya telah membeku sehingga tidak sepatah kata pun yang terucapkan. Namun demikian, hampir seluruh tubuh kedua anak muda itu lelah basah oleh keringat yang mengembun di seluruh permukaan kulit.

Perlahan-lahan Buntal kemudian dapat menguasai perasaannya sepenuhnya. Karena itu. maka perlahan-lahan ia berkata, “Silahkan Arum. Mungkin ayah menunggu kami di pendapa. Aku akan mencuci tangan sejenak”

Ada kekecewaan membersit di wajah Arum. Ternyata Buntal tidak mengatakan apapun. Tetapi sepercik harapan telah melontar di hatinya. Tatapan mata Buntal memancarkan arti baginya.

Demikianlah maka sejenak kemudian Arum pun mengambil kelentingnya dan meninggalkan Buntal sendiri di dekat pakiwan.

Untuk beberapa saat Buntal pun masih saja merenung. Baru kemudian ia merasa bahwa tangannya menjadi gemetar, la memang ingin memaksa untuk mengatakan sesuatu kepada Arum. Mungkin ia tidak akan menemukan kesempatan serupa itu lagi. Tetapi setiap kali kata-katanya sama sekali tidak dapat meloncat. Bahkan sekilas terbayang olehnya Raden Juwiring dalam pakaian seorang bangsawan dan seorang perwira prajurit di Surakarta. Tentu jauh sekali bedanya dengan dirinya sendiri, la adalah seseorang yang tidak dikenal darah keturunannya meskipun ia dapat menceriterakannya. Dan kini ia tidak lebih dari seorang laskar dari pasukan Pangeran Mangkubumi yang sedang disusun di Sukawati.

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya masuk ke pakiwan. Ia tidak lagi bernafsu untuk mandi, selain mencuci wajahnya, tangan dan kakinya. Kemudian dikibaskannya tangan dan kakinya supaya segera kering.

Seperti yang sudah diduganya. Kiai Danatirta memang sudah terlalu lama menunggu di pendapa. Bahkan sebagian hidangan pun telah berada di atas tikar pandan yang putih. Asap mengepul dari dalam ceting yang penuh dengan nasi panas.

“Marilah Buntal” ajak Kiai Danatirta, “Makan sajalah dahulu. Baru kau kembali kepada Kiai Sarpasrana. Seandainya kau terlambat barang sesaat, tentu Kiai Sarpasrana tidak akan marah karena kau datang sambil membawa keterangan yang kau cari di sini”

Buntal pun kemudian makan dengan lahapnya, la memang agak lapar. Apalagi ia masih harus menempuh perjalanan di malam hari. Karena itu, maka ia pun makan sekenyangnya.

Demikianlah setelah beristirahat sejenak. Buntal pun kemudian minta diri untuk kembali ke Sukawati. Tugasnya harus ditunaikannya sebaik-baiknya. Apalagi ia adalah orang baru di Sukawati meskipun ia termasuk seorang anak muda yang memiliki bekal yang cukup untuk menjadi pengikut Pangeran Mangkubumi.

“Hati-hatilah Buntal” pesan Kiai Danatirta, “Kau dapat bertemu dengan kumpeni, dengan prajurit Surakarta atau dengan laskar Raden Mas Said. Meskipun pada dasarnya tidak ada pertentangan antara Raden Mas Said dan Pangeran Mangku-bumi, namun kadang-kadang ada juga perasaan bersaing di antara mereka yang justru berada di bawah. Mereka merasa bahwa medan yang mereka hadapi akan bersilang. Itulah sebabnya maka laskar Raden Mas Said dan laskar Sukawati kadang-kadang sering berebut pengaruh. Itu perlu kau perhitungkan. Kecuali jika pada suatu saat pada keduanya benar-benar tidak terdapat perbedaan apapun lagi, maka kau tidak usah mempertimbangkan apapun juga tentang pasukan Raden Mas Said itu”

Buntal mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku mengerti ayah”

“Nah, pergilah. Sampaikan salamku kepada Kiai Sarpasrana. Pada saat yang tepat aku ingin mengunjunginya”

Demikianlah Buntal pun mohon diri pula kepada Arum dan kepada para pembantu di padepokan itu.

Arum melepaskannya dengan tatapan mata yang aneh. Terasa oleh Buntal bahwa ada sesuatu yang terpancar dari mata itu. Tetapi tidak sepatah katapun yang memberikan penjelasan tentang gejolak perasaan Buntal kepada Arum.

Demikianlah maka kuda Buntal itu pun kemudian berpacu menyusur jalan pedukuhan yang gelap. Baru ketika kuda itu keluar dari Jati Sari dan berlari di bulak persawahan, rasa-rasanya malam menjadi agak terang meskipun bulan tidak nampak sama sekali.

Angin malam yang sejuk terasa mengusap wajah Buntal yang berlari kencang. Setiap kali ia teringat pesan Kiai Danatirta, bahwa ada kemungkinan ia bertemu dengan pihak lain di sepanjang jalan.

Tetapi agaknya Buntal sama sekali tidak bertemu dengan siapapun juga di sepanjang jalan. Hanya sekali-sekali ia melihat seseorang yang sibuk membuka pematang sawahnya untuk mengalirkan air yang mengalir lambat di parit yang dangkal. Jika air itu tidak disadap di waktu malam, maka sawahnya tentu akan kering dan tanamannya akan mati.

“Mereka mencintai tanamannya seperti keluarganya sendiri” desis Buntal kepada diri sendiri. Namun sebenarnyalah bahwa tanaman di sawah adalah nyawa dari hidup keluarganya. Apalagi bagi petani-petani yang miskin.

Namun tiba-tiba saja Buntal terkejut ketika tampak olehnya warna merah di langit. Bukan merahnya fajar, karena malam masih terlampau panjang.

“Kebakaran” desis Buntal di dalam hatinya.

Seperti yang diduganya, maka di kejauhan terdengar suara kentongan bergema. Tiga kali ganda berturut-turut. Semakin lama menjalar semakin luas.

Buntal memperlambat kudanya. Bahkan kemudian ia terhenti sama sekali. Tetapi Buntal tidak berniat untuk berbelok.

“Tentu tetangga-tetangganya sudah banyak yang membantu. Jika kebakaran itu menjalar semakin besar, aku pun tidak akan banyak dapat membantu, karena aku hanya seorang diri” berkata Buntal di dalam hatinya.

Namun kemudian suara, kentongan tiga ganda itu semakin lama menjadi semakin sumbang. Ada irama lain yang didengar oleh Buntal pada suara kentongan itu. Barulah kemudian ia menjadi jelas. Titir.

Buntal menjadi berdebar-debar. Tentu bukan sekedar rumah yang terbakar. Titir adalah pertanda kejahatan bahkan mungkin pembunuhan.

Sejenak Buntal termangu-mangu. Ia harus sampai di Sukawati sebelum fajar. Tetapi suara titir itu sangat menarik hatinya.

“Aku ingin melihatnya. Mungkin tidak memerlukan waktu terlampau panjang”

Hampir diluar sadarnya Buntal pun kemudian menarik kekang kudanya berbelok lewat jalan sempit menuju ke tempat kebakaran itu.

Semakin dekat Buntal dengan rumah yang terbakar itu. hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Suara titir itu bahkan hampir lenyap sama sekali justru di sekitar tempat kebakaran. Malahan di Padukuhan-padukuhan lain suara titir itu masih tetap bergema.

“Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya” desis Buntal.

Anak muda itu pun kemudian membawa kudanya masuk ke pategalan dan mengikatnya di balik pepohonan yang rimbun. Ia sendiri kemudian merayap memasuki padukuhan yang sedang dilanda oleh hiruk pikuk.

Buntal berlindung di balik rimbunnya segerumbul belukar ketika ia melihat beberapa orang berlari-larian. Ternyata perempuan dan anak-anak, bahkan beberapa orang laki-laki.

“Apa yang telah terjadi” desis Buntal di dalam hatinya, “Jika sekedar kebakaran, mereka tentu akan membantu memadamkan api yang tidak terlampau besar itu. Bukan justru berlari keluar padukuhan”

Karena itulah maka Buntal merayap semakin mendekat. Meskipun Buntal tidak berani menyusuri jalan, namun melintasi kebun dan halaman, ia pun menjadi semakin dekat dari rumah yang terbakar itu.

Barulah kemudian ia mengetahui bahwa yang terjadi adalah sebuah perampokan yang kasar. Beberapa orang perampok telah memasuki beberapa buah rumah dan membakar sebuah di antaranya. Bahkan ketika Buntal berada di belakang sebuah rumah beberapa ratus langkah dari api, ia masih mendengar seseorang membentak-bentak di dalam rumah itu, “Kalian harus menyumbang apa saja bagi perjuangan Raden Mas Said”

Buntal menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Inilah satu contoh dari akal kumpeni”

Karena itu Buntal menjadi semakin bernafsu. Jika aku sempat menangkap satu di antara mereka. Menangkap hidup-hidup”

Tetapi Buntal kemudian terpaksa surut dan berlindung di dalam kegelapan. Ternyata di dalam rumah itu masih terdapat beberapa orang. Bahkan ia melihat dua orang yang lain berkeliaran di halaman dengan senjata telanjang.

“Beberapa orang yang mendapat tugas melakukan perampokan seperti ini?” bertanya Buntal di dalam hatinya, “Namun tentu sekelompok yang cukup kuat, karena di daerah ini ada kemungkinan mereka benar-benar bertemu dengan laskar Raden Mas Said yang sebenarnya”

Karena Buntal hanya seorang diri, maka ia tidak dapat dengan tergesa-gesa bertindak. Ia memerlukan perhitungan yang matang.

Tetapi agaknya ia tidak akan mendapat kesempatan. Beberapa saat kemudian ia melihat beberapa orang keluar dari rumah itu. Lamat-lamat ia mendengar seseorang mengerang kesakitan. Tentu pemilik rumah yang sudah disakiti oleh para perampok itu.

“Gila” geram Buntal.

Namun ia masih tetap berusaha. Dengan diam-diam ia mengikuti beberapa orang itu ke jalan padukuhan. Namun ternyata di simpang empat telah berkumpul beberapa orang yang lain. Sedang kuda-kuda mereka, mereka tambatkan pada batang-batang kayu di sekitar simpang empat itu.

“Apakah kita sudah selesai” berkata salah seorang dari mereka.

“Aku kira sudah cukup. Banyak orang yang berlari-lari mencari selamat dan meninggalkan rumah mereka begitu saja. Mereka tentu akan pergi ke padukuhan lain. Dan mereka tentu akan berceritera tentang laskar Raden Mas Said yang sedang merampok padukuhan ini”

Terdengar suara tertawa pendek. Lalu, “Marilah. Kita sudah cukup memberikan kesan, bahwa perampokan ini dilakukan oleh anak buah Raden Mas Said yang memberontak itu”

Orang-orang itu pun kemudian bersiap untuk meninggalkan padukuhan itu. Merekapun segera berloncatan ke atas punggung kuda dan kemudian berderap meninggalkan simpang empat itu.

Buntal termangu-mangu sejenak. Namun berdasarkan perhitungan ia sama sekali tidak akan berbuat apa-apa.

Karena itu maka Buntal hanya dapat menahan gelora di dalam dadanya. Namun ia masih saja tetap berdiri di tempatnya. Ia mengikuti derap kuda-kuda itu dengan sorot mata yang memancarkan kemarahan dan bahkan dendam di dalam hati.

Sejenak kemudian maka derap kaki-kaki kuda itu pun semakin menghilang. Yang didengarnya kemudian hanyalah gemeretak kayu dan bambu yang sedang dimakan api.

Perlahan-lahan Buntal melangkah mendekatinya. Namun yang diketemukan hanyalah bara dan abu saja setelah nyala api menjadi susut.

Tetapi Buntal pun segera bergeser dan bersembunyi lagi ketika ia mendengar derap kaki-kaki kuda mendekat. Ia menduga bahwa orang-orang yang telah merampok itu kembali lagi karena ada sesuatu yang tertinggal atau sesuatu yang belum diselesaikan.

Dengan dada yang berdebar-debar Buntal bersembunyi di balik sebuah gerumbul perdu. Sejenak ia menunggu dengan gelisah. Menurut perhitungannya kuda yang datang itu tidak sebanyak yang telah pergi meninggalkan api yang sedang menjilat dan menelan rumah itu.

“Mungkin hanya dua atau tiga” desis Buntal.

Maka timbullah harapannya untuk dapat melakukan rencananya, menangkap satu atau dua orang hidup-hidup.

“Mungkin yang terjadi justru sebaliknya. Akulah yang mereka tangkap. Tetapi apaboleh buat. Kemungkinan-kemungkinan yang demikian memang dapat terjadi di dalam keadaan seperti ini”

Setelah beberapa saat menunggu, Buntal melihat dua orang berkuda mendekati api itu. Mereka sama sekali tidak turun dari kudanya. Namun tangan mereka telah siap berada di lambung, meraba hulu senjata.

Ketika wajah orang itu tersentuh merahnya cahaya api, Buntal terkejut karenanya. Salah seorang yang berkuda itu sudah dikenalnya dengan baik. Ki Dipanala.

“Kenapa ia berada di sini?” timbullah kecurigaan di hati Buntal. Ia telah mendengar ceritera tentang Raden Juwiring Sedang Ki Dipanala adalah orang yang dekat dengan Raden Juwiring itu. Apakah dengan demikian berarti bahwa Ki Dipanala pun kini terlibat dalam usaha kumpeni untuk memburukkan nama Raden Mas Said dengan cara yang licik ini.

Untuk beberapa saat Buntal justru membeku. Namun kemudian ia mendengar Ki Dipanala berkata, “Semuanya sudah selesai. Agaknya yang direncanakan itu telah dilakukan dengan baik”

Kawannya tidak menjawab. Tetapi kepalanya terangguk kecil.

Pembicaraan yang pendek itu telah membuat Buntal menjadi semakin curiga kepada Ki Dipanala.

Karena itu timbullah niatnya untuk langsung berbicara agar ia mendapat kepastian, apakah benar Ki Dipanala itu terlibat atau tidak.

Karena itulah maka Buntal pun kemudian merayap semakin dekat. Dan tiba-tiba saja ia meloncat keluar dari persembunyiannya dan berdiri tegak di hadapan kedua orang itu.

Ki Dipanala dan kawannya terkejut bukan buatan, Mereka sama sekali tidak menduga bahwa tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di hadapannya. Apalagi ketika Ki Dipanala melihat wajah itu, seorang anak muda yang bernama Buntal.

“Buntal” Ia berdesis.

“Ya Ki Dipanala. Agaknya Ki Dipanala masih mengenal aku”

“Tentu, aku tentu mengenalmu”

“Terima kasih Ki Dipanala” jawab Buntal kemudian, lalu, “Tetapi di dalam keadaan seperti ini, perkenankanlah aku bertanya, apakah yang Kiai lakukan di sini? Baru saja sekelompok orang membakar dan merampok di padukuhan ini. Kemudian Ki Dipanala datang berdua seolah-olah melihat hasil dari perbuatan yang ganas itu”

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Hanya suatu kebetulan bahwa aku lewat di tempat ini.

Aku mendengar suara kentong titir, sehingga aku singgah sejenak untuk melihat, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Dan di sini aku melihat sebuah rumah sedang terbakar”

“Ki Dipanala. Agaknya Ki Dipanala baru dalam perjalanan. Dari mana atau akan pergi kemana?”

Ki Dipanala menjadi agak bingung. Jawabnya, “Sekedar nganglang untuk melihat perkembangan keadaan Buntal”

“Tetapi Ki Dipanala rasa-rasanya menilai peristiwa ini sebagai suatu keadaan yang sudah selesai, dan sebagai suatu rencana yang sudah dikerjakan dengan baik?”

“Ah, kau jangan mengada-ada. Aku benar-benar kebetulan saja lewat di daerah ini”

“Paman” berkata Buntal kemudian, “Aku minta maaf bahwa aku terpaksa berbuat sesuatu yang barangkali tidak menyenangkan bagi paman. Tetapi apaboleh buat” Buntal menarik nafas dalam-dalam, kemudian, “Apakah paman terlibat di dalam perbuatan ini?”

“Buntal” Ki Dipanala memotong, “Kau jangan berprasangka yang demikian terhadapku”

“Beberapa saat yang lampau, Jati Sari telah dibayangi oleh petugas sandi. Ketika petugas sandi itu hilang, maka sepasukan prajurit datang untuk mencarinya. Dan pasukan berkuda yang datang itu ternyata dipimpin oleh Raden Juwiring”

“Apa hubungannya dengan aku sekarang?”

“Paman adalah orang yang dekat sekali dengan Raden Juwiring. Jika Raden Juwiring ternyata kemudian tergelincir ke dalam sikapnya sekarang, maka Ki Dipanala pun agaknya tidak akan sulit untuk sampai ke jalan serupa”

Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Katanya, “Kau mengambil kesimpulan yang salah Buntal. Aku sama sekali tidak ikut serta di dalam pergolakan ini. Aku berdiri di luar sama sekali”

“Tentu kau dapat berkata begitu sekarang paman. Namun kehadiran paman, dan penilaian paman atas yang terjadi ini sangat mencurigakan. Ketika aku mendengar bahwa Raden Juwiring kini menjadi seorang Senopati dari pasukan berkuda Surakarta yang bekerja bersama dengan kumpeni, aku menjadi sangat kecewa. Dan sekarang aku melihat sikap Ki Dipanala yang tidak dapat aku mengerti”

“Sudahlah. Baiklah aku pergi. Jika kau anggap bahwa kehadiranku di sini dapat menumbuhkan kecurigaanmu”

“Begitu saja pergi?” sahut Buntal, “Maaf paman. Sebaiknya paman aku antarkan menghadap Kiai Sarpasrana dan bahkan menghadap Pangeran Mangkubumi”

“Pangeran Mangkubumi? Kenapa aku harus menghadap Pangeran Mangkubumi? Jika sekiranya kau menganggap tindakanku merugikan perjuangan Pangeran Mangkubumi, maka kau tidak berhak membawa aku kepadanya”

“Paman” berkata Buntal, “Paman tentu tahu, bahwa perbuatan orang-orang yang membakar dan merampok ini sangat merugikan perjuangan Raden Mas Said. Jika paman memang terlibat, maka paman pun telah melakukan sesuatu yang merugikan perjuangan menentang kekuasaan asing itu. Nah, setiap orang merasa bertanggung jawab atas kemerdekaan negerinya dan berjuang untuk menghapuskan pengaruh kumpeni yang semakin lama semakin mencengkam Surakarta, sehingga tidak mustahil bahwa pada suatu ketika Surakarta benar-benar akan kehilangan dirinya sendiri”

Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Katanya kemudian di sela debar jantungnya yang semakin cepat, “Jangan berprasangka terlampau jauh Buntal. Baiklah kita berpisah saja”

“Tidak paman. Bersalah atau tidak bersalah paman terpaksa aku bawa menghadap Pangeran Mangkubumi”

“Bukankah tuduhanmu tindakanku ini merugikan perjuangan Raden Mas Said, bukan Pangeran Mangkubumi?”

“Meskipun ada bedanya, tetapi di dalam hal ini terpaksa aku lakukan. Baik Pangeran Mangkubumi maupun Raden Mas Said tentu akan berkepentingan dengan sikapmu”

“Buntal” suara Ki Dipanala menjadi dalam, “Kau sudah melakukan kesalahan pula. Pangeran Mangkubumi sampai saat ini belum melakukan sesuatu tindakan yang dapat dianggap sebagai suatu perlawanan terhadap Surakarta. Hanya karena sikap iri dan dengki beberapa orang bangsawan, Pangeran Mangkubumi menjadi semakin tersudut. Tetapi apakah kau pernah mendapat perintah untuk melakukan perlawanan atas Surakarta secara terbuka?”

Buntal lah yang kemudian terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia sadar bahwa Ki Dipanala adalah seorang yang memiliki bukan saja pengertian yang jauh lebih luas daripadanya tentang pemerintahan, tetapi juga memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu, maka untuk sejenak ia kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu.

“Buntal” berkata Ki Dipanala kemudian, “seandainya aku kau anggap orang Surakarta yang sedang melakukan perbuatan yang licik, maka kau sama sekali tidak berhak berbuat sesuatu. Apalagi atas nama Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian kau sudah mendahuluinya melakukan perlawanan terbuka, karena kau telah melakukan tindakan terhadapku”

Sejenak Buntal mematung, dan Ki Dipanala berkata seterusnya, “Karena itu, Buntal. Pergilah. Aku juga akan pergi. Masih banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu”

Tetapi Buntal yang bimbang itu tiba-tiba berkata, “Jangan Ki Dipanala. Jangan pergi”

“Maksudmu?”

“Bukan maksudku mendahului tindakan Pangeran Mangku-bumi. Tetapi perbuatanmu dan beberapa prajurit Surakarta telah benar-benar merugikan perjuangan Raden Mas Said. Dengan demikian kau harus mempertanggung jawabkan. Kau akan aku bawa, apapun yang akan terjadi. Sebab aku kira persoalannya akan menjadi semakin jelas jika kau berhadapan dengan orang yang memiliki pengertian dan pengalaman yang jauh lebih luas daripadaku. Seandainya keputusannya kelak, paman dilepaskan dan dipersilahkan kembali ke Surakarta, itu bukan lagi menjadi persoalanku”

“Jangan keras kepala Buntal” berkata Ki Dipanala, “Kau masih terlampau muda. Tindakanmu merugikan perjuangan Pangeran Mangkubumi. Dengan demikian kau sudah menyusutkan Pangeran Mangkubumi ke dalam kesulitan yang lebih parah lagi dari sekarang”

“Kau menggertak” tiba-tiba saja Buntal berkata tegas, “Kau ingin aku melepaskanmu. Tidak. Aku tidak akan melepaskan paman dan kawan paman itu”

“Ah”

“Marilah. Serahkan senjata paman. Kita pergi ke Sukawati. Terserah apa yang akan mereka lakukan atas paman. Mungkin paman akan dilepaskan, tetapi mungkin pula paman akan diserahkan oleh para pemimpin di Sukawati kepada Raden Mas Said. Tetapi masih ada kemungkinan-kemungkinan lain yang aku tidak tahu”

“Kau jangan berpikir terlampau pendek Buntal”

“Waktuku sudah habis. Aku harus segera menghadap Kiai Sarpasrana”

“Jika demikian kembalilah”

“Aku akan kembali bersama paman”

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Ia sadar bahwa murid Jati Aking ini tidak akan dapat diredakan begitu saja. Karena itu ia menjadi gelisah.

Namun dalam pada itu, selagi Ki Dipanala belum menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk menghindarkan diri dari persoalan yang akan menjadi semakin rumit dengan murid Jati Aking ini, kawannya yang belum pernah bergaul dengan Buntal, tidak dapat menahan perasaannya lagi. Selama itu ia menyerahkan persoalannya kepada Ki Dipanala. Tetapi agaknya Ki Dipanala dipengaruhi oleh hubungan yang pernah ada sebelumnya. Karena itu, maka kawan Ki Dipanala itu pun segera menyahut, “Ki Dipanala. Kau sudah terlalu sabar menghadapi anak muda yang bernama Buntal itu. Kau sudah mengatakan segalanya yang dapat kita katakan. Tetapi ia tidak percaya. Karena itu, marilah kita tinggalkan saja anak itu. Kita tidak memerlukannya dan kita tidak berurusan dengannya. Tetapi jika ia akan menghalang-halangi kita, maka kita berhak menolong diri kita sendiri”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku kenal anak itu dengan baik. Ia adalah saudara seperguruan Raden Juwiring. Tetapi agaknya ia sangat terpengaruh oleh keadaan sehingga ia tidak dapat menahan hatinya lagi”

“Sudahlah Ki Dipanala. Marilah kita kembali ke Surakarta sekarang”

“Kau menghina aku” tiba-tiba Buntal menggeram, “Aku memang belum mengenalmu sebelumnya. Aku belum pernah mempunyai urusan apapun dengan kau. Tetapi aku tidak dapat membiarkan pengkhianatan ini”

Orang itu mengerutkan keningnya. Sejenak dipandanginya Ki Dipanala dengan tajamnya. Namun Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku sependapat dengan kau. Marilah kita tinggalkan saja Buntal”

“Ki Dipanala. Aku tahu, bahwa kau adalah orang terdekat dengan Raden Juwiring. Kau adalah orang yang memiliki kemampuan yang dikagumi. Tetapi apaboleh buat. Aku harus memaksa kau datang menghadap Pangeran Mangkubumi atau orang yang dikuasakannya memeriksa persoalanmu”

Ki Dipanala dan kawannya yang sudah turun dari atas punggung kudanya itu pun segera mengikatkan kudanya pada sebatang pohon perdu. Dengan ragu-ragu Ki Dipanala pun berkata, “Buntal. Apakah kau tidak dapat mengendalikan hatimu barang sedikit agar tidak terjadi sesuatu di antara kita?”

“Persetan. Serahkan senjatamu, dan menyerahlah”

Tetapi Ki Dipanala menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tahu bahwa kau adalah anak muda yang memiliki ilmu yang luar biasa. Kau adalah saudara seperguruan Raden Juwiring. Jika Raden Juwiring kemudian mendapat tambahan ilmu dari ayahandanya, maka kau pun tentu mendapat tambahan ilmu dari Kiai Sarpasrana. Dan aku yakin, bahwa apa yang kau miliki tidak akan kalah dari Raden Juwiring” Ki Dipanala berhenti sejenak, lalu, “Buntal, tentu aku tidak akan berani melawan Raden Juwiring, bukan karena ia seorang putera Pangeran, tetapi ilmunya memang luar biasa. Karena kau memiliki kemampuan seperti Raden Juwiring, maka aku pun sebenarnya tidak akan berani melawanmu. Tetapi jika kau tetap memaksa aku untuk ikut bersamamu, maka apaboleh buat. Aku akan mempertahankan kebebasanku”

Buntal mengerutkan keningnya. Ditatapnya Ki Dipanala dengan sorot mata yang memancarkan keragu-raguan. Ia tahu benar bahwa Ki Dipanala adalah orang yang baik. Tetapi di dalam keadaan seperti itu, Buntal tidak mempunyai pilihan lain kecuali memaksanya untuk ikut bersamanya.

“Jika aku biarkan Ki Dipanala lepas, maka ia akan dapat banyak berceritera tentang diriku kepada Raden Juwiring” berkata Buntal di dalam hatinya.

Karena itu maka Buntal pun berkata, “Maaf Ki Dipanala, jika Ki Dipanala tidak mau pergi bersamaku, aku akan memaksamu”

Ki Dipanala tidak segera menjawab. Tetapi kawannyalah yang menyahut, “Tentu kami akan bertahan. Kami sudah cukup menahan hati selama ini, karena kami menyadari bahwa kami adalah orang-orang tua yang harus lebih berdada longgar daripada anak muda-muda. Namun jika kemudian menyangkut kebebasan dan keselamatan, maka terpaksa aku harus berbuat sesuatu bersama Ki Dipanala. Mungkin kami berdua tidak memiliki kemampuan mempertahankan kebebasan dan keselamatan kami setingkat dengan kemampuanmu, namun apaboleh buat. Kami tidak akan menyerahkan diri tanpa perlawanan”

Buntal menjadi tegang. Ada pertentangan di dalam dirinya justru karena ia mengenal Ki Dipanala dengan baik. Namun kemudian ia pun menggeretakkan giginya sambil berkata, “Adalah salah kalian jika kalian berdiri di jalan yang salah”

Ki Dipanala tidak menyahut lagi. Ia sadar, bahwa pembicaraan berikutnya tidak akan ada gunanya. Karena itu, maka ia pun bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Buntal pun kemudian bersiap pula. Perlahan-lahan ia mendekati Ki Dipanala sambil berkata, “Maaf paman. Mungkin aku akan menyakiti paman”

Ki Dipanala masih tetap berdiri diri. Tetapi berdua dengan kawannya ia pun segera melangkah saling menjauhi untuk memecah perhatian Buntal.

Tetapi Buntal tidak gentar, la merasa bahwa ilmunya cukup kuat untuk menghadapi dua orang yang siap melawannya itu.

Demikianlah maka di antara mereka tidak lagi dapat diketemukan cara yang baik untuk mempertemukan niat masing-masing. Dengan demikian maka jalan yang terakhir yang mereka tempuh adalah kekerasan.

Ki Dipanala, orang yang sudah kenyang makan garamnya kehidupan, sekali-sekali masih juga menarik nafas dalam-dalam. Tetapi seperti kata kawannya, jika persoalannya menyangkut harga diri, kebebasan dan keselamatan, maka terpaksa ia pun melayani gejolak darah Buntal yang masih muda.

Sejenak kemudian Buntal telah mulai menyerang. Seperti yang diduga oleh Ki Dipanala, maka geraknya mantap penuh tenaga, la adalah murid perguruan Jati Aking dan sudah barang tentu. Buntal masih mendapat beberapa unsur tata gerak dari perguruan Kiai Sarpasrana yang dapat diluluhkan dengan ilmunya yang diterima dari Jati Aking. Dengan demikian, di dalam perkelahian berikutnya. Ki Dipanala melihat, bahwa Buntal adalah anak muda yang memiliki bekal yang cukup Raden Juwiring yang meluluhkan ilmu dari perguruan Jati banyak untuk terjun di dalam gelanggang keprajuritan seperti Aking dengan ilmu yang diwarisinya dari ayahandanya, seorang Senapati yang tidak banyak tandingnya di Surakarta.

Tetapi pada saat itu Ki Dipanala tidak berdiri seorang diri. Ia berkelahi bersama seorang kawannya. Seorang yang lebih muda sedikit dari Ki Dipanala. Namun yang ternyata bukan sekedar seorang pengikut yang berlindung di balik punggung. Ketika perkelahian itu meningkat semakin seru, terasa oleh Buntal, bahwa kedua lawannya adalah lawan yang berat. Kedua orang itu tidak seringan keempat orang yang diceriterakan oleh Arum, menyelidiki dan mencari keterangan tentang Jati Sari, namun yang kemudian hilang dibawa oleh Sura selain yang terbunuh.

Kedua orang itu memiliki kemampuan bertempur berpasangan sehingga terasa oleh Buntal, bahwa ia mendapat lawan yang cukup tangguh.

Setiap kali Buntal memusatkan serangannya kepada salah seorang dari mereka, maka setiap kali yang lain dengan garangnya menyerang dari arah yang lain. Bukan sekedar serangan yang dapat mengganggu pemusatan perhatian dan serangannya sendiri, tetapi serangan itu benar-benar berbahaya baginya.

Ketika Buntal dengan sepenuh tenaganya menyerang Ki Dipanala, dan mencoba melumpuhkannya, maka kawan Ki Dipanala itu pun menyerangnya seperti air banjir menghantam tanggul. Ternyata bahwa sebelum ia berhasil menyentuh Ki Dipanala, terasa pundaknya menjadi nyeri. Kawan Ki Dipanala justru telah berhasil memukul pundaknya itu dengan ujung jari-jarinya yang merapat.

Buntal terkejut bukan buatan. Pukulan itu benar-benar pukulan yang berbahaya. Untunglah bahwa Buntal berhasil memutar tubuhnya searah dengan arah pukulan itu, sehingga pukulan itu tidak meremukkan tulang-tulangnya.

Namun selain karena perasaan sakit yang menyengat pundaknya, Buntal pun merasa heran, bahwa pukulan itu rasa-rasanya pernah dikenalnya. Pukulan dengan ujung jari yang merapat, dan pukulan justru dengan ujung ibu jari mengarah ke pangkal leher.

“O, Raden Juwiring” hampir saja Buntal berteriak, ia ingat betul. Pada saat-saat Raden Juwiring telah berada kembali di istananya, tetapi sekali-sekali masih datang ke Jati Aking dan kadang-kadang masih berlatih bersama, ia sering melihat pukulan serupa itu. Pukulan dengan ujung jari yang merapat, dan pukulan dengan ujung ibu jari.

“Siapakah orang ini” Buntal menjadi berdebar-debar. Dan dengan demikian maka perhatiannya dipusatkannya kepada orang yang belum dikenalnya itu. Seorang yang berpakaian seperti Ki Dipanala, seperti seorang abdi di rumah para bangsawan di Surakarta.

Tetapi semakin lama Buntal menjadi semakin curiga. Orang itu tentu bukan sembarang abdi. Mungkin ia seorang prajurit sandi atau petugas-tugas yang lain. Bahkan kemudian Buntal merasa seakan-akan ia pernah melihat wajah seperti itu.

Namun Buntal tidak sempat mengingat-ingat. Serangan kedua lawannya rasa-rasanya menjadi semakin berat. Bahkan kadang-kadang hampir di luar kemampuannya untuk mengelakkan diri.

Akhirnya Buntal kehilangan semua pertimbangannya. Ketika sekali lagi tangan kawan Ki Dipanala itu berhasil menyentuh lambungnya, sehingga perutnya menjadi mual, dan bahkan rasa-rasanya isi perutnya akan tertumpah keluar, maka ia sudah kehilangan pengekangan diri. la merasa bahwa kedua lawannya ternyata memiliki kemampuan yang bukan saja dapat mengimbanginya, tetapi justru terasa terlampau berat untuk dilawan.

Karena itu maka hampir tanpa sempat berpikir lagi, Buntal telah menarik senjatanya. Ia tidak lagi dapat mempertimbangkan siapakah yang dihadapinya. Dan ia tidak sempat memperhitung-kan bahwa ia berniat menangkap Ki Dipanala dan kawannya itu hidup-hidup dan membawanya menghadap Kiai Sarpasrana.

Kedua lawannya terkejut melihat Buntal kini lelah menggenggam senjata. Bahkan keduanya meloncat surut. Ki Dipanala menjadi sangat tegang. Dengan suara bergetar ia berkata, “Buntal. Jangan menjadi wuru. Kau sebaiknya tetap sadar, bahwa kita hanya sekedar bergurau. Kenapa kau tiba-tiba sudah menggenggam senjata?”

“Aku tidak bergurau. Jika kalian berdua tidak bersedia memenuhi niatku, membawa kalian menghadap Pangeran Mangkubumi atau yang dikuasakannya, maka lebih baik aku membunuh kalian di sini. Bagaimanapun juga aku sudah berbuat sesuatu bagi tanah ini. Aku sudah membantu mengurangi penjilat-penjilat yang selama ini mempersubur kekuasaan orang asing”

“Buntal” Ki Dipanala menjadi cemas, “Kau masih sangat muda. Kau belum mempunyai pertimbangan yang baik. Jika kau mau mendengar kata-kataku, pergilah kepada Ki Sarpasrana. Jika kata-katamu didengar, dan Kiai Sarpasrana memerlukan aku, kau tidak usah bertempur apalagi dengan senjata. Biarlah Kiai Sarpasrana menyuruh seorang cantriknya atau kau sendiri datang ke rumahku dan memanggilku. Aku akan datang. Tetapi tidak dalam keadaan seperti sekarang ini”

“Aku tidak peduli. Jangan mencoba menyelamatkan dirimu dengan muslihat semacam itu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Yang dihadapinya adalah seorang anak muda yang darahnya masih terlampau panas. Karena itu. maka ia menjadi agak bingung untuk meng-hindarkan diri dari bentrok senjata dengan anak muda dari Jati Aking.

Tetapi Buntal tidak memberinya kesempatan. Dengan sigapnya ia mulai mengayunkan senjata dan siap untuk meloncat menyerang.

Tidak ada pilihan lain dari Ki Dipanala dan kawannya kecuali mempertahankan diri. Karena itulah maka keduanya pun kemudian telah mencabut pedang masing-masing.

Buntal, masih ada waktu untuk menyadari segala tindakanmu sekarang ini” berkata Ki Dipanala.

“Aku sadar sepenuhnya. Aku harus menangkapmu, hidup atau mati”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti sepenuhnya, betapa darah muda di dalam tubuh Buntal yang dibakar oleh gairah perjuangannya itu sedang menggelegak. Namun dengan demikian ia menjadi semakin cemas, bahwa akan datang saatnya ia harus mempertaruhkan nyawanya melawan anak muda yang baik itu.

Namun sebelum Ki Dipanala menyahut, kawannya sudah mendahuluinya, “Apaboleh buat. Aku dan Ki Dipanala pun pernah belajar bermain senjata. Barangkali kami berdua masih sempat berusaha menyelamatkan diri”

Buntal tidak menunggu kalimat itu selesai. Tiba-tiba saja ia telah meloncat menyerang dengan garangnya. Ujung pedangnya mematuk seperti ujung paruh seekor burung garuda yang menukik dari udara, menyambar dada kawan Ki Dipanala.

Tetapi kawan Ki Dipanala itu benar-benar tangkas. Dengan sigapnya ia meloncat ke samping. Bukan saja menghindari serangan Buntal, tetapi Ia masih sempat menyerang anak muda itu. Dengan sekuat tenaganya ia memukul senjata Buntal. Buntal sama sekali tidak menduganya bahwa lawannya mampu berbuat secepat itu, sehingga karena itu, ia tidak siap menghadapinya. Ternyata pedangnya telah bergetar dan telapak tangannya bagaikan disengat oleh ujung senjata itu, sehingga senjata itu terlepas dari tangannya.

Hanya karena Buntal telah terlatih dengan baik, maka dengan gerak naluriah ia masih sempat memungut pedangnya dan meloncat menjauhi lawannya.

Ternyata lawannya tidak mengejarnya. Ki Dipanala pun tidak segera menyerangnya. Tetapi keduanya termangu-mangu untuk beberapa saat memandang Buntal yang memperbaiki kesalahan.

Namun dalam pada itu, Buntal yang merasa tangannya masih pedih mencoba menilai keadaan. Lawannya benar-benar bukan orang kebanyakan. Semula ia mengira bahwa lawannya tidak akan lebih baik dari Ki Dipanala. Namun ternyata kawan Ki Dipanala itu memiliki kemampuan yang tinggi.

Meskipun demikian semuanya sudah terlanjur dimulai. Buntal adalah seorang anak muda yang keras hati sehingga karena itu maka ia tidak berniat untuk menarik diri dari perkelahian itu.

Sejenak ia mencoba menilai keadaan. Dicobanya menggeng-gam pedangnya erat-erat meskipun tangannya masih nyeri Sambil menggeretakkan giginya Buntal pun melangkah maju. Pedang yang sudah berada di tangannya lagi itu pun diacukannya. Tetapi ia tidak berani lagi bertindak dengan tergesa-gesa agar pedangnya tidak lagi terloncat dari tangannya.

Kedua lawannya bergeser selangkah. Namun dalam pada itu, Ki Dipanala masih sempat berkata, “Buntal, apakah kau masih akan melanjutkan perkelahian yang tidak akan ada artinya apa-apa ini”

“Persetan” Buntal benar-benar telah dibelit oleh perasaannya yang meluap-luap. Karena itu, ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali bertempur, “Adalah sudah wajar, jika di dalam perkelahian, akan jatuh korban” katanya lebih lanjut, “dan kita akan bertempur terus. Jika aku tidak berhasil membawaku Dipanala dan kawanmu itu, maka biarlah mayatku terkapar di sini”

“Ah, jangan berbicara tentang sesuatu yang mengerikan Buntal. Masih banyak jalan yang dapat ditempuh”

Tetapi Buntal tidak menghiraukan. Kali ini ia meloncat menyerang Ki Dipanala.

Namun Ki Dipanala sudah siap menghadapi keadaan itu, sehingga ia masih sempat mengelak. Tetapi Ki Dipanala tidak setangkas kawannya. Buntal masih sempat berputar dan mengayunkan pedangnya mendatar. Tetapi Ki Dipanala berhasil menangkis serangan itu meskipun ia harus berloncatan surut.

Buntal tidak ingin melepaskan lawannya. Ia ingin mengurangi kekuatan lawannya. Meskipun semula tidak terlintas sama sekali niatnya untuk membunuh, apalagi ki Dipanala, namun dalam keadaan yang kalut itu, ia tidak dapat mengingat lagi untuk mengekang dirinya. Bahkan meskipun ia sudah mengerahkan tenaganya, ia masih belum dapat berbuat banyak terhadap kedua lawannya itu.

Ternyata bahwa kemampuan Buntal memang lebih tinggi dari Ki Dipanala. Namun Ki Dipanala yang memiliki pengalaman jauh lebih banyak, masih sempat mencari kesempatan untuk membebaskan diri dari serangan Buntal yang datang bagaikan banjir bandang.

Tetapi dalam pada itu, kawan Ki Dipanala tidak membiarkannya berada dalam kesulitan. Dengan tangkasnya ia meloncat mendekatinya dan menolongnya. Dengan serangan mendatar kawan Ki Dipanala itu telah memotong serangan Buntal, dan memaksanya untuk menghadapinya.

Sekali lagi Buntal kini berhadapan dengan kawan Ki Dipanala. Dengan garangnya Buntal memutar senjatanya dan menyerang dengan cepatnya.

Tetapi sekali lagi terasa, bahwa lawannya memang memiliki kelebihan. Dengan sekedar menarik sebelah kakinya dan memiringkan tubuhnya, serangan Buntal sama sekali tidak berhasil menyentuhnya.

Namun Buntal pun berpikir cepat. Dengan sekuat tenaganya ia menggerakkan pedangnya mendatar. Karena pedang itu berada terlampau dekat dengan tubuhnya, maka kawan Ki Dipanala itu sudah tidak sempat lagi mengelak. Tetapi ia masih sempat menyilangkan senjatanya menangkis serangan Buntal yang tergesa-gesa itu.

Sekali lagi terjadi benturan antara kedua senjata. Karena Buntal tidak sempat mengayunkan senjatanya dengan sepenuh tenaga, dan lawannya pun hanya sekedar menangkisnya saja maka benturan itu tidak banyak menimbulkan akibat di kedua belah pihak. Namun demikian sekali lagi Buntal merasa, senjatanya bagaikan menyentuh sebuah dinding baja yang kokoh.

Buntal sempat meloncat menjauhi lawannya. Sekali lagi ia mencoba mengamati, siapakah sebenarnya kawan Ki Dipanala itu. Namun kini orang itulah yang menyerangnya dengan cepatnya sambil menjulurkan pedangnya.
*** ***
Note 19 September 2020
"Cersil terbaru akan di upload setiap hari Selasa, Sabtu dan Minggu.| Jangan lupa makan dan tetap jaga kesehatan Gan!!!."

(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 15"

Post a Comment

close