Bunga Di Batu Karang Jilid 10

Mode Malam
“O” Mata Raden Ayu Galih Warit mulai berkunang-kunang. Kini ia sadar, bahwa yang ditembak itu tentu Rudira, anaknya. Dan setelah anaknya itu terkapar di tengah jalan berbatu-batu, maka ia masih sempat tertawa meringkik seperti iblis betina di dalam pelukan orang asing berkulit putih itu.

“O” Tidak ada sepatah katapun yang dapat diucapkannya. Tetapi yang pernah dilakukan bagaikan terbayang kembali di dalam rongga matanya. Kemaksiatan yang pernah dilakukan. Dan akhirnya anaknya sendiri mati terbunuh selagi ia sedang menikmati nafsu yang gila.

Tiba-tiba nafasnya menjadi terhenti. Sekilas ia melihat Rudira yang terbujur itu. Tetapi semakin lama semakin kabur.

Raden Ayu Galih Warit masih sempat menjerit. Terlalu keras. Sambil berlari ia memanggil nama anaknya. Kemudian dijatuhkannya dirinya di atas mayat yang sudah membeku itu.

“Rudira, Rudira” suaranya melengking tinggi, “Tidak. Tidak”

Suara Raden Ayu Galih Warit tiba-tiba terhenti. Tubuhnya menjadi lemas dan ia tidak lagi dapat berpegangan ketika tubuh itu perlahan-lahan berguling dan jatuh di lantai. Pingsan.

Pangeran Ranakusuma sama sekali tidak berbuat apa-apa. Dipandanginya saja isterinya yang tergolek di lantai di bawah pembaringannya.

Dipanala menjadi termangu-mangu. Ia tahu, bahwa beberapa orang pelayan berkumpul di pintu belakang. Tetapi mereka tidak berani masuk ke dalam.

“Pangeran” desis Dipanala, “Apakah tidak sebaiknya Raden Ayu itu dibangunkan dari pingsannya”

Pangeran Ranakusuma memandanginya sejenak, lalu, “Biarkan saja ia terbaring di situ”

“Tetapi itu berbahaya bagi Raden Ayu”

“Kenapa?”

“Jika Raden Ayu terlampau lama pingsan, maka kesehatannya akan menjadi jelek sekali”

“Aku tidak peduli”

“Tetapi, tetapi, apakah hamba diperkenankan mencobanya bersama para pelayan?”

“Apa kepentinganmu? Bukankah kau pernah akan dibunuhnya? Rudira dan Mandra lah yang mengatur segala sesuatunya. Buat apa kau sekarang akan menolongnya”

“Hamba mengerti Pangeran. Tetapi hamba tidak sampai hati melihatnya, seperti pada saat hamba melihat Mandra sudah siap membunuh Raden Rudira”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Sambil melangkah meninggalkan ruangan itu ia berdesis, “Terserah kepadamu”

Ki Dipanala menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya saja Pangeran Ranakusuma yang melangkah keluar biliknya. Meskipun tampaknya Pangeran itu tetap tenang, namun tatapan matanya yang tunduk membayangkan, betapa sakitnya dera yang menyentuh perasaannya. Ia telah kehilangan anak laki-lakinya, dan sekaligus telah kehilangan semuanya. Isterinya yang dianggapnya paling sesuai itu ternyata sama sekali tidak setia kepadanya, sedang isterinya yang lain telah meninggal lebih dahulu dan yang seorang telah dikembalikan kepada orang tuanya. Demikian juga kedua anak laki-lakinya. Yang seorang meninggal, dan yang seorang bagaikan telah dibuangnya. Anak perempuannya hampir seperti orang lain saja baginya. Meskipun kadang-kadang anak itu dengan manjanya merengek minta sesuatu, namun ia lebih dekat dengan ibunya bahkan dengan kakeknya daripada dengan dirinya sendiri.

Ki Dipanala masih berdiri sambil termenung ketika ia melihat Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu di dalam istananya yang besar. Seakan-akan tidak ada sesosok mayat yang terbujur di dalam bilik, dan tubuh yang terbaring pingsan di lantai di sisi mayat itu. Seakan-akan tidak pernah terjadi pengkhianatan dari abdi yang dianggapnya setia oleh anaknya itu, dan yang kemudian juga terbujur mati di ruang belakang.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Namun tiba-tiba saja ia sadar bahwa Raden Ayu Galih Warit memerlukan pertolongan. Jika ia sama sekali tidak mendapat perawatan, maka akan ada tiga sosok mayat di dalam rumah ini.

Karena itu, maka Ki Dipanala mencoba melupakan Pangeran Ranakusuma yang duduk mematung di pendapa. Dengan tergesa-gesa ia pun kemudian pergi ke belakang.

Di depan pintu Ki Dipanala hampir tidak dapat melangkah keluar karena para pelayan yang berdiri berjejal-jejal.

“Apa yang terjadi?” seseorang bertanya.

“Ambillah minyak kelapa dan berambang. Raden Ayu Galih Warit sedang pingsan.

Tidak ada yang sempat bertanya lagi. Ki Dipanala segera kembali masuk ke dalam bilik. Dipapahnya Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu ke bilik Raden Rudira, dan dibaringkannya di pembaringan puteranya yang sudah dibersihkan.

Sejenak Ki Dipanala memandang wajah yang pucat itu. Wajah yang memang sangat cantik. Meskipun Raden Ayu Galih Warit sudah mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang perempuan yang menginjak dewasa, namun ia masih tetap seorang perempuan yang cantik dengan tubuh yang mempesona.

“Sayang” desis Ki Dipanala di dalam hatinya, “kecantikannya hanyalah sekedar kulit. Sama sekali tidak meresap sampai ke dalam hati dan jantungnya”

Sejenak kemudian, maka seseorang yang membawa minyak kelapa memasuki bilik itu setelah ia mencarinya di bilik Raden Ayu Galih Warit, tetapi tidak menemukannya di sana.

“Bawa kemari”

Pelayan itu pun mendekat. Namun ia berbisik, “Apa yang terjadi dengan Raden Rudira itu? Apakah tabib yang pandai itu tidak berhasil?”

Ki Dipanala memandanginya sejenak, lalu katanya tanpa menjawab pertanyaan itu, “Bantu aku”

Orang itu tidak menjawab. Dibantunya Ki Dipanala mengusap kaki dan telinga Raden Ayu Galih Warit dengan minyak kelapa dan berambang merah.

Namun Raden Ayu Galih Warit masih tetap diam. Karena itu maka berkata Ki Dipanala, “Panggil seorang emban. Cepat”

Pelayan itu pun dengan tergesa-gesa pergi ke belakang. Ia sudah melupakan, bahwa ia pun telah ikut membenci Dipanala selama ini.

Sejenak kemudian seorang emban yang sudah agak lanjut umurnya datang tergopoh-gopoh ke dalam bilik itu, sementara pelayan yang memanggilnya mengikutinya dari belakang.

“Tunggulah di luar” berkata Ki Dipanala kepada pelayan itu kemudian.

Pelayan itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian pergi ke belakang.

Dengan demikian berita kematian Raden Rudira segera tersebar. Beberapa macam tanggapan telah dilontarkan oleh para pelayan dan para pengawal. Sebagian dari mereka telah menganggap, bahwa Ki Dipanala telah membunuh dua orang sekaligus.

“Tetapi kenapa Pangeran Ranakusuma seakan-akan tidak mengacuhkannya sama sekali?” bertanya seseorang.

“Kebingungan yang memuncak itu telah membuatnya seperti orang yang terganggu ingatannya”

“Tetapi kemarahannya tentu akan membakar jantungnya dan Dipanala akan dicincangnya. Bukankah Pangeran Ranakusuma seorang Senapati yang dibanggakan di Surakarta”

Yang lain mengerutkan keningnya. Seseorang berkata, “Kita memang tidak tahu apa-apa. Baiklah kita menunggu penjelasan yang dapat kita percaya”

Dalam pada itu, setelah pintu bilik ditutup rapat-rapat, maka Ki Dipanala dibantu oleh emban itu pun segera berusaha untuk menyadarkan Raden Ayu Galih Warit. Ikat pinggang yang terlalu keras itu pun telah dikendorkan, dan hampir seluruh tubuhnya telah diusap dengan minyak kelapa dan berambang merah. Tetapi Raden Ayu Galih Warit tidak segera sadarkan diri.

Semakin lama Ki Dipanala menjadi semakin gelisah. Karena itu maka apa saja yang dapat dilakukan, telah dilakukannya. Digerak-gerakkannya tangan Raden Ayu Galih Warit. Kemudian kakinya, kepalanya dan dengan cemas diguncang-guncangnya tubuh yang masih tetap diam itu.

Tetapi Raden Ayu Galih Warit tidak bergerak sama sekali.

Ki Dipanala dan emban yang membantunya itu semakin lama menjadi semakin cemas. Karena itu, maka Ki Dipanala pun kemudian berkata dengan gugup, “Aku akan menghadap Pangeran Ranakusuma. Aku akan memohon agar Pangeran sekali lagi memanggil tabib itu. Kali ini bagi Raden Ayu Galih Warit”

Emban itu hanya dapat mengangguk-angguk saja tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Ki Dipanala pun kemudian menghadap Pangeran Ranakusuma dengan ragu-ragu. Dengan ragu-ragu pula ia pun kemudian berkata, “Ampun Pangeran. Hamba tidak berhasil membangun-kan Raden Ayu”

Pangeran Ranakusuma masih saja memandang kekejauhan. Kekegelapan yang bagaikan memisahkan dunianya dengan dunia di balik tabir yang hitam itu.

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berani bertanya lagi. Ia tahu benar, betapa sakit dan pedihnya hati Pangeran Ranakusuma yang selama ini mendambakan kekuasaan yang berlebihan di Surakarta. Ia adalah salah seorang Pangeran yang merasa dirinya memiliki kemampuan yang tidak ada tandingnya diantara para Pangeran yang lain. Bahkan Pangeran Mangkubumi pun sebenarnya secara pribadi tidak menggetarkan selembar bulunya.

Namun karena di hati kecilnya Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa sebenarnya sikap Pangeran Mangkubumi yang kadang-kadang aneh itu didorong oleh perasaan kecewa yang mendalam, maka kadang-kadang Pangeran Ranakusuma merasa dirinya lebih kecil. Ia sama sekali tidak berani mempergunakan kelebihannya untuk berdiri di atas sikap yang teguh seperti Pangeran Mangkubumi. Bukan sekedar tidak berani, tetapi juga karena didorong oleh nafsu duniawi yang berlebih-lebihan.

Namun akhirnya yang didapatinya adalah kekosongan. Kekosongan dan kesepian. Semuanya seakan-akan pergi menjauh daripadanya. Hilang tanpa dapat diketemukannya lagi.

Dalam kepahitan yang hampir tidak tertelan ia baru menyadari, bahwa ia telah memberikan korban terlalu banyak bagi ketamakannya. Ternyata bahwa anak laki-lakinya telah lepas dari kendali dan sukar untuk ditarik kembali. Akhirnya, ia adalah korban sifat-sifat yang memuakkan dari orang tuanya. Orang tua yang hampir tidak menghiraukan tentang anak-anaknya. Disangkanya bahwa menyuapi mulut anaknya sebanyak-banyaknya dengan kemewahan, uang dan kekuasaan akan dapat membentuk anak itu menjadi seorang yang baik. Ternyata bahwa yang terjadi adalah sebaliknya. Korban yang sia-sia.

Ki Dipanala masih duduk dengan gelisah. Ia melihat seakan-akan wajah Pangeran Ranakusuma itu memuat ceritera tentang dirinya sendiri sepenuhnya.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Terbayang kembali hubungannya yang gelap dengan adik kandung Galih Warit. Dan itu pun merupakan getar yang berpengaruh di dalam jiwa anak laki-lakinya meskipun secara wadag ia tidak melihatnya.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ketika terlihat olehnya Ki Dipanala duduk tepekur, maka ia pun bertanya dengan nada yang datar, “Kau mau apa?”

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Namun dipaksakannya juga mulutnya berkata, “Pangeran, agaknya Raden Ayu tidak segera dapat sadar”

“Aku tidak peduli” jawab Pangeran Ranakusuma acuh tidak acuh.

“Maksud hamba, apakah tidak sebaiknya tuan mengutus seorang untuk sekali lagi memanggil tabib itu?”

“Tidak ada gunanya”

“Mungkin ada Pangeran”

“Ia sudah gagal mengobati Rudira. Tentu ia akan gagal lagi jika ia mengobati siapapun juga hari ini”

“Tetapi Raden Ayu tidak perlu diobati”

“Jadi kenapa harus memanggil tabib itu?”

“Ia perlu dibangunkan. Tidak diobati Pangeran”

Sekali lagi Pangeran Ranakusuma terdiam. Dan sekali lagi ia menatap kekejauhan, ke dalam gelapnya malam. Satu-satu dilihatnya bintang yang bergayutan di langit yang hitam di atas atap rumah di hadapan istananya.

Sejenak kemudian maka katanya, “Aku tidak peduli Dipanala. Apa saja yang akan kau kerjakan dengan Galih Warit. Aku tidak memerlukannya lagi. Jika kau mau, ambillah dan bawa ia pulang”

“Ampun Pangeran, tentu hamba tidak akan berani berbuat demikian, karena derajat hamba. Namun hamba memang tidak sampai hati membiarkannya dalam keadaan yang demikian”

“Terserah kepadamu. Aku sudah berkata, terserah kepadamu”

Ki Dipanala tidak segera berani menangkap kata-kata itu secara pasti. Karena itu, maka ia pun masih saja tetapi duduk di tempatnya, sehingga Pangeran Ranakusuma menjawab, “He, kenapa kau masih tetap duduk saja? Pergilah, dan berbuat sekehendak hatimu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk data m-dalam ia pun bergeser surut.

Ketika ia sampai di bilik Raden Rudira, maka Raden Ayu itu pun sudah menjadi terlalu pucat. Wajahnya bagaikan sudah tidak berdarah sama sekali.

“Emban” berkata Ki Dipanala kemudian, “Aku mohon agar Pangeran Ranakusuma memanggil seorang tabib yang pandai. Tetapi semuanya terserah saja kepadaku. Pangeran menjadi acuh tidak acuh”

“Aneh. Raden Ayu Galih Warit dalam keadaan ini, Pangeran Ranakusuma masih tetap berdiam diri saja. Apakah ia sama sekali tidak mengerti keadaan Raden Ayu, atau barangkali sedang marah atau ada persoalan-persoalan lain?”

Ki Dipanala hanya mengerutkan dahinya. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengatakan keadaan Pangeran itu, tetapi ia masih berusaha untuk melindungi nama baik Raden Ayu Galih” Warit di hadapan para pelayan di Ranakusuman.

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan?” bertanya emban itu.

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Tetapi ketika terpandang olehnya wajah yang pucat itu ia berkata, “Baiklah kita memanggil tabib itu”

“Tetapi apakah Pangeran Ranakusuma memperkenankan?”

“Itu terserah kepadaku”

“Itulah kata-katanya. Tetapi apakah demikian juga yang dipikirkannya dan sikapnya yang sebenarnya?”

Ki Dipanala menjadi ragu-ragu pula.

“Tetapi apakah kita akan membiarkan Raden Ayu Galih Warit itu di dalam keadaannya?”

Emban itu tidak menjawab. Perlahan-lahan ia mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Dan tiba-tiba saja ia berdesis, “Ki Dipanala, lihatlah. Raden Ayu mulai bergerak”

Dipanala segera meloncat mendekatinya. Seperti yang dikatakan emban itu, maka ia melihat gerak yang lemah pada Raden Ayu Galih Warit. Terdengar tarikan nafas yang lamban. Namun kemudian diam lagi.

“Emban, panggillah seseorang, Biarlah ia menjemput tabib itu sekali lagi. Suruhlah ia mengatakan bahwa kali ini ia harus menyadarkan Raden Ayu yang pingsan”

Emban itu pun kemudian meninggalkan bilik itu dan menyuruh seorang pelayan memanggil tabib itu sekali lagi.

Sejenak kemudian seekor kuda berderap meninggalkan halaman istana Pangeran Ranakusuma. Sedang Pangeran Ranakusuma sendiri yang melihat kuda itu berlari keluar regol dari pendapa, sama sekali tidak berbuat apa-apa. Ia masih saja duduk sambil merenungi diri sendiri, keluarganya dan kemudian justru Surakarta.

“Kumpeni itu sudah membunuh anakku” katanya di dalam hati, “Apapula yang akan aku dapatkan dari mereka, ternyata harganya terlampau mahal. Aku harus mengorbankan Rudira dan bahkan aku harus menjual isteriku pula kepada mereka. Gila. Gila”

Pangeran Ranakusuma menggeretakkan giginya. Namun kemudian tubuhnya bagaikan terkulai lemah. Semuanya sudah terjadi. Bukan kesalahan orang lain, tetapi ia adalah orang yang justru paling bersalah. Juga atas kematian Rudira.

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam.

Dalam pada itu, Ki Dipanala benar-benar mulai berpeng-harapan. Emban yang sudah ada kembali di dalam bilik itu pun mulai berpengharapan pula. Sekali-sekali mereka melihat Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak meskipun sedikit sekali. Pernafasannya mulai teratur dan kadang-kadang sudah terdengar ia berdesah perlahan-lahan.

Ki Dipanala dan emban itu pun dengan gelisah menunggu tabib yang telah diundang. Seakan-akan mereka menunggu terlampau lama. Jika Raden Ayu Galih Warit mulai bergerak, keduanya berlutut di samping pembaringannya sambil meraba-raba tubuh yang terbaring itu, seakan-akan mendorongnya untuk segera bangun dan berbicara apa saja. Namun Raden Ayu Galih Warit belum sadarkan dirinya.

Sejenak kemudian mereka mendengar kuda berderap memasuki regol. Namun ketika mereka melihat Pangeran Ranakusuma duduk di pendapa, maka penunggangnya pun segera berloncatan turun sambil menghentikan kuda mereka.

Setelah mengikat kudanya di halaman sebelah, maka tabib itu pun telah dibawa masuk oleh seorang pelayan langsung ke dalam bilik.

“Bagaimana dengan Raden Ayu?” bertanya pelayan itu. Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam, lalu, “Sebagaimana kau lihat. Ia pingsan ketika ia melihat mayat puteranya”

Tabib itu menarik keningnya. Sambil berpaling ke pintu ia berkata, “Pangeran ada di pendapa”

“Ya. Pangeran memang ada di pendapa”

“Kenapa Pangeran tidak menunggui Raden Ayu”

Ki Dipanala tidak segera dapat menjawab. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Mungkin Pangeran benar-benar telah dibingungkan oleh kematian puteranya, sehingga ia tidak dapat lagi berpikir bening”

Tabib itu mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia mendekati Raden Ayu Galih Warit yang pingsan. Dirabanya tubuh yang masih diam itu sambil berkata, “Apakah Raden Ayu sudah cukup lama pingsan?”

Tabib itu mengangguk-angguk. Perlahan-lahan ia mendekati Raden Ayu Galih Warit yang pingsan. Dirabanya tubuh yang masih diam itu sambil berkata, “Apakah Raden Ayu sudah cukup lama pingsan?

“Ya. Sudah cukup lama”

Tabib itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Berilah aku air hangat”

Emban itu pun kemudian pergi ke belakang untuk mengambil air hangat. Dalam kesempatan itulah maka Ki Dipanala berkata, “Raden Ayu telah mengecewakan Pangeran Ranakusuma, justru pada saat puteranya meninggal”

“Kenapa?”

“Besok aku akan memberitahukan kepadamu”

Tabib itu mengangguk-angguk pula. Tetapi ia tidak bertanya lebih banyak lagi. Dan ketika emban yang membawa air hangat itu datang, maka ia pun segera mencoba membangunkan Raden Ayu Galih Warit yang pingsan itu.

Dalam pada itu Ki Dipanala pun berkata kepada emban yang masih ada di dalam bilik itu, “Sudahlah, beristirahatlah. Biarlah aku menunggui tabib ini, dan membantunya apabila diperlukan. Kau tentu lelah dan barangkali kantuk”

“Ah” desah emban itu.

“Tinggalkan saja kami. Jika perlu aku akan memanggilmu” Emban itu termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian meninggalkan bilik itu meskipun dengan ragu-ragu.

Sepeninggal emban itu, maka tabib itu pun mulai menyeka kaki dan tangan Raden Ayu Galih Warit dengan air hangat yang sudah dibubuhi dengan berbagai macam obat-obatan yang dapat menghangatkan urat-urat darahnya. Dengan selembar kain yang dibasahi dengan air hangat itu sedikit, diusapnya bagian-bagian tubuhnya sehingga hampir merata.

Sejenak kemudian Raden Ayu Galih Warit yang sudah mulai bergerak itu pun berdesah. Semakin lama semakin sering. Dan bahkan kemudian terdengar ia merintih.

“Raden Ayu” Ki Dipanala memanggilnya.

Tetapi agaknya suara Ki Dipanala itu masih belum didengarnya.

Tabib itu pun kemudian menggerakkan tangan Raden Ayu itu perlahan-lahan beberapa kali. Dan nafas Raden Ayu itu pun menjadi semakin teratur.

Ki Dipanala bergeser maju ketika ia melihat Raden Ayu Galih Warit itu membuka matanya sejenak. Hanya sejenak. Dan mata itu pun terpejam kembali.

“Raden Ayu” sekali lagi Ki Dipanala memanggil

Namun Ki Dipanala terkejut ketika ia melihat mulut Raden Ayu Galih Warit itu bergerak-gerak sejenak. Dan sebelum Ki Dipanala dan tabib yang merawatnya mengerti apa yang dikatakan, tiba-tiba saja Raden Ayu Galih Warit menjerit keras sekali. Keras dan panjang.

“Raden Ayu” desis Ki Dipanala.

Tetapi suaranya tidak didengar. Raden Ayu itu masih menjerit keras. Kepalanya digeleng-gelengkannya semakin lama semakin cepat, sedang kedua belah matanya tetap terbuka.

“Raden Ayu, Raden Ayu” Ki Dipanala menjadi cemas. Apalagi ketika dilihatnya dahi tabib yang masih muda itu berkerut-merut”

“Bagaimana Ki Sanak” bertanya Ki Dipanala.

Tabib itu tidak segera menjawab. Dirabanya dahi Raden Ayu Galih Warit. Tetapi dahi itu sama sekali tidak menjadi hangat.

“Raden Ayu” tabib itu pun memanggilnya.

Tetapi Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak menghiraukannya.

Tabib yang biasanya selalu tenang itu menjadi tampak agak cemas. Keringat dingin mengembun dikeningnya. Sekali-sekali diusapnya keringat itu dengan tangannya.

Tetapi Raden Ayu masih berteriak-teriak keras sekali. Disela-sela suaranya yang melengking, kadang-kadang terdengar ia memanggil nama puteranya.

“Rudira, Rudira”

Ki Dipanala menjadi tegang. Tanpa disadarinya ia menjenguk Pangeran Ranakusuma yang duduk di pendapa. Tetapi ternyata Pangeran itu masih duduk di tempatnya.

Ki Dipanala menjadi heran. Begitu besar kekecewaan yang mencengkam hatinya. sehingga seakan-akan teriakan Raden Ayu itu sama sekali tidak didengarnya.

Sebenarnyalah bahwa Pangeran Ranakusuma tidak mempedulikan suara itu. Kematian anak laki-lakinya. ketidak-setiaan isterinya, justru yang menyebabkan kematian Raden Rudira itu, bagaikan titik-titik embun yang tersimpan sewindu, yang menyiram dan telah membekukan hati dan jantungnya. Ada juga sentuhan suara isterinya yang menyayat itu. Bahkan ia sudah bergerak untuk berdiri. Namun kemudian Pangeran Ranakusuma itu duduk kembali di tempatnya. Hatinya telah benar-benar membeku seperti tubuh anak laki-lakinya yang sudah meninggal itu.

Dari dalam bilik masih terdengar jerit yang melengking-lengking. Ki Dipanala masih berdiri termangu-mangu. Tetapi Dipanala itu tidak berani mengatakan sesuatu. Tentu Pangeran Ranakusuma sudah mendengar. Jika ia ingin bangkit dan mendekati isterinya tentu sudah dilakukannya.

“Bukan main” desis Ki Dipanala kepada diri sendiri, “kekecewaan yang tiada taranya lelah membuatnya sama sekali tidak menghiraukan apa yang terjadi. Demikian parah kepedihan seorang suami yang sama sekali tidak menyangka bahwa ketidak setiaan itu sudah terjadi, dan sekaligus menyebabkan kematian anak laki-lakinya”

Dengan hati yang terpecah. Ki Dipanala kembali ke dalam bilik. Ia melihat beberapa orang pelayan berdiri di muka pintu butulan. Merekapun menjadi heran, bahwa Pangeran Rana-kusuma masih tetap duduk diam di pendapa.

“Rudira, Rudira” teriak Raden Ayu Galih Warit, “Maafkan aku. Aku tidak sengaja membunuhmu. Bukan salahku saja. Bukan salahku”

Tabib itu menjadi tegang. Dipandanginya Ki Dipanala sejenak, lalu, “Apakah yang sudah terjadi Ki Dipanala?”

Ki Dipanala tidak menjawabnya. Sementara itu Raden Ayu itu masih saja berteriak, “O, bukan maksudku. Kumpeni itu bermaksud baik. Aku menyerahkan diriku karena aku mendapat imbalan yang tidak terkira. Aku bermaksud memberikan kepadamu Rudira. Kepadamu dan kepada Warih. Tetapi tidak untuk membunuhmu. Aku ingin mempengaruhi mereka untuk kepentingan ayahandamu. Ayahandamu harus menjadi Senopati Agung di Surakarta. Ayahandamu harus mendapat imbalan tanah yang jauh lebih banyak dari Tanah Sukawati. Tanah Sukawati itu memang harus diminta kembali dari Pangeran Mangkubumi, kemudian diserahkan kepada ayahandamu dan masih harus ditambah dengan daerah sekitarnya. Juga Jati Sari seisinya harus diserahkan, termasuk gadis itu Rudira, Arum dan juga kematian Juwiring”

“O” tabib itu berdiri gemetar. Dan Ki Dipanala pun bagaikan tidak dapat berpikir lagi mendengar isi hati Raden Ayu Galih Warit yang tidak sempat dikekangnya, karena ia masih belum sadar sepenuhnya.

Untunglah bahwa bilik itu tertutup rapat, sehingga para pelayan yang berdiri di pintu butulan di belakang tidak begitu jelas mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Raden Ayu Galih Warit itu. Mereka hanya mendengar lamat-lamat, Raden Ayu Galih Warit berteriak-teriak. Tetapi mereka sama sekali tidak mengerti maksudnya.

Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma yang sama sekali tidak berniat untuk menengok isterinya, mendengar juga serba sedikit teriakan Raden Ayu itu, sehingga hatinya tergelar karenanya. Bagaimanapun juga ia bertahan untuk tetap duduk Di tempatnya, namun ia pun kemudian bangkit dan bergegas masuk ke dalam bilik itu sambil membentak, “Suruh orang itu diam. Suruh orang itu diam”

Ki Dipanala dan tabib itu menjadi termangu-mangu. Sementara itu Raden Ayu Galih Warit masih berteriak, “Aku sama sekali tidak ingin berkhianat. Apa yang aku lakukan adalah suatu perjuangan. Aku telah berkorban dengan segala yang ada padaku untuk kepentingan keluargaku”

“Diam, diam” Pangeran Ranakusuma pun berteriak pula.

Tetapi Raden Ayu Galih Warit yang tidak sadar atas apa yang terjadi itu masih saja berteriak.

Betapa gelapnya hati Pangeran Ranakusuma. Pengakuan yang langsung dapat didengarnya itu bagaikan pisau yang mengiris jantungnya. Itulah sebabnya maka ia tidak dapat mendengar suara itu lebih lama lagi. Dengan garangnya ia meloncat dengan jari-jari berkembang menerkam leher Raden Ayu Galih Warit.

“Pangeran, Pangeran” hampir berbareng Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu meloncat pula. Sambil memegangi lengan Pangeran itu Ki Dipanala berkata, “Pangeran, hamba mengharap Pangeran mengerti. Raden Ayu sedang dalam keadaan tidak sadar”

“Justru karena itulah maka ia mengatakan yang sebenarnya, ia berkata apa yang pernah ia lakukan, dan apa yang pernah dilakukan itu sangat menyakitkan hati. Aku akan membunuhnya. Aku harus membunuhnya”

“Pangeran” berkata tabib itu, “terserahlah kepada Pangeran. Tetapi biarlah Raden Ayu sadar lebih dahulu dari pingsannya. Itu adalah kuwajiban hamba sebagai seorang tabib. Setelah Raden Ayu menyadari keadaannya maka semuanya adalah hak Pangeran untuk berbuat apapun dengan segala tanggung jawab Pangeran sendiri”

Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu sejenak. Lalu, “Tetapi memalukan sekali. Aku tidak mau mendengar ia mengigau seperti itu”

“Pangeran” berkata tabib ini biarlah hamba mencoba untuk menenangkan Raden Ayu Galih Warit.

Pangeran Ranakusuma mengerutkan keningnya. Tetapi hatinya bagaikan menyala ketika ia masih mendengar isterinya mengigau. Katanya, “Mudah-mudahan aku berhasil. Jika kumpeni dapat membantuku, maka kangmas Ranakusuma akan menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta dan akan mendapat tanah kalenggahan yang mencukupi untuk tujuh turunan. Untuk anak cucuku, untuk anak cucu Rudira dan Warih”

“Diam, diam. Aku tidak mau mendapatkan kedudukan yang harus dibeli dengan noda pada kesetiaan seorang isteri. Aku membiarkan kau bergaul dengan mereka, tetapi tidak untuk mengotori keluarga ini”

Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak mendengar, sehingga karena itu ia masih saja berkata, “Dan usaha itu tampaknya akan segera berhasil dalam waktu singkat”

“Tidak, tidak” Pangeran Ranakusuma pun berteriak. Tetapi Raden Ayu Galih Warit sama sekali tidak mendengarnya.

Namun dalam pada itu, justru telinga hati Pangeran Ranakusuma lah yang telah mendengar suaranya sendiri. Sebenarnyalah bahwa ia memang telah memberikan waktu dan kesempatan terlalu banyak kepada isterinya. Dan sudah barang tentu dengan pamrih seperti yang dikatakan oleh Raden Ayu Galih Warit itu. Pangeran Ranakusuma memang tidak dapat ingkar kepada diri sendiri, bahwa sebenarnyalah ia telah bermain api. Ia ingin membiarkan isterinya berdiri di atas pagar ayu, tetapi tidak melampauinya. Namun batas yang tidak berjarak itu ternyata tidak dapat dipertahankannya, sehingga akhirnya Raden Ayu Galih Warit itu telah terjerumus ke dalam tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

“O” Pangeran Ranakusuma melangkah surut. Tangannya yang sudah siap mencekik leher isterinya, ditariknya kembali. Dengan kepala tunduk ia melangkah menjauh. Dengan hati yang pedih dilihatnya isi hatinya sendiri. Pamrih yang terlampau besar, seperti yang disebut-sebut isterinya itu. Ia memang ingin menjadi seorang Senapati Besar dengan tanah kalenggahan seluas tujuh kali tanah kalenggahan seorang Pangeran biasa.

Karena itulah maka ia tidak berbuat apa-apa lagi. Sekali-sekali Raden Ayu Galih Warit masih juga mengigau, meskipun tidak sekeras sebelumnya.

Tabib itu berusaha untuk menitikkan obat yang dapat menenangkannya meskipun hanya sedikit Tetapi obat itu bukan untuk menghentikan sama sekali, karena tabib itu tidak berani menanggung akibat, bahwa Raden Ayu Galih Warit akan terdiam untuk selama-lamanya.

Meskipun suara Raden Ayu Galih Warit menurun, tetapi ia tidak juga berhenti mengigau. Ia masih saja berbicara tentang dirinya, tentang anak-anaknya dan tentang cita-citanya.

Pangeran Ranakusuma yang tidak mau lagi mendengar igauannya itu pun kemudian meninggalkan bilik itu dan kembali duduk di pendapa. Bagaimana ia berusaha untuk mengusir angan-angannya, namun ternyata bahwa setiap kali ia pun dihadapkan kepada sikapnya yang tamak. Sehingga karena itulah, maka yang terjadi sekarang bagaikan telah meremukkan jantung dan hatinya.

Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu masih menunggui Raden Ayu Galih Warit. Setiap kali mereka harus menahan nafasnya jika Raden Ayu itu kadang-kadang menyebutkan rahasia dirinya yang paling dalam. Bahkan di dalam keadaannya yang semakin lemah karena obat yang dititikkan di mulutnya, ia masih dapat menyebut beberapa nama orang asing dengan kata-kata yang tidak jelas.

“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi” desis tabib itu perlahan-lahan.

Terasa bulu kuduk Ki Dipanala pun meremang. Ia tidak pernah menduga, bahwa ia akan mendengar pengakuan yang mengerikan. Apalagi dari mulut seorang perempuan bangsawan.

“Apakah kau tidak dapat berusaha agar Raden Ayu itu terdiam?” desak Ki Dipanala.

“Aku tidak berani melakukannya. Aku tidak berani menanggung akibatnya jika ia akan terdiam untuk seterusnya. Dan hal itu akan mungkin terjadi, jika aku menitikkan agak terlalu banyak”

“Kau dapat memperhitungkannya. Kau sudah cukup ahli”

“Tetapi tidak ada jaminan yang pasti tentang kekuatan jasmaniah seseorang. Dan aku memang tidak biasa memberikan lebih dari yang sudah aku berikan”

Ki Dipanala hanya menahan nafasnya saja. Namun kegelisahan yang sangat telah mencengkam jiwanya.

Namun tiba-tiba Ki Dipanala itu terkejut. Dilihatnya Raden Ayu Galih Warit yang lemah itu tiba-tiba saja berhenti. Kemudian matanya terbelalak sejenak, hanya sejenak, karena ia pun kemudian memejamkan matanya.

“Bagaimana?” bertanya Ki Dipanala.

Tabib itu meraba tubuh Raden Ayu Galih Warit. Dipijit-pijitnya bagian belakang telinganya. Kemudian diusapnya dengan sejenis obat yang cair seperti minyak kelapa.

“Mudah-mudahan ia akan segera sadar” berkata tabib itu.

“Apakah itu gejalanya”

“Memang ada kelainan. Tetapi mudah-mudahan”

Sejenak Raden Ayu Galih Warit memejamkan matanya. Nafasnya dengan teratur lewat lubang hidungnya yang mancung.

Tabib itu menjadi berdebar-debar. Dicobanya untuk mengusap kening Raden Ayu Galih Warit. Kemudian bagian belakang telinganya dan pundaknya.

Perlahan-lahan Raden Ayu Galih Warit membuka matanya. Ki Dipanala dan tabib yang menungguinya menahan nafas dengan tegangnya. Sepercik harapan telah tumbuh di dalam hati mereka.

Ki Dipanala bergeser mendekat ketika ia melihat Raden Ayu Galih Warit itu kemudian bergerak. Diangkatnya kepalanya sedikit. Namun karena badannya yang masih sangat lemah, maka kepala Raden Ayu itu pun terkulai kembali di pembaringan.

Ki Dipanala memandang tabib itu sejenak sambil mengangguk sedang tabib itu pun mengangguk pula.

Namun keduanya mengerutkan keningnya ketika mereka melihat Raden Ayu Galih Warit itu tersenyum.

“Kenapa ia justru tersenyum” bertanya Ki Dipanala di dalam hatinya.

Dan keduanya terkejut ketika Raden Ayu itu justru tertawa perlahan-lahan.

“Raden Ayu” Panggil Ki Dipanala dengan cemas.

Raden Ayu Galih Warit berpaling memandanginya. Ternyata bahwa ia sudah mendengar suara itu. Namun yang mencemaskan justru ketika Raden Ayu itu tertawa sambil bertanya, “He, siapa kau?”

“Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi”

Raden Ayu Galih Warit mengerutkan keningnya. Kemudian perlahan-lahan ia bangkit. Ternyata tubuhnya masih terlampau lemah, meskipun ia pun kemudian berhasil duduk di pembaringan.

“O” katanya kemudian, “Kenapa kau ada di sini?”

“Raden Ayu baru saja pingsan” jawab Ki Dipanala.

Raden Ayu itu mengerutkan keningnya. Lalu sambil tertawa ia berkata, “He, kau mengigau. Dimanakah Kapitan Dungkur?”

“Siapa Raden Ayu?”

“Kapitan Dungkur. He, apakah ia sudah pergi?”

Ki Dipanala tertegun sejenak. Dipandanginya tabib yang sedang termangu-mangu, sementara Raden Ayu Galih Warit itu pun kemudian berdiri tertatih-tatih.

“Uh, Dungkur memang rakus. Ia begitu saja pergi dengan diam-diam” Raden Ayu itu pun kemudian tertawa, “Tetapi ia mempunyai barang-barang yang aneh. Dan ia mempunyai pengaruh yang besar di kalangan istana”

Ki Dipanala hanya dapat berpaling ketika kemudian Raden Ayu Galih Warit itu berdiri sambil dengan tangannya membenahi pakaiannya yang memang dikendorkan ketika ia pingsan.

“Dungkur yang rakus itu tidak mau menunggu aku berpakaian dengan rapi. Gila” Lalu tiba-tiba dipandanginya tabib itu, “He siapa kau?”

“Ampun Raden Ayu. Hamba berusaha mengobati Raden Ayu”

“Mengobati? Aku kenapa? O, bodoh sekali kau” Raden Ayu itu tertawa, “Apa yang kau obati padaku? Jika aku sakit kumpeni mempunyai obat yang tidak kau punyai. He, siapa kau?”

Ki Dipanala menjadi semakin cemas. Apalagi ketika ia kemudian mendengar Raden Ayu itu tertawa terbahak-bahak. Tanpa menghiraukan kedua orang yang ada di dalam biliknya Raden Ayu Galih Warit memperbaiki letak pakaiannya sambil tersenyum-senyum.

Ternyata senyum Raden Ayu itu telah menggetarkan hati Ki Dipanala dan tabib yang masih muda itu. Mereka menjadi cemas bahwa kejutan perasaan itu telah membuatnya berubah.

Dengan ragu-ragu Ki Dipanala masih mencoba memanggil, “Raden Ayu, apakah Raden Ayu tidak mengenal hamba lagi?”

“He?” Raden Ayu berpaling, “Dengan tajamnya ia memandang Ki Dipanala. Lalu katanya, “Kau tentu bukan Kapitan Dungkur. Kenapa kau di sini he? Apakah kau juga kumpeni? Tentu bukan. Kulitmu seperti kulit sawo”

Terasa kulit Dipanala yang dikatakan seperti kulit sawo itu meremang ketika Raden Ayu Galih Warit merabanya. Sambil tertawa Raden Ayu itu berkata, “Tentu bukan. Dungkur kulitnya putih kemerah-merahan seperti kulit babi. Tetapi tidak sekasar kulit Panderpol” Raden Ayu itu tertawa, lalu, “meskipun kulitmu tidak putih, tetapi ternyata lebih halus dari kulit orang-orang asing itu”

“Raden Ayu” suara Ki Dipanala bagaikan orang mengeluh, “hamba adalah seorang abdi kapangeranan. Apakah Raden Ayu belum menyadari apa yang terjadi”

Raden Ayu itu tertawa. Kemudian ia pun melangkah kembali ke pembaringan. Tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di dalam bilik itu ia berbaring sambil berdendang perlahan-lahan.

“O Tuhan” desis Ki Dipanala. Ia menjadi semakin cemas melihat keadaan Raden Ayu Galih Warit itu.

Ternyata tabib yang menunggui Raden Ayu Galih Warit itu pun menjadi berdebar-debar pula. Bahkan kemudian ia berbisik kepada Ki Dipanala, “Sesuatu lelah terjadi pada diri Raden Ayu Galih Warit itu. Goncangan perasaan yang tidak tertanggungkan agaknya telah mengganggu keseimbangan jiwanya.

“Jadi bagaimanakah keadaannya itu?”

Tabib itu menarik nafas dalam-dalam sambil mengangkat pundaknya.

“Apakah Raden Ayu telah terganggu syarafnya?”

Tabib itu ragu-ragu sejenak. Namun katanya kemudian, “Agaknya memang demikian Ki Dipanala. Apakah Ki Dipanala dapat menyampaikannya kepada Pangeran Ranakusuma?”

Ki Dipanala tidak segera menjawab. Sejenak ia termangu-mangu.

“Lambat atau cepat, Pangeran Ranakusuma memang harus mengetahuinya. Selain persoalan Raden Ayu Galih Warit, bukankah masih harus dipikirkan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap Raden Rudira yang terbaring di bilik sebelah dan tubuh Mandra yang disimpan di belakang?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dilihatnya Raden Ayu Ranakusuma yang berbaring sambil berdendang perlahan-lahan. Namun kemudian perempuan itu meloncat berdiri sambil bertanya, “He, dimana anakku? Dimana Rudira? Apakah kau lihat? Ia tidak boleh mengikuti aku. Ia tidak boleh tahu apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan meskipun semuanya itu untuknya dan untuk suamiku. Ia akan menjadi Senapati Agung di Surakarta, dan kami akan menjadi pangeran yang paling berpengaruh dan paling kaya raya. Tentu melampaui pepatih Surakarta sendiri”

Ki Dipanala tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Karena itu untuk beberapa lamanya ia hanya berdiam diri saja.

“Dimana he” Raden Ayu Ranakusuma mendesak, “kau lihat anakku yang laki-laki?”

“Raden Ayu” berkata Dipanala kemudian, “hamba berharap Raden Ayu beristirahat. Cobalah Raden Ayu tidur sejenak. Mungkin dapat menenteramkan hati Raden Ayu”

“Tidur? Kau suruh aku tidur?” tiba-tiba Raden Ayu tertawa berkepanjangan.

Tabib itu menjadi tegang sejenak. Katanya kemudian, “Aku akan memberikan obat yang dapat memaksanya tidur sejenak. Ramuan kulit dalam buah pala dengan beberapa macam reramuan yang lain. Tetapi sebelumnya, beritahukanlah kepada Pangeran Ranakusuma, agar Pangeran dapat melihat akibat yang telah terjadi pada isterinya”

Ki Dipanala mengangguk sambil bergeser. Kemudian ia pun melangkah keluar pintu.

Ketika pintu bilik itu berderit, Raden Ayu Galih Warit pun melangkah ke pintu. Tetapi tabib muda itu mencoba menahannya, “Raden Ayu. Silahkan Raden Ayu tinggal saja di dalam bilik ini. Sebentar lagi Dipanala akan kembali”

“Apa?” dipandanginya tabib itu sejenak, lalu, “Kenapa kau melarang aku pergi?”

“Tinggallah di dalam bilik ini, saja Raden Ayu?”

“Apakah Rudira tidak akan melihat aku di sini?”

“Ya, ya Raden Ayu. Raden Rudira tidak akan melihat Raden Ayu tinggal di dalam”

“Apakah Dungkur, atau Panderpol atau Setepen akan datang”

“O” tabib itu mengusap dadanya. Ternyata Raden Ayu Itu sudah menyebut sedikit-sedikitnya tiga buah nama.

“Terlalu, terlalu” tabib itu mengeluh sendiri.

“He, kenapa kau diam saja?” bentak Raden Ayu.

“Di luar ada Raden Rudira” katanya begitu saja terloncat dari bibirnya, “karena itu silahkan Raden Ayu tinggal di dalam”

“O, apakah ia tidak akan datang kemari?”

“Tidak. Tidak”

Raden Ayu itu tertawa. Katanya, “Sekali-sekali ada juga baiknya menipu kanak-kanak. Tetapi niatku baik. Niatku bersih untuk anak dan suamiku”

Tabib itu menyahut, “Ya, memang niat Raden Ayu bersih, karena itu, silahkan Raden Ayu duduk saja di dalam”

Raden Ayu Galih Waru melangkah kembali ke pembaringan. Kemudian dibaringkannya dirinya seenaknya tanpa menghiraukan orang lain di dalam bilik itu.

Dalam pada itu, dengan sangat ragu-ragu Ki Dipanala bagaikan merayap mendekati Pangeran Ranakusuma yang masih duduk mematung di pendapa.

Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala kemudian berkata perlahan-lahan, “Ampun Pangeran. Hamba akan mohon kesempatan untuk mengatakan sesuatu tentang Raden Ayu”

“Apa yang akan kau katakan? Tentu kau akan mengatakan bahwa perempuan itu sudah mulai sadar” Pangeran Ranakusuma terdiam. Ia masih belum berani mengatakan dugaannya tentang Raden Ayu Galih Warit karena ia mendengar suara tertawa berkepanjangan. Jika isterinya itu masih dalam keadaan tidak sadar seperti pada saat m berteriak-teriak, maka ia harus menunggu isterinya itu bangun. Tetapi kalau perempuan itu sudah terbangun?”

“Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala, “sebenarnya Raden Ayu sudah sadar. Maksud hamba, Raden Ayu sudah bangun dari pingsan dan bayang-bayang yang menyelubunginya. Tetapi, tetapi…” Ki Dipanala tidak dapat meneruskan kata-katanya.

Namun karena justru kecemasan yang serupa itu sudah ada di dalam hati Pangeran Ranakusuma, maka tiba-tiba saja ia menyahut

“Gila maksudmu? Atau setengah gila atau apa?”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba tidak dapat menyebutnya Pangeran. Tetapi memang ada gangguan pada syaraf kesadarannya. Raden Ayu tidak dapat mengenal hamba lagi”

“O” Pangeran Ranakusuma meletakkan dagunya pada kedua tangannya yang bertelekan pada pahanya dengan sikunya. Bahkan kemudian kepala itu menunduk dan bersembunyi di balik kedua telapak tangannya.

“Hancur, semuanya sudah hancur. Aku masih mengharap bahwa cemar yang melumuri keluargaku masih dapat disembunyikan, meskipun tidak bagi hatiku sendiri. Tetapi aku masih mengharap bahwa perempuan itu akan menyimpan rahasianya meskipun aku sudah mengambil keputusan untuk menyingkirkannya dari istana ini. Tetapi jika ia menjadi gila, maka ia akan berkicau apa saja tanpa menghiraukan noda yang tercoreng di kening”

“Perlahan-lahan tabib itu dapat Pangeran perintahkan untuk mengobati sejauh-jauh dapat dilakukan”

“Persetan” Pangeran Ranakusuma itu pun kemudian berdiri. Dengan tergesa-gesa ia melangkah ke bilik isterinya.

Ketika dengan keras ia mendorong daun pintu, Raden Ayu Ranakusuma terkejut. Dengan serta-merta ia meloncat bangun. Dipandanginya Pangeran Ranakusuma sejenak, lalu tiba-tiba saja ia berlari sambil berteriak, “Kakanda, kakanda”

Tetapi ketika Raden Ayu itu mencoba memeluk Pangeran Ranakusuma, maka perempuan itu pun telah didorongnya sehingga terjatuh di lantai.

Raden Ayu Ranakusuma itu masih sempat memekik. Namun kemudian ia terdiam sejenak. Dipandanginya suaminya dengan tajamnya. Perlahan-lahan ia bangkit. Dan tiba-tiba saja Raden Ayu itu tertawa sambil berkata, “He, aku belum mengenal caramu. Ternyata kau kasar seperti Setepen”

“Diam” teriak Pangeran Ranakusuma. Hampir saja tangannya menampar mulut Raden Ayu Galih Warit yang tertawa itu jika Ki Dipanala tidak cepat-cepat berkata, “Jangan Pangeran. Raden Ayu sedang dalam keadaan tidak sadar”

“O” Pangeran Ranakusuma melangkah menjauhi isterinya sambil berdesah, “memalukan sekali. Memalukan sekali. Aku sudah terjerumus ke dalam kehancuran mutlak”

Dan sambil menggeretakkan giginya Pangeran Ranakusuma menggeram, “Ia harus diam. Ia harus diam” Lalu tiba-tiba ia berbalik sambil berkata, “Aku akan membunuhnya. Aku akan membunuhnya”

“Pangeran” berkata Ki Dipanala, “ternyata Raden Ayu Galih Warit telah kehilangan kesadarannya. Hamba berharap bahwa tuanku akan tetap sadar menghadapi keadaan ini. Betapapun pahitnya empedu, jika itu memang harus ditelan, maka Pangeran tidak akan dapat memuntahkannya lagi”

Pangeran Ranakusuma menggigit bibirnya seakan-akan ia sedang menahan, sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.

“Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma sambil memandang isterinya, hanya sekilas, “Apa yang harus aku lakukan”

Terasa jantungnya seakan-akan berhenti berdenyut ketika tiba-tiba saja ia mendengar isterinya itu tertawa. Perlahan-lahan Raden Ayu Galih Warit pergi ke pembaringan dan seperti yang telah dilakukan, Raden Ayu itu berdendang perlahan-lahan sambil mempermainkan ujung jari-jarinya.

“Ia benar-benar sudah gila” gumam Pangeran Ranakusuma.

“Itulah sebabnya kita harus mengasihani”

“Jika ia tidak berlumuran dengan noda, aku tidak akan ingkar. Aku mengambilnya sebagai isteriku dalam keadaan seutuhnya. Ia aku terima dengan segala yang ada padanya. Gelak tertawanya, tetapi juga tangisnya. Dan seharusnya aku juga bertanggung jawab selama ia terganggu jiwanya” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, “Tetapi sekarang aku tidak dapat melakukan-nya. Tidak dapat, justru karena Galih Warit tidak setia kepadaku, ia telah berkhianat apapun alasannya”

Tidak seorang pun yang menjawab.

“Aku akan mengantarnya pulang. Malam ini”

“Pangeran, jadi bagaimana dengan tubuh Raden Rudira dan bagaimana dengan Mandra yang ternyata telah berkhianat itu”

“Tidak ada gunanya Galih Warit ada di sini. Ia tidak akan tahu apa yang akan kita lakukan atas Rudira dan Mandra. Karena itu, siapkan kereta. Aku akan membawanya pulang kepada ayahanda dan ibundanya”

“Pangeran” Ki Dipanala berusaha untuk mencegah, “akan timbul berbagai akibat dari tindakan Pangeran itu. Sebaiknya Pangeran memikirkannya masak-masak”

Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak, lalu, “Aku tidak dapat membiarkan hatiku terbakar dan kemudian di luar sadarku, aku membunuhnya. Selagi kau dan tabib itu ada di sini, biarlah aku membawanya kepada ayahnya. Mungkin itu akan lebih baik baginya dan bagiku sendiri”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tetapi jika demikian, tentu akan merupakan kejutan yang dahsyat bagi ayahanda dan ibunda Raden Ayu Galih Warit. Apalagi kini puteri Pangeran ada di sana pula”

“Apaboleh buat” desis Pangeran Ranakusuma, “Tetapi jika aku masih saja selalu mendengar ia mengigau, aku selalu didorong oleh suatu keinginan untuk membunuhnya”

Ki Dipanala tidak segera menyahut. Teringat, sekilas pada saat ia menyebutnya untuk pertama kali di hadapan Kiai Danatirta tentang ketamakan Raden Ayu Galih Warit yang sudah berhasil mengusir madunya dari rumah Pangeran Ranakusuma sebagai seorang puteri dari seorang Pangeran yang kurang waras.

“Pangeran Sindurata memang kurang waras. Apakah memang ada semacam penyakit keturunan pada Raden Ayu Galih Warit, sehingga goncangan perasaan itu tidak tertanggungkan, dan penyakit yang semula masih tersembunyi itu tiba-tiba melonjak keluar?” bertanya Ki Dipanala kepada diri sendiri.

“Nah Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian, “siapkan kereta. Aku akan pergi mengantarkannya kepada Pangeran Sindurata”

“Pangeran Sindurata akan terkejut sekali Pangeran”

“Ia lah yang mewariskan sifat yang tidak waras itu kepada Galih Warit”

Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Dan tabib itu pun kemudian berkata, “Pangeran, sebaiknya Pangeran mengantar-kannya tidak di malam hari. Mungkin malam ini Pangeran dapat menjauhi Raden Ayu untuk beberapa lamanya sementara Pangeran dapat memerintahkan menyelenggarakan jenazah Raden Rudira.”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apa yang dapat aku lakukan agar Galih Warit Tidak mengigau terus menerus. Apalagi jika ada orang lain di dalam bilik ini”

Tabib itu menarik nafas dalam-dalam.

“Katakan, apakah kau dapat melakukannya?”

“Hamba tidak berani mencoba tuan. Jika hamba berbuat kesalahan, maka akibatnya, hamba akan dapat menjadi seorang pembunuh”

“Persetan. Aku tidak minta kau membunuhnya. Tetapi jika itu terjadi, bukan salahmu”

“Ampun Pangeran, hamba tidak berani melakukannya”

“Lakukan, lakukanlah. Katakanlah kepada dirimu sendiri bahwa kau tidak berniat untuk membunuhnya. Kau membuatnya tertidur untuk beberapa lamanya, sementara itu, biarlah orang-orang membersihkan tubuh Rudira dan menyelenggarakan sebaik-baiknya. Usahakan agar Galih Warit tidak segera terbangun di pagi hari agar aku dapat mengantarkannya selagi ia masih tertidur nyenyak”

“Ampun Pangeran, tugas ini terlampau berat bagi hamba”

“Kau adalah seorang tabib. Jika kau tidak dapat memperguna-kan caramu, aku akan mempergunakan caraku. Aku dapat mematikan syaraf kesadarannya untuk beberapa saat dengan sebuah pukulan pada punggungnya bagian atas atau memijit tengkuknya. Tetapi itu adalah cara yang dilakukan oleh seorang prajurit. Bukan oleh seorang tabib. Karena di sini ada seorang tabib, maka lakukanlah. Kita sama-sama menghadapi kemungkinan yang serupa. Jika aku yang melakukannya, kemungkinan itu pun dapat terjadi, bahwa ia tidak akan bangun untuk selama-lamanya?”

Tabib itu menjadi ragu-ragu.

“Baiklah. Jika kau masih tetap pada pendirianmu, biarlah aku yang melakukannya. Mudah-mudahan tulang belakangnya tidak patah karenanya”

“Pangeran” Ki Dipanala bergeser setapak ketika Pangeran Ranakusuma melangkah maju mendekati isterinya yang sedang bermain-main dengan ujung bajunya tanpa menghiraukan persoalan yang sedang diperbincangkan oleh orang-orang yang ada di dalam bilik itu.

“Apakah kau yang ingin melakukannya?”

“Tidak Pangeran. Tetapi apakah Raden Ayu Galih Warit tidak terlalu lemah untuk mengalami perlakuan yang keras itu?”

“Karena itu, aku harapkan ada jalan lain. Jika tabib itu mau melakukannya, biarlah ia mencobanya”

“Tetapi, tetapi . . “ tabib itu ragu-ragu.

“Maksudmu, kau tidak mau bertanggung jawab jika Galih Warit tidak mau bangun lagi untuk selamanya?”

“Bukan tidak mau bertanggung jawab Pangeran. Tetapi hamba tidak berani melakukannya”

“Lakukanlah atas namaku. Aku akan bertanggung jawab apapun yang akan terjadi. Jika kemudian terjadi peristiwa yang tidak kau ingini itu, biarlah aku yang diseret ke depan pengadilan Istana Surakarta. Dipanala menjadi saksi”

“Bukan saja oleh pengadilan di Surakarta, Pangeran”

“Maksudmu jika ada dosa yang terjadi atas perbuatan itu? Kau tentu yakin, bahwa kau tidak berbuat salah. Aku pun tidak. Yang terjadi adalah kecelakaan”

“Mungkin kita dapat berkata demikian justru kepada pengadilan di Surakarta Pangeran. Tetapi tentu tidak kepada Yang Maha Kuasa”

“Yang Maha Kuasa tentu melihat, bahwa kita benar-benar tidak ingin membunuhnya”

Tabib itu masih tetap ragu-ragu. Namun tentu hal itu lebih baik daripada jika Pangeran Ranakusuma sendiri yang melakukan dengan sebuah hentakkan atau pukulan pada punggungnya.

Karena itu, betapapun juga beratnya, maka ia pun terpaksa mencobanya. Tetapi memang dengan niat di dalam hatinya, bahwa ia ingin membuat Raden Ayu Galih Warit itu tertidur sejenak. Bukan membunuhnya. Dan ia masih mengharap bahwa Raden Ayu Galih Warit itu akan terbangun.

Demikianlah, maka tabib itu pun kemudian membuat reramuan yang sedikit lebih keras dari yang sudah dipergunakannya. Namun ia tidak dapat menentukan, berapa lamanya obatnya itu akan mem pengaruhi kesadaran Raden Ayu Galih Warit. Ia pernah mempergunakan obat serupa itu untuk seseorang yang karena suatu kecelakaan harus memotong kakinya. Tetapi begitu parah keadaannya, maka pada waktu itu tabib itu melakukannya dengan tanpa pilihan. Jika tidak, orang itu tentu akan mati, tetapi jika dilakukannya, maka masih ada harapan meskipun terlampau kecil. Tetapi waktu itu ia berhasil, dan orang itu kemudian dapat sadar kembali setelah beberapa lamanya ia tidak dapat mengingat sesuatu lagi.

Sejenis dedaunan yang seolah-olah dapat membius dicampur dengan serbuk sejenis kulit kayu telah dipergunakan. Dengan hati-hati obat yang sudah dicairkannya dengan air itu pun kemudian diberikannya kepada Raden Ayu Galih Warit.

“He, apakah ini?” bertanya Raden Ayu itu.

“Minuman Raden Ayu?”

“Minuman keras?”

“Bukan, bukan minuman keras”

Raden Ayu itu tertawa. Katanya, “Aku jera meneguk minuman keras. Aku jadi mabuk dan aku tidak ingat apa-apa lagi. Tidak ingat apa yang dilakukan oleh Setepen yang kasar itu”

“Gila” Pangeran Ranakusuma hampir berteriak, “bunuh saja perempuan itu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak berkata apapun juga.

“Raden Ayu” berkata tabib itu, “ini adalah obat yang paling baik bagi Raden Ayu, agar Raden Ayu tetap awet muda”

“He” Raden Ayu Galih Warit itu tertawa. Tetapi suara tertawanya lepas seperti tertawa perempuan yang sering menyusuri jalanan. Bukan tertawa seorang perempuan bangsawan.

“Kau tahu bahwa aku ingin tetap awet muda? Dan aku ingin tetap awet muda sampai suamiku berhasil menjadi seorang Senapati Agung di Surakarta”

“Bungkam mulutnya, bungkam mulutnya” Pangeran Ranakusuma benar-benar tidak dapat menahan perasaannya.

“Siapakah orang itu? Kenapa ia berteriak-teriak?”

“Sudahlah Raden Ayu. Silahkan minum obat ini. Bukan saja obat ini akan membuat Raden Ayu awet muda, tetapi juga membuat Raden Ayu sehat dan tidak mudah menjadi sakit”

“Uh, kau tentu akan meracun aku. Kau tentu ingin membunuh aku karena kau iri hati?” Raden Ayu itu tertawa berkepanjangan sambil berkata, “Jangan berbuat begitu. Aku tidak mau kau racun”

“Tentu bukan racun Raden Ayu. Kenapa hamba harus meracun Raden Ayu? Bukankah hamba ini abdi yang paling setia?”

“He” Raden Ayu Galih Warit memandang tabib itu dengan tajamnya, namun Raden Ayu itu tidak dapat mengenalnya. Katanya, “Aku belum mengenalmu. Jangan berpura-pura. Pergi, pergi dari ruangan ini. Nanti jika Dungkur datang, kau tentu akan dibunuhnya”

“Persetan” Pangeran Ranakusuma menggeram. Namun Ki Dipanala segera mendekatinya sambil berkata, “Biarlah tabib itu berusaha Pangeran”

Dan tabib itu pun kemudian menjawab, “Raden Ayu, inilah obat yang dikirimkan oleh Dungkur itu. Tentu Raden Ayu akan senang sekali menerimanya. Obat ini memang khusus dibuat di negerinya untuk Raden Ayu, karena bagi Dungkur perempuan sebangsanya tidak ada yang secantik Raden Ayu”

“Benar begitu?”

“Hamba Raden Ayu, cobalah”

Raden Ayu itu tertawa, sementara dada Pangeran Ranakusuma serasa akan retak.

Namun Raden Ayu Galih Warit itu menerima mangkuk berisi cairan itu. Kemudian dipandanginya beberapa lamanya. Lalu ia pun bertanya, “Kau tidak bohong?”

“Silahkan minum”

Tetapi Raden Ayu itu pun masih juga ragu-ragu, sehingga Ki Dipanala maju beberapa langkah dan berkata, “Sebenarnyalah Raden Ayu”

Raden Ayu Galih Warit memandang Dipanala sejenak, lalu, “Kau siapa?”

“Dipanala. Dipanala Raden Ayu”

“O” Raden Ayu itu tertawa, “Kau Dipanala. Kau sudah tahu semua rahasiaku. Tetapi Dipanala siapa?”

Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Namun katanya, “Hambalah yang membawa obat itu bagi Raden Ayu. Tentu Raden Ayu akan meminumnya. Bukankah jika Raden Ayu awet muda, Pangeran Ranakusuma akan selalu mencintai Raden Ayu apapun yang terjadi”

“Gila” geram Pangeran Ranakusuma.

Raden Ayu itu tertawa. Kemudian dengan kedua tangannya ia memegangi mangkuk itu. Perlahan-lahan mangkuk itu diangkatnya dan perlahan-lahan pula dilekatkannya di mulutnya.

“Tidak mau” tiba-tiba saja ia bergumam.

“Tentu, silahkan, silahkanlah Raden Ayu. Adalah menjadi idaman setiap perempuan untuk mendapat obat seperti itu, dan kini Raden Ayu sudah mendapatkannya. Silahkan, silahkan” tabib itu bagaikan berbisik di telinga Raden Ayu Galih Warit.

Raden Ayu Galih Warit yang sedang dalam keadaan terganggu kesadarannya itu sejenak termangu-mangu. Tetapi kata-kata dukun itu seakan-akan langsung menghunjam ke hatiNya. Karena itu tanpa pengamatan pikiran, tangan Raden Ayu Galih Warit itu terangkat, dan obat itu pun diminumnya. Bukan sekedar obat yang membuatnya tidur sesaat. Tetapi obat itu adalah obat yang menghentikan segala kegiatan nalar dan perasaannya untuk beberapa lamanya, seperti yang dikehendaki oleh Pangeran Ranakusuma, sampai besok menjelang pagi karena Raden Ayu Galih Warit itu akan dibawa dalam keadaan tidak sadar ke rumah orang tuanya. Karena itu maka yang diberikan di dalam reramuan itu bukan sekedar kulit bagian dalam buah pala.

Dengan tegang tabib itu menunggu apa yang akan terjadi pada Raden Ayu Galih Warit setelah minum obatnya itu. Demikian pula agaknya Ki Dipanala dan Pangeran Ranakusuma sendiri.

Sesaat Raden Ayu Galih Warit masih berdiri. Kemudian tampak keningnya berkerut merut. Agaknya pengaruh obat itu mulai terasa di kepalanya yang kosong.

Ketika Raden Ayu Galih Warit mulai terhuyung-huyung, maka tabib itu pun membimbingnya ke pembaringan.

“Siapa kau he?” suara Raden Ayu itu menjadi lambat, “Apakah kau Dungkur. He, jangan paksa aku ke pembaringan. Kepalaku agak pening. Oh” suaranya terputus.

Demikian Raden Ayu Galih Warit terbaring, maka matanya pun mulai terpejam. Tetapi masih terdengar ia bergumam, “Aku tidak minta apa-apa. Sekali ini aku minta senjata yang dapat meledak itu. Rudira harus mempunyainya. Dan ia harus membunuh musuh-musuhnya. Ia harus membunuh Dipanala yang mengetahui segala rahasiaku. Membunuh Juwiring supaya warisan ayahnya tidak terbagi, membunuh orang yang selalu membayanginya dengan rahasia yang gelap, petani dari Sukawati itu”

“O” Pangeran Ranakusuma menutup kedua belah telinganya dengan kedua telapak tangannya. Meskipun suara itu sudah sangat lemah, namun masih juga dapat didengar dengan jelas. Dipanala pun mendengarnya pula.

Tabib itu menarik nafas dalam-dalam. Itulah rahasia yang tersimpan di dalam diri Raden Ayu Galih Warit, yang semakin lama suaranya menjadi semakin lambat, dan akhirnya hilang sama sekali.

“Mudah-mudahan ia tidak akan bangun lagi” desis Pangeran Ranakusuma.

“Jangan Pangeran. Hamba masih mengharap bahwa hamba bukan pembunuh”

Pangeran Ranakusuma memandang tabib itu sejenak, lalu katanya, “Bawalah perempuan itu menyingkir dari bilik ini”

Tabib itu termangu-mangu sejenak, karena ia tidak begitu pasti pada perintah itu. Dan karena itulah maka Pangeran Ranakusuma mengulangi perintahnya, kali ini kepada Dipanala, “Bawa ia menyingkir Dipanala”

Ki Dipanala menelan ludahnya. Namun kemudian ia bertanya, “Hamba harus membawanya kemana Pangeran”

“Bawa ke bilik Warih. Tutup pintunya dan uruslah Rudira”

“Hamba tuanku. Tetapi apakah setelah Raden Ayu dibaringkan di pembaringan Raden Ajeng, hamba boleh memanggil para abdi yang lain untuk menyelenggarakan jenazah Raden Rudira”

“Lakukanlah mana yang baik menurut pikiranmu dan tabib itu”

Ki Dipanala pun kemudian bersama-sama tabib itu mengangkat tubuh Raden Ayu Galih Warit yang telah kehilangan kesadarannya sama sekali. Dengan hati-hati tubuh itu pun kemudian diletakkannya di pembaringan Rara Warih.

Dalam pada itu, Ki Dipanala sempat berbisik, “Kenapa kau ragu-ragu memberikan obat ini? Bukankah kau sudah mengatakan bahwa kau dapat memaksa Raden Ayu diam dengan semacam obat yang dapat membuatnya tidur, tetapi justru setelah Pangeran Ranakusuma memerintahkan kepadamu, kau berusaha menolak?”

“Aku ingin membagi tanggung jawab” jawab tabib itu, “Sebenarnyalah bahwa aku memang ragu-ragu. Apalagi yang diminta oleh Pangeran Ranakusuma bukan sekedar obat yang membuatnya tidur untuk beberapa saat. Tetapi benar-benar sejenis obat yang dapat membiusnya untuk waktu yang lama. Dan itu agak berbahaya bagi Raden Ayu”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Ia pun kemudian menyadari betapa keragu-raguan dan kegelisahan yang bergejolak di dalam hati tabib itu. Di satu pihak ia memang ingin membantu menenangkan hati Pangeran Ranakusuma dengan memaksa Raden Ayu Galih Warit untuk diam, namun di lain pihak ia selalu dibayangi oleh kemungkinan-kemungkinan yang mengerikan yang dapat terjadi atas Raden Ayu itu.

Namun obat itu telah diminum oleh Raden Ayu Galih Warit. Dan kini Raden Ayu itu sudah terbaring diam.

Setelah menyelimutinya dan kemudian menutup pintu bilik itu, keduanya kembali menghadap Pangeran Ranakusuma yang masih berdiri termangu-mangu di bilik anak laki-lakinya. Sedang anak laki-lakinya itu kini sedang terbujur membeku di bilik isterinya.

Ketika ia melihat kedua orang itu, maka katanya, “Sekarang uruslah Rudira. Yang terjadi adalah akhir yang berlawanan dari yang aku harapkan selama ini. Dan aku memang harus menanggungkannya”

Kata-kata itu memuat penyesalan yang luar biasa di dalam hati

Pangeran Ranakusuma. Tetapi sebagai seorang laki-laki Pangeran Ranakusuma sadar, bahwa ia tidak boleh tenggelam terlalu dalam di genangan perasaannya saja. Semuanya harus diselesaikan. Jenazah anak laki-lakinya, mayat Mandra yang ternyata telah berkhianat dan isterinya yang terganggu jiwanya.

Ki Dipanala dan tabib itu berdiri saja mematung. Dan Pangeran Ranakusuma berkata seterusnya, “Dipanala, mungkin kau menganggap bahwa keluarga kami selama ini bersikap pura-pura terhadapmu. Kami bersikap baik dan kadang-kadang harus mendengar kata-katamu bukan karena kami sependapat dengan kau, tetapi karena kami merasa tidak dapat menentang kehendakmu. Kami ternyata masing-masing mempunyai rahasia yang kau ketahui. Yang kami masing-masing menjadi cemas, jika kau pada suatu saat akan membuka rahasia itu. Sehingga pada puncak kebingungannya Galih Warit telah berusaha membunuh-mu dengan mempergunakan tangan Rudira dan orang-orangnya. Tetapi usaha itu ternyata gagal. Dan kau masih tetap hidup. Bahkan kau telah berbuat sesuatu yang justru membuat aku merasa terlalu kecil” Pangeran Ranakusuma terhenti sejenak, lalu, “Dipanala, sekarang aku berkata sebenarnya. Bukan karena kau mengetahui rahasia diriku karena aku tidak perlu lagi cemas bahwa Galih Warit akan mengetahuinya, atau bahkan Pangeran Sindurata sendiri. Tetapi aku berkata dengan jujur, bahwa aku menyerahkan semua persoalan tentang Rudira dan Mandra kepadamu. Kau dapat berbuat apa saja yang baik bagi penyelenggaraan jenazah itu. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau dapat mengambil sendiri di dalam kotak di bilikku. Maksudku, beaya dari upacara pemakaman Rudira dan Mandra”

“Pangeran”

“Ternyata tidak ada orang lain yang dapat aku percaya kecuali kau. Barangkali aku sendiri tidak akan mampu memikirkan apakah yang sebaiknya aku lakukan”

“Tetapi Pangeran, sebenarnyalah hamba sudah merasa bahwa pada saat itu, seakan-akan hamba telah melakukan pemerasan terhadap Pangeran sehingga kadang-kadang pendapat hamba dengan terpaksa sekali tuan dengarkan. Namun demikian, terasa pula kebencian Raden Rudira terhadap hamba sehingga para abdi di istana ini pun sebagian terbesar tidak akan percaya kepada hamba”

“Aku yang akan memerintahkan kepada mereka tunduk kepadamu sebagai orang yang mendapat limpahan wewenang daripadaku sendiri”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam.

“Nah, lakukanlah. Kasihan tubuh Rudira yang sudah terlampau lama terbaring. Bagiku, kini tidak ada lagi yang ingin aku lakukan lagi kecuali mengubur Rudira sebaik-baiknya. Aku tidak akan bermimpi lagi menjadi orang terpenting di Surakarta karena justru keinginanku itulah yang telah merampas semuanya daripadaku. Aku tidak memerlukan lagi Galih Warit, aku tidak memerlukan lagi pengaruh dari kumpeni dan aku tidak memerlukan lagi kedudukan apapun”

Ki Dipanala menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak segera menyahut.

“Nah, panggillah beberapa orang pelayan dan kumpulkan mereka di ruang belakang. Aku akan berbicara kepada mereka” Pangeran Ranakusuma itu berhenti sejenak, lalu katanya kepada tabib yang masih berdiri mematung, “Kau tinggal di sini. Kau bantu aku besok pagi-pagi benar membawa Galih Warit kembali ke rumahnya. Jika terjadi sesuatu, mungkin kau dapat berusaha untuk menolongnya. Tetapi jika tidak berhasil, apaboleh buat. Aku tidak akan menyesal”

Tabib itu menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia menyahut, “Baik Pangeran. Hamba akan melakukannya”

“Sementara ini kau dapat membantu Dipanala”

“Ya Pangeran”

“Nah, sekarang, panggillah pelayan-pelayan itu”

Ki Dipanala pun kemudian pergi ke belakang istana Pangeran Ranakusuma. Dengan nada yang dalam, ia memberitahukan bahwa para pelayan dalam dipanggil menghadap di ruang belakang.

Para pelayan memandang Ki Dipanala dengan wajah yang aneh. Sebagian dari mereka sudah tidak dapat mempercayainya lagi karena Dipanala adalah orang yang tidak disenangi. Lebih-lebih lagi mereka tahu benar bahwa Raden Rudira membenci orang itu setengah mati.

Ki Dipanala yang memang merasa dirinya dibenci oleh orang-orang dalam, meskipun mereka tidak tahu persoalannya, mencoba menjelaskan, “Aku kali ini hanya menjalankan perintah”

Pelayan-pelayan itu termangu-mangu sejenak. Seorang yang mendengar ceritera emban dan pelayan yang memasuki bilik Raden Ayu Galih Warit tetapi tidak tahu persoalannya dengan pasti bertanya, “Apakah sebenarnya yang terjadi?”

“Masuklah, Pangeran Ranakusuma akan memberikan penjelasan kepada kalian”

“Apakah benar Raden Rudira telah meninggal?”

Ki Dipanala termangu-mangu sejenak. Katanya kemudian, “Biarlah Pangeran Ranakusuma saja yang mengabarkan hal itu kepadamu”

“Kami hanya ingin tahu, apakah Raden Rudira meninggal?” Ki Dipanala tidak dapat mengelak. Katanya, “Ya, Raden Rudira meninggal”

“Siapakah yang membunuhnya?” desak yang lain.

“Sudah aku katakan, biarlah Pangeran Ranakusuma mem-beritahukan kepada kalian. Aku pun tidak tahu pasti. Karena itu, agar tidak terjadi salah paham, maka Pangeran memanggil kalian memang untuk keperluan itu. Pangeran akan memberitahukan sebab kematian Raden Rudira dan Mandra”

“Kau membunuhnya” tiba-tiba seorang kawan Mandra yang paling akrab bertanya.

Ki Dipanala menggeleng, “Aku tidak dapat membunuh seseorang tanpa sebab”

“Jadi kau membunuhnya” tiga orang berbareng bertanya.

“Cepat, masuklah ke ruang belakang. Jika Pangeran marah karena kalian tidak segera menghadap, dalam keadaan yang pedih seperti sekarang, dapat saja ia mengambil tindakan yang tidak menguntungkan kalian”

“Jawab pertanyaan kami” teriak seseorang.

Ki Dipanala menjadi termangu-mangu. Orang-orang itu agaknya benar-benar telah mencurigainya. Namun agaknya, seandainya ia berkata sebenarnya pun mereka tidak akan percaya. Karena itu maka sekali lagi ia menjawab, “Jangan memaksa aku. Nanti Pangeran Ranakusuma akan menjawab pertanyaanmu itu”

“Jangan sombong Dipanala” teriak yang lain, “Kau memang pandai berbicara. Mungkin kau sekarang dapat juga membujuk Pangeran, sehingga kau mendapat kepercayaan. Setiap kali kau memang berhasil membujuknya, bahkan kadang-kadang kau berhasil merubah keputusan yang sudah dijatuhkan oleh Pangeran Ranakusuma. Tetapi kami sudah muak. Kau adalah seekor ular yang berkepala dua. Kau menggigit Raden Rudira, tetapi kau sempat menjilat untuk mendapatkan kepercayaan. Jika kau masih tetap seperti sekarang, kamilah yang akan membunuhmu”

Wajah Dipanala menjadi merah padam. Hampir saja ia kehilangan kesabaran. Namun ia masih mencoba untuk menahan diri dan berkata, “Kalian kehilangan nalar yang bening. Tetapi aku hanya mendapat perintah untuk memanggil kalian. Karena itu aku tidak berani melanggar perintah itu dan berbuat sesuatu melampaui tugas yang diberikan kepadaku”

“Bohong, bohong” teriak orang-orang itu sahut menyahut.

Ki Dipanala tidak mau melayaninya lagi. Jika demikian maka keadaannya tentu akan menjadi kacau. Karena itu, maka ia tidak menghiraukannya lagi. Ditinggalkannya orang-orang itu sambil berkata, “Terserah kepada kalian, apakah kalian masih mau mematuhi perintah Pangeran Ranakusuma atau tidak”

Ketika Ki Dipanala memasuki pintu masih terdengar beberapa orang berteriak, “Berhenti, berhenti. Jawab pertanyaan kami”

Tetapi Ki Dipanala tidak menghiraukannya lagi.

Sepeninggal Ki Dipanala para pelayan itu menjadi termangu-mangu. Di antara mereka adalah beberapa orang pengiring Raden Rudira jika Raden Rudira pergi berburu atau pergi kemanapun yang agak berbahaya baginya.

“Orang itu benar-benar gila. Ia berhasil menjilat melampaui orang lain meskipun tampaknya ia tidak disukai. Agaknya Raden Rudira merupakan penghalang baginya, sehingga dengan licik Raden Rudira dan Mandra sekaligus dibinasakan. Kita tidak tahu, alasan apakah yang dikatakannya kepada Pangeran, sehingga ia justru mendapat kepercayaan”

“Marilah kita menghadap. Kita akan mendengar penjelasan itu, dan agar Pangeran tidak marah kepada kita. Mungkin Ki Dipanala dapat membumbuinya, dan mengatakan yang tidak sebenarnya, bahkan berlawanan. Gagak disebutnya bangau dan bangau dikatakannya gagak”

“Ya, lebih baik kita menghadap. Mudah-mudahan Pangeran mendengarkan suara kita”

“Kita bersama-sama akan menyampaikan kebenaran tentang orang itu”

“Ya. Orang itu memang harus digantung karena ia telah membunuh dua orang sekaligus”

Demikianlah para pelayan dan pengawal Raden Rudira itu pun kemudian memasuki ruang belakang dan duduk berdesak-desakan di lantai menunggu kehadiran Pangeran Ranakusuma.

Namun dalam pada itu, selagi mereka sedang mereka-reka tuduhan yang paling baik untuk menggantung Ki Dipanala. beberapa orang di antaranya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar Dipanala telah melakukannya? Dan apakah benar-benar Ki Dipanala pantas melakukannya? Sebelum peristiwa akhir-akhir ini, Ki Dipanala adalah orang yang berpikir bening. Ia bukan sejenis orang yang dapat berbuat licik”

Meskipun demikian orang-orang yang masih dapat membedakan sikap dan perbuatan seseorang itu tidak mengatakannya kepada orang lain, karena suasananya memang tidak menguntungkan.

Sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma pun memasuki ruangan belakang diiringi oleh Ki Dipanala dan tabib yang telah gagal mencoba menyelamatkan jiwa Raden Rudira, serta telah mengetahui serba sedikit rahasia yang tidak dapat dikekang meloncat dari mulut Raden Ayu Galihwarit.

Para abdi itu pun kemudian menundukkan kepala mereka dalam-dalam ketika Pangeran Ranakusuma sudah duduk di hadapan mereka. Mereka hanya dapat menunggu apa yang akan dikatakannya.

Pangeran Ranakusuma memandang mereka sejenak. Para abdi itu adalah para abdi yang setia. Tetapi tentu ada di antara mereka sekedar mengabdi karena ingin mendapat nafkah dan bahkan tentu ada orang yang mempunyai pertimbangan seperti Mandra meskipun dalam bentuk yang lebih kecil, yang tidak segan-segan meninggalkan pekerjaannya di istana ini jika ada kesempatan yang lebih baik baginya.

Baru sejenak kemudian Pangeran Ranakusuma itu berkata langsung pada persoalannya, “Rudira telah meninggal”

Beberapa orang di antara para abdi itu mengangkat wajahnya. Namun wajah-wajah itu pun segera tertunduk kembali.

“Seperti kalian mengetahui, Mandra pun sudah mati”

Kepala para abdi itu pun terangguk-angguk.

“Tentu kalian bertanya, kenapa mereka mati”

Kepala itu pun terangguk-angguk lagi.

“Mandra telah dibunuh oleh Dipanala”

Serentak orang-orang itu mengangkat wajah mereka. Bahkan beberapa di antara mereka bergeser sejengkal. Kemudian dengan mata yang bagaikan menyala mereka memandang wajah Dipanala yang berkerut-merut.

“Apakah kalian tidak bertanya kenapa Mandra telah dibunuh oleh Ki Dipanala?”

Hampir serentak para pelayan itu menjawab, “Hamba Pangeran. Hamba ingin tahu, apakah sebabnya”

Pangeran Ranakusuma memandang Ki Dipanala sejenak. Lalu katanya, “Mereka bertempur di tengah jalan”

Terdengar suara bergeramang. Lalu mereka terdiam ketika Pangeran Ranakusuma melanjutkan, “Ternyata bahwa Mandra tidak dapat memenangkan pertempuran itu sehingga ia justru terbunuh”

Wajah-wajah itu menjadi tegang. Pangeran Ranakusuma belum menjawab, kenapa Ki Dipanala bertempur dan membunuh Mandra. Tetapi mereka sudah menetapkan, bahwa Ki Dipanala memang akan membunuh Raden Rudira, sedangkan Mandra mencoba menyelamatkannya.

Tetapi orang-orang itu terkejut bukan buatan, dan bahkan mereka tidak percaya Kepada pendengarannya ketika Pangeran Ranakusuma berkata, “Mandra dibunuh oleh Dipanala karena Mandra berkhianat dan membunuh Rudira dengan meminjam tangan orang lain”

Wajah-wajah yang tegang itu menjadi bertambah tegang. Dengan mulut ternganga mereka saling berpandangan sejenak. Lalu mereka mendengar Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya, “Ternyata Mandra telah menjual Rudira kepada orang asing. Kalian tidak usah bertanya apakah sebabnya, namun Mandra ingin mendapat hadiah yang banyak dan kedudukan yang baik di dalam lingkungan orang asing itu”

Sejenak mereka merenungi kata-kata itu. Namun beberapa orang di antara mereka segera berkata di dalam hatinya, “Nah, bukankah Dipanala telah memutar balik keadaan. Gagak dikatakan bangau dan bangau dikatakannya gagak. Yang hitam dikatakan putih dan yang putih dikatakannya hitam”

Dalam pada itu Pangeran Ranakusuma berkata terus, “Dalam usaha itulah, Dipanala dapat mengetahuinya meskipun agak terlambat, sehingga akhirnya Mandra terbunuh olehnya. Tetapi Rudira pun tidak lagi dapat diselamatkan”

Beberapa orang abdi mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun di antara mereka, terutama para pengiring Raden Rudira menganggap bahwa Ki Dipanala lah yang sudah memfitnah Mandra. Karena itu maka mereka menjadi gelisah karenanya.

Agaknya Pangeran Ranakusuma melihat kegelisahan itu, sehingga ia pun bertanya, “Apakah ada yang akan mengatakan sesuatu?”

Untuk beberapa saat tidak ada seorang pun yang berbicara. Namun kemudian salah seorang yang tidak dapat menahan perasaannya bergeser sedikit sambil berkata, “Ampun Pangeran. Apakah yang dikatakan oleh Ki Dipanala itu dapat dipercaya sepenuhnya?”

“Apa yang dikatakan oleh Dipanala?”

“Bahwa Mandra telah berkhianat?”

“Siapakah yang mengatakan bahwa hal itu diceriterakan oleh Dipanala?”

Orang itu menjadi tergagap. Namun ia pun menjawab, “Ampun Gusti. Bukankah Gusti mengatakan, bahwa Dipanala melihat usaha pengkhianatan itu”

“Ya”

“Dan, apakah hal itu dapat hamba artikan bahwa Ki Dipanala yang kemudian membawa jenazah Raden Rudira dan mayat Mandra, telah menceriterakan peristiwa itu”

“Kau tahu bahwa Rudira masih hidup waktu dibawa pulang. Dan aku telah memanggil tabib untuk mengobatinya”

“Hamba Pangeran”

“Nah, kenapa kau memastikan bahwa Ki Dipanala lah yang telah menceriterakan hal itu kepadaku”

“Ampun Gusti”

“Yang mengatakan semuanya itu adalah Rudira. Rudira sendiri”

Orang-orang itu tercenung sejenak. Mereka benar-benar diombang-ambingkan oleh kebimbangan dan keragu-raguan untuk mempercayai pendengaran mereka sendiri.

“Kenapa kalian menjadi bingung. Dengar. Mandra telah berkhianat dengan menjerumuskan Rudira, sehingga seorang asing telah menembaknya. Tetapi ternyata Rudira tidak mati seketika. Ia masih mempunyai kesempatan untuk berusaha menyelamatkan dirinya. Ternyata bahwa Mandra tidak membiarkannya. Mandra berusaha untuk membunuh Rudira dengan pedang, kemudian menghilangkan bekas luka peluru dengan pedangnya pula. Setelah itu, ia akan melemparkan tubuh Rudira ke tempat yang sepi, atau jika. mungkin di sepanjang bulak Jati Sari sehingga dapat menimbulkan kesan bahwa Juwiring telah terlibat. Nah, apakah kalian percaya? Rudira sendiri mengatakannya. Dipanala lah yang menyelamatkan Rudira dari pedang Mandra dan membunuhnya. Kemudian membawa tubuh Rudira yang terluka parah itu kembali” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak lalu, “Siapa yang tidak percaya? Siapa yang menganggap bahwa Mandra tidak bersalah?”

Wajah-wajah itu menjadi tertunduk dalam-dalam. Terlebih-lebih orang yang sudah memberanikan diri bertanya tentang kebenaran ceritera itu.

“Nah, siapa yang tidak percaya kepada ceriteraku, aku beri kesempatan untuk meninggalkan rumah ini. Aku beri kesempatan untuk membawa mayat Mandra yang dianggapnya sebagai seorang pahlawan. Siapa, ayo siapa?”

Wajah-wajah yang tunduk itu menjadi semakin tunduk.

Dan Pangeran Ranakusuma pun kemudian berkata, “Jika tidak ada, maka kalian sudah mengetahui persoalannya dengan pasti. Nah, sekarang kalian akan menyelenggarakan jenazah Rudira. Semuanya aku serahkan kepada Dipanala dan tabib ini. Aku menjadi terlampau bingung untuk berbuat sesuatu” Pangeran Ranakusuma berhenti sejenak, lalu, “Terserahlah kepada kalian apakah yang akan kalian lakukan terhadap mayat Mandra”

Tidak seorang pun yang kemudian berani mengangkat wajahnya. Mereka mengerti, di balik kata-kata yang keras itu sebenarnya tersembunyi perasaan yang pedih. Sangat pedih.

Pangeran Ranakusuma pun terdiam pula sesaat. Beberapa kali ia menelan ludahnya. Disekanya keringatnya yang membasah di kening.

“Aku akan berada di pendapa. Jika kau memerlukan aku, aku ada di sana Dipanala” berkata Pangeran Ranakusuma kemudian.

Pangeran Ranakusuma tidak menunggu jawaban Ki Dipanala. Ia pun kemudian berdiri dan meninggalkan ruang belakang itu kembali ke pendapa dan duduk di tempatnya semula merenungi malam yang gelap.

“Nah, marilah. Kita harus menyelenggarakan tubuh Raden Rudira. Lukanya tidak begitu besar, tetapi agaknya justru karena ia terbanting dari punggung kudanya yang lari kencang dan darah yang mengalir dari lukanya itu, nyawanya tidak tertolong lagi”

Para pelayan itu pun tiba-tiba menyadari keadaan yang sebenarnya. Merekapun kemudian berebut dahulu menyediakan kelengkapan untuk jenazah Raden Rudira. Mereka seakan-akan tidak mau mengingat lagi, bahwa di samping Raden Rudira, masih ada juga. Mandra.

Tetapi mereka tidak dapat membiarkan mayat Mandra terbaring di tempatnya. Merekapun harus menyediakan sepotong kain putih untuknya.

Dalam pada itu, malam pun menjadi semakin dekat menjelang fajar. Pangeran Ranakusuma masih saja duduk di pendapa, seakan-akan tidak ada lagi niatnya untuk berdiri, dan masuk ke dalam istananya yang megah itu. Seakan-akan dunianya sudah menjadi buram dan lampu-lampu tidak dapat menyala lagi dengan terang.

Setelah semuanya selesai, maka jenazah Raden Rudira pun dibaringkannya di ruang tengah, diselimuti dengan sehelai kain putih yang baru, dikelilingi oleh para pengiringnya dan abdi-abdinya yang lain. Sedang di belakang, mayat Mandra pun sudah diselimutinya pula. Hanya satu dua orang kawan dekatnya sajalah yang menungguinya dengan penuh penyesalan, bahwa Mandra sudah berkhianat.

Dengan dada yang berdebar-debar Ki Dipanala pun kemudian pergi menghadap Pangeran Ranakusuma untuk menyampaikan bahwa semuanya sudah selesai. Bahkan perempuan-perempuan pun sudah mulai menyediakan keperluan yang lain. Sebagian dari mereka telah menyediakan masakan untuk menjamu tamu-tamu yang tentu akan berdatangan, dan menyediakan selamatan, sedang yang lain sudah sibuk mengatur kelengkapan penguburan jenazah yang sudah dibaringkan itu. Alat-alat upacara, dan apabila matahari telah terbit, mereka harus membeli bunga terutama melati dan mawar.

“Jangan memberitahukan kepada siapapun sebelum semuanya selesai” desis Pangeran Ranakusuma.

“Semuanya sebenarnya sudah selesai Pangeran” jawab Ki Dipanala, “Tetapi apakah tidak sebaiknya ayahanda Raden Ayu Galihwarit diberi tahu sekaligus adinda Raden Rudira yang ada di sana”

“Aku sendiri akan memberitahukan kepadanya dengan membawa Galihwarit”

Ki Dipanala hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. la tidak dapat mencegahnya lagi. Agaknya dorongan untuk menyerahkan kembali Raden Ayu Galihwarit sudah tidak tertahankan lagi. Seandainya perempuan itu tidak berkhianat, mungkin sakitnya akan justru menimbulkan iba yang dalam. Tetapi kini bagi Pangeran Ranakusuma, Raden Ayu Galihwarit adalah duri yang menusuk jantungnya.

Tanpa mempersoalkan Raden Ayu Galihwarit, Ki Dipanala. bertanya pula, “Jadi, siapakah yang sebaiknya hamba beritahu tentang Raden Rudira?”

Pangeran Ranakusuma tidak segera menjawab. Ditatapnya kedelapan malam yang justru berangsur menjadi kemerah-merahan.

Ki Dipanala sama sekali tidak berani mendesaknya. Ia hanya dapat menunggu sambil menundukkan kepalanya.

“Panggil Juwiring” tiba-tiba saja terloncat dari mulut Pangeran Ranakusuma sehingga Ki Dipanala pun terkejut karenanya.

“Maksud Pangeran, hamba harus pergi ke Jati Aking”

“Kau dapat menyuruh orang lain. Kau di sini mewakili aku”

“Tetapi keadaan Raden Juwiring yang selama ini seakan-akan selalu diintip oleh bahaya, membuatnya selalu bercuriga kepada siapapun juga. Hamba kurang yakin, apakah Raden Juwiring mempercayai orang lain kecuali aku”

“Jika begitu, orang yang akan pergi itu akan membawa sepucuk surat yang akan aku tanda tangani”

Ki Dipanala menarik nafas. Meskipun orang itu membawa surat yang ditanda-tangani oleh Pangeran Ranakusuma, namun sebenarnyalah bahwa kepada ayahandanya sendiri Raden Juwiring sudah menaruh curiga. Namun demikian tanda tangan itu memang merupakan kemungkinan terbesar untuk memanggil Raden Juwiring.

Demikianlah seorang utusan telah berpacu ke Jati Aking tanpa menunggu fajar. Meskipun kemungkinan untuk menghadiri penguburan jenazah adiknya, terlampau kecil bagi Juwiring. Ia tidak akan dapat sampai di istana Ranakusuman dekat setelah tengah hari.

Dalam pada itu, setelah semuanya selesai, maka Pangeran Ranakusuma pun segera memerintahkan untuk mempersiapkan kereta.

Di pagi-pagi benar ia ingin pergi sendiri ke rumah mertuanya mengantarkan Galihwarit yang masih belum sadar.

“Kau di rumah” berkata Pangeran Ranakusuma kepada Ki Dipanala, “Aku akan pergi membawa Galihwarit bersama tabib itu. Ia akan dapat menolongku jika tiba-tiba saja Galihwarit sadar di perjalanan”

“Hamba Pangeran”

“Suruhlah para pelayan menyiapkan tempat bagi mereka yang akan datang melawat. Aku tidak dapat menolak jika orang-orang asing itu datang. Tetapi aku juga tidak akan merahasiakan, siapakah yang telah membunuh anakku, meskipun aku tidak dapat mengatakan seluruh peristiwanya”

“Hamba Pangeran”

Rasa-rasanya fajar datang terlampau lambat. Pangeran Ranakusuma hampir tidak sabar lagi menunggu. Ia ingin segera menyingkirkan Galihwarit dan menyerahkannya kembali kepada ayahnya.

Demikian fajar menyingsing dan dedaunan yang hijau mulai tampak kemerah-merahan, maka Raden Ayu Galihwarit yang masih belum sadar itu pun diangkat dan dimasukkannya ke dalam kereta. Sejenak kemudian maka kereta itu pun mulai bergerak membawa Raden Ayu itu kembali ke istana orang tuanya.

Ketika kereta itu sampai di regol halaman, maka Pangeran Ranakusuma menjenguk sejenak sambil berkata kepada Dipanala, “Aku tidak lama. Persilahkan para tamu lebih dahulu. Katakan, bahwa aku pergi menjemput Warih. Jangan sebut-sebut tentang Galihwarit”

“Hamba Pangeran” jawab Ki Dipanala.

“Jangan sebut tentang Mandra. Ia akan dikubur setelah para tamu yang melawat Rudira pulang”

“Hamba tuanku”

Demikianlah maka kereta itu pun segera berderap meninggalkan halaman Ranakusuman menuju ke Istana Pangeran Sindurata.

Dipanala yang ditinggalkan menjadi berdebar-debar. Pangeran Ranakusuma yang kematian anaknya itu tentu tidak dapat berpikir bening, sedang Pangeran Sindurata adalah seorang Pangeran yang lebih suka menuruti keinginan sendiri tanpa menghiraukan kepentingan orang lain, sehingga ada beberapa orang yang menganggapnya agak kurang waras. Jika mereka terlibat dalam perselisihan maka akan dapat timbul hal-hal yang kurang baik.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada keduanya” berkata Ki Dipanala di dalam hatinya.

Demikianlah ketika kereta itu sudah lenyap di tikungan, maka Ki Dipanala pun kembali masuk ke ruang dalam. Dari pintu ia melihat tubuh Raden Rudira yang terbujur diam, ditunggui oleh beberapa orang. Masih belum tampak kesibukan di istana itu, selain perempuan yang sedang memasak dan beberapa orang lainnya menyiapkan benang rangkaian kembang melati dan mawar. Yang lain pergi ke pasar membeli bunga yang akan dirangkai itu, dan kebutuhan-kebutuhan lain. Tetapi bagi orang luar, istana Ranakusuman masih tetap sepi. Belum ada seorang tetangga pun yang mengetahui apa yang telah terjadi, dan tidak seorang tetangga pun yang mendengar suara-suara yang keras di malam hari, bahkan pekik nyaring Raden Ayu Galih Warit, karena halaman istana Pangeran Ranakusuma yang cukup luas itu.

Namun sudah barang tentu bahwa Ki Dipanala tidak berani atas kehendaknya sendiri memberitahukan kematian Raden Rudira itu kepada para bangsawan sanak keluarga Pangeran Ranakusuma. Untuk itu ia harus menunggu setelah Pangeran Ranakusuma memberikan perintah kepadanya.

Dalam pada itu, Pangeran Ranakusuma yang sedang dibelit oleh berbagai macam persoalan itu tidak sempat memikirkan ha1 itu sebelum ia menyerahkan isterinya kepada mertuanya. Di sepanjang jalan Pangeran Ranakusuma mencoba untuk mengendapkan segala macam pergolakan yang ada di dalam dadanya. Bagaimanapun juga ia masih mencoba untuk mempergunakan nalarnya, justru setelah ia tahu bahwa jenazah Raden Rudira telah diselenggarakan sebaik-baiknya.

“Aku harus sempat mengubur jenazah anakku” katanya di dalam hati. Dan niat itulah yang telah mengekang perasaannya agar tidak timbul persoalan yang tajam dengan Pangeran Sindurata.

Kedatangan Pangeran Ranakusuma memang mengejutkan sekali. Apalagi ketika ternyata ia membawa tubuh Raden Ayu Galih Warit yang bagaikan tidak bernafas lagi.

“Kenapa? Kenapa anakku?” bertanya Pangeran Sindurata

“Pingsan” jawab Pangeran Ranakusuma pendek.

“O” Pangeran Sindurata pun menjadi bingung. Karena itulah maka diperintahkannya pelayan-pelayannya untuk menyiapkan pembaringan bagi Raden Ayu Galihwarit.

Rara Warih yang memang sedang berada di rumah kakeknya itu pun terkejut bukan buatan. Hampir saja ia tidak dapat menahan jeritnya, jika ayahnya tidak berbisik kepadanya, “Jangan gelisah. Ibumu hanya pingsan”

Demikianlah maka Raden Ayu Galihwarit pun segera dibaringkannya di pembaringan di dalam bilik ibundanya. Seluruh keluarga menjadi bingung dan gelisah. Wajah Raden Ayu Galihwarit yang cantik itu tampak pucat seperti kapas.

“Kenapa dia he??” bertanya Pangeran Sindurata pula.

Pangeran Ranakusuma mencoba untuk menahan hatinya dan berbicara dengan nalarnya. Katanya, “Ada beberapa persoalan yang akan aku sampaikan”

“Tetapi bagaimana dengan isterimu?”

“Tidak apa. Aku membawa seorang tabib”

Pangeran Sindurata memandang tabib yang masih muda yang masih berdiri di halaman itu sejenak. Lalu, “Apakah ia tabib yang baik?”

“Ya. Ia adalah seorang tabib yang baik”

“Jadi bagaimana dengan Galihwarit”

“Apakah aku boleh duduk?”

“Ya, duduklah”

Keduanya pun kemudian duduk di pendapa istana Pangeran Sindurata yang tidak kalah luasnya dari pendapa istana Ranakusuman.

“Duduklah di situ” berkata Pangeran Sindurata kepada tabib yang masih berdiri.

“Ya duduklah” ulang Pangeran Ranakusuma.

Tabib itu pun kemudian duduk di sudut pendapa dengan kepala tunduk.

“Katakan sekarang” desak Pangeran Sindurata, “Kenapa dengan anakku?”

“Suatu kejutan telah membuatnya pingsan” jawab Pangeran Ranakusuma yang meskipun di dalam hubungan keluarga termasuk lebih muda, tetapi ia mempunyai kedudukan yang lebih baik di istana Kangjeng Susuhunan.

“Apa yang terjadi?”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam, seakan-akan ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya.

“Apa yang terjadi?” Pangeran Sindurata mendesak.

“Rudira meninggal”

“He” Pangeran Sindurata terbelalak karenanya. Terasa seakan-akan darahnya berhenti mengalir. Pemberitahuan yang tiba-tiba itu membuatnya terperanjat bukan buatan.

Dengan singkat Pangeran Ranakusuma menceriterakan sebab kematian Rudira, meskipun ia tidak mengatakan sama sekali apa yang sudah dilakukan oleh Raden Ayu Galihwarit.

“Ibunya terkejut” berkata Pangeran Ranakusuma, “Agaknya ia tidak dapat menahan perasaannya sehingga menjadi pingsan karenanya. Aku ingin menyingkirkannya agar ia tidak selalu dicengkam oleh suasana kematian anaknya. Mungkin di sini ia akan menjadi agak tenang”

“Tetapi, apakah ia akan segera sadar kembali?”

“Mudah-mudahan. Menurut tabib itu, ia akan segera sadar kembali. Suasana di rumah ini akan berbeda sekali”

“Tetapi ia tentu ingin melihat anaknya”

“Sebaiknya ia tetap berada di sini”

Pangeran Sindurata berpikir sejenak, lalu, “Bagaimana dengan Warih”

“Aku ingin membawanya”

“Biarlah ia di sini menunggui ibunya”

“Aku akan segera membawanya kemari jika semuanya sudah selesai”

Pangeran Sindurata berpikir sejenak, lalu, “Baiklah. Tetapi biarlah tabib itu berada di sini untuk menungguinya”

Pangeran Ranakusuma menjadi termangu-mangu karenanya. Namun kemudian ia berkata, “Ia berada di rumahku. Ia harus mengatur jenazah Rudira pada saat diberangkatkan. Tetapi jika sesuatu terjadi atas Galihwarit, ia dapat dipanggil dengan segera”

Pangeran Sindurata mengangguk-angguk. Peristiwa yang tidak terduga-duga itu telah mencengkamnya sehingga untuk beberapa lamanya ia hanya dapat merenung memandang kekejauhan. Rudira adalah cucunya yang menyenangkan baginya, meskipun anak itu agak bengal. Namun tiba-tiba saja ia mati terbunuh oleh peluru kumpeni.

Dan tiba-tiba saja Pangeran Sindurata itu menggeram, “Siapa yang sudah menembak Rudira?”

Pangeran Ranakusuma termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu”

“Jika aku tahu” desis Pangeran Sindurata, “tanpa merubah sikapku kepada kumpeni, namun aku dapat berurusan dengan orang yang menembak cucuku secara pribadi”

Pangeran Ranakusuma tidak menyahut. Jika ia mengetahui persoalan Galihwarit yang sebenarnya, tentu ia akan berpikir lain.

“Biarlah ia mengetahui dengan sendirinya. Yang berhak membuat persoalan ini menjadi persoalan pribadi tanpa merubah sikap dan hubungan dengan kumpeni adalah aku” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya, “Mungkin aku memang seorang pengkhianat bagi Surakarta. Mungkin aku telah menjual harga diri bangsaku. Tetapi harga diri pribadiku akan aku selesaikan dengan Dungkur, Panderpol, Setepen atau siapa lagi”

Demikianlah, maka sejenak kemudian. Pangeran Sindurata telah memanggil cucu perempuannya. Dengan hati-hati ayahandanya, Pangeran Ranakusuma, memberitahukan apa yang telah terjadi dengan kakaknya, Raden Rudira.

“Kamas Rudira terbunuh?” mata gadis itu terbeliak.

“Warih” berkata Pangeran Ranakusuma, “Tentu tidak seorang pun yang menghendaki hal itu terjadi. Tetapi memang kadang-kadang yang terjadi itu berada di luar kehendak kita. Dan kita sama sekali tidak berkuasa untuk menolaknya”

“Jadi, kangmas Rudira sudah meninggal?”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi semakin pedih ketika anak gadisnya itu berlari dan menjatuhkan kepalanya di pangkuannya.

“Kenapa hal itu terjadi ayahanda. Kenapa?”

Pangeran Ranakusuma mengusap rambut anak gadisnya. Beberapa orang keluarga yang lain pun kemudian mengerumuninya dan mencoba menghiburnya. Tetapi Rara Warih masih saja berteriak.

“Sudahlah Warih. Ibumu pingsan karena kejutan perasaan. Jika ia sadar, dan ia mendengar kau berteriak-teriak, ia akan menjadi pingsan lagi. Bukan saja ibundamu, tetapi aku pun dapat menjadi pingsan pula.

Kata-kata ayahnya agaknya dapat memberikan sedikit kesadaran kepadanya, bahwa ia pun harus berusaha mengekang perasaannya. Itulah sebabnya maka tangisnya menjadi sedikit mereda.

“Kenapa ayahanda, kenapa kangmas Rudira meninggal?”

“Suatu kecelakaan yang tidak dapat dihindari lagi Warih”

Tangis gadis itu pun semakin lama menjadi semakin surut. Tetapi ia masih saja terisak-isak sehingga rasa-rasanya ia tidak dapat menarik nafas lagi.

“Berkemaslah Warih” berkata ayahnya, “Kau pergi bersama ayahanda mendahului eyang dan keluarga yang lain”

Rara Warih pun menganggukkan kepalanya. Dilepaskannya ayahnya dan ia pun kemudian berdiri untuk berkemas.

“Aku akan segera menyusul jika Galihwarit telah sadar” berkata Pangeran Sindurata.

Demikianlah maka setelah Rara Warih selesai, ia pun segera pergi mengikut ayahandanya kembali pulang. Sementara Pangeran Sindurata dan keluarganya sibuk mencoba menyadar-kan Raden Ayu Galihwarit.

“Tetapi” berkata Pangeran Sindurata, “pada saatnya ia akan sadar dengan sendirinya seperti yang dikatakan tabib yang merawatnya sebelum ia dibawa kemari. Ia akan sadar, dan ia akan mendapatkan suasana yang lain dari suasana di rumahnya”

Meskipun demikian, masih saja seseorang tua mencoba menggosok daun telinganya dengan berambang dan telapak kakinya dengan minyak kelapa.

Dalam pada itu kereta yang ditumpangi oleh Pangeran Ranakusuma bersama anak gadisnya, serta tabib yang mengikutinya itu pun berderap dengan kencangnya di jalan-jalan kota Surakarta. Beberapa orang yang lewat di pinggir jalan menjadi heran melihat kereta yang berlari kencang itu. Namun mereka tidak menyangka bahwa di dalamnya duduk Pangeran Ranakusuma dan puterinya yang sedang dicengkam oleh kepedihan hati.

Ketika kereta itu memasuki halaman istana Ranakusuman, ternyata pendapanya masih sepi. Yang tampak sibuk hanyalah para pelayan di ruang belakang dan di dapur. Meskipun demikian sebenarnyalah beberapa orang sebelah menyebelah istana itu telah mendengar bahwa Raden Rudira telah meninggal. Satu dua orang pelayan yang keluar istana sempat menceriterakan apa yang sudah terjadi di dalam istana itu, meskipun hanya sekedar yang dapat mereka lihat.

Maka demikian kereta itu berhenti, Rara Warih segera meloncat turun dan berlari ke ruang dalam. Ia tertegun ketika dilihatnya sesosok tubuh yang terbujur diam dikerudungi dengan sehelai kain.

“Ayahanda” Warih menjerit. Ia tidak berani memeluk tubuh yang sudah membeku itu, sehingga karena itu, maka ia pun berdiri saja beberapa langkah dengan tubuh gemetar.

Ayahandanya dengan tergopoh-gopoh mendekatinya. Dengan sareh ayahandanya bertanya, “Ada apa Warih?”

Rara Warih memandanginya sejenak. Kemudian ditatapnya tubuh yang terbujur diam itu. Tiba-tiba saja ia meloncat dan sekali lagi memeluk ayahanda sambil menangis sejadi-jadinya.

“Sudahlah Warih” berkata ayahandanya, “Jangan membuat hati ayahanda semakin bersedih”

Tetapi Warih masih tetap menangis.

Beberapa emban dan pemomongnya pun segera mengerumuninya dan mencoba menenangkannya.

“Bawalah ia ke pembaringannya” berkata Pangeran Ranakusuma kepada para pelayannya itu.

Beberapa emban pun kemudian memapah Rara Warih ke dalam biliknya. Dengan berbagai cara para emban itu mencoba meredakan tangisnya. Namun Warih masih saja menangis sehingga rasa-rasanya nafasnya menjadi sesak karenanya.

Dalam pada itu. ketika Pangeran Ranakusuma sudah tidak lagi bersama puterinya, Ki Dipanala pun kemudian memperingatkan-nya, bahwa sebaiknya Pangeran Ranakusuma memberitahukan kematian Raden Rudira kepada keluarga terdekat.

“Ya. Pergilah Dipanala. Atas namaku, beritahukan kepada saudara-saudara terdekat, dan panggillah lebih dahulu adinda Cahyaningprang. Aku akan menyuruhnya menghadap ke istana Kangjeng Susuhunan untuk menyampaikan peristiwa ini”

Ki Dipanala pun kemudian berangkat berkuda mengelilingi Surakarta, memberitahukan bencana yang telah menimpa Pangeran Ranakusuma, meskipun setiap kali ia selalu menjawab pertanyaan, “Hamba kurang tahu sebab-sebabnya Pangeran”

Dan para Pangeran yang terkejut itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.

Seperti yang dipesankan oleh Pangeran Ranakusuma, maka Pangeran Cahyaningprang pun telah mendahului yang lain datang ke istana Ranakusuman. Tetapi ia pun segera memacu kudanya menghadap Kangjeng Susuhunan untuk menyampaikan peristiwa yang terjadi atas Pangeran Ranakusuma.

Dalam waktu yang singkat, maka tersebarlah berita kematian Raden Rudira ke segenap sudut kota Surakarta. Mula-mula para bangsawan, namun kemudian para abdinya pun mendengarnya juga, sehingga apabila mereka keluar ke jalan raya. maka mereka pun mempercakapkannya dengan kenalan-kenalan mereka dan keluarga mereka masing-masing.

Berita itu ternyata telah mengejutkan Pangeran Mangkubumi pula. Apalagi ketika ia mendengar bahwa kematian Raden Rudira disebabkan luka peluru kumpeni.

“Aneh” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hati, “keluarga Ranakusuman bukan keluarga yang memusuhi kumpeni. Tetapi puteranya ternyata telah terbunuh oleh peluru kumpeni”

Karena itulah, maka demikian berita itu sampai kepadanya, Pangeran Mangkubumi pun segera pergi ke Ranakusuman. Meskipun pada hari-hari yang lain, lewat pun Pangeran Mangkubumi rasa-rasanya sangat segan.

Pangeran Ranakusuma pun terkejut melihat kehadiran Pangeran Mangkubumi begitu cepat. Justru mendahului keluarganya yang terdekat. Baru beberapa orang saja yang ada di pendapa Ranakusuman.

“Tentu luka peluru kumpeni itulah yang menarik perhatiannya” berkata Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya.

Dengan diantar oleh Pangeran Ranakusuma Pangeran Mangkubumi pun melihat jenazah Raden Rudira yang terbujur diam. Tetapi jenazah itu sudah terbungkus rapi dengan kain yang putih bersih.

“Sayang sekali” tiba-tiba Pangeran Mangkubumi bergumam.

Pangeran Ranakusuma memandang wajah Pangeran Mangkubumi sejenak. Wajah yang keras seperti hatinya yang membayang pada sorot matanya.

Agaknya Pangeran Mangkubumi merasakan pandangan itu, sehingga katanya kemudian, “Putera Kangmas Pangeran masih terlalu muda”

“Ya. Ia masih terlalu muda”

“Benar-benar perlakuan yang tidak adil. Apakah kangmas tidak berkeberatan mengatakan kepadaku, apakah sebabnya Rudira luka oleh peluru?”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Bahkan kemudian sambil merenungi jenazah anaknya ia berkata di dalam hati, “Jika aku dapat berdiri tegak di atas kedua kaki sendiri seperti adimas Pangeran Mangkubumi, maka tidak banyak persoalan lagi yang harus aku pertimbangkan. Tetapi sayang, bahwa Ranakusuma berdiri di atas yang berbeda dengan Pangeran Mangkubumi”

Karena Pangeran Ranakusuma tidak segera menjawab, maka Pangeran Mangkubumi pun mengulangi pertanyaannya, “Apakah yang sebenarnya telah terjadi dengan Rudira?”

“Aku masih belum tahu pasti dimas. Aku sedang menyelidiki-nya” jawab Pangeran Ranakusuma kemudian, “Tentu adimas heran bahwa hal ini telah terjadi. Aku tidak dapat menyembunyi-kan kenyataanku di hadapan adimas, bahwa aku mempunyai hubungan yang baik dengan kumpeni. Namun yang terjadi adalah kematian Rudira oleh peluru kumpeni”

Pangeran Mangkubumi mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Ia pernah datang ke Sukawati. Orang yang aku percaya menunggui Pesanggrahan mengatakannya kepadaku”

Terasa dada Pangeran Ranakusuma berdesir. Lalu katanya, “Aku pernah juga mendengar ceriteranya tentang Petani di Sukawati. Sayang sekali, bahwa Rudira belum sempat mengenal siapakah sebenarnya orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati itu”

Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sedang Pangeran Ranakusuma berkata selanjutnya, “Jika ia mengetahuinya, mungkin ia berpendapat lain tentang orang yang menyebut Petani dari Sukawati itu”

“Siapakah yang dimaksud oleh Rudira?” bertanya Pangeran Mangkubumi.

Pangeran Ranakusuma memandang wajah Pangeran Mangkubumi sejenak. Tetapi ia tidak melihat perasaan apapun yang membayang di wajah yang keras itu. Tidak ada tanda-tanda bahwa ada hubungan apapun antara Pangeran Mangkubumi dan orang yang menyebut dirinya Petani dari Sukawati. Hubungan langsung atau tidak langsung. Karena itu, maka Pangeran Ranakusuma pun menjadi ragu-ragu untuk berbicara tentang Petani itu selanjutnya.

“Ia anak yang baik” tiba-tiba Pangeran Mangkubumi berkata, “orang-orangku di pesanggrahan mengatakan bahwa ia cukup ramah dan bahkan ia telah berbicara panjang lebar dengan para penunggu pesanggrahan. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh orang yang merasa dirinya berdarah bangsawan di Surakarta ini. Biasanya para bangsawan merasa segan untuk memandang rakyat kecil dengan sebelah matanya. Apalagi berbicara dengan mereka”

Pangeran Ranakusuma menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak tahu pasti, apakah Pangeran Mangkubumi berkata sebenarnya atau tidak. Tetapi menilik sikap dan sifat Rudira semasa hidupnya, tentu yang dikatakan itu sekedar pujian karena Rudira kini sudah meninggal. Namun demikian Pangeran Ranakusuma tidak segera menjawab.

“Kangmas Pangeran” berkata Pangeran Mangkubumi kemudian, “Apakah kangmas tidak dapat membayangkan, apakah yang sudah terjadi, atau Setidak-tidaknya dugaan, alasan apakah yang telah mendorong seseorang yang mungkin sekali orang-orang asing itu, untuk membunuh Rudira, anak yang masih terlampau muda ini?”

Pangeran Ranakusuma menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Tetapi aku ingin mengetahuinya dengan pasti”

Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-angguk saja. Ia tahu pasti bahwa tentu masih harus ada seribu macam pertimbangan untuk berbuat sesuatu atas kematian puteranya bagi Pangeran Ranakusuma. Tetapi Pangeran Mangkubumi tidak bertanya lebih banyak lagi.

Demikianlah, ketika Pangeran Mangkubumi itu dipersilahkan duduk di pendapa, justru ia malahan minta diri. Ia tidak dapat duduk lebih lama lagi di istana Ranakusuman.

“Maaf kangmas. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan hari ini. Terpaksa sekali aku tidak dapat menunggu sampai jenazah itu diberangkatkan”

“Sayang sekali” sahut Pangeran Ranakusuma, “Tetapi apaboleh buat”

“Apakah Kangjeng Susuhunan sudah tahu tentang peristiwa. ini”

“Adimas Cahyaningprang yang aku minta menghadap. Tetapi ia belum kembali”

Pangeran Mangkubumi hanya mengangguk-angguk saja. Dan ia pun benar-benar meninggalkan istana Ranakusuman sebelum orang lain. terutama para Pangeran berdatangan. Bahkan Pangeran Sindurata pun belum.

Ketika Pangeran Mangkubumi sudah keluar dari regol halaman, barulah wajahnya menjadi berkerut-merut. Kematian Rudira sangat menarik perhatiannya. Justru karena ia putera Pangeran. Ranakusuma yang berhubungan rapat sekali dengan kumpeni, tetapi puteranya telah terbunuh oleh sebutir peluru.

“Apakah ada orang lain yang membunuhnya dengan senjata api itu dengan maksud untuk menghilangkan jejak” berkata Pangeran Mangkubumi di dalam hatinya.

Namun selain perhatiannya yang besar terhadap kematian Rudira, sebenarnyalah ia ingin melihat, apakah putera Pangeran Ranakusuma yang seorang ada di istananya juga. Tetapi Pangeran. Mangkubumi tidak melihatnya sama sekali. Ia tidak melihat anak muda yang berada di padepokan Jati Aking itu.

Namun dalam pada itu, kedatangan Pangeran Mangkubumi yang justru mendahului para bangsawan yang lain itu, kemudian bahkan menambah keyakinan Pangeran Ranakusuma. Petani di Sukawati itu benar-benar Pangeran Mangkubumi dalam bentuknya yang lain.

Tetapi Pangeran Ranakusuma tidak sempat memikirkannya dalam keadaannya itu, karena sepeninggal Pangeran Mangku-bumi, maka keluarga Pangeran Ranakusuma yang terdekat mulai berdatangan Beberapa di antara mereka langsung pergi ke ruang dalam melihat jenazah Raden Rudira yang terbujur diam, sedang beberapa orang yang lain pergi ke bilik Warih yang masih saja menangis.

Kepada setiap orang yang menanyakan Raden Ayu Galihwarit maka Pangeran Ranakusuma, maupun Warih yang menjawab disela-sela isaknya, mengatakan, bahwa ibu Raden Rudira itu terpaksa diungsikan karena kejutan perasaan yang amat sangat.

Dengan demikian, semakin tinggi matahari, pendapa Ranakusuma pun menjadi semakin penuh, sedang para pelayan di belakangpun menjadi semakin sibuk. Beberapa orang perempuan bangsawan berkumpul di ruang tengah merangkai bunga mawar dan melati untuk menghiasi usungan yang akan membawa Raden Rudira ke makam keluarga para bangsawan.

Namun demikian, meskipun pendapa Ranakusuman itu sudah, menjadi penuh, namun ternyata masih ada seorang yang ditunggu oleh Pangeran Ranakusuma. Seorang yang selama ini seakan-akan telah tersisih dari hatinya. Seorang yang selama ini seakan-akan telah disingkirkannya dari istananya meskipun ia adalah puteranya sendiri. Dan kini, tiba-tiba saja ia menunggu dengan hati yang gelisah kedatangan anak laki-lakinya yang seorang itu, Juwiring, yang lahir bukan dari seorang perempuan bangsawan yang setingkat dengan Raden Ayu Galihwarit.

Tetapi yang ditunggunya itu tidak juga segera datang.

Sementara istana Ranakusuman menjadi semakin sibuk, maka utusan yang berpacu ke Jati Sari sejak sebelum fajar telah melintasi bulak panjang. Jarak yang akan dicapainya sudah tidak begitu jauh lagi. Apalagi kuda yang dipergunakannya adalah seekor kuda yang tegar dan kuat.

Beberapa orang petani yang ada di sawahnya terkejut melihat kuda yang berpacu dengan kecepatan yang tinggi. Menilik pakaian yang dikenakan oleh penunggangnya, orang itu tentu bukan petani biasa yang sedang bepergian jauh. Tetapi orang itu tentu seorang piyayi dari kota, atau seorang abdi dalem di keraton Surakarta.

“Tentu orang itu akan pergi ke Jati Aking” desis seseorang.

Yang lain pun menganggukkan kepalanya. Mereka tahu bahwa di Jati Aking ada seorang putera bangsawan yang tinggal bersama dengan Kiai Danatirta sekeluarga.

Ternyata utusan itu tidak memerlukan waktu yang lama lagi untuk mencapai Jati Aking. Sejenak kemudian kudanya sudah berderap memasuki jalan yang menuju ke regol padepokan Kiai Danatirta.

Derap kaki kuda itu ternyata telah mengejutkan penghuni padepokan kecil itu. Beberapa orang dengan dada yang berdebar-debar menengok ke halaman.

Ketika yang dilihatnya hanyalah seorang penunggang kuda, dan sikapnya pun agaknya tidak mencurigakan, maka seorang di antara mereka pun mendekatinya dan bertanya apakah yang dicarinya di padepokan itu.

“Aku akan bertemu dengan Raden Juwiring” berkata utusan itu.

“Siapakah Ki Sanak?”

“Aku adalah salah seorang abdi Ranakusuman”

“O” Orang itu mengangguk-angguk, “Silahkan. Silahkan duduk di pendapa. Aku akan menyampaikannya kepada Kiai Danatirta.

“Raden Juwiring sendiri kini sedang berada di sawah”

Utusan itu pun kemudian duduk di pendapa ditemui oleh Kiai Danatirta, sementara seorang cantrik dengan tergesa-gesa pergi ke sawah memanggil Juwiring dan saudara-saudara seperguruannya.

“Kedatangan Ki Sanak telah mengejutkan kami” berkata Kiai Danatirta kemudian.

“Aku mendapat perintah dari Pangeran Ranakusuma untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Raden Juwiring”

“O” Kiai Danatirta mengangguk-angguk. Namun hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Kenapa bukan Ki Dipanala? Biasanya Ki Dipanala lah yang diutusnya kemari. Bahkan pernah Ki Dipanala hampir saja terbunuh oleh beberapa orang penyamun di bulak Jati Aking”

Utusan itu terdiam sejenak. Ia pun mengetahui bahwa biasanya Ki Dipanala lah yang mendapat tugas untuk menghubungi Raden Juwiring. Tetapi agaknya kini Ki Dipanala sedang sibuk di istana Ranakusuman sehingga ialah yang mendapat tugas pergi ke Jati Aking.

Karena utusan itu tidak menjawab, maka Kiai Danatirta pun kemudian bertanya pula, “Tetapi bukankah Ki Dipanala tidak-mengalami sesuatu?”

Utusan itu menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Tidak Kiai. Ki Dipanala selamat-selamat saja. Tetapi ia sedang terlalu sibuk sehingga ia tidak dapat datang ke padepokan ini. Karena itu, maka kali ini akulah yang mendapat tugas itu”

Kiai Danatirta tidak mendesak lagi. Meskipun ada semacam kecemasan yang menyentuh hatinya, karena orang tua itu mengetahui bahwa seisi istana Ranakusuman telah membenci Ki Dipanala, dan bahkan beberapa orang telah berusaha untuk membunuhnya.

Karena itu, maka pembicaraan mereka pun tidak lagi berkisar kepada Ki Dipanala dan surat yang dibawa oleh utusan itu. Mereka menunggu kedatangan Juwiring, karena surat itu ditujukan kepadanya.

Yang mereka bicarakan kemudian adalah keadaan padepokan itu. Tanah yang subur, pepohonan yang hijau dan petani yang rajin bekerja menggarap sawah mereka.

Sejenak kemudian, ketika seorang pelayan telah menghidangkan semangkuk minuman dan beberapa potong makanan, barulah Juwiring datang diiringi oleh Buntal dan Arum yang juga sedang berada di sawah menyampaikan makan kakak-kakak seperguruannya. Dengan dada yang berdebar-debar Juwiring yang masih dilekati lumpur itu langsung naik ke pendapa. Seakan-akan ia tidak sabar lagi mendengar kabar apakah yang dibawa oleh orang itu, sehingga ia tidak sempat pergi ke pakiwan mencuci kaki dan tangannya. Demikian juga Buntal dan Arum. Meskipun mereka tidak mendekat, tetapi mereka pun duduk di bibir lantai pendapa itu.

“Kau tidak mencuci kakimu dahulu?” bertanya Kiai Danatirta.

“Aku ingin segera tahu, kabar apakah yang dibawa oleh utusan ini” jawab Juwiring.

Utusan itu pun menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Katanya kemudian, “Raden, aku hanya seorang utusan. Aku persilahkan Raden menerima surat ayahanda. Segala sesuatu sudah tercantum di dalam surat itu. Dan barangkali Raden bertanya di dalam hati, kenapa bukan Ki Dipanala yang datang, dapatlah aku beritahukan bahwa Ki Dipanala sedang sibuk di istana ayahanda Raden. Itulah sebabnya aku yang datang kemari membawa surat ayahanda Raden itu”

Dada Juwiring menjadi semakin berdebar-debar. Dengan jari-jari yang gemetar maka disobeknya surat yang dibawa oleh utusan itu. Huruf demi huruf dibacanya dengan saksama.

Kiai Danatirta hanya memandanginya saja dengan tegang. Ia tidak dapat ikut membaca surat itu, meskipun dari tempatnya ia dapat melibat huruf yang tidak jelas, dengan sandangannya. Suku, wulu, layar, pepet dan sebagainya. Namun di dalam keseluruhannya Kiai Danatirta tidak dapat mengikuti bunyi tulisan itu.

Orang tua itu menjadi semakin berdebar-debar ketika ia melihat dahi Juwiring yang berkerut merut. Kemudian wajah anak muda itu menjadi tegang dan sorot matanya memancarkan kegelisahan yang sangat.

Tiba-tiba Raden Juwiring memandang utusan itu dengan tajamnya. Dengan suara gemetar ia bertanya, “Jadi terjadi kecelakaan atas adimas Rudira?”

Utusan itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ya Raden”

“Apakah yang terjadi?” Kiai Danatirta bertanya.

Buntal dan Arum pun tertarik pada pertanyaan Juwiring itu sehingga mereka bergeser setapak maju.

“Juwiring” berkata Kiai Danatirta kemudian, “Coba, katakan, apakah yang telah terjadi dengan adikmu itu?”

Dengan suara yang bergetar, Juwiring pun mengatakan isi surat yang dengan serba singkat menceriterakan peristiwa yang telah menimpa Raden Rudira.

“O” wajah Kiai Danatirta pun menjadi tegang, “Jadi apakah benar pendengaranku, bahwa Raden Rudira terbunuh?”

“Ya ayah. Begitulah bunyi surat ini. Karena itulah maka aku telah dipanggil oleh ayahanda untuk segera kembali sekarang juga”

“Apakah benar begitu?” bertanya Kiai Danatirta kepada utusan itu.

“Ya Kiai. Demikianlah yang telah terjadi. Itulah sebabnya Ki Dipanala menjadi terlampau sibuk, karena tidak ada orang lain yang dapat membantu kesibukan bukan saja penyelenggaraan jenazah Raden Rudira, tetapi juga kesibukan batin Pangeran Ranakusuma”

“Bagaimana dengan ibunda Galihwarit?”

“Ibunda Raden Rudira telah menjadi pingsan untuk waktu yang sangat lama. Menurut pertimbangan ayahanda Raden, ibunda Raden Rudira telah diungsikan ke istana Pangeran Sindurata”

Raden Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Namun yang tampak di wajahnya ternyata bukan saja kejutan perasaannya, tetapi juga kebimbangan dan bahkan kecurigaan. Terkilas di kepalanya apa yang pernah terjadi atas Ki Dipanala di bulak Jati Sari. Namun jika ia menyadari bahwa surat itu ternyata telah ditanda tangani oleh ayahandanya sendiri, maka ia pun mulai mempercayainya.

“Apakah bukan sekedar sebuah tanda tangan palsu?” pertanyaan itu masih juga membersit di hatinya.

Beberapa saat lamanya Juwiring merenungi surat itu. Ia terombang-ambing di antara percaya dan tidak. Dicobanya untuk meneliti tanda tangan yang tercantum di surat itu. Dan ia menganggap bahwa surat itu benar-benar telah dibuat oleh ayahandanya.

“Apakah ayahanda sekedar diperalat oleh ibunda Galihwarit. Atau sebenarnyalah yang terjadi demikian?” Juwiring selalu diganggu oleh berbagai pertanyaan, “Tetapi aneh jika Rudira terbunuh oleh peluru kumpeni. Namun bahwa itu suatu kecelakaan memang mungkin saja terjadi”

Juwiring masih saja bimbang, sehingga ia tidak segera dapat mengambil keputusan.

“Jika aku berkemas sekarang, dan kemudian berangkat maka jika benar-benar Rudira terbunuh, aku pun sudah terlambat untuk dapat menunggui keberangkatan jenazahnya, karena perjalananku tentu akan memakan waktu. Aku akan sampai di kota setelah gelap. Dan menjelang gerbang kota. di dalam kegelapan itu banyak peristiwa yang dapat terjadi atasku. Seperti yang pernah terjadi atas Ki Dipanala” Juwiring ternyata telah dilanda oleh kebimbangan yang tajam. Kemudian katanya pula di dalam hati, “Tetapi jika aku tidak pergi, dan sebenarnyalah yang terjadi demikian, maka ayahanda akan menunggu kedatanganku pula, sehingga baru besok akan dikuburkannya”

Dalam pada itu, selagi Juwiring dicengkam oleh kebimbangan, maka Kiai Danatirta pun berkata kepadanya, “Juwiring. Sebaiknya kau membersihkan dirimu lebih dahulu sambil mempertimbangkan apakah sebaiknya yang akan kau lakukan”

Juwiring menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah ayah. Aku akan pergi ke pakiwan lebih dahulu” Lalu katanya kepada utusan itu, “Tunggulah sebentar di sini. Aku akan berkemas”

Demikianlah ketika kemudian Juwiring pergi ke belakang, tenyata Kiai Danatirta dan kedua muridnya yang lain pun segera menyusul, sehingga mereka sempat mengadakan pembicaraan sebentar.

“Juwiring” bertanya gurunya, “Apakah kau yakin bahwa surat itu adalah surat ayahandamu Pangeran Ranakusuma?”

“Ya ayah”

“Jika demikian, pergilah. Betapapun juga, seorang ayah tentu tidak akan berbuat sejauh yang kau ragukan, meskipun pengaruh Raden Ayu Galihwarit cukup besar. Apalagi kecelakaan itu memang mungkin terjadi atas Raden Rudira. karena....“ kata-kata Kiai Danatirta terputus. Ia sadar, bahwa tidak seharusnya Juwiring mengetahui kelemahan ibu tirinya. Menurut perhitungannya, tentu Raden Rudira pada suatu saat mengetahui apa yang dilakukan oleh ibunya. Dan kemungkinan yang parah itu terjadi karena agaknya Raden Rudira menaruh dendam kepada kumpeni yang telah melanggar pagar ayu itu.

Juwiring menunggu Kiai Danatirta menyelesaikan kata-katanya, tetapi ternyata gurunya itu berkata, “Jika tulisan itu benar-benar tulisan tangan ayahandamu, aku percaya Juwiring. Karena itu pergilah. Tetapi jangan sendiri. Bawalah Buntal bersamamu”

“Aku akan ikut serta ayah”

“Ah, kau bersama ayah di padepokan ini. Jika kau juga pergi, siapakah yang akan membantu ayah dan ayah tentu akan menjadi kesepian, karena Juwiring tidak akan kembali besok atau lusa. Tentu ia memerlukan waktu sedikitnya sepekan”

Tetapi seperti biasanya, Arum tidak mau merubah keinginannya. Dengan wajah yang berkerut-merut ia berkata, “Aku akan ikut bersama kakang Juwiring dan kakang Buntal”

Kiai Danatirta menarik nafas dalam-dalam. Anak perempuan-nya itu memang berhati keras. Namun demikian ia masih berusaha mencegahnya, “Arum. Apakah yang akan kau lakukan di istana Ranakusuman. Kau tidak dikenal orang. Kau tentu akan tersisih saja dan bahkan kau akan merasa dirimu terlampau kecil karena kau anak padepokan. Kau tidak akan mempunyai arti apa-apa di sana. Berbeda dengan puteri-puteri bangsawan yang masih mempunyai saluran keluarga dekat atau jauh”

Tetapi Arum tetap pada pendiriannya. Sambil bermain-main dengan ujung kain panjangnya ia berkata dalam nada yang rendah, “Aku dapat tinggal di rumah paman Dipanala. Katanya rumah itu dekat sekali dengan istana Ranakusuman”

Kiai Danatirta yang sudah mengenal sifat Arum tidak berusaha melarangnya lagi. Semakin ia dilarang, keinginannya rasa-rasanya menjadi semakin melonjak. Meskipun ia dapat memaksa anak itu agar tidak pergi, tetapi anak itu akan menjadi kecewa dan selama beberapa hari ia akan selalu dibayangi oleh kekecewaannya itu. Wajahnya akan menjadi gelap dan kadang-kadang berbuat sesuatu yang tidak sewajarnya.

“Ada juga kebengalan ibunya yang tampak pada Arum” berkata Kiai Danatirta di dalam hatinya. Dan karena itu, maka katanya kemudian, “Arum. Jika kau memang ingin pergi bersama mereka, jagalah dirimu baik-baik. Kau akan berada di dalam suatu lingkungan yang belum kau kenal. Berbeda sekali dengan pergaulan di padepokan ini”

“Kakang Buntal juga akan memasuki pergaulan yang asing”

“Tetapi semasa kecilnya Buntal pernah tinggal di rumah seorang bangsawan, sehingga ia sudah mengenal unggah-ungguh dan tata pergaulan di istana Ranakusuman kau tidak dapat memanggil Juwiring dengan sebutan sehari-hari yang kau pakai di padepokan ini. Kau harus memanggil seperti seharusnya”

“Bagaimana aku harus memanggil”

“Seperti pada saat Juwiring datang kemari”

“O” Arum mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku mengerti. Aku harus memanggilnya Raden Juwiring. Begitu”

“Ah” Juwiring berdesah. Tetapi Kiai Danatirta menyahut, “Demikian memang seharusnya. di dalam istana Ranakusuman semuanya harus berlaku seperti seharusnya. Buntal pun harus memanggil sebutan itu selengkapnya. Kalian mengerti?”

Ketiga anak muda itu mengangguk, meskipun terbayang sepercik warna merah di wajah Juwiring.

“Jika demikian bersiaplah. Kalian dapat segera berangkat meskipun kalian akan sampai ke kota sesudah gelap. Sebaiknya kalian makan dahulu bersama utusan itu. Bagaimanapun juga kalian tidak akan dapat mencapai saat keberangkatan jenazah itu jika memang hari ini jenazah itu akan dimakamkan”

Demikianlah ketiga anak-anak muda itu pun segera berkemas, sementara seorang pelayan telah menyediakan makan bagi utusan yang duduk di pendapa.

“Ah, seharusnya kami segera berangkat” berkata utusan itu.

“Makanlah dahulu” berkata Kiai Danatirta kepada utusan itu pula, “Jika benar hari ini jenazah itu dimakamkan, tentu kalian akan terlambat datang, makan atau tidak makan”

Dan utusan itu pun kemudian tidak dapat menolak lagi.

Baru setelah mereka selesai, dan setelah Kiai Danatirta memberikan beberapa pesan kepada murid-muridnya, maka mereka pun segera berangkat meninggalkan Jati Aking. Karena mereka harus berkuda maka Arum pun terpaksa mengenakan pakaian seorang laki-laki.

“Sebaiknya kau tinggal di rumah pamanmu Ki Dipanala” sekali lagi ayahnya berpesan ketika ia melepaskan anaknya di regol halaman.

Sementara itu, ketika Raden Juwiring bersama kedua saudara seperguruannya dan utusan ayahandanya itu berpacu di sepanjang bulak Jati Sari, maka di istana Ranakusuman pun menjadi semakin sibuk. Ki Dipanala menasehatkan agar Pangeran Ranakusuma mengambil keputusan, apakah ia akan menunggu Raden Juwiring atau tidak.

“Tetapi” berkata Ki Dipanala, “jika Pangeran menunggu maka mereka yang sudah berada di sini akan menjadi gelisah, karena tentu baru besok jenazah itu dimakamkan”

“Jadi bagaimanakah sebaiknya menurut pertimbanganmu?”

“Sebaiknya jenazah itu dimakamkan hari ini Pangeran”

Pangeran Ranakusuma mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menemui beberapa orang tua, termasuk pangeran Sindurata yang sudah ada di pendapa itu pula.

“Buat apa kau mempertimbangkan anak itu” berkata Pangeran Sindurata, “lupakan saja anak itu. Kau masih mempunyai seorang anak perempuan yang kelak tentu akan mendapatkan jodohnya. Dan kau akan mendapatkan ganti Rudira yang malang itu”

Terasa sesuatu bergejolak di dalam hati Pangeran Rana-kusuma. di dalam keadaan yang demikian, Juwiring terasa sangat penting artinya bagi dirinya. Namun karena ia sadar, bahwa para tamu sudah menjadi semakin banyak, ditahankannya saja hatinya. Meskipun di dalam hati ia berkata, “Jika Galihwarit sadar dan mulai berceritera tentang dirinya, baru kau tahu, kenapa aku membawanya kembali kepadamu”

Dalam pada itu, kebanyakan dari orang-orang yang dianggap lebih tua berpendapat bahwa jenazah sebaiknya dimakamkan pada hari itu.

Demikianlah selagi semua persiapan dilakukan untuk melakukan upacara pemakaman, para tamu telah dikejutkan oleh derap roda kereta yang memasuki halaman. Ternyata kereta itu adalah kereta perwira kumpeni. Agaknya beberapa orang kumpeni pun telah memerlukan hadir di dalam upacara pemakaman itu.

Pangeran Ranakusuma pun kemudian menyongsong perwira-perwira kumpeni itu. Namun ia tidak dapat menahan gejolak di dalam hatinya. Jika ia melihat orang yang disangkanya menembak Rudira, apakah ia dapat menahan hati?

Namun ternyata yang turun dari kereta itu adalah seorang perwira yang jarang sekali berada di Surakarta. Perwira yang justru mondar-mandir antara Semarang dan Surakarta.

“Kenapa Dorep ini yang datang?” bertanya Pangeran Ranakusuma di dalam hatinya.

Terasa dada Pangeran Ranakusuma menjadi sesak. Tetapi ia berusaha untuk menyembunyikan gejolak perasaannya. Dipersilahkannya Dorep dan seorang perwira yang lain naik ke pendapa dan duduk di antara para bangsawan.

“Kenapa orang yang jarang berada di Surakarta inilah yang mewakili kawan-kawannya?” pertanyaan itu selalu mengganggu perasaan Pangeran Ranakusuma, “Agaknya kumpeni menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Perwira yang menembak Rudira itu tentu menyadari, bahwa pelurunya ternyata telah mengenai justru anak laki-laki Galihwarit sendiri. Karena itulah maka mereka mengirimkan orang yang jarang sekali tampak di Surakarta”

Namun kemudian Pangeran Ranakusuma menganggap bahwa agaknya memang lebih baik demikian, agar ia tidak dibakar oleh goncangan perasaan yang sukar terkendali.

Seperti yang kemudian diputuskan, maka jenazah Raden Rudira pun dimakamkan pada hari itu juga tanpa menunggu Raden Juwiring. Diiringi oleh para bangsawan dan bahkan utusan resmi dari Kangjeng Susuhunan Pakubuwana, jenazah Raden Rudira dengan kereta telah dibawa ke makam untuk dibaringkan selama-lamanya.

Ketika matahari kemudian turun di sisi Barat dari wajah langit yang kemerah-merahan, makam itu telah menjadi sepi. Yang tinggal hanyalah beberapa orang yang masih menyelesaikan pemasangan nisan batu yang besar yang berwarna hitam kelam.

Orang-orang yang tinggal itu pun segera menyelesaikan pekerjaannya. Sekali-sekali mereka menengadahkan wajahnya memandang langit yang kemerah-merahan. Kemudian mengusap keringat di badannya dengan tangannya. Namun dengan demikian punggungnya justru menjadi kotor oleh tanah yang melekat pada jari-jarinya yang basah itu.

Sejenak kemudian mereka pun mengemasi alat-alat mereka. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan batu nisan yang diam membeku di antara batu-batu nisan yang lain.

Namun mereka mengerutkan keningnya ketika mereka melihat seorang menghampiri makam yang masih baru itu.

“Ki Sanak” berkata orang itu, “Apakah ini makam Raden Rudira yang baru saja meninggal itu?”

“Ya” jawab salah seorang dari mereka yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya itu.

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu, “Kenapa Raden Rudira ditembak oleh kumpeni?”

“Ah, tentu kami tidak mengetahuinya” jawab orang yang sudah siap untuk meninggalkan batu nisan itu, “Tidak seorang pun yang mengetahuinya”

“Selama pemakaman apakah kau tidak mendengar salah seorang membicarakannya?”

“Semua orang bertanya-tanya. Para bangsawan itu pun bertanya-tanya. Apalagi aku”

Orang itu mengangguk-angguk pula. Perlahan-lahan ia mendekati makam itu. Dirabanya batu nisan yang masih baru itu.

“Siapakah kau?” bertanya salah seorang pekerja makam itu.

“Aku datang dari jauh”

“Siapa? Dan apa hubunganmu dengan Raden Rudira?”

“Tidak ada hubungan apa-apa. Tetapi Raden Rudira pernah mengunjungi padukuhanku, bahkan singgah di rumahku”

“Dimana rumahmu?”

“Sukawati. Aku seorang petani dari Sukawati”

“Sukawati? Begitu jauh?”

“Ya. Begitu jauh. Tetapi Raden Rudira pernah datang ke rumahku yang jauh itu. Sayang, bahwa aku hanya dapat mengunjungi makamnya”

Para pekerja di kuburan itu memandanginya sejenak. Petani dari Sukawati itu berdiri tepekur di sisi makam yang masih baru itu.

“Orang asing itu memang sewenang-wenang” terdengar ia berdesis.

Sejenak kuburan itu menjadi sepi. Para pekerja saling berpandangan sejenak. Kemudian mereka pun memandang orang yang menyebut dirinya petani dari Sukawati itu. Tetapi petani itu sama sekali tidak menggeser pandangan matanya dari nisan yang masih baru itu.

“Raden Rudira adalah anak yang baik. Kenapa ia harus mati muda? Kumpeni sama sekali tidak mempertimbangkan akibat yang dapat merusak hati dan jantung orang tuanya. Terlebih-lebih ibundanya. Dan sekarang Raden Ayu Galihwarit itu menderita. Bahkan mungkin untuk selama sisa hidupnya”

Para pekerja itu masih mendengarkannya.

“Ki Sanak” berkata petani itu kemudian sambil berpaling, “perbuatan ini bukan saja menyakiti hati ayahanda dan ibundanya. Tetapi menyakiti hati kita semuanya. Apakah itu terasa di hati Ki Sanak?”

Tidak seorang pun yang segera menjawab.

“Kita merasakan betapa pahitnya bekerja untuk sesuap nasi. Kau menggali kubur, dan aku setiap hari berjemur diterik matahari. Apakah yang kita dapatkan? Sedang orang-orang asing di sini hidup mewah dan lebih dari itu mengangkut segala macam hasil tanah ini atas dasar perjanjian dengan para bangsawan”

Petani itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah para pekerja tanah pekuburan itu seorang demi seorang. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak tahu apa-apa Ki Sanak”

Petani dari Sukawati itu menganggukkan kepalanya, “Aku juga tidak berani berkata begitu jika di antara kita ada orang-orang yang sudah dapat mengenyam kenikmatan hidup sekarang ini, apapun caranya. Tetapi kematian seorang anak muda bangsawan yang baik ini, tentu tidak akan dapat kita biarkan begitu saja. Jika terhadap anak-anak muda bangsawan kumpeni sudah berani berbuat demikian, apalagi terhadap kita jika kita membiarkan kepala kita di injaknya”

Tiba-tiba saja para pekerja itu menganggukkan kepak. Bahkan salah seorang dari mereka, pekerja yang paling muda berkata, “Ya. Mereka menganggap bangsa kita sebagai bangsa yang rendah. Kakekku adalah seorang bebahu Kademangan yang dihormati oleh tetangga-tetangganya. Tetapi pada suatu ketika, seorang asing meludahinya di muka umum karena kakekku berbuat sesuatu yang dianggapnya salah”

“Kita memang sudah dihinakan” berkata petani itu.

Tetapi pekerja yang lain berkata, “Aku tidak tahu apa-apa. Aku bekerja untuk mencari nafkah. Jika aku berbuat sesuatu di luar urusanku, maka aku akan mengalami bencana sehingga anak isteriku tidak akan dapat makan. Mereka akan menjadi kelaparan dan barangkali mengalami nasib yang lebih jelek lagi”

“Itu adalah suatu contoh kesewenang-wenangan yang baik sekali” sahut petani itu, “meskipun kau tidak ikut apa-apa, tetapi pernyataanmu itu justru suatu bukti dari sikap mereka terhadap kita”

“Sudahlah Ki Sanak” berkata pekerja kuburan itu, “Aku minta diri untuk beristirahat sejenak. Malam nanti aku harus pergi meronda untuk mendapat tambahan upah buat hidup sehari-hari.

Petani dari Sukawati itu tidak dapat menahan mereka. Seorang demi seorang mereka minta diri sehingga akhirnya kuburan itu menjadi semakin sepi.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Bunga Di Batu Karang Jilid 10"

Post a Comment

close